Anda di halaman 1dari 15

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan meningkatnya jumlah penderita penyakit jiwa, terutama gangguan kecemasan. Berbagai macam krisis yang terjadi sebenarnya bukan krisis ekonomi sebagai pangkal masalahnya, melainkan mendasar pada kesehatan mental bangsa ini sendiri. Minimnya perhatian terhadap kesehatan mental bangsa termanifestasi dalam begitu banyak masalah yang disebut krisis multidimensional. Pernyataan ini dinyatakan dengan jelas oleh dr. Danardi Sosrosumihardjo, Sp.K.J., dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dalam konferensi pers Konvensi Nasional Kesehatan Jiwa ke-2, yang bertema Kesehatan Jiwa Masyarakat, Kesehatan Jiwa Bangsa, pada hari Kamis (9/ 10) di Jakarta.

Pernyataan ini bukanlah tanpa dasar. Krisis ekonomi yang terus berkepanjangan ternyata meninggalkan kisah-kisah menyedihkan dengan meningkatnya jumlah penderita ganngguan jiwa, terutama jenis anxietas (gangguan kecemasan). Gejala gangguan kesehatan mental yang mencakup mulai dari gangguan kecemasan, depresi, panik hingga gangguan jiwa yang berat seperti Schizoprenia hingga pada tindakan bunuh diri, semakin mewabah di tengah masyarakat. Dari sekian jumlah penderita yang ada baru 8% yang mendapatkan pengobatan yang memadai. Sedangkan selebihnya tidak tertangani.

Masalah gangguan jiwa yang menyebabkan menurunnya kesehatan mental ini ternyata terjadi hampir di seluruh negara di dunia. WHO (World Health Organization) badan dunia PBB yang menangani masalah kesehatan dunia, memandang serius masalah kesehatan mental dengan menjadikan isu global WHO. WHO mengangkat beberapa jenis gangguan jiwa seperti Schizoprenia, Alzheimer, epilepsy, keterbelakangan mental dan ketergantungan alkohol sebagai isu yang perlu mendapatkan perhatian.

Di Indonesia jumlah penderita penyakit jiwa berat sudah cukup memprihatinkan, yakni mencapai 6 juta orang atau sekitar 2,5% dari total penduduk. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga (SKMRT) pada tahun 1985 yang dilakukan terhadap penduduk di 11 kotamadya oleh Jaringan Epidemiologi Psikiatri Indonesia, ditemukan 185 per 1.000 penduduk rumah tangga dewasa menunjukkan adanya gejala gangguan kesehatan jiwa baik yang ringan maupun berat. Dengan analogi lain bahwa satu dari lima penduduk Indonesia menderita gangguan jiwa dan mental. Sebuah fenomena angka yang sangat mengkhawatirkan bagi sebuah bangsa.

B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa definisi kecemasan pada klien jiwa? 2. Apa saja gejala umum kecemasan pada klien jiwa? 3. Apa saja faktor predisposisi kecemasan pada klien jiwa? 4. Apa saja faktor presipitasi kecemasan pada klien jiwa? 5. Bagaimana penggolongan ansietas pada klien jiwa? 6. Bagaimana sumber koping kecemasan pada klien jiwa? 7. Bagaimana mekanisme koping kecemasan pada klien jiwa? 8. Bagaimana penatalaksanaan kecemasan pada klien jiwa? 9. Bagaimana penyusunan askep pada klien jiwa dengan kecemasan?

C. TUJUAN 1. Mengetahui definisi kecemasan pada klien jiwa. 2. Mengetahui gejala umum kecemasan pada klien jiwa. 3. Mengetahui faktor predisposisi kecemasan pada klien jiwa. 4. Mengetahui faktor presipitasi kecemasan pada klien jiwa. 5. Mengetahui penggolongan ansietas pada klien jiwa. 6. Mengetahui sumber koping kecemasan pada klien jiwa. 7. Mengetahui mekanisme koping kecemasan pada klien jiwa. 8. Mengetahui penatalaksanaan kecemasan pada klien jiwa. 9. Mengetahui penyusunan askep pada klien jiwa dengan kecemasan.

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi 1. Ansietas adalah perasaan yang difius, yang sangat tidak menyenangkan, agak tidak menentu dan kabur tentang sesuatu yang akan terjadi. Perasaan ini disertai dengan suatu atau beberapa reaksi badaniah yang khas dan yang akan datang berulang bagi seseorang tertentu. Perasaan ini dapat berupa rasa kosong di perut, dada sesak, jantung berdebar, keringat berlebihan, sakit kepala atau rasa mau kencing atau buang air besan. Perasaan ini disertai dengan rasa ingin bergerak dan gelisah. ( Harold I. LIEF) Anenvous condition of unrest ( Leland E. HINSIE dan Robert S CAMBELL) 2. Ansietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan akan bahaya atau frustrasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman, keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya. ( J.J GROEN)

B. Gejala Umum 1. Gejala psikologik: Ketegangan, kekuatiran, panik, perasaan tak nyata, takut mati , takut gila, takut kehilangan kontrol dan sebagainya. 2. Gejala fisik: Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala terasa ringan, pusing, ketegangan otot, mual, sulit bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di lambung dan lain-lain. Keluhan yang dikemukakan pasien dengan anxietas kronik seperti: rasa sesak nafas; rasa sakit dada; kadang-kadang merasa harus menarik nafas dalam; ada sesuatu yang menekan dada; jantung berdebar; mual; vertigo; tremor; kaki dan tangan merasa kesemutan; kaki dan tangan tidak dapat diam ada perasaan harus bergerak terus menerus; kaki merasa lemah, sehingga berjalan dirasakan beret; kadang- kadang ada gagap dan banyak lagi keluhan yang tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Keluhan yang dikemukakan disini tidak semua terdapat pada pasien dengan gangguan

anxietas kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya beberapa gejala 1 keluhan saja. Tetapi pengalaman penderitaan dan gejata ini oleh pasien yang bersangkutan biasanya dirasakan cukup gawat.

C. Faktor Predisposisi Stressor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat menyebabkan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Ketegangan dalam kehidupan tersebut dapat berupa : 1. Peristiwa traumatik, yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional. 2. Konflik emosional, yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik. Konflik antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan dapat menimbulkan kecemasan pada individu. 3. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir secara realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan. 4. Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil keputusan yang berdampak terhadap ego. 5. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu. 6. Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani stress akan mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflik yang dialami karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga. 7. Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respons individu dalam berespons terhadap konflik dan mengatasi kecemasannya. 8. Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan yang mengandung benzodizepin, karena benzodiazepine dapat menekan neurotransmiter gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan.

D. Faktor Presipitasi Stresor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat mencetuskan timbulnya kecemasan (Suliswati, 2005). Stressor presipitasi kecemasan dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu : 1. Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam integritas fisik yang meliputi : a. Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologis sistem imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal (misalnya : hamil). b. Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri, polutan lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal.

2. Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal. a. Sumber internal : kesulitan dalam berhubungan interpersonal di rumah dan tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri. b. Sumber eksternal : kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, sosial budaya.

E. Penggolongan Ansietas 1. Ansietas ringan Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan perhatian khusus. Stimulasi sensori meningkat dan membantu individu memfokuskan perhatian untuk belajar, bertindak, menyelesaikan masalah, merasakan, dan melindungi dirinya sendiri. Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan akan peristiwa kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ini lahan persepsi melebar dan individu akan berhati-hati dan waspada. a. Respon Fisiologis Sesekali nafas pendek Nadi dan tekanan darah naik Gejala ringan pada lambung

Muka berkerut dan bibir bergetar Ketegangan otot ringan Rileks atau sedikit gelisah

b. Respon Kognitif Mampu menerima rangsang yang kompleks Konsentrasi pada masalah Menyelesaikan masalah secara efektif Perasaan gagal sedikit Waspada dan memperhatikan banyak hal Terlihat tenang dan percaya diri Tingkat pembelajaran optimal

c. Respon Perilaku dan Emosi Tidak dapat duduk tenang Tremor halus pada tangan Suara kadang-kadang meninggi Sedikit tidak sabar Aktivitas menyendiri

2. Ansietas Sedang Ansietas sedang merupakan perasaan yang mengganggu bahwa ada sesuatu yang benar-benar berbeda, individu menjadi gugup atau agitasi. Misalnya, seorang wanita mengunjungi ibunya untuk pertama kali dalam beberapa bulan dan merasa bahwa ada sesuatu yang sangat berbeda. Ibunya mengatakan bahwa berat badannya turun banyak tanpa ia berupaya menurunkannya. Pada tingkat ini lahan persepsi terhadap lingkungan menurun, individu lebih memfokuskan pada hal yang penting saat itu dan mengesampingkan hal yang lain. a. Respon fisiologis Ketegangan otot sedang Tanda-tanda vital meningkat Pupil dilatasi, mulai berkeringat

Sering mondar-mandir, memukulkan tangan Suara berubah: suara bergetar, nada suara tinggi Kewaspadaan dan ketegangan meningkat Sering berkemih, sakit kepala, pola tidur berubah, nyari punggung

b. Respon kognitif Lapang persepsi menurun Tidak perhatian secara selektif Fokus terhadap stimulus meningkat Rentang perhatian menurun Penyelesaian masalah menurun Pembelajaran berlangsung dengan memfokuskan

c. Respon prilaku dan emosi Tidak nyaman Mudah tersinggung Kepercayaan diri goyah Tidak sadar Gembira

3. Ansietas berat Ansietas berat dialami ketika individu yakin bahwa ada sesuatu yang berbeda dan ada ancaman; ia memperlihatkan respon takut dan distres. Ketika individu mencapai tingkat tertinggi ansietas, panik berat, semua pemikiran rasional berhenti dan individu tersebut mengalami respon fight, flight atau freeze-yakni, kebutuhan untuk pergi secepatnya, tetap ditempat dan berjuang, atau menjadi beku atau tidak dapat melakukan sesuatu. a. Respon fisiologis Ketegangan otot berat Hiperventilasi Kontak mata buruk Pengeluaran keringat meningkat

Bicara cepat, nada suara tinggi Tindakan tanpa tujuan dan serampangan Rahang menegang, menggetakkan gigi Kebutuhan ruang gerak meningkat Mondar-mandir, berteriak Meremas tangan, genetar

b. Respon kognitif Lapang persepsi terbatas Proses berfikir terpecah-pecah Sulit berfikir Penyelesaian masalah buruk Tidak mampu mempertimbangkan informasi Hanya memerhatikan ancaman Preokupasi dengan pikiran sendiri Egosentris

c. Respon prilaku dan emosi Sangat cemas Agitasi Takut Bingung Merasa tidak adekuat Menarik diri Penyangkalan

Sedangkan menurut Menurut James P.Chaplin (2002 : 32) Kecemasan (Anxiety) terbagi 7 macam, yaitu : 1. Anxiety equivalent adalah suatu reaksi simpatetik yang kuat, seperti

detak jantung yang cepat menggantikan kecemasan yang tidak disadari. 2. Anxiety fixation adalah mempertahakan atau memindahkan reaksi kecemasan masa atau tingkat lebih dini dari perkembangan ke taraf yang lebih lanjut.

3. Anxiety hysteria adalah neurosa dengan karakteristik ketakutan gejala konversia (pengubahan, penukaran) atau dengan perwujudan konflik berupa gangguan penyakit somatis. 4. Anxiety neurosa adalah ketakutan yang tidak bias diidentifikasikan dengan suatu sebab khusus, dan dalam banyak peristiwa merembes ke wilayah terutama kehidupan seseorang. 5. Anxiety objek adalah penggantian atau pemindahan ketakutan pada suatu objek yang mewakili pribadi yang dahulunya menyebabkan timbulnya rasa ketakutan tersebut. 6. Anxiety reaction adalah pola reaksi yang kompleks ditandai oleh perasaan-perasaan kecemasan yang kuat dan disertai gejala somatic, seperti berdebarnya jantung, rasa tercekik, sesak didada, gemetaran, pingsan. 7. Anxiety tolerance adalah tingkat kecemasan yang masih dapat ditanggung seseorang tanpa menimbulkan gangguan psikologis serius atau tanpa mengakibatkan ketidakmampuan menyesuaikan diri.

F. Sumber Koping Individu dapat menanggulangi stress dan kecemasan dengan menggunakan atau mengambil sumber koping dari lingkungan baik dari sosial, intrapersonal dan interpersonal. Sumber koping diantaranya adalah aset ekonomi, kemampuan memecahkan masalah, dukungan sosial budaya yang diyakini. Dengan integrasi sumbersumber koping tersebut individu dapat mengadopsi strategi koping yang efektif (Suliswati, 2005).

G. Mekanisme Koping Kemampuan individu menanggulangi kecemasan secara konstruksi merupakan faktor utama yang membuat klien berperilaku patologis atau tidak. Bila individu sedang mengalami kecemasan ia mencoba menetralisasi, mengingkari atau meniadakan kecemasan dengan mengembangkan pola koping. Pada kecemasan ringan, mekanisme koping yang biasanya digunakan adalah menangis, tidur, makan, tertawa, berkhayal, memaki, merokok, olahraga, mengurangi kontak mata dengan orang lain, membatasi diri pada orang lain (Suliswati, 2005).

Mekanisme koping untuk mengatasi kecemasan sedang, berat dan panik membutuhkan banyak energi. Menurut Suliswati (2005), mekanisme koping yang dapat dilakukan ada dua jenis, yaitu : 1. Task oriented reaction atau reaksi yang berorientasi pada tugas. Tujuan yang ingin dicapai dengan melakukan koping ini adalah individu mencoba menghadapi kenyataan tuntutan stress dengan menilai secara objektif ditujukan untuk mengatasi masalah, memulihkan konflik dan memenuhi kebutuhan. a. Perilaku menyerang digunakan untuk mengubah atau mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan. b. Perilaku menarik diri digunakan baik secara fisik maupun psikologik untuk memindahkan seseorang dari sumber stress. c. Perilaku kompromi digunakan untuk mengubah cara seseorang mengoperasikan, mengganti tujuan, atau mengorbankan aspek kebutuhan personal seseorang. 2. Ego oriented reaction atau reaksi berorientasi pada ego. Koping ini tidak selalu sukses dalam mengatasi masalah. Mekanisme ini seringkali digunakan untuk melindungi diri, sehingga disebut mekanisme pertahanan ego diri biasanya mekanisme ini tidak membantu untuk mengatasi masalah secara realita. Untuk menilai penggunaan makanisme pertahanan individu apakah adaptif atau tidak adaptif, perlu di evaluasi hal-hal berikut : a. Perawat dapat mengenali secara akurat penggunaan mekanisme pertahanan klien. b. Tingkat penggunaan mekanisme pertahanan diri terebut apa pengaruhnya terhadap disorganisasi kepribadian. c. Pengaruh penggunaan mekanisme pertahanan terhadap kemajuan kesehatan klien. d. Alasan klien menggunakan mekanisme pertahanan.

H. Penatalaksanaan Ansietas Menurut Hawari (2008) penatalaksanaan asietas pada tahap pencegahaan dan terapi memerlukan suatu metode pendekatan yang bersifat holistik, yaitu mencangkup fisik (somatik), psikologik atau psikiatrik, psikososial dan psikoreligius. Selengkpanya seperti pada uraian berikut :

1. Upaya meningkatkan kekebalan terhadap stress, dengan cara : a. Makan makan yang bergizi dan seimbang. b. Tidur yang cukup. c. Cukup olahraga. d. Tidak merokok. e. Tidak meminum minuman keras. 2. Terapi psikofarmaka. Terapi psikofarmaka merupakan pengobatan untuk cemas dengan memakai obatobatan yang berkhasiat memulihkan fungsi gangguan neuro-transmitter (sinyal penghantar saraf) di susunan saraf pusat otak (limbic system). Terapi psikofarmaka yang sering dipakai adalah obat anti cemas (anxiolytic), yaitu seperti diazepam, clobazam, bromazepam, lorazepam, buspirone HCl, meprobamate dan alprazolam. 3. Terapi somatik Gejala atau keluhan fisik (somatik) sering dijumpai sebagai gejala ikutan atau akibat dari kecemasan yang bekerpanjangan. Untuk menghilangkan keluhan-keluhan somatik (fisik) itu dapat diberikan obat-obatan yang ditujukan pada organ tubuh yang bersangkutan. 4. Psikoterapi Psikoterapi diberikan tergantung dari kebutuhan individu, antara lain : a. Psikoterapi suportif, untuk memberikan motivasi, semangat dan dorongan agar pasien yang bersangkutan tidak merasa putus asa dan diberi keyakinan serta percaya diri. b. Psikoterapi re-edukatif, memberikan pendidikan ulang dan koreksi bila dinilai bahwa ketidakmampuan mengatsi kecemasan. c. Psikoterapi re-konstruktif, untuk dimaksudkan memperbaiki kembali (rekonstruksi) kepribadian yang telah mengalami goncangan akibat stressor. d. Psikoterapi kognitif, untuk memulihkan fungsi kognitif pasien, yaitu kemampuan untuk berpikir secara rasional, konsentrasi dan daya ingat. e. Psikoterapi psiko-dinamik, untuk menganalisa dan menguraikan proses dinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan mengapa seseorang tidak mampu menghadapi stressor psikososial sehingga mengalami kecemasan.

f. Psikoterapi keluarga, untuk memperbaiki hubungan kekeluargaan, agar faktor keluarga tidak lagi menjadi faktor penyebab dan faktor keluarga dapat dijadikan sebagai faktor pendukung. 5. Terapi psikoreligius Untuk meningkatkan keimanan seseorang yang erat hubungannya dengan kekebalan dan daya tahan dalam menghadapi berbagai problem kehidupan yang merupakan stressor psikososial.

I. Asuhan Keperawatan pada Klien Jiwa dengan Kecemasan(Ansietas)


1. PENGKAJIAN Pengkajian ditujukan pada fungsi fisiologis dan perubahan perilaku melalui gejala atau mekanisme koping sebagai pertahanan terhadap kecemasan. a. Kaji faktor predisposisi b. Kaji stressor presipitasi c. Kaji perilaku Secara langsung kecemasan dapat di ekspresikan melalui respon fisiologis dan psikologis dan secara tidak langsung melalui pengambangan mekanisme koping sebagai pertahanan melawan kecemasan. a) Respon fisiologis. Mengaktifkan system saraf otonom(simpatis dan parasimpatis) b) Respon psikologologis. Kecemasan dapat mempengaruhi aspek intrapersonal maupun personal. c) Respon kognitif. Kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir baik proses pikir maupun isis pikir, diantaranya adalah tidak mampu memperhatikan, konsentrasi menurun, mudah lupa, menurunya lapangan persepsi, bingung. d) Respon afektif. Klien akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan dan curiga berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan. Kaji penilaian terhadap stressor Kaji sumber dan mekanisme koping Rentang perhatian menurun Gelisah, iritabilitas Control impuls buruk Perasaan tidak nyaman, ketakutan, atau tidak berdaya Deficit lapangan persepsi Penurunan kemampuan berkomunikasi secara verbal

d. e. f. g. h. i. j. k.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Panik yang berhubungan dengan penolakan keluarga karena bingung dan gagal mengambil keputusan.

b. Kecemasan berat yang berhubungan dengan konflik perkawinan. c. Kecemasan sedang berhubungan dengan tekanan financial. d. Ketidakefektifan koping individu yang berhubungan dengan kematian saudara kandung. e. Ketidakefektifan koping individu berhubungan dengan dampak anak sakit. f. Ketakutan berhubungan dengan rencana pembedahan.

3. INTERVENSI KEPERAWATAN a. Panik berhubungan dengan penolakan keluarga karena bingung dan gagal mengambil keputusan. a) Kriteria hasil: - Klien tidak akan menciderai diri sendiri dan orang lain. - Klien akan berkomunikasi dengan efektif. - Klien akan menyampaikan pengetahuan tentang gangguan panik. - Klien akan mengungkapkan rasa ppengendalian diri. b) Intervensi: - Bantu klien berfokus pada pernapasan lambat dan melatihnya bernapas secara ritmik. - Bantu klien mempertahankan kebiasaan makan teratur dan seimbang. - Identifikasi gejala awal dan ajarkan klien melakukan perilaku distraksi seperti: berbicara kepada orang lain, melibatkannya dalam aktivitas fisik. - Bantu klien melakukan bicara pada diri sendiri positif yang direncanakan sebelumnya dan telah terlatih. - Libatkan klien dalam mempelajari cara mengurangi stressor dan situasi yang menimbulkan ansietas. b. Kecemasan berat berhubungan dengan konflik perkawinan. a) Kriteria hasil: - Klien mendiskusikan tentang perasaan cemasnya. - Klien mengidentifikasi respon terhadap stress. - Klien mendiskusiksn suatu topik ketika bertemu dengan perawat. b) Intervensi: - Eksplorasi perasaan cemas klien, perlihatkan diri sebagai orang yang hangat, ,menjadi pendengar yang baik. - Bantu klien mengenali perasaan cemas dan menyadari nilainya. - Melakukan kominikasi dengan teknik yang tepat dan dimulai dari topic yang ringan. - Bantu kilen mengidentifikasi respon terhadap sters.

c. Ketidakefektifan koping individu berhubungan dengan kematian saudara kandung. a) Kriteria hasil: - Klien memiliki koping terhadap ancaman. - Strategi koping positif. - Untuk mengetahui sebab biologis.

- Klien melakukan aktifitas seperti biasanya. b) Intrvensi: - Dorong klien untuk menggunakan koping adaftif dan efektif yang telah berhasil digunakan pada masa lampau. - Bantu kien melihat keadaan saat ini dan kepuasan mencapai tujuan. - Bantu klien untuk menentukan strategi koping positif. - Konseling dan penyuluhan keluarga ataun orang terdekat tentang penyebab biologis. - Dorong klien untuk melakukan aktifitas yang disukainya, hal ini akan membatasi klien untuk menggunakan mekanisme koping yang tidak adekuat. d. Ketakutan yang berhubungan dengan rencana pembedahan. a) Kriteria hasil: - Meningkatkan kesadaran diri klien. - Klien merasakan tenang dan nyaman dengan lingkungannya. - Klien memahami rasa takutnya ekstrim dan berlebihan. b) Intervensi: - Perawat harus dapat menyadari perasaan cemasnya, membuka perasaan cemasnya dan menangani secara konstruktif dan gunakan cara yang dilakukan perawat secara terapeutik untuk membantu mengatasi kecemasan klien. - Fasilitasi lingkungan dengan stimulus yang minimal, tenang dan membatasi interaksi dengan orang lain atau kurangi kontak dengan penyebab stresnya. - Berikan alternatif pilihan pengganti, tidak mengonfrontasi dengan objek yang ditakutinya, tidak ada argument, tidak mendukung fobianya, terapkan batasan perilaku klien untuk membantu mencapai kepuasan dengan aspek lain.

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan B. Saran