Anda di halaman 1dari 19

BAB II TELAAH PUSTAKA 2.1.

Pengertian Dividen Dividen merupakan pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan dan berasal dari keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividen diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham dalam RUPS. Jika seorang pemodal ingin mendapatkan dividen, maka pemodal tersebut harus memegang saham tersebut dalam kurun waktu yang relatif lama yaitu hingga kepemilikan saham tersebut berada dalam periode dimana diakui sebagai pemegang saham yang berhak mendapatkan dividen. Dividen yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai artinya kepada setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah rupiah tertentu untuk setiap saham - atau dapat pula berupa dividen saham yang berarti kepada setiap pemegang saham diberikan dividen sejumlah saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang pemodal akan bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut (IDX, 2010). Dividen dapat diberikan dalam berbagai bentuk. Dilihat dari bentuk dividen yang didistribusikan kepada pemegang saham, dividen dapat dibedakaan menjadi beberapa jenis (Fakhruddin, 2008) diantaranya sebagai berikut: 1. Dividen Tunai (cash dividend): dividen yang dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk kas (tunai). 2. Dividen Saham (stock dividend): dividen yang dibagi bukan dalam bentuk tunai melainkan dalam bentuk saham perusahaan tersebut. 3. Property dividend: dividen yang dibagikan dalam bentuk aktiva lain selain kas atau saham, misalnya aktiva tetap dan surat-surat berharga.

12

4. Liquidating dividend: dividen yang diberikan kepada pemegang saham sebagai akibat dilikuidasinya perusahaan. Dividen yang dibagikan adalah selisih nilai realisasi aset perusahaan dikurangi dengan semua kewajibannya. Berdasarkan periode satu tahun buku maka dividen dapat dibagi atas dua jenis; dividen interm dan dividen final. Dividen interim adalah sebagian dari dividen tunai yang dibayarkan berdasarkan laba bersih yang diperoleh pada tahun berjalan. Dividen interim dibayarkan setelah laporan tengan tahunan diterbitkan dan perusahaan mendapatkan keuntungan yang cukup serta tidak mempunyai rencana untuk melakukan ekspansi usaha yang membutuhkan modal tambahan dari laba perusahaan. Dividen interim baru akan diumumkan setelah mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Biasanya dividen interim dibayarkan oleh perusahaan yang sudah mapan (matured), sehingga sebagian atau seluruh keuntungan yang diperoleh selama tahun berjalan dapat dibagikan kepada pemegang saham. Dividen final adalah dividen yang dibagikan setelah tutup tahun buku dilakukan. Setelah tahun buku perusahaan ditutup, manajemen dapat mengetahui total laba bersih akuntansi yang diperoleh selama satu tahun pembukuan. Laba bersih akuntansi yang digunakan sebagai dasar penghitungan dividen tunai adalah yang tertera pada laporan rugi-laba yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik (Samsul, 2006). 2.2. Kebijakan Dividen Kebijakan dividen (dividend policy) adalah keputusan tentang laba yang diperoleh akan dibagikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau akan ditahan sebagai laba ditahan guna pembiayaan investasi di masa yang akan datang. Apabila perusahaan memilih untuk membagikan laba sebagai laba dividen, maka akan mengurangi laba

13

yang ditahan dan selanjutnya mengurangi total sebesar dana intern (internal financing) (Margareta, 2005). Untuk perusahaan di Indonesia yang go public di Bursa Efek Indonesia. Emiten yang tidak mengalami salah satu kondisi, (1) laba yang diperoleh dibagi-bagikan ataukah tidak; (2) laba sebaiknya dibagi dengan konsekuensi harus mengeluarkan saham baru, ataukah tidak perlu dibagi sehingga tidak perlu mengeluarkan saham baru. Antara lain selama 3 tahun berturut-turut tidak membayar dividen tunai (untuk saham), melakukan 3 kali cidera janji (atau obligasi) dapat dikenakan sanksi delisting (pembatalan pencatatan) sahamnya atau obligasinya dari bursa efek. Jenis-jenis Kebijaksanaan Dividen (Ahmad, 2004) sebagai berikut: 1. Dividen per saham yang stabil Meskipun perusahaan mengalami kerugian, jumlah dividen yang dibayar misalnya Rp. 1500 per saham, maka jumlah ini tetap dibayarkan kepada pemegang saham. Investor akan aman dengan jumlah yang tetap diterimanya sesuai dengan motivasi mereka. 2. DPO (Dividen pay-out) yang stabil Dividen yang dibayarkan berfluktuasi tergantung besarnya keuntungan bagi pemegang saham. Misalnya DPO 60% dari keuntungan. Jika keuntungan Rp. 1 miliar, maka dividen yang dibayarkan sebesar 60% x Rp 1 miliar = Rp 600 juta. 3. Kombinasi Di samping jumlah rupiah yang tetap, perusahaan membayar dividen tambahan (ekstra) jika perusahaan memperoleh keuntungan atau mengalami situasi yang baik.

14

4. Dividen Residual Dividen dibayarkan jika kesempatan investasi perusahaan atau dana yang dibutuhkan telah terpenuhi. 2.1.1 Teori Kebijakan Dividen Dalam dunia keuangan, ada berbagai pendapat atau teori tentang kebijakan dividen antara lain (Atmaja, 2008): 1. Irrelevance theory Irrelevance theory adalah suatu teori yang menyatakan bahwa kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh baik terhadap nilai perusahaan maupun terhadap biaya modalnya. Menurut teori ini, kebijakan dividen tidak mempengaruhi harga saham ataupun cost of capital perusahaan. Oleh karena itu, kebijakan dividen menjadi tidak relevan (irrelevant). Teori ini dikembangkan oleh Miller dan Modigliani (1961), yang menyatakan bahwa nilai perusahaan hanya ditentukan oleh expected earnings dan risiko perusahaan. Nilai perusahaan hanya tergantung pada laba yang ekspektasikan dari aktiva, bukan dari pemisahan laba menjadi dividen dan laba ditahan. Teori ini menganggap bahwa kebijakan dividen tidak membawa dampak apa-apa bagi nilai perusahaan. Jadi, peningkatan atau penurunan dividen oleh perusahaan tidak akan mempengaruhi nilai perusahaan. 2. Bird-in-the-hand theory Kepercayaan bahwa kebijakan dividen perusahaan tidak penting secara tidak langsung, mengasumsikan bahwa investor harus menggunakan tingkat pengembalian yang sama, apakah pendapatan datang melalui perolehan modal atau melalui dividen. Namun, dividen lebih bisa diramalkan daripada perolehan modal, manajemen dapat

15

mengontrol dividen, tapi tak dapat mendikte harga saham, Investor kurang yakin menerima pendapatan dari modal daripada dari dividen. Hal ini sesuai dengan Bird-inthe-hand theory yang dikemukakan oleh Gordon bahwa pendapatan dividen (a bird inthe hand) mempunyai nilai yang lebih tinggi bagi investor daripada pendapatan modal (a bird in-the bush) karena dividen lebih pasti dari pendapatan modal. Meningkatkan dividen perusahaan tak mengurangi tingkat risiko dasar saham, melainkan jika pembayaran dividen mensyaratkan manajemen menerbitkan saham baru, ia hanya mentransfer risiko dan pemilikan dari pemilik yang sekarang pada pemilik baru. Kita harus memperhatikan bahwa investor yang sekarang menerima dividen menukar perolehan modal yang tak pasti dengan aset yang aman (dividen tunai). Namun, jika tujuannya hanya pengurangan risiko, investor bisa saja menyimpan uang di tangan dan tak membeli saham dari awal. Teori ini juga berpendapat bahwa investor menyukai dividen karena kas di tangan lebih bernilai daripada kekayaan dalam bentuk lain. Konsekuensinya, harga saham perusahan akan sangat ditentukan oleh besarnya dividen yang dibagikan. Dengan demikian, semakin tinggi dividen yang dibagikan semakin tinggi pula nilai perusahaan. 3. Tax preference theory Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Mereka menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan dividen dan capital gain, para investor lebih menyukai capital gain karena dapat menunda pembayaran pajak. Oleh karena itu investor mensyaratkan suatu tingkat keuntungan yang lebih tinggi pada saham yang memberikan dividend yield tinggi, capital gains yield rendah daripada saham yang dividend yield rendah, capital gains yield tinggi. Jika pajak atas dividen lebih besar daripada pajak atas capital gain maka perbedaan ini akan makin terasa.

16

4. Signalling theory Ada kecenderungan harga saham akan naik jika ada pengumuman kenaikan dividen dan harga saham akan turun jika ada pengumuman penurunan dividen. Kecenderungan ini dianggap sebagai bukti bahwa para investor lebih menyukai dividen daripada capital gains. Tetapi Miller dan Modigliani (1961) berpendapat bahwa suatu kenaikan dividen yang diatas biasanya meupakan suatu sinyal kepada para investor bahwa manajemen perusahaan meramalkan suatu penghasilan yang baik di masa mendatang. Sebaliknya, suatu penurunan dividen atau kenaikan dividen yang di bawah kenaikan normal (biasanya) diyakini investor sebagai suatu sinyal bahwa perusahaan menghadapi masa sulit di waktu men-datang. 5. Teori Clientele Effect Teori ini menyatakan bahwa kelompok (clientele) pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaan. Kelompok pemegang saham yang membutuhkan penghasilan pada saat ini lebih menyukai suatu dividend payout ratio yang tinggi. Sebaliknya kelompok pemegang saham yang tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan. Jika ada perbedaan pajak bagi individu (misalnya orang lanjut usia dikenai pajak lebih ringan) maka kelompok pemegang saham yang dikenai pajak tinggi lebih menyukai capital gains karena dapat menunda pembayaran pajak. Kelompok ini lebih senang jika perusahaan membagi dividen yang kecil. Sebaliknya kelompok pemegang saham yang dikenai pajak relatif rendah cenderung menyukai dividen yang besar.

17

6. Teori Dividen Residual (Residual Theory of Dividends) Menurut teori dividen residual, perusahaan menetapkan kebijakan dividen setelah semua investasi yang menguntungkan habis dibiayai. Dengan kata lain, dividen yang dibayarkan merupakan sisa (residual) setelah semua usulan investasi yang

menguntungkan habis dibiayai. 7. Teori Keagenan (Agency Theory) Paper mengenai penerapan teori keagenan diajukan oleh Michael C. Jensen dan William H. Mecking. Hubungan keagenan atau agency relationship muncul ketika satu atau lebih individu (majikan) menggaji individu lain (agen atau karyawan) untuk bertindak atas namanya, mendelegasikan kekuasaan untuk membuat keputusan kepada agen atau karyawannya. Dalam konteks manajemen, hubungan ini muncul antara: (1) pemegang saham (shareholders) dengan para manajer, serta (2) shareholders dengan kreditor (bondholders atau pemegang obligasi). Problem keagenan (agency problem) antara pemegang saham (pemilik perusahaan) dengan manajer potensial terjadi bila manajemen tidak memiliki saham mayoritas perusahaan. Pemegang saham tentu menginginkan manajer bekerja dengan tujuan memaksimumkan kemakmuran pemegang saham. Sebaliknya, manajer perusahaan bisa saja bertindak tidak untuk memaksimumkan kemakmuran pemegang saham, tetapi memaksimumkan kemakmuran mereka sendiri. Terjadilah conflict of interest. Untuk meyakinkan bahwa manajer bekerja sungguh-sungguh untuk kepentingan pemegang saham, pemegang saham harus mengeluarkan biaya yang disebut agency cost yang meliputi antara lain: pengeluaran untuk memonitor kegiatan manajer, pengeluaran untuk membuat suatu struktur organisasi yang meminimalkan tindakan-tindakan manajer yang

18

tidak diinginkan, serta opportunity cost yang timbul akibat kondisi dimana manajer tidak dapat segera mangambil keputusan tanpa persetujuan pemegang saham. Pengawasan secara total terhadap kegiatan para manajer akan memecahkan masalah keagenan, tetapi dibutuhkan biaya yang mahal dan kurang efisien. Solusi yang lebih baik adalah memberi suatu paket kompensasi berupa gaji tetap ditambah bonus kepemilikan perusahaan (saham perusahaan) jika kinerja mereka bagus. Selain itu, agency problem antara pemegang saham dengan manajemen perusahaan dapat dikurangi dengan cara: (1) kekhawatiran untuk di-PHK karena kinerja yang dinilai kurang memuaskan, dan (2) ketakutan mengalami hostile take-over atau kondisi dimana perusahaan diambil alih secara paksa oleh pihak lain. Kondisi ini mungkin terjadi bila nilai perusahaan turun karena mis-management. Jika hostile take-over terjadi, biasanya manajemen lama akan diganti karena dianggap sebagai sumber masalah. 2.1.2 Bentuk Pembayaran Dividen Ada 3 jenis kebijakan pembayaran dividen yang biasa dilakukan oleh perusahaan, yaitu (Sawir, 2004) 1. Stable amount per share: dividen diberikan dalam nilai rupiah yang relatif stabil per sahamnya. 2. Constant Payout Ratio: dividen atas dasar persentase tetap dari laba bersih perusahaan. 3. Low Regular Dividend plus Extra: tingkat dividen yang relatif rendah tetapi sudah pasti jumlahnya ditambah suatu ekstra, yang besarnya disesuaikan dengan tingkat keuntungan perusahaan.

19

2.1.3

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen Suatu Perusahaan Faktor-faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen suatu perusahaan dapatlah

disebutkan antara lain sebagai berikut (Atmaja, 2008) : 1. Dividen Stabil Pada praktiknya perusahaan cenderung memberikan dividen dengan jumlah yang relatif stabil atau meningkat secara teratur. Kebijakan ini kemungkinan disebabkan oleh asumsi bahwa investor melihat kenaikan dividen sebagai suatu tanda baik bahwa perusahaan memiliki prospek cerah, demikian sebaliknya. Hal ini membuat perusahaan lebih senang mengambil jalan aman yaitu tidak menurunkan pembayaran dividen. Dan investor juga cenderung lebih menyukai dividen yang tidak berfluktuasi (dividen yang stabil). Walaupun menjaga kestabilan dividen tidak berarti menjaga dividend payout ratio tetap stabil karena jumlah nominal dividen juga tergantung pada penghasilan bersih perusahaan (EAT). Jika DPR dijaga kestabilannya, misalnya ditetapkan sebesar 50% dari waktu ke waktu, tetapi EAT berfluktuasi, maka pembayaran dividen juga akan berflukutasi. Dividen tahun sebelumnya dalam penelitian ini diukur dengan Dividend per Share tahun sebelumnya (DPSmin1). (Tranggono, 2007) menyimpulkan perusahaan pada umumnya tidak bersedia untuk mengurangi besarnya dividen, sehingga dividend per share (DPS) tahun sekarang dipengaruhi oleh dividen tahun sebelumnya (Dev-1). Atribut Dividen dalam penelitian ini yaitu Dividend per Share tahun sebelumnya (DPSmin1).

20

2. Perjanjian Hutang Pada umumnya perjanjian hutang antara perusahaan dengan kreditor membatasi pembayaran dividen. Misalnya, dividen hanya dapat diberikan jika kewajiban hutang telah dipenuhi perusahaan dan atau rasio-rasio keuangan menunjukkan perseroan dalam kondisi sehat. Debt to equity ratio (DER) menggambarkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi semua kewajibannya. Oleh karena itu semakin besar DER semakin kecil pula kemampuan perusahaan untuk membayar dividen, hal ini dikarenakan adanya bunga dan pinjaman yang harus dibayarkan oleh perusahaan. 3. Pembatasan dari Saham Preferen Tidak ada pembayaran dividen untuk saham biasa jika dividen saham preferen belum dibayar. 4. Tersedianya Kas Dividen berupa uang tunai (cash divdend) hanya dapat dibayar jika tersedia uang tunai yang cukup. Jika likuiditas baik, perusahaan dapat membayar dividen. 5. Pengendalian Jika manajemen ingin mempertahankan kontrol terhadap perusahaan, ia cenderung untuk segan menjual saham baru sehingga lebih suka menahan laba guna memenuhi kebutuhan dana/baru. Akibatnya dividen yang dibayar menjadi kecil. Faktor ini menjadi penting pada perusahaan yang relatif kecil.

21

6. Kebutuhan Dana untuk Investasi Perusahaan yang berkembang selalu membutuhkan dana baru untuk diinvestasikan pada proyek-proyek yang menguntungkan. Sumber dana baru yang merupakan modal sendiri (equity) dapat berupa penjualan saham baru dan laba ditahan. Manajemen cenderung memanfaatkan laba ditahan karena penjualan saham baru menimbulkan biaya peluncuran saham (flotation cost). Oleh karena itu, semakin besar kebutuhan dana investasi, semakin kecil dividend payout ratio. 7. Fluktuasi Laba Jika laba perusahaan cenderung stabil, perusahaan dapat membagikan dividen yang relatif besar tanpa takut harus menurunkan dividen jika laba tiba-tiba merosot. Sebaliknya jika laba perusahaan berfluktuasi, dividen sebaiknya kecil agar kestabilannya terjaga. Selain itu, perusahaan dengan laba yang berfluktuasi sebaiknya tidak banyak menggunakan hutang guna mengurangi risiko kebangkrutan.

Konsekuensianya laba ditahan menjadi lebih besar dan dividen mengecil. Rasio ROE berguna untuk mengukur keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan laba bagi para pemegangang saham. Oleh karena itu, ROE dianggap sebagai representasi dari kekayaan pemegang saham atau nilai perusahaan (Mardiyanto, 2009). (Sumarto, 2007) mengungkapkan pada kebijakan pembayaran dividen yang berfluktuasi, besarnya dividen yang dibayarkan berdasarkan pada tingkat keuntungan pada setiap akhir periode. Apabila tingkat keuntungan tinggi, maka besarnya dividen yang dibayarkan cenderung tinggi, dan sebaliknya bila tingkat keuntungan rendah, maka besarnya dividen yang dibayarkan juga cenderung rendah. (Suharli M. , 2006) mengungkapkan semakin besar ROE maka semakin besar jumlah dividen yang dibagi.

22

Return on Asset (ROA) dihitung berdasarkan perbandingan laba bersih setelah pajak terhadap total aktiva yang dimiliki perusahaan. (Mardiyanto, 2009) ROA mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba yang berasal dari aktivitas investasi. Karena dividen diambil dari keuntungan bersih perusahaan maka keuntungan tersebut akan mempengaruhi besarnya dividend payout ratio. Perusahaan yang memperoleh keuntungan cenderung akan membayar porsi keuntungan yang lebih besar sebagai dividen. Semakin besar keuntungan yang diperoleh, maka akan semakin besar pula kamampuan perusahaan membayar dividen (Puspita, 2009). (Sihombing, 2008) mengungkapkan Earning Per Share (EPS) adalah laba bersih yang diterima oleh setiap lembar saham. (Atmaja, 2008) mengungkapkan jika laba perusahaan cenderung stabil maka perusahaan dapat membagikan dividen yang relatif besar, tanpa takut harus menurunkan dividen jika laba tiba-tiba menurun. Sebaliknya jika laba perusahaan berfluktuasi, dividen sebaiknya kecil agar kestabilannya terjaga dan tidak banyak menggunakan hutang guna mengurangi resiko kerugian. (Tranggono, 2007) mengungkapkan earning per share merupakan tingkat keuntungan bersih yang akan diraih perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Keuntungan yang layak dibagikan sebagai dividen adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi seluruh kewajiban bunga dan pajak. Oleh karena itu dividen diambilkan dari keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan, maka semakin besar earning per share yang didapat berarti semakin besar nilai dividen dibagikan. Tabel 2. 1 Ringkasan Penelitian Tentang Variabel-variabel yang Mempengaruhi Dividend Payout Ratio
NAMA JENIS VARIABEL Cash Position (CP) Growth Potential (GROWTH) Firm size(SIZE) METODE TAHUN HASIL Variabel CP menunjukkan hasil yang positif dan signifikan, dan pada variabel DER menunjukkan hubungan

(Sutrisno, 2001)

Jurnal

AMOS

1991-1996

23
Debt to Equity Ratio (DER) Profitability (ROA) Holding (DISOWN) Cash Position (X1) Growth Potential (X2) (Prihantoro, 2003) Jurnal Firm size (X3) Debt to Equity Ratio (X4) Profitability (X5) Dispersion ownership (X6) EPS ROE sales growth (Kania & Bacon, 2005) Beta Jurnal CR DTA insider ownership institutional ownership capital spending Return on Equity (ROE) Debt to Equity Ratio (DER) Harga Saham Return on Investment (ROI) Kesempatan Berinvestasi (FA) Current ratio/moderat (CR) Free cash flow (FCF) Debt to Equity Ratio (DER) Collateralisable Assets (COL) Managerial Ownership (MOS) Institusional Ownership (IOS) Likuiditas (CR,QR, WCA) Profitabilitas (ROE,ROA, NPM) Insider ownership (X1) Shareholder Dispersion(X2) Collateralisable assets (X3) Debt to Total Asset (DTA)(X4) ROE dan Harga saham memiliki hubungan positif signifikan Sedangkan variabel lain tidak memiliki pengaruh signifikan ROI memiliki hubungan positif signifikan dan diperkuat oleh likuiditas perusahaan. Sedangkan variabel lain tidak memiliki pengaruh signifikan Variabel COL memiliki pengaruh positif signifikan dan variabel DER memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap DPR. Sedangkan pada variabel lain tidak memiliki pengaruh signifikan. Adanya pengaruh positif signifikan antara variabel Likuiditas dan Profitabilitas terhadap DPR Insider Ownership memiliki pengaruh yang negatif dan signifikan variabel Shareholer dispersion dan Collateralizable assets memiliki pengaruh positif dan signifikan, sedangkan Analisis Regresi 2004 Variabel EPS yang memiliki pengaruh positif signifikan. ROE, sales,growth, beta,CR, DTA, insider ownership, institutional ownership, dan capital spending memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap DPR AMOS 1991-1996 negatif signifikan terhadap DPR. Sedangkan variabel lain tidak memiliki pengaruh signifikan Posisi kas memiliki pengaruh positif signifikan dan rasio hutang dan modal memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap DPR. Sedangkan variabel lain berpengaruh kurang signifikan terhadap DPR.

(Suharli M. , 2006)

Jurnal

Analisis Regresi

2002-2003

(Suharli M. , 2007)

Jurnal

Analisis Regresi

2002-2003

(Fauz & Rosidi, 2007)

Jurnal

Analisis Regresi Berganda

1999-2003

(Sumarto, 2007)

Jurnal

SEM

1998-2003

(Pujiastuti, 2008)

Jurnal

Analisis Regresi Berganda

2000-2005

24
variabel lain tidak berpengaruh signifikan. Variabel CP dan ROA berpengaruh positif dan signifikan terhadap DPR. Sedangkan variabel bebas yang lain, yaitu DER tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap DPR. Variabel CR, Firm Size dan ROA berpengaruh signifikan positif terhadap DPR, dan pada variabel growth memiliki hubungan negatif dan signifikan, sedangkan variabel lain tidak berpengaruh signifikan Variabel ROA dan Size memiliki pengaruh positif dan signifikan. Variabel DER memiliki pengaruh negatif dan signifikan, sedangkan varaibel CR tidak signifikan. Variabel Earning Per Share (EPS) signifikan berpengaruh positif terhadap Dividend Per Share (DPS) dan dividen tahun sebelumnya signifikan positif terhadap dividend per share. Sedangkan variabel lainnya tidak signifikan.

Free cash flow(X5) Cash Positon (CP) Debt to Equity Ratio (DER) Return on Assets (ROA) Cash Ratio (CR) Growth Firm Size (Puspita, 2009) Skripsi Return on Assets (ROA) Debt to Total Asset (DTA) Debt to Equity Ratio (DER) ROA DER (Handayani, 2010) Skripsi CR Firm Size Dividend per share Earning per share (Tranggono & H, 2007) Current ratio Jurnal Debt to equity ratio Total asset turn over Return on equity Analisis Regresi 2002-2005 Analisis Regresi 2005-2007 Analisis Regresi 2005-2007

(Marlina & Danica, 2009)

Jurnal

Analisis Regresi Berganda

2004-2007

Sumber (Sutrisno, 2001):, (Prihantoro, 2003), (Kania & Bacon, 2005), (Nugraha, 2006), (Suharli, 2006), (Fauz & Rosidi, 2007), (Sumarto, 2007), (Darman, 2008), (Wahyudi & Baidori, 2008), (Pujiastuti, 2008), (Marlina & Danica, 2009), (Puspita, 2009), (Handayani, 2010), (Tranggono & H, 2007).

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu terletak dalam hal periode tahun penelitian, metode pemilihan sampel, dan variabel yang digunakan. Walaupun telah diuji dengan variabel yang sama namun memiliki hasil yang bervariasi. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah hasil yang akan diperoleh nantinya dapat mendekati hasil atau berbeda hasil dengan penelitian-penelitian sebelumnya.

25

2.3. Kerangka Pemikiran dan Perumusan Hipotesis Pengaruh Debt to Equity (DER) terhadap Kebijakan Dividen Peningkatan hutang akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividen yang akan diterima (Sutrisno, 2001) mengungkapkan Debt to Equity Ratio (DER) mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibanya, yang ditunjukkan oleh berapa bagian modal sendiri yang digunakan untuk membayar hutang. Oleh karena itu semakin rendah DER akan semakin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya. Semakin besar proporsi hutang yang digunakan untuk struktur modal suatu perusahaan, maka akan semakin besar pula jumlah kewajibannya. Peningkatan hutang pada gilirannya akan mempengaruhi besar kecilnya laba bersih yang tersedia bagi para pemegang saham termasuk dividend yang akan diterima, karena kewajiban tersebut lebih diprioritaskan daripada pembagian dividend. (Prihantoro, 2003) mengungkapkan semakin tinggi tingkat DER, berarti komposisi hutang juga semakin tinggi, sehingga akan berakibat pada semakin rendahnya kemampuan perusahaan untuk membayarkan dividen kepada pemegang saham, sehingga rasio pembayaran dividen semakin rendah. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu, dapat diambil hipotesis sebagai berikut: Hipotesis 1: Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap dividend payout ratio Dividend per Share tahun sebelumnya (DPSmin1) terhadap Kebijakan Dividen (Atmaja, 2008) mengungkapkan pada praktiknya perusahaan cenderung

memberikan dividen dengan jumlah yang relatif stabil atau meningkat secara teratur.

26

Kebijakan ini kemungkinan disebabkan oleh asumsi bahwa: 1) investor melihat kenaikan dividen sebagai suatu tanda baik bahwa perusahaan memiliki prospek cerah, demikian sebaliknya. Hal ini membuat perusahaan lebih senang mengambil jalan aman yaitu tidak menurunkan pembayaran dividen, dan 2) investor cenderung lebih menyukai dividen yang tidak berfluktuasi (dividen yang stabil). Walaupun menjaga kestabilan dividen tidak berarti menjaga dividend payout ratio tetap stabil karena jumlah nominal dividen juga tergantung pada penghasilan bersih perusahaan (EAT). Jika DPR dijaga kestabilannya, misalnya ditetapkan sebesar 50% dari waktu ke waktu, tetapi EAT berfluktuasi, maka pembayaran dividen juga akan berflukutasi. (Tranggono, 2007) menyimpulkan perusahaan pada umumnya tidak bersedia untuk mengurangi besarnya dividen, sehingga dividend per share (DPS) tahun sekarang dipengaruhi oleh dividen tahun sebelumnya (Dev-1). Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu, dapat diambil hipotesis sebagai berikut: Hipotesis 2: Dividend per Share tahun sebelumnya (DPSmin1) berpengaruh positif terhadap dividend payout ratio. Pengaruh Return on Equity (ROE) terhadap Kebijakan Dividen (Sumarto, 2007) mengungkapkan pada kebijakan pembayaran dividen yang berfluktuasi, besarnya dividen yang dibayarkan berdasarkan pada tingkat keuntungan pada setiap akhir periode. Apabila tingkat keuntungan tinggi, maka besarnya dividen yang dibayarkan cenderung tinggi, dan sebaliknya bila tingkat keuntungan rendah, maka besarnya dividen yang dibayarkan juga cenderung rendah. (Suharli M. , 2006) mengungkapkan semakin besar ROE maka semakin besar jumlah dividen yang dibagi.

27

Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu, dapat diambil hipotesis sebagai berikut: Hipotesis 3 : Return on Equity (ROE) berpengaruh positif terhadap dividend payout ratio Pengaruh Return on Asset (ROA) terhadap Kebijakan Dividen Rasio Profitabilitas atau Rasio Keuntungan mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, aktiva maupun laba dan modal sendiri (Arifin, 2007). Profitabilitas dalam penelitian ini diukur dengan Return on Asset. (Sutrisno, 2001) mengungkapkan Keuntungan yang layak dibagikan kepada pemegang saham adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi seluruh kewajiban tetapnya yaitu beban bunga dan pajak. Oleh karena itu dividend diambil dari keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan, maka keuntungan tersebut akan mempengaruhi besarnya dividend payout ratio. Perusahaan yang memperoleh keuntungan cenderung akan membayar porsi keuntungan yang lebih besar sebagai dividend. (Marlina & Danica, 2009) Return on Asset mempunyai pengaruh signifikan dan positif terhadap Dividend Payout Ratio. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu, dapat diambil hipotesis sebagai berikut: Hipotesis 4: Return on Asset (ROA) berpengaruh positif terhadap dividend payout ratio. Pengaruh Earning per share (EPS) terhadap Kebijakan Dividen (Atmaja, 2008) mengungkapkan jika laba perusahaan cenderung stabil maka perusahaan dapat membagikan dividen yang relatif besar, tanpa takut harus menurunkan dividen jika laba tiba-tiba menurun. Sebaliknya jika laba perusahaan berfluktuasi, dividen sebaiknya kecil agar kestabilannya terjaga dan tidak banyak menggunakan hutang guna mengurangi resiko kerugian.

28

(Marlina & Danica, 2009) mengungkapkan perusahaan selalu berusaha meningkatkan citranya dengan cara setiap peningkatan laba akan diikuti dengan peningkatan porsi laba yang akan dibagi sebagai dividen dan juga dapat mendorong peningkatan nilai saham perusahaan. (Tranggono, 2007) mengungkapkan earning per share merupakan tingkat keuntungan bersih yang akan diraih perusahaan pada saat menjalankan operasinya. Keuntungan yang layak dibagikan sebagai dividen adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi seleuruh kewajiban bunga dan pajak. Oleh karena itu dividen diambilkan dari keuntungan bersih yang diperoleh perusahaan, maka semakin besar earning per share yang didapat berarti semakin besar nilai dividen dibagikan. Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu, dapat diambil hipotesis sebagai berikut: Hipotesis 5: Earning per share (EPS) berpengaruh positif terhadap dividend payout ratio Dari uraian di atas, pada Gambar 2.1 disajikan Kerangka Penelitian yang menggambarkan pengaruh variabel Debt to Equity Ratio (DER), Dividend per share tahun sebelumnya, Return on Equity (ROE), Rate of Return on Asset (ROA), Earning Per Share (EPS) terhadap dividend payout ratio perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia.

Gambar 2. 1 Bagan Pengaruh Variabel Debt to Equity Ratio (DER), Dividend per share tahun sebelumnya, Return on Equity (ROE), Return on Asset (ROA), Earning Per Share (EPS) terhadap dividend payout ratio perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia

29

Dari uraian sebelumnya, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah: H1: Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh negatif terhadap dividend payout ratio. H2: Dividend per Share tahun sebelumnya (DPSmin1) berpengaruh positif terhadap dividend payout ratio. H3: Return on Equity (ROE) berpengaruh positif terhadap dividend payout ratio H4: Return on Asset (ROA) berpengaruh positif terhadap dividend payout ratio. H5: Earning per share (EPS) berpengaruh positif terhadap dividend payout ratio.