Anda di halaman 1dari 12

KASUS ETIKA BISNIS INDOMIE DI TAIWAN

Kasus Indomie yang mendapat larangan untuk beredar di Taiwan karena disebut mengandung bahan pengawet yang berbahaya bagi manusia dan ditarik dari peredaran. Zat yang terkandung dalam Indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik. Pada hari Jumat (08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie. Kasus Indomie kini mendapat perhatian Anggota DPR dan Komisi IX akan segera memanggil Kepala BPOM Kustantinah. Kita akan mengundang BPOM untuk menjelaskan masalah terkait produk Indomie itu, secepatnya kalau bisa hari Kamis ini, kata Ketua Komisi IX DPR, Ribka Tjiptaning, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (12/10/2010). Komisi IX DPR akan meminta keterangan tentang kasus Indomie ini bisa terjadi, apalagi pihak negara luar yang mengetahui terlebih dahulu akan adanya zat berbahaya yang terkandung di dalam produk Indomie. Dessy Ratnaningtyas, seorang praktisi kosmetik menjelaskan, dua zat yang terkandung di dalam Indomie yaitu methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat) adalah bahan pengawet yang membuat produk tidak cepat membusuk dan tahan lama. Zat berbahaya ini umumnya dikenal dengan nama nipagin. Dalam pemakaian untuk produk kosmetik sendiri pemakaian nipagin ini dibatasi maksimal 0,15%. Ketua BPOM Kustantinah juga membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus Indomie ini. Kustantinah menjelaskan bahwa Indomie

mengandung nipagin, yang juga berada di dalam kecap dalam kemasam mie instan

tersebut, tetapi kadar kimia yang ada dalam Indomie masih dalam batas wajar dan aman untuk dikonsumsi, lanjut Kustantinah. Tetapi bila kadar nipagin melebihi batas ketetapan aman untuk di konsumsi yaitu 250 mg/kg untuk mie instan dan 1.000 mg/kg nipagin dalam makanan lain kecuali daging, ikan dan unggas, akan berbahaya bagi tubuh yang bisa mengakibatkan muntah-muntah dan sangat berisiko terkena penyakit kanker. Menurut Kustantinah, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codec. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus Indomie. Pembahasan Kasus Etika Bisnis Indomie di Taiwan Sudut pandang ekomoni : Dalam mekanisme pasar bebas diberi kebebasan luas kepada pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan dan mengembangkan diri dalam pembangunan ekonomi. Disini pula pelaku bisnis bersaing untuk berkembang mengikuti mekanisme pasar. Dalam persaingan antar perusahaan terutama perusahaan besar dalam memperoleh keuntungan sering kali terjadi pelanggaran etika berbisnis bahkan melanggar peraturan yang berlaku. Apalagi persaingan produk impor dari Indonesia yang ada di Taiwan. Karena harga yang lebih murah serta kualitas yang tidak kalah dari produk-produk lainnya. Sudut pandang moral : Dalam kasus ini taiwan melarang peredaran indomie di negaranya karena indomie mengandung bahan pengawet berbahaya. Zat yang terkadung dalam indomie adalah methyl parahydroxybenzoate dan benzoic acid (asam benzoat). Kedua zat tersebut biasanya hanya boleh digunakan untuk membuat kosmetik, dan pada hari Jumat (08/10/2010) pihak Taiwan telah memutuskan untuk menarik semua jenis produk Indomie dari peredaran. Di Hongkong, dua supermarket terkenal juga untuk sementara waktu tidak memasarkan produk dari Indomie. Sedangkan pemerintah sendiri belum mengetahui adanya zat berbahaya dalam indomie. Sehingga Anggota DPR

dan Komisi IX memanggil Kepala BPOM untuk dimintai keterangan tentang masalah tersebut. Sudut pandang hukum : Kepala BPOM membenarkan tentang adanya zat berbahaya bagi manusia dalam kasus indomie ini. Zat itu terkadung dalam kecap dan kemasan mie instan tersebut, tapi kadar kimia yang ada dalam indomie masih dalam batas wajar untuk di konsumsi. Menurut Kepala BPOM, Indonesia yang merupakan anggota Codex Alimentarius Commision, produk Indomie sudah mengacu kepada persyaratan Internasional tentang regulasi mutu, gizi dan kemanan produk pangan. Sedangkan Taiwan bukan merupakan anggota Codex sehingga standar keamanan pangannya berbeda dengan Negara yang merupakan anggota dari Codex Alimentarius Commision. Produk Indomie yang dipasarkan di Taiwan seharusnya untuk dikonsumsi di Indonesia. Dan karena standar di antara kedua negara berbeda maka timbulah kasus ini. Teori Etika Bisnis Pengertian Etika Etika berasal dari bahasa yunani yaitu Ethos yang artinya aturan, patokan (harga yang ditentukan), ajaran (keluarga, agama, perusahaan, iman (faith)), cabang ilmu filsafat. Filsafat terdiri dari kata Philo (saya mencintai) dan Sophia (kebijaksanaan, luhur, tinggi). Secara terminologis filsafat adalah refleksi kritis, logis, sistematis, radikal tentang realitas. Sifat-sifat filsafat yaitu Rasional ; nalar, akal budi Kritis ; ketelitian Mendasar ; fondasi Sistematis ; langkah-langkah Normative ; moral Pengertian Bisnis Bisnis merupakan organisasi yang memiliki tujuan, rencana, dan hubungan kerja yang menghasilkan profesi yang memiliki kode etik. Pengertian Etika Bisnis

Etika Bisnis adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari bagaimana berbisnis dengan rasional, kritis, mendasar, sistematis, normative dan tidak melanggar aturan kode etik yang berlaku. Pokok bahasan, materi dan matode etika bisnis Pokok pokok bahasan etika bisnis: Membahas prinsip prinsip umum yang berlaku dalam pengambilan keputusan bisnis dan masalah yang berhubungan dengan pengelolaan bisnis secara ilmiah. Membahas pola pola dan perilaku pebisnis dalam mengambil keputusan bisnisnya. Membahas pengambilan keputusan bisnis berhadapan dengan stuktur dan tatanan masyarakat yang juga memiliki norma atau aturan moral yang berlaku. Membahas tanggung jawab pribadi atau kelompok atas keputusan bisnis yang di putuskan secara moral. Materi etika bisnis ; berhubungan dengan: Aspek ekonomi ; tata pengelolaan secara professional dan akuntabil yang transparan menurut ilmu ekonomi secara professional. Aspek hukum ; menyelenggarakan tata kelola bisnis dengan tidak melanggar aspek hukum (local, internasional yang berlaku). Aspek etika moralitas ; mengambil keputusan bisnis dan mampu mempertanggung jawabkan aspek penting yaitu hati nurani, golden rule/ hukum emas, penilaian umum. Matode etika bisnis Matode empiris deskriptif ; matode yang memakai pendekatan fakta pelanggaran yang ada, membandingkan dengan berbagai tatanan moral masyarakat yang ada, mempelajarai sejarahnya, luasnya pengaruh dari sebuah keputusan bisnis yang di ambil. Matode fenomenologis ; matode yang memakai pendekatan dan penelitian unsur unsur moral apa saja yang ada dalam sebuah keputusan bisnis, perbedaan pelanggaran norma moral atau pelanggaran sopan santun. Matode normative ; matode pengujian apakah norma moral tersebut di terima umum atau tidak, mengapa ditolak dan mengapa diterima. Matode metaetika ; matode ini berusaha dan bertujuan mengurangi atau menghilangkan kekeliruan/ pengkaburan dalam pengambilan keputusan bisnis agar terhindar dari tindakan pengadilan atau tuntutan hokum. Etika bisnis dan kesadaran moral

Tantangan pentingnya kesadaran moral Pebisnis berhadapan dengan masyarakat multicultural. Pengaruh globalisasi terhadap pencadangan internasional (blacklist). Munculnya ideology ideology baru, karirisme, materialism, konsumerisme, dan instantisme. Struktur dan kesadaran moral ; yang dimaksudkan dengan kesadaran moral adalah kesadaran seseorang akan sebuah kewajiban atau keharusan melakukan yang baik. Kewajiban tersebut bersifat mutlak dan harus. Kewajiban tersebut wajib bagi pribadi atau bukan diwakilkan. Kewajiban tersebut masuk akal dan pantas disetujui dengan benar. Kewajiban tersebut adalah tanggung jawab yang mengikat. Kewajiban tersebut menentukan nilai saya dihadapan umum. Kesadaran moral bersifat mutlak ; dalam hal ini kesadaran moral bersifat imperative kategoris, artinya perintah tidak bersyarat atau imperative hipotesis apabila perintah tersebut bersyarat. Kesadaran moral tersebut Berlaku secara umum, dimanapun. Merupakan pemecahan masalah etika bisnis yang paling tepat. Mempertimbangkan semua segi yang relevan. Kesadaran diambil atas dasar kebebasan atau bukan paksaan. Teori teori tradisional etika bisnis Teori teori etika bisnis dibagi atas 2 kategori, yaitu Teleology dan Deontology, perbedaan keduanya adalah Teleology teori berpendapat bahwa yang menentukan apakah tindakan atau keputusan bisnis tersebut tidak melanggar etika apabila tujuan atau akibat keputusan tersebut adalah baik. Deontology teori adalah suatu tindakan atau keputusan bisnis adalah baik kepada proses pengambilan keputusan adalah baik dan merupakan kewajiban. Teleological ethical system

Teleology berpendapat bahwa moralitas adalah sebuah keputusan bisnis yang di tentukan dengan mengukur hasil atau akibat yang dihasilkan oleh keputusan tersebut atau sangat ditentukan oleh tujuan keputusan tersebut sesuai dengan artinya, teleo (tujuan yunani). Memiliki tujuan yang baik, yaitu tujuan yang mencari greatest good (kebaikan terbesar), greatest number (jumlah terbanyak), greatest utility (kegunaan terbesar), greatest happiness (kebahagiaan terbesar). Teleology melahirkan pula aliran baru dalam etika bisnis yang disebut utilitarisme berasal dari kata utility (berguna/bermanfaat). Dua paham manajemen produksi yang mendukung pandangan teleology dan utilitaris adalah JEREMY BENTH (1748-1832) dan JOHN STUART MILL (1806-1873); mereka berpendapat bahwa tujuan akhir dari etika bisnis agar manfaat bisnis harus berguna bagi banyak orang, oleh sebab itu mereka mendukung aliran UTILITARISME. Teori ekonomi dan produktivitas mengatakan segala-galanya harus efisien, efektif dan berdaya guna. Rugi sekecil-kecilnya dan untung sebesar-besarnya. Cost harus sangat rendah agar memperoleh laba benefit (manfaat yang besar). Debet harus lebih besar dari kredit. Oleh sebab itu, utilitaris sangat memperhitungkan manfaat sebuah keputusan bisnis. Misalnya ; untuk dapat mengekspor kelapa sawit yang sangat menguntungkan Negara dalam hal devisa, maka kebun kelapa sawit harus diperluas, maka hutan yang ada lebih baik dijadikan? Apakah anda setuju?. Aliran utilitaris juga melahirkan aliran baru dalam pengambilan keputusan bisnis, yaitu aliran konsekuensialisme atau aliran yang hanya mempertimbangakan manfaat komersialisasi dari bisnis (akibat menguntungkan saja, efek lain tidak diperhitungkan). Keberatan terhadap utilitaris ialah Hanya menilai unsur manfaat padahal bisa terjadi dibalik manfaat ada pelanggaran unsure etika yang sangat mendasar, yakni keadilan dan hak perorangan. Aliran ini mendorong ke liberalisme ekonomi ekstrim lewat persaingan yang tidak seimbang yang menimbulkan kartel ataupun monopoli dalam bisnis. Kesimpulan Dalam bidang study etika bisnis, Dapat disimpulkan bahwa perbedaan budaya di negara Taiwan dan Indonesia berbeda, dimana standarisasi keamanan pangan di Indonesia dan Taiwan berbeda, sehingga perusaan indomie tidak melakukan pelanggaran bisnis tetapi pihak indomie juga perlu memperhatikan standar pangan suatu Negara sebelum memasuki pangsa pasar di negara tersebut agar produk yang dipasarkan dapat di jual tanpa terjadi hal seperti ini lagi. http://n2cs.wordpress.com/2012/11/03/etika-bisnis/

Etika Merriam-Webster mendefinisikan etika sebagai ilmu yang mempelajari apa yang baik dan buruk dengan tugas dan tanggung jawab moral; teori atau sistem dari nilai moral; prinsip-prinsip yang mengatur perilaku individu atau kelompok; kesadaran akan kepentingan moral. Dunia bisnis menjelaskan etika sebagai konsep dan prinsip dasar dari perilaku manusia yang tepat. Etika mencakup studi mengenai nilai-nilai universal seperti kesetaraan pria dan wanita, manusia atau hak asasi manusia, ketaatan terhadap hukum, memperhatikan kesehatan dan keselamatan, dan yang meningkat akhir-akhir ini adalah lingkungan hidup. Artikel lain menyatakan bahwa etika merupakan cabang dari studi yang mempelajari tentang tindakan apa yang tepat yang harus dilakukan oleh manusia. Etika menjawab pertanyaan, Apa yang saya lakukan? Etika juga mempelajari tentang apa yang benar dan salah dalam tindakan manusia. Pada level yang lebih mendasar, etika adalah metode dimana kita mengkategorikan nilai-nilai kita dan mengejarnya, seperti apakah kita mengejar kesenangan kita, atau kita mengorbankannya untuk mengejar hal lain yang lebih besar? Apakah dasar dari etika berdasarkan kitab suci atau secara alami ada dalam manusia atau tidak keduanya?, dan lain sebagainya. Etika diperlukan dalam kehidupan manusia. Ini adalah cara kita untuk menentukan suatu tindakan. Tanpa etika, tindakan kita bisa menjadi tidak jelas dan tanpa tujuan. Etika berasal dari bahasa Yunani ethike, banyak penulis yang menyatakan bahwa etika seperti metode ilmiah dari moral. Etika tidak hanya mengarahkan manusia bagaimana bertindak jika ia ingin memiliki moral yang baik, tapi juga mengatur mengenai kewajiban yang mutlak dalam berbuat baik dan menghindari kejahatan.

Etika adalah ilmu atau tindakan filosofis dari moral. Ruang lingkup etika termasuk apapun yang mengacu pada tindakan bebas manusia, baik itu prinsip atau penyebab dari suatu tindakan (misal: hukum, hati nurani, kebajikan, dll.), atau sebagai akibat dari atau keadaan dari tindakan (hadiah, hukuman, dll.). Sumber dari etika sebagian berasal dari pengalaman pribadi manusia dan sebagian lagi prinsip dan kebenaran yang diajukan oleh ilmu filosofis lainnya seperti logika dan metafisik. Etika berasal dari fakta empiris bahwa prinsip-prinsip tertentu yang umum dan konsep tatanan moral adalah sama pada seluruh manusia di segala masa. Seluruh bangsa dapat membedakan apa yang baik dan jahat, antara orang yang baik dan orang yang jahat, antara kebaikan dan kejahatan; mereka semua setuju dengan hal ini: kebaikan layak diperjuangan dan kejahatan harus dihilangkan, yang satu berhak dipuji, yang lainnya harus disalahkan. Walaupun dalam kasus tertentu mungkin saja tidak terjadi kesepakatan dalam menentukan hal yang baik atau jahat, namun mereka tetap setuju akan adanya prinsip yang umum bahwa kebaikan harus dilakukan dan kejahatan harus dihindari. Adalah prinsip yang universal pula bahwa kita tidak boleh memperlakukan orang lain apa yang tidak ingin dilakukan kepada kita.

Moral Menurut kamus Merriam-Webster, moral adalah sesuatu yang berhubungan dengan prinsip yang benar dan salah dalam perilaku; mengekspresikan atau mengajarkan konsep tentang perilaku yang baik; membentuk standar perilaku yang baik; dapat dibuktikan walaupun tidak terbukti; bersifat persepsi atau lebih ke psikologis daripada berwujud atau praktis. Dalam dunia bisnis, moral diterjemahkan sebagai kesesuaian kode yang telah dikenal, doktrin, atau aturan dari suatu sistem tentang apa yang benar atau salah dan untuk berperilaku sesuai dengan hal tersebut. Tidak ada sistem moralitas yang diterima secara universal, dan jawaban terhadap pertanyaan Apakah moralitas itu? dapat sangat berbeda antara tempat yang satu dengan tempat yang lainnya, kelompok yang satu dengan kelompok lainnya,dari dari waktu ke waktu. Bagi beberapa orang moralitas berarti usaha sadar dan terencana dalam menuntun perilaku seseorang dengan dasar keadilan dan keyakinan pada agama. Bagi yang lainnya, seperti yang diungkapkan matematikawan dan filsuf Alfred North Whitehead (1861-1974), apa yang menjadi

mayoritas maka itulah yang akan terjadi, dan amoralitas adalah apa yang tidak disukai oleh mayoritas. Berbeda dengan dua pendapat sebelumnya yang menyatakan bahwa moral sebagai prinsip atau kesesuaian prinsip tentang baik dan buruk, maka ada pendapat lain yang menyatakan bahwa moral adalah panduan untuk hidup. Pendapat tersebut menyatakan bahwa memilih untuk hidup adalah pilihan pre-moral yang kemudian akan berkembang menjadi pertanyaan Bagaimana? atau Apa yang saya lakukan? Seseorang dapat menjalaninya (cara hidup) secara asal saja atau dengan metode yang didesain untuk mencapai sukses. Metode itulah yang disebut moralitas. Moralitas yang dianut akan memampukan seseorang untuk memilih secara rasional diantara nilai-nilai yang ada. Dalam sejarah, konsep moralitas sering kali digunakan secara negatif seperti pada daftar Anda tidak boleh untuk menentang suatu tindakan. Tindakan yang diambil menjadi tidak peduli apa yang Anda lakukan, asalkan Anda tidak melanggar aturan moral. Daftar larangan, tidaklah cukup dijadikan panduan untuk sukses. Moralitas harus positif daripada negatif. Bukan Apa yang tidak boleh saya lakukan?, tetapi Apa yang harus saya lakukan? Masalah pada mendefinisikan moralitas negatif adalah bahwa pada kebanyakan kasus, mengakibatkan seseorang untuk menghindari beberapa area permasalahan tertentu. Hal tersebut tidak berguna karena mengakibatkan tidak adanya metode untuk memilih tindakan mana yang terbaik, sementara moralitas positif menciptakan kebiasaan yang menuntun kepada pencapaian nilai dan metode untuk memilih nilai apa yang digunakan dalam cara untuk hidup dan berkembang. Ensiklopedi Katolik mengungkapkan bahwa moralitas merupakan anteseden dari etika: hal tersebut menandakan bahwa etika adalah ilmu. Walaupun terdapat berbagai perbedaan mengenai teori etika, terdapat persetujuan yang mendasar diantara manusia terkait dengan tindakan yang umum yang diinginkan. Jelas keseragaman ini lebih mengacu kepada prinsip daripada aplikasi. Aturan untuk melakukan hal tersebut dapat sangat bervariasi. Sebagai contoh, sementara menghormati orang tua secara universal diketahui sebagai kewajiban, beberapa suku tertentu percaya bahwa berbakti kepada orang tua mengharuskan mereka untuk mengirimi orang tua mereka ketika ada kelemahan pada usia tua. Contoh lainnya adalah menyayangi dan memenuhi kebutuhan anak, jujur dan

adil, memiliki belas kasih, menahan rasa sakit dan kemalangan dengan ketabahan, dan lainnya. Contoh Kasus 1. Sebuah harian elektronik di Indonesia pada pertengahan bulan lalu mengangkat topik mengenai etika pertelevisian, terutama tayangan-tayangan yang disiarkan oleh stasiunstasiun televisi selama bulan Ramadhan. Harian tersebut mengungkapkan tradisi para stasiun TV swasta yang berlomba-lomba menyiarkan tayangan spesial selama bulan Ramadhan. Pertanyaan yang kemudian diungkapkan oleh harian tersebut adalah apakah tayangan spesial tersebut (terutama dalam bentuk acara komedi) benar spesial Ramadhan atau bukan, dan apakah tayangan tersebut menyajikan tayangan mendidik dan bermoral kepada penontonnya, atau malah merusak moral masyarakat di bulan suci tersebut? Tayangan yang katanya spesial untuk mengisi bulan Ramadhan namun sama sekali tidak mencerminkan sisi-sisi positif dari bulan suci tersebut. Selain tingkah para pemain yang tidak tepat, ucapan para komedian pun kerap kali tidak dijaga. Komedi saling menghina fisik satu sama lain seolah sudah menjadi tren dunia komedi saat ini dan sudah menular hampir ke semua acara komedi. Padahal beberapa komedian sudah sering tersandung kasus dengan Komite Penyiaran Indonesia (KPI). Uniknya komedian yang tersandung tersebut tetap saja tidak jera melecehkan orang lain.[9] AA Gym ikut berkomentar soal tayangan tersebut. Menurutnya acara komedi sahur melecehkan bulan suci Ramadhan dan tidak membawa pesan moral yang baik. Seharusnya acara sahur diisi dengan hal-hal yang bermanfaat. Stasiun TV harus punya peraturan khusus yang mengatur etika bergurau, katanya. 2. Sebuah harian elektronik Daily Trojan memuat sebuah artikel yang berjudulPopular TV Shows Rely on Moral Ambiguity (Acara TV yang Populer Mengandalkan Ambiguitas Moral). Artikel tersebut menyatakan bahwa jika ada aturan tidak tertulis dalam usia emas pertelevisian saat ini, maka itu adalah acara-acara hebat yang mengandung ambiguitas moral. Salah satu film yang dibahas adalah sebuah film seri yang cukup populer yaitu The Sopranos, yang berkisah tentang kehidupan penuh simpatik seorang mafia. Dunia

tempat berbagai tokoh dalam film ini hidup dan sistem dimana mereka beroperasi memaksa mereka untuk mengkompromikan posisi etis. Film seri lainnya adalah Breaking Bad yang berkisah tentang seorang guru kimia yang menderita kanker dan tidak ada jalan lain untuk menghidup keluarganya selain melakukan kejahatan. Film ini mengarahkan pelaku dengan memberikan seluruh alasan di dunia untuk mengubah hidupnya menjadi seorang pelaku kriminal. Masih banyak film televisi lainnya yang menyuguhkan hal serupa, keambiguitasan moral. Itulah tulang punggung acara: ambil pria normal dan buat ia menjadi penjahat, bukan karena lingkungannya, tetapi karena tindakannya. Terserah kepada masingmasing penonton untuk memutuskan kapankan ia akan mencapai titik dimana ia tidak dapat kembali. Kesimpulan Berbagai definisi dan penjelasan diatas mengenai moral dan etika secara umum mengungkapkan bahwa moral merupakan sumber dari etika, moral bersifat umum sedangkan etika bersifat spesifik. Setiap orang, setiap kelompok, setiap negara dapat memiliki etika yang berbeda-beda, namun pada prinsipnya mereka memiliki moral yang sama secara universal; moral untuk membedakan antara baik dan buruk, kebaikan dan kejahatan, dll. Contoh kasus pertama dan kedua mengungkapkan tentang etika dan moral pada dunia pertelevisian terutama pada berbagai tayangan televisi akhir-akhir ini. Walaupun kedua artikel tersebut berasal dari negara yang berbeda, namun terdapat kesamaan moral yaitu stasiun televisi harus lebih selektif dalam menyajikan tayangan-tayangan yang mendidik, tidak membingungkan moral, tepat sasaran, memperhatikan kesopanan dan lain sebagainya. Pada contoh kasus pertama, point yang ditekankan adalah mengenai etika bergurau dan etika tayangan pada saat bulan Ramadhan, etika tersebut merupakan penurunan dari moral menghargai orang lain, baik pada saat bergurau (tidak menghina secara fisik), maupun pada orang yang menjalankan ibadah puasa (menampilkan tayangan yang bernilai religi). Pada contoh kasus yang kedua, point yang ditekankan adalah mengenai tayangan yang tidak mendidik yang mengakibatkan ambiguitas moral.

Sebagai kesimpulan dari tulisan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa moral adalah bentuk teori dari etika sedangkan etika adalah bentuk praktik dari moral. Etika dapat berbeda-beda, namun moralnya bisa sama. Setiap orang, bahkan yang paling tidak berbudaya sekalipun memiliki moralitas atau sejumlah aturan yang mengatur perilaku moralnya.