Anda di halaman 1dari 35

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Dalam suatu organisasi maupun perusahaan pasti memiliki anggaran, baik operasional ataupun modal/investasi. Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam satuan moneter. Anggaran digunakan untuk mengendalikan biaya dan menentukan bidang-bidang masalah dalam organisasi tersebut dengan membandingkan hasil kinerja yang telah dianggarkan secara periodik. Agar anggaran itu tepat sasaran dan sesuai dengan tujuan, maka diperlukan kerja sama yang baik antara bawahan dan atasan, pegawai dengan manajer dalam penyusunan anggaran. Pada sektor publik, anggaran harus diinformasikan kepada publik untuk dikritik, didiskusikan, dan diberi masukan. Anggaran pada sektor publik terkait dengan proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiap-tiap program dan aktivitas dalam satuan moneter yang menggunakan dana milik rakyat. Tahap penganggaran menjadi sangat penting karena anggaran yang tidak efektif dan tidak berorientasi pada kinerja akan dapat menggagalkan perencanaan yang telah disusun. Fungsi anggaran adalah sebagai alat perencanaan yang salah satunya digunakan untuk menentukan indikator kinerja. Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah dan UU Nomor 33 tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, membuka peluang yang luas bagi daerah untuk mengembangkan dan membangun daerahnya sesuai dengan kebutuhan dan prioritas masingmasing. Dengan berlakunya UU tersebut di atas akan membawa konsekuensi bagi pemerintah daerah dalam bentuk pertanggungjawaban atas

pengalokasian dana yang dimiliki dengan cara yang efektif dan efisien, khususnya dalam upaya peningkatan kesejahteraan dan pelayanan umum kepada masyarakat.

1.2. Rumusan Masalah Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalahanya adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Apa yang dimaksud dengan penganggaran sektor publik? Apa pentingnya anggaran sektor publik? Apa fungsi anggaran sektor publik? Apa saja jenis-jenis anggaran sektor publik? Apa prinsip anggaran sektor publik? Bagaimana proses penyusunan anggaran sektor publik? Apa prinsip pokok dalam siklus anggaran sektor publik?

1.3. Tujuan 1. 2. Untuk mengetahui pengertian penganggaran sektor publik Untuk mengetahui dan memahami pentingnya anggaran sektor

publik 3. 4. 5. 6. Untuk mengetahui fungsi anggaran sektor publik Untuk mengetahui jenis-jenis anggaran sektor publik Untuk mengetahui dan memahami prinsip anggaran sektor publik Untuk mengetahui proses penyusunan anggaran sektor publik

7.

Untuk mengetahui prinsip pokok dalam siklus anggaran sektor

publik

1.4. Manfaat 1.4.1.


1.

Bagi Mahasiswa Dapat mengetahui mengenai penganggaran sektor publik. Dapat melatih kemampuan menulis demi kelancaran

2.

penyusunan makalah-makalah berikutnya. 1.4.2.


1.

Bagi Universitas Negeri Surabaya Memberi masukan pada penyusunan kurikulum program

studi dalam menyiapkan lulusan yang kompeten.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian dan Konsep Anggaran Sektor Publik Istilah sektor publik memiliki pengertian yang bermacam-macam, hal tersebut merupakan konsekuensi dari luasnya wilayah publik, sehingga setiap disiplin ilmu (ekonomi, politik dan sosial) memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Menurut Mardiasmo (2004:2) dijelaskan mengenai pengertian sektor publik dilihat dari sudut pandang ilmu ekonomi yaitu sebagai berikut: Sektor publik adalah suatu entitas yang aktivitasnya berhubungan dengan usaha untuk menghasilkan barang dan pelayanan publik dalam rangka memenuhi kebutuhan dan hak publik. Jadi, sektor publik merupakan suatu wadah pemerintah untuk menghasilkan barang dan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan publik dengan mengutamakan kesejahteraan masyarakat. Dalam menjalankan segala aktivitasnya sektor publik menyusun seluruh kegiatan dan program kerjanya dalam sebuah anggaran. Anggaran pada sektor publik memiliki fungsi yang sama dengan anggaran pada perusahaan komersil, yaitu sebagai pernyataan mengenai rencana kerja yang akan dilakukan pada periode waktu tertentu. Anggaran sektor publik menurut Mardiasmo (2004:62) yaitu sebagai berikut: Anggaran sektor publik merupakan suatu rencana kegiatan yang dipresentasikan dalam bentuk rencana perolehan pendapatan dan balanja dalam satuan moneter. Anggaran sektor publik merupakan rincian seluruh aspek kegiatan yang akan dilaksanakan yang tersusun atas rencana pendapatan dan pengeluaran yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu satu tahun.

Menurut National Committee on Governmental Accounting (NCGA), saat ini Governmental Accounting Standarts Board (GASB), definisi anggaran (budget) sebagai berikut: . Rencana operasi keuangan, yang mencakup estimasi pengeluaran yang diusulkan, dan sumber pendapatan yang diharapkan untuk membiayainya dalam periode waktu tertentu. Anggaran publik berisi rencana kegiatan yang direpresentasikan dalam bentuk rencana perolehan pendapatan dan belanja dalam satuan moneter. Anggaran berisi estimasi mengenai apa yang akan dilakukan organisasi di masa yang akan datang. Anggaran merupakan pernyataan mengenai estimasi kinerja yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dinyatakan dalam ukuran finansial, sedangkan penganggaran adalah proses atau metode untuk mempersiapkan anggaran. Penganggaran dalam organisasi sektor publik merupakan tahapan yang cukup rumit dan mengandung nuansa politik yang tinggi. Hal tersebut berbeda dengan penganggaran sektor swasta yang relatif kecil nuansa politisnya. Pada sektor swasta, anggaran merupakan bagian dari rahasia perusahaan yang tertutup untuk publik, namun sebaliknya pada sektor publik anggaran justru harus diinformasikan kepada publik untuk dikritik, didiskusikan, dan diberi masukan. Anggaran sektor publik merupakan instrumen akuntabilitas atas pengelolaan dana publik dan pelaksanan program-program dibiayai dengan uang publik. Penganggaran sektor publik terkait dengan proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiap-tiap program dan aktivitas dalam satuan moneter. Anggaran merupakan artikulasi dari hasil perumusan strategi dan perencanaan strategik yang telah dibuat. Penganggaran sektor publik harus diawasi mulai tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan. Aspek-aspek yang harus tercakup dalam anggaran sektor publik meliputi:

1. 2.
3.

Aspek perencanaan Aspek pengendalian Aspek akuntabilitas publik

2.2. Pentingnya Anggaran Sektor Publik Tidak semua aspek kehidupan masyarakat tercakup oleh anggaran sektor publik. Terdapat beberapa aspek kehidupan yang tidak tersentuh oleh anggaran sektor publik, baik skala nasional maupun lokal. Anggaran sektor publik dibuat untuk membantu menentukan tingkat kebutuhan masyarakat. Tingkat kesejahteraan masyarakat dipengaruhi oleh keputusan yang diambil oleh pemerintah melalui anggaran yang mereka buat.

Anggaran dan Kebijakan Fiskal Pemerintah Kebijakan fiskal adalah usaha yang dilakukan pemerintah untuk mempengaruhi keadaan ekonomi melalui sistem pengeluaran atau sistem perpajakan untuk mencapai tujuan tertentu. Alat utama kebijakan fiskal adalah anggaran. Anggaran sektor publik harus dapat memenuhi kriteria berikut: 1. Merefleksikan perubahan prioritas kebutuhan dan keinginan

masyarakat. 2. Menentukan penerimaan dan pengeluaran departemen-departemen

pemerintah, provinsi, dan pemerintah daerah. Anggaran sektor publik penting karena beberapa alasan, yaitu: 1) Anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk mengarahkan sosial-ekonomi, menjamin kesinambungan, dan

pembangunan

meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

2)

Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan keinginan

masyarakat yang tak terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang ada terbatas. Anggaran diperlukan karena adanya masalah keterbatasan sumber daya, pilihan, dan trade offs. 3) Anggaran diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah

bertanggung jawab terhadap rakyat. Dalam hal ini anggaran publik merupakan instrumen pelaksanaan akuntabilitas publik oleh lembagalembaga publik yang ada.

2.3.

Fungsi Anggaran Sektor Publik Menurut Elmi (2002), penganggaran adalah suatu proses menyusun

rencana

keuangan,

yaitu

pendapatan

dan

pembiayaan,

kemudian

mengalokasikan dana tersebut ke masing-masing kegiatan sesuai dengan fungsi dan sasaran yang hendak dicapai. Penganggaran sektor publik (publik budgeting) menurut Lynch (dalam Rubenstein:2002) adalah a plan for introducing programs deal with objectives and goals within a period, including an estimate of resources required, usually compared with past periods and showing future requirements. Dalam upaya pemberdayaan pemerintahan daerah, maka perspektif perubahan yang diinginkan dalam pengelolaan keuangan daerah dan anggaran daerah adalah sebagai berikut (Mardiasmo:2002):
1.

Pengelolaan keuangan harus bertumpu pada kepentingan publik Kejelasan tentang misi pengelolaan keuangan daerah dan kejelasan

(publik oriented) 2. peran para partisipan yang terkait dalam pengelolaan anggaran, seperti Kepala Daerah, DPRD, Sekda dan perangkat lainnya. 3. 4. Prinsip pengadaan dan pengelolaan barang daerah yang lebih Ketentuan tentang bentuk dan struktur anggaran, anggaran kinerja profesional. dan anggaran yang multi tahunan

5.

Prinsip akuntansi pemerintah daerah, laporan keuangan daerah ,

peran DPRD dan akuntansi publik dalam pngawasan, pemberian opini dan rating kinerja anggaran dan transparansi informasi anggaran kepada publik 6. Aspek pembinaan dan pengawasan yang meliputi batasan pembinaan, peran asosiasi dan peran anggota masyarakat guna pengembangan profesionalisme aparat pemerintah daerah 7. Pengembangan sistem informasi keuangan daerah untuk menyediakan informasi anggaran yang akurat dan pengembangan komitmen pemerintah daerah terhadap penyebarluasan informasi sehingga memudahkan pelaporan, pengendalian dan mendapatkan informasi. Anggaran sektor publik mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu :
1.

Sebagai alat perencanaan (Planning Tool) Anggaran merupakan alat perencanaan manajemen untuk mencapai

tujuan organisasi. Anggaran sektor publik dibuat untuk merencanakan tindakan apa yang akan dilakukan oleh pemerintah, berapa biaya yang dibutuhkan, dan berapa hasil yang diperoleh dari belanja pemerintah tersebut. Anggaran sebagai alat perencanaan digunakan untuk:
Merumuskan tujuan serta sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi

dan misi yang ditetapkan;


Merencanakan berbagai program dan kegiatan untuk mencapai

tujuan

organisasi

dan

merencanakan

alternatif

sumber

pembiayaannya;
Mengalokasikan dana pada berbagai program dan kegiatan yang

telah disusun; dan


Menentukan indikator kinerja dan tingkat pencapaian strategi. 2.

Alat pengendalian (Control Tool) Anggaran memberikan rencana detail atas pendapatan dan

pengeluaran pemerintah agar pembelanjaan yang dilakukan dapat

dipertanggung jawabkan kepada publik. Tanpa anggaran, pemerintah tidak dapat mengendalikan pemborosan-pemborosan pengeluaran. Anggaran sektor publik dapat digunakan untuk mengendalikan (membatasi kekuasaan) eksekutif. Anggaran sebagai instrumen pengendalian digunakan untuk menghindari adanya over spending, underspending, dan salah sasaran (misappropriation) dalam pengalokasian anggaran pada bidang lain yang bukan merupakan prioritas. Anggaran merupakan alat untuk memonitor kondisi keuangan dan pelaksanaan operasional program atau kegiatan pemerintah. Sebagai alat pengendalian manajerial, anggaran sektor publik digunakan untuk meyakinkan bahwa pemerintah mempunyai uang yang cukup untuk memenuhi kewajibannya. Selain itu, anggaran digunakan untuk memberi informasi dan meyakinkan legislatif bahwa pemerintah bekerja secara efisien, tanpa ada korupsi dan pemborosan. Pengendalian anggaran publik dapat dilakukan melalui empat cara, yaitu: 1. 2. 3. 4. Membandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang Menghitung selisih anggaran; Menemukan penyebab yang dapat dikendalikan dan tidak Merevisi standar biaya atau target anggaran untuk tahun dianggarkan;

dapat dikendalikan atas suatu varians; dan berikutnya.


3.

Alat kebijakan fiskal (Fiscal Tool) Angaran digunakan untuk menstabilkan ekonomi dan mendorong

pertumbuhan ekonomi. Melalui anggaran publik tersebut dapat diketahui arah kebijakan fiskal pemerintah, sehingga dapat dilakukan prediksiprediksi dan estimasi ekonomi. Anggaran dapat digunakan untuk mendorong, menfasilitasi, dan mengkoordinasikan kegiatan ekonomi masyarakat sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi.

4.

Alat politik (Political Tool) Anggaran digunakan untuk memutuskan prioritas-prioritas dan

kebutuhan keuangan, yaitu sebagai bentuk komitmen eksekutif dan legislatif atas penggunaan dana publik untuk kepentingan tertentu. Oleh karena itu, pembuatan anggaran publik membutuhkan political skill, coalition bulding, keahlian bernegosiasi dan pemahaman prinsip manajemen keuangan sektor publik.
5.

Alat

koordinansi

dan

komunikasi

(Coordination

and

Communication Tool) Anggaran publik merupakan alat koordiansi antar bagian, terlihat ketika penyusunan anggaran. Anggaran publik yang disusun dengan baik akan mampu mendeteksi terjadinya inkonsistensi suatu unit kerja dalam pencapaian tujuan organisasi. Di samping itu, anggaran publik juga berfungsi sebagai alat komunikasi antara unit kerja dalam lingkungan eksekutif. Anggaran harus dikomunikasikan ke seluruh bagian organisasi untuk dilaksanakan.
6.

Alat penilaian kinerja (Performance Measurement Tool) Anggaran merupakan wujud komitmen dari budget holder

(eksekutif) kepada pemberi wewenang (legislatif). Kinerja eksekutif akan dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan efisiensi anggaran. Kinerja manajer publik dinilai berdasarkan berapa yang berhasil dicapai dikaitkan dengan anggaran yang telah ditetapkan. Anggaran merupakan alat yang efektif untuk pengendalian dan penilaian kerja.
7.

Alat motivasi (Motivation Tool) Anggaran dapat digunakan sebagai alat untuk memotivasi manajer

dan stafnya agar bekerja secara ekonomis, efektif dan efisien dalam mencapai target dan tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Agar dapat memotivasi pegawai, anggaran hendaknya bersifat cveablehallenging but attainable atau demanding but achieveable. Maksudnya adalah target

10

anggaran hendaknya jangan terlalu tinggi sehingga tidak dapat dipenuhi, namun juga jangan terlalu rendah sehingga terlalu mudah untuk dicapai.
8.

Alat untuk menciptakan ruang publik (publik sphere) Anggaran publik tidak boleh diabauikan oleh kabinet, birokrat, dan

DPR/DPRD. Masyarakat, LSM, perguruan tinggi, dan berbagai organisasi kemasyarakatan harus lerlibat dalam proses penganggaran publik. Kelompok masyarakat yang terorganisir akan mencoba mempengaruhi anggaran pemerintah untuk kepentingan mereka. Kelompok lain dari masyarakat yang kurang terorganisir akan mempercayakan aspirasinya melalui proses politik yang ada. Pengangguran, tuna wisma dan kelompok lain yang tidak terorganisir akan dengan mudah dan tidak berdaya mengikuti tindakan pemerintah. Jika tidak ada alat untuk menyapaikan suara mereka, maka mereka akan mengambil tindakan dengan jalan lain, seperti dengan tindakan massa, melakukan boikot, vandalisme, dan sebagainya.
2.4.

Jenis Anggaran Sektor Publik Anggaran sektor publik dibagi menjadi dua, yaitu:

11

Anggaran Operasional Anggaran operasional digunakan untuk merencanakan kebutuhan sehari-hari dalam menjalankan pemerintah. Pengeluaran pemerintah yang dapat dikategorikan dalam anggaran operasional adalah "belanja rutin". Belanja rutin adalah pengeluaran yang manfaatnya hanya untuk satu tahun anggaran dan tidak dapat menambah aset atau kekayaan bagi penmerintah. Disebut "rutin" karena sifat pengeluaran tersebut berulang-ulang ada setiap tahun. Secara umum, pengeluaran yang masuk kategori anggaran operasional antara lain belanja Administrasi Umum dan Belanja Operasi dan pemeliharaan. Anggaran Modal atau Investasi Anggaran modal menunjukan rencana jangka panjang dan pembelanjaan atas aktiva tetap seperti gedung, peralatan, kendaraan, perabot, dan sebagainya. Pengeluaran modal yang besar biasanya dilakukan dengan menggunakan pinjaman. Belanja investasi atau modal adalah pengeluaran yang manfaatnya cenderung melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset atau kekayaan pemerintah, dan selanjutnya akan menambah anggaran rutin untuk biaya operasional dan pemeliharaan. Anggaran berfungsi sebagai alat politis yang digunakan untuk memutuskan prioritas dan kebutuhan keuangan pada sektor tersebut. Pada dasarnya, pemerintah tidak mempunyai uang yang dimiliki sendiri, sebab seluruhnya adalah milik publik. Dalam sebuah masyarakat demokratis, rakyat member mandat kepada pemerintah melalui proses pemilihan umum. Politisi mentranslasikan mandat tersebut dalam bentuk kebijakan publik dan program yang memberi manfaat bagi pemilih yang direlflesikan dalam anggaran. Adanya keterbatasan sumber daya, menyebabkan anggaran mempunyai trade-offs, sebagian uang tidak dapat dialokasikan untuk suatu bidang tanpa mengurangi jumlah alokasi pada bidang yang lain, atau adanya penambahan jumlah pajak yang dibayar publik. Pemerintah tidak mungkin memenuhi permintaan seluruh stakeholder-nya secara simultan. Pemerintah memutuskan bidang mana

12

yang akan didahulukan atau diprioritaskan. Anggaran berfungsi sebagai alat politis yang digunakan untuk memutuskan prioritas dan kebutuhan keuangan pada sektor tersebut.
2.5.

Prinsip Anggaran Sektor Publik Prinsip-prinsip anggaran sektor publik adalah:

1.

Otorisasi oleh legislatif

Anggaran publik harus mendapatkan otorisasi dari legislatif dahulu sebelum eksekutif dapat membelanjakan anggaran tersebut. 2. Komprehensif

Anggaran harus menunjukan semua penerimaan dan pengeluaran pemerintah. Oleh karena itu, dana non-budgetair pada dasarnya menyalahi prinsip anggaran yang bersifat komprehensif. 3. Keutuhan anggaran

Semua penerimaan dan belanja pemerintah harus terhimpun dalam dana umum. 4. Nondiscretionary Appropriation

Jumlah yang disetujui oleh dewan legislatif harus termanfaatkan secara ekonomis, efisien dan efektif. 5. Periodik

Anggaran merupakan suatu proses yang periodik dapat bersifat tahunan maupun multitahunan. 6. Akurat

Estimasi anggaran hendaknya tidak memasukkan cadangan yang tersembunyi yang dapat dijadikan sebagai kantong-kantong pemborosan

13

dan inefisiensi anggaran serta dapat mengakibatkan munculnya underestimate pendapatan dan overestimate pengeluaran. 2. Jelas

Anggaran hendaknya sederhana, dapat dipahami masa masyarakat dan tidak membingungkan. 3. Diketahui Publik

Anggaran harus diinformasikan kepada masyarakat luas.

2.6.

Proses Penyusunan Anggaran Sektor Publik Proses penyusunan anggaran memiliki 4 tujuan, yaitu:

1.

Membantu pemerintah mencapai tujuan fiskal dan meningkatkan

koordinasi antarbagian dalam lingkungan pemerintah. 2. Membantu menciptakan efisiensi dan keadilan dalam menyediakan

barang dan jasa publik melalui proses pemrioritasan. 3. 4. Memungkinkan bagi pemerintah untuk memenuhi prioritas belanja. Meningkatkan transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah

kepada DPR/DPRD dan masyarakat luas. Faktor dominan yang terdapat dalam proses penganggaran adalah: 1. 2. Tujuan dan target yang hendak dicapai Ketersediaan sumber daya (faktor-faktor produksi yang dimiliki

pemerintah) 3.
4.

Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan dan target Faktor lain, seperti munculnya peraturan pemerintah yang baru,

fluktuasi pasar, perubahan sosial dan politik, bencana alam, dan sebagainya.

14

Pengelolaan keuangan publik melibatkan beberapa aspek, yaitu aspek penganggaran, aspek akuntansi, aspek pengendalian dan aspek auditing. Aspek penganggaran mengantisipasi pendapatan dan belanja (revenues and expenditures), sedangkan aspek akuntansi terkait dengan proses mencatat, mengolah dan melaporkan segala aktivitas penerimaan dan pengeluaran (receipts and disbursments) atas dana pada saat anggaran dilaksanakan. Kedua aspek tersebut dianggap penting dalam manajemen keuangan publik. Namun, di antara kedua aspek tersebut dianggap sebagai isu sentarl bila dipandang dari sisi waktu. Kalau aspek akuntansi lebih bersifat retrospective (pencatatan masa lalu), maka aspek penganggaran lebih bersifat prospective atau anticipatory (perencanaan masa yang akan datang). Karena aspek penganggaran dianggap sebagai isu sentral, maka para manajer publik perlu mengetahui prinsip-prinsip pokok yang ada pada siklus anggaran.

2.7.

Prinsip Pokok dalam Siklus Anggaran Sektor Publik Prinsip-prinsip pokok siklus anggaran perlu diketahui dan dikuasai

dengan baik oleh penyelenggara pemerintahan. Pada dasarnya prinsipprinsip dan mekanisme penganggaran relatif tidak berbeda antara sektor swasta dengan sektor publik (Henley et al.:1990). Siklus anggaran meliputi empat tahap yang terdiri atas:
1.

Tahap persiapan anggaran (preparation) Pada tahap persiapan anggaran dilakukan taksiran pendapatan yang

tersedia. Tetapi sebelum menyetujui taksiran pengeluaran terlebih dahulu dilakukan penaksiran pendapatan secara akurat. Selain itu, harus disadari adanya masalah yang cukup berbahaya jika anggaran pendapatan diestimasi pada saat bersamaan dengan pembuatan keputusan tentang anggaran pengeluaran.

15

Dalam persoalan estimasi, yang perlu mendapat perhatian adalah faktor uncertainly (tingkat ketidakpastian) yang cukup tinggi. Oleh sebab itu, manajer keuangan publik harus memahami betul dalam menentukan besarnya suatu mata anggaran.
2.

Tahap ratifikasi (approval) Tahap ini merupakan tahap yang melibatkan proses politik yang

cukup rumit dan cukup berat. Pimpinan eksekutif dituntut tidak hanya memiliki managerial skill namun juga political skill, salesmanship, dan coalition building yang memadai. Hal tersebut penting karena dalam tahap ini pimpinan eksekutif harus mempunyai kemampuan untuk menjawab dan memberikan argumentasi yang rasional atas segala pertanyaan-pertanyaan dan bantahan-bantahan dari pihak legislatif.

3.

Tahap implementasi (implementation); Dalam tahap ini hal terpenting yang harus diperhatikan oleh manajer

keuangan publik adalah dimilikinya sistem (informasi) akuntansi dan sistem pengendalian manajemen. Manajer keuangan publik dalam hal ini bertanggung jawab untuk menciptakan sistem akuntansi yang memadai dan handal untuk perencanaan dan pengendalian anggaran yang telah disepakati, dan bahkan dapat diandalkan untuk tahap penyusunan anggaran periode berikutnya. Sistem akuntansi yang baik meliputi pula dibuatnya sistem pengendalian intern yang memadai.
4.

Tahap pelaporan dan evaluasi (reporting and evaluation). Tahap akhir ini terkait dengan aspek akuntabilitas. Jika tahap

implementasi telah didukung dengan sistem akuntansi dan sistem pengendalian manajemen yang baik, maka diharapkan tahap budget reporting dan evaluation tidak akan menemui banyak masalah.

16

17

BAB III PEMBAHASAN

3.1. Prosedur Penyusunan APBD Proses penyusunan APBD meliputi tahap perencanaan, penyusunan kebijakan umum APBD, dan penyusunan strategi dan prioritas APBD. Berikut ini penjelasan masing masing proses penyusunan APBD. 1. Tahap Perencanaan Perencanaan daerah diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu: a) b) c) Rencana jangka panjang (lima tahunan) Rencana jangka menengah (tiga tahunan) Rencana jangka pendek (satu tahunan)

Perencanaan anggaran daerah termasuk kategori rencana jangka pendek sebagai bagian dari perencanaan jangka menengah dan perencanaan jangka panjang. Perencanaan anggaran daerah terdiri atas formulasi kebijakan anggaran (budget policy formulation) yang berkaitan dengan analisis fiskal dan perencanaan operasional anggaran (budget operational planning) yang lebih ditekankan pada alokasi sember daya. Penyusunan kebijakan umum APBD termasuk kategori formulasi kebijakan anggaran yang menjadi acuan dalam perencanaan operasional anggaran. 2. Penyusunan Kebijakan Umum APBD Penyusunan kebijakan umum APBD dilakukan sebelum menyiapkan rancangan APBD. Kebijakan umum APBD memuat petunjuk dan ketentuan umum yang disepakati sebagai pedoman dalam penyusunan APBD.

18

a.Pengertian dan Ruang Lingkup APBD disusun berdasarkan anggaran kinerja, yaitu suatu sistem anggaran yang mengutamakan upaya pencapaian hasil kerja (output) dari perencanaan alokasi biaya dan input yang ditetapkan. APBD disusun pada sasaran tertentu yang hendak dicapai dalam satu tahun anggaran. Oleh karena itu, dalam rangka menyiapkan rancangan APBD, pemerintah daerah bersama DPRD menyusun kebijakan umum APBD yang memuat petunjuk dan ketentuan-ketantuan umum yang disepakati sebgai pedoman dalam penyusunan APBD. Kebijakan umum APBD memuat komponen-kompenen

pelayanan dan tingkat pencapaian yang diharapkan pada setiap bidang kewenangan pemerintah daerah yang akan dilaksanakan dalam satu tahun anggaran. Komponen dan kinerja pelayanan yang diharapkan tersebut disusun berdasarkan aspirasi masyarakat dengan mempertimbangkan kondisi dan kemampuan daerah, termasuk kinerja pelayanan yang telah dicapai dalam tahun-tahun anggaran sebelumnya. Penyusunan kebijakan umum APBD pada dasarnya merupakan dari upaya pencapaian visi, misi, tujuan, dan sasaran yang telah ditetapkan dalam rencana strategis daerah. Adapun yang dimaksud dengan visi, misi, tujuan, dan sasaran adalah sebagai berikut: 1) Visi menyatakan pandangan jauh ke depan mengenai cita

dan citra yang ingin diwujudkan unit kerja pada masa yang akan datang. Visi memberikan gambaran kearah mana unit kerja akan dibawa dan bagaimana agar unit kerja tersebut tetap eksis, konsisten, antisipatif, inovatif, dan produktif. 2) Misi menyatakan sesuatu yang harus diemban oleh unit

kerja sesuai dengan visinya.

19

3)

Tujuan merupakan penjabaran dari misi yang menyatakan

sesuatu yang ingin dicapai dalam jangka waktu satu tahun sampai dengan lima tahun. 4) ingin Sasaran dicapai merupakan dalam penjabaran waktu dari tujuan yang

teridentifikasi dengan jelas dan terukur mengenai sesuatu yang satuan bulanan, triwulanan, semesteran, atau tahunan. 5) Program merupakan sekumpulan kegiatan yang

direncanakan untuk merealisasikan sasaran yang ditetapkan. 6) Kegiatan merupakan tindakan yang akan dilaksanakan

sesuai dengan program yang direncanakan untuk memperoleh hasil tertentu yang diinginkan dengan memanfaatkan sumber sumber yang tersedia.

b.

Mekanisme Penyusunan Kebijakan Umum APBD (KUA) Pemerintah daerah bersama-sama DPRD menyusun konsep

kebijakan umum APBD dengan dasar sebagai berikut: 1) Pemerintah daerah bersama-sama DPRD menggunakan

rencana strategis daerah dan dokumen perencanaan lainnya sebagai dasar penyusunan KUA. 2) Pemerintah daerah bersama DPRD untuk mengadakan

penjaringan

aspirasi

masyarakat

mengidentifikasi

perkembangan kebutuhan dan keinginan masyarakat melalui pendekatan dengar pendapat, turun lapangan, kuesioner, dialog interaktif, kotak saran, kotak pos, telepon bebas pulsa, website, dan inspeksi mendadak. Penjaringan aspirasi masyarakat dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat

20

untuk berpartisipasi dan terlibat dalam proses penganggaran daerah berupa ide, pendapat, saran, dan masukan. 3) Mempertimbangkan data historis, yaitu berupa evaluasi APBD mengenai pencapaian kinerja pelayanan,

kinerja

permasalahan, dan kendala yang dihadapi pada tahun-tahun anggaran sebelumnya. 4) 5) Memperhatikan pokok-pokok pikiran DPRD. Memperhatikan pokok-pokok kebijakan pengelolaan

keuangan daerah dari pemerintah atasan. 6) Melibatkan masyarakat pemerhati, tenaga ahli, para

akademisi, tokoh masyarakat. Mekanisme penyusunan kebijakan umum APBD bisa dilihat pada gambar berikut ini: Kebijakan Pemerintah Atasan

Renstra/Dokumen perencanaan lainnya

Data Historis

Masyarakat: Tokoh Masyarakat, LSM, Ormas, Asosiasi Profesi, Perguruan Tinggi

Pokok-pokok pikiran APBD

Pemda

Arah dan Kebijakan Umum APBD

DPRD 21

c.Penyusunan Strategi dan Prioritas APBD Penyusunan strategi dan prioritas APBD digunakan untuk memberikan arahan dalam mencapai tujuan, kebijakan, program, kegiatan, dan alokasi sumber daya pemerintah atau suatu entitas. a) Pengertian dan Ruang Lingkup
1)

Strategi dapat dipandang sebagai suatu pendekatan,

metode, atau teknik pemanfaatan sumber daya manusia, dana, dan teknologi untuk mencapai suatu target kinerja melalui hubungan yang efektif antara sumber daya manusia, teknologi, dan lingkungannya. Strategi berkaitan dengan suatu tujuan, kebijakan, program, kegiatan dan alokasi sumber daya yang menyatakan suatu yang akan dikerjakan dan mengapa hal tersebut harus dikerjakan. Strategi mengandung beberapa karakteristik, yakni (a) Pendekatan atau metode untuk mencapai arah dan kebijakan umum yang ditetapkan, (b) Dimaksudkan untuk menghadapi perubahan lingkungan, dan (c) Diarahkan menuju pada kondisi yang lebih menguntungkan. 2) Prioritas merupakan suatu upaya mendahulukan

atau mengutamakan sesuatu daripada yang lain. Prioritas adalah suatu proses dinamis dalam pembuatan keputusan atau tindakan yang ada pada saat tertentu dinilai paling penting dengan dukungan komitmen untuk melaksanakan keputusan tersebut.

22

b) Mekanisme Penyusunan Strategi dan Prioritas APBD 1) Berdasarkan kebijakan umum APBD, pemerintah

daerah melalui tim anggaran eksekutif menyusun strategi dan prioritas APBD. 2) Tim penyusunan strategi anggaran dan eksekutif APBD dalam dapat

mengembangkan

prioritas

melibatkan tim ahli. 3) Strategi dan prioritas APBD yang telah disusun tim

anggaran eksekutif disampaikan kepada panitia anggaran legislatif untuk dikonfirmasi kesesuaiannya dengan kebijakan umum APBD (KUA) yang telah disepakati sebelumnya. 4) KUA tersebut dijadikan pedoman bagi tim anggaran

eksekutif bersama-sama unit organisasi perangkat daerah untuk menyiapkan RAPBD.

Pemda

Kebijakan Umum APBD

DPR D

Tim Anggaran

Strategi dan Prioritas APBD

Panitia Anggaran Legislatif

3.2. Tahap Penyusunan Rancangan APBD Penyusunan rancangan APBD dengan pendekatan kinerja mencakup dua hal, yaitu Penyusunan rancangan anggaran unit kerja dan Penyusunan rancangan APBD pemerintah daerah.

23

1.

Penyusunan Rancangan Anggaran Unit Kerja Pemerintah daerah bersama DPRD menyusun kebijakan umum

APBD berpedoman pada renstrada, penjaringan aspirasi masyarakat, laporan kinerja tahun anggaran sebelumnya, pokok-pokok pikiran DPRD, dan kebijakan keuangan daerah. Penjaringan aspirasi masyarakat dimulai bulan Mei dan kesepakatan pemerintah daerah dan DPRD mengenai KUA dilaksanakan bulan Juni dan Juli. Berdasarkan KUA, pemerintahdaerah menyusun strategi dan prioritas APBD. Selanjutnya, kepala daerah menerbitkan surat edaran kepada kepala unit kerja untuk menyusun rancangan anggaran sesuai dengan tugas, pokok, dan fungsinya. Penyusunan tersebut berpedoman pada rencana strategis kerja dan surat edaran kepala daerah. Surat edaran tersebut memuat: a.Kebijakan umum APBD b. Strategi dan prioritas APBD

c.Standar biaya d. Formulir pernyataan anggaran (PA)

Adapun pernyataan anggaran (PA) merupakan dokumen penyusunan rancangan anggaran unit kerja yang antara lain memuat pernyataan mengenai visi, misi, dan deskripsi tugas poko dan fungsi, rencana program, dan kegiatan unit kerja berikut tolok ukur dan target kinerjanya. Berdasarkan surat edaran kepala daerah, kepala unit kerja mengisi formulir pernyataan anggaran yang dilengkapi rincian besaran dana yang dibutuhkan untuk melaksanakan program dan kegiatan unit kerja. Pernyataan anggaran yang dilengkapi dengan rencana anggaran tersebut selanjutnya disebut Rencana Anggaran Satuan Kerja (RASK). 2. Penyusunan Rancangan APBD

24

Dalam menentukan rincian besaran dana yang tercantum dalam RASK, unit kerja menentukan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam tahun anggaran yang akan dating dengan mengacu pada renstra, kebijakan umum serta strategi, dan prioritas APBD yang telah ditetapkan. Selanjutnya RASK dari unit kerja disampaikan kepada satuan kerja yang bertanggung jawab menyusun anggaran untuk dibahas dalam rangka penyusunan RAPBD. Berikut contoh blangko RASK. RASK memuat rancangan anggaran masing-masing unit kerja dan disampaikan kepada tim anggaran eksekutif untuk dievaluasi. Jika hasil evaluasi tersebut telah dinyatakan benar dan sesuai dengan kebijakan umum APBD, strategi, dan prioritas APBD serta standar biaya, maka berdasarkan RASK masing-masing unit kerja tersebut dibuat menjadi RAPBD. Rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta lampiranlampiran disampaikan oleh kepala daerah kepada DPRD untuk mendapati persetujuan. Berikut ini adalah gambar proses penyusunan rancangan APBD: Renja Pemda (RKPD)

Kebijakan Umum APBD

Strategi & Prioritas APBD

Pernyataan Anggaran : Visi, Misi, Tupoksi, Tujuan serta Sasaran Unit Kerja Program dan Kegiatan unit Kerja Rancangan Anggaran Unit Kerja

25

Rancangan APBD

APBD

Penyusunan

RASK

dituangkan

dalam

pernyataan

anggaran,

pengajuan PA kepada tim anggaran eksekutif, evaluasi PA, dan penyusunan rancangan APBD dilaksanakan pada bulan September dan Oktober. Pengajuan RAPBD kepada DPRD dan pembahasan RAPBD antara tim anggaran eksekutif dengan panitia anggaran legislative dilaksanakan pada bulan Oktober dan November. RAPBD tersebut menjadi Perda APBD sekitar bulan November dan Desember.

3.3. Struktur APBD Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari: 1. Pendapatan Daerah Pendapatan daerah adalah semua penerimaan uang melalui rekening kas umum daerah, yang menambah ekuitas dana, merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak perlu dibayar kembali oleh daerah. Pendapatan daerah dirinci menurut urusan pemerintahan, organisasi, kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek pendapatan Struktur pendapatan daerah terdiri dari: a.Pendapatan Asli Daerah, meliputi: 1) 2) 3) 4) b. 1) 2) Pajak daerah Retribusi daerah Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Perimbangan, meliputi: Dana bagi hasil Dana alokasi umum

26

3)

Dana alokasi khusus

c.Lain-lain Pendapatan Daerah yang sah, meliputi: 1) Hibah 2) Dana darurat 3) Dana bagi hasil pajak dari provinsi dan pemerintah daerah lainnya 4) Dana penyesuaian dan dana OTSUS 5) Bantuan keuangan dari provinsi atau pemda lainnya

2.

Belanja Daerah Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi dan

urusan

kabupaten/kota yang terdiri dari: a.Urusan wajib b.


c.

Urusan pilihan, dan Urusan fungsi yang digunakan untuk tujuan keselarasan penyelenggaraan urusan wajib diprioritaskan untuk

dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara. Belanja melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Struktur belanja daerah terdiri dari: a.Belanja Tidak Langsung Merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Terdiri dari belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga. b. Belanja Langsung

27

Merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal. Jenis-jenis belanja daerah, antara lain:
a.

Belanja pegawai, digunakan untuk menganggarkan belanja

penghasilan pimpinan dan anggota DPRD, gaji pokok dan tunjangan kepala daerah dan wakil kepala daerah serta gaji pokok dan tunjangan pegawai negeri sipil, tambahan penghasilan, serta honor atas pelaksanaan kegiatan.
b.

Belanja

bunga,

digunakan

untuk

menganggarkan

pembayaran bunga utang yang dihitung atas kewajiban pokok utang (principal outstanding) berdasarkan perjanjian pinjaman jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang..
c.

Belanja subsidi, digunakan untuk menganggarkan subsidi

kepada masyarakat melalui lembaga tertentu yang telah diaudit, dalam rangka mendukung kemampuan daya beli masyarakat untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Lembaga penerima belanja subsidi wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban penggunaan dana subsidi kepada kepala daerah.
d.

Belanja hibah, untuk menganggarkan pemberian bantuan

dalam bentuk uang, barang dan/atau jasa kepada pihak-pihak tertentu yang tidak mengikat/tidak secara terus menerus yang terlebih dahulu dituangkan dalam suatu naskah perjanjian antara pemerintah daerah dengan penerima hibah, dalam rangka peningkatan penyelenggaraan fungsi pemerintahan di daerah, peningkatan pelayanan kepada masyarakat,
e.

peningkatan

layanan

dasar

umum,

peningkatan

partisipasi dalam rangka penyelenggaraan pembangunan daerah. Bantuan sosial, untuk menganggarkan pemberian bantuan dalam bentuk uang dan/atau barang kepada masyarakat yang tidak secara terus menerus/berulang dan selektif untuk memenuhi instrumen keadilan dan pemerataan yang bertujuan untuk

28

peningkatan kesejahteraan masyarakat. Termasuk bantuan untuk PARPOL.


f. Belanja bagi hasil, untuk menganggarkan dana bagi hasil yang

bersumber dari pendapatan provinsi yang dibagihasilkan kepada kabupaten/kota atau pendapatan kabupaten/kota yang dibagihasilkan kepada pemerintahan desa sesuai dengan ketentuan perundangundangan. g. Belanja bantuan keuangan, untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum atau khusus dari provinsi kepada kabupaten/kota, pemerintah desa, dan kepada pemerintah daerah lainnya atau dari pemerintah kabupaten/kota kepada pemerintah desa dan pemerintah daerah lainnya dalam rangka pemerataan dan/atau peningkatan kemampuan keuangan.
h.

Belanja tidak terduga, untuk menganggarkan belanja atas

kegiatan yang sifatnya tidak biasa atau tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam dan bencana sosial yang tidak diperkirakan sebelumnya, termasuk pengembalian atas kelebihan penerimaan daerah tahun-tahun sebelumnya yang telah ditutup.
i. Belanja barang dan jasa, digunakan untuk menganggarkan belanja

barang yang nilai manfaatnya kurang dari 12 (duabelas) bulan dan/atau pemakaian jasa dalam melaksanakan program dan kegiatan.
j. Belanja modal, digunakan untuk menganggarkan belanja yang

digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaatnya lebih dari 12 (duabelas) bulan. Honorarium panitia dalam rangka pengadaan dan administrasi pembelian/pembangunan untuk memperoleh aset dianggarkan dalam belanja pegawai dan/atau belanja barang dan jasa. Surplus atau (defisit) APBD merupakan selisih antara anggaran pendapatan daerah dan anggaran belanja daerah. Surplus anggaran

29

terjadi bila anggaran pendapatan daerah diperkirakan lebih besar dari anggaran belanja daerah. Surplus, diutamakan untuk pembayaran pokok utang yang jatuh tempo, penyertaan modal (investasi) daerah, pemberian pinjaman kepada pemerintah pusat atau pemerintah daerah lain, dan/atau pendanaan belanja peningkatan jaminan sosial. Defisit anggaran terjadi bila anggaran pendapatan daerah diperkirakan lebih kecil dari anggaran belanja daerah. Apabila defisit, ditetapkan sumber-sumber pembiayaan untuk menutup defisit, meliputi sisa lebih perhitungan anggaran tahun anggaran sebelumnya, pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman, penerimaan kembali pemberian pinjaman atau piutang daerah. 3. Pembiayaan Daerah Pembiayaan daerah meliputi semua transaksi keuangan untuk menutup defisit atau untuk memanfaatkan surplus, yang dirinci menurut urusan pemerintahan daerah, organisasi, kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek pembiayaan. Pembiayaan daerah terdiri dari penerimaan pembiayaan dan pengeluaran pembiayaan. Struktur pembiayaan daerah terdiri dari: a.Penerimaan pembiayaan, meliputi:
1) Selisih Lebih Perhitungan (SiLPA) anggaran tahun sebelumnya

2) Pencairan dana cadangan 3) Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan 4) Penerimaan pinjaman daerah 5) Penerimaan kembali pemberian pinjaman 6) Penerimaan piutang daerah.
b.

Pengeluaran pembiayaan, meliputi:

1) Pembentukan dana cadangan 2) Penyertaan modal pemerintah daerah

30

3) Pembayaran utang pokok 4) Pemberian pinjaman. c.Pembiayaan Neto (A B) 3.4. Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Kepala SKPD menyusun laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan belanja SKPD sebagai hasil pelaksanaan anggaran yang menjadi tanggung jawabnya. Laporan tersebut disiapkan oleh PPK SKPD dan disampaikan kepada pejabat pengguna anggaran untuk ditetapkan sebagai laporan realisasi semester pertama anggaran pendapatan dan dan belanja SKPD serta prognosis untuk enam bulan berikutnya, paling lama tujuh hari setelah semester pertama tahun anggaran berakhir. Pejabat pengguna anggaran menyampaikan laporan realisasi tersebut kepada PPKD sebagai dasar penyusunan laporan realisasi semester pertama APBD (LRSP APBD) paling lambat 10 hari kerja setelah semester pertama tahun anggaran bersangkutan berakhir. PPKD menyusun LRSP APBD dengan cara menggabungkan seluruh LRSP APBD dengan cara menggabungkan seluruh LRSP SKPD paling lambat minggu kedua bulan juli tahun anggaran bersangkutan dan disampaikan kepada sekda selaku coordinator pengelolaan keuangan daerah. Selanjutnya, LRSP APBD tersebut disampaikan kepada kepala daerah paling lambat minggu kedua bulan Juli tahun anggaran bersangkutan. Kepala daerah menyampaikan LRSP APBD kepada DPRD paling lambat akhir bulan Juli. Laporan keuangan SKPD disampaikan kepada kepala Daerah melalui PPKD paling lambat dua bulan setelah tahun anggran berakhir. Laporan keuangan SKPD terdiri atas laporan realisasi anggaran, neraca dan catatan atas laporan keuangan. Selanjutnya PPKD menyusun laporan keuangan pemerintah daerah dengan menggabungkan laporan keuangan SKPD palimg lambat tiga bulan setelah tahu anggaran berakhir. Laporan keuangan tersebut terdiri atas laporan realisasi anggaran, neraca, laporan arus kas, dan catatan

31

atas laporan keuangan. Laporan keuangan tersebut disampaikan oleh kepala daerah kepada BPK untuk dilakukan pemeriksaan paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan keuangan setelah diaudit oleh BPK wajib dipublikasikan oleh pemerintah Daerah.

32

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan Anggaran sektor publik merupakan rincian seluruh aspek kegiatan yang akan dilaksanakan yang tersusun atas rencana pendapatan dan pengeluaran yang akan dilaksanakan dalam kurun waktu satu tahun. Anggaran sektor publik penting karena beberapa alasan, yaitu: 1. Anggaran merupakan alat bagi pemerintah untuk mengarahkan sosial-ekonomi, menjamin kesinambungan, dan

pembangunan

meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 2. Anggaran diperlukan karena adanya kebutuhan dan keinginan

masyarakat yang tak terbatas dan terus berkembang, sedangkan sumber daya yang ada terbatas. 3. Anggaran diperlukan untuk meyakinkan bahwa pemerintah telah

bertanggung jawab terhadap rakyat. Anggaran sektor publik mempunyai beberapa fungsi utama, yaitu sebagai alat perencanaan, alat pengendalian, alat kebijakan fiskal, alat politik, alat koordinansi dan komunikasi, alat penilaian kinerja, alat motivasi, dan alat untuk menciptakan ruang publik. Jenis-jenis anggaran publik, antara lain anggaran operasional dan anggaran modal. Prinsip anggaran sektor publik adalah otorisasi oleh legislatif, komprehensif, keutuhan anggaran, nondiscretionary appropriation, periodik, akurat, jelas, dan diketahui publik. Proses anggaran memiliki 4 tujuan, yaitu membantu pemerintah mencapai tujuan fiskal dan meningkatkan koordinasi antarbagian dalam

33

lingkungan pemerintah, membantu menciptakan efisiensi dan keadilan dalam menyediakan barang dan jasa publik melalui proses pemrioritasan, memungkinkan bagi pemerintah untuk memenuhi prioritas belanja, dan meningkatkan transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah kepada DPR/DPRD dan masyarakat luas. Siklus anggaran meliputi empat tahap yang terdiri atas tahap persiapan anggaran (preparation), tahap ratifikasi (approval), tahap implementasi (implementation), dan tahap pelaporan dan evaluasi (reporting and evaluation).

34

DAFTAR PUSTAKA

http://shintyadewi.blogspot.com/2010/04/struktur-apbd-dan-kode-rekening.html (Diakses pada tanggal 6 November 2011) http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/388/jbptunikompp-gdl.doc tanggal 6 November 2011) www.etd.eprints.ums.ac.id/12093/2/BAB_I.pdf November 2011) www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/18958/4/Chapter%20I.pdf (Diakses pada tanggal 8 November 2011) http://icukranggabawono.com/jurnal/Manajemen.pdf (Diakses pada tanggal 6 November 2011) www.id.wikipedia.org/wiki/Anggaran_Sektor_Publik (Diakses pada tanggal 6 November 2011) www.images.shiddiqnr.multiply.multiplycontent.com (Diakses pada tanggal 6 November 2011) www.catatankuh.blogspot.com/2010/03/anggaran-sektor-publik.html pada tanggal 6 November 2011) www.siswidya.blogspot.com/2010/11/anggaran-sektor-publik.html (Diakses pada tanggal 6 November 2011) http://rohmadyuliantoro.files.wordpress.com/2011/03/bab-v-asp tanggal 6 November 2011) Andayani, Wuryan. 2007. Akuntansi Sektor Publik. Malang: Bayumedia Publishing. Mardiasmo. 2004. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Andi Offset. (Diakses pada (Diakses (Diakses pada tanggal 8 (Diakses pada

35