Anda di halaman 1dari 17

A. KONSEP DASAR MEDIK 1.

Defenisi Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, yang ditandai dengan demam mendadak yang berlangsung selama 2 7 hari. Disertai dengan sakit kepala hebat, nyeri belakang, sakit mata, nyeri sendi otot, mual, muntah dan ruamruam pada kulit. Pada keadaan yang lebih parah bisa terjadi kegagalan sirkulasi darah dan penderita jatuh dalam keadaan shock akibat kebocoran plasma atau biasa disebut dengan dengue shock syndrome.

2. Etiologi Penyebab DBD adalah Virus dengue (arbovirus) yang ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti yang menggigit manusia pada siang hari, hidup di air jernih, bersih dan berbentuk batang, stabil pada suhu 70o C.

3. Patofisiologi Virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk dan infeksi pertama kali mungkin memberi gejala demam. Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, karena viremia seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hyperemia di tenggorok, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin terjadi pada sistem retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati, dan limfa. Ruam pada DBD disebabkan oleh kongesti pembuluh darah di bawah kulit. Fenomena patologis yang utama pada penderita DBD adalah meningkatnya permeabilitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma ke ruang ekstra vaskuler. Demam terjadi karena virus dengue yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypti membentuk antibodi terhadap penyakit. Setelah terjadi virus-antibodi dalam system sirkulasi, akan mengakibatkan

aktifnya system komplemen (suatu system dalam sirkulasi darah terdiri dari 11 komponen protein dan beredar dalam bentuk yang tidak aktif serta labil terhadap suhu panas). Bila system komplemen aktif maka tubuh akan melepaskan histamin yang merupakan mediator kuat yang menyebabkan permeabilitas pembuluh darah meningkat. Tingginya permeabilitas dinding pembuluh darah menyebabkan kebocoran plasma yang berlangsung selama perjalanan penyakit sejak permulaan masa demam dan mencapai puncaknya pada masa renjatan. Pada pasien dengan renjatan berat, volume plasma dapat menurun sampai 30 % atau lebih. Jika keadaan tersebut tidak teratasi, akan menyebabkana anoksia jaringan, asidosis metabolic dan berakhir dengan kematian. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu rongga peritoneum, pleura dan perikard yang pada autopoi ternyata melebihi jumlah cairan yang telah diberikan sebelumnya melalui infus. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera diatasi dapat berakibat anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. Renjatan yang terjadi akut dan perbaikan klinis yang drastis setelah pemberian plasma/ekspander plasma yang efektif, sedangkan pada autopsi tidak ditemukan kerusakan dinding pembuluh darah yang destruktif atau akibat radang, menimbulkan dugaan bahwa perubahan fungsional dinding pembuluh darah mungkin disebabkan mediator farmakolgis yang bekerja singkat. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat, yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak teratasi. Perdarahan pada DHF umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan sistem koagulasi. Perdarahan yang terjadi pada pasien DBD terjadi karena trombositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya factor

koagulasi (Protrombin, factor V, VII, IX, X dan fibrinogen). Perdarahan hebat dapat terjadi terutama pada traktus gastrointestinal. Trombositopenia yang dihubungkan dengan meningkatnya mega karoisit muda dalam sum-sum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit menimbulkan dugaan meningkatnya destruksi trombosit. Penyidikan dengan radioisotop membuktikan bahwa penghancuran trombosit terjadinya dalam sistem retikuloendotelial.

4. Gambaran Klinik a. Demam tinggi yang timbul secara mendadak tanpa sebab yang jelas disertai dengan keluhan lemah, lesu, nafsu makan berkurang, muntah, nyeri pada anggota badan, punggung, sendi, kepala dan perut. Gejala menyerupai influenza biasa. Ini berlangsung selama 2-7 hari b. Hari ke 2 dan 3, timbul demam. Uji tourniquet positif karena terjadi perdarahan di bawah kulit (peteki, ekimosis) dan di tempat lain seperti epistaksis, perdarahan gusi, hematemisis akibat perdarahan dalam lambung, melena dan juga hematuria massif c. Antara hari ke 3 dan ke 7 syok terjadi saat demam menurun. Terdapat tanda kegagalan sirkulasi, kulit teraba dingin dan lembab terutama pada ujung jari tangan dan kaki, nadi cepat dan lemah sampai tak teraba, tekanan nadi menyempit ( < 20 mm Hg ) atau hipotensi ( < 80 mmHg ) sampai tak terukur, anak sangat gelisah d. Hepatomegali pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit, bervariasi dari yang hanya sekdar diraba sampai 2-4 cm dibawah lengkung iga sebelah kanan. Nyeri tekan pada hepar tampak jelas pada anak besar, ini menandakan telah terjadi perdarahan.

Pada penderita DBD sering dijumpai pembesaran hati, limpa, kalenjar getah bening atau kembali normal pada masa penyembuhan. Pada penderita yang mengalami renjatan akan mengalami sianosis

perifer, kulit teraba lembut dan dingin, hipotensi, nadi cepat dan lemah. 5. Klasifikasi Derajat beratnya DBD dibagi menjadi 4 bagian, yaitu: a. Derajat 1: Derajat satu bisanya ditandai dengan demam mendadak 2-7 hari disertai dengan gejala tidak khas dan manifestasi perdarahan yang dapat diuji tourniquet positif. b. Derajat 2 Derajat 1 disertai dengan perdarahan spontan dikulit dan atau perdarahan lain. c. Derajat 3 Derajat 2 ditambah dengan kegagalan sirkulasi ringan, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun ( < 20 mmHg), hipotensi (systole < 80 mmHg) disertai kulit yang dingin,lembab dan penderita menjadi gelisah. d. Derajat 4 Derajat 3 ditambah syok berat dengan nadi yang takteraba dan tekanan darah yang tak dapat diukur, dapat disertai dengan penurunan kesadaran, sianotik dan asidosis.

Derajat 1 dan 2 disebut DBD tanpa renjatan, sedangkan 3 dan 4 disebut DBD dengan renjatan atau DSS.

6. Pemeriksaan Diagnostik a. Klinik Demam mendadak, terus-menerus 2-7 hari. Manifestasi perdarahan baik melalui uji tourniquet maupun perdarahan spontan pada kulit (petekie, ekimosis, memar)

dan/atau di tempat lain seperti epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan melena. Hepatomegali Renjatan, ditandai nadi cepat dan lemah tak teraba, tekanan darah menyempit (<20mmHg) atat hipotensi (<80mmHg) sampai tak terukur, kulit dingin, lembab dan malaise.

b. Laboratorium Trombositopenia : Trombosit < 150.000/mm3, penurunan progresif pada pemeriksaan periodik dan waktu perdarahan memanjang. Hemokonsentrasi : Hematokrit saat MRS>20% atau meningkat progresif pada pemeriksaan periodik. Hb meningkat > 20 % Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan hipoproteinemia, hiponatremia, hipokloremia, pada hari ke-2 dan ke-3 terjadi leucopenia SGOT dan SGPT mungkin meningkat : ureum, pH darah bisa meningkat

c. Pemeriksaan penunjang Foto toraks lateral dekubitus kanan Terdapat efusi pleura dan bendungan vaskuler Darah rutin Hb, leukosit, hitung jenis (limfosit plasma biru 6-30%) Waktu perdarahan Menggunakan cara LVY (N=1-7 menit)

7. Komplikasi a. Perdarahan otak b. Sindroma distress napas dewasa c. Infeksi nosokomial seperti pneumonia, tromboplebitis, sepsis dan shock sepsis

8. Penatalaksanaan Setiap pasien tersangka DF atau DHF sebaiknya dirawat di tempat terpisah dengan pasien lain, seyogyanya pada kamar yang bebas nyamuk. Penatalaksanaannya adalah: a. Tirah baring b. Makanan lunak c. Bila belum ada nafsu makan dianjurkan minum banyak 1,5-2 liter/24 jam (susu,air gula, sirop) d. Medikamentosa yang bersifat simtomatis e. Antibiotik diberikan bila terdapat kekhawatiran infeksi sekunder f. Perlu diobservasi teliti terhadap penemuan dini tanda renjatan yaitu: Keadaan umum memburuk Hati makin membesar Masa perdarahan memanjang Hematokrit meninggi pada pemeriksaan berkala.

Terapi untuk pengganti cairan yaitu: a. DBD tanpa renjatan Minum banyak 11/2 liter perhari Cairan intravena bila : penderita muntah-muntah terus, intake tidak terjamin, pemeriksaan berkala Hmt cenderung meningkat terus. Jenis cairan: RL atau asering 5, 10 mL/KgBB/24 jam.

b. DBD dengan renjatan Derajat IV : Infus asering 5/RL diguyur 100-200 mL sampai nadi teraba serta tensi terukur, biasanya sudah tercapai dalam 15-30 menit. Derajat III: Infus asering 5/RL dengan kecepatan tetesan 20 mL/KgBB/ jam. Setelah renjatan teratasi: - tekanan sistol > 80mmHg - Nadi jelas terasa - Amplitudo nadi cukup besar Kecepatan tetesan diubah 10mL/KgBB/jam selama 4-6 jam. Bila keadaan umum baik, jumlah cairan sekitar 5-7 mL/KgBB/jam. Jenis RL: Dextrose 5% = 1:1. Infus

dipertahankan 48 jam setelah renjatan. Pada renjatan berat dapat diberikan cairan plasma atau pengganti plasma (expander plasma/dextran L) dengan kecapatan 1020 ml /kgBB/jam dan maksimal 2030 ml/kgBB/hari. Dalam hal ini dipasang 2 infus dimana 1 untuk larutan RL dan 1 untuk cairan plasma atau pengganti plasma.

Ada tiga fase penatalaksaan penderita DBD secara umum yaitu: a. Fase demam Pengobatan simtomatik dan supportif Antipiretik diberikan untuk menurunkan demam, kompres hangat dapat diberikan apabila pasien masih tetap panas Pengobatan supportif dapat diberikan untuk merehidrasi cairan yang hilang yaitu dengan pemberian ; larutan oralit, jus buah-buahan dan lain-lain Apabila pasien memperlihatkan tanda dehidrsi dan muntah hebat segera koreksi dengan memberiakan cairan parenteral Semua tersangka demam berdarah harus diawasi ketat setiap hari sejak sakit hari ke-3

b. Fase Kritis Rawat dibangsal khusus sehingga mudah untuk diawasi Observasi tanda-tanda vital, asupan dan keluaran cairan dalam lembar khusus Berikan oksigen pada penderita dengan syok Hentikan perdarahan dengan tindakan tepat Pemberian cairan intra vena

c. Fase Penyembuhan Cairan intra vena dihentikan. Bila ditemukan gejala nafsu makan tidak meningkat atau perut terlihat kembung maka dapat diberikan buah-buahan atau oralit untuk menanggulangi gangguan elektrolit. Tindakan Lain a. Transfusi darah dengan indikasi : Perdarahan gastrointestinal berat: melena, hematemesis. Dengan pemeriksaan hb, hct secara periodik terus terjadi penurunan, sedang penderita masih dalam renjatan atau keadaan akut semakin menurun. Jumlah yang diberikan 20 ml/kgBB/hari dapat diulangi bila perlu. b. Anti konvulsan, bila disertai kejang maka diberi : Diasepam 10 mg secara rectal atau intra vena Phenobarbital 75 mg secara IM sesuai penatalaksanaan kejang pada anak c. Antipiretik dan kompres pada penderita dengan hiperpireksi. Obat yang diberikan ialah paracetamol 10 mg/kgBB/hari d. Oksigen diberikan pada penderita renjatan dengan sianosis 24 L/menit e. Antibiotika pada penderita dengan renjatan lama atau terjadi infeksi sekunder f. Kortikosteroid diberikan pada pasien dengan ensefalopati

9. Pencegahan

Pencegahan DBD pada umumnya dapat dilakukan dengan beberapa metode, baik secara lingkungan, biologis maupun secara kimiawi

a. Lingkungan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) pada dasarnya merupakan pemberantasan jentik nyamuk atau mencegah agar nyamuk tidak dapat lagi berkembang biak, yang pada dasarnya pemberantasan sarang nyamuk ini dilakukan dengan 3M : Menguras Menguras bak mandi dan tempat penampungan air sekurangkurangnya seminggu sekali, dikarenakan perkembangan telur nyamuk menetas sekitar 7-10 hari. Menutup Menutup rapat penampungan air, agar supaya nyamuk tidak menggunakannya sebagai tempat berkembang biak. Menganti air pada vas bunga dan tempat minum burung setidaknya seminggu sekali. Menutup lubang-lubang pada pohon, terutama pohon bambu ditutup dengan menggunakan tanah, membersihkan air tergenang diatap rumah juga dapat mencegah perkembangan nyamuk tersebut. Mengubur Salah satu sumber penyebaran nyamuk demam berdarah adalah kaleng-kaleng atau wadah kosong yang berisi air, gerakan menimbun berarti mengubur kaleng atau wadah kosong tersebut kedalam tanah, tujuannya agar nyamuk tidak menemukan tempat untuk bertelur. b. Biologis Pencegahan secara biologis merupakan pengendalian

perkembangan nyamuk dan jentik dengan menggunakan hewan atau tumbuhan seperti pemeliharaan ikan cupang pada kolam atau sumur yang sudah tidak terpakai atau menggunakan dengan bakteri Bt H-14

c. Kimiawi Pencegahan secara kimiawi adalah cara pengendalian serta pembasmian nyamuk dan jentik dengan menggunakan bahanbahan kimia seperti pengasapan/fogging, pemberian bubuk abate pada tempat-tempat yang sering menjadi tempat penampungan air.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1. Data Dasar Pengkajian a. Aktivitas/istirahat Malaise b. Sirkulasi Tekanan darah di bawah normal, denyut perifer melemah, takikardi, susah teraba Kulit hangat, kering, pucat, kemerahan/ bintik merah, perdarahan bawah kulit c. Eliminasi Diare atau konstipasi d. Makanan/ cairan Anoreksia, mual, muntah Penurunan berat badan, punurunan haluaran urine, oligouria, anuria. e. Neurosensori Sakit kepala, pusing, pingsan Ketakutan, kacau mental, disorientasi, delirium. f. Nyeri/ Ketidaknyamanan Kejang abdominal, lokalisasi area sakit g. Pernapasan Takipneu dengan penurunan kedalaman pernapasan, suhu meningkat, menggigil h. Penyuluhan/ pembelajaran Masalah kesehatan, penggunaan obat-obatan atau tindakan

3. Diagnosa a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit/ viremia b. Defisit volume cairan tubuh berhubungan dengan peningkatan permeabilitas dinding plasma, evaforasi, intake tidak adekuat c. Risiko tinggi terjadinya perdarahan berhubungan dengan

trombositopenia d. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, muntah, anoreksia e. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan

4. Intervensi a. DX1: Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses penyakit/ viremia Tujuan : Klien tidak mengalami demam, suhu tubuh normal (360 370) Intervensi: Kaji saat timbulnya demam R/ Untuk menidentifikasi pola demam klien dan sebagai indikator untuk tindakan selanjutnya. Observasi tanda tanda vital klien : suhu, nadi, tensi, pernapasan, tiap 4 jam atau lebih sering R/ Tanda tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. Beri penjelasan tentang penyebab demam atau peningkatan suhu tubuh R/ Penjelasan tentang kondisi yang dialami klien dapat membantu klien/keluarga mengurangi kecemasan yang timbul. Menjelaskan pentingnya tirah baring bagi pasien dan akibatnya jika hal tersebut tidak dilakukan.

R/ Penjelasan yang diberikan akan memotivasi klien untuk kooperatif. Menganjurkan pasien untuk banyak minum 2,5 ltr/24 jam dan jelaskan manfaatnya bagi pasien. R/ Peningkatan suhu tubuh akan menyebabkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak. Berikan kompres hangat pada kepala dan axilla R/ Pemberian kompres akan membantu menurunkan suhu tubuh. Catat intake dan out put. R/ Untuk mengetahui adanya ketidakseimbangan cairan tubuh. Kolaborasi: Pemberian antipiretik R/ Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.

b. DX2:

Defisit

volume

cairan

tubuh

berhubungan

dengan

peningkatan permeabilitas dinding plasma, evaforasi, intake tidak adekuat Tujuan : Terjadi homeostatis volume cairan, dalam batas normal, tidak terjadi defisit cairan. Intervensi: Kaji keadaan umum klien (pucat, lemah, taki kardi), serta tanda tanda vital. R/ menetapkan data dasar, untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan normalnya. Observasi adanya tanda tanda syok R/ Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani syok yang dialami klien. tanda tanda vital

Anjurkan klien untuk banyak minum 1500 2000 ml ( sesuai toleransi ) R/ asupan cairan sangat diperluakan untuk menambah volume cairan tubuh.

Kaji tanda dan gejala dehidrasi/hipovolemik (riwayat muntah, diare, kehausan, turgor jelek) R/ Untuk mengetahui penyebab defisit volume cairan

Kaji masukan dan haluaran cairan. R/ untuk mengetahui keseimbangan cairan. Kolaborasi : Pemberian cairan intra vena sesuai indikasi. R/ Pemberian cairan intra vena sangat penting bagi klien yang mengalami defisit volume cairan dengan keadaan umum yang buruk untuk rehidrasi.

c. DX3: Risiko tinggi terjadinya perdarahan sehubungan dengan trombositopenia. Tujuan : Tidak terjadi tanda tanda perdarahan lebih lanjut dan terjadi peningkatan trombosit> 150.000 Intervensi: Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai dengan tanda-tanda klinis. R/ Penurunan jumlah trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan perdarahan. Beri penjelasan tentang pengaruh trombositopenia pada klien. R/ Agar klien/keluarga mengetahui hal hal yang mungkin terjadi padaklien dan dapat membantu mengantisipasi terjadinya perdarahan. Anjurkan klien untuk banyak istirahat R/ Aktivitas klien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan.

Beri penjelasan pada klien/keluarga untuk segera melaporkan tanda-tanda perdarahan (hematemesis,melena, epistaksis) R/ Keterlibatan keluarga akan sangat membantu klien mendapatkan penanganan sedini mungkin.

Antisipasi terjadinya perdarahan ( sikat gigi lunak, tindakan incvasif dengan hati-hati) R/ Klien dengan trombositopenia rentan terhadap

cedera/perdarahan.

d. DX4: Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan mual, muntah, anoreksia. Tujuan : kebutuhan nutrisi klien terpenuhi, klien mampu menghabiskan makanan sesuai dengan porsi yang diberikan. Intervensi: Kaji keluhan mual, muntah, dan sakit menelan yang dialami klien R/ Untuk menetapkan cara mengatasinya. Kaji cara/pola menghidangkan makanan klien R/ Cara menghidangkan makanan dapat mempengaruhi nafsu makan klien. Berikan makanan yang mudah ditelan seperti: bubur dan dihidangkan saat masih hangat. R/ Membantu mengurangi kelelahan klien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan. Berikan makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering R/ Untuk menghindari mual dan muntah serta rasa jenuh karena makanan dalam porsi banyak. Jelaskan manfaat nutrisi bgi klien terutama saat sakit. R/ UntukMeningkatkan pengetahan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat

Berikan umpan balik positif saat klien mau berusaha mengahiskan makannya. R/ Memotivasi dan meningkatkan semangat klien.

Catat jumlah porsi yang dihabiskan klien R/ Mengetahui pemasukan/pemenuhan nutrisi klien. Ukur berat badan kilen tiap hari. R/ Untuk mengetahui status gizi klien.

e. DX5: Intoleransi aktifitas sehubungan dengan kelemahan Tujuan : Kebutuhan aktivitas sehari-hari terpenuhi Intervensi: Mengkaji keluhan klien R/ Untuk mengidentifikasi masalah-masalah klien. Kaji hal-hal yang mampu/tidak mampu dilakukan oleh klien sehubungan degan kelemahan fisiknya. R/ Untuk mengetahui tingkat ketergantungan klien dalam memenuhi kebutuhannya. Bantu klien memenuhi kebutuhan aktivitasnya sesuai dengan tingkat keterbatasan klien seperti mandi, makan, eliminasi. R/ Pemberian bantuan sangat diperlukan oleh klien pada saat kondisinya lemah tanpa membuat klien mengalami ketergantungan pada perawat. Bantu klien untuk mandiri sesuai dengan perkembangan kemajuan fisiknya. R/ Dengan melatih kemandirian klien, maka klien tidak mengalami ketergantungan. Letakkan barang-barang di tempat yang mudah dijangkau oleh klien. R/ akan membantu klien memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Cecily, L Beth, Linda A Sowden. 2002. Buku Saku Keperawatan Pediatric, Edisi 3. Jakarta: EGC Hadinegoro, S. Rezeki. 2002. Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Balai Penerbit FKUI Mansjoer, Arif, et al. 2009. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius Maryllin E Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman

Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC Nelson . 2000. Ilmu Kesehatan Anak, volome I , Edisi 15. Jakarta: EGC Suryadi, Rita Yuliani. 2006. Jakarta: Sagung Seto Wong, Donna. 2004. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi Kedua.