Anda di halaman 1dari 2

a.

Augmented Reality dalam Dunia Pendidikan Penerapan teknologi AR saat ini sebenarnya sudah cukup luas, dan menurut Agora Media Group (2010) setidaknya sudah mencakup 17 bidang dan terus bertambah, termasuk dalam bidang pendidikan. 1 Dalam artikel 7 Things You Should Know About Augmented Reality (Educause, 2005) dituliskan mengenai potensi penerapan augmented reality dalam dunia pendidikan. Pendapat tersebut sejalan dengan kesimpulan Hannes Kaufmann dalam papernya yang berjudul Collaborative Augmented reality in Education. Dalam kedua tulisan tersebut diungkapkan bahwa seiring dengan kemajuan dalam perkembangan konsep pedagogis, aplikasi dan teknologi, dan penurunan biaya perangkat keras, penggunaan skala kecil teknologi augmented reality untuk lembaga pendidikan menjadi sangat memungkinkan dalam dekade ini (dengan asumsi pembangunan berkelanjutan di tingkat yang sama). Namun demikian, potensi teknologi ini membutuhkan perhatian yang seksama agar benar-benar dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan keberhasilan pendidikan. 2 Karen Hamilton dan Jorge Olenewa (2010:5) juga melihat berbagai potensi dan keuntungan dari penerapan teknologi augmented reality untuk pendidikan, antara lain menurut mereka yaitu:3 Menyediakan pembelajaran kontekstual yang kaya bagi individu dalam mempelajari suatu skill ( Provides rich contextual learning for individual learning a skill ). Merealisasikan konsep pendidikan dimana siswa memegang kendali proses pembelajaran mereka sendiri ( Appeals to constructivist notion of education where students take control of their own learning ). Membuka kesempatan dalam menciptakan pembelajaran yang lebih otentik dan dapat diterapkan dalam berbagai gaya pembelajaran (Provides opportunities for more authentic learning and appeals to multiple learning styles ).

Gianluigi Cuccuredu. 2010. 17 Field of Augmented Reality Application.(online). (http://agoramedia.co.uk/blog/category/augmented-reality-ar/17 Field of Augmented Reality Application.htm, diakses 1 September 2010) 2 Hannes Kaufmann, Collaborative Augmented reality in Education, 2012, p. 1, (http://citeseerx.ist.psu.edu) 3 Hamilton, Karen & Olenewa, Jorge. 2010. Augmented Reality in Education.(online), (http://www.authorstream.com/Presentation/ k3hamilton- 478823-augmented-reality-in-education/, diakses 21 Agustus 2010)

Memiliki kekuatan untuk menarik siswa dengan cara yang sebelumnya tidak memungkinkan ( Has the power to engage a learner in ways that have never been possible ). Memberikan kebebasan bagi siswa dalam melakukan proses penemuan dengan cara mereka sendiri ( Can provide each student with his/her own unique discovery path ). Tidak ada konsekuensi nyata (dengan kata lain aman bagi siswa) jika terjadi kesalahan saat kegiatan pembelajaran / pelatihan skill ( No real consequences [in other word: safe] if mistakes are made during learning / skills training ).

Masih menurut Hamilton dan Jorge, saat ini penelitian dalam penerapan augmented reality untuk pendidikan sudah banyak dilakukan, contohnya dalam skill training, discovery based learning, game based learning, modeling object, AR book, dan lain-lain. Namun penelitian-penelitian tersebut masih lebih fokus pada proses pengembangan (research and development) dan belum mengkaji dari sudut pandang ilmu pendidikan secara mendalam.