Anda di halaman 1dari 15

I. II. III. IV.

JUDUL PERCOBAAN HARI / TANGGAL PERCOBAAN SELESAI PERCOBAAN TUJUAN DASAR TEORI

: Penentuan Kadar Glukosa Darah : Kamis, 4 Oktober 2012 : Kamis, 4 Oktober 2012 :Menentukan kadar glukosa daam darah

V.

Glukosa merupakan suatu gula monosakarida, dimana glukosa adalah salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga bagi hewan dan tumbuhan. Glukosa merupakan salah satu hasil utama fotosintesis dan awal bagi respirasi. Bentuk alami (D-glukosa) disebut juga dengan dekstrosa. Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat memutar cahaya terpolarisasi kearah kanan. Gula terdapat dalam dua enantiomer (isomer cermin), D-glukosa dan L-glukosa, tapi pada organisme, yang ditemukan hanya isomer Disomer.Suatu karbohidrat berbentuk D atau L berkaitan dengan konformasi isomerik pada karbon 5. Jika berada di kanan proyeksi Fischer, maka bentuk cincinnya adalah enantiomer D, kalau ke kiri, maka menjadi enantiomer L. Sangat mudah diingat, merujuk pada D untuk "dextro, yang merupakan akar bahasa Latin untuk "right" (kanan), sedangkan L untuk "levo" yang merupakan akar kata "left" (kiri). Struktur cincinnya sendiri dapat terbentuk melalui dua cara yang berbeda, yang menghasilkan glukosa- (alfa) dan (beta). Secara struktur, glukosa- dan - berbeda pada gugus hidroksil yang terikat pada karbon pertama pada cincinnya.Bentuk memiliki gugus hidroksil "di bawah" hidrogennya (sebagaimana molekul ini biasa digambarkan, seperti terlihat pada gambar di atas), sedangkan bentuk gugus hidroksilnya berada "di atas" hidrogennya. Dua bentuk ini terbentuk bergantian sepanjang waktu dalam larutan air, hingga mencapai nisbah stabil : 36:64, dalam proses yang disebut mutarotasi yang dapat dipercepat.

Perubahan proyeksi Fischer ke proyeksi Haworth -D-Glukopiranosa Glukosa darah akan mereduksi Cu2+ dalam suasana basa, yang hasil reduksinya akan bereaksi dengan arseno molibdat menghasilkan warna biru. glukosa dapat mereduksi Cu2+ karena glukosa merupakan gula pereduksi yang dapat mereduksi senyawa-senyawa penerima electron. Pada penambahan Ba(OH)2 sampel darah sedikit menggumpal. Ba(OH)2 ini berfungsi memberikan suasana basa dan juga mengendapkan ion-ion besi dalam darah. Salah satu ion besi yang diendapkan adalah ion besi pada haemoglobin , ion besi ini diubah menjadi molekul Fe(OH)2 berupa endapan merah. Pada ZnSO4 maka endapan merah dari sampel semakin banyak dan terakoagulasi menjadi pucat. Penambahan ZnSO4 ini berfungsi untuk mengendapkan dan juga mendenaturasi protein secara sempurna. Karena berat jenis yang lebih besar dari berat jenis glukosa yang akan dianalisis, maka pemisahan selanjutnya dilakukan dengan sentrifuge untuk mengendapkan protein. Pengendapan ini bertujuan untuk memisahkan protein dari glukosa karena akan mengganggu pengukuran. Penentuan kadar selanjutnya akan dilakukan dengan cara spektrofotometri. Untuk mengukur arbsorbansinya maka ditambahkan Cu alkalis dan juga arsenomolibdat. Penambahan Cu alkalis dalam suasana basa akan mereduksi senyawa Cu2+ menjadi Cu yang beereaksi dengan arsenomolbdat menghailkan warna hiru. Arbsorbansi sebanding dengan konsentrasi glukosa ang akan diukur. Larutan ini diukur pada panjang

gelombang maksimum aitu 660 nm. Dengaan menggunakan hokum LambertBeer : A=kxcxl Dimana A = absorbansi (serapan cahaya) k = koefisisen ekstinksi molar larutan c = konsentrasi sampel l = tabel kuvet berdasarkan hokum lambert-beer, serapan cahaa berbanding lurus dengan konsentrasi. Dalam analisis absorbansi metode yang digunakan adalah UV-vis dimana lat ini biasanya digunakan untuk analisis kimia kuantitativ dan terkadang juga kualitativ. Prinsip kerja spektofotometer UV-vis, didasarkan pada fenomena penyerapan sinar oleh spesi kimia tertentu di daerah ultra lembayung (ultraviolet) dan sinar tampak (visible). VI. ALAT DAN BAHAN a. Alat b. Bahan Larutan Cu alkalis Larutan Ba(OH)2 0.3 N Larutan ZnSO4.7H20 5% Larutan standar glukosa 1 mg/ mL Pereaksi arsenomolibdat Spektronik 20 Sentrifuge Tabung reaksi Penangas air Gelas ukur Gelas piala

VII. CARA KERJA 1. Deproteinase


0.1 ml darah yang oxalated -dimasukkan ke dalam tabuing sentrifuge yg telah berisi 1.90 ml aquades -dicampur dengn baik -ditambah 1.5 ml Ba(OH)2 0.3M -diaduk baik2 hingga merata -ditambah lagi ZnSO4.7H2O 5% dicampur dengan baik -didiamkan selama 5 menit -disentrifuge selama 30 menit -dilakukan dekantasi

Filtrat (filtrate Residu darah bebas protein) -dilakukan uji biuret Hasil uji Biuret

2. Penentuan kadar glukosa


1.0 ml filtrate darah bebas protein -dimasukkan ke dalam tabung reaksi -ditambah pereaksi Cu alkalis Dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit -dimasukkan dalam air dingin -ditamabah 1.0 ml pereaksi arsenmolibdat -diaduk sampai rata -dibaca absorbansi dengan alat spektronik 20 pada panjang gelombang 660 nm

Hasil absorbansi

3. Larutan blanko
1.0 ml aquades -dimasukkan dlm tabung reaksi -ditambah 1.0 ml pereaksi Cu alkalis -dimasukkan kedalam air mendidih selama 20 menitin -dimasukkan kedalam air dingin -ditambah 1.0 ml pereaksi arsenomolibdat (diaduk sampai rata) -dibaca absorbansinya dgn alat spektronik 20 dgn panjang gelombang 660 nm. Hasil absorbans i

VIII. HASIL PENGAMATAN N 1


Deproteinase Filtrat Sampel darah = Darah Cairan berwarna Dimasukkan ke merah dan kental 0,1 mL darah tabung Aquades = yang sentrifuge yang Larutan jernih oxalated berisi 1,90 mL tidak berwarna Ba(OH)2 = aquades

Dugaan / Reaksi Kesimpulan Filtrat darah yang Filtrat darah telah dihasilkan adalah bebas protein dan filtrat yang bebas dibuktikan engan protein. uji biuret yang ditandai warna larutan tidak berwarna. Larutan jernih Dicampur tidak berwarna dengan baik ZnSO4.7H2O = Larutan jernih Ditambah 1,5 mL tidak berwarna Ba(OH)2 0,3M + Aquades = larutan berwarna Diaduk hingga merah rata + Ba(OH)2 = Larutan berwarna Ditambah coklat ZnSO4.7H2O 5% + ZnSO4.7H2O = Larutan berwarna Dicampur hijau kecoklatan
dengan baik Didiamkan 5 menit

Prosedur

Hasil Pengamatan

Disentrifuge 5 mL filtrat 10 menit Dibagi Didekantasi 1 mL untuk uji biuret Sisa Diencerka n 10 mL Sampel kurva standart

2.

Penentuan Kadar Glukosa 1 Dimasukkan ke mL filtrat tabung reaksi darah bebas Ditambah pereaksi Cu protein alkalis Dimasukkan ke dalam air mendidih 20 menit Dimasukkan dalam air dingin Ditambah 1 mL pereaksi asenomolibdat Diaduk sampai rata Dibaca absorbansi Hasil dengan alat Absorbansi spektronik 20 Pembuatan kurva pada = 660 standart nm 1 mL filtrat Dimasukkan ke darah tabung reaksi bebas protein Ditambah pereaksi Cu alkalis Dimasukkan ke dalam air mendidih 20 menit Dimasukkan dalam air dingin Ditambah 1 mL pereaksi asenomolibdat

Filtrat darah Larutan yang bebas protein = dihasilkan adalah Larutan jernih berwarna hijau tidak berwarna Cu alkalis = larutan berwarna biru muda (++) + Cu alkalis = Larutan berwarna biru muda (+) + arsenomolibdat = Larutan berwarna biru jernih

Absorbansi darah bebas protein 0.595 Y=-0.05x + 0.310 0.595 = -0.05x + 0.310 0.595 0.310 = -0.05x 0.285 = -0.05x x = -5.7 mg/ml

3.

Setelah pemanasan -0.1 mg/ml : larutan berwarna biru jernih -0.2 mg/ml : larutan berwarna merah bata ++ -0.3 mg/ml : larutan berwarna merah bata + -0.4 mg/ml : larutan berwarna biru jernih -0.5 mg/ml : larutan berwarna biru jernih

Smakin besar konsentrasi semakin besar nilai absorbansinya.

Semakin besar konsentrasi maka semakin besar nilai absorbansinya y= -0.05x +n0.310 Dengan R2= 0.013

Diaduk sampai rata Dibaca absorbansi dengan alat spektronik 20 pada = 660 Hasil nm Absorbansi Diberlakukan juga untuk glukosa 0,2;0,3;0,4;0,5 mg/mL

4.

Dimasukkan ke Larutantabung reaksi Blangko 1 mL aquades Ditambah pereaksi Cu alkalis Dimasukkan ke dalam air mendidih 20 menit Dimasukkan dalam air dingin Ditambah 1 mL pereaksi asenomolibdat Diaduk sampai rata Dibaca absorbansi Hasil dengan alat Absorbansi spektronik 20 pada = 660 nm

Aquades +Cu alkalis : biru jernih Setelah pemanasan : berwarna biru muda jernih Dimasukkan dalam air dingin : berwarna biru jenih Ditambah 1.5 pereaksi arsenomolibdat : berwarna biru

IX.

ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1. Deprotenasi filtrate darah Pada percobaan ini bertujuan untuk memperoleh filtrat darah yang bebas protein dari sampel yang berupa darah oxalated. Hal pertama yang dilakukan adalah darah yang oxalated 0,1 mL (2 tetes) dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge yang telah berisi 1.9 mL aquades. Penambahan aquades pada percobaan ini bertujuan untuk mengencerkan sampel darah yang digunakan sehingga albumin yang terkandung dalam darah akan larut oleh aquades. Albumin adalah protein yang dapat larut dalam air serta dapat terkoagulasi oleh panas dan biasanya terdapat dalam serum darah. Kemudian ditambahkan 1,5 mL Ba(OH)2 0,3 N (larutan tidak berwarna), setelah ditambahkan larutan tetap tidak berwarna terdapat endapan berwarna coklat. Larutan Ba(OH)2 disini berfungsi untuk mengendapkan albumin yang terlarut dalam air. Lalu ditambahkan 1,5 mL ZnSO4 5% (larutan tak

berwarna), larutan menjadi berwarna hijau kecoklatan dan terdapat endapan didasar tabung sentrifuse dan larutan didiamkan selama 5 menit. Pada penambahan ZnSO4 5% berfungsi sebagai katalisator yaitu mempercepat terjadinya reaksi, pada percobaan ini untuk mempercepat ternbentuknya albumin dari Ba(OH)2. Selain itu tujuan didiamkannya larutan agar terjadi endapan albumin secara sempurna. Selanjutnya larutan disentrifuge selama 10 menit agar terbentuk endapan albumin secara sempurna, dan dihasilkan larutan jernih dan pada larutan tetap terdapat endapan berwarna hijau kecoklatan. Larutan sample tidak dapat menunjukkan bahwa filtrate bebas protein dengan begitu saja. Kemudian dilakukan dekantasi pada larutan tersebut sehingga diperoleh filtrat darah bebas protein tak berwarna yang kemudian diuji dengan menambahkan 2 tetes biuret (biru jernih), dan hasilnya tetap tidak terjadi perubahan warna, hal ini menunjukkan bahwa filtrate tersebut benar benar bebas protein. 2. Penentuan Kadar Glukosa Darah Pada percobaan kedua ini bertujuan untuk menentukan kadar glukosa darah yang terdapat pada filtrate sampel yang sudah bebas protein dari percobaan pertama diatas. Pada penentuan kadar glukosa darah yang dilakukan adalah mengambil 1 mL filtrate (setelah diencerkan terlebih dahulu) dimasukkan dalam tabung reaksi, ditambah 1.0 mL pereaksi Cu alkalis (berwarna biru jernih) larutan menjadi berwarna biru jernih. Penambahan Cu alkalis disini berfungsi sebagai pereduksi glukosa dalam sampel. Kemudian tabung reaksi tersebut dimasukkan kedalam gelas kimia yang berisi air mendidih selama 20 menit, hal ini bertujuan untuk menambah laju reaksi dari Cu alkalis menghasilkan warna yang tetap yaitu biru jernih , setelah didinginkan tidak terjadi perubahan warna. Setelah itu ditambah 1 mL pereaksi arsenomolibdat (kuning jernih) larutan tetap berwarna biru jernih, karena larutan mengandung asam laktat dan ion Cu2+. Hal ini sesuai dengan prinsip uji Tauber yang akan memberikan hasil positif (larutan biru) pada larutan yang mengandung monosakarida (glukosa). Ion kupri (Cu2+) akan direduksi oleh gula menjadi kupro (Cu+) dan mengendap sebagai Cu2O (kuprooksida). Penambahan pereaksi arsenomolibdat tersebut bertujuan agar Cu2O dapat larut kembali dan warna larutan berubah menjadi biru tersebut karena adanya oksidasi arsenomolibdat. Selanjutnya larutan diukur

absorbansinya dengan spektronik 20. Uji glukosa darah pada praktikum ini menggunakan metode spektofotometri. Spektrometer absorbsi adalah sebuah instrumen untuk mengukur absorbsi/penyerapan cahaya dengan energi (panjang gelombang) tertentu oleh suatu atom/molekul. Dalam praktikum ini pengukuran dilakukan pada panjang gelombang pada panjang gelombang 660 nm, hasil pengukuran menunjukkan bahwa absorbansi glukosa yang diperoleh dari filtrat adalah 0.595.
3. Pembuatan Kurva Standar

Pada percobaan ini bertujuan untuk membuat kurva standar. Untuk membuat kurva standar tahap pertama yang harus dilakukan yaitu membuat larutan standart. Larutan standart dibuat dengan cara larutan glukosa 0,05 mg/mL. untuk larutan standart 0,1 mg/mL dibutuhkan 5 mL larutan glukosa 0,2 mg/mL yang diencerkan dengan aquades sampai volume 25 mL. Selanjutnya untuk membuat larutan glukosa 0,3 mg/mL; 4 mg/mL; 5 mg/mL; 0,002 mg/mL digunakan rumus pengenceran: M1 x V1 = M2 x V2 Setelah pengenceran, masing-masing larutan standar yang telah dibuat dipipet 1 mL dan diletakkan pada masing masing lima tabung reaksi yang berbeda. Kemudian ditambahkan 1 mL Cu alkalis pada masing-masing tabung dan dihasilkan larutan yang berwarna biru jernih. Penambahan Cu Alkalis mengakibatkan ion kupri (Cu2+) akan direduksi oleh glukosa menjadi kupro (Cu+) dan mengendap sebagai Cu2O (kuprooksida). Setelah ditambahkan Cu Alkalis, tabung reaksi dipanaskan kedalam gelas kimia yang berisi air mendidih selama 20 menit. Pemanasan ini bertujuan untuk menambah laju reaksi oleh Cu alkalis, kemudian didinginkan. Setelah itu ditambahkan 1 mL pereaksi arsenomolibdat sehingga larutan berwarna biru jernih. Lalu larutan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 660 nm, Absorbansi yang didapat adalah sebagai berikut: Glukosa 0,1 = 0.220 (biru) ; Glukosa 0,2 = 0.394 (merah bata ++); Glukosa 0,3 = 0.329 (merah bata +) ;Glukosa 0,4 = 0.288 (biru); Glukosa 0,5 = 0.248 (biru). Berdasarkan absorbansi yang didapat pada masing-masing larutan standart, dapat diperoleh nilai konsentrasi dan absorbansi yang dibuat kurva kalibrasi,

konsentrasi 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5

absorbansi 0.22 0.394 0.329 0.288 0.248

Sehingga diperoleh kurva kalibrasi sebagai berikut :

Pada perubahan warna larutan dari 5 tabung reaksi berbeda, pada tabung 1, 4 dan 5 tidak terjadi perubahan warna saat dipanaskan dalam gelas kimia yang berisi air mendidih selama 20 menit. Seharusnya terjadi perubahan warna menjadi merah bata. Warna merah bata ini menandakan bahwa Cu2+ telah diendapkan dalam bentuk Cu2O. Karena glukosa merupakan senyawa karbohidrat yang memiliki gugus hemiasetal, bila didalam air akan berada dalam kesetimbangan dengan bentuk aldehida atau atau keto. Pada percobaan yang telah kami lakukan endapan merah bata tidak terbentuk. Hal ini disebabkan oleh beberapa factor, diantaranya yaitu oleh karena sampel filtrate darah yang tidak diencerkan terlebih dahulu sebelumnya, dan juga selain itu dalam pengenceran pada setiap tabung reaksi untuk percobaan ini terjadi kesalahan juga yaitu kesalahan pada teknik dalam pengenceran dan kesalahan tersebut menyebabkan nilai absorbansinya pada saat dibaca oleh UV-Vis tidak sesuai dengan teori dari

Lambert Beer yaitu bahwa semakin besar konsentrasi suatu zat maka nilai absorbansinya juga besar. Sehingga diperoleh persamaan regresinya adalah y = -0.05x + 0.310 dengan R2 = 0.013, dari kelinieritasan sangat jauh dari seharusnya yaitu mendekati 1. 4. Pembuatan larutan blanko Larutan blanko dibuat sebagai larutan standar dimana dari larutan blanko ini dapat diperoleh nilai absorbansi yang sebenarnya tanpa ada partikel partikel lain didalam larutan tersebut. Pertama tama dipipet 1 mL aquades dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 1 mL larutan Cu alkalis (biru jernih) dan larutan menjadi berwarna biru keruh. Kemudian larutan dimasukkan ke dalam air mendidih selama 20 menit, dimana semua perlakuan sama dengan percobaan sebelumnya dan fungsi atau tujuan dari perlakuanpun masih sama, lalu larutan didinginkan. Selanjutnya ditambahkan 1 mL pereaksi arsenomolibdat yang berwarna kuning jernih. Kemudian larutan diukur absorbansinya pada panjang gelombang 660 nm, dan hasil absorbansi yang didapat dari larutan blanko sebesar 0.169. Konsentrasi sampel : -5.682 diperoleh nilai negatif hal ini disebabkan karena kesalahan dalam pembuatan larutan, alat yang digunakan bukan alat kuantitatif sehingga konsentrasinya berpengaruh
X.

DISKUSI Pada percobaan ketiga yaitu pada pembuatan kurva standar terjadi

kesalahan, sehingga hasil yang kami dapatkan tidak sesuai dengan teori. Pada tabung 1, 4 dan 5 tidak terjadi perubahan warna pada saat pemanasan seharusnya terjadi perubahan warna yaitu dari larutan biru jernih dan berubah menjadi warna merah bata hal ini disebabkan karena kesalahan teknik dalam pengenceran, yaitu pada waktu mengambil sample atau mengukur sample yang akan diuji seharusnya menggunakan alat-alat yang untuk kualitatif misalnya saja untuk mengambil larutan yaitu menggunakan pipet ukur bukan dengan gelas ukur. Selain itu kemungkinan salah dalam pengambilan sampel yaitu mungkin karena kecerobohan kami menggunakan sample yang mungkin mirip akan tetapi memiliki perbedaan seperti konsentrasinya misalnya. XI. KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang kami lakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. Filtrat darah yang digunakan dalam sampel telah bebas dari protein yang ditandai oleh pengujian biuret menghasilkan warna larutan yang tidak berwarna. 2. Kadar sampel filtrat darah bebas protein dihasilkan sebesar -5.7 mg/ml dengan nilai absorbasi sampel tersebut adalah 0.595. 3. Dengan pembuatan kurva larutan standar menghasilkan persamaan regresi : y = -0.05x + 0.310 4. Larutan blanko dihasilkan nilai absorbansi sebasar 0.169.

XII.

JAWABAN PERTANYAAN 1. Tentukan kadar glukosa darah dalam mg glukosa / 100 ml darah. Jawab: Dari persamaan regresi yang didapatkan : y = 0.0852x + 0.006 dengan y dimisalkan nilai absorbansi sampel = 0.595 sehingga, y = -0.05x + 0.310 0.595 = -0.05x + 0.310 0.595 0.310 = -0.05x 0.285 = -0.05x x = -5.7 mg/ml

2. Apa fungsi proses pendidihan pada percobaan diatas ? Jelaskan. Jawab: Proses pendidihan berfungsi untuk mempercepat laju reaksi oleh Cu-Alkalis

3. Jelaskan peranan hormon insulin dalam proses pengaturan kadar glukosa darah. Jawab: Hormon insulin berperan penting dalam terjadinya proses perpindahan glukosa dari darah ke dalam sel tubuh . Di dalam sel tubuh glukosa kemudian dimetabolismekan, sehingga menghasilkan kalori (energi). Menurunnya efektivitas hormon insulin mengakibatkan menurunnya pula kadar glukosa yang masuk ke dalam sel. Akibatnya, sel tubuh kekurangan glukosa dan berusaha mendapatkan kalori dari pemecahan lemak. Pemecahan lemak akan menghasilkan keton yang dapat mengakibatkan terjadinya ketoasidosis.

XIII.

DAFTAR PUSTAKA tanggal 2 oktober 2012, jam 21:50

Anonim (http://www.id.wikipedia.org/wiki/Gula-Pereduksi) , diakses pada Huda, Nurul. 2001. Pemeriksaan Kinerja Spektofotometer UV-vis GBC 911A Menggunakan Pewarna Tartrazine Cl 19140 (online : http://www.digilib.batan.go.id/ejournal/artikel/sigma-epsilon/vol 2021 februari-maret 01/Nurul Huda.pdf Laila Rusda, Qori. 2010. Dalam Penentuan Kadar Glukosa Darah. (online www.scribd.com/doc/41273300/Dalam-Penentuan-Kadar-GlukosaDarah), diakses pada tanggal 02-10-2012, jam 21:44 Lehninger, Albert L.1982.Dasar-dasar Biokimia (jilid 1). Jakarta : Penerbit Erlangga. Tim Dosen Biokimia. 2012. Petunjuk Praktikum Biokimia. Surabaa : Unesa Press. :