Anda di halaman 1dari 34

LAPORAN TUGAS BESAR ELEMEN MESIN II

DISUSUN OLEH : NAMA : SURIYADI ANWAR NIM : 10212010020

PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ANTAKUSUMA(UNTAMA) PANGKALAN BUN

UNIVERSITAS ANTAKUSUMA (UNTAMA)

KEP. MENDIKNAS RI. NO. 57/D/O/2008 Kampus : Jl. Iskandar No.63, Telp. 0532-22287 Kode pos. 74112 Pangkalan Bun

LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN TUGAS BESAR ELEMEN MESIN I

NAMA NIM

: :

Suriyadi Anwar 10212010020

Pangkalan Bun, 16 Juni 2012 Dosen Pengampu

Ali Syarief, ST NIDN. 1120127902

Mengetahui Ketua Prodi Teknik Mesin,

M. Arif Haryadi, ST NIDN. 1126068403

iii

KATA PENGANTAR
Saya panjatkan puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan hidayahnya saya dapat menyelesaikan Laporan Serta Tugas Besar Elemen Mesin II ini dengan lancar. Laporan ini selain saya hadirkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Elemen Mesin II juga untuk membuat kita dapat memahami bagaimana konsep Perencanaan Kopling Pada Truk Toyota. Dalam penulisan laporan yang saya susun ini mungkin masih banyak kekurangan-kekurangan baik dari teknis penulisan maupun materi, ataupun perhitungan yang kurang tepat mengingat dari kemampuan yang saya miliki. Dengan keberhasilan saya dalam menyelesaikan Tugas perencanaan kopling pada truk toyota ini tidak lepas dari bantuan orang-orang yang dengan segenap hati memberikan bantuan, bimbingan dan dukungan, baik moral maupun material. Oleh karena itu saya mengucapkan terima kasih atas bimbingan dan bantuan atas semuanya.

Pangkalan Bun,07 Januari 2012

Suriyadi Anwar NIM.10212010020

iv

DAFTAR ISI
Halalaman Judul .. Lembar Asistensi .................................................................................... Lembar Pengesahan . Kata Pengantar .. Daftar Isi ................................................................................................. Nomenklatur ... BAB I. Pendahuluan ............................................................................... a. Latar Belakang ........................................................................... b. Tujuan ......................................................................................... c. Batasan Masalah ......................................................................... BAB II. Teori Dasar ............................................................................... a. Pengertian Kopling ..................................................................... b. Klasifikasi Kopling ..................................................................... c. Rumus Yang Digunakan ............................................................. BAB III. Pengukuran .............................................................................. a. Disain Poros ................................................................................ i. ii. Perhitungan diameter poros .......................................... Perhitungan Splines ...................................................... i ii iii iv v vi 1 1 1 2 3 3 4 6 9 9 9 11 12 13 14 15 15 16 19

b. Desain Kampas Kopling ............................................................. i. ii. iii. iv. v. vi. vii. Perhitungan plat gesek .................................................... Perhitungan plat tengah gesek ........................................ Naf .................................................................................. Perhitungan kopling dan komponen-komponennya ......... Pemeriksaan putaran kritis ............................................... Pemeriksaan kekuatan poros terhadap momen lentur .....

Diameter kritis .................................................................. 21

c. Karakteristik Kopling ................................................................. i. ii. iii. iv. Suhu ............................................................................... Umur Kopling ................................................................ Efisiensi Kopling ........................................................... Gambar Kopling ............................................................

22 22 23 25 26 27 28 29

BAB IV. Penutup ................................................................................ a. Kesimpulan ............................................................................... Daftar Pustaka ......................................................................................

NOMENKLATUR
Nama dan Lambang Momen puntir yang terjadi (Mp) Momen puntir yang direncanakan (Mtd) Daya mesin maksimum (N) Putaran Mesin (n) Faktor keamanan ( v,s,) Momen gesek (Mfr) Tegangan geser yang diizinkan (bol) Tegangan tarik yang diizinkan (bol) Diameter poros (dp) Diameter spline (ds) Tinggi spline (h) Lebar spline (w) Jari-jari rata-rata Panjang (l) Jumlah spline (z) Lebar permukaan gesek (b) Luas penampang poros (A) Tekanan yang terjadi (P) Gaya Tekan (F) Jari-jari dalam (r1) Jari-jari luar (r0) Berat kopling (G) Defleksi yang terjadi (Y) Putaran kritis (ncr) Diameter kritis Energi yang hilang karena gesekan (Wg) Putaran sudut () Waktu(t) Satuan kg.mm kg.mm dk rpm kg.mm kg/cm2 kg/cm2 cm cm cm cm cm cm cm cm2 kg/cm2 kg.cm/s2 cm m kg cm rpm cm watt rad/s detik

vi

Panas jenis spesifik (Cp) Tebal plat gesek (a) Umur kopling (Lt) Kerja beban spesifik (k) Daya yang hilang (Nfr) Luas permukaan gesek (Am) Efesiensi kopling ()

J/kg0C cm jam/tahun watt jam/cm3 watt cm2 %

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.
Laporan ini tersusun karna dilatar belakang untuk memenuhi kebutuhan perencanaan kopling gesek pada truk toyota, tugas mata kuliah Elemen Mesin II tentang merencanakan kopling pada truk toyota dan disertasi pengukuran-pengukuran kekuatan pada umur pemakaiannya. Dalam laporan ini kita mendapatkan pelajaran mengenai proses-proses perngukuran yang akurat terhadap perencanaan kopling serta memahami teori dasar dari kopling.

B. Tujuan.
Karena suatu perencanaan elemen mesin haruslah benar-benar akurat atau teliti, maka khusus dalam perencanaan kopling ini terdapat beberapa tujuan yang ingin kita capai agar memiliki efisiensi yg tinggi, antara lain : a) Mendapatkan kekuatan kopling yang baik dengan dasar bahwa faktor keamanan yang dimilikinya adalah optimal yang ditunjang dengan pemilihan bahan yang sesuai. b) Memiliki efisiensi kerja yang tinggi. c) Mendapatkan kopling yang kuat tetapi ekonomis. d) Dapat memperkirakan umur kopling yang direncanakan.

Disainer

ditujukan

untuk

digunakan

dalam

mengembangkan

komponen dasar hingga menjadi suatu barang kerja jadi maupun setengah jadi karna disainer adalah tokoh utama dalam perancangan.

Portabilitas programmer sangatlah

penting,

khususnya

bagi programmer yang bisa mengendalikan aplikasi AutoCad yang dapat merancang disain gambar.

Disainer selain sebagai program proses perancangan atau pembuatan komponen maupun barang kerja tetapi juga merupakan suatu proses penganalisaan yang baik termasuk pengukuran terhadap kekuatan dari efisiensi kopling dengan umur pemakaiannya terhadap material plat yang digunakan.

C. Batasan Masalah
1. Perhitungan kekuatan hanya sebatas pada umur pemakaian koplingnya saja.. 2. Di sini tidak dijelaskan bagaimana proses manufaktur dalam hal pembuatanya saja. 3. Dalam perencanaan kopling ini tidak semua bagian-bagian dari sebuah kopling yang dapat saya jabarkan. 4. Dan bagian yang hanya dapat kami bahas yaitu sebagian saja dimana berupa. a) Diameter poros. b) Diameter sepline. c) Diameter plat gesek. d) Diameter plat tengah. e) Efisiensi kopling. f) Lamamya pemakaian

BAB II TEORI DASAR

A. Pengertian Kopling.
Kopling atau Clutch yaitu peralatan transmisi yang menghubungkan poros engkol dengan poros roda gigi transmisi. Kopling suatu perangkat atau sistem yang merupakan bagian dari sistem pemindah. Fungsi kopling adalah untuk memindahkan, memutus dan

menghubungkan putaran tenaga mesin ke transmisi, kemudian transmisi mengubah tingkat kecepatan sesuai yang diinginkan dengan lembut dan cepat.

Gambar kopling / clutch

Ditinjau dari lingkungan atau media kerjanya, kopling dibedakan menjadi : 1) Kopling basah Kopling basah adalah unit kopling dengan bidang gesek (piringan atau disc) terendam cairan/ minyak. Aplikasi kopling basah umumnya pada jenis atau tipe plat banyak, dimana kenyamanan berkendara yang diutamakan dengan proses kerja kopling tahapannya panjang, sehingga banyak terjadi gesekan/slip pada bidang gesek kopling dan perlu pendinginan.

2)

Kopling kering Kopling kering adalah unit kopling dengan bidang gesek (piringan atau disc) tidak terendam cairan/ minyak (dan bahkan tidak boleh ada cairan/ minyak).

B. Klasifikasi Kopling.
Secara umum kopling dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :

a) Kopling tetap
Adalah suatu elemen mesin yang berfungsi sebagai penerus putaran dan daya poros penggerak ke poros yang digerakkan secara pasti (tanpa adanya slip), dimana sumbu poros tersebut terletak pada suatu garis lurus. Yang termasuk kopling tetap, adalah : 1. Kopling kaku. Kopling ini dipergunakan bila kedua poros harus

dihubungkan dengan sumbusegaris. Kopling ini dipakai pada mesin dan poros transmisi umumnya di pabrik - pabrik. Kopling ini terbagi atas : Kopling box atau kotak digunakan apabila dua buah poros dantransmisi harus dihubungkan dengan sebuah garis. Kopling ini dipakai pada poros transmisi. Kopling flens kaku terdiri dari naf dengan flens yang terbuat dari besicor atau baja cor dan dipasang pada ujung poros yang diberi pasak serta diikat dengan flensnya. Dalam beberapa hal, naf pada porosdengan sumbunya dipress atau dibaut. Kopling flens tempa. 2. Kopling luwes, kopling ini terbagi atas: Kopling fans lurus. Kopling karet ban Kopling karet bintang. Kopling rantai.

3.

Kopling gigi

Kopling universal, kopling ini terbagi atas: Kopling universal hook. Kopling universal.

b) Kopling Titak Tetap.


Kopling tidak tetap yaitu suatu elemen mesin yang menghubungkan poros yang digerakkan dengan putaran yang sama dalam meneruskan daya serta dapat melepas hubungan kedua poros tersebut baik dalam keadaan diam maupun berputar. Jenis kopling tidak tetap ini adalah : 1. Kopling Cakar. Kopling ini yaitu berfungsi untuk meneruskan momen dengan kontak positif (tidak dengan perantaraan gesekan) sehingga tidak terjadi slip. Ada dua bentuk kopling cakar yaitu: Kopling cakar persegi. Kopling cakar spiral 2. K o p l i n g P l a t . Kopling ini disusun berdasarkan : Berdasarkan banyaknya plat yaitu kopling plat tunggal dan kopling plat banyak. Berdasarkan ada tidaknya pelumas yang digunakan yaitu basah dankering. Berdasarkan pelayanannya yaitu kopling manual, hidrolik, numatik dan elektromagnetik. 3. Kopling kerucut. 4. Kopling friwill.

C. Rumus Yang Digunakan.


1. Momen Puntir (Mp) Mp = 71620 ( ) ........................................... 1

2. Momen puntir yang direncanakan Mtd = Mp . v 3. Momen Gesek (Mfr) Mfr = B . Mtd 4. Tegangan tarik yang diijinkan

5. Tegangan geser yang diijinkan bal 6. Diameter poros Dp = [ 7. Diameter spline Ds = dp/0.8 8. Tinggi spline H = 0.1 x ds 9. Lebar spline W = 0.25 x ds 10.Jari-jari rata-rata rm = 11.Tegangan geser yang terjadi pada poros
]

12.Tegangan geser yang terjadi pada spline 6

13.Perbandingan lebar permukaan gesek terhadap jari-jari ratarata. B= Rm= 0,5 ( ( ) )

14.Perbandingan jari-jari dalam dengan jari-jari luar

15.Momen Gesek Mfr = f . P . Fm . rm 16.Jari-jari dalam plat gesek


0,6

17.Diameter luar plat gesek g= 2. 18. Diameter dalam plat gesek g= 2. g

19.Berat plat gesek


= 2 ( ). t

20.Perhitungan berat plat tengah


= 2 ( ). t

21.Perhitungan naf
( ).t.y

22.Perhitungan berat rumah kopling


( )

23.Perhitungan berat poros


. .L.y

24. Dsefleksi akibat beban poros.

25. Defleksi akibat berat kopling.

26. Putaran Kritis Ncr = 300 I= 27. Akibat beban terpusat

28.Akibat beban terbagi merata

29.Momen lentur yang terjadi


30.Diameter Kritis Mrc = ( ) ( )

31.Diameter kritis yang terjadi pada poros Dcr = 32.Energi yang dihilangkan karena gesekan Wg = Mtd . w . 33.Kenaikan SuhuQ Q = Wg . G . Cp . Dt 34.Umur Kopling
Ld

35.Efesiensi Kopling
]

BAB III PERHITUNGAN ULANG


3.1 DESAIN POROS. a) Perhitungan Diameter Poros. 1. Momen puntir yang terjadi Mp = 71620 Mp = 71620 = 1442,58 kg.cm

2. Momen Puntir Yang Direncanakan. Mtd = Mp. V ; V = Faktor keamanan = 1 6 = Dipilh 4, untuk mengantisifasi adanya pembebanan yang tiba-tiba. Semaki tinggi faktor keamanan maka momen puntir yang direncanakansemakin baik terhadap perencanaan poros. Mtd = (1442,58) (4) = 5770,32 kg.cm 3. Momen Gesek. Mfr = . Mtd ; = Faktor Konstanta = 1,2 1,5 = Dipilih 1,2 untuk memperoleh gesekan yang kecil, sehingga poros yang direncanakan tidak mudah aus. Semaki besar konstanta maka momen gesek yang terjadi semakin rendah menyebabkan gesekan yang terjadi juga semakin besar. Mfr = (1,2).(5770,32) = 6924,38 kg.cm 4. Diameter Poros. Kerena poros merupakan bagian dari suatu mesin yang sangat vital, maka material poros yang digunakan haruslah benarbenar kuat.

Untuk menjaga agar dalam operasinya lebih aman maka dipilih baja St 60 sebagai bahan poros dalam perencanaan ini. Poros dianggap berada pada kondisi beban dinamis II dengan faktor keamanan S = 5 8 maka tegangan-tegangan yang terjadi adalah sebagai berikut : (di pilih S = 6) a) Tegangan tarik yang diijinkan : =

b) Tegangan geser yang diijinkan : = =

c) Diameter poros : Dp = Dp = 3,91 cm = 4 cm 5. Pemeriksaan tegangan geser pada poros. s = P Material poros cukup aman karena tegangan geser yang terjadi lebih kecil dari tegangan geser yang diijinkan, yaitu : <

10

b) Perhitungan Splines. Splines berfungsi untuk menghubungkan poros dengan cakram sehingga momen puntir cakram dapat dipindahkan melalui alur splines yang mengakibatkan poros berputar bersama-sama dengan cakram. 1. Pemilihan bahan splines. Dari perencanaan ini material poros yang digunakn adalah baja St 70 maka bahan splines yang digunakan juga adalah baja St 70 yang bekerja pada kondisi pembebanan dinamis II dengan faktor keamanan yang diambil adalah 8. Selanjutnya dari bahan tersebut kita dapat menentukan tegangan-tegangan yang diijinkan, yaitu : Teganagn tarik yang diijinkan adalah : =

Tegangan geser yang diijinkan adalah : =

2. Pemeliharaan jumlah splines. Dengan menentukan jumlah splines, kita dapat menentukan dimensi splines yang lain. Dalam perencanaan ini kita dapat merencanakan sebanyak 10 buah splines. 3. Perhitungan diameter splines (Ds). Ds = = 5 cm ). ) ) = 2,25 cm

4. Jari-jari rata-rata splines ( ( ( 5. Tinggi splines. h = 0,1 Ds = 0,1 (5) = 0,5 cm

11

6. Lebar splines (w = b). w = 0,25 Ds = 0,25 (5) = 1,25 cm 7. Diameter rata-rata splines (Dms). =2 = 2 (2,25) = 4,5 cm 8. Koreksi faktor keamanan pada splines. Tegangan geser yang terjadi pada splines : = Di mana : = 0,75 (untuk distribusi pembebanan merata) F = 0,8 . dm . Panjang 1 splines = 6 cm (direncanakan) z = 2.rm = 2 . 2,25 = 4,5 cm F = 0,8 . 4,5 . = 2,16 = 189,96

3.2 DESAIN KAMPAS KOPLING. Dari tabel untuk bahan plat gesek spesifikasinya adalah sebagai berikut berikut (buku ir.J Stolk hal. 210) selanjutnya terdapat pada lampiran. a.) Material plat gesek b.) Keadaan plat gesek c.) Koefisiensi gesek (f) d.) Tekanan permukaan (P) e.) Temperatur maksimum : Asbes : Kering : 0,2 :8 : C

12

A.

Perhitungan Plat Gesek. 1. Perbandingan lebar permukaan gesek terhadap jari-jari rata-ratanya adalah sebagai berikut : =
( )

Dalam hal ini di pilih 0,5 sebab semakin besar permukaan gesek maka gaya geseknya juga semakin besar sehingga kopling dapat berfungsi dengan baik. 2. Perbandingan jari-jari dalam dan jari-jari luar adalah : ( )

Dalam hal ini dipilih 0,6 sebab semakin kecil perbandingan jarijari dalam dan jari-jari luar maka geseknya juga semakin kecil sehingga kopling dapat berfungsi dengan baik. 3. Momen gesek (Mfr) Mfr = F . p . Fm . rm Dimana : Fm = 2 . rm . b . z Z = jumlah plat gesek = 2 (direncanakan) = 2 . rm . 0,5rm . 2 = 2 . Mfr = f . P . 2 . rm = = = 8,83 cm Sehingga dari persamaan (A) didapat lebar permukaan plat gesek : B = 0,5 . rm = 0,5 . 8,83 = 4,41 cm

Karena rm = ( Rm = ( 8.83 = (1,6) = 11,03 cm = 0,6 = 0,6 . 11,03 = 6,61 cm

) maka :
)

Syarat tebal plat gesek (0,2 0,5) cm sehingga dipilih 0,5 cm. Semakin tebal plat gesek yang di rencanakan maka semakin baik karena semakin lama dipakai. Diameter luar plat gesek : =2 = 2 (11,03) = 22,06 cm Diameter dalam plat gesek, adalah : =2 = 2 (6,61) = 13,22 cm

B. Perhitungan Plat Tengah Gesek. Plat ini Disatukan dengan Naf dan juga berfungsi utuk memegang plat gesek. Dimensi-dimensi plat gesek tengah yang direncanakn adalh sebagai berikut : 1. Diameter plat tengah sama dengan diameter luar plat gesek. = 22,06 cm

2. Bahan plat tengah, yaitu St-60. = 6000 3. Tebal plat tengah direncanakan 0,4 cm. t = 0,4 cm

14

4. Diameter dalam plat tengah direncanakan sama dengan diameter luar naf yaitu sama dengan diameter luar naf. = 7 cm C. Naf. Naf berfungsi untuk menstransmisi daya poros ke plat gesek dan penghubung antara poros dan seplain. Dimensi-dimensi yang direncanakan : 1. Diameter luar naf. = 7 cm 2. Diamter dalam naf sma dengan diameter poros. = 6,25 cm 3. Panjang naf direncanakn sama dengan panjang splain yaitu 6 cm. 4. Bahan naf direncanakan adalah St-60. D. Perhitungan Kopling Dan Komponen-Komponennya. 1. Berat plat gesek. = 2 ( ). t

= Massa jenis asbes = 2,1 = 2 ( ).

= 514,12 gram 2. Berata plat tengah. = 2 ( = 7,8 = 2 ( = 2143,75 gram 3. Berat naf. = 7,8 = ( ( ) 0,6 . 7,8 ).t.y ) ). t

= 176,34 gram 15

4. Berat rumah kopling. = 7,8 t ( )

= ak = tebal rumah kopling = 0,5 cm direncanakan = [( ) ]

= 1551,45 gram 5. Berat poros. = = 976,68 gram 6. Berat total kopling tanpa berat poros. = + + + . .L.y . 10 . 7,8

514,12 + 2143,75 + 176,34 + 1551,45 + 976,68 5362,34 gram E. Pemeriksaan Putaran Kritis. 1. Defleksi pada poros. Defleksi yang terjadi pada poros kita dapat menganggapnya sebagai akibat dari dua macam pembebanan, yaitu pembebanan akibat berat poros itu sendiri (beban terbagi merata) dan pembebanan terpusat yang diakibatkan oleh berat kopling. a. Beban akibat berat poros (beban terbagi merata)

16

0 = - ql . x + Karena Maka : Mx = EI : EI : EI = - qlx + = - ql ql + + + + =0

: EI y =

Syarat batas : Pada x = 0 ; y = 0 ; x= - - Sehingga persamaan menjadi : ( ; ( )

( )

Lendutan MaksimumTerjadi Pada Pertengahan Poros Atau x= ( ( ( ) ( ) ) ( ) ( ))

Maka : y = y= y=

Dimana : E = Modulus elastisitas untuk beban poros St.70 E = 21500

I = Momen inersia poros = Beban terbagi merata =

Jadi, lendutan akibat berat porosnya adalah : y= y= ( )

b. Beban akibat berat kopling (beban terpusat)

Mx

=0 =

Karena : Mx Maka : EI EI

= EI ==x+

EI y = -

Syarat batas : x = 0 ; y = 0 ; x= Maka : EI = Sehingga : y = y= .( (


dan

=0

Dimana :E = Modulud elastisitas kopling dipakai standar baja St.70 = 21500

I = Momen inersia poros = P = Berat total kopling 1,672 kg Sehingga lendutan akibat beban terpusat dari berat kopling adalah : y= y= y = 2,2013 . Maka : = = 0,8075 . = 3. Putaran kritis : = 2,2013 . cm ( )
( )

= 173205 rpm Putaran poros (n) dianggap cukup aman jika fluktuasinya berada diantara (0,8n 1,2n), dimana putaran poros n = 4800 rpm. Sehingga interpal putaran maksimum adalah (1,2) (4800 rpm) = 5760 rpm. Karena putaran optimum ( ) lebih kecil dari putaran kritis ( )

maka dapat dikatakan bahwakondisi putaran poros berjalan dengan stabil terhadap akan adanya pembebanan.

5780

< 173205 rpm

F. Pemeriksaan Kekuatan Poros Terhadap Momen Lentur. 1. Akibat beban terpusat (P = )

19

Momen lentur terjadi maksimum pada L =

2. Akibat beban terbagi merata (berat poros)

= -qx . ( ) =-( = )

( )( ) )

20

3. Momen lentur yang terjadi. MI = = +

Di mana : P = Berat kopling = 1,672 kg I = Panjang poros = 10 cm q = Berat beban terbagi merata = MI = ( = 5,3975 kg.cm G. Diameter Kritis. Pemeriksaan diameter kritis menggunakan momen reduksi. Di mana ( ) ) ( )

: = Faktor koreksi =

Berdasarkan tabel pada buku referensi Bagian-bagian mesin dan merencana, hal 186, karangan Umar Sukrisno, untuk baja St 60-70 : = = 0,685

Semakin kecil tegangan tarik yang digunakan maka momen reduksinya juga semakin kecil sehingga diameter kritis yang terjadi juga kecil. Sehingga : ( ) (( ) )

= 817,682 kg.cm Diameter kritis = = = 3,69 cm

Karena diameter kritis adalah 3,69 cm dan diameter poros adalah 4 maka dalam perencanaan ini dianggap aman sebab diameter kritis lebih kecil dari diameter poros. Dcr < dp 3,69 < 4 cm 3.3 KARAKTERISTIK KOPLING.

A. Suhu Kampas Kopling. Suhu kampas kopling sama dengan suhu kopling dan akan meningkat akibat gesekan/slip saat penyambungan. Kenaikan suhu ini tidak melebihi batas tertentu agar plat gesek lebih awal. Untuk asbes suhu kerja yang direncanakan adalah . Untuk mengghitungkenaikan suhu

kopling direncanakan (diambil dari asumsi) : Waktu penyambungan : 1 detik Panas ditimbulkan oleh plat tengah 1. Energi yang hilang karena gesekan. Wfr = Mt = Momen puntir rencana = Mtd . 9,81 = 57,70 . 9,81 = 566,03 Nm t = Waktu penyambungan (0,2 1) detik = Di pilih 1 detik

Semakin cepat waktu penyambungan maka energi yang hilang juga semakin kecil agar energi yang dihasilkan tidak terbuang percuma. Kecepatan sudut = = = 441,6

Sehingga : Wfr = = 12,4979 . 2. Kenaikan temperatur. Q = Wfr Q = 2,488 . Q = Go . Cp . Joule Joule

= Di mana : Go = Berat plat tengah = 0,764

Cp = Panas spesifik udara pada = 1,0053 Maka : = = Karena temperatur kopling dipengaruhi oleh temperatur luar maka : 1005,3

= (27 + 163) =

Karena temperatur koling lebih kecil dari temperatur direncanakan maka kondisi kopling berada dalam keadaan aman. < < B. Umur Kopling.

yang

Umur kopling plat gesek kering adalah lebih rendah dari pada plat gesek basah. Umur kopling gesek basah kurang lebih sepuluh kali umur kopling gesek kering. Karena laju keausan plat gesek sangat tergantung 23

pada macam geseknya, tekanan kontak, kecepatan keliling, temperatur dan lain-lain, maka akan sulit menentukan umur secara lebih teliti. Lama gesekan : Ld Di mana : a = Tebal plat gesek = 0,5 cm = Luas permukaan gesek = = ( = 489,64 ( )( ) ).2

k = Kerja spesifik untuk bahan asbes, dimana daya yang merusak asbes (5 - 8) = 5968 watt di pilih 8.

Nfr = Daya yang hilang karena gesekan = Nfr = 566,03 . 441,6 . = 2082,99 Watt Maka : Lama gesekan, Ld = = 701,43 Jam Dalam penentuan umur kopling, direncanakan penyambungan oleh kopling 60 kali tiap jamnya diwaktu kopling menyambung 1 detik dan melepas 1 detik. Sehingga waktu yang diperlukan tiap jamnya adalah ( ) .

Jika diperkirakan kendaraan dipakai selama10 jam setiap hari, maka : N = 10 N = 1200 = 0,3 24

Sehingga umur kopling : Lt =

= 2338,1 hari Jadi, kopling dapat dipakai selama : 6,4 tahun

C. Efisiensi Kopling. Efisiensi kopling merupakan besarnya kemampuan kopling bekerja secara efektif untuk memindahkan daya maksimum kebagian transmisi lain.

Nm = Daya rata-rata kopling tiap jam = 83 . 736 = 61088 watt Sehingga efisiensi kopling didapat : = 96,5

25

BAB IV PENUTUP
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah: 1. Suatu perncanaan dapat dikatakan aman apabila harga yang didapat lebihkecil daripada harga yang diizinkan. 2. Dalam perencanaan ini ukuran-ukuran poros sagat penting karena turutmempengaruhi direncanakan. 3. Dalam desain poros dan kopling, bahan poros harus lebih kuat daripada bahan untuk kopling. perhitungan kopling yang

27

DAFTAR FUSTAKA
Dobrovolsky, Machine Element Perry, Robert, H, Engineering Manual , Mc. Graw Hill Book Company Rune, Ir, Zaenab A, Materi Kuliah Elemen Mesin Ressang, Prof.Dr.Ir.H. Arifuddin, Materi kuliah Mekanika Kekuatan Material I Elemen Konstruksi dari Bangunan Mesin , 1993, Jakarta, ErlanggaSularso, Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin, 1987, Jakarta, PT. PradnyaParamita

28