Anda di halaman 1dari 4

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

PENINGKATAN RISIKO KERUSAKAN BANGUNAN INFRASTRUKTUR JEMBATAN AKIBAT PENINGKATAN CURAH HUJAN
1

Antonius Nanang Adi Putranto1 Staf Bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Dinas PU Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Blitar, Jl. Sudanco Supriadi 86, Blitar, Telp (0342)808897, e-mail: nanangadi@yahoo.co.id

ABSTRAK Peningkatan curah hujan yang terjadi pada rentang tahun 2010 ditengarai banyak pihak menimbulkan kerusakan infrastruktur hampir di semua daerah. Kerusakan itu dapat terjadi pada infrastruktur umum seperti jalan, bendungan, dan jembatan. Tulisan ini menampilkan ulasan singkat tentang kerusakan jembatan di Kabupaten Blitar yang meningkat signifikan pada tahun 2010, yang diduga diakibatkan oleh peningkatan angka curah hujan. Ulasan tersebut berisikan tentang identifikasi penyebab kerusakan jembatan tersebut, serta pengamatan terhadap perubahan data curah hujan tahunan mulai tahun 2003 sampai 2010 pada stasiun-stasiun pengamat curah hujan. Pada akhirnya diharapkan dapat mengeluarkan solusi-solusi tepat guna untuk mengantisipasi kejadian-kejadian serupa yang mungkin akan terjadi pada masa mendatang. Kata kunci : jembatan, kerusakan, curah hujan

ANALISIS INFRASTRUKTUR DI WILAYAH PEDALAMAN STUDI KASUS: WILAYAH BUSANG Efendy Tambunan Dosen Jurusan Teknik Sipil, Universitas Kristen Indonesia, Kampus UKI, Jl. Mayjend Sutoyo, Cawang, Jakarta Timur, Telp 021-8009190, Email: efendytam@yahoo.com ABSTRAK Busang merupakan tipikal wilayah pedalaman, dilintasi banyak anak sungai yang menjadi salah satu hulu Sungai Mahakam dan sangat kaya dengan sumber daya alam. Lalu lintas barang dan manusia berlangsung melalui transportasi sungai dan darat dari Wilayah Busang ke Samarinda dan sebaliknya. Berdasarkan survey dan wawancara kepada warga Kecamatan Busang, mereka lebih banyak memanfaatkan jasa transportasi darat karena alasan aksessibilitas, mobilitas dan efisiensi perjalanan. Prasarana jalan dari Samarinda ke Wilayah Busang sangat buruk karena perkerasan jalan bukan dengan dengan aspal atau beton melainkan dengan koral dan aggregate bercampur tanah. Infrastruktur jalan akan semakin buruk ketika musim hujan tiba yang mengakibatkan aksessibilitas, mobilitas dan efisiensi perjalanan menjadi sangat rendah. Prasarana jalan yang tidak teratur dipelihara ketika musim hujan tiba mengakibatkan waktu tempuh (travel time) dan biaya transport (travel cost) menjadi lebih lama dan mahal. Perubahan cuaca (climate change) dewasa ini juga mengakibatkan intensitas curah hujan yang sangat tinggi dan ekstrim yang terjadi kapan saja mengakibatkan waktu tempuh dan biaya perjalanan semakin sulit diprediksi. Pembangunan jembatan di Sungai Atan akan meningkatkan aksessibilitas perjalanan melalui rute darat dari Samarinda ke Wilayah Busang. Demikian juga pembangunan jalan permanen dengan memperhitungkan pengaruh genangan air dan lintasan air di badan jalan akibat tingginya intensitas curah hujan akan meningkatkan aksessibilitas, mobilitas dan efisiensi lalu lintas barang dan manusia. Kata kunci : infrastruktur, aksessibilitas, efisiensi, transportasi darat, transportasi sungai

Kumpulan Abstrak Bidang Infrastruktur-1

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

PERANAN PRASARANA DAN SARANA DASAR PADA PENGADAAN PERUMAHAN BAGI MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DI WILAYAH PAKAL BENOWO Kusumastuti Staft Pengajar Program Studi D-III Teknik Sipil FTSP, email: kusumastuti@ce.its.ac.id. ABSTRAK Studi ini dilakukan di kecamatan Pakal, sebagai wilayah pemekaran dari kecamatan Benowo. Kecamatan Pakal merupakan kawasan pinggiran kota yang secara umum kehidupan penduduknya masih berciri pedesaan yang didominasi oleh aktivitas pertanian dan tambak. Sebagai ciri-ciri desa/kampung yang merupakan ciri khas penghuninya adalah berpenghasilan rendah, sehingga penyediaan prasarana dan sarana permukimannya masih kurang memadai. Tujuan studi adalah untuk mengetahui potensi dan kearifan lokal dalam pengadaan perumahan bagi pekerja-pekerja industri, khususnya yang dilakukan oleh pengembang perumahan informal (Haji Abu Bakar), tanpa bantuan modal dari institusi keuangan dan teknis, untuk mengetahui keterbatasan penyediaan prasarana dan sarana lingkungan permukimannya. Hipotesis penelitian diuji dengan menggunakan analisis swot dan perencanaan strategis. untuk mengetahui potensi pengadaan perumahan dan penyediaan prasarana dan sarananya. Data didapat melalui daftar pertanyaan, pengamatan dan wawancara langsung dengan penduduk kelurahan Babat Jerawat, Benowo kecamatan Pakal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengadaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah kemungkinan tetap memiliki potensi dengan proses secara informal dan berkesinambungan, dan keterbatasan penyediaan prasarana dan sarana permukiman disebabkan oleh keterbatasan dana, sehingga menemui kendala dalam proses pengembangannya. Kata kunci : Pengembang informal, dan Kemitraan

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA PENAWARAN PADA PROYEK INFRASTRUKTUR SUMBER DAYA AIR DI KALIMANTAN TENGAH Jermias Tjakra1 dan Lendra2 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara, email: jermias.tjakra@yahoo.com 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Palangka Raya, Kampus UNPAR Jl. Yos Sudarso Palangka Raya, Kalimantan Tengah, email: lendraleman@yahoo.com ASBTRAK Sejak manusia mengenal budidaya tanaman secara menetap, maka terdapat satu infrastruktur yang menjadi perhatian utama yaitu infrastruktur sumber daya air. Dengan adanya pemekaran wilayah kabupaten/kota di provinsi Kalimantan Tengah, maka pemerintah berusaha meningkatkan pembangunan di segala bidang, dan salah satu pembangunan tesebut adalah infrastruktur sumber daya air. Dimana hal tersebut diperlukan untuk mendukung peningkatan perekonomian dan taraf hidup masyarakat di daerah. Namun pada kenyataannya, sekalipun banyak proyek yang dilelangkan, kontraktor tetap harus bersaing secara ketat dalam memberikan harga penawaran untuk memenangkan proyek-proyek tersebut. Berlatarbelakang dari permasalahan tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kepentingan faktor yang mempengaruhi harga penawaran, menentukan faktor yang membedakan, menentukan faktor dominan dalam mempengaruhi harga penawaran dan mengetahui berapa besar persen selisih harga penawaran terhadap pagu anggaran proyek. Penelitian ini dilakukan terhadap perusahaan jasa konstruksi dengan kualifikasi gred 2, 3, 4 gred 5, gred 6 dan 7 pada bidang sumber daya air yang ada di Palangka Raya. Pengumpulan data dilakukan dengan memberikan kuisioner, kemudian data yang diperoleh diolah dan dianalisis untuk menentukan peringkat, faktor-faktor yang membedakan, faktor-faktor dominan dan selisih harga penawaran, dianalisis secara statistik dengan mengunakan software SPSS. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi nilai penawaran berdasarkan peringkat dan rata-rata, dari seluruh gred adalah cash flow yang dibutuhkan proyek, tipe kontrak, ketersediaan staf yang kompeten, permintaan jaminan (bond) dan ketersedian pekerjaan proyek. Faktor yang membedakan dalam penentuan harga penawaran yaitu kebutuhan akan proyek, ketidakpastian dalam estimasi biaya, tingkat kompetisi, diadakaannya prakualifikasi dan peraturan pemerintah. Dari analisis diagram Pareto dari seluruh gred didapat delapan faktor yang paling dominan

Kumpulan Abstrak Bidang Infrastruktur-2

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

yaitu cash flow yang dibutuhkan proyek, ketersediaan pekerja proyek, ketersediaan peralatan, fluktuasi harga material, resiko berinvestasi pada proyek, nilai kontrak proyek, tingkat keselamatan dan keamanan serta permintaan jaminan (bond). Selisih harga penawaran terhadap pagu anggaran dari seluruh gred yaitu kurang dari 2% sebanyak 8 responden (20%), antara 3 5% sebanyak 29 responden (72.5%), dan lebih dari 5% sebanyak 3 responden (7.5%). Kata kunci : Faktor harga penawaran, infrastruktur sumber daya air, Kalimantan Tengah

PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR MIKROHIDRO SEBAGAI ALTERNATIF ENERGI LISTRIK DAERAH TERPENCIL DI KABUPATEN HULU SUNGAI TENGAH Muhammad Azhari Noor 1 1 Dosen Program Studi Teknik Sipil, Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Kampus Fakultas Teknik Unlam Banjarbaru, Jl A. Yani KM 36 Telp 0511-4773868. Emai: azay_st@yahoo.com Hingga saat ini masih banyak penduduk yang tinggal di daerah terpencil Pegunungan Meratus, wilayah administratif Kecamatan Hantakan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan belum menikmati aliran listrik. Dengan adanya keterbatasan infrastruktur dan biaya konstruksi baru yang relatif mahal untuk jaringan listrik PLN, serta terbatasnya kapasitas energi listrik membuat masyarakat di daerah terpencil semakin sulit mendapat akses listrik. Sebagai solusi dari permasalahan ini, diperlukan adanya pengembangan infrastruktur energi listrik beserta sumber energi yang berbasis kemandirian energi lokal dengan memanfaatkan energi yang tersedia secara alami di sekitar masyarakat, salah satunya adalah potensi energi air melalui Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Kegiatan penelitian diawali dengan melakukan survey lapangan ke daerah-daerah yang diidentifikasi memiliki potensi PLTMH dari aspek teknis. Parameter/data primer yang paling utama adalah data aliran (kapasitas debit) dan ketinggian jatuh (head). Selanjutnya dilakukan perhitungan potensi daya listrik. Perhitungan selanjutnya adalah membuat analisa perhitungan biaya konstruksi dan analisa ekonomi lainnya dari infrastruktur yang direncanakan. Lokasi survey antara lain adalah Desa Kindingan, Desa Haruyan Dayak, dan Desa Datar Ajab di Kecamatan Hantakan. Dari 3 Lokasi Survey PLTMH, daerah dengan potensi terbesar adalah di lokasi Desa Datar Ajab (air terjun Maranin). Potensi daya listrik pada Lokasi Datar Ajab secara rerata dapat membangkitkan daya sebesar 26 KWH, dengan banyaknya sambungan rumah yang dapat dilayani 200-450 sambungan (tergantung musim). Apabila dikonversi kedalam satuan nilai uang, maka hasil produksi listrik adalah sebesar 116 Juta rupiah pertahun. Kata Kunci: infrastruktur, energi lokal, mikrohidro.

STANDARISASI TENAGA AHLI PERENCANAAN INFRASTRUKTUR SEBAGAI UPAYA EFISIENSI PADA PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Wesli Dosen Jurusan Teknik Sipil, Universitas Malikussaleh, Kampus Reuluet, Lhokseumawe, Aceh, Telp. 0645-410373, email : ir_wesli@yahoo.co.id ABSTRAK Dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur milik pemerintah diperlukan anggaran untuk biaya perencanaan, biaya konstruksi fisik dan biaya pengawasan yang cukup besar sementara kemampuan keuangan terbatas. Kondisi yang berlaku saat ini besarnya biaya perencanaan teknis berdasarkan prosentase dari nilai konstruksi fisik infrastruktur tersebut sehingga ada kecenderungan para perencana untuk membuat perencanaan dengan nilai infrastruktur yang besar agar biaya perencanaan teknis juga menjadi besar sehingga keuntungan perencana menjadi besar. Secara teknis seharusnya para perencana mengupayakan biaya konstruksi fisik sekecil mungkin dengan tetap memperhatikan keamanan melalui pilihan teknologi yang tepat, namun hal ini tidak dilakukan oleh perencana karena sesuai dengan prinsip bisnis yaitu mencari keuntungan sebesar-besarnya. Paper ini menguraikan pemikiran tentang perlu adanya sebuah standarisasi terhadap tenaga ahli yang terlibat pada perencanaan teknis secara proporsional dengan memberikan kompensasi yang sesuai bagi tenaga ahli sehingga dapat melakukan tugasnya dengan professional dan menghasilkan produk yang objective sesuai dengan peraturan teknis

Kumpulan Abstrak Bidang Infrastruktur-3

Seminar Nasional VII 2011 Teknik Sipil ITS Surabaya Penanganan Kegagalan Pembangunan dan Pemeliharaan Infrastruktur

(code) serta dapat dilakukan efisiensi nilai konstruksi fisik infrastruktur. Pada perencanaan infrastruktur nantinya pemenang tender akan ditentukan berdasarkan kemampuan perencana untuk membuat konsep desain yang paling murah dan tetap mengedepankan keamanan konstruksi. Landasan pemikiran dari analisa standarisasi tenaga ahli infrastruktur ini adalah prinsip proporsional kebutuhan tenaga ahli berdasarkan pilihan teknologi dan tingkat kesulitan serta professionalitas tenaga ahli. Penetapan standarisasi tenaga ahli perencanaan infrastruktur merupakan suatu upaya pendekatan pengukuran terhadap besaran komponen biaya perencanaan konstruksi fisik yang didasari tingkat kesulitan konstruksi perencanaan yang berpengaruh kepada penyerapan tenaga perencana sesuai kebutuhan serta waktu yang dbutuhkan untuk penyelesaiaannya sehingga menghasilkan nilai akuntabilitas, efisiensi, dan tranparansi pada produk perencanaan itu sendiri. Kata Kunci : Standarisasi, Perencanaan, Efisiensi

Kumpulan Abstrak Bidang Infrastruktur-4