Anda di halaman 1dari 21

BAB II MACAM DAN URAIAN PROSES

II.1 Macam Proses Ekstraksi minyak adalah suatu cara untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan yang mengandung minyak atau lemak. Tujuan dari proses ekstraksi ini adalah untuk mendapatkan minyak atau lemak dari bahan semaksimal mungkin dengan mutu yang baik serta mendapatkan sisa atau residu yang dapat dijual kembali (Rizky Kurnia,2009). Metode pengolahan atau ekstraksi untuk pengambilan minyak biji-bijian khususnya biji jagung ada 2 cara, yaitu : Proses wet rendering Proses dry rendering Ada beberapa proses modifikasi lemak dan minyak yang biasa diigunakan untuk menghasilkan lemak atau minyak yang memenuhi syarat sebagai bahan baku margarin ada tiga macam, yaitu : 1. Interesterifikasi 2. Blending 3. Hidrogenasi II.1.1 Proses Wet Rendering Wet rendering adalah proses rendering dengan penambahan sejumlah air selama berlangsungnya proses tersebut. Cara ini dikerjakan pada ketel terbuka atau tertutup dengan menggunakan temperatur yang tinggi serta tekanan 40-60 pound . Tekanan sampai 60 pound , tekanan uap (40-60 psia). Penggunaan temperatur rendah dalam proses ini dilakukan jika diiginkan flavour netral dari minyak atau lemak. Bahan yang akan diekstraksi ditempatkan pada ketel yang dilengkapi dengan alat pengaduk, kemudian air ditambahkan dan campuran tersebut dipanaskan perlahan-lahan sampai suhu 50 oC sambil diaduk. Minyak yang terekstraksi akan naik keatas dan kemudian dipisahkan. Setelah itu biji jagung dimasukkan ke dalam mesin
II-1

II-2 Bab II Macam dan Uraian Proses

press yang bertujuan untuk memisahkan minyak dari padatan dengan sempurna. II.1.1 Proses Dry Rendering Dry rendering adalah cara rendering tanpa penambahan air selama proses berlangsung. Dry rendering dilakukan dalam ketel yang terbuka dan dilengkapi dengan steam jacket serta alat pengaduk (agitator). Bahan yang diperkirakan mengandung minyak atau lemak dimasukan ke dalam ketel tanpa penambahan air. Bahan tadi dipanasi sambil diaduk. Pemanasan dilakukan pada suhu 220-230 oF (105-110 oC). Ampas yang telah diambil minyaknya diendapkan pada dasar ketel. Minyak atau lemak yang dihasilkan dipisahkan dari ampas yang telah mengendap dan pengambilan minyak dilakukan dari bagian atas ketel. II.1.3 Diskripsi Proses Inter-esterifikasi Interesterifikasi merupakan proses pembuatan margarine yang menyangkut pertukaran gugus asil antar trigliserida. Karena trigliserida mengandung 3 gugus ester per molekul, maka peluang untuk pertukaran tersebut cukup banyak. Gugus asil dapat bertukar posisinya dalam satu molekul trigliserida atau diantara molekul trigliserida. Proses interesterifikasi dilakukan untuk pembuatan mentega putih, margarin atau enrobing fat. Mentega putih yang dibuat dengan penambahan monogliserida seringkali disebut super gliserinated shortening. Monogliserida ini bersifat aktif di bagian permukaan minyak atau lemak dan dapat dipergunakan untuk menyempurnakan dispersi lemak dalam adonan, sehingga menghasilkan bahan pangan dengan rupa dan konsentrasi yang baik.
O O O
NaOCH3

RCOR + RCOR*

RCOR* + RCOR

Pembuatan monogliserida sangat sederhana, yaitu dengan mencampurkan minyak, gliserol, dan katalisator natrium
Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

II-3 Bab II Macam dan Uraian Proses

metoksida (sekitar 0,1 persen dari berat minyak). Campuran kemudian dipanaskan pada suhu 1900F 2500F (87,7 1210 C) pada kondisi udara yang lembab sampai tercapai kesetimbangan reaksi. Pada keadaan tersebut katalisator dipisahkan dan hasil reaksi tadi didinginkan dengan cepat untuk mendapatkan kadar monogliserida yang tinggi. Pada pembuatan monogliserida secara besar-besaran, dilakukan penyaringan bertahap yang gunanya untuk mendapatkan monogliserida dalam konsentrasi yang tinggi. Interesterifikasi dapat digambarkan sebagai pertukaran gugus antara dua buah ester dimana hal ini hanya dapat terjadi apabila terdapat katalis. Katalis yang sering digunakan untuk reaksi ini adalah logam natrium atau kalium dalam bentuk metoksilat atau etoksilat. Dalam reaksi ini ion logam natrium atau kalium akan menyebabkan terbentuknya ion enolat yang selanjutnya diikuti dengan pertukaran gugus alkil. Proses interesterifikasi ini dapat digunakan untuk pembuatan margarin. Kondisi optimium dari interesterifikasi adalah kecepatan pengadukan 3500 rpm dalam waktu 120 menit.

Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-4 Bab II Macam dan Uraian Proses

Gambar II.1 Flowchart Proses Inter-esterifikasi II.1.2 Diskripsi Proses Blending Blending (pencampuran) merupakan metoda dalam modifikasi minyak atau lemak dengan mencampurkan secara fisik dua jenis minyak atau lebih. Dengan cara blending tujuan peningkatan titik cair yang diperoleh sesuai dengan yang diinginkan dapat dilakukan dengan cara menambahkan minyak yang mempunyai titik cair tinggi ke dalam campuran minyak. Perubahan nilai akibat pencampuran ini dikarenakan kandungan asam lemak dari minyak yang dicampurkan mempunyai komposisi asam lemak yang titik cairnya tinggi. Kelemahan dari metode blending yaitu adanya perbedaan ukuran molekuler antara dua jenis minyak sehingga ada kemungkinan tidak kompatibael satu sama lainnya dan dapat membentuk campuran eutektik

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

II-5 Bab II Macam dan Uraian Proses

II.1.3 Diskripsi Proses Hidrogenasi Hidrogenasi adalah proses pengolahan minyak atau lemak dengan jalan menambahkan hidrogen pada ikatan rangkap dari asam lemak, sehingga akan mengurangi tingkat ketidakjenuhan minyak atau lemak. Hidrogenasi merupakan proses pengolahan minyak atau lemak dengan jalan menambahkan hydrogen pada ikatan rangkap dari asam lemak tak jenuh, sehingga akan mengurangi tingkat ketidakjenuhan minyak dan membuat minyak bersifat plastis. Jenis proses yang digunakan adalah batch, alasan digunakan batch adalah didapatkan yield pemurnian minyak yang lebih besar. Reaksi pada proses hidrogenasi terjadi pada permukaan katalis yang mengakibatkan reaksi antara molekul-molekul minyak dengan gas hidrogen. Nikel merupakan katalis pada umumnya digunakan untuk proses hidrogenasi. Nikel lebih ekonomis dan lebih efisien daripada logam lainnya. Proses hidrogenasi dilakukan pada kondisi operasi 6 atm dengan suhu 190oC. Proses hidrogenasi merubah asam linolenat menjadi asam linoleat, serta asam linoleat diubah menjadi asam oleat. Sebelum asam oleat tersebut diubah menjadi asam stearat, asam oleat tersebut cenderung akan berubah menjadi asam iso-oleat, tetapi pada kondisi hidrogenasi yang sesuai, terbentuknya asam isooleat dapat di hindarkan. Biasanya pada pembuatan mentega putih dengan cara hidrogenasi ini, asam yang terdapat pada minyak sebagai sisa dari proses pengolahan sebelumnya, akan dihidrogenasi terlebih dahulu. Pemisahan dan pembentukan asam iso-oleat dapat di hindarkan dengan pemanasan pada suhu tinggi, konsentrasi katalisator yang tinggi serta pengadukan dan penggunaan tekanan yang rendah. Kecepatan reaksi tergantung pada sifat alamiah substansi yang dihidrogenasi, sifat dan konsentrasi katalis, konsentrasi hidrogen dan suhu, tekanan dan frekuensi pengadukan. Pada pembuatan margarin, kondisi dipilih sedemikian rupa sehingga
Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-6 Bab II Macam dan Uraian Proses

akan menghasilkan asam stearat dengan jumlah yang maksimum dan asam iso-oleat berjumlah minimum Pada proses hidrogenasi, minyak dari tangki penampung dipompa dengan mengunakan pompa centrifugal menuju tangki hidrogenasi. Sebelum ke tangki hidrogenasi, minyak dipanaskan dengan menggunakan heater sampai suhu 190oC. Pada proses hidrogenasi, minyak direaksikan dengan gas H2 untuk menjenuhkan ikatan rangkap pada minyak. Hal ini dilakukan dengan bantuan katalis Ni yang berasal dari tangki penampung nikel. Tangki hidrogenasi dilengkapi dengan pengaduk untuk memudahkan minyak bercampur dengan katalis Ni. Proses pengadukan terjadi selama 4 jam. Kondisi operasi pada tangki hidrogenasi adalah pada suhu 190oC dan tekanan 6 atm. Proses pembuatan margarine dari fraksi berat Minyak Biji Jagung dengan proses hidrogenasi ada beberapa tahapan, yaitu: 1. Tahap Netralisasi Dalam minyak atau lemak tidak hanya terdiri dari Trigliserida saja tetapi juga terkandung asam lemak bebas (FFA). Asam lemak bebas ini yang menjadi salah satu penyebab ketengikan dari minyak, karena asam lemak bebas ini lebih mudah teroksidasi. Netralisasi adalah suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (soap stock). Dalam proses netralisasi ini dipilih menggunakan larutan kaustic soda, karena lebih efisien dan lebih murah dibandingkan dengan cara netralisasi lainnya. Selain itu dengan menggunakan kaustic soda akan membantu mengurangi zat warna dan impurities dalam minyak. Larutan kaustik soda (NaOH) yang digunakan dengan konsentrasi 11,06%. Netralisasi dengan NaOH akan menyabunkan sejumlah kecil trigliserida. Reaksi antara asam lemak bebas dengan NaOH adalah sebagai berikut :
Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

II-7 Bab II Macam dan Uraian Proses

RCOOH + NaOH Asam lemak Basa Air bebas (FFA)

RCOONa

+ H2O Sabun

Pada tangki netralisasi, CPO direaksikan dengan larutan NaOH yang berasal dari tangki larutan NaOH dengan suhu operasi 70oC dan tekanan 1 atm dihasilkan soap stock dan minyak. Soap stock dipisahkan dengan menggunakan centrifuge. Soap stock hasil centrifuge ditampung didalam tangki penampung dengan suhu 70oC, sedangkan minyaknya dipompa menuju ke heater untuk dinaikkan suhunya menjadi 90 oC. 2. Tahap Bleaching (Pemucatan) Bleaching (pemucatan) ialah suatu proses pemurnian untuk menghilangkan zat-zat warna yang terkandung dalam minyak. Pemucatan dilakukan dengan cara mencampur refined oil dengan adsorben, (karbon aktif). Zat warna dalam minyak akan diserap oleh permukaan adsorben. Kebutuhan karbon aktif adalah 1,5% x berat minyak masuk. Kondisi operasi pada tangki bleaching adalah 110oC tekanan 1 atm. 3. Tahap Hidrogenasi Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjenuhkan ikatan rangkap dari asam lemak pada minyak atau lemak. Proses hidrogenasi dilakukan dengan menggunakan hydrogen murni dan ditambahkan serbuk nikel sebagai katalisator. Kebutuhan katalis nikel adalah 0,02 % dari berat refined oil yang masuk. Mekanisme proses Hidrogenasi : C17H33COOH + H2 C17H35COOH asam oleat asam stearat C17H31COOH + 2H2
Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

C17H35COOH
Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-8 Bab II Macam dan Uraian Proses

asam linoleat asam stearat Reaksi pada proses hidrogenasi terjadi pada permukaan katalis yang mengakibatkan reaksi antara molekul-molekul minyak dengan gas hidrogen. Nikel merupakan katalis pada umumnya digunakan untuk proses hidrogenasi. Nikel lebih ekonomis dan lebih efisien daripada logam lainnya. Proses hidrogenasi dilakukan pada kondisi operasi 6 atm dengan suhu 190oC. Pada proses hidrogenasi, refined oil dari tangki penampung dipompa dengan mengunakan pompa centrifugal menuju tangki hidrogenasi. Sebelum ke tangki hidrogenasi, refined oil dipanaskan dengan menggunakan heater sampai suhu 190oC. Pada proses hidrogenasi, refined oil direaksikan dengan gas H2 untuk menjenuhkan ikatan rangkap pada minyak. Hal ini dilakukan dengan bantuan katalis Ni yang berasal dari tangki penampung nikel. Tangki hidrogenasi dilengkapi dengan pengaduk untuk memudahkan minyak bercampur dengan katalis Ni. Proses pengadukan terjadi selama 4 jam. Kondisi operasi pada tangki hidrogenasi adalah pada suhu 190oC dan tekanan 6 atm. Dari tangki hidrogenasi, refined oil ditampung ke dalam tangki penampung dimana dari tangki penampung dipompa menuju filter press untuk memisahkan minyak dari nikel. Refined oil ditampung ke dalam tangki penampung untuk dialirkan ke dalam tangki emulsifikasi. 4. Tahap Deodorisasi Proses deodorisasi adalah suatu tahap pemurnian minyak yang bertujuan untuk menghilangkan bau dan rasa yang tidak enak pada refined oil. Prinsip deodorisasi dilakukan dengan cara penyulingan minyak menggunakan uap panas (steam) dalam tekanan vakum. Pada proses deodorisasi diperlukan steam sebagai stripper (untuk mengangkat bau dan rasa yang tidak enak pada refined oil). Steam yang ditambahkan adalah 10 % dari
Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

II-9 Bab II Macam dan Uraian Proses

berat feed masuk. Steam yang digunakan adalah pada tekanan 39,73 bar dan suhu 250oC. Operasi pada tangki deodorisasi ini dilakukan pada keadaan vakum dengan tujuan untuk menguapkan sebagian uap air yang masih terkandung dalam minyak, karena uap air ini akan mendegradasi trigliserida menjadi asam lemak bebas. Selain itu kondisi vakum juga bertujuan untuk menurunkan titik didih dari minyak karena minyak dapat rusak pada suhu tinggi. Deodorisasi dilakukan di dalam tabung baja yang tertutup vertical yaitu memompakan minyak ke dalam ketel deodorisasi. Kemudian refined oil tersebut dipanaskan pada suhu 260oC pada tekanan atmosfer dan selanjutnya pada tekanan rendah (dibawah 1 kPa) sambil dialiri uap panas selama 1-2 jam untuk mengangkut senyawa yang dapat menguap. Penurunan tekanan selama proses deodorisasi akan mengurangi jumlah uap yang akan digunakan dan mencegah hidrolisa refined oil oleh uap air. Pada tangki deodorisasi ini bekerja pada suhu 260oC dan tekanan 0,005 atm. 4. Tahap Emulsifikasi Proses Emulsifikasi ini bertujuan untuk mengemulsikan minyak dengan cara penambahan emulsifier untuk pencampuran fase cair dan untuk pencampuran fase minyak. Proses emulsifikasi dilakukan pada suhu 80oC dengan tekanan 1 atm. Terdapat dua tahap pada proses Emulsifikasi yaitu : a. Proses pencampuran emulsifier fase minyak Emulsifier fase minyak merupakan bahan tambahan yang dapat larut dalam minyak yang berguna untuk menghindari terpisahnya air dari emulsi air minyak terutama dalam penyimpanan. Emulsifier ini contohnya Lechitin dan vitamin A. b. Proses pencampuran emulsifier fase cair
Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-10 Bab II Macam dan Uraian Proses

Emulsifier fase cair merupakan bahan tambahan yang tidak larut dalam minyak. Bahan tambahan ini dicampurkan ke dalam air yang akan dipakai untuk membuat emulsi dengan minyak. Emulsifier fase cair ini adalah : i. Garam untuk memberikan rasa asin ii. TBHQ (di-t-butyl hydroquinone) sebagai bahan anti oksidan yang mencegah teroksidasinya minyak yang mengakibatkan minyak menjadi rusak dan berbau tengik iii. Natrium Benzoat sebagai bahan pengawet. Hasil dari tangki emulsifikasi dipompa menuju tangki votator. Tangki votator adalah tangki yang digunakan agar margarine yang dihasilkan bersifat plastis dengan adanya pengadukan di dalam tangki yang berfungsi menurunkan suhu dari 80oC menjadi 50oC dan tekanan 1 atm. Dari tangki votator dialirkan ke tangki penampung produk dengan suhu 50oC dan tekanan 1 atm, yang untuk kemudian dilanjutkan ke proses packaging.

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

II-11 Bab II Macam dan Uraian Proses

Gambar II.2 Flowchart Proses Pembuatan Margarin dari Vegetable Oil


(George T. Austin, Shreeves Chemical Process Industries, 2nd edition, 1983)

II.2 Seleksi Proses Tabel II.1 Perbandingan Proses Wet Rendering dengan Dry Rendering

No

Proses

Dry rendering 1 (proses kering)

Keunggulan 1. Selama proses berlangsung tanpa penambahan air 2. Proses berlangsung cepat

Kekurangan 1. Proses membutuhkan suhu yang tinggi 2. Proses pengambilan minyak yang dilakukan pada ketel terbuka, tidak safety 1. Proses membutuhkan waktu yang lama

Wet rendering 2 (Proses basah)

1. Proses dapat dilakukan pada ketel tertutup 2. Proses dapat dilakukan pada temperature tinggi 3. Minyak yang dihasilkan jernih tanpa impuritis

Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-12 Bab II Macam dan Uraian Proses

Pembuatan margarin di Indonesia pada umumnya menggunakan proses hidrogenasi. Proses ini lebih mudah dan produk yang dihasilkan lebih bagus dibandingkan dengan proses lainnya. Proses Winterisasi dan interesterifikasi jarang digunakan dalam industri dan belum familiar. Tabel II.2 Perbedaan Ketiga Proses Pembuatan Margarin Parameter Proses Proses Proses InterBlending Hidrogenasi esterifikasi 1. Aspek Teknis a. Proses Kontinyu Batch Batch b. Konversi 80-85 % 75-80% 85-98% c. Yield 10-25% 10-15% 5-15% 2. Kondisi Operasi a. Suhu (0C) 201 5-10 190 b. Tekanan (atm) 50 50 6 c. Waktu operasi 120 1440 240 (menit) d. Kecepatan 3500 250 100 pengadukan (rpm) Keuntungan Proses Interesterifikasi Waktu operasinya cukup singkat Proses yang digunakan kontinyu Bilangan iod tidak berpengaruh dalam proses interesterifikasi. Nilai ketidakjenuhan atau kejenuhan minyak (lemak) yang di proses dengan interesterifikasi tidak mengalami perubahan (konstan) jika tidak dilakukan pencampuran dengan bahan dari proses lain seperti fraksinasi dan hidrogenasi.
Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

II-13 Bab II Macam dan Uraian Proses

Proses ini dilakukan pada suhu rendah, dengan tujuan untuk dilakukan kristalisasi sebahagian campuran ketika pertukaran asam lemak sedang berlanjut di dalam bagian cairan.

Proses Blending
Beropersi pada suhu rendah Beropersi dengan kecepatan pengadukan sedang Proses Hidrogenasi Memiliki nilai konversi yang besar. Beroperasi pada suhu dan tekanan rendah Beroperasi dengan kecepatan pengadukan yang cukup rendah Minyak lebih stabil terhadap proses oksidasi, sehingga tahan disimpan dalam waktu yang lebih lama Minyak yang dihasilkan berbentuk padat, sehingga memudahkan proses pembuatan margarin, pembungkusan dan transportasi

Bilangan iod merupakan parameter untuk menentukan ketidakjenuhan dan kejenuhan dari hasil hidrogenasi Hidrogenasi dapat meningkatkan sifat fisika dan kimia dari minyak dan lemak
Kerugian Proses Interesterifikasi Beroperasi pada suhu dan tekanan yang tinggi. Beroperasi pada kecepatan pengadukan yang tinggi.

Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-14 Bab II Macam dan Uraian Proses

Untuk memodifikasi minyak atau lemak biasanya interesterifikasi dilakukan dengan pencampuran bahan dari proses lain seperti fraksinasi dan hidrogenasi, yang bertujuan untuk meningkatkan sifat fisika dan kimia minyak. Proses interesterifikasi kurang popular digunakan dalam memodifikasi minyak atau lemak. Proses Blending Nilai konversi yang dihasilkan lebih rendah daripada proses yang lain. Beroperasi dengan waktu yang sangat lama. Proses Hidrogenasi Beroperasi pada waktu yang cukup lama Biaya awal cukup tinggi Hidrogenasi dilakukan pada suhu tinggi, yang bertujuan untuk pengaktifan katalis nikel dan gas hidrogen tidak melebur didalam minyak yang akan menutupi permukaan katalis nikel Rasa dan bau spesifik minyak akan hilang dan nilai gizi akan turun Jumlah asam lemak tidak jenuh akan berkurang dan jumlah asam lemak jenuh akan meningkat Dari pertimbangan di atas, maka dipilih proses Hidrogenasi dengan alasan memiliki nilai konversi yang tinggi yaitu 8598 % dan beropersi pada suhu dan tekanan yang rendah, yaitu pada
Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-15 Bab II Macam dan Uraian Proses

suhu 1900C dan tekanan 6 atm, sehingga dapat meminimalisir pengeluaran nilai ekonomis. II.3 Uraian Proses Terpilih II.3.1 Diskripsi Proses Terpilih Pembuatan margarin dari minyak Jagung dengan proses wet rendering dan hidrogenasi melewati 5 tahapan proses, yaitu : Proses Netralisasi, Proses Bleaching, Proses Hidrogenasi, Proses Deodorisasi dan Proses Emulsifikasi. II.3.1.1 Tahap Persiapan Bahan baku yang disimpan didalam Silo (F-111) selanjutnya ditransportasikan menuju ke bucket elevator (J-113) dengan menggunakan alat belt conveyor (J-112) untuk dimasukkan ke dalam steam cooker (D-110) dan dilakukan proses pemasakan. II.3.1.2 Tahap Pemasakan dan pemisahan Pada tahap ini biji jagung dimasukkan dalam steam cooker (D-110) dimana suhu operasi dijaga pada suhu 90oC . Pada proses pemasakan ini terjadi denaturalisasi dan koagulasi protein. Dengan gaya sentrifugal biji jagung tersebut masuk kedalam alat pengepresan yang berupa expeller press (J-114). Di dalam expeller press ini akan dihasilkan fase liquid yang disebut press liquor dan fase padat yang disebut press cake. Liquid yang dihasilkan masih bercampur dengan padatan-padatan dan zat pengotor lainnya. Minyak hasil pengepresan kemudian dialirkan ke centrifuge (H-116). Dalam proses ini bertujuan untuk memisahkan minyak dari biji dan kulit/ampas yang masih terkandung di dalamnya setelah proses pengepresan. Minyak hasil centrifuge dialirkan ke buffer tank (F-122). Sedangkan bungkil dari expeller press ditempatkan ke dalam tangki penampung (F117).Pada buffer tank (F-122) dijaga agar jumlah feet yang masuk ke centrifuge (H-124) tetap konstan dan suhu dijaga sebesar 80oC,
Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-16 Bab II Macam dan Uraian Proses

Suhu didalam buffer (F-241) sebelum dialirkan menuju centrifuge (H-124) dijaga sebesar 90oC. Didalam centrifuge (H-124) akan terjadi pemisahan antara minyak dan air dengan prinsip sentrifugasi sehingga didapatkan minyak jagung yang lebih murni. Minyak jagung yang telah terpisah selanjutnya ditampung pada tangki minyak (F-125). II.3.1.3 Tahap Netralisasi Netralisasi adalah suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau lemak dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya sehingga membentuk sabun (soap stock). Dalam minyak atau lemak tidak hanya terdiri dari Trigliserida saja tetapi juga terkandung asam lemak bebas (FFA). Asam lemak bebas ini yang menjadi salah satu penyebab ketengikan dari minyak, karena asam lemak bebas ini lebih mudah teroksidasi. Pada proses netralisasi, minyak dari tangki penampung (F125) pada kondisi 600C dialirkan dengan menggunakan pompa positive displacement (L-211), kemudian dipanaskan dengan heater (E-212) sampai suhu 750C dengan tekanan 1 atm untuk memecahkan emulsi yang terbentuk sehingga memudahkan kerja tangki netralisasi (R-210). Selanjutnya minyak pada tangki (R210) direaksikan dengan NaOH yang berasal dari tangki penampung NaOH (H-213). Dari proses netralisasi, dihasilkan soap stock dan minyak. Soap stock dan minyak dipisahkan dengan menggunakan centrifuge (H-214). Soap stock ditampung pada tangki penampung (F-215) dan minyak dialirkan ke dalam tangki bleaching (M-220). II.3.1.4 Tahap Bleaching (pemucatan) Pemucatan ialah suatu proses pemurnian untuk menghilangkan zat-zat warna yang terkandung dalam minyak. Pemucatan dilakukan dengan cara mencampur minyak dengan adsorben, seperti bleaching earth (tanah pemucat) atau karbon
Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

II-17 Bab II Macam dan Uraian Proses

aktif. Zat warna dalam minyak akan diserap oleh permukaan adsorben. Pada proses pemucatan (bleaching), minyak dari tangki hetralisasi (R-210) dialirkan dengan menggunakan pompa positive displacement (L-221) melewati heater (E-222) untuk dipanaskan sampai suhu 110oC untuk mempermudah kerja tangki bleaching, kemudian dialirkan ke dalam tangki bleaching (M220). Proses pemucatan minyak dilakukan dengan menambahkan adsorben karbon aktif dari tangki penampung karbon aktif (F223). Tangki bleaching dilengkapi dengan pengaduk hal tersebut bertujuan agar minyak dan karbon aktif dapat bercampur dan jumlah karbon aktif yang ditambahkan sebanyak 1,5 persen dari berat minyak. Setelah proses bleaching selesai, minyak ditampung ke dalam tangki penampung (F-224) kemudian minyak dipompa dengan menggunakan pompa positive displacement (L-225) menuju filter press (H-226). Filter press digunakan untuk memisahkan minyak dari karbon aktif, kemudian minyak ditampung dalam tangki penampung (F-228) sebelum dialirkan ke tangki hidrogenasi (R-232), sedangkan karbon aktif ditampung dalam tangki penampung (F-227) II.3.1.5 Tahap Hidrogenasi Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjenuhkan ikatan rangkap dari asam lemak pada minyak atau lemak. Proses hidrogenasi dilakukan dengan menggunakan hydrogen murni dan ditambahkan serbuk nikel sebagai katalisator. Mekanisme proses Hidrogenasi : RCH=CHCH2COOHR + H2 R-CH2CH2CH2COOHR Ni Reaksi pada proses hidrogenasi terjadi pada permukaan katalis yang mengakibatkan reaksi antara molekul-molekul minyak dengan gas hidrogen. Nikel merupakan katalis pada umumnya digunakan untuk proses hidrogenasi. Nikel lebih ekonomis dan lebih efisien daripada logam lainnya.
Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-18 Bab II Macam dan Uraian Proses

Pada proses hidrogenasi, minyak dari tangki penampungan (F-228) dipompa dengan menggunakan pompa positive displacement (L-233) menuju tangki hidrogenasi melewati heater (E-234) untuk dipanaskan sampai suhu 190oC, kemudian dialirkan menuju tangki hidrogenasi (R-232). Pada proses hidrogenasi, minyak Biji jagung direaksikan dengan H2 yang berasal dari tangki penampung gas H2 (F-236). Untuk menjenuhkan ikatan rangkap pada minyak dilakukan dengan bantuan katalis Ni dari tangki penampung nikel (F-235). Tangki hidrogenasi dilengkapi dengan pengaduk untuk memudahkan minyak bercampur dengan katalis Ni, kondisi operasi pada tangki hidrogenasi adalah pada suhu 190oC dan tekanan 1 atm. Dari tangki hidrogenasi (R-232), minyak ditampung ke dalam tangki penampung (F-237), kemudian minyak dialirkan dengan menggunakan pompa positive displacement (L-238) menuju filter press (H-239) untuk memisahkan minyak dari nikel. Minyak ditampung ke dalam tangki penampung (F-241) untuk dialirkan menuju tangki deodorisasi (D-246), sedangkan nikel ditampung dalam tangki penampung (F-240). II.3.1.6 Tahap Deodorasi Proses Deodorisasi adalah suatu tahap pemurnian minyak yang bertujuan untuk menghilangkan bau dan rasa yang tidak enak pada minyak. Prinsip deodorisasi dilakukan dengan cara penyulingan minyak menggunakan uap panas (steam) dalam tekanan vakum. Pada proses deodorisasi diperlukan steam sebagai stripper (untuk mengangkat bau dan rasa yang tidak enak pada minyak). Operasi dilakukan pada keadaan vakum dengan tujuan untuk menguapkan sebagian uap air yang masih terkandung dalam minyak, karena uap air ini akan mendegradasi trigliserida menjadi asam lemak bebas. Selain itu kondisi vakum juga bertujuan untuk menurunkan titik didih dari minyak karena minyak dapat rusak pada suhu tinggi.
Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-19 Bab II Macam dan Uraian Proses

Pada proses deodorisasi, minyak dari tangki penampung (F241) dipompa dengan menggunakan pompa positive displacement l (L-247) menuju tangki deodorisas, proses deodorisasi terjadi pada suhu yang tinggi dan pada tekanan yang rendah, kondisi operasi pada proses ini adalah suhu 250 0C dan tekanan 0,005 atm dengan pertimbangan bahwa pada suhu tersebut fraksi bukan minyak telah teruapkan seperti air, zat penyebab bau, FFA dan impuritis yang lain karena pada umumnya zat zat tersebut lebih volatile daripada minyak. Dalam tangki deodorisasi (D-246) dipasang barometric condenser (E-248) yang digunakan untuk menangkap uap pada tangki deodorisasi (D-246) dan jet ejector (E-249) yang digunakan untuk memvakumkan tangki deodorisasi (D-246) Setelah proses deodorisasi, minyak dialirkan ke dalam cooler (E-250) untuk menurunkan suhu dari 250oC menjadi 80oC untuk mempermudah kerja tangki emulsifikasi (H-255). II.3.1.6 Tahap Emulsifikasi Proses Emulsifikasi ini bertujuan untuk mengemulsikan minyak dengan cara penambahan emulsifier untuk pencampuran fase cair dan untuk pencampuran fase minyak. Terdapat dua tahap pada proses Emulsifikasi yaitu : a. Proses pencampuran emulsifier fase minyak Emulsifier fase minyak merupakan bahan tambahan yang dapat larut dalam minyak yang berguna untuk menghindari terpisahnya air dari emulsi air minyak terutama dalam penyimpanan. Emulsifier ini contohnya Lechitin dan vitamin A. b. Proses pencampuran emulsifier fase cair Emulsifier fase cair merupakan bahan tambahan yang tidak larut dalam minyak. Bahan tambahan ini dicampurkan ke dalam air yang akan dipakai untuk membuat emulsi dengan minyak. Emulsifier fase cair ini adalah : i. Garam untuk memberikan rasa asin ii. TBHQ (di-t-butyl hydroquinone) sebagai bahan anti oksidan yang mencegah teroksidasinya minyak yang mengakibatkan minyak menjadi rusak dan berbau tengik
Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

II-20 Bab II Macam dan Uraian Proses

Natrium Benzoat sebagai bahan pengawet.


(Baileys, 1950)

Pada proses emulsifikasi, minyak dari cooler (E-250) untuk menurunkan suhu dari 250oC menjadi 80oC dipompa dengan menggunakan pompa positive displacement (L-256) menuju tangki emulsifikasi (H-255). Pada tangki emulsifikasi (H-255) dilakukan penambahan emulsi fase minyak yang berasal dari tangki penampung EFM (F-257) dan emulsi fase air yang berasal dari penampung EFC (F-258) agar didapat margarin dengan komposisi yang diinginkan. Dari tangki emulsifikasi (H-256) minyak dialirkan menuju tangki votator (H-310) dengan menggunakan pompa positive displacement (L-311). Tangki votator (H-310) adalah tangki yang digunakan untuk menurunkan suhu margarin dari 800C menjadi 300C pada tekanan 1 atm agar produk yang dihasilkan bersifat plastis dan lebih mudah untuk dikemas. Dari tangki Votator dialirkan ke tangki penampung produk (F-312) margarin

II.3.2 Blok Diagram Proses Terpilih


NaOH Karbon Aktif

Steam

Tahap Persiapan Minyak 90 C 1 atm


o

Tahap Netralisasi 75oC 1 atm

Tahap Bleaching 110oC 1 atm

emulsifier

Ni dan H2

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi

Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

II-21 Bab II Macam dan Uraian Proses

Tahap Emulsifikasi 80oC 1 atm

Tahap Deodorisasi 250oC 0,005 atm


Steam 250oC 39,73 atm

Tahap Hidrogenasi 190oC 1 atm

Margarin 30oC 1 atm

Program Studi DIII Teknik Kimia FTI-ITS

Pabrik Margarin dari Minyak Jagung dengan Proses Hidrogenasi