Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Salah satu upaya pengembangan mutu pendidikan adalah dengan meningkatkan hasil belajar mengajar yang tentu saja harus didukung dengan peningkatan kemampuan profesional guru serta peningkatan proses pembelajaran dengan sistem dan fasilitas penunjang yang lengkap. Peningkatan kemampuan guru ini dapat dilihat pada kemampuan dalam mengajar siswa-siswa didiknya dan mengelola kelas secara efisien dan efektif dalam rangka peningkatan motivasi belajar siswa. Sering dengan adanya peningkatan motivasi belajar misalkan dalam menguasai bahan-bahan pelajaran yang pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajarnya. Termasuk juga dalam materi pelajaran sistem pendingin yang terdapat pada kurikulum mata diklat SMK, maka motivasi belajar siswa juga sangat dibutuhkan guna pencapaian hasil belajar/ketuntasan belajar yang optimal. Kemampuan profesional guru untuk mengelola program pengajaran dengan strategi-strategi belajar mengajar yang kaya variasi dan metodemetode baru sehingga dapat tampil secara prima dengan menggunakan pendekatan kepribadian, media dan metode yang tepat demi tercapainya hasil belajar yang optimal dan sesuai yang diharapkan. Pendekatan yang digunakan dalam proses belajar mengajar ini sebagai bentuk upaya mengatasi masalah merososotnya nilai prestasi pada materi pelajaran yang akibatnya kurang fokusnya siswa terhadap mata diklat yang diperolehnya dengan cara selalu mengasah kemampuan mengingat dan mempelajari mata diklat tersebut sebagai hasil akhir belaja akan lebih memuaskan. Kuis merupakan bagian dari tes yang diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa baik selama proses pembelajaran berlangsung ataupun sebelum proses pembelajaran berlangsung sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Faktanya saat ini siswa akan cenderung giat belajar hanya pada waktu akan ujian saja, mereka akan termotivasi untuk lebih memuaskan diri

dalam mengikuti pembelajaran karena mereka tidak ingin gagal pada setiap ujian yang dapat membuat hasil akhir pembelajaran tidak memuaskan. Diberikan kuis diharapkan siswa akan terbiasa untuk belajar atau dengan kata lain dengan adanya kuis diharapkan siswa dapat memotivasi dan memicu dirinya agar belajar lebih giat secara kontinyu dan teratur, serta lamakelamaan siswa tidak merasa terpaksa dan terbiasa untuk belajar. Konsepkonsep yang diberikan guru dapat dikuasai atau dipahami dengan baik sehingga hasil belajar diharapkan dapat meningkat dan memuaskan. Berdasarkan latar belakang masalah dan pemikiran tersebut maka disusun laporan PPL ini dengan judul : Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Langsung dengan Menggunakan Kuis terhadap Motivasi dan Ketuntasan Belajar Siswa Kelas XI TKR 4 pada mata diklat mesin pendingin di SMK Negeri 1 Kediri B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut diatas, permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah penerapan model pembelajaran langsung dengan menggunakan

kuis dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa dalam mengikuti mata diklat sistem pendingin?
2. Apakah penerapan model pembelajaran langsung dengan menggunakan

kuis dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa dalam mengikuti mata diklat sistem pendingin? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian yang ingin penulis capai dalam penelitian pendidikan yang dilakukan penulis pada PPL II di SMK Negeri 1 Kediri adalah sebagai berikut :
1.

Untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran langsung dengan menggunakan kuis terhadap motivasi belajar siswa dalam mengikuti mata diklat sistem pendingin.

2.

Untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran langsung dengan menggunakan kuis terhadap ketuntasan belajar siswa dalam mengikuti mata diklat sistem pendingin.

D. Metode penelitian 1. Tempat dan waktu penellitian Tempat penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Kediri dengan pertimbangan di sekolah inilah penulis melaksanakan tugas sebagai guru PPL mata pelajaran produktif Motor dan Listrik khususnya mata diklat mesin pendingin. Waktu penelitian Waktu penelitian adalah waktu yang digunakan selama proses kegiatan PPL II berlangsung yaitu dari tanggal 11 Juli sampai 11 September 2011 di SMK Negeri 1 Kediri. 2. Populasi dan Sampel Populasi Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMK Negeri 1 Kediri semester I tahun 2011-2012. Keseluruhan subyek yang diteliti bersifat homogen yang berarti bahwa materi yang disajikan kepada siswa tidak dibedakan saat berdasarkan siswa kemampuan Sampel Sampel adalah wakil atau sebagian dari populasi yang diteliti. Adapun yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah kelas XI TKR 4 SMK Negeri 1 Kediri semester I tahun pelajaran 2011-2012. 3. Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data yang dipakai dalam penelitian tindakan ini adalah wawancara, lembar observasi dan tes/kuis a. Wawancara masing-masing karena penerimaan

dilaksanakan tes.

Penelitian ini dengan melakukan wawancara kepada beberapa siswa yang bisa untuk mewakili wawancara ini untuk memperoleh keterangan dan responden dalam rangka melengkapi data penelitian. Wawancara ini untuk mengumpulkan data tentang seberapa jauh motivasi belajar siswa terhadap mata diklat sistem pendingin. b. Lembar Instrumen Observasi Obsevasi sebagai alat pengumpul data dilakukan peneliti dalam rangka kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan observaso ini peneliti mencatat motivasi belajar siswa dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan kuis. c. Tes Tes adalah suatu alat pengukur yang berupa serangkaian pertanyaan yang harus dijawab secara sengaja dalam situasi yang distandarisasikan dan untuk mengukur kemampuan dan ketuntasan belajar individu atau kelompok tes ini dilaksanakan pada akhir jam pelajaran.

BAB II KAJIAN PUSTAKA


A. Proses Belajar Mengajar Proses Belajar Mengajar (PBM) merupakan inti dari proses pendidikan secara keseluruhan. Dalam PBM ada kegiatan yang integral (utuh terpadu) antara siswa yang belajar dengan dan guru yang mengajar. Dalam kesatuan kegiatan ini terjadi interseksi respirokal yakni hubungan antara guru dengan para siswa dalam suasana yang bersfat pengajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Usman (1989 : 1) yang menyatakan bahwa PBM merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu. Usman menyatakan bahwa interaksi atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat utama bagi berlangsungnya PBM. Interaksi dalam PMB mempunyai arah yang luas, tidak sekedar hubungan antara guru dengan murid tetapi berupa interaksi edukatif, dimana guru dan siswa berperan aktif mengolah pesan, informasi atau materi pelajaran hingga memperoleh kebermaknaan dari setiap perbuatan masing-masing. Guru berusaha menciptakan kondisi belajar yang memungkinkan terjadinya pengalaman belajar pada diri siswa, dengan mengerahkan segala sumber belajar dan menggunakan berbagai strategi belajar mengajar yang tepat dan siswa berupaya mengembangkan dirinya melalui kegiatan belajar untuk meraih hasil belajar yang optimal. Proses, menurut Hamaik (dalam Dahlia, 1999: 20) merupakan Urutan kegiatan yang berlangsung secara berkesinambungan, bertahap, bergilir, dan terpadu yang secara keseluruhan mewarnai dan memberi karakteristik terhadap belajar mengajar. Proses dalam pengertian ini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam PBM dimana satu sama lain saling berhubungan dalam ikatan untuk mencapai tujuan.

Belajar, menurut Surya (1995:5) bahwa: Belajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Dari pengertian diatas, belajar adalah proses yang melahirkan atau mengubah suatu kegiatan melalu jalan latihan yang membedakan dari perubahan-perubahan oleh faktor yang tidak termasuk latihan. Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses yang aktif. Belajar adalah proses merekasi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu, sehingga belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami, hasil belajar dalah perubajan tingkah laku. Mengajar, pada hakikatnya adalah suatu proses mengatur, Mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar (Sudjana, 2000:29). Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar, sehingga dapat dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan pengalaman moral. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat tergantung pada pertanggung jawaban guru dalam melaksanakan tugasnya. B. Model Pembelajaran Langsung Pembelajaran Langsung atau direct instruction dikenal dengan sebutan active teaching. Penyebutan itu mengacu pada gaya mengajar di mana guru terlibat aktif dalam mengusung isi pelajaran kepada peserta didik dan mengajarkannya secara langsung kepada seluruh kelas. Teori pendukung pembelajaran langsung adalah teori behaviorisme dan teori belajar sosial. Berdasarkan kedua teori tersebut, pembelajaran langsung menekankan belajar sebagai perubahan perilaku. Jika behaviorisme menekankan belajar sebagai stimulus-respons bersifat mekanis, maka teori belajar sosial beraksentuasi pada perubahan perilaku bersifat organis melalui peniruan.

Motivasi sebagai penguatan bersemayamnya segala informasi dalam memori peserta didik. Guru dianjurkan memberi reward berupa pujian, hadiah, atau nilai tertentu kepada peserta didik yang menunjukkan kinerja yang memuaskan. Peserta didik yang belum menunjukkan kinerja yang memuaskan perlu diyakinkan akan arti penting penugasan materi atau perilaku yang disajikan bagi kehidupan mereka. Seiring dengan upaya tersebut ada baiknya ditunjukkan pula bukti-bukti kerugian orang yang tidak menguasai materi atau perilaku yang dimodelkan. Pembelajaran langsung dirancang untuk penugasan pengetahuan prosedural, pengetahuan deklaratif (pengetahuan faktual) serta berbagai keterampilan. Pembelajaran langsung dimaksudkan untuk menuntaskan dua hasil belajar yaitu penugasan pengetahuan yang distrukturkan dengan baik dan penugasan keterampilan. Sintak model pembelajaran langsung sebagai berikut : FASE-FASE Fase 1. Establishing Set Menyampaikan tujuan mempersiapkan peserta didik Fase 2. Demonstrating keterampilan Fase 3. Guided Practice Membimbing pelatihan Fase 4. Feed back umpan balik Fase 5. Extended Practice Memberikan kesempatan pelatihan lanjutan dan penerapan PERILAKU GURU Menjelaskan tujuan pembelajaran, dan informasi latar belakang pelajaran, mempersiapkan peserta didik untuk belajar Mendemonstrasikan tahap demi tahap Merencanakan keterampilan

Mendemonstrasikan pengelolaan atau yang benar, menyajikan informasi dan memberi

pelatihan awal Mengecek apakah peserta didik telah baik, memberi umpan balik Mempersiapkan kesempatan untuk melakukan pelatihan lanjutan, dengan perhatian khusus pada penerapan kepada situasi lebih kompleks dalam

Mengecek pemahaman dan memberi berhasil melakukan tugas dengan

kehidupan sehari-hari. Pelaksanaan model pembelajaran langsung membutuhkan lingkungan belajar dan sistem pengelolaan. Tugas-tugas yang terkait dengan mengelola

lingkungan belajar selama pelajaran dengan model pembelajaran langsung hampir identik dengan yang digunakan guru ketika menerapkan model presentasi. Dalam model pembalajaran langsung, guru menstrukturisasikan lingkungan belajarnya dengan sangat ketat, mempertahankan fokus akademik, dan berharap peserta didik menjadi pengamat, pendengar, dan partisipan yang tekun. Perilaku buruk yang dapat terjadi selama pelajaran dengan model pembelajaran langsung harus ditangani dengan akurat dan cepat. Model pembalajaran langsung dapat diterapkan pada mata pelajaran apapun, namun yang paling tepat untuk mata pelajaran yang berorientasi kinerja atau performance. Model pembelajaran langsung juga cocok untuk komponen-komponen keterampilan dalam mata pelajaran.
C. Motivasi dalam Belajar

Secara etimologi motivasi berasal dari kata motif

yang artinya

pendorong. Sedangkan motivasi adalah kata kerja yang artinya mendorong. Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri siswa untuk menimbulkan kegiatan belajar mengajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai (WS. Winkel, 1983:73) Sadirman (1983:73) mengemukakan bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar mengajar yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan memberi arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Prayitno (1989: 8) menyatakan bahwa motivasi belajar tidak saja merupakan suatu energi yang menggerakkan siswa untuk belajar, tetapi juga sebagai suatu yang mengarahkan aktivitas siswa kepada tujuan belajar. Lebih lanjut, Marx & Tombuch (Prayitno, 1988:8) mengumpamakan, motivasi sebagai bahan bakar dalam beroperasinya mesin gasoline. Tidaklah menjadi betapapun baiknya potensi anak yang meliputi kemampuan intelektual atau bakat siswa dan materi yang akan diajarkan serta lengkapnya sarana belajar, namun bila siswa tidak termotivasi dalam belajarnya, maka PBM tidak akan berlangsung optimal.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi belajar adalah dorongan atau kekuatan dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan serta arah belajar untuk mencapai tujuan yang dikehendaki siswa. Motivasi mempunyai fungsi penting dalam belajar, karena motivasi akan menentukan intensitas usaha belajar yang dilakukan siswa. Hwaley (Yusuf, 1993:14) menyatakan bahwa para siswa yang memiliki motivasi tinggi, balajarnya lebih baik dibandingkan dengan para siswa yang memiliki motivasinya rendah. Hal ini dapat dipahami, karena siswa yang memiliki motivasi tinggi akan tekun dalam belajar dan terus belajar secara kotinyu tanpa mengenal putus asa serta dapat mengesampingkan hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar yang dilakukannya. Syaodih (dalam Kurniasih, 1997:32) menyatakan fungsi dari motivasi adalah: (1) mendorong anak dalam melaksanakan sesuatu aktivitas dan tindakan; (2) dapat menentukan arah perbuatan seseorang, dan (3) memotivasi berfungsi dalam menyeleksi jenis-jenis perbuatan dan aktivitas seseorang. Prayitno (dalam Sardiman, 1998) mengatakan bahwa fungsi dari motivasi dalam PBM adalah (1) menyediakan kondisi yang optimal bagi terjadinya belajar, (2) menguatkan semangat belajar siswa, (3) menimbulkan atau menggugah minat siswa agar mau belajar, (4) mengikat perhatian siswa agar mau dan menemukan serta memilih jalan/tingkah laku yang sesuai untuk mendukung pencapaian tujuan belajar maupun tujuan hidup jangka panjang. Aspek motivasi dalam keseluruhan PBM sangat penting karena motivasi dapat mendorong siswa untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu yang berhubungan dengan kegiatan belajar. Motivasi yang dapat memberi petunjuk atau perbuatan yang dilakukannya. Berdasarnya pernyataan diatas, maka harus dilakukan suatu upaya agar siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi sehingga siswa yang bersangkutan dapat mencapai hasil belajar yang optimal. Siswa dalam belajar hendaknya merasakan adanya kebutuhan psikologis yang normative. Siswa yang termotivasi dalam belajarnya dapat

10

dilihat dari karakteristik tingkah laku yang menyangkut minat, ketajaman, perhatian, konsentrasi dan ketekunan. Siswa yang memiliki motivasi rendah belajarnya menampakkan keengganan, cepat bosan dan berusaha menghindar dari kegiatan belajar. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa motivasi menentukan tingkat berhasil tidaknya kegiatan belajar yang efektif. Mengingat demikian pentingnya peranan motivasi bagi siswa dalam belahar, maka guru diharapkan dapat membangkitkan dan meningkatkan motivasi belajar siswa-siswanya. Agar siswa dapat mencapai hasil belajar yang optimal, maka siswa harus memiliki motivasi belajar yang tinggi. D. Fungsi Tes dalam Pembelajaran Dalam dunia pendidikan, tes merupakan salah satu alat untuk dapat memotivasi belajar siswa. Siswa dapat memotivasi dengan sering memberikan tes / ulangan agar dapat meningkatkan hasil belajarnya. Tes selain sebagai motivasi juga dapat mendorong siswa untuk lebih menyiapkan diri karena siswa tidak ingin gagal dalam setiap tes yang dilaksanakan. Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tes dapat memotivasi siswa dan mempengaruhi proses belajar siswa ke arah yang lebih baik karena siswa tidak ingin gagal dalam setiap tes yang dilakukan sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya. Kemudian dari hasil tes akan diperoleh suatu hasil belajar yang berupa nilai. Nilai yang sesuai dengan porsinya merupakan suatu konsekuensi adil yang diterima sehingga dapat memacu siswa untuk berusaha memperbaiki diri. Pengenalan seseorang terhadap hasil atau kemajuan belajarnya adalah penting, karena dengan mengetahui hasil-hasil belajar yang sudah dicapai seseorang akan berusaha meningkatkan hasil belajar selanjutnya. Uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tes dapat membantu siswa untuk mengetahui kemajuan hasil belajarnya dan siswa akan mendapatkan konsekuensi adil dari adanya nilai tes yang sesuai dengan porsinya. Banyak manfaat yang didapat dari tes, termasuk manfaat tes bagi guru, antara lain :

11

1. 2. 3.

Mengetahui seberapa jauh bahan pelajaran yang diajarkan sudah Mengetahui bagian-bagian mana dari bahan pelajaran yang belum Mempertimbangkan tentang metode pengajaran, apakah metode Bila ditinjau dari lingkup materi yang diungkap, tes dapat dibedakan

dapat diterima oleh siswa. dikuasai oleh siswa. yang digunakan sudah tepat atau belum. atas tes pencapaian dan tes penelusuran. Tes pencapaian mengungkap materi yang luas sedang tes penelusuran dikenakan pada sebagian kecil bahan materi. Salah satu bentuk tes penelusuran adalah kuis. Tes penelusuran atau kuis ini dapat digunakan untuk segera memonitor kemajuan siswa, adanya kemajuan atau tingkat pencapaian yang diperoleh siswa merupakan informasi yang dapat digunakan guru untuk segera mengambil tindakan selanjutnya. E. Kuis Kuis adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporam tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui. (Arikunto, 2006 : 151). Tes dengan ruang lingkup yang terbatas, hanya meliputi satu atau 2 topik dan hanya berlangsung dalam waktu yang singkat disebut kuis. Kata kuis dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai ulangan lisan/tulisan singkat. Singkat dalam arti pelaksanaannya hanya memerlukan waktu yang relatif sedikit, sehingga dimungkinkan dalam satu tatap muka bisa diadakan lebih dari 1 kali kuis. Pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa kuis merupakan bagian dari tes yang berlangsung singkat dan dapat dipergunakan sehingga alat untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa guna mengukur tingkat kepahaman terhadap materi pelajaran yang telah diberikan Siswa dapat dimotivasi dengan sering memberikan kuis agar dapat meningkatkan ketuntasan belajarnya. Kuis dapat juga digunakan sebagai alat untuk mengukur dan meningkatkan ketuntasan belajar siswa. Siswa akan cenderung lebih mempersiapkan diri (misalnya dengan belajar di rumah dan

12

lebih memperhatikan guru) bila mengetahui ada kuis, kemudian dari kuis akan diperoleh nilai yang dapat digunakan sebagai bahan perhitungan ketuntasan belajar F. Ketuntasan Belajar (Belajar Tuntas) Belajar tuntas adalah Suatu sistem belajar mengajar dimana siswa diharapkan menguasai secara tuntas (penuh) yang telah dijabarkan dalam indikator dari suatu unit pelajaran. Belajar tuntas merupakan suatu pola pengajaran terstruktur yang bertujuan untuk mengadaptasikan pengajaran pada kelompok siswa yang besar (pengajaran klasikal) sedemikian rupa, sehingga diberikan perhatian secukupnya pada perbedaaan-perbedaan yang terdapat diantara siswa. Khususnya yang menyangkut laju kemajuan atau kecepatan dalam belajar. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar tuntas merupakan sistem belajar mengajar yang direncanakan sedemikian rupa sehingga kelompok siswa yang besar (pengajaran klasikal) dapat menguasai bahan pelajaran secara tuntas sesuai dengan indikator yang telah ditentukan. Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pengajar dalam mengembangkan belajar tuntas ini agar efektif dan efisien yaitu a. b. c. d. Tujuan yang ingin dicapai ditetapkan secara jelas dan dibagi dalam unit pelajaran Siswa dituntut menguasai indikator untuk pelajaran pertama sebelum menginjak unit berikutnya Perlu ditingkatkan motivasi dan efektivitas belajar siswa dengan memantau hasil belajar melalui tes Diberikan bantuan atas pertolongan kepada siswa yang mengalami kesulitan belajar pada saat yang tepat setelah tes formatif. Ketuntasan belajar terdiri dari ketuntasan belajar perorangan dimana, seorang disebut tuntas belajar bila ia mencapai skor 70 % dan ketuntasan belajar kelompok (klasikal dimana, suatu kelompok disebut tuntas belajar bila di kelompok terdapat 85% yang telah mencapai daya serap 70%.

13

BAB III PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

14

14

A. PENYAJIAN DATA Berdasarkan hasil penilaian melalui postest evaluasi / nilai ulangan harian untuk Standar Kompetensi dalam kegiatan belajar-mengajar di kelas XI TKR 4 menggunakan kuis melalui model pembelaran langsung selama mengikuti kegiatan PPL II di SMK Negeri 1 Kediri diperoleh data sebagai berikut : Nilai Kuis XI TKR 4 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 NAMA SISWA Muhamad Syaeroji Nedya Seta P.P Novyan Candra Dwyansyah Octa Muhammad Putro Sakti Ponco Wolo Rahmad Basuki Ranu Nugraha Rijaal Mufti W Robin Haris P. Roby Kusuma D. Rusydi Fahmi D Saipul Islam Saka Gusmantara Samsul Eko P. Sekti Bagus Saputra Septa Agung P Septian Dwi Cahyo Sigit Risang Permadi Soni Dwi Dediono Stefanus Dwi S. Syiva Asyari Taufiq Efendy Tri Kurniawan Wahyu Budi P. Wendi Nur Astoko Yahya Arya Fajar S. Yohan Putra Pertama Yuda Aditya Dwi Prakarsa Yulio Iswandaru P Yusuf Adi Wijayanto Yusuf Efendi Zainal Abidin KUIS I 75 75 80 80 80 70 75 80 75 80 65 60 85 65 75 65 70 80 85 75 65 65 70 90 65 85 80 95 65 65 50 KUIS II 71 66 91 87 46 76 88 84 73 76 91 78 73 87 76 78 81 89 78 84 96 80 66 84 98 91 91 98 88 78 76

Nilai Evaluasi XI TKR 4

15

Standar Kompetensi Kelas/Semester Jumlah Soal Peserta No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 Nama

: Mengoverhoul Sistem pendingin dan komponen : XI/I : 5 : 29 Skor yang diperoleh 1 2 3 4 5 15 18 20 15 20 20 10 10 20 15 15 18 20 20 18 18 18 20 20 20 20 20 18 12 18 18 20 20 12 18 20 18 20 20 15 10 20 10 20 20 20 20 20 20 20 10 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 15 20 18 18 5 20 20 20 20 20 18 20 15 20 20 15 10 18 15 20 18 10 20 20 20 20 20 15 5 15 18 18 20 18 18 15 15 12 5 12 20 15 20 15 20 12 20 18 10 5 20 20 18 18 20 15 18 15 Jumlah Skor 88 91 71 55 98 73 90 93 87 83 90 88 93 90 90 85 90 90 96 80 68 88 100 98 90 98 85 71 88 86,45 Ket Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas Tuntas tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Belum Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas Tuntas 93,10%

Muhamad Syaeroji Nedya Seta P.P Novyan Candra Dwyansyah 15 Octa Muhammad 10 Putro Sakti Ponco Wolo 10 Rahmad Basuki 20 Ranu Nugraha 10 Rijaal Mufti W 20 Robin Haris P. 20 Roby Kusuma D. 15 Rusydi Fahmi D 20 Saipul Islam 20 Saka Gusmantara 15 Samsul Eko P. 20 Sekti Bagus Saputra 20 Septa Agung P Septian Dwi Cahyo 20 Sigit Risang Permadi 15 Soni Dwi Dediono 20 Stefanus Dwi S. 15 Syiva Asyari 20 Taufiq Efendy 20 Tri Kurniawan 15 Wahyu Budi P. 10 Wendi Nur Astoko 20 Yahya Arya Fajar S. 20 Yohan Putra Pertama 20 Yuda Aditya Dwi Prakarsa 20 Yulio Iswandaru P 15 Yusuf Adi Wijayanto 15 Yusuf Efendi 18 Zainal Abidin RATA-RATA

B. Analisis Data Analisis Nilai Ulangan Terhadap Ketuntasan Belajar Siswa

16

Berdasarkan data nilai evaluasi mata diklat mesin pendingin untuk Standar Kompetensi Mengoverhoul Sistem Pendingin dan komponenkomponennya di kelas XI TKR 4, hal-hal yang dapat dianalisis tentang ketuntasan belajar siswa dalam proses belajar mengajar dibagi atas beberapa tingkatan yaitu : 1. 2. Istimewa / maksimal Baik sekali / optimal 3. Baik 4. Kurang

Adapun penilaian dengan menggunakan dua acuan ketuntasan pencapaian tujuan pembelajaran berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum KTSP yaitu seorang siswa tuntas belajar bila ia telah mencapai skor 70% atau nilai 70, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut mencapai 85% yang telah mencapai daya serap 70%. Untuk menghitung ketuntasan siwa secara klasikal digunakan rumus sebagai berikut : Ketuntasan Belajar Klasikal = Sehingga melalui data diatas dapat kita analisis prosentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas XI TKR 4 (Ketuntasan Klasikal) adalah sebagai berikut :

Ketuntasan Belajar Klasikal = = = 93,10% Untuk menghitung nilai rata-rata kelas setelah menempuh Ulangan Harian / Postest dapat digunakan rumus sebagai berikut : Ketuntasan Belajar Klasikal =

x 100%

= 86, 45%

BAB IV PENUTUP

17

A. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data nilai evaluasi pada mata diklat mesin pendingin untuk standar kompetensi mengoverhoul sistem pendingin dan komponen-komponennya dengan model pembelajaran langsung yang diterapkan di kelas XI TKR 4 SMK Negeri 1 Kediri memberikan suatu hasil yang cukup baik bagi kemampuan belajar siswa khususnya pada standar kompetensi tersebut. Hal ini dapat dilihat dengan menggunakan kuis melalui model pembelajaran langsung pada mata diklat mesin pendingin diperoleh ketuntasan belajar sebesar 96,55%. Sedangkan nilai rata-rata siswa sebesar 86,45%. Hal ini mungkin disebabkan aleh adanya sikap siswa yang sangat antusias terhadap materi pelajaran yang disampaikan serta menunjukkan bahwa model pembelajaran langsung dengan menggunakan kuis ini dapat digunakan sebagai suatu cara yang dapat diterapkan dalam upaya pengelolaan pengajaran yang tepat. Sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran langsung dengan menggunakan kuis akan diperoleh ketuntasan hasil belajar (ketuntasan klasikal) yang optimal. B. SARAN 1. Kuis dilakukan berulang kali, sehingga dapat meningkatkan hasil belajar/ketuntasan belajar. Sesuai dengan hukum teori belajar perilaku yang dikemukakan oleh Edward Lee Thorndike dalam Hukum Latihan atau Law of Exercise mengungkapkan Semakin sering suatu tingkah laku dilatih atau digunakan, maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Asosiasi adalah peristiwa antara stimulus dan respon. 2. Agar model pembelajaran langsung tidak membosankan, maka dalam pembelajaran diselingi dengan pemutaran video-video yang berkaitan dengan 3. materi pembelajaran atau materi ditampilkan dengan menggunakan power point (slide show). Menerapkan strategi memotivasi siswa dengan tepat. Yaitu dengan memberikan nilai yang baik/indikasi tentang kualitas pekerjaan perserta didik dan tanda bintang atau pujian jika mereka menyelesaikan tugas 17 dengan baik. Seperti tersebut di Bab II dimana menurut Hwaley (Yusuf,

18

1993:14) menyatakan bahwa para siswa yang memiliki motivasi tinggi, balajarnya lebih baik dibandingkan dengan para siswa yang memiliki motivasinya rendah. Hal ini dapat dipahami, karena siswa yang memiliki motivasi tinggi akan tekun dalam belajar dan terus belajar secara kotinyu tanpa mengenal putus asa serta dapat mengesampingkan hal-hal yang dapat mengganggu kegiatan belajar yang dilakukannya.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

19

Sardiman AM, 1983, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta: Rajawali Press. Sudjana, 2000, Metode & Teknik Pembelajaran Partisipasif, Bandung: Falah Production. Suprijono, Agus, 2009. Cooperative Learning, Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta: Pustaka Belajar Surya, Mohammad, (2003), Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Bani Quraisy. Uno, Hamzah B, 2007, Model Pembelajaran: Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif, Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.