Anda di halaman 1dari 20

BAB I PENDAHULUAN

Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara miskin, sekitar 25-50% kematian usia subur disebabkan hal berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada masa puncak produktivitasnya. Tahun 2005, WHO memperkirakan lebih dari 585.000 ibu per tahunnya meninggal saat hamil atau bersalin. Di Asia Selatan, wanita berkemungkinan 1 : 18 meninggal akibat kehamilan / persalinan selama hidupnya; di banyak negara Afrika 1 : 14; sedangkan di Amerika Utara hanya 1 : 6.366. Lebih dari 50 % kematian di negara berkembang sebenarnya dapat dicegah dengan teknologi yang ada serta biaya relatif rendah. (1) Angka kematian ibu di negara berkembang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di negara maju seperti Amerika. Angka kematian ibu di negara berkembang di ketahui sampai 450/100.000 kelahiran hidup, sedangkan di Amerika hanya 30 / 100.000 kelahiran hidup. (2) Tingginya angka kematian ibu diduga sebagian akibat kurangnya mutu pelaksanaan pelayanan antenatal selama dilakukan pemeriksaan kepada ibu hamil. Target internasional pada tahun 2005, angka kematian ibu (AKI) dibawah 125/100.000 kelahiran hidup dan 75/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, dan angka kematian bayi (AKB) ditargetkan menjadi 15/1.000 kelahiran hidup (Depkes, 2005). (3) Di Indonesia, masalah kematian dan kesakitan ibu merupakan masalah besar. Pada tahun 2006, angka kematian ibu (AKI) masih menduduki urutan tertinggi di Negara ASEAN yaitu 307/100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi (AKB) sebesar 35/1.000 kelahiran hidup. (3) Tingginya AKI di Indonesia yang menduduki urutan tertinggi di ASEAN, menempatkan upaya penurunan AKI sebagai program prioritas. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia, seperti halnya negara lain adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Dalam perdarahan dan infeksi sebagai penyebab kematian, sebenarnya tercakup pula kematian akibat abortus terinfeksi dan partus lama. Hanya sekitar 5 % 1

kematian ibu di sebabkan oleh penyakit yang memburuk akibat kehamilan, misalnya penyakit jantung dan infeksi yang kronis. Banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka kematian ibu dan anak seperti halnya yang terdapat di negara berkembang lainnya, ada 3 faktor penyebab yaitu: keadaan sarana pelayanan kesehatan ibu dan anak belum memadai, penggunaan sarana pelayanan kesehatan ibu dan anak yang masih kurang dan karakteristik ibu hamil yang buruk terutama berupa multiparitas, umur tua, anemia dan jarak antara dua kehamilan yang terlalu pendek. (4) Penyebab Obstetrik langsung dari kematian ibu sudah diketahui dan dapat ditangani, meskipun pencegahannya terbukti sulit. Berbagai strategi dalam dekade terakhir mengarah kepada pelajaran yang dapat dipetik sebagai berikut: 1. Kehamilan yang tidak diinginkan 2. Aborsi yang tidak aman 3. Pelayanan antenatal 4. Manajemen komplikasi obstetri yang memadai 5. Keterampilan kebidanan 6. Dukun bayi terlatih 7. Pelayanan Obstetri esensial Kebijakan Departemen kesehatan dalam upaya mempercepat penurunan AKI pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategi Empat Pilar Safe motherhood yang terdiri atas Keluarga Berencana (KB), pelayanan antenatal, persalinan yang aman, serta pelayanan obstetri esensial. Pelayanan obstetri esensial pada hakekatnya adalah tersedianya pelayanan secara kontinu dan terus menerus dalam waktu 24 jam untuk: Bedah caesar Pengobatan penting termasuk anestesi, antibiotika dan cairan infus Transfusi darah Pengeluaran plasenta secara manual

Aspirasi vakum intuk abotrus inkomplit Idealnya pelayanan obstetri esensial juga mencakup kemampuan memberikan pelayanan kontraseptif bedah. Perubahan parilaku masyarakat amat pentng dalam upaya penurunan angkakematian ibu.

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Angka Kematian Ibu Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya wanita yang meninggal dari

suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya selama kehamilan, melahirkan dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) per 100.000 kelahiran hidup. AKI berguna untuk menggambarkan tingkat kesadaran perilaku hidup sehat, status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan, tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, pelayanan kesehatan waktu ibu melahirkan dan masa nifas. (5) Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke 5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai resiko jumlah kematian ibu. (5)

2.2

Penyebab Kematian Ibu Penyebab kematian yaitu perdarahan, eklampsia atau gangguan akibat

tekanan darah tinggi saat kehamilan, partus lama, komplikasi aborsi, dan infeksi. Sebagian besar kasus perdarahan dalam masa nifas terjadi karena retensio plasenta dan atonia uteri. (6) Hal ini mengindikasikan kurang baiknya manajemen tahap ketiga proses kelahiran dan pelayanan emergensi obstetrik dan perawatan neonatal yang tepat waktu. Eklampsia merupakan penyebab utama kedua kematian ibu, yaitu 13% kematian ibu di Indonesia (rata-rata dunia adalah 12%). Pemantauan kehamilan secara teratur sebenarnya dapat menjamin akses terhadap perawatan yang sederhana dan murah yang dapat mencegah kematian ibu karena eklampsia. (6) Aborsi yang tidak aman bertanggung jawab terhadap 11% kematian ibu di Indonesia (rata-rata dunia 13%). Kematian ini sebenarnya dapat dicegah jika

perempuan mempunyai akses terhadap informasi dan pelayanan kontrasepsi serta perawatan terhadap komplikasi aborsi. (6) Sepsis sebagai faktor penting lain penyebab kematian ibu sering terjadi karena kebersihan (hygiene) yang buruk pada saat persalinan atau karena penyakit menular akibat hubungan seks yang tidak diobati. Sepsis ini berkontribusi pada 10% kematian ibu (rata-rata dunia 15%). Deteksi dini terhadap infeksi selama kehamilan, persalinan yang bersih, dan perawatan semasa nifas yang benar dapat menanggulangi masalah ini. (6) Partus lama, yang berkontribusi bagi sembilan persen kematian ibu (rata-rata dunia 8%), sering disebabkan oleh disproposi sefalopelvik, gangguan kontraksi uterus. (6) kelainan letak, dan

2.3

Pertolongan Persalinan oleh Petugas Kesehatan Terlatih Salah satu faktor tingginya AKI di Indonesia adalah disebabkan karena relatif

masih rendahnya cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan. Departemen Kesehatan menetapkan target 90% persalinan ditolong oleh tenaga medis pada tahun 2010. Perbandingan dengan hasil survei SDKI bahwa persalinan yang ditolong oleh tenaga medis profesional meningkat dari 66% dalam SDKI 2002-2003 menjadi 73% dalam SDKI 2007. Angka ini relatif rendah apabila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, Thailand di mana angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan hampir mencapai 90%. (5) Apabila dilihat dari proyeksi angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan nampak bahwa ada pelencengan dari tahun 2004 dimana angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dibawah dari angka proyeksi, apabila hal ini tidak menjadi perhatian kita semua maka diperkirakan angka pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 90 % pada tahun 2010 tidak akan tercapai, konsekuensi lebih lanjut bisa berimbas pada resiko angka kematian ibu meningkat. Kondisi geografis, persebaran penduduk dan sosial budaya merupakan beberapa faktor penyebab rendahnya aksesibilitas terhadap tenaga pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, dan tentunya disparitas antar daerah akan berbeda satu sama lain. (5)

2.4

Kebijakan dan Program untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu Menurunkan kesakitan dan kematian ibu telah menjadi salah satu prioritas

utama dalam pembangunan sektor kesehatan sebagaimana tercantum dalam Propenas. Kegiatan-kegiatan yang mendukung upaya ini antara lain meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi, meningkatkan pemberantasan penyakit menular dan imunisasi, meningkatkan pelayanan kesehatan dasar dan rujukan, menanggulangi KEK, dan menanggulangi anemia gizi besi pada wanita usia subur dan pada masa kehamilan, melahirkan, dan nifas. (6) Kehamilan yang aman sebagai kelanjutan dari program safe motherhood, dengan tujuan untuk mempercepat penurunan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. MPS terfokus pada pendekatan perencanaan sistematis dan terpadu dalam intervensi klinis dan sistem kesehatan serta penekanan pada kemitraan antar institusi pemerintah, lembaga donor, dan peminjam, swasta, masyarakat, dan keluarga. Perhatian khusus diberikan pada penyediaan pelayanan yang memadai dan

berkelanjutan dengan penekanan pada ketersediaan penolong persalinan terlatih. Aktivitas masyarakat ditekankan pada upaya untuk menjamin bahwa wanita dan bayi baru lahir memperoleh akses terhadap pelayanan. (6) Ada empat strategi utama bagi upaya penurunan kesakitan dan kematian ibu. Pertama, meningkatkan akses dan cakupan pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir yang berkualitas dan cost effective. Kedua, membangun kemitraan yang efektif melalui kerja sama lintas program, lintas sektor, dan mitra lainnya. Ketiga, mendorong pemberdayaan wanita dan keluarga melalui peningkatan pengetahuan dan perilaku sehat. Keempat, mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjamin penyediaan dan pemanfaatan pelayanan ibu dan bayi baru lahir. Ada tiga pesan kunci, yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetrik dan neonatal mendapatkan pelayanan yang memadai, dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran. (5) Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok masyarakat berpendapatan rendah baik di perkotaan dan pedesaan serta masyarakat di daerah terpencil. Program Kesehatan Gratis yang telah dimulai sejak 2007 telah menyediakan pelayanan kesehatan dasar dan bidan di desa secara gratis bagi penduduk miskin perlu dipertahankan dengan berbagai cara. (6) Terlepas dari kebijakan dan program dengan fokus pada sektor kesehatan, diperlukan juga penanganan dalam konteks yang lebih luas di mana kematian ibu terjadi. Kematian ibu sering disebabkan oleh berbagai faktor yang kompleks yang menjadi tanggung jawab lebih dari satu sektor. Terdapat korelasi yang jelas antara pendidikan, penggunaan kontrasepsi, dan persalinan yang aman. Pelayanan kesehatan reproduksi remaja harus ditangani dengan benar, mengingat besarnya masalah. Selain itu, isu gender dan hak-hak reproduksi baik untuk laki-laki maupun perempuan perlu terus ditekankan dan dipromosikan pada semua level. (6)

2.5

Safe Motherhood (Usaha Keselamatan Ibu) Safe Motherhood adalah usaha-usaha yang dilakukan agar seluruh perempuan

menerima perawatan yang mereka butuhkan selama hamil dan bersalin. (7)

Tujuan utama dari Safe Motherhood adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil, bersalin, nifas di samping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir terutama di negara berkembang. (8) Pilar Safe Motherhood, meliputi 4 program penting di antaranya: (8)
1. Keluarga Berencana

Konsep Keluarga Berencana pertama kali diperkenalkan di Matlab, Bangladesh pada tahun 1976. Tujuan dari program KB ini antara lain adalah merencanakan waktu yang tepat untuk hamil, mengatur jarak kehamilan, menentukan jumlah anak. Yang kegiatannya terdiri dari Pelayanan dan Konseling.
2. Pelayanan Antenatal

Pelayanan antenatal sangat penting untuk mendeteksi lebih dini komplikasi kehamilan dan sarana edukasi bagi perempuan tentang kehamilan. Komponen penting pelayanan antenatal meliputi: Skrining dan pengobatan anemia, malaria, dan penyakit menular seksual. Deteksi dan penanganan komplikasi seperti kelainan letak, hipertensi, edema, dan pre-eklampsia. Penyuluhan tentang komplikasi yang potensial, serta kapan dan bagaimana cara memperoleh pelayanan rujukan 3. Persalinan yang Aman Persalinan yang aman bertujuan untuk memastikan bahwa setiap penolong persalinan mempunyai kemampuan, ketrampilan, dan alat untuk memberikan pertolongan yang bersih dan aman, serta memberikan pelayanan nifas pada ibu dan bayi, pemberian pelayanan obstetri esensial tingkat dasar guna menghindari kegawatdaruratan & komplikasi yang berkaitan dengan kematian ibu
4. Pelayanan Obstetri Esensial

Kegiatan Safe Motherhood memiliki 6 kegiatan pelaksanaan utama yaitu: (8) 1. Deteksi dini dalam skrining Antenatal, mengenal faktor resiko; ibu resiko tinggi 2. Prediksi terjadinya kompilasi persalinan 3. Komunikasi Informasi Edukasi (KIE) 4. Prevensi melakukan pencegahan pro-aktif, antisipasif terhadap ibu dan bayi. 5. Antisipasi 6. Intervensi Dukungan pelaksanaan Safe Motherhood: (8) 1. Dukungan suami Sebagai salah satu orang terdekat dengan ibu, dukungan suami memegang peranan penting di antaranya seperti merencanakan keluarga, menjaga serta menyelamatkan kesehatan ibu dan anak, mendukung penggunaan kontrasepsi, mempersiapkan perawatan terlatih selama persalinan, dan juga menjadi ayah yang bertanggung jawab. 2. Kebijakan politis, yaitu komitmen dan dukungan dari pimpinan wilayah

dengan sector terkait (Tingkat kabupaten / kota, kecamatan, dan pedesaan) yang berkesinambungan dan berkelanjutan dalam pembinaan dan peningkatan untuk pelayanan kesehatan ibu yang terjangkau dalam wadah Gerakan Sayang Ibu. 3. Persepsi sama, disemua tingkat pelayanan (Polindes, Puskesmas dan Rumah sakit) dalam peningkatan pelayanan kesehatan ibu berbasis masalah keluarga dalam kegiatan deteksi dan kendali. 4. Prilaku paradigma sehat melalui pendekatan pencegahan, pro-aktif antisipatif oleh upaya kuratif rehabilitatif. Ada dua alasan yang menyebabkan Safe Motherhood perlu mendapat perhatian. Pertama, besarnya masalah kesehatan ibu dan bayi baru lahir serta dampak yang diakibatkannya. Data menunjukkan bahwa seperempat dari wanita usia reproduktif di negara berkembang mengalami kesakitan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas. Dampak sosial dan ekonomi kejadian ini sangat besar, baik bagi keluarga, masyarakat, maupun angkatan kerja di suatu negara. Keberadaan seorang ibu merupakan tonggak utama untuk tercapainya keluarga yang sejahtera dan kematian seorang ibu merupakan suatu bencana bagi keluarganya. Kedua, Safe Motherhood pada hakikatnya merupakan intervensi yang efisien dan efektif dalam menurunkan angka kematian ibu. (8)

2.6

Making Pregnancy Safer (MPS) MPS menegaskan kembali komitmen WHO terhadap Program Safe

Motherhood (SM). MPS bertujuan untuk menjamin agar SM tetap merupakan prioritas dalam agenda kesehatan dan pembangunan. Secara luas tujuan Program Safe Motherhood sama dengan Making Pregnancy Safer. (8) Making Pregnancy Safer WHO mengutamakan upaya sektor kesehatan, dengan memfokuskan pada intervensi yang efektif berdasarkan bukti-bukti ilmiah. (8) Pemerintah telah mencanangkan Gerakan Nasional Kehamilan yang Aman atau Making Pregnancy Safer (MPS) sebagai Strategi Pembangunan Kesehatan Masyarakat menuju Indonesia Sehat 2010 pada tangal 12 Oktober 2000, sebagai

10

bagian dari program Safe Motherhood. (9) Tujuan Safe Motherhood dan Making Pregnancy Safer sama, yaitu melindungi hak reproduksi dan hak asasi manusia dengan cara mengurangi beban kesakitan, kecacatan dan kematian yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. (9)

2.7

Pelayanan Obstetri Esensial Pelayanan obstetri esensial adalah tersedianya pelayanan secara terus-menerus

dalam 24 jam untuk bedah sectio caesarea, pengobatan penting (anestesi, antibiotik intravena, transfusi darah), pengeluaran plasenta secara manual serta ekstraksi vakum untuk abortus inkomplet. (9) Strategi berbasis masyarakat yang akan mendukung tercapainya tujuan upaya keselamatan ibu meliputi : (9) Melibatkan anggota masyarakat, khususnya wanita dan pelaksanaan pelayanan setempat, dalam upaya memperbaiki kesehatan ibu. Bekerjasama dengan masyarakat, wanita, keluarga, dan dukun / pengobat untuk mengubah sikap terhadap keterlambatan mendapat pertolongan. Menyediakan pendidikan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang komplikasi obstetri serta kapan dan dimana mencari pertolongan. Pelayanan obstetri esensial bagi ibu yang mengalami kehamilan risiko tinggi atau komplikasi diupayakan agar berada dalam jangkauan setiap ibu hamil. Pelayanan obstetri esensial meliputi kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan untuk melakukan tindakan dalam mengatasi risiko tinggi dan komplikasi kehamilan/persalinan. Secara keseluruhan, keempat tonggak tersebut merupakan bagian dari pelayanan kesehatan primer. Dua di antaranya, yaitu asuhan antenatal dan persalinan bersih dan aman, merupakan bagian dari pelayanan kebidanan dasar. Sebagai dasar/fondasi yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan upaya ini adalah pemberdayaan wanita. (10) Peranan Puskesmas sebagai pilar pelayanan obstetri esensial yaitu diantaranya adalah dengan memberikan pelayanan kesehatan untuk semua macam penyakit obstetrik. Khusus untuk obstetri harus mampu melakukan : POED dan PONED, dan

11

juga mampu melaksanakan konsep sayang ibu dan sayang bayi. (11) Pelayanan obstetri esensial darurat (POED): (11)

o melakukan pertolongan persalinan sungsang o melakukan pertolongan persalinan vakum ekstraks o melakukan plasenta manual o memasang infus dan memberikan obat parenteral o meneruskan sistem rujukan bila fasilitas tidak memadai Pelayanan Obstetri dan Neonatus Esensial Darurat (PONED). (11) Merupakan pelayanan POED ditambah dengan melakukan pelayanan neonatus yang mengalami asfiksia ringan, sedang, dan berat. Bila tidak memungkinkan, segera melakukan rujukan.

12

BAB III KESIMPULAN

Masalah kematian dan kesakitan ibu masih merupakan masalah besar di Indonesia. Angka kematian ibu (AKI) atau angka kematian maternal di Indonesia masih menduduki urutan tertinggi di negara ASEAN yaitu 307/100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi (AKB) sebesar 35/1.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu adalah salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium yaitu tujuan ke-5 yaitu meningkatkan kesehatan ibu dimana target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai resiko jumlah kematian ibu. Departemen Kesehatan RI mengeluarkan kebijakan dalam upaya mempercepat penurunan AKI yang pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategi Safe Motherhood. Safe Motherhood adalah usaha-usaha yang dilakukan agar seluruh wanita menerima perawatan yang mereka butuhkan selama hamil dan bersalin. Tujuan utama dari Safe Motherhood adalah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil, bersalin, nifas di samping menurunkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir terutama di negara berkembang. Program Safe Motherhood ini memiliki empat pilar yang terdiri dari: Keluarga Berencana (KB), pelayanan antenatal, persalinan yang aman, serta pelayanan obstetri esensial. Pelayanan obstetri esensial adalah tersedianya pelayanan secara terus-menerus dalam 24 jam untuk bedah sectio caesarea, pengobatan penting (anestesi, antibiotik intravena, transfusi darah), pengeluaran plasenta secara manual serta ekstraksi vakum untuk abortus inkomplet. Peranan Puskesmas sebagai pilar pelayanan obstetri esensial yaitu diantaranya adalah dengan memberikan pelayanan kesehatan untuk semua macam penyakit obstetri. Pelayanan obstetri esensial meliputi kemampuan fasilitas pelayanan kesehatan untuk melakukan tindakan dalam mengatasi risiko tinggi dan komplikasi kehamilan atau persalinan. Pelayanan obstetri esensial bagi ibu yang mengalami kehamilan risiko tinggi atau komplikasi diupayakan agar berada dalam jangkauan setiap ibu hamil.

13

DAFTAR PUSTAKA

1.

Prawirohardjo S. Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan

Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2007. 2. 3. Yatim F. Penyakit Kandungan. Jakarta: Pustaka Populer Obor; 2008. Departemen Kesehatan RI. Evaluasi Mutu Pelayanan Antenatal.

Jakarta: Bakti Husada; 2007. 4. 2007. 5. Angka Kematian Ibu. 2008. [cited 2012 July 23]. Available: Hacker NF. Esensial Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Hipokrates;

http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/index.php?. 6. Angka Kematian Ibu. 2009. [cited 2012 July 24]. Available:

http://www.hukor.depkes.go.id/up_prod_kepmenkes/KMK. 7. Safe Motherhood. 2009. [cited 2012 July 24]. Available:

http://www.safemotherhood.org/. 8. Safe Motherhood. 2008. [cited 2012 July 24]. Available:

http://www.unfpa.org/public/mothers/. 9. Pelayanan Obstetri Esensial. 2010. [cited 2012 July 24]. Available:

http://whoindonesia.healthrepository.org/bitstream/. 10. Pelayanan Obstetri Esensial. 2009. [cited 2012 July 25]. Available:

http://gash5.wordpress.com/tag/depkes/. 11. Pelayanan Obstetri Esensial. 2011. [cited 2012 July 24]. Available:

http://www.searo.who.int/LinkFiles/Reporductive_Health_Profile_abbreviatio nsino.pdf.

14

LATAR BELAKANG KB

Latar Belakang Dasar pemikiran lahirnya KB di Indonesia adalah adanya permasalahan kependudukan. Aspek-aspek yang penting dalam kependudukan adalah :

Jumlah besarnya penduduk Jumlah pertumbuhan penduduk Jumlah kematian penduduk Jumlah kelahiran penduduk Jumlah perpindahan penduduk Teori Malthus Malthus adalah orang pertama yang mengemukakan tentang penduduk. Dalam Essay on Population, Malthus beranggapan bahwa bahan makanan penting untuk kelangsungan hidup, nafsu manusia tak dapat ditahan dan pertumbuhan penduduk jauh lebih cepat dari bahan makanan. Menurut pendapatnya, faktor pencegah dari ketidakseimbangan penduduk dan manusia antara lain Preventive checks (penundaan perkawinan, mengendalikan hawa nafsu dan pantangan kawin); Possitive checks (bencana alam, wabah penyakit, kejahatan dan peperangan). Kontroversi Teori Malthus Salah sama sekali, karena mengabaikan peningkatan teknologi, penanaman modal dan perencanaan produksi. Pengikut Malthus (Neo Malthusionism), berpendapat: untuk mencegah laju cepatnya peningkatan penduduk dilakukan Methode Birth Control dengan menggunakan alat kontrasepsi. Pengikut Malthus 15

Pengikut teori Malthus antara lain Francis Flace (1771 1854) : menulis buku yang berjudul Illustration And Proofs of The Population atau penjelasan dari bukti mengenai asas penduduk. Richard Callihie (1790 1843) : menulis buku Whats love ? (Apakah Cinta Itu?). Any C. Besant (1847-1933) : menulis buku berjudul Hukum Penduduk, Akibatnya dan Artinya Terhadap Tingkah Laku dan Moral Manusia. dr. George Drysdale : keluarga berencana dapat dilakukan tanpa merugikan kesehatan dan moral. Sejarah Lahirnya Keluarga Berencana Sebelum abad XX, di negara barat sudah ada usaha pencegahan kelangsungan hidup anak karena berbagai alasan. Caranya adalah dengan membunuh bayi yang sudah lahir, melakukan abortus dan mencegah/ mengatur kehamilan. KB di Indonesia dimulai pada awal abad XX. Di Inggris, Maria Stopes. Upaya yg ditempuh u/ perbaikan ekonomi keluarga buruh dg mengatur kelahiran. Menggunakan cara-cara sederhana (kondom, pantang berkala). Amerika Serikat, Margareth Sanger. Memperoleh pengalaman dari Saddie Sachs, yang berusaha menggugurkan kandungan yang tidak diinginkan. Ia menulis buku Family Limitation (Pembatasan Keluarga). Hal tersebut merupakan tonggak permulaan sejarah berdirinya KB. Perkembangan KB di Indonesia Periode Perintisan dan Peloporan Periode Persiapan dan Pelaksanaan Periode Perintisan dan Pelaporan Sebelum 1957 Pembatasan kelahiran secara tradisional (penggunaan ramuan, pijet, absistensi/ wisuh/ bilas liang senggama setelah coitus). Perkembangan birth control di daerah Berdiri klinik YKK (Yayasan Kesejahteraan Keluarga) di Yogyakarta. Di Semarang : berdiri klinik BKIA dan terbentuk PKBI 16

tahun 1963. Jakarta : Prof. Sarwono P, memulai di poliklinik bagian kebidanan RSUP. Jawa dan luar pulau Jawa (Bali, Palembang, Medan). Periode Persiapan dan Pelaksanaan Terbentuk LKBN (Lembaga Keluarga Berencanan Nasional) yang mempunyai tugas pokok mewujudkan kesejahteraan sosial, keluarga dan rakyat. Bermunculan proyek KB sehingga mulai diselenggarakan latihan untuk PLKB (Petugas Lapangan keluarga Berencana). Organisasi KB PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Terbentuk tanggal 23 Desember 1957, di jalan Sam Ratulangi No. 29 Jakarta. Atas prakarsa dari dr. Soeharto yang didukung oleh Prof. Sarwono Prawirohardjo, dr. H.M. Judono, dr. Hanifa Wiknjosastro serta Dr. Hurustiati Subandrio. Pelayanan yang diberikan berupa nasehat perkawinan termasuk pemeriksaan kesehatan calon suami isteri, pemeriksaan dan pengobatan kemandulan dalam perkawinan dan pengaturan kehamilan. Visi PKBI Mewujudkan masyarakat yang sejahtera melalui keluarga. Misi PKBI Memperjuangkan penerimaan dan praktek keluarga bertanggungjawab dalam keluarga Indonesia melalui pengembangan program, pengembangan jaringan dan kemitraan dengan semua pihak pemberdayaan masyarakat di bidang kependudukan secara umum, dan secara khusus di bidang kesehatan reproduksi yang berkesetaraan dan berkeadilan gender. BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 1970 tentang pembentukan badan untuk mengelola program KB yang telah dicanangkan sebagai program nasional. 17

Penanggung jawab umum penyelenggaraan program ada pada presiden dan dilakukan sehari-hari oleh Menteri Negara Kesejahteraan Rakyat yang dibantu Dewan Pembimbing Keluarga Berencana. Dasar pertimbangan pembentukan BBKBN 1) Program keluarga berencana nasional perlu ditingkatkan dengan jalan lebih memanfaatkan dan memperluas kemampuan fasilitas dan sumber yang tersedia. 2) Program perlu digiatkan pula dengan pengikut sertaan baik masyarakat maupun pemerintah secara maksimal. 3) Program keluarga berencana ini perlu diselenggarakan secara teratur dan terencana kearah terwujudnya tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Tugas pokok BBKBN 1) Menjalankan koordinasi, integrasi dan sinkronisasi terhadap usaha-usaha pelaksanaan program keluarga berencana nasional yang dilakukan oleh unit-unit pelaksana. 2) Mengajukan saran-saran kepada pemerintah mengenai pokok kebijaksanaan dan masalah-masalah penyelenggaraan program Keluarga Berencana Nasional. 3) Menyusun Pedoman Pelaksanaan Keluarga Berencana atas dasar pokokpokok kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Pemerintah. 4) Mengadakan kerja sama antara Indonesia dengan negara-negara asing maupun badan-badan internasional dalam bidang keluarga berencana selaras dengan kepentingan Indonesia dan sesuai dengan prosedur yang berlaku. 5) Mengatur penampungan dan mengawasi penggunaan segala jenis bantuan yang berasal dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri sesuai dengan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh pemerintah. Pelita I yaitu tahun 1969-1974 daerah program Keluarga Berencana meliputi 6 propinsi yaitu Jawa Bali (DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali). Merupakan daerah perintis dari BKKBN. Tahun 1974 muncul program-program integral (Beyond Family Planning) dan gagasan tentang fase program pencapaian akseptor aktif. Berdasar Keppres 38 tahun 1978 BKKBN bertambah besar jangkauan programnya tidak terbatas hanya KB tetapi juga program Kependudukan. Perkembangan BBKBN dimasa sekarang 18

VISI : keluarga berkualitas 2015. MISI: Membangun setiap keluarga Indonesia untuk memiliki anak ideal, sehat, berpendidikan, sejahtera, berketahanan dan terpenuhi hak-hak reproduksinya melalui pengembangan kebijakan, penyediaan layanan promosi, fasilitasi, perlindungan, informasi kependudukan dan keluarga, serta penguatan kelembagaan dan jejaring KB. Tugas pokok: Melaksanakan tugas pemerintahan dibidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Landasan hukum TAP MPR No. IV/1999 ttg GBHN; UU No. 22/1999 ttg OTODA; UU No. 10/1992 ttg PKPKS; UU No. 25/2000 ttg PROPENAS; UU No. 32/2004 ttg PEMERINTAHAN DAERAH; PP No. 21/1994 ttg PEMBANGUNAN KS; PP No. 27/1994 ttg PERKEMBANGAN KEPENDUDUKAN; KEPPRES No. 103/2001; KEPPRES No. 110/2001; KEPPRES No. 9/2004; KEPMEN/Ka.BKKBN No. 10/2001; KEPMEN/Ka.BKKBN No. 70/2001 Filosofi BBKBN adalah menggerakkan peran serta masyarakat dalam keluarga berencana. Grand Strategi: 1) Menggerakkan dan memberdayakan seluruh masyarakat dalam program KB; 2) Menata kembali pengelolaan program KB; 3) Memperkuat SDM operasional program KB; 4) Meningkatkan ketahanan dan kesejahteraan keluarga melalui pelayanan KB; 5) Meningkatkan pembiayaan program KB. Nilai-nilai yang terkandung dalam grand strategi adalah integritas, energik, profesional kompeten, partisipatif, konsisten, organisasi pembelajaran, kreatif/ inovatif Kebijakan dari adanya grand strategi adalah pndekatan pemberdayaan, pendekatan desentralisasi, sektor. Strategi 19 pendekatan kemitraan, pendekatan kemandirian, pendekatan segmentasi sasaran, pendekatan pemenuhan hak (rightbased), pendekatan lintas

Re-Establishment adalah mmbangun kembali sendi-sendi pogram KB nasional sampai ke tingkat lini lapanngan pasca penyerahan kewenangan. Sustainability adalah memantapkan komitmen program dan kesinambungan dukungan oleh segenap stakeholders dari tingkat pusat sampai dengan tingkat daerah. Tujuannya adalah : 1) Keluarga dengan anak ideal; 2) Keluarga sehat; 3) Keluarga berpendidikan; 4) Keluarga sejahtera; 5) Keluarga berketahanan; 6) Keluarga yang terpenuhi hak-hak reproduksinya; 7) Penduduk tumbuh seimbang (PTS ) Program KB Keluarga berencana Kesehatan reproduksi remaja Ketahanan dan pemberdayaan keluarga Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas Keserasian kebijakan kependudukan Pengelolaan SDM aparatur Penyelenggaran pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara Referensi Arjoso, S. Rencana Strategis BKKBN. Maret, 2005. Pusat Pendidikan dan Pelatihan BKKBN. Sejarah Perkembangan Keluarga Berencana dan Program Kependudukan. Jakarta, 1981. Makalah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia. www.bkkbn.go.id

20