Anda di halaman 1dari 30

Terapi Rasional Emotif

A. Pendahuluan Rational Emotive Therapy atau Teori Rasional Emotif mulai dikembangan di Amerika pada tahun 1960-an oleh Alberl Ellis, seorang Doktor dan Ahli dalam Psikologi Terapeutik yang juga seorang eksistensialis dan juga seorang Neo Freudian. Teori ini dikembangkanya ketika ia dalam praktek terapi mendapatkan bahwa sistem psikoanalisis ini mempunyai kelemahan-kelemahan secara teoritis (Ellis, 1974). Teori Rasional Emotif ini merupakan sintesis baru dari Behavior Therapy yang klasik (termasuk Skinnerian Reinforcement dan Wolpein Systematic Desensitization). Oleh karena itu Ellis menyebut terapi ini sebagai Cognitive Behavior Therapy atau Comprehensive Therapy. Konsep ini merupakan sebuah aliran baru dari Psikoterapi Humanistik yang berakar pada filsafat eksistensialisme yang dipelopori oleh Kierkegaard, Nietzsche, Buber, Heidegger, Jaspers dan Marleu Ponty, yang kemudian dilanjutkan dalam bentuk eksistensialisme terapan dalam Psikologi dan Psikoterapi, yang lebih dikenal sebagai Psikologi Humanistik.

B. Konsep-Konsep Utama Terapi rasional emotif (TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahankesalahan secara tak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri. Terapi rasional emotif menegaskan bahwa manusia memiliki sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakat. Manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk mendesakkan pemenuhan keinginan-keinginan, tuntutan-tuntutan, hasrat-hasrat, dan kebutuhan-kebutuhan dalam hidupnya. Jika tidak segera mencapai apa yang diinginkannya, manusia mempersalahkan dirinya sendiri ataupun orang lain.

TRE menekankan bahwa manusia berpikir, beremosi, dan bertindak secara stimulan. Jarang manusia beremosi tanpa berpikir, sebab perasaan- perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik. Menurut Allbert Ellis, manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri. Ia melihat individu sebagai makhluk unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan, untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak, dan untuk mengatasi kecenderungan-kecenderungan menolak diri sendiri. Sebagai akibatnya, mereka akan bertingkah laku berbeda dengan cara mereka bertingkah laku di masa lampau. Jadi, karena bisa berpikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah, mereka bukan korbankorban pengkondisian masa lampau yang pasif.

Unsur pokok terapi rasional-emotif adalah asumsi bahwa berpikir dan emosi bukan dua proses yang terpisah Menurut Ellis, pilaran dan emosi merupakan dua hal yang saling bertumpang tindih, dan dalam prakteknya kedua hal itu saling terkait. Emosi disebabkan dan dikendalikan oleh pikiran. Emosi adalah pikiran yang dialihkan dan diprasangkakan sebagai suatu proses sikap dan kognitif yang intristik. Pikiran-pikiran seseorang dapat menjadi emosi seseorang dan merasakan sesuatu dalam situasi tertentu dapat menjadi pemikiran seseorang. Atau dengan kata lain, pikiran mempengaruhi emosi dan sebaliknya emosi mempengarulu pikiran. Pikiran seseorang dapat menjadi emosinya, dan emosi dalam keadaan tertentu dapat berubah menjadi pikiran. Pandangan yang penting dari teori rasional-emotif adalah konsep hahwa banyak perilaku emosional indiuidu yang berpangkal pada self-talk: atau omong diri atau internatisasi kalimat-kalimat yaitu orang yang menyatakan kepada dirinya sendiri tentang pikiran dan emosi yang bersifat negatif. Adanya orang-orang yang seperti itu, menurut Eilis adalah karena: (1) terlalu bodoh untuk berpikir secara jelas, (2) orangnya cerdas tetapi tidak tahu bagaimana berpikir secara cerdas tetapi tidak tahu bagaimana herpikir secara jelas dalam hubungannya dengan keadaan emosi, (3) orangnya cerdas dan cukup berpengetahuan tetapi terlalu neurotik untuk menggunakan kecerdasan dan pengetahuan seeara memadai.

C. Terapi Rasional Emotif dan Teori Kepribadian Neurosis adalah pemikiran dan tingkah laku irasional. Gangguan-gangguan emosional berakar pada masa kanak-kanak, tetapi dikekalkan melalui reindoktrinasi sekarang. Sistem keyakinan adalah penyebab masalah-masalah emosional. Oleh karenanya, klien ditantang untuk menguji kesahihan keyakinan-keyakinan tertentu. Metode ilmiah diterapkan pada kehidupan sehari-hari.

Emosi-emosi adalah produk pemikiran manusia. Jika kita berpikir buruk tentang sesuatu, maka kita pun akan merasakan sesuatu itu sebagai hal yang buruk. Ellis menyatakan bahwa "gangguan emosi pada dasarnya terdiri atas kalimat-kalimat atau arti-arti yang keliru, tidak logis dan tidak bisa disahihkan, yang diyakini secara dogmatis dan tanpa kritik terhadapnya, orang yang terganggu beremosi atau bertindak sampai ia sendiri kalah". TRE berhipotesis bahwa karena kita tumbuh dalam masyarakat, kita cenderung menjadi korban dari gagasan-gagasan yang keliru, cenderung mendoktrinasi diri dari gagasan-gagasan tersebut berulang-ulang dengan cara yang tidak dipikirkan dan autsugestif, dan kita tetap mempertahankan gagasan-gagasan yang keliru dalam tingkah laku overt kita. Beberapa gagasan irasional yang menonjol yang terus menerus diinternalisasikan dan tanpa dapat dihindari mengakibatkan kesalahan diri.

D. Tujuan Terapeutik Ellis menunjukkan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam TRE yang diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu : " meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik". Tujuan psikoterapis yang lebih baik adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri merka telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami oleh mereka. Ringkasnya, proses terapeutik terdiri atas penyembuhan irasionalitas dengan rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan karena sumber ketidakbhagiaannya adalah irasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Proses terapi, karenanya sebagian besar adalah proses belajar-mengajar. Menghapus pandangan hidup klien yang mengalahkan diri dan membantu klien dalam memperoleh pandangan hidup yang lebih toleran dan rasional.Tujuan dari Rational Emotive Theory adalah: Memperbaiki dan mengubah segala perilaku yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan logis agar klien dapat mengembangkan dirinya. Menghilangkan gangguan emosional yang merusak Untuk membangun Self Interest, Self Direction, Tolerance, Acceptance of Uncertainty, Fleksibel, Commitment, Scientific Thinking, Risk Taking, dan Self Acceptance Klien.

E. Teori A-B-C tentang Kepibadian

TRE dimulai dengan ABC: A. Adalah activating experiences atau pengalaman-pengalaman pemicu, seperti kesulitanke-sulitan keluarga, kendala-kendala pekerjaan, trauma-trauma masa kecil, dan hal-hal lain yang kita anggap sebagai penye-bab ketidak bahagiaan. B. Adalah beliefs, yaitu keyakinan-ke-yakinan, terutama yang bersifat irasional dan merusak diri sendiri yang merupakan sumber ketidakbahagiaan kita. C. Adalah consequence, yaitu konsekuensi-konsekuensi berupa gejala neurotik dan emosi-emosi negatif seperti panik, dendam dan amarah karena depresi yang bersumber dari keyakinan-keyakinan kita yang keliru. Pada dasarnya, kita merasakan sebagaimana yang kita pikirkan. Maka, alangkah lebih baiknya apabila kita selalu memiliki perasaan positif. Tindakan palilng efisien untuk membantu orang-orang dalam membuat perubahan-perubahan kepribadiannya adalah dengan mengkonfrontasikan mereka secara langsung dengan filsafat hidup mereka sendiri, menerangkan kepada mereka bagaimana cara berfikir secara logis, sehingga mengajari mereka untuk mampu mengubah atau bahkan menghapuskan keyakinankeyakinan irasionalnya.[7] Ellis menambahkan D dan E untuk rumus ABC ini. Seorang terapis harus me-lawan (dispute; D) keyakinan-keyakinan irasional itu agar kliennya bisa menikmati dampak-dampak (effects; E) psi-kologis positif dari keyakinan-keyakinan yang rasional. Dalam pelaksanaan TRE ini, terapis harus benar-benar mengenal dirinya sendiri dengan baik, sehingga ia bisa memisahkan falsafah hidupnya dan tindak memaksakan keyakinannya pada klien. Disamping itu, terapis juga harus mengetahui timing yang tepat untuk memberikan dorongan pada klien. Terapis harus menghindari terjadinya indoktrinasi atas diri klien. Yang perlu dilakukan terapis hanyalah menyampaikan kepada klien apa yang salah dan bagaimana klien harus mengubahnya menjadi benar. Sebagai contoh, orang depresi merasa sedih dan kesepian karena dia keliru berpikir bahwa dirinya tidak pantas dan merasa tersingkir. Padahal, penampilan orang depresi sama saja dengan orang yang tidak mengalami depresi. Jadi, Tugas seorang terapis bukanlah menyerang perasaan sedih dan kesepian yang dialami orang depresi, melainkan me-nyerang keyakinan mereka yang negatif terhadap diri sendiri. Walaupun tidak terlalu penting bagi seorang terapis mengetahui titik utama keyakinankeyakinan irasional tadi, namun dia harus mengerti bahwa keyakinan tersebut adalah hasil pengondisian filosofis, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang muncul secara otomatis, persis seperti kebiasaan kita yang langsung mengangkat dan menjawab telepon setelah mendengarnya berdering.

Ellis juga menambahkan bahwa secara biologis manusia memang diprogram untuk selalu menanggapi pengondisian-pengondisian semacam ini. Keyakinan-keyakinan irasional tadi biasanya berbentuk pernyataan-pernyataan absolut. Ada beberapa jenis pikiran-pikiran yang keliru yang biasanya diterapkan orang, di antaranya: 1. Mengabaikan hal-hal yang positif, 2. Terpaku pada yang negatif, 3. Terlalu cepat menggeneralisasi.

F. Fungsi dan Peran Terapis Aktifitas-aktifitas therapeutic utama TRE dilaksanakan dengan satu maksud utama, yaitu : membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya. Sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasi keyakinan-keyakinan dagmatis yang rasional dan takhyul yang berasal dari orang tuanya maupun dari kebudayaannya. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas, terapis memiliki tugas-tugas yang spesifik yaitu : Mengajak klien untuk berpikir tentang beberapa gagasan dasar yang irasional yang telah memotivasi banyak gangguan tingkah laku. Menantang klien untuk menguji gagasan-gagasannya. Menunjukkan kepada klien ketidaklogisan pemikirannya. Menggunakan suatu analisis logika untuk meminimalkan keyakinan-keyakinan irasional klien. Menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan itu tidak ada gunanya dan bagaimana keyakinankeyakinan akan mengakibatkan gangguan-gangguan emosional dan tingkah laku di masa depan. Menggunakan absurditas dan humor untuk menghadapi irasionalitas pikiran klien Menerangkan bagaimana gagasan-gagasan yang irasional bisa diganti dengan gagasan-gagasan yang rasional yang memiliki landasan empiris, dan Mengajari klien bagaimana menerapkan pendekatan ilmiah pada cara bepiki sehingga klien bisa mengamati dan meminimalkan gagasan-gagasan iasional dan kesimpulan-kesimpulan yang tidak logis sekaang maupun masa yang akan datang, yang telah mengekalkan cara-cara merasa dan berperilaku yang merusak diri.

G. Hubungan antara Terapis dan Klien Teapis berfungsi sebagai guu dan klien sebagai murid. Hubunagn pribadi antara terapis dan klien tidak esensial. Klien memperoleh pemahaman atas masalah dirinya dan kemudian harus secara aktif menjalankan pengubahan tingkah laku yang mengalahkan diri.

H. Teknik-Teknik dan Prosedur-Prosedur Utama Terapi realitas bisa ditandai sebagai terapi yang aktif secara verbal. Prosedur prosedurnya difokuskan pada kekuatan-kekuatan dan potensi-potensi klien yang dihubungkan dengan tingkah lakunya sekarang dan usahanya mencapai keberhasilan dalam hidup. Dalam membantu klien untuk menciptakan identitas keberhasilan, teapis bisa menggunakan beberapa teknik sebagai berikut : Terlibat dalam permainan peran dengan klien. Menggunakan humor. Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun. Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang sesifik bagi tindakan. Bertindak sebagai model dan guru. Memasang batas-batas dan menyusun situasi terapi. Menggunakan "terapi kejutan vebal" atau sarkasme yang layak untuk mengkonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis. Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif. Manusia berfikir, berperasaan dan bertindak secara serentak. Kaitan yang begitu erat menyebabkan jika salah satu saja menerima gangguan maka yang lain akan terlibat sama. Jika salah satu diobati sehingga sembuh, dengan sendirinya yang dua lagi akan turut terobati.

Atas pandangan itu, walaupun TRE lebih menitikberatkan aspek kognitif dalam perawatan, tetapi aspek tingkah laku dan emosi turut diberi perhatian. Oleh sebab itulah dalam TRE, terdapat tiga teknik yang besar: Teknik-teknik Kognitif; Teknik-teknik Emotif dan Teknik-teknik Behavioristik.

1. Teknik-Teknik Kognitif Teknik-teknik kognitif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah cara berfikir klien. Dewa Ketut [14] menerangkan ada empat teknik besar dalam teknik-teknik kognitif : a. Teknik Pengajaran - Dalam RET, konselor mengambil peranan lebih aktif dari pelajar. Teknik ini memberikan keleluasan kepada konselor untuk berbicara serta menunjukkan sesuatu kepada klien, terutama menunjukkan bagaimana ketidaklogikan berfikir itu secara langsung menimbulkan gangguan emosi kepada klien tersebut. b. Teknik Persuasif - Meyakinkan klien untuk mengubah pandangannya kerana pandangan yang ia kemukakan itu tidak benar. Konselor langsung mencoba meyakinkan, mengemukakan pelbagai argumentasi untuk menunjukkan apa yang dianggap oleh klien itu adalah tidak benar. c. Teknik Konfrontasi - Konselor menyerang ketidaklogikan berfikir klien dan membawa klien ke arah berfikir yang lebih logik. d. Teknik Pemberian Tugas - Konselor memberi tugas kepada klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata. Misalnya, menugaskan klien bergaul dengan anggota masyarakat kalau mereka merasa dipencilkan dari pergaulan atau membaca buku untuk memperbaiki kekeliruan caranya berfikir.

2. Teknik-Teknik Emotif Teknik-teknik emotif adalah teknik yang digunakan untuk mengubah emosi klien. Antara teknik yang sering digunakan ialah: a. Teknik Sosiodrama - Memberi peluang mengekspresikan pelbagai perasaan yang menekan klien itu melalui suasana yang didramatisasikan sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri secara lisan, tulisan atau melalui gerakan dramatis. b. Teknik 'Self Modelling' - Digunakan dengan meminta klien berjanji dengan konselor untuk menghilangkan perasaan yang menimpanya. Dia diminta taat setia pada janjinya. c. Teknik 'Assertive Training' - Digunakan untuk melatih, mendorong dan membiasakan klien dengan pola perilaku tertentu yang diinginkannya.

3. Teknik-Teknik Behavioristik Teknik ini khusus untuk mengubah tingkah laku pelajar yang tidak diingini. Antara teknik ini ialah: a. Teknik Reinforcement - Mendorong klien ke arah perilaku yang diingini dengan jalan memberi pujian dan hukuman. Pujian pada perilaku yang betul dan hukuman pada perilaku negatif yang dikekalkan. b. Teknik Social Modelling - Digunakan membentuk perilaku baru pada klien melalui peniruan, pemerhatian terhadap Model Hidup atau Model Simbolik dari segi percakapan dan interaksi serta pemecahan masalah. Berdasarkan kepada penjelasan teknik di atas, dapat dilihat bahawa teknik terapi TRE ini bukan saja terbatas pada sisi konseling, tetapi juga berlaku di luar sesi konseling.[15]

H. Penerapan dan Sumbangan TRE Pendekatan ini pada menekankan pentingnya pemikiran sebagai dasar dari gangguan-gangguan pribadi. Sumbangan utamanya adalah penekananya pada keharusan praktek dan bertindak menuju perubahan tingkah laku masalah.[16]

I. Kebaikan dan Kelemahan TRE [17] Kebaikan 1. Pendekatan ini cepat sampai kepada masalah yang dihadapi oleh klien. Dengan itu perawatan juga dapat dilakukan dengan cepat. 2. Kaedah pemikiran logik yang diajarkan kepada klien dapat digunakan dalam menghadapi gejala yang lain. 3. Klien merasakan diri mereka mempunyai keupayaan intelektual dan kemajuan dari cara berfikir. Kelemahan 1. Ada klien yang boleh ditolong melalui analisa logik dan falsafah, tetapi ada pula yang tidak begitu geliga otaknya untuk dibantu dengan cara yang sedemikian yang berasaskan kepada logika. 2. Ada setengah klien yang begitu terpisah dari realiti sehingga usaha untuk membawanya ke alam nyata sukar sekali dicapai.

3. Ada juga klien yang terlalu berprasangka terhadap logik, sehingga sukar untuk mereka menerima analisa logik. 4. Ada juga setengah klien yang memang suka mengalami gangguan emosi dan bergantung kepadanya di dalam hidupnya, dan tidak mahu membuat apa-apa perubahan lagi dalam hidup mereka.

J. Langkah-Langkah Terapi Rasional Emotif 1) Langkah pertama Konselor berusaha menunjukkan bahwa cara berfikir klien harus logis kemudian membantu bagaimana dan mengapa klien sampai pada cara seperti itu, menunjukkan pola hubungan antara pikiran logis dan perasaan yang tidak bahagia atau dengan gangguan emosi yang di alami nya. 2) Langkah kedua Menunjukkan kepada klien bahwa ia mampu mempertahankan perilakunya maka akan terganggu dan cara pikirnya yang tidak logis inilah yang menyebabkan masih adanya gangguan sebagaimana yang di rasakan. 3) Langkah ketiga Bertujuan mengubah cara berfikir klien dengan membuang cara berfikir yang tidak logis 4) Langkah keempat Dalam hal ini konselor menugaskan klien untuk mencoba melakukan tindakan tertentu dalam situasi nyata.[18]

K. Ciri-Ciri Terapi Rasional Emotif Ciri-ciri terapi rasional emotif dapat di uraikan sebagai berikut: 1) Dalam menelusuri masalah klien yang di bantu nya, konselor berperan lebih aktif di bandingkan klien. Maksudnya adalah bahwasannya peran konselor disini harus bersikap efektif dan memiliki kapasitas untuk memecahkan masalah yang di hadapi klien dan bersungguhsungguh dalam mengatasi masalah yang di hadapi artinya konselor harus melibatkan diri dan berusaha menolong kliennya supaya dapat berkembang sesuai dengan keinginan dan di sesuaikan dengan potensi yang di miliki nya.

2) Dalam proses hubungan konseling harus tetap di ciptakan dan di pelihara hubungan baik dengan klien. Dengan sikap yang ramah dan hangat dari konselor akan mempunyai pengaruh yang penting demi suksesnya proses konseling sehingga dengan terciptanya proses yang akrab dan rasa nyaman ketika berhadapan dengan klien. 3) Tercipta dan terpeliharanya hubungan baik ini di pergunakan oleh konselor untuk membantu klien mengubah Cara berfikirnya yang tidak rasional menjadi rasional. 4) Dalam proses hubungan konseling, konselor tidak banyak menelusuri masa lampau klien. 5) Diagnosis (rumusan masalah) yang di lakukan dalam konseling rasional emotif bertujuan untuk membuka ketidak logisan cara berfikir klien. Dengan melihat permasalahan yang di hadapi klien dan faktor penyebabnya, yakni menyangkut cara pikir klien yang tidak rasional dalam menghadapi masalah, yang pada intinya menunjukkan bahwa cara berpikir yang tidak logis itu sebenarnya menjadi penyebab gangguan emosionalnya.[19]

DAFTAR PUSTAKA

Amir Awang. Pengantar Bimbingan dan Kaunseling Di Malaysia. Pulau Pinang: University Sains Malaysia, 1997 Pujosuwarno Sayekti, M.Pd, Dr. 1993. Berbagai Pendekatan Dalam Konseling. Menara Mas Offset: Yogyakarta. Surya Mohammad. Dasar-dasar Konseling Pendidikan (Konsep dan Teori). Kota Kembang: Yogyakarta ,1988. http://www.brunet.bn/

http://faizperjuangan.wordpress.com/

http://luthfis.wordpress.com/

http://susanhijriani.blogspot.com/

Corey, Gerald. 1999. Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.

Gunarsa, Singgih D.2000. Konseling Dan Psikoterapi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Latipun .2001. Psikologi Konseling. Cet III . Malang: UMM Press

Sukardi, Dewa Ketut. 2000. Pengantar Pelaksanaan Progam Bimbingan Dan Konseling di Sekolah. Jakarta:Rineka Cipta

Sukardi, Dewa Ketut. 1985. Pengantar Teori Konseling Suatu Uraian Ringkas, cet II. Jakarta: Ghalia Indonesia.

[1] Pujosuwarno Sayekti, M.Pd, Dr. 1993. Berbagai Pendekatan Dalam Konseling. Menara Mas Offset: Yogyakarta.

[2] Corey Gerald, Teori dan Paktek Konseling & Psikoterapi, PT Refika Aditama : Bandung, 2007, hlm.238-239 [3] http://luthfis.wordpress.com/ [4] Corey Gerald, opp cit, hlm.240-242 [5] Ibid, hlm. 245 & 328 [6] Sayekti Pujosuwarno, M.Pd, Dr. opp cit [7] http://susanhijriani.blogspot.com/ [8] http://luthfis.wordpress.com/

[9] Corey Gerald, opp cit, hlm.245-248 [10] Ibid, hlm. 339 [11] Corey Gerald, opp cit, hlm.277-278 [12] Amir Awang. Pengantar Bimbingan dan Konseling Di Malaysia. Pulau Pinang: University Sains Malaysia, 1997, hlm. 78

[13] Surya Mohammad. Dasar-dasar Konseling Pendidikan (Konsep dan Teori). Kota Kembang: Yogyakarta ,1988. hlm.182 [14] Sukardi Dewa Ketut. Pengantar Teori Konseling. Ghalia Indonesia: Jakarta, 1985. hlm.91-92 [15] http://www.brunet.bn/ [16] Corey Gerald, opp cit, hlm.357 [17] Ibid [18] Singgah D. Gunarsah, konseling dan psikoterapi (Jakarta :Gunung Mulia, 2000)hal 236-237 [19] Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Teori Konseling, cet II (Jakarta:Ghalia Indonesia , 1985) hal 89

http://dhiyan-psikologiasyik.blogspot.com/2008/06/terapi-rasional-emotif.html

Tujuan teori

Teori ialah serangkaian idea atau konsep yang digunakan untuk menjelaskan demensi realiti. Teori berbeza dengan idea biasa dalam hal teori dinyatakan dengan formal, dengan istilah yang jelas telah diuju atau dievaluasi dalalam berbagai cara dan konsisten dengan idea ilmia lainnya. Berkenaan dengan teori kaunseling, penting untuk dinyatakan bahawa serangkaian idea yang membuahkan teori berguna, untuk membantu seorang kaunselor dalam menjalani tugasnya. Analisis bermanfaat telah dilakukan oleh dua orang psikoanalisis Rapaport dan Gill (1959), yang menyatakan ada tiga model teoretis yang digunakan dalam kaunseling dan terapi. Pertama, terdapat pernyataan yang dapat diobservasi (observational data).

Kedua, adanya proposisi teoritik (theoritical proposition) yang akan menggabungkan antara satu observasi dengan yang lainnya. Ketiga, adanya pernyataan asumsi filosofis (philosophical assumption) atau meta psikologi.

Penjelasan atau pemahaman dari sebuah teori

Menjelaskan,, dari perspektif alternatif, sebuah teori menyajikan cara untuk menginterpetasikan pristiwa dengan tujuan memahami berbagai pristiwa. Pemahaman teoretis mengandung sejenis apresiasi sensitif terhadap berbagai faktor yang mungkin shaja memiliki kontribusi terhadap pristiwa tersebut. Pemahaman tersebut tidak akan memberikan prediksi yang pasti, akan tetapi dapat memberikan kemampuan untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang, paling tidak dalam erti kemungkinan yang harus diperhitungkan. Memahami, sebagai pemahaman, sebuah teori menyikap alasan dibalik mengapa sesuatau dapt terjadi. Kecenderungan tahun-tahun kebelakangan ini adalah menganggap teori kaunselaing sebagai kerangka interpretatif, atau lensa, yang menjadikan orna dan terapi dapat dilihat dan dimengerti dengan lebih jelas, ketimbang sebagai kelanjutan model eksplanatoris dalam makna sain tradisional. Namun bagi sebhagian orang, bergeraknya teori psikotrapi dan kaunseling kearah tersebut adalah menghawatirkan kerana ia akan membangkitkan bayang relativisme; Apakah semuanya benar ?. beberapa debat paling sengit dalam bidang ini berpusat pada masalah ini (Fisma, 1999; 2000; Rennei 2000).

Rational Emotive Theraphy

Another tyipe of cognitive therapy, one that includes a more elaborate set of assuptions, is known as rational emotive therapy (RET). According to Albert Ellis (1973), the founder of RET, most people in need of therapy hold a set of irrational and self-defeating beliefs. These include such nations as; they should be competent at everyting and liked by everyone; life should

always be fair; quick solutions to problems should be avaliable; and their lives should turn out a certain way. The core problem with such beliefs is that they involve absolutes --- "must and shoulds that allow for no exeptions, no room for making mistakes. When people with such irrational beliefs come up against real-life struggles, they often experience excessive psyichological distress. For example, when a college student who believes he must be liked by everyone isnt invited to join a fraternity, he may view the rejection as a catastrophe and become deeply depressed, rather than feeling simply sad and disampoited. In rational-emotive therapy, therapists confront such dysfunctional beliefs vogor ously, using a variety of techniques, including persuasion, challenge, commends, and theoretical arguments (Ellis & MacLaren, 1998). Studies have shown that RET tecniques often do enable people to reinterprent their negative beliefs and experiences in a more positive light, decreasing the likelihood of becoming depressed (Blatt, Zuroff, Quinlan, & Pilkonis, 1996; Bruder et al, 1997).

SEJARAH HIDUP PELOPOR TEORI R-E-T

Albert Ellis dilahirkan pada tahun 1930 di Pittsburk dan kemudian menetap di New York sejak umur empat tahun. Semasa kanak-kanak beliau telah sembilan kali dimsukkan ke hospital kerana nephiritis dan seterusnya mendapat penyakit renal glycosuria pada umur 19 tahun dan kencing manis pada umur 40 tahun. Walaupun begitu beliu menikmati kehidupan yang aktif kerana beliau berfikiran positif terhadap masalah kesihatannya dan sentiasa menjaganya. Menyadari beluau boleh mengkaunsel orang dengan baik dan gembira melakukannya, beliau mengambil keputusan untuk menjadi ahli psikologi. Selepas delapan tahun tamaT pengajian kolej, beliau memasuki program psikologi klinikal di Maktab Perguruan Columbia. Beliau mula menjalankan kaunseling perkahwinan, kaunseling keluarga dan terapi seks. Ellis percaya psikoanalisis adalah membentuk psikoterapi yang mendalam. Beliau telah dilatih dalam psikoterapi di Sekolah Karen Horney. Dari tahun 1947 hingga 1953 beliau memperaktikan analisis klasik dan psikoterapi berorientasikan analisis. Selepas membuat kesimpulan bahaha psiko analisis adlah bentuk rawatan yang tidak saintifik dan superficikal, beliau cuba mengkaji beberapa sistem yang lain. Pada awal 1955 beliau mengabungkan terapi humanistik, falsafah dan tingkah laku untuk membentuk terapi rasionalemitif (yang sekarang dikenal sebagai terapi rasional emotif tngkahlaku). Ellis dikenala sebagai bapa teri RET. Ellis telah membina teori berasaskan kepada kognitif tapi selepas itu beliau telah meluaskan asas terinya yang memasukkan kensep tingkahlaku dan emosi. Teri ini adalah satu usaha yang konsisten untuk memperkenalkan pendekatan pemmikirn logik dan proses kongnitif

di dalam kaunseling. Ellis percaya bahawa manusia mempunyai pemikiran dan kepercayaan yang tidak rasional perkara ini lah yang selalu menyebabkan gangguan emosi.

PANDANGAN TERHADAP MANUSIA

Pandangan RET tentang manusia didominasi oleh prinsip bahawa emosi, pemikiran dan perasaan trikat dengan kemas di didalam pisik manusia. RET menekankan semua manusia yang normal berfikir, berperasan dan bertindak dan merekak melakukannya secara bertukar ganti. Pemikiran manusia kerap membentuk perasaan dan tingkahlaku. Perasaan pulan memberi kesan kepada pemikiran dan tindakan. Tindakan pula meberi kesan kepada kepada pemikiran dan perasaan. Walau bagai manapun Albert Ellis (1974) lebih menekankan kepa proses berfikir. RET menekankan bahawa individu dilahirkan dengan potensi berfikir secara rasional dan tidak rasional. Oleh kerana itu mereka berupaya mencintai, bergembira, berkembang, berintraksi degan orang lain dan mencapi kesempurnaan kendiri. Manusia juga mempunyai kecenderungan untuk merosakkan kediri, menyalahkan kendiri, mempunyai kepercayaan karut, tidak bertolak ansur, membuat kesilapan yang tidak berhenti, suka menangguh kerja, tingkah laku menghalang perkembangan dan pencapaian kesempurnaan kendiri. Manusia adalah unik keranan ia menciptakan kepercayaan yang mengganggu dan mengulanginya kepada diri sendiri dan ini akan meneruskan gangguan kepada diri mereka. Individu juga mempunyai keupayaan menukar proses kognitif, emotif dan tingkahlaku dengan memilih untuk bertingak balas secara berbeza daripada corak sebelumnya. Ini melibatkan seseorang melatih diri untuk menolak daripada merasa terganggu dan menepis pemikiran tidak rasional degnan mengulangi pemikiran rasional kepada diri sendiri.

KONSEP UTAMA

RET menekankan bahawa emosi dan prasaan yang terganggu adalah hasil daripada pemikiran dan idea manusia. Ellis percaya bahawa gangguan emosi yang dihadapi oleh manusia adalah disebabkan oleh idea yang tersilap atau tidak logik tentang sesuatu situasi. Boleh dikatakan semua individu ingin bergembira sama ada di dalam kehidupan pribadinya atau kerjayanya

emosi yang mengganggu kebahagaiaan individu ini biasanya dianggap sebagai tidak sesuai atau merosakan diri. Terdapat emosi yang sesuai kerana ia menolong manusia mendapat apa yang dimahukan dan mengelak apa yang tidak diperlukan. Contoh emosi yang sesuai ialah gembira, seronok, sayang, ingin tahu, sedih, menyesal, kecewa dan tidak seronok. Emosi seperti marah, murung, bimbang, menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak berguna adalah tidak sesuai keranan bukan sahaja ia menyebabkan individu merasa tidak seronok dengan diri sediri tetapi menyebabkan ia terasing dari pada orang lain. Oleh itu kaunselor RET cuba membantu kliennya mendiskriminasi antara perasaan yang sesuai dan tidak sesuai serta meningkatkan emosi ayng sesuai dan mengurangkan atau menghilangkan emosi yang tidak sesuai. Cory (1996) berpendapat, gangguan emosi adalah disebabkan kepercayaan yang tidak rasional yang dipelajaridari orang-orang signifikan semasa kanak-kanak. Tambahan pula manusia menciptakan dogma tidak rasional serta kepercayaan karut. Selepas itu mansuia secara aktif memasukkan kepercayaan yang merosakkan diri melalui proses saranan kendiri dan ulangan kendiri. Oleh itu, ia adalah pemikiran tidak rasional yang diindokrinasikan dari awal hidup oleh diri sendiri yang membuatkan seseorang bersikap salah yang sentiasa berkembang dalam diri seseorang. RET menekankan menyalahkan diri sendiri adalah pusat kepada gangguanan emosi. Pendekatan ini berasaskan kepada premis bahawa terdapat idea-idea yang tidak logik yang dipegang oleh individu yang menyebabkan indivudu merdsa tidak selesa dengan kehidupannya dan menghalang ia berpugsi dengan baik sebagai seornag individu yang prosuktif. Ellis (1962) mengemukakan sebelas pemikiran yang tidak rasional yang sering dipunyai oleh manusia.

1-Individu merasa perlu untuk dikasihi atau sisayangi oleh setiap orang yang signifikan. Jika ini merupakan tuntutan kendiri yang utama maka ketiaka tidak terpenuhi individu merasa ia tidak perhatikan ibu bapa akhirnya mencari solusi dan perhatian orang lain. 2- Adalah perlu seseorang itu lengkap, cekap dan berjaya jika ia ingin merasa ia orang yang berguna dan diharggai. Ketika matlamat kejayaan yang diimpikan itu kandas, maka ia akan berakhir dengan parasaan rendah diri merasa hidup tiada erti.

3- Sesetengah orang adalah jahat, dan kejam dan orang begini patut disalah kan dan dihukum. Persaan menyalahkan orang lain terus-menerus adalah bentuk emosi yang tidak stabil, merasa tidak dihargai, mengangap orang lain tak pandai menghargi parasaannya. Persaan seperti ini menyebabkan individu jadi pendiam dan mengurung diri.

4- Adalah teruk dan malang apa bila sesuatu yang diharapkan terjadi tidak seperti yang diharapkan. Contoh seperti kes bunuh diri diatas.

5- Perasaan tidak bahagia. Perasaan ini muncul melalui persepsi yang negativ terhadap diri sendiri ketika ditinggal orang yang dicintai, kurangya kasih sayang ibu bapa. kerana perasaan tidak bahagia akhirnta salah mengambil tindakan, seperti mengkonsumsi dada, alkohol, makrempit, bunuh diri dan lainnya.

6- Jika sesuatu itu merbahaya dan merosakkan individu sepatutnya selalu mengambil berat dan memikirkannya. Umpamanya selalu memikirkan orang yang kita cintai telah pergi untuk selamanya. Ini merupakan idea yang tidak rasional.

7- Lebih senang lari dari kesulitan dan tanggung jawab dari pada menghadapinya.

8- Kebergantungan terus menerus terhap orang lain selin individu sendiri termasuk ibu bapa, saudar, kawan dan lainnya. Ketika individu dalam kesorangan merasa tidak dapat berbuat apapun termasuk mengambil keputusan. Perkara seperti ini akan mendatangkan reaksi negetip terhadap penilaian kendiri.

9- Pengaruh pristiwa masa lalu. Mungkin sukar pengaruh masalalu tetapi ia tidaklah mustahil untuk mengubahkannya seperti pecandu alkohol. Masa lalu bukan satu alasan untuk merobah sikap.

10- Individu sangat megambil berat dan merasa susa hati dengan masalah orang lain.

11- Selalu ingin setiap masalah diselesaikan dengan sempurna. sedangkan tak setiap masalah boleh diselesikan dengan sempurna.

Sebelas pemikiran yang tidak rasional disebutkan itu merupakan punca yang menimbulkan problem dikalangan remaja serta mengancam daya tahan dan semangat juang untuk terus bertahan hidup menjadi generasi sebagai mana yang diharapkan.

Ellis menciptakan formula tentang prinsip gangguan emosi berdasarkan konsep A-B-C-D dan E

-A, (pristiwa). Contoh kes; fatimah fatimah dimarahi bosnya, kernana melakukan sesuatu yang semestinya majikan fatimah tak perlu marah-marah, kerana bagi fatimah masalh itu bukanlah besar sangt.

-B, (kepercayaan). Persepsi yang yang di rasakan oleh fatimah majikannya betul-betul benci kepada dia buktinya kesalahan sedikit sahaja ia marah dan cakap yang bukan-bukan.

-C, (emosi yang terhasil) Fatimah merasa ia tidak dihargai, tidak dilayani sebagai mena semestinya seorang manusia, ia merasa terhina, merasa rendah diri beginilah kalau kerja dengan orang. Dan ia merasa seakanakan hidup ini tak ada gunanya.

-D, (pertikaian)

antara kepercayaan yang dipersepsikan. Fatimah membolak balik pemikirannya terhadap kejadian itu, kenapa bos boleh marah macam itu, mungkin ia sudah tak sukakan fatimah kerja ditempat dia, atau ia mencari alasan supaya fatimah lekas lari dari tempat kerja ini.

-E, (emosi normal). Sebetulnya menurut emosi yang normal Fatimah jangan berfikir yang bukan-bukan, bos marah bukan disebabkan ia tak sukakan Fatimah, bukan ia tidak menghargai Fatimah tapi bos marah

dikerana ia betul-betul menjaga kualiti produk kerja jangan sampai dibawah standard, kalau sarikat yang rugi semua pekerja akan menerima dampaknya. Bukan bererti bos marah untuk menjelek-jelek para pekerjanya.

PROSES DAN TUJUAN TEORI R-E-T DALAM KAUNSELING

Tertapi RET menolong klien mengakui perasaan dan tingkahlakunyayang tidak sesuai, menerima tanggung jawab di atas ketidak sesuaian itu dan menentukan punca penyebab masalahnya. RET juga member langkah-langkah dalam menolong klien untuk meninggalkan idea yang tersilap, sebagai berikut:

Langkah pertama, ialah menunjukan kepada klien bahawa ia tidak logik, menolongnya memamahami bagai mana dan mengapa dan mengapa mereka menjadi begini. Kaunselor juga menunjukkan hubungan antara idea yang tidak rasional dengangan gangguan yang emosi yang dialami hingga klien merasakan hidup tidak bahagaia. Dengan berbiat demikian klien menjadi sedar keadaan yang dihadapi untuk memperbaiki fungsi gangguan emosi. Tambahan pulan celik akanl yang diperolehi dapat menolong klien mengurangkan rasa tidak berdaya dan sedih dengan menunjukkan kepada mereka bahawa mereka bukanlah mengsa kepada kuasa luaran tetapi mereka boleh mengawlnya. Celik akal ini juga mengahala klien untuk memahami hubungan antara nilai, sikap dan kata-kata sepatutnya, seharusnya dan emestinya. Yang telah menjadi sebati dengan diri seseorang yang selalu disarankan kepada diri sendiri sehingga menjadi idea yang tidak rasional. Kaunselor perlu menerima maklum balas secara berterusan untuk menyemak sama ada klien benar-benar faham apa yang diajarkan oleh kaunselor . secara khususnya klien perlu menghayati tiga asas celik akal daram teori RET.

-1- Idividu secara asas menyusahkan fikiran dan perasaan melalui kepercayaannya -2- Kesusahan pada masa kini tidak disebabkan oleh kesusahan sebelumnya. -3- Indivudu akan berfikir secara rasional jika ia menukar cara berfikir yang tidak rasional melalui cara bekerja dan cara memeperaktikkan tingkahlaku.

Langkah kedua, ialah menolongk klien mempercayai bahawa kepercayaan seseorang boleh dicabar dan diubah. Ini membenarkan klien meneroka pemikirannya secara logik dan menentukan jika pemikiran ini sesuai iaitu yang menyeronokkan atau atau yang dapat menolongnya mengubah situasi yang boleh dipertikaikan atau tidak sesuai dan mendatangkan ketidak selesaan dalam hidup. Kaunselor akan memeprtikaikan idea klien yang tidak rasional secara terus menerus. Kaedah mempertikaikan ini adalah mengguna cara menyoal dan mencabar keesahan idea yang dipegang oleh klien tentang dirinya. Melalui proses ini kaunselor cuba mengajar klien mempertikaikan sendiri cara ia berfikir agar ia dapat mencapai matlamat betfikir secara rasional dengan sendiri.

Langkah akhir, melibatkan menolong klien pergi lebih dari mencabar idea yang tidak rasional iaitu mengindoktronasikan semuala secara rasional. Ini termasuk menangani idea yang tidak rasional yang utama juga membina falsafah hidup yang lebih rasional untuk mengelak ia menjadi mangsa pemikiran yang tidak rasional. Falsafah hidup melibatkan megnaganti sikap yang tidak rasional kepada yang rasional yang menolong menhilangkan emosi negatif yang mengganggu, dan tingkahlaku yang merosak diri.

TEKNIK DAN PROSEDUR R-E-T

RET membenarkan kaunselor megngunakan teknik secara fleksibel. Kaunselor boleh menggunakan teknik dan prosedur secara elektrik. Kesemua teknik tingkahlaku boleh digunakan oleh kaunselor RET. Tambahan itu Ellis menggunakan berbagaikaedah megajarklien seperti menggunakan pamlet, buku, perakam kaset, filem, projektor, komputer danlainnya. Untuk menunjukkan pemikiran tidak rasional klien yang mengganggu kehidupannya. Ellis mengakui bahawa terdapat pelbagaik teknik unutk mengaubah manusia dan didalam RET teknik utama yang dicadang kan ialah megnajar secara aktif dan direktif. Ellis merasakan teknik seperti kartarsis, analisis mimpi, perkaitan bebas, interpretasi penentangan dan analisis transferen berjaya membantu klien mengenali pemikirannya yang tidak rasional tetap mengambil masa yang lama. Hubungan yang diwujudkan antara kaunselor dan klien secara hubungan menyokong digunakan pada peringkat permulaan proses kaunseling, untuk klien merasa ia dihormati dan dapat meluahkan prasaan. Selepas itu kaunselor RET mula memainkan peranan yang aktif dari segi mengajar semula klien. Kaunselor menunjukkan punca ketidakrasionalan pemikiran yang menjadi gangguan hidupnya. Klien ditunjukkan ayat-ayat yang tidak rasional dan tidak logik yang selama ini telah dihayati

oleh klien. Kaunselor akan cuba membuangkan idea-idea ini dari pemikiran klien, menunjukkan bagaimana berfikir semula, mencabar untuk membuat pemikiran yang dihayati adalah yang lojik dan rasional. Ellis juga menekankan penggunaan tugasan kerja rumah yang diberi oleh kaunselor. Kerja rumah ini termasuk memberi kerja untuk dicuba oleh klien di luar sesi, menggalakkan klien mengambil resiko atau membiarkan klien merasa gagal semasa mencuba sesuatu tingkahlaku. Ini dapat membuatkan klien:

-4- Mempertikaikan idea bahawa kegagalan bukanlah suatu yang dahsyat. -5- Bagaimana menangani perasaan kegagalan dengan berfikir lebih positif Kerja rumah juga termasuk melakukan kerja-kerja kognitif seperti membaca bahan khusus seperti borang menolong sendiri untuk menganalisis konsep ABC dan bekerja kearah mempertikaikan pemikiran yang tidak rasional. Hasilnya klien diharapkan dapat mengantikan falsafah yang tidak rasional kepada yang rasional dan logik. Tambahan itu kaunselor mengarah klien kepada idea-idea utama yang tidak rasional yang telah menjadi budaya pemikiran masyarakat dan memberikan idaea yang rasional serta menewrkan perlindungan kepada gangguan pada masa akan datang.

Tujuan teori

Teori ialah serangkaian idea atau konsep yang digunakan untuk menjelaskan demensi realiti. Teori berbeza dengan idea biasa dalam hal teori dinyatakan dengan formal, dengan istilah yang jelas telah diuju atau dievaluasi dalalam berbagai cara dan konsisten dengan idea ilmia lainnya. Berkenaan dengan teori kaunseling, penting untuk dinyatakan bahawa serangkaian idea yang membuahkan teori berguna, untuk membantu seorang kaunselor dalam menjalani tugasnya. Analisis bermanfaat telah dilakukan oleh dua orang psikoanalisis Rapaport dan Gill (1959), yang menyatakan ada tiga model teoretis yang digunakan dalam kaunseling dan terapi. Pertama, terdapat pernyataan yang dapat diobservasi (observational data). Kedua, adanya proposisi teoritik (theoritical proposition) yang akan menggabungkan antara satu observasi dengan yang lainnya. Ketiga, adanya pernyataan asumsi filosofis (philosophical assumption) atau meta psikologi.

Penjelasan atau pemahaman dari sebuah teori

Menjelaskan,, dari perspektif alternatif, sebuah teori menyajikan cara untuk menginterpetasikan pristiwa dengan tujuan memahami berbagai pristiwa. Pemahaman teoretis mengandung sejenis apresiasi sensitif terhadap berbagai faktor yang mungkin shaja memiliki kontribusi terhadap pristiwa tersebut. Pemahaman tersebut tidak akan memberikan prediksi yang pasti, akan tetapi dapat memberikan kemampuan untuk mengantisipasi apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang, paling tidak dalam erti kemungkinan yang harus diperhitungkan. Memahami, sebagai pemahaman, sebuah teori menyikap alasan dibalik mengapa sesuatau dapt terjadi. Kecenderungan tahun-tahun kebelakangan ini adalah menganggap teori kaunselaing sebagai kerangka interpretatif, atau lensa, yang menjadikan orna dan terapi dapat dilihat dan dimengerti dengan lebih jelas, ketimbang sebagai kelanjutan model eksplanatoris dalam makna sain tradisional. Namun bagi sebhagian orang, bergeraknya teori psikotrapi dan kaunseling kearah tersebut adalah menghawatirkan kerana ia akan membangkitkan bayang relativisme; Apakah semuanya benar ?. beberapa debat paling sengit dalam bidang ini berpusat pada masalah ini (Fisma, 1999; 2000; Rennei 2000).

Rational Emotive Theraphy

Another tyipe of cognitive therapy, one that includes a more elaborate set of assuptions, is known as rational emotive therapy (RET). According to Albert Ellis (1973), the founder of RET, most people in need of therapy hold a set of irrational and self-defeating beliefs. These include such nations as; they should be competent at everyting and liked by everyone; life should always be fair; quick solutions to problems should be avaliable; and their lives should turn out a certain way. The core problem with such beliefs is that they involve absolutes --- "must and shoulds that allow for no exeptions, no room for making mistakes. When people with such irrational beliefs come up against real-life struggles, they often experience excessive

psyichological distress. For example, when a college student who believes he must be liked by everyone isnt invited to join a fraternity, he may view the rejection as a catastrophe and become deeply depressed, rather than feeling simply sad and disampoited. In rational-emotive therapy, therapists confront such dysfunctional beliefs vogor ously, using a variety of techniques, including persuasion, challenge, commends, and theoretical arguments (Ellis & MacLaren, 1998). Studies have shown that RET tecniques often do enable people to reinterprent their negative beliefs and experiences in a more positive light, decreasing the likelihood of becoming depressed (Blatt, Zuroff, Quinlan, & Pilkonis, 1996; Bruder et al, 1997).

SEJARAH HIDUP PELOPOR TEORI R-E-T

Albert Ellis dilahirkan pada tahun 1930 di Pittsburk dan kemudian menetap di New York sejak umur empat tahun. Semasa kanak-kanak beliau telah sembilan kali dimsukkan ke hospital kerana nephiritis dan seterusnya mendapat penyakit renal glycosuria pada umur 19 tahun dan kencing manis pada umur 40 tahun. Walaupun begitu beliu menikmati kehidupan yang aktif kerana beliau berfikiran positif terhadap masalah kesihatannya dan sentiasa menjaganya. Menyadari beluau boleh mengkaunsel orang dengan baik dan gembira melakukannya, beliau mengambil keputusan untuk menjadi ahli psikologi. Selepas delapan tahun tamaT pengajian kolej, beliau memasuki program psikologi klinikal di Maktab Perguruan Columbia. Beliau mula menjalankan kaunseling perkahwinan, kaunseling keluarga dan terapi seks. Ellis percaya psikoanalisis adalah membentuk psikoterapi yang mendalam. Beliau telah dilatih dalam psikoterapi di Sekolah Karen Horney. Dari tahun 1947 hingga 1953 beliau memperaktikan analisis klasik dan psikoterapi berorientasikan analisis. Selepas membuat kesimpulan bahaha psiko analisis adlah bentuk rawatan yang tidak saintifik dan superficikal, beliau cuba mengkaji beberapa sistem yang lain. Pada awal 1955 beliau mengabungkan terapi humanistik, falsafah dan tingkah laku untuk membentuk terapi rasionalemitif (yang sekarang dikenal sebagai terapi rasional emotif tngkahlaku). Ellis dikenala sebagai bapa teri RET. Ellis telah membina teori berasaskan kepada kognitif tapi selepas itu beliau telah meluaskan asas terinya yang memasukkan kensep tingkahlaku dan emosi. Teri ini adalah satu usaha yang konsisten untuk memperkenalkan pendekatan pemmikirn logik dan proses kongnitif di dalam kaunseling. Ellis percaya bahawa manusia mempunyai pemikiran dan kepercayaan yang tidak rasional perkara ini lah yang selalu menyebabkan gangguan emosi.

PANDANGAN TERHADAP MANUSIA

Pandangan RET tentang manusia didominasi oleh prinsip bahawa emosi, pemikiran dan perasaan trikat dengan kemas di didalam pisik manusia. RET menekankan semua manusia yang normal berfikir, berperasan dan bertindak dan merekak melakukannya secara bertukar ganti. Pemikiran manusia kerap membentuk perasaan dan tingkahlaku. Perasaan pulan memberi kesan kepada pemikiran dan tindakan. Tindakan pula meberi kesan kepada kepada pemikiran dan perasaan. Walau bagai manapun Albert Ellis (1974) lebih menekankan kepa proses berfikir. RET menekankan bahawa individu dilahirkan dengan potensi berfikir secara rasional dan tidak rasional. Oleh kerana itu mereka berupaya mencintai, bergembira, berkembang, berintraksi degan orang lain dan mencapi kesempurnaan kendiri. Manusia juga mempunyai kecenderungan untuk merosakkan kediri, menyalahkan kendiri, mempunyai kepercayaan karut, tidak bertolak ansur, membuat kesilapan yang tidak berhenti, suka menangguh kerja, tingkah laku menghalang perkembangan dan pencapaian kesempurnaan kendiri. Manusia adalah unik keranan ia menciptakan kepercayaan yang mengganggu dan mengulanginya kepada diri sendiri dan ini akan meneruskan gangguan kepada diri mereka. Individu juga mempunyai keupayaan menukar proses kognitif, emotif dan tingkahlaku dengan memilih untuk bertingak balas secara berbeza daripada corak sebelumnya. Ini melibatkan seseorang melatih diri untuk menolak daripada merasa terganggu dan menepis pemikiran tidak rasional degnan mengulangi pemikiran rasional kepada diri sendiri.

KONSEP UTAMA

RET menekankan bahawa emosi dan prasaan yang terganggu adalah hasil daripada pemikiran dan idea manusia. Ellis percaya bahawa gangguan emosi yang dihadapi oleh manusia adalah disebabkan oleh idea yang tersilap atau tidak logik tentang sesuatu situasi. Boleh dikatakan semua individu ingin bergembira sama ada di dalam kehidupan pribadinya atau kerjayanya emosi yang mengganggu kebahagaiaan individu ini biasanya dianggap sebagai tidak sesuai atau merosakan diri. Terdapat emosi yang sesuai kerana ia menolong manusia mendapat apa yang dimahukan dan mengelak apa yang tidak diperlukan. Contoh emosi yang sesuai ialah gembira, seronok, sayang, ingin tahu, sedih, menyesal, kecewa dan tidak seronok. Emosi seperti marah, murung, bimbang,

menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak berguna adalah tidak sesuai keranan bukan sahaja ia menyebabkan individu merasa tidak seronok dengan diri sediri tetapi menyebabkan ia terasing dari pada orang lain. Oleh itu kaunselor RET cuba membantu kliennya mendiskriminasi antara perasaan yang sesuai dan tidak sesuai serta meningkatkan emosi ayng sesuai dan mengurangkan atau menghilangkan emosi yang tidak sesuai. Cory (1996) berpendapat, gangguan emosi adalah disebabkan kepercayaan yang tidak rasional yang dipelajaridari orang-orang signifikan semasa kanak-kanak. Tambahan pula manusia menciptakan dogma tidak rasional serta kepercayaan karut. Selepas itu mansuia secara aktif memasukkan kepercayaan yang merosakkan diri melalui proses saranan kendiri dan ulangan kendiri. Oleh itu, ia adalah pemikiran tidak rasional yang diindokrinasikan dari awal hidup oleh diri sendiri yang membuatkan seseorang bersikap salah yang sentiasa berkembang dalam diri seseorang. RET menekankan menyalahkan diri sendiri adalah pusat kepada gangguanan emosi. Pendekatan ini berasaskan kepada premis bahawa terdapat idea-idea yang tidak logik yang dipegang oleh individu yang menyebabkan indivudu merdsa tidak selesa dengan kehidupannya dan menghalang ia berpugsi dengan baik sebagai seornag individu yang prosuktif. Ellis (1962) mengemukakan sebelas pemikiran yang tidak rasional yang sering dipunyai oleh manusia.

1-Individu merasa perlu untuk dikasihi atau sisayangi oleh setiap orang yang signifikan. Jika ini merupakan tuntutan kendiri yang utama maka ketiaka tidak terpenuhi individu merasa ia tidak perhatikan ibu bapa akhirnya mencari solusi dan perhatian orang lain. 2- Adalah perlu seseorang itu lengkap, cekap dan berjaya jika ia ingin merasa ia orang yang berguna dan diharggai. Ketika matlamat kejayaan yang diimpikan itu kandas, maka ia akan berakhir dengan parasaan rendah diri merasa hidup tiada erti.

3- Sesetengah orang adalah jahat, dan kejam dan orang begini patut disalah kan dan dihukum. Persaan menyalahkan orang lain terus-menerus adalah bentuk emosi yang tidak stabil, merasa tidak dihargai, mengangap orang lain tak pandai menghargi parasaannya. Persaan seperti ini menyebabkan individu jadi pendiam dan mengurung diri.

4- Adalah teruk dan malang apa bila sesuatu yang diharapkan terjadi tidak seperti yang diharapkan. Contoh seperti kes bunuh diri diatas.

5- Perasaan tidak bahagia. Perasaan ini muncul melalui persepsi yang negativ terhadap diri sendiri ketika ditinggal orang yang dicintai, kurangya kasih sayang ibu bapa. kerana perasaan tidak bahagia akhirnta salah mengambil tindakan, seperti mengkonsumsi dada, alkohol, makrempit, bunuh diri dan lainnya.

6- Jika sesuatu itu merbahaya dan merosakkan individu sepatutnya selalu mengambil berat dan memikirkannya. Umpamanya selalu memikirkan orang yang kita cintai telah pergi untuk selamanya. Ini merupakan idea yang tidak rasional.

7- Lebih senang lari dari kesulitan dan tanggung jawab dari pada menghadapinya.

8- Kebergantungan terus menerus terhap orang lain selin individu sendiri termasuk ibu bapa, saudar, kawan dan lainnya. Ketika individu dalam kesorangan merasa tidak dapat berbuat apapun termasuk mengambil keputusan. Perkara seperti ini akan mendatangkan reaksi negetip terhadap penilaian kendiri.

9- Pengaruh pristiwa masa lalu. Mungkin sukar pengaruh masalalu tetapi ia tidaklah mustahil untuk mengubahkannya seperti pecandu alkohol. Masa lalu bukan satu alasan untuk merobah sikap.

10- Individu sangat megambil berat dan merasa susa hati dengan masalah orang lain.

11- Selalu ingin setiap masalah diselesaikan dengan sempurna. sedangkan tak setiap masalah boleh diselesikan dengan sempurna.

Sebelas pemikiran yang tidak rasional disebutkan itu merupakan punca yang menimbulkan problem dikalangan remaja serta mengancam daya tahan dan semangat juang untuk terus bertahan hidup menjadi generasi sebagai mana yang diharapkan.

Ellis menciptakan formula tentang prinsip gangguan emosi berdasarkan konsep A-B-C-D dan E

-A, (pristiwa). Contoh kes; fatimah fatimah dimarahi bosnya, kernana melakukan sesuatu yang semestinya majikan fatimah tak perlu marah-marah, kerana bagi fatimah masalh itu bukanlah besar sangt.

-B, (kepercayaan). Persepsi yang yang di rasakan oleh fatimah majikannya betul-betul benci kepada dia buktinya kesalahan sedikit sahaja ia marah dan cakap yang bukan-bukan.

-C, (emosi yang terhasil) Fatimah merasa ia tidak dihargai, tidak dilayani sebagai mena semestinya seorang manusia, ia merasa terhina, merasa rendah diri beginilah kalau kerja dengan orang. Dan ia merasa seakanakan hidup ini tak ada gunanya.

-D, (pertikaian)

antara kepercayaan yang dipersepsikan. Fatimah membolak balik pemikirannya terhadap kejadian itu, kenapa bos boleh marah macam itu, mungkin ia sudah tak sukakan fatimah kerja ditempat dia, atau ia mencari alasan supaya fatimah lekas lari dari tempat kerja ini.

-E, (emosi normal). Sebetulnya menurut emosi yang normal Fatimah jangan berfikir yang bukan-bukan, bos marah bukan disebabkan ia tak sukakan Fatimah, bukan ia tidak menghargai Fatimah tapi bos marah dikerana ia betul-betul menjaga kualiti produk kerja jangan sampai dibawah standard, kalau sarikat yang rugi semua pekerja akan menerima dampaknya. Bukan bererti bos marah untuk menjelek-jelek para pekerjanya.

PROSES DAN MATLAMAT TEORI R-E-T DALAM KAUNSELING

Tertapi RET menolong klien mengakui perasaan dan tingkahlakunyayang tidak sesuai, menerima tanggung jawab di atas ketidak sesuaian itu dan menentukan punca penyebab masalahnya. RET juga member langkah-langkah dalam menolong klien untuk meninggalkan idea yang tersilap, sebagai berikut:

Langkah pertama, ialah menunjukan kepada klien bahawa ia tidak logik, menolongnya memamahami bagai mana dan mengapa dan mengapa mereka menjadi begini. Kaunselor juga menunjukkan hubungan antara idea yang tidak rasional dengangan gangguan yang emosi yang dialami hingga klien merasakan hidup tidak bahagaia. Dengan berbiat demikian klien menjadi sedar keadaan yang dihadapi untuk memperbaiki fungsi gangguan emosi. Tambahan pulan celik akanl yang diperolehi dapat menolong klien mengurangkan rasa tidak berdaya dan sedih dengan menunjukkan kepada mereka bahawa mereka bukanlah mengsa kepada kuasa luaran tetapi mereka boleh mengawlnya. Celik akal ini juga mengahala klien untuk memahami hubungan antara nilai, sikap dan kata-kata sepatutnya, seharusnya dan emestinya. Yang telah menjadi sebati dengan diri seseorang yang selalu disarankan kepada diri sendiri sehingga menjadi idea yang tidak rasional. Kaunselor perlu menerima maklum balas secara berterusan untuk menyemak sama ada klien benar-benar faham apa yang diajarkan oleh kaunselor . secara khususnya klien perlu menghayati tiga asas celik akal daram teori RET.

-1- Idividu secara asas menyusahkan fikiran dan perasaan melalui kepercayaannya -2- Kesusahan pada masa kini tidak disebabkan oleh kesusahan sebelumnya. -3- Indivudu akan berfikir secara rasional jika ia menukar cara berfikir yang tidak rasional melalui cara bekerja dan cara memeperaktikkan tingkahlaku.

Langkah kedua, ialah menolongk klien mempercayai bahawa kepercayaan seseorang boleh dicabar dan diubah. Ini membenarkan klien meneroka pemikirannya secara logik dan menentukan jika pemikiran ini sesuai iaitu yang menyeronokkan atau atau yang dapat menolongnya mengubah situasi yang boleh dipertikaikan atau tidak sesuai dan mendatangkan ketidak selesaan dalam hidup.

Kaunselor akan memeprtikaikan idea klien yang tidak rasional secara terus menerus. Kaedah mempertikaikan ini adalah mengguna cara menyoal dan mencabar keesahan idea yang dipegang oleh klien tentang dirinya. Melalui proses ini kaunselor cuba mengajar klien mempertikaikan sendiri cara ia berfikir agar ia dapat mencapai matlamat betfikir secara rasional dengan sendiri.

Langkah akhir, melibatkan menolong klien pergi lebih dari mencabar idea yang tidak rasional iaitu mengindoktronasikan semuala secara rasional. Ini termasuk menangani idea yang tidak rasional yang utama juga membina falsafah hidup yang lebih rasional untuk mengelak ia menjadi mangsa pemikiran yang tidak rasional. Falsafah hidup melibatkan megnaganti sikap yang tidak rasional kepada yang rasional yang menolong menhilangkan emosi negatif yang mengganggu, dan tingkahlaku yang merosak diri.

TEKNIK DAN PROSEDUR R-E-T

RET membenarkan kaunselor megngunakan teknik secara fleksibel. Kaunselor boleh menggunakan teknik dan prosedur secara elektrik. Kesemua teknik tingkahlaku boleh digunakan oleh kaunselor RET. Tambahan itu Ellis menggunakan berbagaikaedah megajarklien seperti menggunakan pamlet, buku, perakam kaset, filem, projektor, komputer danlainnya. Untuk menunjukkan pemikiran tidak rasional klien yang mengganggu kehidupannya. Ellis mengakui bahawa terdapat pelbagaik teknik unutk mengaubah manusia dan didalam RET teknik utama yang dicadang kan ialah megnajar secara aktif dan direktif. Ellis merasakan teknik seperti kartarsis, analisis mimpi, perkaitan bebas, interpretasi penentangan dan analisis transferen berjaya membantu klien mengenali pemikirannya yang tidak rasional tetap mengambil masa yang lama. Hubungan yang diwujudkan antara kaunselor dan klien secara hubungan menyokong digunakan pada peringkat permulaan proses kaunseling, untuk klien merasa ia dihormati dan dapat meluahkan prasaan. Selepas itu kaunselor RET mula memainkan peranan yang aktif dari segi mengajar semula klien. Kaunselor menunjukkan punca ketidakrasionalan pemikiran yang menjadi gangguan hidupnya. Klien ditunjukkan ayat-ayat yang tidak rasional dan tidak logik yang selama ini telah dihayati oleh klien. Kaunselor akan cuba membuangkan idea-idea ini dari pemikiran klien, menunjukkan bagaimana berfikir semula, mencabar untuk membuat pemikiran yang dihayati adalah yang lojik dan rasional. Ellis juga menekankan penggunaan tugasan kerja rumah yang diberi oleh kaunselor. Kerja rumah ini termasuk memberi kerja untuk dicuba oleh klien di luar sesi, menggalakkan klien mengambil resiko atau membiarkan klien merasa gagal semasa mencuba sesuatu tingkahlaku. Ini dapat membuatkan klien:

-4- Mempertikaikan idea bahawa kegagalan bukanlah suatu yang dahsyat. -5- Bagaimana menangani perasaan kegagalan dengan berfikir lebih positif Kerja rumah juga termasuk melakukan kerja-kerja kognitif seperti membaca bahan khusus seperti borang menolong sendiri untuk menganalisis konsep ABC dan bekerja kearah mempertikaikan pemikiran yang tidak rasional. Hasilnya klien diharapkan dapat mengantikan falsafah yang tidak rasional kepada yang rasional dan logik. Tambahan itu kaunselor mengarah klien kepada idea-idea utama yang tidak rasional yang telah menjadi budaya pemikiran masyarakat dan memberikan idaea yang rasional serta menewrkan perlindungan kepada gangguan pada masa akan datang. http://vanronnbiaro.blogspot.com/2010/02/rasional-emotif-terapi.html