Anda di halaman 1dari 42

BAB I KASUS

1.1 IDENTITAS

Nama Jenis Kelamin Umur Alamat No. RM Tanggal Pemeriksaan

: Tn. J : Laki-Laki : 18 tahun : Jakarta Utara : 169120 : 30 November 2012

1.2 ANAMNESIS (AUTOANAMNESIS)

Keluhan Utama : Pasien datang ke Poli THT RSIJ Sukapura karena merasa hidung tersumbat sejak 1 tahun yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke Poliklinik THT RS Islam Sukapura karena merasa hidung tersumbat sejak 1 tahun yang lalu, yang dirasakan terus menerus. Pasien merasa bahwa kedua hidung pasien tersumbat namun lebih berat ke lubang hidung sebelah kanan. Yang juga disertai dengan rasa sulit bernapas dan nyeri kepala sebelah, jika pasien mengalami kesulitan bernapas, pasien akan bernapas melalui mulut. .Keluhan disertai dengan pilek terus menerus walau dengan pengobatan rutin, dengan sekret bervariasi, mulai dengan sekret bening encer, sampai dengan berwarna kuning kehijauan. Terkadang pilek menghilang, namun hanya untuk beberapa saat, setelah pengobatan, dan kemudian timbul kembali. Biasanya keluhan pilek diikuti dengan keluhan batuk berdahak, namun batuk yang timbul tidak terus menerus, setelah diobati keluhan batuk akan hilang, namun keluhan pilek belum menghilang. Keluhan mimisan sudah dirasakan sejak 1 tahun yang lalu, dan sering berulang sampai

2 bulan setelah keluhan mimisan dirasakan, satu bulan setelah keluhan mimisan sering dirasakan pasien pernah keluar dari hidung berupa gumpalan darah yang berwarna merah gelap, berselaput dan menjuntai kurang lebih satu jengkal, pasien mengatakan gumpalan berselaput ini keluar dengan sendirinya ketika pasien sedang duduk, setelah kejadian ini pasien mengatakan tidak pernah mimisan lagi. Pasien juga merasakan suaranya menjadi parau sejak 1 tahun yang lalu, yang semakin lama semakin memberat. Nyeri kepala sebelah sering dirasakan pasien, yang juga disertai nyeri pada bagian dahi dan tulang pipi sebelah kanan. Pasien memiliki riwayat batuk-pilek berulang Keluhan demam, nyeri tenggorok, nyeri menelan, telinga berdengung, penurunan fungsi pendengaran, gangguan keseimbangan disangkal.

Riwayat Penyakit Dahulu : Tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga : Riwayat DM di sangkal, Hipertensi di sangkal, asthma (+) pada nenek, riwayat alergi dingin dan alergi makanan (+) pada ayah dan ibu.

Riwayat Alergi : Riwayat alergi makanan (+) alergi pada makanan kerang darat, reaksi yang muncul berupa biduran. Riwayat alergi debu dan dingin disangkal.

Riwayat Pengobatan : Pasien sudah beberapa kali berobat untuk keluhan pilek berulang dan mimisan, awalnya pasien berobat ke klinik dokter umum untuk keluhan batuk pileknya, pasien berobat sampai 3 kali dengan rentang waktu masing-masing satu minggu, keluhan batuk dirasakan menghilang namun keluhan pilek tidak menghilang dan dirasakan terus menerus, pasien tidak berobat lagi sampai pada akhirnya paisen berobat ke poli THT RSIJ Sukapura karena dirasakan keluhan pilek dan hidung tersumbat bertambah parah.

Riwayat Kebiasaan : Riwayat merokok (+) sejak duduk dibangku sekolah menengah, satu hari bisa menghabiskan satu bungkus rokok. Riwayat mengkonsumsi alcohol dan obatobatan terlarang disangkal. Setelah lulus SMA pasien bekerja di pabrik garmen bagian mengepak barang, tempat kerja pasien dekat dengan ruangan tempat pemotongan kain,

1.3 PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda Vital Tekanan darah Pernafasan Nadi Suhu : tidak diukur : 20 x/ menit : 84 x/menit : Afebris : Tampak sakit sedang : Compos mentis

Status Lokalis Telinga Bagian Preaurikula Kelainan Kelainan kongenital Radang Tumor Trauma Nyeri tekan Aurikula Kelainan kongenital Radang Tumor Trauma Nyeri tarik Auris Dextra Sinistra -

Retroaurikula

Edema Hiperemis Nyeri tekan Radang Tumor Sikatriks

+ +

+ +

Canalis Externa

Acustikus Kelainan kongenital Kulit Sekret Kloting Serumen Edema Jaringan granulasi Massa Cholesteatoma

Membrana Timpani

Intak Reflek cahaya

Fungsi Pendengaran Aurikula Dextra Tes Rinne Tes Swabach Tes Weber Rinne positif Sama dengan pemeriksa Aurikula Sinistra Rinne positif Sama dengan pemeriksa

Tidak ada lateralisasi

Hidung Bentuk Cavum nasi Mukosa Concha Septum Sinus paranasal : normonasi : lapang (-/-), perdarahan mengalir (-/-), blood clotting (-/-), polip (+/-) grade III : Hiperemis (-/-) : concha inferior eutrofi (-/-) : Septum deviasi (-) : nyeri tekan pada: pangkal hidung (-), pipi (+), dahi (-), tidak terlihat pembengkakan pada daerah muka Tenggorokan : Mukosa Uvula Tonsil : Hiperemis (-/-), Granul (-/-) : Deviasi (-/-) : T1 T1, Hiperemis (-), kripta melebar (-/-), detritus (-/-)

1.4 PEMERIKSAAN PENUNJANG Nasoendoskopi Nasoendoskopi Koana Nasalis Konka Inferior Konka Media KOM Nasofaring Kesan : Polip Antrokoana Koana Nasalis Dextra Lapang Eutrofi Eutrofi Polip (+) hingga koana Massa (+) Koana Nasalis Sinistra Lapang Eutrofi Eutrofi Terbuka

Gambaran Nasoendoskopi menunjukkan adanya polip

Gambaran Nasoendoskopi menunjukkan adanya polip

Laboratorium Tanggal Pembekuan Masa perdarahan : 3 00 menit 1-3 Masa Pembekuan: 4 30 menit 2-6 : 30 November 2012

Kimia klinik SGOT SGPT : 24 : 15 U/L U/L 0-37 0-40

Faal Ginjal Ureum Kreatinin :25 : 1.0 mg% mg%

Hematologi LED Hb Ht Trombosit Leukosit Basofil Eosinofil Batang N. Segmen Limfosit Monosit : 21 mm/jam

: 15,7 gr/dL : 47,0 % : 205 ribu/mm3 :9.300/mm3 : 0% : 1% : 3% : 63% : 29% : 3%

Pemeriksaan Ro. Thorax: Kesan: Coran Pulmo dalam batas normal

Pemeriksaan CT. Scan:

Dilakukan CT Scan Nasopharynx dengan potongan axial dan coronal. Slice 5 mm dengan kontras Torus tubarius & tuba Eustachii & recessus pterygoideus lateralis Rosenmulleri kanan & kiri baik Tampak lesi hipodens didaerah choana yang enhance perifer dengan diameter +/- 4 x 3 cm M. Pterygoideus medial & lateralis kanan & kiri baik Pharapharyngeal space baik Glandula Parotis kanan dan kiri baik Tak tampak pembesaran kelenjarsubmandibulla dan kelenjar jugularis Basis crania baik tak tampak destruksi

Tampak perselubungan sinus sinus maxilaris kanan-kiri (kista retensi) Tulang-tulang vertebrae baik

Kesan : Polip choana Perselubungan sinus maxilaris bilateral (kista retensi)

1.5 RESUME Dari anamnesis didapatkan pasien laki-laki berusia 18 tahun dengan keluhan hidung tersumbat sejak 1 tahun yang lalu, dirasa lebih berat pada hidung sebelah kanan. Terdapat rasa sulit bernapas dan nyeri kepala sebelah, nyeri pada bagian dahi dan tulang pipi sebelah kanan, suara menjadi parau dan pilek yang terus menerus. Keluhan mimisan sudah dirasakan sejak 1 tahun yang lalu, dan sering berulang sampai 2 bulan setelah keluhan mimisan dirasakan, pasien pernah keluar dari hidung berupa gumpalan darah yang berwarna merah gelap, berselaput dan menjuntai kurang lebih satu jengkal, setelah kejadian ini tidak pernah mimisan lagi. Pasien memiliki riwayat batukpilek berulang. Riwayat asthma (+) pada nenek, riwayat alergi dingin dan alergi makanan (+) pada ayah dan ibu. Riwayat alergi makanan (+). Riwayat pengobatan berulang batuk pilek. Riwayat merokok (+). Pasien bekerja di pabrik garmen bagian mengepak barang, tempat kerja pasien dekat dengan ruangan tempat pemotongan kain, Dari pemeriksaan fisik didapatkan pada choana nasalis dextra tampak adanya massa polip derajat III dan didapatkan nyeri tekan pada maxilla dextra. Dari pemeriksaaa CT-Scan didapatkan kesan polip choana dan adanya perselubungan sinus maxilaris bilateral (kista retensi).

1.6 DIAGNOSIS Polip Antrokoana dextra Sinusitis Maxilaris Dextra

1.7

PENATALAKSANAAN

Medikamentosa Antibiotik : Cefixim 2 x 1 tab

Dekongestan

: Aldisa Avamist

2 x 1 tab 1 x 1 puff 2 x 4 tab ( tapering off)

Kortikosteroid : Methyl Prednisolon Non-Medikamentosa Polipektomi

Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) Laporan Pembedahan Pasien telentang di meja operasi dalam anastesi umum Dilakukan asepsis dan antisepsis pada lapang operasi Dilakukan Nasoendoskopi, terlihat polip dengan tangkai pada antrokoana sinus maxilaris meluas hingga ke koana nasalis deztra Dilakukan Polipektomi, perdarahan dirawat Dilakukan unsinektomi Dilakukan antrostomi sinus maxilaris, antrum sinus maxilaris diperbesar Dilakukan evaluasi tampak mukosa sinus maxilaris polipoid, perdarahan dirawat Operasi selesai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 ANATOMI HIDUNG Hidung Luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke bawah: Pangkal hidung (bridge) Dorsum nasi Puncak hidung Ala nasi Kolumela Lubang hidung (nares anterior)1

Gambar 1 : Anatomi Hidung Luar Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh : Superior : os frontal, os nasal, os maksila Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayor dan kartilago alaris minor

10

Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior menjadi fleksibel.

Gambar 2: Kerangka Tulang dan Tulang Rawan Hidung

Perdarahan : 1. A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. Oftalmika, cabang dari a. Karotis interna). 2. A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris interna, cabang dari A. Karotis interna) 3. A. Angularis (cabang dari A. Fasialis)

11

Gambar 3 : Vaskularisasi Hidung

Persarafan : 1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis) 2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior)

Kavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Batas batas kavum nasi : Posterior Atap Lantai : Berhubungan dengan nasofaring : Os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus sfenoidale dan sebagian os vomer

: Merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir

12

horisontal, bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih Medial lebar daripada bagian atap. Bagian ini

dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum. : Septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela. Lateral : Dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.

Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah.2 Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. Kadang kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini.

Gambar 4 : Konka nasalis

13

Perdarahan : Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama sama arteri.

Persarafan : 1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N. Etmoidalis anterior 2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.

Gambar 5 : Persarafan Hidung

Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara

14

mukosanya lebih tebal dan kadang kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat obatan. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.

2.2 SINUS PARANASAL

Gambar 10. Sinus Paranasal Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung. Anatominya dapat dijelaskan sebagai berikut:

15

Sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrium highmore) dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing. Pada meatus medius yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris yakni muara dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior. Sinus paranasal terbentuk pada fetus usia bulan III atau menjelang bulan IV dan tetap berkembang selama masa kanak-kanak, jadi tidak heran jika pada foto rontgen anak-anak belum ada sinus frontalis karena belum terbentuk. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid. a. Sinus Maksilaris Sinus maksilaris merupakan sinus paranasalis yang terbesar. Sinus ini sudah ada sejak lahir dan mencapa ukuran maksimum (+ 15 ml) pada saat dewasa. Dari segi klinis yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maxilla adalah:
1. 2.

Dasar sinus maksilaris berhubungan dengan gigi P1, P2, M1, dan M2 Ostium sinus maksilaris lebih tinggi dari dasarnya Sinus maksilaris (antrum of highmore) adalah sinus yang

pertama berkembang. Struktur ini pada umumnya berisi cairan pada kelahiran. Pertumbuhan dari sinus ini adalah bifasik dengan pertumbuhan selama 0-3 tahun dan 7-12 tahun.Sepanjang pneumatisasi kemudian menyebar ke tempat yang rendah dimana gigi yang permanen mengambil tempat mereka. Pneumatisasinya dapat sangat luas sampaiakar gigi hanya satu lapisan yang tipis dari jaringan halus yang mencakup mereka. Sinus maksilaris orang dewasa berbentuk piramida dan mempunyai volume kira-kira 15 ml (34 x 33 x 23 mm). dasar dari piramida adalah dinding nasal dengan puncak yang menunjuk ke arah processus zigomatikum. Dinding anterior mempunyai foramen intraorbital yang berada pada bagian

16

midsuperior dimana nervus intraorbital berjalan di atas atap sinus dan keluar melalui foramen ini. Bagian tertipis dari dinding anterior adalah sedikit diatas fossa canina. Atap dibentuk oleh dasar orbita dan ditranseksi oleh n.infraorbita. dinding posterior tidak bisa ditandai. Di belakang dari dinding ini adalah fossa pterygomaxillaris dengan a.maksilaris interna, ganglion sfenopalatina dan saluran vidian, n.palatina mayor dan foramen rotundum. Dasar dari sinus bervariasi tingkatannya. Sejak lahir sampai umur 9 tahun dasar dari sinus adalah di atas rongga hidung. Pada umur 9 tahun dasar dari sinus secara umum samadengan dasar nasal. Dasar sinus berlanjut menjadi pneumatisasi sinus maksilaris. Oleh karena itu berhubungan dengan penyakit gigi di sekitar gigi rahang atas, yaitu premolar dan molar. Cabang dari a. maksilaris interna mendarahi sinus ini. Termasuk infraorbita, cabang a. sfenopalatina, a. palatina mayor, v. aksilaris dan v. jugularis system duralsinus. Sedangkan persarafan sinus maksila oleh cabang dari n.V.2 yaitu n. palatina mayor dan cabang dari n. infraorbita. Ostium sinus maksilaris terletak di bagian superior dari dinding medial sinus. Intranasal biasanya terletak pada pertengahan posterior infundibulum etmoid, atau disamping 1/3 bawah processus uncinatus. Ukuran ostium ini rata-rata 2,4 mm tapi dapat bervariasi. 88% dari ostium sinus maksilaris bersembunyi di belakang processus uncinatus sehingga tidak bisa dilihat secara endoskopi. b. Sinus Ethmoidalis Sinus etmoid adalah struktur yang berisi cairan pada bayi yang baru dilahirkan. Selama masih janin perkembangan pertama sel anterior diikuti oleh sel posterior. Sel tumbuh secara berangsur-angsur sampai usia 12 tahun. Sel ini tidak dapat dilihat dengan sinar x sampai usia 1 tahun. Septa yang ada secara berangsur-angsur menipis dan pneumatisasi berkembang sesuai usia. Sel etmoid bervariasi dan sering ditemukan di atas orbita, sfenoid lateral, ke atap maksila dan sebelah anterior diatas sinus frontal. Peyebaran sel etmoid ke konka disebut konka bullosa. Gabungan sel anterior dan posterior mempunyai volume 15 ml (33 x 27 x 14mm). Bentuk ethmoid seperti piramid dan dibagi menjadi sel multipel

17

oleh sekat yang tipis. Atap dari ethmoid dibentuk oleh berbagai struktur yang penting. Sebelah anterior posterior agak miring (15). 2/3 anterior tebal dan kuat dibentuk oleh os frontal dan foveola etmoidalis. 1/3 posterior lebih tinggi sebelah lateral dan sebelahmedial agak miring ke bawah ke arah lamina kribiformis. Perbedaan berat antara atapmedial dan lateral bervariasi antara 15-17 mm. sel etmoid posterior berbatasandengan sinus sfenoid. Sinus etmoid mendapat aliran darah dari a.karotis eksterna dan interna dimana a.sfenopalatina dan a.oftalmika mendarahi sinus dan pembuluh venanya mengikuti arterinya. Sinus etmoid dipersarafi oleh n V.1 dan V.2, n V.1 mensarafi bagiansuperior sedangkan sebelah inferior oleh n V.2. Persarafan parasimpatis melaluin.vidianus, sedangkan persarafan simpatis melalui ganglion servikal. Sel di bagian anterior menuju lamela basal. Pengalirannya ke meatus mediamelalui infundibulum etmoid. Sel yang posterior bermuara ke meatus superior dan berbatasan dengan sinus sfenoid. Sel bagian posterior umumnya lebih sedikit dalam jumlah namun lebih besar dalam ukuran dibandingkan dengan sel bagian anterior. Bula etmoid terletak diatas infundibulum dan permukaan lateral inferiornya, dan tepi superior prosesus uncinatus membentuk hiatus semilunaris. Ini merupakan sel etmoid anterior yang terbesar. Infundibulum etmoid perkembanganya mendahului sinus. Dinding anterior dibentuk oleh prosesus uncinatus, dinding medial dibentuk oleh prosesus frontalis os maksila dan lamina papyracea. c. Sinus Frontalis Sinus frontalis sepertinya dibentuk oleh pergerakan ke atas dari sebagian besar sel-sel etmoid anterior. Os frontal masih merupakan membran pada saatkelahiran dan mulai mengeras sekitar usia 2 tahun. Perkembangan sinus mulai usia 5tahun dan berlanjut sampai usia belasan tahun. Volume sinus ini sekitar 6-7 ml (28 x 24 x 20 mm). Anatomi sinus frontalis sangat bervariasi tetapi secara umum ada dua sinus yang terbentuk seperti corong. Dinding posterior sinus yang memisahkan sinus frontalis dari fosa kranium anterior lebih tipis dan dasar sinus ini juga berfungsi sebagai bagian dari atap rongga mata.

18

Sinus frontalis mendapatkan perdarahan dari a.oftalmika melalui a.supraorbitadan supratrochlear. Aliran pembuluh vena melalui v.oftalmica superior menuju sinuskavernosus dan melalui vena-vena kecil di dalam dinding posterior yang mengalir kesinus dural. Sinus frontalis dipersarafi oleh cabang n V.1. secara khusus, nervus-nervus ini meliputi cabang supraorbita dan supratrochlear. d. Sinus Sfenoidalis Sinus sfenoidalis sangat unik karena tidak terbentuk dari kantong ronggahidung. Sinus ini dibentuk dalam kapsul rongga hidung dari hidung janin. Tidak berkembang sampai usia 3 tahun. Usia 7 tahun pneumatisasi telah mencapai sela turcica. Sinus mencapai ukuran penuh pada usia 18 tahun. Usia belasan tahun, sinus ini sudah mencapai ukuran penuh dengan volume 7,5 ml (23 x 20 x 17 mm). Pneumatisasi sinus ini, seperti sinus frontalis, sangat bervariasi. Secara umum merupakan struktur bilateral yang terletak posterosuperior dari rongga hidung. Dinding sinus sphenoid bervariasi ketebalannya, dinding anterosuperior dan dasar sinus paling tipis (1-1,5 mm). Dinding yang lain lebih tebal. Letak dari sinus oleh karena hubungan anatominya tergantung dengan tingkat pneumatisasi. Ostium sinus sfenoidalis bermuara ke recessus sfenoetmoidalis. Ukurannya sangat kecil (0,5 -4 mm) dan letaknya 10 mm di atas dasar sinus. Atap sinus sfenoid diperdarahi oleh a.ethmoid posterior, sedangkan bagian lainnya mendapat aliran darah dari a.sfenopalatina. Aliran vena melalui v.maksilaris ke v.jugularis dan pleksus pterigoid. sinus sfenoid dipersarafi oleh cabang n V.1 danV.2. n.nasociliaris berjalan menuju n.etmoid posterior dan mempersarafi atap sinus. Cabang-cabang n.sfenopalatina mempersarafi dasar sinus.

19

2.3 POLIP NASI 2.3.1 DEFINISI Polip nasi adalah massa lunak yang tumbuh di dalam rongga hidung yang terjadi akibat inflamasi mukosa. Kebanyakan polip berwarna putih bening atau keabu abuan, mengkilat, lunak karena banyak mengandung cairan (polip edematosa). Polip yang sudah lama dapat berubah menjadi kekuning kuningan atau kemerah merahan, suram dan lebih kenyal (polip fibrosa). Berdasarkan jenis sel peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2, yaitu polip tipe eosinofilik dan polip tipe neutrofilik. Polip eosinofilik merupakan polip yang penyebabnya adalah karena reaksi alergi. Pada pemeriksaan polip tampak berwarna lebih hiperemis, lebih edemaa karen mengandung banyak cairan, dan biasanya bilateral. Sedangkan polip neutrofilik merupakan polip yang penyebabnya adalah karena infeksi kronik hidung. Pada pemeriksaan polip tampak berwarna lebih putih dan biasanya terdapat pada sisi hidung yang mengalami infeksi. Polip kebanyakan berasal dari mukosa sinus etmoid, biasanya multipel dan dapat bilateral. Polip yang berasal dari sinus maksila sering tunggal dan tumbuh ke arah belakang, muncul di nasofaring dan disebut polip koanal.

2.3.2

ETIOLOGI Dulu diduga predisposisi timbulnya polip nasal ialah adanya

rhinitis alergi atau penyakit atopi, tetapi makin banyak penelitian yang mengemukakan berbagai teori dan para ahli sampai saat ini menyatakan bahwa etiologi polip nasi masih belum diketahui dengan pasti. Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Polip berasal dari pembengkakan lapisan

20

permukaan mukosa hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah. Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang pada anak anak. Pada anak anak, polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis. Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain: 1. Alergi terutama rinitis alergi. 2. Sinusitis kronik. 3. Iritasi. 4. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum dan hipertrofi konka.

2.3.3

PATOFISIOLOGI Pada tingkat permulaan ditemukan edema mukosa yang

kebanyakan terdapat di daerah meatus medius. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler, sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid. Bila proses terus berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian akan turun ke dalam rongga hidung sambil membentuk tangkai, sehingga terbentuk polip. Pembentukan polip sering diasosiasikan dengan inflamasi kronik, disfungsi saraf otonom serta predisposisi genetik. Menurut teori Bernstein, terjadi perubahan mukosa hidung akibat peradangan atau aliran udara yang bertubulensi, terutama didaerah yang sempit di kompleks osteomeatal. Terjadi prolaps submukosa yang diikuti oleh reepitelisasi dan

pembentukan kelenjar baru. Juga terjadi peningkatan penyerapan natrium oleh permukaan sel epitel yang berakibat retensi air sehingga terbentuk polip. Teori lain mengatakan karena ketidakseimbangan saraf vasomotor terjadi peningkatan permeabilitas kapiler dan gangguan regulasi vaskular

21

yang mengakibatkan dilepasnya sitokin-sitokin dari sel mast, yang akan menyebabkan edema dan lama-kelamaan menjadi polip. Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama. Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu yang lama, vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa. Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip. Biasanya terjadi di sinus maksila, kemudian sinus etmoid. Setelah polip terrus membesar di antrum, akan turun ke kavum nasi. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam kavum nasi, polip akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media

2.3.4

GEJALA KLINIS Gejala utama yang ditimbulkan oleh polip hidung adalah rasa

sumbatan di hidung. Sumbatan ini tidak hilang timbul dan makin lama semakin berat keluhannya. Pada sumbatan yang hebat dapat menyebabkan gejala hiposmia atau anosmia. Bila polip ini menyumbat sinus paranasal, maka sebagai komplikasinya akan terjadi sinusitis dengan keluhan nyeri kepala dan rinore. Bila penyebabnya adalah alergi, maka gejala yang utama ialah bersin dan iritasi di hidung. Pada rinoskopi anterior polip hidung seringkali harus dibedakan dari konka hidung yang menyerupai polip (konka polipoid). Perbedaan antara polip dan konka polipoid ialah : Polip : Bertangkai Mudah digerakkan Konsistensi lunak

22

Tidak nyeri bila ditekan Tidak mudah berdarah Pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin) tidak mengecil.

2.3.5

DIAGNOSIS Anamnesis Keluhan utama penderita polip nasi ialah hidung terasa

tersumbat dari yang ringan sampai yang berat, rinore mulai yang jernih samapai purulen, hiposmia atau anosmia. Mungkin disertai bersinbersin, rasa nyeri pada hidung disertai sakit poada kepala bagian frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin disertai post nasal drip dan rinore purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul ialah bernafas melalui mulut, suara sengau, halitosis, gangguan tidur, dan penurunan kualitas hidup. Dapat menyebabkan gejala pada saluran napas bawah, berupa batuk kronik dan mengi, terutama pada penderita polip nasi dengan asma. Selain itu harus ditanyakan riwayat rhinitis alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan alergi obat lainnya serta alergi makanan. Pemeriksaan Fisik Polip nasi yang masif dapat menyebabkan deformitas hidung luar sehingga hidung tampak mekar karena pelbaran batang hidung. Pada pemeriksaan rhinoskopi anterior terlihat sebagai massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius dan mudah digerakkan. Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997): Stadium 1 Stadium 2 : Polip masih terbatas di meatus medius : Polip sudah keluar dari meatus medius, tampak di rongga hidung tapi belum memenuhi rongga hidung

23

Stadium 3

: Polip yang masif, memenuhi seluruh rongga hidung

Pemeriksaan Penunjang Naso-endoskopi Adanya fasilitas endoskop (teleskop) akan asngat

membantu diagnosis kasus polip yang baru. Polip stadium 1 dan 2 kadang-kadang tidak terlihat pada pemeriksaan rhinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi. Pada kasus polip koanal juga sering dapat dilihat tangkai polip yang berasal dari ostium asesorius sinus maksila. Pemeriksaan radiologi Foto polos sinus paranasal (posisi waters, AP, Caldwell, dan lateral) dapat memperlihatkan penebalam mukosa dan adanya batas udara-cairan di dalam sinus, tetapi kurang bermanfaat pada kasus polip. Pemeriksaan tomografi komputer (TK, CT scan) sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip, atau sumbatan pada kompleks ostiomeatal. TK terutama diindikasikan pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis pada

perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi.

2.3.6

DIAGNOSIS BANDING Polip didiagnosa bandingkan dengan konka polipoid, yang ciri

cirinya sebagai berikut : Tidak bertangkai Sukar digerakkan Nyeri bila ditekan dengan pinset Mudah berdarah Dapat mengecil pada pemakaian vasokonstriktor (kapas adrenalin). Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan konka polipoid, terutama dengan

24

pemberian

vasokonstriktor

yang

juga

harus

hati

hati

pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik, maningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya.

2.3.7

PENATALAKSANAAN Untuk polip edematosa, dapat diberikan pengobatan kortikosteroid:

a. Oral, misalnya prednison 50 mg/hari atau deksametason selama 10 hari, kemudian dosis diturunkan perlahan lahan (tappering off). b. Suntikan intrapolip, misalnya triamsinolon asetonid atau prednisolon 0,5 cc, tiap 5 7 hari sekali, sampai polipnya hilang. c. Obat semprot hidung yang mengandung kortikosteroid, merupakan obat untuk rinitis alergi, sering digunakan bersama atau sebagai lanjutan pengobatn kortikosteroid per oral. Efek sistemik obat ini sangat kecil, sehingga lebih aman. Tujuan utama pengobatan pada kasus polip nasi ialah menghilangkan keluhan-keluhan, mencegah komplikasi, dan mencegah rekurensi polip. Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi-medikamentosa. Dapat diberikan topikal atau sistemik. Polip tipe eosinofilik memberikan respons yang lebih baik terhadap pengobatan kortikosteroid intranasal dibandingkan polip tipe neutrofilik. Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip yang sangat masif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Dapat dilakukan ekstraksi polip (polipektomi) menggunakan senar polip atau cunam dengan analgesi lokal, ethmiodektomi intranasal atau ethmoidektomi ekstranasal untuk polip ethmoid, operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan BSEF (Bedah Sinus Endoskopi Fungsional)

25

2.3.8

PROGNOSIS Polip hidung sering tumbuh kembali, oleh karena itu

pengobatannya juga perlu ditujukan kepada penyebabnya, misalnya alergi. Terapi yang paling ideal pada rinitis alergi adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab dan eliminasi. Secara medikamentosa, dapat diberikan antihistamin dengan atau tanpa dekongestan yang berbentuk tetes hidung yang bisa mengandung kortikosteroid atau tidak. Dan untuk alergi inhalan dengan gejala yang berat dan sudah berlangsung lama dapat dilakukan imunoterapi dengan cara desensitisasi dan hiposensitisasi, yang menjadi pilihan apabila pengobatan cara lain tidak memberikan hasil yang memuaskan.

2.3.9

KOMPLIKASI Sinusitis Kelainan bentuk hidung Obstructive sleep syndrome SSP Meningitis, perdarahan intrakranial, absesotak, hernisasi otak. Mata Kebutaan, trauma nervus opticus, orbital hematoma, trauma otot-otot mata bisa menyebabkan diplopia, trauma yang mengenai duktus nasolakrimalis dapat menyebabkan epiphora Perdarahan Kematian

Komplikasi operasi : -

26

2.4 SINUSITIS 2.4.1 DEFINISI Sinusitis adalah peradangan pada mukosa sinus paranasalis. Sinusitis diberi nama sesuai dengan sinus yang terkena. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis. Bila mengenai semua sinus paranasalis disebut pansinusitis.

2.4.2

ETIOLOGI Sinusitis dapat disebabkan oleh :

1. Bakteri Streptococcus pneumoniae, Haemophillus influenza, Streptococcus group A, Staphylococcus aureus, Neisseria, Klebsiella, Basil gram negatif, Pseudomonas. 2. Virus Rhinovirus, influenza virus, parainfluenza virus 3. Bakteri anaerob Fusobakteria 4. Jamur

2.4.3

PATOFISIOLOGI Infeksi virus akan menyebabkan terjadinya udem pada dinding

hidung dan sinus sehingga menyebabkan terjadinya penyempitan pada ostium sinus, dan berpengaruh pada mekanisme drainase di dalam sinus. Virus tersebut juga memproduksi enzim dan neuraminidase yang mengendurkan mukosa sinus dan mempercepat difusi virus pada lapisan mukosilia. Hal ini menyebabkan silia menjadi kurang aktif dan sekret yang diproduksi sinus menjadi lebih kental, yang merupakan media yang sangat baik untuk berkembangnya bakteri patogen. Adanya bakteri dan lapisan mukosilia yang abnormal meningkatkan kemungkinan terjadinya reinfeksi atau reinokulasi dari virus. Konsumsi oksigen oleh bakteri akan menyebabkan keadaan hipoksia di dalam sinus dan akan memberikan media yang mengun-

27

tungkan untuk berkembangnya bakteri anaerob. Penurunan jumlah oksigen juga akan mempengaruhi pergerakan silia dan aktiviitas leukosit. Pada dasarnya, faktor-faktor lokal yang memunkinkan penyembuhan mukosa sinus yang terinfeksi adalah drainase dan ventilasi yang baik. Jika faktor anatomi atau faal menyebabkan kegagalan drainase dan ventilasi sinus serta patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens mukosilier di dalam kompleks osteomeatal (KOM). Organ-organ yang membentuk KOM letaknya berdekatan dan bila terjadi edema, mukosa yang berhadapan akan saling bertemu sehingga silia tidak dapat bergerak dan ostium tersumbat. Akibatnya terjadi tekanan negatif di dalam rongga sinus yang menyebabkan transudasi. Kondisi ini bisa dianggap sebagai rinosinusitis non-bakterial dan biasanya sembuh dalam beberapa hari tanpa pengobatan, bila kondisi ini menetap, sekret yang terkumpul dalam sinus merupaka media baik untuk tumbuhnya dan multiplikasi bakteri. Keadaan ini disebut rinosinusitis akut bakterial. Sinusitis kronis adalah sinusitis yang berlangsung selama beberapa bulan atau tahun. Terjadi perubahan patologik membran mukosa berupa infiltrat polimorfonuklear, kongesti vaskuler dan deskuamasi epitel permukaan yang semuanya reversibel. Sinusitis kronis dapat disebabkan oleh fungsi lapisan mukosilia yang tidak adekuat, obstruksi sehingga drainase sekret terganggu, dan terdapatnya beberapa bakteri patogen. Kegagalan pengobatan sinusitis akut atau berulang secara adekuat akan menyebabkan regenerasi epitel permukaan bersilia yang tidak lengkap, akibatnya terjadi kegagalan mengeluarkan sekret sinus dan menciptakan predisposisi bakteri. Sumbatan drainase dapat pula ditimbulkan oleh perubahan struktur ostium sinus atau oleh lesi dalam rongga hidung seperti hipertrofi adenoid, tumor hidung dan nasofaring dan suatu septum deviasi.

2.4.4

FAKTOR PREDISPOSISI Telah diketahui bahwa berbagai faktor fisik, kimia, saraf hormonal

dan emosional dapat mempengaruhi mukosa hidung dan sinus. Secara

28

umum sinusitis kronis lebih lazim pada iklim yang dingin dan basah. Defisiensi gizi, daya tahan tubuh dan penyakit sistemik umum dapat pula dipertimbangkan. Faktor-faktor lingkungan, misalnya dingin, panas, kelembaban dan kekeringan, polutan seperti asap rokok dapat menyebabkan perubahan mukosa dan merusak silia. Paparan terhadap infeksi seperti common cold yang berulang juga dapat menjadi predisposisi. Faktor lokal yakni adanya obstruksi mekanis seperti deviasi septum, corpus alienum, polip, tumor dan hipertrofi konka yang akan menyebabkan gangguan terhadap drainase sinus. Faktor infeksi seperti rhinitis kronis dan rhinitis alergi yang menyebabkan obstruksi ostium sinus serta menghasilkan banyak lendir yang merupakan media yang baik untuk pertumbuhan kuman, selain itu predisposisi lain yang paling sering berkaitan dengan rhinitis alergi adalah polip nasal yang merupakan komplikasi pada rhinitis alergi dan dapat menyebabkan obstruksti total ostium sinus. Pada anak, hipertrofi adenoid merupakan fakor penting penyebab sinusitis, adanya infeksi pada gigi terutama pada gigi-gigi yang akarnya berkaitan dengan dasar sinus maxillaris dapat merupakan predisposisi yang penting pada sinusitis kronis.

2.4.5

GEJALA SINUSITIS Keluhan utama rinosinusitis aku adalah hidung tersumbat disertai

nyeri dan nyeri tekan pada muka. Terdapat gejala keluar ingus purulen yang sering turun ke tenggorokan (post nasal drip) dan dapat juga disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu. Keluhan nyeri atau rasa tekanan di daerah sinus yang terkena merupakan ciri khas sinusitis akut. Letak nyeri dapat membantu membedakan lokasi sinus yang terkena. Gejala lain adalah sakit kepala, hipoosmia atau anosmia, halitosis, post nasal drip yang dapat menyebabkan batuk dan sesak pada anak. Gejala sinusitis kronik umumnya tidak jelas, pada saat eksaserbasi akut gejala-gejala mirip dengan sinusitis akut, di luar masa itu gejala

29

berupa perasaan penuh pada wajah dan hidung, hipersekresi yang seringkali mukopurulen. Kadang-kadang terdapat nyeri kepala, hidung tersumbat dan adanya gejala-gejala faktor predisposisi seperti rhinitis alergi yang menetap. Didapati juga rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorok, pendengaran dapat terganggu karena oklusi tuba eustachii. Infeksi pada mata yang menjalar dari duktus nasolakrimalis dan gastroenteritis ringan pada anak akibat mukopus yang tertelan.

2.4.5.1 Sinusitis maksillaris Sinusitis maksillaris akut biasanya menyusul suatu infeksi saluran napas atas yang ringan, alergi hidung kronik, benda asing dan deviasi septum nasi merupakan faktor-faktor predisposis lokal yang paling sering ditemukan. Gejala sinusitis maksilaris akut ditandai dengan demam, malaise, nyeri kepala yang tak jelas, sakit dirasa mulai dari pipi (di bawah kelopak mata) dan menjalar ke dahi atau gigi, umumnya sakit dirasa bertambah saat menunduk. Seringkali wajah terasa bengkak dan penuh, nyeri pipi yang khas: tumpul dan menusuk, serta sakit pada palpasi dan perkusi. Kadang ada batuk iritatif non-produktif serta pengeluaran sekret yang mukopurulen yang dapat keluar dari hidung dan kadang berbau busuk dan adanya pus atau sekret mukopurulen di dalam hidung, yang berasal dari metus media, dan nasofaring. Sinusitis maksillaris dapat berkaitan dengan gangguan gigi, penyebab terseringnya adalah ekstraksi gigi molar pertama atau infeksi gigi lainnya seperti abses apikal atau penyakit periodontal. Mengingat dasar sinus maksila adalah prosesus alveolaris tempat akar gigi rahang atas, sehingga rogga sinus maksila hanya terpisahkan oleh tulang tipis dengan akar gigi. Infeksi gigi rahang atas mudah menyebar secara langsung ke sinus atau melalui pembuluh limfe. Perlu dicurigai adanya sinusitis dentogen pada sinusitis maksilaris kronis yang mengenai satu sisi dengan ingus puruen dan nafas berbau busuk.

30

Pada pemeriksaan fisik akan tampak adanya pus dalam hidung, biasanya dari meatus media, atau pus atau sekret mukopurulen dalam nasofaring. Transiluminasi berkurang bila sinus penuh cairan, gambaran radiologi sinusitis maksilaris akut mula-mula berupa penebalan mukosa selanjutnya diikuti opasifikasi sinus lengkap akibat mukosa yang yang membengkak atau akibat akumulasi cairan yang memenuhi sinus, akhirnya terbentuk gambaran air-fluid level yang khas.

Gambar 5 radiogram sinus maksilaris (posisi Waters)

2.4.5.2 Sinusitis ethmoidalis Sinusitis ethmoidalis akut terisolasi lebih sering pada anak, sedangkan pada dewasa seringkali bersama-sama dengan sinusitis maksillaris dan sinusitis frontalis, ditandai dengan nyeri dan nyeri tekan di antara kedua mata dan di atas jembatan hidung menjalar ke arah temporal. Nyeri sering dirasakan di belakang bola mata dan bertambah apabila mata digerakkan, dapat juga didapati sumbatan pada hidung, mukosa hidung hiperemis dan udem dan adanya pus dalam rongga hidung yang berasal dari meatus media.

2.4.5.3 Sinusitis frontalis Sinusitis frontalis hampir selalu bersamaan dengan sinusitis ethmoidalis anterior yang didasari oleh perkembangan sinus frontalis. Nyeri kepala yang khas di atas alis mata, timbul biasanya pada pagi hari, memburuk pada tengah hari dan berangsur angsur hilang pada

31

malam hari. Nyeri dirasakan saat dahi disentuh dan terdapat pembengkakan derah supraorbita. Tanda patognomonik adalah nyeri hebat pada palpasi atau perkusi daerah sinus yang terinfeksi. Transiluminasi dapat terganggu, dan radiogram sinus

memastikan adanya penebalan periosteum atau kekeruhan sinus menyeluruh, atau suatu air-fluid level.

2.4.5.4 Sinusitis sphenoidalis Sinusitis sphenoidalis akut terisolasi amat jarang. Gejalanya ditandai dengan nyeri kepala dan retro orbita yang menjalar ke verteks atau oksipital. Seringnya ini menjadi bagian dari pansinusitis dan gejalanya menjadi satu dengan gejala sinus lainnya

2.4.6

DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik

dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior serta pemeriksaan naso-endoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih tepat dan dini. Tanda khas ialah adanya pus di meatus medius pada sinusitis maksilaris dan ethmoidalis anterior dan frontal, atau di meatus superior pada sinusitis ethmoidalis. Pada rinosinusitis akut tampak mukosa edema dan hiperemis. Pemeriksaan penunjang yang paling membantu adalah

pemeriksaan foto polos atau CT scan. CT scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasaannya. Pemeriksaan penunjang yang dapat membantu menegakkan diagnosis sinusitis antara lain :

2.4.6.1 Transiluminasi Transiluminasi menggunakan angka sebagai parameternya. Transiluminasi akan menunjukkan angka 0 atau 1 apabila terjadi sinusitis (sinus penuh dengan cairan), pada pemeriksaan ini sinus yang sakit akan tampak suram dan gelap.

32

2.4.6.2 Rontgen sinus paranasalis Sinusitis akan menunjukkan gambaran berupa 1. Penebalan mukosa, 2. Opasifikasi sinus ( berkurangnya pneumatisasi) 3. Gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada foto Waters.

2.4.6.3 CT Scan CT Scan adalah pemeriksaan yang dapat memberikan gambaran yang paling baik akan adanya kelainan pada mukosa dan variasi antominya yang relevan untuk mendiagnosis sinusitis kronis maupun akut.

2.4.6.4 Sinoscopy Sinoscopy merupakan satu-satunya cara yang memberikan informasi akurat tentang perubahan mukosa sinus, jumlah sekret yang ada di dalam sinus, dan letak dan keadaan dari ostium sinus. Pemeriksaan ini dikerjakan dengan pungsi menembus dinding medial sinus maksilaris mealui meatus inferior, dengan alat endoskop dapat dilihat kondisi sinus yang sebenarnya, sekaligus dapat dilakukan irigasi sinus untuk terapi.

2.4.6.5 Pemeriksaan mikrobiologi Biakan yang berasal dari hidung bagian posterior dan nasofaring biasanya lebih akurat dibandingkan dengan biakan yang berasal dari hidung bagian anterior. Namun demikian, pengambilan biakan hidung posterior juga lebih sulit. Dalam interpretasi biakan hidung harus hati-hati interpretasinya, biakan dari sinus maksilaris dapat dianggap benar, namun pus tersebut berlokulasi dalam suatu rongga tulang, sebaliknya, suatu

33

biakan dari hidung depan, akan menunjukkan organisme dalam vestibulum nasi termasuk flora normal seperti staphylococcus dan beberapa coccus gram negatif positif yang tidak ada kaitannya dengan bakteri yang menimbulkan sinusitis. Biakan dari bagian posterior hidung atau nasofaring akan jauh lebih akurat. Biakan bakteri spesifik pada sinusitis dilakukan dengan irigasi maksilaris.

2.4.7

KOMPLIKASI Komplikasi sinusitis telah menurun nyata sejak diberikannya

antibiotik, komplikasi berat basanya terjadi pada sinusitis akut atau pada sinusitis kronis dengan eksaserasi akut berupa komplikasi orbita atau intrakranial. 1. Komplikasi orbita Terutama disebabkan oleh sinusitis ethmoidalis karena letaknya yang berdekatan dengan mata. Infeksi yang selanjutnya menyebabkan pembengkakan dan terkulai dari kelopak mata adalah komplikasi yang jarang tetapi serius sinusitis ethmoid. Dalam kasus ini, pasien kehilangan gerakan mata, dan tekanan pada saraf optik dapat menyebabkan kehilangan penglihatan, yang kadang-kadang permanen. Penyebaran infeksi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum, kelainan yang dapat ditimbulkan antara lain : a. Edema palpebra Terjadi pada isi orbita akibat infeksi sinus ethmoidalis. b. Selulilitis orbita Edema bersifat difus dan bakteri telah secara aktif mengivasi isi orbita namun pus belum terbentuk. c. Abses subperiosteal Pus terkumpul di antara periorbita dan dinding tulang oebita menyebabkan proptosis dan kemosis. d. Abses orbita

34

Pus telah menembus periosteum dan becampur dengan isi orbita. e. Trombosis sinus cavernosus Merupakan akibat penyebaran bakteri melalui sistem balik vena ke dalam sinus kavernosus. Secara patognomonik, trombosis sinus kavernosus terdiri dari oftalmoplegia, kemosis konjungtiva, ganggauan penglliatan yang berat dan tanda-

tanda meningitis oleh karena letaknya yang berdekatan dengan nervus I, III, IV dan VI. 2. Kelainan intrakranial Seain trombosis sinus kavernosus, salah satu komplikasi sinusitis yang berat adalah meningitis akut. Infesi dari sinus paranasalis dapat menyebar sepanjang vena atau langsung dari sinus yang berdekatan. Selain itu dapat terjadi abses extradural, subdural dan intracerebral dimana akan terdapat kumpulan pus pada masing-masing ruang, proses ini seringkali mengikuti proses sinusitis frontalis. 3. Osteomieitis dan abses subperiosteal Penyebab tersering osteomielitis dan abses subperiosteal pada os frontalis adalah infeksi sinus frontalis. Nyeri dan nyeri tekan dahi setempat sangat berat, terdapat pembengkakan di atas alis mata dan bertambah berat bila terbentuk abses. Radiogram menunjukkan erosi batas ulang dan hilangnya septu intrasinus dalam sinus yang keruh

2.4.8

PENATALAKSANAAN Tujuan terapi sinusitis adalah 1) mempercepat penyembuhan 2)

mencegah komplikasi dan 3) mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami. Terapi primer dari sinusitis akut adalah secara medikamentosa dimana antibiotika dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial

35

2.4.8.1 Medikamentosa 1. Antibiotika Antibiotika yang sering diberikan adalah golongan penicillin seperti amoxicillin. Dapat juga diberikan amoxicillin-klavulanat bila diduga sudah resisten terhadap beta laktamase. Pada sinusitis maksilaris akut umumnya dapat diterapi dengan antibiotik spektrum luas. Dapat juga diberikan erythromicin plus sulfonamid dengan alternatif berupa amoksisilin-klavulanat, sefuroksim dan trimetoprim plus sullfonamid. Pemberian antibiotik dilakukan selalu 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang. Pada sinusitis kronik diberikan antibiotik yang seusai untuk kuman gram negatif dan anaerob. 2. Analgetik Rasa sakit yang disebabkan oleh sinusitis dapat hilang dengan pemberian analgetik non steroid seperti asam mefenamat dan aspirin. 3. Dekongestan Pemberian dekongestan seperti pseudoefedrin, dan tetes hidung poten seperti fenilefrin dan oksimetazolin berguna untuk mengurangi udem sehingga dapat terjadi drainase sinus. 4. Kortikosteroid Kortikosteroid merupakan obat yang paling efektif untuk mengurangi udem pada mukosa yang berkaitan dengan infeksi.

2.4.8.2 Nonmedikamentosa 1. Irigasi antrum Indikasinya adalah apabila ketiga terapi medikamentosa gagal, dan ostium sinus sedemikian udematosa sehingga terbentuk abses sejati. Kegagalan penyembuhan dengan suatu terapi aktif mungkin menunjukkan organisme resisten terhadap antibiotik, atau antibiotik gagal mencapai lokasi infeksi, yang merupakan indikasi irigasi antrum segera. Irigasi antrum maksilaris dilakukan dengan mengalirkan larutan salin hangat melalui bawah konka inferior, setelah sebelumnya dilakukan koakinisasi membran mukosa, atau melalui jalur alternatif

36

melalui fossa incisivus ke dalam antrum maksillaris. Caian ini kemudian akan mendorong pus untuk keluar melalui ostium normal. 2. Nasal toilet Pembersihan hidung dan sinus dari sekret yang kental dapat dilakukan dengan saline sprays atau irigasi. Cara yang efektif dan murah adalah dengan menggunakan canula dan Higgisons syringe 3. Pembedahan Pembedahan dilakukan apabila pengobatan dengan

medikamentosa sudah gagal. Indikasi dilakukan pembedahan adalah : 1. sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat 2. sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel 3. polip ekstensif 4. adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur. Pembedahan radikal dilakukan dengan mengangkat mukosa yang patologik dan membuat drainase dari sinus yang terkena. Tindakan bedah sederhana pada sinusitis maksilaris kronik adalah membuat suatu lubang drainase yang memadai, prosedur yang paling lazim adalah nasoatrostomi atau pementukan fenestra nasoantral. Suatu prosedur yang lebih radikal adalah dilakukan operasi Caldwell Luc dimana epitel rongga sinus maksillaris diangkat seluruhnya dan pada akhir prosedur dilakukan antrostomi untuk dilakukan dainase. Pada sinusitis ethmoid dilakukan etmoidektomi yaitu dengan cara mengangkat pemisah sel-sel udara ethmodalis anterior sehingga terbentuk satu sel yang besar yang bermuara pada meatus media. Pembedahan tidak radikal yang akhir akhir ini sedang dikembangkan adalah menggunakan endoskopi yang disebut Bedah Sinus Endoskopi Fungsional. Prisnsipnya adalah membuka daerah osteomeatal kompleks yang menjadi sumber penyumbatan dan infeksi sehingga ventilasi dan drainase sinus dapat lancar kembali melaui ostium alami. Bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF) atau Functional Endoscopic Sinus Surgery (FESS) adalah teknik operasi pada sinus

37

paranasal dengan menggunakan endoskop yang bertujuan memulihkan mucociliary clearance dalam sinus. Prinsipnya ialah membuka dan membersihkan daerah kompleks osteomeatal yang menjadi sumber penyumbatan dan infeksi sehingga ventilasi dan drenase sinus dapat lancar kembali melalui ostium alami. Dibandingkan dengan prosedur operasi sinus sebelumnya yang bersifat invasif radikal seperti operasi Caldwel-Luc, fronto-

etmoidektomi eksternal dan lainnya, maka BSEF merupakan teknik operasi invasif yang minimal yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1960 oleh Messerklinger dan kemudian dipopulerkan di Eropa oleh Stammberger dan di Amerika oleh Kennedy. Sejak tahun 1990 sudah mulai diperkenalkan dan dikembangkan di Indonesia. Indikasi umumnya adalah untuk rinosinusitis kronik atau rinosinusitis akut berulang dan polip hidung yang telah diberi terapi medikamentosa yang optimal. Indikasi lain BSEF termasuk

didalamnya adalah rinosinusitis dengan komplikasi dan perluasannya, mukokel, sinusitis alergi yang berkomplikasi atau sinusitis jamur yang invasif dan neoplasia. Dengan alat endoskop maka mukosa yang sakit dan polip-polip yang menyumbat diangkat sedangkan mukosa sehat tetap

dipertahankan agar transportasi mukosilier tetap berfungsi dengan baik sehingga terjadi peningkatan drenase dan ventilasi melalui ostiumostium sinus. Teknik bedah BSEF sampai saat ini dianggap sebagai terapi terkini untuk sinusitis kronis dan bervariasi dari yang ringan yaitu hanya membuka drenase dan ventilasi kearah sinus maksilaris sampai kepada pembedahan lebih luas membuka seluruh sinus (frontosfeno-etmoidektomi). Teknik bedah endoskopi ini kemudian

berkembang pesat dan telah digunakan dalam terapi bermacam-macam kondisi hidung, sinus dan daerah sekitarnya. Keuntungan dari teknik BSEF, dengan penggunaan beberapa alat endoskop bersudut dan sumber cahaya yang terang, maka kelainan dalam rongga hidung, sinus dan daerah sekitarnya dapat tampak jelas.

38

Dengan demikian diagnosis lebih dini dan akurat serta operasi lebih bersih dan teliti, sehingga memberikan hasil yang optimal. Pasien juga diuntungkan karena morbiditas pasca operasi yang minimal.

Penggunaan endoskopi juga menghasilkan lapang pandang operasi yang lebih jelas dan luas yang akan menurunkan komplikasi bedah.

39

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan Polip nasi merupakan salah satu penyakit THT yang memberikan keluhan sumbatan pada hidung yang menetap dan semakin lama semakin berat dirasakan. Etiologi polip di literatur terbanyak merupakan akibat reaksi

hipersensitivitas yaitu pada proses alergi, sehingga banyak didapatkan bersamaan dengan adanya rinitis alergi. Pada anamnesis pasien, didapatkan keluhan obstruksi hidung, anosmia, adanya riwayat rinitis alergi, keluhan sakit kepala daerah frontal atau sekitar mata, adanya sekret hidung. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior ditemukan massa yang lunak, bertangkai, mudah digerakkan, tidak ada nteri tekan dan tidak mengecil pada pemberian vasokonstriktor lokal. Penatalaksanaan untuk polip nasi ini bisa secara konservatif maupun operatif, yang biasanya dipilih dengan melihat ukuran polip itu sendiri dan keluhan dari pasien sendiri. Polip nasi sering akan tumbuh kembali, oleh karena itu pengobatan juga perlu ditujukan kepada penyebabnya. Pada kasus polip dengan faktor predisposisi alergi, terapi yang paling ideal dari rhinitis alergi adalah menentukan faktor pencetus alergi yang dapat dilakukan dengan melakukan tes cukit kulit, selanjutnya setelah faktor pencetus diketahui hal yang paling penting dilakukan adalah menghindari kontak dengan alergen penyebab (aviodance) dan eliminasi. Diberikan terapi medikamentosa sesuai dengan klasifikasi rhinitis alergi berdasarkan sifat berlangsungnya serangan alergi. Untuk rhinitis alergi intermiten ringan diberikan antihistamin oral atau topikal, untuk rhinitis alergi intermiten sedang/berat dan rhinitis alergi persisten ringan diberikan antihistamin oral/topikal atau kortikosteroid topikal, sedangkan untuk rhinitis alergi persisten sedang/berat diberikan kortikosteroid topikal yang di evaluasi setelah 2-4 minggu. Jika tidak ada perbaikan dengan terapi 40

konservatif, pikirkan tindakan lain seperti pemberian imunoterapi atau terapi operatif. Pada kasus polip dengan faktor predisposisi infeksi kronik seperti sinusitis diberikan antibiotik serta dekongestan yang merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial. Pada kasus polip dengan faktor predisposisi akibat kelainan anatomi seperti septum deviasi, agar angka kejadian polip rekurensi berkurang dapat dipikirkan terapi operatif seperti reseksi submukosa atau septoplasti. Sinusitis adalah peradangan pada mukosa sinus paranasalis. Sinusitis diberi nama sesuai dengan sinus yang terkena. Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis. Bila mengenai semua sinus paranasalis disebut pansinusitis. Keluhan utama rinosinusitis aku adalah hidung tersumbat disertai nyeri dan nyeri tekan pada muka. Terdapat gejala keluar ingus purulen yang sering turun ke tenggorokan (post nasal drip), dapat juga disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu. Pemeriksaan penunjang yang paling membantu adalah pemeriksaan foto polos atau CT scan. CT scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasaannya. Tujuan terapi sinusitis adalah 1) mempercepat penyembuhan 2) mencegah komplikasi dan 3) mencegah perubahan menjadi kronik. Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drenase dan ventilasi sinus-sinus pulih secara alami. Terapi primer dari sinusitis akut adalah secara medikamentosa dimana antibiotika dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bakterial. Indikasi dilakukan pembedahan adalah : 1) sinusitis kronik yang tidak membaik setelah terapi adekuat 2) sinusitis kronik disertai kista atau kelainan yang ireversibel 3) polip ekstensif 4) adanya komplikasi sinusitis serta sinusitis jamur.

41

DAFTAR PUSTAKA
Adam, Boies, Higler.1997.Boies Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6 . Jakarta: EGC. Cummings, Charles W. Cummings Otolaringology Head and Neck Surgery, 4th ed. Elsevier Mosby : Pennsylvania. 2005. Guyton,AC, Hall,JE, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, 1997, editor: irawati setiawan, ed. 9, 1997, Jakarta: EGC. Hawke, Michael et all. 2002.Diagnostic Handbook of Otorhinolaryngology. New York: Material. Hal :91-155 Irawati N, Kasakeyan E, Rusmono N.2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi Keenam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Hal : 128-134. Lalwani, Anil K. 2008. Current Diagnosis and TreatmentOtolaryngology Head and Neck Surgery Second Edition.New York : Mc Graw Hill. Hal : 267 272 Sadler TW. Embriologi Kedokteran Langman. Edisi Ketujuh. Jakarta: EGC, 2000. hal. 339-40 Snow Jr, James B. Ballenger, John Jacob. 2003. Balllengers Otorhinolarynology Head and Neck Surgery Sixteenth Edition. Hamilton : BC Decker Inc. Hal : 708 739. Soejipto, Damayanti , Endang M, Retno S.2010.Hidung dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Edisi 6. Jakarta: FK UI Vogl W, Mitchell AWM. Grays Anatomy for Students. Philadelphia: Elsevier Inc, 2005.

42