Anda di halaman 1dari 3

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

STUDI ANALISA BANJIR DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SIG DI KABUPATEN BOJONEGORO Anna Rosytha, Dr. Ir. M. Taufik

ABSTRAK Kejadian banjir di Kabupaten Bojonegoro ini sering terjadi setiap tahun pada waktu musim penghujan, kejadian banjir tersebut menimbulkan terendamnya ribuan hektar areal pertanian dan ribuan rumah warga, banjir yang terjadi di Kabupaten Bojonegoro dikarenakan oleh meluapnya sungai Bengawan Solo, penyebab banjir bandang karena hulu sungai tersebut berasal dari pengunungan kapur selatan yang curah hujannya tinggi. Mengingat kejadian banjir mengakibatkan kerugian yang besar maka perlu adanya kajian untuk menganalisa potensi rawan banjir di wilayah Kabupaten Bojonegoro. Penentuan zona daerah rawan banjir menggunakan integrasi Citra Landsat ETM 7 dan Peta RBI menghasilkan informasi penutupan lahan, jaringan jalan, jaringan sungai, dan Digital Elevation Model (DEM). Data tersebut dikombinasikan dengan data histori banjir untuk menghasilkan peta limpasan banjir. Selanjutnya dengan analisa SIG, yaitu overlay data dan network analyst, dapat dibuat peta visualisasi limpasan dan genangan air hujan sehingga dapat diketahui luasan dan faktor penyebab terjadinya genangan. Kata kunci: Bencana Banjir, Citra Landsat ETM 7, DEM dan SIG

TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS SEBAGAI ALAT OPTIMALISASI MANAJEMEN LALU-LINTAS JALAN ARTERI DI KOTA SURABAYA Nanang Setiawan, Teguh Hariyanto, Haryo Sulistyarso, Alisjahbana. Mahasiswa S3 , Jurusan Teknik Sipil, Bidang Keahlian Pengeinderaan Jauh, FTSP-ITS, Kampus ITS Sukolilo, Telp.5922425, email : rekapola94@yahoo.com 1 Dosen Program Studi Teknik Geomatika, FTSP-ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5946094, email: teguh_hr@its.ac.id 2 Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, FTSP-ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5922425, email: tenggilis44@gmail.com Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UNIPA, Kampus Menanggal Surabaya ABSTRAK Surabaya merupakan kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, dihadapkan pada kemacetan lalu lintas dan polusi. Hal ini disebabkan karena kepadatan lalu lintas dari berbagai kendaraan di jalan arteri baik primer maupun sekunder. Pertumbuhan kendaraan dan sepeda motor untuk 5 tahun terakhir, membuat jalan dipenuhi dengan berbagai persoalan. Sekarang, Surabaya mengandalkan sektor perdagangan dan jasa 58%, sektor industri 41% dan sektor pertanian 1% telah membuat pertumbuhan kota Surabaya amat cepat. Sehingga penduduk dapat dengan mudah membeli mobil maupun sepeda motor guna membantu mereka dalam melakukan aktivitas mereka. Pemerintah Lokal dalam posisinya belum dapat mengimbangi pembangunan jalan raya baru untuk melayani kegiatan mereka dalam berkendara dengan perilaku yang baik. Pertumbuhan rata-rata kendaraan penumpang, telah menjadi 14% ( 277.360 unit), kendaraan kargo 6%, (129.607 unit) dan sepeda motor 80% (1.697.765 unit) untuk 28 tahun. Data jalan arteri primer dan sekunder selama 14 tahun terakhir, belum dapat direalisasikan sebagai jalan baru. Dalam tahun 1996 hingga 2008, arteri primer 80,71 km dan arteri sekunder 76,95 km. Hal ini ada stagnasi selama 15 tahun. Dalam penelitian ini kinerja jalan dievaluasi menggunakan D/S (Degree of Saturation) dan HCM (Highway Capacity Manual) 2010, salah satu parameter dalam tingkat layanan jalan. Dengan menggunakan teori manajemen transportasi serta perangkat lunak teknologi sistem informasi geografis, pertumbuhan jaringan jalan mungkin dikembangkan dengan optimalisasi jalan arteri primer. Hal ini disimpulkan bahwa ada kemacetan lalulintas dalam beberapa jalan arteri primer yang dapat diketahui dengan membandingkan kapasitas jalan dan volume kendaraan. Selanjutnya, pertumbuhan jalan-jalan arteri primer dapat dilihat dari peta digital per layer, Kata kunci : Kinerja jalan, Manajemen transportasi, Transportasi SIG.

Kumpulan Abstrak Bidang Penginderaan Jauh-1

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

MONITORING PERLUASAN PRASARANA JALAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP GUNA LAHAN PERKOTAAN MELALUI TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SIG (Studi Kasus: Kotamadya Surabaya) Oleh: M. Taufik1) , Abdul Wahid Hasyim2) , Teguh Hariyanto1), Haryo Sulistyarso3) taufik_srmd@yahoo.com, http://awhasyim.wordpress.com/, teguh_hr@geodesy.its.ac.id, fiefa07@yahoo.com 1) Dosen Pasca Sarjana Teknik Sipil FTSP-ITS, bidang Penginderaan Jauh 2) Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya Malang, sedang menempuh S3 Penginderaan Jauh di Institut Teknolologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, 3) Dosen Pasca Sarjana Teknik Sipil FTSP-ITS, bidang PWK Abstraksi Sebagai kota terbesar ke dua di Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 3 juta jiwa yang memiliki fungsi sebagai pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Indonesia timur menambah lengkap alasan sebagai magnet kota yang selalu memberikan peningkatan jumlah penduduk tiap tahunnya. Berdasarkan citra Landsat 7 ETMKota Surabaya yang memiliki luas 335.4Km atau 372.667 piksel, secara fisik mengalami pertumbuhan permukiman yang sangat pesat 20,36% dan 4,81% (2002-2009) terhadap luas kota. Pembangunan jalan sebagai jalur transportasi memberikan kontribusi terbesar (12.9%) dibanding variabel lainnya terhadap pertumbuhan kota (Woodruff dan Brown dalam Abdul Wahid Hasyim, 1995). Melalui teknologi penginderaan jauh dan SIG, dilakukan pengolahan terhadap citra Landsat 7 ETM tahun 2002-2009, dimana citra Landsat (tahun 2009) harus diolah terlebih dahulu agar data-data yang hilang dapat diperbaiki disebut sebagai filling scan gap. Setelah dilakukan pengolahan citra dengan metode klasifikasi Maximum Likelihood dan teknik overlay pada SIG diperoleh prasarana jalan dari (tahun 2002-2009) mengalami peningkatan 43.191 unit piksel atau 38,87km (46,29%) atau 11,59% terhadap luas kota, dan mengurangi jumlah RTH seluas 9873 unit piksel atau 8,9 km. Secara total luas perubahan guna lahan RTH (ruang terbuka hijau) dan mangrove yang juga disebabkan oleh kegiatan lainnya sejak tahun 2002-2009 dari yang awalnya 60,2 km (tahun 2002) menjadi 36,68 km (tahun 2009) atau tinggal 10,94% terhadap luas total kota. Kata kunci: Perluasan, Perubahan Guna Lahan, Penginderaan Jauh, dan SIG

KUALITAS DATA CITRA LANDSAT ETM PADA PERUBAHAN GUNA LAHAN RTH DENGAN MENGGUNAKAN SCATTERGRAM (Studi Kasus: Pemukiman Kotamadya Surabaya) Oleh: Teguh Hariyanto1), Abdul Wahid Hasyim2),,M. Taufik1), Haryo Sulistyarso3) teguh_hr@geodesy.its.ac.id, http://awhasyim.wordpress.com/, taufik_srmd@yahoo.com, fiefa07@yahoo.com 4) Dosen Pasca Sarjana Teknik Sipil FTSP-ITS, bidang Penginderaan Jauh 5) Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Brawijaya Malang, sedang menempuh S3 Penginderaan Jauh di Institut Teknolologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, 6) Dosen Pasca Sarjana Teknik Sipil FTSP-ITS, bidang PWK Abstraksi Pantulan spectral dan panjang gelombang dapat menunjukkan dan membedakan material permukaan lahan misalnya: air, lahan kering, dan tumbuhan. Spectral adalah daya pisah objek berdasarkan besar spektrum elektromagnetik yang digunakan untuk perekaman data dan mempengaruhi besarnya radiometrik (derajat keabuan). Citra Landsat ETM (Enhanced Thematic Mapper) memiliki keunggulan saluran pankromatik (0,500,90) m dengan resolusi 15x15m dari citra Landsat TM (Thematic Mapper) pendahulunya, namun memiliki kemampuan relatif sama pada saluran-salurannya, yaitu menggunakan panjang gelombang tampak (visible), inframerah dekat (NIR), inframerah pendek (MIR), dan inframerah termal (TIR). Berdasarkan pantulan materi Kumpulan Abstrak Bidang Penginderaan Jauh-2

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

(spectrum) dan panjang gelombangnya, perubahan guna lahan pada tutupan lahan (land cover) dapat diinformasikan melalui salah satu saluran terkuatnya diantara 7 saluran (band) yang ada. Seperti pada website http://landsat.gsfc.nasa.gov (2011), bahwa citra landsat saluran 1, 2, dan 3 dinyatakan mampu mendeteksi bangunan buatan (man-made feature identification) dibanding saluran lainnya. Menggunakan metode klasifikasi Maximum Likelihood dan teknik overlay pada SIG diperoleh hasil klasifikasi pemukiman tahun 2002 seluas 63,16 Km, dan tahun 2009 seluas 79,30 Km, atau terjadi perluasan pemukiman seluas 16,15 Km (20,36%) pada ruang terbuka hijau (RTH) seluas.... Kata kunci: Kualitas Data Citra, Perubahan Guna Lahan, Scattergram

Kumpulan Abstrak Bidang Penginderaan Jauh-3