Anda di halaman 1dari 25

BAB I (PENDAHULUAN) 1.

1 Latar Belakang Masalah Dalam pembahasan pada makalah ini awalnya kami mulai dari sebuah skenario yang diberikan yaitu :

MODUL XVII (PENGLIHATAN) SKENARIO 5 CORPUS ALIENUM

Siang itu seorang laki umur 35 tahun dirujuk dari Puskesmas ke UGD rumah sakit karena suatu kecelakaan kerja pada bengkel bubut, dimana mata kanannya tertancap corpus alienum berupa serpihan besi yang menyebabkan luka tembus dan kollapsnya bola mata.

1.2 Tujuan Pembahasan Dalam penyusunan makalah ini tentunya memiliki tujuan yang diharapkan berguna bagi para pembaca dan khususnya kepada penulis. Dimana tujuannya dibagi menjadi dua macam. Yang pertama secara umum makalah ini bertujuan menambah wawasan mahasiswa/i dalam kelompok diskusi. Sedangkan secara khusus tujuan penyusunan makalah ini ialah sebagai berikut : a) Melengkapi tugas SGD (small group discussion) skenario 5 modul XVII. b) Menambah pengetahuan pembaca tentang Penglihatan c) Sebagai bahan referensi mahasiswa/i fakultas kedokteran UISU semester V dalam menghadapi ujian akhir modul.

Itulah beberapa tujuan dalam penyusunan makalah ini dan juga sangat diharapkan dapat berguna bagi setiap orang yang membaca makalah ini. Semoga seluruh tujuan tersebut dapat tercapai dengan baik.

1.3 Pembatasan Masalah Dalam penyusunan makalah ini kami dihadapkan pada suatu sistem yaitu ada suatu masalah yang harus disusun dalam suatu skema, dimana skema itu juga sekaligus menjadi pembatasan masalah yang akan dibahas pada makalah ini. Berikut merupakan pembatasan masalah dari skenario 4 modul 17.

1.4 Metode dan Teknik Dalam penyusunan makalah ini kami mengembangkan suatu metode yang sering digunakan dalam pembahasan-pembahasan makalah sederhana, dimana kami menggunakan metode dan teknik secara deskriptif dimana tim penyusun mencari sumber data dan sumber informasi yang akurat lainnya. Setelah itu dianalisis sehingga diperoleh informasi tentang masalah yang akan dibahas. Setelah itu, berbagai referensi yang didapatkan dari berbagai sumber tersebut disimpulkan sesuai dengan pembahasan yang akan dilakukan dan sesuai dengan judul makalah dan dengan tujuan pembuatan makalah ini.Seperti itulah gambaran sekilas tentang metode dan teknik yang digunakan dalam penyusunan makalah ini.

BAB II TRAUMA MATA

Trauma mata merupakan penyebab umum kebutaan unilateral pada anak dan dewasa muda; kelompok usia ini mengalami sebagian besar cedera mata yang parah. Dewasa muda terutama pria merupakan kelompok yang paling mungkin mengalami trauma tembus mata. Kecelakaan di rumah, kekerasan, ledakan aki, cedera yang berhubungan dengan olahraga, dan kecelakaan lalu lintas merupakan keadaan-keadaan yang paling sering menyebabkan trauma mata. Selain itu, semakin banyak trauma mata yang terjadi akibat kecelakaan oleh tali bungee atau senapan angin paintball. Trauma mata yang berat dapat menyebabkan cedera multipel pada palpebra, bola mata, dan jringan lunak orbita.

Pemeriksaan Awal Pada Trauma Mata Anamnesis harus mencakup perkiraan ketajaman penglibatan sebelum dan sesaat setelah cedera. Harus diperhatikan apakah gangguan penglihatan yang ada bersifat progresif lambat atau memiliki onset mendadak. Harus dicurigai adanya benda asing intraokular bila terdapat riwayat memalu, mengasah, atau ledakan; pemeriksaan pencitraan harus dilakukan pada kondisi-kondisi tersebut. Cedera pada anak dengan riwayat yang tidak sesuai dengan cedera yang diderita harus menimbulkan kecurigaan adanya penganiayaan pada anak. Pemeriksaan fisik dimulai dengan pengukuran dan pencatatan ketajaman penglihatan. Bila gangguan penglihatannya parah, diperiksa proyeksi cahaya, diskriminasi dua-titik, dan adanya defek pupil aferen. Periksa motilitas mata dan sensasi kulit periorbita, dan lakukan palpasi untuk mencari defek pada bagian tepi tulang orbita. Pada pemeriksaan bedside, adanya enoftalmus dapat ditentukan dengan melihat profil kornea dari atas alis. Bila tidak tersedia sitlamp di ruang gawat darurat, senter, kaca pembesar, atau oftalmoskop yang dipasang pada +10

dapat digunakan untuk memeriksa adanya cedera di permukaan tarsal palpebra dan segmen anterior. Permukaan kornea diperiksa untuk mencari adanya benda asing, luka dan abrasi. Inspeksi konjungtiva bulbaris dilakukan untuk mencari adanya perdarahan, benda asing, atau laserasi. Kedalaman dan kejernihan bilik mata depan dicatat. Ukuran dan bentuk pupil, serta reaksi pupil terhadap cahaya harus dibandingkan dengan mata yang lain untuk memastikan apakah terdapat defek pupil aferen di mata yang cedera. Mata yang lembek, visus senilai lambaian tangan, defek pupil aferen, atau perdarahan vitreus mengisyaratkan adanya ruptur bola mata. Bila bola mata tidak rusak, palpebra, konjungtiva palpebralis, dan forniks dapat diperiksa secara lebih teliti, termasuk inspeksi dengan eversi palpebra superior. Pada semua kasus trauma mata, mata yang tampak tidak cedera juga harus diperiksa dengan teliti.

Penanganan segera pada trauma mata Bila jelas terjadi ruptur bola mata, manipulasi lebih lanjut harus dihindari sampai perbaikan secara bedah dalam kondisi steril dapat dilakukan; biasanya dengan anestesi umum. Obat sikloplegik atau antibiotik topikal tidak boleh diberikan sebelum pembedahan karena potensi toksisitas pada jaringan intraokular yang terpajan. Pakaikan pelindung fox pada mata, dan mulailah pemberian antibiotik sistemik spektrum luas. Analgetik, antiemetik, dan antitoksin tetanus harus diberikan sesuai kebutuhan. Induksi anestesi umum tidak boleh menggunakan obatobat penghambat depolarisasi neuromuskular karena obat-obat ini dapat meningkatkan tekanan di dalam bola mata secara transien sehingga meningkatkan tekanan di dalam bola mata secara transien sehingga meningkatkan kecenderungan herniasi isi intraokular. Pada cedera yang berat, orang yang bukan ahli oftalmologi harus selalu mengingat kemungkinan timbulnya kerusakan lebih lanjut akibat manipulasi yang tidak perlu sewaktu berusaha melakukan pemeriksaan mata lengkap.

ABRASI & LASERASI PALPEBRAE Benda berbentuk partikel harus dikeluarkan dari palpebrae yang mengalami abrasi untuk mengurangi risiko pembentukan tato pada kulit. Luka kemudian diirigasi dengan saline dan ditutup dengan salep antibiotik dan kasa steril. Jaringan yang terlepas dibersihkan dan dilekatkan kembali. Karena vaskularitas palpebra sangat baik, besar kemungkinan tidak terjadi neksrosis iskemik. Laserasi partial-thickness di palpebrae yang tidak mengenai tepi palpebrae dapat diperbaiki secara bedah sama seperti laserasi kulit lainnya. Namun, laserasi fullthickness palpebra yang mengenai batas palpebrae harus diperbaiki secara hati-hati untuk mencegah penonjolan tepi palpebra dan trikiasis. Perbaikan palpebra mata yang besar memerlukan aproksimasi tepi palpebra, lempeng tarsal, dan kulit yang terlaserasi dengan tepat. Hal ini diawali dengan menempatkan jahitan nonabsorbable 6-0 dengan dua jarum menggunakan matras melewati tepi lempeng tarsal. Pertama-tama jarum dimasukkan melalui tepi-tepi lempeng tarsal yang bersesuaian sebelum keluar melalui orifisium kelenjar meibom di sisi yang berseberangan. Jarum yang lain dimasukkan dengan cara serupa dengan jarak 3-4 mm. Jahitan yang kedua ditempatkan melalui folikel-folikel bulu mata, yang berjarak sama pada tiap sisi laserasi. Jahitan-jahitan ini jangan dikencangkan sampai tarsus diperbaiki dengan jahitan interrupted memakai benang absorbable 50. Akhirnya, kulit ditutup dengan jahitan interrupted menggunakan nylon,vicryl, atau silk 6-0. Kemudian dioleskan salep antibiotik pada jaringan palpebra yang telah diperbaiki tersebut. Bila perbaikan primer tidak dilakukan dalam 24 jam, terjadinya edema mengharuskan penutupan ditunda. Luka harus dibersihkan secara cermat dan diberikan natibiotik. Setelah bengkak mereda, dapat dilakukan perbaikan. Debridement harus dilakukan seminimal mungkin, terutama bila kulitnya tidak longgar. Laserasi di dekat kantus internus sering kali mengenai kanalikulus. Perbaikan disarankan untuk dilakukan sejak dini karena jaringan menjadi semakin sulit

diidentifikasi dan diperbaiki saat membengkak. Manfaat perbaikan langsung laserasi kanalikulus masig diperdebatkan. Aposisi sederhana ujung-ujung laerasi sering kali sudah cukup memadai. Penggunaan stent atau intubasi dapat memperberat derajat kerusakan kanalikulus, dan dengan demikian meningkatkan risiko stemosis; bahkan dapat menyebabkan kerusakan bagian-bagian lain sistem kanalikulus selama manipulasi bedah.

BENDA ASING DI PERMUKAAN MATA & ABRASI KORNEA Abrasi dan benda asing di kornea menyebabkan nyeri dan iritasi yang dapat dirasaan sewaktu mata dan palpebra digerakkan; defek epitel kornea dapat menimbulkan sensasi serupa. Fluoresein akan mewarnai membran basal epitel yang defek dan dapat memperjelas kebocoran aqueous akibat luka tembus. Pola tanda goresan vertikal di kornea mengisyaratkan aanya benda asing terbenam di permukaan konjungtiva tarsalis palpebra superior. Pemakaian lensa kontak yang berlebihan menimbulkan edema kornea. Defek epitel kornea yang ringan diterapi dengan salep antibiotik dan balut tekan untuk mengimobilisasi palpebra. Pada pengeluaran benda asing, dapat diberikan anastetik topikal dan digunakan sebuah spud atau jarum berukuran kecil untuk mengeluarkan benda asing sewaktu pemeriksaan slitlamp. Jangan menggunakan aplikator berujung kapas karena alat ini menggosok permukaan epitel secara luas, sering tanpa mengeluarkan benda asingnya. Setelah benda asing dikeluarkan, mata harus diberikan salep antibiotik dan ditutup. Luka harus diperiksa setiap hari untuk mencari tanda-tanda infeksi sampai luka sembuh sempurna.

TRAUMA TUMPUL Hematoma palpebra Hematoma palpebra merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak akibat pecahnya pembuluh darah palpebra. Hematoma palpebra merupakan kelainan yang sering terlihat pada trauma tumpul okuli. Bila perdarahan terletak lebih dalam dan mengenai kedua kelopak dan berbentuk seperti kacamata hitam (racoon eye) yang sedang dipakai, terjadi akibat pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda fraktur basis kranii. Pada pecahnya arteri oftalmika maka darah masuk kedalam kedua rongga orbita melalui fisura orbita. Penanganan pertama dapat diberikan kompres dingin untuk menghentikan perdarahan. Selanjutnya untuk memudahkan absorpsi darah dapat dilakukan kompres hangat pada palpebra.

Edema konjungtiva Jaringan konjungtiva yang bersifat selaput lendir dapat menjadi kemotik (edema) pada setiap kelainan termasuk akibat trauma tumpul. Bila palpebra terbuka dan konjungtiva secara langsung terekspose dengan dunia luar tanpa dapat

mengedip maka keadaan ini telah dapat mengakibatkan edema pada konjungtiva. Edema konjungtiva yang berat dapat mengakibatkan palpebra tidak menutup sehingga bertambah rangsangan terhadap konjungtiva.

Hematoma subkonjungtiva Hematoma subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat dibawah konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera. Pecahnya pembuluh darah ini bisa akibat dari batuk rejan, trauma tumpul atau pada keadaan pembuluh darah yang mudah pecah. Bila tekanan bola mata rendah dengan pupil lonjong disertai tajam penglihatan menurun dan hematoma subkonjungtiva

maka sebaiknya dilakukan eksplorasi bola mata untuk mencari kemungkinan adanya ruptur bulbus okuli.

Edema kornea Edema kornea dapat meberikan keluhan berupa penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi sekitar bola lampu atau sumber cahaya yang dilihat. Kornea dapat terlihat keruh. Edema kornea yang berat dapat mengakibatkan masuknya serbukan sel radang dan neovaskularisasi ke dalam jaringan stroma kornea.

Erosi kornea Erosi kornea merupakan keadaan terkelupasnya epitel kornea yang dapat diakibatkan oleh gesekan keras pada epitel kornea. Erosi dapat terjadi tanpa cedera pada membran basal. Dalam waktu singkat epitel sekitar dapat bermigrasi dengan cepat dan menutupi defek epitel tersebut. Erosi di kornea menyebabkan nyeri dan iritasi yang dapat dirasakan sewatu mata dan kelopak mata digerakkan. Pola tanda goresan vertikal di kornea mengisyaratkan adanya benda asing tertanam di permukaan konjungtiva tarsalis di kelopak mata atas. Pemakaian berlebihan lensa kontak menimbulkan edema kornea.Pada erosi pasien akan merasa sakit sekali akibat erosi merusak kornea yang mempunyai serat sensibel yang banyak, mata berair, fotofobia dan penglihatan akan terganggu oleh media yang keruh. Anestesi topikal dapat diberikan untuk memeriksa tajam penglihatan dan menghilangkan rasa sakit yang sangat. Anestesi topikal diberikan dengan hati-hati karena dapat menambah kerusakan epitel, yang lebih tepatnya jangan pernah memberi larutan anestetik topikal kepada pasien untuk dipakai berulang setelah cedera kornea, karena hal ini dapat memperlambat penyembuhan, menutupi kerusakan lebih lanjut, dan dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut kornea permanen. Erosi yang kecil biasanya akan tertutup kembali setelah 48 jam.

Erosi rekuren biasanya terjadi akibat cedera yang merusak membran basal. Epitel akan sukar menutup dikarenakan terjadinya pelepasan membran basal epitel kornea sebagai sebagai tempat duduknya sel basal epitel kornea. Umumnya membrane basal yang rusak akan kembali normal setelah 6 minggu. Permukaan kornea perlu diberi pelumas untuk membentuk membran basal kornea. Pemberian siklopegik bertujuan untuk mengurangi rasa sakit ataupun untuk mengurangi gejala radang uvea yang mungkn timbul. Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk tetes dan mata ditutup untuk mempercepat pertumbuhan epitel baru dan mencegah infeksi skunder. Dapat digunakan lensa kontak lembek pada pasien dengan erosi rekuren pada kornea dengan maksud untuk mempertahankan epitel berada ditempatnya.

Iridoplegia Kelumpuhan otot sfingter pupil yang bisa diakibatkan karena trauma tumpul pada uvea sehingga menyebabkan pupil menjadi lebar atau midriasis. Pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi dan merasakan silau karena gangguan pengaturan masuknya cahaya ke pupil. Pupil terlihat tidak sama besar atau anisokoria dan bentuk pupil dapat menjadi ireguler. Pupil biasanya tidak bereaksi terhadap sinar.

Iridodialisa Iridodialisis adalah keadaan dimana iris terlepas dari pangkalnya sehingga bentuk pupil tidak bulat dan pada pangkal iris terdapat lubang. Saat mata kita berkontak dengan benda asing, maka mata akan bereaksi dengan menutup kelopak mata dan mata memutar ke atas. Ini alasannya mengapa titik cedera yang paling sering terjadi adalah pada temporal bawah pada mata. Pada daerah inilah iris sering terlihat seperti peripheral iris tears (iridodialisis). Saat mata tertekan maka iris perifer akan robek pada akarnya dan meninggalkan crescentic gap yang berwarna

hitam tetapi reflek fundus masih dapat diobservasi. Hal ini mudah terjadi karena bagian iris yang berdekatan dengan badan silier gampang robek. Lubang pupil pada pangkal iris tersebut merupakan lubang permanen karena iris tidak mempunyai kemampuan regenerasi. Trauma tumpul dapat mengakibatkan robekan pada pangkal iris sehingga bentuk pupil menjadi berubah. Perubahan bentuk pupil maupun perubahan ukuran pupil akibat trauma tumpul tidak banyak mengganggu tajam penglihatan penderita. Pasien akan melihat ganda dengan satu matanya. Pada iridodialisis akan terlihat pupil lonjong. Biasanya iridodialisis terjadi bersama-sama dengan terbentuknya hifema. Bila keluhan demikian maka pada pasien sebaiknya dilakukan pembedahan dengan melakukan reposisi pangkal iris yang terlepas.

Hifema Hifema adalah darah di dalam bilik mata depan (camera okuli anterior/COA) yang dapat terjadi akibat trauma tumpul sehingga merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Trauma tumpul sering merobek pembuluh-pembuluh darah iris atau badan siliar dan merusak sudut kamera okuli anterior. Darah di dalam cairan dapat membentuk suatu lapisan yang dapat terlihat (hifema). Glaukoma akut terjadi apabila jaringan trabekular tersumbat oleh fibrin dan sel atau apabila pembentukan bekuan darah menyebabkan sumbatan pupil. Pasien akan mengeluh sakit disertai dengan epifora dan blefarospasme. Penglihatan pasien akan sangat menurun dan bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul dibagian bawah bilik mata depan dan dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis. Tanda-tanda klinis lain berupa tekanan intraokuli (TIO) normal/meningkat/menurun, bentuk pupil normal/midriasis/lonjong, pelebaran pembuluh darah perikornea, kadang diikuti erosi kornea.

10

Iridosiklitis Yaitu radang pada uvea anterior yang terjadi akibat reaksi jaringan uvea pada post trauma. Pada mata akan terlihat mata merah, akbat danya darah yang berada di dalam bilik mata depan maka akan terdapat suar dan pupil mata yang mengecil yang mengakibatkan visus menurun. Sebaiknya pada mata diukur tekanan bola mata untuk persiapan memeriksa fundus dengan midriatika.

Subluksasi Lensa Subluksasi Lensa adalah lensa yang berpindah tempat akibat putusnya sebagian zonula zinii ataupun dapat terjadi spontan karena trauma atau zonula zinii yang rapuh (sindrom Marphan). Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang. Akibat pegangan lensa pada zonula tidak ada, maka lensa akan menjadi cembung dan mata akan menjadi lebih miopi. Lensa yang cembung akan membuat iris terdorong ke depan sehingga bisa mengakibatkan terjadinya glaukoma sekunder.

Luksasi Lensa Anterior Yaitu bila seluruh zonula zinii di sekitar ekuator putus akibat trauma sehingga lensa masuk ke dalam bilik mata depan. Pasien akan mengeluh penglihatan menurun mendadak. Muncul gejala-gejala glaukoma kongestif akut yang disebabkan karena lensa terletak di bilik mata depan yang mengakibatkan terjadinya gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata. Terdapat injeksi siliar yang berat, edema kornea, lensa di dalam bilik mata depan. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar.

Luksasi Lensa Posterior

11

Yaitu bila seluruh zonula zinii di sekitar ekuator putus akibat trauma sehingga lensa jatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah fundus okuli. Pasien akan mengeluh adanya skotoma pada lapang pandangnya karena lensa mengganggu kampus. Mata menunjukan gejala afakia, bilik mata depan dalam dan iris tremulans.

Edema Retina dan Koroid Terjadinya sembab pada daerah retina yang bisa diakibatkan oleh trauma tumpul. Edema retina akan memberikan warna retina lebih abu-abu akibat sukarnya melihat jaringan koroid melalui retina yang sembab. Pada edema retina akibat trauma tumpul mengakibatkan edema makula sehingga tidak terdapat cherry red spot. Penglihatan pasien akan menurun. Penanganan yaitu dengan menyuruh pasien istirahat. Penglihatan akan normal kembali setelah beberapa waktu, akan tetapi dapat juga penglihatan berkurang akibat tertimbunya daerah makula oleh sel pigmen epitel.

Ruptur Koroid Ruptur biasanya terletak pada polus posterior bola mata dan melingkar konsentris di sekitar papil saraf optik, biasanya terjadi perdarahan subretina akibat dari ruptur koroid. Bila ruptur koroid terletak atau mengenai daerah makula lutea maka akan terjadi penurunan ketajaman penglihatan.

Avulsi papil saraf optik Saraf optik terlepas dari pangkalnya di dalam bola mata yang bisa diakibatkan karena trauma tumpul. Penderita akan mengalami penurunan tajam penglihatan yang sangat drastis dan dapat terjadi kebutaan. Penderita perlu dirujuk untuk menilai kelainan fungsi retina dan saraf optiknya

12

TRAUMA KIMIA Menurut bahan kimia yang menyebabkan Trauma mata, trauma kimia dapat dibagi menjadi 2 sebagai berikut : Trauma Kimia Asam Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi pengendapan ataupun penggumpalan protein permukaan sel. Asam membentuk suatu swar presipitat pada jaringan yang terkena, sehingga membantasi kerusakan lebih lanjut. Biasanya akan terjadi kerusakan hanya pada bagian superficial saja. Bahan asam dengan konsentrasi tinggi bereaksi seperti terhadap basa sehingga kerusakan yang diakibatkannya akan lebih dalam. Bahan kimia yang sering menyebabkan trauma kimia antara lain asam sulfat, sulfurous acid, asam hidroflorida, asam nitrat, asam asetat, asam kromat, dan asam hidroklorida. Salah satu kejadian yang mengakibatkan luka bakar asam sulfat antara lain Ledakan accu mobil, yang mungkin merupakan penyebab tersering dari luka bakar kimiawi pada mata. Asam hidroflorida dapat ditemukan dirumah pada cairan penghilang karat, pengkilap aluminum, dan cairan pembersih yang kuat. Industri tertentu menggunakan asam hidroflorida dalam pembersih dinding, glass etching (pengukiran pada kaca dengan cairan kimia), electropolishing, dan penyamakan kulit. Asam hidroflorida juga digunakan untuk pengendalian fermentasi pada breweries (pengolahan bir). Toksisitas hidroflorida pada okuler dapat terjadi akibat pajanan cairan maupun gas.

Penggolongan tingkatan dan prognosisnya dari luka bakar kimia tersebut ditentjan berdasarkan jumlah kerusakan kornea dan iskemia limbus, dimana setiap hilangnya arsitektur pembuluh darah normal konjungtiva disekitar kornea. Iskemia limbbus adalah salah satu faktor klinis yang amat penting karena menunjukkan tingkat kerusakan pada pembuluh darah limbus dan mengindikasikan kemampuan

13

sel indu kornea (yang terletak di limbus) untuk me-regenerasi kornea yang rusak. Oleh karenanya, tidak seperti kondisi trauma pada mata yang lain, mata yang pucat lebih berbahaya daripada mata yang merah. Penatalaksanaan pada trauma asam adalah: dimulai dengan irigasi dan mempertahankannya (30 menit) dengan tujuan mengurangi peradangan, nyeri dan resiko infeksi. Beberapa kerusakan akibat bahan kimia harus dilakukan irigasi beberapa menit sekali dalam beberapa jam Untuk segera mengurangi rasa sakit dapat dilakukan dengan instilasi dengan pontocaine hydrochloride (1/4%) tetapi untuk menyembuhkan pada tahap selanjutnya lebih sulit dilakukan. Penggunaan anastesi dapat dilakukan bila perlu untuk menfasilitasi irigasi yang baik, tetapi penggunaan anastesi yang terus menerus akan menunda proses penyembuhan Pemeriksaan pH dari air mata dapat dilakukan dengan kertas litmus jika tersedia setiap 5 menit dan lanjutkan sampai pH menjadi netral(warna kertas akan berubah menjadi biru bila terkena basa dan menjadi merah bila terkena asam)

Trauma Kimia Basa Basa merupakan substansi yang memiliki pH dasar dan memiliki kemampuan untuk mensaponifikasi lemak. Kerusakan sel akibat kontak dengan basa biasanya bergantung pada konsentrasi basa dan lama paparan. Saat pH meningkat, emulsifikasi lemak pada membran sel terjadi dan merusak sawar yang semula bertujuan menahan penetrasi. Menurut grant, efek trauma kimia dari pH tinggi terhadap stroma kornea melibatkan ikatan sementara kation basa terhadap mukoprotein kornea dan kolagen, dan hal tersebut menjadi lebih parah apabila Phnaik hingga 1,5. ikatan kation tersebut pada pH tinggi penting makannya

14

terhadap luka bakar yang di timbulkan, dan menyebabkan kerusakan mukoprotein mata yang cepat. Bahan kimia yang sering menyebabkan trauma kimia antara lain seperti sabun cuci, sampo, bahan pembersih lantai, kapur, lem(perekat) trauma akibat bahan kimia basa akan menyebabkan akibat yang sangat gawat pada mata. Basa akan menembus kornea dengan cepat, bilik matabilik mata depan sampai jaringan retina. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi proses persabunan, beserta dengan dehidrasi, bahan caustic soda dapat menembus bilik mata depan dalam waktu 7 detik. Pada trauma basa akan terbentuk kolagenase yang akan merubah kerusakan kolagen kornea. Basa yang menembus ke dalam bola mata akan merusak retina, sehingga akan berakhir dengan kebutaan si penderita. Tindakan bila terjadi trauma basa adalah: dengan secepat mungkin melakukan irigasi dengan garam fisiologik. Sebaiknya irigasi dilakukan selama mungkin. Bila mungkin irigasi dilakukan paling sedikit 60 menit segera setelah trauma penedrita diberi sikloplegia, antibiotika, EDTA (ethylene Diamine Tetracetic Acid) untuk mengikat basa. EDTA di berikan setelah satu minggu trauma basa diperlukan untuk menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ke tujuh.

Pencegahan Trauma mata dapat dicegah dan diperlukan penerangan kepada masyarakat untuk menghindari terjadinya trauma mata, seperti 2: - Trauma tajam akibat kecelakaan lalu lintas tidak dapat dicegah, kecuali trauma tajam perkelahian.
15

- Diperlukan perlindungan pekerja untuk menghindari terjadinya trauma tajam. - Awasi anak yang sedang bermain yang mungkin berbahaya bagi matanya. Orang yang menggunakan lensa dari kaca atau plastik yang sedang bekerja dalam industri atau melakukan aktivitas atletik memiliki resiko terkena pecahan fragmen lensa. Kaca mata yang paling efektif untuk mencegah cedera terdiri dari lensa polikarbonat dalam rangka poliamida dengan tepi penahan di posterior. Sebaiknya digunakan bingkai pada wraparound (bukan bingkai berengsel) karena lebih dapat menahan pukulan dari samping. Pada atletik atau aktivitas rekreasi beresiko tinggi (misalnya perang-perangan dengan peluru hampa atau cat), pelindung mata tanpa lensa tidak selalu melindungi mata secara adekuat. Perlindungan mata yang sesuai terutama diindikasikan bagi mereka yang bermain bola raket, bola tangan, dan squash. Banyak kebutaan yang terjadi akibat olah raga ini, terutama akibat trauma kontusio pada mata yang tidak terlindung dengan baik.2,4,6

16

BAB III KEGAWAT DARURAT

GAWAT DARURAT TRAUMA KIMIA Trauma kimia yang mengenai organ mata secara umum dapat menimbulkan kerusakan dari ringan sampai berat, terutama trauma basa / alkali dan trauma asam. Trauma jenis ini merupakan kondisi gawat darurat mata, dimana tindakan harus cepat dan tepat serta konsultasi pada dokter mata dengan segera sangat dianjurkan.

Basa / Alkali Bahan kimia yang bersifat basa / alkali memiliki pH yang tinggi sehingga

dapat menyebabkan pecah atau rusaknya sel jaringan dengan timbulnya proses persabunan pada membran sel epitel kornea, yang akan mempemudah penetrasi bahan kimia, serat kolagen kornea akan rusak, stroma kornea yang rusak akan menimbulkan tukak pada kornea dan dapat terjadi perforasi kornea. Bila trauma berat akan merusak sel goblet konjungtiva bulbi, produksi musim terganggu,

sehingga menimbulkan kekeringan air mata dan simblefaron, gangguan sekresi musin ini juga dapat menimbulkan keratinisasi epitel kornea. Bila terjadi perforasi kornea, bahan ini akan merusak vaskularisasi iris badan siliar dan epitel lensa. Baha-bahan dasar alkali yang sering menimbulkan trauma antara lain ammonia (NH), NAOH , Ca(OH). Pada pemeriksaan akan didapatkan pH bola mata meningkat (pH >7,3), penurunan tajam penglihatan oleh karena edema kornea, pada pemeriksaan dengan menggunakan fluorescein dan slit lamp akan tampak membran sel epitel rusak hingga hilangnya epitel, sindroma kekeringan air mata. Bila berat timbul simblefaron, konjungtiva dan sclera yang pucat, peningkatan atau penurunan tekanan intra ocular (TIO). Penanganan trauma basa/ alkali antara lain
17

irigasi dengan larutan saline minimal 30 menit, dianjurkan menggunakan pembuka palpebra, periksa PH setiap 5- 10 menit. Irigasi sampai Ph netral kembali (pH 6.8 7.4), bila terdapat benda asing yang menyebabkan pH tetap tinggi, harus segera diambil. Obat- obatan yang diberikan antara lain EDTA, tetes mata sikloplegik untuk mengatasi spasme badan siliar dan mengurangi sakit, salep mata antibiotic, obat anti glaucoma bila ditemui peningkatan TIO.

Asam Asam akan merusak dan memutus ikatan intramolekul protein, sehingga

terjadi koagulasi protein, keadaan ini dapat merupakan barier yang menghambat penetrasi zat ke intraocular. Bila trauma disebabkan oleh zat asam kuat maka akan menembus stroma kornea sehingga berubah warna menjadi kelabu dalam 24 jam dan juga timbul kerusakan pada badan siliar . bahan bahan asam yang sering menyebabkan trauma antara lain as. Sulfat (H2SO4)2. As. Hidrofluric (HF), as. Asetat (CHCOOH), as.hidroklorat (HCL). Pada saat pemeriksaan ditemukan pH cairan mata turun 30 menit setelah trauma , hipertermia, dan komosis konjungtiva bulbi. Peningkatan TIO pada hari pertama, bila kerusakan mengenai endotel kornea maka ditemukan membrane fibrosa yang mengganti kedudukan sel endotel yang rusak. Penatalaksanaan seperti trauma basa, irigasi sampai pH kembali netral dan obat- obatan juga seperti pada trauma basa.

OKLUSI ARTERI RETINA SENTRAL Penyumbatan akut pada arteri retina sentralis seringkali sukar ditemukan penyebabnya, tetapi pada orang tua biasanya disebabkan oleh thrombus atau emboli pada penyakit hipertensi, penyakit jantung atau kelainan karotis , infark miokard, diabetes mellitus, sedang pada orang yang lebih muda disebabkan oleh trauma, spasme pembuluh darah pada penyalahgunaan obat, pasien dengan penyakit koagulopati dan riwatyat penyakit arteritis temporalis. Pada pemeriksaan ditemukan mata tenang dengan penglihatan yang tiba- tiba hilang (hitung jari sampai lambaian
18

tangan) tanpa disertai sakit. Defek pupil aferen,pemeriksaan fundus tampak retina memucat, bercak cherry-red di fovea, tampak gambaran emboli pada bifurcation arteriola retina, dan gangguan lapang pandangan. Pemeriksaan lain yang pelu dilakukan untuk mencari penyebab timbulnya oklusi arteri , antara lain tekanan darah, pemeriksaan lab lengkap, evaluasi arteri karotis, dan pemeriksaan jantung. Penanganan yang terpenting pasien harus langsung dirujuk ke dokter mata, pemijatan bola mata, penurunan TIO dengan azetazolamid 500 mf iv atau 500 mg oral disertai timolol 0,5% topical, parasintesis bilik mata depan, therapy inhalasi dengan carbogen (campuran O, dan CO ), bila dicurigai terdapat giant cell arteritis dapat dilakukan biopsy arteri temporalis serta diberi terapi steroid baik oral maupun intravena. Yang terbaru dapat dilakukan operasi dan pemberian obat- obatan trombolisis.

GAWAT TRAUMA RADIASI Trauma radiasi disini dapat disebabkan oleh sinar ultraviolet dari matahari ( solar retinopati ) atau sinar yang lain seperti sinar infra merah. Sering terjadi pada pengamat gerhana matahari, pelaut, tukang las yang tidak menggunakan kacamata pelindung. Sinar ini dapat diserap oleh kulit , epitel konjungtiva, dan menembus kornea, serta dapat diabsorbpsi oleh lensa sehingga timbul denaturasi protein lensa. Gejala yang timbul biasanyafotofobia, blefarospasme, lakrimasi, pada pemeriksaan slit-lamp terdapat infiltrate kornea. Bila sinar langsung mengenai macula maka dalam 1/10 detik penglihatan akan turun karena fovea terbakar, bahkan sampai menimbulkan lubang / hole pada fovea. Penanganan hanya bersifat simptomatis, mengurangi rasa sakit dengan analgetik dan steroid untuk mengurangi gejala radang yang timbul.

19

TRAUMA JARINGAN EKSTRA OKULAR Trauma tajam atau tumpul yang mengenai kelopak dan jaringan ekstra okuler dapat menimbulkan luka robek / laserasi yang sering disertai dengan kerusakan system lakrimal mata, tendon kantus internus dan eksternus, septum orbita dan aponeurosislevator palpebra. Laserasi kelopak yang luas memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti dibawah mikroskop untukmengetahui seberapa dalam kerusakan dan ada atau tidak jaringan yang hilang, yang akan menimbulkan masalah dalam melakukan rekonstruksi. Penanganan harus dilakukan oleh dokter mata terutama terdapat keterlibatan system lakrimal. Rekonstruksi dilakukan diawali dengan perbaikan saluran lakrimasi, dilanjutkan penjahitan jaringan palpebra lapis demi lapis yang dilakukan dibawah mikroskop. Bila kerusakan kanalis lakrimalis berat sehingga tidak dapat direkonstruksi kembali, maka dapat dilakukan dakriosistorinostomi.

TRAUMA TUMPUL BOLA MATA trauma tumpul pada mata dapat menimbulkan kerusakan pada jaringan mata seperti edema kornea sehingga kornea menjadi keruh dan penglihatan akan menurun, bias terjadi hifema di bilik mata depan yang disebabkan pecahnya pembuluh darah iris yang terkadang disertai lepasnya iris dari akarnya (iridodialisis) atau timbul perdarahan badan kaca karena rusaknya pembuluh darah di badan siliar. Tanda lain dapat ditemui periorbital ekimosis, laserasi palpebra, perdarahan subkonjungtiva, vossius ring, subluksasi atau dislokasi lensa, rupture bola mata, ablasio retina, dan timbulnya neuropati optic traumatic. Pemeriksaan yang harus dilakukan antara lain pemeriksaan visus, reflex pupil, pemeriksaan dengan sliplamp disertai fluorescein, pemeriksaan TIO, funduskopi dengan pupil yang dilebarkan, dan pemeriksaan laboratorium darah. Penatalksanaan antara lain menghentikan perdarahan dengan obat- obat anti perdarahan, mengendalikan TIO, pemberian sikloplegik dan bila terdapat hifema penuh dilakukan parasintesis untuk mencegah naiknya TIO dan mencegah inhibisi kornea. Penderita dianjurkan untuk

20

dirawat, bed rest total dengan tidur menggunakan bantal tinggi (60). Kedua mata dianjurkan untuk ditutup agar mata dapat diistirahatkan. Bila terdapat rupture bola mata atau ablasio retina, harus segera dilakukan tindakan operatif sebagai usaha untuk menyelamatkan bola mata dan fungsi penglihatan.

TRAUMA TAJAM BOLA MATA Trauma tajam pada bola mata dapat menimbulkan hanya laserasi pada sclera atau kornea, bila ini terjadi , tindakan yang dilakukan adalah penjahitan kembali dibawah mikroskop. Tetapi bila trauma tajam tersebut menembus bola mata, dapat merusak susunan anatomic dan fungsional jaringan intraocular. Trauma tembus dapat disertai atau tanpa masuknya benda asing intraocular, gejala yang timbul antara lain turunnya penglihatan karena adanya kekeruhan pada media refrakta. Pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter mata dengan sangat berhati- hati karena sedikit penekanan saja dapat menyebabkan isi bola mata prolaps atau keluar. Tekanan bola mata menurun karena cairan akuos yang keluar melalui luka tembus atau bahkan badan kaca dapat keluar. Pada trauma jenis ini harus dilakukan pemeriksaan radiologi foto orbita menggunakan marker ( ring atau lensa kontak Comberg ) untuk menentukan ada atau tidak benda asing dan lokasi benda asing tersebut berada di ekstra atau intraocular, pemeriksaan ERG untuk mengetahui fungsi retina dan VER untuk melihat fungsi jalur penglihatan ke pusat penglihatan. Penatalaksanaan ditujukan untuk mempertahankan bola mata dan fungsi penglihatan, bila terdapat benda asing, harus segera dievakuasi dan luka yang terbuka harus segera ditutup. Pada penderita diberikan analgetik dan sedative, serta antibiotika spectrum luas intravena. Dapat juga disertai antibiotika intra camera atau intravitreal untuk mencegah infeksi post trauma.

21

GLAUKOMA SUDUT TERTUTUP AKUT Glaucoma sudut tertutup akut merupakan suatu kondisi mata yang gawat, karena pada kondisi ini tekanan bola mata naik secara cepat dan tiba- tiba karena adanya blok pada pupil sehingga menimbulkan gejala-gejala akut seperti mata merah, rasa sakit dimata, pusing, mualsering disertai muntah, penglihatan turun mendadak karena edema kornea, terdapat gambaran halo atau pelangi saat melihat lampu, lumpuhnya sphingter pupil, atrofi iris, TIO yang sangat tinggi. Kondisi harus mendapatkan penanganan segera, yaitu obat untuk menghjilanhkan gejala simptomatik. Dan dilakukan usaha untuk menurunkan TIO baik dengan pemberian obat hiperosmotik secara intravena , asetazolamid oral dan khemolol, timolol 0,5 % topical, miotika dapat diberikan bilatekanan sudah menurun dengan tujuan untuk membuka sudut irido corneal setelah TIO dapat terkontrol dianjurkan untuk dilakukan terapi operatif, yaitu iridotomi laser atau iridektomi perifer bila trabekulum masih berfungsi baik, bila fungsi trabekulum tidak berfungsi baik

dilakukan operasi filtrasi atau trabekulektomi.

ABLASI RETINA AKUT Ablasi retina adalah lepasnya lapisan fungsional retina dari epitel pigmen retina. Akibatnya akan terjadi degenerasi dan atrofi sel reseptor retina. Salah satu predisposisi ablasi retina ini antara lain adalah trauma, minus tinggi, penyakit seperti diabetes mellitus yang tidak terkontrol, atau penyakit infeksi sistemik lainnya. Gejala yang biasanya terjadi antara lain turunnya tajam penglihatan, terutama bila macula sudah terlibat, timbulnya floaters, fotopsia, pandangan seperti melihat tirai yang tertutup. Pada pemeriksaan retina terlihat berwarna abu-abu dan pembuluh darah retina berkelok-kelok seperti gelombang sesuai dengan retina yang terangkat. Tekanan bola mata lebih rendah dari normal. Penanganan ablasi retina, pasien harus dirujuk ke dokter mata, dan dirawat untuk segera dilakukan operasi. Operasi pengembalian letak retina, baik itu dengan metode scleral buckling atau pars plana vitrektomi. Prognosis tajam penglihatan setelah operasi ablasi retina

22

sangat bergantung pada lamanya ablasio, serta keterlibatan macula, prognosis akan baik bila ablasi masih baru (<48 jam) dan macula tidak terlibat, sebaliknya bila ablasi sudah lama dan macula sudah terlibat maka prognosis tajam penglihatan setelah operasi akan buruk.

23

BAB IV KESIMPULAN

Trauma okuli merupakan trauma atau cedera yang terjadi pada mata yang dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata dan rongga orbita, kerusakan ini akan memberikan penyulit sehingga mengganggu fungsi mata sebagai indra penglihat. Trauma okuli merupakan salah satu penyebab yang sering menyebabkan kebutaan unilateral pada anak dan dewasa muda, karena kelompok usia inilah yang sering mengalami trauma okuli yang parah Penyebab tersering adalah karena kecelakaan saat bekerja, bermain dan berolahraga. Luas cedera ditentukan oleh ukuran benda yang mempenetrasi, kecepatan saat impaksi, dan komposisi benda tersebut. Manifestasi klinis berupa visus turun, tekanan intra okular rendah, angulus iridokornealis dangkal, bentuk dan letak pupil berubah, terlihatnya ada ruptur pada kornea atau sklera, terdapat jaringan yang prolaps (lepas), seperti: iris, lensa, retina, kemosis konjungtiva. Komplikasi dari trauma tajam okuli adalah endoftalmitis, panoftalmitis, oftalmia simpatika, hemoragik intraokular. Penatalaksanaan diberikan antibiotik topikal, mata ditutup, dan segera dikirim pada dokter mata untuk dilakukan pembedahan. Diberikan antibiotik sistemik secara oral atau intravena, anti tetanus profilaktik, analgesik dan sedatif bila perlu. Steroid lokal dan bebat tidak boleh diberikan. Pengeluaran benda asing sebaiknya dilakukan di rumah sakit dengan fasilitas yang memadai.

24

DAFTAR PUSTAKA

1. Asbury, Taylor. Trauma Mata. Dalam: Vaughan. Oftalmologi Umum Edisi XVII. Jakarta: Widya Medika. 2008; 373-80. 2. Wijana, Nana. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: EGC. 1993; 312-26. 3. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. FK-UI, Jakarta: 2004; 192-8.

25