Anda di halaman 1dari 16

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

DAMPAK FINANSIAL PENJAMINAN PEMERINTAH PADA KELAYAKAN PROYEK INFRASTRUKTUR BERBASIS KEMITRAAN-PEMERINTAH-SWASTA Andreas Wibowo1 dan Andre Permana2
1

Peneliti Utama, Kementerian Pekerjaan Umum,Jalan Panyawungan Cileunyi Wetan 40393 Kabupaten Bandung, email: andreaswibowo1@yahoo.de 2 Kandidat Doktor,School of Civil and Environmental EngineeringNanyang Technological University, Singapore, email:andr0033@e.ntu.co.sg

Abstrak Tulisan ini mempresentasikan dampak finansial penjaminan terhadap kelayakan proyek infrastruktur yang diselenggarakan dengan skim kemitraan-pemerintah-swasta. Dua tipe penjaminan yang menjadi fokus adalah land capping untuk melindungi badan usaha dari risiko kenaikan biaya pembebasan lahan dan penjaminan tarif untuk memproteksi badan usaha dari ketidakpastian penyesuaian tarif. Kedua risiko ini memenuhi kriteria risiko infrastruktur yang dijamin sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan yang berlaku. Analisis terhadap dampak finansial dilakukan menggunakan pendekatan simulatif dengan teknik sampling Monte Carlo. Untuk keperluan ilustratif, studi kasus dari sebuah proyek jalan tol yang akan diimplementasikan dengan kontrak build/operate/transfer dipresentasikan dalam tulisan ini. Hasil analisis menegaskan bahwa penjaminan berperan meningkatkan kelayakan finansial melalui peningkatan cash flow ekspektasi dengan pengurangan risiko cash flow. Tulisan ini juga membahas beberapa isu yang relevan terkait dengan program penjaminan infrastruktur di Indonesia. Kata kunci: penjaminan, risiko,dampak finansial, land capping, jaminan tarif KONSTRUKSI DAN PEREKONOMIAN: UPDATE Andreas Wibowo2 Peneliti Utama(LIPI) bidang Manajemen Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum Jalan Panyawungan Cileunyi Wetan 40393 Kab. Bandung, email: andreaswibowo1@yahoo.de
1

ABSTRAK Sektor konstruksi memiliki daya penyebaran dan derajat kepekaan yang merupakan ukuran output dan input multiplier di atas angka rata-rata nasional. Meningkatnya nilai konstruksi yang diselesaikan dari tahun ke tahun berpengaruh pula bagi peningkatan nilai tambah bruto yang pada gilirannya akan meningkatkan kontribusi sektoral bagi produk domestik bruto, di samping menciptakan lapangan pekerjaan baik di sektor konstruksi sendiri maupun sektor-sektor lainnya. Kontribusi ini dapat terus ditingkatkan bila permintaan di sektor konstruksi terus meningkat. Program pembangunan infrastruktur yang masif melalui skim kemitraan-pemerintah-swasta selama lima tahun ke depan sangat mendukung hal tersebut terjadi. Untuk membuat program ini berjalan baik perlu adanya penyelesaian bagi beberapa masalah yang menjadi kendala bagi masuknya investasi sektor swasta di sektor infrastruktur. Kata-kata kunci: konstruksi, input-output, multipliereffect, nilai tambah bruto, tenaga kerja

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 1

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

ANALISA RISIKO KONSTRUKSI PADA PROYEK PEMBANGUNAN RUSUNAMI KEBAGUSAN CITY JAKARTA Rendy Kurnia Dewanta1, M. Arif Rohman2 dan I Putu Artama Wiguna3
2,3 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil, FTSP, ITS Dosen Jurusan Teknik Sipil, FTSP, ITS Surabaya, email: arif@ce.its.ac.id

ABSTRAK Risiko selalu ada dalam setiap aktivitas manusia, termasuk juga di bidang proyek konstruksi. Risiko tidak bisa dihilangkan sama sekali, namun dapat diminimalisir dampaknya dengan penerapan manajemen risiko. Salah satu tahapan penting dalam manajemen risiko adalah analisa risiko, dimana bertujuan untuk mengetahui jenis risiko yang signifikan pada suatu proyek. Selanjutnya pada penelitian ini akan dilakukan penerapan analisa risiko pada Proyek Pembangunan Rusunami Kebagusan City, Jakarta. Proyek ini merupakan salah satu proyek dengan skala besar dengan tingkat risiko yang tinggi (high risk). Secara umum tahapan pada penelitian ini dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu identifikasi, analisa risiko dan respon risiko. Identifikasi dilakukan untuk mencari faktor-faktor risiko yang relevan pada proyek ini. Sedangkan analisa risiko ditujukan untuk mengetahui beberapa faktor risiko yang signifikan ditinjau dari aspek waktu dan biaya. Analisa risiko dilakukan terhadap hasil survey utama sebagai tindak lanjut dari survey pendahuluan. Metode yang digunakan dalam analisa adalah Severity Index (SI) yang dikombinasikan dengan Matriks Probabilitas-Dampak (Probability-Impact Matrix). Secara keseluruhan, proses survey dilakukan melalui kombinasi metode wawancara terstruktur (face-to-face interview) dan kuisioner yang melibatkan beberapa personel kontraktor yang dipilih di Proyek Rusunami Kebagusan City. Berdasarkan hasil analisa diketahui bahwa variabel risiko yang signifikan terhadap waktu terdapat 3 macam, yaitu kesalahan estimasi waktu, kekurangan jumlah tenaga kerja, dan perubahan desain. Sedangkan variabel risiko yang signifikan terhadap biaya ada 6 macam, yaitu kesalahan estimasi biaya, kurangnya kontrol (pengendalian) dan koordinasi dalam tim, kenaikan harga material, ketidaksesuaian spesifikasi bahan, keretakan pada struktur, dan perubahan desain. Kata kunci: analisa risiko, Rusunami Kebagusan City, severity index, matriks probabilitas-dampak.

PENGEMBANGAN MODEL RANTAI PASOK (SUPPLY CHAIN) MATERIAL UNTUK MEMINIMALKAN RISIKO PADA GALANGAN KAPAL
1

Budiawan1, Heri Supomo2 Mahasiswa Pasca sarjana FTK ITS (4107 203 715), 2Dosen FTK ITS

ABSTRAK Perkembangan bisnis dewasa ini semakin kompleks dengan berbagai persoalan yang semakin rumit. Persaingan antar perusahaan menuntut perhitungan yang matang dalam setiap pengambilan keputusan sehingga setiap keputusan yang diambil dapat memberikan kontribusi terhadap kelanjutan perusahaan. Para praktisi dan akademisi kemudian mencari pendekatan-pendekatan yang mampu menggabungkan berbagai kepentingan tersebut dalam suatu kerangka kerja yang memberi keuntungan bagi perusahaan. Salah satu pendekatan yang dilakukan dalam upaya melakukan kolaborasi sebuah bisnis disebut Supply Chain Management. Dalam perkembangannya Supply chain management seperti aktivitas-aktivitas bisnis lainnya mempunyai risiko, dimana risiko tersebut tidak dapat dihilangkan namun dapat diolah berdasarkan kebutuhan perusahaan. Salah satu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi, menganalisa dan mengelola risiko adalah dengan menggunakan metode Failure Modes and Effect Analysis (FMEA) Pada industri galangan kapal kegiatan pengadaan material berpengaruh besar terhadap tinggi rendahnya harga kapal, lebih dari 50% biaya produksi kapal adalah biaya untuk pengadaan material, bahkan untuk kapal penumpang bisa mencapai 75% nya. Pada penelitian ini akan dilakukan identifikasi, analisa dan evaluasi risiko yang berpotensi timbul pada supply chain management dengan menggunakan FMEA yang akan membantu galangan untuk meningkatkan produktifitas galangan kapal tersebut.

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 2

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

Dari hasil identifikasi risiko dengan menggunakan tool matriks of house risk untuk fase identifikasi terdapat 30 kejadian risiko dan terdapat 29 agen risiko yang teridentifikasi pada keseluruhan tahapan proses supply chain material digalangan Kata kunci: Supply Chain Management, Manajemen Risiko ,Failure Modes and Effect Analysis ,Galangan Kapal. PENJADWALAN AKTIVITAS BERULANG DENGAN REPETITIVE SCHEDULING METHOD DI PROYEK CIPUTRA WORLD MALL SURABAYA Cahyono Bintang Nurcahyo3 dan Farida Rachmawati2
1

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5939925, email: bintang@ce.its.ac.id 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), Institut Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5939925, email: farida_rahma@ce.its.ac.id Beberapa proyek memiliki beberapa unit aktivitas yang sama di lapangan, seperti aktivitas pemasangan lantai yang tipikal pada gedung bertingkat, pembangunan rumah-rumah pada proyek-proyek perumahan atau pemasangan meteran air dalam aktivitas perpipaan. Proyek multi unit ini digolongkan sebagai aktivitas-aktivitas yang berulang, yang dalam banyak kasus muncul dari perincian aktivitas-aktivitas umum kedalam aktivitas-aktivitas khusus. Studi ini bertujuan untuk melakukan pengintegrasian RSM (Repetitive Scheduling Method) ke dalam model yang umum dan sedehana, untuk menjamin penggunaaan sumberdaya yang berkelanjutan secara terus menerus tanpa adanya waktu jeda (slag time) dari satu aktivitas ke aktivitas lain. Pengaplikasian RSM ini dilakukan pada proyek Ciputra World Mall Surabaya. Prosedur dalam studi ini adalah pengumpulan data kuantitas aktivitas dan durasi proyek, perhitungan jumlah pekerja yang dibutuhkan, penentuan hubungan antar aktivitas, dan perhitungan penjadwalan eksisting proyek, serta perhitungan biaya eksisting. Kemudian dilakukan perubahan penjadwalan proyek ke dalam diagram RSM, yang diaplikasikan dalam beberapa consequence dengan cara memutar garis produksi untuk tiap aktivitasnya, dan dapat dibandingkan dengan metode eksisting. Dari hasil pengolahan data dengan menggunakan metode Repetitive Scheduling Method (RSM), didapatkan hasil yang berbeda untuk setiap alternatif. Pada alternatif ke-1 didapatkan durasi 703 hari, dengan total biaya mencapai Rp.478. 678.945.150,88. Berikutnya pada alternatif ke-2, durasi penyelesaian proyek adalah 781 hari dengan total biaya Rp.479. 538.030.150,88. Selanjutnya alternatif ke-3 membutuhkan total biaya sebanyak Rp.478.211.430.150,88 dengan durasi penyelesaian proyek 687 hari. Terakhir adalah alternatif ke-4, dengan total durasi terkecil 346 hari dengan total biaya sebesar Rp.481.701.390.150,88. Hal ini diperoleh dengan memaksimalkan beberapa aktivitas, khususnya pada 7 aktivitas yang memiliki durasi terbesar yang paling berpengaruh terhadap total durasi proyek. Hal ini membuktikan bahwa aktivitas-aktivitas tersebut perlu mendapatkan prioritas dalam penyelesaiannya. Kata kunci : aktivitas berulang, Ciputra World Mall Surabaya, penjadwalan, RSM (Repetitive Scheduling Method), slag time.

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 3

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

EVALUASI KINERJA EMBUNG KECIL DI PULAU FLORES PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Denik Sri Krisnayanti4 dan Didik Kresnohadi5 ABSTRAK Pulau Flores merupakan salah satu gugusan dari 3 pulau besar di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan kondisi klimatologi yang variatif yakni semakin ke timur semakin rendah jumlah intensitas curah hujan. Tentunya pembangunan embung kecil merupakan upaya yang tepat untuk mengatasi kekurangan atas ketersediaan air di daerah pedesaan. Terdapat kurang lebih sekitar 60 buah embung yang telah dibangun di daratan Flores hingga tahun 2008 dan yang dievaluasi sekitar 44 buah embung dengan tahun pembangunan > 8 tahun, namun embung yang terbangun tersebut telah mengalami penurunan fungsi sebagai penyedia air di pedesaan. Untuk mengevaluasi kinerja embung kecil di daratan Flores dilakukan dengan menggunakan metode/teknik evaluasi kinerja kegiatan pada embung kecil. Adapun yang dianalisis meliputi 3 unsur yaitu kinerja bangunan fisik embung, kinerja masyarakat pemakai embung dan dukungan kegiatan operasional dan pemeliharaan embung. Hasil yang didapat dari kinerja embung kecil pada daratan Flores :48% kinerja embung kurang baik dan sisanya 52% cukup baik. Degradasi bangunan embung disebabkan karena kurangnya ketelitian dalam perencanaan, kurangnya sosialisasi kepada masyarakat pengguna embung dan tidak adanya panduan operasional/pemeliharaan embung bagi masyarakat. Kata Kunci : embung, evaluasi , kinerja

ARAHAN PENGEMBANGAN POTENSI KAWASAN PERDESAAN BERDASARKAN KOMODITI UNGGULAN DI KABUPATEN ENDE Dian Fitriawati Mochdar Mahasiswa Program Magister dan Doktor Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya Malang E-mail : dian_dinny@yahoo.com

Abstrak Kabupaten Ende mempunyai keunggulan di sektor pertanian karena kontribusi yang dominan pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Permasalahan sektor pertanian sebagai ciri kawasan perdesaan yaitu sebagian besar masyarakat bergantung pada pertanian perdesaan dan merupakan penduduk miskin. Pendekatan pengembangan yaitu konsep agropolitan sebagai strategi pembangunan perdesaan dengan pelayanan fasilitas perkotaan yang mendukung kegiatan agribisnis pertanian. Identifikasi karakteristik dan potensi pengembangan wilayah dengan metode deskriptif explanatory meliputi fisik dasar, fisik binaan, pola penggunaan lahan, struktur ekonomi, pertumbuhan penduduk dan perkembangan penduduk dan analisis kebijakan. Penentuan komoditi unggulan dengan metode evaluatif yaitu analisis LQ, Growth-Shift Share komoditi unggulan yang ditunjang dengan kemampuan, kesesuaian dan ketersediaan lahan melalui analisis lahan serta potensi masalah, kelembagaan dan akar masalah. Pengembangan komoditi unggulan dengan metode preskriptif yaitu analisis SWOT, IFAS-EFAS dan AHP. Arahan pengembangan masing-masing sub sistem agribisnis meliputi rencana struktur, rencana zonasi kawasan, rencana transportasi dan rencana sarana dan prasarana. Arahan program subsistem berupa indikasi program kegiatan dan rekomendasi berupa pengendalian dan pemanfaatan.

Kata Kunci : komoditi unggulan, kawasan perdesaan, agribisnis, agropolitan, arahan pengembangan
4

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fak. Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana Kupang, Jl. Adi Sucipto Penfui Kupang, Telp.0380-881559/08123794142, email : denik219@yahoo.com 5 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Akademi Teknik Kupang, Telp. 0811383748 Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 4

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

ANALISIS FAKTOR KINERJA BADAN PENGELOLA SARANA (BPS) PROGRAM PAMSIMAS DI KABUPATEN TEMANGGUNG Edie Poernomo 1), Joni Hermana 2), dan Ria A.A. Soemitro 3)
1)

Mahasiswa Program Pascasarjana Manajemen Aset, Teknik Sipil, FTSP, ITS, Surabaya, email: edie.poernomo@yahoo.com 2) Dosen Teknik Lingkungan,FTSP, ITS, Kampus Sukolilo Surabaya, Telp.031-5948886, email: hermana@its.ac.id 3) Dosen Teknik Sipil, FTSP, ITS, Kampus Sukolilo Surabaya, Telp.031-5946094, email:ria@ce.its.ac.id Abstrak Sampai pertengahan tahun 2010 di Kabupaten Temanggung telah dibentuk 25 Badan Pengelola Sarana (BPS) air minum dari Program Pamsimas, namun tidak semuanya bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Dari program tahun 2008 terdapat tiga BPS yang belum beroperasi dengan baik dan pada tahun 2009 terdapat tujuh BPS yang belum beroperasi dengan baik.Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi kinerja BPS. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai yang dikumpulkan dari responden secara langsung.Berdasarkan teknologi yang digunakan serta sistem layanan air bersih yang diterapkan sampel diambil dari 11 unit desa yang mewakili 25 desa penerima program tahun 2008 dan 2009.Responden terdiri dari tokoh masyarakat, pelaksana program, pengelola sarana yang dibangun dan masyarakat penerima manfaat dari desa sampel tersebut. Variabel penelitian berdasarkan aspek pengukuran kinerja sektor publik yaitu aspek masukan, aspek proses, aspek keluaran, aspek hasil, aspek manfaat, dan aspek dampak. Data dianalisis menggunakan teknik analisis faktor, Dari analisis untuk aspek masukan didapatkan 3 faktor utama yang mempengaruhi kinerja BPS yaitu faktor 1 (dana, keahlian, komitmen, kepemimpinan, debit air, teknologi, kebijakan dan sarana yang dimiliki) mampu menjelaskan 46,930% variasi dengan eigenvalue 6,572; faktor 2 (fasilitator, fasilitas dan prosedur operasi standar) mampu menjelaskan tingkat variasi sebesar 10,330% dengan eigenvalue 1,446; dan faktor 3 (modal awal, hutang dan jumlah anggota) dengan eigenvalue 1,017 yang mampu menjelaskan 7% variasi. Dari ketiga faktor utama tersebut mampu menjelaskan variance total sebesar 64,534%. Kata kunci : air bersih perdesaan, BPS, faktor kinerja, Kabupaten Temanggung, Pamsimas.

KAJIAN SANITASI BERBASIS MASYARAKAT MENUJU OPEN DEFECATION FREE (ODF) DI KECAMATAN MOJOANYAR KABUPATEN MOJOKERTO Elia Sutanti6, Joni Hermana2 dan Agnes Tuti Rumiati3
1

Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5946094, email: sutantielia@yahoo.co.id 2 Dosen Jurusan Teknik Lingkungan FTSP, ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5946094, email: hermana@its.ac.id 3 Dosen Jurusan Statistik FMIPA, ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5946094, email: agnestuti@yahoo.com

Program peningkatan akses sanitasi masyarakat Kecamatan Mojoanyar dengan capaian Open Defecation Free (ODF) melalui sanitasi berbasis masyarakat menunjukkan bahwa tidak hanya membutuhkan pelibatan masyarakat, tetapi juga sejauhmana karakter, potensi dan kebutuhan masyarakat itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sistem sanitasi berbasis masyarakat agar tercapai pembangunan sanitasi yang berkelanjutan.

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 5

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

Penelitian ini dilakukan dengan metode survey, yaitu observasi, kuesioner dan deep interview di 12 desa yang ada di Kecamatan Mojoanyar. Karakteristik sosial masyarakat dianalisis dengan metode K-Mean Cluster Analysis dengan 5 variabel, yaitu pengetahuan, perilaku sanitasi, kemauan merubah kebiasaan, kemauan dan kemampuan membangun jamban. Pemilihan opsi teknologi didasarkan pada NSPM dengan mengacu pada karakteristik sosial masyarakat. Sedangkan kelembagaan dianalisis berdasarkan potensi kelembagaan yang ada dan berpedoman pada Kepmenkes No.852/Menkes/SK/IX/2008 tentang Strategi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Penentuan sistem didasarkan pada hasil Fogus Group Discussion (FGD). Penelitian menghasilkan 3 cluster dengan perbedaan signifikan pada kemauan membangun jamban. Terbentuknya 3 cluster, mengarah pada 2 opsi pilihan sistem teknologi, yaitu untuk cluster 1 dan cluster 3 pada sistem onsite skala pribadi dan semi komunal, sedangkan cluster 2 sistem onsite skala komunal. Kelembagaan untuk sistem skala pribadi dengan memanfaatkan kelembagaan yang telah ada, tetapi lebih dioptimalkan dengan pembentukan divisi pemasaraan sanitasi serta monitoring dan evaluasi. Sedangkan untuk sistem komunal dilakukan pembentukan panitia pra pembangunan sampai dengan pasca pembangunan. Kata kunci: BABs, jamban, ODF, sanitasi berbasis masyarakat

PENGGUNAAN METODE QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT DALAM ANALISA KEPUASAN PELANGGAN PERUMAHAN (Studi Kasus Perumahan Puri Safira Regency Surabaya) Farida Rahmawati dan Cahyono Bintang Nurcahyo Lab Manajemen Konstruksi Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS Email : farida_rahma@ce.its.ac.id, bintang@ce.its.ac.id Pengukuran kepuasan pelanggan/customer, utamanya untuk kebutuhan perumahan menjadi hal yang penting dalam perbaikan kualitas selanjutnya serta pengembangan produk itu sendiri. Perumahan Puri Safira Regency, merupakan perumahan dengan pangsa pasar luas dengan wilayah yang dibangun baru 25%, sehingga masih ada peluang untuk pengembangan dan peningkatan kualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui urutan prioritas variabel kepuasan berdasarkan faktor kualitas bangunan, sarana dan prasarana, serta faktor lokasi yang harus dikembangkan, serta mengetahui strategi perbaikan dan peningkatan kualitas dalam pembangunan perumahan tahap selanjutnya. Analisa dilakukan dengan metode Quality Function Deployment (QFD). Pengumpulan data dilakukan dengan survey kepuasan penghuni dan wawancara dengan pihak pengembang perumahan. Dari hasil penelitian dan analisa data, diketahui bahwa penghuni secara umum belum puas dengan kondisi sekarang melalui indikator variabel yang diprioritaskan (raw weight) dan tingkat kesenjangan. Strategi perbaikan dan peningkatan kualitas dalam pembangunan perumahan tahap selanjutnya dapat direkomendasikan dengan melihat urutan prioritas respon teknis dari gap. Kata kunci : House of Quality, Kepuasan Penghuni, perumahan Puri Safira Regency, Quality Function Deployment

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 6

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

STUDI OPTIMASI PENENTUAN JUMLAH RUMAH BERDASARKAN TYPE PADA KAWASAN PERUMAHAN (STUDI KASUS PADA PERUMAHAN XXX DI KABUPATEN MALANG) Fauziah S. C. S. Maisarah1, Joko Setiono1, dan Wildan Rosyidi2
1

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Malang, Jl. Veteran PO. Box. 04 Malang, Telp 0341575750, email: f_fadjar@yahoo.com. 2 Alumni Program Diploma IV Manajemen Rekayasa Konstruksi Jurusan Teknik Sipil, Politeknik Negeri Malang, Jl. Veteran PO. Box. 04 Malang, email: wildan.rosyidi@gmail.com Abstrak Pembangunan kawasan perumahan merupakan suatu bentuk upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Perumahan yang sederhana, sehat, dan asri merupakan amanat pemerintah yang harus diwujudkan oleh setiap pengembang kawasan perumahan. Namun demikian, parameter keberhasilan pengembangan kawasan perumahan tidak akan terlepas dari keuntungan finansial yang diperoleh dari penjualan properti yang ada. Tujuan dari studi ini adalah untuk mereview metode yang digunakan oleh pengembang (objek studi) dalam menentukan jumlah rumah optimum yang dibangunnya (dalam hal ini type 29 dan type 36) untuk mendapatkan keuntungan finansial dari pembangunan kawasan perumahan tersebut. Manfaat yang dapat diambil dalam studi ini adalah hasil kajian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan bagi para pengembang perumahan tentang cara penentuan jumlah tipe rumah dengan menggunakan metode optimasi. Metode yang dipakai untuk menentukan jumlah setiap type rumah adalah dengan menggunakan konsep optimasi. Ditawarkan dua konsep optimasi, yaitu Konsep Optimasi Alternatif 1 dan Konsep Optimasi Alternatif 2. Konsep optimasi alternatif 1 adalah mengoptimasi lahan kawasan secara keseluruhan, dengan mengacu pada komposisi lahan untuk rumah dan fasum sesuai dengan kondisi yang ada. Konsep optimasi alternatif 2 adalah dengan mengoptimasi lahan yang telah terbagi menjadi blok-blok rumah sesuai dengan site plan kondisi eksisting yang telah dibuat oleh pengembang. Konsep alternatif 1 hanya menghasilkan prediksi jumlah rumah dan keuntungan yang dihasilkan oleh kawasan tersebut. Konsep optimasi alternatif 2 menghasilkan perhitungan jumlah rumah dan keuntungan yang lebih pasti karena telah disesuaikan dengan bentuk site plannya. Dengan demikian perhitungan konsep optimasi alternatif 2 dapat dikatakan lebih akurat dibandingkan dengan konsep optimasi alternatif 1. Kata kunci: optmasi, jumlah, type rumah, keuntungan

ANALISA MANFAAT BIAYA MENGGUNAKAN PROSES HIRARKI ANALITIK DALAM PENENTUAN PRIORITAS PROYEK APBD PENANGANAN DRAINASE DI KOTA BANDUNG Fredy Djunaedi1 dan Nadjadji Anwar2
1

Mahasiswa Program Magister Teknik Manajemen Aset, Jurusan Teknik Sipil FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, email: fredydjunaedi@yahoo.co.id 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, email:Nadjadji@ce.its.ac.id ABSTRAK Penanganan drainase di Kota Bandung pada saat ini dilaksanakan dengan mempertimbangkan biaya dan sumber daya tersedia yang berguna untuk memperbaiki fungsi prasarana drainase dalam mengalirkan air permukaan kebadan air atau resapan buatan, namun karena terbatasnya kemampuan pembiayaan pemerintah kota dalam pengelolaan sistem drainase sehingga perlu dilakukan penentuan prioritas penanganan pada proyek drainase dengan mempertimbangkan aspek manfaat dan biaya. Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan model hirarki manfaat biaya penanganan drainase dan menentukan urutan prioritas kegiatan penanganan drainase di Kota Bandung, dengan menggunakan metode proses hirarki analitik dan rasio manfaat dan biaya.

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 7

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada model hirarki manfaat yang berpengaruh adalah kriteria sosial dengan nilai bobot 0,35. Kemudian pada level alternatif yang berpengaruh adalah drainase di lingkungan permukiman dengan nilai bobot sebesar 0,56. Pada model hirarki biaya yang berpengaruh adalah kriteria biaya pemeliharaan dengan nilai bobot sebesar 0,42. Sedangkan prioritas penanganan drainase berdasarkan rasio manfaat dan biaya yaitu gorong-gorong Jl.Kresna-Jl.Bima, gorong-gorong depan Masjid Al-Liqo, gorong-gorong Jl.Halteu Dunguscariang, gorong-gorong RW 11 Babakan Gaya Kaler, gorong-gorong komplek Merkuri Raya, gorong-gorong Jl.RA Barnas kelurahan Dunguscariang, saluran Jl.Buahbatu, gorong-gorong Jl.Lombok, gorong-gorong Cigadung Selatan, saluran Jl.Sapujagat, saluran Jl.Dr.Curie, gorong-gorong Jl.Taman Cibeunying Selatan, saluran Al-Muslimun, saluran Jl.Mars Tengah, saluran dan gorong-gorong Jl.Bagus Rangin, saluran Jl.Gemi, saluran Bumi Asri Gempol Sari, gorong-gorong Jl.Cicukang (PT.Tonembo), saluran RW 03 Sukalilah, saluran Jl.Sudirman, saluran Jl.Jujur, saluran Jl. Kebonjati (Gardujati timur), gorong-gorong dan saluran Jl.Mekarmulya, saluran Jl.Taman Pramuka, saluran Jl.Babakan Siliwangi, saluran Jl.Sudirman lanjutan, saluran sisi barat Jl. Ir.H.Juanda (Perkembunan-Siliwangi), saluran sisi barat Jl.Ir.H.Juanda (Sulanjana-Ganesha). Kata Kunci: penanganan drainase, biaya, manfaat, prioritas, Kota Bandung.

ANALISA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT PENGUNJUNG DATANG KE PASAR BANTO TRADE CENTRE Hadelina1), Christiono Utomo2), Retno Indryani2) 1) Mahasiswa S2 Manajemen Aset FTSP ITS, email : hd_lina@yahoo.co.id 2) Dosen S2 Manajemen Aset, FTSP, ITS ABSTRAK Konsumen dalam memenuhi kebutuhannya akan barang dan jasa mempunyai perilaku, disebut dengan perilaku konsumen yaitu proses dan aktifitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan. Dalam memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa tersebut dibutuhkan suatu pasar. Dalam penelitian ini pasar yang jadi tempat penelitian adalah Pasar Banto Trade Centre yang merupakan pasar eceran dengan kondisi fisik bangunan seluas 22.478m2 terdiri atas empat lantai dengan jumlah kiosnya 1.012 petak. Letak BTC berada di pusat kota berhadapan dengan terminal. Kondisi sekarang pasar sepi dari pengunjung dan pedagang. Bila kondisi ini dibiarkan, dikawatirkan pasar ini akan semakin ditinggalkan pengunjung dan pedagang. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisa faktor yang mempengaruhi minat pengunjung datang ke Pasar BTC. Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif yang bertujuan untuk menemukan faktor-faktor yang mempengaruhi minat pengunjung datang ke pasar BTC. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan analisa faktor dengan mempergunakan data primer yang diperoleh melalui survei. Dari hasil analisa deskriptif didapatkan urutan variabel yang dominan yang mempengaruhi minat pengunjung datang ke Pasar BTC yaitu, Tempat parkir; Harga barang; Pelayanan pengelola; Alat pemadam kebakaran; Lokasi dekat pemukiman; Kualitas/mutu barang; petugas keamanan; Kondisi bangunan; Penghawaan/ventilasi dalam gedung; Tata letak dan tampilan kios/toko; transportasi umum; Penerangan /pencahayaan dalam gedung; Pelayanan pedagang; Suasana lingkungan; Kebersihan; sarana internet dan sinyal handphone; Kelengkapan jenis barang; Akses jarak jalan; toilet dan WC umum; tempat ibadah/mushalla; Papan informasi/petunjuk; Tempat sampah; Akses jalan; Lokasi dekat terminal. Kata kunci : Banto Trade Centre, faktor minat pengunjung, pasar eceran, perilaku konsumen.

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 8

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

EVALUASI KEBERLANJUTAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BERSIH PERDESAAN DI KABUPATEN NGANJUK Itsna Shofiani7, Joni Hermana2 dan Ali Masduqi3
1

Mahasiswa Program Magister Managemen Aset, Jurusan Teknik Sipil FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp. 081335441330, email: ieznas@yahoo.com 2 Dosen Jurusan Teknik Lingkungan FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp. 031-5948886, email: hermana@its.ac.id 3 Dosen Jurusan Teknik Lingkungan FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp. 031-5948886, email: masduqi@its.ac.id

ABSTRAK Kondisi pelayanan air bersih di Kabupaten Nganjuk saat ini masih belum memenuhi kebutuhan masyarakat, khususnya masyarakat miskin. Beberapa proyek pembangunan air bersih telah dilaksanakan di Kabupaten Nganjuk, baik dikelola oleh PDAM maupun yang dikelola oleh masyarakat. Sejak tahun 2003 hingga tahun 2009, proyek pembangunan air bersih perdesaan telah menghabiskan dana sekitar Rp 13 Milyar, namun investasi yang ditanamkan di beberapa daerah tidak berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat keberlanjutan sistem penyediaan air bersih perdesaan di Kabupaten Nganjuk dan merumuskan strategi untuk meningkatkan keberlanjutannya. Dalam penelitian ini dilakukan pendekatan studi kasus untuk menggali persepsi pelanggan dan pengelola air. Variabel yang digunakan dalam penelitian terdiri dari sembilan variabel, yaitu sumber air, pemilihan teknologi, biaya investasi, teknik pengoperasian, pengeloaan lembaga, pengelola/operator, suku cadang, biaya operasi, dan partisipasi masyarakat. Data dari hasil survey tersebut kemudian dijadikan input ke dalam sebuah model keberlanjutan untuk melihat indeks keberlanjutan sistem. Selanjutnya digunakan analisi SWOT untuk merumuskan strategi untuk meningkatkan keberlanjutannya. Dari hasil penelitian di 17 lokasi, diketahui sebanyak empat lokasi tingkat keberlanjutannya rendah, sebelas lokasi tingkat keberlanjutannya sedang, dan dua lokasi tingkat keberlanjutannya tinggi. Berdasar analisis SWOT, untuk meningkatkan keberlanjutan rendah dan sedang diperoleh Strategi Turn-around, yaitu meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang, sedangkan untuk dan mempertahankan tingkat keberlanjutan tinggi digunakan strategi agresif yaitu menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang. Kata kunci: keberlanjutan, strategi, sistem penyediaan air bersih perdesaan.

SURVEY TERHADAP BERTAMBAHNYA BIAYA SELAMA PELAKSANAAN PROYEK KONSTRUKSI JAKARTA (Survey of Cost Increasing in Construction Project During Construction Phase in Jakarta). Ismail Junaedy and Marsiano Civil Engineering ISTN Jakarta isjunaedy@hotmail.com and marsianoe77@yahoo.co.id ABSTRACT Some cost estimations of construction project during construction phase shown inappropriate cost in the end of construction. This inappropriate becomes increasing cost estimation which caused by factor that uncontrol well. The focus of this research is to determine the highest influence of causing factor and how much expences of cost from the causing factors result shown/ Data was collected by questionnaire and statistically processed by SPSS program. The statistic result founded two factors that most influence are construction cost estimate mistake (X1) such as 38.9%, project and office overhead (X7) such as 29.3%. That both factors result Y_cost constant regression value is 3.036 with contribution (influence) such as 44.5%. With construction project cost estimate between Rp 10 billion to Rp 150 billion then the cost increasing between Rp 100 mmillion to Rp 1023.8 million which devided in 7 cattegories. Survey

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 9

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

research proved the increasing of construction cost estimate caused by construction cost estimate mistake and lack of controlling project and office overhead.

MINIMMISASI BIAYA PENEMPATAN KOMPENSATOR TERDISTRIBUSI BERDASARKAN PENILAIAN STOKASTIK UNTUK MENURUNKAN TEGANGAN KEDIP Miguel Marques Monteiro De Jesus 1) Ontoseno Penangsang 2) Adi Soeprijanto 3) Mahasiswa Pascasarjana Program Magister Jurusan Elektro Fakultas Teknik Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) 1) Jurusan Elektro Fakultas Teknik Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) 2,3) Jl. Sukolilo Surabaya E-mail : miguelito_uhulapa@yahoo.co.id Abstrak Minimisasi sentral tidak selalu memberikan penyelesaian yang ekonomis pada masalah menurunnya tegangan. Minimasi tegangan kedip terdistribusi dengan strategi penempatan beberapa alat kompensator diharapkan dapat memberikan alternatif yang lebih baik. Penelitian pada keadaan ini biasanya akan melibatkan evaluasi tambahan dari beberapa pilihan strategi kompensasi, yang mana dapat mengarah pada sesuatu yang tidak dapat di atur pada sebuah sistem yang besar dengan data penurunan tegangan berbentuk stokastik. Menggunakan teknik peluang sebagai metode pembebanan sampling diajukan sebagai pemecahan dalam masalah ini. Cara tersebut diterapkan pada sistem distribusi untuk mengoptimalkan biaya dari penempatan alat-alat sebagai kompensasi. Biaya dibagi dalam dua bagian yakni biaya peralatan dan biaya pemakaian selama terpasangnya alat tersebut. Alat-alat kompensasi akan dioptimalkan dalam dua bagian yang berbeda Dynamic Voltage Restorer (DVR) dan thyristor Voltage Restorer (TVR). Alat tersebut ditempatkan dan dioptimalkan pada suatu tempat yang memungkinkan fungsinya yang saling melengkapi satu sama lain. Untuk mencapai ketahanan dan kecepatan kinerjanya, sebuah alogaritma genetik dengan pengkodean yang disempurnakan telah disertakan di dalamnya. Sebuah sistem distribusi dengan 33 titik beban dengan data penurunan tegangan dan karakteristik toleransi pemakaian akan dianalisis. Kata Kunci: DVR, TVR, algoritma genetika, Stokastik, mitigasi kedip tegangan sistem distribusi.

PENGELOLAAN SISTEM PIPA TRANSMISI DAN DISTRIBUSI PDAM DUA SUDARA KOTA BITUNG UNTUK MELANJUTKAN PELAYANAN Ollivia Zusan Darenoh8, Joni Hermana2 dan I. D. A. A. Warmadewanthi2
1

Program Studi Manajemen Aset Jurusan Teknik Sipil FTSP, ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, email: olliviazusan@yahoo.com 2 Jurusan Teknik Lingkungan FTSP, ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5948886

ABSTRAK Pemerintah daerah melalui PDAM Dua Sudara Kota Bitung diharapkan mampu memberikan pelayanan terbaik, dari cakupan 45,31% (2009) sehingga mencapai sasaran cakupan pelayanan 56% (2015). Hal ini karena konsumen masih mengeluh pendistribusian air yang kuantitasnya tidak memadai dan tidak kontinyu saat ini. Tujuan studi ini adalah melakukan reevaluasi sasaran cakupan pelayanan 56% (2015) dan menetapkan langkah upaya yang diperlukan dalam kurun waktu 5 tahun kedepan untuk meningkatkan pelayanan PDAM Dua Sudara Kota Bitung ini.

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 10

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

Penelitian diawali pengumpulan data primer melalui wawancara, survei kebutuhan nyata dan mengukur sisa tekanan, data sekunder dari PDAM Dua Sudara Kota Bitung dan instansi terkait lainnya. Selanjutnya dilakukan analisis dan evaluasi sistem pipa transmisi/distribusi, analisis dan evaluasi sosial ekonomi, analisis dan evaluasi kemampuan perusahaan. Berdasarkan analisis dan evaluasi diperoleh tambahan pelayanan 13,73% sehingga sasaran cakupan pelayanan menjadi 59,04% (2015). Kondisi perusahaan layak untuk dikembangkan dan langkah upaya yang diperlukan untuk melanjutkan pelayanan adalah merevitalisasi sistem pipa transmisi/distribusi dan membuat alternatif usaha produktif/investasi jangka pendek yang meningkatkan pendapatan.

Kata kunci : PDAM Dua Sudara Kota Bitung, reevaluasi sasaran

PENGARUH PENINGKATAN KUALITAS AIR TERHADAP PENJUALAN DI PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM KOTA SURAKARTA Orin Retnowati 1) dan Joni Hermana 2) 1) Mahasiswa Program Magister Bidang Keahlian Manajemen Aset Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya. Staf PDAM Kota Surakarta, Jl. Adisucipto 143 Surakarta Telp. 0271 712465, email: orinretnowati@ymail.com 2) Dosen Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, telp ABSTRAK Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Surakarta merupakan salah satu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang mengelola infrastruktur dalam penyediaan air minum. Sesuai yang tertuang pada Peraturan Daerah Kotamadia Daerah Tingkat II Surakarta No.3 Tahun 1977 tentang Pendirian PDAM Kotamadia Daerah Tingkat II Surakarta mempunyai maksud dan tujuan yang salah satunya adalah melaksanakan fungsi sebagai suatu perusahaan yang efisien sehingga mampu memperoleh keuntungan pengembangan pelayanan tanpa melupakan fungsi sosial kemasyarakatan. Untuk mencapai kedua tujuan tersebut diberlakukan tarif progresif di mana masyarakat yang mampu membayar lebih mahal untuk sejumlah air yang sama dengan yang digunakan oleh masyarakat yang tidak mampu. Dalam penetapan tarif progresif, volume penjualan per pelanggan per bulan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk meningkatkan pendapatan dan laba. Diduga, penjualan air dipengaruhi oleh kualitas produknya. Masalah penting lainnya adalah seberapa besar pengaruh peningkatan kualitas air terhadap tingginya penjualan. Metode eksperimen yang digunakan adalah One-group Pretest-posttest Design. Teknik ini dipergunakan karena sampel yang diambil tidak dapat dipilih secara acak karena akan memerlukan banyak sampel untuk meneliti kualitas airnya. Dalam desain ini terdapat satu kelompok yang tidak dipilih secara random. Kelompok ini dilakukan pretest untuk mengetahui keadaan awal. Hasil pretest dicatat, kemudian dilakukan eksperimen. Dalam kelompok ini dilakukan perlakuan sesuai tujuan penelitian. Kemudian dilakukan posttest. Hasilnya dicatat dan dibandingkan dengan hasil pretest. Dengan uji T dari Frank Wilcoxon diketahui bahwa ada perbedaan pada taraf signifikan 0,05 pada sampel eksperimen antara sebelum dan sesudah perlakuan. Harga uji statistik T = 1,5 lebih kecil dari harga/nilai kritis T0,025 = 8 maka diputuskan H0 ditolak pada taraf signifikansi 0,05. Kesimpulannya adalah bahwa data penelitian cukup mendukung perubahan penjualan air berkaitan dengan adanya perbaikan kualitas. Untuk pendugaan parameter beda dua rata-rata (1 - 2) sampel kecil dengan tingkat keyakinan 90 % adalah P (-5,50 < d < 18,70) = 90 %. Kata kunci: tarif progresif, perbaikan kualitas, penjualan air.

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 11

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

MODEL PRESTASI KERJA STAFF PERUSAHAAN KONSTRUKSI I Putu Artama Wiguna Yusroniya Eka Putri Rachman Waliulu Jurusan Teknik Sipil FTSP ITS Kampus ITS Sukolilo, Surabaya 60111 email : iput@ce.its.ac.id

ABSTRAK Pekerjaan konstruksi merupakan sebuah permasalahan yang utuh untuk penyediaan tenaga kerja dan penempatannya di industri konstruksi. Sumber daya manusia merupakan elemen paling strategis dalam organisasi yang harus diakui dan diterima oleh manajemen. Peningkatan sumber daya manusia diiringi dengan peningkatan produktivitas kerja, sebaliknya dapat juga menjadi penyebab terjadinya pemborosan dan inefisiensi dalam berbagai bentuk, hal ini menjelaskan bahwa memberikan perhatian pada unsur manusia merupakan tuntutan dalam upaya meningkatkan kinerja. Penelitian ini bertujuan untuk membahas permasalahan job performance berkaitan dengan efektifitas kerja dan membuat sebuah model prestasi kerja dengan variabel-variabel yang mempengaruhinya antara lain karakteristik individu, kemampuan individu, motivasi kerja dan kepuasan kerja. Penelitian ini menggunakan metode survey dengan bantuan kuisioner pada staff perusahaan konstruksi yang secara insidentil ditemui pada perusahaan-perusahaan konstruksi yang besar di Surabaya. Sampel yang diambil adalah 200 responden dan metode analisis yang digunakan adalah SEM (Structural Equation Modelling) dengan program Analysis of Moment Structure (AMOS) versi 6.0 disertai dengan uji kesesuaian model (Goodness of Fit) pada persamaan struktural. Hasil penelitian dari model prestasi kerja staff perusahaan konstruksi menunjukkan bahwa karakteristik individu berpengaruh positif terhadap kemampuan kerja tetapi tidak berpengaruh terhadap prestasi kerja, kemampuan kerja individu berpengaruh positif terhadap prestasi kerja, sedangkan motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kepuasan kerja dan prestasi kerja dan kepuasan kerja berpengaruh positif terhadap prestasi kerja. Perbedaan dari model prestasi kerja seorang tukang dan staff adalah untuk model kinerja seorang tukang proyek, semakin tinggi motivasi kerja cenderung menghasilkan kinerja yang menurun Sedangkan pada model kinerja seorang staff perusahaan konstruksi, semakin tinggi motivasi kerja dapat meningkatkan prestasi kerja. Dan pada model kinerja pekerja terdapat variabel tekanan dalam pekerjaan yang secara langsung dan tidak langsung melalui peningkatan motivasi kerja mempengaruhi kinerja pekerja., lain halnya dengan model prestasi kerja staff yang tidak mempunyai variabel tekanan dalam pekerjaan untuk meningkatkan motivasi dan kinerjanya melainkan motivasi kerja yang dihasilkan dapat meningkatkan kepuasan kerja yang pada akhirnya akan meningkatkan prestasi kerja staff perusahaan konstruksi. Kata kunci : model, prestasi kerja, staff, perusahaan konstruksi.

STUDI PERBANDINGAN FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI MILIK PEMERINTAH DAN SWASTA Risman Dala9, Mohammad Arif Rohman2 dan Yusroniya Eka Putri3
1

Mahasiswa Program Sarjana Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya 2,3 Dosen Jurusan Teknik Sipil FTSP, ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya Abstrak Pada pekerjaan proyek konstruksi sering dijumpai kendala pada pelaksanaannya. Kendala tersebut biasanya menjadi penyebab terlambatnya penyelesaian proyek. Akibatnya proyek tersebut tidak berlangsung sesuai dengan rencana. Hal tersebut melatarbelakangi perlunya dilakukan penelitian untuk menetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi keterlambatan pelaksanaan proyek konstruksi gedung bertingkat yang dilaksanakan oleh owner pemerintah dan owner swasta.

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 12

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

Penelitian ini dilakukan sebagai upaya untuk mendapatkan atau mengetahui faktorfaktor utama yang mempengaruhi keterlambatan tersebut menjadi faktor dominan, mengetahui faktor penyebab keterlambatan antara swasta dan pemerintah, dan menganalisis respon akibat keterlambatan dari faktor dominan. Penelitian dilakukan dengan cara survey melalui penyebaran kuesioner kepada responden, yaitu manajer-manajer proyek atau yang berkompoten untuk mengisi kuisioner tersebut. Analisis data menggunakan metode analisis statistik deskriptif, dengan severity index. Dari hasil penelitian didapatkan faktor-faktor dominan yang menjadi penyebab utama keterlambatan proyek yang dilaksanakan oleh owner pemerintah dan owner swasta, antara lain faktor penyebab utama keterlambatan proyek yang dilaksanakan owner pemerintah yaitu akibat bencana alam dan penggunaan metode konstruksi yang tidak tepat, sedangkan owner swasta adalah bencana alam, perolehan perizinan dari pemerintah, keterlambatan pengiriman material, kekurangan material di lapangan, jumlah material yang dikirim tidak tepat, kesulitan keuangan pada konstruksi, serta penggunaan metode konstruksi yang tidak tepat. Dari faktor keterlambatan yang dominan, maka dapat diketahui respon dari faktor tersebut, yaitu untuk bencana alam adalah membuat berita acara terjadi bencana untuk perbaikan dan perpanjangan waktu pengerjaan, metode konstruksi adalah harus disampaikan kepada manajer konstruksi, pemilik kontrak, serta pengawas untuk dipresentasikan metode yang digunakan agar dapat diganti atau dikurangi metode kerjanya, perolehan izin dari pemerintah adalah melengkapi semua data-data proyek baik itu bangunan renovasi maupun bangunan yang baru akan dibangun atas nama owner, keterlambatan pengiriman material adalah mempercepat kedatangan material di lapangan, kekurangan material di lapangan adalah menambah satu supplier pengadaan material sehingga tidak tergantung pada satu supplier denga catatan mutu/spec bahan material harus sesuai dengan spesifikasi teknis, jumlah material yang dikirim tidak tepat adalah dikembalikan kepada suppliernya dan menggantikan supplier material lain, kesulitan keuangan adalah mendahulukan pekerjaan yang lebih struktural dan pekerjaan pendukung lainnya menyusul apabila telah mendapatkan biaya dari pemilik kontrak. Kata kunci : Perbandingan, keterlambatan, proyek konsntruksi, pemerintah, swasta

MODEL PENDANAAN KEMITRAAN PENGELOLAAN KAWASAN WISATA TELAGA SARANGAN MAGETAN Rokhmat Zainuddin 1), Christiono Utomo2) dan Retno Indryani3) Mahasiswa S2 Manajemen Aset FTSP ITS, email : rokhmatzainuddin@yahoo.com 2) Dosen Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, email: cutomo2002@yahoo.com 3) Dosen Jurusan Teknik Sipil Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, email: retno_i@ce.its.ac.id
1)

ABSTRAK Pembeayaan merupakan faktor penting dalam pengembangan suatu infrastruktur. Ketersediaan infrastruktur adalah faktor utama penggerak perekonomian, sehingga dengan rendahnya tingkat investasi untuk penyediaan infrastruktur akan sangat berdampak negatif pada pertumbuhan ekonomi suatu wilayah. Secara ideal, seluruh pembeayaan infrastruktur ekonomi seharusnya ditanggung oleh negara, rakyat tidak dibebankan beaya pemakaian. Namun kemampuan pemerintah dalam membeayai infrastruktur saat ini masih jauh dari harapan yang diinginkan. Padahal tanpa adanya pendanaan yang cukup, infrastruktur yang merupakan prasarana publik dalam mendukung kegiatan ekonomi suatu negara tidak akan terwujud. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan bentuk sumber dana pembeayaan yang tepat melalui kemitraan dengan pihak swasta. Karena bentuk kemitraan sangat beragam, diperlukan suatu penelitian untuk menentukan pola kemitraan yang dapat diterapkan, yang saling menguntungkan bagi pemerintah maupun swasta. Penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis proyeksi pemodelan finansial terhadap profitability index (PI) masing-masing alternatif kemitraan dengan dukungan riset empiris survey pada jumlah pengunjung dalam pengelolaan kawasan wisata telaga Sarangan. Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah dengan membandingkan antara dua jenis kerjasama yakni Kontrak Kelola dan Build Transfer (BTO) disimpulkan bahwa jenis Kontrak Kelola (Management Contract) tidak bisa dilakukan, karena setelah dilakukan analisis sensitivitas pada periode kerjasama dan faktor diskon, nilai PI untuk pihak pemerintah adalah kurang dari 1, ada nilai PI pemerintah yang > 1 yakni pada kondisi

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 13

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

faktor diskon 6%, masa kerjasama 4 tahun tetapi nilai PI swasta pada kondisi tersebut justru < 1. Jika PI < 1 maka investasi tidak layak. Sedangkan bentuk BTO mempunyai nilai layak (PI>1) jika beberapa kondisi terpenuhi, misalnya kontribusi swasta ke pemerintah 50%, atau kontribusi 40% dengan diskon faktor 5%; atau kontribusi 40% diskon faktor 5,5% dan periode kerjasama > 5 tahun; atau kontribusi 30% dengan periode kerjasama > 10 tahun; atau kontribusi 20% dengan periode kerjasama > 15 tahun. Kata kunci : Kerjasama, pembeayaan proyek, profitability index

MANFAAT PENERAPAN KNOWLEDGE MANAGEMENT PADA PERUSAHAAN KONSTRUKSI Rudi Waluyo1, Mochamad Agung Wibowo2
1

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Palangka Raya, Kampus UNPAR Jl. Yos Sudarso Palangka Raya, Telp/Fax. 0536- 3226487, email : rudiwaluyoleliana@yahoo.co.id 2, Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Jl. Prof.Soedarto, Tembalang, Semarang, Telp./Fax : 024 7474770, 024 7460060email: agung_wibowo8314423@yahoo.co.uk

ABSTRAK Globalisasi, inovasi teknologi dan persaingan yang ketat pada bisnis konstruksi dewasa ini memaksa perusahaan-perusahaan mengubah cara mereka menjalankan bisnisnya. Agar dapat terus bertahan maka perusahaan-perusahaan harus dengan cepat mengubah dari labor-based business menuju knowledge based business, sehingga karakteristik utama perusahaannya menjadi perusahaan berbasis pengetahuan. Apabila pengelolaan pengetahuan (knowledge management) di dalam perusahaan dilakukan dengan benar maka akan sangat bermanfaat bagi organisasi. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi manfaat penerapan knowledge management pada perusahaan-perusahaan konstruksi di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dan survei. Penelitian ini dilakukan di PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT. Adhi Karya (Persero) Tbk yang merupakan perusahaan-perusahaan konstruksi yang menerapkan knowledge management pada aktivitasnya sehari-hari. Penelitian ini dilakukan dengan menyebar kuesioner pada kedua perusahaan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan knowledge management pada perusahaan-perusahaan konstruksi memberikan manfaat yang positif, yaitu: meningkatkan budaya sharing pengetahuan, meningkatkan kerja sama tim (teamwork), meningkatnya kemampuan melayani costumer, meningkatnya budaya belajar (learning), meningkatnya kinerja bisnis perusahaan, kemampuan berinovasi yang semakin meningkat, proses-proses di dalam perusahaan menjadi lebih tersistem, kemampuan pengambilan keputusan menjadi meningkat, respon terhadap pelanggan meningkat, dan meningkatnya efisiensi kerja dan proses. Kata kunci : Knowledge, knowledge management, perusahaan konstruksi, manfaat

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 14

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

PENETAPAN TARIF SEWA & RETRIBUSI PETAK PASAR DI KABUPATEN TANAH LAUT PROVINSI KALMANTAN SELATAN Sri Hadi10, I.Putu Artama W2., dan Christiono Utomo2
1

Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil FTSP-ITS, email:srihadi74@gmail.com 2 Dosen Program Studi Teknik Sipil FTSP ITS

ABSTRAK Pasar tradisional yang dimiliki Pemerintah Kabupaten Tanah Laut pada Tahun 2010 berjumlah sembilan buah yang menyebar di sebelas kecamatan. Didalam pasar tersebut terdapat beberapa aset yang dugunakan oleh pedagang untuk berjualan, diantaranya adalah petak yang terdapat di seluruh pasar. Keterbatasan dana dapat menyebabkan kurangnya optimalisasi aset pasar, sehingga muncul usaha untuk memperbesar pendapatan. Salah satunya berasal dari hasil penarikan tarif sewa dan retribusi agar mampu menutup besarnya beaya, dan juga mempertimbangkan kemampuan masyarakat atau pedagang. Penelitian ini bertujuan menetapkan besarnya tarif sewa dan retribusi yang dapat menutup beaya operasional dan pemeliharaan atau beaya pelayanan, tetapi juga memepertimbangkan masyarakat yang sebagai obyek dari tarif. Metode analisa yang digunakan untuk penetapan tarif adalah menggunakan pendekatan beaya dan pendekatan permintaan. Pendekatan beaya dihitung dengan metode analisa akuntansi dengan berdasarkan data skunder dari laporan penerimaan dan pengeluaran di Kantor Pengelola Pasar Kabupaten Tanah Laut dan laporan penjabaran APBD. Pendekatan permintaan ditentukan dengan menggunakan persepsi pedagang atas nilai, sehingga menghasilkan kurva permintaan. Dengan analisa regresi linier dan menggunakan pendekatan marginal diperoleh tarif yang sesuai dengan persepsi pedagang. Hasil yang diperoleh untuk tarif baru penggunaan petak pasar kabupaten yang beroperasi harian naik 36% dari tarif lama, sehingga informasi tarif baru sebesar Rp.19.058,00 perbulan. Kemudian di pasar kecamatan yang beroperasi mingguan naik 51 % dari tarif sebelumnya, sehingga informasi tarif baru Rp.7.090,00 perbulan. Kata kunci : beaya, pasar, kurva permintaan, tarif

STUDI PENERAPAN E-PROCUREMENT PADA PELAKSANAAN PENGADAAN DI PEMERINTAH KOTA SURABAYA

Wahyu Hary Wijaya1, Retno Indryani2, dan Yusronia Eka Putri3


1

Mahasiswa Pasca Sarjana Manajemen Proyek Konstruksi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, 081332694251, email: wahyu_harywijaya@yahoo.com 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, email: retno_i@ce.its.ac.id 3 Dosen Jurusan Teknik Sipil FTSP, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, email: iput@ce.its.ac.id

ABSTRAK E-procurement merupakan proses pengadaan barang/jasa yang pelaksanaannya dilakukan secara elektronik (berbasis web/internet). E-procurement dilatarbelakangi oleh kelemahan-kelemahan pengadaan dengan sistem konvensional yang dilakukan dengan langsung mempertemukan pihak-pihak yang terkait pengadaan. E-procurement hadir dalam rangka pemenfaatan perkembangan teknologi informasi dalam proses pengadaan barang/jasa serta untuk mewujudkan pelaksanaan pengadaan barang/jasa yang efisien, efektif, adil dan transparan. Pemerintah Kota Surabaya merupakan instansi pemerintah pertama yang mengimplementasikan pelelangan dengan sistem e-procurement. Hal ini menyebabkan perlunya

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 15

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

mengetahui penerapan e-procurement di Surabaya pada tiap tahapannya agar penerapan e- procurement dapat lebih berkembang. Metode yang akan digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan metode survey dengan kuisioner sebagai alat pengumpulan data. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran kuisioner kepada panitia pengadaan pada Unit layanan Pengadaan Pemerintah Kota Surabaya atau pihakpihak yang terlibat dalam sistem e-procurement seperti pada Bagian Surabaya E-procurement System (SePS) Pemerintah Kota Surabaya. Kuisioner berbentuk Check List berisi tahapan-tahapan/proses pengadaan pada PEMKOT Surabaya Vs mekanisme pelaksanaannya. Data hasil penyebaran kuisioner akan dianalisa dengan menggunakan Analisis Deskriptif dengan menggunakan nilai modus. Hasil penelitian ini adalah penerapan e -procurement pada pemerintah pengadaan di Pemerintah kota surabaya dapat dikategorikan sebagai full e-procurement karena seluruh pelaksananaan tahapan/proses pengadaannya telah dilakukan secara elektronik, walaupun ada beberapa tahapan yang dilakukan dengan cara kombinasi elektronik dan manual, namun hal itu dilakukan untuk alasan komunikasi. Hanya penandatangannan kontrak saja yang dilakukan secara manual dengan tatap muka langsung antara pihak pengguna jasa dan penyedia jasa karena tidak dimungkinkan secara elektronik. Kata Kunci : e-procurement, sistem pengadaan barang dan jasa.

TINJAUAN TERHADAP SISTEM PENJAMINAN KEGAGALAN BANGUNAN PADA PROYEK GEDUNG Oleh: Zaenal Arifin* (* Staf Pengajar Kehususan Manajemen Proyek di JurusanTeknik Sipil FTSP UII, Ketua Umum Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia - IAMPI DPD DI Yogyakarta, dan Direktur Utama PT. Prima Andalan Group - www.pag.co.id ) Abstrak Proyek konstruksi memiliki karakteristik yang sangat unik, salah satunya adalah banyaknya pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan proyek, dimulai dari Pemilik proyek (owner), Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas, Main Kontraktror, Sub-Kontraktor sampai dengan Suplier material. Jika terjadi wanprestasi dalam pencapaian hasil bangunan dapat dipastikan menjadikan permasalahan yang cukup rumit dan komplek dalam penyelesaiannya. Wanprestasi ini dapat berupa kurang atau tidak tercapainya mutu yang disyaratkan, molornya waktu dari yang telah direncanakan serta budget yang melampaui anggaran bahkan dapat berupa Kegagalan Bangunan (failure) baik sebagian maupun secara keseluruhan dari bangunan tersebut. Wanprestasi yang disebutkan terakhir ini memiliki pengaruh yang sangat besar dalam penyelenggaraan proyek, sehingga perlu pengaturan dan titik pandang yang sama dari masing-masing pihak dalam penyelesaiannya. Tulisan ini akan mengkaji Sistim Penjaminan Kegagalan Bangunan pada Proyek Gedung ditinjau dari waktu serta besaran jaminan dan pihak mana yang layak sebagai penjamin dari Kegagalan Bangunan tersebut. Dengan melakukan kajian terhadap pengalaman-pengalaman penulis dalam keterlibatan proyek konstruksi dan mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang-Undang No.18 Tahun 1999 serta Peraturan Pemerintah No. 28, 29 dan 30 Tahun 2000, serta referensi buku yang berhubungan. Hasil kajian didapatkan bahwa besaran jaminan kegagalan bangunan diusulkan mencapai 100 prosen dari nilai kontrak, hal ini dimaksudkan agar penyedia jasa lebih bertanggungjawab dalam penyelesaian produk konstruksi. Jaminan tersebut dikeluarkan pihak ketiga, yaitu perusahaan asuransi yang memiliki kriteria dan persyaratan yang telah ditentukan pemerintah. Besar premi yang dibayar penyedia jasa ke pihak asuransi untuk pertanggungan jaminan sebesar 5% dari nilai jaminan dengan pembayaran Premi-Tunggal. Besaran premi ini langsung dimasukkan dalam penawaran harga konstruksi seperti pemberlakuan pada Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penghasilan (PPh). Agar hal ini dapat berjalan, perlu diberi apresiasi lebih terhadap kenyamanan keuntungan proyek dengan mengkaji ulang harga satuan upah dan bahan. Sedangkan untuk priode jaminan maksimal selama 10 tahun pasca konstruksi. Kata kunci: Wanprestasi,Kegagalan Bangunan, Jaminan

Kumpulan Abstrak Bidang Manajemen Proyek Konstruksi - 16