Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN KASUS III NORMOTENSI GLAUKOMA ODS

Baiq Trisna Satriana H1A 008 042 Pembimbing: dr. Samsul Rizal, Sp.M

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITRAAN KLINIK MADYA BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA RSUD KOTA MATARAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM 2013

1

Karena kerusakan yang disebabkan oleh glaukoma tidak dapat diperbaiki. diagnosa dan penanganan harus dilakukan sedini mungkin (Riordan. sehingga penyakit ini menjadi penyebab kebutaan yang dapat dicegah di Amerika Serikat.II dan kehilangan lapang pandang yang karakteristik-progresif serta berhubungan dengan berbagai faktor resiko terutama tekanan intraokular (TIO) yang tinggi. Hampir 80. Patogenesisnya adalah kepekaan yang abnormal terhadap tekanan intraokular karena kelainan vaskular atau mekanis di kepala sarafoptikus. 2006) Glaukoma tekanan normal merupakan kelainan glaukomatosa pada diskus optikus atau lapang pandang namun memiliki tekanan intraokular yang tetap di bawah 22 mmHg. atrofi dan ekstravasasi papil N.. 2 . Perdami. ditandai sudut bilik mata depan yang terbuka.BAB I PENDAHULUAN Glaukoma adalah kelompok penyakit mata (suatu neuropati optik) yang umumnya ditandai oleh keruskan saaraf N. baik untuk penemuan kasus maupun deteksi dini (Perdami. Mekanisme utama penurunan penglihatan pada glaukoma adalah atrofi sel ganglion difus. disebabkan berbagai faktor resiko terutama TIO yang terlalu tinggi. Penderita glaukoma sering tidak menyadari adanya gangguan penglihatan sampai terjadi kerusakan penglihatan yang sudah lanjut. disertai pembesaran cekungan optikus. Diperkirakan 50% penderita glaukoma tidak menyadari mereka menderita penyakit tersebut. Glaukoma sudut terbuka primer merupakan bentuk glaukoma yang paling sering dijumpai.. yang bersifat progresif lambat. yang menyebabkan penipisan lapisan serat saraf dan inti bagian dalam retina dan berkurangnya akson di saraf optikus. 2010. 2006). Upaya pencegahan kebutaan akibat glaukoma memerlukan penyuluhan dan penjaringan glaukoma secara aktif di masyarakat. 2006). Glaukoma bila tidak diobati secara tepat dapat menimbulkan kerusakan yang permanen (Perdami.II serta lapang pandang karakteristik. Diskus optikus menjadi atrofik. maka deteksi. 2010). Iris dan korpus siliare juga menjadi atrofik dan prosesus siliaris memperlihatkan degenerasi hialin (Riordan.000 penduduk Amerika serikat buta akibat glaukoma.

Keluhan bintik kehitaman ini muncul sebelum matanya merasa kabur. PH. Keluhan lain seperti pandangan tertutup kabut/asap. terasa nyeri disangkal oleh pasien. 28 Januari 2013 2. Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien merasakan penglihatan mata kirinya kabur sejak ± 4 bulan yang lalu. gambaran pelangi bila melihat cahaya lampu. ANAMNESIS Keluhan utama : Penglihatan mata kiri kabur. Selaparang : Senin. H. Pasien mengatakan bintik kehitaman yang dirasakannya ikut bergerak pada saat matanya bergerak. Namun.H : 66 tahun : Laki-laki : Tidak ada (pensiunan) : Islam : Menikah : Jawa : Rembiga. saat ini gambaran bintik kehitaman yang dialami pasien juga berdampak pada mata kanannya.BAB II LAPORAN KASUS 1. 3 . namun berhenti bergerak ketika mata dalam keadaan diam. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Pekerjaan Agama Status Suku Alamat Tanggal pemeriksaan : Tn. Selain pandangan kabur. pasien juga mengeluhkan nampak melihat adanya bintik kehitaman yang dialaminya kurang lebih sejak 5 tahun yang lalu. Bintik kehitaman ini awalnya hanya terbatas pada penglihatan mata kiri pasien. Penglihatan kabur yang dialami pasien terjadi secara perlahan-lahan tanpa mata merah. Pasien mengatakan bintik kehitaman tersebut terletak pada bagian tepi penglihatannya. silau.

Pasien tidak merokok. Penggunaan obat-obatan lain seperti kortikosteroid disangkal oleh pasien. Namun setelah dengan pemberian obat tetes tersebut. Riwayat Sosial: Dalam kesehariannya pasien tinggal berdua dengan istrinya.Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat hipertensi. Selain itu pasien pernah berobat mata ke BKMM dan diberikan obat tetes mata. kemudian disana pasien didiagnosis dengan Normotensi glaukoma ODS dd POAG dan diberi terapi Arteoptic eye drop. Sejak saat itu pasien mendapatkan terapi untuk menurunkan gula darah dan obat untuk menurunkan kadar kolesterol.Soetomo. Tanggal 10 desember 2012 pasien kemudian dirujuk ke RS dr. Riwayat Pengobatan: Sejak November 2011 pasien pernah mendapatkan pengobatan untuk penyakit Diabetes Mellitus yang dideritanya. Kacamata yang dimiliki pasien adalah kacamata baca.Soetomo untuk pemeriksaan mata lebih lanjut. pasien datang memeriksakan dirinya ke poli mata RSUD Kota Mataram pada 19 November 2012 dan didiagnosis dengan normotensi glaukoma. Riwayat alergi: Pasien mengatakan tidak ada alergi baik terhadap makanan maupun obat. OCT dan Humphrey. Riwayat Diabetes Mellitus (+) sejak november 2011. Sampai pada akhirnya. Riwayat penyakit keluarga: Riwayat penyakit mata yang serupa pada keluarga pasien tidak diketahui. 4 . dan pada tanggal 28 januari 2013 pasien datang lagi untuk kontrol dengan keluhan yang masih sama. Pasien mengaku ibu mengalami buta namun tidak diketahui sebab penyakitnya. pasien mengatakan tidak ada perbaikan keluhan yang dialaminya. dilakukan pemeriksaan Gonoskopi. kemudian pasien disarankan untuk dirujuk ke RS sanglah untuk pemeriksaan perimetri. Pasien juga mengatakan tidak ada di keluarga yang menderita tekanan darah tinggi dan kurang mengetahui apakah ada yang menderita diabetes mellitus. Selain itu tidak ada riwayat trauma dan riwayat penyakit mata serupa sebelumnya. Pasien tidak lagi melakukan pekerjaan karena sudah pensiun. Pada tanggal 02 januari 2013 pasien datang kembali ke RSUD kota mataram untuk menyerahkan hasil pemeriksaan dari RS Dr. Pasien memiliki riwayat penggunaan kacamata sebelumnya.

Palpebra superior Hirscberg test Edema Hiperemi Blepharospasme Ortoforia (-) (-) (-) Gerakan lancar. Pinhole Koreksi kacamata Pemeriksaan Mata Kanan (OD) 20/40 20/25 Tidak dilakukan Mata Kiri (OS) 20/50 f-1 Tetap Tidak dilakukan Lapang pandang Tes konfrontrasi Baik dari segala arah Baik dari segala arah 3. Gerakan bola mata Gerakan lancar. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis KU Kesadaran/GCS : Baik : Compos mentis/E4V5M6 Pemeriksaan Tanda Vital Tekanan darah Nadi Frekuensi Napas Suhu : 130/80 mmHg : 80 kali/menit : 20 kali/menit : 36. Visus   2. jangkauan penuh. tepat. Kedudukan bola mata 5.3. ortoforia (-) (-) (-) 5 . jangkauan penuh 4.7oC Status Lokalis No 1. tepat.

Konjungtiva bulbi     Injeksi konjungtiva Injeksi silier Massa Edema (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) 6 . 8. Fissura palpebra Konjungtiva palpebral Superior     Inferior     Hiperemi Folikel/Papil Sikatriks Massa Hiperemi Folikel/Papil Sikatriks Massa (-) (-) (-) (-) (-) Krusta (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Krusta (-) + 10 mm (-) (-) (-) (-) (-) Krusta (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) Krusta (-) + 10 mm (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) (-) 9. Palpebra Inferior Edema Hiperemi Massa Entropion Ektropion Sikatrik Margo palpebra 7.Pseudoptosis Massa Entropion Ektropion Lagophtalmos Margo palpebra Sikatrik 6.

Bilik mata depan Kedalaman Hifema Hipopion Kesan dalam (-) (-) Kesan dalam (-) (-) 7 . Funduskopi Palpasi Tonometri Refleks fundus Kesan normal 7/5.5 (14.6 mmHg) (+). reguler.kesan Kesan normal 6/5.2 mmHg) (+).10. TIO 16.gambaran warna orange pada fundus  Terlihat gambaran makula serta pembuluh darah retina.5 (12. isokor (+) (+) Bentuk Kejernihan Edema Permukaan Infiltrat Benda asing Lain Cembung Jernih (-) Kesan licin (-) (-) arkus senilis Cembung Jernih (-) Kesan licin (-) (-) arkus senile 11. Iris   13. Lensa  15. Pupil Warna Struktur Bentuk Refleks langsung Refleks tidak langsung 14. kesan Kejernihan Jernih Jernih Coklat Regular Normal. Kornea           12. serta pembuluh darah retina.gambaran warna orange pada fundus Gambaran funduskopi  Terlihat gambaran makula. reguler. isokor (+) (+) Coklat Regular Normal.

 Tidak tampak adanya gambaran bercak perdarahan. eksudat.9.masih dalam batas normal. penyempitan pembuluh darah. lesi drusen. Nampak rasio Cup and Disc 0. Gambar Mata pasien Keadaan kedua mata pasien 8 .9. dalam batas normal. neovaskularisasi. lesi drusen.  Tidak tampak adanya gambaran bercak perdarahan. mikroaneurisme. mikroaneurisme. neovaskularisasi. Nampak rasio Cup and Disc 0. eksudat. penyempitan pembuluh darah.

Okuli Dextra okuli Sinistra 9 .

Pada katarak akan didapatkan kondisi penglihatan turun perlahan dengan mata tenang. pasien akan mengeluhkan penglihatan jauh. a. 10 . CD ratio ODS 0. ANALISA KASUS 1. Mata tenang dengan visus turun perlahan 2. pasien seringkali mengeluhkan penglihatan seperti ada kabut asap dan juga terdapat gambaran khas nampak kekeruhan pada lensa. Usia 66 tahun 4. Penglihatan turun perlahan tanpa mata merah dapat mengarahkan pada diagnosis banding penyakit seperti kelainan refraksi.BAB III IDENTIFIKASI MASALAH DAN ANALISA KASUS A. yang dapat disertai sakit kepala. untuk memastikan kelainan refraksi dapat dilakukan pemeriksaan visus dan koreksi refraksi. dekat atau keduanya menjadi kabur. retinopati. Pada kelainan refraksi. Riwayat DM 5. meningkatnya tekanan bola mata. b. dan atrofi papil saraf optic. tidak ada keluhan seperti pandangan tertutup kabut atau asap dan tidak nampak kekeruhan pada lensa sehingga diagnosa ke arah katarak dapat disingkirkan c. Glaukoma kronis dapat memperlihatkan tanda menyempitnya lapang pandang. OCT dan humphrey hasil diagnosis normotensi glaukoma ODS dd POAG 6. katarak. Pemeriksaan gonoskopi. glaukoma kronis. Sebagian besar kelainan refraksi akan memberikan gambaran visus naturalis yang menurun dan jika diperiksa dengan pinhole akan didapatkan visus yang membaik. Nampak adanya bintik kehitaman pada tepi penglihatan yang ikut bergerak pada saat mata bergerak dan berhenti ketika mata terdiam 3. Mata tenang dengan penglihatan turun perlahan. dan ARMD (age related macular disease). IDENTIFIKASI MASALAH Adapun masalah yang ditemukan pada pasien adalah: 1. Pada pasien ini.9 B. Visus naturalis OD 20/40 membaik dengan pinhole dan OS 20/50f-1 tidak membaik dengan pinhole 7.

vena-vena retina dilatasi dan berkelok-kelok. Kondisi ini menandakan adanya suatu skotoma. ARMD. Penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan pemeriksaan funduskopi dimana dapat dijumpai gambaran edema papil. Kehilangan penglihatan sentral menimbulkan kesulitan membaca. 3. Pada ARMD bisa ditemukan adanya kehilangan penglihatan sentral/parasentral secara bertahap. Sedangkan pada skotoma perifer biasanya khas untuk glaukoma stadium akhir dan retinopati diabetikum. Pada pasien tidak didapatkan gambaran tersebut pada funduskopi sehingga diagnosis ini dapat disingkirkan. dan lainnya. Semakin bertambahnya usia. dimana pasien mengatakan nampak melihat bintik kehitaman yang berada pada tepi dari pandangan pasien. dan untuk kewaspadaan. Usia seringpula dikaitkan dengan faktor resiko penyakit mata.Usia sering dikaitkan dengan penyakit degeneratif dan gangguan sistemik. mikroaneurisme. retinopati diabetikum. seperti katarak akibat gangguan metabolisme lensa akibat semakin bertambahnya usia. mengenali wajah. Skotoma ditandai dengan hilangnya sebagian lapangan pandang. bisa timbul lesi drusen di macula ataupun perdarahan subretina. anemia. dan detil-detil lain. Usia 66 tahun. Pada retinopati. ARMD umumnya terjadi pada usia 11 . mengeluh melihat benda/garis lurus melengkung. skotoma yang dialaminya termasuk skotoma yang perifer. penyakit kolagen. Sehingga diagnosis ARMD dapat disingkirkan pada pasien ini. glaukoma. diabetes melitus. Lapangan pandang perifer penting untuk menentukan lokasi diri dalam ruang. Skotoma sentral bisa ditemukan pada pasien dengan ARMD. 2. eksudat. Pada pasien ini.d. semakin rentan seseorang terkena penyakit. mendeteksi pergerakan. Penglihatan perifer tidak terpengaruh kecuali bila ada katarak yang memperburuk gambaran. biasanya disertai adanya riwayat hipertensi. yang umumnya sering mengeluhkan penglihatan sentral yang kabur atau terdistorsi. bila dikaitkan dengan usia umumnya glaukoma simpleks ditemukan pada usia lebih dari 40 tahun. Pada pasien ini usia telah lanjut dan ada riwayat DM sebelumnya. Nampak adanya bintik kehitaman pata tepi penglihatan yang ikut bergerak pada saat mata bergerak dan berhenti ketika mata terdiam. Dikenal adanya skotoma sentral dan perifer. e. perdarahan retina. Pada pasien ada kemungkinan mengalami glaukoma.

4. Akibatnya. RNFL thickness < 60-69. Optical Coherence Tomography (OCT) merupakan teknologi pencitraan yang menampilkan gambaran resolusi mikron. Pemeriksaan gonioskopi dilakukan dengan tujuan untuk menilai keadaan sudut bilik mata depan. Analisa OCT yang sering digunakan pada glaukoma adalah RNFL thickness analysis. hasil diagnosis normotensi glaukoma ODS dd POAG (Primary Open Angle Glaucoma). OCT dan humphrey. DM juga menurut beberapa sumber memiliki peranan sebagai faktor resiko glaukoma. Pemeriksaan gonoskopi. namun pasien didiagnosis dengan Normotensi glaukoma dd POAG dimana seharusnya dengan ketiga pemeriksaan tersebut dapat ditemukan sudut bilik mata depan yang terbuka atau sempit. dan dapat menyebabkan oklusi mikrovaskuler dan kebocoran vaskuler. jadi diperlukan pemeriksaan yang lebih akurat dan objektif untuk menegakkan diagnosis. sempit atau tertutup ataukah terdapat abnormalitas pada sudut tersebut. DM dikatakan dapat meningkatkan tekanan intra okular. salah satunya berupa mikroangiopati prekapiler retina. Riwayat diabetes bisa menjadi faktor resiko untuk berkembang di usia lanjut mengalami retinopati diabetikum.diatas 60 tahun akibat kerusakan makula degeneratif. 12 . Pemeriksaan ini penting dilakukan untuk menegakkan diagnosis dimana pada pasien TIO tidak menunjukkan adanya peningkatan. hal ini diakibatkan kadar glukosa yang tinggi dalam aquous humor dapat memicu sintesis fibronektin. Sintesis fibronektin ini dapat bertumpuk pada trabekular meshwork dan terjadi akumulasi berlebihan disana. pada jaringan invivo termasuk mikrostruktus okuli. DM memiliki berbagai komplikasi jangka panjang pada vaskular. dan dengan tes konfrontasi. dan dengan kampimetri humphrey didapatkan penurunan lapang pandang. hasil OCT. kapiler dan venula yang dikenal dengan retinopati diabetikum. lapang pandang pasien masih normal namun pasien mengeluh adanya skotoma. OCT dapat menggambarkan struktur Retinal Nerve Fiber Layers (RNFL) yang dapat mendeteksi glaukoma bahkan sebelum terjadi defek lapang pandang dan perubahan saraf optik. Humphrey merupakan alat untuk memeriksa lapang pandang seseorang dengan lebih objektif. Riwayat Diabetes Mellitus. terjadi peningkatan resistensi aliran keluar aquous humor dan hal ini berkontribusi pada peningkatan TIO. RNFL map dan optic nerve head analysis. 5. Pada pasien ini hasil pemeriksaan tidak diketahui. cross sectional. apakah terbuka.

Apabila terdapat kehilangan lapangan pandang atau peningkatan tekanan intraocular. namun terdapat gangguan pada saraf optik sama seperti pada OD.9 yang menunjukkan penurunan jumlah serat saraf. mata kanan setelah dikoreksi dengan pinhole visus menjadi 20/25. Pada pasien. didapatkan media penglihatan kesan normal.5 menunjukkan adanya atrofi glaukomatosa. dan pemeriksaan segmen anterior dan posterior mata untuk menyingkirkan penyebab gangguan media atau kelainan saraf optik. sehingga dapat menganggu visus dan juga lapang pandang. sehingga untuk diagnosisnya perlu pemeriksaan tonometri berulang.Diagnosis banding POAG masih belum dapat disingkirkan karena tanda-tanda yang hampir sama dengan normotensi glaukoma. Rasio cup and disc adalah cara yang berguna untuk mencatat ukuran diskus optikus pada pasien glaukoma. Sedangkan untuk Okuli sinistra dimana visus naturalis dan dengan pinhole tetap 20/50. media refraksi terlihat normal. Setelah dilakukan pemeriksaan segmen anterior dan posterior. yang membedakan hanya TIO pada POAG tinggi lebih dari normal. 13 . namun hal ini tidak dapat dijadikan landasan untuk menyingkirkan diagnosis POAG karena adanya interfensi pengobatan yang telah diberikan selama ini pada pasien.9. Visus naturalis OD 20/40 membaik dengan pinhole dan OS 20/50 tidak membaik dengan pinhole. 6. Pada pasien ini juga telah dilakukan pemeriksaan berulang dan hasil tetap dalam batas normal. dimana terdapat cupping 0. Penurunan visus pada pasien dapat dikarenakan adanya suatu kelainan refraksi atau media ataupun kelainan pada saraf optik. perlu dilakukan pemeriksaan refraksi untuk mengetahui gangguannya. dapat disingkirkan penyebab gangguan refraksi. 7. Cupping disini menunjukkan hilangnya akson sel-sel ganglion di retina secara menetap berupa pengempisan nervus optikus yang dapat berakibat penurunan dari visus. dimana terjadi cupping. Keadaan ini dapat dijumpai pada kondisi glaukoma. CD ratio ODS 0. Hal ini menunjukkan adanya gangguan pada nervus optic. Dari pemeriksaan segmen anterior dan posterior. Adanya perbaikan dengan pemeriksaan pinhole ini kemungkinan menunjukkan adanya gangguan refraksi. namun pada saat pemeriksaan hampir 50% pasien POAG dapat menunjukkan TIO yang normal. rasio cup and disc lebih dari 0. namun ada gangguan pada saraf optik.

POAG ODS C. PLANNING 1.(ilustrasi gambar papil saraf optik) Diagnosis Kerja: . 3. Target penurunan TIO yaitu 30%. Planning monitoring :  Visus  Gula darah  Lapangan pandang  Gambaran fundus 14 . jadi dipilih obat golongan β bloker yang dapat menurunkan TIO 20-30% dan golongan ini juga merupakan obat pilihan utama untuk terapi glaukoma sudut terbuka. Planning diagnostik :  Tidak ada 2. Planning terapi :  diberikan obat-obatan yang menurunkan TIO dengan cara mengurangi produksi aquous humour atau meningkatkan pengeluaran cairan aquous humour.Normotensi glaukoma ODS Diagnosa Banding: . Obat yang dipilih yaitu betaxolol eye drop yang kerjanya selektif β1 untuk mengurangi efek samping pemberian obat.

PROGNOSIS Prognosis pada pasien ini.4. meliputi :   Prognosis penglihatan ODS ( ad functionam ): Malam Prognosis Nyawa ( ad vitam ): Bonam 15 . KIE :  Beri penjelasan pada pasien mengenai penyakit yang dialaminya dan resikonya bila tidak ditangani dengan cepat dan dapat menimbulkan kerusakan saraf mata lebih lanjut dan memperburuk ketajaman penglihatan pasien. D.

16 . H. Pada pemeriksaan fisik didapatkan visus OD yaitu 20/40 dan visus OS 20/50f-1. Selain itu pasien mengeluh pandangan nampak adanya bintik kehitaman pada penglihatan tepi yang ikut bergerak pada saat mata bergerak dan berhenti bergerak ketika mata terdiam. Pasien memiliki riwayat diabetes mellitus sebelumnya. Pasien telah didiagnosis normotensi glaukoma ODS dd POAG ODS setelah dilakukan pemeriksaan penunjang tambahan di RS Dr. PH. Soetomo dengan gonioskopi.9 pada ODS. Dengan pinhole ada perbaikan pada visus OD mencapai 20/25. tampak peningkatan cup dan disk ratio 0. Pada pemeriksaan TIO dengan tonometer schiotz didapatkan TIO OD 12. tidak disertai mata merah. Prognosis penyakit mata dan visus pasien malam dan prognosis ad vitam bonam. Pada pemeriksaan funduskopi. Penglihatan kabur yang dirasakan terjadi secara perlahan. Pemeriksaan lapang pandang dengan tes konfrontasi dalam batas normal.2 mmHg dan OS 14.6 mmHg. sedangkan pada mata kiri tidak ada perubahan. Rencana terapi yang akan diberikan.BAB 1V RINGKASAN AKHIR Pasien Laki-laki atas nama Tn. Pasien didiagnosis normotensi glaukoma ODS dan diagnosa banding POAG ODS.Rencana pemeriksaan tambahan yaitu pemeriksaan perimetri untuk melihat dan memeriksa lapangan pandang sentral dan perifer.H berusia 66 tahun datang ke poli mata RSUD Kota Mataram dengan keluhan mata kiri kabur sejak 4 bulan yang lalu. OCT dan kampimetri humphrey. Rencana tatalaksana dengan betaxolol eye drops.

Ilmu Penyakit Mata. Vol. 2005. Optical Coherence Tomography (OCT) Posterior Segment. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 22 No. 17 . 2010. EGC. Hal.F... 2007.. S. Perdami.D.. H. Pak J Ophthalmol 2006. Parmacotherapy: A patophysiologic Approach 6th edition. 2006.DAFTAR PUSTAKA Babar T. 2006. Normal Tension Glaucoma. No. Edisi ketiga.2 DiPiro. 2008. Jakarta.Jurnal Oftalmologi Indonesia Vol. Paul dkk. et al. Novita. J.T. Riordan. Vaughan & Asbury Oftalmologi Umum. Desember 2008. The McGraw-Hill Companies: USA Iljas.6.3. et al. Panduan Manajemen Klinis Perdami.169-177 Perdami.