Anda di halaman 1dari 13

TEORI MARXISME DAN APLIKASINYA DALAM KAJIAN SASTRA

A. PENDAHULUAN Marxisme atau komunisme lahir dari konteks masyarakat industri Eropa. Revolusi industry di Eropa pada abad-19, menciptakan kesenjangan sosial di masyarakat. Kesenjangan ini terjadi antara kaum borjuis (pemilik modal ) dengan kaum proletat, kaum petani miskin dengan para tuan tanah, warload dan kapitalis (negara Cina). Kondisi-kondisi dan kemungkinan-kemungkinan teknis sudah berkembang dan merubah proses produksi industrial, tetapi struktur organisasi proses produksi dan struktur masyarakat masih bertahan pada tingkat lama yang ditentukan oleh kepentingan-kepentingan kelas atas. Jadi, banyak orang yang dibutuhkan untuk bekerja, tetapi hanya sedikit yang mengemudikan proses produksi dan mendapat keuntungan. Karena maksud kerja manusia yang sebenarnya adalah menguasai alam sendiri dan merealisasikan cita-cita dirinya sendiri, sehingga terjadi keterasingan manusia dari harkatnya dan dari buah atau hasil kerjanya. Melihat keadaan seperti itu, membuat beberapa tokoh seperti Karl Marx dan Jurgen Habermas (neo-marxisme) melakukan kritik melalui pemikiran untuk merubah keadaan tersebut. Di bawah ini akan dibahas tentang tokoh marxis dan konsep pemikirannya serta aplikasi dalam kajian sastra. B. TOKOH-TOKOH MARXISME 1. KARL HEINRICH MARX Karl Marx lahir 5 Mei 1818 dalam keluarga Yahudi progresif di Trier, Prusia (sekarang di Jerman). Ayahnya bernama Herschel. Keluarga Marx amat liberal dan rumah Marx sering dikunjungi oleh cendekiawan dan artis masa-masa awal Karl. Marx menjalani sekolah di rumah sampai ia berumur 13 tahun. Setelah lulus dari Gymnasium Trier, Marx melanjutkan pendidikannya di Universitas Bonn jurusan hukum pada tahun 1835. Marx tertarik untuk belajar kesustraan dan
1

filosofi, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena ia tak percaya bahwa anaknya akan berhasil memotivasi dirinya sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana. Pada tahun berikutnya, ayahnya memaksa Karl Marx untuk pindah ke universitas yang lebih baik, yaitu Friedrich-Wilhelms-Universitt di Berlin. Pada saat itulah ia mengenal filsafat atheis yang dianut kelompok Hegelian-kiri. Marx mendapat gelar Doktor pada tahun 1841 dengan tesis nya yang berjudul The Difference Between the Democritean and Epicurean Philosophy of Nature namun, ia harus menyerahkan disertasinya ke Universitas Jena karena Marx menyadari bahwa status nya sebagai Young Hegelian radikal akan diterima dengan kesan buruk di Berlin. Marx terkenal karena analisis nya di bidang sejarah yang dikemukakannya di kalimat pembuka pada buku Communist Manifesto (1848) : Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas. Marx percaya bahwa kapitalisme yang ada akan digantikan dengan komunisme, masyarakat tanpa kelas setelah beberapa periode dari sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai revolusi keditaktoran proletariat (kaum paling bawah di negara Romawi). Marx merupakan kaum terpelajar dan politikus. Ia memperdebatkan bahwa analisis tentang kapitalisme miliknya membuktikan bahwa kontradiksi dari kapitalisme akan berakhir dan memberikan jalan untuk komunisme. Di lain tangan, Marx menulis bahwa kapitalisme akan berakhir karena aksi yang terorganisasi dari kelas kerja internasional. Dalam hidupnya, Marx terkenal sebagai orang yang sukar dimengerti, ide-ide nya mulai menunjukkan pengaruh yang besar dalam perkembangan pekerja segera setelah ia meninggal. 2. MAO ZEDONG (CINA) Lahir di sebuah keluarga petani miskin, sejak kecil Mao harus bekerja keras dan hidup prihatin. Meskipun di kemudian hari keadaan ekonomi keluarganya meningkat, tetapi kesengsaraan di masa kecil itu banyak
2

mempengaruhi kehidupannya kelak. Ketika kecil, Mao dikirim untuk belajar di sekolah dasar. Pendidikannya sewaktu kecil juga mencakup ajaran-ajaran klasik Konfusianisme. Pada tahun 1905, ia mengikuti ujian negara yang pada saat itu mulai menghapus paham-paham konfusianisme lama; digantikan oleh pendidikan gaya Barat. Hal ini menandakan permulaan ketidakpastian intelektual di Cina. Pada tahun 1911, Mao terlibat dalam Revolusi Xinhai yang merupakan revolusi melawan Dinasti Qing yang berakibat kepada runtuhnya kekaisaran Cina yang sudah berkuasa lebih 2000 tahun sejak tahun 221 SM. Pada tahun 1918 ia lulus dan lalu kuliah di Universitas Beijing. Di sana ia akan berjumpa dengan para pendiri PKT yang berhaluan Marxis. Mao mendirikan partai pada tahun 1921 dan Mao semakin hari semakin vokal. Antara tahun 1934 1935 ia memegang peran utama dan memimpin Tentara Merah Cina menjalani Mars Panjang. Lalu semenjak tahun 1937 ia ikut menolong memerangi Tentara Dai Nippon yang menduduki banyak wilayah Cina. Dalam perang yang melawan pada tahun 1949. Pada tanggal 1 Oktober tahun 1949, Republik Rakyat Cina kaum nasionalis , Mao menjadi pemimpin kaum Merah dan akhirnya ia memenangkan

diproklamasikan dan pemimpin Cina nasionalis; Chiang Kai Shek melarikan diri ke Taiwan. Dalam PKT Mao sendiri sejak tahun 1943 adalah ketua sekretariat partai dan Politbiro tetapi sebenarnya ia mengontrol seluruh partai sampai ia mati pada tahun 1976. Kepemimpinan mungkin tidak kejam secara vulgar seperti Stalin tetapi kekerasan kebijakannya dan kelakuannya yang semau dirinya sendiri membawa rakyat Cina terpuruk ke dalam kehancuran dan kesengsaraan yang luar biasa. 3. ERICH SELIGMAN FROMM Erich Fromm lahir pada tanggal 23 Maret 1900, di Frankfurt am Main. Erich adalah seorang terkenal internasional psikolog sosial, psiokoanalis, humanistic filsuf, dan demokrasi sosialis. Ia memulai studi akademis pada tahun
3

1918 di University of Frankfurt am Main dengan dua semester dari yurispredensi. Pada tahun 1919 musim panas, Fromm belajar di Universitas Heidelberg, di mana Ia beralih dari yurispudensi untuk belajar sosiologi di bawah pimpinan Alfred Weber ( adik Max Weber), dan Heinrich Rickert Fromm mendapatkan gelar Ph D dalam sosiologi dari Heidelberg pada tahun 1922. Pada tahun 1930, Ia bergabung dengan Frankfurt institut penelitian sosial dan menyelesaikan pelatihan psikoanalitis. Pada tahun 1934, Fromm pindah ke Janewa, kemudian ke Universitas Columbia di New York. Pada tahun 1943 Dia meninggalkan Columbia, Fromm membantu membentuk cabang New York dari Washington School of Psychiatry, dan pada tahun 1946 bersama-sama mendirikan Alanso William White Institut of Psychiatry, Psikoanalisis, dan Psikologi. Pada tahun 1950-an Fromm pindah ke Meksiko, di Meksiko Dia menjadi professor di Universitas Otonom Nasional Meksiko dan membentuk bagian Psikoanalitik di sekolah kedokteran. Ia mengajar di UNAM hingga pension pada tahun 1965. Pada tahun 1974 Ia pindah ke Muralto ( Lcarno ), Swiss, dan meninggal di rumahnya pada tahun 1980. Lima hari sebelum Ia meninggal, Fromm mempertahankan praktik klinis sendiri dan menerbitkan serangkaian buku. Fromm percaya bahwa kebebasan adalah salah satu aspek sifat manusia bahwa kita dapat menerima atau kebebasan kita akan melarikan diri. Dia juga mengamati menganut sehat, sedangkan kebebasan melarikan diri melalui

penggunaan mekanisme, melarikan diri adalah akar dari konflik psikologis. Melarikan diri ada tiga mekanisme yang di uraikan Fromm adalah robot kesesuaian, otoritarianisme, dan merusak, robot sesuai dengan merubah diri ideal seseorang untuk apa yang dianggap sebagai jenis yang disukai masyarakat kepribadian, kehilangan seseorang yang sejati. Penggunaan sesuai memindahkan beban pilihan dari diri sendiri kepada masyarakat. Otoriterisme adalah membiarkan diri dikendalikan oleh orang lain. Hal ini menghilangkan kebebasan memilih hampir seluruhnya dengan mengirim kebebasan kepada orang lain. Terakhir, destruktif adalah setiap proses yang mencoba untuk menghilangkan orang lain atau dunia secara keseluruhan untuk menghindari kebebasan. Fromm

mengatakan bahwa kehancuran dunia adalah yang terakhir hampir putus asa mencoba menyelamatkan diri agar tidak hancur oleh itu ( 1941 ). C. KONSEP-KONSEP PEMIKIRAN 1. KARL HEINRICH MARX Pemikiran Marx tentang ide-ide sosialis, perjuangan masyarakat kelas bawah, terutama disebabkan karena ia lahir di tengah pertumbuhan industri yang berbasis kapitalis. Perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan buruh dengan jam kerja yang sangat panjang setiap hari , yang sifatnya paten dan dengan upah yang sangat minim. Upah yang sangat minim yang diperoleh para buruh, bahkan hanya cukup membiayai makan sehari. Marx melihat kelas sosial yang tercipta berdasarkan hubungan kerja yang terbangun antara para pemilik modal dan buruh sangat bertentangan dengan prinsip keadilan. Kelas sosial paling bawah yang terdiri atas kelompok buruh dan budak, sering diistilahkan dengan kaum ploretar. Adanya kelas sosial yang menciptakan hubungan yang tidak seimbang tersebut, membawanya pada pemikiran ekstrem, penghapusan kelas sosial. Konsep Marx tentang lahirnya masyarakat tanpa kelas dinilai utopis. Hal ini terutama dihadapkan pada dimensi kodrati manusia yang lahir dengan kekhasan dan keberagaman dalam segala hal, termasuk dalam tinjauan kelas-kelas sosial. Namun, preperensi tersebut justru menjadi inspirasi bagi manusia untuk memaknai hidupnya sebagai sebuah perjuangan, perjuangan untuk memperbaiki nasib, untuk hidup yang lebih baik. Permasalahan tidak berhenti pada adanya kelas sosial ansich, akan tetapi ide Marx yang humanis ingin menggugah kesadaran manusia tentang kehidupannya, tidak menyerah kepada nasib dan dogma agama sekalipun. Mengembalikan kesadaran manusia untuk memaknai hidupnya adalah inti dari pemikiran Marx. Sistem kapitalisme telah membawa alam kesadaran para buruh pada kondisi keterasingan (alienasi). Menurut Marx ada empat aspek utama yang membuat kita teralienasikan dari kerja kita di bawah kapitalisme, yakni:

1) Pertama, alienasi dari produk terlihat dari pola pekerja yang memproduksi

sebuah objek namun tidak berkuasa untuk menggunakan atau memiliki obyek tersebut.
2) Kedua, alienasi dari aktivitas produksi. Menurut Marx, pembagian kerja

kapitalis yang secara tipikal telah membawa pekerja pada degradasi keahlian (deskilling), setiap individu direduksi hanya pada satu tugas yang repetitif dan tidak perlu memakai otak, mereka tidak beda dengan mesin, diprogram untuk membuat gerakan yang sama berulang-ulang.
3) Ketiga, alienasi dari esensi-spesies. Marx berpendapat bahwa di bawah

kapitalisme, mayoritas perkerja tidak dapat menikmati ciri-ciri khas manusiawinya. Mereka berproduksi setengah hari mempertaruhkan seluruh kemampuan didorong untuk dan dari bekerja. Bagi Marx para pekerja baru merasa menjadi manusia ketika mereka tidak bekerja.
4) Keempat, bekerja dengan jam kerja yang panjang, para buruh sangat susah

memperoleh waktu untuk berinteraksi dengan orang lain, bahkan terkadang waktu untuk keluarga pun tereduksi oleh pekerjaan. Bahkan menurut Marx, kita hanya menganggap diri kita hanyalah orang yang pergi bekerja untuk mendapatkan uang, kemudian pergi ke toko dan menghabiskannya, pada titik ekstrem mengarahkan kita menjadi masyarakat konsumtif. Dialektika pemikiran Marx dalam menggugat kapitalisme, tidak hanya berhenti pada konsep kerja dan alienasi, Marx mengemukakan dua postulat yang utama. Pertama, determinisme ekonomi, yang menyatakan faktor ekonomi adalah penentu fundamental bagi struktur dan perubahan masyarakat. Kedua, menyentuh mekanisme perubahan (change), yang menurut pandangan Marx, perubahan sosial itu harus dipahami dalam arti tiga fase atau tahap yang selalu tampak. Tiga tahapan tersebut merupakan skema dialektik, yang idenya dipinjam dari seorang filsuf Jerman, George Hegel (1770-1831). (1) tesis (affirmation); (2) antitesis (negation), dan (3) sintesis (reconciliation of oppsites)

Ketimpangan hubungan ekonomi (determinisme ekonomi) bagi Marx telah menjadi faktor penting dalam menata sturktur dan perubahan masyarakat. Tambahan mengenai mekanisme perubahan meliputi tiga fase (tesis, antitesis, dan sintesis) yang ia kutip dari Hegel, semakin menguatkan gagasannya mewujudkan masyarakat tanpa kelas, sebagai sebuah sintesis antara sistem feodal dan kapitalisme. Visi Marx untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas merupakan gambaran praksis dari ide dasar materialisme sosialisnya. Sistem feodal yang tergantikan oleh sistem kapitalis telah membawa perubahan dalam struktur ekonomi dan sosial. Marx yakin suatu saat, kapitalisme akan masyarakat tanpa kelas. 2. MAO ZEDONG Mao banyak berpikir tentang materialisme dialektik yang menjadi dasar sosialisme dan penerapan gagasan-gagasan ini dalam praktek. Konsep falsafat Mao yang terpenting adalah konflik. Menurutnya: Konflik bersifat semesta dan absolute. Hal ini ada dalam proses perkembangan semua barang dan merasuki semua proses dari mula sampai akhir. Mao jadi berpendapat bahwa semua konflik bersifat semesta dan absolut, jadi dengan kata lain bersifat abadi. Konsep konflik Mao ini ada kemiripannya dengan konsep falsafi yin-yang. Semuanya terdengar seperti sebuah dogma kepercayaan. Di bawah ini disajikan sebuah cuplikan tentang pemikirannya tentang konflik. Konsep Mao kedua yang penting adalah konsepnya mengenai pengetahuan yang juga ia ambil dari paham Marxisme. Mao berpendapat bahwa pengetahuan merupakan lanjutan dari pengalaman di alam fisik dan bahwa pengalaman itu sama dengan keterlibatan. Mao membedakan dua jenis konflik;
1) Konflik antagonis

menemui

kehancuran dan melahirkan sintesis, komunis sebagai ideologi kekuatan baru,

Konflik antagonis menurutnya hanya bisa dipecahkan dengan sebuah pertempuran saja. Menurut Mao konflik antara para buruh dan pekerja dengan kaum kapitalis adalah sebuah konflik antagonis 2) Konflik non-antagonis Konflik non-antagonis bisa dipecahkan dengan sebuah diskusi. sedangkan konflik antara rakyat Cina dengan Partai adalah sebuah konflik nonantagonis. 3. ERICH SELIGMAN FROMM Fromm percaya bahwa kebebasan adalah salah satu aspek sifat manusia bahwa kita dapat menerima atau melarikan diri. Dia juga mengamati menganut kebebasan kita akan sehat, sedangkan kebebasan melarikan diri melalui penggunaan mekanisme, melarikan diri adalah akar dari konflik psikologis. Melarikan diri ada tiga mekanisme yang diuraikan Fromm adalah; 1) Robot kesesuaian Robot sesuai dengan merubah diri ideal seseorang untuk apa yang dianggap sebagai jenis yang disukai masyarakat kepribadian, kehilangan seseorang yang sejati. Penggunaan sesuai memindahkan beban pilihan dari diri sendiri kepada masyarakat. 2) Otoritarianisme Otoriterisme adalah membiarkan diri dikendalikan oleh orang lain. Hal ini menghilangkan kebebasan memilih hampir seluruhnya dengan mengirim kebebasan kepada orang lain.
3) Merusak

Destruktif adalah setiap proses yang mencoba untuk menghilangkan orang lain atau dunia secara keseluruhan untuk menghindari kebebasan. Fromm

mengatakan bahwa kehancuran dunia adalah yang terakhir hampir putus asa mencoba menyelamatkan diri agar tidak hancur oleh itu ( 1941 )

D. CONTOH PENERAPAN MARXISME DALAM KARYA SASTRA PUISI

Di bawah ini adalah contoh penerapan marxisme dalam puisi berjudul Kau pun Tahu karya Acep Zamzam Noor

Kau pun Tahu

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta Dalam pengembaraanku Bintang-bintang yang kuburu Semua meninggalkanku Lampu-lampu sepanjang jalan Padam, semua rambu seakan Menunjuk ke arah jurang

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta Dalam setiap ucapanku Suara yang masih terdengar
9

Berasal dari kegelapan Kritik-kritik yang kusemburkan Menjadi asing dan mengancam Seperti bunyi senapan

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta Dalam puisi-puisiku Kota telah dipenuhi papan-papan iklan Maklumat-maklumat ditulis orang Dengan kasar dan tergesa-gesa Mereka yang berteriak Tak jelas maunya apa

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta Dalam doa-doaku Aku sembahyang di comberan Menjalani hidup tanpa keyakinan Perempuan-perempuan yang kupuja Seperti juga para pemimpin itu Semuanya tak bisa dipercaya

10

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta Di negeriku yang busuk ini Pidato dan kentut sulit dibedakan Begitu juga tertawa dan menangis Mereka yang lelap tidur Bangunnya pada kesiangan Padahal ingin disebut pahlawan

Dalam puisi di atas, terdapat lima pengulangan kritik cinta yang diawali frase tak ada lagi sebagai bentuk penegasian sempurna. Ini tentunya menyiratkan penekanan bahwa cinta sebagai suatu konsep abstrak dimaknai sebagai suatu fakta kongkrit yang tadinya ada dan hadir dalam realitas sosial, kini telah hilang karena berbagai masalah yang melingkupi realitas itu. Di sini kemudian ditemukan empat realitas yang dikategorikan bermasalah karena hilangnya cinta: realitas alam (Kau pun tahu, tak ada lagi cinta/ Dalam pengembaraankubait pertama); realitas bahasa (Kau pun tahu, tak ada lagi cinta/ Dalam setiap ucapankubait kedua) dan (Kau pun tahu, tak ada lagi cinta/ Dalam puisi-puisiku bait ketiga); realitas keagamaan/religiusitas (Kau pun tahu, tak ada lagi cinta/ Dalam doa-doakubait keempat); dan realitas kehidupan berbangsa dan bernegara (Kau pun tahu, tak ada lagi cinta/ Di negeriku yang busuk inibait kelima). Acep Zamzam sengaja memilih diksi cinta yang dapat dimaknai sebagai bentuk ideologi tandingan, yang seharusnya ada dan selalu hadir dalam setiap realitas. Dalam perspektif Marxis, hal ini menunjukan adanya hubungan yang realistis antara teks dengan konteks.

11

Hasil Analisis 1. Bait pertama, penggunaan diksi kongkrit justru memunculkan penafsiran metaforis tentang rusaknya alam: kritik jurang merupakan metafor dari kematian/kerusakan. 2. Di bait kedua dan ketiga, kita juga di suguhi unsur metafor yang justru berasal dari diksi kongkrit, i.e. kritik-kritik ./ Seperti bunyi senapan; maklumatmaklumat yang ditulis ../ Dengan kasar, yang menunjukan bahwa cinta (sopan-santun) dalam berbahasa sudah hilang. 3. Bait Keempat merupakan puncak transformasi makna cinta menjadi sebuah kritik sosial. Ini karena terlihat ada relevansi yang jelas antara Acep Zamzam sebagai seorang penyair yang notabene putera seorang ulama besar dengan konsep keagamaan yang dia yakini, atau yang dalam perspektif Marxis disebut authorial ideology. Dalam bait keempat ini kita bisa melihat kritik sosial yang bernuansa relijiusyang ditransformasi dari authorial ideology-nya Acep Zamzambahwa ternyata hilangnya cinta (toleransi dan kedamaian) membuat agama sudah kehilangan arah, karena tidak ada lagi keyakinan dan teladan yang dapat diikuti: Aku sembahyang di comberan/ Menjalani hidup tanpa keyakinan . Seperti juga pemimpin-pemimpin itu/ Semuanya tak bisa dipercaya. 4. Pada bait kelima, makna cinta kemudian ditransformasikan menjadi prinsip politik yang luhur (demokrasi, kejujuran). Namun, keluhuran ini sudah terkikis habis karena kejujuran sudah tidak menjadi dasar murni politik: Pidato dan kentut sulit dibedakan ., sehingga yang muncul kemudian adalah para badut politik yang ingin disebut pahlawan, padahal mereka tertidur lelap dalam kebusukan mereka sendiri. Bait inilah yang kemudian dapat disebut sebagai antiklimaks; sebuah proses transformasi makna cinta melalui frase tak ada lagi cinta, yang semuanya berujung pada makna kehancuran dan kerusakan realitas sosial. Dilihat dari perspektif Marxis, di sini sekali lagi Acep Zamzam mencoba menghadirkan cinta sebagai ideologi yang menandingi ideologi bangsa yang sudah carut marut.
12

Dalam hal ini, puisi Acep Zamzam di atas layak disebut puisi ideologis, yang menghadirkan wacana dan makna kritik cinta sebagai sebuah ideologi untuk mengkritik realitas sosial yang ada. Dan untuk konteks sekarang, Indonesia memang sudah kehilangan makna kritik cinta yang sebenar-benarnya.

F. PENUTUP Teori Marxisme adalah teori yang memunculkan adanya wacana untuk menyamakan status social dan ekonomi antara kaum proletar dengan kaum borjuis. Secara garis besar dari ketiga pendapat tokoh di atas, inti teorinya adalah menginginkan adanya kebebasan sebebas-bebasnya untuk kaum proletar agar bisa menjadi manusia yang seutuhnya. Dampak positif dan negatif akan muncul dari penerapan teori marxisme ini. Dampak positifnya adalah adanya kesetaraan status social, dimana kesempatan kaum marginal (proletar) untuk memenuhi keinginan hidupnya dan hak kemanusiaannya akan terbuka sangat lebar, selain itu kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup dalam hal ekonomi juga akan terbuka lebar. Tetapi akan muncul juga adanya kondisi masyarakat materialis yang egois-sentris.

DAFTAR PUSTAKA
Engels. 2006. Tentang Kapital Marx. Bandung:Akatiga. Faruk. 2012. Metode Penelitian Sastra; Sebuah Perjalanan Awal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Kurniawan, Eka. 2002. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Yogyakarta: Jendela. Susanto, Dwi. 2011. Pengantar Teori Sastra. Yogyakarta: CAPS. Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metodi, dam Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

13