Anda di halaman 1dari 26

CKD ( CHRONIC KIDNEY DISEASE )

A. PENGERTIAN Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626) Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448) Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992; 812) Sesuai dengan topik yang saya tulis didepan cronic kidney disease ( CKD ),pada dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan cronoic renal failure ( CRF ), namun pada terminologi akhir CKD lebih baik dalam rangka untuk membatasi kelainan klien pada kasus secara dini, kerena dengan CKD dibagi 5 grade, dengan harapan klien datang/merasa masih dalam stage stage awal yaitu 1 dan 2. secara konsep CKD, untuk menentukan derajat ( stage ) menggunakan terminology CCT ( clearance creatinin test ) dengan rumus stage 1 sampai stage 5. sedangkan CRF ( cronic renal failure ) hanya 3 stage. Secara umum ditentukan klien datang dengan derajat 2 dan 3 atau datang dengan terminal stage bila menggunakan istilah CRF.

B.

ETIOLOGI
Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis Penyakit vaskuler hipertensif misalnya nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis

Gangguan jaringan

penyambung

misalnya

lupus eritematosus

sistemik, poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif Gangguan kongenital dan herediter misalnya penyakit ginjal polikistik,asidosis tubulus ginjal Penyakit metabolik misalnya DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra. C. Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis

PATOFISIOLOGI Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai dari nefronnefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368) Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan

produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448). Klasifikasi Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium : Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal, pada stadium kadar kreatinin serum normal dan penderita asimptomatik. Stadium 2 : insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah rusak, Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum meningkat. Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia. K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG : Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2 Stadium 2 Stadium 3 mL/menit/1,73m2 Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 1529mL/menit/1,73m2 Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal terminal. Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin Test ) dapat digunakan dengan rumus : Clearance creatinin ( ml/ menit ) = ( 140-umur ) x berat badan ( kg ) 72 x creatini serum Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0,85 : Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan : kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 LFG antara 60-89 mL/menit/1,73 m2

MANIFESTASI KLINIS 1. Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369): a. b. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, mental, berat badan berkurang, mudah tersinggung, depresi nafas dangkal atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah. 2. Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin - angiotensin aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi). 3. Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut: a. Gangguan kardiovaskuler Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan edema. b. Gannguan Pulmoner Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara krekels. c. Gangguan gastrointestinal Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas bau ammonia. d. Gangguan muskuloskeletal Resiles leg sindrom ( pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan ), burning feet syndrom ( rasa kesemutan dan terbakar, terutama

ditelapak kaki ), tremor, miopati ( kelemahan dan hipertropi otot otot ekstremitas. e. Gangguan Integumen kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning kuningan akibat penimbunan urokrom, gatal gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh. f. Gangguan endokrim Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic glukosa, gangguan metabolic lemak dan vitamin D. g. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia. h. System hematologi anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga rangsangan eritopoesis pada sum sum tulang berkurang, hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni. D. PEMERIKSAAN PENUNJANG Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka perlu pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun kolaborasi antara lain : 1.Pemeriksaan lab.darah hematologi Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit RFT ( renal fungsi test ) ureum dan kreatinin LFT (liver fungsi test )

E.

Elektrolit Klorida, kalium, kalsium koagulasi studi PTT, PTTK BGA urine rutin urin khusus : benda keton, analisa kristal batu ECG ECO USG abdominal CT scan abdominal BNO/IVP, FPA Renogram RPG ( retio pielografi )

2. Urine

3. pemeriksaan kardiovaskuler

4. Radidiagnostik

PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu : a) Konservatif Dilakukan pemeriksaan lab.darah dan urin Observasi balance cairan Observasi adanya odema Batasi cairan yang masuk peritoneal dialysis biasanya dilakukan pada kasus kasus emergency. Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat akut Dialysis ) adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial

b) Dialysis

Hemodialisis Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan :

AV fistule : menggabungkan vena dan arteri Double lumen : langsung pada daerah jantung ( vaskularisasi ke jantung )

c) Operasi Pengambilan batu transplantasi ginjal

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Doenges (1999) dan Lynda Juall (2000), diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien CKD adalah: 1. Penurunan curah jantung 2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit 3. Perubahan nutrisi 4. Perubahan pola nafas 5. Gangguan perfusi jaringan 6. Intoleransi aktivitas 7. kurang pengetahuan tentang tindakan medis 8. resti terjadinya infeksi J. INTERVENSI 1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang meningkat Tujuan: Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil : mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler Intervensi: a. b. Auskultasi bunyi jantung dan paru Kaji adanya hipertensi R: Adanya takikardia frekuensi jantung tidak teratur R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem aldosteron-renin-angiotensin (disebabkan oleh disfungsi ginjal) c. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya (skala 0-10) R: HT dan GGK dapat menyebabkan nyeri d. Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas R: Kelelahan dapat menyertai GGK juga anemia

2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema sekunder : volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O) Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan kriteria hasil: tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output Intervensi: a. b. Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, Batasi masukan cairan keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit tanda-tanda vital R: Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal, haluaran urin, dan respon terhadap terapi c. cairan R: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan d. Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan terutama pemasukan dan haluaran R: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output 3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria hasil: menunjukan BB stabil Intervensi: a. b. Awasi konsumsi makanan / cairan Perhatikan adanya mual dan muntah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan R: Mengidentifikasi kekurangan nutrisi R: Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah intervensi Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan

c. d. e.

Beikan makanan sedikit tapi sering Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan Berikan perawatan mulut sering

R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan R: Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial R: Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang dapat mempengaruhi masukan makanan 4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder: kompensasi melalui alkalosis respiratorik Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil Intervensi: a. b. c. d. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam Atur posisi senyaman mungkin Batasi untuk beraktivitas R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2 R: Mencegah terjadinya sesak nafas R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia 5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis Tujuan: Integritas kulit dapat terjaga dengan kriteria hasil : kulit Intervensi: a. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler, perhatikan kadanya kemerahan Mempertahankan kulit utuh Menunjukan perilaku / teknik untuk mencegah kerusakan

10

R: Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat menimbulkan pembentukan dekubitus / infeksi. b. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa R: Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan c. d. Inspeksi area tergantung terhadap udem Ubah posisi sesering mungkin R: Jaringan udem lebih cenderung rusak / robek R: Menurunkan tekanan pada udem , jaringan dengan perfusi buruk untuk menurunkan iskemia e. f. g. Berikan perawatan kulit Pertahankan linen kering Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin R: Mengurangi pengeringan , robekan kulit R: Menurunkan iritasi dermal dan risiko kerusakan kulit untuk memberikan tekanan pada area pruritis R: Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera h. Anjurkan memakai pakaian katun longgar R: Mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi lembab pada kulit 6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak adekuat, keletihan Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi Intervensi: a. b. c. d. Pantau pasien untuk melakukan aktivitas Kaji fektor yang menyebabkan keletihan Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat Pertahankan status nutrisi yang adekuat

11

7. Kurang pengetahuan tentang a. b.

kondisi, prognosis dan tindakan

medis (hemodialisa) b.d salah interpretasi informasi. Kaji ulang penyakit/prognosis dan kemungkinan yang Beri pendidikan kesehatan mengenai pengertian, akan dialami. penyebab, tanda dan gejala CKD serta penatalaksanaannya (tindakan hemodialisa ). c. d. e. Libatkan keluarga dalam memberikan tindakan. Anjurkan keluarga untuk memberikan support system. Evaluasi pasien dan keluarga setelah diberikan penkes.

12

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan) Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.: Balai Penerbit FKUI

13

TINJAUAN TEORI A. Pengertian Chronik Kidney Desease adalah : kerusakan ginjal progresif yang berakibat fatal dan ditandai dengan uremia (urea dan limbah nitrogen lainnya yang beredar dalam darah serta komplikasinya jika tidak dilakukan dialisis atau transplantasi ginjal). (Nursalam. 2006) Chronik Kidney Desease adalah: suatu sindrom klinis yang disebabkan oleh penurunan fungsi ginjal yang bersifat menahun, berlangsung progresif dan cukup lanjut. ( Slamet Suyono, 2001). Chronik Kidney Desease adalah : gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk memperhatikan metabolisme keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth. 2002). Chronik Kidney Desease biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap. Penyebab termasuk glomerulonefritis, infeksi kronis dan penyakit vaskular , penyakit agen nefrotik dan penyakit endokrin (Marlynn E. Doenges. 2000) Chronik Kidney Desease adalah penyakit ginjal yang tidak dapat pulih, ditandai dengan penurunan fungsi ginjal progresif, mengarah pada penyakit ginjal tahap akhir dan kematian (Susan Martin Tucker, 1998). Dari kelima pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Cronik Kidney Desease adalah suatu gangguan fungsi renal yang progresif irreversible yang disebabkan oleh adanya penimbunan limbah metabolik di dalam darah, sehingga kemampuan tubuh tidak mampu mengekskresikan sisa- sisa sampah metabolisme dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. B. Patofisiologi Menurut Brunner dan Suddarth(2002),Slamet Suyono(2001) dan Sylvia A. Price, (2000) adalah sebagai berikut : Gagal ginjal merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversibel dari berbagai penyebab diantaranya infeksi, penyakiy peradangan, penyakit vaskular hipertensif, gangguan jaringan penyambung, gangguan kongenital dan herediter, penyakit metabolik (DM, Hipertiroidisme), Nefropati toksik (penyalahgunaan analgesik), nefropati obstruktif(saluran kemih bagian atas dan saluran kemih bagian bawah). Pada saat fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein yang normalnya di ekskresikan kedalam urine menjadi tertimbun didalam darah, sehingga terjadinya uremia dan mempengaruhi sistem sistem tubuh, akibat semakin banyaknya tertimbun produk sampah metabolik, sehingga kerja ginjal akan semakin berat.

14

Banyak masalah muncul pada gagal ginjal sebagai akibat dan penurunan jumlah glomeruli yang dapat menyebabkan penurunan klirens. Substansi darah yang seharusnya dibersihkan, tetapi ginjal tidak mampu untuk memfiltrasinya. Sehingga mengakibatkan kadar kreatinin serum, nitrogen, urea darah (BUN) meningkat. Ginjal juga tidak mampu mengencerkan urine secara normal. Sehingga tidak terjadi respon ginjal yang sesuai terhadap perubahan masukan cairan dan elektrolit sehingga terjadi tahanan natrium dan cairan. (Brunner & Suddarth, 2002). Asidosis metabolik dapat terjadi karena ketidakmampuan ginjal mengekspresikan muatan asam yang berlebihan terutama amoniak (NH3) dan mengabsorpsi bikarbonat. Anemia, terjadi akibat berkurangnya produksi eritropoetin, sehingga rangsangan eritropoisis pada sumsum tulang menurun, hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, defisiensi besi, asam folat dan lain-lain akibat nafsu makan yang berkurang, perdarahan paling sering pada saluran cerna dan kulit. (Slamet Suyono, 2001) Ketidakseimbangan kalsium dan fosfat terjadi karena gangguan dalam metabolismenya. Dengan menurunya filtrasi glomerulus dapat mengakibatkan peningkatan kadar fosfat serum dan penurunan kadar serum kalsium. Sehingga menyebabkan perubahan bentuk tulang. Penyakit tulang dan penurunan metabolisme aktif vitamin D karena terjadi perubahan kompleks kalsium, fosfat dan keseimbangan parathormon sehingga menyebabkan osteodistrofi (penyakit tulang uremik) Manifestasi klinis, manifestasi kardiovaskuler, hipertensi, gagal ginjal kongestif, edema pulmonal, perikarditis. Gejala dematologis : gatal-gatal. Serangan uremik tidak umum karena pengobatan dini dan agresif. Gejala gastrointestinal, anoreksia, mual, muntah dan cegukan, penurunan aliran saliva, haus, kehilangan kemampuan penghidu dan pengecap, stomatitis. Perubahan neuromuskuler : perubahan tingkat kesadaran, ketidakmampuan berkonsentrasi, perubahan hematologis : kecenderungan perdarahan, keletihan, letargi, sakit kepala, kelemahan umum secara bertahap akan lebih mengantuk. Neurologi : kelemahan dan keletihan, disorientasi, kelemahan pada tungkai, perubahan perilaku, rasa panas pada kaki. Muskuloskeletal : Kram otot, kekuatan otot hilang, fraktur tulang, reproduktif : Amenore, Atrofi Testikuler. (Brunner & Suddart. 2002). Stadium dari Chronik Kidney Disease ada 3 yaitu : stadium pertama dinamakan penurunan cadangan ginjal, selama stadium ini kreatinin serum dan kadar BUN Normal, Creatinin Clerance berkisar 40-70 ml/mnt. Gangguan fungsi ginjal hanya dapat diketahui dengan memberi beban kerja yang berat pada ginjal tersebut. Seperti, tes pemekatan kemih yang lama atau dengan mengadakan tes GFR yang teliti. Stadium kedua, perkembangan tersebut disebut insufisiensi ginjal dimana lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak. (GFR besarnya 25% dari normal) kadar BUN mulai meningkat diatas batas normal, kadar kreatinin serum juga mulai meningkat melebihi kadar normal. Kegagalan ginjal pada stadium kedua dimana nilai creatinin clearance 20-40 ml/mnt. Gejala nokturia dan poliuria timbul, gejala ini

15

timbul sebagai respon terhadap stres dan perubahan makanan atau minuman secara tiba-tiba. Stadium ketiga, stadium akhir gagal ginjal proresif, disebut gagal ginjal stadium akhir uremia, gagal ginjal stadium akhir timbul apabila sekitar 90% dari masa nefron telah hancur atau sekitar 200.000 nefron saja yang masih utuh, nilai GFR hanya 10% dari keadaan normal dan creatinin clearance 5 ml/mnt. Pada keadaan ini kreatinin serum dan kadar BUN akan meningkat dengan sangat menyolok sebagai respon terhadap GFR yang mengalami penurunan. Pada stadium akhir gagal ginjal penderita mulai mengalami gejala-gejala yang cukup parah, karena ginjal sudah tidak sanggup lagi mempertahankan homoestasis cairan dan elektrolit dalam tubuh. (Sylvia A. Price. 2000). Komplikasi dari chronik kidney desease yaitu : hiperkalemia perikarditis, efusi perikardial, hipertensi, anemia dan penyakit tulang. C. Penatalaksanaan Menurut Sylvia Price (2000) adalah sebagai berikut : 1. Penatalaksanaan Medis Obat anti hipertensi yang sering dipakai adalah Metildopa (Aldomet), propanolol dan klonidin. Obat diuretik yang dipakai adalah furosemid (lasix). Hiperkalemia akut dapat diobati dengan pemberian glukosa dan insulin intravena yang memasukan K+ ke dalam sel, atau dengan pemberian kalsium glukonat 10% intravena dengan hati-hati sementara EKG terus diawasi. Bila kadar K+ tidak dapat diturunkan dengan dialisis, maka dapat digunakan resin penukar kation natrium polistiren sulfonat (Kayexalate). Pengobatan untuk anemia yaitu : rekombinasi eritropoetin (r-EPO) secara meluas, saat ini pengobatan untuk anemia uremik : dengan memperkecil kehilangan darah, pemberian vitamin, androgen untuk wanita, depotestoteron untuk pria dan transfusi darah. Asidosis dapat tercetus bilamana suatu asidosis akut terjadi pada penderita yang sebelumnya sudah mengalami asidosis kronik ringan, pada diare berat yang disertai kehilangan HCO3. Bila asidosis berat akan dikoreksi dengan pemberian pemberian NaHCO3 parenteral. Dialisis : suatu proses dimana solut dan air mengalir difusi secara pasif melalui suatu membran berpori dari suatu kompartemen cair menuju kompartemen lainnya. Dialisis peritoneal : merupakan alternatif dari hemodialisis pada penanganan gagal ginjal akut dan kronik. Pada orang dewasa, 2 L cairan dialisis steril dibiarkan mengalir ke dalam rongga peritoneal melalui kateter selama 10-20 menit. Biasanya keseimbangan cairan dialisis dan membran semipermeabel peritoneal yang banyak vaskularisasinya akan tercapai setelah dibiarkan selama 30 menit. Transplantasi ginjal : prosedur standarnya adalah memutar ginjal donor dan menempatkannya pada fosa iliaka pasien sisi kontralateral. Dengan demikian ureter terletak di sebelah anterior dari pembuluh darah ginjal, dan lebih mudah dianastomosis atau ditanamkan ke dalam kandung kemih resipien. 2. Penatalaksanaan Keperawatan

16

Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, penimbangan berat badan setiap hari, batasi masukan kalium sampai 40-60 mEq/hr, mengkaji daerah edema. 3. Penatalaksanaan diit Tinggi karbohidrat, rendah protein, rendah natrium, batasi diit rendah protein sampai mendekati 1 g / kg BB selama fase oliguri. Untuk meminimalkan pemecahan protein dan untuk mencegah penumpukan hasil akhir toksik. Batasi makanan dan cairan yang mengandung kalium dan fosfor (pisang, buah dan jus-jusan serta kopi). Pemeriksaan diagnostik / laboratorium Menurut marilynn E .Doenges (2000) adalah sebagai berikut : Urine Volume : Biasanya kurang dari 400 ml / 24 jam atau urine tak ada (anuria) : Secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus bakteri, lemah, partikel koloid, fosfat atau urat.

Warna

Berat jenis : Kurang dari 1,05 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat). Osmolalitas : Kurang dari 300 mosm / kg menunjukkan kerusakan tubular dan rasio urine serum sering 1 : 1. Klirens Kreatinin : Mungkin agak menurun.stadium satu CCT(40-70ml/menit), stadium kedua, CCT (2040ml/menit) dan stadium ketiga, CCT(5 ml/menit) Natrium : Lebih besar dari 40 g/dl, karena ginjal tidak mampu mereabsorpsi natrium. (135-145 g/dL) Protein : Derajat tinggi proteinuria (3 4 + ) secara kuat menunjukkan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada. Darah BUN/Kreatinin :................................................................................................. Meningkat, biasanya meningkat dalam proporsi, kadar kreatinin 10 mg/dl. Diduga batas akhir mungkin rendah yaitu 5 Hitung darah lengkap : Ht namun pula adanya anemia Hb : kurang dari 7 8 9/dl, Hb untuk perempuan (1315 g/dL), laki-laki (13-16 g/dL) SDM : Waktu hidup menurun pada defesiensi eriropoetin seperti pada azotemia. GDA : PH : penurunan asidosis (kurang dari 7,2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekskresi hidrogen dan amonia atau hasil akhir katabolisme protein. Bikarbonat menurun PCo2 menurun natrium serum mungkin rendah (bila ginjal kehabisan natrium atau normal (menunjukkan status difusi hipematremia) Kalium :

17

Peningkatan normal (3,5- 5,5 g/dL) sehubungan dengan rotasi sesuai dengan perpindahan selular (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis SDM) pada tahap akhir pembahan EKG mungkin tidak terjadi sampai umum gas mengolah lebih besar. Magnesium / fosfat meningkat di intraseluler : (27 g/dL), plasma (3 g/dL), cairan intersisial (1,5 g/dL). Kalsium : menurun. Intra seluler (2 g/dL), plasma darah (5 g/dL), cairan intersisial (2,5 g/dL) Protein (khususnya albumin 3,5-5,0 g/dL) : kadar semua menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine pemindahan cairan penurunan pemasukan atau penurunan sintesis karena asam amino esensial. Osmolalitas serum : lebih besar dari 285 mos m/kg. Sering sama dengan urine Kub Foto : menunjukkan ukuran ginjal / ureter / kandug kemih dan adanya obstruksi (batu) Pielogram retrograd : Menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter Arteriogram ginjal : Mengkaji sirkulasi ginjal dan mengidentifikasi ekstravakuler massa. Sistrouretrografi berkemih : menunjukkan ukuran kandung kemih, refiuks kedalam ureter, rebonsi. Ultrasono ginjal : Menentukan ukuran ginjal dan adanya massa. Kista obstruksi pada saluran kemih bagian atas. Biopsi ginjal : mungkin dilakukan secara endoskopik untuk menentukan pelvis ginjal : keluar batu hematuria dan pengangkatan tumor selektif EKG : Mungkin abnormal menunjukan ketidak keseimbangan elektrolit asam/basa. Foto kaki, tengkorak, kolumna spinal, dan tangan : Dapat menunjukkan deminarilisasi, kalsifikasi. D. Pengkajian Menurut Susan Martin Tucker (1998) adalah sebagai berikut: 1. Neurologis Sakit kepala, penglihatan kabur, perubahan kepribadian, malaise, neuropatik perifer, penurunan tingkat kesadaran. 2. Pernapasan Sesak napas, hiperventilasi, edema paru, pneumoni, napas cheyne stokes, napas berbau amoniak. 3. Kardiovaskular Hipertensi, takikardi, disritmia, miokardiopati, perikarditis. 4. Cairan dan elektrolit Oliguria, anuria, edema : berat badan meningkat, dehidrasi : berat badan menurun, hiperkalemia, hiperfostatemia, hipokalemia, hiperlipidemia, asidosis metabolik. 5. Gastrointestinal Rasa pahit pada mulut, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi dan hemoragik.

18

6. Integumen Mulut kering, kuku pucat, petekie, pruritus, memar dan lapisan uremik. 7. Hematologis Anemia, koagulasi, defisiensi trombosit. 8. Endokrin Amenoria, disfungsi seksual, infertilitas, hiperparatiriodisme, tidak toleransi terhadap glukosa. 9. Imunologis Peningkatan suhu, leukosit tinggi, infeksi, toksisitas obat. 10. Psikososial Ansietas, takut, tak berdaya, berduka, menyangkal, depresi dan gangguan hubungan dengan orang lain. E. Diagnosa Keperawatan Menurut Brunner dan Suddarth (2002) dan Marilin E, Doenges (2002) adalah sebagai berikut : 1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine, diet berlebihan dan retensi cairan serta natrium. 2. Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membran mukosa mulut. 3. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan program penanganan berhubungan dengan kurang informasi. 4. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialisis. 5. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan perubahan peran 6. Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidak seimbangan cairan mempengaruhi volume sirkulasi, kerja miokardial dan tahanan vaskular sistemik, gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung, ketidakseimbangan elektrolit, hipoksia), akumulasi toksin (urea) klasifikasi jaringan lunak. 7. Risiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan penekanan produksi / sekresi eritropoitin / penurunan produksi dan SDM hidupnya gangguan faktor pembekuan peningkatan kerapuhan kapiler. 8. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis, akumulasi toksin asidosis metabolik, ketidakseimbangan elektrolit, klasifikasi metabolik pada otak. 9. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kuit berhubungan dengan gangguan status metabolik, sirkulasi anemia dengan iskemia jaringan dan sensasi (neuropati perifer), gangguan turgor kulit cedera / dehidrasi) penurunan aktivitas/metabolisasi akumulasi toksin dalam kulit. 10. Risiko tinggi terhadap perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan kurang / penurunan saliva, pembatasan cairan, iritasi kimia, perubahan urea dalam saliva menjadi amonia. F. Perencanaan dan Kriteria Hasil D X I. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine, diet berlebihan dan retensi cairan dan natrium. Tujuannya : Mempertahankan berat badan ideal tanpa kelebihan volume cairan

19

Kriteria Hasil : Menunjukkan perubahan berat badan yang lambat, mempertahankan pembatasan diet cairan, menunjukkan turgor kulit normal tanpa ada edema, menunjukkan tandatanda vital normal, menunjukkan tidak adanya distensi vena leher, melaporkan adanya kemudahan dalam bernafas atau tidak terjadi nafas pendek, melakukan oral hygiene dengan sering, merupakan penurunan rasa haus, melaporkan berkurangnya kekeringan pada membran mukosa mulut. Intervensi : 1. Kaji status cairan : timbang BB harian, keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit dan adanya edema, distensi vena leher, tekanan darah, denyut nadi dan irama nadi. 2. Batasi masukan cairan 3. Identifikasi cairan potensial cairan : medikasi dan cairan yang digunakan untuk pengobatan oral dan intravena, makanan. 4. Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan cairan 5. Bantu pasien dalam menghadapi ketidaknyamanan akibat pembatasan cairan 6. Tingkatkan dan dorong hygiene oral dengan sering D X 2 Perubahan Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual, muntah, pembatasan diet dan perubahan membran mukosa mulut. Tujuan : Masukan nutrisi yang adekuat Kriteria hasil : mengkonsumsi protein yang mengandung nilai biologis tinggi, memilih makanan yang menimbulkan nafsu makan dalam batasan diet, mengkonsumsi makanan tinggi kalori dalam batasan diet, mematuhi medikasi sesuatu jadwal untuk mengatasi anoreksia dan tidak menimbulkan rasa kenyang menjelaskan dengan kata-kata sendiri rasional pembatasan diet dan hubungannya dengan kadar kreatinin dan urea, mengkonsumsi daftar makanan yang dapat diterima, melaporkan peningkatan nafsu makan, menunjukkan tidak adanya penambahan atau penurunan BB yang cepat, menunjukkan turgor kulit yang normal tanpa edema, kadar albumin plasma dapat diterima. 1. 2. 3. 4. 5. Intervensi : Kaji status nutrisi : perubahan BB, pengukuran antropometrik, nilai laboratorium (elektrolit serum, BUN, kreatinin, protein, transferin dan kadar bersih) Kaji pola diet nutrisi pasien : riwayat diet, makanan kesukaan, hitung kalori. Kaji faktor yang berperan dalam merubah masukan nutrisi : anoreksia, mual atau muntah, diet yang tidak menyenangkan bagi pasien, depresi, kurang memahami, pembatasan diet, stomatitis Menyediakan makanan kesukaan pasien dalam batasan-batasan diet Tingkatkan masukan protein yang mengandung nilai biologis tinggi sel telur, produk susu dan daging D X 3. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan program penanganan berhubungan dengan kurang informasi. Tujuan : Meningkatkan pengetahuan mengenai kondisi dan penanganan yang bersangkutan Kriteria hasil : menyatakan hubungan antara penyebab gagal ginjal dan konsekuensinya, menjelaskan pembatasan cairan dan diet sehubungan dengan kegagalan regulasi ginjal menyatakan hubungan antara gagal ginjal dengan kebutuhan

20

penanganan menggunakan kata-kata sendiri. Menanyakan tentang pilihan terapi yang merupakan petunjuk kesiapan belajar, menyatakan rencana melanjutkan kehidupan normalnya sedapat mungkin, menggunakan informasi dan instruksi tertulis untuk mengklasifikasi pertanyaan dan mencari informasi tambahan. 1. Intervensi : Kaji pemahaman mengenai penyebab gagal ginjal konsekuensinya dan penanganannya : penyebabnya gagal ginjal pasien, pengertian gagal ginjal, pemahaman mengenai fungsi renal, hubungan antara cairan pembatasan diet dengan gagal ginjal, raional penanganan (hemodialisis, dialisis peritorial, transplantasi) Jelaskan fungsi renal dan konsekuensi gagal ginjal sesuai dengan pemahaman dan kesiapan pasien untuk belajar Bantu pasien untuk mengidentifikasi cara-cara untuk memahami berbagai perubahan akibat penyakit dan penanganan yang mempengaruhi hidupnya Sediakan informasi baik tertulis maupun secara oral dengan tempat tentang fungsi dan kegagalan renal. Pembatasan cairan dan diet, medikasi, melaporkan masalah tanda dan gejala, jadwal tindak lanjut, sumber dikomunitas pilihan terapi. D X 4 . Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialisis. Tujuan : Berpartisipasi dalam aktivitas yang dapat ditoleransi Kriteria Hasil : Berpartisipasi dalam meningkatkan singkat aktivitas dengan latihan melaporkan peningkatan rasa sejahtera melakukan istirahat dan aktivitas secara bergantian berpartisipasi dalam aktivitas perawatan mandiri yang dipilih. Intervensi : 1. Kaji faktor yang menimbulkan kelebihan : anemia, ketidakseimbangan cairan dan elektrolit/retensi produk sampah depresi. 2. Tingkatkan kemandirian dalam aktivitas perawatan diri yang dapat ditoleransi bantu jika keletihan terjadi. 3. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat. 4. Anjurkan untuk beristirahat setelah dialisis. DX. 5. : Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan perubahan penuh, perubahan citra tubuh dan fungsi seksual. Tujuan : Memperbaiki konsep diri Kriteria Hasil : Mengidentifikasi pada koping yang efektif dan pada saat ini tidak mungkin lagi digunakan akibat penyakit dan pananganan (pemakaian alkohol dan obat-obatan, penggunaan tenaga yang berlebihan), pasien dan keluarga mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan dan reaksinya terhadap penyakit dan perubahan hidup yang diperlukan. Mencari konseling profesional jika perlu untuk menghadapi perubahan akibat gagal ginjal. Intervensi : 1. Kaji respons dan reaksi pasien dan keluarga terhadap penyakit dan penanganan 2. Kaji hubungan antara pasien dengan anggota keluarga terdekat 3. Kaji pula kuping pasien dan anggota keluarga

2. 3. 4.

21

4. Ciptakan diskusi terbuka tentang perubahan yang terjadi akibat penyakit dan penanganan perubahan-perubahan gaya hidup, perubahan dalam pekerjaan perubahan seksual, ketergantungan pada tim tenaga kesehatan. 5. Gali cara alternatif untuk ekspresi seksual lain selain hubungan seksual 6. Diskusikan peran memberi dan menerima cinta, kehangatan dan kemesraan D X. 6 : Risiko tinggi terhadap penurunan curah jantung berhubungan dengan ketidakseimbangan cairan mempengaruhi volume sirkulasi, kerja miokardial dan tahanan vaskuler sistemik, gangguan frekuensi, irama, konduksi jantung (ketidakseimbangan elektrolit, hipotesa) akumulasi toksin urea klasifikasi jaringan lunak. Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung Kriteria Hasil : Mempertahankan curah jantung dengan bukti TD dan frekuensi jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu pengisian kapiler 1. 2. 3. 4. 5. 6. Intervensi : Aukultasi bunyi jantung dan paru Kaji adanya / derajat hipotensi Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikan lokasi radiasi, dan beratnya. Kaji tingkat aktivitas, respons terhadap aktivitas Awasi pemeriksaan laboratorium : elektrolit Berikan obat anti hipertensi D X. 7. Risiko tinggi terhadap Cedera berhubungan dengan penekanan produksi sekresi eritropoitin, penurunan produksi dan SDM hidupnya, gangguan faktor pembekuan, peningkatan kerapuhan kapiler. Tujuan : Tidak terjadi cidera Kriteria hasil : Tak mengalami tanda / gejala pendarahan, mempertahankan / menunjukkan perbaikan nilai laboratorium. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Intervensi : Observasi takikardi, Dispneu dan nyeri dada Evaluasi respon terhadap aktivitas Observasi perdarahan terus menerus lakukan penekanan lebih lama setelah menyuntikkan / penusukan vaskuler Awasi pemeriksaan laboratorium : hitung DL Berikan obat sesuai indikasi Dx. 8. Perubahan proses pikir berhubungan dengan perubahan fisiologis akumulasi toksin, asidosis metabolik, ketidakseimbangan elektrolit, kalsifikasi metastatik pada otak Tujuan : Pola pikir tidak terganggu Kriteria hasil : Meningkatkan tingkat mental biasanya, mengidentifikasi cara untuk mengoperasikan gangguan kognitif / defisit memori. Intervensi : 1. Kaju luasnya gangguan kemampuan berfikir, memori dan orientasi

22

2. 3. 4. 5.

Berikan orang terdekat informasi tentang status pasien Berikan lingkungan tenang dan izinkan menggunakan televisi, radio dan kunjungan Orientasikan kembali terhadap lingkungan orang dan sebagainya Hadirkan kenyataan secara singkat-ringkas dan jangan menantang dengan pemikiran yang tak logis DX. 9. Risiko tinggi terhadap kerusakan integritas kulit berhubungan dengan gangguan status metabolik, sirkulasi lanemia dengan iskemia jaringan dan sensasi (neuropati perifer), gangguan turgor kulit ledema / dehidrasi penurunan aktivitas / mobilisasi, akumulasi toksin dalam kulit Tujuan : Tidak terjadi perubahan / kerusakan integritas kulit Kriteria hasil : Mempertahankan kulit utuh, menunjukkan perilaku / teknik untuk mencegah kerusakan / cedera kulit

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Intervensi : Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor Inspeksi area tergantung terhadap edema Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa Ubah posisi dengan sering Berikan perawatan kulit Pertahankan linen kering Selidiki keluhan gatal D X. 10. Risiko tinggi terhadap perubahan membran mukosa oral berhubungan dengan kurang / penurunan saliva, pembatasan cairan, iritasi kimia perubahan urea dalam saliva menjadi amonia Tujuan : Tidak terjadi perubahan membran mukosa oral Kriteria hasil : Mempertahankan integritas membran mukosa mengidentifikasi / melakukan intervensi untuk mengingkatkan kesehatan mukosa oral.

1. 2. 3. 4. 5.

Intervensi : Inspeksi rongga mulut Berikan cairan sepanjang 24 jam dalam batas yang ditentukan Berikan perawatan mulut Anjurkan hygiene gigi yang baik setelah makan dan saat tidur Berikan obat-obatan sesuai indikasi

G. Implementasi Menurut Patricia A. Potter (2005) adalah sebagai berikut : Tindakan keperawatan adalah : melaksanakan rencana tindakan yang telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Tindakan keperawatan tersebut dilaksanakan sebagian oleh pasien itu sendiri. Oleh perawat secara mandiri atau mungkin dilakukan secara kerjasama dengan anggota team kesehatan lain misalnya : Ahli gizi dan Fisiotherapist, hal ini sangat tergantung janis tindakan, kemampuan / keterangan pasien serta tenaga perawat itu sendiri. Proses pelaksanaan dari proses keperawatan mempunyai lima tahap yaitu : 1. Mengkaji Ulang Klien

23

Pengkajian adalah : suatu proses yang berkelanjutan yang difokuskan pada suatu dimensi atau sistem. Setiap kali perawat berinteraksi dengan klien, data tambahan dikumpulkan untuk mencerminkan kebutuhan fisik, perkembangan intelektual emosional, sosial dan spiritual. 2. Mencegah dan memodifikasi rencana asuhan keperawatan meskipun rencana asuhan keperawatan telah dikembangkan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang elah teridentifikasi selama pengkajian. Perubahan dalam status klien mungkin mengharuskan modifikasi rencana asuhan keperawatan yang telah direncanakan. 3. Mengidentifikasi bidang bantuan Beberapa situasi keperawatan mengharuskan perawat untuk mencari bantuan-bantuan dapat berupa tambahan tenaga 4. Mengimplementasikan intevensi keperawatan Perawat memilih intervensi keperawatan berikut metode untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan yaitu : membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan seharihari, mengkonsulkan dan memberikan penyuluhan pada klien dan keluarga, memberi asuhan keperawatan langsung, mengawasi dan mengevaluasi kerja staf anggota yang lain. 5. Mengkomunikasikan intervensi keperawatan Intervensi keperawatan dituliskan akan dikomunikasikan secara verval rencana perawatan biasanya mencerminkan tujuan intervensi keperawatan. Setelah intervensi keperawatan, respons klien terhadap pengobatan dicatatkan pada lembar catatan yang sesuai dengan menuliskan waktu dan rincian tentang intervensi mendokumentasikan bahwa prosedur telah diselesaikan. Pada waktu tenaga perawatan memberikan asuhan keperawatan proses pengumpulan data analisa data berjalan terus menerus guna perubahan / penyesuaian tindakan keperawatan. Beberapa faktur dapat mempengaruhi pelaksanaan keperawatan antara lain: fasilitas / alat yang ada, pengorganisasian pekerjaan perawat serta lingkungan fisik dimana asuhan keperawatan dilakukan. H. Evaluasi Evaluasi menurut Patricia A. Potter, (2005) adalah sebagai berikut : Evaluasi adalah : proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang rencana keperawatan langkah-langkah evaluasi terdiri dari mengumpulkan data perkembangan pasien, menafsirkan (menginterprestasikan) perkembangan pasien membandingkan data keadaan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan dengan menggunakan kriteria pencapaian tujuan yang telah di latapkan, mengukur dan membandingkan perkembangan pasien dengan standar normal yang berlaku. Ada tiga alternatif dalam menafsirkan hasil evaluasi yaitu : a. Tujuan tercapai Tujuan tercapai bila pasien menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan sesuai dengan kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. b. Tujuan tercapai sebagian Tujuan tercapai sebagian jika pasien menunjukkan perubahan dan perkembangan kesehatan hanya sebagai dari kriteria pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

24

c. Tujuan sama sekali tidak tercapai Tujuan sama sekali tidak tercapai, jika pasien menunjukkan perubahan perilaku dan perkembangan kesehatan atau bahkan timbul masalah baru. Evaluasi dari revisi rencana perawatan dan berfikir kritis, sejalan dengan telah dievaluasinya tujuan, penyesuaian terhadap rencana asuhan dibuat sesuai dengan keperluan. Setelah melakukan evaluasi keperawatan tahap selanjutnya adalah mencabut hasil tindakan keperawatan dokumentasi asuhan keperawatan merupakan bukti jadi pelaksanaan keperawatan yang menggunakan metode pendekatan proses keperawatan dan catatan respon klien terhadap tindakan medis, tindakan keperawatan atau reaksi klien terhadap penyakitnya.

25

H.

PATHWAYS infeksi reaksi antigen antibodi vaskuler arteriosklerosis suplai darah ginjal turun zat toksik tertimbun ginjal Obstruksi saluran kemih batu besar dan Retensi urin kasar menekan saraf perifer nyeri pinggang

iritasi / cidera jaringan hematuria anemia

GFR turun GGK sekresi protein terganggu urokrom sindrom uremia tertimbun di perpospatemi kulit gang. a keseimbangan perubahan pruritis asam - basa warna kulit prod. asam gang. naik integritas as. lambung kulit naik nausea, iritasi lambung vomitus resiko infeksi perdarahan gangguan gastritis nutrisi hematemesi mual, s muntah - melena anemia retensi Na total CES naik tek. kapiler naik vol. interstisial naik edema (kelebihan volume cairan) preload naik beban jantung naik hipertrofi ventrikel kiri resiko gangguan nutrisi

sekresi eritropoitis turun suplai nutrisi dalam darah turun gangguan perfusi jaringan produksi Hb turun oksihemoglobin turun suplai O2 kasar turun payah jantung kiri COP turun aliran darah ginjal turun RAA turun retensi Na & H2O naik 26 kelebihan vol. cairan suplai O2 jaringan turun metab. anaerob timb. as. laktat naik - fatigue - nyeri sendi suplai O2 ke otak turun syncope (kehilangan kesadaran) intoleransi aktivitas intoleransi aktivitas

bendungan atrium kiri naik tek. vena pulmonalis kapiler paru naik edema paru gang. pertukaran gas