Anda di halaman 1dari 9

Resume

Dalam Sistem Tegangan Tinggi


Saluran tegangan tinggi dapat menimbulkan masalah terhadap sistem tegangan tinggi
itu sendiri yang meliputi :

a. Korona
Tingginya gradien tegangan pada permukaan penghantar memungkinkan muatan
lepas dari permukaan penghantar tersebut.









Gambar 1.6. Korona Pada Isolator Pin (duduk) Saluran 11 kV
Lepasnya muatan tersebut dalam skala yang besar akan terlihat seperti cahaya di sekitar
permukaan penghantar (lihat gambar 1.6). Hal inilah yang disebut sebagai korona dan
dapat menimbulkan rugi-rugi daya pada penghantar. Korona dapat ditekan dengan
memperluas penampang penghantar dengan membuatanya berbentuk bundle (pilin).
Korona pada isolator dapat menyebabkab isolator pecah.

b. Rugi-rugi daya
Saluran transmisi memiliki resistansi yang akan menimbulkan rugi-rugi daya
sebagaimana dijelaskan pada sub-bab 1.2. Rugi-rugi daya ini dapat dikurangi dengan
mempertinggi tegangan sistem yang digunakan.

c. Tegangan lebih
Saluran tegangan tinggi mempunyai kapasitansi yang terdistribusi di sepanjang
penghantar. Kapasitansi ini terdiri atas kapasitansi terhadap tanah dan kapasitansi
terhadap kawat-kawat fasa. Adanya arus pada kapasitansi ini atau arus bocor akan
mengakibatkan tegangan lebih pada ujung saluran tanpa beban. Hal ini dapat diatasi
dengan kompensasi oleh inductor.

d. Impuls

Impuls dapat terjadi pada proses switching yang harus dilakukan pada saat pemasukan
atau pelepasan beban. Operasi ini menimbulkan perubahan terhadap parameter
dinamis system dengan seketika yang kemudian dikenal dengan impuls. Adanya
impuls ini dapat merusak peralatan terutama isolasi.

e. Gangguan petir
Pemasangan instalasi tegangan tinggi biasanya berada lebih tinggi dibanding saluran
tegangan rendah, hal ini menyebabkan kemungkinan terkena sambaran petir lebih
tinggi. Gangguan petir ini dapat diatasi dengan perlindungan terhadap petir. Peralatan
yang biasanya digunakan adalah Lightning Arrester, yang dipasang di dekat peralatan
listrik vital seperti transformator.


Kegagalan (Breakdown) dalam Gas
3.1. Ionisasi
Ionisasi karena Benturan (Collision)
Proses ionisasi karena benturan terjadi jika sebuah elektron bebas
menumbuk/membentur molekul gas (udara) dan menimbulkan elektron baru dan ion positif.
Ionisasi Karena Cahaya (Fotoinonisasi)
Proses ionisasi membutuhkan energi, jika energi cahaya dengan frekuensi f sebesar h.f
dengan h adalah konstanta Plank maka Kuantum energi atau foton ini akan dapat mengionisasi
molekul yang netral dalam gas apabila
h.f Wi (3 3)
dalam hal ini Wi adalah energi ionisasi yang dimiliki oleh logam Katoda. Jika energi cahaya
lebih kecil dari energi ionisasi maka tidak terjadi ionisasi bahkan cahaya tersebut akan terserap
ke dalam molekul gas. Ionisasi akan terjadi jika panjang gelombang cahaya yang dikenakan
memenuhi persamaan berikut

Wi
h
c. s (3 4)
dalam hal ini Wi = energi ionisasi atom (joule)
= panjang gelombang cahaya (m)
h = konstanta Plank (6,6 . 10
-34
Js)
c = kecepatan cahaya di udara (3.10
8
m/s)

menurut MS Naidu dalam bukunya High Voltage Engineering, berdasarkan penelitian cahaya
yang memiliki panjang gelombang 1250 dapat menyebabkan fotoinonisasi hampir pada
semua gas. Secara umum proses fotoionisasi dapat dinyatakan dengan persamaan
A + h.f A
+
+ e
-
(3 5)
Dengan h.f adalah energi foton, f adalah frekuensi cahaya dan e adalah foto elektron
yang lepas dari katoda. A adalah molekul mula-mula dan A
+
adalah molekul yang 1
elektronnya lepas.


3.1.3. Thermal Ionisasi
Thermal ionisasi terjadi karena adanya energi yang disebabkan oleh pemberian kalor
pada atom netral. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa semakin besar suhu suatu atom maka
atom tersebut akan memperoleh energi sehingga atom tersebut bergerak lebih cepat dan
membentur atom-atom yang lain, saat tersebut memungkinkan terjadinya ionisasi.

3.2. Mekanisme Kegagalan Townsend
3.2.1. Mekanisme Primer
Mekanisme primer adalah mekanisme yang memungkinkan terjadinya avalanche
(banjiran elektron), mekanisme ini merupakan proses lepasnya elektron dari Katoda baik
karena cahaya atau penyebab lain. Dalam hal ini katoda (pelepas elektron) berfungsi sebagai :
a. menyediakan elektron awal yang harus dilepaskan
b. mepertahankan pelepasan
c. menyelesaikan pelepasan
Sebagaimana dapat dilihat pada gambar 3.1. setelah elektron lepas dari katoda, ia masuk
ke daerah medan listrik yang terdapat antara katoda dan anoda sehingga gerakannya
dipercepat. Pada saat elektron bergerak sejauh x dari katoda maka jumlah elektron akan
bertambah.

Mekanisme Sekunder
Mekanisme sekunder merupakan kelanjutan dari mekanisme primer, dapat dijelaskan
sebagai berikut. Pada saat terjadi pelepasan elektron dari katoda maka di katoda tinggallah
muatan positif. Elektron yang lepas dari katoda tersebut dipercepat oleh medan listrik,
elektron tersebut akan menumbuk molekul - molekul atau atom - atom yang terdapat di antara
katoda dan anoda, tumbukan tersebut dapat menghasilkan elektron-elektron baru. Elektron-
elektron ini akan membentuk banjiran elektron (avalanche) menuju anoda. Selain menghasilkan
elektron, tumbukan juga menghasilkan ion positif. Jika elektron bergerak menuju anoda maka
ion positif bergerak menuju katoda, tetapi karena ion positif mempunyai massa yang lebih
besar (1,6 . 10
-27
Kg) gerakannya lebih lambat dibading elektron. Proses ini dapat dijelaskan oleh
gambar berikut








Gambar 3.4. Mekanisme Kegagalan Sekunder

Mekanisme sekunder merupakan mekanisme penting, emisi elektron karena benturan
ion positif pada katoda. Jika ion positif tersebut ditembakkan ke permukaan katoda maka akan
dibebaskan elektron dari katoda dan akan terjadi banjiran elektron sekunder, hal ini tergantung
pada jarak antara katoda dan anoda. Kegagalan akan terjadi jika jumlah ion positif hasil
tumbukan sama atau lebih besar dari jumlah ion positif yang dibutuhkan untuk terjadinya
banjiran sekunder.


Proses Kegagalan Zat Cair
Kegagalan Elektronik pada Zat Cair
Zat cair dianggap berkelakuan seperti gas, maka agar terjadi kegagalan diperlukan adanya
elektron awal yang dimasukkan dalam zat cair. Elektron awal inilah yang akan memulai proses
kegagalan. Walaupun kuat medannya cukup besar, tetapi jika tidak terdapat elektron awal
maka tidak akan terjadi kegagalan. Jika di antara elektroda tersebut diterapkan kuat medan
yang kuat, sedangkan pada elektroda tersebut terdapat permukaan yang tidak rata (runcing),
maka kuat medan yang terbesar terdapat pada bagian ujung (paling runcing). Kuat medan
maksimum tersebut kemudian akan mengeluarkan elektron e1 yang akan memulai
terbentuknya banjiran elektron. Dalam teori kegagalan elektronik dianggap bahwa elektron-
elektron tertentu akan memperoleh energi dari medan yang lebih besar daripada energi yang
hilang karena benturan dengan molekul-molekul.

Kegagalan Gelembung pada Zat Cair (Bubble Theory)
K A
e
atom
Ion +
e
Kegagalan gelembung atau kavitasi atau gas pada zat cair merupakan bentuk kegagalan
zat cair yang disebabkan oleh adanya gelembung-gelembung gas di dalamnya. Menurut Kao
dan Krasucki, hal tersebut disebabkan oleh :
1. permukaan elektroda tidak rata, sehingga terdapat kantong-kantong udara di
permukaannya;
2. adanya tumbukan elektron, sehingga timbul gas;
3. penguapan cairan karena adanya lucutan pada bagian-bagian elektroda yang tajam dan
tak teratur;
4. zat cair mengalami perubahan suhu dan tekanan.

Kegagalan Bola Cair dalam Zat Cair
Jika zat cair mengandung bola-bola cair dari jenis cairan yang lain, maka dapat
mengakibatkan kegagalan pada zat cair tersebut. Hal ini disebabkan oleh ketidakstabilan bola
cair tersebut dalam medan listrik. Medan listrik ini akan mempunyai pengaruh kepada bentuk
bola cair. Bola cair yang dikenai medan listrik E akan berubah bentuk menjadi sferoid dengan
medan di dalamnya sebesar E2. Maka hubungan antara kedua medan tersebut adalah






Gambar 5.3. Medan Listrik yang Berbentuk Sferoid


G
E
E
) (
2 1 1
1
2
c c c
c

= (5 2)
dengan
)
`


=

1
) 1 (
cosh .
1
1
2 / 1 2
1
2

G (5 3)
dan
1
2
R
R
= (5 4)
Dalam persamaan di atas
R1 = jari-jari pendek sferoid
R2 = jari-jari panjang sferoid
1 = permitivitas zat isolasi cair
2 = permitivitas bola cair
Contoh kegagalan dielektrik cair karena adanya bola cair ditunjukkan oleh gambar 5.4.
sesudah terjadi ketidakstabilan bola cair memanjang, dan bila panjangnya telah mencapai dua
R
1
R
2
pertiga celah elektroda maka saluran-saluran lucutan akan timbul yang akan menyebabkan
kegagalan total.







Gambar 5.4. Contoh Kegagalan Bola Cair dalam Isolasi Cair

Kegagalan Butiran Padat dalam Zat Cair
Kegagalan butiran zat padat adalah jenis kegagalan yang disebabkan oleh adanya butiran zat
padat dalam isolasi cair yang akan memulai terjadinya kegagalan. Butiran padat tersebut
memiliki permitivitas yang berbeda dengan zat isolasi cair. Jika butiran-butiran tersebut
mempunyai permitivitas 2 dan zat isolasi cair mempunyai permititivitas 1 maka besarnya gaya
yang bekerja pada butiran dalam medan yang tak seragam menurut Kok adalah

2
2 1
1 2
3
.
2 2
1
E grad
r
F
c c
c c
+

= (5 5)
dengan r adalah jari-jari butiran dan E adalah gradient tegangan
Terdapat dua kemungkinan yang dapat terjadi :
1. jika 2 > 1 maka arah gaya yang bekerja pada butiran searah dengan tekanan listrik
maksimum sehingga gaya akan mendorong butiran ke arah bagian yang terkuat dari
medan;
2. jika 2 < 1 maka arah gaya berlawanan dengan tekanan listrik maksimum.
Apabila 2 semakin besar maka F akan semakin besar pula, Untuk medan listrik yang
seragam seperti di antara elektroda piringan sejajar atau elektroda bola dengan celah kecil maka
grad E
2
sama dengan nol dan butiran dalam keadaan seimbang. Hal ini menyebabkan butiran
akan ditarik oleh gaya pada persamaan di atas, yang akan menyebabkan butiran-butiran zat
padat seolah-olah membentuk jembatan yang akhirnya akan mengawali terjadinya kegagalan.







Elektroda
Elektroda
Zat Cair butiran

2 F




Gambar 5.5. Mekanisme Kegagalan karena Butiran Padat dalam Zat Cair

Adanya butiran penghantar di antara elektroda akan menyebabkan pembesaran medan
dalam zat isolasi cair di dekat butiran. Pembesaran medan ini dipengaruhi oleh bentuk butiran,
yaitu :
1. untuk butiran bulat ( = 1) E1 = 3 E
2. untuk butiran sferoid ( = 2) E1 = 5,8 E
3. untuk butiran sferoid ( = 5)E1 = 18 E
di mana adalah perbandingan jari-jari panjang terhadap jari-jari pendek sferoid
E adalah medan dalam cairan tanpa butiran
E1 adalah medan dalam cairan pada ujung butiran
Apabila E1 melebihi tegangan gagal cairan maka akan terjadi kegagalan setempat yang
kemudian menimbulkan gelembung-gelembung yang akhirnya dapat menyebabkan kegagalan
total pada cairan.

Kegagalan Campuran Zat Cair-Padat
Beberapa peralatan listrik terbuat dari bahan campuran cair dan padat seperti kapasitor,
kabel tegangan tinggi dan transformator. Namun yang paling banyak digunakan adalah kertas
yang dicelup dalam minyak. Walaupun memiliki kelemahan (mudah menyerap air) tetapi
kertas tetap dipakai karena mudah diperoleh, tidak mahal dan mudah digunakan.
Selain disebabkan oleh tegangan lebih kegagalan pada isolasi cair-padat biasanya
disebabkan oleh proses pemburukan yang lamban oleh rugi-rugi dielektrik. Dalam medan
listrik terdapat dua jenis pemburukan yang mengakibatkan kegagalan isolasi cair-padat yaitu :
1. pemburukan karena pelepasan dalam
2. pemburukan elektrokimiawi
Pemburukan jenis pertama pada bahan dielektrik cair-padat organis, pelepasan
mengakibatkan pemburukan perlahan-lahan karena :
a. disintegrasi dielektrika padat karena pemboman oleh elektron dan ion yang dihasilkan
oleh pelepasan.
b. aksi kimiawi pada dielektrik dari hasil ionisasi gas
c. suhu tinggi di daerah pelepasan
Sedangkan pada dielektrik cair-padat tak organis dengan kestabilan kimiawi yang
tinggi, pelepasan dalam kandungan gas dapat merusak bahan karena pemanasan setempat
akibat pelepasan yang dapat menyebabkan tekanan-tekanan mekanis dalam bahan. Selain itu
juga dapat membentuk retakan dan mengakibatkan kegagalan melelui retakan.
Pemburukan jenis kedua, ion-ion yang dibebaskan oleh arus pada elektroda dapat
menyebabkan kerusakan. Derajat kerusakanya tergantung pada sifat ion yang terbawa dan
pada reaksi kimiawinya dengan isolasi. Pemburukan ini merupakan penyebab utama
kegagalan pada dielektrik kertas cair seperti pada kapasitor.
Apabila dilakukan pengukuran pada dielektrik padat yang dicelup tak sempurna dalam
cairan (minyak) sehingga menimbulkan gas di dalamnya, maka pelepasan akan terjadi pada
tekanan listrik rendah dan sering lebih rendah dari tekanan listrik normal. Semua rongga dalam
dielektrik dapat dihilangkan dengan mencelupkan zat padat dengan sempurna pada isolasi
cair. Hal ini akan menaikkan tekanan listrik mula pelepasan, nilai tekanan listrik ini tergantung
pada proses listrik yang menyebabkan gas terjadi.
Bila gelembung gas terjadi pada dielektrik kertas-minyak pada tekanan mula pelepasan
Ei, maka pelepasan dalam gelembung akan merusak minyak dan menambah jumlah gas yang
terjadi sehingga gelembung menjadi semakin besar dan pelepasan ini akan merusak dielektrik.


Tegangan tinggi yang diterapkan atau dialami oleh sistem tenaga dapat berupa:
a. Tegangan biasa (normal), yaitu tegangan yang seharusnya dapat ditahan oleh sistem
tersebut untuk waktu tak terhingga.
b. Tegangan lebih (overvoltage) yang hanya dapat ditahan untuk waktu terbatas
Tegangan lebih dapat dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan
1. Bentuknya, yakni: a. tegangan periodik
b. tegangan a-periodik
2. Sebab: a. Sebab luar (external overvoltage), contoh: petir
b. Sebab dalam (internal overvoltage), contoh: switching surges
3. Macamnya: a. Tegangan lebih luar (natural overvoltage) contoh: petir
b. Tegangan lebih dalam (man-made overvoltage) contoh: proses
switching.
4. Klasifikasi menurut International Electrotechnical Commision:
a. Tegangan lebih petir
b. Tegangan lebih surja hubung
c. Tegangan lebih sementara (temporary overvoltage) ialah: tegangan lebih fasa-ke-tanah atau
fasa-ke-fasa yang berosilasi, berlangsung lama dan tidak atau kurang teredam (weakly
damped)

Pada umumnya kegagalan alat-alat listrik pada waktu sedang dipakai disebabkan karena
kegagalan isolasinya dalam menjalankan fungsinya sebagai isolator tegangan tinggi.
Kegagalan isolasi (isolation breakdown, insulation failure) ini disebabkan karena beberapa hal
antara lain: - isolasi tersebut sudah dipakai untuk waktu yang lama
- kerusakan mekanis
- berkurangnya kekuatan dielektriknya
- karena isolasi tersebut dikenakan tegangan lebih.
Tujuan pengujian tegangan tinggi:
1. Menemukan bahan (didalam atau yang menjadi komponen suatu alat tegangan tinggi)
yang kwalitasnya tidak baik, atau yang cara membuatnya salah.
2. Memberikan jaminan bahwa alat-alat listrik dapat dipakai pada tegangan normalnya
untuk waktu yang tak terbatas.
3. Memberikan jaminan bahwa isolasi alat-alat listrik dapat tahan terhadap tegangan lebih
(yang didapati dalam praktek operasi sehari-hari) untuk waktu terbatas.
Pengujian dapat dikategorikan menjadi dua:
1. Tidak merusak (non destructive) alat yang diuji, misal: pengukuran tahanan isolasi,
pengukuran faktor daya dielektrik (dielectric power factor), pengukuran korona dsb.
2. Merusak (destructive). Terdiri dari 3 tahap yang bergantung kepada tingkat tegangan:
a. Pengujian ketahanan (withstand test): sebuah tegangan tertentu diterapkan untuk
waktu yang ditentukan. Bila tidak terjadi lompatan api (flashover, disruptive discharge), maka
pengujiannya dianggap memuaskan.
b. Pengujian pelepasan (discharge test): tegangannya dinaikkan sehingga terjadi pelepasan
pada benda yang diuji. Sudah barang tentu tegangan pelepasan ini lebih tinggi dari tegangan
ketahanan. Pengujiannya dapat dilakukan dalam suasana kering (udara biasa) dan suasana
basah (menirukan keadaan hujan).
c. Pengujian kegagalan (breakdown test): tegangan dinaikkan sampai terjadi kegagalan
(breakdown) di dalam benda (specimen) yang diuji.