Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AMPUTASI*

Keperawatan sebagai salah satu profesi, memiliki peran spesifik dalam kegiatan pencapaian kesehatan individu secara optimal, yaitu memiliki tanggung jawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar manuisa yang terganggu sebagai akibat perubahan status/derajad kesehatan, baik pada individu maupun pada masyarakat umum. Perawat memiliki peran praktis untuk memberikan bantuan kepada klien menemukan masalah, memilih dan melakukan tindakan baik secara mandiri maupun dengan bantuan untuk mengatasi masalah kesehatan tertentu ( Kozier; 1991 ). Klien yang mendapatkan tindakan amputasi organ tubuhnya, merupakan salah satu bentuk masalah yang tersendiri yang juga menjadi objek penyelenggaraan asuhan keperawatan. Keperawatan secara holistik akan memandang masalah yang dihadapi klien melalui berbagai aspek hidup yaitu biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Masalah yang dihadapi oleh klien yang mengalami amputasi tidak hanya pada upaya memnuhi kebutuhan fisik semata, tetapi lebih dari itu, perawat berusaha untuk mempertahankan integritas diri klien secara utuh, sehingga tidak menibulkan komplikasi fisik selama kegiatan intraoperatif, tidak mengakibatkan gangguan mental, klien dapat menerima dirinya secara utuh dan diterima dalam masyarakat, yang akhirnya klien mampu mencapai kesehatan yang optimal dalam pengertian klien produktif bagi diri, keluarga dan masyarakat. Dalam prakteknya, perawat tentu saja tidak dapat terpisah dengan tim kesehatan lainnya yang memberikan kontribusi yang berbeda untuk mencapai keadaan sehat optimal pada klien. Sehingga perlu bagi perawat untuk memahami tanggungjawabnya secara pebuh dalam penanganan klien yang mendapatkan tindakan amputasi sekaligus memahami tugas dan peran dari anggota kesehatan lain untuk melakukan kegiatan kerjasama dalam menciptakan kesehatan optimal klien yang diamputasi.

Pengertian Amputasi Amputasi berasal dari kata amputare yang kurang lebih diartikan pancung. Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi. Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas.

nhAsKep VvCCarkoma Agus Nadianus, S. Kep

Osteos|=v/ncH

Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price, 1962:1213h=/v/|

h////////////////////////;
y

Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Oganization ) setiap tahun jumlah penderita kanker 6.25 juta orang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker diantara 100.000 penduduk per tahun. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat sekitar 11.000 anak yang menderita kanker per tahun. Di Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa, 2

diperkirakan terdapat 650 anak yang menderita kanker per tahun. ( www.mailarchive.com). Menurut Errol untung hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. (www.kompas.com). Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy. Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ). ( Smeltzer. 2001: 2347 ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui (www.medicastore.com). 2. Tujuan penulisan a. Tujuan Umum Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata dalam melakukan asuhan keperawatan osteosarkoma. b. Tujuan Khusus Diharapkan mahasiswa mampu memberikan gambaran asuhan keperawatan meliputi : Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan osteosarkoma, Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. Mampu membuat rencana keparawatan pada pasien dengan osteosarkoma. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. Mampu mengevaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. 6. Mampu menyebutkan faktor pendukung dan penghambat dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. 7. Mampu mengidentifikasi solusi dalam faktor-faktor penghambat pada pasien dengan Osteosarkoma. 3. Metode Penulisan Metode yang digunakan penulis dalam laporan studi kasus ini adalah metode deskriptif yaitu menggambarkan secara langsung melalui pendekatan proses keperawatan dengan cara teknik pengumpulan data seperti wawancara, pemeriksaan fisik, kolaborasi dengan tim kesehatan yang lain serta data dari catatan medik klien. 4. Sistematika Penulisan Untuk memudahkan pengertian dan pemahaman terhadap isi dari laporan kasus ini, maka penulisannya dibuat secara sistematis, dibagi menjadi 5 bab yaitu : BAB I. Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II. Tinjauan teoritis meliputi konsep dasar penyakit dan konsep dasar asuhan keperawatan.

1. 2. 3. 4. 5.

nhAsKep VvCCarkoma Agus Nadianus, S. Kep

Osteos|=v/ncH

Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price, 1962:1213h=/v/|

h////////////////////////;
y

Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Oganization ) setiap tahun jumlah penderita kanker 6.25 juta orang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker diantara 100.000 penduduk per tahun. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat sekitar 11.000 anak yang menderita kanker per tahun. Di Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat 650 anak yang menderita kanker per tahun. ( www.mailarchive.com). Menurut Errol untung hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. (www.kompas.com). Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan 4

sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy. Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ). ( Smeltzer. 2001: 2347 ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui (www.medicastore.com). 2. Tujuan penulisan a. Tujuan Umum Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata dalam melakukan asuhan keperawatan osteosarkoma. b. Tujuan Khusus Diharapkan mahasiswa mampu memberikan gambaran asuhan keperawatan meliputi : Mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan osteosarkoma, Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. Mampu membuat rencana keparawatan pada pasien dengan osteosarkoma. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. Mampu mengevaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. 6. Mampu menyebutkan faktor pendukung dan penghambat dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan Osteosarkoma. 7. Mampu mengidentifikasi solusi dalam faktor-faktor penghambat pada pasien dengan Osteosarkoma. 3. Metode Penulisan Metode yang digunakan penulis dalam laporan studi kasus ini adalah metode deskriptif yaitu menggambarkan secara langsung melalui pendekatan proses keperawatan dengan cara teknik pengumpulan data seperti wawancara, pemeriksaan fisik, kolaborasi dengan tim kesehatan yang lain serta data dari catatan medik klien. 4. Sistematika Penulisan Untuk memudahkan pengertian dan pemahaman terhadap isi dari laporan kasus ini, maka penulisannya dibuat secara sistematis, dibagi menjadi 5 bab yaitu : BAB I. Pendahuluan meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II. Tinjauan teoritis meliputi konsep dasar penyakit dan konsep dasar asuhan keperawatan.

1. 2. 3. 4. 5.

BAB II TINJAUAN TEORI

1. DEFINISI Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung (Danielle. 1999: 244 ). Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang menginvasi jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam tubuh.( Wong. 2003: 595 ). Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) adalah tumor yang muncul dari mesenkim pembentuk tulang. ( Wong. 2003: 616 ). Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price. 1998: 1213 ). Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer maligna yang paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat.( Smeltzer. 2001: 2347 ). Tempat-tempat yang paling sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal. Tempat yang paling jarang adalah pelvis, kolumna, vertebra, mandibula, klavikula, skapula, atau tulang-tulang pada tangan dan kaki. Lebih dari 50% kasus terjadi pada daerah lutut. ( Otto.2003 : 72 ). Sarkoma osteogenik atau osteosarkoma adalah merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Osteosarkoma merupakan tumor tulang maligna primer yang paling lazim dan seringkali berakibat fatal dan dapat timbul sebagai metastase sekunder dari ekstrimitas tungkai pada 50% kasus. Biasanya terdapat pada lokasi bekas radiasi atau lebih sering sebagai penyerta pada penyakit paget. Osteosarkoma sering terjadi pada laki-laki pada kelompok usia 10-25 tahun dan pada orang tua yang mengalami penyakit paget.

2. ETIOLOGI a. Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi b. Keturunan c. Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget (akibat pajanan radiasi). d. Virus onkogenik ( Smeltzer. 2001: 2347 ). 3. ANATOMI DAN FISIOLOGI Tulang paha atau femur adalah bagian tubuh terbesar dan tulang terkuat pada tubuhmanusia. Ia menghubungkan tubuh bagian pinggul dan lutut. Femur pada ujung bagian atasnya memiliki caput, collum, trochanter major dan trochanter minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yaitu tempat perlekatan ligamentum dari caput. Sebagian suplaii darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. Bagian collum, yang menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan ke bawah, belakang, lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh penyakit. Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terdapat tuberculum quadratum. 6

Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung, linea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah. Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis.Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan posterior batang femur, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah berhubungan dengan linea aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut fascia poplitea. Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut membentuk articulatio genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis. 4. PATOFISIOLOGI Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. Penyebab osteosarkoma belum jelas diketahui, adanya hubungan kekeluargaan menjadi suatu predisposisi. Begitu pula adanya hereditery. Dikatakan beberapa virusonkogenik dapat menimbulkan osteosarkoma pada hewan percobaan. Radiasi ion dikatakan menjadi 3% penyebab langsung osteosarkoma. Akhir-akhir ini dikatakan ada 2 tumor suppressor gene yang berperan secara signifikan terhadap tumorigenesis pada osteosarkoma yaitu protein P53 ( kromosom 17) dan Rb (kromosom 13). Lokasi tumor dan usia penderita pada pertumbuhan pesat dari tulang memunculkan perkiraan adanya pengaruh dalam patogenesis osteosarkoma. Mulai tumbuh bisa didalam tulang atau pada permukaan tulang dan berlanjut sampai pada jaringan lunak sekitar tulang epifisis dan tulang rawan sendi bertindak sebagai barier pertumbuhan tumor kedalam sendi. Osteosarkoma mengadakan metastase secara hematogen paling sering keparu atau pada tulang lainnya dan didapatkan sekitar 15%-20% telah mengalami metastase pada saat diagnosis ditegakkan. (Salter, robert : 2006). Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal dengan respons osteolitik (destruksi tulang) atau respons osteoblastik (pembentukan tulang). Beberapa tumor tulang sering terjadi dan lainnya jarang terjadi, beberapa tidak menimbulkan masalah, sementara lainnya ada yang sangat berbahaya dan mengancam jiwa. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang panjang dan biasa ditemukan pada ujung bawah femur, ujung atas humerus dan ujung atas tibia. Secara histolgik, tumor terdiri dari massa sel-sel kumparan atau bulat yang berdifferensiasi jelek dan sring dengan elemen jaringan lunak seperti jaringan fibrosa atau miksomatosa atau kartilaginosa yang berselang seling dengan ruangan darah sinusoid. Sementara tumor ini memecah melalui dinding periosteum dan menyebar ke jaringan lunak sekitarnya; garis epifisis membentuk terhadap gambarannya di dalam tulang. Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses pembentukan tulang. Terjadi destruksi tulang lokal.. Pada proses osteoblastik, karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif. Pathway Patofisiologi Osteosarkoma

Faktor Resiko, Keturunan (Hereditery), Virus Onkogenik, dan Radiasi Ion Sel Tumor Menginvasi Jaringan Lunak Respon Osteolitik Tulang) Destruksi Tulang lesi terjadi Penghancuran Tulang Lokal yang abortif Respon Osteoblastik (Pembentukan Penimbunan Periosteum Tulang yang baru dekat lempat

Terjadi pertumbuhan tulang

Osteoporosi Pembedahan Penambahan massa tulang

Fraktu r Nyeri Akut Resiko Infeksi

Kerusakan Integritas Kulit

Kerusakan Mobilitas Fisik

5. ABSES Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksii bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah, yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong. Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas abses; hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. 6. GAMBARAN KLINIS a. Rasa sakit (nyeri), Nyeri dan atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit). b. Pembengkakan, Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas (Gale. 1999: 245). c. Keterbatasan gerak d. Fraktur patologik. e. Menurunnya berat badan 8

f. Teraba massa; lunak dan menetap dengan kenaikan suhu kulit di atas massa serta distensi pembuluh darah maupun pelebaran vena. g. Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun dan malaise (Smeltzer. 2001: 2347). 7. LABORATORIUM dan RADIOGRAFI Studi radiografikal, scan MRI dan CT pada tulang yang terkena penyakit, mielogram, artetiografi, dan essai biokimia darah dan urine akan memberikan informasi diagnostic. Pada radiografi, terdapat tanda kerusakan tulang di dalam diafisis dengan erosi korteks tulang, terangkatnya periosteum terlihat pada tepi lesi di tempat terbentuknya tulang baru di bawah (segitiga codman). Terbentuknya tulang baru terlihat di dalam medula atau korteks tulang, tergantung dari tumor tersebut apakah osteolitik atau osteoblastik. 8. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan yang biasa dilakukan: a. Pemeriksaan radiologis menyatakan adanya segitiga codman dan destruksi tulang. b. CT scan dada untuk melihat adanya penyebaran ke paru-paru. c. Biopsi terbuka menentukan jenis malignansi tumor tulang, meliputi tindakan insisi, eksisi,biopsi jarum, dan lesi- lesi yang dicurigai. d. Skening tulang untuk melihat penyebaran tumor. e. Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan adanya peningkatan alkalin fosfatase. f. MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya. g. Scintigrafi untuk dapat dilakukan mendeteksi adanya skip lesion, ( Rasjad. 2003). 9. a. b. c. DIAGNOSA BANDING Lesi tulang infeksiosa terutama karena sifilis. Neoplasma tulang yang lain seperti khondrosarkoma Tumor sel datia atau defosit metastasis karsinomatosa pada tulang dari tumor primer.

10. PENATALAKSANAAN a. Penatalaksanaan medis Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Penatalaksanaan meliputi pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau terapi kombinasi. Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi. Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal intravena, diurelika, mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid. ( Gale. 1999: 245 ). b. Tindakan keperawatan 1) Manajemen nyeri Teknik manajemen nyeri secara psikologik (teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi) dan farmakologi (pemberian analgetika). 2) Mengajarkan mekanisme koping yang efektif Motivasi klien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan mereka, dan berikan dukungan secara moril serta anjurkan keluarga untuk berkonsultasi ke ahli psikologi atau rohaniawan. 3) Memberikan nutrisi yang adekuat Berkurangnya nafsu makan, mual, muntah sering terjadi sebagai efek samping 9

kemoterapi dan radiasi, sehingga perlu diberikan nutrisi yang adekuat. Antiemetika dan teknik relaksasi dapat mengurangi reaksi gastrointestinal. Pemberian nutrisi parenteral dapat dilakukan sesuai dengan indikasi dokter. 4) Pendidikan kesehatan Pasien dan keluarga diberikan pendidikan kesehatan tentang kemungkinan terjadinya komplikasi, program terapi, dan teknik perawatan luka di rumah.(Smeltzer. 2001: 2350 ). 5) Jika diperlukan traksi, Prinsip Perawatan Traksi a) Berikan tindakan kenyamanan ( contoh: sering ubah posisi, pijatan punggung ) dan aktivitas terapeutik. b) Berikan obat sesuai indikasi contoh analgesik relaksan otot. c) Berikan pemanasan lokal sesuai indikasi. d) Beri penguatan pada balutan awal / pengganti sesuai dengan indikasi, gunakan teknik aseptic dengan tepat. e) Pertahankan linen klien tetap kering, bebas keriput. f) Anjurkan klien menggunakan pakaian katun longgar. g) Dorong klien untuk menggunakan manajemen stress, contoh: bimbingan imajinasi, nafas dalam. h) Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan i) Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh: edema, eritema. Tujuan dari penatalaksanaan adalah untuk menghancurkan atau mengankat jaringan maligna dengan menggunakan metode yang seefektif mungkin. Secara umum penatalaksanaan osteosarkoma ada dua, yaitu: a. Pada pengangkatan tumor dengan pembedahan biasanya diperlukan tindakan amputasi pada ekstrimitas yang terkena, dengan garis amputasi yang memanjang melalui tulang atau sendi di atas tumor untuk control lokal terhadap lesi primer. Beberapa pusat perawatan kini memperkenalkan reseksi lokal tulang tanpa amputasi dengan menggunakan prosthetik metal atau allograft untuk mendukung kembali penempatan tulang-tulang. b. Kemoterapi Obat yang digunakan termasuk dosis tinggi metotreksat yang dilawan dengan factor citrovorum, adriamisin, siklifosfamid, dan vinkristin. 11. KOMPLIKASI a. Akibat langsung : Patah tulang b. Akibat tidak langsung : Penurunan berat badan, anemia, penurunan kekebalan tubuh c. Akibat pengobatan : Gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah, kebotakan pada kemoterapi. 12. PROGNOSA Prognosa jelek, hanya kira-kira seperlima atau kurang dari 10 persen yang kasus yang mempunyai harapan hidup / bertahan sampai / lebih dari 5 tahun.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN OSTEOSARCOMA A. PENGKAJIAN 1. Identitas pasien Nama, umur, jenis kelamin, pendidkan, pekerjaan, status lain-lain.

perkawinan, alamat, dan

10

a. b. c. a. b. c. d. a. b. c.

2. Riwayat kesehatan Pasien mengeluh nyeri pada daerah tulang yang terkena. Klien mengatakan susah untuk beraktifitas/keterbatasan gerak Mengungkapkan akan kecemasan akan keadaannya

3. Pengkajian fisik Pada palpasi teraba massa pada derah yang terkena. Pembengkakan jaringan lunak yang diakibatkan oleh tumor. Pengkajian status neurovaskuler; nyeri tekan Keterbatasan rentang gerak 4. Hasil laboratorium/radiologi Terdapat gambaran adanya kerusakan tulang dan pembentukan tulang baru. Adanya gambaran sun ray spicules atau benang-benang tulang dari kortek tulang. Terjadi peningkatan kadar alkali posfatase.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri akut berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan (amputasi). Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah nyeri akut teratasi seluruhnya. DS : Klien mengatakan nyeri sebelum dan setelah pembedahan DO : a. Fokus diri klien tampak menyempit, dan b. Perilaku klien tampak melindung diri / berhati-hati. Kriteria Hasil : a. Klien mengatakan nyeri hilang dan terkontrol, b. Klien tampak rileks, tidak meringgis, dan mampu istirahat/tidur dengan tepat, c. Tampak memahami nyeri akut dan metode untuk menghilangkannya, dan d. Skala nyeri 0-2. a. b. c. d. e. Intervensi: Catat dan kaji lokasi dan intensitas nyeri (skala 0-10). Selidiki perubahan karakteristik nyeri. R / : Untuk mengetahui respon dan sejauh mana tingkat nyeri pasien. Berikan tindakan kenyamanan (contoh ubah posisi sering, pijatan lembut). R / : Mencegah pergeseran tulang dan penekanan pada jaringan yang luka. Berikan sokongan (support) pada ektremitas yang luka. R / : Peningkatan vena return, menurunkan edema, dan mengurangi nyeri. Berikan lingkungan yang tenang. R / : Agar pasien dapat beristirahat dan mencegah timbulnya stress. Kolaborasi dengan dokter tentang pemberian analgetik, kaji efektifitas dari tindakan penurunan rasa nyeri. R / : Untuk mengurangi rasa sakit / nyeri.

11

2. Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan muskuluskletal, nyeri, dan amputasi. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah kerusakan mobillitas fisik teratasi seluruhnya. DS : Klien mengatakan sulit untuk bergerak DO : Klien tampak mengalami Gangguan koordinasi; penurunan kekuatan otot, kontrol dan massa. Kriteria Hasil : a. Pasien menyatakan pemahaman situasi individual, program pengobatan, dan tindakan keamanan, b. Pasien tampak ikut serta dalam program latihan / menunjukan keinginan berpartisipasi dalam aktivitas, c. Pasien menunjukan teknik / perilaku yang memampukan tindakan beraktivitas, dan d. Pasien tampak mempertahankan koordinasi dan mobilitas sesuai tingkat optimal. Intervensi : a. Kaji tingkat immobilisasi yang disebabkan oleh edema dan persepsi pasien tentang immobilisasi tersebut. R /: Pasien akan membatasi gerak karena salah persepsi (persepsi tidak proporsional). b. Dorong partisipasi dalam aktivitas rekreasi (menonton TV, membaca koran dll ). R / : Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memusatkan perhatian, meningkatkan perasaan mengontrol diri pasien dan membantu dalam mengurangi isolasi sosial. c. Anjurkan pasien untuk melakukan latihan pasif dan aktif pada yang cedera maupun yang tidak. R / : Meningkatkan aliran darahnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn nnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnnn ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan mobilitas sendi, mencegah kontraktur / atropi dan reapsorbsi Ca yang tidak digunakan. d. Bantu pasien dalam perawatan diri. R / : Meningkatkan kekuatan dan sirkulasi otot, meningkatkan pasien dalam mengontrol situasi, meningkatkan kemauan pasien untuk sembuh. e. Berikan diit Tinggi protein Tinggi kalori , vitamin , dan mineral. R / : Mempercepat proses penyembuhan, mencegah penurunan BB, karena pada immobilisasi biasanya terjadi penurunan BB. f. Kolaborasi dengan bagian fisioterapi. R / : Untuk menentukan program latihan. 3. Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan penekanan pada daerah tertentu dalam waktu yang lama. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah kerusakan integritas kulit / jaringan taratasi seluruhnya. Kriteria Hasil : Klien Menunjukkan prilaku / tehnik untuk mencegah kerusakan kulit tidak berlanjut. Intervensi : 1) Kaji adanya perubahan warna kulit. R / : Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit. 2) Pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan. R / : Untuk menurunkan tekanan pada area yang peka resiko kerusakan kulit lebih lanjut. 3) Ubah posisi dengan sesering mungkin. R / : Untuk mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan meminimalkan resiko kerusakan kulit. 12

4) Beri posisi yang nyaman kepada pasien. R / : Posisi yang tidak tepat dapat menyebabkan cedera kulit / kerusakan kulit. 5) Kolaborasi dengan tim kesehatan dan pemberian zalf / antibiotic. R / : Untuk mengurangi terjadinya kerusakan integritas kulit. 4. Resiko infeksi berhubungan dengan fraktur terbuka kerusakan jaringan lunak. Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam masalah resiko infeksi tidak terjadi. Kriteria Hasil : a. Tidak ada tanda-tanda Infeksi, b. Leukosit dalam batas normal, dan c. Tanda-tanda vital dalam batas normal. Intervensi : 1) Kaji keadaan luka (kontinuitas dari kulit) terhadap adanya: edema, rubor, kalor, dolor, fungsi laesa. R/ : Untuk mengetahui tanda-tanda infeksi. 2) Anjurkan pasien untuk tidak memegang bagian yang luka. R/ : Meminimalkan terjadinya kontaminasi. 3) Rawat luka dengan menggunakan tehnik aseptik R/ : Mencegah kontaminasi dan kemungkinan infeksi silang. 4) Mewaspadai adanya keluhan nyeri mendadak, keterbatasan gerak, edema lokal, eritema pada daerah luka. R/ : Merupakan indikasi adanya osteomilitis. 5) Kolaborasi pemeriksaan darah : Leukosit R/ : Leukosit yang meningkat artinya sudah terjadi proses infeksi.

DAFTAR PUSTAKA Brunner and Suddart. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Vol 3. Ed 8. EGC. Jakarta. Doengoes, Marilynn E. Et al. 1999, Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Price, Sylvia Anderson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC pada tanggal 18 februari 2013 dari http: // www. Google. Com Rahmadi, Agus. 1993. Perawatan Gangguan Sistem Muskuloskletal. Banjarbaru: Akper Depkes. Reeves, J. Charlene. Et al. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Ed. I. Salemba medika. Jakarta Tucker, Susan Martin et al.1999, Standar Perawatan Pasien Edisi V Vol 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC --. 2003. Catatan Kuliah Medikal Badah III. (Print out). Jurusan Keperawatan Banjarbaru

13

Asuhan keperawatan Osteosarkoma


BAB I TINJAUAN TEORITIS 1.1. Konsep Dasar 1.1.1. Pengertian 1.1.1.1. Osteosarkoma Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung (Danielle. 1999: 244 ). Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price. 1998: 1213) Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer

14

maligna yang paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat.( Smeltzer. 2001: 2347 ) Tempat-tempat yang paling sering terkena adalah femur distal, tibia proksimal dan humerus proksimal. Tempat yang paling jarang adalah pelvis, kolumna, vertebra, mandibula, klavikula, skapula, atau tulang-tulang pada tangan dan kaki. Lebih dari 50% kasus terjadi pada daerah lutut. ( Otto.2003 : 72 )

1
1.1.1.2.Abses Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksii bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi infeksi.

Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan sel-sel yang terinfeksi.

Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah, yang mengisi rongga tersebut. Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong.

Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas abses; hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih lanjut. 1.1.2. Anatomi dan Fisiologi

15

Gambar 1.1. Tulang paha (femur) Tulang paha atau femur adalah pada tubuhmanusia. bagian Ia tubuh terbesar tubuh

dan tulang terkuat

menghubungkan

bagian pinggul dan lutut. Femur pada ujung bagian atasnya memiliki caput, collum, trochanter major dan trochanter minor. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis, yaitu tempat perlekatan ligamentum dari caput. Sebagian suplaii darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. Bagian collum, yang menghubungkan kepala pada batang femur, berjalan ke bawah, belakang, lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh penyakit. Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang, dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya, namun pada bagian posteriornya terdapat rabung, linea aspera. Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke bawah. Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis.Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris

16

lateralis. Pada permukaan posterior batang femur, di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis, yang ke bawah berhubungan dengan linea aspera. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya, disebut fascia poplitea. Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis, yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. Kedua condylus ikut membentuk articulatio genu. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis. 1.1.3. Etiologi 1.1.3.1. Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi 1.1.3.2. Keturunan 1.1.3.3. Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya seperti penyakit paget (akibat pajanan radiasi ). 1.1.3.4. Virus onkogenik ( Smeltzer. 2001: 2347 ) 1.1.4. Tanda dan Gejala 1.1.4.1. Nyeri dan atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit). 1.1.4.2. Fraktur patologik. 1.1.4.3. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta

pergerakan yang terbatas. ( Gale. 1999: 245 ) 1.1.4.4. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena. 1.1.4.5. Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun dan malaise. ( Smeltzer. 2001: 2347 )

1.1.5. Komplikasi 1.1.5.1. Akibat langsung : Patah tulang 1.1.5.2. Akibat tidak langsung : Penurunan berat badan, anemia, penurunan

17

kekebalan tubuh 1.1.5.3. Akibat pengobatan : Gangguan saraf tepi, penurunan kadar sel darah, kebotakan pada kemoterapi. 1.1.6. Patofisiologi Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. Penyebab osteosarkoma belum jelas diketahui, adanya hubungan kekeluargaan menjadi suatu predisposisi. Begitu pula adanya hereditery. Dikatakan beberapa virus dapat menimbulkan osteosarkoma pada hewan percobaan. Radiasi ion dikatakan menjadi 3% penyebab langsung

osteosarkoma. Akhir-akhir ini dikatakan ada 2 tumor suppressor gene yang berperan secara signifikan terhadap tumorigenesis pada osteosarkoma yaitu protein P53 ( kromosom 17) dan Rb (kromosom 13). Lokasi tumor dan usia penderita pada pertumbuhan pesat dari tulang memunculkan perkiraan adanya pengaruh dalam patogenesis

osteosarkoma. Mulai tumbuh bisa didalam tulang atau pada permukaan tulang dan berlanjut sampai pada jaringan lunak sekitar tulang epifisis dan tulang rawan sendi bertindak sebagai barier pertumbuhan tumor kedalam sendi. Osteosarkoma mengadakan metastase secara hematogen paling sering keparu atau pada tulang lainnya dan didapatkan sekitar 15%-20% telah mengalami metastase pada saat diagnosis ditegakkan. (Salter, robert : 2006) WOC
KETURUNAN

18

MK: GANGGUAN CITRA TUBUH KERUSAKAN MOBILITAS FISIK BERDUKA


VIRUS ONKOGENIK MK:GANGGUAN

RASA NYAMAN

RADIASI ION MK: PERUBAHAN NUTRISI

PERTUMBUHAN TULANG ABNORMAL

(Salter, robert : 2006)

1.1.7.

Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan yang biasa dilakukan:

1.1.7.1. Pemeriksaan destruksi

radiologis

menyatakan

adanya

segitiga

codman

dan

tulang.

1.1.7.2. CT scan dada untuk melihat adanya penyebaran ke paru-paru. 1.1.7.3. Biopsi terbuka menentukan jenis malignansi tumor tulang, meliputi tindakan insisi, eksisi,biopsi jarum, dan lesi- lesi yang dicurigai. 1.1.7.4. Skening tulang untuk melihat penyebaran tumor. 1.1.7.5. Pemeriksaan darah biasanya menunjukkan adanya peningkatan alkalin fosfatase. 1.1.7.6. MRI digunakan untuk menentukan distribusi tumor pada tulang dan penyebaran pada jaringan lunak sekitarnya. 1.1.7.7. Scintigrafi untuk dapat dilakukan mendeteksi adanya skip lesion, ( Rasjad. 2003 ) 1.1.8. Penatalaksanaan 1. Penatalaksanaan medis
MK: PERUBAHAN Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat NUTRISI

didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas radioterapi, yang atau sakit. terapi Penatalaksanaan kombinasi. meliputi

pembedahan,

kemoterapi,

Osteosarkoma

biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi. Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan 19 normal intravena, diurelika, mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid. ( Gale. 1999: 245 ). 2. Tindakan keperawatan