Anda di halaman 1dari 21

BAB II PEMBAHASAN 2.

1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Endokrin Kelenjar endokrin atau kelenjar buntu adalah kelenjar yang mengirimkan hasil sekresinya lansung ke dalam darah yang beredar dalam jaringan. Kelenjar tanpa melewati duktus atau saluran dan hasil sekresinya disebut hormone. Beberapa dari organ endokrin ada yang menghasilkan satu macam hormone ( hormon tungal ). Di samping itu juga ada yang

menghasilkan lebih dari satu macam hormone atau hormone ganda, misalnya kelenjar hipofise sebagai pengatur kelenjar yang lain. Berasal dari sel-sel epitel yang melakukan proliferasi kea rah pengikat sel epitel yang telah berproliferasi dan membentuk sebuah kelenjar endokrin, tubuh dan berkembang dalam pembuluh kapiler. Zat yang di hasilkan di sebut hormone, di alirkan langsung ke dalam darah. Dalam keadaan fisiologis hormone mempunyai pengaturan sendiri sehingga kadarnyaselalau dalam keadaan optimumuntuk menjaga kesetimbangan dalam organ yang berada di bawah pengaruhnya, mekanisme pengaturan ini di sebut system umpan balik negative. Misalnya hipofiseterhadap hormone seksyang di hasilkan oleh gonad, hipofise pars anterior menghasilkan hormone seks. Hormone yang di hasilkan kelenjar endokrin beberapa macam. Zat yang secara fungsional dapat dikualifikasikan sebagai hormone kimia dikategorikan sebagai hormone organik. Fungsi kelenjar endokrin 1. Menghasilkan hormone yang di alirkan kedam darah yang di perlikan oleh jaringan dalam tubuh tertentu. 2. Mengontrol aktifitas kelenjar tubuh 3. Merangsang aktifitas kelernjar tubuh 4. Merangsang pertumbuhan jaringan 5. Mengatur metabolism oksidasi meningkatkan apsorsi blukosa pada usus halus 6. memengaruhi metabolisme lemak protein,hidratarang vitamin, mineral dan air.

Susunan Kimia Hormon yaitu: 1. Amina: hormon sederhana ini merupakan variasi susunan asam amino tirosin. Kelompok ini meliputi tiroksin dari kelenjar tiroid, epinefrin dan norepinefrin dari medula adrenal 2. Protein: hormon ini merupakan rantai asam amino.Insulin dari pankreas, hormon pertumbuhan dari kelenjar hipofisis anterior, kalsitonin dari kelenjar tiroid semuanya merupakan protein.Rantai pendek asam amino disebut peptida. Hormon antidiuretik dan oksitosin yang disintesis oleh hipotalamus, merupakan hormon peptida. 3. Steroid: kolesterol merupakan prekursor hormon steroid, yang meliputi kortisol dan aldosteron dari korteks adrenal, estrogen dan progesteron dari ovarium, dan testosteron dari testis. Hormone yang bermolekul besar ( polipeptida dan protein ) tidak dapat menembus sedang berkerja pada permukaan sel. Hormone yang bermolekul kecil ( hormone steroid dan tiroid) mempunyai pengaruh terhadap spectrum sel-sel sasaran yang lebih luas, menembus membrane sel berkaitan dengan reseptor protein. A. Macam-macam kelenjar 1. Kelenjar hipofise Suatu kelenjar endokrin yang terletak di dasar tengkorak yang memegang peranan penting dalam sekresi hormone dari semua organ-organ endokrin. Dapat di katakan sebagai kelenjar pemimpin, sebab hormone-hormon yang di hasilkannya dapat memengaruhi pekerjaan kelenjar lainnya. Kelenjar hipofise terdiri dari 2 lobus: Lobus anterior Lobus anterior ( andeno hipofise) yang menghasilkan sejumlah hormon yang bekerja sebagai zat pengendali produksi dari semua organ endokrin yang lain. 1. Hormone samototropik, mengendalikan pertumbuhan tubuh. 2. Hormone tirotropik, mengendalikan kegiatan kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormone tiroksin.

3. Hormone adrenokortikotropik, ( ACTH ), mengendalikan suprarenal dalam menghasilkan krotiso yang berasal dari korteks kelenjar suprarenal. 4. Hormone gonadotropik berasal dari folliclestimulating hormone ( FSEHA ) yang merangsang perkembangan folikel braf dalam ovarium dan pembentukan spermatozoa dalam testis. 5. Luteinizing hormone ( LH ), mengendalikan sekresi extrogen dan progesterone dalam ovarium testosterone dalam testis. 6. Interstitial cell stimulating hormone ( TCSH ). Lobus posterior

Lobus posterior di sebut juga neurohipofise, mengeluarkan 2 jenis hormone: 1. Hormon antidiuretik ( ADH ), mengatur jumlah air yang keluar melalui ginjal membuat kontraksi otot polos ADH di sebut juga hormone pituitrin 2. Hormone oksitoksin merangsang dan menguat kontraksi uterus sewaktu melahirkan dan mengeluarkan air susu sewaktu menyusui. Kelenjar hipofise terletak di dasar tenggorokan, di dalam posa hipofise tulang sphenoid. Fisiologi kelenjar hipofise Fungsi kelenjar hipppofise dapat mengatur oleh susunan saraf pusat melalui hipotalamus. Pengturan di lakukan oleh sejumlah hormone yang di hasilkan oleh hipotalamus akibat rangsangan susunan saraf pusat. Hormone-hormon hipotalamus menghasilkan bermacam-macam hormone yang masuk dalam darah di alirkan pembuluh darah di dalam tubuh untuk mencapai organ yang di tuju. Sel-sel di dalam hipotalamus akan di pengaruhi oleh kerja hormone yang di hasilkan oleh kelenjar endokrin lain. 2. Kelenjar Tiroid Terdiri atas dua buah lobus yang terletak di sebelah kanan trakea, diikat bersama oleh jaringan tiroid dan yang melintasi trakea di sebelah depan. Kelenjar ini merupakan kelenjar yang terdapat di dalam leher bagian depan bawah,melekat

pada dinding laring. Atas pengaruh hormone yang di hasilkan oleh kelenjar hipofise lobus anterior, kelenjar tiroid ini dapat memproduksi hormone tiroksin. Adapun fungsi dari hormone tiroksin adalah mengatur pertukaran

zat/metabolismedalam tubuh dan mengatur pertumbuhan jasmani dan rohani. Struktur kelenjar tiroid terdiri atas sejumlah besar vesikel-vesikel yang di batasi oleh epithelium silinder, di satukan oleh jaringan ikat. Sel-sel mengeluarkan sera, cairan yang bersifat lekat yaitu koloid tiroidyang mengandung zat senyaea yodium dan di namakan hormone tiroksin. Sekreti mengisi vesikel dan dari sini berjalan kealiran darah baik lansung maupun melalui saluran limfe. Hipofungsi kelenjar ini menyebabkan penyakit kretinismusdan penyakit miksedema. Hiperfungsi menyebabkan penyakit eksoftalmik goiter. Sekresi tiroid di atur oleh sebuah hormone dari lobus anterior kelenjar hipofise yaitu oleh hormone tirotropik. Fungsi kelenjar tiroid: 1) Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi 2) Mengatur penggunaan oksidasi 3) Mengatur pengeluaran karbon dioksida 4) Metabolic dalm hati pengaturan susunan kimia dalam jaringan 5) Pada anak mempengaruhi perkembangan fisik dan mental. Hiposekresi/hipotiroidme terjadi bila kelenjar tiroid kurang mengeluarkan secret pada waktu bayi, mengakibatkan suatu keadaan yang di kenal sebagai kretinisme berupa hambatan pertumbuhan mental dan fisik. Sedangkan pada orang dewasa kekurangan sekresi menyebabkan miksedema, proses metabolic mundur dan terdapat kecendurungan untuk bertanbah berat, gerakannya lambat, cara berfikir dan berbicara lamban, kulit menjadi tebal dan berkeringat, rambut rontok suhu badan di bawah normal dan denyut nadi melambat. Fisiologi kelenjar tiroid Kelenjar ini menghasilkan hormone tiroksin yang memegang peranan penting dalam mengatur metabolism yang di hasilkannya, merangsang laju sel-sel dalam tubuh melakukan oksidasi terhadap bahan makanan, memegang peranan penting dalam pengawasan metabolism secara keseluruhan. Hormone

tiroidmemerlikan bantuan TSH ( thyroid stimulating hormone ) ntuk endositosis koloid oleh mikrovili, enzim proteolitikuntuk memecahkan ikatan hormone T3 ( tridotironin ) dan T4 ( tetraiodotironin ) dari trigobulin untuk melepaskan T3 dan T4. Reaksi yang diperlukan untuk sintesis dan sekresi hormone adalah a) Transport aktif iodide ( senyawa yodium ) dari plasma dalam tiroid dan lumen folikel dari folikel di bantu oleh TSH. b) Dalam kelenjar tiroid iodide di oksidasi menjadi ionin aktif di bantu TSH c) Iodine mengalami perubahan kondensasi oksidatif bantuan peroksidase. d) Tahap terakhir pelepasan iodotironin yang bebas ke dalam darah. Kelainan tiroid 1) Hipertrofi atau hiperplasa fungsional a) Struma difosa tostik, hipermetabolisme karena jaringan tubuh di pengaruhi oleh hormone tiroid yang berlebihan dalam darah. b) Struma difosa nontostik Tipe endemic: kekurangan yodium kronik, air minum kurang mengandung yodium di sebut gondok endemic Tipe sporadic: pembesaran difusi dan struma di daerah endemis. Penyebabnya suatu stimulus yng tidak di ketahui. 2) hipotiroidisme, kelainan structural atau fungsional kelenjar tiroid sehingga sintesis dari hormone tiroid menjadi insufisiensi atau berkurang, bila permanen dan kompleks disebut atiroidisme. 1. Kretinisme, hipotiroidisme berat, pada anak lidah tampak tebal, mata besar, suara serak, kulit tabal dan ekspresi seperti orang bodoh 2. Miksedema juvenile, terjadi pada anak sebelum akil balik, anak cebol, pertumbuhan tulang terlambat dan kecerdasan kurang. 3. Mikedema dewasa, gejalanya nonspesifik, timbulnya perlahan konstipasi, tidak tahan dingin dan otot tegang. 3) Neoplasma ( tumor jinak ), adenoma tiroid bekerja secara otonom dan tidak dipengaruhioleh TSH.

4) Tumor ganas ( maligna ), di mulai dari folikel tiroid dengan karakteristik tersendiri yang memungkinkan terjadi lipoprofil ( karsinoma )metastase. Fungsi hormone tiroid a) Mempengaruhi pertumbuhan pematangan jaringan tubuh dan energy b) Mengatur kecepatan metabolism tubuh dabn reaksi metabolic c) Menambah sintesis asam ribonukleat ( RNA ), metabolisme meningkat. d) Keseimbangan nitrogen negative dan sintesis protein menurun. e) Menambah produksi panas dan menyimpan energy f) Absorpsi intestinal terhadap glukosa, toleransi glukosa yang abnormal sering di temukan pada hipertiroidisme. 3. Kelenjar paratiroid Kelenjar ini terletak di setiap sisi kelenjar tiroid yang terdapat di dalam leher, kelenjar ini berjumlah empat buah yang tersusun berpasangan yang menghasilkan hormone paratiroksin. Kelenjar paratiroidberjumlah 4 buah. Masing-masing melekat pada bagian belakang kelenjar tiroid. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormone yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor di dalam tubuh. Hipoparatiroidisme terjadinya kekurangan kalsium di dalam darah atau hipolkalsemia mengakibatkan keadaan yang di sebut tetani. Dengan gejala khas kejang, khususnya pada tangan dan kaki disebut karpopedal spasmus. Gejalagejala ini dapat diringankan dengn pemberian kalsium. Hiperparatiroidisme biasanya ada sangkutpautnya dengan pembesaran ( tumor ) kelenjar. Keseimbangan distribusi kalsium terganggu, kalsium dikeluarkan dari tulang-tulang dan dimasukkan kembali ke serum darah. Akibatnya terjadi penyakit tulang dengan tanda-tanda khas beberapa bagian kropos. Di sebut osteomielitisfibrosa sistika karena terbentuk Kristal pada tulang, kalsium di edarkan di dalam ginjal dan dapat menyebabkan batu ginjal dan kegagalan ginjal. Hiperfungsi paratiroid terjadi karena kelenjar tiroid

memproduksi lebih banyak hormonpraktiroksin dan biasanya. Hiperparatiroidisme primer: a. Berkurangnya kalsium dalam tulang, timbul fraktur spontan

b. Kelainan traktus urinarius: defek pada tubuliginjal biasanya batu ginjal, nefrokasinosis ( deposisi kalsium dalam nefron ) c. Manifestasi dari system saraf sentral, misalnya depresi dan koma d. Kelemahan neuromuscular, tenaga otot berkurang, keletihan otot e. Manifestasi gastrointestinal, kurang nafsu makan, mual, muntah Hiperparatiroidisme sekunder a. Gagal ginjal kronis, glomerulonefritis, pielonefritis,dan anomaly congenital traktus urogenitalis pada anak b. Kurang efektifnya PTH pada beberapa penyakit. Misalnya, defisiensi vitamin D dan kelainan gastrointestinal. Fisiologi kelenjar paratiroid Diatur dan diawasi oleh kelenjar hipofise. Hormone paritiroksin ( HPT ) adalah kosentrasi ion-ion kalsium yang terdapat dalam cairan ekstraseluler. Produksi HPT akan meningkat apabila kadar kalsium dalam plasma menurun. Dalam keadaan fisiologis kadar kalsium dalam plasma berada dalam pengawasan homeostatic. Dalam bataqs yang sangat pentang dipengaruhi oleh perubahan diet setiap hari dan pertukaran mineral antara tulang dan darah. Hambatan kerja paratiroid mengakibatkan penurunan kadar magnesium dalam darah, kosentrasi magnesium sangat diperlukan bagi fungsi kelenjar paratiroid agar menghasilkan hormone yang diperlukan tubuh. Fungsi kelenjar paratiroid: 1) Memelihara kosentrasi ion kalsium yang tepat dalam plasma 2) Mengontrol ekskresi kalsium dan fosfat melalui ginjal 3) Mempercepatabsobsi kalsium di intestin 4) Kalsium berkurang, hormone paratiroid menstimulasi resorpsi tulang sehingga menambah kalsium dalam darah 5) Menstimulasi dan mentranspor kalsium dan fosfat melalui membrane sel. 4. Kelenjar timus Terletak di dalam mediastinum di belakang os sternum, kelenjar timus hanya di jumpai pada anak-anak di bawah 18 tahun. Kelenjar timus terletak di

dalam toraks kira-kira setinggi bifurkasi trakea, warnanya kemerah-merahandan terdiri atas 2 lobus. Pada bayi baru lahir sangat kecil dan beratnya kira-kira 10 gramatau lebih sedikit. Ukurannya bertambah pada masa remaja dari 30-40 gram kemudian berkerut lagi. Fungsi hormone kelenjar timus: 1) Mengaktifkan pertumbuhan badan. 2) Mengurang aktivitas kelenjar kelamin. Fisiologi kelenjar timus Suatu sumber dari sel yang mempunyai kemampuan imunologis. Sumber hormone timus mempersiapkan proliferasi dan maturasi sel-sel yang mempunyai kemampuan potensial imunologis dalam jaringan lain sehingga pertumbuhan meningkat masa bayi sampai remaja. Setelah dewasa pertumbuhan akan berkurang sehingga mengurangi aktivitas kelamin. Kelainan kelenjar timus: 1) Hiperplasi: terdapat limfoid folikel di dalam medulla, merupakan kelainan autoimun yang memengaruhi neuromuscular sehingga mudah terserang penyakit dan daya imun kurang. 2) Timona tumor: neoplasma sel epitel ada yang jinak dan ada yang ganas, menekan alat sekelilingnya dan menimbulkan sesak nafas, batuk, serta nyeri ketika menelan.

5. Kelenjar suprarenal/ adrenal Kelenjar suprarenal/ adrenal jumlahnya ada 2, terdapat pada bagian atas dari ginjal kiri dan kanan. Ukurannya berbeda-beda, beratnya rata-rata 5-9 gram. Kelenjar suprarenal ini terbagi atas 2 bagian yaitu: 1) Bagian luar yang berwarna kekuningan menghasilkan kortisol yang disebut korteks. 2) Bagian medulla menghasilkan adrenalin ( epinefrin ) noradrenalin ( norepinefrin ).

Fungsi kelenjar suprenalis ( korteks ) 1) Mengatur keseimbangan air, elektrolit dan garam-garam 2) Mengatur/memengaruhi metabolism lemak, hidrat arang dan protein. 3) Memengaruhi aktivitas jaringan limfoid. Fungsi kelenjar suprarenalis ( medulla ): 1) Vasokontriksi pembuluh darah perifer 2) Relaksasi bronkus 3) Kontraksi selaput lender dan arteriole pada kulit sehingga berguna untuk mengurangi pendarahan pada operasi kecil. Fisiologi kelenjar suprarenal Glikokortikoid Fungsinya: a) Meningkatkan kegiatan metabolism berbagai zat dalam tubuh b) Menurunkan ambang rangsang susunan saraf pusat c) Mengiatkan sekresi asam lambung d) Menguatkan efek noradrenalin terhadap pembuluh darah dan meredahkan permeabilitas dinding pembuluh darah. e) Menurunkan daya tahan terhadap infeksi dan menghambat

pembentukan antibody. f) Menghambat pelepasan histamine dalam reaksi alergi. Hiperseresi glukokortikoid: a) Hiperglikemia, peningkatan kadar gula dalam darah Otot rangka menjadi atrofi dan lemah b) Tangan dan kaki kurus, perut membesar c) Luka sukar sembuh, protein tulang berkurang ( osteoporosis ) d) Retensi ion menyebabkan hipertensi 6. Kelenjar pienalis

Kelenjar pienalis ( epifise) ini terdapat didalam kotak ( ventrikel ) berbentuk kecil merah seperti sebuah cemara. Fungsinya belum diketahui dengan jelas. Kelenjar ini menghasilkan sekresi interna dalam membantu pancreas dan kelenjar kelamin. Fisiologi kelenjar pienalis. Mekanisme kerja insulin 1) Meningkatkan transport glukosa dalam sel/jaringan tubuh 2) Meningkatkan transport asam amino kedalam sel 3) Meningkatkan sintesis protein di otak dan di hati. 4) Menghambat kerja hormone yang sensitive terhadap lipase dan meningkatkan sintesis lipid. 5) Meningkatkan pengambilan kalsium dari cair sekresi. 7. Kelenjar pankreatika Kelenjar ini terdapat di belakang lambung di depan vertebra lumbalis I dan II terdiri dari sel-sel alfa dan beta. Sel alfa menghasilkan hormone glucagon sedangkan sel-sel beta menghasilkan hormone insulin. Hormone yang diberikan untuk pengobatan diabetes, insulin merupakan sebuah protein yang dapat turut di cerna oleh enzim-enzim pencernaan protein. 8. Kelenjar kelamin Kelenjar testis terdapat pada pria, terletak pada skrotum dan menghasilkan hormone testosterone. Fungsi hormone testosterone menentukan sifat kejantanan, misalnya adanya jenggot, kumis, jakun, dan lain-lain, menghasilkan sel mani ( spermatozoid ), serta mengontrol pekerjaan seks sekunder pada laki-laki. Kelenjar ovarika terdapat pada wanita, terletak pada ovarium disamping kiri dan kanan uterus. Kelenjar ini menghasilkan hormone progesterone dan estrogen. Hormone ini dapat memengaruhi pekerjaan uterus serta memberikan system kewanitaan, misalnya pinggul yang besar, bahu sempit dan lain-lain. Fisiologi kelenjar testis Fungsi endokrin testis: a) Testis janin dapat turun pada trimester ke-3 kehamilan, minggu ke-6-8, maksimum minggu ke-11-18, yang menghasilkan testosterone. b) Pada janin, testoteron diperlukan untuk diferensiasi genitaliainterna dan eksterna laki-laki.

c) Pada pria dewasa untuk perkembangan dan mempertahankan cirri-ciri sekssekunder pria serta spermatogenesis aktif setalah remaja ( puberitas). Pengaruh gonadotropin adenohipofise menyempurnakan maturasi system reproduksi. Fisiologi reproduksi wanita Fungsi seksual dan reproduksi wanita dibagi dalam 2 fase yaitu: a) Persiapan tubula untuk konsepsi dan kehamilan b) Periode kehamilan

2.2

Pengkajian Pemeriksaan Fisik Dalam Sistem Endokrin

Pemeriksaan fisik Melalui pemeriksaan fisik ada dua aspek utama yang dapat di gambarkan yaitu: 1. Kondisi kelenjar endokrin 2. Kondisi jaringan atau organ sebagai dampak dari kondisi endokrin

Pemeriksaan fisik terhadap kondisi kelenjar hanya dapat dilakukan terhadap kelenjar tiroid dan kelenjar gomad pria (testes).Secara umum, tekhnik pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan dalam memperoleh berbagai penyimpangan fungsi adalah: Inspeksi Disfungsi sistem endokrin akan menyebabkan perubahan fisik sebagai dampaknya terhadap pertumbuhan dan perkembangan, kesembangan cairan dan elektrolit , seks dan reproduksi, metabolisme dan energi.Berbagai perubahan fisik dapat berhubungan dengan satu atau lebih gangguan endokrin, oleh karena itu dalam melakukan pemeriksaan fisik, perawat tetap berpedoman pada pengkajian yang komprehensif dengan penekanan pada gangguan hormonal tertentu dan dampaknya terhadap jaringan sasaran dan tubuh secara keseluruhan. Jadi menggunakan pendekatan head-to-toe saja atau menggabungkannya dengan pendekatan sistem, kedua-duanya dapat digunakan. Pertama-tama, amatilah penampilan umum klien apakah tampak kelemahan berat, sedang dan ringan dan sekaligus amati bentuk dan proporsi tubuh. Pada pemeriksaan wajah, fokuskan pada abnormalitas struktur, bentuk dan ekspresi wajah seperti bentuk dahi,

rahang dan bibir. Pada mata amati adanya edema periorbita dan exopthalmus serta apakah ekspresi wajah datar atau tumpul. Amati lidah klien terhadap kelainan bentuk dan penebalan, ada tidaknya tremor pada saat diam atau bila digerakkan. Kondisi ini biasanya terjadi pada gangguan tiroid. Didaerah leher, apakah leher tampak membesar, simetris atau tidak. Pembesaran leher dapat disebabkan pembesaran kelenjar tiroid dan untuk meyakinkannya perlu dilakukan palpasi.Distensi atau bendungan pada vena jugularis dapat mengidentifikasikan kelebihan cairan atau kegagalan jantung. Amati warna kulit(hiperpigmentasi atau hipopigmentasi) pada leher, apakah merata dan cacat lokasinya dengan jelas. Bila dijumpai kelainan kulit leher, lanjutkan dengan memeriksa lokasi yang lain di tubuh selakigus. Infeksi jamur, penembuhan luka yang lama, bersisik dan petechiae lebih sering dijumpai pada klien dengan hiperfungsi adrenokortikal. Hiperpigmentasi pada jari, siku dan lutut dijumpai pada klien hipofungsi kelenjar adrenal.Vitiligo atau hipopigmentasi pada kulit tampak pada hipofungsi kelenjar adrenal sebagai akibat destruksi melanosit dikulit oleh proses autoimun. Hipopigmentasi biasa terjadi di wajah, leher, dan ekstremitas. Penumpukan masa otot yang berlebihan pada leher bagian belakang yang biasa disebut Bufflow neck atau leher/punuk kerbau dan terus sampai daerah clavikula sehingga klien tampak seperti bungkuk, terjadi pada klien hiperfungsi adrenokortikal. Amati bentuk dan ukuran dada, pergerakan dan simetris tidaknya. Ketidakseimbangan hormonal khususnya hormon seks akan menyebabkan perubahan tanda seks sekunder, oleh sebab itu amati keadaan rambut axila dan dada. Pertumbuhan rambut yang berlebihan pada dada dan wajah wanita disebut hirsutisme. Pada buah dada amati bentuk dan ukuran, simetris tidaknya, pigmentasi dan adanya pengeluaran cairan. Striae pada buah dada atau abdomen sering dijumpai pada hiperfungsi adrenokortikal. Bentuk abdomen cembung akibat penumpukan lemak centripetal dijumpai pada hiperfungsi adrenokortikal. Pada pemeriksaan genetalia, amati kondisi skrotum dan penis juga klitoris dan labia terhadap kelainan bentuk.

Palpasi Kelenjar tiroid dan testes, dua kelenjar yang dapat diperiksa melalui rabaan. Pada kondisi normal, kelenjar tiroid tidak teraba namun isthmus dapat diraba dengan menengadahkan

kepala klien. Lakukan palpasi kelenjar tiroid perlobus dan kaji ukuran, nodul tinggal atau multipel, apakah ada rasa nyeri pada saat di palpasi. Pada saat melakukan pemeriksaan, klien duduk atau berdiri sama saja namun untuk menghindari kelelahan klien sebaiknya posisi duduk.Untuk hasil yang lebih baik, dalam melakukan palpasi pemeriksa berada dibelakang klien dengan posisi kedua ibu jari perawat dibagian belakang leher dan keempat jari-jari lain ada diatas kelenjar tiroid. Palpasi testes di lakukan dengan posisi tidur dan tangan perawat harus dalam keadaan hangat. Perawat memegang lembut bagian ibu jari dan dua jari lain, bandingkan yang satu dengan yang lainnya terhadap ukuran/besarnya, simetris tidaknya nodul. Normalnya testes teraba lembut, peka terhadap sinar dan sinyal seperti karet.

Auskultasi Mendengarkan bunyi tertentu dengan bantuan stetoskop dapat menggambarkan berbagai perubahan dalam tubuh. Auskultasi pada daerah leher, diatas kelenjar tiroid dapat mengidentifikasi bruit. Bruit adalah bunyi yang dihasilkan oleh karena turbulensi pada pembuluh darah tiroidea. Dalam keadaan normal, bunyi ini tidak terdengar. Dapat diidentifikasi bila terjadi peningkatan sirkulasi darah ke kelenjar tiroid sebagai dampak peningkatan aktivitas kelenjar tiroid. Auskultasi dapat pula dilakukan untuk mengidentifikasi perubahan pada pembuluh darah dan jantung seperti tekanan darah, ritme dan rate jantung yang dapat menggambarkan gangguan keseimbangan cairan, perangsangan katekolamin dan perubahan metabolisme tubuh. 2.3 Pemeriksaan Penunjang

Pengkajian Diagnostik Sistem Endokrin A. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Hipofise Foto Tengkorak (kranium) Dilakukan untuk melihat sella tursika. Dapat terjadi tumor atau juga atropi. Tidak dibutuhkan persiapan fisik secara khusus, namun pendidikan kesehatan tentang tujuan dan prosedur sangatlah penting.

Foto tulang (osteo) Dilakukan untuk melihat kondisi tulang. Pada klien dengan gigantisme akan dijumpai ukuran maupun panjangnya. Pada akromegali akan dijumpai tulang-tulang perifer yang bertambah ukurannnya ke samping. Persiapan fisik secara khusus tidak ada, pendidikan kesehatan diperlukan.

CT scan Otak Dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya tumor pada hipofise atu hipotalamus melalui komputerisasi. Tidak ada persiapan fisik secara khusus, namun diperlukan penjelasan agar klien dapat diam bergerak selama prosedur.

Pemeriksaan darah dan urin Kadar Growth Hormon Nilai normal 10g/ml pada anak dan orang dewasa. Pada bayi di bulan-bulan pertama kelahiran nilai ini meningkat kadarnya. Spesimen adalah darah venalebih kurang 5 cc. Persiapan khusus secara fisik tidak ada. Kadar Tiroid Stimulating Hormon (Tsh) Nilai normal 6-10 g/ml. Dilakukan untuk menentukan apakah gangguan tiroid bersifat primer atau sekunder. Dibutuhkan darah lebih kurang 5 cc. Tanpa persiapan secara khusus. Kadar Adenokartiko Tropik (Acth) Pengukuran dilakukan dnegan test supresi deksametason. Spesimen yang diperlukan adalah darah vena lebih kurang 5 cc dan urin 24 jam. Persiapan 1. Tidak ada pembatasan makan dan minum 2. Bila klien menggunakan obat-obatan seperti kortisol dan antagonisnya, dihentikan lbih dahulu 24 jam sebelumnya. 3. Bila obat-obatan harus diberikan, lamirkan jenis obat dan dosisnya pada lembar pengiriman spesimen 4. Cegah stress fisik dan psikologis Pelaksanaan 1. Klien diberi deksametason 4 0.5 ml/hari selama-lamanya dua hari

2. Besok paginya darah vena diambil sekitar 5 cc 3. Urine ditampung selama 24 jam 4. Kirim spesimen ( darah dan urin ) ke laborator Hasil Normal bila ; ACTH menurun kadarnya dalam darah. Kortisol darah kurang dari 5 ml/dl 17-Hydroxi-Cortico-Steroid (17-OHCS ) dalam urin 24 jam kurang dari 2.5 mg. Cara sederhana dapat juga dilakukan dengan pemberian deksametason 1 mg per oral tengah malam , baru darah vena diambil lebih kurang 5 cc pada pagi hari dan urin ditampung selama 5 jam. Spesimen dikirim ke laboratorium. Nilai normal bila kadar kortisol darah kurang atau sama dengan 3 mg/dl dan ekskresi OHCS dalam urin 24 jam kurang dari 2.5 mg.

B. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Tiroid Up take Radioaktif ( RAI ) Tujuan pemeriksaan adalah untuk mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap iodida. Persiapan : 1. Klien puasa 6-8 jam 2. Jelaskan tujuan dan prosedur Pelaksanaan : 1. Klien diberi Radioaktif Jodium (I131) per oral sebanyak 50 microcuri. Dengan alat pengukur yang ditaruh di atas kelenjar tiroid diukur radioaktif yang tertahan. 2. Juga dapat diukur clearence I131 melalui ginjal dengan mengumpulkan urin selama 24 jam dan diukur kadar radioaktif jodiumnya. Banyaknya I131 yang ditahan oleh kelenjar tiroid dihitung dalam persentase sebagai berikut: 1. Normal : 10-35% 2. Kurang dari : 10% disebut menurun , dapat terjadi pada hipotiroidisme. 3. Lebih dari : 35 % disebut meninggi, dapat terjadi pada tirotoxikosis atau pada defisiensi jodium yang sudah lama dan pada pengobatan lama hipertiroidisme.

T3 dan T4 Serum

Persiapan fisik secara khusus tidak ada. Spesimen yang dibutuhkan adalah darah vena sebanyak 5-10 cc. 1. Nilai normal pada orang dewasa: Jodium bebas : 0.1-0.6 mg/dl T3 : 0.2-0.3 mg/dl T4 : 6-12 mg/dl 2. Nilai normal pada bayi/anak: T3 : 180-240 mg/dl

Up take T3 Resin Bertujuan untuk mengukur jumlah hormon tiroid ( T3 ) atau tiroid binding globulin (TBG) tak jenuh. Bila TBG naik berarti hormon tiroid bebas meningkat. Peningkatan TBG terjadi pada hipertiroidisme. Dibutuhkan spesimen darah vena sebanyak 5 cc. Klien puasa selama 6-8 jam. Nilai normal pada : - Dewasa : 25-35 % uptake oleh resin - Anak : pada umumya tidak ada

Protein Bound Iodine (PBI) Bertujuan mengukur jodium yang terikat dengan protein plasma. Nilai normal 4-8 mg% dalam 100 ml darah. Spesimen yang dibutuhkan darah vena sebanyak 5-10 cc. Klien dipuaskan sebelum pemeriksaan sebelum pemeriksaan 6-8 jam.

Laju Metabolisme Basal (BMR) Bertujuan untuk mengukur secara tidak langsung jumlah oksigen yang dibutuhkan tubuh di bawah kondisi basal selama beberapa waktu. Persiapan: -klien puasa sekitar 12 jam -hindari kondisi yang menimbulkan kecemasan dan stress -klien harus tidur paling tidak 8 jam -tidak mengkonsumsi obat-obat analgesik dan sedatif -jelaskan pada klien tujuan pemeriksaan dan prosedurnya

-tidak boleh bangun dari tempat tidur sampai pemeriksaan dilakukan Pelaksanaan : -segera setelah bangun, dilakukan pengukuran tekanan darah dan nadi -dihitung dengan rumus BMR (0.75 pulse ) + ( 0.74 Tek Nadi ) -72 -nilai normal BMR : -10 s/d 15 %

Scanning Tyroid Dapat digunakan dengan beberapa tehnik antara lain : - Radio Iodine Scanning. Digunakan untuk menentukan apakah nodul tiroid tunggal atau majemuk dan apakah panas atau dingin ( berfungsi atau tidak berfungsi ). Nodul panas menyebabkan hipersekresi jarang bersifat ganas. - Up take Iodine. Digunakan untuk menentukan pengambilan jodium dari plasma. Nilai normal 10 s/d 30 % dalam 24 jam.

C. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Paratiroid Percobaan Sulkowitch Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah kalsium dalam urine, sehingga dapat diketahui aktivitas kelenjar paratiroid. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Reagens Sulkowitch. Bila pada percobaan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium plasma diperkirakan antara 5 mg/dl. Endapan sedikit (fine white cloud) Menunjukkan kadar kalsiun darah normal (6 ml/dl). Bila endapan banyak, kadar kalsium tinggi.

Persiapan : -urine 24 jam ditampung ditampung. -makanan rendah kalsium 2 hari berturut-turut.

Pelaksanaan : -masukkan urin 3 ml ke dalam 2 tabung. -ke dalam tabung pertama dimasukkan reagens sulkowitch 3 ml, tabung kedua hanya sebagai kontrol. Pembacaan hasil secara kuantitatif :

Negatif (-) : tidak terjadi kekeruhan Positif (+) : terjadi kekeruhan yang halus Positif (++) : kekeruhan sedang Positif (+++) : kekeruhan banyak timbul dalam waktu kurang dari 20 detik Positif (++++) : kekeruhan hebat, terjadi seketika Percobaan Ellwort Howard Percobaan didasarkan pada diuresis pospor yang dipengaruhi oleh parathormon. Cara pemeriksaan: klien disuntik dengan parathormon melalui intravena kemudian urin ditampung dan diukur kadar pospornya.pada hipoparatiroid, diuresis pospor bisa mencapai 5-6 kali nilai normal. Pada hiperparatiroid, diuresis pospornya tidak banyak berubah. Percobaan Kalsium Intravena Percobaan ini berdasarkan pada anggapan bahwa bertambahnya kadar serum kalsium akan menekan pembentukkan parathormon. Normal bila pospor serum meningkat dan pospor diuresis berkurang. Pada hiper paratiroid, pospor serum dan pospor diuresis tidak banyak berubah. Pada hipoparatiroid, pospor serum hampir tidak mengalami perubahan tetapi pospor diuresis meningkat. Pemeriksaan radiologi Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya kalsifikasi tulang, penipisan dan osteoporosis. Pada hipotiroid, dapat dijumpai kalsifikasi bilateral pada dasar tengkorak. Densitas tulang bisa normal atau meningkat. Pada hipertiroid, tulang menipis, terbentuk kista dalam tulang serta tuberculae pada tulang. Pemeriksaan Elektrokardiogran ( EKG ) Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelainan gambaran ekg akibat perubahan kadar kalsium serum terhadap otot jantung. Pada hiperparatiroid, akan dijumpai gelombang Q T yang memanjang sedangkan pada hiperparatiroid interval Q T mungkin normal. Pemeriksaan Elektromiogram ( EMG ) Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan kontraksi otot akibat perubahan kadar kalsium serum. Persiapan khusus tidak ada.

D. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Pankreas Jenis pemeriksaannya adalah gula darah puasa. Bertujuan untuk menilai kadar gula darah setelah puasa selama 8-10 jam. Nilai normal : Dewasa : 70-110 md/dl Bayi : 50-80 mg/d Anak-anak :60-100 mg/dl Persiapan Klien dipuasakan sebelum pemeriksaan dilakukan Jelaskan tujuan prosedur pemeriksaan Pelaksanaan Spesimen adalah darah vena lebih kurang 5 s/d 10cc. Gunakan anti koagulasi bila pemeriksaan tidak dapat dilakukan segera. Bila klien mendapatkan pengobatan insulin atau oral hipoglikemik untuk sementara tidak diberikan. Setelah pengambilan darah, klien diberi makan dan minum serta obat-obatan sesuai program. Gula darah 2 jam setelah makan. Sering disingkat dengan gula darah 2 jam PP (post prandial). Bertujuan untuk menilai kadar gula darah dua jam setelah makan. Dapat dilakukan secara bersamaan dengan pemeriksaan gula darah puasa artinya setelah pengambilan darah puasa,kemudian klien disuruh makan menghabiskan porsi yang biasa lalu setelah dua jam kemudian dilakukan pengukuran kadar gula darahnya. Atau bisa juga dilakukan secara terpisah tergantung paad kondisi klien. Prinsip persiapan dan pelaksanaan sama saja namun perlu di ingat waktu yang tepat untuk pengambilan spesimen karena hal ini dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Bagi klien yang mendapat obat-obatan senentara dihentikan sampai pengambilan spesimen dilakukan.

E. Pemeriksaan Diagnostik pada Kelenjar Adrenal Pemeriksaan Hemokonsentrasi darah

Nilai normal pada : Dewasa wanita :37-47 % Pria : 45-54% Anak-anak :30-40% Neonatal :44-62% Tidak ada persiapan secara khusus. Spesimen darah dapat diperoleh dari perifer seperti ujung jari atau melalui pungsi intravena. Bubuhi antikoagulan ke dalam darah untuk mencegah pembekuan. Pemeriksaan Elektrolit Serum ( Na, K, Cl ), dengan nilai normal : Natrium : 310 335 mg ( 13.6 14 meq / liter ) Kalium : 14 -20 mg% ( 3.5 5.0 meq/liter ) Chlorida : 350-375 mg% (100-106 meq /liter) Pada hipofungsi adrenal akan terjadi hipernatremi dan hipokalemi, dan sebaliknya terjadi pada hiperfungsi adrenal yaitu hiponatremia dan hiperkalemia. Tidak diperlukan persiapan fisik secara khusus.

Percobaan Vanil Mandelic Acid (VMA) Bertujuan untuk mengukur katekolamin dalam urine. Dibutuhkan urine 24 jam. Nilai normal 1-5 mg. Tidak ada persiapan khusus.

Stimulasi test Daimaksudkan untuk mengevaluasi dan mendeteksi hipofungsi adrenal. Dapat dilakukan terhadap kortisol dengan pemberian ACTH. Stimulasi terhadap aldosteron dengan pemberian sodium. 2.4 Diagnosa Keperawatan Berdasarkan pada semua data pengkajian, diagnosis keperawatan utama sistem endokrin mencakup yang berikut :