KAJIAN PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KARAGINAN RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG TERKENA PENYAKIT ICE ICE DI PERAIRAN

PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU

NUR MASITA AMILUDDIN

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007

PERNYATAAN MENGENAI TESIS Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Kajian Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Terkena Penyaki Ice Ice di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu” adalah karya sendiri dan belum diajukkan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka pada bagian akhir.

Bogor, Januari 2007

(Nur Masita Amiluddin) NRP C151030221

ABSTRAK
NUR MASITA AMILUDDIN : Kajian Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Terkena Penyakit Ice Ice di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu di Bawah Bimbingan : FREDINAN YULIANDA (Ketua) dan ENAN M.ADIWILAGA (Anggota). Komoditas rumput laut K. alvarezii mempunyai prospek yang cerah dalam perdagangan untuk kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri. Peningkatan permintaan pasar dunia terhadap jenis ini memacu perkembangan budidaya. Rumput laut K. alvarezii dewasa ini sedang giat dikembangkan oleh pemerintah melalui usaha budidaya karena selain dapat meningkatkan pendapatan nelayan juga menjadi sumber devisa negara. Rumput laut y ang dibudidayakan di pulau Pari pada tahun 2000 mulai memperlihatkan adanya kecenderungan penurunan hasil panen baik kuantitas maupun kualitas dan menjadi permasalahan sampai sekarang. Penurunan hasil panen baik kuantitas maupun kualitas ini disebabkan karena terkena penyakit ice ice (bercak putih). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kualitas lingkungan, pertumbuhan dan kandungan karaginan rumput laut K. alvarezii yang terkena penyakit ice ice di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari. Hasil penelitian diperoleh bahwa di lokasi budidaya sebelah barat dari minggu pertama sampai minggu keempat kualitas air masih memenuhi kriteria untuk budidaya rumput laut, sehingga ada peningkatan pertumbuhan dan kandungan karaginan. Minggu kelima sampai minggu kedelapan kualitas air memburuk dan tanaman uji terinfeksi bakteri penyebab penyakit ice ice, sehingga pertumbuhan dan kandungan karaginan menurun. Sementara l kasi budidaya o sebelah utara sudah terkena penyakit ice ice selama masa pemeliharaan. Untuk mencegah Agar penyakit ice ice tidak meluas atau berkembang, maka kegiatan budidaya dihentikan selama kualitas air memburuk dan dilakukan penanaman bila kondisi perairan kembali normal.. Kata kunci : K. alvarezii, Pertumbuhan, Karaginan , Ice ice.

Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor. foto copy. sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apapun baik cetak. tahun 2007 Hak cipta dilindungi Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor. mikrofilm dan sebagainya .

KAJIAN PERTUMBUHAN DAN KANDUNGAN KARAGINAN RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG TERKENA PENYAKIT ICE ICE DI PERAIRAN PULAU PARI KEPULAUAN SERIBU NUR MASITA AMILUDDIN Tesis Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sain pada Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2007 .

Enan M. Fredinan Yulianda M. Ir. Dr.Sc Ketua Dr.Judul Tesis : Kajian Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Terkena Penyaki Ice Ice di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu Nama : Nur Masita Amiluddin NRP : C 151030221 Program Studi : Ilmu Perairan Disetujui Komisi Pembimbing Dr. Khairil Anwar Notodiputro Tanggal Ujian : 28 Desember 2006 Tanggal Lulus: . Enang Harris Prof. Adiwilaga Anggota Diketahui Ketua Program Studi Ilmu Perairan Dekan Sekolah Pascasarjana Prof. Dr. Ir.

Ibu tersayang yang telah banyak berjasa dengan bantuan moriil.sebagai penguji luar komisi atas kesediaan membantu mengarahkan penulis dalam penyelesaian tesis ini. Ci dan Aini (Onco) yang selalu mendorong dan mendoakan penulis.Sc.Adiwilaga sebagai Ketua dan anggota yang dengan tulus dan sabar membimbing saya. Ayah tercinta (almarhum). 11 Kakak dan adik-adikku tersayang : Nyong. . Seribu yang telah banyak membantu. Nurulsavira dan Moh.Kardio Praptokardiyo M. Berkat bantuan banyak pihak tesis dengan judul Kajian Pertumbuhan dan Kandungan Karaginan Rumput Laut Kappaphycus alvarezii yang Terkena Penyaki Ice ice di Perairan Pulau Pari Kepulauan Seribu dapat diselesaikan. 3 Bapak Prof. 8 9 Teman-teman P2O LIPI Jakarta yang telah memberikan motivasinya.Enan M. program Pascasarjana IPB.Dr. Moh. Nasrullah Zidan yang selalu memberikan semangat dan pengorbanan selama pendidikan. 10 Suami dan anak-anak tercinta : Nurulvadini. 7 Bapak Satir beserta petani rumput laut kelurahan pulau Pari Kab. Melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1 Bapak Dr.Safrul. 5 6 Bapak Dirjen Pendidikan Tinggi sebagai penyumbang dana pendidikan.Ir. Rusli.Enang Harris selaku ketua Program Studi Ilmu Perairan beserta seluruh staf pengajar.Hamadi B. Bapak Dr. atas segala rahmatnya.Ir. 4 Bapak Prof.Administrasi Kepulauan.Sc. matriil dan selalu mendoakan dalam segala studi penulis.Fredinan Yulianda M.Husein selaku Ketua Sekolah Tinggi Perikanan Hatta Syahrir Banda Naira atas ijin belajar untuk menempuh pendidikan pascasarjana. Lela. 12 Semua pihak yang telah membantu penulis yang tak dapat penulis tuliskan dalam ruang yang terbatas ini. Tesis ini sekaligus sebagai tugas akhir akademis dalam pendidikan di program studi Ilmu Perairan.PRAKATA Alhamdulilllah Puji Syukur Penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. dan Dr. 2 Seluruh jajaran Program Pascasarjana IPB yang telah membantu kelancaran selama mengikuti studi.Ir.

untuk itu saran dan kritik demi penyempurnaan sangatlah diharapkan. Akhirnya semoga tulisan ini ada manfaatnya bagi pembaca dan yang membutuhkan. Bogor.Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan. Januari 2007 Penulis .

Pada tahun 2003 penulis mendapat kesempatan melajutkan pendidikan Pascasarja pada Program Studi Ilmu Perairan Sekolah Pascasarja Institut Pertanian Bogor.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Ambon pada tanggal 20 April 1967 merupakan anak kedua dari lima bersaudara dari ayahanda Anas Amiluddin dan ibunda Arafia M. . Pada tahun 1991 menyelesaikan pendidikan sarjana pada program studi menejemen sumberdaya perairan jur usan penangkapan Universitas Pattimura dengan skripsi berjudul Pengaruh Jenis Umpan Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Demersal dengan Bottom Long Line di perairan Ambon. pendidikan m enengah pertama pada SMP Negeri 7 Ambon tahun 1982 dan pendidikan menengah atas pada SMA Negeri 3 Ambon tahun 1985. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada SD INPRES Wailela Ambon tahun 1979. Penulis bekerja sebagai staf pengajar pada Sekolah Tinggi Perikanan Hatta Sjahrir Banda Naira sejak tahun 2001 sampai sekarang. Beasiswa pendidikan pascasarjana diperole h dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.Saleh.

....................................................................................... Hipotesis ........................................................................................................... PENDAHULUAN ......................................................i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL ......................................................... Penyakit Pada Tanaman Rumput Laut ................ Perumusan Masalah ........................ alvareezii .......................................................................................................... Kekentalan dan pembentukan gel ....................... iii iv vi 1 1 2 3 3 5 5 5 6 7 9 10 11 12 12 13 15 15 16 17 18 18 19 19 19 ........................................ Penyakit tumbuhan ....................................... Latar Belakang .............................................................................. ............................................................................................................... Mutu dan penggunaan karaginan .................................................................................................... Metode budidaya ..................... Struktur kimia dan sifat-sifat karaginan ..... Pasca panen ................... Budidaya K.................... Penyediaan bibit dan pemeliharaan .............................................. METODE PENELITIAN ............................................... DAFTAR LAMPIRAN ..................................................... alvarezii............................................................................. Lokasi dan Waktu Penelitian ..................................................................................................................................................................................................................................................................... Disain rakit ...... Tujuan dan Manfaat ......................................................... Penanaman benih ................... Karaginan Rumput Laut ........................................................... Komposisi kimia ................................. Rumput Laut K.................................... Penyakit Ice ice ................. Metode Pemeliharaan ........................................................................................................................................................................................................................... TINJAUAN PUSTAKA .......... Jenis dan habitat .............................. DAFTAR GAMBAR ............................................................................................

...................ii Pengamatan Lingkungan Perairan .................................... Pertubuhan parsial ............................ DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ Kondisi Lingkungan Perairan .............. SIMPULAN dan SARAN .... Faktor biologi ...................................................................................................... Pertumbuhan biomassa............................................................. Saran ...... Kandungan Karaginan.......... Hubunga n Karaginan dengan Waktu Pengamatan ....................................................................................... Produksi Bobot Kering .................................................................................................. Faktor kimia ............................................................................................ Pertumbuhan Rumput Laut ................................... Kadar Air ...... Kadar Abu ....... HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................... Hubungan Karaginan dengan Unsur Hara .......................................................................................... 20 21 22 24 26 26 28 28 32 36 39 39 39 45 46 47 48 49 50 51 52 54 56 56 56 57 ................. Simpulan ......................................... Analisa Komponen Utama ............... Hubungan laju pertumbuhan dengan unsur hara................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................................. Hubungan laju degradasi dengan suhu........ Faktor fisika .................................................................................................... Teknik Pengamatan ....................................................................... Analisis Data ......................................................................................................................... arus dan oksigen terlarut .............................. Keadaan Umum Wilayah Penelitian ............ Kualitas Rumput Laut .................................................................................................................................................................................

.............................................................................. alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari...........iii DAFTAR TABEL Halaman 1 Komposisi kimia rumput laut K.... alvarezii..................... 6 Pertumbuhan mutlak........................................... ....................... 3 Parameter............................................... alat dan satuan pengukuran .. 7 Bobot dan penyusutan K..................... 4 Rata-rata parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari... 2 Klasifikasi kriteria lokasi budidaya rumput laut K.............. 6 8 21 28 38 46 48 .......................................... alvarezii ................ relatif dan sesaat rump ut laut di sebelah barat dan utara pulau Pari..................... 5 Perbandingan kualitas perairan di pulau Pari tahun 1997 dan 2002 ....................

............................................... 18 Permukaan thallus rumput laut yang kasar .................................................... Peta lokasi penelitian pulau Pari Kepulauan Seribu ........................................ 4 18 20 23 29 30 31 32 33 35 36 37 37 38 40 41 43 43 44 45 10 Rata-rata nitrat.................................................................. 17 Laju pengeroposan rumput laut tahap pertama (a) dan kedua (b) di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari ....................................................................................................................iv DAFTAR GAMBAR Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Alur pikir pendekatan masalah . nitrit dan amonia di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.............. Bagan alir analisis karaginan ..........................................pulau Pari ......................... 50 ...................................... Rata-rata suhu perairan di lokasi sebelah barat dan utara pulau Pari .................................................................. Disain rakit dan pemasangan bibit rumput laut ....................................................................................................................................... 22 Rata-rata kandungan karaginan di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari ................................ 19 Rumput laut yang terkena penyakit di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari .............................................................. 14 Sampah dan tumbuhan pengganggu di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari ................................................................................................... 20 Beberapa cara terinfeksi bakteri penyebab penyakit ice ice .................................................................................................................. 11 Rata-rata kandungan total pospat dan ortho pospat di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau pari .............................. 13 Kotoran dan algae penempel pada tanaman uji yang menghalangi Penyerapan ........ 21 Pertumbuhan rumput laut normal di lokasi budidaya Halmahera (Kusdi 2005) ..................................................... Rata-rata kandungan oksigen terlarut di lokasi budidaya sebelah barat dan utara................. 12 Luka bekas gigitan ikan pada tanaman uji .... 15 Pertumbuhan rumput laut minggu 1-4 dan minggu ke5-8 dilokasi budidaya barat pulau Pari ............................................................................................................................................................ Rata-rata kecerahan di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari ...................... Rata-rata kecepatan arus di lokasi budidaya sebelah barat dan utara Pulau Pari ...................... Rata-rata pH di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari .............................

............................................................. 51 52 54 55 ...................... 25 Hubungan kand ungan karaginan dengan waktu pengamatan di lokasi Budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari ............................... 26 Hubungan kandungan karaginan dengan waktu pengamatan di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari ........................................................................................................v 23 Rata-rata kadar air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari ..................... 24 Rata-rata kadar abu di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari ...........

................................................. Laju pertumbuhan harian K............................................................. 11 Analysis of Variance hubungan pertumbuhan dan unsur hara di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari .........vi DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Hasil pengukuran parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari ............ alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat ........ Hasil uji t terhadap pertumbuhan................ 12 Analysis of Variance hubungan karaginan dan Unsur hara di lokasi budidaya barat dan utara pulau Pari ...................... Hasil Pengukuran Kualitas Air di Lokasi Budidaya Sebelah Utara Pulau Pari ....................................................................... kadar abu dan kadar air di lokasi sebelah barat dan utara pulau Pari periode April sampai Mei 2005 .......... Hasil analisis komponen utama di lokasi budidaya sebelah barat Pulau Pari ..................................................... alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat (a) dan utara (b) pulau Pari ................................................................. Hasil pengukuran bobot Basah K......................................................................................... alvarezii di lokasi budidaya sebelah utarab ............................................. 64 2 65 3 66 4 67 5 68 6 69 7 70 8 71 9 72 10 Hasil analisis komponen utama di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari ............................................................... Hasil uji t terhadap parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari periode April sampai Mei 2005 ...................................... kadar air dan kadar abu di lokasi sebelah barat (a) dan utara (b) pulau Pari ............................. Hasil pengukuran bobot basah K............................................................. kandungan karaginan................................................. 73 74 75 ......... Kandungan karaginan.............................

alvarezii mempunyai prospek yang cerah dalam perdagangan untuk kebutuhan dalam negeri maupun luar negeri. Jenis ini menjadi komoditas ekspor karena permintaan pasar sekitar 8 kali lebih banyak dari jenis lainnya (Sulistijo 2002). bahan pengental. Komoditas ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi sebagai bahan makanan dan keperluan industri.PENDAHULUAN Latar Belakang Rumput laut atau algae merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia yang diandalkan untuk pemasukkan devisa negara. Negara Filipina merupakan negara pertama yang dapat meningkatkan produksi K. alvarezii dewasa ini sedang giat dikembangkan oleh pemerintah melalui usaha budidaya karena selain dapat meningkatkan pendapatan nelayan juga menjadi sumber devisa negara. Salah satu jenis rumput laut yang mempunyai potensi untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Kappaphycus alvarezii yang dulu dikenal sebagai Eucheuma cottonii. Komoditas rumput laut K. Perkembangan budidaya di Indonesia mulai tampak dapat memenuhi permintaan pasar sejak tahun 1980 setelah keberhasilan budidaya di perairan Selatan Bali (Nusa Penida) dan terus meluas hampir keseluruh perairan Indonesia termasuk pulau Pari. Peningkatan permintaan pasar dunia terhadap jenis ini memacu perkembangan budidaya. K. alvarezii adalah jenis rumput laut yang diperlukan untuk usaha industri karena kandungan kappa karaginannya sangat diperlukan sebagai bahan stabilisator. pembentuk jel. Namun usaha budidaya tersebut jika tidak ada pengelolaan yang baik dan tidak memperhatikan . Bahkan menurut Doty (1973) kebutuhan rumput laut jenis K. alvarezii adalah 10 kali lipat dari persediaan alami di dunia. Produksi rumput laut untuk kebutuhan ekspor umumnya berasal dari algae merah (Rhodophyceae). Masyarakat pulau pari mengenal dan menyebut jenis rumput laut ini dengan nama Eucheuma. alvarezii melalui budidaya. Rumput laut K. dan pengemulsi (Winarno 1996). Rumput laut yang dibudidayakan bertujuan untuk meningkatkan hasil dalam jumlah yang cukup besar dan kontinyu dengan kualitas yang baik terutama untuk kebutuhan ekspor.

maka dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil yang diperoleh. sehingga sebagian besar produk tidak dapat dipanen. namun diperkirakan beberapa lokasi masih mampu menunjang perkembangan budidaya rumput laut tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pertumbuhan dan kandungan karaginan pada saat rumput laut terkena penyakit ice ice.2 kelestarian serta daya dukung lingkungan. maka perlu dilakukan pengkajian usaha budidaya rumput laut di lokasi budidaya sebelah barat yang merupakan perairan terbuka (luar gobah) dan utara yang merupakan perairan . Hal seperti ini terlihat di pulau Pari yakni para pembudidaya terus menerus menggantikan tanaman yang rusak tanpa memperhatikan kerugian dan kondisi kualitas lingkungan budidaya. Penyakit ice ice merupakan penyakit yang timbul pada musim laut tenang dan arus lemah dan berlangsung selama 1-2 bulan. Sehubungan dengan permasalahan tersebut. Permasalahan tersebut terjadi karena kekeroposan thallus rumput laut. maka akan terjadi kerugian yang berkelanjutan. setelah itu areal dapat ditanami kembali bila kondisi lingkungan sudah normal (Sulistijo 2002). alvarezii di pulau Pari menghadapi masalah penurunan produksi dan kualitas yang tidak dapat diterima oleh pasar. Munurunnya kualitas lingkungan perairan di pulau Pari menyebabkan penurunan produksi. Proses kekeroposan thallus yang merupakan ciri dari penyakit ice ice sangat cepat. Namun apabila lahan ditanami terus tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Masalah serius yang menimbulkan kerugian cukup besar dalam budidaya rumput laut di pulau Pari adalah penyakit ice ice (bercak putih). Perumusan Masalah Musim barat tahun 2005 usaha budidaya rumput laut K. Rumput laut yang dibudidayakan pada tahun 2000 mulai memperlihatkan adanya kecenderungan penurunan hasil panen baik kuantitas maupun kualitas dan menjadi permasalahan sampai sekarang. Sumber penyebab timbulnya penyakit ice ice yaitu penurunan kualitas lingkungan perairan.

apakah masih mampu menghasilkan produksi yang diharapkan. Hipotesis Produksi dan kualitas hasil budidaya rumput laut K. alvarezii di masa yang akan datang. Alur pikir pendekatan masalah disajikan pada gambar 1.3 tertutup (gobah). Alvarezii yang dibudidayakan akan lebih baik di lokasi budidaya sebelah barat (luar gobah) daripada di sebelah utara (gobah) pulau Pari walaupun terkena penyakit ice ice. alvarezii pada kondisi terkena penyakit ice ice di lokasi budidaya sebelah barat yang merupakan perairan terbuka (luar gobah) dan utara yang merupakan perairan tertutup (gobah) pulau Pari. . Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai informasi dasar dalam upaya penanggulangan penyakit ice ice untuk pengembangan budidaya rumput laut K. Tujuan dan Manfaat Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji pertumbuhan dan kandungan karaginan dari rumput laut K.

Unsur Hara Laju Pertumbuhan Rumput Laut Produksi Rumput Laut Intensitas Produksi Primer Unsur Hara Suhu Rumput Laut Oksigen Intensitas Serangan Arus Bakteri Ice ice Keropos Z<G Tingkat perkembangan bakteri Biomassa Gambar 1 Alur pikir pendekatan masalah. .

obatan dan kosmetika di dunia karena mengandung zat karaginan yang merupakan bahan campuran (additives). cottonii berubah menjadi K. 1996). Ganggang merah yang hidup di laut dan tergolong dalam Thallophyta ini tidak memperlihatkan perbedaan akar. obat . Lewis et al. warna hijau kekuningan. berduri tidak teratur dan melingkari thalus. alvareezii (Atmadja et al. Tinggi tanaman dapat mencapai 40 cm. 1973). abu-abu dan merah. Bold dan Wynne (1985). Sistimatika klasifikasi botani menurut Dawes (1981).5%. maka nama ilmiah dari E. alvarezii bila diklasifikasikan berdasarkan pigmentasi termasuk jenis alga merah (Rhodophyceae). batang dan daun seperti tanaman tingkat tinggi. (1987) & Kadi dan Atmadja (1988) adalah sebagai berikut : Devisi : Rhodophyta Kelas Ordo Family Genus : Rhodophyceae : Gigartinales : Solieriaceae : Kappaphycus Species : Kappaphycus alvarezii Ciri umum dari genus Kappaphycus : thallus atau kerangka tubuh bulat silindris. alvarezii Jenis dan habitat Rumput laut K. cabang tidak beraturan tumbuh di bagian yang muda maupun yang tua dan diameter thallus kearah ujung sedikit lebih kecil dibandingkan dengan pangkalnya (Doty. dimana derivat kappa carageenan yang lebih dominan dari pada iota dan beta carageenan yang ditemukan oleh seorang ahli dari Filipina bernama alvarez. duri-duri pada thallus runcing memanjang dan agak jarang. Kadar karaginan dalam setiap species Kappaphycus berkisar anatara 54%-73% sedangkan di Indonesia berkisar antara 61. Keseluruhan tanaman merupakan batang yang dikenal sebagai thallus. . 1996 & Silva et al. permukaan thallus licin.5%-67. Kappaphycus merupakan jenis rumput laut yang banyak dicari untuk kepentingan industri makanan.TINJAUAN PUSTAKA Rumput Laut K. Berdasarkan pada bentuk dan anatomi serta karakter biokimia.

cahaya. Tabel 1 Komposisi kimia rumput laut K.67 0.2%.25-63.14 2. Di alam bebas Kappaphycus tumbuh dan berkembang dengan baik pada salinitas yang tinggi. terutama sebagai dinding sel dan sebagai jaringan intraseluler.00-11. protein 1.70 12. Komponen Kadar air (%) Protein (%) Karbohidrat (%) Lemak (%) Serat kasar (%) Abu (%) Mineral Ca (ppm) Mineral Fe (ppm) Mineral Pb (ppm) Thiamin (mg/100g) Riboflavin (mg/100g) Vitamin C (mg/100g) Karaginan (%) Kandungan (% berat kering) 13. karbohidrat 32.00%. alvareezii. Karbohidrat merupakan komponen terbesar.95-27.50-11. Menurut Kuntoro (1985) dalam Suryaningrum (1988) rumput laut mengandung air 12.50%.12 0.52 Team Rumput Laut BPPT dan Pusat Pengembangan Teknologi Pangan IPB (Soegiarto dan Sulistijo. serat kasar 3. sebab pada daerah inilah terdapat beberapa syarat untuk pertumbuhan yaitu kedalaman perairan.50-23%.09 29. Kandungan kimiawi rumput laut umumnya yang tertinggi adalah karbohidrat sekitar 60-80%. subsrat dan pergerakan air.92 0.00 61. 1985).70 0.90 2.27 5.40% dan abu 11. Komposisi kimia Komposisi kimia rumput laut sebagian besar terdiri dari karbohidrat.6 Kappaphycus tumbuh pada daerah yang selalu terendam air (subtidal) atau pada daerah surut (intertidal).90 17.60-10. 1981). mineral 10-14%. lemak 4. juga mengandung protein. Selanjutnya Lobban dan Harison (1994) mengatakan bahwa alga tersebut tumbuh dengan baik pada perairan terbuka dengan tingkat pergerakan arus yang tinggi. Jenis ini sangat baik tumbuh pada daerah terumbu karang (coral reef). Komposisi kimia menurut Soegiarto dan Sulistijo (1985) dapat dilihat pada Tabel 1.04 0. sedangkan lemak dan proteinnya .00%. lemak dan mineral (Hansen et al.

B6. Rumput laut merupakan sumber koloid untuk agar-agar. (4) perairan . Selanjutnya dilaporkan juga kandungan vitamin seperti vitamin A. Budidaya K. Kemudian sejak tahun 1974 LON-LIPI melanjutkan percobaan budidaya rumput laut jenis Eucheuma di pulau Pari dengan mengikat bibit rumput laut pada tali nilon dikerangka rakit bambu dan kerangka lepas dasar seperti yang telah dilakukan di Philipina (Sulistijo 2002). Menurut Wei and Chin (1983) secara kimia karaginan mirip dengan agar-agar. laminarin. karaginan. Di Indonesia baru jenis Eucheuma dan Gracilaria saja yang dapat dibudidayakan. B12 dan C serta mengandung mineral seperti kalium. Percobaan budidaya rumput laut di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Soerjodinoto (1968) dari LON-LIPI terhadap rumput laut jenis Eucheuma di perairan gugusan pulau Pari Kepulauan Seribu (pulau Tikus) dengan menggunakan rakit dan substrat batu karang. algin dan ekonomis rendah yaitu laminarin. karaginan. natrium. 1984 dalam Anggadireja et al. Kajian kriteria lokasi budidaya rumput laut dari segi kondisi tata letak dan kualitas perairan sangat berperan dalam pencapaian hasil usaha budidaya rumput laut. (2) tidak mengalami fluktuasi salinitas yang besar.7 rendah hanya 1-2% saja. Durant and Sanford (1970) membagi koloid menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang bernilai ekonomis tinggi yaitu agar-agar. (1) lokasi budidaya harus bebas dari pengaruh angin topan. fukoidin dll. fukoidin dan lainnya. kalsium. (3) mengandung makanan untuk pertumbuhan. B2. 1996). Selajutnya menurut Food chemical codex USA (1974) dalam Suryaningrum (1988) membedakan agar-agar dan karaginan berdasarkan kandungan sulfatnya dimana karaginan minimal mengandung 18% sedangkan agar-agar hanya mengandung sulfat sekitar 3-4%. alvarezii Usaha budidaya terhadap beberapa jenis rumput laut telah berhasil dikembangkan di beberapa negara. Indriani dan Sumiarsih (1999) mengatakan untuk memperoleh hasil yang memuaskan dari usaha budidaya rumput laut hendaknya dipilih lokasi yang sesuai dengan ekobiologi (persyaratan tumbuh) rumput laut sebagai berikut. algin. hanya karaginan mempunyai kandungan abu tinggi dan memerlukan konsentrasi tinggi untuk membentuk larutan kental. B1. zat besi dan iodium (Araksi et al. pospat.

Secara rinci Atmadja et al. kisaran nitrat 1. kimia dan biologi sangat menentukan keberhasilan usaha budidaya.2 mg/l dan pospat antara 0. kedalaman pada sistim tali rawe sekitar 200 cm.06 mg/l. . (1998) mendapatkan pertumbuhan yang baik di desa Serey.34 permil Tidak ada Tidak ada Mudah dijangkau Banyak Kriteria cukup baik Agak terlindung 30 . pH berkisar antara 6-9 dengan kisaran optimum adalah 7.3 8.3 mg/l dan pospat 0.0.40 cm/detik Pasir berlumpur 6-9 3-5m 28 . kondisi air jernih dengan tingkat transparansi sekitar 1.021 . (1996) Kriteria baik Terlindung 20 . dasar terdiri dari potongan karang mati bercampur dengan karang pasir. alvareezii dengan kriteria baik dan cukup baik (Tabel 2).32 permil Ada sedikit Ikan dan bulu babi Cukup mudah Cukup Selanjutnya dikatakan Sulistijo (1996) kondisi ekologis yang meliputi parameter lingkungan fisika.10 mg/l (Zatnika & Angkasa 1994).3. suhu berkisaran 27-30 oC. Parameter fisika antara lain : sarana budidaya dan tanaman terhindar dari angin. alvareezii Parameter Keterlindungan Arus (gerakan air) Dasar perairan pH Kecerahan Salinitas Cemaran Hewan herbivora Kemudahan Tenaga kerja Sumber : Atmadja et al.0. sedangkan pH untuk Kappaphycus adalah 7 .5 meter termasuk cukup baik dan kecepatan arus yang baik adalah sekitar 20-30 cm/detik.30 cm/detik Pasir berbatu 7-9 Lebih dari 5 m 32 . Tabel 2 Klasifikasi kriteria lokasi budidaya rumput laut K. (5) lokasi harus mudah dijangkau.0.(1996) mengadakan klasifikasi penilaian lokasi untuk budidaya hayati rumput laut K. kenaikan temptatur membuat rumput laut menjadi pucat kekuningan dan tidak sehat.8 harus bebas dari predator dan pencemaran industri maupun rumah tangga.5 8. Minahasa mempunyai kisaran nitrat 1.2 1.9 dengan kisaran optimum 7.03 . Sementara hasil penelitian Ngangi et al. Parameter kimia antara lain : Salinitas berkisar antara 28-34 o/oo dengan nilai optimum 32 o/oo.2.0 .

bulu babi (Diademasetosum sp. dimana thallus akan mudah terkelupas. misalnya larva bulu babi (Tripneustes sp. Dari ketiga metode tersebut yang sudah direkomendasikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan (1997) adalah metode lepas dasar dan metode rakit apung. Amphiroa dan filamen seperti Chaetomorpha. Metode budidaya Metode yang akan digunakan tergantung pada kondisi lingkungan (lahan) yang kita gunakan. Selanjutnya dikatakan metode budidaya rumput laut jenis Eucheuma sp yang sudah memasyarakat di Indonesia adalah : .) yang bersifat planktonik. Lyngbya dan symploca (Atmadja dan Sulistijo 1977). Dictyota. Hama penyerang rumput laut dibagi menjadi dua menurut ukuran hama.9 Parameter biologi antara lain rumput laut atau algae yang dibudidayakan tidak terlepas dari pengaruh biologi perairan seperti hama dan penyakit. melayang-layang di dalam air dan kemudian menempel pada tanaman rumput laut. Salah satu fungsi ekologi dari rumput laut dimana areal komonitas rumput laut dijadikan spowning area dan nursery area oleh organisme laut yang dapat menjadi hama. Penyu Hijau (Chelonia mydas). Laurensia. Tumbuhan penempel tersebut antara lain adalah Hipnea. dan ikan Kerapu (Epinephellus sp. Acanthopora.) (Ditjen Perikanan 2004). Padina.). Hama rumput laut umumnya adalah organisme laut yang memangsa rumput laut sehingga akan menimbulkan kerusakkan fisik terhadap thallus. bulu babi duri pendek (Tripneustes sp. patah ataupun habis dimakan hama.) bintang laut (Protoreaster nodosus). Tumbuhan penempel dalam koloni yang cukup besar akan mengganggu pertumbuhan rumput laut.). (2) lepas dasar dan (3) metode rakit apung. Metode budidaya rumput laut dapat dilakukan dengan tiga macam metode berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar perairan yaitu : (1) lepas dasar. Beberapa hama makro yang sering dijumpai pada budidaya rumput laut adalah ikan Beronang (Siganus sp. yaitu hama mikro merupakan organisme laut yang umumnya mempunyai panjang kurang dari 2 cm dan hama makro yang terdapat dilokasi budidaya dan sudah dalam bentuk ukuran besar atau dewasa. Hama mikro hidup menumpang pada thallus rumput laut.

Aslan (1998) mengatakan untuk keberhasilan budidaya Eucheuma perlu diperhatikan kesehatan dari bibit tersebut dengan ciri-ciri bila dipegang terasa elastis. Bibit rumput laut yang terpilih tidak lebih dari 24 jam penyimpanan di tempat kering dan harus terlindung dari sinar matahari juga cemaran (terutama minyak). cara penyimpanan dan pengangkutan bibit serta mutu yang baik dan tersedia dalam jumlah yang mencukupi kebutuhan petani. Secara teknis metode rakit apung ini dianggap lebih aman. bercabang yang banyak dengan ujungnya berwarna kuning kemerahmerahan dan mempunyai batang yang tebal. Penyediaan bibit dan pemeliharaan Hasil panenan budidaya rumput laut baik kualitas maupun kuantitas ditentukan dari bibit yang digunakan. 2. tidak boleh direndam air laut dalam wadah. Di wilayah Kepulauan Seribu metode apung dimodifikasi dengan menggunakan tali nylon sebagai pengganti bambu sehingga dapat menghemat biaya untuk pembuatan kerangka rakit bambu. Soegiarto et al. Kedalaman air sekitar 30-50 cm pada waktu surut terendah dan arus yang cukup baik. alvarezii yang ditanam dengan menggunakan metode lepas dasar biasanya untuk dasar perairan karang berpasir tidak berlumpur tujuannya untuk menancapkan patok atau pancang. Dalam penyediaan bibit perlu diperhatikan sumber perolehan. Dijelaskan lagi oleh Sulistijo (2002) bahwa rumpun yang baik adalah yang bercabang banyak dan rimbun. (1978) mengatakan dengan metode rakit apung tanaman cepat tumbuh dan akan menjadi sepuluh kali lipat dari berat semula dalam waktu 4-6 minggu. sehingga kegiatan penyediaan bibit dari alam maupun dari hasil budidaya perlu direncanakan. Metode lepas dasar (off bottom method) K. penyimpanan yang baik adalah di laut . Bila ditinjau dari segi biaya lebih murah dan kualitas rumput laut yang dihasilkan relatif baik tetapi pertumbuhan tanaman lebih kecil. tidak terdapat penyakit bercak putih dan mulus tanpa ada cacat terkelupas.10 1. terutma dari ancaman kekeringan karena pasang surut air laut. Metode rakit apung Metode ini menggunakan sebuah rakit apung dan agar rakit tidak hanyut terbawa arus digunakan jangkar di dasar perairan.

maka perlu pengawasan 2-3 hari sekali. Bibit yang diperoleh adalah bagian ujung tanaman (jaringan muda) umumnya memberikan pertumbuhan yang baik dan hasil panenan mengandung karaginan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bibit dari sisa hasil panen atau tanaman tua (Indriani dan Sumiarsih 1999). 1996). Masa pemeliharaan rumput laut sampai saat panen apabila menggunakan metode lepas dasar berkisar antara 1. Sedangkan pemanenan secara total dengan cara mengangkat semua rumpun tanaman secara keseluruhan dan kemudian tanaman yang muda (thallus bagian ujung) dipilih kembali untuk dijadikan bibit dan bagian pangkalnya dikeringan (Anonymous 1990).0 bulan dan bahwa pemanenan dilakukan bila rumput laut telah nencapai sekitar 4 kali berat awal (Kolang et al.5-2. Laju pertumbuhan 3-5% per hari selama waktu penanaman memberikan indikasi pertumbuhan rumput laut yang baik. sedangkan hal lain yang penting diperhatikan adalah menghadapi serangan predator dan penyakit (Aslan 1998). Saat yang baik untuk penebaran maupun penanaman bibit adalah pada saat cuaca teduh (tidak mendung) dan yang paling baik adalah pagi hari atau sore hari menjelang malam (Aslan 1998). Bila kondisi perairan kurang baik. Selanjutnya dijelaskan bibit yang baik dan sehat pada lokasi yang sesuai akan memberikan pertumbuhan yang baik. Pemanenan rumput laut secara parsial dilakukan dengan cara memisahkan cabang-cabang dari tanaman induknya dan selanjutnya digunakan kembali untuk penanaman berikutnya. bibit yang ditanam harus diperiksa dan dipelihara dengan baik melalui pengawasan yang teratur dan kontinyu. tetapi kecepatan tumbuh bibit yang berasal dari tanaman .11 dalam jaring agar sirkulasi air terjaga sementara. angin serta suasana perairan yang dipengaruhi musim hujan atau kemarau. yang dapat diukur dengan laju pertumbuhan. Penanaman dengan sistem rakit ukuran 5 x 2 m dengan jarak tanam 25 cm dibutuhkan bibit 8 kg sedangkan sistem tali rawe tiap 100 m tali rentang dengan jarak tanam 50 cm diperlukan bibit minimal 20 kg (Sulistijo 2002). seperti ombak yang keras. Selanjutnya dikatakan bahwa cara pertama lebih mudah. Pasca panen Rumput laut dapat dipanen dengan dua cara yaitu secara parsial dan total. Seminggu setelah penanaman.

tapi keadaan luar telah melemahkan tumbuhan lebih dulu. Penyakit tidak akan terjadi jika patogen yang virulen bertemu dengn bagian tubuh yang rentan. siap untuk dipasarkan. (5) selalu ditutupi pada malam hari atau pada saat hujan (6) Setelah benar-benar kering dimasukkan ke dalam karung dan ditimbang. Kondisi ini menyebabkan interaksi antara parasit dengan tumbuhan inang yang disebut infeksi. Penyakit Pada Tanaman Rumput Laut Penyakit tumbuhan Semangun (1996) menjelaskan penyakit tumbuhan bila ditinjau dari sudut biologi adalah sebagai penyimpangan dari sifat normal yang menyebabkan bagian tubuh tidak dapat melakukan kegiatan fisiologi yang biasa. sehingga jasad dapat masuk atau juga oleh penyebabpenyebab yang bekerja terus menerus dalam waktu yang lama. (2) setelah 2-3 hari rumput laut yang sudah cukup kering kemudian dicuci. Penanganan hasil panen yang tepat sangat penting karena pengaruh langsung terhadap mutu dan harga penjualan di pasaran. suhu. sementara dari sudut ekonomi penyakit adalah ketidak mampuan tumbuhan untuk memberikan hasil yang cukup. tetapi lingkungan tidak mendukung. patogen yang virulen. (3) pencucian dilakukan dengan air laut selama 5 menit. baik kuantitas maupun kualitas. kelebihan cara kedua selain kecepatan tumbuh bibit lebih tinggi juga karaginan yang dikandungnya lebih tinggi. penyebab penyakit akan berkembang dan mengadakan penetrasi masuk ke dalam jaringan membentuk toksin yang merusak sel-sel tumbuhan. Lingkungan seperti kelembaban. Jasad renik (mikroba) tidak langsung menjadi penyebab suatu penyakit.12 induk lebih rendah dibandingkan dengan tanaman muda seperti pada pemanenan total. tetapi sebaliknya jika parasit mengadakan . Pada kondisi yang mendukung. Beberapa langkah yang perlu dilakukan dalam proses pengeringan hasil panen adalah : (1) setelah penimbangan berat basah kemudian ditebar untuk dikeringkan diatas para-para. sinar matahari dan unsur hara sangat mempengaruhi proses tersebut.5-1 hari. dan lingkungan yang sesuai. (4) dijemur kembali selama 0. Penyakit hanya akan terjadi jika terdapat tumbuhan yang rentan.

Penyakit ice ice Penyakit pada tanaman rumput laut pertama kali diketahui pada thun 1974 di Filipina dengan gejala yang dilaporkan adanya bercak pada thallus yang terinfeksi selanjutnya berwarna putih dan mati kemudian hancur.13 penetrasi pada badan tumbuhan yang tidak rentan. Kondisi ini disebabkan karena adanya perubahan lingkungan yang ekstrim dan tidak dapat ditolirir. Tanda . maka akan terjadi kekeroposan thallus sebagai ciri dari penyakit ice ice yang mengakibatkan kegagalan panen. keseluruhan tanaman menjadi pucat dan permukaan thallus menjadi kasar. dll.tanda ini nampak sebulan atau beberapa waktu setelah penanaman yang ditandai dengan cabang– cabang tanaman sedikit. Penyakit ini menyerang Eucheuma spp. terutama disebabkan oleh adanya perubahan lingkungan arus. Bila keadaan ini terus berlanjut. Bercak putih (ice ice) merupakan penyakit yang timbul pada musim laut tenang dan arus lemah diikuti dengan musim panas yang dapat merusak areal tanaman sampai mencapi 60-80% dan lamanya 1-2 bulan (Sulistijo 2002). maka penyakit ice ice pada tanaman rumput laut terjadi karena infeksi mikroba pada saat tanaman menjadi rentan. suhu. Bila dikaitkan dengan penyakit tumbuhan. maka infeksi tidak akan terjadi. sehingga tanaman menjadi lemah (tidak sehat). permukaan thallus menjadi kasar dan pucat. lambat. Sebagaimana tentang "Aging effect" pada rumput laut yang ditandai dengan penurunan pertumbuhan per satuan waktu. di lokasi budidaya dan berjalan dalam waktu yang cukup lama. Interaksi antara parasit dan tumbuhan inang terlihat dengan adanya gejala penyakit dan biasanya gejala penyakit akan segera tampak setelah terjadinya infeksi. lama kelamaan akan kehilangan warna sampai menjadi putih dan terputus (Anonymous 2004). Rumput laut yang terkena penyakit ice ice ini sebelumnya memperlihatkan adanya gejala pertumbuhan yang . Penyakit pada rumput laut ini terjadi di daerah-daerah dengan kecerahan tinggi dan dikenal sebagai ice ice dengan gejala timbulnya bercak-bercak pada sebagian thallus. kecerahan.

namun patogenitas bakteri tersebut belum diketahui. maka tanaman harus dipanen sesegera mungkin kalau penyakit telah berjangkit. Lima bakteri tersebut adalah Pseudomonas nigricaciens. Terjadinya penyakit dipengaruhi oleh berkembangnya jenis rumput laut lain yang menempel atau epifit.LIPI dan hasilnya diduga ada 8 jenis bakteri yang menimbulkan penyakit ice ice. terutama pada saat terjadinya perubahan lingkungan disamping itu dilakukan penurunan posisi tanaman lebih dalam untuk mengurangi penetrasi cahaya sinar matahari (Direktorat Jenderal Perikanan 2004). . sehingga tidak menyebabkan gejala penyakit ice ice. sehingga dalam budidaya perlu pemantauan lingkungan perairan dan memperhatikan musim dimana budidaya harus dihentikan untuk sementara. Sementara bakteri Pseudomonas gelatica. ini didahului dengan rendahnya unsur hara diperairan karena dengan berkembangnya rumput laut jenis lain akan mengakibatkan penurunan unsur hara yang diperlukan oleh pertumbuhan Kappaphycus (Direktorat Jederal Perikanan 1992). Hasil uji patogenitas terhadap kelima bakteri tersebut dilanjutkan dan ditemukan bakteri yang memiliki daya patogenitas tertinggi adalah Vibrio agarliquefaciens (Nasution 2005). Sampai sekarang belum ditemukan cara untuk membasmi penyakit ice-ice. Pseudomonas icthyodermis dan Bacillus megaterium tidak memiliki patogenitas. Vibrio granii. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan memonitor adanya perubahan-perubahan lingkungan. Pseudomonas fluorescens. Penelitian terhadap bakteri yang menyebabkan penyakit pada K. sehingga semua tanaman rumput laut yang dibudidayakan di pulau Pari terkena penyakit ice ice dan menurunkan harga dipasaran.14 Infeksi mikroba penyebab penyakit ice ice sudah menjalar pada lokasi perairan budidaya di pulau Pari. Bacillus cereus dan Vibrio agarliquefaciens. alvarezii ini pernah dilakukan oleh Laboratorium mikrobiologi P2O . namun upaya yang dilakukan adalah berhenti menanam pada saat musim penyakit. Kemudian dilanjutkan dengan penelitian uji patogenitas dari 8 jenis bakteri tersebut yang hasilnya menunjukkan hanya 5 bakteri yang dapat menimbulkan penyakit ice ice. Sampai saat ini belum ada metoda yang dapat diterapkan untuk mengendalikan penyakit ice ice tetapi untuk mengurangi kerugian.

1980).60. tetapi produk secara komersial baru dimulai tahun 1973.00. sedangkan kualitas rendah apabila berat kering bersih hanya 60%. cat. Menurut Doty (1987) kualitas rumput laut di Indonesia masih rendah. sampai sekarang baru bisa ditangani oleh Amerika Serikat. pengental. keramik. makanan diet. Korea.5.5-67.0-72. Denmark dan Perancis sedangkan skala kecil oleh Jepang. obat-obatan. makanan bayi (Chapman and Chapman 1980). pencegah kristalisassi dan penggumpal (Glickman 1983).8% di Tanzania dan di Indonesia berkisar antara 61. Di luar bidang pangan karaginan banyak digunakan sebagai bahan pembantu dalam industri kosmetik. Selanjutnya membagi kualitas rumput laut menjadi 2 golongan yaitu kualitas standar dan rendah. tekstil. pasta gigi. minuman . Spanyol. . telah dikeluarkan oleh Fao (Food Agriculture Organication). sehingga jumlah produksi yang dapat diterima masih terbatas karena rendahnya kualitas rumput laut tersebut. pengalengan. pengemulsi.15 Karaginan Rumput Laut Mutu rumput laut erat kaitannya dalam menentukan tingkat harga di pasaran. penyusutan karaginan bersih 30% dan kekuatan gel 0. Pengolahan Kappaphycus menjadi karaginan dalam skala besar. Karaginan pertama kali diekstrasi dari Chondrus crispus pada tahun 1844 oleh Schmidt. penyegar ruangan dan lain-lain (Guiseley et al. FCC (Food Chemical Codex) dan EEC (European Economic Community) (Sanderson 1981). India dan Filipina Chapman and Chapman (1980). kembang gula. pengikat. Pada industri pangan karaginan digunakan dalam industri susu. Mutu dan penggunaan karaginan Standar mutu karaginan yang diakui. Kandungan karaginan rumput laut jenis Eucheuma sp berkisar antara 54. roti. pembentuk gel. Karaginan merupakan hidrokoloid dari rumput laut yang paling penting dalam produk pangan karena sifat karaginan yang dapat berfungsi sebagai stabilisator. Kualitas standar apabila mempunyai berat kering bersih 70% dan penyusutan karaginan rumput laut bersih 40% serta kekuatan gelnya 1.

sedangkan kappa sebaliknya. Kappa. sedangkan dalam susu dingin lambda-karaginan mempunyai kelarutan yang tinggi. (1955) kelarutan karaginan dipengaruhi oleh adanya gugus 3. Lambda karaginan tidak mempunyai gugus 3. garam dan tipe ion (Tawle 1973). Doty (1987) membedakan Kappa sedangkan pada iota lebih dari 30%. kelarutan karaginan di dalam air dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu suhu.6-anhydrogalaktosa dan banyak sulfat. iota-karaginan larut dalam air panas dan lambda-karaginan larut dalam air dingin tanpa dipengaruhi adanya ion (Glickman 1964). sedangkan iota-karaginan dihasilkan oleh E u c h e u m a s p i n o s u m G u i s e l e y et al.6 anhydrogalaktosa dan gugus ester sulfat. tipe ion yang berhubungan dengan polimer. Identifikasi dilakukan dengan sidik jari (finger print) yaitu dibandingkan dengan spektrum standar yang dibuat pada kondisi yang sama dan identifikasi gugus fungsional dan mencocokkan dengan tabel. Identifikasi jenis karaginan dilakukan dengan menggunakan sinar infra merah untuk mengetahui gugus fungsional.dan lambda-karaginan larut dalam larutan gula jenuh dalam keadaan panas. Sifat-sifat karaginan meliputi kelarutan.karaginan dihasilkan oleh rumput laut jenis E u c h e u m a c o t t o n i i . (1980) membedakan struktur kappa dan lambda-karaginan berdasarkan kandungan 3. viscositas. adanya senyawa organik yang larut dalam air. sedangkan iota-karaginan dan iota-karaginan berdasarkan kandungan sulfatnya pada kappa mengandung sulfat kurang dari 28%. adanya ion. .16 Strutur kimia dan sifat-sifat karaginan Menurut Reen (1986) kappa. dan reaksi karaginan dengan protein. Gula-gula seperti misalnya sukrosa atau dektrose pada konsentrasi jenuh menghambat kelarutan karaginan. Kelarutan pada susu ini disebabkan karena ketidak pekaan terhadap ion kalium dan kalsium serta tingginya kandungan sulfat (Glickman 1969). pembentukan gel. Semua karaginan larut dalam susu panas. Kappa-karaginan larut dalam larutan garam natrium.6-anhydrogalaktosa dan kandungan sulfat. sehingga larut dalam air dingin.6-anhydrogalaktosa. Menurut Smith et al. Lebih lanjut Zabik and Aldrich (1968) menyatakan bahwa lambda-karaginan mengandung sedikit 3.

Kappa-karaginan dengan ion kalium membentuk gel yang kaku. rapuh. Kappa dan iota. konsentrasi. tipe ion yang ada. 1980). Tekstur ini tergantung beberapa variabel antara lain sifat karaginan. Menurut Sharma (1981) pembentukan gel pada karaginan dipengaruhi oleh adanya ion logam. dipanaskan. tipe karaginan. lunak dan elastis. sedangkan ion-karaginan membentuk gel yang elastis dengan adanya ion calsium (Guiseley et al.karaginan tidak membentuk gel dengan ion Na. artinya membentuk gel pada saat pendinginan dan mencair kembali jika . Selanjutnya dikatakan kekentalan karaginan naik secara logaritmik jika konsentrasi larutan karaginan meningkat. temperatur.17 sukar larut jika dibandingkan dengan kedua karaginan tersebut di atas (Tawle 1973). Perubahan tersebut akan bersifat reversible apabila pemanasan dilakukan pada kondosi optimum kestabilan karaginan yaitu pH 9 dengan pemanasan tidak terlalu lama. Kondisi gel pada karaginan dapat bervariasi dari keras. Menurut Rees (1969) pembentukan gel pada karaginan disebabkan terjadinya perubahan susunan molekul yaitu perubahan bentuk molekul koloid karaginan yang lurus menjadi bentuk tiga dimensi. Kekentalan dan pembentukan gel Larutan karaginan bersifat kental dan kekentalannya dipengaruhi oleh konsentrasi. tetapi dengan ion kalium. berat molekul dan ion logam yang ikut terlarut (Towle 1973). adanya larutan lain dan adanya hidrokoloid lain yang tidak membeku (Towle 1973). Karaginan dapat membentuk gel secara reversible. calsium dan amonium. sebaliknya dengan bertambahnya temperatur kekentalan karaginan semakin berkurang dan perubahan ini bersifat eksponensial.

Gambar 2 Peta lokasi penelitian pulau Pari Kepulauan Seribu.18 METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kawasan budidaya pulau Pari Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Propinsi DKI Jakarta (Gambar 2). Penelitian mulai dari minggu pertama bulan Mei sampai dengan akhir bulan Juni 2005 untuk pengumpulan data lapangan dan dilanjutkan dengan analisis laboratorium selama 1 bulan. alvarezii yaitu lokasi budidaya barat (luar gobah) dan lokasi budidaya utara (gobah) pulau Pari. Lokasi penelitian yang dipakai untuk penanaman rumput laut K. .

E). Tali nilon berdiameter 4 mm dianyam (tali ris) pada rakit dengan jarak anyam 30 cm. Disain rakit dan pengikatan benih rumput laut dilakukan di darat.masing 120 x 120 cm dari bahan bambu sebagai kerangka tempat penanaman rumput laut. Keuntungan dari metode ini adalah pemangsaan oleh biota dasar dapat dikurangi karena tanaman berada di atas jangkauan predator dan pencahayaan yang diterima lebih besar untuk proses metabolisme dan pertumbuhan tanaman lebih baik. Penanaman benih Sepuluh buah rakit ditebar pada kedalaman 30 cm di bawah permukaan air yaitu 5 buah rakit di lokasi budidaya sebelah barat dan 5 buah rakit di lokasi budidaya sebelah utara pada kedalaman laut 4 . Hasil yang diperoleh diharapkan dapat diketahui parameter yang mempengaruhi pertumbuhan dan . Tiap rakit diperlukan 16 ikatan bibit rumput laut (2 kg).6 meter. jerigen atau gabus dengan bendera sebagai pelampung induk dipasang pada saat penebaran dan pemberat (jangkar) dipasang pada tiap rakit dengan menggunakan tali nilon berdiameter 9 mm (Gambar 3). Bahan-bahan yang digunakan adalah potongan bambu berdiameter 10 cm yang dirangkai dengan menggunakan tali nilon berdiameter 8 mm. Penghubung antar bambu digunakan tali nilon Polyethylen (P. berukuran masing . sehingga total bobot bibit yang diperlukan untuk penanaman pada 10 buah rakit adalah 20 kg rumput laut K. alvareezii. Metode rakit apung adalah penanaman yang dilakukan di permukaan air dengan menggunakan rakit yang mengikuti gerakan naik turunnya air. Disain rakit Penelitian ini menggunakan 10 buah rakit. Rumput laut yang dijadikan benih adalah bagian ujung tallus (yang masih muda) dari lokasi budidaya pulau Tikus yang ditimbang dengan bobot masingmasing ikatan 125 g dan diikat pada anyaman tali ris dengan bantuan tali rafia. Metode ini digunakan pada dasar perairan yang keras. Pelampung botol plastik dipasang pada ke empat sudut rakit sebagai penahan di permukaan.19 Metode Pemeliharaan Metode yang digunakan adalah metode rakit apung. karena sukar untuk menancapkan pancang.

kimia dan biologi. amonia.20 kandungan karaginan dari dua lokasi yang berbeda saat rumput laut terkena penyakit ice ice sebagai imformasi untuk pengembangan budidaya rumput laut K. total pospat dan ortho pospat. nitrat. Parameter kimia yang diamati adalah salinitas oksigen terlarut (DO). alvarezii selanjutnya. nitrit. Pengamatan dilakukan sebanyak 8 kali selama penelitian. pH. Pengamatan Lingkungan Perairan Pengamatan lingkungan perairan dilakukan setiap minggu pada siang hari pukul 11. Parameter lingkungan perairan yang Parameter fisika yang arus diukur dengan diamati adalah suhu. nitrit. diamati meliputi parameter fisika. total pospat dan ortho pospat diukur dengan menggunakan Spektrofotometer. kecerahan diukur dengan menggunakan Secchidisc. arus. Suhu diukur dengan menggunakan thermometer. DO diukur dengan menggunakan titrasi (in situ). Gambar 3 Disain rakit dan pemasangan bibit rumput laut.30 WIB bersamaan dengan pengamatan tanaman uji. Salinitas diukur dengan menggunakan hand refraktometer. amonia. . menggunakan ‫״‬stopwacth‫ ״‬gabus dan tali. pH diukur dengan menggunakan pH meter dan. nitrat. kecerahan yang diukur langsung di lapangan (in situ).

Air contoh diambil pada kedua lokasi budidaya masing-masing 5 titik sampel di permukaan air dekat rakit rumput laut. Pengukuran bobot tanaman menggunakan alat timbangan plastik 2 kg dengan ketelitian 0. alat dan satuan pengukuran Parameter FISIKA Suhu Kecepatan arus Kecerahan KIMIA Oksigen terlarut Salinitas pH NO2-N NH3-N Total pospat Ortho pospat BIOLOGI Biota pengganggu Sampah Teknik Pengamatan Karakteristik pertumbuhan diamati dengan penimbangan bobot tanaman satu ikatan untuk mengetahui pertambahan bobot.1 g. nitrat. Setiap rakit Alat Termometer Tali benda terapung dan stopwatch Secchi disc. Pengamatan terhadap tanaman dilakukan sekali setiap minggu pada kedua lokasi budidaya bersamaan dengan pengukuran parameter lingkungan sampai minggu kedelapan (hari tanam kelima puluh enam). Pengukuran parameter lingkungan fisika. total pospat dan ortho pospat dengan menggunakan botol plastik berwarna putih berukuran 250 ml. nitrit. Tabel 3 Parameter. Selajutnya air contoh di bawa ke laboratorium Produktivitas dan Lingkungan Perairan (ProLing) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Waktu perjalanan dari lokasi penelitian ke laboratorium Proling kurang lebih 7 jam.21 Pengambilan air contoh untuk pengamatan pH. Parameter biologi berupa biota pengganggu dan sampah diamati secara visual. Sebelum dianalisis air contoh terlebih dulu disimpan pada suhu rendah dalam peti es. kimia dan biologi dirincikan pada Tebel 3. amonia. dan tali Botol BOD Hand refraktometer pH meter Spektrofotometer Spektrofotometer Spektrofotometer Spektrofotometer (visual) (visual) Satuan °C cm/detik M mg/l 0 /00 mg/l mg/l mg/l mg/l .

9 selama 4 jam. Pengambilan sampel dengan memanen total yaitu mengangkat dua ikatan tanaman pada masing-masing rakit dan ditimbang sebagai data bobot basah kemudian dilakukan penjemuran + 3 hari. lalu ditimbang dengan menggunakan . Isopropanol ditambahkan (± 15 ml) dan dibiarkan semalam. Algae dikeringkan dalam oven pada suhu 100 °C selama 2 jam. Pada penelitian ini sampel dianalisis di Laboratorium Kimia Pusat Pengembangan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor. Selanjutnya dikeringkan dalam oven pada suhu 100 ºC selama 2 jam. Tepung yang dihasilkan diambil 1 g untuk direbus (diekstraksi) dengan air panas (85 . Ekstrasi alga kemudian disaring melalui penyaring selulosa dalam kertas saring berlipat. kotoran dan bahanbahan asing lainnya. alvareezii dicuci dan dibersihkan dari pasir.95 °C) dalam suasana agak basa dengan pH 8 . Penentuan konsentrasi karaginan rumput laut dinyatakan dalam persentase bobot karaginan terhadap bobot kering rumput laut mengikuti metode Ainswort dan Blanshard (1980) dan Furia (1981).22 diambil sampel sebanyak 2 ikat secara acak. kadar air dan abu. setelah kering diblender hingga halus kemudian diayak untuk memisahkan bagian yang kasar dan yang halus (Gambar 4). Kualitas Rumput Laut Kualitas rumput laut yang diamati meliputi kandungan karaginan. Rumput laut yang telah kering ditimbang dengan menggunakan timbangan digital untuk mendapatkan data bobot kering (bobot kering angin). Agar hasilnya berkualitas tinggi rumput laut dijemur di atas para-para dan tidak boleh ditumpuk. Hasil ekstrak ini kemudian disaring dengan kain putih tipis lalu tambahkan isopropanol 96% (± 15 ml) kemudian dimasukkan kedalam wadah kecil yang telah ditimbang sebelumnya. Rumput laut yang akan diambil karaginannya tidak boleh terkena air tawar (dapat merusaknya) karena air tawar akan melarutkan karaginan. Hasil yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan cara pemanasan menjadi 50 ml. Prosedur analisis sebagai berikut : Algae K. Sampel rumput laut yang telah dikeringkan dengan penjemuran pada sinar matahari di bawah ke Laboratorium untuk dianalisis. sehingga tiap lokasi penanaman diambil 10 ikatan rumput laut untuk pemantauan pertumbuhan.

Berat kering angin adalah bobot produk rumput laut setelah dikeringkan dengan penjemuran pada sinar matahari. maka di peroleh berat karaginan bersih (g).23 timbangan analitik. Berat hasil penimbangan dikurangi dengan berat wadah pada waktu kosong. Kadar air dari rumput laut kering angin dianalisis untuk penentuan kadar air yang dilakukan dengan pengeringan dalam oven selama 12 jam dengan suhu 100 °C. Gambar 4 Bagan alir analisis karaginan. . Penentuan kadar abu dilakukan dengan proses pembakaran dari rumput laut kering angin dengan menggunakan alat oven pada suhu 600 °C selama 1 hari.

kadar air dan kadar abu. Pertumbuhan mutlak = Wt1 – Wt0 b.hitung sebagai berikut : dimana. Hipotesis Ho = tidak terdapat perbedaan nyata antara lokasi barat dan utara H1 = terdapat perbedaan nyata antara lokasi barat dan utara Rumus t . s1 = simpangan baku contoh 1. x 1 = rata-rata contoh 1. Pertumbuhan relatif = Wt 1 − Wt 0 x 100% Wt 0 Dimana : Wt = Pertumbuhan pada waktu t Wt0 = Pertumbuhan pada waktu awal 2 Analisis kualitas rumput laut meliputi kandungan karaginan. Untuk mendapatkan persentase karaginan dihitung menurut (Ainsworth and Blanshard 1980) dengan rumus sebagai berikut : Karaginan = berat karaginan x 100% berat sampel algae Untuk mendapatkan presentase kadar air dan kadar abu dihitung menurut (Patadjai 1993) dengan rumus sebagai berikut: Kadar air = kehilangan bobot x 100% berat contoh Bobot abu x 100% berat contoh Kadar abu = Hasil olahan data disajikan dalam bentuk gambar dan tabel.24 Analisis Data 1 Analisis pertumbuhan akan dilihat secara partumbuhan parsial yaitu pertumbuhan yang dilihat antar waktu yang dinyatakan menurut (Affandi et al. 2002) dengan rumus sebagai berikut : a. x 2 = rata-rata contoh 2. 3 Untuk melihat perbedaan parameter di lokasi budidaya sebelah barat dan utara dilakukan uji beda dengan menggunakan uji t student (Bengen 2000). s2 = simpangan baku contoh 2 .

n1+ n2-2.05) dengan bantuan program komputer Statistical Software Minitab versi 13.05). terima Ho t hit > ttab (α = 0. 6 Untuk analisis hubungan kandungan karaginan dengan waktu pengamatan digunakan regresi kuadratik dan linear.25 Kaidah keputusan : t hit < ttab (α = 0. Hasil analisis diuji dengan analisis ragam (Anova) untuk melihat beda nyata pada taraf (P<0. . tolak Ho 4 Untuk melihat karakterisrik kedua lokasi budidaya digunakan analisis PCA dengan menggunakan sover EXTAT versi 06. 5 Untuk analisis hubungan pertumbuhan dan karaginan dengan unsur hara menggunakan analisis regresi ganda. n1+ n2-2.05).

pulau Pari termasuk kecamatan Kepulauan Seribu selatan yang terdiri dari 10 buah pulau.5-5 jam ) dari Jakarta.50 km2 sekitar 10 kali luas daratan Propinsi DKI Jakarta dengan luas 864. Kecepatan angin pada musim barat bervariasi antara 7-20 knot bertiup dari barat laut dan musim timur kecepatan angin berkisar antara 7-15 knot bertiup dari timur laut.April dengan hari hujan rata-rata 20 hari/bulan dan curah hujan terbesar terjadi pada bulan Januari. Kepulauan Seribu merupakan gugusan pulau-pulau kecil di perairan laut sebelah utara DKI Jakarta.92% per tahun dengan laju pertumbuhan pada periode 1998-1999 cukup tinggi yaitu 5.59 ha dan jumlah pulau sebanyak 110 buah.26 HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Wilayah Penelitian Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu merupakan daerah tingkat II di Propinsi DKI Jakarta yang baru dibentuk melalui UU No. Musim hujan biasanya terjadi antara bulan Nopember . Musim kemarau berlangsung antara bulan Mei-Oktober yang kadang-kadang masih terdapat hujan antara 4-10 hari per bulan dan curah hujan terkecil terjadi pada bulan Agustus. Laju pertambahan penduduk rata-rata 2. sehingga membawa banyak kotoran (sampahsampah) dari darat yang membahayakan kelangsungan organisme perairan. Musim pancaroba terjadi pada April-Mei dan Oktober-Nopember. Pada musim barat dan musim timur terjadi pergerakan arus dari timur ke barat. 55 tahun 2001. Transportasi laut yang terdekat adalah melalui Rawasaban (Tangerang) ± 1. Penelitian tentang karang diperoleh hasil bahwa sebagian karang mengalami stress Pertambahan penduduk dibeberapa pulau diantaranya pulau Pari cukup tinggi karena didorong oleh . Keadaan angin di Kepulauan Seribu terbagi menjadi angin musim barat (Desember-Maret) dan angin musim timur (Juni-September).5-2 jam perjalanan menggunakan kapal motor. Dalam pembagian kelurahan.65%. aktivitas perekonomian (Bapeda DKI 2001). Wilayah kepulauan Seribu adalah sebuah kecamatan yang ditingkatkan statusnya menjadi Kabupaten Administratif dengan 2 kecamatan dan 6 kelurahan. 34 tahun1999 dan PP No. Luas Kepulauan Seribu (daratan dan perairan) 6 997. Lokasi penelitian berada pada pulau Pari sekitar 35 km (± 3.

sedangkan tahun 1998 jumlah pembudidaya 876 orang dengan produksi 3. Kondisi ini perlu diperhatikan untuk pengembangan budidaya rumput laut dimasa yang akan datang. Kondisi ini mengakibatkan semakin padat lahan budidaya. dilakukan secara . Jumlah pembudidaya dan produksi pada tahun 1997 berjumlah 164 orang dengan produksi 642 ton. sehingga banyak sampah yang masuk dan tertahan pada lahan maupun tanaman budidaya.432 ton.27 akibat kondisi perairan yang kurang mendukung bersamaan dengan kematian masal algae laut yang menjadi sumber penghasilan utama nelayan pulau Pari (Johan 2001). Akibat dari padatnya lokasi perairan dengan tanaman rumput laut. sehingga kegiatan budidaya mulai terhenti. Beberapa tahun ini rumput laut K. Perairan yang bersifat open access terjadi dalam penentuan lokasi budidaya rumput laut yang dilakukan dengan cara mematok sendiri oleh petani. sehingga budidaya rumput laut K. Alvarezii di pulau Pari dapat berkesinambungan. sehingga jalur transportasi keluar masuk pulau Pari pun mengalami kesulitan. alvarezii merupakan sumber penghasilan utama dari masyarakat kepulauan Seribu mulai memperlihatkan infeksi penyakit yang cukup serius terutama di pulau Pari.

25-2.5 3.0 .1114 0.1097 0.56 2.4 31.272 0.2 1.6.0080 Utara 1.14 2. (1996) Zatnika (1988) Zatnika & Angkasa. unsur hara terlarut dan padatan partikel berada pada suatu habitat dan kolom air.2 0.2-32.0060 0.50-5. 1994) Zatnika & Angkasa (1994) Faktor fisika Arus Kecepatan arus merupakan faktor penentu lama waktu keberadaan substansi gas. Parameter Arus Kecerahan Suhu pH Salinitas Oksigen terlarut Nitrat Orthopospat Satuan cm/dtk m ºC ppm mg/l mg/l mg/l Barat 2.4 31.5 27 .96-6.15-2.1-7.29 7-9 32 – 34 4. (1996) Direktorat Jenderal Perikanan (1997) Mubarak dan Wahyuni (1981) Zatnika (1988) Atmadja et al.0054 Ideal 20 .30 1.90-4.3.86 0.62-2. Tabel 4 Perbandingan parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari dengan parameter ideal.8 . .152 0.52 27-30 8.021 0.3-32.25 30-31 7. Faktor luar yang mempengaruhi perkembangan rumput laut adalah faktor fisika. Hasil pengukuran dan pemantauan parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari selama penelitian dan parameter ideal dirincikan pada Tabel 4 dan Lampiran 1 & 2.00410.96 0.0-8. pembersih / pengangkut padatan partikel yang dapat menempel pada rumput laut dan mengatasi kenaikan tempratur air laut yang tajam. Kecepatan arus secara tidak langsung menjadi penentu suplai unsur hara. Gambaran tentang biofisik air laut penting diketahui karena dapat mempengaruhi perkembangan rumput laut. kimia dan biologi perairan.28 Kondisi Lingkungan Perairan Kehidupan rumput laut atau algae dalam kehidupannya tidak terlepas dari pengaruh faktor dalam maupun faktor dari luar.10 Sumber Pustaka Atmadja et al.5 .8 3.

88 cm/det dan standar deviasi 0.66 cm/det (Gambar 5 Lampiran 1 & 2).179.50-5.14 cm/det dengan rata-rata 1. Intensitas sinar yang diterima secara sempurna oleh thallus merupakan faktor utama dalam proses fotosintesis.62-2. tetapi Kec Arus (cm/det) . kecepatan arus di lokasi barat mulai minggu kesatu sampai minggu keempat hampir sama dengan kecepatan arus + 5 cm/det kemudian menurun sampai minggu kedelapan. Kondisi arus di kedua lokasi budidaya selama pemeliharaan tidak memenuhi kriteria budidaya. sedangkan lokasi budidaya utara kecepatan arus berkisar antara 1. (1996) kecepatan arus yang baik untuk budidaya K.10 cm/det menjadi 1. sebab rendahnya kecerahan mengakibatkan cahaya matahari yang masuk ke dalam perairan berkurang. (Lampiran 3). Kecepatan arus di lokasi utara dari minggu kesatu sampai minggu kedelapan terus terjadi penurunan yaitu dari 2.56 cm/det dengan ratarata 4.5 cm/det dan standar deviasi 1. Kecerahan Kecerahan perairan merupakan salah satu faktor penting untuk pertumbuhan algae. namun lokasi budidaya di sebelah barat lebih baik dari lokasi budidaya sebelah utara.29 Kecepatan arus di lokasi barat berkisar antara 2.20. alvarezii adalah 20-30 cm/det. 7 6 5 4 3 2 1 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan (minggu) Barat Utara Gambar 5 Rata-rata kecepatan arus di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari. sehingga kondisi rumput laut berada pada kondisi tidak sehat. Menurut Admadja et al. Kondisi arus di kedua lokasi tidak memenuhi kriteria lahan budidaya. Secara statistik kecepatan arus di kedua lokasi berbeda sangat nyata.

5 m dan bila dibandingkan dengan kriteria kesesuaian lahan budidaya. 3 Kecerahan (m) barat Utara 2 1 0 1 2 3 4 5 6 7 8 w aktu pengamatan (minggu) Gambar 6 Rata-rata kecerahan di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari Kecerahan perairan di lokasi barat dan utara secara statistik berbeda sangat nyata (Lampiran 3). Kecerahan di lokasi budidaya barat berkisar antara 2.035 (Gambar 6 Lampiran 1 & 2). Berdasarkan pemantauan. sedangkan di lokasi budidaya utara berkisar antara 2.23 m dan standar deviasi 0.25 m dengan rata-rata 2. Hal ini didukung oleh Direktorat Jenderal Perikanan (1997) bahwa kondisi air yang jernih dengan tingkat transparansi sekitar 1. karena hilangnya protein.15-2.34 m dan standar deviasi 0. lokasi budidaya barat tergolong lebih baik dari lokasi utara karena masih terdapat kondisi air yang jernih. maka tergolong cukup baik.102.25-2.30 sebaliknya adanya cahaya matahari yang berlebihan mengakibatkan tanaman menjadi putih. Tingkat kecerahan di kedua lokasi masih di atas 1. Suhu Rumput laut mempunyai kisaran suhu yang spesifik karena adanya enzim pada rumput laut yang tidak dapat berfungsi pada suhu yang terlalu dingin maupun terlalu panas Dawes (1981).52 m dengan rata-rata 2. Kecerahan pada lokasi barat dari minggu kesatu sampai minggu kelima berfluktuasi kemudian stabil.5 m cukup baik bagi pertumbuhan rumput laut dan yang terbaik adalah 5 m ke atas. Kecerahan di lokasi utara dari minggu kesatu sampai minggu kedelapan dapat dikatakan stabil. Suhu perairan mempengaruhi laju . dimana kecerahan tertinggi di lokasi budidaya barat.

31

fotosintesis dan dapat merusak enzim serta membran sel yang bersifat labil terhadap suhu yang tinggi. Pada suhu yang rendah, membran protein dan lemak dapat mengalami kerusakan sebagai akibat terbentuknya kristal didalam sel, sehingga mempengaruhi kehidupan rumput laut, seperti kehilangan hidup, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, fotosintesis dan respieasi (Laning, 1990). Kisaran suhu di lokasi budidaya sebelah barat berkisar antara 27-30 °C dengan rata-rata 28,6 °C dan standar deviasi 1,59, sedangkan suhu di lokasi utara berkisar antara 30-31 °C dengan rata-rata 30,2 °C dan standar deviasi 0,67 (Gambar 7 Lampiran 1 & 2).

34 33 32 Suhu ( oC) 31 30 29 28 27 26 0 1 2 3 4 5 6 7 Waktu pengamatan (minggu) 8

Barat utara

Gambar 7 Rata-rata suhu perairan di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari Secara statistik suhu di kedua lokasi budidaya berbeda sangat nyata (Lampiran 3). Suhu di lokasi barat pada minggu kesatu sampai minggu kelima berkisar antara 27 - 28 °C dan meningkat pada minggu keenam sampai minggu kedelapan menjadi 30 °C. Suhu di lokasi utara pada minggu kesatu sampai minggu kedelapan mempunyai kisaran suhu yang tinggi yaitu 30 - 31 °C. Kisaran suhu di lokasi barat masih cukup baik bagi peruntukan budidaya Eucheuma dengan kisaran. Hal ini didukung oleh Mubarak dan Wahyuni (1981) bahwa kisaran suhu antara 27-29 °C memberikan laju pertumbuhan Eucheuma, rata-rata di atas 5%. Kisaran suhu di lokasi utara yang cukup tinggi antara 30-31 °C sangat berpengaruh terhadap perkembangan tanaman uji. Perbedaan suhu di kedua lokasi diduga karena letak lokasi dimana lokasi barat agak terbuka yaitu

32

berhadapan dengan laut lepas. Sementara di lokasi utara (gobah) agak tertutup karena terhalang oleh pulau, sehingga lokasi barat lebih baik daripada lokasi utara. Hal ini didukung oleh Nontji (1993) bahwa di gobah (lagoon) yang terperangkap dijumpai suhu yang panas dan apabila air surut pada siang hari kadang-kadang bisa mencapai 35 °C. Suhu perairan yang tinggi akan mengakibatkan thallus rumput laut pucat kekuning- kuningan yang menyebabkan rumput laut tidak sehat dan inilah salah satu kondisi bisa terinfeksi bakteri ice ice (Sulistijo 1996).

Faktor kimia pH
pH merupakan faktor penting dalam kehidupan rumput laut diantara faktor-faktor lingkungan lainnya. Setiap organisme mempunyai toleransi tertentu terhadap pH, sama halnya dengan rumput laut yang memerlukan kondisi pH perairan yang khas untuk kehidupannya. Nilai pH di lokasi barat berkisar antara 8,0-8,4 dengan rata-rata 8,2, dan standar deviasi 0,1455, sedangkan di lokasi utara berkisar antara 7,1-7,4 dengan rata-rata 7,3 dan standar deviasi 0,0807 (Gambar 8 Lampiran 1 & 2). Kadar pH selama masa pemeliharaan di kedua lokasi budidaya tidak mempengaruhi pertumbuhan tanaman uji. Menurut Chapman (1962) hampir seluruh algae menyukai kisaran pH 6,8-9,6, sehingga pH bukanlah masalah bagi pertumbuhannya. pH yang baik bagi kehidupan dan pertumbuhan Eucheuma sp. berkisar antara 7-9 dengan kisaran optimum 7,3-8,2. (Zatnika 1988).
Barat utara

9 8 pH 7 6 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan (minggu)

Gambar 8 Rata-rata pH di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.

33

Oksigen terlarut
Oksigen dihasillkan dari tanaman rumput laut dan menjadi kelanjutan kehidupan biota perairan karena dibutuhkan oleh hewan dan tanaman air, termasuk bakteri untuk respirasi. Fitoplankton juga membantu menambah jumlah kadar oksigen terlarut pada lapisan permukaan diwaktu siang hari sebagai hasil dari proses fotosintesis. Proses pertukaran oksigen antara udara dan laut dipengaruhi oleh difusi, pergantian air yang ada di permukaan dan oleh gelembung udara yang terjadi pada saat turbulensi (Sijabat 1973 in Kusdi 2005). Kandungan oksigen terlarut di lokasi budidaya barat berkisar antara 3,966,96 mg/l dengan rata-rata 5,59 mg/l dan standar deviasi 0,10, sedangkan di lokasi budidaya sebelah utara kisaran oksigen terlarut antara 3,90-4,86 mg/l dengan ratarata 4,63 mg/l dan standar deviasi 0,03 (Gambar 9 Lampiran 1 & 2). Perbedaan kandungan oksigen kedua lokasi tersebut secara statistik berbeda nyata. Oksigen terlarut di lokasi barat dari minggu kesatu sampai minggu keempat berkisar antara 6,52-6,78 mg/l kemudian menurun pada minggu kelima sampai minggu kedelapan dengan kisaran 3,96-4,5 mg/l. Kandungan oksigen terlarut di lokasi utara pada minggu kesatu sampai minggu kedelapan tidak ada perbedaan yang menyolok dari rata-rata 4,6 mg/l. Perbedaan oksigen pada kedua lokasi budidaya ini diduga karena gerakan air di lokasi utara sangat rendah, sehingga lokasi budidaya barat masih lebih baik. Hal ini diacu dengan pernyataan Zatnika (1988) bahwa oksigen terlarut untuk lahan budidaya berkisar antara 4,8 - 6,2 mg/l (Tabel 4).

8 O ksigen terlarut (mg/l) 7 6 5 4 3 2 1 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan (minggu)

Barat Utara

Gambar 9 Rata-rata kandungan oksigen terlarut di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.

170.dan NH3 Konsentrasi nitrat. Hal ini sangat nampak pada kegiatan Nitrogen NO3-.1821 mg/l dengan rata-rata 0.3.0109.0 . Apabila perairan mengalami kekurangan unsur hara. nitrit 0.1097-0.1998.0110 mg/l dengan rata-rata 0.34 Peranan unsur hara Unsur hara (N dan P) diperlukan diperlukan rumput laut untuk pertmbuhan.0113 mg/l dengan rata . namun lokasi budidaya sebelah barat masih lebih baik daripada lokasi budidaya sebelah utara.1706-0. dan amonia 0.0102-0.1114 mg/l dengan rata-rata 0. nitrit dan amonia di lokasi budidaya barat berturut-turut berkisar antara 0. reproduksi dan pembentukan cadangan makanan berupa kandungan zat-zat organik seperti karbohidrat.1714-0. sehingga akan meningkatkan laju pertumbuhan. .1814 mg/l dengan rata-rata 0.0105 dan amonia 0. Rata .27 mg/l kemudian menurun sampai minggu kedelapan yaitu 0. maka akan mengakibatkan pertumbuhan rumput laut lambat dan tidak sehat.2 (Tabel 4). nitrit 0.rata 0.1105 mg/l. NO2.rata konsentrasi nitrat di kedua lokasi budidaya rendah sekali bila dibandingkan dengan konsentrasi yang ideal 1.1802. sedangkan konsentrasi nitrat di lokasi budidaya utara selama masa pemeliharaan dari minggu kesatu sampai minggu kedelapan lebih rendah dan relatif sama (Gambar 10 Lampiran 1 dan 2). budidaya di perairan pulau Pari.152-0. Masuknya unsur hara ke dalam jaringan tubuh rumput laut melalui proses difusi pada seluruh bagian permukaan tubuh rumput laut. sedangkan lokasi budidaya utara berkisar antara 0. Bila difusi makin banyak akan mempercepat proses metabolisme.272 mg/l dengan rata-rata 0.0108-0.1772 mg/l. protein dan lemak. Konsentarasi nitrat di lokasi budidaya barat berfluktuasi dan tertinggi pada minggu ketiga yaitu 0.

0054 mg/l dengan rata-rata 0. nitrit dan amonia di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.3 0.rata 0.0049 (Gambar 11 Lampiran 1 dan 2). Ortho pospat di lokasi budidaya barat berkisar antara 0.0062 mg/l dengan rata-rata 0.1225 dan lokasi budidaya sebelah utara berkisar antara 0.0056-0. Secara statistik kandungan orhto pospat di kedua lokasi budidaya berbeda nyata.014 0.008 0.185 0.05 0 0 1 2 3 4 5 6 7 w aktu pengamatan (minggu) 8 Barat Utara Barat Utara N itr it ( m g /l) 0.136 mg/l dengan rata.0060. namun hanya ortho pospat yang terlarut dalam air dan dapat langsung digunakan oleh organisme nabati (Haryadi et al.0080 mg/l dengan rata-rata 0.0074 dan lokasi utara 0.0060-0. Kandungan orhto pospat berada pada konsentrasi sangat rendah bila dibandingkan dengan konsentrasi ortho pospat yang ideal (Tabel 4).011 0.0041-0.35 0.165 0.15 0.1 0.155 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan (mg/l) Gambar 10 Rata-rata nitrat.005 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan (minggu) Barat Utara 0.25 N itrat (m g/l) 0. . Kandungan total pospat di lokasi budidaya sebelah barat berkisar antara 0. namun di lokasi budidaya barat masih lebih baik daripada lokasi budidaya sebelah utara. Unsur P di perairan terdapat dalam senyawaan pospat dalam bentuk organik dan anorganik. 1992).2 0.175 0. Pospat Total pospat dan ortho pospat Pospat merupakan unsur penting bagi semua aspek kehidupan terutama berfungsi dalam transformasi energi metabolik yang perannya tidak dapat digantikan oleh unsur lain (Kuhl 1974).116-0.195 Amonia (mg/l) 0.

36 Kekurangan pospat akan lebih kritis bagi tanaman akuatik termasuk tanaman algae dibandingkan dengan kekurangan nitrogen di perairan karena walaupun ketersediaan pospat sering melimpah dalam bentuk berbagai senyawa pospat namun hanya dalam bentuk ortho pospat (PO4) yang dapat dimanfaatkan langsung oleh tanaman akuatik. Gangguan ini dapat mengakibatkan tanaman menjadi tidak sehat dan dengan mudah terinfeksi bakteri penyebab ice ice pada bagian yang tertutup total oleh koloni tunikata. Saat pengamatan dilakukan. kepulauan Seribu pada bulan Mei dan Oktober-Nopember merupakan musim ikan baronang dalam jumlah besar yang dapat merugikan nelayan rumput laut ( Sulistijo 2002). Fungsi ekologis dari rumput laut sebagai pendukung kehidupan akuatik di laut yaitu sebagai makanan dan pelindung binatang akuatik selalu mempengaruhi persporaan rumput laut. Di samping itu tumbuhan penempel seperti tunikata yang menutupi thallus rumput laut akan menyerap nutrisi dan menghalangi proses fotosintesis. alvarezii dan tumbuh pada rakit penelitian. ada juga tumbuhan yang menjadi pesaing bagi pertumbuhan K. Selain predator ikan. pencemaran dan penyakit. banyak ditemukan benih ikan baronang dan algae penempel di kedua lokasi penelitian barat dan utara hal ini diduga sedang terjadi musim pemijahan ikan baronang di perairan pulau Pari. Binatang-binatang ini pada awalnya hanya memakan tumbuhan penempel di sekitar tanaman tetapi kemudian memakan Kappaphycus. . Faktor biologi Algae yang dibudidayakan tidak terlepas dari pengaruh biologi perairan seperti predator. Gambar 11 Rata-rata kandungan total pospat dan ortho pospat di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.

Gambar 12 Luka bekas gigitan ikan pada tanaman uji. . dedaunan dan ranting yang menyangkut pada rakit penelitian di lokasi budidaya ( gambar 14).37 Tumbuhan penempel di lokasi barat mulai kelihatan pada minggu ketiga. Sementara di lokasi utara mulai dari minggu kedua sudah banyak terdapat tumbuhan penempel dan luka bekas gigitan ikan pada tanaman uji serta sampah disekitar rakit (Gambar 13). Kondisi tanaman uji menunjukkan adanya serbuk putih pada luka bekas gigitan ikan dan mulai menjalar ke bagian thallus sekitar bekas gigitan karena infeksi bakteri ice ice (Gambar 12). Tumbuhan pengganggu dan sampah di kedua lokasi berupa limbah rumah tangga seperti plastik. sedangkan ikan baronang yang memakan thallus mulai menyerang pada minggu kelima. Gambar 13 Kotoran dan algae penempel pada tanaman uji Perbedaan tingkat keberhasilan di kedua lokasi budidaya diduga karena pengaruh dari kondisi kualitas lingkungan budidaya. sehingga tanaman di lokasi barat masih ada pernambahan bobot sedangkan pada lokasi utara tidak ada pernambahan bobot.

Tabel 5 Perbandingan kualitas perairan di pulau Pari tahun 1997 dan 2002 Parameter Fisika a.027 sedang banyak ada/tinggi ‰ mg/l mg/l mg/l .002 0. Namun dari parameterparameter kualitas lingkungan yang diamati selama masa pemeliharaan diacu dengan hasil pengukuran biofisik kualitas perairan dari penelitian IPB (1997) menunjukkan kualitas lingkungan perairan semakin menurun hampir tidak sesuai untuk lahan budidaya (Tabel 4). Komunitas makro alga b.006 0.005 banyak sedang tidak ada Tahun 2002 < 10 30-32 8-8.012-0.003 0.38 Gambar 14 Sampah dan tumbuhan pengganggu di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari Secara historis lahan budidaya rumput laut di pulau Pari lebih efisien dibanding lahan budidaya di gugusan pulau Pari.03 30 0.Timah hitam (Tb) Biologi a. Hewan-herbivor Lingkungan c. Nitrat d.Pencemaran Sumber: Besweni (2002) Satuan cm/det °C Tahun 1997 10 29 7 32 0.007 0. Suhu Kimia a. pH b.001-0. Arus b.001-0. Salinitas c.Phosphat e.

Hasil korelasi antar variabel terlihat bahwa di lokasi budidaya sebelah utara variabel berperan utama dalam membentuk sumbu F1 adalah suhu dengan kontribusi sebesar 15.20% dan 20. Korelasi antar variabel terlihat bahwa di lokasi budidaya sebelah barat variabel berperan utama membentuk sumbu F1 adalah oksigen terlarut dan arus dengan kontribusi sebesar 14. Sedangkan di lokasi budidaya sebelah utara masing-masing sumbu (F1. F2 dan F3) baik di lokasi budidaya sebelah barat maupun utara. Uraian di atas dapat dinyatakan bahwa kualitas lingkungan fisika kimia di sebelah barat dicirikan oleh arus dan oksigen.50%. Lokasi budidaya utara dicirikan oleh suhu.39 Analisis Komponen Utama Analisis komponen utama dilakukan untuk menggambarkan korelasi karakteristik fisika . 23.80% dan 14. alvarezii yang diamati selama 8 minggu di kedua lokasi budidaya barat dan utara pulau Pari memperlihatkan dua tahap pembentukan biomassa yaitu tahap pertama (minggu 1-4) dan tahap kedua (minggu 5-8).4%.kimia perairan pada setiap stasiun pengamatan. kecerahan. F2 dan F3) mempunyai kontribusi sebesar 44.34%.28%. dan F2 adalah total pospat.03% dan 13.63% dan variabel kecerahan dan total fosfat berperan utama dalam membentuk sumbu F3 (Lampiran 9C). variabel ortho-pospat berperan utama dalam membentuk sumbu F2 dengan kontribusi sebesar 39. Terlihat bahwa informasi penting terpusat pada tiga sumbu utama (Fl.12% dan 12. (Lampiran 10B). Pertumbuhan Rumput Laut Perkembangan biomassa Pertumbuhan rumput laut seperti halnya pertumbuhan algae akan mengikuti pola pertumbuhan logistik (ekperimen maksimal) yaitu pada mulanya meningkat linear sampai tingkat maksimal mendekati plateau.91% dari total ragam sebesar 85% (Lampiran 9B).62% dari total ragam sebesar 80.87%. Pertumbuhan rumput laut K. Pertumbuhan rumput .27%. nitrat dan kecerahan dengan kontribusi sebesar 29. 16.24%. 20. (Lampiran 10C). Di lokasi budidaya sebelah barat masing-masing sumbu mempunyai kontribusi sebesar 56. nitrat dan total pospat.

namun pertumbuhan yang semestinya dalam keadaan pesat mendadak menurun setelah mencapai puncak pada minggu keempat Lokasi budidaya barat pertumbuhan biomassa dari minggu kesatu sampai minggu keempat meningkat dari 125 ke 206.3 ke130.6g serta mengikuti pola hubungan linear . R2 = 0.88 (gambar 15). y = 28. Sehubungan dengan proses laju pertumbuhan. unsur hara (N dan P) dan keadaan biomassa. maka kondisi biomassa dalam keadaan rentang terhadap penyakit. temperatur. Bobot basah yang dihasilkan merupakan suatu produksi pembentukan biomassa yang ditentukan oleh laju pertumbuhan (G) x bobot biomassa ( B ).66 R2 = 0.8) mengakibatkan pembentukan biomassa menurun.40 laut ditentukan oleh faktor kecerahan.15x + 91.4 dan minggu ke 5-8 di lokasi budidaya barat pulau Pari. Laju pertumbuhan dari minggu pertama sampai minggu keempat sebesar 28. sehingga masih terdapat pertumbuhan biomassa. Apabila pengkroposan meningkat maka G < z (minggu 5 .64x + 291.9708 − 250 Bobot basah (g) 200 150 100 50 0 5 6 Bobot basah (g) 250 200 150 100 50 0 1 2 R2 = 0.15x + 91.15 g/minggu. Pada tahap awal G > z (minggu 1 .3 y = -20.3g dan mengikuti pola hubungan linear yaitu Y = 28.8823 3 4 7 8 Waktu pengamatan (minggu) Waktu pengamatan (m inggu) Gambar 15 Pertubuhan rumput laut minggu ke 1.4). Kondisi seperti ini mengakibatkan rumput laut terkena penyakit ice ice (pengkroposan). Apabila keadaan biomassa rumput laut mengalalami tekanan − lingkungan. Lokasi budidaya barat masih terlihat adanya pertambahan bobot. maka penanaman rumput laut dengan bobot awal yang sama di kedua lokasi budidaya (125 g) menunjukkan karakter pertumbuhan yang tidak normal. sehingga produksi rumput laut ditentukan oleh laju pertumbuhan (G) x laju pengkroposan (z) dan ( B ). Selanjutnya dari minggu kelima sampai minggu kedelapan terjadi penurunan biomassa dari 206.3 .

. Pembentukan biomassa pada tahap pertama sampai tahap kedua memberikan indikasi laju pertumbuhan lebih kecil dari laju pengkroposan. Pada tahap pertama (minggu ke1-4) terjadi penurunan yang mendatar dari 125 ke 89.52 .41 yaitu Y = .5 ke 31. Keadaan tersebut diperkirakan karena meningkatnya aktivitas bakteri penyebab penyakit ice ice.48x + 153.7 .97g dan mengikuti pola hubungan linear yaitu Y = -9.8g / minggu meningkat pada minggu kelima sampai kedelapan menjadi -14. Keterkaitan hubungan pembentukan biomassa dengan unsur hara dan atau pengkroposan dengan faktor lingkungan akan dibahas pada hubungan laju pertumbuhan dengan unsur hara dan laju degradasi dengan kualitas lingkungan perairan. Persamaan tersebut memberikan indikasi bahwa laju pengkroposan semakin meningkat yaitu pada minggu pertama sampai minggu keempat -9. y = -14.48g / minggu. tempratur dan unsur hara menjadi tereliminir.8x + 127. R2 = 0.9288 Bobot basah (g) 90 70 50 30 10 5 6 3 4 7 8 Waktu pengam atan (m inggu) Waktu pengam atan (m inggu) Gambar 17 Laju pengkroposan rumput laut tahap pertama (a) dan kedua (b) di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari.66 .7 R2 = 0. sehingga faktor produksi.93 (gambar17).52 R2 = 0.48x + 153.99 (gambar 17).64g / minggu.97 (Gambar 15). R2 = 0.20.64x + 291.8x + 127.3g dan mengikuti pola hubungan linear Y = -14. sehingga terjadi penurunan biomassa (biomassa mengalami pengkroposan).9934 Bobot basah (g) 140 120 100 80 60 40 20 1 2 y = -9. R2 = 0. kecerahan. Pada tahap kedua (minggu ke5-8) terus mengalami penurunan yang tajam dari 71. Pembentukan biomassa setelah minggu kelima lebih didominasi oleh penurunan bobot basah karena meningkatnya infeksi bakteri penyebab penyakit ice ice. Laju pengkroposan mulai dari minggu kelima sampai minggu kedelapan sebesar -20.

dimana lokasi budidaya barat yang merupakan perairan terbuka (berada diluar gobah buka) yang masih mendapat gerakan air. Dapat dijelaskan tentang permsalahan tersebut bahwa akibat pengaruh musim yang mempengaruhi faktor-faktor ekologis seperti intensitas cahaya. Bila dikaitkan dengan ilmu pemyakit tumbuhan. Hal ini dipermudah dengan keadaan lingkungan yang mendukung patogen. permukaan thallus menjadi kasar (Gambar 18). Secara umum bobot basah rumput laut pada kondisi yang normal dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan dan secara nyata dimulai pada minggu kedua sampai minggu ketuju bersamaan dengan meningkatnya kandungan karaginan. baik kuantitas maupun kualitasnya. aktivitas sel diarahkan untuk pertumbuhan yaitu melakukan pembelahan dan pembesaran sel. sehingga mempengaruhi hasil panen. Diantara pengaruh yang ditimbulkan adalah "Aging effect" yang ditandai dengan perubahan morfologi yaitu tanaman menjadi kurus. unsur hara. jika keadaan ini terus berlanjut maka terjadi pertumbuhan yang lambat karena sel-sel tanaman tidak dapat berfungsi dengan baik (DirJen. akibat sebagian besar hasil budidaya terkena penyakit ice ice diikuti kualitas produk yang tidak dapat diterima oleh pasaran. sehingga tanaman dengan cepat terinfeksi bakteri penyebab penyakit ice ice. sedangkan di lokasi budidaya utara yang merupakan perairan tertutup (berada di gobah) yang kurang mendapat gerakan air. sehingga pasokan nutrien yang diperlukan tidak terpenuhi. sehingga tidak mampu berkembang dan secara ekonomi tanaman tidak mampu memberikan hasil yang cukup. Kondisi ini dapat pulih apabila tidak ada komplikasi yang berkelanjutan. Pada musim barat 2005 terjadinya gagal panen. maka tanaman uji dalam kondisi lemah / rentan terhadap penyakit. Secara biologi tanaman tidak mampu melakukan kegiatan fisiologinya secara normal. Perbedaan tingkat keberhasilan ini diduga karena posisi kedua lokasi budidaya. percabangan sedikit. Perikanan 1997).42 Kondisi rumput laut di lokasi budidaya sebelah barat maupun utara dari hasil pemantauan memberikan indikasi bahwa rumput laut mengalami stress. Kondisi ini diperburuk dengan adanya . Hal ini didukung oleh Salisbury dan Ross (1992) bahwa pada jaringan muda rumput laut. suhu air.

sehingga menyebabkan kegagalan panen. rendahnya unsur hara di perairan dan oleh biota air starfish (Trono 1992. Penyakit rumput laut muncul karena adanya substansi pelindung intraseluler pada saat rumput laut mengalami tekanan lingkungan. Penyakit ice ice terjadi oleh pengaruh beberapa jenis rumput laut lain yang menempel.43 gigitan ikan yang membuat jalan masuk bakteri ke bagian jaringan dalam. Penyakit yang timbul pada musim panas dan arus lemah ini ditandai dengan warna pucat pada tanaman secara keseluruhan kemudian hilang warna pada cabang-cabang dan akhirnya menjadi keputih-putihan. sedangkan bagian cabang yang terinfeksi akan retak dan putus jatuh ke laut. alvarezii yang terkena penyakit (b) bagian cabang tanaman yang terkena penyakit . Jaringan tanaman pada bagian yang terkena penyakit menjadi lunak dan hancur. Gambar 18 Permukaan thallus rumput laut yang kasar. Gambar 19 Rumput laut yang terkena penyakit di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari (a) Bagian ujung tanaman K. Lobban dan Harison 1994). sehingga infeksi bakteri penyebab ice ice lebih cepat. sehingga mengakibatkan kehilangan bobot tanaman (Gambar 19).

luka akibat ikatan bibit terlalu erat dan masuk melalui pori-pori thallus (Gambar 20).44 Tanaman budidaya akan lebih cepat terinfeksi apabila terdapat banyak bekas luka karena akan menjadi jalan masuk bagi bakteri patogen. : (a) bekas pemotongan (stek untuk bibit) (b) luka akibat gigitan ikan (c) luka karena ikatan bibit terlalu erat (d) masuk melalui pori-pori thallus . Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan infeksi bakteri penyebab penyakit ice ice pada thallus dapat terjadi melalui beberapa cara yaitu terinfeksi pada luka bekas pemotongan (stek untuk bibit). luka akibat gigitan ikan. d c Gambar 20 beberapa cara terinfeksi bakteri penyebab penyakit ice ice.

787 -13.20 -30.84 – 50.15 50.60 -10.074 -7.626 -20.472 – 32.321 -24. Gambar 21 Pertumbuhan rumput laut normal di lokasi budidaya Halmahera (Kusdi 2005). Pada minggu pertama sampai minggu keempat masih terdapat pertumbuhan parsial yang didukung oleh kecerahan.10 -15.349 -16. relatif dan sesaat rumput laut di sebelah barat dan utara pulau Pari Minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 Barat Mutlak (g) 1.30 -19.562 -5.486 -29. Pertumbuhan rumput laut tersebut ternyata tidak berlanjut mengikuti pola pertumbuhan logistik (normal) seperti hasil penelitian Kusdi (2005) (Gambar 21).111 -8. . relatifnya 1.21 21.60 Utara Mutlak (g) -11 -2 -12 -12 -18 -13 -14 -12 Relatif (%) 1.290 -18.472 6. suhu. unsur hara dan kondisi biomassa.805 -11.040 -2.473 15.84 8. Tabel 6 Pertumbuhan mutlak.025 Pertumbuhan parsial rumput laut di lokasi budidaya barat dari minggu pertama sampai minggu keempat semakin meningkat dengan pertumbuhan mutlaknya 1.45 Pertumbuhan parsial Pertumbuhan parsial rumput laut adalah pertubuhan yang terjadi antar waktu tertentu dan dinyatakan dalam bentuk pertumbuhan mutlak.10g.049 Relatif (%) -9.074%. relatif dan sesaat (tabel 6).661 32.

562 – -16. relatif -09. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan rumput laut pada akhirnya merupakan perpaduan antara laju pembentukan biomassa dan laju pengkroposan. Hasil analisis regresi berganda terhadap laju pertumbuhan dengan unsur hara di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari pada minggu pertama sampai minggu keempat ternyata memenuhi persamaan regresi ganda y = -281 + 1551 nitrat + 14596 ortho pospat dengan nilai koefisien . Hubungan laju pertumbuhan dengan unsur hara Untuk melihat hubungan laju pertumbuhan rumput laut dengan unsur hara dilakukan analisis regresi berganda. sehingga pertumbuhan parsial berubah menjadi menurun.30g. Laju pengkroposan biomassa melampaui laju pertumbuhan rumput laut.321 – -29. Degradasi biomassa rumput laut tersebut terindikasi dari warna thallus yang pucat secara keseluruhan kemudian hilang warna dan akhirnya menjadi keputih-putihan. ortho pospat) serta laju pengkroposan dengan suhu. Pertumbuhan parsial di lokasi budidaya utara dari minggu pertama sampai minggu keempat cenderung negatif dengan pertumbuhan mutlak berkisar antara -2 – -12g. Hal ini terjadi sebagai akibat infeksi bakteri ice ice semakin meningkat. Pertumbuhan negatif terus berlanjut dari minggu kelima sapai kedelapan.787%.025%. arus dan tempratur akan dibahas pada topik selanjutnya.46 Sementara mulai minggu kelima sampai minggu kedelapan kondisi biomass mengalami pengkroposan karena telah terinfeksi bakteri penyebab penyakit ice ice.626%. Penurunan/pengkroposan mutlak rumput laut berkisar antara -10. Pertumbuhan parsial yang bersifat negatif (terjadi pengkroposan). Hubungan antara laju pertumbuhan dengan unsur hara(nitrat. Biomassa rumput laut di lokasi budidaya barat dari minggu pertama sampai keempat laju pertumbuhannya masih lebih besar dari laju pengkroposan. Jaringan tanaman pada bagian yang terkena penyakit menjadi lunak dan hancur. relatif -18. Pertumbuhan parsial mutlak berkisar antara -12 – -18g. Sebaliknya minggu kelima sampai minggu kedelapan di lokasi barat dan atau lokasi utara memperlihatkan laju pengkroposan lebih besar dari laju pembentukan biomassa. maka total biomassa rumput laut cenderung semakin menurun.20 – -30. relatif -7.040 – -11.

lokasi budidaya utara minggu ke1-ke4 y = -981 + 19. Dengan demikian disimpulkan bahwa hasil analisis tersebut terindikasi bahwa ketersediaan unsur hara (nitrat dan ortho pospat) secara interaksi bersama menentukan laju pertumbuhan.05) dan ortho pospat 0.2%.7 suhu dengan R = 98. Kecepatan arus berperan terhadap lama waktu penempelan dan penyebaran yang mengkontaminasi keseluruhan biomassa rumput laut. Persamaan regresinya sebagai berikut : Lokasi budidaya barat minggu ke5-ke8 y = 1852-10 oksigen-7. maka di lokasi budidaya barat dan utara telah terjadi pengkriposan biomassa yaitu di lokasi barat di minggu ke5 sampai ke8 dan lokasi barat di minggu ke1 sampai minggu ke8.001 (P<0. Hal ini didukung oleh Sulistijo (2002) Tingkat degradasi biomassa rumput laut bahwa penyakit ice ice timbul pada musim laut tenang dan arus lemah diikuti mencerminkan tingkat perkembangan populasi dan intensitas pengkroposan . Hubungan degradasi dengan suhu.47 determinasi R = 83%. Nilai koefisien masingmasing variabel menunjukkan bahwa variabel x yang berpengaruh terhadap y adalah nitrat sebesar 0. Suhu dan oksigen terlarut berperan terhadap perkembangan populasi bakteri penyebab ice ice dalam mendegradasi biomassa rumput laut.05) (Lampiran 11).14 oksigen dengan R = 99%.3 arus – 6.001 ((P<0.3 suhu + 4.9%. dengan suhu perairan yang tinggi.arus dan oksigen terlarut Seperti telah dijelaskan diatas. arus dan oksigen terlarut ternyata memenuhi persamaan regresi ganda.74 arus +8. Hasil uji variance diperoleh P-value lebih kecil dari (0.79 arus – 34. arus dan oksigen terlarut berpengaruh terhadap laju pengkroposan biomassa.1 suhu + 25. arus dan oksigen memberikan indikasi bahwa ketiga faktor lingkungan tersebut secara langsung berperan terhadap intensitas perkembangan bakteri ice ice dalam pengrusakan biomassa rumput laut. Hasil uji variance (Lampiran 12) dapat digunakan untuk menjelaskan bahwa ketiga variabel yaitu suhu. dan minggu ke5-ke8 y = 1489 + 45. Dari nilai koefisien masing-masing suhu.52 oksigen dengan R = 98.05) berati regresi tersebut dapat digunakan untuk menjelaskan variabel-variabel terikat yang berpengaruh terhadap variabel bebas atau dapat dikatakan nitrat dan ortho pospat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan. Hubungan degradasi / pengkroposan biomassa dengan suhu.

99 Sumber : Hasil penelitian yang diolah .7 111. Tabel 7 Bobot dan penyusutan K.7 71.20% sampai dengan 93.arus dan oksigen terlarut memicu perkembangan populasi bakteri dalam menginfeksi dan mendegradasi biomassa rumput laut. Lokasi budidaya barat dari minggu kesatu sampai minggu keempat penyusutan berkurang dari 95.20 95. Lokasi budidaya utara dari minggu pertama sampai minggu kedelapan nilai penyusutan terus berkurang.34 91.2 9.5 150.53 80.95 Penyusutan (%) Barat 95.9 5.2 206.9 6. sedangkan laju degradasi / pengkroposan di lokasi budidaya barat minggu ke5-k8 dan di utara minggu ke1-k8 ditentukan oleh faktor suhu.93 5. Kondisi ini terjadi di lokasi budidaya utara karena hilangnya bagian-bagian rumput laut dan diganti dengan tunas baru. alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.8 135.71 94.34%.3 101.2 5.1 10.6 113. maka dapat dinyatakan bahwa laju pertumbuhan biomassa rumput laut di lokasi budidaya barat dari minggu ke1-ke4 ditentukan oleh keberadaan nitrat dan ortho pospat.28 95.3 190.6 11.7 178.2 130.4 17.5 58.5 89.1 156.19 94.3 kering Barat Utara 5. Pengamatan (munggu) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Bobot (g) Basah Barat Utara 125 125 126.3 16 14.08 94. sedangkan pada minggu kelima sampai kedelapan penyusutannya tetap yaitu 91% ( Tabel 7).74 93.92 5. Pengeringan ini bertujuan untuk menurunkan kadar air rumput laut basah + 90% menjadi rumput laut kering dengan kadar air + 20% ( Suryaningrum 1988). Dari uraian tersebut.54 Utara 95.83 94.72 89.15 6.91 5.61 91.1 31.94 5.89 5.1 7.61 91.85 86.88 5.48 rumput laut.4 44. Produksi Bobot Kering Bobot kering rumput laut didapat dari pengeringan terhadap rumput laut basah dengan cara penjemuran pada sinar matahari.90%.82 92.41 91.19 93. Menurut Noor (1991) kadar air rumput laut segar berkisar antara 85 .

.77% kemudian menurun di minggu kelima seterusnya sampai minggu kedelapan hingga mencapai kandungan karaginan terendah 4.23% (Gambar 22 dan Lampiran 8). maka bobot kering tanaman yang diperoleh tidak dipengaruhi oleh lama penanaman karena tanaman selalu berada pada kondisi tanaman muda. Kandungan karaginan di lokasi budidaya sebelah utara mulai minggu kesatu sampai minggu kedelapan tidak ada peningkatan kandungan karaginan. Kandungan karaginan K. Pola kandungan karaginan yang diperoleh pada penelitian di kedua lokasi budidaya barat dan utara tidak sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya. Mengacu dari kondisi tanaman uji. Menurut Dawes (1974) berat kering tumbuhan muda lebih rendah daripada tumbuhan tua. Kandungan Karaginan Proses panen baik berdasarkan waktu atau bobot tidak menjamin mutu rumput laut.51%. Selanjutnya Sulistijo (1994) . sehingga akan tumbuh tunas yang baru.46% terus meningkat dan mencapai puncak di minggu keempat dengan persentase 16. Alvarezii cenderung mengalami peningkatan menurut lama penanaman dan kualitas terbaik kandungan karaginan maximum dicapai pada usia 35 hari atau minggu kelima (Kusdi 2004). tetapi mutu rumput laut ditentukan oleh mutu bibit dan kualitas perairan. Pada minggu kesatu kandungan karaginan 9. 1978).49 Tanaman uji yang terkena penyakit akan hancur dan putus juga ujungujung thallus yang dimakan ikan. alvarezii di lokasi budidya sebelah barat pulau Pari mengalami peningkatan sampai minggu keempat. Kandungan karaginan K. Satari (1998) melalui penelitiannya dengan variasi waktu pemeliharaan K. alvarezii dari minggu kesatu sampai minggu keenam tidak mendapatkan perbedaan yang berarti terhadap kandungan karaginan. tetapi sebaliknya terus mengalami penurunan hingga mencapai kandungan karaginan terendah sebesar 1. Jaringan rumput laut yang lebih tua dapat mengakumulasi deposit garam-garam yang menyebabkan unsur keringnya semakin tinggi (Simpson et al. Rahardjo (2000) mendapatkan panen yang baik dengan biomassa dan kandungan karaginan tertinggi pada waktu pemeliharaan selama 6 minggu di lokasi pulau Tidung Kepulauan Seribu.

Thallus rumput laut yang sudah terkena penyakit akan keropos dan hancur kemudian akan digantikan dengan tunas-tunas yang baru. Perbedaan kandungan keraginan pada kedua lokasi tersebut diduga karena perbedaan kualitas lingkungan masing-masing. Menurut Soegiarto et al. kadar air rumput laut kering untuk industri . 20 Karaginan (% ) 15 10 5 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu pengamatan(minggu) Barat utara Gambar 22 Rata-rata kandungan karaginan di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari. Kandungan karaginan di kedua lokasi budidaya secara statistik berbeda sangat nyata (Lampiran 6). kimiawi dan biologi juga kondisi lingkungan tempat tumbuhnya karaginofit tersebut. Alvarezii untuk diterima pasaran dalam maupun luar negeri. (1978) bahwa standar kualitas Eucheuma untuk dipasarkan dalam dan luar negeri kandungan karaginan 25%. Kadar air yang cukup tinggi akan menyebabkan menurunnya kualitas karaginan yang dihasilkan. sehingga lama pemeliharaan tidak berpengaruh terhadap kandungan karaginan.50 menyatakan waktu pemeliharaan 45 hari kandungan karaginan mencapai maximum yaitu 52. Dalam perdagangan. Mukti (1987) menyatakan persentase kandungan karaginan dalam rumput laut karaginofit berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan yaitu lingkungan fisika.42%. Kadar air yang dimaksud adalah besarnya persentase kadar air persatuan bobot kering angin produk rumput laut.70% dan kadar air 24. namun perbedaan ini tidak memperlihatkan kualitas yang baik sesuai standar kualitas K. Kadar Air Kadar air pada rumput laut merupakan komponen kimia penting yang berhubungan dengan mutu rumput laut. Kandungan karaginan dari tanaman uji di kedua lokasi sangat rendah disebabkan karena penyakit ice ice.

1978).70%.83% dan minimum19. Kadar air rata-rata di lokasi budidaya sebelah barat sebesar 20. Bagian jaringan rumput laut berupa serat dan bahan-bahan yang mengandung karbon serta beberapa mineral tersisa menjadi abu setelah proses pembakaran.76%. maka semakin tinggi pula kadar abu yang dihasilkan saat pembakaran. Kadar abu dalam tanaman rumput laut ditentukan oleh bahan penyusun jaringan dimana semakin tinggi bahan serat dan senyawa-senyawa yang mengandung karbon dalam jaringan. Namun kadar air setelah pengeringan di laboratorium dengan vacum dryer di peroleh nilai persentase yang masih memenuhi standar pemasaran (Gambar 23).08%. Nilai kadar abu diperoleh setelah dilakukan proses pembakaran atau pengabuan dalam alat pembakaran (tanur). Secara statistik kadar air di lokasi budidaya berbeda nyata (Lampiran 6).30%. maksimum 22. 30 barat utara Kadar air (%) 25 20 15 10 5 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu (minggu) Gambar 23 Rata-rata kadar air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari Kadar Abu Kualitas hasil panen rumput laut ditentukan pula oleh persentase kadar abu karena kadar abu yang relatif tinggi akan menyebabkan rendahnya kualitas hasil panen.10%. maksimum 23. sedangkan bahan lainnya habis menguap saat pembakaran. Kadar abu di kedua lokasi budidaya cukup tinggi yaitu di lokasi budidya sebelah barat pulau Pari kadar abu rata-rata sebesar 20. Menurut Hirao (1971) bahwa kadar abu pada rumput laut berkisar antara 15 .51 pangan dan farmasi yang memenuhi syarat mutu dari Departemen Perdagangan adalah maximum 32% (Soegiarto et al. maksimum .82% dan minimum 20. Sedangkan kadar air rata-rata di lokasi budidaya utara sebesar 21.40%.

Kadar abu yang diperoleh pada penelitian ini bila dibandingkan dengan hasil yang diperoleh BPPT sebasar 17. maksimum 26. Kadar abu terutama terdiri dari garam natrium yang berasal dari air laut yang menempel pada thallus rumput laut yang terjadi pada proses pengeringan. 30 Kadar abu (%) 25 20 15 10 5 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Waktu (minggu) barat utara Gambar 24 Rata-rata kadar abu di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari.09%.17> F tab.9%. (Gambar 24).52 22. Hubungan Karaginan dengan Unsur Hara Hasil regresi ganda menunjukkan adanya hubungan antara karaginan dengan unsur hara di lokasi budidaya sebelah barat yang dijelaskan dengan nilai determinasi sebesar 84. Persentase kadar abu yang cukup tinggi ini juga menunjukkan besarnya kandungan mineral pada rumput laut yang tidak terbakar selama pengabuan. sebesar 9. Kadar abu di kedua lokasi budidaya sebelah barat dan utara secara statistik berbeda nyata (Lampiran 6). Sementara kadar abu yang diperoleh di lokasi budidaya sebelah barat adalah 20.78%.48).3% dan minimum 16.64%.05) dengan (Fhit. maka selisihnya adalah garam dan kontaminan lain yaitu pada lokasi barat 3.6% dan sangat nyata (p<0.09%.23% dan minimum 10. Kadar abu berbeda dikedua lokasi disebabkan karena tanaman uji yang dibudidayakan di kedua lokasi budidaya banyak terdapat alga penempel dan kotoran-kotoran. Sementara di lokasi budidaya sebelah utara kadar abu rata-rata sebesar 22.78%. Data hasil analisis regresi berganda kandungan karaginan . Kadar abu rumput laut bersih dari Eucheuma cottonii yang dilaporkan oleh BPPT adalah 17. sebesar 5.69%.21% dan lokasi utara 5.30% dan kadar abu di lokasi budidaya sebelah utara adalah 22.

Koefisien variasi masing-masing variabel menunjukkan bahwa variabel x yang berpengaruh terhadap nilai Y adalah ortho pospat yang dapat dijelaskan dengan 0.780 dan 0. ortho-pospat dan amonia.5).05) yang berarti bahwa nitrat dan amonia bukan merupakan faktor pembatas terhadap peningkatan kandungan karaginan (lampiran 12).05) dengan ( Fhit. Koefisien variasi masing-masing variabel menunjukkan bahwa variabel x yang berpengaruh terhadap nilai Y adalah ortho pospat yang dapat dijelaskan dengan 0. Persamaan tersebut menggambarkan bahwa terdapat satu atau lebih parameter yang berpengaruh terhadap peningkatan dan penurunan karaginan.48).7+39. Tabel nilai koefisien menunjukkan bahwa nitrat dan amonia tidak nyata (p>0.007 (P<0.05). Kisaran ortho-pospat yang diperoleh di kedua lokasi budidaya sangat rendah. Persamaan tersebut menunjukkan terdapat satu atau lebih parameter yang berpengaruh terhadap peningkatan karaginan.5). Hasil regresi ganda menunjukkan adanya hubungan karaginan dengan unsur hara di lokasi budidaya sebelah utara yang dijelaskan dengan nilai determinasi sebesar 79. sedangkan nitrat dan amonia masing-masing 0.05) yang berarti bahwa nitrat dan amonia bukan merupakan faktor pembatas terhadap peningkatan kandungan karaginan (lampiran 13). Dengan demikian disimpulkan bahwa variabel yang sangat berpengaruh terhadap kandungan karaginan rumput laut di kedua lokasi budidaya adalah ortho pospat.6% dan sangat nyata (p<0. namun lokasi budidaya sebelah barat lebih baik. Variabel unsur hara yang berpengaruh terhadap karaginan adalah nitrat.2 nitrat +4321 ortho pospat -276 amonia.130 dan 0. sedangkan nitrat dan amonia masing-masing 0. sebesar 5. Data hasil analisis regresi berganda kandungan karaginan dengan unsur hara diperoleh persamaan sebagai berikut : Karaginan = -149+252 Nitrat +6049 ortho pospat +527 amonia.943 (P>0. sebesar 6. Tabel nilai koefisien menunjukkan bahwa nitrat dan amonia tidak nyata (p>0. sehingga masih terjadi penambahan peningkatan kandungan karaginan.53 dengan unsur hara di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari diperoleh persamaan sebagai berikut Karaginan = 21.05).801 (P>0.020 (P<0. .52 > Ftab.

1581x + 6.1581 x+6. Semakin lama waktu pengamatan maka semakin tinggi kandungan karaginan sampai batas tertentu.54 Hubungan Karaginan dengan Waktu Pengamatan Analisis regresi hubungan kandungan karaginan dengan waktu pengamatan pada lokasi budidaya sebelah barat menunjukkan pola hubungan kuadratik (Gambar 25). Penurunan kandungan karaginan ini disebebkan karena perubahan kondisi perairan yang terlihat mulai dari minggu ke lima pada masa pengamatan. 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Waktu pengamatan (minggu) y = -0. R2 = 0.7587 2 2 Gambar 25 Hubungan karaginan dengan waktu pengamatan di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan waktu pengamatan diikuti dengan peningkatan kandungan karaginan sampai batas tertentu kemudian cenderung menurun seiring dengan bertambahnya waktu.1873 R = 0. Hal ini sesuai dengan Kusdi (2004) bahwa hubungan waktu pengamatan dengan kandungan karaginan di semua perlakuan interaksi asal thallus dan bobot bibit berbentuk pola hubungan kuadratik.5268x + 4. Hasil penelitian pada minggu keempat merupakan batas terjadinya penambahan kandungan karaginan sedangkan pada minggu selajutnya terjadi penurunan kandungan karaginan yang disebabkan kondisi lingkungan perairan yang tidak mendukung. Terjadinya penurunan kandungan karaginan pada minggu kelima sampai minggu kedelapan ini akibat terkena penyakit ice ice yang merusak struktur jaringan dalam dimana terdapat kadungan karaginan.7587.5268 x2+4.1873. dengan persamaan sebagai berikut : Y = 0. Karaginan (%) .

5268x.55 10 Karaginan (%) 8 6 4 2 0 0 2 4 6 y = -1. Hal ini menunjukan bahwa bertambahnya waktu pengamatan diikuti penurunan kandungan karaginan. Analisis regresi hubungan kandungan karaginan pada lokasi budidaya sebelah utara memberikan gambaran pola hubungan linier (Gambar 26).948%. . dengan persamaan sebagai berikut : Y = 8. r = 0.0615x + 8.9238 R = 0.9238–0.948 2 8 10 Waktu pengamatan (minggu) Gambar 26 Hubungan kandungan keraginan dengan waktu pengamatan di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari.

56

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan
1 Kualitas air di lokasi budidaya rumput laut K. alvarezii sebelah barat yang merupakan perairan terbuka di minggu pertama sampai minggu keempat masih memenuhi kreteria untuk budidaya rumput laut. dan menurun pada minggu kelima sampai minggu kedelapan. Sedangkan di lokasi sebelah utara pulau Pari yang merupakan perairan tertutup, kualitas air buruk dari minggu pertama sampai minggu kedelapan. 2 Pertumbuhan Rumput laut K. alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat (luar gobah) dan utara (gobah) pulau Pari tidak memenuhi pola pertumbuhan logistik normal mencapai biomassa maksimal. 3 Lokasi budidaya sebelah barat dari minggu ke1-ke4 masih mengalami pertumbuhan yang dipengaruhi oleh nitrat dan ortho pospat, Selanjutnya mulai minggu ke5-ke8 mengalami pengkroposan, sementara lokasi budidaya sebelah utara dari minggu k1-k8 biomassa rumput laut langsung mengalami pengkroposan. terlarut. 4 Karaginan sebagai indikasi kualitas rumput laut sebagai produk akhir di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari selalu mengalami penurunan. Pengkroposan biomassa rumput laut di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari dipengruhi oleh suhu, arus dan oksigen

Saran
1 Perlu adanya penelitian terhadap karakteristik biofisik perairan selama beberapa tahun untuk mendapatkan data yang lebih akurat terhadap budidaya rumput laut K. alvarezii di pulau Pari. 2 Agar penyakit ice ice tidak meluas atau berkembang, maka kegiatan budidaya dihentikan selama kualitas air memburuk dan dilakukan penanaman bila kondisi perairan kembali mendukung usaha budidaya.

57

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto dan Liviawaty. 1993. Budidaya Rumput Pengelolaannya.Penerbit Bharatara, Jakarta.

Laut

dan

Cara

Ainsworth PA. and Blanshard JMV. 1980. Effect of Thermal Processing on Structure and Rheological of Carrageenan/Carob Gum Gels. Journal of Texture Studies 11 (149). Anggadiredja J, S Irawati, dan Kusmiyati. 1996. Potensi dan Manfaat Rumput Laut Indonesia dalam Bidang Farmasi. Seminar Nasional Industri Rumput Laut. Jakarta. p. 49-62. Anggoro S. 1994. Petunjuk Teknis Budidaya Laut. Direktorat Bina Sumber Hayati. Departemen Pertanian, Jakarta. Anonimous. 1990. Petunjuk Teknis Budidaya Rumput Laut. Puslitbang Perikanan. Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jakarta. Aslan LM. 1998. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius, Jakarta. Atmadja WS, A Kadi, Sulistijo dan Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Puslitbang Oseanologi – LIPI, Jakarta. Atmadja WS dan Sulistijo. 1977. Usaha Pemanfaatan Bibit Stek Alga Laut Euchema spinosum (L) J. AGRADH di Pulau-pulau Seribu Untuk Dibudidayakan. Dalam: Teluk Jakarta, Sumberdaya, Sifat-sifat Oseanologis Serta Permasalahannya. Editor: M. Hutomo, K Romimohtarto dan Burhanudin. LON LIPI, Jakarta: hal 433-449. Bapeda Propinsi DKI Jakarta 2001. Pengelolaan Laut Lestari. Lembaga Penelitian ITB. Jakarta. Bengen DG. 2000. Teknik Pengambilan Contoh dan Analisa Data Biofisika Sumberdaya Pesisir. PKSPL –IPB Bogor. Besweni. 2002. Kajian Ekologi Ekonomi Pengembangan Budidaya Rumput Laut DI Kepulauan Seribu (STUDI KASUS DI GUGUSAN P. Pari). Thesis IPB. Bogor. Bold HC, and MJ Wynne. 1985. Introduction to Alggae Structure and Reproduction. 2nd ed. Englewood Cliffs NJ: Prentice-Hal, 706 pp. Chapman VJ. 1962. The Algae. Mc McMillan and Co Ltd. London. 383-411. Chapman V J. and DJ Chapman. 1980. Seaweeds and Their Uses. Third Edition. Chapman and Hall, London. N.Y.

58

-----------1987. The Production And Use of Eucheuma In Case Studies of Seven Commercial Seaweed Resources. M.S. Doty. J.F. Coddy and B.Santelices (Eds). FAO Fisheries Technical Paper 281. Dawes C J, A C Matheieson and D. P. Chenney, 1974. Ecological Studies of Floridean Eucheuma (Rhodophyta, Gigartinales. I. Seasonal Growth and Reproduction. Bull. Mar. Sci., 24 : 235 – 273. Dawes CJ. 1981. Marine Botany. John Wiley and Sons University of South Florida. New York. 268 p. Direktorat Jenderal Perikanan. 1992. Suatu Tinjauan Tentang Teknologi Produksi Jenis Rumput Laut Tropis yang Bernilai Ekonomis. 43 hal. Direktorat Jenderal Perikanan. 1997. Pedoman Teknis Pemilihan Lokasi Budidaya Rumput Laut. Ditjen Perikanan. Jakarta. 20 hal. Direktorat Jenderal Perikanan. 2004. Hama dan Penyakit Rumput Laut. Doty MS. 1971. Measurement of Water Movement in References to Benthic Algae Growth. Bot Mar. XIV; 32-35. ------------- 1973. Eucheuma Farming for Carrageenan. Univ. Hawai Sea Grant Report. UNIHI SEAGRANT-AR 73-02: 21. Durant NW and FR Sanford. 1970. Fhycocoloids. Berau of Commercial Fisheries Div. of Publ. Washington. Eidman HM. 1991. Studi Efektivitas Bibit Algae Laut (Rumput Laut), Salah Satu Upaya peningkatan Produksi Budidaya Algae Laut (Eucheuma sp). Laporan Penelitian. Fakultas Perikanan. IPB. Emor DW. 1993. Peranan Unsur N dan P Bagi Pertumbuhan Rumput Laut di Perairan Pantai. Karya llmiah. Fakultas Perikanan-Universitas Sam Ratulangi, Manado. Furia TE. 1964. Food Hydrocollooids. Vol 1. CRS Press Inc. Boca Raton Florida. _______ 1981. Hand Book of Food Addives. 2nd. ed. Vol 1. CRC Pres. Florida. 308. Glickman M. 1969. Gum Technology in the Food Industry. Academic Press, New York. Guiseley KB, NF Stanley and F.M. Whitehouse. 1980. Carrageenan. Hand Book of Water Soluble Gums and Resins. R.L. Davids on (ed). Mc Grow Hill Book Company.N. Y. Toronto, London.

Jepara. Pengkajian Fisika. E. California Sea Grant. Bogor. FE Fackard and WT Doyle. Inc. PT. London. Kuhl A. IPB (1997). Marine Culture of Red Seaweeds. In Okada. 2004. Stewart (Ed. Ismail A. Panduan Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut. 2001.). 1982. Penebar Swadaya. College Program Publ. Yokoseki (Eds). Limnologi. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. Kimia dan Geologi Tahun 1975 – 1979. 320 p. T. M. INN Suryadiputra dan Widigdo. Sebaran Normal Parameter Hidrologi di Teluk Jakarta. Budidaya. Seaweed in Untilization of Marine Products. Overseas Tecnical Cooperation Agency Govermment of Japang. Program Pascasarjana IPB. dan H Korah. MacMillan Publ. Phosphorus. Workshop Budidaya Laut: Evaluasi Kondisi Bio Hydrography dalam Penentuan Lokasi Budidaya Laut. Manado. Reproduksi. 1970 Aquatic Productivity. D. Indriani H dan E Sumiarsih. Tesis Program Studi Ilmu Perairan. Produksi Rumput Laut Eucheuma cotoni dan Kandungan Karaginan di Perairan Maluku Utara. A. 10. X Lalu. Bogor Hirao S. 1988. 1980.Laut. S. PPPO LIPI Jakarta. Penuntun Praktikum dan Analisa Kualitas Air. Hasil-Hasil pengamatan hidrologi di perairan sekitar Pulau Lancang. . Budidaya dan Pasca Panen. Jakarta. Hirao. 1977. Jakarta. Oxford. 1996. Blackwell Scientific Publications. 14 hal. 1999. 1992. New York. Kastoro.59 Hansen JE. Tokyo. Edinburgh. Suzuki and M. 1971. Rumput Laut (Algae) Jenis. Vol. 1981. Penelitian Adaptif Peningkatan Mutu Rumput Karagenopit dengan Pencucian Alkali. L1 W. Fakultas Perikanan IPB. Melbourne. 1974. 1995. Tesis Program Studi Ilmu Kelautan. LON LIPI Jakarta. Program Pascasarjana IPB. Pengelolaan dan Pemasaran Rumput Laut. Hutabarat J. p:G36-654. Depok. Kusdi HIK. Haryadi S. Co. Bogor Kadi A dan WS Atmadja. Kajian Pertumbuhan.. Naguchi. Hunter WD. Ilahude AG dan Liasaputra. Tingkat Keberhasilan Transplantasi Karang Batu pada Lokasi yang berbeda di Gugus Pulau Pari Kabupaten Pulau Seribu. P. Algae Physiology and Biochemstry. Johan O. T. Botanical Monographs. Produksi. Kolang M. Dinas Perikanan Sulawesi Utara.

Tesis Program Studi Ilmu Kelautan. Pacitan dan Kemungkinan Pengembangannya. Program Pascasarjana IPB. Jusuf dan JD Kusen. Bogor. Luning K. Inc. Ekstraksi Analisa Sifat Fisika Kimia Karaginan dari Rumput Laut Laut Jenis Eucheuma cottonii. Morris I. . Noor DZ 1991. 2001. Ecology 68 pp. Algal Physiologi and biochemisty. Penerbit Djambatan. Laporan Penelitian Fakultas Perikanan Universitas Sam Ratulangi. In W.D. Fateta IPB Bogor. 1994. Lobban CS.60 Lewis SM. Jakarta. Botanical Monographs. Laut Nusantara.1987. Prosesing Temu Karya Ilmiah Pasca Panen Rumput Laut. Pengaruh Pupuk TSP Pertumbuhan dan Kualitas Rumput Laut Gracilaria gigas Harv. Manado. John Wiley and Sons. 1981. Ngangi ELA. New York. A Wiley Interscience Publication. Fakultas Biologi Universitas Nasional Jakrata. Stewart (Ed). The Regulation of Morphological Plasticity on Tropical Reef Algae by Herbivor. Their Environment. Seaweed. Seaweed Ecology and Physiology. Melboume. Pengaruh Senyawa Hidroksida dan Usia Tanam Terhadap Kualitas Bahan Baku Rumput Laut. Moore AB. Biogeography and Ecophysiology. P:583-609. 1990. 1993. Cambridge Univ. NY. Nitrogen Asimilation and Protein Synthetis. Blackwell Scientific Publication. Patadjai RS. Tesis Program Studi Ilmu Perairan. Vol 10. Lembaga Penelitian Perikanan Laut. I(2) : 157-166. JN Norris and RB Searles 1987. Mukti ED. Jakarta. Edinburgh. Pen. Nontji 1993. Kajian Intensifikasi dan Analisis Finansial Usaha Budidaya Rumput Laut Kappaphycus alvarezii di Desa Bentenan-Tumbak Kecamatan Belang Propinsi Sulawesi Utara. Bogor. Faktor Lingkungan Budidaya Rumput Laut di Desa Serey Kecamatan Likupang Minahasa. 1998.P. Ngangi ELA. Program Pascasarjana IPB. Kepulauan Seribu. Percobaan Budidaya Rumput Laut di Perairan Lorok. 1974. Bull. PJ Harison. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Jakarta. Nasution MH 2005. Oxford. Inc. London. Patogenitas Beberapa Isolat Bakteri Terhadap Rumput Laut Kappaphycus alvarezii Asal Pulau Pari. 493p. Press New York. 1958. Marine Ecology. Mubarak H dan I Wahyuni. Perikanan. . John Wiley and Sons.

Produksi dan Budidaya Rumput Laut di Indonesia. Basson PW and Moe RL. Chem. Rees DA. Gum and Hidrocolloids in Oil Water Emultions. 1981. 1979. Semarak Rumput Laut di Pulau Tidung. Univ. PF Shacklock and DR Robon. 364. 1992. Of California Press. Silva PC. Terjemahan Diah. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gramedia Indonesia. Sediadi dan Budihardjo U. Biochemistry. 2000. J. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Kandungan Karaginan Eucheuma pada Berbagai Usia Panen. Sharma SC. 1352 – 1260. 5 (1) : 59. Satari R. Peranan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Budidya Sumberdaya Perikanan Sebagai Perwujudan Konsep Benua Maritim Indonesia. . Summary Report. The Urbanized Estuary (pp 287-345).1969. Penerbit ITB. PT. 30 . Food Technology. 1955. 1998. Workshop on Marine Algae Biotechnology. AN Hiiel and AS Fenin. In Advance Carbohydrat Chemistry. Simpson FJ. Thn XXX.C. Semangun H. Desember 1997. Washington D. In San Francisco Bay. Fisiologi Tumbuhan. Jakarta. 1978. Silva PC. 1996. 1996. Jakarta. National Academic Press. Prosiding Simposium Perikanan Indonesia II. Phylosaccharides in Foods. Ed. Bandung: 584 hal. RL dan Sumaryono. Rumput Laut: Komoditas Unggulan. 2000. Can. Studies on Heterogenity of Carrageenan.61 Rahardjo A. AC Neish. Structure Confirmation and Mechanism in the Formation of Polysaccharide Gels and Net Works. Cataloque of the Benthic Marine Algae of the India Ocean. The Binthic Algae Flora of Central San Francisco Bay. Sanderson GR. Uses of Marine Algae in Biotechnology and Industry. Soegiarto A dan Sulistio 1985. Ujung Pandang. Salisbury FB dan CW Ross. 1986. Smith DF. 754 hal. Food Technology 35 (7) : 50. 1981. LON-LIPI Jakarta. Yayasan Sosial Tani Membangun. Botanica Marina 21:229-235. Edinburg Scottl and 24: 279-282 Reen DW. Trubus No. The Cultivation of Chondrus Crispus Effect of pH and Growth and Production of Carrageenan. Maret 200. San Francisco Academy of Sceincer.

1. --------. Skripsi Fakultas Pertanian IPB.L. Bogor. Suharsono. Mubarak. Puslitbang Oseanologi LIPI. Masalah Kultivasi Eucheuma di Pseudo Atol pulau Pari. Jakarta. 171 188.Sifat Mutu Komoditi Rumput Laut Budidaya Jenis Eucheuma cottonii dan Eucheuma spinosum.3]. 1973. Nitrogen assimilation in: R. 1994. Program Rehabilitasi dan Pengelaan Trumbu Karang. Jakarta. 1992. Rumput Laut (Algae): Manfaat. Suryaningrum TD. Trorino dan F. Hidral.5. Trono GC. Permasalahan dan Pengelolaan Trumbu Karang di Indonesia. Kajian Sifat .1996. Thesis IPB. London. Miller. Sulistijo. 1962. 310 pp [4. Dirjen Perikanan Jakarta.N. Soerjodinoto. Pari. (eds) Academic Press. . Jakarta. Penelitian Budidaya Rumput Laut (Algae Makro/Seaweed) di Indonesia. Wistler and Be. Fish . 1988. Research and Development Center for Oceanology Indonesia Institut of Science. Supit SD. The Harfest Quality of alvarezzi Culture by Floating Method in Pari Island North Jakarta. Syret PJ. A Practical Handbook of Seawater Analysis. 2nd ed.2002. Coklat dan Hijau yang Ditanam di goba Labangan Pasir P. Perkembangan Budidaya Rumput Laut di Indonesia. Pengenalan Jenis-Jensi Runput Laut. Hal 120-151. Dit. Trono GC. Academik Press. --------. Pidato Pengukuhan Ahli Peneliti Utama Bidang Akuakultur Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Bogor. Dalam. Levin and Phisiology and Biochemisty of Alge. Strickland dan Parson 1968. Res. Philippine Seaweeds.6.2. Jakarta. A. Manila. 100 hal. Jurnalisti. R.G. Jakarta. Jakarta. 1989. Suatu Tinjauan Tentang Tehnologi Produksi Jenis Rumput Laut Tropis yang Bernilai Ekonomis. National Book Stone Inc. Canada Bull. Karakteristik Pertumbuhan dan Kadungan Keragenan Rumput Laut Eucheuma alvarezii yang Berwarna Abu-abu. New York. N. 1986.62 Soegiarto A. 1978. Bd . WS Atmadja. 167. Fortes 1988. Towle GA.7. Potensi dan Usaha Budidayanya. S. 1968. LON-LIPI. Y. Sulistijo dan H.. Carrageenan In Industrial Gums.

1983. Laboratorium Ilmu-ilmu Kelautan UI IPB dan Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI). Zatnika A. J. LS Sanmiel and GS Jacinto. 1988. International Seaweed Syimposium 10 : 625-630. . Food Sci : 12 : 91 . Zabil ME and J Ridrich. Press National. 1981. Teknologi Budidaya Rumput Laut. Makalah pada Seminar Pekan Akuakultur V. Prospek Pengembangan Rumput Laut di Indonesia Dalam Seminar Laut Nasional II. University of Singapore. Kantor Menteri Negara KLH.97. Winarno F G. The “Ice ice” Problem in Seaweed Farming. 1996. Wei FL and WY Chin.tim Rumput Laut BPP Teknologi Jakarta. Jakarta. 1968. Jakarta. Gel Strenght of Kappa-Carrageenan as Affected by Cation. 1994. Pustaka Sinar Harapan. Teknologi Pengolahan Rumput Laut. Zatnika A dan Angkasa WI. Proc. Seaweed of Singapore. Singapore University.63 Uyenco F.

3 8.0070 0.1706 0.1193 0.0080 0.1190 0.25 8.6 31.18 0.1726 0.118 0.0102 0.3 8.24 4.208 0.88 6.52 8.116 0.125 0.172 0.2 5.240 0.0112 0.1 3.0070 .96 2.74 6.4 32 5.1736 0.52 2.0070 1 27.1 8.18 6.2 5.1803 0.52 4.182 0.0070 Rata-rata 28.122 0.1772 0.8 31.0 0.170 0.208 0.8 6.65 Lampiran 1 Hasil pengukuran parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari Parameter kualitas air Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) Nilai parameter kualitas air pada minggu ke… 2 3 4 5 6 27.5 4.3 0.6 5.2 30 31.2 8.1225 0.0113 0.5 2.38 6.25 2.1803 0.0094 0.76 4.3 8.01098 0.0080 0.121 0.126 0.0074 0 27.3 2.136 0.6 31.71 31.0097 0.0 0.56 5.1821 0.194 0.3 2.0106 0.1998 0.08 2.14 2.34 8.0060 7 30 31.01118 0.96 2.152 0.02 2.1721 0.01032 0.2 27 29 29.1821 0.4 31.4 0.76 2.24 5.8 3.8 31.0105 0.0080 8 31 32.1 8.0090 0.6 3.2 0.59 2.3 8.272 0.1811 0.

25 7.23 7.94 4.0054 Nilai parameter kualitas air pada minggu ke… 2 3 4 5 6 30.1111 0.0109 0.0059 0.0049 .90 2.58 2.5 1.0059 0.0059 0.0060 0.0062 0.0109 0.1097 0.4 2.1814 0.90 4.74 2.0053 30.0049 30.56 31.82 2.1109 0.9 1.15 7.89 4.4 31.14 4.1113 0.8 1.25 7.0110 0.3 0.2 0.0041 30.0046 31.2 31.1104 0.1812 0.0056 0.1812 0.1813 0.0110 0.3 0.80 2.2 0.70 2.74 1.0108 0.9 1.21 7.66 Lampiran 2 Hasil pengukuran parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari Parameter kualitas air Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) 0 30.1114 0.3 0.63 2.2 31.21 7.2 31.3 1.0108 0.1714 0.0052 30.1099 0.10 4.0047 8 31.66 3.74 4.96 4.3 0.24 7.0108 0.86 2.62 4.1098 0.1813 0.2 31.94 4.0108 0.1814 0.4 0.25 7.4 2.0061 0.1099 0.0 32.0061 0.0059 0.0048 Rata-rata 7 31.0 31.6 1.68 2.0061 0.25 7.9 1.0108 0.0053 1 30.3 0.25 7.1 0.58 2.4 31.4 31.2 0.1802 0.1105 0.0109 0.1813 0.1814 0.

Parameter Arus Kecerahan Suhu pH Salinitas DO Nitrat Ortho-P Amonia Nitrit Total-P Ket t-hit 44.1229 0.9200 2.5742 31.7500 1.7500 1.9200 2.7051 3.9200 2.5856 11.67 Lampiran 3 Hasil uji t terhadap parameter kualitas air di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari periode Mei sampai Juni 2005.5900 17.1212 20.9200 2.0004 0.9200 2.7500 1.9200 2.4133 0.9200 2.7500 1.7500 1.7500 1.1938 Hasil Uji t-tab 95% 1.9200 2.7500 1.7500 1.9675 4.7500 1.9200 2.9200 Simpulan ** ** ** ** ** ** tn ** ** tn tn ** = sangat nyata tn = tidak nyata .7500 99% 2.7500 1.9200 2.3814 3.

6 128.4 125 126.8 157.5 182.9 200 185.6 151.5 155.2 8 134.3 185.2 139.5 105.6 1350.9 196.3 207.5 125 126.5 146.8 193.8 143.2 127.2 206.5 195 132.9 190.4 189.8 125 130.4 159.8 157.3 133.9 208.7 188.3 204.5 203.9 1502 150.4 132.5 152.5 220.7 154.84 6 184. alvarezii di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jumlah Rata-rata Pengamatan (minggu) 2 3 4 5 135.9 159.6 .4 125 126.5 178.3 192.6 209 196.5 155.5 186 1805 180.8 176.7 131.5 134.8 157.6 215.5 1562 2063 1907 135.5 125 126.7 197.6 187.5 7 153.5 127.9 137.5 146.8 138.6 128.8 125 127 125 126.3 125 126.6 153.9 162.5 125 125.5 154.9 163.05 156.3 174.9 186.7 138.7 0 1 125 127.3 125 125.3 190.8 132.4 133.5 208.6 137.3 1250 1268.2 126.5 153.5 206.5 133.68 Lmpiran 4 Hasil pengukuran bobot basah K.1 130.6 1306 130.

8 68.3 . Ulangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Total Rata-rata 0 125 125 125 125 125 125 125 125 125 125 1250 125 1 115.9 56.7 53.7 116.5 50.7 71.9 100.5 6 69.7 99.7 Pengamatan (minggu) 2 3 4 5 114.5 22.0 98.3 50.5 28.7 80.6 116.8 46.3 112.5 115.8 1113 1015 897 715 111.5 114. alvarezii setiap minggu di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari.6 108.8 56.6 77.6 105.4 1137 113.8 78.9 82.7 111.9 26.0 85.5 37.4 7 53.5 20.9 109.5 113.69 Lampiran 5 Hasil pengukuran bobot basah K.2 81.5 97.5 93.5 91.5 48.9 47.7 96.9 10.8 106.5 114.5 114.5 35.5 74.5 60.9 39.9 76.7 12.5 104.7 100.9 42.8 441 44.7 85.5 74.7 113.5 313 31.7 43.0 43.6 98.3 35.3 101.4 61.4 114.7 102.9 87.0 584 58.5 89.4 39.0 100.0 105.9 49.0 103.9 32.2 114.7 114.5 111.5 68.1 8 41.5 112.8 65.7 70.7 71.

10 2.52 2.36 5.75 1.55 2.10 2.55 2.75 99% 2.75 1.55 2.96 120.55 Simpulan ** ** ** ** ** ** ** * Parameter Karaginan Kadar abu Kadar air Ket t-hit 26. kadar air dan kadar abu di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari periode Mei sampai Juni 2005. Kandungan karaginan.10 2.55 2.55 2. Bobot basah (Minguan) 1 2 3 4 5 6 7 8 Ket ** = sangat nyata * = nyata t-hit 6.92 2.92 Simpulan ** ** ** ** = sangat nyata .54 7.55 2.10 99% 2.10 2.13 7.42 4.10 2.30 JHasil Uji t-tab 95% 2.10 2.10 2.42 Hasil Uji t-tab 95% 1.55 2.92 2.18 6.27 8.70 Lampiran 6 Hasil uji t terhadap bobot basah.28 63.

5 150.6 21.26 23.8 19.54 25.5 58.2 130.55 26.3 190.0 Kadar Abu (%) 17.24 21.1 21.8 13.9 3.99 20.6 20.2 21.1 23.2 206.08 22.4 44.6 4.3 101.99 7.52 7.6 22.9 Kadar Air (%) 20.23 20.94 Kandungan Karaginan (%) 8.8 13.1 31.82 23.0 126.23 4.24 23.7 180.8 20.6 9.1 1.89 1.7 111.71 Lampiran 8 Kandungan karaginan.88 22.1 156.1 19.2 13.3 Bobot basah (g) 125 113.78 20.2 16.8 20.2 22.9 3.7 Kandungan Karaginan (%) 8.8 135. kadar air dan kadar abu di lokasi budidaya sebelah barat (a) dan utara (b) pulau Pari (a) Pengamatan (minggu) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Rata-rata (b) Pengamatan (minggu) 0 1 2 3 4 5 6 7 8 Rata-rata Bobot basah (g) 125.2 21.3 21.9 20.4 21.68 Kadar Air (%) 20.25 6.32 1.5 10.3 82.9 19.5 8.21 22.8 16.2 21.21 23 25.7 71.6 155.5 89.12 20.23 26.5 21.7 9.2 22.06 Kadar Abu (%) 16.78 .

76 1.215 0.45 0.55 0.194 F2 0.92 0.974 0.193 0.20 1.34 16.50 14.276 0.126 -0.57 0.915 0.006 -0.153 0. Korelasi antara variabel dengan sumbu utama F1 Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) -0.06 41.441 0.28 0.19 2.482 -0.93 1.51 0.60 13.16 4.702 0.98 2.63 F3 0.14 7.199 0.437 0.91 7.30 .188 0.44 0.92 0.89 8.00 0.954 -0.12 12.105 0.07 0.55 F2 0.955 0.768 -0.264 -0.89 39.66 3.73 12. F1 13.20 42.068 B.096 -0.875 F3 -0.923 0.06 2.72 Lampiran 9 Hasil analisis komponen utama lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari A.22 0.47 12.74 2.38 0.28 3.568 0.45 Kumulatif % 56 72 85 93 97 99 100 100 C.255 0.055 0.03 0.61 0.27 0.05 %Total ragam 56.808 -0.030 0.083 -0.513 -0.57 1.53 4. Kontribusi antara variabel pada sumbu utama Variabel Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) .94 9.03 16.82 10.04 12.803 0.66 3.091 0. Akar ciri representasi ragam pada sumbu utama Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 Akar Ciri 6.

5 1 1.5 -.axis F1 (53 %) --> .5 -1.5 -1 -0.5 0 0.5 1 1.5 -.73 D.5 Salinitas Nitrit Amoniak (mg/l) Suhu pH Nitrat Ortho-P DO Arus 0 -0.axis F2 (17 %) --> 0.5 -1.5 -1 -1.5 -1 -1.5 1 Kec Total-P -.5 Amoniak (mg/l) Salinitas pH Suhu Nitrat Arus DO 0 Kec Nitrit -0. Sebaran kualitas air (F1 x F2) dan Korelasi antara Variabel (F1 x F3) di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari Variables (axis F1 and F2: 71 %) 1.5 1 Ortho-P Total-P -.5 -1 -0.5 0 0.axis F3 (14 %) --> 0.axis F1 (53 %) --> Variables (axis F1 and F3: 67 %) 1.

307 .28 88.099 0.570 0.343 0.711 0.80 14.81 100.393 18.540 0.758 9.079 2.451 0.987 0.275 1.186 -0.629 -0.018 7.737 F3 0.718 -0.74 Lampiran 10 Hasil analisis komponen utama lokasi budidaya sebelah utara pulau Par i A.57 99.122 0.406 6.720 0.140 1.313 1.562 8.234 0.87 20.037 0.603 -0.328 0.208 F3 -0.372 0.023 -0.71 0.544 23.693 0.887 F2 0.19 Kumulatif % 44.142 13.149 29.564 0.201 B Akar ciri representasi ragam pada sumbu utama Nilai 1 2 3 4 5 6 7 8 %Total Ragam 44.526 -0.622 F2 4.010 14.761 0.324 -0.273 5.018 20.547 16.230 0.07 4.66 80.906 -0.240 5.406 1.855 -0.191 0. Korelasi antara variabel dengan sumbu utama Parameter Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) F1 0.224 0.205 0.555 -0.969 17.857 0.083 0.87 65.681 8.576 5.466 2.10 99.673 0.360 0.22 6.53 0.557 6.62 8.00 C Kontribusi antara variabel pada sumbu utama Parameter Suhu (°C) Salinitas (‰) Arus (cm/dtk) Oksigen terlarut (mg/l) Kecerahan (m) pH Nitrat (mg/l) Nitrit (mg/l) Amonia (mg/l) Total-P (mg/l) Ortho-P (mg/l) F1 15.209 1.603 29.115 2.50 94.

5 -1.5 1 1.75 D.axis F3 (15 %) --> 0.5 -1.axis F2 (21 %) --> 0.axis F1 (45 %) --> .5 1 Nitrit -.5 -1 -1.axis F1 (45 %) --> Variables (axis F1 and F3: 59 %) 1. Sebaran kua litas air (F1 x F2) dan (F1 x F3) di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari.5 1 1. Variables (axis F1 and F2: 66 %) 1.5 pH Arus DO Ortho-PSalinitas 0 Nitrit Kec Amoniak (mg/l) Suhu -0.5 -.5 -1 -0.5 0 0.5 DO Salinitas 0 Ortho-P Arus Total-P Amoniak (mg/l) Kec Suhu -0.5 -1 -0.5 pH Nitrat -1 -1.5 0 0.5 -.5 1 Total-P Nitrat -.

001 0.002 0.34. dengan suhu.2 F 57.7888 SE Coef 166.89 P 0.3 -34.82 P 0.2 55. arus dan oksigen terlarut minggu ke5-ke8 di lokasi budidaya sebelah barat pulau Pari (minggu ke1-ke4) Source DF Regression 2 Residual 5 Total 7 R-Sq = 83% Predictor Constant Nitrat Ortho-P Coef -281.7 4894.019 -7.8601 T 11.13 -6.06 P 0.23 1550.6 MS 3597.1 13.001 Persamaan Regresi : BB = .000 Coef 1852.7 3.78 -9.281 + 1551 nitrat + 14596 ortho-P (minggu ke5-ke8) Source Regression Residual Total R-Sq = 98.11 -9.001 Persamaan Regresi : BB = 1852 .10 Oksigen .70 P 0.691 -10.477 0.76 Lampiran 12 Analysis of Variance hubungan pertumbuhan dengan unsur hara (nitrat.9 MS 1613.66 6.001 0.79 Arus .3 62.0 2179 T -5.9% Predictor Constant Suhu Oksigen Arus DF 3 4 7 SS 4839.9 F 115.44 233. ortho pospat) minggu ke1-ke4.800 1.7 Suhu .7.81 6.000 SE Coef 48.000 0.6 5 311.002 0.9 14596 SS 7194.1 7505.

14 oksigen .2 8.74 arus + 8.2 45.008 0.31 9.63 1.3 arus .10 4.013 0. arus dan oksigen di lokasi budidaya sebelah utara pulau Pari (minggu ke1-ke4) dan (minggu ke5-ke8) (Minggu 1 .77 Lampiran 12 Analysis of Variance hubungan pertumbuhan dengan suhu.2% Predictor Constant Suhu Arus Oksigen DF 3 4 7 SS 317.7 19.48 F 71.94 323.52 oksigen (Minggu 5 .6.49 1805.8) Source Regression Residual Total R-Sq = 99% Predictor Constant Suhu Oksigen Arus DF 3 4 7 SS 1786.008 Persamaan Regresi : BB = -981 + 19.335 SE Coef 307 10.3 suhu + 4.27 P 0.61 4.037 0.733 T -3.003 Persamaan Regresi : BB = -1489 + 45.83 P 0.4) Source Regression Residual Total R-Sq = 98.7419 8.62 F 128.84 18.43 P 0.993 3.938 T -4.001 Coef -980.5211 1.77 1.279 4.10 -6.037 0.329 0.85 4.08 2.524 SE Coef 318.24 -3.1 suhu + 25.042 0.33 MS 595.24 MS 105.08 6.143 25.001 0.92 P 0.000 Coef -1489.30 5.

536 0.60 21.37 -1.913 0.07 P 0.35 P 0.64 1283 204.1 T 0.78 Lampiran 13 Analysis of Variance hubungan karaginan dengan unsur hara di lokasi budidaya sebelah barat dan utara pulau Pari Barat Source Regression Residual Error Total R-Sq = 84.5 6049 527 SE Coef 1293 856.020 0.018 Coef 21.52 P 0.786 MS 34.1 SE Coef 32.130 0.1 1391 7060 T -0.055 18.731 121.6% Predictor Constant Nitrat Ortho-P Amonia DF 3 5 8 SS 53.234 Utara Source Regression Residual Error Total R-Sq = 79.6% Predictor Constant Nitrat Ortho-P Amonia DF 3 5 8 SS 103.746 F 9.29 4.581 13.007 0.11 0.81 3.66 1.352 3.22 4321 -276.780 0.696 67.943 .277 MS 17.17 P 0.860 2.35 0.67 39.739 F 6.035 Coef -149 252.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful