Anda di halaman 1dari 27

YRR

YOSHI | RONI | REKAN


Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

NOTA PEMBELAAN (PLEDOI) Atas Surat Tuntutan Penuntut Umum dalam Perkara Pidana NO.REG.PERK. 03/Pid.B/TPK/2009/PN.JKT.PST

Atas Nama Nama Terdakwa H. Haris Diraja, S.H., M.H.

Diajukan oleh Tim Penasehat Hukum Roni Ansari N.S., S.H., M.H Tsu Yoshi, S.H., M.H

Pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Tanggal 14 Oktober 2009

I. PENDAHULUAN Majelis Hakim yang terhormat, Penuntut Umum yang kami hormati,
1

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

Setelah mendengar dan membaca Surat Tuntutan terhadap Saudara Haris Diraja, maka sekarang kami selaku Tim Penasehat Hukum akan menyampaikan Nota Pembelaan. Tentunya Nota Pembelaan ini bukanlah sesuatu yang hendak membela kesalahan Saudara Haris Diraja agar bebas di luar pertimbangan-pertimbangan hukum, tetapi sebagai suatu ikhtiar hukum agar sebelum memberi putusan, Majelis Hakim telah mendapat keterangan, gambaran, bukti-bukti dan segala sesuatunya atas perkara yang dihadapi. Dengan kata lain, Nota Pembelaan ini merupakan salah satu alat peradilan untuk membantu Majelis Hakim untuk sampai pada suatu keyakinan, dan dengan keyakinan ini kesalahan atas suatu perbuatan dapat ditentukan secara benar dan adil, bagi klien kami dan masyarakat pada umumnya. Sebelum masuk kedalam Analisis Yuridis persidangan, kami akan menyampaikan beberapa hal yang terabaikan dalam menemukan kebenaran materil dalam perkara yang mendudukkan Saudara Haris Diraja sebagai Terdakwa. II. ANALISIS FAKTA Sebelum memasuki uraian yuridis perihal pembuktian unsur-unsur pasal yang didakwakan, maka terlebih dahulu kami akan menyampaikan fakta penting yang menyangkut proyek pengadaan buku pada tahun 2008-2009 tersebut, yaitu : A. Perkara tidak seharusnya dipisah (splitsing) dan ketidakabsahan penghadiran saksi mahkota (kroon getuige). Majelis Hakim yang terhormat, Penuntut Umum yang kami hormati, Setelah mengikuti persidangan dari awal sampai tahap pembuktian kami berpendapat bahwa Asas Persamaan Dalam Hukum (equality before the law). Penuntut Umum menyatakan bahwa tindak pidana telah dilakukan secara bersama-sama oleh Ian Gunawan bersama dengan Saudara Haris Diraja. Namun, Penuntut Umum justru tidak memperlakukan mereka yang dianggap turut serta (medeplegen) secara adil. Penuntut Umum telah melakukan splitsing terhadap perkara dugaan tindak pidana yang dilakukan oleh satu orang atau lebih secara bersama-sama (penyertaan) dan menjadikan pelaku lain sebagai saksi terhadap pelaku lainnya. Padahal Penuntut Umum dengan yakin menyatakan bahwa telah terjadi penyertaan, namun bukannya menggabungkannya menjadi satu berkas perkara, Penuntut Umum justru memisahkannya. Hal ini menunjukkan bahwa Penuntut Umum ragu-ragu apakah para peserta tindak pidana memang secara bersama-sama melakukan tindak pidana. Dalam beberapa kasus terlihat bahwa Majelis Hakim memutuskan tidak sesuai dengan konsep dan pengertian ajaran turut serta (medeplegen) karena bagaimana mungkin seorang pelaku peserta terbukti melakukan perbuatan turut serta melakukan perbuatan korupsi dengan orang yang
2

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

telah dilepas dari segala tuntutan hukum. Untuk menghindari hal tersebut maka semua peserta melakukan (medeplegers) harus diadili sekaligus agar tidak terjadi putusan yang saling bertentangan. Lihat saja dalam permasalahan hukum yang ditimbulkan dalam kasus Syahril Sabirin adalah para pelaku peserta (medeplegers) yang didakwa bersama-sama melakukan tindak pidana korupsi perkaranya diajukan secara terpisah (splitsing). Oleh karena itu, menurut Prof. Dr. Indrianto Seno Adji bahwa semestinya para pelaku peserta diadili sekaligus dan perkaranya tidak dipisah-pisah. Pemisahan perkara menimbulkan putusan yang tidak sinkron satu dengan yang lainnya sehingga menimbulkan suatu ketidakadilan. Prof. Mr. Dr. A.Z Abidin Farid menyatakan bahwa sifat khas turut melakukan (medeplegen) yaitu perbuatan-perbuatan pelaksanaan dan perbuatan yang sangat penting bagi terwujudnya delik merupakan suatu kesatuan yang mewujudkan delik, sehingga tiap-tiap peserta saling bertanggungjawab sesamanya pelaku peserta (accessoiriteit). Jika perkara dipisah-pisah (splitsing) dan diadili sendiri-sendiri, lalu masing-masing terdakwa bergantian menjadi saksi terhadap pelaku lain, padahal mereka telah melakukan delik penyertaan, maka hal tersebut melanggar dasar dan sendi Hukum Acara Pidana Indonesia yang bersifat accussatoir yang berarti kita kembali pada zaman penjajahan yang Hukum Pidananya bersifat inquisatoir. Prof. Dr. Andi Hamzah menyatakan bahwa pada prinsipnya para pelakupeserta yang disebut dalam surat dakwaan penuntut umum, harus diadili bersama-sama. Pemisahan perkara (splitsing) dibolehkan misalnya apabila salah satu peserta melarikan diri dan belum tertangkap. Yang tidak dibenarkan apabila para pelaku-peserta (medeplegers) saling menjadi saksi satu sama lain. Terkait dihadirkannya Ian Gunawan (terdakwa di persidangan lain) dan Sandorce Purba (terdakwa di persidangan lain) yang merupakan orang-orang yang bersama-sama menjadi terdakwa ke dalam persidangan sebagai saksi oleh Penuntut Umum sangat bertentangan dengan asas-asas dan aturan hukum. Oleh karena itu, kami berkesimpulan sebagai berikut :
1) Bahwa saksi mahkota, secara esensinya adalah berstatus terdakwa.

Oleh karena itu, sebagai terdakwa maka pelaku memiliki hak absolut untuk diam atau bahkan hak absolut untuk memberikan jawaban yang bersifat ingkar atau berbohong. Hal ini merupakan konsekuensi yang melekat sebagai akibat dari tidak diwajibkannya terdakwa untuk mengucapkan sumpah dalam memberikan keterangannya. Selain itu, menurut ketentuan Pasal 66 KUHAP dijelaskan bahwa terdakwa tidak memiliki beban pembuktian, namun sebaliknya bahwa beban pembuktian untuk membuktikan kesalahan terdakwa terletak pada pihak Penuntut Umum.
2) Bahwa

dikarenakan terdakwa tidak dikenakan kewajiban untuk bersumpah maka terdakwa bebas untuk memberikan keterangannya
3

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

dihadapan persidangan. Sebaliknya, dalam hal terdakwa diajukan sebagai saksi mahkota, tentunya terdakwa tidak dapat memberikan keterangan secara bebas karena terikat dengan kewajiban untuk bersumpah. Konsekuensi dari adanya pelanggaran terhadap sumpah tersebut maka terdakwa akan dikenakan atau diancam dengan dakwaan baru berupa tindak pidana kesaksian palsu sebagaimana yang diatur dalam Pasal 242 KUHPidana. Adanya keterikatan dengan sumpah tersebut maka tentunya akan menimbulkan tekanan psikologis bagi terdakwa karena terdakwa tidak dapat lagi menggunakan hak ingkarnya untuk berbohong. Oleh karena itu, pada hakikatnya kesaksian yang diberikan oleh saksi mahkota tersebut disamakan dengan pengakuan yang didapat dengan menggunakan kekerasan in casu kekerasan psikis.
3) Bahwa sebagai pihak yang berstatus terdakwa walaupun dalam

perkara lainnya diberikan kostum sebagai saksi maka pada prinsipnya keterangan yang diberikan oleh terdakwa (saksi mahkota) hanya dapat digunakan terhadap dirinya sendiri. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam ketentuan Pasal 183 ayat (3) KUHAP.
4) Bahwa dalam perkembangannya, ternyata Mahkamah Agung memiliki

pendapat terbaru tentang penggunaan saksi mahkota dalam suatu perkara pidana dalam hal mana dijelaskan bahwa penggunaan saksi mahkota adalah bertentangan dengan hukum acara pidana yang menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1174 K/Pid/1994 tanggal 3 Mei 1995, Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1952 K/Pid/1994 tanggal 29 April 1995, Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1590 K/Pid/1995 tanggal 3 Mei 1995 dan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 1592 K/Pid/1995 tanggal 3 Mei 1995.
5) Bahwa seringkali keterangan terdakwa dalam kapasitasnya sebagai

saksi mahkota yang terikat oleh sumpah digunakan sebagai dasar alasan untuk membuktikan kesalahan terdakwa dalam perkaranya sendiri apabila terdakwa berbohong. Hal ini tentunya bertentangan dan melanggar asas non self incrimination. Dalam ketentuan Pasal 14 ayat (3) huruf g ICCPR dijelaskan sebagai berikut : In the determination of any criminal charge against him, everyone shall be entitled to the following minimum guarantes, in full equality : (g). Not to be compelled to testify against himself or to confess guilty. Pada dasarnya, ketentuan Pasal 14 ayat (3) huruf g ICCPR tersebut bertujuan untuk melarang paksaan dalam bentuk apapun. Selain itu, diamnya tersangka atau terdakwa tidak dapat digunakan sebagai bukti untuk menyatakan kesalahannya.
4

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

Dengan demikian tindakan penuntut umum yang melakukan splitsing perkara tersebut merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia terutama hak Saudara Haris Diraja yang didudukkan sebagai terdakwa yang dikenal dengan istilah self-incrimination. Selain itu tindakan melakukan splitsing perkara merupakan pelanggaran terhadap Pasal 168 huruf c KUHAP (UU No. 8 Tahun 1981) yang melarang orang yang bersama-sama sebagai terdakwa (medepleger) menjadi saksi. Pemisahan perkara (splitsing) ini juga telah melanggar asas persamaan di depan hukum (equality before the law) sebagaimana diatur dalam Pasal 27 UUD 1945. Oleh karena itu, penggunaan saksi mahkota sebagai alat bukti dalam perkara pidana perlu ditinjau ulang kembali karena bertentangan dan melanggar kaidah hak asasi manusia sebagaimana diatur dalam KUHAP sebagai instrumen hukum nasional maupun ICCPR International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) tahun 1996 sebagai isntrumen hak asasi manusia internasional yang juga merupakan sumber acuan terhadap implementasi prinsip-prinsip peradilan yang adil (fair trial). B. Dakwaan Penuntut Umum bersifat prematur. Setelah mempelajari dan mengamati proses pembuktian yang membahas pokok perkara, terbukti kalau Penuntut Umum dalam perkara ini terlalu terburu-buru dalam mendakwa seseorang karena perkara yang diadili dalam persidangan ini merupakan perkara perdata. Pokok permasalahan dalam perkara ini adalah ketidakmampuan untuk melasanakan kewajiban sesuai kontrak (wanprestasi) yang dilakukan oleh CV SIGUR ROS. Seharusnya, diputus terlebih dahulu dalam persidangan perkara perdata bahwa telah terjadi wanprestasi. Apabila tidak ada kepastian mengenai hal ini, bagaimana mungkin Penuntut Umum dapat menyimpulkan adanya kerugian negara padahal belum terbukti ada pihak yang dirugikan? Menurut pasal 1234 KUH Perdata, bentuk-bentuk perikatan yaitu:
1) memberikan sesuatu; 2) berbuat Sesuatu; 3) tidak Berbuat sesuatu.

Dalam hal ini, CV SIGUR ROS telah mengikatkan diri dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang melalui sebuah Perjanjian/Kontrak Pengadaan Buku SD dan SMP di Kabupaten Semarang. Dalam kontrak tersebut diatur dengan sangat jelas bahwa CV SIGUR ROS wajib untuk melaksanakan prestasi yaitu mengadakan buku SD dan SMP dengan rincian sebagai berikut :
- separasi empat warna (merah, kuning, biru, dan hitam),

- jumlah 300.000 (tiga ratus ribu) unit,


5

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

- berat kertas 70 gram, dan

- biaya anggaran Rp.10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah). kontrak tersebut telah memenuhi syarat-syarat sebagaima diatur dalam Pasal 1320-1337 KUH Perdata. kontrak/perjanjian

Namun, setelah Tim Pemeriksa dan Penerima melakukan pemeriksaan, didapat fakta bahwa buku yang diterima tidak sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Ketidaksesuaian ini dikuatkan dengan Alat Bukti Surat berupa Hasil Laporan Pemeriksaan Tim Pemeriksa dan Penerima yang menyatakan bahwa buku yang disediakan oleh CV SIGUR ROS tidak sesuai dengan kontrak yang disepakati. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Fisela Mutiara menyatakan bahwa Tim Pemeriksa dan Penerima telah melaporkan ketidaksesuaian tersebut kepada Ian Gunawan selaku PPK. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Ian Gunawan selaku PPK menyatakan bahwa memang benar telah terjadi ketidaksesuaian buku yang disediakan oleh CV SIGUR ROS. Berdasarkan keterangan saksi-saksi dan alat bukti surat diperoleh informasi bahwa buku yang disediakan : - separasi hanya dua warna (hitam dan putih),
- jumlah buku 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) unit, dan

- berat kertas hanya 60 gram. Menurut Prof. Soebekti (Hukum Perjanjian, Jakarta, Penerbit Intermasa, 1985) bentuk wanprestasi ada empat macam yaitu : 1) tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan,
2) melaksanakan

apa yang dijanjikannya tetapi tidak sebagaimana

dijanjikannya,
3) melakukan apa yang dijanjikannya tetapi terlambat, 4) melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.

Dengan demikian, meskipun CV SIGUR ROS mengadakan buku namun perbuatannya tidak memenuhi prestasi secara utuh sebagaimana disepakati dalam kontrak pengadaan. Ketidaksesuaian pengadaan buku dengan kontrak yang disepakati akhirnya menimbulkan kerugian kepada pihak pihak lain yang menyepakati kontrak (Dinas Pendidikan). Untuk membuktikan adanya kerugian tersebut maka haruslah diajukan gugatan atas dasar wanprestasi kepada Pengadilan Perkara Perdata pada Pengadilan Negeri sesuai dengan Herziene Indonesisch Reglement (HIR). Kita tidak dapat mengatakan adanya kerugian tanpa ada pihak yang merasa dirugikan. Apabila ada pihak yang merasa dirugikan, seharusnya diajukan gugatan melalui pengadilan perdata. Jika memang telah diputus dalam Pengadilan Perkara Perdata bahwa telah
6

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

terjadi kerugian bagi salah satu pihak, maka kemudian Penuntut Umum mendakwa orang dengan dakwaan pidana apabila memang diindikasikan adanya tindak pidana. Proses Pemeriksaan dalam Pengadilan Perdata perlu juga untuk mengetahui siapakah yang seharusnya bertanggung jawab terhadap adanya pengurangan kuantitas dan kualitas buku tersebut. Apabila belum ada putusan yang menyatakan hal ini, maka dapat dikatakan bahwa Penuntut Umum hanya mendakwa Harris Diraja berdasarkan asumsi Penuntut Umum sendiri dan tidak berdasarkan suatu yang sudah dapat dipastikan ataupun berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. Oleh karena itu perkara ini belum layak disidangkan secara pidana dan surat dakwaan haruslah dinyatakan prematur. C. Saudara Haris Diraja telah mempertangungjawabkan kesalahan orang lain (Manus Ministra) Majelis Hakim yang terhormat, Penuntut Umum yang kami hormati, Bahwa pada dasarnya pertanggungjawaban pidana merupakan saringan pengenaan pidana yaitu hanya dapat diterapkan terhadap mereka yang memiliki kesalahan dan pidana yang dikenakan hanya sebatas kesalahan tersebut. Sejalan dengan hal itu, Moeljatno mengatakan bahwa seorang tidak mungkin dijatuhi pidana kalau dia tidak melakukan perbuatan pidana (geen straf zonder schuld). Dalam persidangan terungkap dengan sangat jelas bahwa seluruh rangkaian kesalahan dalam proses lelang terjadi karena kesalahan para pihak yang terlibat secara langsung dalam pelaksanaan proyek pengadaan buku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Semarang. Orang-orang yang terlibat langsung dalam proyek yang seharusnya bertanggungjawab dalam perkara ini adalah Ian Gunawan selaku Pejabat Pembuat Komitmen (selanjutnya disebut PPK), dan Sandorce Purba selaku Direktur CV SIGUR ROS. PERBUATAN IAN GUNAWAN Saksi Ian Gunawan merupakan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Bupati Kabupaten Semarang Nomor 678/44/2009. Dalam persidangan saksi mengakui sendiri bahwa dirinya selaku PPK adalah pihak yang bertanggungjawab dari segi administrasi, fisik, keuangan, dan fungsional atas pengadaan buku SD dan SMP di Kabupaten Semarang pada tahun 2008-2009 tersebut. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 9 ayat (1) jo. ayat (5) Perpres No. 8 Tahun 2006 tentang Perubahan ke empat atas Kepres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Dengan demikan setiap kesalahan yang terjadi dalam
7

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

proyek pengadaan barang dan jasa tersebut maka menurut hukum Ian Gunawan selaku PPK yang harus bertanggungjawab. Terkait ditetapkannya CV SIGUR ROS sebagai pemenang pelelangan juga merupakan kewenanan Ian Gunawan selaku Pejabat Pembuat Komitmen. Saksi Ian Gunawan dalam persidangan menyatakan bahwa seluruh peseta lelang telah memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh panitia pengadaan, dan akhirnya memenangkan CV SIGUR ROS (Pemenang I), CV ARYUDIGDAYA (Pemenang II), dan CV CINDEMINATI (Pemenang III). Berdasarkan Alat Bukti Surat berupa Dokumen Hasil Penilaian Panitian Pengadaan membuktikan bahwa seluruh peserta pelelangan telah melengkapi berkas-berkas yang diwajibkan. Sehingga jika memang CV SIGUR ROS yang telah ditetapkan sebagai pemenang lelang tidak melaksanakan tugasnya sesuai kontrak maka hal tersebut merupakan tanggungjawab Ian Gunawan selaku PPK. Saudara Haris Diraja hanyalah Bupati yang menunjuk Ian Gunawan untuk mengurus pengadaan buku SD dan SMP di Kabupaten Semarang. Dengan demikian tidak diragukan lagi bahwa Saudara Haris Diraja tidak terlibat dalam proses pelelangan tersebut. Mengenai masalah ketidaksesuaian antara nilai pengadaan yang tertera pada kontrak dengan kenyataannya merupakan tanggungjawab para pihak yang menyepakati isi kontrak tersebut. Saksi Ian Gunawan selaku PPK mengakui sendiri dalam persidangan bahwa dirinya yang mengatur dan menandatangani kontrak pengadaan buku bersama dengan CV SIGUR ROS (pihak penyedia). Hal ini telah sesuai dengan Alat Bukti Surat berupa Kontrak antara Dinas Pendidikan selaku Pengguna Barang dengan CV SIGUR ROS selaku Penyedia Barang yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 9 ayat (3) Perpres No. 8 Tahun 2006 yang menyatakan bahwa beberapa tugas pokok PPK dalam pengadaan barang/jasa pemerintah diantaranya :
-

menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa, dan mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak. menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia/pejabat pengadaan/unit pelayanan pengadaan sesuai kewenangannya.

Setelah selesainya pengadaan buku yang dilakukan oleh CV SIGUR ROS maka dilakukan pemeriksaan oleh Tim Penerima dan Pemeriksa yang dibentuk oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang (user). Bahwa setelah memeriksa hasil pengadaan, ditemukan fakta bahwa telah terjadi perbedaan kuantitas dan kualitas buku dengan kuantitas dan kualitas yang disepakati dalam kontrak. Atas hasil pemeriksaan tersebut, Tim Pemeriksa dan Penerima Dinas Pendidikan melaporkannya kepada Kepala Dinas yaitu Ian Gunawan yang juga
8

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

bertindak sebagai PPK. Bukannya menolak hasil pengadaan dan memerintahkan mengadakan perbaikan, Ian Gunawan selaku PPK justru memerintahkan Tim Pemeriksa untuk memberikan penerimaan (acceptance) kepada CV SIGUR ROS. Dengan demikian, Ian Gunawan selaku PPK telah melanggar kewajibannya sebagaimana diatur dalam Pasal 9 ayat (3) Perpres No. 8 Tahun 2006. Saudara Haris Diraja selaku Bupati Kabupaten Semarang sama sekali tidak turut campur dalam hal teknis pengadaan barang/jasa yang hanya berbiaya Rp.10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah). Saudara Haris Diraja juga tidak mengetahui bahwa ternyata CV SIGUR ROS mendapatkan penerimaan (acceptance) padahal buku yang disediakan tidak sesuai dengan kontrak. Oleh karena itu, Saudara Haris Diraja selaku Bupati juga tidak turut campur mengenai isi kontrak karena semua telah diserahkan sepenuhnya kepada Ian Gunawan selaku PPK. Dengan demikian, mengenai masalah ketidaksesuaian antara biaya di kontrak dengan kenyataanya maka menurut hukum Saudara Haris Diraja tidak bertanggungjawab. PERBUATAN SANDORCE PURBA Sandorce Purba adalah pihak yang juga terlibat dalam penyelewengan dana proyek pengadaan buku SD dan SMP di Kabupaten Semarang tahun 2008-2009 bersama dengan Ian Gunawan. Saksi Sandorce Purba selaku Direktur CV SIGUR ROS dalam persidangan menyatakan bahwa CV SIGUR ROS memenuhi syarat untuk pelelangan yang ditetapkan panitia pengadaan. Berdasarkan Alat Bukti Surat berupa Dokumen Hasil Penilaian Panitian Pengadaan diketahui bahwa seluruh peserta pelelangan telah melengkapi berkas-berkas yang diwajibkan. Mengenai masalah ketidaksesuaian biaya pengadaan yang disepakati dalam kontrak dengan kenyataannya merupakan tanggungjawab para pihak yang membuat dan melaksanakan kontrak tersebut (Pasal 12331237 KUH Perdata). Jika biaya pengadaan dalam kontrak sebesar Rp.10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah) ternyata hanya digunakan sebesar Rp.6.000.000.000 (enam miliar rupiah) maka sebenarnya telah terjadi cidera janji (wanprestasi) yang dilakukan oleh CV SIGUR ROS selaku penyedia barang dan Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang yang diwakili oleh Ian Gunawan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa CV SIGUR ROS selaku pihak penyedia barang (buku) tidak melaksanakan pengadaan buku sesuai dengan kontrak. CV SIGUR ROS ternyata hanya melakukan pengadaan buku yang berbiaya hanya Rp.6.000.000.000 (enam miliar rupiah) sehingga mengakibatkan kuantitas dan kualitas buku yang tidak sesuai lagi dengan kontrak. Dalam persidangan Saksi Sandorce Purba menyatakan kalau dirinya mengetahui penurunan kualitas dan kuantitas tersebut, namun tidak melakukan perbaikan. Maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa yang bertanggungjawab atas kesalahan-kesalahan tersebut adalah
9

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

Sandorce Purba dan Ian Gunawan. Saudara Haris Diraja tidak tahumenahu tentang adanya ketidaksesuaian tersebut, karena memang Saudara Haris Diraja tidak mengurusinya. Dengan demikian Saudara Haris Diraja tidak-lah dapat dipersalahkan atas perbuatan-perbuatan yang sama sekali tidak dilakukannya. III. ANALISIS YURIDIS Majelis Hakim yang terhormat, Penuntut Umum yang kami hormati, Selanjutnya kami akan membahas secara yuridis perihal unsur-unsur pasal yang tidak terbukti di dalam dakwaan Penuntut Umum. Bahwa sebagaimana yang tertuang di dalam dakwaan Penuntut Umum, Saudara Haris Diraja didakwa dengan dakwaan bertingkat, dengan dakwaan primair yaitu Pasal 2 ayat (1) UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan unsur-unsur :
1. setiap orang, 2. memperkaya diri-sendiri, orang lain, atau suatu korporasi, 3. dengan cara melawan hukum, 4. dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dan

5. dilakukan bersama-sama dengan orang lain. Bahwa kemudian kami akan membahas mengenai unsur-unsur dakwaan primair yang tidak terpenuhi/terbukti di dalam proses pembuktian yaitu : 1. TIDAK TERPENUHINYA HUKUM UNSUR DENGAN CARA MELAWAN

Pengertian melawan hukum berdasarkan doktrin dikenal ada dua macam yaitu melawan hukum formil dan melawan hukum materiil. Melawan hukum dalam arti formil adalah melawan hukum sebagaimana rumusan dalam undang-undang tertulis, sedangkan melawan hukum dalam arti materiil adalah tidak hanya melanggar hukum/undang-undang tertulis saja namun juga melanggar hukum tidak tertulis. Penjelasan dari Pasal 2 ini menganut kedua arti melawan hukum tersebut, namun melalui keputusan Mahkamah Konstitusi No.003/PUU-IV/XII/2006 tertanggal 19 Desember 2006 dinyatakan bahwa penjelasan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum mengikat. Sehingga dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi unsur melawan hukum yang masih berlaku adalah melawan hukum dalam arti formil.

10

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

Dalam perkara yang mendudukan Saudara Haris Diraja sebagai Terdakwa ini, Penuntut Umum mendalilkan bahwa Saudara Haris Diraja telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum formil. Penuntut Umum menyatakan bahwa Saudara Haris Diraja menyuruh Sandorce Purba agar mengikuti proses lelang pengadaan buku SD dan SMP dan menjanjikan bahwa CV SIGUR ROS akan dimenangkan dalam proses lelang tersebut dengan syarat nilai anggaran yang akan diberikan pada CV SIGUR ROS adalah sebesar Rp.6.000.000.000 (enam miliar rupiah), namun nilai yang tertulis di kontrak tetaplah berjumlah Rp 10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah). Penuntut Umum juga menyatakan bahwa Saudara Haris Diraja telah memberikan informasi tentang syarat-syarat pelelangan kepada Sandorce Purba selaku Direktur CV SIGUR ROS. Atas asumsi-asumsi tersebut, Penuntut Umum menyatakan kalau telah terjadi penentuan pemenang secara illegal dan bertentangan dengan Prinsip-Prinsip Pengadaan Barang/Jasa yang ada dalam Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Namun sayangnya Penuntut Umum tidak mampu membuktikan secara jelas dan tepat apas sebenarnya yang telah dilanggar oleh Saudara Haris Diraja. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Sandorce Purba menyatakan bahwa dalam pertemuan di Hotel Santika pada tanggal 17 Januari 2009 pukul 12.00 WIB yang dibahas adalah rencana pelaksanaan pemilihan Ketua Umum Dewan Perwakilan Daerah Partai Gerakan Karya Demokrasi Perjuangan (GKPD). Dalam pertemuan tersebut Saudara Haris Diraja juga menanyakan kinerja dari Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang. Jadi, tidak benar kalau dalam pertemuan tersebut yang dibahas adalah untuk menetapkan CV SIGUR ROS menjadi pemenang lelang. Terkait penentuan tuduhan Penuntut Umum yang menyatakan bahwa pemenang lelang telah ditentukan sebelum pengadaan dilasksanakan adalah tidak berdasar. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Ian Gunawan dalam persidangan menyatakan bahwa CV SIGUR ROS telah memenuhi seluruh syarat administratif dan seluruh teknis serta lebih berpengalaman dibandingkan para peserta lelang yang lainnya. Keterangan saksi tersebut didukung dengan Alat Bukti Surat berupa Hasil Evaluasi Panitia Pengadaan yang menyatakan bahwa seluruh peserta lelang telah memenuhi syarat administratif dan teknis. Jadi, tidak benar jika telah terjadi penentuan pemenang lelang secara illegal. Ahli Pengadaan Barang dan Jasa, Margit Sitanggang S.H., M.H, dalam persidangan menyatakan bahwa seorang Bupati sama sekali tidak memiliki kewenangan apapun untuk menentukan pemenang lelang yang berbiaya (memiliki anggaran) sebesar Rp.10.000.000.000 (sepuluh miliar). Hal tersebut sesuai dengan Pasal 26 huruf (a) Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pengadaan Barang/Jasa
11

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

Pemerintah. Jadi yang berwenang untuk menetapkan pemenang lelang pada proyek berbiaya Rp.10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah) adalah PPK. Penuntut Umum juga mendalilkan bahwa Saudara Haris Diraja telah memerintahkan Ian Gunawan untuk menerima Laporan Hasil Pemeriksaan Tim Pemeriksa dan Penerima Dinas Pendidikan meskipun dalam laporan tersebut telah terjadi ketidaksesuaian antara pengadaan buku dengan kontrak. Sangat disayangkan bahwa dalil Penuntut Umum tersebut sangat tidak berdasar. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Ian Gunawan menyatakan sendiri dalam persidangan bahwa dirinya tidak pernah diperintah untuk menerima Laporan Hasil Pemeriksaan Tim Pemeriksa dan Penerima Dinas Pendidikan. Saksi telah mengambil tindakan secara independen (tanpa ada campur tangan dari pihak manapun) untuk menerima Hasil Laporan Tim Penerima dan Pemeriksa meskipun dalam laporan tersebut telah terjadi ketidaksesuaian antara pengadaan buku dengan kontrak. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Fisella Mutiara selaku Ketua Tim Pemeriksa dan Penerima Dinas Pendidikan juga menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mendengar dan melihat bahwa Ian Gunawan selaku PPK pernah diperintah oleh Saudara Haris Diraja untuk menerima Hasil Laporan Pemeriksaan Tim Penerima dan Pemeriksa. Keterangan-keterangan saksi dan ahli dalam persidangan tersebut juga telah dibenarkan oleh Saudara Haris Diraja, yang pada intinya menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mengurusi proyek pengadaan buku tersebut semenjak menunjuk Ian Gunawan sebagai PPK. Oleh karena itu dalil-dalil Penuntut Umum yang menyatakan bahwa perbuatan Saudara Haris Diraja telah melawan hukum adalah tidak berdasar hukum sama sekali. Dengan tidak melekatnya kesalahan pada Saudara Haris Diraja di dalam seluruh prosedur pelelangan dan pengadaan buku, serta tidak adanya pelanggaran terhadap ketentuanketentuan yang ada di dalam hukum formil, maka tidak terdapat pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan yang diatur secara tertulis di Indonesia.
2. TIDAK TERPENUHINYA UNSUR MEMPERKAYA DIRI SENDIRI

DAN ORANG LAIN Bahwa unsur memperkaya berarti menambah kekayaan atau harta benda, artinya setiap perbuatan yang menyebabkan adanya pertambahan harta, maka perbuatan tersebut dapat dikategorikan memperkaya. Dalam Surat Dakwaannya, Penuntut Umum menyatakan bahwa Saudara Haris Diraja telah memperkaya diri sendiri atau orang
12

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

lain. Namun, setelah mempelajari dengan seksama Surat Dakwaan, Surat Tuntutan dan Proses Pembuktian ternyata unsur ini tidak terungkap dalam persidangan sehingga tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Berikut ini adalah analisis yurudis kami atas tidak terpenuhinya unsur tersebut : a. tidak terpenuhinya unsur memperkaya diri sendiri. Penuntut Umum menyatakan bahwa Saudara Haris telah memperkaya diri sendiri dengan masuknya uang sebesar Rp.4.000.000.000 (empat miliar rupiah) dari rekening CV SIGUR ROS ke rekening pribadi yang ditransfer dalam dua tahap. Namun, sayangnya pernyataan tersebut hanyalah asumsi semata dari Penuntut Umum. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Sandorce Purba menyatakan bahwa uang sebesar Rp.4.000.000.000 (empat miliar rupiah) yang dikirim kepada rekening milik Saudara Haris Diraja di Bank Central Asia Cabang Kabupaten Semarang dengan Nomor Rekening 010060020022029 tersebut adalah sebagai Dana Pemenangan Pemilihan Ketua Umum DPD Partai GKPD Kabupaten Semarang. Saksi menyatakan bahwa dirinya dan Saudara Haris Diraja bersama-sama akan memenangkan Pemilihan Ketua Umum tersebut. Dalam hal ini, saksi membayar sebesar Rp.6.000.000.000 (enam miliar rupiah) dan Saudara Haris Diraja membayar sebesar Rp. 4.000.000.000 (empat miliar rupiah). Dikarenakan Sandorce Purba tidak memiliki uang sebanyak Rp.6.000.000.000 (enam miliar rupiah) sehingga mengirim uang tersebut secara bertahap kepada Saudara Haris Diraja. Mengenai alasan pengiriman melalui rekening CV SIGUR ROS, saksi menyatakan bahwa dalam rekening tersebut juga ada uang milik pribadi (selaku direktur) dan dirinya juga sering melakukan transfer melalui rekening CV SIGUR ROS. Saksi Daud Manalu dalam persidangan menyatakan bahwa memang benar telah terjadi penambahan saldo pada rekening Saudara Haris Diraja sebesar Rp.4.000.000.000 (empat miliar rupiah) yang berasal dari Sandorce Purba sebagai Dana Pemenangan Pemilihan Ketua Umum DPD Partai GKPD Kabupaten Semarang. Saudara Haris Diraja dalam persidangan menyatakan bahwa uang sebesar Rp.4.000.000.000 (empat miliar rupiah) tersebut memang ditujukan sebagai Dana Pemenangan Pemilihan Ketua Umum DPD Partai GKPD Kabupaten Semarang. Dengan demikian unsur memperkaya diri sendiri tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.
13

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

b. tidak terpenuhinya unsur memperkaya orang lain. Kami menemukan fakta dalam proses pembuktian bahwa sama sekali tidak ada pihak yang telah diperkaya melalui perbuatan melawan hukum. Mengenai pengiriman uang sejumlah Rp.1.000.000.000 (satu miliar rupiah) dari rekening Saudara Haris Diraja kepada Ian Gunawan, Saksi Domas manalu menyatakan bahwa Ian Gunawan pernah memintanya untuk mengirimkan uang untuk membantu perbaikan sekolah-sekolah yang telah mengalami kerusakan. Oleh karena itu Saudara Haris Diraja mentransfer uang sebesar Rp.1.000.000.000 (satu miliar rupiah) kepada Rekening Ian Gunawan di Bank Central Asia Cabang Kabupaten Semarang dengan Nomor 6450039932. Saudara Haris Diraja juga menyatakan bahwa memang Ian Gunawan pernah meminta uang kepada Saudara Haris Diraja secara pribadi untuk membantu renovasi sekolah di Kabupaten Semarang. Saudara Haris Diraja dengan itikad baik mengirim uang secara pribadi untuk perbaikan sekolah-sekolah di Kabupaten Semarang mengingat dana untuk renovasi sekolah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Semarang sangat sedikit. Dengan demikian unsur memperkaya diri orang lain tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. 3. TIDAK TERPENUHINYA UNSUR DAPAT MERUGIKAN KEUANGAN NEGARA ATAU PEREKONOMIAN NEGARA Dalam proses pembuktian dalam persidangan Ahli Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Alicia Lisda Yunita menyatakan bahwa negara telah mengalami kerugian karena negara membayar sejumlah uang yang tidak seharusnya dibayar. Ahli menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena penurunan kuantitas dan kualitas buku sehingga pengadaan tersebut tidak sesuai dengan kontrak yang telah disepakati dengan PPK. Penurunan kualitas dan kuntitas buku ajar tersebut terjadi karena penyalahgunaan APBD yang tidak digunakan sesuai peruntukannya yaitu untuk menyediakan buku ajar SD dan SMP Kabupaten Semarang dengan kriteria : - separasi empat warna (merah, kuning, biru, dan hitam), - jumlah 300.000 (tiga ratus ribu) unit, - berat kertas 70 gram, dan - biaya anggaran Rp.10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah).
14

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

Ternyata di lapangan hanya terdapat 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) unit buku dengan separasi dua warna (hitam dan putih) dan berat kertas 60 gram. Setelah dilakukan perhitungan maka total biaya yang dikeluarkan untuk mengadakan buku tersebut hanya sebesar Rp.6.000.000.000 (enam miliar rupiah), namun negara tetap membayar sebesar Rp.10.000.000.000 (sepuluh miliar). Dengan demikian negara telah mengalami kerugian sebesar Rp.4.000.000.000 (empat miliar rupiah). Melihat fakta-fakta tersebut maka yang menjadi pokok permasalahan adalah mengapa bisa terjadi penurunan kualitas dan kuantitas dan siapa yang bertanggungjawab atas hal tersebut. Ternyata dalam persidangan terungkap bahwa CV SIGUR ROS tidak melakukan pengadaan buku sesuai dengan kontrak yang telah disepakati dengan Ian Gunawan selaku PPK. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Ian Gunawan menyatakan bahwa dirinya mengetahui adanya Hasil Laporan Pemeriksaan Tim Penerima dan Pemeriksa Dinas Pendidikan yang menyatakan telah terjadi ketidaksesuaian kuantitas dan kualitas buku yang diadakan. Meskipun mengetahui telah terjadi ketidaksesuaian antara kontrak dan pengadaan buku, saksi tetap memberika penerimaan (acceptance) atas buku yang dibuat CV SIGUR ROS. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Fisella Mutiara selaku Ketua Tim Pemeriksa dan Penerima Dinas Pendidikan menyatakan bahwa setelah memeriksa hasil pengadaan buku yang dilakukan CV SIGUR ROS ternyata tidak sesuai dengan apa yang disepakati dalam kontrak pengadaan buku. Berdasarkan Alat Bukti Surat berupa Hasil Laporan Tim Penerima Dinas Pendidikan diperoleh fakta bahwa memang benar kalau buku yang diterima dari CV SIGUR ROS tidak sesuai dengan kontrak baik kualitas maupun kuantitas. Ahli Pengadaan Barang dan Jasa, Dr. Margit Sitanggang S.H., M.H., menyatakan bahwa jika dalam kontrak pengadaan barang dan jasa ada pihak yang tidak melaksanakan kewajiban (prestasi) sesuai dengan kontrak yang telah disepakati, maka pihak yang bertanggungjawab adalah pihak yang telah mengingkari kontrak tersebut. Dalam perkara ini, dikarenakan CV SIGUR ROS tidak mengadakan buku sesuai dengan kontrak maka CV SIGUR ROS haruslah bertanggungjawab atas perbuatannya tersebut. Dalam perkara tindak pidana korupsi unsur melawan hukum sangat berkaitan erat dengan unsur merugikan keuangan negara. Suatu kerugian negara tidak akan mungkin terjadi apabila tidak dilakukan secara melawan hukum. Jadi, jika unsur dengan cara melawan hukum tidak terbukti maka tidak ada unsur merugikan kuangan negara. Oleh karena itu, tidak tepat jika dinyatakan kalau Saudara
15

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

Haris Diraja telah melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan keuangan negara, jika unsur dengan cara melawan hukum tidak terbukti. Dalam perkara ini, kerugian negara justru terjadi karena CV SIGUR ROS tidak melaksanakan pengadaan sebagaimana diatur dalam kontrak. CV SIGUR ROS hanya membuat 250.000 (dua ratus lima puluh ribu unit) buku dengan dengan kriteria separasi dua warna (hitam dan putih) dan berat kertas 60 gram dengan total biaya hanya Rp.6.000.000.000 (enam miliar rupiah). Negara telah dirugikan karena dalam Surat Perintah Membayar (SPM) ternyata dana dari Kas Daerah yang dicairkan sebesar Rp.10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah) sebagaimana tercantum dalam kontrak. Dengan demikian Saudara Haris Diraja tidak melakukan perbuatan melawan hukum yang menyebabkan negara mengalami kerugian. Dengan demikian, unsur kerugian negara ini tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.
4. TIDAK TERPENUHINYA UNSUR TURUT SERTA DALAM PASAL

55 AYAT (1) KE-1 KUHP. Penyertaan adalah apabila dalam suatu tidak pidana terlibat lebih dari satu orang, sedangkan turut serta merupakan salah satu bentuk dari penyertaan. Apa yang dimaksud dengan turut serta harus dicari pengertiannya melalui doktrin karena undang-undang tidak memberikan perumusannya secara defenitif. Ajaran penyertaan ini mempersoalkan peranan atau hubungan tiap-tiap peserta dalam pelaksanaan suatu tindak pidana, yang memungkinkan seorang peserta dapat dihukum atas perbuatannya walaupun perbuatan tersebut hanya memenuhi sebagian saja dari perumusan tindak pidana, atau peserta tersebut hanya memberikan andil maupun bantuan dalam bentuk perbuatan-perbuatan tertentu kepada orang lain untuk melaksanakan tindak pidananya. Sutochid Kartanegara dalam bukunya Hukum Pidana Kumpulan Kuliah Bagian Kedua halaman 1 mengatakan bahwa yang perlu dipahami dalam penyertaan (deelneming) adalah bagaimana hubungan tiap-tiap peserta delik, karena hubungan tersebut bermacam-macam. Menurut Sutochid, karena hubungan dari pada peserta terhadap delik mempunyai berbagai bentuk, maka ajaran atau pengertian deelneming berpokok pada menentukan pertanggungjawaban dari pada peserta terhadap delik. S.R. Sianturi dalam bukunya Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya halaman 329 menyatakan bahwa yang menjadi permasalahan adalah seberapa besar bagian seseorang dalam melakukan tindak pidana itu atau sejak kapan dan sejauh mana pengertian yang terkandung dalam istilah mengambil bagian itu. Dalam kaitannya dengan perkara tindak pidana korupsi, penyertaan maupun turut serta melakukan ini artinya ada dua orang atau lebih
16

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

yang secara bersama-sama melakukan perbuatan melawan hukum, memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara (Pasal 2 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi). Untuk bisa memberikan kepastian kapan terjadinya suatu penyertaan dalam melaukan tindak pidana khususnya dalam hal turut serta Menurut Hazawinkel-Suringa ada dua syarat yang wajib dipenuhi dalam suatu penyertaan yang berbentuk turut serta adalah :
a. antara

para peserta terdapat suatu kerjasama yang disadari (bewuste samenwerking). Disyaratkan adanya kerjasama yang disadari menurut Hoge Raad harus dibuktikan keberadaannya, yang mengimplikasikan bahwa pelaku peserta (medepleger) harus mempunyai sengaja ganda yaitu : (1) kesengajaan ditujukan kepada (akibat) delik dan (2) ditujukan ke kerjasama, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk adanya turut serta melakukan (medeplegen) yang paling penting adalah para pelaku peserta (medeplegers) melakukan suatu perbuatan secara bersamasama secara sadar dan pelaksanaannya dilakukan secara bersama-sama. Yang tidak kurang pentingnya untuk dapat mengatakan bahwa telah terjadi turut serta melakukan (medeplegen) adalah sifat accessoir turut serta melakukan (medeplegen) tidak sepenuhnya dapat diabaikan, artinya tanggungjawab peserta (medepleger) tidaklah berdiri sendiri tetapi accsessoir pada peserta lain yaitu sesamanya pelakupeserta (medepleger) yang pemidanaannya dikaitkan kepada pelaku-peserta (medepleger) yang lain itulah yang dinamakan accessoiriteit, karena keseluruhan perbuatan pelaku-peserta (medepleger) itulah yang menunjukkan adanya tindak pidana. Dalam turut serta, para peserta haruslah menyadari bahwa akan dilakukannya suatu tindak pidana. Mereka harus sadar bahwa mereka telah bersama-sama melakukan tindak pidana. Jika seandainya -quod non- telah terjadi tindak pidana maka seharusnya yang bertanggungjawab adalah pelaku tindak pidana (dader). Dalam persidangan terungkap bahwa terjadinya ketidaksesuaian antara kontrak degan pengadaan buku di lapangan merupakan kesalahan CV SIGUR ROS dengan Sandorce Purba sebagai direkturnya. Saksi Ian Gunawan selaku PPK mengakui telah menetapkan CV SIGUR ROS karena telah sesuai dengan seluruh persyaratan yang diwajibkan oleh Penitia Pengadaan. Berdasarkan Alat Bukti Surat berupa Dokumen Hasil Penilaian Panitian Pengadaan terungkap bahwa CV SIGUR ROS telah memenuhi syarat yang ditetapkan panitia pengadaan.
17

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

Saudara Haris Diraja menyatakan bahwa dirinya tidak mengetahui kalau telah terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam proses pelelangan pengadaan buku yang berada di bawah pengawasan Ian Gunawan. Dengan demikian tidak terungkap bahwa Saudara Haris Diraja sama sekali menyadari bahwa telah terjadi tindak pidana. Saudara Haris Diraja selaku Bupati Kabupaten Semarang telah menunjuk Ian Gunawan sebagai PPK dan menyerahkan kepercayaan untuk mengurusi masalah proses pelelangan hingga pengadaan buku tersebut. Dengan ditunjukkan Ian Gunawan maka Bupati tidak perlu turun tangan untuk mengurusi hal-hal teknis terkait pengadaan buku di Kabupaten Semarang tersebut. Dengan telah ditetapkannya CV SIGUR ROS sebagai pemenang dan karena telah ditandatangainya kontrak pengadaan buku antara Ian Gunawan selaku PPK bersama dengan Sandorce Purba, maka pengadaan berada dibawah tanggungjawab CV SIGUR ROS dan Ian Gunawan. Saksi Domas Manalu selaku Sekertaris Bupati menyatakan bahwa setelah dikeluarkannya Surat Keputusan Bupati Kabupaten Semarang Nomor 678/44/2009 tentang Penetapan PPK, Saudara Haris Diraja tidak lagi mengurusi proyek pengadaan buku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut. Bahwa dalam persidangan Penuntut Umum telah menghadirkan print out email yang berisikan percakapan antara Saudara Haris Diraja dengan Ian Sandorce Purba untuk membuktikan bahwa Saudara Haris Diraja menyadari bahwa telah terjadi tindak pidana. Namun dalam hal ini kami berpendapat bahwa print out surat elektronik (email) tersebut tidak membuktikan apapun. Percakapan yang terjadi antara Saudara Haris Diraja dengan Sandorce Purba adalah untuk membahas tentang Proses Pemenangan Pemilihan Ketua Umum DPD Partai GKPD Kabupaten Semarang. Saksi Domas Manalu menerangkan bahwa uang sebesar Rp.6.000.000.000 (enam miliar rupiah) yang dibayarkan oleh Sandorce Purba memang digunakan untuk Pemenangan Pemilihan Ketua Umum DPD Partai GKPD Kabupaten Semarang. Dengan demikian tidak ada kerjasama dalam melakukan tindak pidana.
b. para

peserta telah bersama-sama (gezamenlijke uitvoering).

melaksanakannya

18

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

Simons berpendapat bahwa dalam turut serta semua pesertanya haruslah memenuhi semua unsur yang dilakukan. Pendapat Simons ini didasarkan pada kalimat dalam Pasal 55 KUHP, dimana tentang turut serta dirumuskan dalam kalimat yang memiliki satu pengertian. Dalam Pasal 55 dikatakan bahwa mereka yang melakukan, menyuruh melakukan, dan turut serta melakukan perbuatan Sehingga dengan sendirinya seperti pengertian melakukan perbuatan atau dader, maka turut serta juga harus memenuhi seluruh unsur tindak pidana. Dalam perkara ini, jika seandainya -quod non- memang telah terjadi tindak pidana seperti yang didalilkan Penuntut Umum maka Saudara Haris Diraja sama sekali tidak memiliki peran fisik apapun dalam terjadinya tindak pidana tersebut. Seluruh perbuatan fisik tindak pidana dilakukan oleh Ian Gunawan selaku PPK, dan Sandorce Purba selaku Direktur CV SIGUR ROS. Atau dengan kalimat sederhana dapat dikatakan bahwa tidak ada sedikitpun perbuatan pidana yang telah dilakukan oleh Saudara Haris Diraja. Apakah Saudara Haris Diraja harus mempertanggungjawabkan kesalahan-kesalahan pelelangan yang tidak dilakukannya? Padahal kekuasaan atau kewenangan untuk mengatur proses pelelangan berada di tangan Ian Gunawan selaku PPK yang telah diserahi kewenangan untuk itu. Sehingga jika dilihat secara yuridis hanya Ian Gunawan yang memiliki keadaan pribadi dalam terjadinya tindak pidana. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Ian Gunawan menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang bertanggungjawab dari segi administrasi, fisik, keuangan, dan fungsional atas pengadaan buku SD dan SMP di Kabupaten Semarang pada tahun 2008-2009 tersebut. Jadi, dengan kata lain Ian Gunawan adalah orang yang berwenang dan bertanggungjawab atas keseluruhan (dari awal sampai akhir) proses pengadaan buku termasuk menetapkan pemenang dan mengeluarkan Surat Perintah Membayar (SPM). Tidak ada pihak lain yang bisa mengambilalih atau menggantikan posisi Ian Gunawan selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Sandorce Purba menyatakan bahwa CV SIGUR ROS adalah pihak yang ditetapkan sebagai pemenang lelang pengadaan buku melalui Surat Penetapan Pemenang Lelang. CV SIGUR ROS yang diwakili direkturnya yaitu Sandorce Purba juga menandatangani kontrak pengadaan buku. Dengan demikian CV SIGUR ROS adalah satusatunya pihak yang berwenang dan wajib melaksanakan pengadaan buku dalam proyek tersebut.

19

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Fisela Mutiara selaku Ketua Tim Penerima dan Pemeriksa Dinas Pendidikan menyatakan bahwa dirinya tidak pernah mendengar dan melihat kalau Saudara Haris Diraja pernah memerintahkan dirinya untuk menerima Hasil Laporan Pemeriksaan. Saksi juga menyatakan bahwa yang memerintahkan dirinya untuk menerima Hasil Laporan padahal telah terjadi penyimpangan adalah Ian Gunawan selaku Pejabat Pembuat Komitmen. Saksi Domas Manalu menyatakan bahwa setelah menunjuk Ian Gunawan sebagai PPK maka Bupati Haris Diraja tidak pernah mengurusi proses lelang yang bersifat teknis tersebut. Saudara Haris Diraja juga menyatakan hal yang sama dengan keterangan saksi-saksi tersebut. Saudara Haris Diraja menyatakan bahwa dirinya tidak pernah sekalipun mengurusi proses lelang semenjak menunjuk Ian Gunawan sebagai Pejabat Pembuat Komitmen. Dengan demikian tidak ada pelaksanaan yang dilakukan secara bersama-sama dalam melakukan tindak pidana. Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, SH dalam bukunya Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia halaman 123 menyatakan bawa jika kita berpandangan secara objektif maka akan melihat bahwa dalam menyatakan bahwa seseoran telah melakukan tindak pidana maka haruslah melihat wujud perbuatan dari para pelaku tindak pidana. Wujud tersebut harus cocok dengan perumusan tindak pidana dalam undang-undang (delicts omschrijving). Dengan demikian jika Sandorce Purba melakukan seluruh perbuatan fisik tindak pidana maka Saudara Haris Diraja yang tidak melakukan apapun, tidak dapat dipersalahkan. Selain penjelasan kami tersebut, Mr. Drs. E. Utrecht dalam bukunya Rangkaian Sari Kuliah Hukum Pidana II halaman 5 menyatakan bahwa dalam suatu penyertaan tindak pidana maka tindak pidana tersebut tidak mungkin terjadi tanpa adanya peran dari peserta lainnya. Dengan kata lain, setiap peserta memiliki peran masing-masing yang jika seluruh peran digabungkan akan terwujud suatu tindak pidana. Dalam perkara ini, jika seandainya -quod nonmemang telah terjadi tindak pidana maka tindak pidana tersebut terjadi tanpa sedikitpun memerlukan peran Saudara Haris Diraja. Tindak pidana sebagaimana yang didalilkan Penuntut Umum telah dilaksanakan sendiri oleh Ian Gunawan dan Sandorce Purba. Kami selaku Penasehat Hukum tidak melihat adanya suatu bentuk penyertaan dalam terjadinya tindak pidana tersebut. Apakah dengan tidak adanya peran Saudara Haris maka tindak pidana tersebut tidak akan terjadi? Maka sesuai dengan pendapat Mr. Drs. E. Utrecht tersebut maka terjadinya tindak pidana sama sekali tidak memerlukan
20

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

peran saudara Haris Diraja. Mr. Drs. E. Utrecht dalam halaman 9 kembali menekankan bahwa sebenarnya rasio dari Pasal 55 KUHP adalah untuk memidana mereka yang turut serta dalam melakukan tindak pidana karena tanpa peran mereka maka tindak pidana tidak mungkin terjadi. Jadi, dengan menerapkan rasio tersebut maka akan semakin jelas bahwa jika seandainya -quod non- memang telah terjadi tindak pidana maka Saudara Haris tidak memiliki peran apapun dalam menentukan terjadi atau tidak terjadinya suatu tindak pidana. Van Hammel dan Simons juga berpendapat yang sama. Mereka berpendapat bahwa dalam turut serta maka pihak yang turut melakukan tersebut harus memiliki sendiri kualitas-kualitas yang diperbuat pelaku tindak pidana. Jika kualitas-kualitas tersebut tidak ditemukan maka tidak dapat dikualifikasikan sebagai suatu turut serta. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Ian Gunawan dalam persidangan menyatakan bahwa hanya dirinya yang berwenang untuk menentukan pemenang lelang, menyepakati isi kontrak dan memerintahkan penggunaan uang proyek. Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Sandorce Purba menyatakan bahwa CV SIGUR ROS satu-satunya pihak yang berwenang dan bertanggungjawab atas pengadaan buku sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Ahli Pengadaan barang dan Jasa, Dr. Margit SItanggang, S.H., M.H dalam persidangan menyatakan bahwa Bupati tidak memiliki kewenangan untuk menentukan pemenang lelang yang berbiaya dibawah Rp.50.000.000.000,00 (lima puluh miliar) sesuai dengan Pasal 26 huruf d Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Barang/Jasa Pemerintah. Ahli menyatakan bahwa jika proyeknya bernilai Rp.10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah). Dengan demikian apakah masih memerlukan peran Saudara Haris Diraja? Jawabannya adalah tidak, karena Saudara Haris Diraja sama sekali tidak memiliki kualitas atau kemampuan untuk melakukan seluruh hal tersebut. Maka dari penjelasan yuridis tersebut maka unsur turut serta yang terkandung dalam Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. Bahwa sebagaimana yang tertuang di dalam dakwaan Penuntut Umum Saudara Haris Diraja didakwa oleh dakwaan bertingkat, yaitu disusun secara kumulatif dan berlapis dengan dakwaan subsidair yaitu Pasal 3 UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dengan unsur-unsur :
21

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

1. setiap orang, 2. dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, 3. menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana, 4. yang ada padanya karena jabatan dan kedudukan, 5. dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, 6. dilakukan bersama-sama dengan orang lain. Bahwa kemudian kami akan membahas mengenai unsur-unsur dakwaan primair yang tidak terpenuhi/terbukti di dalam proses pembuktian yaitu : 1. TIDAK TERPENUHINYA UNSUR DENGAN TUJUAN MENGUNTUNGKAN DIRI SENDIRI ATAU ORANG LAIN ATAU SUATU KORPORASI Bahwa yang dimaksud dengan unsur menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi adalah sama artinya dengan mendapatkan untung untuk diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi. Unsur tersebut merupakan tujuan dari pelaku tindak pidana korupsi. Adanya unsur ini harus ditentukan secara objektif dengan memperhatikan segala keadaan lahir yang menyertai perbuatan terdakwa. Mahkamah Agung dalam Putusannya Nomor 813 K/Pid/1987 tertanggal 29 Juni 1989 menyatakan bahwa unsur menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi dinilai dari kenyataan yang terjadi atau dihubungkan dengan perilaku terdakwa sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya, karena jabatan atau kedudukannya. Berikut ini adalah analisis yurudis kami atas tidak terpenuhinya unsur tersebut : TIDAK TERPENUHINYA MENGUNTUNGKAN DIRI SENDIRI Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Sandorce Purba menyatakan bahwa uang sebesar Rp.4.000.000.000 (empat miliar rupiah) yang dikirim kepada rekening milik Saudara Haris Diraja di Bank Central Asia Cabang Kabupaten Semarang dengan Nomor Rekening 010060020022029 tersebut adalah sebagai Dana Pemenangan Pemilihan Ketua Umum DPD Partai GKPD Kabupaten Semarang. Saksi menyatakan bahwa dirinya dan Saudara Haris Diraja bersama-sama akan memenangkan Pemilihan Ketua Umum tersebut. Dalam hal ini, saksi membayar sebesar Rp.6.000.000.000 (enam miliar rupiah) dan Saudara Haris Diraja membayar sebesar Rp. 4.000.000.000 (empat miliar rupiah). Dikarenakan Sandorce Purba tidak memiliki uang sebanyak Rp.6.000.000.000 (enam miliar rupiah) sehingga
22

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

mengirim uang tersebut secara bertahap kepada Saudara Haris Diraja. Saksi Daud Manalu dalam persidangan menyatakan bahwa setelah menerima uang Rp.4.000.000.000 (empat miliar rupiah) tersebut, dirinya diperintahkan oleh Saudara Haris Diraja untuk melakukan konfirmasi kepada Sandorce Purba. Saksi menyatakan bahwa setelah dikonfirmasi kepada Sandorce Purba memang benar telah terjadi pentransferan uang sebesar Rp.4.000.000.000 (empat miliar rupiah) yang ditujukan sebagai Dana Pemenangan Pemilihan Ketua Umum DPD Partai GKPD Kabupaten Semarang. Saudara Haris Diraja juga menyatakan keterangan yang persis sama dengan keterangan saksi-saksi tersebut. Dengan demikian, tidak ada hubungan antara perilaku Saudara Haris Diraja sesuai kewenangan yang dimilikinya, karena jabatan atau kedudukannya dengan unsur menguntungkan diri sendiri. Dalam perkara ini (terkait pentransferan uang), jika dilihat secara objektif maka Saudara Haris Diraja bertindak sebagai Kader Partai GKPD bukan sebagai seorang Bupati. Oleh karena itu, unsur menguntungkan diri sendiri tidak terpenuhi secara sah dan meyakinkan. TIDAK TERPENUHINYA UNSUR MENGUNTUNGKAN ORANG LAIN Saksi Daud Manalu dalam persidangan menyatakan bahwa pentransferan uang sebesar Rp.1.000.000.000 (satu miliar rupiah) dari rekening pribadi Saudara Haris Diraja di Bank Central Asia Cabang Kabupaten Semarang dengan Nomor Rekening 010060020022029 ke rekening Ian Gunawan pada Bank Central Asia Cabang Kabupaten Semarang dengan Nomor Rekening 6450039932 ditujukan secara pribadi sebagai dana bantuan renovasi sekolah. Pengiriman uang tersebut dilakukan karena Ian Gunawan memang meminta Sadaura Haris untuk dibantu secara pribadi dalam rangka renovasi beberapa sekolah yang telah mengalami kerusakan. Saudara Haris Diraja dalam persidangan menyatakan bahwa dirinya memang mengirimkan uang tersebut atas permintaan Ian Gunawan selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang. Saudara Haris Diraja dengan itikad baik akhirnya mengirim uang tersebut karena dana untuk renovasi sekolah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tidak cukup untuk memperbaiki beberapa sekolah yang mengalami kerusakan. Jika dilihat secara objektif maka tidak ada hubungan antara perilaku terdakwa sesuai kewenangan yang dimilikinya, karena jabatan
23

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

atau kedudukannya dengan pengiriman uang tersebut. Pengiriman uang pribadi untuk renovasi sekolah yang mengalami kerusakan tersebut tidak bertentangan dengan kewenangan, kesempatan atau sarana. Oleh karena itu, unsur menguntungkan diri orang lain tidak terpenuhi secara sah dan meyakinkan.
2. TIDAK

TERPENUHINYA UNSUR MENYALAHGUNAKAN KEWENANGAN, KESEMPATAN ATAU SARANA Bahwa kewenangan berarti serangkaian hak yang melekat pada jabatan atau kedudukan dari pelaku tindak pidana korupsi untuk mengambil tindakan yang diperlukan agar tugas pekerjaannya dapat dilaksanakan dengan baik (lihat Pasal 53 ayat (1) huruf b UU No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan Penjelasannya). Kewenangan tersebut tercantum di dalam ketentuan-ketentuan tentang tata keja yang berkaitan dengan jabatan atau kedudukan dari pelaku tindak pidana korupsi. Yang dimaksud dengan kesempatan adalah peluang yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku tindak pidana korupsi, peluang mana tercantum di dalam ketentuan-ketentuan tentang tata kerja yang berkaitan dengan jabatan atau kedudukan yang dijabat atau diduduki oleh pelaku tindak pidana korupsi. Sementara, sarana adalah syarat, cara, atau metode (Peristilahan Hukum dalam Praktik, Kejaksaan Agung RI, 1985, hal. 241) kerja yang berkaitan dengan jabatan atau kedudukan dari pelaku tindak pidana korupsi. Menyalahgunakan kewenangan dapat diartikan sebagai adanya kekuasaan atau hak yang ada pada pelaku yang disalahgunakan, dalam artian digunakan dengan maksud selain daripada tujuan kewenangan tersebut diberikan kepadanya oleh si pemberi wewenang. Sementara menyalahgunakan kesempatan berarti menyalahgunakan peluang yang ada padanya dalam kedudukan atau jabatannya itu. Sedangkan menyalahgunakan sarana berarti menyalahgunakan alat-alat atau perlengkapan yang ada padanya karena jabatan atau kedudukannya itu. Dengan demikian, maksud dari unsur ini adalah menggunakan kewenangan, kesempatan atau sarana, yang melekat pada jabatan atau kedudukan yang dijabat atau diduduki oleh pelaku untuk tujuan lain dari maksud diberikannya kewenangan, kesempatan, atau sarana tersebut (R. Wiyono, Pembahasan UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Sinar Grafika, 2006, hal. 39). Saksi yang dihadirkan Penuntut Umum, Ian Gunawan menyatakan bahwa dirinya selaku Pejabat Pembuat Komitmen adalah orang yang berwenang dan bertanggungjawab terhadap seluruh proses pengadaan buku SD dan SMP di Kabupaten Semarang tersebut. Berikut ini adalah tugas pokok PPK berdasarkan Pasal 9 ayat (3) Perpres No. 8 Tahun 2006 tentang Perubahan ke empat atas Kepres No. 80 Tahun
24

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

2003 tentang Pemerintah,


-

Pedoman

Pelaksanaan

Pengadaan

Barang/Jasa

Menyusun perencanaan pengadaan barang/jasa. Menetapkan paket-peket pekerjaan disertai ketentuan mengenai peningkatan penggunaan produksi dalam negeri dan peningkatan pemberian kesempatan bagi usaha kecil termasuk koperasi kecil, serta kelompok masyarakat. Menetapkan dan mengesahkan harga perkiraan sendiri (HPS), jadwal, tatacara pelaksanaan dan lokasi pengadaan yang disusun panitia/pejabat pengadaan/unit pelayanan pengadaan. Menetapkan dan mengesahkan hasil pengadaan panitia//pejabat pengadaan/unit pelayanan pengadaan sesuai kewenangannya. Menetapkan besaran uang muka yyang menjadi hak penyedia barang/jasa sesuai ketentuan yang berlaku. Menyiapkan dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan pihak penyedia barang/jasa. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian pengadaan barang/jasa kepada pimpinan instansinya. Mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak. Menyerahkan aset hasil pengadaan barang/jasa dan aset lainnya kepada Menteri/Panglima TNI/kepala Polri/Pimpinan lembaga/Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tinggi Negara/Pimpinan Kesekretariatan Komisi/Gubernur/Bupati/Walikota/Dewan Gubernur BI/pemimpin BHMN/Direksi BUMN/BUMD dengan berita acara penyerahan. sebelum pelaksanaan

- Menandatangani Pakta Integritas pengadaan barang/jasa dimulai.

Berdasarkan Pasal 9 ayat (5) Perpres No. 8 Tahun 2006 tentang Perubahan ke empat atas Kepres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, yaitu : Pejabat Pembuat Komitmen bertanggungjawab dari segi administrasi, fisik, keuangan, dan fungsional atas pengadaan barang/jasa yang dilaksanakannya. Ahli Pengadaan Barang dan Jasa, Dr. Margit Sitanggang, S.H., M.H, menyatakan bahwa Bupati tidak memiliki kewenangan untuk menentukan pemenang lelang dalam proyek pengadaan yang berbiaya Rp.10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah). Kalaupun Bupati memiliki kewenangan untuk menentukan pemenang lelang maka
25

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

proyek tersebut haruslah berbiaya diatas Rp.50.000.000.000 (lima puluh miliar rupiah). Hal tersebut sesuai dengan Pasal 26 huruf a Keppres No. 80 Tahun 2003. Ahli juga menyatakan bahwa dalam struktur kepanitiaan pengadaan barang/jasa, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) tidak berada dibawah Bupati. Dengan demikian tidak ada kekuasaan atau hak yang ada pada Saudara Haris Diraja yang disalahgunakan, dalam artian digunakan dengan maksud selain daripada tujuan kewenangan tersebut diberikan kepadanya. Dalam pengadaan buku SD dan SMP tersebut, yang memiliki wewenang, kesempatan, dan sarana adalah Ian Gunawan selaku Pejabat Pembuat Komitmen. Saudara Haris Diraja yang hanya bertindak sebagai Bupati telah melakukan seluruh tugas dan kewajiban yang diberikan kepadanya sesuai dengan tujuannya. Saudara Bupati Haris Diraja selaku Pengguna Anggaran Daerah telah melaksanakan tugasnya yaitu menetapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sesuai dengan kewenangannya. Hal tersebut didukung dengan Alat Bukti Surat berupa Surat Keputusan Keputusan Nomor 678/44/2009 tentang penunjukan Ian Gunawan selaku Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Semarang sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pada proyek pengadaan buku pelajaran SD dan SMP di Kabupaten Semarang, serta Alat Bukti Surat berupa Surat Keputusan Nomor 969/41/2009 tentang Otorisasi Anggaran Belanja Daerah Tahun Anggaran 2009 sebagai tindak lanjut disetujuinya anggaran sebesar Rp 10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah) untuk proyek pengadaan buku di sejumlah SD dan SMP di Kabupaten Semarang. Setelah keluarnya surat-surat tersebut maka Saudara Haris Diraja tidak lagi mengurusi proses teknis penadaan barng dan jasa, tetapi hanya mengawasi saja. Dengan tidak adanya kewenangan, kesempatan, sarana yang timbul dari jabatan atau kedudukan Saudara Haris Diraja sebagai seorang Bupati Kabupaten Semarang. Dengan demikian unsur menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana tidak terbukti secara sah dan meyakinkan. IV. PENUTUP DAN PERMOHONAN Majelis Hakim yang terhormat, Dengan tidak terbuktinya unsur-unsur pasal yang didakwakan sebagaimana diuraikan diatas, maka baik Surat Dakwaan maupun Surat Tuntutan Penuntut Umum tidaklah terbukti secara sah dan meyakinkan. Pada akhirnya setelah kami menyampaikan argumen hukum, pandangan dan penilaian kami terhadap kasus yang diangkat dalam persidangan ini, untuk selanjutnya kami menyerahkan sepenuhnya kepada Majelis Hakim yang terhormat untuk memutus perkara ini dengan mempertimbangkan seluruh aspek hukum yang telah disampaikan dalam persidangan. Kami mohon agar Majelis Hakim untuk memutus sebagai berikut:
26

YRR
YOSHI | RONI | REKAN
Antitrust, Bankruptcy, & Litigation Menara Rajawali 26th Floor Jl. Mega Kuningan Lot 5.1 Kawasan Mega Kuningan, Jakarta 12950 Telp + 621-72700384 | Fax + 621-7288586

1. Menyatakan Saudara Haris Diraja tidak terbukti secara sah dan

meyakinkan telah melakukan seluruh tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam dakwaan Penuntut Umum;
2. Membebaskan Saudara Haris Diraja dari semua dakwaan atau setidak-

tidaknya melepaskan terdakwa dari segala tuntutan hukum;


3. Membebaskan Saudara Haris Diraja dari dalam tahanan; 4. Memulihkan Saudara Haris Diraja dalam harkat dan martabatnya;

5. Mengembalikan seluruh barang bukti kepada pemiliknya yang berhak; 6. Membebankan biaya perkara kepada Negara. Kami mohon agar Majelis Hakim memberikan putusan yang seadil-adilnya berdasarkan kepastian hukum. Jakarta, 14 Oktober 2009 Atas nama Tim Penasehat Hukum Saudara H. Haris Diraja, S.H., M.H.,

(Roni Ansari N.S., S.H., M.H)

(Tsu Yoshi S.H., M.H)

27