Anda di halaman 1dari 17

Pengantar Kerangka Berpikir Ilmiah (disusun oleh: cilie)

Pengantar Kerangka Berpikir Ilmiah


A. Tinjauan Teori 1. Arti Pikiran dan Berpikir a. Arti Pikiran Manusia bukanlah wujud spiritual murni, tetapi merupakan perpaduan antara wujud jasmani dan rohani. Karena itu ia memerlukan sarana material untuk dapat menangkap pikiran. Kita tidak mungkin dapat memahami pikiran seseorang jika tidak diwujudkan dalam bentuk ucapan, tulisan, dan isyarat. Isyarat adalah perkataan yang dipadatkan, karena itu isyarat adalah perkataan jugai. Perkataan merupakan susunan kata yang mewakili maksud tertentu yang lengkapii. Sehingga pikiran merupakan hasil berpikir; ingatan; akal; gagasan; angan-angan; niat; maksudiii. b. Arti Berpikir Dalam Psychology and life bahwa berpikir merupakan manipulasi atau organisasi unsur-unsur lingkungan dengan menggunakan lambang-lambang sehingga tidak perlu langsung melakukan kegiatan yang tampakiv. Menurut Taylor bahwa Thinking is a inferring processv. Memahami realitas berarti menarik kesimpulan, meneliti berbagai kemungkinan penjelasan dari realitas eksternal dan internalvi. c. Tujuan Berpikir Berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka: (1) mengambil keputusan, (2) memecahkan masalah, dan (3) menghasilkan yang baru (creativity)vii. d. Cara Berpikir dan jenis-jenis pemikiran Secara garis besar ada 2 (dua) macam berpikir, yakni: (1) berpikir autistic, dan (2) berpikir realisticviii. Menurut Floyd L. Ruch bahwa untuk jenis berpikir realistic terdiri dari 3 (tiga) jenis, yaitu: (1) berpikir deduktif, (2) berpikir induktif, dan (3) berpikir evaluative. Dengan berpikir autistic, orang melarikan diri dari kenyataan dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantastic. Sedangkan berpikir realistic atau disebut juga nalar, ialah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Berpikir deduktif/deduksi merupakan cara berpikir dari pernyataan yang bersifat umum, menuju kesimpulan yang bersifat khususix. Berpikir induktif/induksi merupakan cara berpikir untuk menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat individualx.

Berpikir evaluative ialah berpikir kritis, menilai baik buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Hal ini berarti berpikir evaluative dilakukan menurut kriteria tertentuxi. Berpikir inferensial adalah Berpikir kreatif adalah think which produce new methods, new concepts, new understanding, new invention, new work of art (James C. Coleman & Coustance L. Hammen. 1974: 254)xii. Berpikir kreatif setidaknya harus memenuhi 3 syarat, yaitu (1) kreativitas melibatkan respons atau gagasan yang baru; (2) memecahkan persoalan secara realistis; (3) adanya usaha untuk mempertahankan insight yang orisinil, menilai, dan mengembangkannya sebaik mungkin (MacKinno). Jenis-jenis pemikiran terbagi atas beberap macam, yaitu: 1) Intuitive mind Intuitive mind merupakan gaya pemikiran yang mengutamakan pendekatan coba-coba dalam menguji berbagai pemecahan masalah. 2) Systematic mind Systematic mind merupakan pemikiran yang menyukai pemecahan masalah dengan menstrukturkannya ke dalam pengertian beberapa metode atau pendekatan, yang apabila diikuti secara menyeluruh akan mengarah pada pemecahan yang dapat diterima. 3) Perceptive mind Perceptive mind adalah pemikiran yang cenderung memusatkan perhatian pada hubungan antar unsur data di dalam memperoleh dan memproses informasi, dan yang selalu berupaya menangkap gambaran besar dari masalah. 4) Receptive mind Perceptive mind merupakan pemikiran yang cenderung tenggelam di dalam rinci data, dan kemudian mencoba mencari pemecahan masalah dengan menggunakan sejumlah besar informasi rinci. e. Akal dan Hati Nurani (Qalbu) 1) Akal Menurut KBBI (2005: 18) bahwa akal merupakan daya pikir/upaya (untuk memahami sesuatu). Hal ini berarti bahwa akal berfungsi untuk menguraikan informasi yang diterimanya, mengolah, menyimpan, dan menghasilkan kembali informasi tersebut. Fungsi akal ini berkorelasi dengan proses pengolahan

informasi, atau disebut juga komunikasi interpersonal, dimana komunikasi ini meliputi sensasi, persepsi, memori, dan berpikir. Akal memiliki keterbatasan, setidaknya hal ini dapat ditinjau dari keempat potensi yang dimiliki akal yang mampu saling berhubungan satu sama lain. Untuk aspek memori, sebagaimana John Griffith, ahli matematika, menyatakan bahwa kemampuan memori manusia secara rata-rata sebesar 1011. Sedangkan menurut John Von Neuman, ahli teori informasi, berdasarkan hasil perhitungannya menyatakan bahwa kemampuan memori manusia secara ratarata sebesar 2,8 x 1020 (280 kuintiliun) bit. Pada aspek berpikir, manusia memiliki keterbatasan dalam berpikir. Hal ini termaktub dalam kitab Al-Quran, yang tertulis bahwa
dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit" QS. Al Israa ayat (85).

Berdasarkan keterangan di atas, maka diketahui bahwa akal manusia tidak mampu memikirkan tentang Zat-Nya, sehingga berimplikasi pada ketidakmampuan manusia menghadirkan sensasi maupun persepsi secara konkret tentang Zat-Nya. 2) Hati Nurani (Qalbu) Di dalam jiwa manusia dirasakan ada suatu kekuatan yang berfungsi untuk memperingatkan, mencegah dari perbuatan yang buruk. Atau sebaliknya kekuatan tersebut mendorong terhadap perbuatan yang baik. Ada perasaan tidak senang apabila sedang mengerjakan sesuatu karena tidak tunduk kepada kekuatan. Apabila telah menyelesaikan perbuatan jelek/buruk/menyimpang, mulailah kekuatan tersebut memarahinya dan merasa menyesal atas perbuatan itu. Hati nurani yang kita rasakan memerintahkan kepada kita supaya melakukan kewajiban dan memperingatkan kita agar jangan sampai menyalahinya. Hati nurani yang memerintahkan agar menetapi kewajiban, bukan karena balasan dan siksaan kecuali ganjaran dirinya dengan merasa gembira dan siksaan dirinya karena merasa tercela dan menyesalxiii. Pada hati nurani, terdapat potensi yang dimilikinya, yaitu keimanan, kesadaran, kecerdasan, perasaan, dan iradah/kehendak.

Dalam hati nurani terdapat istilah yang biasa dikenal dengan nama insting atau naluri, dimana naluri merupakan respon tertentu yang ditimbulkan oleh situasi tertentu. Ciri-ciri dari naluri, yaitu: (1) seketika dan sempurna, tidak berubah, dapat diperkirakan; (2) bersifat tetap, terbatas, tidak dapat disesuaikan dengan situasi yang lain. 2. Arti Kata dan Bahasa a. Arti kata Dalam pandangan logika, kata memiliki beberapa pengertian, yaitu: 1) Positif, negative, dan privative 2) Universal, particular, singular, dan kolektif 3) Konkret dan abstrak 4) Mutlak dan relative 5) Univok, equivok, dan analog 6) Bermakna dan tak berbermakna b. Arti kalimat Kalimat ialah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang memiliki sekurang-kurangnya subjek (S) dan predikat (P), jika tidak mempunyai S dan P, pernyataan itu bukanlah kalimat, melainkan frase. Kalimat bagi seorang pembaca ialah kesatuan kata yang mengadung makna/pikiran, sedangkan bagi seorang penulis, kalimat adalah satu kesatuan pikiran/makna yang diungkapkan dalam kesatuan kataxiv. Kalimat efektif, yaitu kalimat yang menimbulkan daya khayal pada pembaca, minimal mendekati apa yang dipikirkan penulis. Syarat kalimat efektif, yaitu: 1) Penekanan adalah upaya memberi tekanan pada kalimat merupakan upaya menonjolkan/mementingkan pikiran pokok. 2) Kesejajaran ialah menempatkan gagasan yang sama penting dan fungsinya ke dalam struktur kebahasaan yang sama. 3) Kehematan berarti penghematan kata, frase, atas struktur lain yang dianggap tidak perlu dalam kalimat. Kehematan dapat dilakukan dengan cara: penghematan subjek, penghilangan hiponimi, penghilangan kata depan dari dan daripada, penyingkatan kata, penyingkatan ungkapan, penyingkatan kalimat.

4) Keterbacaan ialah derajat kemudahan sebuah tulisan untuk mudah dipahami maksudnya. Semakin tinggi keterbacaan akan semakin mudah tulisa dipahami. c. Arti bahasa Bahasa adalah bentuk lahiriah dari pikiran. Menurut Ernest Cassirer menyatakan bahwa selain merupakan wadah-wadah pikiran kita, bahasa juga dapat membentuk pikiran itu. Selain sebagai alat control pikiran, bahasa juga merupakan sumber mengenai isi pikiran dan cara kita berpikir. Bahasa senantiasa mengandaikan adanya pengertian. 1) Fungsi bahasa Adapun fungsi bahasa, yaitu: (1) untuk mengkomunikasikan informasi (fungsi informative); (2) untuk mengekspresikan perasaan-perasaan atau membangkitkan perasaan-perasaan tertentu (fungsi ekspresif); (3) untuk menyebabkan terjadinya suatu tindakan yang baik dan mencegah terjadinya suatu tindakan yang jahat (fungsi direktif). 2) d. Relasi bahasa dan pikiran 3. Arti pengertian dan definisi a. Arti pengertian b. Arti definisi Kata definisi berasal dari bahasa latin definition, yang berarti pembatasan. Definisi mempunyai tugas khusus, yaitu menjelaskan arti kata-kata atau term-term. Jika demikian, definisi dapat dijelaskan sebagai susunan kata yang digunakan untuk menetapkan arti bagi suatu kata atau bagi suatu grup kata. Pada dasarnya setiap definisi terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu definiendum dan definies. Definiendum adalah kata atau grup kata yang didefinisikan. Definiens adalah kata atau susunan kata yang mendefinisikan. Adapun beberapa macam definisi yang umumnya telah diketahui, yaitu: 1) Beberapa Macam definisi a) Definisi stipulatif Suatu definisi stipulatif menetapkan arti untuk suatu kata baru. Ini mencakup penciptaan suatu kata baru atau pemberian suatu arti baru untuk suatu kata yang lama. Biasanya, tujuan suatu definisi stipulatif ialah

menggantikan suatu ungkapan yang lebih kompleks dengan suatu ungkapan yang lebih sederhana.xv b) Definisi leksikal Suatu definisi leksika dipakai untuk melaporkan arti yang sudah dimiliki oleh suatu kata dalam suatu bahasa. Definisi-definisi diksioner atau yang terdapat dalam kamus merupakan contoh-contoh definisi leksikal. c) Definisi yang tepat/yg menegaskan Tujuan dari suatu definisi yang tepat adalah mengurangi ketidakjelasan arti suatu kata. Suatu definisi yang tepat berbeda dengan suatu definisi stipulatif dalam hal bahwa definisi stipulatif mencakup suatu penetapan arti yang secara murni arbiter, sedangkan penetapan arti dalam suatu definisi yang tepat tidak arbitrer. Definisi ini dimaksudkan untuk memperjelas muatan makna sebuah konsep tertentu. Jadi, definisi ini menghilangkan kekaburan, mempertegas dan menjelaskan batas dari muatan-makna. d) Definisi teoritis/analitik Suatu definisi teoritis menetapkan arti bagi suatu kata dengan mengusulkan suatu teori yang memberikan suatu ciri tertentu bagi suatu entitas yang ditunjuk oleh kata itu. Suatu definisi teoritis memberikan kita cara untuk memandang atau mengerti suatu entitas dengan konsekuensi-konsekuensi deduktif, merangsang penelitian lebih jauh yang dihasilkan berdasarkan penerimaan suatu teori yang menetukan entitas-entitas itu. Definisi jenis ini dibuat dengan maksud untuk mengungkapkan ciri-ciri yang secara teoritis memadai dari sebuah objek tertentu. Definisi yang analitik harus memenuhi tolak ukur kesetaraan, mampu menyatakan karakteristik esensial, menjelaskan sifat, rumusan tak berbelitbelit, rumusan positif, bukan rumusan rakitan. e) Definisi persuasive Tujuan dari suatu definisi persuasive adalah menggerakkan sikap mendukung atau tidak mendukung apa yang ditunjukkan oleh definiendum. Definisi ini dibuat dengan maksud untuk mempengaruhi sikap terhadap suatu konsep tertentu.

Dalam penulisan karya tulis ilmiah, dibagian metodologi penelitian terdapat suatu istilah definisi yang dikenal dengan nama definisi operasaional. Definisi operasional menetapkan arti suatu kata dengan menentukan prosedur-prosedur eksperimental tertentu yang menentukan berlaku atau tidaknya kata itu untuk barang tertentu. Definisi operasional dipakai untuk menjabarkan konsep-konsep yang telatif abstrak pada dataran realitas empiris. Dengan kata lain, bahwa definisi operasional concept atau construct merupakan suatu definisi yang menyatakan secara jelas dan akurat mengenai bagaimana suatu concept atau construct tersebut diukurxvi. Suatu definisi berdasarkan genus dan differentia specifia menetapkan arti suatu kata dengan mengidentifikasi suatu term genus dan satu atau lebih kata yang membedah, yang ketika dikombinasikan, menyampaikan arti kata yang didefinisikan Relevansi definisi adalah menetapkan batasan luasan dari muatan makna, memberi suatu landasan sehingga konsep dapat diukur secara empirik. Taxonomy definisi bertujuan memberi pemahaman tentang konsep yang lebih kompleks dengan menggunakan definisi-definisi konsep yang lebih sederhana. 2) Penyusunan definisi Penyusunanxvii definisi terbagi atas 2 (dua) cara, yaitu: a) Definisi nominal Penyusunan defisini nominal dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu dari 3 (tiga) pendekatan, yaitu: asal usul (etimologis), terjemahan, atau padanannya. Suatu definisi etimologis menetapkan arti suatu kata dengan menyingkap asal usul kata itu, baik dari bahasanya sendiri, maupun dari bahasa lain. Definisi etimologis mempunya 2 kepentingan khusus, yaitu (1) definisi etimologis dari suatu kata seringkali menyampaikan arti mendasar dari kata itu, yang semua arti lain terkait berasal. (2) definisi etimologis memungkinkan orang memiliki akses pada suatu keseluruhan konstelasi dari kata-kata yang terkait. b) Definisi formal Penyusunan definisi formal berdasarkan per-genus et diferentia, dimana kata diklasifikasikan ke dalam genus, kemudian ditunjukkan ciri pembedanya.

3) Syarat berdefinisixviii Agar pembuatan definisi terhindar dari kekeliruan, maka perlu diperhatikan patokannya, sebagai berikut: a) Defisi tidak boleh lebih luas atau lebih sempit dari konotasi kata yang didefinisikan b) Definisi tidak boleh menggunakan kata yang didefinisikan c) Definisi tidak boleh memakai penjelasan yang justru membingungkan d) Definisi tidak boleh menggunakan bentuk negatif 4. Arti Ilmiah/Keilmuan a. Pengetahuan Pengetahuan (knowledge) adalah hasil dari aktivitas mengetahui, yakni tersingkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa hingga tidak ada keraguan terhadapnyaxix. Ketidakraguan merupakan syarat mutlak bagi jiwa untuk dapat dikatakan mengetahui. Pengetahuan sudah puas dengan menangkap tanpa ragu kenyataan sesuatu. Terdapat macam-macam pengetahuan menurut polanya, yaitu: 1) Tahu bahwa 2) Tahu bagaimana 3) Tahu akan/mengenai 4) Tahu mengapa Adapun klasifikasi pengetahuan berdasarkan kriteria karakteristiknya, yaitu: 1) Pengetahuan inderawi 2) Pengetahuan akal budi 3) Pengetahuan intuitif 4) Pengetahuan otoritatif Sebagaimana uraian Inuxx, bahwa yang benar adalah pengetahuan akal itu disebut ilmu yang kemudian untuk membahasnya disebut logika, pengetahuan budi itu disebut moral yang kemudian untuk membahasnya disebut etika, pengetahuan indrawi itu disebut seni yang untuk membahasnya disebut estetika. Berikut klasifikasi pengetahuan atas dasar jenis pengetahuan yang dibangun, yaitu: 1) Pengetahuan biasa 2) Pengetahuan ilmiah

3) Pengetahuan filsafat 4) Pengetahuan agama Klasifikasi pengetahuan berdasarkan sarananya, yaitu: 1) Pengetahuan non-ilmiah merupakan hasil pemahaman manusia tentang sesuatu dalam kehidupan sehari-hari melalui indera. 2) Pengetahuan ilmiah merupakan hasil pemahaman manusia dengan menggunakan metode ilmiah (seperti: analitiko-sintesis, non-deduksi, siklusempirik, dan linear) b. Pengalaman c. Teori Teori hanyalah model suatu bagian terbatas dari jaga raya dan seperangkat aturan yang menghubungkan kuantitas dalam model itu dengan menghasilkan pengamatan yang kita buat. Syarat teori (jika disebut teori yang baik)xxi, yaitu; 1) Harus memberikan dengan cermat sekolompok besar pengamatan atas dasar suatu model yang harus mengadung beberapa unsur secara arbitres; 2) Harus membuat ramalan yang pasti mengenai hasil pengamatan di masa depan. d. Ilmu Ilmu menghendaki penjelasan lebih lanjut dari sekedar apa yang dituntut oleh pengetahuan. Dengan kata lain bahwa ilmu (science) merupakan akumulasi pengetahuan yang menjelaskan hubungan (korelasi atau kausalitas) yang tersusun secara sistematik, rasional, logis, metodik, dan ditemukan secara empiric melalui penelitian. Tujuan dari ilmu yaitu adanya pengetahuan (knowledge), hadirnya kebenaran (truth), adanya pemahaman (understanding, comprehension), adanya penjelasan (explanation), peramalan (prediction), pengendalian (control), dan penerapan (application, invention, production). Dalam pengetahuan modern dikenal pembagian ilmu atas kelompok ilmu a posteriori dan kelompok ilmu a priorixxii. Ilmu a posteriori adalah ilmu pengetahuan yang kita peroleh dari pengalaman inderawi, seperti ilmu meniteni/mengamati. Ilmu meniteni merupakan ilmu yang mengamati sesuatu dari gejala yang diberikan oleh alam, biasanya berdasarkan

pengalaman yang berulang-ulang. Ilmu ini berangkat dari kejelian orang-orang dalam mengamati kejadian-kejadian dalam kehidupan maupun peristiwa di alam. Ilmu a priori adalah ilmu-ilmu yang tidak kita peroleh dari pengalaman dan percobaan, tetapi bersumber pada akal itu sendiri. Terdapat beberapa ciri-ciri dari ilmu, yaitu: 1) Empiris (berdasarkan pengamatan) 2) Sistematis (tersusun secara teratur) 3) Objektif (bebas dari prasangka perseorangan) 4) Analitis 5) Verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya) 6) Faktual (tidak memberikan penilaian baik-buruk) 7) Instrumental (sarana melakukan sesuatu) e. Paradigma Paradigma merupakan cara melihat dan memahami realitas. Paradigma merupakan jendela pemahaman, dimana tercakup berbagai wawasan. 5. Pembelajaran kognitif Menurut Benjamin S. Bloomxxiii bahwa pembelajaran kognitif dapat diurut sebagai berikut: a. Pengetahuan atau pengenalan seperti mengingat informasi, fakta terminology, rumus (sehingga dengan demikian kita akan mengidentifikasi, memilih, menyebut nama, dan membuat daftar, sebagai tingkat yang paling rendah) b. Pemahaman seperti menjelaskan pengetahuan/informasi yang diketahui dengan kata-kata sendiri (sehingga dengan demikian kita akan membedakan, menjelaskan, menyimpulkan, merangkum, dan memperkirakan sebagai tingkat selanjutnya) c. Penerapan seperti penggunaan dan penerapan informasi kedalam situasi konteks yang baru (sehingga dengan demikian akan menghitung, mengembangkan, menggunakan, memodifikasi dan mentransfer sebagai tingkat berikutnya) d. Analisis seperti memisahkan, membedakan komponen-komponen atau elemenelemen, suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi dan kesimpulan (sehingga dengan demikian akan dibuat diagram, membedakan, menghubungkan, menjabarkan ke dalam bagian-bagian pada tingkat seterusnya) e. Sintesis seperti mengkombinasikan bagian atau elemen ke dalam suatu kesatuan atau struktur yang lebih besar (sehingga dengan demikian akan membentuk,

mendesain, memformulasikan dan membuat prediksi sebagai tingkat yang lebih tinggi) f. Evaluasi seperti membuat penilaian dan keputusan tentang suatu ide, gagasan penemuan dalil, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu (sehingga dengan demikian kita akan membuat kritik, penilaian, perbandingan dan evaluasi sebagai tingkat terakhir). 6. Landasan Penelaahan Ilmu a. Epistemologi 1) Istilah lain Epistemologi Terdapat beberapa istilah lain epistemology, yaitu: kriteriologi, kritika pengetahuan, gnoseologia, dan logika material. Untuk kriteriologi; menetapkan benar/tidaknya pikiran atau pengetahuan berdasarkan ukuran tentang kebenaran. Sedangkan untuk kritika pengetahuan; tinjauan secara mendalam untuk menentukan benar/tidaknya pengetahuan manusia. Pada gnoseologia merupakan usaha untuk memperoleh hakikat pengetahuan yang bersifat keilahian. Dan logika material merupakan usaha menetapkan kebenaran suatu isi pemikiran. 2) Ciri-ciri Epistemologi a) Bersifat sentral; posisi antara subjektif dan objektif b) Landasan bagi segenap tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari c) Dasar bagi pengembangan pemikiran ilmiah d) Jembatan antara alam keharusan (das sollen) yang bersifat kejiwaan dan alam empiric (das sein) yang bersifat inderawi. 3) Cara Berpikir rasional Terdapat beberapa cara dalam berpikir rasional, yaitu: a) Logis Berpikir logis berarti mengetahui sistematikanya, yang terdiri dari proposisi, premis, konklusi, dan silogismenya. b) Dialektis c) Taksonomis d) Simbolis e) Intuitif; pengetahuan yang bersifat segera.

Karakteristik intuisi, yaitu: (1) Capat/spontan/tidak direncanakan (2) Transparan/jernih (3) Durasi waktu (4) Akumulasi pengalaman 4) Isme-isme dalam Epistemologi a) Realism; kebenaran terletak pada objek yang real. b) Idealism; kebenaran terletak pada pikiran manusia c) Subjektivisme; pengetahuan ada pada diri subjek. d) Objektivisme; pengetahuan timbul karena ada objek yang dipersepsi manusia. e) Rasionalisme; sumber kebenaran ada pada rasio f) Empirisme; sumber kebenaran ada pada pemgalaman b. Ontologi c. Aksiologi = mengerti = paham

B. Ruang Lingkup Filsafat C. Sarana Berpikir Ilmiah 1. Bahasa ilmiah 2. Matematika 3. Statistika Penelitian ilmiah merupakan investigasi sistematik, terkendali, bersifat empiric, serta kritis mengenai fenomena alami yang dibimbing teori dan hipotesis mengenai hubungan-hubungan yang diduga sebelumnya mengenai fenomena tersebutxxiv. 4. Logika D. Metode Ilmiah 1. Kefilsafatan (filsafat) Menurut KBBI (2005: 317) menyatakan bahwa fisalfat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Filsafat juga dikenal dengan asumsi yang mendasari alam pikiran atau suatu kegiatan. Sehingga filsafat merupakan ilmu yang berintikan logika (teori penyimpulan), estetika (teori keindahan), metafisika (teori mengenai apa yang ada), dan epistemology (teori pengetahuan).

Sebagaimana diketahui bahwa filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, philosophia, dimana philos berarti cinta dan sophia berarti kearifan. Sehingga kearifan atau kebijaksanaan tidak terbatas pada dimensi tertentu dari filsafat. Sedangkan secara terminologis, filsafat berarti suatu sikap; motode berpikir; kelompok masalah; kelompok teori; analisis kritis bahasa & pengertian; serta pemahaman yang komprehensif. Oleh karena itu, filsafat dulu dipahami sebagai suatu pemikiran yang mencakup apa-apa yang sekarang kita kenal sebagai ilmu. Jadi filsafat berarti kajian atau penciptaan tentang teori mengenai hakikat sesuatu. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semua yang ada di alam raya ini akan dapat kita ketahui, sehingga berfilsafat mendorong kita untuk mengetahui apa yang telah kita ketahui dan apa yang belum kita ketahui. Karakteristik berpikir filsafati, yaitu: a. Radikal; Mendasar berarti membongkar tempat berpijak secara fundamental b. Kritis berarti tanggap terhadap persoalan yang berkembang. c. Rasional berarti sejauh mana dapat dijangkau akal manusia d. Reflektif berarti mencerminkan pengalaman pribadi e. Konseptual berarti hasil konstruksi pemikiran f. Konsisten berarti berpikir lurus/tidak berlawanan g. Sistematis berarti saling berkaitan h. Metodis berarti ada cara untuk memperoleh kebenaran i. j. Komprehensif; Menyeluruh berarti memandang sesuatu dari berbagai dimensi Bebas dan bertanggungjawab.

2. Ilmiah Berikut jenis-jenis metode ilmiah secara umum, yaitu: a. Deduksi; menarik kesimpulan yang bersifat khusus berdasarkan ketentuan umum b. Induksi; menarik kesimpulan yang bersifat umum berdasarkan pengamatan hal-hal khusus. c. Analisis seperti memisahkan, membedakan komponen-komponen atau elemenelemen, suatu fakta, konsep, pendapat, asumsi dan kesimpulan (sehingga dengan demikian akan dibuat diagram, membedakan, menghubungkan, menjabarkan ke dalam bagian-bagian pada tingkat seterusnya) d. Sintesis seperti mengkombinasikan bagian atau elemen ke dalam suatu kesatuan atau struktur yang lebih besar (sehingga dengan demikian akan membentuk,

mendesain, memformulasikan dan membuat prediksi sebagai tingkat yang lebih tinggi) e. Evaluasi seperti membuat penilaian dan keputusan tentang suatu ide, gagasan penemuan dalil, metode, produk atau benda dengan menggunakan kriteria tertentu (sehingga dengan demikian kita akan membuat kritik, penilaian, perbandingan dan evaluasi sebagai tingkat terakhir). Terdapat dua Metode penyelidikan ilmiah, yaitu a. Metode siklus-empirik (ilmu kealaman) b. Metode linear (ilmu social) E. Kebenaran Ilmiah 1. Arti benar (kebenaran) Benar merupakan persesuaian antara pikiran dan kenyataanxxv. Ukuran kebenaran terdiri dari: (1) sesuai tidaknya proposisi-proposisi itu dengan kenyataan sesungguhnya; (2) adanya persesuaian atau tidak adanya pertentangan dalam dirinya. Sebagaimana diketahui bahwa penilaian seseorang bersifat nisbih, relative, dan terbatas, bergantung kepada ketajaman dan kesesuaianNya mengenai sifat dan hakikat,yang bersangkutan. Kita bebas memiliki asumsi, opini, persepsi, atau keyakinan yang berbeda. Tapi sebuah kebenaran adalah hakiki, tidak dapat berubah ataupun diubah, kita mungkin saja memiliki berbagai sudut pandang. Namun, kebenaran adalah fakta yang objektif dan berasal dari sumber yang tak terbatas. 2. Sifat dasar kebenaran ilmiah a. Struktur yang rasional-logis Bahwa kebenaran ilmiah selalu dicapai berdasarkan kesimpulan yang logis dan rasional dari proposisi atau premis-premis tertentu. Proposisi ini dapat saja berupa teori atau hokum ilmiah yg sudah terbukti benar dan diterima sebagai benar atau dapat pula mengungkap data atau fakta baru tertentu. Kebenaran ilmiah bersifat ilmiah, berarti yang dapat menggunakan akal budinya secara baik, bisa memahami kebenaran ilmiah ini. Atas dasar ini, kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran yang berlaku universal. b. Isi empiris

Sifat empiris dari kebenaran ilmiah mau mengatakan bahwa bagaimana pun juga kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada. c. Dapat diterapkan (pragmatis) Sifat pragmatis terutama mau menggabungkan kedua sifat kebenaran di atas. Dalam arti kalau sebuah pernyataan dianggap benar secara logis dan empiris, pernyataan tersebut juga harus berguna dalam kehidupan manusia, yaitu berguna untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidup manusia. 3. Teori Kebenaran a. Teori Kebenaran Korespondensi Teori Kebenaran Korespondensi merupakan kebenaran yang sesuai antara pernyataan dengan fakta di lapanganxxvi. b. Teori Kebenaran Koherensi Teori Kebenaran Koherensi adalah kebenaran atas hubungan antara dua pernyataanxxvii. c. Teori Kebenaran Pragmatis Teori Kebenaran Pragmatis adalah kebenaran hanya dalam salah satu konsekuensi saja.xxviii d. Teori Kebenaran Performative e. Teori Kebenaran Sintaksis Teori Kebenaran Sintaksis adalah kebenaran yang berangkat dari tata bahasa yang melekatxxix. f. Teori Kebenaran Semantic g. Teori Kebenaran Non-deskripsi h. Teori Kebenaran logic dan empiris i. Teori Kebenaran paradigmatic Teori Kebenaran paradigmatic merupakan kebenaran yang berubah pada berbagai ruang dan waktu, jadi setelah kurun waktu tertentu berubah (untuk kategori waktu) dan pada tempat tertentu ( untuk kategori ruang). j. 4. F. Sesat Pikir Sesat pikir (fallacio, Latin atau fallacy, Inggris) adalah kekeliruan penalaran yang disebabkan oleh pengambilan kesimpulan yang tidak sahih dengan melanggar ketentuanTeori Kebenaran proposisi

ketentuan logika atau susunan dan penggunaan bahasa serta penekanan kata yang secara sengata atau tidak, telah menyebabkan pertautan atau asosiasi gagasan yang tidak tepatxxx. Pada umumnya sesat pikir dibagi ke dalam tida jenis, yaitu: 1. Sesat pikir karena bahasa 2. Sesat pikir karena formal Sesat pikir formal terjadi karena melanggar ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi bentuk (form) penalaran yang sahih 3. Sesat pikir karena material Sesat pikir material ialah sesat pikir yang terjadi bukan karena bahasa atau bentuk penalaran yang tidak sahih, melainkan yang terjadi pada meteri atau isi penalaran itu sendiri. G. Etika Keilmuan H. Penutup
i ii iii iv v vi vii viii ix x xi xii xiii xiv xv xvi xvii xviii xix xx xxi xxii xxiii xxiv xxv xxvi xxvii xxviii xxix xxx

Drs. H. Mundiri. 2005. Logika. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal. 9. Drs. H. Mundiri. 2005. Logika. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal. 9. Departemen Pendidikan Nasional. 2005. KBBI. Edisi ke-3. Balai Pustaka. Jakarta. Hal. 873 Jalaluddin Rahmat. 1991. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. Hal.68 Jalaluddin Rahmat. 1991. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. Hal.68 Jalaluddin Rahmat. 1991. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. Hal.68 Jalaluddin Rahmat. 1991. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. Hal.68 Jalaluddin Rahmat. 1991. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. Hal.69 Drs. H. Mundiri. 2005. Logika. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal. 5. Drs. H. Mundiri. 2005. Logika. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal. 5. Jalaluddin Rahmat. 1991. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. Hal. .. Jalaluddin Rahmat. 1991. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosdakarya. Bandung. Hal. 74 Drs. H.A. Mustofa. 2007. Akhlak tasawuf. Pustaka Setia. Bandung. Hal. 117-118. Minto rahayu. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Grasindo. Jakarta. Hal. 78Rafael Raga Maran. Pengantar logika. Grasindo. Hal 35 Dr. Asep Hermawan. 2004. Kiat praktis menulis skripsi, tesis. Ghalia Indonesia. Jakarta. Hal. 42 Minto Rahayu. Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi Hal. 73-73. Drs. H. Mundiri. 2005. Logika. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal. 39-42 Drs. H. Mundiri. 2005. Logika. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal. 5. Inu Kencana Syafiie. 2004. Pengantar Filsafat. PT. Refika Aditama. Bandung. Hal 331-32 Stephen hawking. 1998. Riwayat sang kala. Hal. 11. Ibid H. Mundiri. Hal. 7. Inu Kencana Syafiie. 2004. Pengantar Filsafat. PT. Refika Aditama. Bandung. Hal 34 Dr. Asep Hermawan. 2004. Kiat praktis menulis skripsi, tesis. Ghalia Indonesia. Jakarta. Hal. 6 Drs. H. Mundiri. 2005. Logika. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. Hal. 10. Inu Kencana Syafiie. 2004. Pengantar Filsafat. PT. Refika Aditama. Bandung. Hal 32 Inu Kencana Syafiie. 2004. Pengantar Filsafat. PT. Refika Aditama. Bandung. Hal 32 Inu Kencana Syafiie. 2004. Pengantar Filsafat. PT. Refika Aditama. Bandung. Hal 33 Inu Kencana Syafiie. 2004. Pengantar Filsafat. PT. Refika Aditama. Bandung. Hal 33 Jan hendrik rapar. 1996. Pengantar logika, asas-asas penalaran sistematis. Kanisius. Yogyakarta. Hal 92-95