Anda di halaman 1dari 41

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pada masa sekarang ini bangunan-bangunan yang dibangun baik gedung, jembatan maupun bangunan lainnya, mayoritas komponen bangunannya terbuat dari beton. Beton merupakan struktur utama pada suatu bangunan yang terdiri dari campuran semen, air, pasir, dan agregat kasar, yang berfungsi untuk menopang beban yang terjadi. Pada awalnya beton merupakan bahan yang elastis, tetapi setelah umur tertentu akan mengeras dan mempunyai kekuatan tertentu pula, sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Beton merupakan bahan bangunan yang hanya dapat menahan gaya tarik namun tidak dapat menahan gaya tekan. Untuk menghasilkan bangunan yang maksimal, beton tersebut haruslah dapat menahan gaya tarik dan tekan. Dalam perwujudan hal tersebut, maka beton perlu ditambahkan tulangan agar dapat menahan gaya tekan, sehingga beton dapat berfungsi dengan maksimal. Dengan ditambahkannya tulangan beton tersebut dinamakan Beton Bertulang. Untuk membentuk beton menjadi bentuk yang diinginkan diperlukan suatu alat bantu yang biasa dikenal dengan sebutan Acuan dan Perancah/Bekisting/ Form Work yang berupa cetakan, atau suatu konstruksi sementara dari suatu bangunan yang berfungsi untuk mendapatkan suatu konstruksi beton yang diinginkan sesuai dengan porsinnya sebagai bangunan pembantu. Acuan Perancah bersifat sementara yang harus kuat dan kokoh, namun mudah dibongkar agar tidak menimbulkan kerusakan pada beton. Baik buruk dari pengerjaan acuan dan perancah dapat mempengaruhi hasil akhir dari mutu beton yang dikerjakan. Acuan yang kurang baik dapat menimbulkan kerugian seperti kehilangan material, perubahan dimensi beton, perubahan struktur bangunan, dan juga dapat mempengaruhi keselamatan pekerja. Dalam pelaksanaannya seorang ahli di bidang tersebut harus mempunyai keterampilan khusus dan mempunyai pengetahuan dasar yang cukup tentang acuan dan perancah.

1.2

Tujuan dan Manfaat Acuan dan Perancah merupakan suatu konstruksi yang berbahaya dan perlu pemahamanan yang tinggi. Pekerjaan acuan perancah merupakan suatu pekerjaan yang memerlukan suatu pemahaman atau nalar yang tinggi. Dalam Acuan Perancah kita harus memperhatikan Instruktur yang menerangkan suatu pekerjaan, karena jika tidak kita tidak akan dapat paham bagaimana kita menyelsaikan suatu pekerjaan tersebut. Dalam pekerjaan Acuan Perancah ini kita harus dapat membaca suatu gambar konstruksi dan paham serta tahu bagaimana cara membuat pekerjaan ini selesai sesuai dengan yang kita harapkan. Acuan Perancah 2 ini memberikan suatu ilmu baru seperti cara membaca gambar dengan baik dan benar dan kita harus dapat menuangkan gambar yang kita baca tersebut kedalam suatu pekerjaan konstruksi, kerja sama yang tinggi, serta kita harus dapat memikirkan dan memhami bagaimna menyelasaikan suatu pekerjaan konstruksi itu dengan teknik yang baik benar serta mudah dan cepat. Pekerjaan Acuan Perancah merupakan sutu pekerjaan yang berbahaya yang mana kita harus memperhatikan aturan-aturan yang terdapat dalam pekerjaan tersebut dan kita harus memiliki sikap displin yang tinggi dan kerja sama yang tinggi sesama teman serta harus memperhatikan keselamatan kerja. Adapun tujuan dari Acuan Perancah II ini antara lain: Membentuk mahsiswa dapat membaca gambar suatu konstruksi dengan baik dan benar dan paham bagaimana menyelesaikannya dengan teknik yang benar Membentuk mahasiswa berpikir bagaimana menyelesaikan suatu pekerjaan konstruksi itu dengan baik dan benar Membentuk mahasiswa memiliki sikap disiplin,rasa gotong royong yang tinggi dan saling menghormati sesama mahasiswa Kita harus memilki sikap disiplin yang tinggi dan kerja sama sesama pekerja agar tercipta suatu pekerjaan yang tadinya berbahaya dapat menjadian suatu pekerjaan yang tenang dan menyenangkan.

BAB II FORMWORK
2.1 Definisi Formwork adalah suatu konstruksi sementara,yang terdiri dari acuan dan perancah,dan berfungsi untuk mendukung terlaksananya pengerjaan adonan beton yang dicorkan sesuai dengan bentuk yang dikehendaki.Acuan merupakan bagian dari bekisting yang berfungsi sebagai cetakan untuk membentuk beton yang diinginkan yang sifatnya sementara.perancah merupakan bagian dari bekisting yang berfungsi sebagai dudukan acuan dan menahan beban acuan.Jadi acuan pekerja pengecor beton dan lain sebagainya, sampai beton mengeras, sehingga dapat menahan berat sendiri dan beban kerja. Acuan beton terdiri dari bidang bagian bawah dan samping. Papanpapan bagian bawah dari acuan yang tidak terletak langsung di atas tanah dipikul oleh gelagar acuan, sedangkan gelagar acuan didukung oleh perancah. Pada konstruksi beton yang langsung terletak di atas tanah, bagian bawah tidak perlu diberi cetakan, tetapi cukup dipasang lantai kerja dari beton dengan campuran 1 semen : 3pasir : 5 krikil dengan ketebalan 5 cm. Jadi, yang perlu diberi papan acuan bagian samping saja. Untuk pekerjaan beton yang akan difinishing dengan plesteran, papan acuan tidak perlu dihaluskan, tetapi bila pekerjaan beton tidak memerlukan finishing, maka permukaan acuan harus licin. Untuk pekerjaan tersebut biasnya digunakan acuan dari multipleks, plywood, atau pelat baja.

2.2

Fungsi Acuan dan Perancah


1. 2. 3. 4. 5. Memberikan bentuk kepada konstruksi beton Untuk mendapatkan permukaan struktur yang diharapkan Menopang beton sebelum sampai kepada konstruksi yang cukup keras dan mampu memikul beban sendiri maupun beban luar Mencegah hilangnya air semen ( air pencampur ) pada saat pengecoran Sebagai isolasi panas pada beton.

2.3

Macam-macam Konstruksi Dalam ilmu teknik sipil terdapat 3 macam jenis konstruksi, yaitu : a. b. c. konstruksi kayu konstruksi baja konstruksi beton bertulang

Masing-masing konstruksi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan:. a) Konstruksi kayu Keuntungan : - Mudah dalam perawatan. - Tidak dapat menghantarkan listrik. Kerugian : Susah untuk dibentuk sesuai dengan keinginan. Mudah lapuk atau di makan rayap. Keuntungan : - Baja memiliki tingkat keutuhan yang lebih tinggi. c) Konstruksi beton Keuntungan : Mudah didalam pembuatan.

b) Konstruksi baja

2.4

Syaratsyarat Umum Acuan dan Perancah 1. Kuat Didalam pekerjaan ini beban-beban beton yang berada pada bekisting dan beban lain yang dipikul oleh bekisting itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan suatu acuan perancah yang kuat untuk dapat memikul beban yang diterimanya. Berat Sendiri (Beton) Cetakan harus sanggup menahan berat beton yang di cetakan.

Berat Hidup Cetakan harus sanggup menahan beban hidup, yaitu : baik orang yang sedang mengerjakan beton tersebut, Vibrator, dan adanya kemungkinan terjadinya suatu Gempa atau Retakan. Pembebanan : Beban mati (DL) 2. Kaku Kaku atau tidak bergerak sangat penting pada acuan dan perancah ini, karena apabila perancah tersebut tidak kaku atau dapat bergerak, maka hasil yang akan dicapai tidak maksimal karena bentuk yang ingin kita capai tidak sempurna. 3. Mudah dibongkar Acuan dan perancah harus mudah dibongkar karena acuan hanya bersifat sementara, dan hal ini menyangkut efisiensi kerja, yaitu tidak merusak beton yang sudah jadi dan acuan perancahnya dapat digunakan berkali-kali. 4. Ekonomis dan Efisien Didalam pembuatan acuan dan perancah tidak perlu bahan yang terlalu bagus, namun jangan pula bahan yang sudah tidak layak pakai. Karena kita harus membuat acuan dan perancah sehemat mungkin dengan tidak mengurangi mutu dari bekisting dan didalam pembongkarannya acuan dapat digunakan kembali sehingga menghemat biaya. 5. Rapi Rapi dalam penyusunan sehingga bisa enak dilihat dengan kasat mata dan mudah dalam penyusunan dan pembongkaran. 6. Rapat Kerapatan suatu bekisting sangat mempengaruhi didalam proses pengecoran. Karena apabila bekisting yang kita pakai tidak rapat maka adukan yang kita pakai tadi akan keluar dan akan mengakibatkan mutu beton yang kurang bagus karena pasta semen keluar dari bekisting Akibat beton Akibat acuan

Beban hidup (LL)

7. Bersih Untuk mendapatkan hasil yang baik cetakan harus bersih apabila cetakan tidak bersih, maka dalam proses pengecoran kotoran mungkin akan naik dan masuk ke dalam adukan beton sehingga akan mengurangi mutu beton dan apabila kotoran tidak naik maka kotoran tersebut akan melekat pada bagian bawah beton sehingga sulit untuk dibersihkan.. 2.5 Kerugiankerugian Jika Acuan dan Perancah Kurang Baik 1. Perubahan geometric Perubahan ini mengakibatkan bentuk yang kita harapkan tidak sesuai dengan rencana, misalkan : suatu konstruksi yang menyiku menjadi tidak siku, akibatnya akan mengadakan perbaikan lagi atau misalkan perlu ditambahkan pekerjaan finishing lagi. 2. Penurunan mutu beton Seperti halnya terjadi kebocoran pada acuannya, hal ini akan mengakibatkan air yang diikuti semen tadi keluar sehingga mutu / kekuatan beton menjadi berkurang 3. Terjadinya perubahan dimensi Terjadinya perubahan ukuran dari dimensi yang kita rencanakan akibatnya jika terjadi perubahan ini maka akan memperbesar dan memperkecil volumenya. Sedangkan untuk melakukan perbaikan akan membutuhkan waktu dan biaya lagi, hal ini akan menghambat pekerjaan yang lainnya. 2.6 Bagianbagian Acuan dan Perancah a) Bagian pada acuan 1. Papan Cetakan Dapat digunakan papan sebagai dinding acuan. Apabila digunakan papan maka penyambungan dapat dilakukan dalam arah melebar ataupun memanjang,perlu diiperhatikan dalam penyanbungan papan harus benarbenar rapat agar tidak ada air yang keluar. 2. Klam Perangkai Klam merupakan unsur acuan dan perancah yang mempunyai dua fungsi : a) Sebagai bahan penyambung papan acuan pada arah memanjang maupun melebar 6

b) Sebagai bahan pengaku acuan pada arah melebar. klam dapat terbuat dari papan seperti papan acuan, namun perlu dipotong potong sesuai ukuran yang dikehendaki atau cukup menggunakan papan sisa yang masih cukup panjang dengan lebar papan yang disambung. b) Bagian pada perancah 1. Tiang acuan/Tiang Penyangga Tiang acuan biasanya digunakan kasau, kayu gelam, ataupun berbahan besi. Umumnya jumlah tiang kolom 4 buah dan diletakkan diluar sudut kolom. Perletakan tiang pada tanah biasanya diletakkan diatas papan atau juga ditanam pada tanah. Apabila tiang langsung berhubungan dengan tanah sebaiknya ditanam sedalam 20 cm untuk menjaga agar konstruksi tidak bergeser. dari ketinggian kedudukan acuan. Jarak pemasangan tiang penyangga tergantung dari : > > > > beban yang ditopang ukuran balok ukuran penampang maupun panjang tiang penyangga itu sendiri skur/pengaku. II terdapat 2 macam tiang yang

Dalam Acuan dan Perancah digunakan,yaitu: 1) 2) 2.

Tiang tunggal (pipe support/steel proof). Tiang rangka (scaffolding).

Gelagar Gelagar berfungsi sebagai penopang langsung dari acuan yang ada serta dapat berfungsi untuk mengatur elevasi yang diinginkan dari acuan. Gelagar terbuat dari bahan kayu berukuran balok maupun papan. Penggunaan bahan gelagar dari kayu berukuran balok maupun berukuran papan tergantung dari perencanaan pemakaian bahan, tetapi yang pasti gelagar yang berpenampang 8 x 12 cm akan digunakan untuk menopang beban yang lebih berat jika dibandingkan balok kasau berukuran 4 x 6 cm maupun papan 2 x 20 cm.

Gelagar dipasang pada tiang bagian atas sesuai dengan ketinggian yang dibutuhkan. Pemasangan ini dimulai dari gelagar-gelagar bagian tepi, dan kemudian gelagar bagian tengah. Gelagar bagian tepi dianggap sebagai papan duga terhadap gelagar bagian tengah Jarak pemasangan gelagar tergantung dari ; > > > 3. Skur Skur merupakan bagian dari acuan perancah yang berfungsi untuk memperkokoh atau memperkaku dari sistem acuan perancah yang ada. Agar didapat suatu sistem acuan perancah yang memenuhi persyaratan kekakuan, maka skur dipasang pada dua posisi : a) Skur horizontal merupakan skur yang mempunyai fungsi untuk mempersatukan tiang penyangga yang ada, sehingga tiang-tiang tersebut akan bekerja bersamaan pada saat mendapatkan gaya b) Skur diagonal merupakan skur yang dipasang miring pada arah vertikal, yang mempunyai fungsi utama untuk melawan gaya-gaya horizontal ( goyangan ) yang timbul pada tiang penyangga. Skur horizontal saja tidak mampu mengatasi gaya. Skur diagonal saja tidak mampu menerima gaya karena tidak ada persatuan antar tiang penyangga dan yang bisa terjadi tiang akan melendut. Kombinasi antara skur horizontal dan diagonal akan mempunyai kemampuan menopang gaya, karena terjadi kekompakan tiang dan skur. 4. Landasan Landasan merupakan untuk tiang penyangga agar tidak bergerak-gerak. Landasan yang digunakan biasanya berupa balok kayu, baja atau beton. Landasan berfungsi sebagai: 1) Sebagai bahan (alat) untuk memperluas bidang tekan pada setiap ujung -ujung tiang penyangga 2) Sebagai bahan atau alat untuk menyangga tergesernya ujung-ujung tiang akibat adanya gaya-gaya horizontal 8 Ukuran penampang bahan gelagar Beban yang dipikul Ketebalan papan acuan.

3) Sebagai bahan atau alat untuk memudahkan pemasangan tiang -tiang apabila tiang-tiang tersebut harus dipasang pada tempa- tempat bergelombang. 5. Penyokong Setelah papan landasan siap, maka tiang-tiang yang sudah dipotong diletakkan diatas papan tersebut dan dipasangkan penyokong agar tiang tiang tersebut dapat berdiri dengan tegak dan kokoh.

2.7

Metode yang digunakan Dalam Acuan dan Perancah 1. System Tradisional Yaitu suatu metode yang masih menggunakan material lokal, sedangkan konstruksinya konvensional. Penggunaan terbatas hanya sampai pada beberapa kali penggunaan untuk bentuk yang rumit akan banyak memakan waktu dan tenaga. 2. Semi System Yaitu suatu metode dimana material dan konstruksinya sudah merupakan campuran antara material lokal dan buatan pabrik akan bisa kita pakai terusmenerus, oleh karena itu penggunaan metode ini hanya untuk pekerjaan yang mengalami beberapa kali pembuatan terus-menerus. 3. Full System Yaitu suatu metode dimana semua materialnya merupakan buatan pabrik dan konstruksinya tidak lagi konstruksi konvensional. Materialnya bisa digunakan secara terus-menerus dan penggunaannya sangat mudah dan sesuai dengan petunjuk dari pabrik pembuatannya. Untuk menginvestasikannya memerlukan banyak pertimbangan karena harga bekisting ini cukup mahal. Sebelum pekerjaan dimulai kita harus menghitung terlebih dahulu beban-beban yang akan diterima.

Dalam Acuan dan Perancah II, metode yang digunakan adalah metode Semi Systerm. Perencanaan Konstruksi Acuan & Perancah Pembebanan Acuan horizontal, contoh : lantai Acuan vertikal, contoh: kolom

Pembebanan Vertikal Perkiraan Tekanan yang dikembangkan oleh Beton Ada 4 tekanan yang mungkin berbeda: 1. P. Hidrostatis Phs = P = tekanan beton mendesak ke samping. P. arching = P.arc = h = tinggi beton = berat jenis beton (kg/m2)

2. Beton pada saat dituangkan tidak langsung rata, membentuk lengkungan dan

R = Laju kecepatan vertikal pengecoran (m/jam) d = Tebal beton (mm) dipertimbangkan jika d tidak mendesak lagi) 3. Faktor pengaruh kekentalan dan suhu diabaikan P. Stiffering = P.st = K = nilai koreksi antara suhu dan slump 500mm (faktor lengkung

Tabel Nilai K

Kemantapan Penurunan (mm) 25 50 75 100 4. 15 K-C, 8 1,10 1,35 1,60

Suhu Beton (C) 20 25 30 0,60 0,80 1,00 1,15 0,45 0,60 0,75 0,90 0,35 0,45 0,55 0,65

35 0,30 0,40 0,50 0,60

P. Impect = P. imp = 10

Bila tekanan jatuh Beton lebih dari 2m, pada waktu menghitung ditambahkan dengan P. Impect. Apabila berat untuk beton lembek sangat berbeda dari nila 2400 kN/m maka suatu koreksi harus dibuat dengan rumus :
2

R 2400

Keadaan Khusus: Dengan campuran zat penghambat hanya Ph dan Pg dapat dipertimbangkan. Pada Beton dengan campuran zat Plasticizer hanya Ph dapat dipertimbangkan. Pada Beton dengan kemantapan S> 80 mm (Turun) dan getaran luar hanya Ph dan Pv dapat dipertimbangkan. Pada pengecoran Beton dengan pipa, dimana ujungnya berda dibeton,maka tekanan hidrostatik sepanjang pipa keseluruhan harus dipertimbangkan. Pengecoran Beton dengan menggunakan pompa,diaman ujung pipa berada didalam Beton, maka 150% dari tekanan hidrostatik yang ada harus ditambahkan. Pembebanan Horizontal o Biasanya terjadi akibat tekanan hidrostatis dari beton basah dan gaya getar

11

2.8

Alat-alat yang digunakan 1. Palu

2. Gergaji

3. Waterpas

4. Mesin Potong

12

5. Benang

6. Unting-unting

7. Penggaris siku

8. Rol meteran

13

9. Linggis

10. Pensil / Kapur Pensil / kapur digunakan sebagai bahan penanda atau batasan.

A. Peralatan Khusus Peralatan Khusus merupakan peralatan yang tidak pernah digunakan dalam Acuan Perancah I,antara lain: 1. Rapid Klem Rapid Klem merupkan alat penjepit dengan memsaukkan tulangan besi untuk penjepitnya dan dikunci hingga sesuatu yang akan diikat itu tidak bergerak lagi atau kuat. Rapid Klem diikat dengan perantara kunci rapid klem yang diputar hingga kencang.

T.Atas T.Sam ping

RAPID KLEM

14

2.

Plat Besi

Plat Besi juga memiliki fungsi hampir sama dengan rapid klem, akan tetapi plat besi lebih simple dari rapid klem karena plat besi hanya ditaruh dan kunci dengan plat besi yang berbentuk segitiga pada tiap lubang yang sesuai.

G br l t a a aP Ba m a j dn eg c a Pn n ui

3.

Steel Prop

Steel Prop memiliki fungsi yang sma dengan dolken pada Acuan Perancah I,akan tetapi steel prop biasanya digunakan pada gedung yang tinggi.Steel Prop memiliki tinggi yang dapat diatur. Kelebihan Steel Prop dari dolken ,antara lain: Steel Prop lebih simple dari dolken Steel Prop memiliki bentuk yang sama sehingga mempermudah dlam penegakannya dan pengaturan kedatarannya Ketinggian Steel dapat diatur sesuai dengan yang dinginkan sedangkan Dolken jika tinggnya kurang harus disambung.

Tp .e D a n

Ts .a A t

S LO T PP ER E ( n rc T Pn) i gah a ea

15

4.

Schaffoelding

Schaffoelding merupakan alat perancah yang terbuat dari baja. Alat Perancah ini digunakan untuk konstruksi besar dan ini dapat digunakan terus sampai alat perancah ini rusak. Alat Perancah ini dapat disambungsambung sesuai dengan kegunaannya. Alat Perancah ini selain sebagai alat perancah juga memiliki fungsi lain yaitu sebagai tempat orang berkerja yang dialasnya dapat dipasang roda. Schaffoelding ada 2 macam sesuai dengan tinggi standarnya: Schaffoelding Besar Schaefolding merupakan alat perancah yang memiliki tinggi standard 170 cm. Schaffoelding kecil Extra Folding merupakan tambahan scahefolding yang memiliki tinggi 90 cm

Tampak Samping

16

Tampak Depan 5. Pipa Penyambung Schaffoelding

Pipa Penyambung ini digunakan jika kita ingin menyambung dengan schaffoelding yang lainnya.

Sam bungan Schaffoelding

6.

Extra Foelding 17

Extra Foelding adalah suatu alat tambah dalam Schaffoelding yang berfungsi sebagai alas dan tempat balok sesuai dengan bentuknya.

Tampak atas

Exr Fo ld gy n b rfu g se a a A s t a e in a g e n si b g i la

Tampak atas

ExraFo ld gy n b rfu g i se a a t ma B lo K y t e in a g e n s b g i e p t a k a u

Bahan bahan yang digunakan B. Bahan Utama Pada Acuan Perancah 2 ada sedikit perbedaan dengan Acuan Perancah 1, pada bahan yang digunakan. Bahan-bahan yang digunakan pada Acuan Perancah 2 ini antara lain: 1. Kayu Kayu merupakan bahan utama dalam suatu konstruksi bangunan,begitu juga dalam Acuan Perancah II ini kayu sangat diperlukan kegunaanya.Dalam Acuan Perancah ini akan digunakan balok kayu yang berukuran 8 X 12 cm dan papan yang difungsikan sebagai penguat atau skur dan klem

Papan

Papan harus disimpan dengan baik dan harus telindung dari pengaruh cuaca dan serangan serangga serta peresapan air tanah. Untuk penyimpanan papan harus diberi tumpuan .Bagi kayu yang basah tiap satu papan diberi tumpuan teapi bagi papan yang kering tiap tumpukan 5 papan diberi tumpuan

Dolken (Gelam) Dolken biasa digunakan dalam perancah, dan dolken yang digunakan

biasanya bersal dari jenis pinus akasia, kayu manis, kayu laut dan lain-lain.

18

Doken harus tahan akan cuaca .Ukuran yang biasa digunakan dolken dalam perancah yaitu memeiliki diameter 6-10 cm dengan panjang (tinggi) 4m.

Kasau

Tidak berbeda dengn penyimpanan papan.Ukuran kasau yang digunakan untuk acuan :4/6 400 cm ,5/7-400 cm. 2. Plywood / Multiplex

Pada Acuan Perancah II tidak hanya bahan yang dari alam saja yang digunakan tetapi juga digunakan bahan buatan, yaitu plywood yang merupakan salah satu bahan utama dalam Acuan Perancah II ini. Dalam Acuan Perancah ini, akan digunakan Plywood sebagai bahannya , yang digunakan untuk cetakan. Digunakan Plywood sebagai cetakan karena permukaan dari plywood yang telah rata dan halus sehingga tidak perlu diketam lagi.Keunggulan dari cetakan dengan plywood anatara lain: Hasil beton akan lebih baik dari pada cetakan papan Permukaannya telah rata dan halus sehingga tidak perlu untuk diketam Ukuran plywood telah memenuhi standard (1,22 m X 2,44 m) Plywood tidak mengalami perubahan bentuk plywood

sendiri,sedangkan papan mengalami perubahan akibat dari factor alam dan manusia seperti melentingnya suatu papan yang mempengaruhi kekuatan suatu beton Plywood biasanya digunakan pada pekerjaan yang cukup besar dan untuk permukaan beton yang tidak diplaster lagi tidak memerlukan finishing (exposed concret). Pada acuan yang menggunakan plywood diusahakan agar tidak banyak pemakuan, agar pembongkaran dapat mudah dilakukan dan kemungkinan plywood rusak sangat kecil, sehingga dapat digunakan berkalikali (yang baik dapat digunakan 10 kali). Untuk plywood berkualitas baik, penggunaan paku yang sedit pada plywood dapat dilaksanakan kalau kestabilan konstruksi perencanaan nya dilaksanakan dengan baik. Adapun plywood yang sering diperginakan di Indonesia khusus untuk acuan termasuk kelas II dan tebal 1,8 cm.

19

3.

Baja Tulangan

Baja selain digunakan dalam pembuatan beton, pada Acuan Perancah II ini baja tulangan digunakan sebagai alat penjepit pada pembuatan Kolom atau Balok dengan Rapid Klem. 4. Paku Bentuk penampang paku yang digunakan dalam acuan dan perancah ialah yang berpenampang bulat. Hal ini untuk mempermudah didalam pembongkarannya. Panjang paku yang digunakan tergantung dari tebal sambungan yang dibuat atau maximal sepanjang tebal sambungan. Paku tidak boleh melebihi tebal sambungan karena bagian ujung paku yang dibengkokkan akan menyuklitkan pekerjaan pembongkaran. Kekuatan paku berpenampang bulat dapat dilihat dalam daftar A yang Jarak minimum pemakuan harus memenuhi syarat-syarat sebagai a. Dalam arah gaya berlaku pula untuk tebal kayu yang akan di sambung. berikut : 12.d. untuk tepi kayu yang dibebani 5.d. untuk tepi kayu yang tidak dibebani 10.d. untuk jarak antar paku b. Dalam arah tegak lurus arah gaya 5.d. untuk jarak sampai tepi kayu 5.d. untuk jarak barisan paku Penggunaan sambungan dengan paku harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a) b) Paku yang dipergunakan dapat mempunyai penampang melintang Kekuatan paku berpenampang bulat diberikan dalam tebal II yang berbentuk bulat persegi atau berakhir lurus. PKKI dibawah ini dan berlaku untuk tebal kayu seperti tertera pada daftar tersebut. Kekuatan paku tersebut tidak tergantung dari besar sudut yaitu sudut antara arah gaya dan arah serat kayu. 20 PKKI

c)

Untuk sambungan yang menyimpang tebal dari II, dapat dipakai

rumus dibawah ini dengan mengingat syarat-syarat ukuran paku seperti tertera dalam table III. 1. Sambungan berpenampang Satu b 7d 7d b b 7d 7d b S=bd S = 3,5 d2 2. S = b d. S = 7 d2 Ket : S b D d) Ujung paku = gaya yang diperkenankan /paku = tebal paku = diameter paku (tebal II ) = kokoh desak kayu yang keluar dari sambungan, sebaiknya dibengkokkan tegaklurus arah serst, asal pembengkokan tersebut tidak akan merusak kayu e) Apabila dalam suatu barisan terdapat lebih dari 10 batang paku maka kekuatan paku harus dikurangi dengan 10% dan jika lebih dari 20 batang harus dikurangi 20%. f) 5. Pada sambungan dengan paku ,paling sedikit harus digunakan 4 Kawat Beton batang paku. Kawat Beton merupakan bahan pembantu dalam Acuan Perancah II ini,kawat beton digunakan sebagai pengikat antara Steel Prop dengan skur (Karena Skur tidak dipakukan pada Steel Prop).

Sambungan berpenampang dua

21

BAB III JOB 1 BEKISTING KOLOM


3.1 Definisi

Kolom adalah tiang yang menahan suatu konstruksi bangunan. Kolom merupakan bagian terpenting dalam suatu konstruksi,sehingga kita harus teliti dalam merencanakan suatu kolom yang baik, tegak lurus dan kuat serta memiliki mutu yang baik. Rapid Klem adalah suatu alat yang dibentuk sedemikian rupa sehingga dapat menjepit atau membuat kaku suatu cetakan dengan menjepit baja tulanang sebagai penjepitnya. Kolom yang dibuat cetakannya dengan pengakuan Rapid Klem sangat kuat cetakan tersebut, akan tetapi Cetakan Kolom yang menggunakan Rapid Klem relatif susah dalam pemasangan Rapid Klem dan berbahaya, sehingga kita harus dapat memahami cara atau teknik pemasangan Kolom dengan Rapid Klem. Tujuan : Pada akhir dari pelajaran Mahasiswa diharapkan dapat: 1. 2. 3. 4. 5. Membuat cetakan dengan baik dan benar serta rapi sesuai dengan bentuknya Menggunakan alat dan bahan dengan baik dan benar Menghitung bahan yang digunakan setiap kolom Menegakkan kedudukan cetakan jika daerahnya tidak rata Membuat kolom yang lurus dan jika dilhat seperti garis lurus

Bahan dan alat : Panel 2/244 x 40 cm Skur baja vertikal Tirus Klem perangkai Meteran Stager Unting-unting Tangga lipat

22

Instruksi Umum

: 1. Perhatikanlah Keselamatan Kerja 2. Persiapkanlah bahan dan peralatan yang digunakan 3. Perhatikanlah instruktur menerangkan 4. Pahamilah gambar kerja yang akan dilaksanakan

Langkah kerja: Mempelajari gambar kerja dan hitung kebutuhan bahan. Menyiapkan peralatan, bahan dan lokasi kerja yang Rangkaikan papan papan sebagai cetakan kolom

akan digunakan. dengan menggunakan klam perangkai, sesuai dengan ukuran yang tercantum di gambar kerja.. Buat papan duga, tentukan letak as kolom. Pasang tulangan beserta penjaga jarak ( tebal selimut Letakkan cetakan pada tempatnya. Rangkaikan tiang acuan dengan papan gelagar. Jarak

beton ) pada tempatnya.

gelagar sama dengan jarak klam perangkai, tetapi diukur dari as klam perangkai. Tiang acuan harus tegak Memasang papan penjepit untuk bagian atas dan bawah

terlebih dahulu, bagian tengah menyusul setelah cetakan kolom benar benar telah tegak. Untuk menegakkan kolom dipakai unting unting. Kedudukan kolom harus benar benar tegak dan siku / lurus terhadap kedudukan kolom yang lain. jauh. Agar balok vertikal tersebut kuat, sebaiknya kita pasang skoor diantara keduanya. 23 Selanjutnya setelah kolom berdiri tegak, pasanglah balok vertikal pada kolom dan harus segaris jika tampak dari

T.Atas

Tulangan Dia.10mm Rapid Klem 30 Tiang Acuan Cetakan Kolom Klem Balok Penjepit 44 T.Depan 25 Balok Penjepit 8/12 Rapid Klem dan Penjepit Tulangan Besi D.10 Gmb.Balok Penjepit dengan Rapid Klem 80 cm 80 cm

24

Detail bekisting kolom dengan metode semi system hasil praktek kelas 2 gedung 2 pagi

Foto bekisting kolom pada proyek gedung baru di politeknik negeri Jakarta

Gambar bekisting kolom dengan metode full system

25

BAB IV JOB II BEKISTING BALOK


4.1 Definisi Balok dapat disebut kolom horizontal yang mana cetakan kolom dan balok memiliki cara yang sama serta memiliki fungsi sebagai penahan tekanan baik beban mati maupun beban hidup. Balok pada Acuan Perancah 2 ini berbeda dengan balok pada Acuan Perancah 1, perbedaan itu terdapat pada tiang perancah yang digunakan: Balok pada Acuan Perancah 1 tiang perancah yang digunakan yaitu dolken, sedangkan pada Acuan Perancah 2 ini akan digunakan Steel Prop atau tiang perancah yang terbuta dari baja. Balok pada Acuan Perancah 1 lebih rumit pada saat penegakan Balok, karena kadang-kadang dolken yang digunakan tidak memiliki tinggi yang sama sehingga perlu disambung jika kurang, sedangkan Steel Prop pada Acuan Perancah 2 tingginya dapat diatur daan dilahat kedataran dengan WaterPass agar memiliki tinggi yang sama. Alat dan bahan: Panel 2/244 x 40 cm Papan 2/20-400cm Kaso 4/6-400cm Paku 4,5,7cm Balok borneo 8/12-400cm Meteran 26

Gergaji Palu Klem penjepit Selang air Tangga Steel Prop Schafoelldieng Circular Hand Saw Klem penjepit Skur horizontal

Langkah kerja : Mempelajari gambar kerja dan hitung kebutuhan bahan. Menyiapkan peralatan, bahan dan lokasi kerja yang akan digunakan. Rangkaikan papan papan sebagai cetakan balok dengan

menggunakan klam perangkai, sesuai dengan ukuran yang tercantum di gambar kerja. Dirikan tiang perancah dengan jarak antara tiang perancah sama Tiang perancah dikakukan ke arah panjangnya dengan skor. Menimbang dan memasang gelagar. Letakkan cetakan pada tempatnya di atas gelagar. Papan cetakan Pasang klam penjepit dan skor atas. dengan jarak klam perangkai.

Pasang tulangan beserta penjaga jarak ( tebal selimut beton ) pada Skur samping tempatnya Klam penjepit Periksa kesikuan balok dan sambungan antara balok dan kolom. Papan gelagar

schaffoeldieng

27

28

Detail bekisting balok dengan metode semi system hasil praktek kelas 1 gedung 2 pagi

Bekisting balok pada proyek gedung di politeknik negeri Jakarta yang sudah di perbaiki setelah mengalami patah akibat salah konstruksi.

29

BAB V JOB III BEKISTING LANTAI


5.1 Definisi Cetakan lantai adalah lantai yang bisanya terletak diatas lantai dasar yang mana lantai itu harus kuat dan plat lantai harus terikat kuat satu sama lainnya. Cetakan lantai biasanya disuatu konstruksi bangunan rumah lantai 2 dan seterusnya dan gedung.Lantai ini harus terikat denngan balok 5.2 Tujuan Pada akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat: 1. 2. 3. Membuat cetakan lantai dengan benar. Meperhitungkan kekuatan terhadap lantai. Mepergunakan bahan dan perlata dengan baik dan benar. Papan 2/20-400cm Kaso 4/6-400cm Paku 4,5,7cm Balok borneo 8/12-400cm Meteran Gergaji Palu Klem penjepit 30

Alat dan bahan:

Selang air Tangga 5.3 Steel Prop Schafoelldieng Circular Hand Saw Klem penjepit Skur horizontal U head Jack base Pipa galvanis 1. 2. Perhatikan Keselamatan Kerja. Pahamilah Instruktur menerangkan dan bertanyalah jika

Instruksi Umum

kurang mengerti. 3. Pahamilah cara menghitung kebutuhan bahan dan lata yang digunakan. 4. 5.4 Langkah Kerja 1. 2. 3. Persiapkanlah bahan dan alat yang akan digunakan. Taruhlah Schefolding 170 cm ditengah dengan jarak Pasanglah Extra folding Alas di Schaefolding dan Gunakanlah waktu seefektif mungkin

kanan-kiri 50 cm. pasanglah penyambung Schaefolding dan pasanglah juga shcaefolding 90 cm dan taruhlah juga Extra Folding terbuka, sebaiknya Schaefolding dialasi papan yang rata .

31

T ma Aa a pk t s S h eo in c a f ld g

5c 0m

Dn hL na ea ati

4.

Aturlah

ketinggian

Schaefolding

5 cm 0

sampai

dengan

ketinggian 298 cm, yaitu: Tinggi = Papan Alas+T.Schaefolding I+Schaefolding II+Balok penyangga+Gelagar+Extrafolding[atur sampai sesuai dengan ukurannya]

Jadi Tingginya yaitu: [2 + 170 + 90 + 12 +12 + 7(Extrafolding Bawah)+7(Extrafolding)]=300 cm(Sisa 14 cm dibagi sehingga 7 cm untuk atas dan 7cm untuk bawah)

5.

Setelah telah dipasang Schaefolding ,taruhlah Balok

penyangga 8/12 300 cm di extra folding atas, pakukan dan ikat dengan kawat beton agar kuat. 6. Setelah Balok penyangga dipasang taruhlah gelagar dengan jarak 50-60 cm, dan kedataranya dilihat dengan WaterPass. 7. Setelah dipsang dan pakukan semuanya taruhlah papan multiplex uk.2.44 X1.22 m dengan tebal 2 cm diatas a gelagar dan harus rapat dengan dari tebal tep balok 30 cm. 8. Setelah selesai, periksanlah pekerjaan pada Instruktur.

32

Balok

Tam Depan pak

Steel Prop Schaefolding

9.

Selanjutnya, rapikanlah bahan dan peralatan yang

digunakan dan simpan pada tempat semula.

BAB IV MEMBUAT CETAKAN DINDING


4.1 Definisi Dinding dengan Rapid Klem memiliki cara teknik pekerjaanya sama dengan Kolom dengan Rapid Klem. Dinding dengan Rapid Klem itu harus kuat dan kaku serta siku dalam pembuatan cetakannya ,agar menghasilkan dinding sesuai dengan harapan kita dan bermutu yang baik. Cetakan Dinding dengan menggunakan Rapid Klem relatif rumit dan perlu ketelitian dan kehati-hatian,karena dalam pembuatan cetakan dinding dengan Rapid Klem cetakan itu harus siku dan memiliki jarak sama tiap dinding serta datar dan tegak. 4.2 Tujuan Pada akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat : 33

1. Membuat cetakan dinding dengan rapid klem dengan baik dan benar. 2. Memperhitungkan kebutuhan bahan dan peralatan yang digunakan dalam pembuatan cetakan dinding dengan rapid klem. 3. Menggunakan peralatn dengan baik dan benar. Alat dan bahan: 4.3 Instruksi Umum 1. 2. 3. 4. 4.4 Perhatikanlah Keselamatan Kerja Perhatikanlah Instruktur menerangkan cara pembuatan cetakan dinding dengan rapid klem. Persiapknlah bahan dan peralatan yang dibutuhkan. Gunakanlah waktu seefektif mungkin. Panel 2/244 x 40 cm Kaso 4/6-400cm Paku 4,5,7cm tirut Meteran Gergaji Palu Klem penjepit Tangga Circular Hand Saw Pipa galvanis Skur vertical Pipa PVC

Langkah Kerja 1. Persiapkanlah bahan dan peralatan yang akan digunakan. 2. Buatlah Papan Duga dengan lebar dinding 100 cm 3. Setelah papan duga dibuat,pasanglah tiang vertical rapat dengan benang dengan jarak masing-masing 60 cm dari AS dan di skoor horizontal dan miring.

34

4. Periksakanlah ketegakanya dengan dengan WaterPass dan pasanglah skoor tiap Balok vertical. 5.Setelah kita pasang balok vertical, pasanglah cetakan dinding dengan tinggi 30 cm + 1cm + 122 cm + 1cm + 122 cm sehingga tinggi total dari dinding tersebut 276 cm. 6.Pakukanlah cetakan tersebut pada balok vertikal dengan kuat. 7.Cetakan memiliki panjang 244 cm 8. Usahakan cetakan tersebut datar dan tegak dengan melihat kaedah UntingUnting dan WaterPass. 9. Usahakan cetakan harus siku denga kaedah siku. 10.Setelah, cetakan dinding terpasangan, jepitlahlah dengan rapid klem. 11.Sebelum memasang balok 8/12 sebagai penjepitnya, buatlah jarak dengan memasang klem dan WaterPasskanlah klem tersebut serta setelah itu taruhlah balok 8/12 tersebut dan jepitlah dengan kuat dengan Rapid Klem. 12.Setelah dinding dibagian bawah dipasang Rapid Klem lakukan dengan cara yang sama untuk Rapid Klem bagian Atas. 13.Setelah dinding semuanya dipasang Rapid Klem, periksalah ketegakannya dan kedataranya dengan WaterPass dan Unting-Unting. 14.Periksakanlah pekerjaan pada Instruktur. 15.Setelah selesai, rapikanlah bahan dan perlatannya yang digunakan dan simpan pada tempat semula. Detail cetakan dinding hasil praktek kelas 1 gedung 2 pagi

35

BAB V JOB V MEMBUAT CETAKAN TANGGA LINGKARAN


5.1 Definisi Tangga merupakan suatu konstruksi yang digunakan untuk tempat yang tinggi (rumah berlantai 2, gedung besar, dll) merupakan perantarat jalan dari bawah keatas atupun sebaliknya. Bentuk tangga berbagai macam baik dari segi bentuk,bahan serta fungsinya. Beberapa bentuk tangga kebanyakan di Indonesia,diantaranya: Tangga biasa Tangga Lingkaran Tangga Lingkaran 36

Tangga Lingkaran Dan lain sebagainya

Sebelum kita membuat Tangga kita harus memperhitungakn dahulu tangga yang akan kita buat tersebut, Perhitungan Pembuatan Tangga Lingkaran Hitunglah tinggi dinding ,tinggi tangga ialah sama dengan jumlah banyaknya optride

TinggiTangga = [30 + 1 + 122 + 1 + 122]cm = 276cm


Setelah Kita menghitung tinggi tangga, tentukanlah optride dan antride

5.2

Tujuan Pada akhir pelajaran mahasiswa diharapkan dapat: 1. 2. 3. 4. Menghitung dan membuat berbagai bentuk tangga. Merencanakan Tangga yang ideal. Membuat cetakan dan acuan tangga dengan bentuk lingkaran. Menentukan panjang optride dan lebar antride.

Alat dan bahan: Panel 2/244 x 40 cm Kaso 4/6-400cm Paku 4,5,7cm 37

2 Optride +Antride = 57-65 cm Optride minimal =18 cm

2Optride + Antride = 65cm 2(18cm) + Antride = 65cm Antride = 65cm 36cm Antride = 29cm

5.3 Instruksi Umum 1. 2. 3. 4. 5. 5.4

Meteran Gergaji Palu Klem penjepit Tangga Pipa galvanis Skur vertical

Perhatikanlah Keselamatan Kerja. Persiapkanlah bahan dan peralatan yang diperlukan. Perhatikanlah penjelasan cara pembuatan Tangga Lingkaran,bertanyalah pada Intruktur jika kurang mengerti. Pahamilah bentuk gambar kerja. Gunakanlah waktu seefektif mungkin.

Langkah Kerja 1. 2. 3. 4. Persiapkanlah bahan dan peralatan yang diperlukan. Pelajarilah gambar kerja dan hitunglah kebutuhan bahan-bahan yang digunakan. Hitunglah optride dan antride tangga yang akan kita buat. Rencanakan pada optride keberapa tangga tersebut mulai membentuk lingkaran. 5. Gambarlah pada kedua dinding cetakan kedudukan daripada tangga tersebut sesuai dengan kita rencanakan. 6. Pada gambar untuk lantai tangganya harus kita turunkan setebal papan-papan cetakannya. 7. Potong papan sesuai dengan gambar tersebut dan masing-masing kita pakukan pada dinding cetakan hingga sampa selesai . 8. Potongan papan-papan yang sudah dipasang harus kita sokong hingga kedudukannya kuat dan kokoh. 9. Pasang papan-papan cetakan lantai tangga yang telah kita belah pada kedudukan papan-papan tersebut sampai selesai,mengenai ukurannya dapat kita potong ditempat.

38

10.Pada cetakan papan-papan cetakan tersebut ,ditengah-tengah anatara lebar papan cetakan kita buatkan penyokong/pengaku. 11.Pasang papan-papan optride pada dinding yang telah kita gambar. 12.Pada masing-masing papan optride,ditengah-tengahnya (diantara) kita pasang papan penyokong. 13.Periksanlah semua hasil pekerjaa sesuai dengan gambar kerja dan ketentuanketentuan lainnya. 14.Kedudukan dari cetakan dan acuan tangga tersebut harus benar-benar kuat,kokoh dan kaku. 15.Setelah selesai,periksanlah hasil pekerjaan pada Instruktur.

Gambar hasil praktek membuat cetakan tangga lingkaran

39

Tm k ts ap A a a
Bl k egl m a P nk o e

P pn p i e aa Ot d r

SelPo te r p MlCt kn uu a e a S dt a

T ng 1 Lnkr n aga / i ga 4 a

Gambar rencana

BAB VI PENUTUP

40

6.1

Kesimpulan Acuan Perancah 2 merupakan pengembangan dari Acuan Perancah 1,yang mana pada Acuan Perancah 1 kita tahu akan cara menbuat cetakan dengan bimbingan Instruktur, tetapi pada Acuan Perancah 2 kita dituntut untuk berpikir bagaimana cara menyelesaikan suatu konstruksi dengan baik dan benar. Dalam Acuan Perancah 2 yang telah dilaksanakan di Bengkel Terbuka Teknik Sipil Politeknik Negri Sriwijaya, banyak ilmu baru dan ketrampilan yang didapat, antara lain: Kita dapat menghitung kebutuhan bahan dan peralatan serta pekerja dalam Kita dapat menghitung kekuatan suatu konstruksi yang akan kita buat. Kita dapat merencanakan suatu konstruksi sendiri dengan meperhitungakan suatu konstruksi.

segala kebutuhanya konstruksi yanag akan kita buat tersebut. 6.2 Saran Dalam Acuan Perancah II ini, ada bebrapa perbedaan dengan Acuan Perancah I, diantaranya peralatan serta bahan yang digunakan. Acuan Perancah II ini lebih berbahaya dari Acuan Perancah I, karena dalam Acuan Perancah II ini peralatan yang digunakan relati berbahaya serta kontruksi dalam Acuan Perancah II ini suatu ilmu yang harus kita pahami benar, sehingga sebaiknya dalam pelaksanakan Acuan Perancah II kita harus paham dan mengerti tentang Acuan Perancah II. Adapun beberapa saran, diantaranya: Mematuhi peraturan yang ada dalam Bengkel baik tertulis maupun tersirat. Bersikap disiplin dan bekerja sama sehingga waktu yang digunakan efektif. Gunakanlah pakaian kerja seperti helm dan sepatu. Perhatikanlah Instruktur dalam menerangakan sutu pekerjaan.

41