Anda di halaman 1dari 6

Transgender Transgender adalah istilah yang digunakan untuk mendeskripsikan orang yang melakukan, merasa, berpikir atau terlihat

berbeda dari jenis kelamin yang ditetapkan saat mereka lahir. "Transgender" tidak menunjukkan bentuk spesifik apapun dari orientasi seksual orangnya. Orang-orang transgender dapat saja mengidentifikasikan dirinya sebagai heteroseksual, homoseksual, biseksual, panseksual, poliseksual, atau aseksual. Definisi yang tepat untuk transgender tetap mengalir, namun mencakup:

"Tentang, berkaitan dengan, atau menetapkan seseorang yang identitasnya tidak sesuai dengan pengertian yang konvensional tentang gender laki-laki atau perempuan, melainkan menggabungkan atau bergerak di antara keduanya."[1] "Orang yang ditetapkan gendernya, biasanya pada saat kelahirannya dan didasarkan pada alat kelaminnya, tetapi yang merasa bahwa deksripsi ini salah atau tidak sempurna bagi dirinya."[2] "Non-identifikasi dengan, atau non-representasi sebagai, gender yang diberikan kepada dirinya pada saat kelahirannya."[3]

Gambar di kanan contohnya, adalah orang yang berpakaian sebagai wanita, tetapi ia menunjukan tanda pada tangannya bahwa ia memiliki kromosom XY. Hal ini berarti ia terlahir sebagai pria.

Menurut para ilmuwan :

Penyebab psikologis 1 beberapa penelitian menyebutkan hal ini terjadi karena orang tersebut sakit hati dengan lawan jenisnya (pasangan/kekasih) hingga menyebabkan trauma. Sewaktu orang tersebut mencari pelarian, tentunya yang dicari adalah teman terdekat (sama jenis) kemudian mulai lah terjadi crossing antara 2 gen yang ia sendiri tidak menyadari. Hingga ia merasa aman dan nyaman dengan sesama jenisnya. Dengan besarnya perhatian yang ia terima dari sesama jenisnya, ia pun mulai terbuka hatinya, dan cinta dengan sesama jenisnya. Penyebab psikologis 2 Ilmuwan berpendapat juga kemungkinan faktor dalam keluarga, pengalaman atau trauma yang dialami pada masa kanak-kanak dapat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak tersebut. Misalnya pada saat anak tersebut dikasari oleh ibu atau bapaknya dan kurangnya sentuhan kasih sayang yang diberikan orang tua pada anaknya sehingga si anak beranggapan bahwa semua lelaki atau perempuan itu dapat bersikap kasar dan mudah bertindak brutal yang memungkinkan anak tersebut benci pada golongan itu. Penyebab psikologis 3 beberapa penelitian menemukan para transgender merasa tidak nyaman dengan jenis kelaminnya sendiri. Semakin tidak bisa ia dapatkan, semakin jadi tantangan buat orang tersebut untuk memiliki jenis kelamin orang lain (yang ia anggap itu lebih baik dari dirinya). Dikarenakan tidak pede dengan kondisi tubuh sendiri sehingga menginginkan kondisi tubuh orang lain. Kalau mau yang lengkap baca disini. Penyebab biologis 1 Yang termudah ditemukan oleh peneliti karena adanya ketidak seimbangan hormon pria/wanita di dalam tubuhnya masing-masing. Terlalu banyaknya hormon eksogin terhadap pria/wanita bisa menyebabkan orang tersebut menjadi homoseksual/lesbianisme (menyukai sesama jenis). Silahkan baca disini untuk lebih jelas.

Menurut agama : Pandangan Katolik Gereja selalu menjelaskan, bahwa perbuatan homoseksual itu tidak baik (CDF, Perny. Persona humana 8). Perbuatan itu melawan hukum kodrat, karena kelanjutan kehidupan tidak mungkin terjadi waktu persetubuhan. Perbuatan itu tidak berasal dari satu kebutuhan benar untuk saling melengkapi secara afektif dan seksual. Begitu pula dengan trans-gender mengubah kelamin yang bukan seharusnya melainkan yang telah diberikan Tuhan. Yang lengkap baca disini. Pandangan Budhist Dalam kehidupan umat awam antara pria dan wanita, di mana ada kesepakatan bersama, dimana tidak ada perbuatan penyelewengan, di mana hubungann seksual adalah ungkapan rasa cinta hormat, kesetiaan dan kehangatan, ini semua tidaklah melanggar sila ke-3. Dan sama pula halnya apabila kedua orang tersebut berjenis kelamin sama. Silahkan ikut baca yang lengkap disini, soalnya seru.

Tujuan Transgender Tujuan saya tetap satu, ingin bahagia sebagai perempuan karena saya merasa terlahir sebagai perempuan.Menjadi transgender sama sekali bukan menjadi gay atau homoseksual. Istilah yang lebihdekat untuk situasi ini adalah lahir di tubuh yang salah, dan itu sudah banyak diangkat oleh berbagaimedia di luar negeri, salah satunya Oprah. Sementara, laki-laki yang menjadi partner transgender, juga bukan gay sebuah kutipan dari majalah elktronik Membaca dari sebuah majalah elktronik "suara hati seorang transgender", suatu hal yangsangat menarik mengenai sebuah kisah seseorang yang ingin melakukan transgender. Saat inimerupakan suatu rahasia umum dimana mereka secara gamblang menceritakan keingain merekauntuk melakukan transgender di muka publik. bukan itu saja, hal ini mereka lakukan semata hanyauntuk mendapatkan dukungan dari para penyimak media cetak dan media masa sertamembenarkan tindakan yang akan mereka lakukan.Sejatinya diIndonesia transgender merupakan hal yang sangat tabu, melihat indonesi masihmemegang teguh ada ketimuran dan melihat penduduk indonesia yang memang mayoritas muslim,hal ini tentu saja menjadi satu hal yang sangat kontroversi. bukan hanya itu, kecaman dari parapetinggi diindonesia yang kurang setuju dengan mereka yang melakukan transgender semakinmembuat maraknya kontroversi diindonesia.Lalu apakah mereka yang ingin melakukan transgender harus dijauhi atau di musuhi? Kalauiya, Lalu apa alasan kita untuk memusuhi mereka, bukankah mereka merasa bahwa itu bukanlahsuatu kesalahan. Bahkan di indonesi bukannya sangat menjunjung tinggi nilai demokratis dantoleransi. Lalu dimana salahnya mereka?Sebelum kita lebih jauh membahasnya ada baiknya kita bertanya pada mereka mengenai : Alas an Transgender apa yang membuat mereka tertarik untuk melakukan transgender? apakah benar dengan istilah "lahir di tubuh yang salah"? seberapa besar faktor luar yang mendukung mereka dalam melakukan transgender?Berangkat dari cerita diatas, saya melihat ada sesuatu hal yang sangat menarik yang membuat sayaingin ikut mendalami mereka yang melakukan transgender. Akan ada beberapa aspek yang dapat dilihat, sehingga mereka sagat yakin untuk melakukan transgender.1. 1. Aspek Perkembangan Sejatinya manusia memiliki sifat Oedipus complex yang mana ada perasaan bersaindengan orang tua (ayah) untuk mendapatkan perhatian oleh lawan jenisnya (ibu), dinamahal itu terjadi

pada vase perkembangan anak usia 3-6 tahun. Ketika hal itu dengan suksesterjadi maka anak akan menjadi suatu pribadi yang mengenal akan identitas diri merekasebagai mana mestinya. Namun sebaliknya, jika hal itu gagal di lewati sang anak makamungkin akan menyebabkan gangguan psikolosis seperti neorosis, pedopelia danhomoseksual. Serta pada usia perkembangan anak di vase genetal yaitu anak mulai memasuki vase pubertas dimana dorongan hormon seksual anak memasuki masa sensitif Sigmun freud.Jika ditinjau dari pembahsan diatas maka tak heran, bahwa setiap individu memilikikesempatan yang sama untuk melakukan transgender. Bukan hanya itu pengalaman anak pada masa anak anak juga sangat berperan penting seperti pola asuh orang tua dandukungan orang tua ketika anak menghadapi masalah dalam vase perkembangan. Seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sosok seorang ayah yang ringan tangan terhadap ibunya, yang dilakukan di depan sanga anak. Atau perlakuan kasar seorangayah terhadap anak laki lakinya hal itu bisa menjadikan sebuah contoh baik dan buruk bagi perkenbangan anak, ketika anak mendapatkan dukukngan penuh tentang sosok seorang laki laki yang ideal di luar rumahnya, maka anak akan dapat menjalankanidentitas dirinya sebgaimana mestinya seorang laki laki, namun ketika anak tidak mendapatkan dukungan dan pengetahuan lain maka anak akan tumbuh besar dengan rasaketakutan dan membuat anak akan membenci sosok seorang yang melakukan KDRTtersebut dan bahkan sampai bisa menyalahkan dirinya. Mengapa ia harus sejenis Dengansosok seseorang tersebut. Kontan saja hal itu memiliki dampak yang panjang bagi sang anak tersebut.2.

2. Aspek Kepribadian Secara garis besar manusia terbentuk menjadi dua tipe kepribadian Ekstrovert (orang yang mampuh mengeksplorkan kemampuan dirinya) dan Introvert (orang yangtidak mampuh menunjukan kemampuan dirinya). Hal itu juga menjadi sebuahpertimbangan yang cukup besar dalam seseorang mengambil keputusannya.Bisa di bayangkan bagaimana jadinya jika tipe ini di leburkan dengan pola asuh danproses perkembangan diatas.3. 3. Aspek lingkungan (eksternal) Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan sangat berperan penting dalamkehidupan seorang individu, bahkan sampai ada fatwa arab berkata jika ingin menilaiseseorang maka liatlah dimana dia tinggal dan dengan siapa dia teman. Sering kali kitamendengan orang tua mengatakan dan mungkin juga kita salah satu di antara orang ituyang pernah menda patkan pesan dari oragtua jangan pernah memilih dalam berteman. Sementara kita tau bahwa banyak sekali hal yang kita dapat pelajari dari lingkungan mulaidari sopan santun hingga cara memperlakukan orang lain. Lingkungan sangat berperanpenting, ketika seseorang tumbuh dan berkembang dalam sebuah lingkungan yang sangat menjunjung tinggi sebuag Attitude maka yakinlah anak itu akan terbentuk dengan sebuahattitude yang sangat baik, namun sebaliknya jika anak di kembanangkan dengan sebuahattitude yang tidak baik maka anak itu akan tumbuh dan berkembang hampir sama denganlingkungan sekitarnya. Sehingga sedikit kesalahan jika ada yang mengatakan Kurang Ajar suatu makna yang menyatakan bahwa anak itu kurang di ajar oleh orangtuanya, saya rasa orangtua manapun akan mengajar anak mereka secara maksimal dengan tatnan hidup yang sangat baik,namun terkadang lingkungan yang membuatnya kurang ajar.Sehingga dari aspek aspek diatas dapat saya menjawab pertanyaanya. apa yang membuat mereka tertarik untuk melakukan transgender? Karena adanya pengalaman pribadi yang buruk serta contoh yang kurang baik yangmembuat mereka terpancing untuk melakukan itu, serta adanya perkembangan yang tidak terlaksanakan dengan baik. bukan itu saja faktor kepribadian juga ikut menunjang sepak terjangnya menjadi sebagai seorang transgender. apakah benar dengan istilah "lahir di tubuh yang salah"?

Jelas salah, hal itu tidak akan pernah di benarkan dari sudut pandang apapun, mulai dariilmuan hingga agama, Allah menciptakan manusia dengan bentuk ynag paling sempurna,dan Allah tidak akan melakukan kesalahan dalam proses penciptaanya. salah satu tandakekuasannya Allah. Ia menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam agar Adam tidak merasakan kesepian dan agar Adam mendapatkan keturunannya darinya.sdangkan parailmuan berpendapat tidak aka nada satu tubuh memiliki dua fungsi yang berbeda dansecara hormon pun mengalami perbedaan yang sangat signifikan, salah satunya akan selalutampak mendominasi.sedangkan mereka yang melakukan transgender, memilikikecendrungan utnuk mengubah hormon yang ada di dalam dirinya. seberapa besar faktor luar yang mendukung mereka dalam melakukan transgender? Sangat besar, sekarang di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bahwa terbentuk suatuorganisasi yang mana mereka akan saling mendukung secara moral ketika akan ada yangingin melakukan transgender, bukan itu saja indonseia yang sangat menolak transgenderpun sempat melakukan konters waria seindonesia, bukankah hal ini salah satu bentuk dukunagan moril warga Indonesia kepada mereka secara tersirat.Dari hal diatas sebagai manusia yang masih memilki hati nurani apakah kita masih harusmenjauhinya? Apakah dengan menjauhinya itu sesuatu yang benar?Bukankah orang orang seperti itu malah butuh sentuhan kasih sayang dari orang orang disekitarnya?Lalu apa yang sudah kita perbuat untuk mereka selain mencaci makinya Pengaruh Transgender Ingat bahasan kami mengenai fakta ilmiah banci / bencong (transgender)? Sebagian transgender ada yang straight (menyukai lawan jenis) sebagian lagi homoseksual (menyukai jenis yang sama dengan jenis kelaminnya sendiri). Sebagian transgender juga tidak suka dengan tubuhnya yang berbeda, ada juga yang senang kalau tubuhnya berbeda. Sekarang saya akan membahas mengenai homoseksual. Hal ini berbeda sekali dengan transeksual. Homoseksual biasanya terpaksa menjadi seolah transeksual (banci) agar dianggap normal oleh masyarakat. Lebih mudah menjadi seorang homoseksual yang sekaligus transeksual, daripada homoseksual yang maskulin atau feminin sejati. Tapi ini semata faktor lingkungan. Bagaimana dengan faktor genetiknya? Hasil penelitian yang paling kokoh mengenai landasan genetik homoseksual adalah penelitian para ilmuan dari Sekolah Biologi dan Kimia Ratu Mary dan dari Institut Karolinska. Laporan mereka ditulis dalam jurnal Archives of Sexual Behavior,. Mereka menemukan kalau faktor lingkungan dan genetik, tergantung individunya, dan termasuk pula proses biologi seperti paparan hormon saat dalam rahim (eugenetik), menjadi penentu perilaku homoseksual. Peneliti besar di bidang orientasi seksual dan juga ilmuan yang menemukan hal ini, Dr Qazi Rahman, menjelaskan kalau studi mereka meruntuhkan anggapan kalau homoseksual semata akibat pengaruh gen, atau kalau homoseksual hanya semata karena lingkungan. Mereka menemukan kalau kedua faktor ini secara kompleks mempengaruhi perilaku homoseksual tersebut. Dan ini bukan hanya berlaku pada homoseksual tapi juga berarti straight (heteroseksual). Tim penelitian ini dipimpin oleh Dr Niklas Lngstrm dari Institut Karolinska di Stockhlom. Mereka mempelajari survey dengan sampel seluruh populasi kembar dewasa berusia 20 47 tahun di Swedia. Baik itu kembar identik maupun non identik (fraternal). Dengan mempelajari orang kembar, kita bisa melihat langsung perbedaan diantara keduanya. Seorang Kembar identik memiliki gen dan lingkungan yang sama dengan saudara kembarnya. Sementara itu, kembar fraternal, hanya memiliki separuh gen saudara kembarnya maupun lingkungannya. Dengan demikian, kesamaan yang besar dalam sifat kembar identik dengan sifat kembar fraternal akan menunjukkan kalau hanya faktor genetik semata yang mempengaruhi sifat tersebut. Studi ini mengamati 3826 saudara kembar gender sama (7652 individu). Mereka ditanya mengenai jumlah total pasangan romantis dari jenis kelamin yang sama dan berbeda yang pernah mereka miliki. Penemuan ini menunjukkan kalau 35 persen perbedaan antara pria dalam perilaku ketertarikan pada jenis kelamin yang sama, disebabkan oleh genetik.

Menurut Rahman, Genetik berpengaruh sekitar 35% atas perbedaan antara pria dalam perilaku homoseksual dan faktor lingkungan yang tergantung individunya (artinya bukan pengaruh sosial, keluarga atau pemeliharaan masa kecil) berpengaruh sebesar 64%. Dengan kata lain, bukan hanya karena gen seorang bisa menjadi homoseksual, tapi juga karena lingkungan ini. Bagi wanita, faktor genetik berpengaruh sekitar 18 persen variasi perilaku seks sejenis, lingkungan non sosial sekitar 64 persen dan faktor keluarga sekitar 16 persen. Studi ini menunjukkan kalau faktor yang paling mempengaruhi perilaku homoseksual bukanlah genetika maupun lingkungan, tetapi justru eugenetika. Artinya hal-hal yang mempengaruhi janin saat dalam kandungan! Lebih hebat lagi, ternyata lingkungan sama sekali tidak berpengaruh pada pria homoseksual. Walau begitu, yang namanya penelitian ilmiah, tentu saja tidak bebas kritik dari ilmuan lainnya. Menurut Rahman sendiri penelitian ini lebih teliti mempelajari pria, namun kurang teliti pada wanita. Walau menurut Rahman penelitian mereka tidak memiliki bias, ilmuan lain berpendapat kalau penelitian ini bias, selain itu ada juga yang bilang kalau penelitian ini hanya berlaku untuk Swedia saja, belum tentu di Indonesia, misalnya. Selain itu, penelitian ini juga mendapat dukungan. Ambil contoh Witelson et al. Dua tahun sebelumnya mereka sudah menemukan kalau genetika memang berpengaruh pada perilaku homoseksual pria. Jadi, penemuan Rahman bukanlah hal baru. Penelitian lain yang lebih tua lagi oleh Kinnunen et al (2003) menemukan metabolisme otak ada pengaruhnya pada perilaku seksual pria. Walau metabolisme otak bisa disebabkan karena gen pembentuk otak ataupun bisa juga karena mengkonsumsi obat atau bahkan karena perilaku dalam kandungan, studi Rahman bisa menjelaskan hal ini. Kemungkinan metabolisme otak yang berbeda pada pria homoseksual disebabkan oleh pengaruh saat dalam kandungan. Sementara itu, untuk wanita, homoseksual (lesbian) tampak memiliki perbedaan fisik dengan heteroseksual. Wanita homoseksual memiliki telinga dalam yang lebih lemah daya pantul suaranya dari pada wanita heteroseksual. Ini aneh, tapi memang begitu adanya. Siapa tau suatu saat kita bisa meletakkan alat di telinga untuk menunjukkan kalau kita lesbian atau tidak. Pasangan lesbian akan mudah menemukan jodohnya dengan cara ini. Berkat penemuan McFadden dan Pasanen (1997) Mengenai kinerja bagaimana? Well, kalau anda bicara kinerja membayangkan secara visual seperti membaca peta, menurut hasil penelitian Maylor et al (2007) anda akan menemukan urutan dari yang terbaik ke yang terburuk adalah : pria heteroseksual, pria biseksual, pria homoseksual, wanita homoseksual, wanita biseksual, dan wanita heteroseksual. Ini bukti nyata kalau cewek jauh lebih sulit memahami peta daripada cowok. Tampaknya otak homoseksual berbeda, karena kita tahu masalah pembayangan visual adalah masalah otak, tepatnya di kening dekat mata anda. Otak Homoseksual menjadi otak transisi antara pria dan wanita. Dan dugaan ini tepat sekali. Savic dan Linstrom (2008) memang menemukan demikian. Bila transeksual ada yang membenci dirinya kenapa dilahirkan beda (transnegativitas), begitu juga homoseksual. Ada homoseksual yang membenci kalau dirinya homo, dan ini dinamakan homonegativitas. Para peneliti telah menemukan kalau homonegativitas pria ada hubungannya dengan kerentanan orang tersebut pada penyakit. Jika anda homo dan tidak suka anda homo, maka anda mungkin memiliki fisik lebih rentan penyakit, begitu hasil penelitian Rosser et al (2008) Tapi, jangan kecil hati dulu. Hughes et al (2009) justru menemukan fakta kalau HIV-AIDS lebih cepat berjangkit pada pria heteroseksual daripada homoseksual. Entah bagaimana, homoseksual lebih sulit dihinggapi penyakit ini. Well, paling tidak di Inggris. Homoseksual inggris lebih hatihati dari pada heteroseksualnya. Dan perbandingan antara gay kidal dengan semua gay, serta perbandingan lesbian kidal di antara semua lesbian, lebih besar secara signifikan, daripada perbandingan heteroseksual kidal di antara semua heteroseksual (Lalumiere et al, 2000). Well, seperti anda tahu kalau orang kidal banyak yang pintar, berarti kalau kamu lesbian atau gay, bisa jadi anda juga kidal. Dan bisa jadi anda pintar secara akademis. Dan homoseksual bukan hanya pada manusia, tapi bahkan lalat buah! Jangan tanya kalau homoseksual di kalangan simpanse lagi. Penelitian Augustin et al (2007) pada lalat homoseksual menunjukkan kalau homoseksual mereka dipengaruhi oleh gen yang mempengaruhi kekuatan

syaraf. Para ilmuan bahkan bisa merekayasa gen ini yang membuat mereka mampu menentukan apakah anak lalat itu kelak homoseksual atau bukan.

Pendapatku :