Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN NEONATUS A.

Definisi Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir dari kehamilan 37 minggu 42 minggu dan BBL 2500 4000 gram (Asuhan Kesehatan anak dalam konteks keluarga, DepKes RI, 1993). Asuhan bayi baru lahir normal adalah Asuhan yang diberikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah melahirkan (Maternal dan Neonatal, 2002, Hal: 30). B. Fisiologi Fisiologi neonatus ialah ilmu yang mempelajari fungsi dan proses vital neonatus, yaitu satu organisme yang sedang tumbuh, yang baru mengalami proses kelahiran dan harus menyesuaikan diri dari kehidupan ekstra uteri, tiga faktor yang mempengaruhi perubahan fungsi yaitu maturasi, adaptasi dan toleransi. 1) Respirasi Neonatus Selama dalam uterus, janin mendapat oksigen dari pertukaran gas harus melalui paru bayi. Sebelum terjadi pernafasan, neonatus dapat mempertahankan hidupnya dalam keadaan anoksia lebih lama karena ada kelanjutan metabolisme anaerob. Rangsangan untuk gerakan pernafasan pertama ialah tekanan mekanis dari toraks sewaktu melalui jalan lahir. Penurunan PaO2 dan kenaikan PaCO2 merangsang kemoreseptor terletak disinus karotikus, rangsangan dingin di daerah muka dapat merangsang permulaan gerakan pernafasan. Refleks deflasi, hering breus, selama ekspirasi, setelah inspirasi dengan tekanan positif, terlihat suatu inspiratory gasp. Respirasi pada masa demalus terutama diafragmatik dan abdominal dengan biasanya masih tidak teratur dalam hal frekuensi dan dalamnya pernafasan, setelah paru berfungsi, pertukaran gas dalam paru sama dengan pada orang dewasa, tetapi oleh karena bronchiolus relatif kecil, mudah terajadi air tropping. 2) Jantung Dan Sirkulasi Pada masa fetus darah plasenta melalui vena umbilikalis sebagian ke hati, sebagian langsung ke serambi kiri jantung kemudian ke bilik kiri jangtung, dari bilik darah dipompa melalui aorta ke seluruh tubuh. Dari bilik kanan darah dipompa sebagian ke paru dan sebagian melalui duktus arteriosus aorta. Setelah bayi lahir paru akan berkembang mengakibatkan menutupnya foramen ovale secara fungsional, hal ini terjadi pada jam-jam

pertama, setelah kelahiran. Tekanan darah pada waktu lahir dipengaruhi oleh sejumlah darah yang melalui transfusi plasenta dan pada jam-jam pertama sedikit menurun, untuk kemudian naik lagi dan menjadi konstan kira-kira 85/40 mmHg. 3) Traktus Digestivus Traktus digestivus pada neonatus relatif lebih berat dan panjang dibandingkan orang dewasa. Pada neonatus traktus digestivus mengandung zat yang berwarna hitam kehijauan yang terdiri dari mukopolisakarida dan disebut mekonium. Pengeluaran mekonium biasanya dalam 10 jam pertama. Dan dalam 4 hari biasanya tinja sudah berbentuk dan berwarna biasa. Enzim traktus digestivus biasanya sudah terdapat pada neonatus kecuali amilase pankreas, aktifitas lipase telah ditemukan pada fetus 7 8 bulan. 4) Hati dan Metabolisme Segera setelah lahir hati menunjukan perubahan biokimia dan morfologis, yaitu kenalkan kadar protein dan penurunan kadar lemak dan glikogen. Sel hemopoetik juga mulai berkurang walaupun memakan waktu agak lama. Luas permukaan neonatus terlahir lebih besar daripada orang dewasa, sehingg metabolisme basal per kg BB lebih besar, pada jam pertama energi didapatkan dari pembakaran karbohidrat. Pada hari kedua energi berasal dari pembakaran lemak, setelah mendapatkan susu lebih kurang pada hari keenam, energi 60 % didapatkan dari lemak dan 40 % dari karbohidrat. 5) Produksi Panas Bila suhu sekitar turun, ada 3 cara tubuh untuk meninggikan suhu, yaitu: aktifitas otot, shivering, non shivering thermogenesis (NST). Pada neonatus cara untuk meninggikan suhu terutama dengan NST, yaitu dengan pembakaran Brown Fat yang memberikan lebih banyak energi per gram dari pada lemak biasa. 6) Keseimbangan Air Dan Fungsi Ginjal Tubuh bayi baru lahir mengandung relatif banyak air dan kadar natrium relatif lebih besar daripada kalium. Hal ini menandakan bahwa ruangan ekstraselular luas. Fungsi ginjal belum sempurna karena jumlah nefron matur belum sebanyak orang dewasa, ada ketidakseimbangan antara luas permukaan glomerolus dan volume tubulus proksimal Renal Blood Flow pada neonatus relatif kurang bila dibandingkan dengan orang dewasa.

7) Kelenjar Endokrin Selama dalam uterus fetus mendapatkan hormon dari ibu, pada waktu bayi baru lahir kadang-kadang hormon tersebut masih berfungsi. Misalnya dapat dilihat pembesaran

kelenjaran air susu pada bayi laki-laki ataupun perempuan. Kadang-kadang dapat dilihat With Drawal misalnya pengeluaran darah dari vagina yang menyerupai haid pada bayi perempuan, kelenjar tyroid sudah sempurna terbentuk sewaktu lahir dan sudah mulai berfungsi sejak beberapa hari sebelum lahir. 8) Susunan Saraf Pusat Sewaktu lahir fungsi motorik terutama ialah subkortikol. Setelah lahir jumlah cairan otak berkurang sedangkan lemak dan protein bertambah. 9) Imunoglobulin Pada neonatus tidak terdapat sel plasma pada sum-sum tulang dan lamina proprianeum dan apendiks plasenta merupakan sawar sehingga fetus bebas dari antigen dan stress imunologis. Pada bayi baru lahir hanya terdapat globulin gamma G, yaitu imunologi dari ibu yang dapat melalui plasenta karena berat molekulnya kecil, tetapi bila ada infeksi yang dapat melalui plasenta seperti illeus, taksoplasma, herpes simpleks dan penyakit virus lainnya, reaksi imunologi dapat terjadi dengan pembentukan sel plasma dan anti body gamma A, gamma G, gamma M, imunologi dalam kolostrum berguna sebagai proteksi lokal dalam traktus digestivus, misalnya terhadap beberapa strain E. Colli. C. Spesifikasi 1. Initial ukuran dan vital sign Panjang Berat Suhu : Panjang badan lahir 48 52 cm : 2500 4000gram. : LIDA: 30-38 cm LIKA: 33-35 cm Denyut Jantung : 110 160 x/mnt Respirasi 2) Kulit Kelihatan lembut, halus, hampir transparan, elastis, bermukan merah, vernik caseosa dan lanuno sedikit. 3) Kepala Kepala fleksi ke dada, tengkorak bertingkat, lembut, fontanella mayor 3 6 cm, fontanella minor 1 2 cm. 4) Leher : 40 60 x/m.

Pendek dan lurus, bayi yang tiarap dapat menahan leher, dengan memutar kepala dengan satu sisi lainnya, bayi yang dalam posisi duduk memperlihatkan kemampuan sementara waktu untuk menegakkan kepala. Lingkar kepala. OB = 35 cm, OS = 34 cm, OK = 32 cm. 5) Mata Pupil berbentuk bulat, respon terhadap cahaya langsung bereaksi. 6) Telinga Respon terhadap suara nyaring dengan terkejut, membran timpani terlihat suram. 7) Hidung, tenggorokan, dan mulut Bayi bernafas dengan hidung, dapat bersin dan menangis dengan kuat, lidah terletak digaris tengah mulut, palatum lengkap, refleks isap baik. 8) Dada dan paru Lingkar dada 30,5 33 cm, diameter anterior posterior dan lateral adalah sama, ujung xipoie anterior menonjol pada puncak dari sudut iga, pernafasan perut 40 60 x/m. sebentar lambat dangkal atau dalam dan cepat dengan periode apneu 6 15 detik, suara nafas jelas, nyaring, bronchovesikuler dan hipersonan, terkadang payudara mengeluarkan sekret. 9) Punggung dan ekstrimitas Tangan dan kaki mempunyai ukuran, bentuk dan letak yang simetris, tubuh fleksi dan kedua tangan menggenggam, tulang belakang lurus saat berbaring dan menapak pada posisi berbaring telungkup seperti huruf C punggung stabil dan tidak terjadi dislokasi, tonus otot baik terutama ketahanan terhadap posisi fleksi yang berlawanan dan rentang penuh sendi utama. 10) Jantung Mengikuti kecendrungan pernafasan, denyut jantung 110 160 x/m, pernafasan pada menit pertama 80x/mnt kemudia melambat menjadi 40x/mnt. 11) Perut Lunak dengan bentuk silinder, menonjol, pada permukaan perut terlihat permukaan vena, ujung umbilikal kering dan agak gelap, liver teraba kenyal, ujung tajam / halus, 1 2 cm dibawah kosta iga kanan, ujung lien sepanjang pinggir dari sudut kuadran kiri atas, ginjal bisa dipalpasi dalam dengan menekan sekitar 1 2 cm diatas umbilikal. 12) Genetalia wanita dan pria

Labia mayora menutup labia minora, klitoris sudah agak tetutup. Pada pria glans plenis ditutupi oleh kulit dimana terdapat saluran uretra, tertis sudah dalam skrotum, urin terlihat jernih, testis sudah turun. 13) Rektum Anus ada, mekonium ada, refleks anus jelas. 14) Reflek - Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik. - Reflek morro sudah baik, bayi bila dikagetkan akan memperlihatkan gerakan seperti memeluk. - Graff reflek sudah baik, apabila diletakkan sesuatu benda diatas telapak tangan bayi akan menggenggam. D. Perubahan Pada Bayi Baru Lahir 1. Perubahan Sistem Pernapasan Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik dari luar rahim yang merangsang pusat pernafasan di otak. Tekanan terhadap rongga dada yang terjadi karena kompresi paru selama persalinan yang merangsang masuknya udara ke paru-paru secara mekanis. Interaksi system pernafasan, kardiovaskuler, dan sisitem saraf pusat menghasilkan pernafasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan. Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk mengeluarkan cairan dalam paru-paru, mengembangkan jaringan alveolus dalam paru-paru untuk pertama kali. 2. Perubahan Sistem Peredaran Darah Setelah lahir, darah bayi harus melewati paru untuk mengambil oksigen untuk mengantarkannya ke jaringan. Untuk membuat sirkulasi yang baik guna mendukung kehidupan luar rahim harus terjadi 2 perubahan besar yaitu, penutupan foramen ovale pada atrium jantung dan penutupan duktus arteriosus antara arteri paru-paru dan aorta. Oksigen menyebabkan pembuluh darah mengubah tekanan dengan cara mengurangi dan meningkatkan resistensinya hingga mengubah aliran darah. 3. Sistem Pengaturan Suhu Suhu dingin dilingkungan luar menyebabkan air ketuban menguap melalui kulit sehingga mendinginkan darah bayi. Pebentukan suhu tanpa mengigil merupakan usaha seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya melalui penggunaan lemak coklat untuk produksi panas.

4. Metabolisme Glukosa Untuk memfungsikan otak membutuhkan gkukosa dalam jumlah tertentu. Pada BBL, jumlah glukosa dalam darah akan turun dalam waktu cepat. BBL yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen. 5. Gastrointestinal Reflek gumoh dan batuk yang matang sudah terbentuk pada saat lahir. Kemampuan menelan dan mencerna makanan terbatas pada bayi. Hubungan antara esophagus bawahdengan lambung masih belum sempurna. Kapasitas lambung juga terbatas yaitu kurang dari 30 cc dan akan bertambah secara lambat sesuai dengan pertumbuhan. 6. Kekebalan Tubuh System imunitas pada BBL belum matang sehingga rentan terhadap infeksi. Kekebalan yang dimiliki oleh bayi antara lain : Perlindungan kulit oleh membrane mukosa. Fungsi jaringan saluran nafas. Pembentukan koloni mikroba leh kulit dan usus. Perlindungan kimia oleh asam lambung. 7. Perubahan Metabolisme Karbohidrat Dalam waktu 2 jam setelah lahir akan terjadi penurunan kadar gula darah, untuk menambah energi pada jam-jam pertama setelah lahir diambil dari metabolisme asam lemak E. Penatalaksanaan a. Sambil secara ceepat menilai pernafasannya, letakkan bayi edngan handuk diatas perut ibu. b. Dengan kain bersih dan kering atau kasa lap darah dan lahir dari wajah bayi. Untuk mencegah jalan udaranya terhalang. c. Klem dipotong tali pusat. - Mengklem tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2 dan 3 cm dari pengkal pusat bayi. - Mempertahankan tali pusat diantara kedua kklem sambil melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri anda. - Mempertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat. Mengganti sarung tangan bila ternyata sudah kotor. Memotong tali pusat dengan pisau atau gunting yang steril atau disinfeksi tingkat tinggi.

- Memeriksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih ada perdarahan, lakukan pengikatan ulang yang lebih hanyat. d. Jagalah agar bayi tetap hangat - Memastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit bayi dan kulit ibu. - Mengganti handuk atau kain yang basah, dan bungkus bayi terebut dengan selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala yang telah terlindung dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh. e. Kontak dini dengan ibu. - Memberikan bayi kepada ibunya secepat mungkin untuk kehangatan. - Untuk ikatan batin dan pemberian ASI. f. Pernafasan Periksa pernafasan dan warna kulit bayi setiap 5 menit Perawatan Lain-Lain a. Lakukan perawatan tali pusat. b. Dalam waktu 24 jam berikan imunisasi BCG, polio oral, dan hepatitis B. c. Ajarkan tanda-tanda bahaya bayi pada orang tua, dan beri tahu orang tua agar merujuk bayi untuk perawatan lebih lanjut. d. Ajarkan cara merawat bayi : - Memberi ASI sesuai dengan kebutujan setiap 2-3 jam mulai dari hari pertama. - Menjaga bayi dalam keadaan bersih, hangat dan kering dengan mengganti popok dan selimut sesuai dengan keperluan. - Menjaga tali pusat dalam keadaan bersih dan sehat.

F. Pemeriksaan Fisik Tujuan pemeriksaan fisik neonatus segera setelah lahir ialah untuk menemukan kelainan yang segera memerlukan pertolongan dan sehingga dasar untuk pemeriksaan selanjutnya. Sebelum memeriksa neonatus sebaiknya pemeriksaan mengetahui riwayat kehamilan dan persalinan. 1) Keadaan Umum. a) Keaktifan.

Bila bayi diam, mungkin bayi sedang tidur nyeyak atau mungkin pula ada defresi susunan saraf pusat karena obat atau karena sesuatu penyakit. Bila bayi bergerak aktif dipertahankan apakah pergerakan itu simetris atau tidak. Keadaan yang asimetris dapat dilihat misalnya pada keadaan patah tulang, kerusakan saraf, leukosit dsb. b) Keadaan Gizi Dapat dinilai dari berat badan, panjang badan, dan kerut pada kulit, ketegangan kulit hati- hati terhadap edema, karena dapat disangka gizi baik. c) Rupa. Kelainan kongenital tertentu sering sudah dapat dilihat pada rupa neonatus. Misal sindrom down, kretinisme, agenesis ginjal bilateral dsb. d) Posisi. Sering bergantung pada letak presentase janin intravena. Posisi yang biasa ialah dalam keadaan fleksi tungkai dan lengan. e) Kulit. Normal warna kulit ialah kemerah-merahan, dilapis oleh verniks caseosa yang melindungi kulit bayi dan terdiri dari campuran air dan mineral dan mengandung sebum lainnya. Sel peridermal dan debis lain. Warna kulit menggambarkan beberapa keadaan misalnya warna pucat terdapat anemia, renjatan, warna kuning terdapat pada inkompatibilitas antara darah ibu dan bayi, sepsis. Warna biru ditemukan pada aspiksia livida. Kelainan jantung kongenital dengan pirau dari kanan dan kiri. 2) Kepala Dan Leher. Tulang kepala sering menunjukan moulage yaitu tulang parietal biasanya berhimpitan dengan tulang oksipitas dan frontal, sehingga mengukur lingkaran kepala sebaiknya ditunggu setelah moulage itu hilang, lingkaran kepala besar ialah melalui glabela dan oksipitalis biasanya antara 33 38 cm. Perhatikan juga kaput suksdanium,perdarahan, subaponeurotik, hematoma cepal. G. Tabel APGAR Score 0 1 2 3 4 Appearance kulit) (warna Pucat 1 2 Badan merah, Seluruh tubuh extremitas biru kemerahmerahan Kurang dari 100 Lebih dari 100 Sedikit gerakan Batuk/bersin mimik Extremitas Gerakan aktif dalam sedikit

Pulseratte (frekuensi Tidak ada nadi) Grimace (eaksi Tidak ada rangsangan ) Aktif (tonus otot) Tidak ada

Respiration (pernapasan)

Tidak ada

refleksi Lemah teratur

tidak Baik menangis

atau

H. Askep 1. Biodata 1) Identitas bayi 2) Identitas orang tua 2. Riwayat Kesehatan 1) Riwayat penyakit sekarang Cara lahir, apgar score, cara lahir, kesadaran. 2) Riwayat perinatal Lama kehamilan, penyakit yang menyertai kehamilan. 3) Riwayat persalinan Cara persalinan, trauma persalinan. 3. Pemeriksaan Fisik. 1) Keadaan umum Kesadaran. Vital sign. Antropometri. 2) Kepala Apakah ada trauma persalinan, adanya caput, chepal hematom, tanda forcep. 3) Mata Apakah ada katarak, neonatal, btenorhoe. 4) Sistem gastrointestinal. Apakah palatum keras dan lunak, apakah bayi menolak untuk disusui, muntah / distensi abdomen, stomatitis, BAB. 5) Sistem pernafasan. Apakah ada kesulitan bernafas, takipneu, bradipneu, teratur / tidak, bunyi nafas 6) Tali pusat. Periksa apakah ada pendarahan, tanda infeksi, keadaan dan jumlah pembuluh darah ( 2 arteri, 1 vena ). 7) Sistem genitourinaria. Apakah hipospadia, epispadia, testis, BAK,

8) Ekstrimitas. Cacat bawaan, kelainan bentuk, jumlah, bengkak, posisi / postur normal / abnormal. 9) Sistem muskuluskletal. Tonus otot, kekuatan otot, kaku ?, lemah ?, asimetris. 10) Kulit Pustula, abrasi, ruam ptekie. 4. Pemeriksaan Fisik. 1) Apgar Score. 2) Frekuensi kardiovaskuler. Apakah takikardi, bradikardi / normal. 3) Sistem neurologis. Refleks moro = tidak ada, asimetris / hiperaktif. 4) Refleks mengisap = kuat / lemah. Refleks menjejak = baik / buruk. Koordinasi refleks menghisap dan menelan. 5. Pemeriksaan Laboratorium. 1) Sampel darah tali pusat. 2) Jenis ketonuria. 3) Hematokrit.

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN Suhu tubuh tetap dalam batas normal. Kriteria : Suhu kulit dan ketiak 36,5C37C Suhu rektal 36,7 C - 37,2 C. Tidak ada tanda-tanda hipotermi

PERENCANAAN INTERVENSI 1.Pertahankan suhu kamar tetap pada 24C. 2.Usahakan bayi dalam keadaan hangat dengan menutup dengan selimut/ baby blangket. 3.Monitor suhu axila, kulit dan lingkungan setiap 30 - 60 menit selama periode stabilisasi. 4.Kaji pernafasan , catat adanya tachipnoe ( R > 60x/mt) 5.Catat tanda-tanda stress sekunder : kedinginan, pucat, sesak nafas, gelisah, letargi, kulit dingin. 6.Catat adanya tanda-tanda RASIONAL 1. Pada suhu lingkungan yang rendah, bayi akan mening-katkan suhu tubuhnya dengan menangis atau meningkatkan aktifitas motorik sehingga konsumsi kebutuhan oksigen meningkat. 2. Mencegah kehilangan panas secara radiasi, evaporasi, konduksi dan konveksi.

Resiko perubahan suhu tubuh berhubungan dengan : Kegagalan menyesuai-kan dengan suhu lingkungan.

3. Terjadinya sedikit proses metabolisme bila suhu 36C, sebagai indikator yg. tepat adalah pengeluaran energi pada dehidrasi (seperti ubun- bayi saat penyesuaian ubun cekung, suhu dengan suhu lingkungan

meningkat, turgor kulit 4. Respon meningkatnya kebu-tuhan oksigen lembek,membran karena kedi-nginan dan mukosa kering. usaha utk mengeluarkan 7.Beri cairan lebih awal per CO2 adalah untuk memperbaiki asidosis oral respiratorik. 5. Hipotermi akan meningkatkan kebutuhan O2 dan glukosa, sering disertai hipoglikemi dan gangguan pernafasan, dingin akan mengakibatkan vasokontriksi 2. Resiko infeksi tali pusat b/d Peningkatan kerentanan bayi sekunder terhadap luka terbuka

Resiko tinggi infeksi tidak terjadi dalam 3 hari perawatan Kriteria evaluasi: Suhu tubuh

1. Cuci tangan sebelum memasuki ruang perawatan bayi dan ingin memegang bayi. 2. Rawat tali pusat dengan bahan anti septik.

1. Mencuci tangan yang benar adalah faktor tunggal yang paling penting dalam melindungi bayi dari infeksi dan

(umbilikus)

bayi dalam batas normal ( 36,5 C 37,5 C ). Tidak terdapat tanda-tanda infeksi pada tali pusat ( eksudat, bau, pendarahan, basah, pus dll )

3. Ganti balutan tali pusat 2 x/hr. 4. Observasi tanda-tanda infeksi pada tali pusat. 5. Jaga kebersihan lingkungan sekitar bayi. 6. Pertahankan pemasukan ASI on demand. 7. Pelihara peralatan individual dari bahanbahan persediaan untuk bayi. 8. Anjurkan menghindari kontak dengan anggota keluarga atau pengunjung yang mengalami infeksi atau pain terpajan dari proses infeksi

meminimalkan introduksi bakteri dan penyebaran infeksi. 2. Memelihara dan mempertahankan kebersihan area luka serta mencegah terjadinya infeksi. 3. Mempertahankan balutan baru yang bersih guna menyerap cairan yang dikeluarkan oleh tali pusat dan mencegah masuknya mikroorganisme kedalam tali pusat. 4. Mengetahui secara dini adanya kemungkinan terjadinya infeksi pada tali pusat. 5. Membuat suasana/lingkungan tidak cocok dengan daur hidup bakteri. 6. Kolostrom dan ASI mengandung sekretorius IgA dalam jumlah tinggi yang memberikan imunitas bentuk pasif serta makrofag dan limfosit yang membantu mengembangkan respons inflamasi lokal. 7. Membantu mencegah kontaminasi silang terhadap bayi melalui kontak langsung atau infeksi. 8. Karena neonatus lebih rentan bila dipajankan pada beberapa infeksi

3.

Risiko aspirasi b.d. Bayi dapat Abnormalitas menunjukkan palatum kontrol aspirasi selama dalam perawatan dengan kriteria:

1. Pencegahan aspirasi a. Monitor tingkat kesadaran, refleks batuk, dan kemampuan menelan. b. Monitor status pernafasan. c. Pertahankan jalan nafas. 1. Tidak terjadi d. Sediakan alat suction. aspirasi e. Beri makan/minum dalam ukuran kecil.

Memastikan kondisi pasien dan faktor-faktor yang meningkatkan risiko aspirasi.

2. Monitor pernafasan Menjamin a. Monitor rata-rata, ritme, jalan nafas. kedalaman, sesak nafas.

kepatenan

Mempertahankan b. Catat pergerakkan dada, ekspansi dada dan lihat kesimetrisan, dan mencegah refluks otot assesorius. makanan dari lambung. Memberikan kenyaman c. Monitor suara nafas pasien. sebelum dan sesudah makan. Memberikan ekspansi d. Monitor pola nafas; dada maksimal untuk bradipnea, takipnea. pemasukan oksigen yang lebih lancar dan mencegah refluks cairan lambung ke saluran nafas. e. Monitor vital. tanda tanda-tanda Mendapatkan aspirasi dan status kegawatan pasien.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, Lynda Juall. 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta; EGC Depkes RI: 1993.Asuhan Kesehatan Anak dalam Konteks Keluarga. Doenges, Marilynn E.2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Jakarta : EGC Ns.Serri Hutahaean,S.kep.2009.Asuhan keperawatan dalam maternitas dan gineklogi,jakarta:Trans Info Media. Pusdiknakes. 1995. Asuhan Keperawatan Anak Dalam Konteks Keluarga. DepKes RI; Jakarta. Sarwono, Prawirohardjo. 2000. ilmu kebidanan. Jakarta: 2002.

LAPORAN PENDAHULUAN BAYI BARU LAHIR NORMAL

DEPARTEMEN MATERNITAS DI RUANG CEMPAKA RUMAH SAKIT NGUDI WALUYO BLITAR

Oleh Armita Agustiningtyas Rahayu 201210461011001

PROGRAM PROFESI NERS FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2013