Anda di halaman 1dari 13

Pengobatan Bronkiolitis Virus Akut

Ernst Eber
Respiratory and Allergic Disease Division, Pediatric Department, Medical University of Graz, Austria Abstrak: Bronkiolitis virus akut merupakan infeksi saluran pernapasan bawah yang paling umum pada bayi dan anak-anak dan berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas yang substansial. Respiratory Syncytial Virus (RSV) adalah virus yang paling sering menyebabkan bronkiolitis akut, tetapi banyak virus lain yang juga dapat menyebabkan bronkiolitis akut. Tidak ada definisi umum dari bronchiolitis virus akut yang digunakan secara internasional. Kebanyakan anak-anak dengan bronkiolitis memiliki pertahanan diri terhadap penyakit ringan dan dapat dengan aman dikelola di rumah dengan memperhatikan secara seksama makanan dan status pernapasan. Kriteria untuk rujukan dan perawatan bervariasi antara rumah sakit seperti halnya praktek klinik dalam pengelolaan bronkiolitis virus akut, dan belum ada kesepakatan dan kurangnya bukti atas pengobatan terbaik untuk kondisi ini. Terapi suportif, termasuk pemberian oksigen dan cairan, adalah dasar dari pengobatan saat ini. Sebagian besar bayi dan anak dengan bronkiolitis tidak memerlukan tindakan khusus. Bronkodilator tidak harus secara rutin digunakan dalam pengelolaan bronkiolitis virus akut, tetapi mungkin efektif pada beberapa pasien. Sebagian besar manajemen yang umum digunakan belum terbukti memiliki efek yang menguntungkan pada perjalanan penyakit. Misalnya, kortikosteroid inhalasi dan sistemik, antagonis reseptor leukotrien, imunoglobulin dan antibodi monoklonal, antibiotik, terapi antivirus, dan fisioterapi dada tidak boleh digunakan secara rutin dalam pengelolaan bronchiolitis. Pengaruh efek garam hipertonik garam pada perjalanan penyakit akut cukup menjanjikan, tetapi diperlukan studi lebih lanjut. Pada anak-anak sakit kritis dengan bronchiolitis, saat ini dapat menggunakan surfaktan dan Heliox. Oksigen nasal tekanan positif terus menerus mungkin bermanfaat pada anak dengan bronkiolitis berat tetapi percobaan besar diperlukan untuk menentukan nilainya. Akhirnya, sangat sedikit yang diketahui tentang pengaruh berbagai intervensi pada pengembangan mengi pasca bronchiolitic.

PENDAHULUAN Definisi klinis dari bronkiolitis virus akut bervariasi antar negara. Sementara

di banyak negara termasuk Amerika Serikat, mengi merupakan dasar untuk diagnosis, di Perbedaan-perbedaan dalam hasil penelitian; memungkinkan perbandingan belahan dunia. Bronkiolitis virus akut adalah infeksi saluran napas bawah yang paling sering terjadi pada bayi dan anak kecil. Meskipun hanya 2-3% dari semua anak dengan bronkiolitis perlu rawat inap, penyakit ini adalah penyebab utama rawat inap bayi di Amerika Serikat dan telah dikaitkan dengan besar morbiditas di rawat inap dan rawat jalan. Respiratory syncytial virus (RSV) adalah virus yang paling sering teridentifikasi, tetapi banyak virus pernapasan lain seperti virus parainfluenza, virus influenza, rhinovirus dengan bronkiolitis virus dan virus metapneumo manusia akut; lebih telah dikaitkan anaklanjut, definisi jelas, antara dapat studi yang Inggris, menjelaskan variasi dalam keseragaman diperlukan untuk dilakukan di berbagai Australia dan Selandia Baru mengi tidak harus menjadi kriteria diagnostik.

anak dengan bronkiolitis sering terinfeksi dengan lebih dari satu virus, paling sering dengan RSV dan virus metapneumo manusia atau rhinovirus. Sementara hubungan antara bronkiolitis virus akut dan mengi berulang ("mengi pasca-bronchiolitic") secara konsisten telah ditunjukkan dalam studi klinis, tidak ada penjelasan mengenai hubungan ini kedua hal ini. PENGOBATAN Kebanyakan anak-anak dengan bronkiolitis memiliki pertahanan diri terhadap penyakit ringan dan dapat dengan aman dikelola di rumah dengan memperhatikan secara seksama makanan dan status pernapasan. Pengelolaan terutama terdiri dari perawatan suportif yang baik, dan kebanyakan rujukan dan bayi tidak memerlukan tindakan dengan bronkiolitis di tahap penyakit, yang khusus. Kriteria untuk rumah adanya sakit faktor perawatan dapat pasien,

bervariasi antara rumah sakit. Secara umum, keputusan untuk merawat bayi didasarkan pada usia risiko, derajat gangguan pernapasan,

kemampuan untuk menerima cairan oral, dan keadaan sosial dan lokal. Praktek klinis dalam pengelolaan bronchiolitis akut sangat bervariasi bahkan antara pusat dalam satu negara, dan ada banyak kontroversi, kebingungan, dan kurangnya bukti atas pengobatan terbaik, kondisi yang mengancam jiwa. Suplementasi oksigen Pengobatan bayi yang pemberian oksigen untuk hemoglobin untuk dirawat di rumah sakit sangat sering mencakup mempertahankan saturasi hemoglobin masuk, selama perawatan

> 92%. Bagaimanapun, tidak ada bukti yang menjadi dasar batasan nilai saturasi atau untuk keluar dari gawat darurat atau rumah sakit. Walaupun efek dari pemberian oksigen pada pemulihan dari bronkiolitis tidak diketahui, suplementasi oksigen adalah penentu utama dari lama rawat inap untuk bayi dan dengan bronkiolitis virus penggunaan sumber akut. Dengan perawatan demikian, kesehatan penggunaan yang lebih oksimetri nadi mungkin telah berkontribusi terhadap rawat inap yang lebih lama daya besar. Dalam pedoman praktek klinis terbaru dari American Academy of Pediatrics (AAP) pilihan berikut (pilihan mendefinisikan program studi yang dapat diambil ketika satu sama lain) yaitu: Pemberian menerus di oksigen bawah tambahan diindikasikan jika 90% pada bayi yang oksigen yang saturasi hemoglobin terussehat. Dalam hal memadai harus sebelumnya baik kualitas bukti adalah tersangka atau studi dilakukan dengan hati-hati telah menunjukkan keuntungan yang jelas antara

ini, pemberian

digunakan untuk mempertahankan saturasi hemoglobin pada atau diatas 90%. Oksigen dapat dihentikan jika saturasi hemoglobin adalah di atau diatas 90% dan bayi menyusu dengan baik dan memiliki gangguan pernapasan minimal. Jika perjalanan klinis anak membaik pengukuran saturasi hemoglobin tidak dibutuhkan secara rutin.

Nasogastrik Vs. Cairan intravena Sangat disarankan bahwa dokter harus menilai hidrasi dan kemampuan untuk menerima cairan secara oral. Makanan kecil yang teratur sering digunakan tetapi nasogastrik atau dengan Randomized cairan intravena trial mungkin diperlukan untuk penelitian manajemen bahwa dalam prakteknya terbagi mempertahankan hidrasi. Namun strategi penggantian cairan belum divalidasi controlled (RCT). Sebuah terbaru membandingkan Baru menyimpulkan

bronchiolitis virus akut antara pusat-pusat yang berbeda di Australia dan Selandia antara hidrasi nasogastrik dan intravena, mencerminkan kurangnya bukti. Bronkodilator (Beta 2 Agonist, Epinefrin) Penyempitan otot polos saluran napas sampai terjadinya obstruksi jalan napas dalam banyak kasus disebabkan oleh penumpukan lendir, debris selular dan edema mukosa, dalam hal ini rasionalisasi pengobatan terutama dengan beta2 agonis lemah merangsang adrenoreseptor alfa juga mukosa saluran napas, dan dengan .Epinefrin dengan menyebabkan vasokonstriksi di demikian mungkin

mengakibatkan penurunan edema mukosa. Inhalasi bronkodilator banyak digunakan dalam pengobatan bayi dengan bronchiolitis virus akut; di bagian gawat darurat, terutama nebulasi epinefrin sering digunakan. Banyak uji klinis dan pengobatan ulasan sistematis literaturmeneliti bronchiolitis. Sebuah meta-analisis peran bronkodilator dalam dari RCT membandingkan dalam

bronkodilator (selain epinefrin) pengobatan bronkiolitis yang

dengan plasebo

melibatkan bayi 1428 menyimpulkan

bahwa bronkodilator menghasilkan perbaikan jangka pendek dalam skor klinis tetapi tidak ada perbaikan signifikan dalam oksigenasi keseluruhan atau dalam tingkat masuk rumah sakit. Jelas, hasil penelitian yang menggunakan berbagai terapi dan ukuran hasil sulit untuk membandingkan, dan mengumpulkan hasil heterogen dari sejumlah studi dapat menghasilkan perbedaan yang signifikan secara klinis penting dipertanyakan.

Selain

itu, studi

yang melibatkan

bayi

dengan mengi berulang mungkin

menyebabkan hasil yang bias dalam penggunaan bronkodilator. Demikian pula, baik RCT maupun tinjauan Cochrane menyimpulkan bahwa terdapat kurangnya bukti yang mendukung penggunaan epinefrin pada pasien ada beberapa rawat inap bukti dengan bronchiolitis, namun

untuk menyarankan epinefrin yang mungkin menguntungkan untuksalbutamol atau plasebo di antara pasien rawat jalan, meskipun angka masuk rumah sakit tidak Dengan bronkodilator tidak jauh berbeda. memiliki efek

yang terbukti padaperjalanan bronkiolitis virus akut, saat ini direkomendasikan bahwa bronkodilator tidak harus secara rutin digunakan dalam manajemen penyakit ini. Percobaan nebulasi alfa-adrenergik atau beta-adrenergik pada seorang individu yang dimonitor dengan hati-hati dapat dibenarkan, tetapi inhalasi bronkodilator harus dihentikan kecuali efek positif yang jelas telah didokumentasikan. Epinefrin mungkin merupakan obat pilihan untuk penelitian. Inhaled Corticosteroid (ICS) Dalam tiga penelitian, tidak ada pengaruh ICS pada klinis atau lama rawat inap. ICS juga telah digunakan untuk mencegah mengi pasca bronkiolitis. Sebuah tinjauan sistematis terbaru dari 5 penelitian yang melibatkan 374 bayi tidak menunjukkan efek ICS yang diberikan selama fase akut bronchiolitis dalam pencegahan berulang mengi berulang pasca bronchiolitis. Namun, sedikitnya jumlah sampel dan ketidakmampuan untuk mengumpulkan semua hasil klinis menghalangi para penulis untuk membuat rekomendasi yang kuat. Baru-baru ini, RCT pada 243 bayi dengan RSV terkait infeksi saluran pernapasan bawah tidak menemukan pengaruh awal dimulai, dosis kortikosteroid pada mengi berulang. para boleh dianjurkan. tinggi berkepanjangan penulis inhalasi menyimpulkan

bahwa penggunaan umum kortikosteroid inhalasi selama RSV bronkiolitis tidak

Kortikosteroid sistemik (oral, intramuskular, intravena) Sebuah meta-analisis dilakukan pada 13 RCT yang melibatkan 1198 pasien (dikelola sebagai pasien rawat jalan atau rawat inap) tidak menemukan efek positif dari kortikosteroid sistemik pada nilai klinis,angka masuk rumah sakit, lama rawat inap atau rawat inap ulang. Baru-baru ini, sebuah RCT pada bayi yang sebelumnya sehat lalu dirawat di rumah sakit karena bronkiolitis akut (n = 174) menunjukkan manfaat sederhana dari suntikan intramuskular tunggal deksametason pada hasil klinis, termasuk lama rawat inap. Sebaliknya, RCT yang lebih besar tidak menunjukkan efek dosis tunggal deksametason oral dalam 600 bayi yang mengalami bronchiolitis sedang hingga berat di instalasi gawat darurat. Demikian pula untuk ICS, penggunaan prednisolon oral selama fase akut bronkiolitis RSV tidak efektif dalam yang mencegah mengi tersedia, rekomendasi boleh terlepas akut, pasca bronchiolitic atau saat ini rutin adalah dalam atau dosis asma. Berdasarkan data

bahwa kortikosteroid sistemik tidak pengelolaan bronkiolitis virus pemakaian.

digunakan secara

dari modus aplikasi

Kombinasi epinefrin dan dexamethasone Baru-baru ini, uji klinis acak yang melibatkan 800 bayi dengan bronkiolitis virus akut yang sering dijumpai di unit gawat darurat diperiksa untuk menilai efek inhalasi epinephrine, deksamethasone oral, dan kombinasi keduanya, dengan hasil akhir perawatan di rumah sakit selama tujuh hari [24]. Pada analisis yang tetap, hanya bayi pada kelompok epinfrin-deksametason yang secara signifikan lebih jarang di rawat selama 7 hari. Setelah penyesuaian untuk perbandingan yang berbeda, akan tetapi, perbedaan tidak memiliki nilai statistic yang bermakna. Setelah di pastikan dengan penelitian yang lebih memadai, efek sedang yang disarankan (11 bayi yang diobati untuk mencegah perawatan di rumah sakit) dikarenakan frekuensi penyakit mewakili pentingnya penurunan jumlah perawatan di rumah sakit. Saat ini, akan tetapi, kombinasi pengobatan belum direkomendasikan

Antagonis reseptor leukotrien Leukotrine cysteinyl secara signifikan meningkatkan skresi pernafasan dari bayi dengan bronkiolitis viral akut dan menetap saat pemantauan jangka pendek, menyarankan kemungkinan peran substansi ini dalam pathogenesis penyakit [25]. Uji klinik teracak yang membandingkan montelukast, suatu antagonis reseptor leukrotriek spesifik cysteinyl , dengan placebo pada bayi dengan serangan awal bronkiolitis, pengobatan diberikan mulai dari awal masuk rumah sakit hingga keluar. Montelukas tidak memperbaiki lama tinggal, skor keparahan klinis atau kadar cytokine pada cairan hidung [26]. Uji klinis acak lain, suatu penelitian terpandu, pada 130 bayi yang dirawat dengan bronkiolitis akut menunjukkan pemberian montelukast selama 4 minggu menurunkan gejala selanjutnya dari bronkiolitis [27]. Berikutnya, penelitian yang lebih besar terhadap bayi yang dirawat saat serangan pertama dan kedua dari bronkiolitis (n=979) diobati dengan montelukast selama 24 minggu; pada penelitian ini, montelukast tidak memperbaiki gejala pernafasan setelah bronkilitis [28]. Sama halnya, suatu uji klinis acak kecil baru-baru ini menemukan pengobatan dengan montelukast selama tiga bulan setelah perawatan rumah sakit untuk bronkiolitis tidak menurunkan gejala saluran pernafasan selama masa pengobatan dan selama masa 9-bulan pemantauan [29]. Hal ini menunjukkan bahwa montelukast tidak boleh diberikan pada bronkiolitis virus akut [3]. Antibody imunuglobulin dan monoclonal Tinjauan Cochrane terbaru membahas mengenai penggunaan immunoglobulin dalam pengobatan infeksi RSV dibandingkan peranannya sebagai alat profilaksis dalam empat uji klinis akan yang tidak menunjukkan manfaat bermakna [30] Palivizumab, suatu antibody monoclonal IgG1 humanis spesifik terhadap penyatuan protein RSV menunjukkan efikasi dalam mencegah penyakit RSV serius pada pasien dengan resiko tinggi [31]. Suatu uji klinis acak fase I/II yang dilakukan dengan palivizumab pada anak-anak yang sebelumnya sehat yang dirawat dengan infeksi RSV akut [32]. Pada penelitian ini, menunjukkan tidak ada

perubahan berarti pada hasil akhir klinis, .., efikasi palivizumab dalam pengoabtan infeksi RSV masih belum jelas. Rekomendasi terbaru adalah baik immunoglobulin ataupun antibody monoclonal RSV sebaiknya digunakan pada bronkiolitis viral akut [3]. Antibiotic Bakterimia jarang dijumpai pada anak dengan infeksi RSV, kecuali bila terkena infeksi RSV nosokomial, penyakit jantung bawaan sianotik, atau membutuhkan perawatan intensive care unit [33]. Beberapa uji klinis acak mempelajari efek antibiotic pada bronkiolitis viral akut. Pada penelitian lama yang meneliti efek ampisilin saat terjangiknta bronkiolitis melaporkan tidak ada efek postif pada saat sakit [34]. Ini adalah satu-satunya uji klinis yang memenuhi criteria inklusi tinjauan sistematik pada penggunaan antibiotic pada anak dengan bronkiolitis [35]. Tidak mengherankan, tinjauan ini menemukan tidak ada bukti yang mendukung penggunaan antibiotic. Baru-baru ini, penulis dari penelitian yang sangat kecil melaporkan clarithromycin terkait dengan penurunan signifikan durasi perawatan di rumah sakit dan perawatan kembali di rumah sakit [36]. Sebagai perbandingan, uji yang lebih besar pada batyi yang dirawat dengan bronkiolitis RSC tidak menunjukkan efek postif azithrymisin pada lama tinggal di rumah sakit dan resolusi gejala [37]. Aktifitas antiradang makrolit sebaiknya di teliti pada populasi lebih besar pada pasien rawat jalan dan rawat inap. Saat ini, direkomendasikan pembatasan penggunaan antibacterial pada anak dengan bronkiolitis yang memiliki indikasi spesifik infeksi bacterial [1,3] Terapi antivirus Ribavirin adalah agen antiviral spectrum luas yang disetujui untuk pengobatan infeksi RSC, dan satu-satunya obat antivirus yang telah diteliti pada anak-anak dengan bronkiolitis viral akut. Penggunaannya, akan tetapi, masih controversial karena efikasi, keamanan pengggunaan dan tingginya harga masih dipertanyakan. Beberapa penelitian, kurangnya kemampuan adekuat untuk menyediakan efek pasti, tampak pada ribavirin; hal ini telah sering diteliti [38]. Ribavirin bisa

mengurangi durasi ventilasi mekanik dan hari perawatan, dan dapat menurunkan insidens wheezing berulang saat bronkiolitis; akan tetapi, tidak adanya uji klinis acak besar, efek ribavirin masih belum terbukti. Karena itu, ribavirin saat ini sebaiknya tidak digunakan secara rutin pada anak dengan bronkiolitis virus akut [1,3]. Hipertonik saline Edema saluran nafas dan sumbatan mucus adalah karakteristik patologis pada bronkiolitis virus akut. Hipertonik saline menurunkan edema saluran nafas, meningkatkan banyaknya rheologic mucus dan bersihan mukosiliar, dan akhirnya, penurunan obstruksi saluran nafas [39]. Hingga 2007, empat uji klinis acak pada penggunaan cairan hipertonik saline teraerosol 3% pada anak dengan bronkiolitis viral akut diterbitkan [40-43]. Satu penelitian merukan uji klinis multi-center [43], tiga yang lainnya di laksanakan oleh kelompok peneliti yang sama [40-42]. Pasien rawat jalan diambil dari satu uji [40] dan pasien rawat inap pada tiga uji lainnya [41-43]. Bronkodilator diberikan pada penelitian mengenai cairan pada tiga penelitian [40-42]; pada penelitian multi-senter, bronkodilator diberikan sebagai pengobatan utama oleh dokter spesialis [43]. Tinjauan sistematik terbaru yang melibatkan empat uji klinis ini, melibatkan 254 bayi dnegan bronkiolitis viral akut (189 pasien rawat inap dan 65 pasien rawat jalan), menyimpulan nebulised 3% saline secara signifikan menurunkan durasi lama rawat di rumah sakit dan memperbaiki tingkat keparahan [44]. Baru-baru ini, uji klinis acak lain yang meneliti penggunaan cairan hipertonik pada department gawat darurat dan penulis menyarankan manfaat klinis langsung yan tidak tampak pada cairan hipertonik nebulised [45]. Dalam penelitian ini, ada kecenderungan mengalami penurunan tingkat rawat inap dengan penggunaan salin hipertonik, tetapi penelitian itu kurang didukung untuk parameter hasil. Baru-baru ini, sebuah RCT menemukan normal saline dengan volume tinggi untuk menjadi se-efektif garam 3% pada anak dengan bronkiolitis yang sangat ringan di gawat darurat, menunjukkan bahwa peningkatan

pembersihan lendir bukan merupakan fungsi dari konsentrasi garam melainkan dari total massa dari NaCl yang ditambahkan ke permukaan saluran napas [39, 46]. Meskipun ada kekurangan bukti yang kuat untuk mendukung penggunaan rutin dari larutan garam hipertonik aerosol pada anak dengan bronchiolitis virus akut , kurangnya efek samping dan biaya yang terbatas pada perawatan, layak dipertimbangkan untuk RCT skala besar. Rekomendasi sekarang ini adalah bahwa hipertonik garam mungkin sebaiknya digunakan dalam pengobatan bronkiolitis virus akut [3]. Furosemide Furosemide yang dihirup telah dilaporkan memiliki efek positif dalam beberapa kondisi pernapasan. Furosemide hanya bekerja secara lokal dalam paru, tetapi mekanisme pastinya masih belum jelas. Dalam RCT skala kecil, keamanan dan efek samping jangka pendek dan jangka panjang dari furosemide yang dihirup telah dievaluasi pada kesehatan anak-anak dengan bronchiolitis virus akut [47]. Sementara furosemide dihirup muncul untuk menjadi layak dan aman, penelitian percobaan tidak menunjukkan klinis yang bermakna efek pada bayi di rumah sakit dengan bronkiolitis virus akut. Surfaktan Bukti klinis dan laboratorium menunjukkan bahwa bronkiolitis virus berat dapat mengakibatkan insufisiensi surfaktan sekunder [48], dengan demikian, surfaktan eksogen merupakan potensi terapi yang menjanjikan. Efektivitas dari surfaktan eksogen untuk pengobatan bronkiolitis virus akut secara mekanis berventilasi pada bayi dan anak-anak sudah diperiksa dalam meta-analisis, termasuk tiga percobaan dengan total 79 pasien [49]. Penggunaan surfaktan telah dikaitkan dengan penurunan yang tidak signifikan pada durasi ventilasi mekanik selama 2,6 hari dan penurunan yang signifikan batas perawatan di ICU sebesar 3,3 hari. Singkatnya, data yang tersedia saat ini mengenai surfaktan tidak cukup untuk memberikan perkiraan yang dapat diandalkan dampaknya pada anak yang sakit kritis dengan bronkiolitis.

Heliox Bronkiolitis virus akut ditandai oleh obstruksi jalan napas, yang mengakibatkan turbulensi aliran gas. Heliox, campuran oksigen dan gas helium inert, dapat meningkatkan aliran gas melalui resistensi tinggi saluran udara dan dengan demikian mengurangi pekerjaan pernapasan. Dalam meta-analisis yang tebaru, empat percobaan yang melibatkan 84 bayi dengan bronkiolitis RSV yang memerlukan perawatan dalam unit rawat inap intensif anak [50]. Para penulis dari kajian ini menyimpulkan bahwa terapi Heliox, sebagai tambahan untuk perawatan medis standar untuk bronkiolitis virus akut secara signifikan dapat mengurangi gangguan pernapasan dalam jam pertama setelah memulai pengobatan. Namun, tidak ada penurunan dalam tingkat intubasi, dalam kebutuhan untuk ventilasi mekanis, atau lama perawatan di unit perawatan intensif anak. Saat ini, tempat untuk Heliox dalam jadwal terapi untuk bronchiolitis yang berat tidak jelas. Nasal Continuous Positive Airway Pressure Satu RCT dengan desain cross-over membandingkan Nasal positive airway pressure (CPAP) dengan standar pengobatan yang terdiri dari cairan infus dan tambahan oksigen oleh Prongs hidung atau masker wajah pada bayi dengan bronkiolitis dan hiperkapnia [51]. Ketika Nasal CPAP digunakan pertama kali, penurunan tekanan parsial karbon dioksida di darah arteri secara signifikan lebih besar daripada ketika CPAP digunakan kedua kalinya. Nasal CPAP dapat ditoleransi dengan baik tanpa komplikasi. Sebuah percobaan besar diperlukan untuk menyelidiki apakah Nasal CPAP dapat mengurangi kebutuhan untuk ventilasi invasif.

Fisioterapi dada Tujuan utama dari fisioterapi dada pada penyakit pernapasan anak adalah untuk mengurangi resistensi jalan napas dan juga kerja pernapasan, dan untuk meningkatkan pertukaran gas dengan membantu dalam pembersihan sekresi pernafasan yang berlebihan. Sebuah tinjauan sistematis dilakukan untuk

menentukan efektivitas dan keselamatan fisioterapi dada pada bayi dengan bronkiolitis akut termasuk tiga RCT [52]. Tiga studi yang digunakan mempelajari getaran dan teknik perkusi pada anak di posisi drainase postural dibandingkan dengan yang tidak diintervensi. para penulis menyimpulkan bahwa dengan teknik yang diterapkan, fisioterapi dada tidak mengurangi lama tinggal rumah sakit atau kebutuhan oksigen, atau meningkatkan nilai keparahan klinis pada bayi dengan bronkiolitis virus akut. Rekomendasi saat ini adalah bahwa fisioterapi dada tidak boleh digunakan secara rutin dalam anak-anak dengan bronkiolitis virus akut [1, 3]. KESIMPULAN Pada tahun 1963, Reynolds dan Cook menyatakan bahwa "... oksigen sangat penting dalam bronkiolitis dan ada sedikit bukti meyakinkan bahwa terapi lainnya secara konsisten kadang-kadang berguna ... "[53]. Sekarang, hampir lima puluh tahun kemudian, perawatan pendukung termasuk pemberian oksigen dan cairan masih merupakan hal terpenting dalam pengobatan bronkiolitis virus akut, dan tidak ada intervensi yang terbukti bermanfaat pada perjalanan penyakit atau perkembangan bersin postbronchiolitic. Bronkodilator mungkin efektif dalam beberapa pasien dan dengan demikian dapat digunakan sebagai dasar uji trial-and-error. Bukti awal menunjukkan peran potensial untuk salin hipertonik yang dinebulis, dan penggunaan Nasal CPAP pada bayi dan anak dengan penyakit berat tampaknya bermanfaat. Beberapa perawatan dan kombinasi terapi lainnya harus dipelajari lebih lanjut dan RCT yang lebih besar. BENTURAN KEPENTINGAN Dalam tiga tahun terakhir Ernst Eber telah menerima biaya perjalanan yang tinggi untuk menghadiri konferensi ilmiah dan / atau biaya pembicara dari Abbott, AstraZeneca, GlaxoSmithKline, Merck Sharp dan Dohme, dan Nycomed. UCAPAN TERIMA KASIH

Saya bersyukur atas bantuan dari Stefan Kurath dengan penelitian literatur.