Anda di halaman 1dari 17

Page |1

BAB I
Pendahuluan
Etika berusaha menolong kita untuk berpikir lebih terang dan merasa lebih tenang. Dalam konteks ini timbul pertanyaan, apakah keputusan etis? Terkadang kita mengambil keputusan-keputusan yang bukan etis, sebagian dari keputusan kita merupakan soal selera (contoh nonton bola atau mendengarkan musik). Terkadang menyangkut masalah praktis (contoh lebih memilih jalan yang rusak tapi cepat sampai daripada jalan mulus tapi lambat sampai). Semua aktivitas manajerial dapat diangap sebagai pengambilan keputusan, karena mengambil keputusan merupakan salah satu tugas terpenting para usahawan ataupun manajer.

Seorang pemimpin dalam mengambil keputusan dihadapkan pada dilema etika dan moral. Keputusan yang diambil pemimpin tentunya akan menghasilkan dampak bagi orang lain. Idealnya, seorang pemimpin mempunyai integritas yang menjunjung tinggi nilai moral dan etika. Sehingga, keputusan yang diambilnya adalah mengacu tidak hanya pada kepentingannya sendiri, melainkan juga kepentingan orang banyak termasuk lingkungannya.

Kebanyakan para pelaku bisnis mengambil keputusan berdasarkan kepentingan para pemilik atau para pemegang saham, pandangan ini merupakan pendekatan secara tradisional. Pendekatan secara tradisional ini dimodifikasi menjadi dua cara, pertama : Asumsi bahwa seluruh pemilik atau pemegang saham hanya ingin memaksimalkan keuntungan jangka pendek, kedua : Klien, supplier, kreditor, tokoh masyarakat dan pemerintah memiliki kepentingan dari hasil keputusan yang dibuat dan juga tujuan dari perusahaan itu ikut dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan perusahaan.

Page |2

BAB II
PEMBAHASAN
A. Dasar Pengambilan Keputusan

1. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Intuisi Keputusan yang diambil berdasarkan intuisi atau perasaan lebih bersifat subjektif yaitu mudah terkena sugesti, pengaruh luar, dan faktor kejiwaan lain. Sifat subjektif dari keputusuan intuitif ini terdapat beberapa keuntungan, yaitu : a. Pengambilan keputusan oleh satu pihak sehingga mudah untuk memutuskan. b. Keputusan intuitif lebih tepat untuk masalah-masalah yang bersifat kemanusiaan.

Pengambilan keputusan yang berdasarkan intuisi membutuhkan waktu yang singkat Untuk masalah-masalah yang dampaknya terbatas, pada umumnya pengambilan keputusan yang bersifat intuitif akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, pengambilan keputusan ini sulit diukur kebenarannya karena kesulitan mencari pembandingnya dengan kata lain hal ini diakibatkan pengambilan

keputusan intuitif hanya diambil oleh satu pihak saja sehingga hal-hal yang lain sering diabaikan.

2. Pengambilan Keputusan Rasional Keputusan yang bersifat rasional berkaitan dengan daya guna. Masalah masalah yang dihadapi merupakan masalah yang memerlukan pemecahan rasional. Keputusan yang dibuat berdasarkan pertimbangan rasional lebih bersifat objektif. Dalam masyarakat, keputusan yang rasional dapat diukur

apabila kepuasan optimal masyarakat dapat terlaksana dalam batas-batas nilai masyarakat yang di akui saat itu.

Page |3

3. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Fakta Ada yang berpendapat bahwa sebaiknya pengambilan keputusan didukung oleh sejumlah fakta yang memadai. Sebenarnya istilah fakta perlu dikaitkan dengan istilah data dan informasi. Kumpulan fakta yang telah dikelompokkan secara sistematis dinamakan data. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan dari data. Dengan demikinan, data harus diolah lebih dulu menjadi informasi yang kemudian dijadikan dasar pengambilan keputusan.

Keputusan yang berdasarkan sejumlah fakta, data atau informasi yang cukup itu memang merupakan keputusan yang baik dan solid, namun untuk mendapatkan informasi yang cukup itu sangat sulit.

4. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Pengalaman Sering kali terjadi bahwa sebelum mengambil keputusan, pimpinan mengingat-ingat apakah kasus seperti ini sebelumnya pernah terjadi. Pengingatan semacam itu biasanya ditelusuri melalui arsip-arsip penhambilan keputusan yang berupa dokumentasi pengalaman-pengalaman masa lampau. Jika ternyata permasalahan tersebut pernah terjadi sebelumnya, maka pimpinan tinggal melihat apakah permasalahan tersebut sama atau tidak dengan situasi dan kondisi saat ini. Jika masih sama kemudian dapat menerapkan cara yang sebelumnya itu untuk mengatasi masalah yang timbul.

Dalam hal tersebut, pengalaman memang dapat dijadikan pedoman dalam menyelesaikan masalah. Keputusan yang berdasarkan pengalaman sangat bermanfaat bagi pengetahuan praktis. Pengalaman dan kemampuan untuk memperkirakan apa yang menjadi latar belakang masalah dan bagaimana arah penyelesaiannya sangat membantu dalam memudahkan pemecaha masalah.

Page |4

5. Pengambilan Keputusan Berdasarkan Wewenang Banyak sekali keputusan yang diambil karena wewenang (authority) yang dimiliki. Setiap orang yang menjadi pimpinan organisasi mempunyai tugas dan wewenang untuk mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang efektif dan efisien.

Keputusan

yang

berdasarkan

wewenang tersebut

memiliki lain :

beberapa banyak

keuntungan. Keuntungan-keuntungan diterimanya oleh

antara

bawahan, memiliki otentisitas (otentik), dan juga karena

didasari wewenang yang resmi maka akan lebih permanent sifatnya.

Keputusan yang berdasarkan pada wewenang semata maka akan menimbulkan sifat rutin dan mengasosiasikan dengan praktik dictatorial. Keputusan berdasarkan wewenang kadangkala oleh pembuat keputusan sering melewati permasahan yang seharusnya dipecahkan justru menjadi kabur atau kurang jelas.

B. Prinsip Pengambilan Keputusan Dalam Islam

1. Musyawarah Adanya musyawarah dalam pengambbilan keputusan, karena dalam musyawarah semua peserta memiliki persamaan hak untuk mendapatkan kesempatan secara adil untuk mengemukakan pendapat dan pandangan masing masing terhadap suatu pengambilan keputusan. Pelaksanaan musyawarah dan prosedur pengambilan keputusan tetap berpegang teguh pada prinsip prinsip islam yaitu kebebasan, keadilan, dan kebebasan berbicara dan mengemukakan pendapat. Pendapat yang diajukan keputusan bukan melihat kepada siapa yang mengemukakan pendapat itu, pendapat mayoritas ataupun minoritas, melainkan bagaimana kualitas pendapat itu dan dampaknya bagi kemasahatan umat bukan kemaslahatan yang bermusyawarah.

Page |5

Berikut petunjuk Al Quran dan sistem musyawarah pada ayat pertama dalam surat (As Syura 42 : 38) : Dan orang orang yang menerima seruan Tuhannya, dan mendirikan sholat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah, dan mereka membelanjakan sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepada mereka. Allah juga menyebut musyarawah sebagai orang terpuji bagi orang beriman, kemudia Ia memerintahkan agar urusan dimusyawarahkan seperti yang disebutkan dalam surat (Ali Imran 3 : 159) : Maka dengan sebab rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, niscaya mereka akan menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka dan memohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang orang yang bertawakkal.

2. Keadilan Dalam Islam, kebenaran adalah kebenaran, kesesatan adalah kesesatan, keadilan adalah keadilan, yang kesemuanya adalah berlaku mutlak terhadap siapapun di dunia ini, tidak memandang dia adalah rakyat jelata yang paling hina dan rendah maupun pemimpin umat. Atau bahkan urusan Tuhan sekalipun, semuanya duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi serta menjunjung bersama sama dalam hukum, tidak ada memiliki hak hak istimewa apapun. Salah adalah salah, benar adalah benar. Oleh karena itu, dalam mengambi keputusan hendaknya bersikap adil. Dalam surat (An Nisa 4 : 135) : Wahai orang orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri ataupun ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia Kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Page |6

Dan (Al Maidah 5 : 8) : Hai orang orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang orang yang menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwallah kepada Allah, Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Perintah wajib itu ditujukan untuk dua hal yaitu perintah menetapkan hukum atau menyelesaikan masalah dengan adil dan perintah berlaku adil bagi orang yang menetapkan hukum dan menyelesaikan suatu masalah.

C. Kelebihan dan Kelemahan Prinsip Etika Pengambilan Keputusan

Menurut Prof. Dr. Sudharto P. Hadi M. ES, ada tiga sikap dalam mengambil keputusan, yaitu Utilitarianism, Libertarianism, dan Rawl Justice.

1. Utilitarianisme Pangkal tolaknya adalah prinsip kefaedahan (utility), yaitu mengupayakan yang terbaik untuk sebanyak banyaknya orang / kesejahteraan manusia (human welfare) / teori moral komperehensif. Kepentingan umum (Public interest) merupakan ukuran penting menurut pendekatan ini. Manfaat yang sebesar besarnya dan kerugian yang sekecil kecilnya, untuk kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Atau dengan kata lain efesiensi.

Masalah : Pertama, siapa yang menentukan apakah suatu sasaran, ukuran, atau hasil yang dikehendaki didasarkan pada kepentingan umum, dan bukan kepentingan si pengambil keputusan itu sendiri, atau kelompoknya, atau kelompok yang ingin di untungkan.

Page |7

Kedua, dimana letak batas antara hak perorangan dan kepentingan umum. Jika kepentingan umum mencerminkan dengan mudah kepentingan banyak individu, maka masalahnya sederhana. Namun jika ada perbedaan tajam antara keduanya, maka akan timbul masalah. Ketiga, bagaimana membuat perhitungan yang tepat bahwa langkah langkah yang dilakukan akan menguntungkan kepentingan umum dan tidak merugikan.

Utilitarianisme dapat dipecah kedalam dua bagian : A. Sebuah penilaian mengenai kesejahteraan manusia, atau utility. B. Sebuah petunjuk untuk memaksimalkan kesejahteraan (utility) yang di definisikan sebagai memberikan bobot yang sama pada kesejahteraan orang orang.

2. Libertarianisme Tujuan utama dari teori libertarian memberikan informasi sebagai media hiburan, pendidikan, bisnis, dan mengawasi pemerintahan. Masyarakat menjadi lebih kritis dan cerdas untuk ikut mengawasi kerja pemerintahan dan masyarakat tidak dibutakan oleh informasi yang palsu dari pemerintah. Dampak negative, yang berhak menggunakan media hanya yang memiliki kemampuan ekonomi.

3. Rawl Justice John Rawls Merekonsiliasikan antara prinsip kebebasan dan prinsip persamaan. Rawls berpendapat bahwa keadilan adalah kebajikan utama dari hadirnya institusi institusi sosial. Akan tetapi menurutnya, kebaikan bagi seluruh masyarakat tidak dapat mengesampingkan atau mengganggu rasa keadilan bagi setiap orang yang telah memperoleh rasa keadilan dari setiap orang yang telah memperoleh rasa keadilan, khususnya masyarakat lemah.

Page |8

Oleh Raws, Prinsip pertama dikenal dengan Prinsip Kebebasan yang Sama (Equal liberty principle), seperti misalnya kemerdekaan politik, kebebasan mengemukakan pendapat dan ekspresi, serta kebebasan beragama. Prinsip kedua disebut Prinsip perbedaan yaitu diperoleh sebesar besarnya bagi anggota masyarakat yang paling tidak menguntungkan. Dan Prinsip persamaan kesempatan yaitu jabatan jabatan atau posisi posisi harus dibuka bagi semua orang dalam keadaan dimana adanya persamaan kesempatan yang adil.

Melalui 2 teorinya tersebut, John Rawls mencoba menggiring masyarakat untuk memperoleh prinsip kesamaan yang adil. Itulah sebabnya mengapa Rawls menyebut teorinya dengan sebutan Justice as fairness.

Untuk mewujudkan masyarakat yang adil, Rawls berusaha memosisikan kebebasan akan hak hak dasar sebagai nilai yang tertinggi dan kemudian harus diikuti dengan adana jaminan kesempatan yang sama bagi setiap orang untuk menduduki jabatan atau posisi terentu. John Rawls telah menyepurnakan prinsip prinsip keadilannya sebagai berikut: Pertama, setiap orang mempunyai klaim yang sama untuk memenuhi hak hak dan kemerdekaan kemerdekaan dasarnya yang kompatibel dan sama jenisnya untuk semua orang. Kedua, ketidaksamaan sossial dan ekonomi dapat dipenuhi atas asar dua kondisi yaitu, (a) melekat untuk jabatan jabatan dan posisi posisi yang dibuka bagi semua orang dibawah kondisi adanya persamaan kesempatan yang adil. (b) diperuntukkan sebagai kebermanfaatan sebesar besarnya bagi anggota anggota yang paling tidak diuntungkan.

Terhadap konsep demokrasi John Rawls memilih pelaksanaannya berdasarkan demokrasi konstutional yang diwujudkan dengan keberadaan badan badan perwakilan yang keanggotaannya dipilih melalui cara cara yang adil. Prinsip prinsip keadilan yang disampaikan oleh John Rawls, pada umumnya sangat relevan bagi negara negara dunia yang sedang berkembang seperti Indonesia.

Page |9

D. Pengambilan Keputusan Etis

Pertimbangan etis pada stakeholders dalam pengambilan keputusan harus dipertimbangkan, karena merupakan suatu kriteria yang penting dalam pengambilan keputusan.

Ada enam kriteria dalam mengambil keputusan yang etis, yaitu:

1. Utilitarian Keputusan-keputusan yang diambil semata-mata atas dasar hasil atau konsekuensi mereka. Tujuannya adalah memberikan kebaikan yang terbesar untuk jumlah yang terbesar. Pandangan ini cenderung mendominasi pengambilan keputusan bisnis, seperti efisiensi, produktifitas dan laba yang tinggi.

2. Universalisme (duty) Ini menekankan pada baik buruknya perilaku tergantung pada niat (intention) dari keputusan atau perilaku. Paham ini adalah kebalikan

(contrast) dari utilitarianisme. Paham ini memfokuskan diri pada suatu kewajiban (duty), yaitu bahwa individu harus mempedulikan individu

lainnya atau mempedulikan aspek kemanusiaan. Jika seseorang berbuat dengan niat (intention) untuk melakukan duty ini, berarti perbuatannya dinilai etis. Jika tidak ada niatan ini, berarti perbuatannya tidaklah etis.

3. Penekanan pada hak Kriteria ini memberikan kesempatan kepada individu untuk mengambil keputusan yang konsisten dengan kebebasan dan keistimewaan mendasar seperti dikemukakan dalam dokumen dokumen (contoh Piagam Hak Asasi). Suatu tekanan pada hak dalam pengambilan keputusan berarti menghormati dan melindungi hak dasar dari individu.

P a g e | 10

4. Penekanan pada keadilan Ini mensyaratkan individu untuk menegakkan dan memperkuat aturanaturan yang adil dan tidak berat sebelah sehingga ada pembagian manfat dan biaya yang pantas. Keadilan distributif, perilaku didasarkan pada satu nilai keadilan. Terdapat lima prinsip keadilan distributir :

a. Setiap orang mendapatkan hasil bersama yang setara (equal share), b. Setiap orang mendapatkan sesuai kebutuhan individualnya, c. Setiap orang mendapatkan sesuai usaha individualnya, d. Setiap orang mendapatkan sesuai kontribusi sosialnya, dan e. Setiap orang mendapatkan sesuai prestasinya (merit system).

5. Relativisme (self-interest) Ini menekankan bahwa baik buruknya perilaku manusia didasarkan pada kepentingan atau kebutuhan pribadi (self-interest and need). Dengan demikian, setiap individu akan mempunyai kriteria moral yang berbeda dengan individu lainnya, atau akan terjadi perbedaan kriteria moral dari satu kultur ke kultur lainnya.

6. Eternal Law (scripture) Ini menekankan bahwa baik buruknya perilakudidasarkan pada hukumhukum yang diwahyukan dalam sebuah kitab suci.

Dalam pengambilan keputusan yang didasarkan etis, akan tampak perbedaan dari pengakuan etis itu sendiri di berbagai kultur. Hal ini dikarenakan tidak adanya standar etis yang global.

P a g e | 11

BAB III
KASUS

A. Pelanggaran Etika Pengambilan Keputusan Oleh Akuntan Perhatian pada isu etika dalam dunia bisnis dan profesi secara dramatis telah meningkat, terlebih setelah maraknya kejahatan akuntansi korporat yang terjadi beberapa tahun belakangan ini membuat kepercayaan para pemakai laporan keuangan khususnya laporan keuangan auditan terhadap auditor mulai menurun. Akibat kejahatan tersebut, para pemakain laporan keuangan seperti investor dan kreditur mulai mempertanyakan kembali eksistensi akuntan publik sebagai pihak independen yang menilai kewajaran laporan keuangan. Beberapa kasus manipulasi yang merugikan pemakai laporan keuangan melibatkan kantor akuntan publik yang seharusnya menjadi pihak independen. Kasus manipulasi pembukuan yang sangat fenomenal pada dekade terakhir ini adalah kasus Enron. Laporan keuangan Enron sebelumnya dinyatakan wajar tanpa pengecualian oleh Arthur Andersen, yang merupakan salah satu KAP yang termasuk dalam jajaran Big Five (lima kantor akuntan besar) di Amerika Serikat, secara mengejutkan dinyatakan pailit. Sebagian pihak menyatakan kepailitan tersebut salah satunya karena Arthur Anderson memberikan dua jasa sekaligus, yaitu sebagai auditor dan konsultan bisnis. Suatu kasus yang sedemikian kompleks, yang kemudian diikuti oleh mencuatnya kasus-kasus besa lainnya Belum surut kasus Enron dan WorldCom, Arthur Andersen juga tersandung pada perusahaan farmasi Merck. Perusahaan yang masuk dalam The Big Five (lima akuntan terbesar) di Amerika Serikat itu mengaudit keuangan Merck selama tiga tahun terakhir. Perusahaan farmasi kedua terbesar di AS ini menyatakan adanya kesalahan hitung pendapatan dari anak perusahaan selama tiga tahun sebesar 15 milyar dollar AS.

P a g e | 12

Kalau di negeri adidaya seperti Amerika Serikat saja skandal akuntansi dapat terjadi, apalagi di Indonesia yang selama ini menyandang predikat sebagai salah satu negara terkorup di dunia. Beberapa skandal keuangan yang cukup menjadi perhatian salah satunya adalah kasus pelanggaran yang terjadi pada perbankan di Indonesia pada tahun 2002. Banyak bank dinyatakan sehat oleh akuntan publik atas audit laporan keuangan berdasar Standar Akuntansi Perbankan Indonesia ternyata sebagian besar bank itu kondisinya tidak sehat. Menurut catatan Biro Riset Info-Bank (BIRI), pada tahun 2002, ada 12 perusahaan go public yang dinyatakan melakukan praktik rekayasa laporan keuangan oleh akuntan intern yang banyak dilakukan sejumlah perusahaan go public. Kasus yang lain adalah terkait dengan ditolaknya laporan keuangan PT TELKOM yang diaudit oleh KAP Eddy Pianto oleh US SEC (United States Securities and Exchange Comission) untuk kinerja 2002, pelaporan keuangan ganda yang dilakukan oleh Lippo Bank pada tahun 2002 serta kasus-kasur besar lainnya seperti Adam Air, Asian Agri, dan Kimia farma yang kesemuanya melibatkan akuntan publik. Berbagai kasus pelanggaran etika seharusnya tidak terjadi apabila setiap akuntan mempunyai pengetahuan, pemahaman, dan kemauan untuk menerapkan nilai-nilai moral dan etika secara memadai dalam pelaksanaan pekerjaan profesionalnya. Oleh karena itu, terjadinya berbagai kasus sebagaimana

disebutkan di atas, seharusnya memberi kesadaran untuk lebih memperhatikan etika dalam melaksanakan pekerjaan profesi akuntan. Bertolak dari kasus-kasus di luar maupun di dalam negeri, dan kemudian dihubungkan dengan terjadinya krisis ekonomi dunia dan juga di Indonesia, akuntan seolah menjadi profesi yang harus paling bertanggung jawab. Dalam hal ini, karena peran pentingnya dalam masyarakat bisnis, akuntan publik bahkan dituduh sebagai pihak yang paling besar tanggungjawabnya atas merosotnya perekonomian. Bagaimanapun situasi kontekstual ini memerlukan perhatian dalam berbagai aspek pengembangan profesionalisme akuntan, termasuk di dalamnya melalui suatu penelitian.

P a g e | 13

Penelitian terhadap prilaku akuntan telah banyak dilakukan baik di luar negeri maupun di Indonesia. Penelitian ini dipicu dengan semakin banyaknya pelanggaran etika yang terjadi di luar negeri maupun di Indonesia. Dari kondisi tersebut banyak peneliti yang ingin mencari tahu mengenai faktor-faktor apa saja yang menjadi penentu atau mempengaruhi pengambilan keputusan tidak etis atau pelanggaran terhadap etika. Trevino [1990] menyatakan bahwa terdapat dua pandangan mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi tindakan tidak etis yang dibuat oleh seorang individu. Pertama, pandangan yang berpendapat bahwa tindakan atau pengambilan keputusan tidak etis lebih dipengaruhi oleh karakter moral individu. Kedua, tindakan tidak etis lebih dipengaruhi oleh lingkungan, misalnya sistem reward dan punishment perusahaan, iklim etis organisasi dan sosialisasi kode etik profesi oleh organisasi dimana individu tersebut bekerja. Sementara Volker menyatakan bahwa Para akuntan profesional cenderung mengabaikan persoalan etika dan moral bilamana menemukan masalah yang bersifat teknis, artinya bahwa para akuntan profesional cenderung berperilaku tidak bermoral apabila dihadapkan dengan suatu persoalan akuntansi. Selain itu juga Finn et.al juga menyatakan bahwa akuntan seringkali dihadapkan pada situasi adanya dilema yang menyebabkan dan memungkinkan akuntan tidak dapat independen. Akuntan diminta untuk tetap independen dari klien, tetapi pada saat yang sama kebutuhan mereka tergantung kepada klien karena fee yang diterimanya, sehingga seringkali akuntan berada dalam situasi dilematis. Hal ini akan berlanjut jika hasil temuan auditor tidak sesuai dengan harapan klien, sehingga menimbulkan konflik audit. Konflik audit ini akan berkembang menjadi sebuah dilema etika ketika auditor diharuskan membuat keputusan yang bertentangan dengan independensi dan integritasnya dengan imbalan ekonomis yang mungkin terjadi atau tekanan di sisi lainnya.

P a g e | 14

B. KASUS PENGAMBILAN KEPUTUSAN KENAIKAN BBM Rakyat Indonesia saat ini mungkin bertanya-tanya, lakon atau peran apa yang sedang dimainkan oleh beberapa Anggota Dewan Perwakilan Rakyat di negeri ini pada saat sidang paripurna yang berlangsung pada Jumat, 30 Maret 2011. Terdapat sekelompok orang yang pro dan beberapa kelompok lain kontra dalam sidang tersebut. Dalam sidang yang mengagendakan beberapa persoalan, diantaranya ialah pengambilan keputusan mengenai beberapa opsi terhadap masalah kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), opsi tersebut antara lain adalah : opsi pertama yaitu tidak ada perubahan apa pun dalam pasal 7 ayat 6 Undang-Undang APBN 2012 yang berisi pemerintah tidak boleh menaikkan harga BBM subsidi dan opsi kedua yaitu adanya penambahan ayat pada pasal 7 ayat 6 + 6a yang memperbolehkan pemerintah mengubah atau menaikkan harga BBM jika harga minyak mentah (Indonesia Crude Price) mengalami kenaikan atau penurunan (fluktuasi) rata-rata 15 persen dalam waktu 6 bulan. Dengan adanya penambahan ayat pada pasal tersebut sontak menyulut berbagai pertanyaan terutama, mengenai keabsahan konstitusi yang seharusnya tetap dijaga dan dijunjung tinggi oleh DPR dan Mahkamah Konstitusi (MK) sebelumnya pun pernah menolak keputusan yang hampir serupa mengenai pasal yang berkaitan dengan kenaikan BBM. Sidang yang berlangsung malam itu tak ubahnya seperti sebuah sandiwara (dagelan) yang dimainkan oleh para pemain yang ahli dalam berkata-kata, memanipulasi fakta dan rekayasa dalam membuat asumsi ataupun pernyataan yang mengatasnamakan membela rakyat atau kaum yang lemah. Seluruh anggota yang terdiri dari beberapa fraksi partai tak ubahnya seperti Penjilat (baca: munafik) yang rela melakukan apapun demi kepentingan dirinya dan partainya. Mengapa seperti penjilat ? terdapat beberapa kelompok partai yang tergolong seperti itu, diantaranya terdapat kelompok tersebut yang dengan keras dan tegas menolak, dan berada pada pihak yang kontra terhadap persoalan dan ketika sidang berlanjut pada pengambilan keputusan (yang sebenarnya keputusan abal-abal)

P a g e | 15

sekelompok tersebut melakukan aksi walk out (keluar dari sidang) lalu seraya sambil berkata .minta maaf kepada rakyat Indonesia, karena kami tak mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat. Aksi ini tidak hanya dilakukan oleh fraksi partai penjilat tapi juga di ikuti oleh fraksi partai GALAU. Kenapa galau ? kelompok fraksi ini pada awalnya berada pada sisi pemerintah, dan memiliki opsi tersendiri dalam memandang kenaikan BBM, namun karena kurangnya dukungan opsinya pun gugur, tapi tetap berada pada sisi pemerintah. Namun, di sela-sela sidang anggota dari fraksi ini mencabut dukungan dan bersifat tidak memihak pada siapapun, lalu di sela-sela saat akhir sidang dan memasuki voting, fraksi ini berubah pikiran untuk berada pada pihak menolak dan tetap kalimat ini muncul kembali : .minta maaf kepada rakyat Indonesia, karena kami tak mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat. Begitu lah salah satu tingkah laku yang dapat dikatakan penjilat, dan parat yangpenuh keGalauan demi mencari simpati dan populeritas, saat pertama sekelompok tersebut penuh semangat, dengan suara lantang, setiap asumsi atau wacana yang muncul ia tetap pada pendirian, lalu kenapa melempem pada akhir dan melakukan aksi walk out lalu membuat wacana atau meminta maaf, apa anda berharap rakyat simpati terhadap perjuangan partai Anda ? TIDAK. Masyarakat tentu tak akan percaya sepenuhya, karena masyarakat saat ini jauh lebih pintar dan sedikit berhati-hati dalam membuat pilihan dan tak akan mudah percaya terhadap katakata atau kalimat manis yang sebenarnya telah BASI. Tingkah partai oposisi tersebut sepertinya berbanding terbalik dengan partai penguasa. Anggota partai penguasa yang biasanya hampir setiap sidang paripurna selalu lantang, malam itu tak terdengar begitu vokal. Mungkin mereka tak berani untuk bersuara lantang, karena takut akan ancaman jika memihak kepada sisi lain. Atau mereka memang tak berani untuk bersuara karena menganggap tak ada gunanya berjuang, berteriak untuk membela kaum lemah.

P a g e | 16

Selain itu, sidang tersebut juga penuh dengan tingkah polah yang tak pantas dan tak wajar untuk dilakukan oleh seorang pemimpin atau wakil rakyat, yang seharusnya menjadi penyampai amanah dan panutan bagi rakyatnya. Hal itu antara lain, tindakan mengumpat atau berkata-kata sesuatu yang tidak baik terhadap orang lain, memotong perkataan orang lain dengan cara yang tidak benar dan berteriak-teriak tak jelas seraya berkata-kata yang tak pantas. Inikah anggota dewan yang terhormat, yang menjunjung tinggi etika dan moral serta yang mematuhi konstitusi dan undang-undang. Sebenarnya tindakan-tindakan buruk itu tak perlu terjadi jika seluruh anggota memiliki kesadaran dan niat yang benarbenar baik dan tidak mengutamakan kepentingan kelompok. Seperti yang kita ketahui, sidang yang berlangsung cukup alot tersebut akhirnya mendapatkan hasil melalui voting menyetujui opsi kedua, yaitu : adanya penambahan ayat pada pasal 7 ayat 6 (6+a) yang memperbolehkan pemerintah mengubah harga BBM jika harga minyak mentah (Indonesia Crude Price) mengalami kenaikan atau penurunan rata-rata 15 persen dalam waktu 6 bulan. Anggota dewan itu memang kritis, sekumpulan orang-orang yang jeli terhadap kesalahan orang lain, salah berkata sedikit fatal akibatnya. Tak peduli siapa itu ketua atau pimpinan tak peduli siapa itu atasan dan bawahan. Semua merasa hebat dan memiliki kuasa. Itulah adanya cerminan dari anggota dewan perwakilan rakyat di negeri ini, pintar dalam melakukan adegan demi adegan dalam skenario dan dilakukan dengan sangat baik. Memang di dunia ini tak ada yang sempurna dan tulus membela kaum marginal yang terpinggirkan. Entah siapa dan pihak mana yang benar, banyak yang telah menjadi korban di negeri ini demi sebuah pembelaan menuntut kebijakan yang pada akhirnya memicu asumsi negatif dari berbagai kalangan, semua terkesan abu-abu seperti sandiwara besar panggung politik di negeri yang mengagungkan Demokrasi. Kita hanya berharap, apapun keputusan yang telah dihasilkan itu merupakan hal yang terbaik untuk semua elemen masyarakat di negeri ini.

P a g e | 17

DAFTAR PUSTAKA
http://www.scribd.com/mobile/documents/29469663 http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/(12)%20soca-anderson-etika%20bisnis(1).pdf http://muhinj-indra.blogspot.com/2009/11/pengambilan-keputusan-dalam-suatu.html