Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH SEMINAR BEDAH UMUM

STERILISASI

Pembimbing Lucky Riawan, drg., Sp.BM

Disusun Oleh : Diah Agista Setyarini 160110070040

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI BANDUNG 2013

STERILISASI

Sterilisasi merupakan suatu proses yang bertujuan untuk menghilangkan dan membebaskan semua alat dan bahan dari semua bentuk kehidupan organisme mikroba, termasuk virus, bakteri dan fungi beserta sporanya. Dalam ilmu bedah, sterilisasi berarti memusnahkan semua mikroorganisme beserta sporanya, sedangkan desinfeksi berarti memusnahkn semua mikroorganisme yang tidak mempunyai spora, misalnya kuman-kuman. Desinfeksi biasanya dilakukan pada pakaian, alat-alat linen, tempat tidur, alat buang air kecil dan besar, dan sebagainya. Pemilihan cara sterilisasi dapat didasarkan pada sifat bahan atau alat yang akan disterilkan. Asepsis adalah prinsip bedah untuk mempertahankan keadaan bebas kuman. Ada dua macam asepsis yaitu asepsis medis dan asepsis bedah. Asepsis medis adalah suatu cara untuk membatasi jumlah pertumbuhan dan penyebaran mikroorganisme, sedangkan asepsis bedah adalah segala usaha untuk membunuh semua mikroorganisme termasuk sporanya dengan cara mekanis dan atau termis pada saat pembedahan akan dimulai. Keadaan asepsis merupakan syarat mutlak dalam tindakan bedah. Tujuan tindakan asepsis dalam pembedahan adalah untuk mencegah masuknya bakteri pada luka pembedahan. Pencapaian tingkat asepsis dimulai dengan mensterilkan alat-alat, jubah operasi, sarung tangan, benang bedah, dan kasa pembalut yang kontak dengan luka operasi. Antisepsis adalah segala usaha untuk membunuh semua mikroorganisme dengan bahan kimia. Zat yang dapat mencegah pertumbuhan mikroorganisme tanpa perlu memusnahkannya disebut zat antiseptik. Sedangkan zat yang dapat membunuh mikroorganisme disebut germisida atau bakterisida. Misalnya dengan, melakukan desinfeksi pada kulit tempat pembedahan dengan menggunakan sediaan antiseptik (Schwartz, 2000). Jadi, segala usaha untuk memperoleh

keadaan suci hama atau steril sebelum operasi adalah tindakan asepsis atau antisepsis. Pasien-pasien bedah, pada masa : pra-bedah, intra-bedah dan pasca bedah, harus dilindungi sepenuhnya dari bahaya infeksi. Perawatan yang

memperhatikan prinsip-prinsip asepsis, antisepsis serta lingkungan perawatan yang baik, mempengaruhi kejadian dan beratnya infeksi (Schrock,1995). Sterilisasi merupakan jaminan tingkat tertinggi mengenai peralatan bedah bebas dari mikroba (Young, 2001). Metode sterilisasi secara umum dibagi menjadi tiga yaitu secara fisik, mekanik dan kimiawi, meliputi : A. STERILISASI FISIK Metode sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan pemanasan dan penyinaran dengan sinar gelombang pendek. 1) Sterilisasi panas Metode sterilisasi panas merupakan metode yang paling dapat dipercaya dan banyak digunakan. Metode sterilisasi ini digunakan untuk bahan yang tahan panas. Metode sterilisasi panas tanpa kelembaban (tanpa penggunaan uap air) disebut metode sterilisasi panas kering atau sterilisasi kering. Umumnya untuk bahan yang sensitif terhadap kelembaban digunakan metode sterilisasi panas kering pada temperatur 160-180oC, sedangkan untuk bahan yang resisten kelembaban digunakan metode sterilisasi panas basah pada temperatur 115-134oC. Macam-macam cara sterilisasi dengan pemanasan : a. Pemanasan dengan Nyala Api Dilakukan dengan api langsung (pemijaran), misalnya membakar alat pada api secara langsung. Di laboratorium cara ini dipakai untuk membuat steril jarum inokulasi, pinset, pipet dan sebagainya. Cara ini juga dapat digunakan untuk mensterilkan pisau operasi dalam keadaan darurat. b. Pemanasan dengan Udara Panas (Panas Kering) Sterilisasi biasanya dilakukan dengan menggunakan oven (Dry Heat Oven) pada suhu 1600-1800. Suhu yang digunakan pada metode ini lebih tinggi dan jangka waktu lebih panjang dibandingkan pada metode sterilisasi uap. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlemeyer, tabung reaksi, petridish, botol dan alat-alat dari katun. Dengan cara ini pemanasan dilakukan sampai suhu 170oC selama 1 jam atau 140oC selama dua jam. Bila ada bahan dari katun, suhu jangan
2

lebih dari 180oC karena akan terbakar. Juga pada pendinginannya, bila suhu belum mencapai 100oC, oven jangan dibuka dulu sebab alat-alat dari gelas akan pecah karena pendinginan yang mendadak (Indan Endjang, 2003: 43). Kelebihan sterilisasi ini diantaranya, hasil kering dapat digunakan untuk bahan termostabil, seperti alat-alat gelas dan mudah dilaksanakan. Kekurangannya yaitu waktu yang dihabiskan cukup lama, penetrasi panas terbatas pada lapisan tertentu, dan dibutuhkan tenaga listrik besar. c. Pemanasan dengan uap air panas (Menggodok) Pemanasan ini dilakukan dengan merendam dalam air mendidih (menggodok) dan merupakan cara yang mudah, murah, dan cukup efektif sebagai tindakan desinfeksi. Air mendidih pada tekanan 1 atm dan suhu 100oC akan mematikan bentuk vegetatif dalam waktu 5-15 menit sedangkan bentuk spora akan mati dalam waktu 1-6 jam. Metode ini digunakan terutama untuk mensterilkan media-media yang akan

mengalami kerusakan bila dikerjakan dengan sterilisasi uap air panas dengan tekanan (autoklav) eperti gunting, pinset, skalpel, jarum, spuit injeksi dll. Cara ini dijalankan dengan pemanasan 100C selama 1 jam. Perlu diingat bahwa dengan cara ini spora belum dimatikan. d. Pemanasan dengan Uap Air Bertekanan (Panas Basah) Sterilisasi ini dilakukan dengan cara mengatur tekanan dalam autoklaf, sehingga dicapai panas yang diinginkan. Metode ini dipakai untuk sterilisasi pada media yang tahan terhadap pemanasan tinggi. Sterilisasi dilakukan pada suhu 120C selama 10-70 menit tergantung kebutuhan. Hal yang perlu diperhatikan bila mengerjakan sterilisasi dengan autoklaf yaitu harus ditunggu selama bekerja dan berhati-hati bila mengurangi tekanan dalam autoklaf (perubahan temperatur dan tekanan secara mendadak dapat menyebabkan cairan yang disterilkan meletus dan alat yang terbuat dari gelas dapat pecah). Metode ini merupakan metode yang paling banyak digunakan karena hampir 80% alat dan bahan dapat disterilkan dengan metode ini, seperti

karet. Biaya operasional cukup rendah dibanding metode lain, temperatur merata pada setiap tempat selama proses serta cepat dan hasilnya kering (Indan Endjang, 2003: 44).

2) Penyinaran (Radiasi) Metode sterilisasi dengan menggunakan radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar Ultraviolet (UV) ataupun dengan metode ionisasi (sinarX, sinar gamma dan sinar katode). a. Sinar UV Sinar ultraviolet mempunyai panjang gelombang 15-390 nm. Lampu sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 260 270 nm, dimana sinar dengan panjang gelombang sekitar 265 nm mempunyai daya bakterisid yang tinggi. Lampu ultraviolet digunakan untuk mensterilkan ruangan, misalnya di kamar bedah, ruang pengisian obat dalam ampul dan flakon di industri farmasi, juga bisa digunakan diperusahaan makanan untuk mencegah pencemaran permukaan. Sinar UV ini bereaksi dengan asam nukleat sel mikroorganisme dan menyebabkan ikatan antara molekul-molekul timin yang bersebelahan dan menyebabkan terbentuknya diimer timin. Dimer timin dapat menghalangi replikasi DNA normal dengan menutup jalan enzim replikasi. Penggunaan sterilisasi dengan sinar UV antara lain untuk sterilisasi kabinet dan ruangan. Endospora bakteri resisten terhadap sinar UV. b. Ionisasi Sinar x mempunyai daya penetrasi lebih besar dibanding dengan sinar ultraviolet. Sinar gamma mempunyai daya penetrasi lebih besar dibandingkan dengan sinar x dan digunakan untuk mensterilkan material yang tebal, misalnya bungkusan alat-alat kedokteran atau paket makanan. Sinar katoda biasa dipakai menghapus hama pada suhu kamar terhadap barang-barang yang telah dibungkus. Metode sterilisasi ini ditujukan untuk merusak asam nukleat mikroorganisme dan digunakan untuk bahan-bahan yang tidak dapat

disterilisasi menggunakan panas, contohnya bahan plastik sekali pakai (disposable plasticware), antibiotik, hormon, dan jarum suntik (syrnge) (Sylvia T. Pratiwi, 2008: 140-141).

B. STERILISASI KIMIAWI Metode sterilisasi kimia dilakukan untuk bahan-bahan yang dapat rusak bila disterilkan pada suhu tinggi (bahan plastik).Kekuatan agen antimikroba kimiawi diklasifikasikan atas dasar efisiensinya dalam membunuh

mikroorganisme. Seluruh gremisida diklasifikasikan sebagai kategori tingkat tinggi karena efektif terhadap seluruh bentuk kehidupan termasuk endospora bakteri (Sylvia T. Pratiwi, 2008: 141-142). Metode sterilisasi kimia dapat dilakukan dengan menggunakan gas

(dengan cara fumigasi atau pengasapan) atau radiasi. Beberapa bahan kimia yang dapat digunakan untuk sterilisasi gas adalah etilen oksida, gas formaldehid, asam parasetat, dan glurtaradehid alkalin. Sterilisasi kimia dapat juga dilakukan dengan penggunaan cairan desinfektan berupa senyawa aldehid, hipoklorit, fenolik, alkohol, lysol, karbol, formalin, dll. Beberapa istilah yang perlu dipahami: - Desinfektan : suatu bahan kimia yang dapat membunuh sel-sel vegetatif dan jasad renik. Biasanya digunakan untuk obyek yang tidak hidup, karena akan merusak jaringan. Prosesnya disebut desinfeksi. - Antiseptik : suatu bahan atau zat yang dapat mencegah, melawan maupun membunuh pertumbuhan dan kegiatan jasat renik. Biasanya digunakan untuk tubuh. Prosesnya disebut antiseptis. - Biosidal : suatu zat yang aksinya dipakai unhtuk membunuh

mikroorganisme, misal : bakterisid, virosid, sporosid. - Biostatik : zat yang aksinya untuk mencegah/menghambat pertumbuhan organisme, misal : bakteriostatik, fungistatik. Ada beberapa zat yang bersifat anti mikroba. 1. Fenol dan derivatnya

Zat kimia ini bekerja dengan cara mempresipitasikan protein secara aktif atau merusak selaput sel dengan penurunan tegangan permukaan. Fenol cepat bekerja sebagai desinfektan maupun antiseptik tergantung konsentrasinya. Daya antimikroba fenol akan berkurang pada suasana alkali, suhu rendah, dan adanya sabun. 2. Alkohol Alkohol beraksi dengan mendenaturasi protein dengan jalan dehidrasi dan melarutkan lemak sehingga membran sel rusak dan enzim-enzim akan diinaktifkan oleh alkohol. Etil alkohol (etanol) 50-70% mempunyai sifat bakterisid untuk bentuk vegetatif.Metanol daya bakterisidnya kurang dibandingkan etanol, dan beracun terhadap mata. 3. Halogen beserta gugusannya Halogen beserta gugusannya ini mematikan mikroorganisme dengan cara mengoksidadi protein sehingga merusak membran dan menginaktifkan enzimenzim. Misalnya : - Yodium dipakai untuk mendesinfeksi kulit sebelum dilakukan pembedahan - Hipoklorit digunakan untuk sanitasi alat-alat rumah tangga. Yang umum dipakai adalah kalsium dipoklorit dan sodium hipoklorit. 4. Logam berat dan gugusannya Logam berat dapat memprestasikan enzim-enzim atau protein esensial lain dalam sel sehingga dapat berfungsi sebagai anti mikroba. Contoh : - Merkurokrom, merthiolat sebagai antiseptik. - Perak nitrat sebagai tetes mata guna mencegah penyakit mata pada bayi (Neonatol gonococcal ophthalmitic). 5. Deterjen Dengan gugus hipofilik dan hidrofilik, deterjen akan merusak membran sitoplasma. i. Aldehid Aldehid mendesinfeksi dengan cara mendenaturasi protein. Contoh : formalin (formaldehid)

ii. Gas sterilisator Digunakan untuk bahan/alat yang tidak dapat disterilkan dengan panas tinggi atau dengan zat kimia cair. Pada proses ini material disterilkan dengan gas pada suhu kamar. Gas yang dipakai adalah ethilen oksida. Kebaikannya : ethilen oksida mempunyai daya sterilisasi yang besar dan daya penetrasinya besar Kejelekannya : ethilen oksida bersifat toksis dan mudah meledak

C. STERILISASI MEKANIK Sterilisai secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Cairan yang disterilisasi dilewatkan ke suatu saringan (ditekan dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum) yang berpori dengan diameter yang cukup kecil untuk menyaring bakteri. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas dan dapat mengalami perubahan, misalnya larutan enzim dan antibiotik. Jika terdapat beberapa bahan yang akibat pemanasan tinggi atau tekanan tinggi akan mengalami perubahan atau penguraian, maka sterlisasi yang digunakan adalah dengan cara mekanik, misalnya dengan saringan. Bakteri tidak mati sewaktu filtrasi tetapi secara fisik terpisah dari cairan dengan cara ini. Filter yang sebenarnya, biasanya terbuat dari asetat selulosa, mempunyai banyak lubang kecil (pori) yang tidak dilewati bakeri. Didalam mikrobiologi penyaringan secara fisik paling banyak digunakan adalah dalam penggunaan filter khusus misalntya filter berkefeld, filter chamberland, dan filter seitz. Jenis filter yang dipakai tergantung pada tujuan penyaringan dan benda yang akan disaring. Kegunaan sterilisasi secara mekanik, diantaranya: - Sterilisasi media yang tidak tahan terhadap pemanasan, misalnya Urea Broth ataupun untuk sterilisasi vaksin, serum, enzim, vitamin. - Meminimalkan kuman udara masuk untuk ruangan kerja secara aseptis. Virus seperti mikroorganisme tanpa dinding sel (mikroplasma) umumnya tidak dapat ditahan oleh filter.

Penyaringan dapat dilakukan dengan mengalirkan gas atau cairan melalui suatu bahan penyaring yang memilki pori-pori cukup kecil untuk menahan mikroorganisme dengan ukuran tertentu. Saringan akan tercemar sedangkan cairan atau gas yang melaluinya akan steril. Alat saring tertentu juga mempergunakan bahan yang dapat mengabsorbsi mikroorganisme. Saringan yang umum dipakai tidak dapat menahan virus. Oleh karena itu, sehabis penyaringan medium masih harus dipanasi dalam otoklaf. Penyaringan dilakukan untuk mensterilkan substansi yang peka tehadap panas seperti serum,enzim,toksin kuman,ekstrak sel,dsb. a. Menyaring cairan Hal dapat dilakukan dengan berbagai filter seperti saringan Seitz, yang menggunakan saringan asbestos sebagai alat penyaringannya; saringan berkefeld, yang mempergunakan filter yang terbuat dari tanah diatom; saringan chamberland, yang mempergunakan filter yang terbuat dari porselen; dan fritted glass filter, yang mempergunakan filter yang terbuat dari serbuk gelas. Saringan asbes lebih mudah dan lebih murah daripada saringan porselen. Saringan asbes dapat dibuang setelah dipakai, sedangkan saringan porselen terlalu mahal bila dibuang, tetapi terlalu sulit untuk dibersihkan. b. Menyaring udara Untuk menjaga suatu alat yang sudah steril agar tidak tercemar oleh mikroba atau untuk menjaga agar suatu biakan kuman tidak tercemar oleh kuman yang lain, maka alat-alat tersebut harus ditutup denagn kapas, karena kapas mudah ditembus udara tetapi dapat menahan mikroorganisme. Harus dijaga agar kapas tidak menjadi basah, oleh karena kapas yang basah memungkinkan kuman menembus kedalam. Untuk mencegah pencemaran oleh kuman-kuman udara pada waktu menuang perbenihan, dapat dipergunakan suatu alat yang disebut laminar flow bench dimana udara yang masuk kedalamnya disaring terlebih dahulu dengan suatu saringan khusus. Saringan ini ada batas waktu pemakaiannya dan harus diganti dengan yang baru apabila sudah tidak berfungsi lagi.

DAFTAR PUSTAKA Russell, Hugo & Ayliffes. 2004. Principles and Practice of Disinfection Preservation & Sterilization 4th ed. (Chapter 12; sterilization; Grahme W Gould). Blackwell; Oxford. http://www.psychologymania.net/2010/02/perawatan-dan-bedah-pada-intervensi. html (Diakses tanggal 20 februari 2013) repository.usu.ac.id/bitstream/.../Chapter%20II.pdf (Diakses tanggal 20 februari 2013) http://viyufika.wordpress.com/metode-sterilisasi/ (Diakses tanggal 2o Februari 2013)

2. Tekanan Osmosis Laju lewatnya air dari larutan yang satu ke larutan yang lain adalah fungsi perbedaan kadar antara kedua larutan, ini dikenal sebagai tekanan osmosis. Oleh karena itu, apabila bakteri ditempatkan ke dalam suatu larutan garam atau gula yang berkadar tinggi, air akan mengalir dari sel bakteri ke dalam larutan garam atau gula. Hal ini, tentunya mencegah pertumbuhan bakteri. 3. Vibrasi Sonik (Getaran Suara), Trituri, Agitasi Istilah supersonik atau ultrasonik digunakan untuk menunjukan gelombang suara yang bernada begitu tinggi sehingga tak dapat didengar oleh telinga manusia. Seperti triturasi (proses pelumatan) dan agitasi(proses penggoncangan), suara ultra sebenarnya menghancurkan bakteri sehingga bahan intraseluler dan dinding sel dapat dipisahkan untuk penggunaan dalam studi laboratorium. f) Cara sterilisasi Benda-benda yang Tidak Tahan Suhu Tinggi (1) Pasteurisasi tidak membuat steril, tetapi hanya membunuh mikroba

Dengan pasteurisasi

tertentu saja. Pasteurisasi dilakukan terhadap air susu juga pada pembuatan anggur. Suhu yang diberikan bergantung pada mikroba yang akan dibunuhnya. (2) Tyndalisasi

Dengan pasteurisasi kita membuat steril suatu benda secara fraksi (sebagiansebagian).Cara ini dilakukan untuk membuat steril benda-benda yang tidak tahan suhu lebih dari 100oC. Caranya: Hari pertama, benda yang akan disterilkan dipanaskan dengan uap air yang mengalir dengan 100oC selama 30 menit. Kemudian, dimasukkan inkubator (lemari pengeram) selama 24 jam. Hari kedua, pemanasan dan pengeraman diulang lagi.Hari ketiga diulangi untuk ketiga kalinya dan sterilisasi dianggap selesai (Indan Endjang, 2003: 46). 3) Dengan Pengeringan Pengeringan akan menyebabkan larutan di sekeliling mikroba menjadi hipertonis, sehingga air keluar dari sel mikroba dan mikroba mati. Gangguan

10

tekanan osmotik ini akan diperhebat bila ditambahkan garam dan bumbu-bumbu, seperti halnya pada pembuatan ikan asin atau dendeng. Cara ini bukanlah tindakan sterilisasi, melainkan pengawetan, karena dengan pengeringan ini hanya menyebabkan berhentinya pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba (Indan Endjang, 2003: 47). 5) Pendinginan Suhu rendah menyebabkan pertumbuhan dan perkembangbiakan mikroba terhenti. Cara ini dipakai untuk mengawetkan bahan makanan yang mudah membusuk, misalnya daging, karena pada suhu rendah ini, bahan makanan itu tidak akan dirombaknya. Pada suhu -20oC (minus dua puluh derajat Celcius) (suhu lemari pendingin pada umumnya) mikroba tidak bisa merombak makanan sehingga tidak terjadi pembusukan.Beberapa bakteri mati pada suhu 0oC misalnya Neisseria gonorrhoea, Treponema pallida (Indan Endjang, 2003: 41-42).

Prinsip cara kerja autoklaf

Autoklaf adalah alat untuk memsterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (2 atm) dan suhu 1210C. Untuk cara kerja penggunaan autoklaf telah disampaikan di depan. Cara Penggunaan :

1. Sebelum melakukan sterilisasi cek dahulu banyaknya air dalam autoklaf. Jika air kurang dari batas yang ditentukan, maka dapat ditambah air sampai batas tersebut. Gunakan air hasil destilasi, untuk menghindari terbentuknya kerak dan karat.

2. Masukkan peralatan dan bahan. Jika mensterilisasi botol beretutup ulir, maka tutup harus dikendorkan.

11

3. Tutup autoklaf dengan rapat lalu kencangkan baut pengaman agar tidak ada uap yang keluar dari bibir autoklaf. Klep pengaman jangan dikencangkan terlebih dahulu.

4. Nyalakan autoklaf, diatur timer dengan waktu minimal 15 menit pada suhu 121oC.

5. Tunggu samapai air mendidih sehingga uapnya memenuhi kompartemen autoklaf dan terdesak keluar dari klep pengaman. Kemudian klep pengaman ditutup (dikencangkan) dan tunggu sampai selesai. Penghitungan waktu 15 dimulai sejak tekanan mencapai 2 atm.

6. Jika alarm tanda selesai berbunyi, maka tunggu tekanan dalam kompartemen turun hingga sama dengan tekanan udara di lingkungan (jarum pada preisure gauge menunjuk ke angka nol). Kemudian klep-klep pengaman dibuka dan keluarkan isi autoklaf dengan hati-hati.

Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mesterilkan media digunakan suhu 1210C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 1210C atau 249,8 0F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 1000C, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan memdididh pada suhu 1210C. Ingat kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 1210C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 1210C dan tekanan 15 psi selama 15 menit.

12

Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai., maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi.

Untuk mendeteksi bahwa autoklaf bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus, lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik.

Beberapa media atau bahan yang tidak disterilkan dengan autoklaf adalah :

- Bahan tidak tahan panas seperti serum, vitamin, antibiotik, dan enzim

- Paelarut organik, seperti fenol

- Buffer engan kandungan detergen, seperti SDS

Untuk mencegah terjadinya presipitasi, pencoklatan (media menjadi coklat) dan hancurnya substrat dapat dilakukan pencegahan sebagai berikut :

- Glukosa disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa fosfat

13

- Senyawa fosfat disterilkan terpisah dengan asam amino (peptone) atau senyawa garam mineral lain.

- Senyawa garam mineral disterilkan terpisah dengan agar

- Media yang memiliki pH > 7,5 jangan disterilkan dengan autoklaf

- Jangan mensterilisasi larutan agar dengan pH < 6,0

Erlenmeyer hanya boleh diisi media maksimum dari total volumenya, sisa ruang dibirkan kosong. Jika mensterilkan media 1L yang ditampung pada erlenmeyer 2L maka sterilisasi diatur dengan waktu 30 menit.

14