Anda di halaman 1dari 3

METODE GEOLISTRIK TAHANAN JENIS KONFIGURASI WENNER Lyana Ismadelani, Nisa Uswatun Hasanah, Nur Hidayah, Zaid Nasrullah

1210703018, 1210703021, 1210703023, 1210703037 Jurusan Fisika, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung ismadelanilyana@gmail.com Asisten: Wendra Aditya S Tanggal Eksperimen: 27 Desember 2012

ABSTRAK Metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi wenner merupakan metode dengan menganggap bumi sebagai resistor. Dengan mengetahui resistivitas suatu bahan, maka kandungan dalam bumi dapat diketahui tanpa harus menggalinya. Dengan menggunakan resistivitimeter, catu daya, voltmeter, amperemeter, software res2dv didapatkan untuk lapisan atas berwarna biru tua sampai biru muda dengan resistivitas 7.01, 34.4 dan 151dimana ini menunjukkan bahwa tanah ini mengandung bahan air tanah dan air asin. Dan juga untuk lapisan berwarna biru tua dimana nilai resistivitasnya berada diantara 34.4 hinga 7.81, mengindikasikan bahwa pada daerah tersebut terdapat material yang mengandung resistor, yaitu aluminium yang nilai resistivitas nya sebesar 27.29.Lapisan selanjutya dengan warna hijau muda sampai hijau tua dengan resitivitas 665 dan 2929 mengandung bahan pasir dan lempung. Lapisan paling dasar berwarna kuning hingga merah mengandung tanah liat dan kerikil.

Kata Kunci: geolistrik, datum, resistivitas, restodv I. Pendahuluan 1.1 Tujuan Tujuan dari dilakukannya eksperimen ini adalah untuk memahami prinsip hukum Ohm, memahami konsep tahanan jenis dan memahami cara menginterpretasi material yang terkandung di bawah permukaan tanah. 1.2 Tinjauan Pustaka Geolistrik adalah salah satu metode dalam geofisika yang mempelajari sifat aliran listrik di dalam bumi. Pendeteksian di atas permukaan meliputi pengukuran medan potensial, arus, dan elektromagnetik yang terjadi baik secara alamiah maupun akibat penginjeksian arus ke dalam bumi. Metode geolistrik yang terkenal antara lain : metode potensial diri (SP), arus telluric, magnetotelluric, elektromagnetik, IP (induced polarization), dan resistivitas (tahanan jenis). Pada Gambar 1 dapat dilihat sebaran arus pada permukaan akibat arus listrik yang dikirim ke bawah permukaan. Garis tegas menunjukkan arus yang dikirim mengalami respon oleh suatu lapisan yang homogenous. Sedangkan arus putus-putus menunjukkan arus normal dengan nilai yang sama. Garis-garis tersebut disebut dengan garis equipotensial. Gambar 1. Garis Equipotensial Dalam eksperimen ini, pembahasan dikhususkan pada metode geolistrik tahanan jenis. Pada metode geolistrik tahanan jenis, arus listrik diinjeksikan ke dalam bumi melalui dua elektroda arus (terletak diluar konfigurasi). Beda potensial yang terjadi diukur melalui dua elektroda potensial yang berada didalam konfigurasi. Dari hasil pengukuran arus dan beda potensial untuk setiap jarak elektroda tertentu, dapat ditentukan variasi harga hambatan jenis masing-masing lapisan di bawah titik ukur (titik sounding). Berdasarkan letak (konfigurasi) elektoda potensial dan elektroda arus, dikenal beberapa jenis konfigurasi metode resistivitas tahanan jenis yaitu : 1. Konfigurasi Schlumberger 2. Konfigurasi Wenner 3. Konfigurasi Double Dipole 4. Konfigurasi Pole-dipole (three point) 5. Konfigurasi Pole-pole Aliran konduksi arus listrik di dalam batuan/mineral digolongkan atas tiga macam yaitu konduksi dielektrik, konduksi elektrolitik, dan konduksi elektronik . Konduksi dielektrik terjadi jika batuan/mineral bersifat dielektrik terhadap aliran arus listrik (terjadi polarisasi muatan saat bahan dialiri listrik). Konduksi elektrolitik terjadi jika batuan/mineral bersifat porus dan pori-pori tersebut terisi cairan-cairan elektrolitik. Pada kondisi ini arus listrik dibawa oleh ion-ion elektrolit. Konduksi elektronik terjadi jika batuan/mineral mempunyai banyak elektron bebas sehingga arus listrik dialirkan dalam batuan/mineral oleh elektron bebas. Berdasarkan harga resistivitas listriknya, batuan/mineral digolongkan menjadi tiga yaitu : 1. Konduktor baik:

2. Konduktor buruk: 3. Isolator: Adapun nilai-nilai resistivitas material-material bumi dapat dilihat pada tabel 1. Material Resistivitas (m) Pirit 0.01-100 Kwarsa 500-800.000 Kalsit Garam Batu 30-0.0001 Granit 200-100.000 Andesit Basal 200-100.000 Gamping 500-10.000 Batu Pasir 200-8.000 Batu Tulis 20-2.000 Pasir 1-1.000 Lempung 1-100 Air Tanah 0.5-300 Air Asin 0.2 Magnetit 0.01-1.000 Kerikil Kering 600-10.000 Aluvium 10-800 Kerikil 100-600 Aluminium 27.29 Tembaga Tabel 1. Nilai Restisivitas Material Dalam melakukan eksplorasi tahanan jenis (resistivitas) diperlukan pengetahuan secara perbandingan posisi titik pengamatan terhadap sumber arus. Perbedaan letak titik tersebut akan mempengaruhi besar medan listrik yang akan diukur. Besaran koreksi terhadap perbedaan letak titik pengamatan tersebut dinamakan faktor geometri. Faktor geometri diturunkan dari beda potensial yang terjadi antara elektroda potensial MN yang diakibatkan oleh injeksi arus pada elektroda arus AB, yaitu dapat kita lihat pada gambar 2.

Wenner-Schlumberger dan dipol. Modifikasi dari bentuk konfigurasi Wenner dan konfigurasi Schlumberger dapat digunakan pada sistem konfigurasi yang menggunakan aturan spasi yang konstan dengan catatan faktor untuk konfigurasi ini adalah perbandingan jarak antara elektroda C1-P1 dan C2-P2 dengan spasi antara elektroda P1-P2. Dimana, a adalah jarak antara elektroda P1-P2. Konfigurasi ini secara efektif menjadi konfigurasi Schlumberger ketika faktor n menjadi 2 dan seterusnya. Sehingga ini sebenarnya merupakan kombinasi antara konfigurasi Wenner-Schlumberger yang menggunakan spasi elektroda yang konstan (seperti yang biasanya digunakan dalam penggambaran penampang resistivity 2D). Disamping itu cakupan horizontal lebih baik, penetrasi maksimum dari konfigurasi ini 15 % lebih baik dari konfigurasi Wenner. Dan untuk meningkatkan penyelidikan kedalaman maka jarak antara elektroda P1P2 ditingkatkan menjadi 2a dan pengukuran diulangi untuk n yang sama sampai pada elektroda terakhir, kemudian jarak antara elektroda P1-P2 ditingkatkan menjadi 3a. II. Metoda Percobaan Alat yang digunakan dalam eksperimen ini adalah resistivitimeter, satu pasang elektroda (elektroda potensial dan elektroda arus), catu daya, mistar, kabel capit buaya, voltmeter, amperemeter, software ms. excel dan software res2dv. Sebelum memulai eksperimen, alat dirangkai terlebih dahulu. Elektroda arus (C1C2) dan elektroda potensial (P1P2) dipasang pada tanah dengan diawali jarak sebesar 3cm hingga 15cm dimana spasi tiap elektroda nya berbeda. Dengan sumber menggunakan catu daya disambungkan ke resistivimeter diteruskan ke setiap elektroda. Amati berapa arus dan tegangan yang dihasilkan. Kemudian data diolah mengunakan software res2dv. III. Data dan Pengolahan Ada 5 spasi yang dilakukan pada eksperimen ini, yaitu spasi sebesar 3cm, 6cm, 9cm, 12cm dan 15cm. adapun data yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Gambar 2. Faktor Geometri Konfigurasi pengukuran yang biasa diunakan dalam kebumian yaitu konfigurasi Schlumberger, Wenner,

Gambar 3. Data dan Pengolahan IV. Pembahasan

Data yang diolah menggunakan software ms. excel kemudian diolah dengan menggunakan software res2dv. Adapun hasil yang diperoleh melalui software res2v adalah sebagai berikut:

Aditya S, Wendra, dkk. 2011. Metode Geolistrik Tahanan Jenis Konfigurasi Wenner. Bandung: Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati. Fian. 2011. Teori Dasar Geolistrik. Tersedia: http://bebebfian.blogspot.com/2011/04/teori-dasargeolistrik.html (diakses pada tanggal 28 Desember 2012 pukul 20.33)

Gambar 4. Kandungan Material Tanah yang Dintunjukkan Software Res2dv Untuk mengetahui kandungan dalam tanah, kita dapat mengetahuinya melalui resistivitas pada bahanya. Setiap warna mempresentasikan resistivitas yang berbeda. Restivitas paling kecil berwarna biru dan restivitas yang paling besar berwarna ungu. Dengan membandingkan nilai restisivitas yang diperoleh dengan tabel,dapat dilihat bahwa untuk lapisan atas berwarna biru tua sampai biru muda dengan resistivitas 7.01, 34.4 dan 151 mengandung bahan air tanah dan air asin. Dan juga untuk lapisan berwarna biru tua dimana nilai resistivitasnya berada diantara 34.4 hinga 7.81, mengindikasikan bahwa pada daerah tersebut terdapat material yang mengandung resistor, yaitu aluminium yang nilai resistivitas nya sebesar 27.29. Lapisan selanjutya dengan warna hijau muda sampai hijau tua dengan resitivitas 665 dan 2929 mengandung bahan pasir dan lempung. Lapisan paling dasar berwarna kuning hingga merah mengandung tanah liat dan kerikil. V. Kesimpulan Melalui gambar yang diperoleh dari software res2dv dapat dilihat bahwa lapisan atas berwarna biru tua sampai biru muda dengan resistivitas 7.01, 34.4 dan 151dimana ini menunjukkan bahwa tanah ini mengandung bahan air tanah dan air asin. Dan juga untuk lapisan berwarna biru tua dimana nilai resistivitasnya berada diantara 34.4 hinga 7.81, mengindikasikan bahwa pada daerah tersebut terdapat material yang mengandung resistor, yaitu aluminium yang nilai resistivitas nya sebesar 27.29.Lapisan selanjutya dengan warna hijau muda sampai hijau tua dengan resitivitas 665 dan 2929 mengandung bahan pasir dan lempung. Lapisan paling dasar berwarna kuning hingga merah mengandung tanah liat dan kerikil. Aplikasi hasil penelitian ini dapat diterapkan untuk melakukan pengidentifikasian pipa air minum, pipa minyak, serta penelusuran kabel listrik dan kabel telpon bawah tanah. Daftar Pustaka