Anda di halaman 1dari 12

Pengantar Gizi Masyarakat

Pengertian Gizi secara umum adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absobsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.citrus-ambrosia-salad-fb Tidak ada satu pun jenis makanan yang mengandung semua zat gizi, yang mampu membuat seseorang untuk hidup sehat, tumbuh kembang dan produktif. Oleh karena itu, setiap orang perlu mengkonsumsi anekaragam makanan; kecuali bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengkonsumsi Air Susu Ibu (ASI) saja. Bagi bayi 0-4 bulan, ASI adalah satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat. Makan makanan yang beranekaragam sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanan yang beraneka ragam yaitu makanan yang mengandung unsur-unsur zat gizi yang diperlukan tubuh baik kualitas maupun kuantintasnya, dalam pelajaran ilmu gizi biasa disebut triguna makanan yaitu, makanan yang mengandung zat tenaga, pembangun dan zat pengatur. Apabila terjadi kekurangan atas kelengkapan salah satu zat gizi tertentu pada satu jenis makanan, akan dilengkapi oleh zat gizi serupa dari makanan yang lain. Jadi makan makanan yang beraneka ragam akan menjamin terpenuhinya kecukupan sumber zat tenaga, zat pembangun dan zat pengatur. Makanan sumber zat tenaga antara lain: beras, jagung, gandum, ubi kayu, ubi jalar, kentang, sagu, roti dan mi. Minyak, margarin dan santan yang mengandung lemak juga dapat menghasilkan tenaga. Makanan sumber zat tenaga menunjang aktivitas sehari-hari. Makanan sumber zat pembangun yang berasal dari bahan makanan nabati adalah kacang-kacangan, tempe, tahu. Sedangkan yang berasal dari hewan adalah telur, ikan, ayam, daging, susu serta hasil olahan, seperti keju. Zat pembangun berperan sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan seseorang. Makanan sumber zat pengatur adalah semua sayur-sayuran dan buah-buahan. Makanan ini mengandung berbagai vitamin dan mineral, yang berperan untuk melancarkan bekerjanya fungsi organ-organ tubuh.

Protap Pelayanan dan Tata Laksana Balita Gizi Buruk


Pelaksanaan upaya pencegahan gizi buruk dibagi dalam tiga tahap meliputi rencana jangka pendek untuk tanggap darurat dengan menerapkan prosedur tatalaksana penanggulangan gizi buruk dengan melaksanakan sistem kewaspadaan dini secara intensif melalui pelacakan kasus dan penemuan kasus baru kemudian ditangani di puskesmas dan di rumah sakit. Kemudian tahap pencegahan terhadap peningkatan status dengan koordinasi lintas program dan lintas sektor, memberikan bantuan pangan,

memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI). Sedangakn tahap ketiga pengobatan penyakit, penyediaan air bersih, memberikan penyuluhan gizi dan kesehatan terutama peningkatan ASI eksklusif sejak lahir sampai 6 bulan kemudian diberikan makanan pendamping ASI setelah usia 6 bulan dengan meneruskan pemberian ASI sampai usia dua tahun.

Kebijakan tatalaksana anak gizi buruk ini mengacu pada surat keputusan Menkes Nomor 1209/MENKES/X/1998 tentang monitoring dan penanggulangan krisis kesehatan (KLB gizi buruk) dan Surat keputusan Menkes Nomor 128/MENKES/SK/II/2004, tentang Kebijakan Dasar Puskesmas. Berdasarkan hal tersebut, Puskesmas berperan terhadappenanganan gizi buruk sesuai pedoman tatalaksana penanggulangan anak gizi buruk dengan memberikan pelayanan optimal terhadap balita gizi buruk.

Prosedur Kerja Tatalaksana Gizi Buruk Prosedur kerja tatalaksana gizi buruk secara garis besar dibagi menjadi tiga kegiatan, meliputi penentuan status gizi, intervensi, dan pelaporan.Penentuan Status gizi Penentuan status gizi dilakukan dengan dua cara, yaitu secara klinis antropometri, laboratorium, dan anamnese riwayat gizi. Secara klinis antara lain dengan mendeteksi Hipotermia, Hipoglikemia, Dehidrasi, dan Infeksi. Mekanisme pelaksanaan dilakukan pada setiap pasien baru dan dimonitor setiap hari. Secara Antropometri dilakukan dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan. Prosedur laboratorium dapat diambil sediaan glukosa darah, haemoglobine, urine, atau faeces. Sedangkan anamnese riwayat gizi dilakukan dengan wawancara. Intervensi Intervensi gizi buruk dilakukan secara klinis maupun dengan diet. Secara klinis terutama untuk mengatasi Hipoglikemia, hipotermia, dehidrasi dan infeksi. Sedangkan mekanisme intervensi diet dilakukan dengan Memberikan rujukan ke puskesmas, menerjemahkan prescript diet kedalam jumlah dan jenis bahan makanan, Pemantauan konsumsi makanan, Pemantauan Status gizi, Penyuluhan gizi, pemberian diet, Persiapan pulang, serta penyuluhan gizi utk di rumah Pelaporan Mekanisme pelaporan meliputi jenis item perkembangan, pemeriksaan fisik, laboratorium, antropometri, serta asupan makanan.

Prosedur Tatalaksana Balita Gizi Buruk


Pusat pelayanan kesehatan masyarakat(Puskesmas) bertujuan memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit, jugs kegiatan yang bersifatkuratif dan rehabilitatif. Upaya kesehatan wajib di puskesmas yaitu promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan anak termasuk keluarga berencana, perbaikan gizi dan pemberantasan penyakit menular. Sedangkan kegiatan penanggulangan balita gizi buruk di puskesmas meliputi : Penjaringan balita KEP yaitu kegiatan penentuan ulang status gizi balita berdasarkan berat badan dan perhitungan umur balita yang sebenarnya dalam hitungan bulan pada saat itu dengan cara penjaringan yaitu balita dihitung kembali umurnya dengan tepat dalam hitungan bulan, balita ditimbang berat badannya dengan menggunakan timbangan dacin, berdasarkan hasil perhitungan umur dan hasil pengukuran BB tersebut tentukan status gizi dengan KMS atau standar antropometri. Kegiatan penanganan KEP meliputi program PMT yaitu upaya intervensi bagi balita yang menderita KEP untuk mencukupi kebutuhan zat gizi balita agar meningkat status gizinya sampai mencapai gizi baik (pita hijau dalam KMS), pemeriksaan dan pengobatan yaitu pemeriksaan dan pengobatan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit penyerta guna diobati seperlunya sehingga balita KEP tidak semakin berat kondisinya.

Terkait masalah gizi ini, asuhan keperawatan bertujuan memberikan bimbingan kepada keluarga balita KEP agar mampu merawat balita KEP sehingga dapat mencapai status gizi yang baik melalui kunjungan rumah dengan kesepakatan keluarga agar bisa dilaksanakan secara berkala, suplementasi gizi untuk jangka pendek. Suplementasi gizi meliputi: pemberian sirupzat besi; vitamin A (berwarna biru untuk bayi usia 6-1 1 bulan dosis 100.000 IU dan berwarna merah untuk balita usia 12-59 bulan dosis 200.000 IU); kapsul minyak beryodium, adalah larutan yodium dalam minyak berkapsul lunak, mengandung 200 mg yodium diberikan 1x dalam setahun. Pelayanan rutin yang dilakukan di puskesmas berupa 10 langkah penting yaitu: 1) Mengatasi dan mencegah hipoglikemia, 2) Mengatasi dan mencegah hipotermia, 3) Mengatasi dan mencegah dehidrasi, 4) Mengoreksi gangguan keseimbangan elektrolit, 5) mengobatai atau mencegah infeksi, 6) memulai pemberian makanan, 7) Fasilitasi tumbuh kejar (catch up growth), 8) koreksi defisiensi nutrien mikro, 9) melakukan stimulasi sensorik dan dukungan emosi/mental, 10) siapkan dan rencanakan tindak lanjut setelah sembuh. Dalam proses pelayanan KEP berat atau gizi buruk terdapat tiga fase yaitu fase stabilisasi, fase transisi, dan fase rehabilitasi. Petugas dituntut terampil memilih langkah mana yang sesuai untuk setiap fase.

Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD KLB) Gizi Buruk
Sebagaimana disinggung pada tulisan terdahulu, dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak antara lain anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara serta gangguan perkembangan lain. Sementara dampak jangka panjang berupa penurunan skor intelligence quotient (IQ), penurunan perkembangan kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri serta akan menyebabkan merosotnya prestasi belajar. Sebagai usaha pencegahan dan deteksi dini kejadian gizi buruk kemudian diterapkan konsep surveilans dan sistem kewaspadaan dini kejadian luar biasa gizi buruk ini. Secara umum tujuan surveilans adalah untuk pencegahan dan pengendalian penyakit dalam masyarakat, sebagai upaya deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kejadian luar biasa (KLB), memperoleh informasi yang diperlukan bagi perencanaan dalam hal pencegahan, penanggulangan maupun pemberantasannya pada berbagai tingkat administrasi Konsep diatas antara lain dituangkan dan diimplementasi pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 111 6/MENKES/SK/VI II/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi Kesehatan dan Penyakit. Salah satu kegiatan pada Kepmenkes ini berupa pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD KLB). Kegiatan ini pada dasarnya merupakan salah satu bentuk kewaspadaan terhadap penyakit berpotensi KLB serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan menerapkan teknologi surveilans epidemiologi yang dimanfaatkan untuk meningkatkan sikap tanggap kesiap siagaan, upaya pencegahan dan tindakan penanggulangan KLB yang cepat dan tepat. Sementara terkait dengan SKD KLB Gizi Buruk, dapat dijelaskan sebagai berikut: Pengertian suatau wilayah (misalnya Kecamatan) dinyatakan telah mengalami KLB gizi buruk adalah bila ditemukan 1 orang kasus dengan pengukuran antropometri berdasarkan BB/U berada pada Z-Score Ada peningkatan jumlah balita dengan berat badan BGM pada kartu menuju sehat (KMS) sebanyak 50% atau jumlah gizi buruk meningkat 2 kali lipat pada 4 bulan sebelumnya. Ada perubahan pola konsumsi makanan pokok yang bisa dikonsumsi masyarakat, baik jenis, jumlah dan frekuensi makan.

Dalam prakteknya, salah satu sasaran pelaksanaan SKD KLB Gizi Buruk, sesuai pedoman penyelenggaraan SKD KLB dan pedoman penyelenggaraan surveilans epidemiologi kesehatan, adalah pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Gizi (SKG), termasuk di dalamnya SKD KLB gizi buruk. Sistem ini merupakan bentuk kewaspadaan terhadap ancaman terjadinya gizi buruk dan faktor-faktor yang mempengaruhinya melalui surveilans gizi, yang informasinya dimanfaatkan untuk meningkatkan sikap

tanggap kesiapsiagaan, upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara cepat dan tepat. Peran SKD KLB gizi buruk adalah sebagai penyedia informasi menjadi sangat penting dalam rangka mencegah dan menanggulangi KLB gizi buruk. Prinsip pelaksanaan SKD-KLB gizi buruk sesuai Pedoman Sistem Kewaspadaan Gizi (SKD) KLB Gizi, Depkes RI (2008) mencakup tiga kegiatan antara lain kajian epidemiologi secara rutin, Peringatan kewaspadaan dini, Peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan KLB gizi buruk. Kajian epidemiologi secara rutin adalah analisis terhadap penyebab, gambaran epidemiologi, sumber penyebaran dan faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap terjadinya KLB atau dugaan KLB gizi buruk. Tujuannya untuk mengidentifikasi ada tidaknya potensi/ ancaman KLB gizi buruk di masyarakat dengan mempelajari distribusi kasus menurut waktu, tempat dan orang serta faktor-faktor penyebab gizi buruk di masyarakat. Kegiatan utama yang dilakukan adalah pengumpulan data yang relevan pada suatu populasi dan wilayah geografis tertentu; pengolahan, penyajian, analisis dan interpretasi data. Data yang dibutuhkan adalah data yang sangat erat kaitannya dengan kasus gizi buruk yaitu data penyakit, pemantauan pertumbuhan serta data di luar sektor kesehatan. Secara garis besar, data yang dibutuhkan dibagi dalam dua kategori sebagai berikut : Sedangkan data kesehatan dan gizi yang dibutuhkan pada pelaksanaan kajian epidemiologi ini meliputi : 1. Data pemantauan pertumbuhan (S, K, D, N, BGM)

2. Surveilans epidemiologi penyakit berpotensi KLB (campak, diare, demam berdarah dengue, TBC dan ISPA/ Pneumonia). 3. Pelayanan kesehatan: imunisasi, pemberian vitamin A 4. Kondisi lingkungan pemukiman, bencana alam, dan lain-lain Data di luar sektor kesehatan meliputi: 5. Kerusakan lahan, produksi pertanian dan lain-lain

6. Jumlah keluarga miskin, tingkat pendidikan Pada kegiatan peringatan kewaspadaan dini, merupakan pemberian informasi adanya ancaman KLB gizi buruk pada suatu daerah dalam periode waktu tertentu berdasarkan hasil kajian epidemiologi dan indikasi-indikasi yang ada. Tujuannya untuk mendorong peningkatan kewaspadaan terhadap terjadinya gizi buruk di masyarakat oleh puskesmas, rumah sakit maupun program terkait. Indikasi-indikasi yang digunakan sebagai peringatan dini gizi buruk adalah : 1. Balita 2 kali berturut-turut tidak naik atau turun berat badannya

2. Ditemukan kasus balita di bawah garis merah (BGM) 3. Jumlah balita N/D turun dari bulan yang lalu atau tetap 3 bulan berturut-turut di suatu desa kecuali yang telah mencapai 80% 4. N/D rendah (kurang dari 60%) 5. Jumlah balita D/S turun dari bulan yang lalu, atau tetap selama 3 bulan berturut-turut di suatu desa kecuali desa yang telah mencapai 80%

6. Kasus diare, apabila terjadi: Angka kesakitan dan atau kematian di kecamatan/ desa (kelurahan) menunjukkan kenaikan mencolok selama 3 kali waktu observasi berturut-turut (harian atau mingguan) Jumlah penderita dan atau kematian di suatu kecamatan/ desa menunjukkan kenaikan 2 kali atau lebih dalam periode waktu tertentu (harian, mingguan, bulanan) dibandingkan angka ratarata dalam 1 tahun terakhir Peningkatan jumlah kesakitan dan atau kematian dalam periode waktu tertentu (mingguan/ bulanan) di suatu kecamatan/ desa (kelurahan) dibandingkan periode yang sama pada tahun yang lalu. Peningkatan case fatality rate di suatu kecamatan/desa dalam waktu satu bulan dibandingkan bulan lalu.

Sementara kegiatan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan KLB gizi buruk, dilakukan dalam bentuk upaya yang disesuaikan dengan indikasi-indikasi yang digunakan sebagai peringatan dini KLB gizi buruk. Upaya-upaya yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1. Bila ditemukan balita 2 kali berturut-turut tidak naik berat badan, tindakan yang dilakukan yaitu penyuluhan kepada orang tua balita dan dirujuk ke puskesmas untuk mengetahui penyebab tidak naik berat badan.

2. Bila ditemukan BGM baru, tindakan yang dilakukan yaitu konfirmasi kasus BGM dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan serta melihat tanda klinis gizi buruk oleh petugas puskesmas. Jika positif gizi buruk (-3 SD dan atau disertai dengan tanda-tanda klinis) maka terapkan tatalaksana penanganan gizi buruk. 3. Bila ditemukan N/D turun dari bulan yang lalu, atau tetap selama 3 bulan berturut-turut di suatu desa kecuali telah mencapai 80%, tindakan yang dilakukan yaitu kunjungan ke desa tersebut oleh

pembina wilayah untuk mencari faktor penyebab dan penimbangan balita yang tidak datang ke posyandu 4. Bila ditemukan N/D rendah (kurang dari 60%), tindakan yang dilakukan yaitu kunjungan ke desa oleh pembina wilayah untuk mencari faktor penyebab. 5. Bila ditemukan D/S turun dari bulan yang lalu, atau tetap selama 3 bulan berturut-turut di suatu desa kecuali desa yang telah mencapai 80%, tindakan yang dilakukan yaitu pembinaan ke desa tersebut dan membahas bersama tokoh masyarakat, tim penggerak PKK desa dan kader tentang upaya untuk meningkatkan D/S.

6. Bila ditemukan KLB diare dan atau KLB campak, tindakan yang dilakukan yaitu melakukan sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) KLB diare dan atau campak. 7. Bila ada laporan tentang perubahan konsumsi yang terjadi di masyarakat, tindakan yang dilakukan yaitu mengunjungi masyarakat untuk mengetahui jumlah KK yang mengalami perubahan penurunan jumlah dan mutu konsumsi serta faktor penyebab lainnya. Jika telah diketahui penyebabnya maka perlu dibahas di dewan ketahanan pangan atau lintas sektor untuk mencari cara penanggulangan yang tepat.

Beberapa tindakan yang perlu dilakukan sebagai kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan KLB, yaitu : 1. Menyiapkan pedoman penyelidikan KLB gizi buruk dan membentuk tim penyelidikan KLB atau memanfaatkan tim penanggulangan KLB yang sudah ada

2. Kesiapsiagaan tenaga dan tim yaitu tenaga yang perlu disiapkan adalah tenaga gizi, tenaga PKM, tenaga P2 dan surveilans. Bila sering terjadi KLB maka memerlukan persiapan tenaga dokter, perawat dan gizi 3. Kesiapsiagaan anggaran untuk transport, obat, KLB kit, dll 4. Kesiapsiagaan logistik 5. Menyiapkan makanan formula, obat-obatan

6. Kesiapsiagaan informasi dan transportasi

Reference, antara lain : Pedoman Sistem Kewaspadaan Dizi (SKD) KLB Gizi Buruk. Depkes RI. 2008.

Pedoman Pelaksanaan Respon Cepat Penanggulangan Gizi Buruk. Depkes RI. 2008 Kepmenkes tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD KLB). Depkes RI. 2008

Standar dan Kriteria Status Gizidengan Anthropometry


Sebagaimana rekan-rekan public health community kenal, terdapat berbagai macam metode penentuan status gizi, salah satu diantaranya dengan metode antropometri. Antropometri berasal dari kata anthropos dan metros, dengan anthropos berarti tubuh dan metros artinya ukuran. Jadi antropometri adalah ukuran dari tubuh. Pengertian dari sudut pandang gizi sebagaimana diungkapkan Jellife dapat disimpulkan bahwa antropomerti gizi berhubungan dengan berbagai macam pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Jika dibandingkan dengan metode lain, antropometri mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya prosedur sederhana dan aman, sehingga relatif tidak membutuhkan tingkat keahlian yang tinggi, dapat dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih (dalam waktu singkat). Juga peralatan yang dibutuhkan murah, mudah dibawa, tahan lama, serta alat dapat dibuat sesuai lokasi setempat. Namun yang perlu diperhatikan, harus dilakukan validasi pada peralatan yang digunakan.Metode antropometri selain tergolong akurat, juga dapat dibakukan. Juga dapat menggambarkan riwayat gizi masa lalu. Metode ini secara umum dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, serta gizi buruk. Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu dan juga dapat digunakan untuk

screening pada kelompok yang rawan masalah gizi. Kelemahan metode antropometri ada pada sensitivitasnya yang kurang, terutama karena faktor di luar gizi dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran. Kesalahan yang terjadi saat pengukuran dapat memengaruhi presisi, akurasi, validitas pengukuran antropometri (Supariasa, 2001).

Pada metode antopometri kita kenal dengan Indeks Antropometri. Indeks antropometri adalah kombinasi antara beberapa parameter, yang merupakan dasar dari penilaian status gizi. Beberapa indeks telah diperkenalkan seperti berat badan dibagi tinggi badan (BB)/(TB), tinggi badan dibagi umur (TB)/(U), tinggi badan dibagi berat badan (TB)/(BB). Kelebihan indeks TB/BB antara lain sensitivitas dan spesivisitasnya termasuk tinggi untuk menilai status gizi masa lampau. Tetapi juga ada kelemahannya antara lain: tinggi badan tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun. Pengukuran relatif sulit dilakukan karena anak harus berdiri tegak, sehingga perlu dua orang untuk melakukannya. Ketepatan umur sulit didapat (Supariasa, 2001). Indikator antropometri merupakan kombinasi dari beberapa parameter untuk menentukan status gizi seseorang. Misalnya kombinasi antara berat badan (BB) dan umur (U) membentuk indikator BB menurut U yang disimbolkan dengan BB/U, kombinasi antara tinggi badan (TB) dan U membentuk indikator TB menurut U yang disimbolkan dengan TB/U dan kombinasi antara BB dan TB membentuk indikator BB menurut TB yang disimbolkan dengan BB/TB. Untuk menyatakan bahwa indikator tersebut normal, lebih rendah atau lebih tinggi dapat dibandingkan dengan baku rujukan misalnya baku rujukan WHONCHS (World Health OrganizationNational Center for Health Statistics). Apabila hasil perbandingannya normal, maka digolongkan pada status gizi baik. Apabila kurang berarti berstatus gizi kurang dan apabila tinggi berarti tergolong status gizi lebih (Soekirman, 1999). Untuk membandingkan indikator tersebut dengan baku rujukan WHO NCHS dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : 1. Dengan Persen Median yaitu membandingkan antara antara hasil pengukuran dengan median baku dikalikan 100%. Hasil perbandingan tersebut lalu disesuaikan dengan cut off points yang meliputi TB/U : < 90% dari median baku digolongkan sebagaistunted/ pendek. BB/TB : < 80% dari median baku digolongkan sebagai wasted/ kurus.BB/U : < 80% dari median baku digolongkan sebagai underweight.

2. Dengan menghitung nilai skor simpang baku (standart deviation score = ZScore) yaitu membandingkan dengan rata rata atau median dan standar deviasi dari suatu angka baku rujukan WHO NCHS. Dikatakan status gizi normal apabila angka atau nilainya terletak antara -2SD sampai +2SD dari median baku. Status gizi dikatakan kurang apabila nilainya di bawah 2SD, dan menjadi buruk apabila berada di bawah -3SD. Sebaliknya apabila nilai Z-Score berada diatas +2SD disebut gizi lebih (gemuk) dan di atas +3SD gemuk sekali (Gibson, 1990 )

Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Gizi Buruk

Gizi Buruk sangat berhubungan dengan kemiskinan, terutama keluarga miskin dengan ketersediaan pangan di rumah tangga yang tidak cukup untuk konsumsi hariannya. Terjadi juga ketidak mampuan akses pelayanan kesehatan. Akibatnya anak-anak balita yang tumbuh dan berkembang pada keluarga miskin tersebut mengalami kesakitan dan kekurangan gizi, bukan hanya terjadi pada satu anak tetapi juga terjadi pada anak-anak lainnya diwilayah terjadinya gizi buruk tersebut. Secara keseluruhan wilayah tersebut sebenarnya banyak keluarga miskinnya dengan ketersediaan pangan yang terbatas dan akses pelayanan gizi dan kesehatan yang sangat jelek, maka seharusnya setiap Kasus Gizi buruk yang ditemukan dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB), Namun sangatlah disayangkan ketika satu kasus gizi buruk itu ditemukan para petugas kesehatan terutama petugas gizitanpa instruksi yang jelas pada tingkat pengelola dan pengambil keputusan - ragu untuk melakukan investigasi dan intervensi standar Operasional-KLB-Gizi Buruk terhadap kasus gizi buruk yang ditemukan. Para petugas hanya melakukan intervensi pada kasus gizi buruk tersebut, tetapi tidak melakukan investigasi dan intervensi terhadap anak-anak balita lainnya diwilayah dimana terjadi kasus gizi buruk. Sehingga tidak belum tuntas penanganan gizi buruk yang pertama, pada tempat (wilayah mengherankan

posyandu) yang sama muncul kemudian kasus gizi buruk berikutnya Berikut ini salah satu prosedur investigasi dan intervensi atau tepatnya Standar Operasional Prosedur (SOP) Penanganan Gizi Buruk yang ditemukan di masyarakat untuk dapat digunakan pada pengelola dan pengambilan keputusan dalam menyingkapi terjadinya kasus gizi buruk : Ketika ada laporan gizi buruk (satu gizi buruk saja) maka tangani gizi buruk tersebut dan selanjutnya lakukan investigasi dan intervensi dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut : 1. Apakah telah terjadi penurunan N/D dan BGM? Bila tidak terjadi penurunan N/D (balita yang Naik Berat Badanya) dan tidak terjadi peningkatan BGM (anak dengan pertumbuhan Berat Badan di Bawah

Garis Merah pada Kartu Menujuh Sehat (KMS-Balita) maka lakukan intervensitingkat pertama. Dan bila terjadi penurunan N/D dan peningkatan BGM maka lakukan pengecekan Pola Konsumsi. 2. Apakah terjadi Perubahan Pola Konsumsi? Bila tidak terjadi perubahan pola konsumsi maka lakukan intervensi tingkat kedua. Bila terjadi perubahan pola konsumsi maka lakukan pengecekan jumlah keluarga miskin. 3. Apakah Telah terjadi peningkatan Keluarga Miskin? Jika tidak terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin maka lakukan intervensi tingkat III. Dan jika terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin maka lakukan intervensi tingkat IV. Penjelasan keseluruhan dari 3 (tiga) pertanyaan tersebut adalah Jika telah terjadi kasus gizi buruk atau ada laporan gizi buruk maka yang harus dilakukan adalah :

Laporan Gizi Buruk !


Pertama : Melakukan investigasi kasus gizi buruk tersebut, setelah mendapat data individu secara lengkap beserta sebab-musababnya kemudian kasus dirujuk serta nyatakan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) sebagai bahan untuk rekomendasi tindak lanjut pengecekan anak-anak balita dan keluarganya di sekitar wilayah (posyandu) kasus gizi buruk ditemukan. Untuk mencegah timbulnya kasus gizi buruk baru, lakukan pengecekan pada anak-anak balita lainnya diwilayah posyandu dimana ditemukan kasus gizi buruk, apakah anak-anak tersebut telah terjadi penurunan berat badan dan diantara mereka ada yang berat badannya turun sampai di bawah garis waspada (garis merah KMS).

Cek N/D dan BGM !


Kedua : Selanjutnya ada dua hal yang harus dilakukan ketika hasil pengecekan (investigasi) penurunan berat badan dan adanya sejumlah balita yang BGM-KMS yaitu 1. Jika tidak terjadi dilakukan penurunan Berat Badan Balita dan tidak adanya BGM-KMS maka tidak perlu lebih lanjutnya terhadap keluarga balita. Yang dilakukan hanya

investigasi

Intervensi dengan mengaktifkan secara maksimal konseling (KIE) pada keluarga balita yang datang di posyandu maupun keluarga balita yang tidak datang di posyandu. Konseling (KIE) dapat juga dilakukan semua stakeholder wilayah terjadinya kasus gizi buruk. Pemantapan posyandu harus juga segera dilakukan karena satu gizi buruk yang ditemukan di posyandu tersebut telah menunjukkan bahwa pengelolaan posyandu telah kurang dapat memaksimalkan pelayanan tumbuh kembang balitanya. Bentuk Intervensi ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Pertama (INTERVENSI PERTAMA) 2. Jika terjadi jumlah kasusnya naik (anak balita dengan Berat Badan Turun dan ada balita BGM-KMS) maka yang dilakukan adalah pengecekan pola konsumsi keluarga anak balita tersebut.

Cek Pola Konsumsi !

Ketiga : Ada dua hal juga yang harus dilakukan terhadap pengecekan pola konsumsi keluarga anak balita yaitu apakah telah terjadi perubahan pola konsumsi atau tidak terjadi Perubahan Pola Konsumsi? 1. Pola konsumsi yang dimaksud disini adalah pola makan balita atau keluarga balita yang normalnya adalah dalam sehari harus makan 3 kali (pagi-siang dan malam) jika tidak terjadi perubahan pola konsumsi (makan) dalam sehari maka intervensi yang dilakukan hanya dalam bentuk konseling (KIE), pemantapan posyandu, pemberian PMT penyuluhan dan peningkatan cakupan pelayanan kesehatan. Bentuk Intervensi ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Kedua (INTERVENSI KEDUA). 2. Jika telah terjadi perubahan pola konsumsi atau makan sudah dibawah 2 kali se hari maka yang dilakukan adalah pengecekan Keluarga Miskin.

Cek Keluarga Miskin !


Keempat : Pengecekan Keluarga Miskin, ada dua langkah yang dilakukan yaitu apakah telah terjadi peningkatan jumlah Keluarga miskin atau tidak terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin? 1. Yang menjadi ukuran keluarga miskin disini adalah yang berhubung langsung dengan terjadi

kekurangan gizi yaitu ketersediaan pangan (makanan) ditingkat rumah tangga dan adanya penyakit pada keluarga serta beberapa aktifitas lainnya yang terhenti akibat penurunan pendapatan keluarga. 2. Secara sederhana ketersediaan pangan (makanan) ditingkat rumah tangga yang ditandai dengan pola makan yang kurang dari 2 kali sehari. Untuk indicator adanya penyakit pada keluarga yang tidak mempunyai kemampuan untuk mengakses pelayanan kesehatan dapat dilihat adanya penyakit yang diderita dan tidak mendapat pelayanan kesehatan. Untuk serta beberapa aktifitas lainnya yang terhenti akibat penurunan pendapatan keluarga dapat dilihat dari kepala keluarga tidak mempunyai pekerjaan tetap. 3. Intervensi yang dilakukan jika tidak terjadi peningkatan jumlah keluarga miskin adalah Konseling (KIE), pemantapan posyandu, PMT pemulihan terbatas dan cakupan pelayanan kesehatan kesehatan ibu dan anak. Bentuk Intervensi ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Tiga (INTERVENSI TIGA) 4. Sementera itu Intervensi yang dilakukan jika terjadi peningkatan keluarga miskin adalah Konseling (KIE), pemantapan posyandu, PMT pemulihan (total), bantuan pangan darurat dan pengobatan. Bentuk Intervensi ini disebut juga sebagai intervensi tingkat Keempat (INTERVENSI KEEMPAT) . Investigasi dan Intervensi Gizi Buruk adalah prosedur pelacakan dan alternative intervensi setiap kasus gizi buruk yang ditemukan, disebut juga sebagai Standar Operasional Prosedur Kejadian Luar Biasa Gizi Buruk (SOP-KLB-Gizi Buruk) sebagai salah satu standar kompotensi yang harus difahami dengan baik dan benar oleh para pengelola gizi dan pengambil keputusan dalam melaksanakan program perbaikan gizi masyarakat. Ketidak tahuan akan SOP-KLB-Gizi Buruk mengakibatkan kasus-kasus gizi buruk akan selalu muncul.