Anda di halaman 1dari 9

PROPOSAL TUGAS AKHIR

ANALISA LINK POWER BUDGET, RISE TIME BUDGET SABAGAI PARAMETER PENINGKATAN TRANSMISI FIBER OPTIK STUDY KASUS PT. TELKOM PEKANBARU

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Pada Jurusan Teknik Elektro

Oleh: SUYANTO 10755000338

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU PEKANBARU 2011

ABSTRAK

Peningkatkan kapasitas telepon merupakan tujuan utama dari peningkatan kapasitas faber optik. Peningkatan kapasitas serat optik dilakukan dengan rekayasa profil indeks bias cladding untuk mengatasi masalah dispersi. Dispersi merupakan penyebaran pulsa optik pada saat transmisian berlangsung, hal ini disebabkan karena indexs bias yang berbeda sehingga terjadi interference atau kesalahan dalam penerimaan sinyal. Metode yang digunakan dalam menganalisa karakteristik transmisi serat optik digunakan metode Equivalent Step-Index Fiber (ESI)

Kata kunci: Equivalent Step-Index Fiber (ESI), Dispersi, link power budget.

1.1 Latar Belakang

Salah satu aplikasi fiber optik adalah sebagai media transmisi penghubung antar sentral telepon. Yang memiliki jumlah pengguna telepon yang besar dan terus bertambah untuk keperluan kantor dan aktivitas yang lain, sangat mungkin dibutuhkan kapasitas yang bertambah besar. Hal tersebut perlu diantisipasi dengan upaya peningkatan kapasitas. Peningkatan kapasitas serat optik dilakukan dengan rekayasa profil indeks bias cladding untuk mengatasi masalah dispersi. Untuk menganalisa karakteristik transmisi serat yang didesain digunakan metode Equivalent Step-Index Fiber (ESI).

1.2 Rumusan Masalah Permasalahan yang ingin diatasi melalui proposal tugas akhir ini adalah analisa link power budget sebagai parameter peningkatan kapasita transmisi fiber optik dalam merancang kebutuhan pelanggan jangka panjang sesuai yang di inginkan.

1.3 Batasan Masalah Pembahasan mengenai peningkatan kapasitas dibatasi 1. Pada ruang lingkup komponen-komponen optik dari sistem transmisi. 2. Penggunaan metode Equivalent Step-Index Fiber (ESI). 3. Analisa link power budget yang menentukan apakah link serat optik memenuhi batasan atenuasi untuk jarak yang diinginkan untuk Bit Error Rate (BER) yang telah ditentukan. 4. Analisa risetime budget sebagai performansi sistem.

1.4 Tujuan Penelitian Tujuan pembuatan Proposal Tugas Akhir ini adalah untuk peningkatan kapasitas serat optik yang dilakukan dengan analisa link power budget dan analisa rise time budget, yang dapat memperkirakan transmisi sesuai yang di inginkan untuh beberapa tahun kedepan. Sedangkan rise time bugdet sebagai performasi sistem terpenuhi.

1.5 Metode Penelitian 1. Menentukan jenis dan spesifikasi fiber optik 2. Menganalisa spesifikasi fiber optik dan menghitung kapasitas untuk pelanggan dari jenis fiber optik yang akan digunakan menggunakan metode ESI 3. Pengujian Dan Analisis data link power budget dan analisa rise time budget sebagai penentu sistem berdasarkan waktu yang telah ditentuakan.

1.6 Landasan Teori 1. Dispersi Pada Serat Optik Step-Index Single Mode a. Dispersi Material Variasi indeks bias material optik terhadap panjang gelombang diberikan dengan Persamaan Sellmeier

dengan Ai adalah koefisien kekuatan osilator material dan li panjang gelombang osilator Jika gelombang monokromatik merambat melalui material ini, kecepatan perambatan Vp = (c/n0) adalah kecepatan fasa material dan n0 adalah indeks fase material. 0 = /, dan adalah nilai spectral linewidth sumber cahaya.

Didefinisikan koefisien dispersi material yang diukur dalam ps/(km.nm):

Dm = (-/c)(d2n/d2)

b. Dispersi Waveguide Pelebaran pulsa karena dispersi waveguide diberikan dengan persamaan c. Dispersi Total Dispersi kromatik d/d ( adalah delay grup gelombang optik) terdiri dari faktor dispersi material, dispersi waveguide, dan dispersi gabungan. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa efek penambahan dopan pada material dapat diabaikan karena sangat kecil perbedaannya.

d. Bandwidth Serat Optik Parameter yang mungkin lebih menarik perhatian dibandingkan bandwidth optik adalah bit rate maksimum yang dapat ditransmisikan melalui serat optik. Dengan pendekatan pulsa Gaussian, didapatkan B(max) = 1,34 Bopt sehingga B(max) = 1.34

e. Rekayasa Profil Indeks Bias

Seperti yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya, dispersi material dipengaruhi oleh jenis material bahan yang dipakai. Oleh karena itu cara untuk mengatasinya relatif sulit. Sedangkan dispersi waveguide dapat diatasi dengan mengubah dari profil core stepindex

Gambar 2. Serat dengan variasi indeks bias cladding,(a) Raised Inner Cladding (b) Depressed Inner Cladding[6]

Karena alasan teknologi pembuatan dan untuk meningkatkan karakteristik perambatan, menyebabkan munculnya desain variasi indeks bias pada cladding dalam serat singlemode step-index. f. Metode Equivalent Step-Inda Fiber (ESI) Untuk menganalisa karakteristik transmisi serat optik dengan variasi indeks bias pada cladding ini kita akan menggunakan metode Equivalent Step-Index Fiber (ESI). Metode ini dapat memberikan evaluasi secara cepat dari parameter transmisi dengan akurasi yang dapat diterima. Kita akan membatasi analisa pada 1 < < 0.2 (23) yang merupakan kasus yang banyak dijumpai dalam aplikasinya. Prinsip dari metode ini adalah mengambil indeks bias core sebagai referensi, dan mencari serat step-index yang mempunyai indeks bias cladding yang menjadi nilai ratarata indeks aktual n2 dan n3.

g. Analisa Link Power Budget Dan Rise Time Budget Ada dua analisa yang biasanya dilakukan untuk memastikan bahwa performansi link transmisi serat optik dapat memenuhi kebutuhan yang diinginkan. Yang pertama adalah analisa link power budget yang menentukan apakah link serat optik memenuhi batasan atenuasi untuk jarak yang diinginkan untuk Bit Error Rate (BER) yang telah ditentukan. Selanjutnya dilakukan analisa risetime budget untuk memastikan performansi sistem keseluruhan telah dipenuhi

h. Link Power Budget

Daya optik yang diterima detektor cahaya tergantung pada banyaknya cahaya yang dimasukkan ke dalam serat dan rugi-rugi yang terjadi dalam serat, konektor dan splice. Link power budget didapatkan dari akibat kerugian dari tiap elemen dalam link. Sebagai tambahan penyebab rugi lain adalah link power margin yang dicadangkan untuk mengantisipasi usia komponen, fluktuasi temperatur udara, dan rugi lain dari komponen yang mungkin ditambahkan di kemudian hari. Umumnya digunakan link margin sebesar 6 dB sampai 8 dB untuk sistem yang diperkirakan tidak mengalami perubahan atau penambahan komponen. Link loss budget memperhatikan rugi daya optik total yang diijinkan antara sumber cahaya dan detektor cahaya, serta mengalokasikannya untuk atenuasi kabel, rugi pada konektor, rugi pada splice, dan margin dari sistem. Jika PS adalah daya optik pada ujung serat yang terhubung ke sumber cahaya, dan jika PR adalah sensitivitas penerima, maka PT = PS PR 2lIc + fL + Margin sistem (27) dengan lc adalah rugi konektor (dB), fL adalah atenuasi serat (dB/km), L adalah jarak transmisi, dan margin sistem umumnya diberikan 6 dB. Di sini diasumsikan bahwa kabel dengan panjang L mempunyai konektor hanya pada ujungujungnya. Rugi splice digabungkan dalam rugi kabel untuk penyederhanaan.

i. Rise Time Budget Setelah melakukan analisa link power budget, proses selanjutnya adalah melakukan analisa rise time sistem untuk memastikan bahwa performansi keseluruhan telah memenuhi kebutuhan analisa rise-time budget adalah metode untuk menentukan batasan dispersi suatu link serat optik. Ini sangat berguna untuk menganalisa sistem transmisi digital. Dengan metode ini rise time link keseluruhan tsys adalah akar dari penjumlahan kuadrat dari rise time dari tiap komponen ti Elemen-elemen dasar yang secara siginifikan membatasi kecepatan sistem adalah rise time sumber ttx, dispersi rise time serat tdis, dan rise time detektor trx. Total rise time sistem dinyatakan dalam persamaan: tsys = [ttx2 + D22L2 + trx2]1/2 dengan

ttx = rise time sumber cahaya D = dispersi total = lebar spektral sumber cahaya L = panjang link trx = rise time detektor Umumnya degradasi total waktu transisi dari link digital tidak melebihi 70 persen dari satu periode bit NRZ (Non-retum-to-zero) atau 35 persen dari satu periode bit untuk data RZ (return-to-zero). Satu periode bit didefinisikan sebagai resiprokal dari data rate.

1.7 Sistematika Penulisan Sistematika dari penulisan tugas akhir ini adalah sebagai berikut : BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II : TEORI DASAR

Bab ini berisikan tentang dasar teori yang digunakan pada skripsi ini meliputi

BAB III : METODOLOGI PENELITIAN Bab ini berisikan metodologi penelitian yang digunakan pada tugas akhir ini. BAB IV : PERANCANGAN SISTEM DAN HASIL Bab ini menjelaskan prosedur yang digunakan dalam perancangan dan hasil yang didapat. BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini berisikan kesimpulan dan temuan-temuan yang dihasilkan dari penelitian dan saran-saran untuk penelitian selanjutnya.

1.8 Jadwal Kegiatan Secara garis besar jadwal kegiatan tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

Sep. Kegiatan Penulisan propsal Seminar proposal Revisi proposal Bab 1 Bab 2 Bab 3 Bab 4 Bab 5 Fiinishing Seminar hasil Refisi laporan Sidang TA Refisi laporan

Okt.

Nov.

Des.

Jan.

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

DAFTAR PUSTAKA Joseph C. Palais, 2007. Pengenalan Sistem Komunikasi Serat Optik. Rk.susanti 2011. karaterirtik serat optik. Handout kuliah, Jurusan Teknik Elektro-uin suska riau. Mochamad Wahyudi. mengenel teknologi fiber optik.