Anda di halaman 1dari 76

PRESENTASI KASUS SESAK

Pembimbing : Prof. Widagdo, Sp. A Penyusun : Moneta 030.07.166

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

TINJAUAN PUSTAKA ANATOMI PARU Struktur dasar jalan nafas sudah ada sejak lahir dan berkembang selama neonatus dan dewasa menjadi sistem bronkopulmonal. Jalan nafas pada setiap manusia tidak simetris. Apabila dibagi menjadi dua bagian, ada perbedaan bentuk dan jumlah cabang yang tergantung dari lokasinya. Variasi tersebut menyebabkan implikasi fisiologi yang berbeda. Alur yang berbeda menyebabkan perbedaan resistensi terhadap aliran udara, sehingga menyebabkan distribusi udara atau partikel yang terhisap tidak merata. Cabang dari bronkus mengalami pengecilan ukuran dan kehilangan kartilago, yang kemudian disebut bronkhiolus. Bronkhiolus terminalis membuka saat pertukaran udara dalam paru-paru. Jalan nafas dilapisi oleh membran epitel yang berganti secara bertahap dari epitel kolumner bertingkat bersilia di bronkus menjadi epitel kubus bersilia pada area tempat pertukaran udara. Sillia berfungsi untuk menghantarkan mukus dari pinggir jalan nafas ke faring. Sistem transport mukosilier ini penting untuk mekanisme pertahanan paru. Sel goblet pada trakhea dan bronkhus memproduksi musin dalam retikulum endoplasma kasar dan apparatus golgi. Sel goblet meningkat jumlahnya pada beberapa gangguan seperti bronkhitis kronis yang hasilnya terjadi hipersekresi mukus dan peningkatan produksi sputum. Unit pertukaran udara terdiri dari bronkiolus distal sampai terminal: bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, dan alveoli.

Parudextra pendek interlobaris.

paru lebih dan

lebih berat dari paru kiri. Paru kanan dan kiri dipisahkan oleh alur yang disebut incissura

Pulmo dextra dibagi menjadi 3 lobus:


Lobus superior

Dibagi menjadi 3 segmen: apikal, posterior, inferior


Lobus medius

Dibagi menjadi 2 segmen: lateralis dan medialis


Lobus inferior

Dibagi menjadi 5 segmen: apikal, mediobasal, anterobasal,laterobasal, posterobasal. Lobus sinistra dibagi menjadi 2 lobus:
Lobus superior

Apikoppsterior, anterior, lingualis suoerior, lingualis superior


Lobus inferior

Apikal, anteromediobasal, laterobasal, posterobasal. 3

Perkembangan paru pascalahir dapat dibagi menjadi dua fase, tergantung pada kecepatan perkembangan relatif berbagai komponen paru. Selama fase pertama, yang meluas sampai umur 18 bulan sesudah lahir, ada kenaikan yang tidak seimbang pada permukaan dan volume ruang yang terlibat dalam pertukaran gas. Volume kapiler meningkat lebih cepat daripada volume ruangan udara dan selanjutnya bertambah lebih cepat daripada volume jaringan padat. Proses ini terutama aktif selama awal masa bayi dan dapat menjadi sempurna pada 2 tahun pertama.

FISIOLOGI RESPIRASI Fungsi utama respirasi adalah untuk mendapatkan oksigen untuk digunakan oleh selsel tubuh, dan mengeluarkan karbon dioksida yang dihasilkan oleh sel-sel tubuh. Respirasi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam rangka menyelesaikan proses perpindahan oksigen dari atmosfer untuk mendukung metabolisme tubuh dan proses pengeluaran karbondioksida yang dihasilkan oleh sel-sel tubuh ke udara luar. Respirasi dimulai dari masuknya udara luar (atmosfer) melalui inhalasi udara melewati system respiratorik dan keluar melalui ekshalasi. Proses keluar masuknya udara ini yang disebut proses ventilasi, dan inilah fungsi primer utama dari system respiratorik. Proses respirasi melalui 4 tahapan, yaitu : 1. Ventilasi, pertukaran gas antara udara atmosfer dengan alveoli 2. Difusi, proses perpindahan oksigen dari luar dalam alveoli ke kapiler darah, dan sebaliknya perpindahan karbondioksida dari kapiler ke udara dalam alveoli. 3. Sirkulasi, darah yang kaya oksigen di bawa ke seluruh jaringan tubuh dan karbondioksida dari jaringan dibawa kembali ke paru untuk dibuang di atmosfer. 4. Pertukaran gas di tingkat sel-sel MEKANISME RESPIRASI

Secara umum, repirasi terdiri dari 2 proses yaitu respirasi eksternal dan respirasi internal. Respirasi eksternal meliputi pertukaran gas (oksigen dan karbon dioksida) antara cairan interstisial tubuh dengan lingkungan luar. Tujuan dari respirasi eksternal adalah untuk memenuhi kebutuhan respirasi sel. Respirasi internal adalah proses absorbsi oksigen dan pelepasan karbon dioksida dari sel. Proses respirasi internal ini disebut juga respirasi seluler, terjadinya di mitokondria. Proses pertukaran gas dalam respirasi eksternal melalui proses difusi melibatkan 2 komponen utama yaitu ventilasi dan perfusi. Keduanya bersinggungan di alveoli. Pada gangguan respiratorik dengan akibat penurunan ventilasi, tubuh berusaha meningkatkannya sehingga terjadi usaha nafas ekstra dan pasien terlihat sesak. Secara garis besar, sesak bisa disebabkan oleh gangguan ventilasi dan atau gangguan perfusi. Gangguan perfusi utamanya melibatkan jantung yang terganggu fungsi sirkulasinya. SESAK DEFINISI Sesak atau dispnea merupakan suatu istilah yang menggambarkan persepsi subjektif mengenai ketidaknyamanan bernafas yang terdiri dari berbagai sensasi yang berbeda intensitasnya. Selain itu juga hasil interaksi dari berbagai faktor fisiologi, psikologi, social dan lingkungan dan dapat menginduksi respon fisiologis dan perilaku sekunder

MEKANISME SESAK Konsep mekanisme sesak yang diajukan oleh Campbell dan Howel yang disebut ketidaksesuaian panjang dengan tegangan otot nafas. Saat volume paru berubah, panjang otot nafas juga berubah yang terdeteksi oleh otak melalui pindai otot (muscle spindle). Sesak terjadi jika sensasi usaha nafas ( yang dirasakan melalui tegangan otot ) tidak seimbang dengan perubahan panjang otot

KLASIFIKASI SESAK Derajat sesak

Klasifikasi ini berdasarkan sesak yang dirasakan pasien atau yang diamati oleh dokter 1. Normal 2. Pasien dapat berjalan mengiringi orang sehat di tempat datar tanpa sesak, tapi tidak bisa jalan mendaki atau menaiki tangga tanpa timbul sesak 3. Pasien tidak dapat berjalan beriringi dengan orang sehat di tempat datar, tapi dapat berjalan tanpa sesak dengan kecepatan jalannya sendiri 4. Pasien tidak dapat berjalan lebih dari 100 yard 5. Pasien tidak dapat berjalan tanpa sesak, bahkan sesak timbul saat mandi atau berpakaian.

Istirahat vs aktifitas Sesak saat istirahat akibat kelainan mekanikal akut seperti pneumothoraks, efusi pleura atau pneumonia, asma, asidosis metabolic. Sedangkan sesak yang terpacu oleh aktifitas misalnya pada gagal jantung.

Saat awitan dan progesivitasnya


1. Sesak mendadak : pneumothoraks, emboli paru, asma, aspirasi benda asing,

bronkiolitis, bronkopneumoni 2. Sesak subakut yang progresif dalam hitungan minggu atau bulan : gagal jantung, anemia, obesitas, efusi pleura dan lain-lain.
3. Sesak kronik : bronkitis kronik, emfisema, dan lain-lain

ETIOLOGI 1.Gangguan Aliran : Ekstra torakal :

obstruksi saluran respiratorik besar/ ekstra torakal contoh : rhinitis dengan obstruksi, polip nasal, cranio-facial malformation, hipertrofi tonsil adenoid, laringotrakeomalasia, diphtheria, croup, epiglotitis

klinis : stridor inspirasi sesak biasanya timbul akibat gangguan aliran udara karena obstruksi di saluran respiratorik atas yang terletak ekstratorakal.

Intra torakal : obstruksi saluran respiratorik intra torakal contoh : asma, bronkiolitis, hipertrofi timus, aspirasi benda asing klinis : expiratory effort (mengi dan ekpirasi memanjang) usia : bayi sampai dibawah 5 tahun sesak timbul akibat gangguan aliran udara karena obstruksi di saluran respiratorik bawah yang terletak intratorakal 2. Gangguan Volume :
Intra torakal :

gangguan parenkim paru contoh : pneumonia(infeksi, aspirasi), atelektasis, udem paru, sepsis klinis : inspiratory effort gangguan ekstra paru

contoh : pneumothorax, kardiomegali, gagal jantung, efusi pleura, deformitas toraks(skoliosis berat), trauma dada(kontusio paru/fraktur kosta), tumor

klinis : inspiratory effort

Ekstra torakal :

gangguan ekspansi paru contoh : gastritis, ulkus peptikum, appendicitis, peritonitis, ascites, hepatosplenomegali, gangguan neuromuscular (sindrom guillian bare) klinis : inspiratory constraint

gangguan pusat respiratorik contoh : anemia, asidosis metabolic, ensefalitis, trauma kapitis, klinis : nafas cepat dan dalam

BRONKIOLITIS

DEFINISI Bronkiolitis diartikan sebagai penyakit obstruktif akibat inflamasi akut pada saluran nafas kecil (bronkioli) yang sering terjadi pada anak dibawah 2 tahun insiden tertinggi 2-8 bulan. Secara klinis ditandai dengan episode wheezing, nafas cepat dan retraksi dada.

ETIOLOGI Respiratory Syncytial Virus merupakan agen penyebab pada 50-90 % kasus, sisanya oleh virus para influenza, mikoplasma, adenovirus dan virus lainnya

PATOFISIOLOGI Invasi virus pada percabangan bronkus kecil, menyebabkan nekrosis epitel yang kemudian berproliferasi membentuk sel kuboid atau gepeng tanpa silia. Rusaknya sel epitel bersilia menyebabkan gangguan mekanisme pertahanan local. Jaringan peribronkial mengalami infiltrasi lekosit, sel plasma dan makrofag, dan sebagian limfosit bermigrasi diantara sel epitel sehingga udem, akumulasi mucus dan debris seluler sehingga terjadi obstruksi lumen bronkiolus Resistensi aliran udara meningkat pada fase inspirasi maupun ekspirasi. Tetapi karena radius saluran nafas kecil selama fase ekspirasi maka terdapat mekanisme klep hingga udara akan terperangkap dan menimbulkan hiperinflasi dada.

MANIFESTASI KLINIS Bronkiolitis Akut Mula-mula pilek encer, bayi mendapatkan infeksi saluran napas ringan berupa ini batuk, bersin-bersin, dan kadang-kadang demam. Gejala

berlangsung b e b e r a p a h a r i , k e m u d i a n t i m b u l d i s t r e s r e s p i r a s i y a n g d i t a n d a i o l e h b a t u k paroksimal, mengi, dispneu, dan iritabel. Timbulnya kesulitan minum terjadi karena napas cepat sehingga menghalangi proses menelan dan menghisap. Pada kasus ringan, gejala menghilang 1-3 hari. Pada kasus berat, gejalanya dapat timbul beberapa hari dan perjalananya sangat cepat. Kadang-kadang, bayi tidak demam sama sekali, bahkan hipotermi. Terjadi distres pernapasan dengan frekuensi napas 60 x/menit, terdapat napas cuping hidung, penggunaan otot pernapasan tambahan, r e t r a k s i , dan kadang-kadang 9

s i a n o s i s . R e t r a k s i b i a s a n ya t i d a k d a l a m k a r e n a adanya hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam paru). Hepar dan lien bisateraba karena terdorong diafragma akibat hiperinflasi paru. Mungkin terdengar r o n k i terdengar dengan jelas. BRONKOPNEMONIA DEFINISI Pneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru. Pneumonia pada anak dibedakan menjadi: Pneumonia lobaris Pneumonia lobularis (bronkopneumonia) Pneumonia intertisial (bronkiolitis) Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paruparu yang ditandai dengan adanya bercak infiltrat. ( Whalley and Wong, 1996). pada akhir i n s p i r a s i d a n a w a l e k p i r a s i . E k p i r a s i m e m a n j a n g d a n m e n g i kadang-kadang

Bronkopneumonia adalah frekuensi komplikasi pulmonary, batuk produktif yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu tubuh meningkat, nadi dan petnafasan meningkat. (Suzanne G. Bare,1993) Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paruparu yang disebakan oleh bakteri, jamur,virus, dan benda asing (Sylvia Anderson,1994) Jika digabungkan dapat menjadi, bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anakanak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing.

ETIOLOGI Usia pasien merupakan faktor yang memegang peranan penting pada perbedaan dan kekhasan pneumonia pada anak, terutama spektrum etiologi, gabaran klinis, 10

dan strategi pengobatan. Etiologi pada neonatus dan bayi kecil meliputi streptococcus grup B dan Bakteri gram negatif seperti E.coli, Pseudomonassp, Klebsiella sp. Pada bayi yang lebih besar dan balita seringnya disebabkan oleh infeksi Streptococcus Pneumoniae, Haemophillus influenzae tipe B dan Staphylococcus auereus. Faktor lain yang mempengaruhi bronkopneumonia adalah menurunnya daya tahan tubuh, seperti malnutrisi energi protein (MEP), penyakit kronis, pengobatan antibiotik yang tidak adekuat.

Etiologi Pneumonia pada anak sesuai dengan kelompok usia di negara maju : USIA Lahir 20 hari ETIOLOGI YANG SERING BAKTERI E. colli Streptococcus group B Listeria monocytogenes ETIOLOGI YANG JARANG BAKTERI Bakteri anaerob Streptococcus group D Haemophillus influenzae Streptococcus pneumoniae Ureaplasma urealyticum VIRUS Virus Sitomegalo Virus Herpes simpleks BAKTERI Bordetella pertussis Haemophillus influenzae tipe B Moraxella catharalis Staphylococcus aureus Ureaplasma urealyticum VIRUS Virus Sitomegalo BAKTERI Haemophillus influenzae tipe B Moraxella catharalis Neisseria meningitidis Staphylococcus aureus VIRUS Virus Varisela-Zoster

3 minggu 3 bulan

BAKTERI Chlamydia trachomatis Streptococcus pneumoniae VIRUS Virus Adeno Virus Influenza Virus Parainfluenza 1, 2, 3 Respitatory Syncytical Virus BAKTERI Chlamydia pneumoniae Mycoplasma pneumoniae Streptococcus pneumoniae VIRUS Virus Adeno Virus Influenza Virus Parainfluenza

4 bulan 5 tahun

11

5 tahun remaja

Virus Rino Respiratory Synncytial virus BAKTERI Chlamydia pneumoniae Mycoplasma pneumoniae Streptococcus pneumoniae

BAKTERI Haemophillus influenzae Legionella sp Staphylococcus aureus VIRUS Virus Adeno Virus Epstein-Barr Virus Influenza Virus Parainfluenza Virus Rino Respiratory Syncytial Virus Virus Varisela-Zoster

EPIDEMIOLOGI Pneumonia hingga saat ini masih tercatat sebagai masalah kesehatan utama pada anak di negara berkembang. Pneumonia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di bawah lima tahun (balita). Diperkirakan hampir seperlima kematian anak di seluruh dunia, lebih kurang 2 juta anak meninggal setiap tahunnya akibat pneumonia. Menurut survei kesehatan nasional (SKN) 2001, 27,6% kematian bayi, 22,8% kematian balita di indonesia disebabkan oleh penyakit respiratori, terutama pneumonia.

FAKTOR RESIKO Faktor resiko yang menyebabkan tingginya angka mortalitas pneumonia pada anak balita di negara berkembang, antara lain: Pneumonia yang terjadi pada masa bayi Berat badan lahir rendah Tidak mendapat imunisasi Tidak mendapat ASI yang adekuat Malnutrisi 12

Defisiensi vitamin A Tingginya prevalens kolonisasi bakteri patogen di nasofaring Tingginya pajanan terhadap polusi udara (polusi industri atau asap rokok)

Imunodefisiensi dan imunosupresi : keadaan ini meningkatkan predisposisi pneumonia. Adanya penyakit lain yang mendahului, seperti infeksi HIV, campak Tinggal di lingkungan padat penduduk Intubasi, trakeostomi, refleks batuk yang terganggu, dan aspirasi : keadaan ini menyebabkan organisme infeksi lebih mudah masuk kedalam alveoli dan ruang udara terminal

Diskinesia silier, obstruksi bronkial, infeksi viral, merokok, dan bahanbahan kimia: kondisi ini menganggu kerja mukosiliar.

Abnormalitas anatomi, aspirasi cairan lambung atau sebab lain dari inflamasi nooninfeksius, penurunan aliran darah, dan edema pulmonal: kondisi tersebut meningkatkan predisposisi dari pneumonia.

KLASIFIKASI Pembagian pneumonia sendiri pada dasarnya tidak ada yang memuaskan, dan pada umumnya pembagian berdasarkan anatomi dan etiologi. Pembagian secara anatomis : o Pneumonia lobaris o Pneumonia lobularis o Pneumonia interstisialis (bronkiolitis) Pembagian secara etiologi : o Bakteri : Pneumococcus pneumonia, Streptococcus pneumonia, Staphylococcus pneumonia, Haemofilus influenzae. 13

o Virus o Jamur

: :

Respiratory Candida,

Synctitial

virus,

Parainfluenzae Mucor,

virus,

Adenovirus Aspergillus, Histoplasmosis, Coccidiomycosis, Blastomycosis, Cryptoccosis. o Corpus Alienum o Aspirasi o Pneumonia hipostatik PATOGENESIS Paru-paru dilindungi dari infeksi bakteri melalui mekanisme pertahanan anatomis dan mekanis, dan faktor imun lokal dan sistemik. Mekanisme pertahanan awal berupa filtrasi bulu hidung, refleks batuk dan mukosilier aparatus. Mekanisme pertahanan lanjut berupa sekresi Ig A lokal dan respon inflamasi yang diperantarai leukosit, komplemen, sitokin, imunoglobulin, makrofag alveolar, dan imunitas yang diperantarai sel Infeksi paru terjadi bila satu atau lebih mekanisme di atas terganggu, atau bila virulensi organisme bertambah. Agen infeksius masuk ke saluran nafas bagian bawah melalui inhalasi atau aspirasi flora komensal dari saluran nafas bagian atas, dan jarang melalui hematogen. Umumnya mikroorganisme penyebab terhisap ke paru bagian perifer (alveoli atau bronkioli terminalis) melalui saluran respiratori. Awalnya terjadi edema akibat reaksi jaringan yang mempermdah proliferasi dan penyebaran kuman ke jaringan sekitarnya. Bagian paru yang terkena mengalami konsolidasi, yaitu terjadi sebukan sel PMN, fibrin, eritrosit, cairan edema, dan ditemukan kuman pada alveoli atau pada bronkioli terminalis. Reaksi ini lah yang membuat alveoli mengalami penurunan fungsi (perubahan anatomis dan fisiologis) sebagai media dalam proses difusi, sehingga membuat karbon dioksida yang seharusnya dibuang dari tubuh malah akan berbalik lg ke sirkulasi bukannya ditukar dengan oksigen, lama kelamaan akan membuat banyak karbon dioksida yang terjebak di dalam tubuh (air trapping) dan membuat penderita jatuh kedalam keadaan hiperkarbia. Hal ini lah yang menyebabkan pada pasien dengan bronkopneumonia sering ditemukan peningkatan PCO2 dan penurunan PO2. Gejala lain yang ditimbulkan adalah sesak karena kompensasi tubuh atas keadaan hipoksia, ronkhi pada auskultasi paru.

14

Insiden tertinggi ditemukan pada anak kurang dari 4 tahun dan terus berkurang seiring dengan bertambahnya usia.

GEJALA KLINIS Bronkopneumonia biasanya di dahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari. Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung berat ringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut: Gambaran infeksi umum :
o

Demam suhu bisa mencapai 39-40oC dan kadang dapat juga disertai dengan kejang akibat demam yang tinggi.

o Sakit kepala o Gelisah o Malaise o Penurunan nafsu makan


o

Keluhan gastrointestinal mual, muntah, diare

Gambaran gangguan respiratori:


o

Batuk awalnya kering kemudian menjadi produktif

o Sesak nafas o Retraksi dada o Takipnea o Napas cuping hidung o Penggunaan otat pernafasan tambahan o Air hunger o Sianosis o Merintih Pada pemeriksaan fisik bronkopneumonia tergantung dari luasnya daerah yang terkena. Inspeksi dapat terlihat nafas cuping hidung, sianosis sekitar hidung dan mulut, retraksi dada. Pada perkusi toraks sering tidak ditemukan kelainan. Tetapi kadang dapat juga bunyi pekak saat perkusi atau bila sarang bronkopneumonia menjadi satu (konfluens) mungkin pada perkusi ditemukan bunyi redup dan suara nafas mengeras saat auskultasi. 15

Saat auskultasi terdapat ronki basah halus, mengi dan penurunan suara nafas. Tetapi ronki dan mengi sukar dilokalisasi sumbernya dari suara yang kebetulan pada anak yang amat muda dengan dada hipersonor. Pada perkusi dan auskultasi paru umumnya tidak ditemukan kelainan. DIAGNOSIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan : Anamnesis terhadap manifestasi manifestasi klinis yang umumnya dijumpai pada anak dengan bronkopneumonia Temuan pemeriksaan fisik yang sesuai Pemeriksaan penunjang seperti : Darah lengkap

Leukositosis berkisar antara 15.000-40.000/mm3 , dengan predominan PMN. Leukopenia menunjukan prognosis buruk. Leukositosis hebat (> 30.000/mm3) hampir selalu menunjukan adanya infeksi bakteri, sering ditemukan pada keadaan bakteriemi, dan resiko terjadi komplikasi lebih tinggi. Kadang terdapat anemia ringan dan LED meningkat. Secara umum hasil pemeriksaan darah perifer lengkap dan LED tidak dapat membedakan antara infeksi virus dan bakteri secara pasti.

C reaktif protein Suatu protein fase akut yang disintesis oleh hepatosit. Sebagai respo infeksi atau inflamasi jaringan Uji serologis Deteksi antigen dan antibodi pada infeksi bakteri tipik mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang rendah. Tetapi diagnosis infeksi Streptokokus grup A dapat dikonfirmasi dengan peningkatan titer antibodi seperti antistreptolisin O, streptotozim. Rontgen toraks AP Gambaran difus merata padakedua paru berupa bercak infiltrat yang dapat hingga daerah petifer paru, disertai dengan peningkatan corakan peribronkial. DIAGNOSA BANDING 16 meluas

Pneumonia lobaris Biasanya pada anak yang lebih besar disertai badan menggigil dan kejang pada bayi kecil. Suhu naik cepat sampai 39-40oC dan biasanya tipe kontinua. Sesak nafas (+), nafas cuping hidung (+), sianosis sekitar hidung dan mulut dan nyeri dada. Anak lebih suka tidur pada sisi yang terkena. Pada foto rotgen terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus. Bronkioloitis Diawali infeksi saluran nafas bagian atas, subfebris, sesak nafas, nafas cuping hidung, retraksi intercostal dan suprasternal, terdengar wheezing, ronki nyaring halus pada auskultasi. Gambaran labarotorium dalam batas normal, kimia darah menggambarkan asidosis respiratotik ataupun metabolik. Aspirasi benda asing Ada riwayat tersedak Atelektasis Adalah pengembangan tidak sempurna atau kempisnya bagian paru yang seharusnya mengandung udara. Dispnoe dengan pola pernafasan cepat dan dangkal, takikardia, sianosis. Perkusi mungkin batas jantung dan mediastinum akan bergeser dan letak diafragma mungkin meninggi. Tuberkulosis Demam > 2 minggu, batuk > 3 minggu, berat badan menurun, nafsu makan menurun, malaise, diare persisten yang tidak membaik dengan pengobatan baku diare. Dan biasanya terdapat kontak. Diagnosis TB pada anak ditegakkan dengan skor TB, yaitu:

Parameter Kontak TB

0 Tidak jelas

1 -

2 3 Laporan keluarga (BTA negatif BTA (+) Postif ( 10mm, atau tdk jelas

Uji Tuberkulin

negatif

atau 5 mm pada keadaan imunosupresi

Berat

badan/ -

BB/TB <90% atau

Klinis gizi buruk atau <70% BB/TB atau 17

keadaan gizi

BB/U<80 % Demam yg tdk diketahui penyebabnya Batuk kronik Pembesaran kelenjar kolli, limfe aksila, minggu

BB/U<60%

2 3 -

minggu 1 cm jumlah > 1, tidak nyeri Ada

inguinal Pembengkakan tulang/sendi panggul, falang Foto toraks Normal/ kelainan tdk jelas PENATALAKSANAAN -

pembeng kakan Gambara n sugestif TB*

lutut,

Oksigen Cairan intravena Koreksi keseimbangan asam basa, elektrolit, gula darah Aalgetik/ antipirektik untuk demamnya Antibiotik penggunaan antibiotik yang tepat merupakan kunci keberhasilan pengobatan. Pilihan lini pertama adalah golongan beta laktam atau kloramfenikol. Jika tidak responsif, dapat diberikan antibiotik golongan gentamisin, amikasin, sefalosporin sesuai dengan petunjuk etiologi yang ditemukan. Terapi dilanjutkan 7-10 hari bila tidak ada komplikasi.

KOMPLIKASI Komplikasi pneumonia pada anak meliputi empiema torasis, perikarditis purulenta, pnemothorax, atau infeksi ekstrapulmoner seperti meningitis purulenta. Empiema torasis merupakan komplikasi tersering yang terjadi pada pneumonia bakteri. Efusi pleura, abses paru dapat juga terjadi.

18

Ilten F dkk. melaporkan mengenai komplikasi miokarditis (tekanan sistolik ventrikel kanan meningkat, kreatinin kinase meningkat, dan gagal jantung) yang cukup tinggi pada seri pneumonia anak berusia 2-24 bulan.

PROGNOSIS Secara umum, prognosisnya adalah baik, Gangguan jangka panjang pada fungsi paru jarang, bahkan pada anak dengan pneumonia yang telah terkomplikasi dengan empiema dan abses paru. Sekuele yang signifikan muncul pada penyakit adenoviral, termasuk bronkiolitis obliterans. Kematian dapat muncul pada anak dengan kondisi yang mendasari, seperti penyakit paru kronik pada bayi prematur, penyakit jantung bawaan, imunosupresi, malnutrisi energi. Dengan pemberian antibiotik yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1%. ASMA DEFINISI Pedoman Nasional Asma Anak (PNAA) mengungkapkan bahwa kecurigaan timbul apabila anak menunjukkan gejala batuk dan/ atau mengi yang timbul secara episodic, cenderung pada malam hari, musiman, setelah aktifitas fisik, serta ada riwayat asma dan atopi pada penderita atau keluarga. ETIOLOGI Antara lain Infeksi saluran pernafasan; terutama disebabkan oleh virus, Allergen; terdapat dua respon yaitu early asthmatic responses dan late asthmatic responses, Iritan; berupa asap rokok, udara dingin, bahan kimia, parfum, polusi udara yang dapat mencetuskan hiperresponsif bronchial, Inflamasi saluran nafas atas; rhinitis alergi, sinusitis. GEJALA KLINIS Gejala asma diantaranya adalah batuk, sesak dengan bunyi mengi, sukar bernapas dan rasa berat di dada, lendir atau dahak berlebihan, sukar keluar dan sering batuk kecil. Batuk biasanya berpanjangan di waktu malam hari, wheezing, sesak napas, merasakan dada sempit. EFUSI PLEURA Efusi pleura adalah indikator dari proses patologi yang mungkin berasal dari proses primer di paru atau berhubungan dengan sistem organ yang lain atau juga karena penyakit sistemik, dapat terjadi secara akut maupun kronis dan tidak merupakan diagnosis tersendiri. 19

ETIOLOGI 1. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior. 2. Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik, tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar : a. Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik b. Penurunan tekanan osmotic koloid darah c. Peningkatan tekanan negative intrapleural d. Adanya inflamasi atau neoplastik pleura PEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan fisik didapatkan perkusi redup, fremitus vokal menurun atau asimetris bahkan menghilang, bising napas juga menurun atau hilang. Gerakan pernapasan menurun atau asimetris, lenih rendah terjadi pada sisi paru yang mengalami efusi pleura. Pemeriksaan fisik sangat terbantu oleh pemeriksaan radiologi yang memperlihatkan jelas frenikus kostalis yang menghilang dan gambaran batas cairan melengkung.

LAPORAN KASUS 1 BAGIAN KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RSUD BUDHI ASIH

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Tempat dan Tanggal Lahir Usia Jenis Kelamin : An. H : Jakarta, 23 februari 2011 : 23 bulan : Perempuan 20

Agama Alamat Identitas Orang Tua Ayah Nama Usia Agama Suku Bangsa Alamat Pekerjaan Penghasilan Ibu Nama Usia Agama Suku Bangsa Alamat Pekerjaan

: Islam : Jalan Usman Harun No.2 Cawang

: Tn. L : 31 tahun : Islam : Jawa : Jalan Usman Harun No.2 Cawang : Karyawan Swasta : Rp. 2.000.000,-

: Ny. I : 23 tahun : Islam : Jawa : Jalan Usman Harun No.2 Cawang : Ibu Rumah Tangga

Hubungan dengan orang tua : Anak kandung.

II. ANAMNESIS Dilakukan secara Alloanamnesis dengan Ny. I (ibu kandung pasien) Lokasi Tanggal / waktu KELUHAN UTAMA Sesak sejak 3 hari SMRS KELUHAN TAMBAHAN 21 : Bangsal lantai V : 24 Januari 2013

Batuk dan demam RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien laki-laki datang ke IGD RSUD Budhi Asih dibawa oleh ibunya dengan keluhan sesak sejak 3 hari SMRS. Ibu os mengeluhkan anaknya sesak nafas yang dirasakan secara tiba-tiba. Sesak nafas tidak disertai adanya suara nafas berbunyi atau mengorok. Ibu os langsung membawa anaknya ke Rumah sakit, setelah diuap sesak berkurang. Nafsu makan os berkurang, BAK dan BAB tidak adak ada keluhan. Riwayat asma disangkal oleh ibu pasien. 6 hari SMRS os terdapat batuk. Warna dahak tidak diketahui karena dahak sulit dikeluarkan. Pasien juga terdapat demam. Demam naik turun, menurut ibu os panas meningkat tidak menentu. 1 hari SMRS os tidak dapat tidur karena sesak yang semakin meningkat. Kemudian ibu os membawa anaknya ke IGD RSUD Budhi Asih. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Penyakit Alergi Cacingan Demam Berdarah Demam Thypoid Otitis Umur Penyakit Difteria Diare Kejang Kecelakaan Morbili Umur Penyakit Jantung Ginjal Darah Radang paru Tuberkulosis Umur -

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Kedua orangtua pasien tidak sedang menderita keluhan yang sama seperti pasien. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Perawatan antenatal KELAHIRAN Tempat kelahiran Penolong persalinan Rutin kontrol ke bidan

1x/bulan, vaksin TT 2x Rumah bersalin Bidan

22

Cara persalinan Masa gestasi Keadaan bayi

Spontan Cukup bulan Berat lahir : 3400 gram Panjang lahir : 49 cm Langsung menangis (+)

Kesan : Riwayat kehamilan dan persalinan normal, dalam keadaan baik RIWAYAT PERKEMBANGAN: Pertumbuhan gigi I Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan Bicara : 4 bulan : 8 bulan : 9 bulan : 10 bulan : 12 bulan : 8 bulan

Kesan : Riwayat tumbuh kembang baik dan tidak ada keterlambatan psikomotor

RIWAYAT MAKANAN : Umur (bulan ) 02 24 46 68 8 10 10 12 23 ASI/PASI ASI ASI ASI PASI PASI Buah / Biskuit + + + Bubur Susu + + + Nasi Tim + +

a. Riwayat Imunisasi : Vaksin BCG DPT / PT Polio Campak Hepatitis B Dasar ( umur ) 0 bulan 2 bulan 0 bulan Belum 0 bulan 1 bulan 6 bulan 4 bulan 2 bulan 6 bulan 4 bulan 6 bulan Ulangan ( umur )

Kesan: Riwayat imunisasi dasar pasien belum lengkap RIWAYAT KELUARGA a. corak reproduksi No. Tanggal 1. 2. lahir (umur) 8 tahun 23 bulan Jenis kelamin Laki-laki Perempuan Hidup Lahir mati Abortus Mati (sebab) Keterangan kesehatan Sehat Sakit

b. Riwayat Pernikahan Nama Perkawinan keUmur saat menikah Pendidikan terakhir Agama Suku bangsa Keadaan kesehatan Ayah Tn. L Satu 21 tahun SMA Islam Jawa Sehat Ibu Ny. I Satu 20 tahun SMP Islam Jawa Sehat

Kesan: kedua orang tua sehat c. Riwayat Keluarga Orang Tua Pasien 24

Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama, tidak ada riwayat darah tinggi, kencing manis, asma, sakit jantung maupun penyakit sistemik lainnya dalam keluarga. d. Riwayat Anggota Keluarga Lain yang Serumah Tidak ada anggota keluarga pasien yang lain yang tinggal serumah RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN Perumahan Keadaan rumah : Rumah Kontrakan : Pasien tinggal bersama kedua orang tua. Rumah terdiri dari dua kamar tidur dan ruang tamu serta satu kamar mandi. Terdapat sebuah ventilasi dan hanya terdapat dua buah jendela. Sumber air bersih dari PAM. Air limbah rumah tangga disalurkan dengan baik dan pembuangan sampah setiap harinya diangkut oleh petugas kebersihan. Daerah lingkungan : Rumah terletak di daerah padat penduduk. Kesimpulan keadaan lingkungan : Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien kurang baik

III.PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 24 Januari 2013 pukul 13.00 WIB Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran Tanda Vital Tekanan Darah :: Compos Mentis

Nadi : 160 x/menit, lemah, reguler, cukup Suhu : 37,4C Pernapasan Data Antropometri Berat Badan : 8,5 kg 25 : 52 x/menit, teratur, tipe thorakal abdominal

Tinggi Badan Lingkar Kepala Status Gizi

: 68 cm : 43 cm (normocephali)

BB/U: (8,5 /8,6) x 100 %= 98 % TB/U: (68/71) x 100 % = 98 % BB/TB: (8,5/8,0) x 100 % = 106 %

Gizi baik Tinggi Normal Gizi baik

Berdasarkan data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa status gizi pasien baik Kepala dan Leher Kulit Kepala Rambut Mata Hidung Telinga Mulut Bibir Lidah Tonsil Tenggorok Leher Thoraks Paru-paru Inspeksi : bentuk dada normal, simetris saat statis dan dinamis, tipe abdominotorakal, retraksi sela iga (+) Palpasi Perkusi : gerak nafas simetris, vocal fremitus kanan dan kiri sama : Sonor pada kedua hemithoraks 26 : Warna sawo matang, sianotis (-), ikterik (-) : Normosefali, ubun-ubun besar belum menutup : warna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut : Pupil bulat isokor +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+ : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung +/+, sekret -/: Normotia, liang telinga lapang, membran timpani sulit dinilai, serumen +/+ minimal, refleks cahaya sulit dinilai : simetris, oral higiene cukup baik, gigi geligi caries (-), : simetris, sianosis (-), kering (-) : Normoglosia, kotor (-), tremor (-) : sulit dinilai : faring hiperemis (-) : KGB dan tiroid tidak teraba membesar

Auskultasi : Suara nafas vesikular, rhonki basah halus nyaring +/+, wheezing -/Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Genitalia Anus Ekstremitas atas : Datar, eflouresensi (-) : Bising usus (+) 3x/menit : Timpani di semua kuadran abdomen : Supel, tidak ada pembesaran hepar dan lien, nyeri tekan (-) : tanda-tanda radang (-), ulkus (-), sekret (-) : kemerahan (-) : simetris, akral hangat, atrofi (-), sianosis (-), gerakan involunter (-), Refleks fisiologis (+), patologis (-) Ekstremitas bawah : Akral hangat, atrofi (-), sianosis (-), gerakan involunter (-), Refleks fisiologis (+), patologis (-) : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba, thrill : Redup : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, murmur (-), gallop (-)

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hasil pemeriksaan pada tanggal 25 Januari 2013 :

27

JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit LED Hitung Jenis Basofil Eosinofil Netrofil batang Netrofil Segmen Limfosit Monosit KIMIA KLINIK Glukosa Darah Sewaktu ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida

HASIL PEMERIKSAAN 12.0 g/dL 36 % 21.1 rb /uL 353 rb/uL 15 mm/jam 1% 0% 2% 73 % 15 % 10 % 66 mg/dl 147 mmol/L 3,9 mmol/L 100 mmol/L

NILAI NORMAL 10,5 12,9 g/Dl 35 - 43 % 6 17.5 rb/uL 217 - 497 rb/uL 0 10 mm/jam 0-1 1-5 0-8 17-60 20-70 1-11 50-80 135-155 mmol/L 3.6-5.5 mmol/L 96.109ol/L

PEMERIKSAAN FOTO RONTGEN AP o Cor : dalam batas normal o Pulmo : tampak infiltrate pada suprahiler kanan dan parakardial kanan o Diafragma dan sinus normal Kesan : Bronkopnemonia

V.RESUME Seorang anak perempuan usia 9 bulan dengan keluhan sesak nafas sejak 3 hari SMRS. Os juga terdapat demam. Demam naik turun, disertai batuk dengan dahak sulit dikeluarkan. Pada pemeriksaan fisik didapatkan dengan status gizi baik, suhu 37,4 C, nadi 160x/menit, pernafasan 52x/menit. Pada pemeriksaan hidung, nafas cuping hidung +, retraksi sela iga (+), dan ronki basah halus nyaring +/+ Berdasarkan pemeriksaan darah, jumlah leukosit 21.1 ribu/uL, LED 15 mm/jam. Pada pemeriksaan foto thorax didapatkan kesan bronkopnemonia 28

VI. DIAGNOSIS BANDING Bronchopneumonia Bronkiolitis

VII. DIAGNOSIS KERJA Bronchopneumonia VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN Pemeriksaan darah lengkap Foto rontgen toraks

IX. TERAPI Non medikamentosa

Tirah baring

Medikamentosa IVFD KaEn 1 B 3 cc/kgBB Inj. Ampicilin 4x200mg Salbutamol 3x0,5 Ambroxol 3x3,5 mg CTM 3x0,6 mg Paracetamol 2x70 mg( bila panas ) Oksigen 1 L/menit

X. PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanasionam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

FOLLOW UP

29

Tanggal S 25/1/2013 -Demam meningkat -Batuk (+) -Sesak (+) - BAB 1x konsistensi lunak berwarna coklat

O KU : TSS/CM Suhu : 38,1 C RR: 48x/menit Nadi : 154x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/-, Hidung : NCH +/+, secret -/Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar Paru : Suara nafas vesikuler, rh+/+, wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, datar, BU + 3x/menit, hepar lien tidak teraba membesar, timpani Extremitas : akral hangat (+)

A P Bronkopnemonia -IVFD KaEn IB 3cc/kgBB/jam -Inj. Ampisillin 4x200mg -paracetamol 70 mg -Salbutamol 3x0,5mg -Ambroxol 3x3,5 mg -CTM 3x0,6 mg - oksigen 1L/menit

26/1/2013 -Demam menurun -Batuk (+) -Sesak berkurang -BAB 1x konsistensi lunak

KU : TSS/CM Nadi : 124x/menit Suhu : 37,3 C RR : 40x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/Hidung : NCH -/-,

Bronkopnemonia -IVFD KaEn IB 3cc/kgBB/jam -Inj. Ampisillin 4x200mg -paracetamol 2x70mg -Salbutamol 3x0,5mg 30

secret -/Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar Paru : Suara nafas vesikuler, rh+/+,wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, datar, BU + 3x/menit, hepar lien tidak teraba membesar, timpani Extremitas : akral hangat Laboratorium : Hb : 11,3 g/dL Lek : 7.6 rb/uL Trom : 166 rb/uL Ht : 36%

-Ambroxol 3x3,5 mg -CTM 3x0,6mg - oksigen 1 L/menit

27/1/2013 -demam turun -Batuk berkurang -Sesak berkurang -sudah mau makan

KU : TSS/CM Nadi : 112x/menit, regular, cukup Suhu : 36,7 C RR : 32x/menit Kepala :normocephali Mata : CA-/-, SI -/Hidung : NCH -/-,

Bronkopnemonia -IVFD KaEn IB 3cc/kgBB/jam -Inj. Ampisillin 4x200mg -Salbutamol 3x0,5mg -Ambroxol 3x3,5 mg -CTM 3x0,6 mg 31

secret -/Leher : kgb dan tiroid tidak teraba membesar Paru : Suara nafas vesikuler, rh+/+,wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, datar, BU + 3x/menit, hepar lien tidak teraba membesar, timpani Extremitas : akral hangat Laboratorium : Hb : 11.5 g/dL L : 6.9 rb/uL Ht : 37 % Tr : 263 rb/uL

- oksigen 1 L/menit

LAPORAN KASUS 2 BAGIAN KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RSUD BUDHI ASIH
II. IDENTITAS PASIEN

Nama Tempat dan Tanggal Lahir Usia

: An. R : Jakarta, 4 Mei 2012 : 9 bulan 32

Jenis Kelamin Agama Alamat Identitas Orang Tua Ayah Nama Usia Agama Suku Bangsa Alamat Pekerjaan Penghasilan Ibu Nama Usia Agama Suku Bangsa Alamat Pekerjaan

: perempuan : Islam : Jln. Kafi I Jagakarsa RT2/6 No. 10

: Tn. A : 32 tahun : Islam : Jawa : Jln. Kafi I Jagakarsa RT2/6 No. 10 : Buruh : Rp. 1.000.000/ bulan

: Ny. Z : 29 tahun : Islam : Sunda : Jln. Kafi I Jagakarsa RT2/6 No. 10 : Ibu Rumah Tangga

Hubungan dengan orang tua : Anak kandung.

II. ANAMNESIS Dilakukan secara Alloanamnesis dengan Ny. Z (ibu kandung pasien) Lokasi Tanggal / waktu KELUHAN UTAMA Sesak sejak 1 hari SMRS : Bangsal lantai V : 29 januari 2013

33

KELUHAN TAMBAHAN Demam, Batuk, pilek RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG 3 hari SMRS, pasien batuk dan pilek. Menurut ibu pasien, pasien mulai batuk dan pilek setelah mengalami musibah banjir. Pilek berwarna bening encer. Pasien juga batuk berdahak, ibu pasien mengatakan bahwa dahaknya sulit dikeluarkan dan nafas pasien sering berbunyi grok-grok. Selain keluhan diatas pasien juga demam, demam 1 hari SMRS dan pada perabaan panas tinggi. Ibu pasien lalu membawa pasien ke puskesmas, diberi obat penurun panas dan obat batuk, namun tidak membaik. Pasien muntah 1x, muntah berisi asi yang diminum pasien. BAB dan BAK normal. Nafsu makan menurun, pasien tampak selalu gelisah. Malam sebelum dibawa ke rumah sakit pasien juga tidak bisa tidur. Pasien menangis semalaman. Sejak 3 jam SMRS, pasien terlihat lebih sesak, ibu pasien mengatakan bibir pasien sempat berwarna biru, pasien sangat rewel dan tidak bisa ditenangkan. Keluarga pasien lalu membawa pasien ke IGD RSUD Budhi Asih. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Penyakit Alergi Cacingan Demam Berdarah Demam Thypoid Otitis Umur Penyakit Difteria Diare Kejang Kecelakaan Morbili Umur Penyakit Jantung Ginjal Darah Radang paru Umur -

9 bulan Tuberkulosis

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Kedua orangtua pasien tidak sedang menderita keluhan yang sama seperti pasien. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN KEHAMILAN Morbiditas kehamilan 34

Perawatan antenatal KELAHIRAN Tempat kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi Keadaan bayi

Rutin

kontrol

ke

bidan

1x/bulan, vaksin TT 2x Rumah bersalin Bidan Spontan Cukup bulan Berat lahir : 3100 gram Panjang lahir : 48 cm Langsung menangis (+)

Kesan : Riwayat kehamilan dan persalinan normal, dalam keadaan baik RIWAYAT PERKEMBANGAN: Pertumbuhan gigi I Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan Bicara : 4 bulan : 6 bulan : - bulan : - bulan : - bulan : 9 bulan

Kesan : Riwayat tumbuh kembang baik dan tidak ada keterlambatan psikomotor RIWAYAT MAKANAN : Umur (bulan ) 02 24 46 68 8 10 10 12 ASI/PASI ASI ASI ASI ASI ASI ASI Buah / Biskuit + + + + Bubur Susu + + + + Nasi Tim + + +

35

Jenis Makanan Nasi/Pengganti Sayur Daging Telur Ikan Tahu Tempe Susu (merk/takaran) Lain-lain Kesulitan Makan Kesimpulan : Tidak ada.

Frekuensi dan Jumlah 2x/hari, 1 piring 1x/hari, mangkok kecil 2x/minggu, 1 butir 2x/minggu, 1 potong kecil 3x/minggu, 1 potong 4x/minggu., 1 potong SGM, 3-4x/botol Biskuit, buah

: Pola makan pasien baik.

b. Riwayat Imunisasi : Vaksin BCG DPT / PT Polio Campak Hepatitis B Dasar ( umur ) 0 bulan 2 bulan 0 bulan 0 bulan 1 bulan 4 bulan 2 bulan Ulangan ( umur )

Kesan: Riwayat imunisasi dasar pasien lengkap, ulangan belum dilakukan. RIWAYAT KELUARGA c. corak reproduksi No. Tanggal 1. lahir (umur) 9 bulan Jenis kelamin Laki-laki Hidup Lahir mati Abortus Mati (sebab) Keterangan kesehatan Sakit

d. Riwayat Pernikahan Nama Perkawinan keUmur saat menikah Pendidikan terakhir Agama Ayah Tn. A Satu 28 tahun SMA Islam Ibu Ny. Z Satu 26 tahun SMK Islam 36

Suku bangsa Keadaan kesehatan

Jawa Sehat

Sunda Sehat

Kesan: kedua orang tua sehat e. Riwayat Keluarga Orang Tua Pasien Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama, tidak ada riwayat darah tinggi, kencing manis, asma, sakit jantung maupun penyakit sistemik lainnya dalam keluarga. f. Riwayat Anggota Keluarga Lain yang Serumah Kakek, nenek, ayah dan ibu tidak ada yang mengalami keluhan yang sama. Nenek pasien menderita kencing manis. Tidak ada riwayat asma, sakit jantung maupun penyakit sistemik lainnya dalam keluarga RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN Perumahan Keadaan rumah : Rumah Kontrakan : Pasien kedua orang tua. Rumah terdiri dari 2 kamar tidur dan ruang tamu serta satu kamar mandi. Terdapat sebuah ventilasi dan dua buah jendela yang jarang dibersihkan. Sumber air bersih dari PAM. Pembuangan sampah 2 hari sekali diangkut oleh petugas kebersihan. Daerah lingkungan : Rumah terletak di daerah padat penduduk. Kesimpulan keadaan lingkungan : Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien kurang baik III.PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 29 januari 2013 pukul 11.30 WIB Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran Tanda Vital Tekanan Darah :: Compos Mentis

Nadi : 136 x/menit, lemah, reguler, cukup Suhu : 38,4C 37

Pernapasan

: 48 x/menit, teratur, tipe thorakal abdominal

Data Antropometri Berat Badan Tinggi Badan Lingkar Kepala Status Gizi BB/U: (6 /6,4) x 100 %= 93,75% TB/U: 63/64) x 100 % = 98 % BB/TB: (6/6,1) x 100 % = 98 % Gizi baik Tinggi Normal Gizi baik : 6 kg : 63 cm : 41 cm (normocephali)

Berdasarkan data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa status gizi pasien baik Kepala dan Leher Kulit Kepala Rambut Mata Hidung Telinga Mulut Bibir Lidah Tonsil Tenggorok Leher Thoraks 38 : Warna sawo matang, sianotis (-), ikterik (-) : Normocephali, ubun-ubun besar sudah menutup : warna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut : Pupil bulat isokor +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+ : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung +/+, sekret +/+ warna putih bening : Normotia, liang telinga lapang, membran timpani sulit dinilai, serumen -/-, refleks cahaya sulit dinilai : simetris, oral higiene cukup baik, gigi geligi caries -, stomatitis (+) : simetris, merah muda, pucat (-), sianosis (-), kering (+) : Normoglosia, kotor (-), tremor (-) : T1-T1 tenang, hiperemis (-) : faring hiperemis (-), uvula ditengah : KGB dan tiroid tidak teraba membesar

Paru-paru Inspeksi : bentuk dada normal, simetris saat statis dan dinamis, tipe abdominotorakal, retraksi sela iga (+) Palpasi Perkusi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Genitalia Ekstremitas atas : Datar, eflouresensi (-) : Bising usus (+) 5x/menit : Timpani di semua kuadran abdomen : Supel, tidak ada pembesaran hepar dan lien, nyeri tekan (-) : tanda-tanda radang (-), ulkus (-), sekret (-) : simetris, akral hangat, atrofi (-), sianosis (-), gerakan involunter (-), Refleks fisiologis (+), patologis (-) Ekstremitas bawah : Akral hangat, atrofi (-), sianosis (-), gerakan involunter (-), Refleks fisiologis (+), patologis (-) : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba, thrill : Redup : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, murmur (-), gallop (-) : gerak nafas simetris, vocal fremitus kanan dan kiri sama : Sonor pada kedua hemithoraks

Auskultasi : Suara nafas vesikular, rhonki -/-, wheezing +/+, ekspirasi memanjang

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hasil pemeriksaan pada tanggal 30 januari 2013 :

39

JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit LED Hitung Jenis Basofil Eosinofil Netrofil batang Netrofil Segmen Limfosit Monosit KIMIA KLINIK Glukosa Darah Sewaktu ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida

HASIL PEMERIKSAAN 11 g/dL 33 % 39.5 rb /uL 524 rb/uL 45 mm/jam 1% 3% 5% 35 % 49 % 15 % 135 mg/dl 135 mmol/L 5,5 mmol/L 100mmol/L

NILAI NORMAL 10,8 12,8 g/dL 31 - 43 % 5.5 15.5 rb/uL 217 - 497 rb/uL 0 10 mm/jam 0-1 1-5 3-6 25-60 25-50 1-6 52-98 135-155 mmol/L 3.6-5.5 mmol/L 98-109 mmol/L

PEMERIKSAAN FOTO RONTGEN AP o Cor : dalam batas normal o Pulmo : tampak Infiltrat pada supra hilus kanan o Diafragma dan sinus normal Kesan : Bronkiolitis

V.RESUME Seorang anak perempuan usia 9 bulan dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Sebelumnya Os batuk dan pilek. Os juga terdapat demam yang tinggi mendadak dan nafas pasien sering berbunyi grok-grok. Pasien juga sesak, bibir pasien sempat berwarna biru. Pada pemeriksaan fisik didapatkan dengan status gizi baik, suhu 38,4 C, nadi 136x/menit, pernafasan 48x/menit. Pada pemeriksaan hidung, secret +/+, nafas cuping hidung +, retraksi sela iga (+), dan wheezing +/+

40

Berdasarkan pemeriksaan darah, jumlah leukosit 39.5 ribu/uL, LED 45 mm/jam. Pada pemeriksaan foto thorax didapatkan kesan bronkiolitis

VI. DIAGNOSIS BANDING Bronkiolitis Asma bronchial

VII. DIAGNOSIS KERJA Bronkiolitis VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN

Pemeriksaan darah lengkap Rontgen thorax Analisa gas darah Kultur Sputum

IX. TERAPI Non medikamentosa

Tirah baring

Medikamentosa IVFD KaEn 3B 3 cc/kgBB Inj. Ceftriaxone 2x600mg drip (NaCl 0,9% 100 ml) Ambroxol syr 3x1/2 cth Paracetamol syr 4x1cth( bila panas )

X. PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanasionam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

FOLLOW UP
41

Tanggal S 30/1/2013 -Demam (+) -Batuk berdahak (+) -Sesak (+) -Pilek (+) - BAB 1x konsistensi padat berwarna coklat

O KU : TSS/CM Suhu : 37,6 C RR: 40x/menit Nadi : 124x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/Hidung : NCH +/+, secret +/+ Mulut :bibir kering (+) Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar Paru : Suara nafas vesikuler, rh-/-, wh+/+ , ekpirasi memanjang. Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel,

A - Bronkiolitis

P - IVFD KaEn 3B 3 cc/kgBB -Inj.Ceftriaxone 2x1 -Paracetamol 4x1cth syr

31/1/2013

datar, BU + 4x/menit, NT (-), hepar lien tidak teraba membesar, timpani Extremitas : akral hangat (+) -Demam menurun -Batuk (+) -Sesak (+) -Pilek (+) berwarna bening, encer -BAB (-) KU : TSS/CM Nadi : 120x/menit Suhu : 36,6 C RR : 44x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/42 -bronkiolitis - IVFD KaEn 3B 3 cc/kgBB -Inj.Ceftriaxone 2x1 -Ambroxol syr 3x1/2 cth

Hidung : NCH -/-, secret +/+ Mulut :bibir kering (+) Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar Paru : Suara nafas vesikuler, rh-/-, wh+/+ Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, 1/2/2013 datar, BU + 4x/menit, hepar lien tidak teraba membesar, timpani Extremitas : akral hangat Laboratorium : Hb : 11,2 g/dL Lek : 9.0 rb/uL 2/2/2013 -demam menurun -Batuk (+) -pilek berkurang -Sesak berkurang - makan dan minum baik KU : TSS/CM Nadi : 120x/menit, regular, cukup Suhu : 36,4 C RR : 32x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/-, Hidung : NCH -/-, secret +/+ minimal Leher : kgb dan tiroid tidak teraba membesar Paru : Suara nafas vesikuler, rh-/-, wh+/+ 43 -Bronkiolitis - IVFD KaEn 3B 3 cc/kgBB -Inj.Ceftriaxone 2x600mg drip (NaCl 0,9% 100 ml) -Ambroxol syr 3x1/2 cth - Borax gliserin

Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, datar, BU + 3x/menit, hepar lien tidak teraba membesar, timpani Extremitas : akral hangat

LAPORAN KASUS 3 BAGIAN KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RSUD BUDHI ASIH
I.

IDENTITAS PASIEN Nama Tempat dan Tanggal Lahir Usia Jenis Kelamin Agama Alamat : An. I : Jakarta, 11 november 2011 : 14 bulan : laki-laki : Islam : Jln. Sawo kecik II no 16

Identitas Orang Tua Ayah 44

Nama Usia Agama Suku Bangsa Alamat Pekerjaan Penghasilan Ibu Nama Usia Agama Suku Bangsa Alamat Pekerjaan

: Tn. R : 50 tahun : Islam : Jawa : Jln. Sawo kecik II No 16 : karyawan : Rp. 2.200.000/ bulan

: Ny. I : 45 tahun : Islam : Sunda : Jln. Sawo kecik II No. 16 : Ibu Rumah Tangga

Hubungan dengan orang tua : Anak kandung.

II. ANAMNESIS Dilakukan secara Alloanamnesis dengan Ny. I (ibu kandung pasien) Lokasi Tanggal / waktu KELUHAN UTAMA Sesak sejak 1 hari SMRS KELUHAN TAMBAHAN Batuk, pilek dan demam tinggi RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien laki-laki datang ke IGD RSUD Budhi Asih dibawa oleh ibunya dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Os juga batuk dengan dahak tidak dapat dikeluarkan. 45 : Bangsal lantai VI : 27 januari 2013

Demam naik turun, mulai meningkat pada malam hari dan menurun pada pagi hari. Os terdapat pilek dengan secret cair bening. Akhirnya ibu Os membawa ke klinik, dokter memberikan obat puyer penurun panas, demam sempat menurun. Namun kembali demam lagi. 1 hari SMRS batuk os semakin meningkat dan sesak nafas bertambah berat. 3 hari yang lalu os pulang paksa setelah sempat dirawat di RSUD Budhi Asih karena radang paru, os dirawat selama 8 hari. Os mulai sakit pasca musibah banjir yang melanda tempat os tinggal. Semenjak sakit nafsu makan menurun dan hanya minum susu sedikit, berat badan menurun dari 11 kg menjadi 7,9 kg. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Penyakit Alergi Cacingan Demam Berdarah Demam Thypoid Otitis Umur Penyakit Difteria Diare Kejang Kecelakaan Morbili Umur Penyakit Jantung Ginjal Darah Radang paru Tuberkulosis Umur -

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Kedua orangtua pasien tidak sedang menderita keluhan yang sama seperti pasien. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Perawatan antenatal KELAHIRAN Tempat kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi Keadaan bayi Rutin kontrol ke dokter

1x/bulan, vaksin TT 1x Rumah sakit Dokter Spontan 9 bulan Berat lahir : 2800 gram Panjang lahir : tidak ingat Langsung menangis (+) 46

Kesan : Riwayat kehamilan dan persalinan normal, dalam keadaan baik RIWAYAT PERKEMBANGAN: Pertumbuhan gigi I Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan Bicara : 5 bulan : b bulan : 12 bulan : 12 bulan : - bulan : 9 bulan

Kesan : Riwayat tumbuh kembang baik dan tidak ada keterlambatan psikomotor

RIWAYAT MAKANAN : Umur (bulan ) 02 24 46 68 8 10 10 12 ASI/PASI PASI PASI PASI PASI PASI PASI Buah / Biskuit + + + + Bubur Susu + + + + Nasi Tim + + +

g. Riwayat Imunisasi : Vaksin BCG DPT / PT Polio Campak Hepatitis B Dasar ( umur ) 0 bulan 2 bulan 0 bulan 9 bulan 0 bulan 1 bulan 6 bulan 4 bulan 2 bulan 6 bulan 4 bulan 6 bulan Ulangan ( umur )

47

Kesan: Riwayat imunisasi dasar pasien lengkap, ulangan belum dilakukan. RIWAYAT KELUARGA h. corak reproduksi No. Tanggal 1. 2. 3. lahir (umur) 24 tahun 15 tahun 23 bulan Jenis kelamin Perempuan perempuan Laki-laki Hidup Lahir mati Abortus Mati (sebab) Keterangan kesehatan Sehat Sehat Sakit

i. Riwayat Pernikahan Nama Perkawinan keUmur saat menikah Pendidikan terakhir Agama Suku bangsa Keadaan kesehatan Ayah Tn. R Satu 25 tahun SMA Islam Jawa Sehat Ibu Ny. I Satu 22 tahun SMP Islam Sunda Sehat

Kesan: kedua orang tua sehat j. Riwayat Keluarga Orang Tua Pasien Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama, tidak ada riwayat darah tinggi, kencing manis, asma, sakit jantung maupun penyakit sistemik lainnya dalam keluarga. k. Riwayat Anggota Keluarga Lain yang Serumah Tidak ada anggota keluarga lain yang tinggal 1 rumah dengan pasien RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN Perumahan Keadaan rumah : Rumah Kontrakan : Pasien tinggal bersama kedua orang tua. Rumah terdiri dari dua kamar tidur dan ruang tamu serta satu kamar mandi. Terdapat sebuah ventilasi dan dua buah jendela yang jarang dibersihkan. Sumber air bersih dari PAM. Pembuangan sampah 2 hari sekali diangkut oleh petugas kebersihan. Daerah lingkungan : Rumah terletak di daerah padat penduduk. 48

Kesimpulan keadaan lingkungan : Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien kurang baik III.PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 27 januari 2013 pukul 14.00 WIB Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran Tanda Vital Tekanan Darah :: Compos Mentis

Nadi : 148 x/menit, lemah, reguler, cukup Suhu : 37,7C Pernapasan Data Antropometri Berat Badan Tinggi Badan Lingkar Kepala Status Gizi BB/U: (7,9/12,8) x 100 %= 61% TB/U: (85/87) x 100 % = 97 % BB/TB: (7,9/12) x 100 % = 65% Gizi buruk Tinggi Normal Gizi buruk : 7,9 kg : 85 cm : 46 cm (normocephali) : 60 x/menit, teratur, tipe thorakal abdominal

Berdasarkan data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa status gizi pasien buruk Kepala dan Leher Kulit Kepala Rambut Mata : Warna kuning langsat, sianotis (-), ikterik (-) : Normocephali, ubun-ubun besar sudah menutup : warna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut : Pupil bulat isokor +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+

49

Hidung Telinga Mulut Bibir Lidah Tonsil Tenggorok Leher

: Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung +/+, sekret -/: Normotia, liang telinga lapang, membran timpani sulit dinilai, serumen -/-, refleks cahaya sulit dinilai : simetris, oral higiene cukup baik, gigi geligi caries : simetris, merah muda, pucat (-), sianosis (-), kering (-) : Normoglosia, kotor (-), tremor (-) : T1-T1 tenang, hiperemis (-) : faring hiperemis (-), uvula ditengah : KGB dan tiroid tidak teraba membesar

Thoraks Paru-paru Inspeksi : bentuk dada normal, simetris saat statis dan dinamis, tipe abdominotorakal, retraksi sela iga (+) Palpasi Perkusi wheezing -/Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Genitalia Anus Ekstremitas atas : Distensi, eflouresensi (-) : Bising usus (+) 3x/menit : Timpani di semua kuadran abdomen : Supel, tidak ada pembesaran hepar dan lien, nyeri tekan (-) : tanda-tanda radang (-), ulkus (-), sekret (-) : kemerahan (-) : simetris, akral hangat, atrofi (-), sianosis (-), gerakan involunter (-), 50 : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba pada ICS V 1 cm medial garis midclaviculari sinistra, thrill : Redup : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, murmur (-), gallop (-) : gerak nafas simetris, vocal fremitus kanan dan kiri sama : Sonor pada kedua hemithorak

Auskultasi : Suara nafas vesikular, rhonki kasar +/+ pada kedua lapang paru,

Refleks fisiologis (+), patologis (-) Ekstremitas bawah : Akral hangat, atrofi (-), sianosis (-), gerakan involunter (-), Refleks fisiologis (+), patologis (-)

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hasil pemeriksaan pada tanggal 29 Januari 2013 :

JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit KIMIA KLINIK Glukosa Darah Sewaktu ELEKTROLIT Natrium Kalium Klorida

HASIL PEMERIKSAAN 9.1 g/dL 25 % 21.4 rb /uL 473 rb/uL 92 mg/dl 140 mmol/L 4,7 mmol/L 102 mmol/L

NILAI NORMAL 10,8 12,8 g/dL 31 - 43 % 5.5 15.5 rb/uL 217 - 497 rb/uL 52-98 135-155 mmol/L 3.6-5.5 mmol/L 98-109 mmol/L

PEMERIKSAAN FOTO RONTGEN AP o Cor : dalam batas normal o Pulmo : tampak infiltrate pada seluruh lapang paru o Diafragma dan sinus normal Kesan : bronkopneumonia duplex V.RESUME Seorang anak laki-laki usia 14 bulan dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Os juga terdapat batuk dengan dahak tidak dapat dikeluarkan dan pilek. Demam naik turun.

51

Pada pemeriksaan fisik didapatkan dengan status gizi kurang, suhu 37,7 C, nadi 148x/menit, pernafasan 60x/menit. Pada pemeriksaan hidung, nafas cuping hidung +, retraksi sela iga (+), dan ronki +/+ Berdasarkan pemeriksaan darah, jumlah leukosit 21.4 ribu/uL. Pada pemeriksaan foto thorax didapatkan kesan bronkopneumonia. VI. DIAGNOSIS BANDING Bronkopneumonia duplex Tuberculosis paru

VII. DIAGNOSIS KERJA Bronkopneumonia duplex VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN Pemeriksaan darah lengkap Analisa gas darah

IX. TERAPI Non medikamentosa


Tirah baring

Medikamentosa O2 nasal 2 L/menit IVFD KaEn 1B 3 cc/kgBB Inj. cefotaxim 3x200 mg Paracetamol 4x80 mg Ambroxol 4mg + salbutamol 0,4 mg 3x1

X. PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanasionam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

FOLLOW UP

52

28/1/2013 -Demam (-) -sesak (+) -batuk (+)

KU : TSS/CM Suhu : 37,2 C RR: 42x/menit Nadi : 144x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/Hidung : NCH -/-, secret -/Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar Paru : Suara nafas vesikuler, rh+/+, wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, datar, BU + 3x/menit, NT (-), hepar lien tidak teraba membesar, timpani Extremitas : akral hangat (+)

Bronkopneumonia - IVFD KaEn 1B 3 cc/kgBB -Inj. Cefotaxim 3x 200mg -PCT 4x 80mg -ambroxol 4mg Salbutamol 3x1 0,4mg

29/1/2013 -Demam menurun -Batuk (+) -Sesak (+) -Pilek berkurang

KU : TSS/CM Nadi : 132x/menit Suhu : 36,7 C RR : 40x/menit Kepala :

Bronkopneumonia - IVFD KaEn 1B 3 cc/kgBB -Inj.Cefotaxime 3x200mg -Ambroxol 4mg + salbutamol 0,4 mg 53

normocephali Mata : CA-/-, SI -/Hidung : NCH -/-, secret -/Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar Paru : Suara nafas vesikuler, rh+/+, wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, datar, BU + 3x/menit, hepar lien tidak teraba membesar, timpani Extremitas : akral hangat 30/1/2013 -demam menurun -Batuk (+) -pilek (-) -Sesak berkurang - makan dan minum baik KU : TSS/CM Nadi : 128x/menit, regular, cukup Suhu : 36,4 C RR : 32x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/-, Hidung : NCH -/-, Paru : Suara nafas vesikuler, rh+/+,

3x1

Salbutamol 0,4 mg

Bronkopneumonia - IVFD KaEn 1B 3 cc/kgBB -Inj.Cefotaxime 3x200mg -Ambroxol 4mg + salbutamol 0,4 mg 3x1

54

wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, datar, BU + 3x/menit Extremitas : akral hangat LAPORAN KASUS 4 BAGIAN KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RSUD BUDHI ASIH
II. IDENTITAS PASIEN

Nama Tempat dan Tanggal Lahir Usia Jenis Kelamin Agama Alamat Identitas Orang Tua Ayah Nama Usia Agama Suku Bangsa Alamat Pekerjaan Penghasilan Ibu Nama Usia

: An. N : Jakarta, 12 april 2009 : 4 tahun : laki-laki : Islam : Jalan Panca Warga III No. 2

: Tn. S : 30 tahun : Islam : Jawa : Jalan Panca Warga III No. 2 : karyawan : Rp. 1.500.000/ bulan

: Ny. S : 28 tahun 55

Agama Suku Bangsa Alamat Pekerjaan

: Islam : jawa : Jalan Panca Warga III No. 2 : Ibu Rumah Tangga

Hubungan dengan orang tua : Anak kandung.

II. ANAMNESIS Dilakukan secara Alloanamnesis dengan Ny. I (ibu kandung pasien) Lokasi Tanggal / waktu KELUHAN UTAMA Sesak sejak 1 hari SMRS KELUHAN TAMBAHAN Demam naik turun, batuk berdahak RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien laki-laki datang ke IGD RSUD Budhi Asih dibawa oleh ibunya dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Ibu os mengatakan suara nafas anakny berbunyi ngikngik. Sesak kambuh tiap kali os batuk pilek. Demam naik turun.. Akhirnya ibu Os membawa ke puskesmas, diberi obat puyer penurun panas, demam sempat menurun. Namun kembali demam lagi. Os juga batuk dengan dahak tidak dapat dikeluarkan. Batuk berdahak sejak 1 minggu SMRS, kadang os batuk sampai muntah. Nenek os menderita asma. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Penyakit Alergi Cacingan Umur Penyakit Difteria Diare Umur Penyakit Jantung Ginjal Umur : Bangsal lantai VI : 22 januari 2013

56

Demam Berdarah Demam Thypoid Otitis

Kejang Kecelakaan Morbili

Darah Radang paru Tuberkulosis

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Kedua orangtua pasien tidak sedang menderita keluhan yang sama seperti pasien. Nenek os penderita asma. RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Perawatan antenatal KELAHIRAN Tempat kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi Keadaan bayi Rutin kontrol ke dokter

1x/bulan, vaksin TT 1x Rumah sakit Dokter Spontan 9 bulan Berat lahir : 3000 gram Panjang lahir : 50 Langsung menangis (+)

Kesan : Riwayat kehamilan dan persalinan normal, dalam keadaan baik RIWAYAT PERKEMBANGAN: Pertumbuhan gigi I Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan Bicara : 6 bulan : 7 bulan : 16 bulan : 16 bulan : 24 bulan : 8 bulan

Kesan : Riwayat tumbuh kembang baik dan tidak ada keterlambatan psikomotor

57

RIWAYAT MAKANAN : Umur (bulan ) 02 24 46 68 8 10 10 12 ASI/PASI ASI ASI ASI ASI ASI ASI Buah / Biskuit + + Bubur Susu + + + Nasi Tim + +

l. Riwayat Imunisasi : Vaksin BCG DPT / PT Polio Campak Hepatitis B Dasar ( umur ) 0 bulan 2 bulan 0 bulan 9 bulan 0 bulan 1 bulan 6 bulan 4 bulan 2 bulan 6 bulan 4 bulan 6 bulan Ulangan ( umur )

Kesan: Riwayat imunisasi dasar pasien lengkap, ulangan belum dilakukan. RIWAYAT KELUARGA m. corak reproduksi No. Tanggal 1. lahir (umur) 4 tahun Jenis kelamin Laki- laki Hidup Lahir mati Abortus Mati (sebab) Keterangan kesehatan Sakit

n. Riwayat Pernikahan Nama Perkawinan keUmur saat menikah Pendidikan terakhir Agama Suku bangsa Ayah Tn. S Satu 25 tahun SMK Islam Jawa Ibu Ny. S Satu 23 tahun SMA Islam Jawa

58

Keadaan kesehatan

Sehat

Sehat

Kesan: kedua orang tua sehat

o. Riwayat Keluarga Orang Tua Pasien Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama, tidak ada riwayat darah tinggi, kencing manis, asma, sakit jantung maupun penyakit sistemik lainnya dalam keluarga. p. Riwayat Anggota Keluarga Lain yang Serumah Tidak ada anggota keluarga lain yang tinggal 1 rumah dengan pasien RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN Perumahan Keadaan rumah : Rumah milik sendiri : Pasien tinggal bersama kedua orang tua. Rumah terdiri dari dua kamar tidur dan ruang tamu serta satu kamar mandi. Terdapat sebuah ventilasi dan 3 jendela. Sumber air bersih dari PAM. Pembuangan sampah 5 hari sekali diangkut oleh petugas kebersihan. Daerah lingkungan : Rumah terletak di daerah padat penduduk. Kesimpulan keadaan lingkungan : Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien kurang baik III.PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 22 januari 2013 pukul 14.00 WIB Keadaan Umum : Tampak sakit sedang Kesadaran Tanda Vital Tekanan Darah : 100/80 mmHg : Compos Mentis

Nadi : 84 x/menit, reguler, cukup Suhu : 38C Pernapasan : 40 x/menit, teratur, tipe thorakal abdominal 59

Data Antropometri Berat Badan Tinggi Badan Lingkar Kepala : 14 kg : 100 cm : 48 cm (normocephali)

Status Gizi BB/U: (14/17) x 100 %= 82% TB/U: (100/103) x 100 % = 97 % BB/TB: (14/17) x 100 % = 82% Gizi kurang Tinggi Normal Gizi kurang

Berdasarkan data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa status gizi pasien kurang Kepala dan Leher Kulit Kepala Rambut Mata Hidung Telinga Mulut Bibir Lidah Tonsil Tenggorok Leher Thoraks Paru-paru Inspeksi : bentuk dada normal, simetris saat statis dan dinamis, tipe abdominotorakal Palpasi : gerak nafas simetris, vocal fremitus kanan dan kiri sama 60 : Warna kuning langsat, sianotis (-), ikterik (-) : Normocephali : warna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut : Pupil bulat isokor +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+ : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung (-) : Normotia, liang telinga lapang, membran timpani sulit dinilai, serumen -/-, refleks cahaya sulit dinilai : simetris, oral higiene cukup baik, gigi geligi caries : simetris, merah muda, pucat (-), sianosis (-), kering (-) : Normoglosia, kotor (-), tremor (-) : T1-T1 tenang, hiperemis (-) : faring hiperemis (-), uvula ditengah : KGB dan tiroid tidak teraba membesar

Perkusi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi

: Sonor pada kedua hemithorak

Auskultasi : Suara nafas vesikular, ekspirasi memanjang. rhonki kasar -/-, wheezing +/+ : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba pada ICS V 1 cm medial garis midclaviculari sinistra, thrill : Redup : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, murmur (-), gallop (-) : Distensi, eflouresensi (-) : Bising usus (+) 3x/menit : Timpani di semua kuadran abdomen : Supel, tidak ada pembesaran hepar dan lien, nyeri tekan (-) : tanda-tanda radang (-), ulkus (-), sekret (-) : simetris, akral hangat, atrofi (-), sianosis (-), gerakan involunter (-), patologis (-) Ekstremitas bawah : Akral hangat, atrofi (-), sianosis (-), gerakan involunter (-), patologis (-) Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi Genitalia Ekstremitas atas

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hasil pemeriksaan pada tanggal 23 Januari 2013 HASIL PEMERIKSAAN 11.4 g/dL 34 % 3,6 rb /uL 279 rb/uL

JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit

NILAI NORMAL 10,8 12,8 g/dL 31 - 43 % 5.5 15.5 rb/uL 217 - 497 rb/uL

V.RESUME Seorang anak laki-laki usia tahun dengan keluhan sesak sejak 1 hari SMRS. Sesak makin lama makin berat. Sesak kambuh tiap kali os batuk pilek. Os juga terdapat batuk dengan dahak tidak dapat dikeluarkan. Demam naik turun. 61

Pada pemeriksaan fisik didapatkan dengan status gizi kurang, suhu 38 C, nadi 84x/menit, pernafasan 40x/menit. Pada pemeriksaan, retraksi sela iga (+), wheezing +/+ Berdasarkan pemeriksaan darah, jumlah leukosit 3,6 ribu/uL. VI. DIAGNOSIS BANDING -

Bronkopneumonia Asthma

VII. DIAGNOSIS KERJA Asthma VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN Analisa gas darah LED Mantoux test Rontgen thorax AP-Lateral

IX. TERAPI Non medikamentosa

Tirah baring

Medikamentosa O2 nasal 2 L/menit Inhalasi 2x = NaCl 0,9% + combivent IVFD KaEn 1B 3 cc/kgBB Ambroxol 3x1 cth Paracetamol 4x1 Teofilin 25 mg + salbutamol 0,5 mg + metilprednisolon 3 mg = 3x1

X. PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanasionam : ad bonam : ad bonam : dubia ad bonam 62

FOLLOW UP
24/1/2013 -Demam (-) -sesak (+) -batuk (+) KU : TSS/CM Suhu : 37,2 C TD: 100/80 mmHg RR: 38x/menit Nadi : 80x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/Hidung : NCH -/-, secret -/Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar Paru : Suara nafas vesikuler, rh-/-, wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, datar, BU + 3x/menit, NT (-), hepar lien tidak teraba membesar, timpani Extremitas : akral hangat (+) 25/1/2013 -Demam semalam KU : TSS/CM Asma -O2 nasal 2 L/menit 63 Asma -O2 nasal 2 L/menit -Inhalasi 2x = NaCl 0,9% + combivent -IVFD KaEn 1B 3 cc/kgBB -Ambroxol 3x1 cth -Paracetamol 4x1 -Teofilin 25 mg + salbutamol 0,5 mg + metilprednisolon mg = 3x1 3

-Batuk (+) -Sesak berkurang

Nadi : 82x/menit Suhu : 36,5 C RR : 36x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/Hidung : NCH -/-, secret -/Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar Paru : Suara nafas vesikuler, rh-/-, wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, datar, BU + 3x/menit, hepar lien tidak teraba membesar, timpani Extremitas : akral hangat

-Inhalasi 2x = NaCl 0,9% + combivent -IVFD KaEn 1B 3 cc/kgBB -Ambroxol 3x1 cth -Paracetamol 4x1 -Teofilin 25 mg + salbutamol 0,5 mg + metilprednisolon mg = 3x1 3

30/1/2013 -demam menurun -Batuk (+) -pilek (-) -Sesak berkurang - makan dan minum baik

KU : TSS/CM Nadi : 128x/menit, regular, cukup Suhu : 36,4 C RR : 32x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/-, Hidung : NCH -/-, Paru : Suara nafas vesikuler, rh+/+, wh-/-

Asma

-Inhalasi 2x = NaCl 0,9% + combivent -Ambroxol 3x1 cth -Paracetamol 4x1 -Teofilin 25 mg + salbutamol 0,5 mg + metilprednisolon mg = 3x1 3

64

Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, datar, BU + 3x/mnt LAPORAN KASUS 5 BAGIAN KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK RSUD BUDHI ASIH
III. IDENTITAS PASIEN

Nama Tempat dan Tanggal Lahir Usia Jenis Kelamin Agama Alamat Identitas Orang Tua Ayah Nama Usia Agama Suku Bangsa Alamat Pekerjaan Penghasilan Ibu Nama Usia Agama Suku Bangsa Alamat Pekerjaan

: An. S : Jakarta, 5 februari 2010 : 3 tahun : perempuan : Islam : KP Dukuh Jakarta

: Tn. Z : 35 tahun : Islam : Jawa : KP Dukuh Jakarta : karyawan : Rp. 3.000.000/ bulan : Ny. O : 30 tahun : Islam : jawa : KP Dukuh Jakarta : Ibu Rumah Tangga 65

Hubungan dengan orang tua : Anak kandung.

II. ANAMNESIS Dilakukan secara Alloanamnesis dengan Ny. O (ibu kandung pasien) Lokasi Tanggal / waktu KELUHAN UTAMA Demam naik turun sejak 4 hari smrs KELUHAN TAMBAHAN Setelah perawatan hari 1 os sesak RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Pasien perempuan datang ke IGD RSUD Budhi Asih dibawa oleh ibunya dengan keluhan demam sejak 4 hari SMRS. Demam pada perabaan tidak terlalu tinggi, suhu meningkat pada malam hari, teraba hangat pada siang hari. Ibu os member obat sirup penurun panas, panas tidak turun, dibawa ke RSUD Budhi asih. Perawatan hari pertama os mulai terlihat sesak dan batuk- batuk kering dan muntah saat batuk. Os merasa lebih nyaman jika tempat tidur ditinggikan. Os belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Penyakit Alergi Cacingan Demam Berdarah Demam Thypoid Otitis Umur Penyakit Difteria Diare Kejang Kecelakaan Morbili Umur Penyakit Jantung Ginjal Darah Radang paru Tuberkulosis Umur : Bangsal lantai V : 26 januari 2013

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA 66

Kedua orangtua pasien tidak sedang menderita keluhan yang sama seperti pasien.

RIWAYAT KEHAMILAN DAN KELAHIRAN KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Perawatan antenatal KELAHIRAN Tempat kelahiran Penolong persalinan Cara persalinan Masa gestasi Keadaan bayi Rutin kontrol ke dokter

1x/bulan Rumah sakit Dokter Operasi SC a/I riwayat SC 9 bulan Berat lahir : 3500 gram Panjang lahir : 50 cm Langsung menangis (+)

Kesan : Riwayat kehamilan dan persalinan normal, dalam keadaan baik RIWAYAT PERKEMBANGAN: Pertumbuhan gigi I Psikomotor Tengkurap Duduk Berdiri Berjalan Bicara : 6 bulan : 7 bulan : 12 bulan : 12 bulan : 17 bulan : 9 bulan

Kesan : Riwayat tumbuh kembang baik dan tidak ada keterlambatan psikomotor RIWAYAT MAKANAN : Umur (bulan ) 02 24 ASI/PASI ASI ASI Buah / Biskuit Bubur Susu Nasi Tim 67

46 68 8 10 10 12

ASI ASI ASI ASI

q. Riwayat Imunisasi : Vaksin BCG DPT / PT Polio Campak Hepatitis B Dasar ( umur ) 0 bulan 2 bulan 0 bulan 9 bulan 0 bulan 1 bulan 6 bulan 4 bulan 2 bulan 6 bulan 4 bulan 6 bulan Ulangan ( umur )

Kesan: Riwayat imunisasi dasar pasien lengkap, ulangan belum dilakukan. RIWAYAT KELUARGA r. corak reproduksi No. Tanggal 1. 2. lahir (umur) 12 tahun 3 tahun Jenis kelamin Laki- laki perempuan Hidup Lahir mati Abortus Mati (sebab) Keterangan kesehatan Sehat Sakit

s. Riwayat Pernikahan Nama Perkawinan keUmur saat menikah Pendidikan terakhir Agama Suku bangsa Keadaan kesehatan Ayah Tn. Z Satu 25 tahun Sarjana Islam Jawa Sehat Ibu Ny. O Satu 23 tahun SMA Islam Jawa Sehat

Kesan: kedua orang tua sehat t. Riwayat Keluarga Orang Tua Pasien Tidak ada anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama, tidak ada riwayat darah tinggi, kencing manis, asma, sakit jantung maupun penyakit sistemik lainnya dalam keluarga. 68

u. Riwayat Anggota Keluarga Lain yang Serumah Tidak ada anggota keluarga lain yang tinggal 1 rumah dengan pasien RIWAYAT LINGKUNGAN PERUMAHAN Perumahan Keadaan rumah : Rumah milik sendiri : Pasien tinggal bersama kedua orang tua. Rumah terdiri dari tiga kamar tidur dan ruang tamu serta satu kamar mandi. Terdapat sebuah ventilasi dan 4 jendela. Sumber air bersih dari PAM. Pembuangan sampah 3 hari sekali diangkut oleh petugas kebersihan. Daerah lingkungan : Rumah terletak di daerah padat penduduk. Kesimpulan keadaan lingkungan : Kesehatan lingkungan tempat tinggal pasien cukup baik III.PEMERIKSAAN FISIK Dilakukan pada tanggal 26 januari 2013 pukul 14.00 WIB Keadaan Umum : Tampak sakit berat Kesadaran Tanda Vital Tekanan Darah : 90/60 mmHg : Compos Mentis

Nadi : 80 x/menit, reguler, lemah Suhu : 37,8C Pernapasan Data Antropometri Berat Badan Tinggi Badan Lingkar Kepala : 12 kg : 93 cm : 48 cm (normocephali) : 48 x/menit, teratur, tipe thorakal abdominal

Status Gizi BB/U: (12/12) x 100 %= 100% TB/U: (93/87) x 100 % = 106 % Gizi baik Tinggi Normal 69

BB/TB: (12/13) x 100 % = 92% Kepala dan Leher Kulit Kepala Rambut Mata Hidung Telinga Mulut Bibir Lidah Tonsil Tenggorok Leher Thoraks Paru-paru

Gizi baik

Berdasarkan data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa status gizi pasien baik : Warna kuning langsat, sianotis (-), ikterik (-) : Normocephali : warna hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut : Pupil bulat isokor +/+, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+ : Bentuk normal, septum deviasi (-), nafas cuping hidung (-) :Normotia, liang telinga lapang, membran timpani sulit dinilai, serumen -/-, refleks cahaya sulit dinilai : simetris, oral higiene cukup baik, gigi geligi caries : simetris, merah muda, pucat (-), sianosis (-), kering (+) : Normoglosia, kotor (-), tremor (-) : T1-T1 tenang, hiperemis (-) : faring hiperemis (-), uvula ditengah : KGB dan tiroid tidak teraba membesar

Inspeksi : bentuk dada normal, simetris saat statis dan dinamis, tipe abdominotorakal Palpasi Perkusi Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi : Distensi (+), eflouresensi (-) : Bising usus (+) 1x/menit : Timpani di semua kuadran abdomen 70 : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis teraba pada ICS V 1 cm medial garis midclaviculari sinistra, thrill : Redup : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, murmur (-), gallop (-) : gerak nafas simetris, vocal fremitus kanan dan kiri menurun : redup pada kedua basal paru

Auskultasi : Suara nafas vesikular, rhonki halus +/+, wheezing -/-

Palpasi Genitalia Ekstremitas atas

: tegang, hepar dan lien sulit dinilai, shifting dullness (+) : tanda-tanda radang (-), ulkus (-), sekret (-) : simetris, akral hangat, atrofi (-), sianosis (-), gerakan involunter (-), patologis (-)

Ekstremitas bawah : Akral hangat, atrofi (-), sianosis (-), gerakan involunter (-), patologis (-)

IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Hasil pemeriksaan pada tanggal 27 Januari 2013 HASIL PEMERIKSAAN 16.5 g/dL 49 % 5,2 rb /uL 21 rb/uL

JENIS PEMERIKSAAN Hematologi Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit

NILAI NORMAL 10,8 12,8 g/dL 31 - 43 % 5.5 15.5 rb/uL 217 - 497 rb/uL

V.RESUME Seorang anak perempuan usia 3 tahun dengan keluhan demam sejak 4 hari SMRS. sesak sejak 1 hari perawatan di RS. Sesak makin lama makin berat. Os juga terdapat batuk dengan dahak tidak dapat dikeluarkan. Demam naik turun. Os batuk batuk dan lebih nyaman jika duduk. Pada pemeriksaan fisik didapatkan dengan status gizi baik, suhu 37,7C, nadi 80x/menit, pernafasan 48x/menit. Pada pemeriksaan, retraksi sela iga (+), ronki halus di basal paru +/+ Berdasarkan pemeriksaan darah, jumlah leukosit 5,2 ribu/uL, HB 16,5 g/dl, HT 49%, 21 ribu/uL. VI. DIAGNOSIS BANDING Dengue shock syndrome dengan efusi pleura Viral infection

VII. DIAGNOSIS KERJA 71

Dengue shock syndrome dengan efusi pleura VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN Pemeriksaan darah serial Rontgen thorax AP-Lateral

IX. TERAPI Non medikamentosa

Tirah baring Puasa Observasi tanda- tanda vital jika sesak pro ICU

Medikamentosa O2 nasal 6 L/menit IVFD KaEn 3A 3 cc/kgBB Aminofusin 250 cc/ hari Inj cefotaxim 3x300mg Inj. OMZ 1x20mg

X. PROGNOSIS Ad vitam Ad functionam Ad sanasionam : ad bonam : ad bonam : ad bonam

72

FOLLOW UP
27/1/2013 -Demam (-) -sesak (+) -batuk (+) KU : TSS/CM Suhu : 37,2 C TD: 90/60 mmHg RR: 48x/menit Nadi : 112x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/Hidung : NCH -/-, Paru : Suara nafas vesikuler menurun, rh+/+, wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, buncit, BU + 1x/menit, NT (-), shifting dullness + Extremitas : akral hangat (+) DHF + efusi pleura -O2 nasal 6 L/mnit -IVFD KaEn 3A 3 cc/kgBB -Aminofusin 250 cc/ hari -Inj 3x300mg -Inj. OMZ 1x20mg cefotaxim

28/1/2013 -Demam (-) -Batuk (+) -Sesak (+)

KU : TSS/CM Nadi : 120x/menit Suhu : 36,5 C RR : 50x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/-

DHF + efusi pleura

-O2 nasal 6 L/mnit -IVFD KaEn 3A 3 cc/kgBB -Aminofusin 250 cc/ hari -Inj cefotaxim 73

Hidung : NCH -/-, secret -/Paru : Suara nafas vesikuler menurun, rh+/+, wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, buncit, BU + 3x/menit, shifting dullness (+) Extremitas : akral hangat 30/1/2013 -demam menurun -Batuk (+) -Sesak berkurang KU : TSS/CM Nadi : 120x/menit, regular, cukup Suhu : 37 C RR : 42x/menit Kepala : normocephali Mata : CA-/-, SI -/-, Hidung : NCH -/-, Paru : Suara nafas vesikuler menurun, rh-/-, wh-/Jantung : BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-) Abdomen : supel, cembung, BU + 3x/mnt DHF + efusi Pleura

3x300mg -Inj. OMZ 1x20mg

-O2 nasal 2 L/mnit -IVFD KaEn 3A 3 cc/kgBB -Aminofusin 250 cc/ hari -Inj 3x300mg -Inj. OMZ 1x20mg cefotaxim

74

DAFTAR PUSTAKA
1. Said M. Pneumonia. In: Rahajoe NN, Supriyatno B, Setyanto DB. Buku Ajar Respirologi Anak. 1st ed. Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2008. H. 350-65. 2. Jr william w.hay, Levin myron j, sondheimer judith m, Deterding robin R.Lange current diagnosis and treatment in pediatric.United states of america: The McGraw-Hill companies;2007.
3. Bartlett, JG, Sexton, DJ, Thorner, AR, Aspiration Pneumonia In Adult.

UpToDate For Patients 2009 ( http://www.uptodate.com/, 24 september 2012


4. Swaminathan,

A.

Naderi

S.

Pneumonia

aspiration.

(http://emedicine.medscape.com/article/954506 .accessed on 24 september 2012


5. IDAI. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia, Jakarta : 79-

83 6. Advani N. Penatalaksanaan Gagal Jantung pada anak. Updates in pediatric emergencies. Jakarta: balai penerbit FKUI; 2002. H. 87-94
7. http://www.scribd.com/doc/33659310/Askep-Bronkopneumonia-Pada-Anak-

Roy. Accessed on 16 september 2012


8. Louden Mark. Pediatric, bronchiolitis. (http://www.emedicine.medscape.com) 9. Sherwood L. Sistem Pernafasan. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi

ke 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001.


10. http://www.fkumyecase.net/wiki/index.php?page=Bronkopneumonia.accessed

on 15 januari 2011.
11. Sherwood L. Sistem Pernafasan. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi

ke 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001.


12. Reinhard V. Putz, Reinhard Pabst. Atlas Anatomi Manusia Sobotta Jilid 2.

Edisi ke 21. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2000.


13. Prescilla MP, MD. Pediatric, Guillan Bare Syndrome. Available at:

http://emedicine.medscape.com/article/964132-overview. September 12, 2012.

Accessed

on

75

14. Arvin ann, Kliegman Robert, Behrman waldo. Nelson Ilmu kesehatan anak.EGC.Jakarta.2000.

76