Anda di halaman 1dari 19

Industri Rumput Laut di Indonesia

2/19/2013 Dinamika Maju Usaha Yonathan

Contents
Pendahuluan ................................................................................................................................................. 3 Rumput laut .................................................................................................................................................. 4 Budidaya ....................................................................................................................................................... 8 Pengolahan ................................................................................................................................................. 14 Manfaat....................................................................................................................................................... 16 Pasar dan Perkembangan ........................................................................................................................... 19

Industri Rumput Laut di Indonesia


Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas laut mencapai 5,8 juta km2 dan panjang garis pantai mencapai 95.181 km, serta jumlah pulau sebanyak 17.504 pulau (KKP 2009). Indonesia memiliki potensi sumberdaya yang cukup besar, terutama sumberdaya perikanan laut baik dari segi kuantitas maupun diversitas dengan sejumlah keunggulan komparatif sekaligus kompetitif yang sangat tinggi. Rumput laut merupakan salah satu komoditas strategis dalam bidang kelautan disamping udang dan tuna. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia memiliki luas area untuk kegiatan budidaya rumput laut mencapai 1.110.900 ha, tetapi pengembangan budidaya rumput laut baru memanfaatkan lahan seluas 222.180 ha atau 20% dari luas areal potensial. Hal ini menunjukkan bahwa masih terbuka peluang untuk mengembangkan usaha budidaya rumput laut di Indonesia. Potensi lahan pengembangan budidaya rumput laut tersebar di seluruhwilayah Indonesia dimana sebagian besar potensi berada di daerah Papua, Maluku, Sulawesi Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Jawa Timur, dan Bali (DKP 2005). Jenis rumput laut yang dikembangkan di Indonesia antara lain adalah Kappaphycus alvarezii (cottonii), Eucheuma denticulatum (spinosum) dan Gracilaria sp. Volume produksi rumput laut Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan yang berarti, khususnya pada volume produksi budidaya. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan (2009), volume produksi rumput laut Indonesia pada tahun 2005 mencapai 910.636 ton (basah). Pada tahun 2009, jumlah tersebut meningkat menjadi sebesar 2.574.000 ton (basah). Rata-rata peningkatan produksi rumput laut per tahun mencapai 30,2%. Produksi rumput laut Indonesia sebagian besar diekspor ke beberapa negara, seperti China, Hongkong, Filipina, Spanyol, Denmark, USA, Korea, dan Prancis. Indonesia diyakini merupakan salah satu negara penghasil rumput laut terbesar di dunia, khususnya untuk rumput laut penghasil carrageenan, yaitu jenis Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum. Saat ini diperkirakan produksi rumput laut Indonesia untuk jenis tersebut sudah melampaui produksi rumput laut Filipina yang merupakan negara produsen rumput laut terbesar di dunia. Menurut Dakay (2008), rata-rata produksi rumput laut Filipina pada tahun 2002-2007 cenderung menurun dengan rata-rata penurunan hingga mencapai 0,61%. Sementara, produksi rumput laut Indonesia pada periode yang sama mengalami peningkatan sebesar 257,98% dengan rata-rata kenaikan per tahun mencapai 29,72%. Tahun 2007 jumlah produksi rumput laut penghasil carrageenan di Indonesia mencapai 92.000 ton (kering).1

Institut Pertanian Bogor(2011). Model Pengembangan Klaster Industri Rumput Laut, http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/52735/BAB%20I%20Pendahuluan.pdf? sequence=3
1

Rumput laut
Rumput laut termasuk jenis ganggang pada umumnya ganggang dapat diklasifikasikan menjadi kelas yaitu : ganggang hijau (chloropheceae), ganggang hijau biru (cyanophyceae), ganggang coklat (pheaceophyceae) dan ganggang merah (rhodophyceae). Ganggang hijau dan ganggang hijau biru banyak hidup dan berkembang biak di air tawar, sedangkan ganggang coklat dan ganggang merah memiliki habitat laut yang biasanya lebih dikenal dengan rumput laut. Ganggang cokelat lebih dikenal sebagai rumput karang atau rockweed, sering dimanfaatkan untuk industri alginat, sedangkan ganggang merah merupakan sumber bahan baku bagi industri agar-agar, carragenan dan fulcellaran serta produk-produk lainnya. Rumput laut atau seaweed merupakan bagian terbesar dari rumput laut yang tumbuh melekat erat pada substrat pada yang terdapat di lautan seperti batu-batuan, karang dan bangkai kulit karang. Dalam pertumbuhannya rumput laut memerlukan cahaya matahari untuk proses photosynthesa, karena itu meskipun hidupnya di bawah permukaan laut tetapi tidak dapat terlalu dalam. Pada umumnya rumput laut terdapat di sekitar pantai dalam jumlah dan jenis beragam, namun hanya beberapa jenis saja yang dapat dimakan karena alasan rasa. Walaupun sebenarnya ada puluhan jenis rumput yang tumbuh di perairan Indonesia, jenis rumput laut yang umumnya bernilai ekonomis:

a. Eucheuma Divisio : Rhodophyta Kelas : Rhodophyceae Bangsa : Gigartinales Suku : Solierisceae Marga : Euecheuma Jenis : E. spinosum dan E cottonii

Gambar 1: E.cottonii

Gambar 2: E.spinosum

Nama untuk jenis ini nama dagangnya lebih dikenal adalah E ,cottonii , ciri cirinya Yaitu thalus silindris, permukaan yang licin, cartilageneus (menyerupai tulang rawan/muda), berwarna hijau terang, hijau olive dan coklat kemerahaan. Percabangan thallus berujung runcing atau tumpul,ditumbui nodulus (tonjolan tonjolan), duri lunak tumpul untuk melindungi gametangia. Percabangan bersifat alternates ( selang seling), tidak beraturan, serta dapat bersifat dichotomus (percabangan dua dua), atau trichotomus (system percabangan tiga tiga). Habitat rumput laut ini memerlukan sinar matahari untuk proses foto sintesis. Oleh karena itu rumput laut ini hanya hidup didaerah lapisan fotik, yaitu kedalaman sejauh sinar matahari masih dapat
4

menembus kedalaman air. Di alam jenis ini hidup berkumpul dalam satu komunitas atau koloni dan indikator jenisnya hidup di rataan terumbu karang dangkal sampai kedalaman 6 m, melekat di batu karang atau benda keras lainnya. Faktor yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan jenis ini yaitu cukup arus deras dengan salinitas (kadar garam) yang stabil yaitu berkisar 28 -34 per mil. Oleh karena itu rumput laut ini baik jika tumbuh jauh dari muara sungai. b. Hypnea sp Divisio : Rhodophyta Kelas : Rhodophyceae Bangsa : Gigartinales Suku : Hypneaceae Marga : Hypnea Jenis : Hypnea sp

Gambar 3: Hypnea sp c. Glacilaria Divisio Kelas Bangsa Suku Marga Jenis

: Rhodophyta : Rhodophyceae : Gigartinales : Glacilariaeceae : Glacilaria : Glacilaria gigas Glacilaria verrucosa Glacilaria lichenoides

Gbr 4. G. gigas

Gbr 5 :G. verrucosa

Gbr 6:G.lichenoides

Habitat rumput laut jenis ini pada umumnya dapat hidup sampai 300 1000 m dari pantai, salinitas air berkisar 15 30 per mil dengan suhu air berkisar antara 20 -28 C kedalaman air 0.5 1 m dengan kondisi air jernih sehingga sinar matahari mampu menembus ke dalam air. Oleh karenanya jenis rumput laut ini sebaiknya dekat dengan muara sungai. d. Gelidium Divisio Kelas Bangsa uku Marga Jenis

: Rhodophyta : Rhodophyceae : Gilidiales S : Gelidiaceace : Gelidium : Gelidium sp

Gambar 7: Gelidium sp e. Sargassum Divisio : Rhodophyta Kelas : Phaeophyceae Bangsa : Fucales Suku : Sargassacaceae Marga : Sargassum Jenis : Sargassum polyfolium
6

Gambar 8 : S. Polifolium

Gambar 9: S. crassifolium

Rumput laut coklat jenis Sargassum adalah rumput laut yang mempunyai cabang seperti jari, dan merupakan tanaman yang berwarna coklat, berukuran relatif besat, tumbuh dan berkembang pada substrat dasar yang kuat. Bagian tanaman menyerupai semak yang berbentuk simetris bilateral atau radikal serta dilengkapi dengan bagian bagian untuk pertumbuhan ( Atmadja et al, 1996) Thalus berbentuk silindris atau gepeng percabangannya menyerupai tanaman perdu di darat, daun melebar, lonjong atau seperti pedang, mempunyai gelembung udara ( bladder), umumnya hidup soliter dan panjangnya dapat mencapai 7 m. Rumput laut ini tumbuh di perairan yang terlindung ataupun dapat juga diperairan yang berombak besar pada habitat berkarang, atau pada bongkahan karang (Kadi dan Atmaja, 1988). Di perairan Indonesia terdapat 28 spesies yang berasal dari 6 genus.

Gambar 10. Diagram klasifikasi rumput laut komersial dan produk olahannya
Sumber: Budidaya Rumput Laut dan Nilai Ekonomisnya. http://www.pekalongankab.go.id/fasilitasweb/artikel/ekonomi/2401-budidaya-rumput-laut.html# Mengenal Rumput Laut. http://penyuluhpi.blogspot.com/2012/07/mengenal-rumput-laut.html 7

Budidaya
Sebaran rumput laut komersial yang dibudidayakan hanya terbatas jenis Eucheuma dan Glacilaria. Jenis Eucheuma dibudidayakan di laut agak jauh dari sumber air tawar, sedang Glacilaria dapat dibudidayakan dilaut dekat dengan muara sungai karena untuk jenis ini salinitas yang sesuai berkisar antara 15 25 per mil. Lokasi budidaya Eucheuma tersebar diperairan pantai di beberapa Kepulauan Riau,Bangka Belitung,Lampug selatan, Pulau Panjang (Banten) Pulau Seribu, Karimun Jawa ( Jawa tengah) Selatan Madura,Nusa dua,Nusa Lembongan dan Nusa Penida (Bali) , Lombok barat,Lombok tengah (Teluk Ekas) Sumbawa,Larantuka Teluk Maoumere, Sumba,Alor,Kupang, P Rote,Sulawesi utara, Gorontalo,Bualemo,Bone Bolango, Samaringa (Sulawesi tengah) Sulawesi tenggara, Jeneponto, Takalar,Selayar, Sinjai dan Pangkep ( Sulawesi selatan); Seram Ambon, dan Aru (Maluku), Biak serta Sorong. Sementara untuk budidaya Glacilaria dalam tambak tersebar luas di daerah daerah serang (Banten) Pantai Utara Jawa (Bekasi,Karawang,Subang Cirebon,Indramayu Pemalang, Brebes, dan Tegal). Sebagian pantai utara Jawa timur ( Lamongan dan Sidoarjo) untuk derah di luar pulau Jawa hampir di semua perairan tambak Sulawesi selatan dan Lombok barat serta Sumbawa. Untuk membudidayakan rumput jenis Eucheuma sp perlu diperhatikan faktor-faktor teknis dan non teknis antara lain : Kelayakan lokasi : Bebas dari pengaruh angin topan dan ombak yang kuat. Mempunyai gerakan air (arus) yang cukup (20-30 cm/detik) Dasar peraiaran agak keras yang terdiri dari pasir dan karang serta bebas dari lumpur Masih digenangi air pada waktu surut dengan kedalaman antara 30 - 60 cm Kejernihan air tidak kurang dari 5 cm Suhu air (20 - 28oC) dengan fluktuasi harian maksimum 4oC. Kisaran kadar garam 28 34 ppt PH air antara 7 - 9 Mengandung cukup makan berupa makro dan mikro nutrien Bebas dari bahan pencemaran Bebas dari ikan dan hewan air yang bersifat herbivora Mudah dijangkau untuk kelancaran proses produksi sampai kepada pemasaran hasil. Sumber tenaga kerja cukup. Bahan pendukung murah dan mudah diperoleh (bambu, benih dan lain-lain) 8

Temperatur dan Sanitasi Rata-rata temperatur air laut sebaiknya berkisar antara 27 - 30oC jika terjadi kenaikan temperatur yang tinggi akan terjadi adanya uliment dan meliputi epiphyt, sehingga tanaman akan rontok. Sedangkan sanitasi air sangat tergantung pada faktor penguapan, serta ada tidaknya sumber air tawar. Untuk menghindari sanitasi yang tajam sebaiknya lokasi tanaman jauh dari muara sungai untuk menghindari endapan lumpur. Dari semua faktor yang disebutkan diatas, perlu diperhitungkan pula ada tidaknya pencemaran air laut seperti : genangan minyak, limbah pabrik, bahan peledak atau bahan kimia untuk penangkapan ikan. Gerakan Air Kesuburan lokasi tanaman sangat ditentukan oleh adanya gerakan air yang berupa arus ombak. Karena gerakan air merupakan alat pengangkut zat makanan yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Arus atau ombak merupakan alat yang baik bagi massa air sehingga menjadi homogen. Massa air yang homogen akan menghindari perbedaan yang tajam pada kelarutan oksigen, temperatur, salinitas dan lain-lain. Disamping itu gerakan air juga merupakan alat pembersih terhadap sediment dan epiphyt yang menumpuk pada tanaman. Ombak yang terlalu besar lebih merusak tanaman akan tetapi diperlukan juga sebagai alat pengaduk yang baik bagi massa air. Di samping itu ombak sebagai alat penangkap udara, sehingga memperkaya larutan oksigen ke dalam massa air. Untuk itu dalam budidaya rumput laut harus mengambil areal/lokasi yang terbuka terhadap ombak dan mempunyai terumbu karang yang menonjol sebagai tanggul ombak di bagian luar, sehingga lokasi tanaman hanya terkena pecahan ombak/lidah ombak saja, dengan kecepatan arus antara 20 s/d 40 cm per detik. Faktor Non Teknis Di dalam melakukan budidaya rumput laut faktor non teknis juga sangat menunjang keberhasilan seperti halnya, sosial ekonomi masyarakat setempat, sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi. Lokasi di mana terdapat petani nelayan yang hidup di bawah g aris kemiskinan, kondisi ini sangat mendukung pembudidayaan rumput laut karena dapat memberikan lapangan kerja dengan tidak mengurangi persyaratan teknis budidaya rumput laut. Pengadaan dan Pemilihan Bibit Penyediaan benih dapat diperbanyak secara generatif dan vegatif. Persyaratan bibit yang baik adalah mempunyai angka pertumbuhan harian baik, yang menyangkut masa panen produksi yang menguntungkan. Ciri bibit yang baik : (a). Bercabang banyak, rimbun dan runcing (b). Tidak terdapat bercak dan terkelupas (c). Warna spesifik (cerah) (d). Umur 25 35 hari. Berat bibit yang ditanam adalah antara 50 100 gram per rumpun dan (e). Tidak terkena penyakit ice-ice

Bibit Eucheuma Pengadaan bibit dapat dilakukan dengan memanfaatkan sifat-sifat reproduksi vegetatif dan generatif. Bibit hendaknya dipilih dan diambil dari stek ujung tanaman rumput laut yang unggul yang masih muda, segar dan berasal dari tanaman rumput laut yang sudah dibudidayakan. Untuk metode lepas dasar, luas tiap petak rakit budidaya 100 m2 memerlukan bibit 240 kg. Penanaman Untuk penanaman rumput laut dikenal adanya beberapa metoda 1. Metoda Lepas Dasar Pada metoda ini bibit diikatkan pada batu-batu karang yang kemudian disebarkan pada dasar perairan.Cara ini sesuai untuk dasar perairan yang rata dan tidak ditumbuhi karang dan tidak berpasir. Cara ini mudah, sederhana dan tidak memerlukan sarana budidaya yang besar. Metoda ini jarang sekali digunakan karena belum diyakini keberhasilannya. Hal ini mengingat persyaratan yang diperlukan adalah areal yang terbuka terhadap ombak dan arus dimana terdapat potongan-potongan batu karang yang kedudukannya sebagai substrant yang kokoh dan tidak terbawa oleh arus. Disamping kesulitan mencari areal penanaman, metode ini mempunyai kelemahan antara lain : banyak bibit yang hilang terbawa ombak, tidak bisa dilaksanakan di perairan yang berpasir, banyak mendapat gangguan/serangan dari bulubabi, dan produksinya rendah.

2. Metoda Rakit Apung Penanaman dengan metoda rakit ini menggunakan rakit apung yang terbuat dari bambu berukuran antara (2,5 x 2,5 ) meter persegi sampai (7 x 7) meter persegi tergantung pada kesediaan bahan bambu yang dipergunakan. Untuk penahanan supaya rakit tidak hanyut terbawa arus, digunakan jangkar sebagai penahanan atau diikat pata patok kayu yang ditancapkan di dasar laut . Pemasangan tali dan patok harus memperhitungkan faktor ombak, arus dan pasang surut air. Metoda rakit cocok untuk lokasi dengan kedalaman 60 cm. Bahan-bahan yang diperlukan adalah bibit tanaman, potongan bambu berdiameter 10 cm. Potongan kayu penyiku berdiameter 5 cm, tali rafia, tali ris berdiameter 4 mm dan 12 cm, serta jangkar dari besi, bongkah batu atau adukan semen pasir. Adapun tahap-tahap penanamannya adalah sebagai berikut : -Potongan kayu dan bambu dirangkai dan diberi jangkar pemberat dengan bantuan tali 12 mm. -Thallus dengan berat masing-masing 100 gram diikatkan pada tali ris dengan menggunakan tali rafia yang berjarak antara 20 - 25 cm 10

-Jarak antara ris 50 cm sedangkan panjang ris sangat bergantung dari panjangnya rakit apung yang digunakan dalam budidaya. -Tali ris yang sudah berisi tanaman diikatkan pada rakit. Setiap rakit apung berukuran 7 x 7 meter akan ditanami 500 titik tanam rumput laut atau setiap kelompok tani 5 orang dengan 250 rakit (dengan luas total sekitar 1,25 Ha) akan mempunyai titik tanam sebanyak 125.000 titik tanam.

3. Metoda lepas dasar atau tali gantung Pada penanaman dengan metoda lepas dasar, tali ris yang telah berisi ikatan tanaman direntangkan pada tali ris utama. Pengikatan tali ris pada tali ris utama sedemikian rupa sehingga mudah dibuka kembali. Tali ris utama yang terbuat dari bahan polyetilen berdiameter 8 mm direntangkan pada patok. Jarak tiap tali ris pada tali ris utama 20 cm. Patok terbuat dari kayu berdiameter 5 cm sepanjang 2 m dan runcing pada salah satu ujungnya. Untuk menancapkan patok di dasar perairan diperlukan linggis atau palu besi. Jarak tiap patok untuk merentangkan tali ris utama 2, 5 m. Dengan demikian pada retakan budidaya dengan metoda lepas dasar seluas satu are (100 m2) dibutuhkan 55 batang patok, 60 m tali ris utama dan 600 m tali ris dan 1 kg tali rafia. Untuk 1 unit budidaya rumput laut sistem lepas dasar ukuran 10 x 10 m 2 diperlukan bibit sebanyak 240 kg (Seri Pengembangan Hasil Penelitian Pertanian No 141P/KAN/PT 13/1990. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut) Sama dengan metoda rakit apung, metoda ini cocok untuk perairan dengan kedalaman kurang 1,5 meter dan dasarnya terdiri dari pasir atau pasir berlumpur.

11

Tahap Penanaman adalah sebagai berikut : Tali ris dibentangkan berjajar pada pada dua rentang tali ris utama yang diikat masing-masing pada 2 patok yang berupa bambu yang tancap pada dasar laut, sehingga membentuk kerangka beberapa segi empat hamparan lahan penanaman rumput laut. Jarak antara tali ris sekitar 20 cm dan jarak antara titik tanam dalam tali ris sekitar 30 cm. Kerangka tanam seperti ini, diperhitungkan untuk setiap ha akan ada 99.000 titik tanam, atau untuk perhitungan 1 kelompok tani/nelayan dengan 125.000 titik tanam, memerlukan luasan lahan perairan sekitra 1, 3 ha. Kerangka penanaman rumput laut ini diletakkan berada sekitar 30 -40 cm dibawah permukaan laut, menggantung pada patok yang berdiri tertancap pada dasar laut. Tali ris dipenuhi dengan beberapa potong thallus masing-masing seberat 100 gram yang merupakan bibit rumput laut. Potongan thallus diikat dengan tali rafia berjarak 30 cm. Pemeliharaan Memelihara rumput laut berarti mengawasi terus menerus konstruksi sarana budidaya dan tanamannya. Apabila ada kerusakan patok, jangkar, tali ris dan tali ris utama yang disebabkan ombak yang besar, harus segera diperbaiki. Pemeliharaan dilakukan baik pada ombak besar maupun pada aliran laut tenang. Kotoran atau debu air yang melekat pada tanaman harus selalu dibersihkan. Kotoran yang melekat dapat menganggu proses metabolisme sehingga pertumbuhan tanaman menurun. Beberapa tumbuhan penempel yang merusak, seperti ulva, hypnea, chaetomorpha, dan enteromorpha dikumpulkan dan dibuang ke darat. Beberapa jenis hewan herbivora pemangsa tanaman rumput laut adalah bulu babi, ikan dan penyu. Serangan bulu babi dapat diatasi dengan cara diusir dari lokasi budidaya. Biasanya dipasang jaring di sekeliling lokasi budidaya. Lumut juga perlu disingkirkan karena menghalangi sinar matahari yang masuk sehingga pertumbuhan akan terhambat. Pemupukan tidak ada, untuk eucheuma sp yang ditanam di perairan pantai. Kecuali untuk budidaya rumput laut jenis gracilaria yang ditanam di tambak perlu diberikan pemupukan. Untuk gracilaria yang ditanam di tambak pemupukan di berikan secara teratur 15 hari sekali, yaitu sesaat setelah penggantian air. Pupuk yang digunakan adalah campuran urea, TSP dan ZA dengan perbandingan 1 : 1 : 1 sebanyak 20 kg/ha atau dengan perbandingan 2 : 1 : 1 sebanyak 100 kg/ha. Penggantian air tambak sebanyak 60% dilakukan setiap 15 hari sekali wakbu bulan baru dan bulan purnama. Panen Tanaman dapat dipanen setelah mencapai umur 6 - 8 minggu setelah tanam dengan berat tanaman per ikatan 800 gram. Cara memanen rumput laut pada air pasang adalah dengan mengangkat seluruh tanaman ke darat kemudian tali rafia pengikat dipotong. Sedangkan pada saat air surut dapat dilakukan langsung di areal tanaman. Dengan menggunakan rakit satu persatu ikatan tanaman dipanen. Dan dibawa ke darat dengan rakit. Panen yang dilakukan pada saat usia tanaman 1 bulan, perbandingan antara berat basah dan kering berkisar 8 : 1, sedangkan bila tanaman berumur 2 bulan perbandingan berat basah dengan berat kering adalah 6 : 1. Peralatan dan tenaga yang harus dipersiapkan untuk panen adalah : -Tenaga kerja -Keranjang rotan berukuran sedang tempat hasil rumput laut. -Perahu (untuk mengangkut hasil panen) 12

-Pisau untuk menolong tali pengikat (tali rafia) -Timbangan -Lokasi tempat penjemuran -Karung tempat rumput laut kering dan tali pengikatnya -Ruang tempat penyimpanan rumput laut kering. Persiapan alat-alat tersebut untuk menjaga kelancaran pemanenan dan menjaga kualitas mutu hasil produksi. Dari satu unit usaha (100 m2 ) dengan metode lepas dasar dan metoda rakit diperoleh hasil panen kering masing-masing 100 kg dan 120 - 150 kg setiap panen.

Sumber: Direktorat Kredit, BPR dan UMKM, Bank Indonesia. Pola Pembiayaan Usaha Kecil, Budidaya Rumput Laut. http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/BAAFF563-827E-404CB6648E7F6B464929/16061/BudidayaRumputLauttaligantung.pdf

13

Pengolahan
Penanganan pasca panen rumput laut oleh petani hanya sampai pada tingkat pengeringan. Rumput laut kering ini merupakan bahan baku bagi industri rumput laut olahan selanjutnya. Pengolahan rumput laut akan menghasilkan agar, carrageenan atau algin tergantung kandungan yang terdapat di dalam rumput laut. Pengolahan ini kebanyakan dilakukan oleh pabrik walaupun sebenarnya dapat juga oleh petani Langkah-langkah Pengolahan menjadi Bahan Baku atau rumput laut kering adalah sebagai berikut : 1. Rumput laut dibersihkan dari kotoran, seperti pasir, batu-batuan, kemudian dipisahkan dari jenis yang satu dengan yang lain. 2. Setelah bersih rumput laut dijemur sampai kering. Bila cuaca cukup baik penjemuran hanya membutuhkan 3 hari. Agar hasilnya berkualitas tinggi, rumput laut dijemur di atas para-para di lokasi yang tidak berdebu dan tidak boleh bertumpuk. Rumput laut yang telah kering ditandai dengan telah keluarnya garam. 3. Pencucian dilakukan setelah rumput laut kering. Sebagai bahan baku agar rumput laut kering dicuci dengan air tawar, sedangkan untuk bahan baku carrageenan dicuci dengan air laut. Setelah bersih rumput laut dikeringkan lagi kira-kira 1 hari. Kadar air yang diharapkan setelah pengeringan sekitar 28%.Bila dalam proses pengeringan hujan turun, maka rumput laut dapat disimpan pada rak-rak tetapi diusahakan diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tindih. Untuk rumput laut yang diambil carrageenannya tidak boleh terkena air tawar, karena air tawar dapat melarutkan carrageenan.

4. Rumput laut kering setelah pengeringan kedua, kemudian diayak untuk menghilangkan kotoran yang masih tertinggal. Dalam model kelayakan PKT ini bila diperkirakan rendemen sampai kering asalan 10 % dengan kandungan air 30%, maka setiap kelompok petani/nelayan akan memproduksi 60.000 kg rumput laut kering per tahun

Pengepakan dan Penyimpanan Rumput laut yang telah kering dan bersih dimasukkan dalam karung goni atau karung plastik. Bisa dipadatkan ataupun tidak dipadatkan. Bila dipadatkan hanya berisi 60 kg. Rumput laut yang akan di ekspor di bagian luar karungnya dituliskan nama jenis barang, nama kode perusahaan, nomor karung, berat bersih dan hasil Indonesia dengan jelas. Pemberian nama tersebut untuk memudahkan dalam pengiriman. 14

Mutu Rumput Laut Kering Petani rumput laut menjual hasil produksinya dalam bentuk rumput laut kering. Agar harga jual rumput laut tersebut tinggi maka rumput laut harus memenuhi standar mutu rumput laut kering.

Sumber: Direktorat Kredit, BPR dan UMKM, Bank Indonesia. Pola Pembiayaan Usaha Kecil, Budidaya Rumput Laut. http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/BAAFF563-827E-404CB6648E7F6B464929/16061/BudidayaRumputLauttaligantung.pdf 15

Manfaat
Rumput laut menghasilkan 3 jenis produk dasar yaitu agar-agar yang dihasilkan dari rumput laut Glacelaria sp, Carrageenan dari jenis rumput laut Eucheuma sp, dan Alginat dari rumput laut coklat (Sargassum sp) yang secara keseluruhan banyak manfaatnya untuk industri pangan, farmasi, bioteknologi serta non pangan. 1. Agar-agar Agar merupakan hidrokoloid rumput laut yang memiliki kekuatan gel yang sangat kuat. Senyawa ini dihasilkan dari proses ekstraksi rumput laut kelas Rhodophyceae terutama genus Gracilaria, Gelidium. Agar merupakan senyawa polisakarida dengan rantai panjang yang disusun dari dua pasangan molekul agarose dan agaropektin. Fungsi utama agarose adalah untuk mencegah terjadinya dehidrasi dari makanan yang ditambahkan. 2. Carrageenan Carrageenan adalah senyawa hidrokoloid, merupakan senyawa polisakarida rantai panjang yang diekstrak dari rumput laut jenis karagenofit seperti Eucheuma sp, Hypnea sp. Carrageenan dibedakan menjadi 3 macam yaitu iota carrageenan, kappa carrageenan dan lambda carrageenan. Ketiganya berbeda dalam sifat gel. Kappa karagena menghasilkan gel yang kuat, sefdangkan iota carrageenan membentuk gel yang halus dan mudah dibentuk 3. Alginat. Alginat merupakan hidrokoloid yang diekstrak dari alga coklat atau Phaeophyceae. Rumput laut penghasil alginat diantaranya adalah genus Sargassum dan Turbinaria. Alginat menjadi penting karena penggunaan nya yang luas dalam industri karena sifatnya sebagai pembentuk gel,bahan pengemulsi dll. Di dalam bidang kosmetik dan farmasi, alginat dimanfaatkan dalam bentuk asam alginat, garam sodium alginat dan kalsium alginat. a). Asam alginat Sifat asam alginat tidak larut dalam air, akan tetapi akan mengembang , sehingga dapat berfungsi sebagai disintegrating agent dan berguna dalam pembuatan tablet. Selain itu asam alginat juga banyak digunakan untuk bahan pelangsing tubuh dan atau makanan diet, atau juga sebagai bahan pengikat seperti pada produk pasta gigi dan shaving cream. b). Sodium alginat Sodium alginat banyak digunakan dalam industry obat obatan cair karena bisa meningkatkan viskositas atau kekentalan. Aplikasi di dalam industry farmasi misalnya pada pengisi obat penicillin dan obat obat sulfa. c). Kalsium alginat 16

Kalsium alginat merupakan bahan untuk peng emulsi yang dapat digunakan dalam pembuatan kapsul. Selain sifatnya sebagai peng emulsi kalsium alginat juga bersifat sebagai pengental. Aplikasi dalam industri kosmetik adlah pada shampoo cair atau bahan untuk pencuci rambut.

B.PEMANFAATAN RUMPUT LAUT DALAM INDUSTRI 1.Industri pangan Jelly merupakan makanan paling sederhana yang dibuat dari agar atau carrageenan. Jelly biasanya diproduksi dicampur dengan bahan makanan lain seperti buah, ekstrak kacang kacangan, Tujuan penambahan agar, carrageenan ataupun alginat diantaranya adalah untuk mendapatkan tekstur tertentu, untuk makanan diet,stabilizer,pengental dan lain sebagainya. Pada industri makanan kaleng,seperti daging dan ikan dalam kaleng, memerlukan bahan pengental, pembentuk gel serta pensuspensi dengan memanfaatkan agar dan carrageenan .Hal ini dilakukan agar produk dalam kaleng memiliki kemampuan melting temperature dan gel strength lebih tinggi Kemampuan Alginat dan karagenen dalam membentuk busa dan kejernihan menyebabkan hidrokoloid tersebutdimanfaatkan dalam proses pembuatan bir.

2.Industri Farmasi, Kosmetik dan Bioteknologi a).Industri Farmasi Faktor yang mempengaruhi rumput laut dalam industry farmasi antara lain sifat kimia fisika dari senyawa metabolit primer dan sekunder yang dihasilkan. Senyawa metabolit primer yang dimaksud adalah agar, carrageenan ( iota, kappa dan lambda) serta alginat. Senyawa senyawa ini berfungsi sebagai suspending aget, thickener,emulsifier, stabilizer, film former, coating agent ,gelling agent, dan lain sebagainya. b).Industri Kosmetik Pada industry kosmetik, penggunaan agar, carrageenan dan alginat biasanya digunakan untuk produk sabun krim, sabun cair,shampoo,lotions, pasta gigi pewarna bibir dan produk produk perawatan kulit seperti hand body lotion dan pencuci mulut serta hair lotions. c).Bioteknologi Sebagian besar agar digunakan dalam bidang makanan. Penggunaan dalam bidang bio teknologi kurang lebih hanya 9% yaitu digunakan sebagai medium untuk menumbuhkan mikroba,seperti bakteri, jamur,yeast, mikro alga. Penggunaan lain sebagai medium dalam industri perbanyakan bibit secara kultur jaringan. d).Industri non pangan 17

Penggunaan agar, carrageenan dan alginat di dalam industry non pangan diantaranya adalah industri makanan ternak. Keramik, cat, tekstil, kertas dan pembuatan film fotografis. 1.Makanan ternak Pet food atau makanan ternak biasanya berupa makanan dalam kaleng atau pellet. Fungsi agar,carrageenan atau alginat untuk menstabilkan dan mempertahankan komposisi dari makanan ternak. Khusus untuk pellet fungsi utamanya untuk melapisi pellet , sehingga udara yang ada di dalam pellet akan tertahan dan pellet tidak mudah tenggelam, juga untuk mengikat air dari dalam pellet selama penyimpanan dan pengangkutan. 2. Keramik Carrageenan mempunyai kemampuan sebagai gelling point pada temperatur dan tekanan yang tinggi. Oleh karena itu , carrageenan dicampurkan ke dalam pelapis keramik pada pembuatan busi otomotif. Dengan menggunakan carrageenan, mampu mendukung honeycomb keramik. 3. Cat. Fungsi carrageenan dan alginat dalam industri cat adalah sebagai penstabil dan perekat pada permukaan dinding pada saat mengering, bersifat sebagai pengemulsi pada resin cat supaya minyak dan air tercampur dengan sempurna 4. Tekstil Carrageenan, agar dan alginat didunakan dalam industry tekstil, yang fungsinya untuk merekatkan benang saat di tenun. Juga dalam pencampuran warna pada saat mewarnia benang dengan maksud agar warna benang rata, tidak pecah dan lembut 5. Kertas Alginat mempunyai kemampuan membentuk film yang lembut, tidak terputus dan dapat menjadi perekat yang baik. Pembentukan film tersebut memperkuat serat selulosa dan ketegangan permukaan kertas yang baik dalam mengatur ketebalan tinta, 6. Pembuatan Film Fotografis Agar banyak digunakan untuk pelapisan film untuk foto. Hal ini disebabkan sifat agar lebih baik dari pada gelatin karena memiliki gelstrength atau kekuatan gel yang lebih kuat.Dengan demikian dalam kondisi panas seperti daerah tropis yang suhunya relatif tinggi film tidak mudah meleleh.

Sumber: Pusat Penyuluhan Perikanan, Badan Pengembangan sumberdaya Manusia KP, Kementerian Kelautan dan Perikanan.Materi Penyuluhan Perikanan 18

Pasar dan Perkembangan


Untuk memaksimalkan potensi Indonesia, pemerintah telah mencanangkan sebuah program untuk meningkatkan produksi rumput laut Indonesia dan hilirisasi produk olahan rumput laut untuk menampung hasil produksi tersebut. Untuk produksi sendiri, target tahun 2013 dinaikkan menjadi 7 juta ton rumput laut basah dan 10 juta ton untuk tahun 2014. 2 Indonesia masih mengimpor 1200 ton produk olahan rumput laut setiap tahunnya, sementara bahan baku berupa rumput laut kering mengalami peningkatan produksi. Kebutuhan produk olahan rumput laut dari industri dalam negeri, seperti industri makanan, tidak dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri sehingga menyebabkan ketergantungan terhadap bahan impor sebanyak 70% dari kebutuhan7.Sementara di China sendiri diperkirakan terdapat sekitar 600 pabrik carrageenan3. Oleh sebab itu, China merupakan Negara tujuan ekspor terbesar rumput laut Indonesia dengan share sebesar lebih dari 50% dari total ekspor rumput laut8. Indonesia masih kekurangan pasar untuk menyerap hasil produksi rumput laut kering4. Oleh sebab itu ada wacana dari pemerintah untuk memperluas pasar ini dengan menggalakkan industri produk olahan rumput laut dalam negeri. Namun, realisasi dari rencana ini diperkirakan tidak akan terlaksana dalam kangka pendek sementara produksi rumput laut terus ditingkatkan. Tanpa adanya perluasan pasar yang dapat menyerap, rumput laut terancam mengalami oversupply. Salah satu solusi untuk ekspansi pasar ini adalah dengan meningkatkan ekspor seperti ke Jepang atau Korea5 dan menawarkan kepada Negara tujuan ekspor untuk membuka pabrik di Indonesia7 Fluktuasi harga rumput laut kering dipengaruhi oleh musim. Pada saat produksi melimpah pada penghujung musim kemarau, harga rumput laut kering dapat jatuh secara drastis seperti pada sekitar bulan Oktober 20126. Sementara harga kembali meningkat saat produksi berkurang pada musim hujan. Rumput laut produksi Filipina sebagai competitor juga menambah ketatnya kompetisi di pasar lokal.

Sumber:
2

http://www.indonesia.go.id/in/kementerian/kementerian/kementerian-kelautan-dan-perikanan/829kelautan/12153-indonesia-genjot-produksi-rumput-laut-10-juta-ton 3http://disperindag.riau.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=140:dahlan-kurangi-imporrumput-laut&catid=37:perdagangan-luar-negeri&Itemid=53 4http://jpmi.or.id/2012/05/31/pasar-produk-olahan-rumput-laut-sudah-jenuh/ 5http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/09/12/16352488/RI.Sasar.Jepang.untuk.Dongkrak.Ekspor. Rumput.Laut 6http://surabaya.tribunnews.com/m/index.php/2012/10/26/harga-rumput-laut-terjun-bebas 7http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/07/18/02590982/Industri.Pengolahan.Belum.Siap 8http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CDEQFjAA&url=http%3A% 2F%2Fejournal.kopertis4.or.id%2Fupload.php%3Fid%3D329%26name%3DPROFIL%2520RUMPUT%2520LAUT%2 520INDONESIA....pdf&ei=azAkUbf_KIXYrQf514HYCQ&usg=AFQjCNFRFiiK8VhzFqLca3UpqXGz6KcPiw&bvm= bv.42661473,d.bmk&cad=rja

19