Anda di halaman 1dari 19

Nama Kelompok : 1. A. Sulfani 2.

Yuni Prasetiowati KIMIA A 2010 KARTU IDENTITAS KONTAMINAN / POLUTAN Nama Kontaminan / Polutan : Kromium Alamat : Periode Golongan : 4 : VIB 103234007 103234023

3. Siti Nurul Islamiyah 103234027

Karakter (Sifat-Sifat Fisik) Keterangan umum unsur: Nama unsur , lambang, no. atom: Kromium, Cr, 24 Deret kimia: Logam transisi Golongan, periode : VIB, 4 Berat atom = 51.996 g/mol Konfigurasi elektronik: [18Ar] 3d5 4s1 Jumlah elektron tiap kulit: 2, 8, 13, 1 Logam kromium:

Ciri-ciri fisik: Fase: padat Logam kristalin putih keperakan. Keras tetapi rapuh Tidak korosif Keregangan tinggi Titik leleh = 1900oC Titik didih = 2690oC Densitas/g cm-3 = 7.15 g/cm3 Kalor peleburan: 21.0 kJ/mol

Kalor penguapan: 339.5 kJ/mol Kapasitas kalor: (25oC) 23.35 J/(mol.K) Kelimpahan/ppm = 122 ppm

Ciri-ciri atom: Struktur kristal: cubic body centered Bilangan oksidasi: 6, 5, 4, 3, 2, 1, -1, -2 Bilangan oksidasi yang stabil ialah 6, 3, 2 Elektronegativitas = 1.66 (skala Pauling) Energi ionisasi: ke-1: 652.9 kJ/mol ke-2: 1590.6 kJ/mol ke-3: 2987 kJ/mol Jari-jari atom = 1.172 Daftar Pustaka Arsyad, M. Natsir. 2001. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Lee, J. D. 1991. Inorganic Chemistry Fourth Edition. Singapore: Fong & Sons Printers Pte. Ltd. Http//www.sifat-sifat-logam-kromium-22331904102011.htm. ( Diakses tanggal 1 Maret 2012).

2. -

Sumber (Asal kontaminan / polutan) Limbah industri pelapisan logam. Banyak industry pelapisan listrik yang menggunakan beraneka ragam bahan kimia untuk prosesnya, antara lain berbagai asam, basa, dan senyawa- senyawa kimia seperti kromat, sianida, klorida, phospat dan lain- lain yang menghasilkan bahan buang padatan, cairan maupun gas yang berbahaya. Walaupun jumlah bahan limbah dari industry ini tidak sebanyak yang dihasilkan oleh industry lain, namun karena sifatnya yang sangat beracun, maka bahan buangan beracun yang sedikit ini amat berbahaya bagi manusia serta kelestarian lingkuangan sekitarnya.

Lapis listrik adalah suatu proses pengendapan/deposisi suatu logam pelindung yang dikehendaki diatas logam lain dengan cara elektrolisa. Biasanya elektrolisa dilakukan dalam suatu bejana yang disebut sel elektrolisa yang berisi cairan elektrolit/rendaman (bath). Pada rendaman ini tercelup paling tidak dua elektroda.Masing-masing elektroda dihubungkan dengan arus listrik, terbagi menjadi kutub positif (+) dan negatif (-) dikenal sebagai anoda (+) dan katoda (-).

Selama proses lapis listrik berlangsung terjadi reaksi kimia pada daerah elektroda/elektrolit, baik reaksi reduksi maupun oksidasi.Karena pada proses lapis listrik reaksi diharapkan berjalan terus menerus menuju arah tertentu secara tetap, maka hal yang paling penting dalam proses ini adalah mengoperasikan proses ini dengan menggunakan arus searah. Ada 4 bagian yang utama (penting) dari suatu sistem lapis listrik. Keempat bagian yang harus ada didalam suatu unit lapis listrik adalah : a.Larutan elektrolit (rendaman) b.Anoda c.Katoda (benda kerja) d.Sirkuit luar Rendaman/Larutan Elektrolit Setiap larutan elektrolit yang dijadakan rendaman tempat proses lapis listrik berlangsung harus mengandung bahan-bahan terlarut yang sekurang-kurangnya memiliki satu dari fungsi berikut ini : a. Menyediakan sumber logam yang akan diendapkan b. Membentuk kompleks dengan ion logam yang akan diendapkan c. Konduktif

d. Dapat menstabilkan larutan dari hidrolisa e. Bertindak sebagai buffer f. Memodifikasi atau mengatur bentuk fisik dari endapan g. Membantu pelarutan anoda.Adapun rendaman yang digunakan dalam proses lapis listrik dapat bersifat asam maupun basa. Rendaman Asam Dengan Garam Sederhana Biasanya rendaman selalu rengandung garam dari logam yang akan diendapkan/dilapiskan. Sebaiknya dipilih garam- garam yang mudah larut namun anion dari garam tersebut tidak mudah tereduksi. Walaupun anion tidak ikut secara langsung dalam proses terjadinya pelapisan, tetapi jika menempel pada permukaan katoda akan merupakan gangguan bagi struktur endapan.Aktivitas dari ion logam ditentukan oleh konsentrasi dari garam logamnya, derajat disosiasi dan konsentrasi komponen lain yang ada di dalam rendaman. Jika konsentrasi logamnya tidak mencukupi untuk diendapkan, akan terbentuk endapan yang terbakar pada rapat arus yang relative rendah. Anoda Anoda yang digunakan dalam proses lapis listrik harus dapat mengalirkan arus listrik dari luar kedalam larutan/rendaman dan juga harus berfungsi sebagai pengisi kekurangan logam didalam larutan karena mengendap pada permukaan katoda.Anoda dapat berbentuk lempengan logam yang masif atau dapat juga berbentuk bola atau potongan-potongan kecil. Katoda Katoda atau benda kerja dapat memiliki bermacam bentuk dan dapat terbuat dari beraneka logam yang penting katoda harus bersifat konduktor sehingga proses lapis listrik dapat berlangsung dan logam dapat menempel pada katoda (benda kerja).Bila benda kerja tidak bersifat konduktor, dapat dilakukan pengerjaan awal yang membuat benda kerja siap menjadi katoda dalam proses lapis listrik. Sirkuit Luar

Sirkuit (rangkaian) listrik di luar sistem lapis listrik biasanya terdiri dari sumber arus dan peralatan lain yang dapat menyearahkan arus bila sumber arus memberikan arus bolak-balik.
Limbah cair yang dihasilkan dan mengandung krom heksavalen (Cr(VI)) dapat membahayakan lingkungan dan juga kesehatan. Limbah industri pelapisan logam khususnya pelapisan krom pada salah satu industry di Yogyakarta menghasilkan limbah dengan konsentrasi rata-rata sekitar 75.900 mg/L dalam bentuk CrO4 ( Kundari, dkk. 2009).
2-

Limbah industri penyamakan kulit. Industri penyamakan kulit yang menggunakan proses Chrome Tanning menghasilkan limbah cair yang mengandung krom. Penyamakan kulit adalah proses mengubah jangat atau kulit mentah menjadi kulit. Jangat dan kulit memiliki kemampuan untuk menyerap asam tannic dan bahan kimia lainnya yang mencegah mereka dari membusuk, membuat mereka tahan terhadap pembasahan, dan menjaga mereka kenyal dan awet. Tanning pada dasarnya adalah reaksi dari serat kolagen dalam kulit dengan tanin, kromium, tawas, atau agen kimia lain. Yaitu dengan memasukan bahan penyamak ke dalam jaringan lulit yang berupa jaringan kolegan sehingga terbentuk ikatan kimia antara keduanya menjadikan lebih tahan terhadap faktor perusak. Zat penyamak bisa berupa penyamak nabati, sintetis, mineral, dan penyamak minyak. Sebelum di samak, dilakukan seleksi kulit mentah untuk memperoleh kulit berkualitas. Tahapan proses dilakukan dalam drum yang berkapasitas 400-600 lembar kulit sekaligus. Penyamakan kulit terdiri atas banyak proses panjang, namun pada intinya dibagi 3 proses utama yaitu, proses awal (beam house atau proses rumah basah), proses penyamakan, dan finishing. Proses awal terdiri atas : 1. Peredaman (untuk mengembalikan kadar air yang hilang selama proses pengeringan sebelumnya, karena kulit basah lebih mudah bereaksi dengan bahan kimia penyamak, membersihkan dari sisa kotoran, darah, garam yang masih melekat pada kulit); 2. Pengapuran yaitu proses membengkakan kulit untuk melepas sisa

daging, menyabunkan lemak pada kulit, pembuangan sisik, pembuangan sisa daging; 3. Pembuangan kapur/ deliming yaitu untuk menghilangkan kapur dan menetralkan kulit dari suasana basa, menghindari pengerutan kulit, menghindari timbulnya endapan kapur; 4. Pengasaman/ picle yaitu untuk memberikan suasana asam pada kulit sehingga lebih sesuai dengan senyawa penyamak dan kulit lebih tahan terhadap serangga bakteri pembusuk. Pada kulit sapi dilakukan proses pembuangan bulu menggunakan senyawa Na2S. Proses penyamakan : Tahapan proses penyamakan disesuaikan dengan jenis kulit. Kulit dibagi atas 2 golongan yaitu hide (untuk kulit dari binatang besar seperti kulit sapi, kerbau, kuda dan lain-lain), dan skin (untuk kulit domba, kambing, reptil dan lain-lain). Jenis zat penyamak yang digunakan mempengaruhi hasil akhir yang diperolah. Penyamak nabati (tannin) memberikan warna coklat muda atau kemerahan, bersifat agak kaku tapi empuk, kurang tahan terhadap panas. Penyamak mineral paling umum menggunakan krom. Penyamakan krom menghasilkan kulit yang lebih lembut/ lemes, dan lebih tahan terhadap panas. Lewat proses penyamakan, dilakukan proses pemeraman yaitu menumpuk atau menggantung kulit selama 1 (satu) malam dengan tujuan untuk menyempurnakan reaksi antara molekul bahan penyamak dengan kulit. Proses penyelesaian (Finishing) Proses ini sangat menentukan kualitas hasil akhir. Terdiri atas beberapa tahapan proses yang bervariasi sesuai dengan jenis kulit, bahan penyamak yang digunakan, dan kualitas akhir yang diinginkan. Proses finishing akan membentuk sifat-sifat khas pada kulit seperti, kelenturan, kepadatan, dan warna kulit. Proses perataan (setting out) bertujuan untuk menghilangkan lipatan-lipatan yang terbentuk selama proses sebelumnya dan mengusahakan terciptanya luasan kulit yang maksimal. Proses perataan sekaligus juga akan mengurangi kadar air karena kandungan air dalam kulit akan terdorong keluar (striking out).

Beberapa proses lanjutan lainnya adalah pengeringan (mengurangi kadar air kulit sampai batas standar biasanya 18-20 %), pelembaban (menaikkan kandungan air bebas dalam kulit untuk persiapan perlakukan fisik di proses lanjutan). Pelemasan (melemaskan kulit dan mengembalikan kerutan-kerutan sehingga luasan kulit menjadi normal kembali), pementangan (untuk menambah luasan kulit), pengamplasan (untuk menghaluskan permukaan kulit). Kulit samakan bisa di cat untuk memperindah tampilan kulit. Adapun reksinya adalah :

Daftar Pustaka http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/bahan-baku-dan-

produk-industri/pelapisan-logam-di-industri/. Diakses pada Senin, 19 April 2012 pukul 20.00 wib. http://www.deptan.go.id/bbkptgpriok/admin/rb/penyamakan.pdf. Diakses pada Selasa, 20 April 2012 pukul 17.00 wib

3 .

Reaksi reaksi yang relevan (Karakter kimia) - Logam Cr murni tidak penah ditemukan di alam. Logam ini ditemukan dalam bentuk persenyawaan padat atau mineral dengan unsur-unsur lain. Cr paling banyak ditemukan dalam bentuk batuan besi krom atau kromit FeCr2O4. Kromat dihasilkan dari reaksi antara kromit dengan Na2CO3 di udara. 4FeCr2O4 + 8Na2CO3 + 7O2 8Na2CrO4 + 2Fe2O3 + 8CO2 - Perubahan kromat menambahkan H2SO4. 2Na2CrO4 + H2SO4 Na2Cr2O7 + Na2SO4 + H2O Dikromat direduksi menjadi Cr(III) dengan karbon, yang kemudian direduksi dengan aluminium (proses aluminotermit). Na2Cr2O7 + 2C Cr2O3 + Na2CO3 + CO Cr2O3 + 2Al Al2O3 + 2Cr Proses Aluminotermit yaitu reaksi antara Aluminium dengan Besi(III) Oksida merupakan salah satu dari reaksi aluminotermit yang bersifat eksotermik. Secara teoretis kalor yang dihasilkan 850 kJ mol-1 dan temperatur yang dapat dicapai 30000C. Salah satu penelitian meliputi pembuatan campuran aluminotermit, mereaksikan dan memanfaatkan kalor hasil reaksi aluminotermit untuk memanaskan Alumina hingga mencapai titik leleh. Dari hasil pengamatan struktur makro hasil percobaan menunjukkan adanya padatan Alumina yang telah mengalami proses pembekuan. - Pada pH rendah (suasana asam), dikromat bersifat pengoksidasi yang kuat. Cr2O72- + 14H3O+ + 6e 2Cr3+ + 21H2O Daftar Pustaka Eo= 1.33V menjadi dikromat dapat dilakukan dengan

Lee, J. D. 1991. Inorganic Chemistry Fourth Edition. Singapore: Fong & Sons Printers Pte. Ltd. Svehla, G. 1990. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi Kelima Bagian I. Terjemahan oleh L. Setiono dan A. Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta: PT Kalman Media Pusaka. Polar, Heryanto. 1994. Pencemaran Dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rinika Cipta.

4. -

Perubahan perubahan Spesies (Karakter Kimia) Proses-proses kimiawi yang berlangsung dalam badan perairan terjadi peristiwa reduksi dari senyawa-senyawa Cr6+ yang sangat beracun menjadi Cr3+ yang kurang beracun. Peristiwa reduksi yang terjadi atas senyawa Cr6+ menjadi Cr3+ dapat berlangsung bila badan perairan berada dan atau mempunyai lingkungan yang bersifat asam. CrO 2- + 8H+ + 3e- Cr3+ + 4 H2O 4 - Pada suasana basa, Cr3+ berubah menjadi krom heksavalen. Reaksinya: Cr3+ + 3OH- Cr(OH)3 Cr(OH)3 + OH[Cr(OH)4]-

2[Cr(OH)4]- + 3H2O2 + 2OH- 2CrO 2 + 8H2O 4 - CrO3 merupakan senyawa yang beracun dan korosif. CrO3 biasanya dibuat dengan penambahan H2SO4. Na2Cr2O7 + H2SO4 2CrO3 + Na2SO4 + H2O Dengan pemanasan dengan suhu di atas 250oC, CrO3 melepaskan oksigen dan membentuk Cr2O3 yang berwarna hijau. 2CrO3 2CrO2 + O2 2CrO2 Cr2O3 + O2 - Ada sedikit senyawa Cr(+V), namun senyawa tersebut tidak stabil dan diuraikan menjadi Cr(+III) dan Cr(+VI). Contohnya, K3CrO8 yang terbentuk dari NaCrO4 dan H2O2 dalam larutan basa. - Senyawa Cr3+ merupakan senyawa yang sangat penting dan stabil dalam keadaan asam. Dan mudah teroksidasi menjadi Cr(+VI) dalam keadaan basa. Cr3+ + 3OH- Cr(OH)3 Cr2O3(H2O)n - Ion kromium(II) (atau kromo, Cr2+) diturunkan dari kromium(II) oksida, CrO. Ion Cr2+ agak tidak stabil, karena merupakan zat pereduksi yang kuat.

Cr3+ + e Cr2+ Eo = -0.41 V Dalam larutan asam ion Cr2+ menguraikan air perlahan-lahan dengan membentuk hidrogen. Oksigen dari atmosfer dengan mudah mengoksidasikannya menjadi ion Cr3+. Daftar Pustaka Lee, J. D. 1991. Inorganic Chemistry Fourth Edition. Singapore: Fong & Sons Printers Pte. Ltd. Polar, Heryanto. 1994. Pencemaran Dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rinika Cipta. Svehla, G. 1990. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi Kelima Bagian I. Terjemahan oleh L. Setiono dan A. Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta: PT Kalman Media Pusaka.

5.

Perpindahan (Jejak di Sistem dan Lingkungan air, udara atau tanah) Kromium adalah unsur golongan transisi blok d yang banyak digunakan

dalam berbagai industri. Kromium dibuang ke lingkungan sebagai limbah industri. Meskipun dapat terjadi dalam beberapa keadaan oksidasi, hanya +3 dan +6 yang ditemukan dalam sistem lingkungan. Senyawa Cr heksavalen(terutama kromat dan dikromat) dianggap beracun baik di darat, perairan, tanah ataupun organisme. Kromium heksavalen jauh lebih beracun daripada senyawa kromium trivalen. Hal tersebut dikarenakan keduanya memiliki sifat kimia yang berbeda. Senyawa kromium heksavalen merupakan pengoksidasi yang kuat dan sangat mudah larut, sedangkan senyawa kromium trivalen cenderung membentuk endapan pada pH yang mendekati netral. Pada keadaan trivalen memiliki bentuk yang stabil dalam kesetimbangan dengan tanah ataupun sistem air. Logam Cr dapat masuk ke dalam semua strata lingkungan, yaitu pada

perairan, tanah ataupun udara. Kromium masuk ke lapisan udara yaitu salah satunya dari pembakaran dan mobilisasi batu bara dan minyak bumi. Kromium di udara dalam bentuk debu dan atau partikulat-partikulat. Debu dan partikelpartikel Cr tersebut dapat turun ke tanah atau perairan karena di bawa oleh air hujan, angin, ataupun gaya gravitasi. Kromium masuk ke tanah ataupun perairan dapat berasal dari partikulat Cr yang jatuh dari udara ataupun dari limbah industri yang dibuang ke tanah dan perairan. Berdasarkan Gambar 1, kromium masuk ke tanah dan perairan dimulai dari senyawa Cr heksavalen yang dilepaskan ke lingkungan, dimana dimungkinkan Cr tetap stabil dalam keadaan heksavalen. Sehingga akan diambil oleh tanaman dan hewan, diadsorpsi oleh koloid-koloid tanah yang melibatkan senyawa organik. Senyawa kromium heksavalen yang masuk ke lingkungan ini akan diubah dalam bentuk trivalen oleh donor elektron anorganik seperti Fe2+ dan S2- ataupun dengan bioproses bahan organik. Setelah diubah menjadi trivalen diharapkan dapat membentuk oksida dan hidroksida ataupun membentuk komplek dengan berbagai ligan. Kompleks Cr3+ larut seperti yang dibentuk dengan sitrat, kemudian mengalami oksidasi ketika kontak dengan mangan dioksida, dan kembali menjadi Cr heksavalen.

Gambar 1. Siklus Kromium

Daftar Pustaka Barlett, Richmond J. 1991. Chromium Cycling in Soils and Water: Links,Gaps, and Methods. Environmental Health Perspectives, (Online), Vol.92, pp. 17-24 (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/8029492). Diakses tanggal 22 Oktober 2009. Polar, Heryanto. 1994. Pencemaran Dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rinika Cipta. Manik, Karden Eddy Sontang. 2003. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: Djambatan.

6. -

Efek Toksikologi Bila Cr terabsorpsi melalui lambung, kulit, atau alveoli paru-paru akan timbul iritasi dan korosif. Apabila terhirup (inhalasi) dan menyerap kromium valensi 6 akan menimbulkan iritasi saluran pernapasan bagian atas, bersin, gangguan hidung, terjadi penyempitan pembuluh darah, spasme bronchus, asmatik attart dan dapat mengakibatkan penderita meninggal dunia. Keracunan kromium valensi 6 yang kronis mengakibatkan gangguan lokal yang menonjol daripada gangguan secara umum. Kromium valensi 6 diduga merupakan bronkhogenik (penyebab kanker bronkhus). Logam atau persenyawaan Cr yang masuk ke dalam tubuh akan ikut dalam proses fisiologis atau metabolisme tubuh. Senyawa-senyawa ligan (piropospat, metionin, serin, glisin, leusin, lisin, dan prolin) masuk ke dalam jaringan. yang terdapat dalam tubuh dapat mengubah Cr menjadi bentuk yang mudah terdifusi sehingga dapat

Cr dapat mengkatalisis suksinat dalam enzim sitokrom reduktase sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan dan beberapa reaksi biokimia lainnya dalam tubuh. Ion-ion Cr6+ dalam proses metabolisme tubuh akan menghalangi atau mampu menghambat kerja enzim benzopiren hidroksilase. Akibatnya terjadi perubahan dalam kemampuan pertumbuhan sel, sehingga sel-sel menjadi tumbuh secara liar dan tidak terkontrol, yang disebut dengan kanker. Percobaan laboratorium menunjukkan bahwa Cr3+ dapat mengendapkan RNA dan DNA pada pH 7. Cr6+ dan Cr3+ dapat menyebabkan denaturasi pada albumin. Daftar Pustaka Gabriel, J. F. 2001. Fisika Lingkungan. Jakarta: Hipokrates. Polar, Heryanto. 1994. Pencemaran Dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Rinika Cipta. http://rhizal-care.blogspot.com/2009/01/laporan-penelitian.html (Diakses tanggal 10 April 2012). Gotawa, Herwin. Ekstraksi Krom HeksavalenSebagai Tetrabutil Amonium Kroma Dan Aplikasinya Pada Air Sungai Ciluar Di Bogor. Online. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/17665/G08hgo_ab stract.pdf?sequence=1 (Diakses tanggal 8 April 2012). Nurdiani, Dian. Adsorpsi Logam Cu(ii) dan Cr(vi) Pada Kitosan Bentuk Serpihan Dan Butiran. Online. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/12643/F05ndi.pdf ?sequence=2 (Diakses tanggal 8 April 2012). http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12536-bab1+.pdf tanggal 8 April 2012). (Diakses

7.

Identifikasi (Kualitatif)

- Identifikasi Cr(VI) dalam ion kromat (CrO42-) berwarna kuning. a. Penambahan asam. Kromat yang berwarna kuning akan menjadi dikromat, berwarna jingga. 2CrO42- + 2H+ Cr2O72- + H2O b. Penambahan barium klorida/larutan nitrat. Terbentuk endapan kuning barium kromat. Ba2+ + CrO42- BaCrO4 c. Penambahan larutan timbal(II) nitrat. Terbentuk PbCrO4 yang berwarna kuning. Pb2+ + CrO42- PbCrO4 - Identifikasi kromium(III) a. Penambahan larutan amonia. Terbentuk endapan seperti gelatin yang berwarna abu-abu hijau sampai abu-abu biru, yaitu kromium (III) hidroksida. Cr3+ + 3NH3 + H2O Cr(OH)3 + 3NH4+ b. Penambahan larutan natrium hidroksida. Terbentuk endapan kromium(III) hidroksida. Cr3+ + 3OH- Cr(OH)3 c. Penambahan larutan natrium karbonat. Terbentuk endapan kromium(III) hidroksida. 2Cr3+ + 3CO32- + 3H2O 2Cr(OH)3 + 3CO2 d. Penambahan larutan natrium fosfat. Terbentuk endapan hijau kromium(III) fosfat. Cr3+ + HPO42e. Penambahan CrPO4 + H+ larutan amonium sulfida. Terbentuk endapan

kromium(III) hidroksida. 2Cr3+ + 3S2- + 6H2O 2Cr(OH)3 + 3H2S Daftar Pustaka Lee, J. D. 1991. Inorganic Chemistry Fourth Edition. Singapore: Fong & Sons Printers Pte. Ltd. Svehla, G. 1990. Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan

Semimikro Edisi Kelima Bagian I. Terjemahan oleh L. Setiono dan A. Hadyana Pudjaatmaka. Jakarta: PT Kalman Media Pusaka.

8.

Identifikasi (Kuantitatif, termasuk prinsip dasar reaksi dan kerja instrumen / alat) - Metode analisis untuk penentuan konsentrasi logam diantaranya ialah menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). - Prinsip kerja SSA pada dasarnya adalah absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap cahaya tersebut pada panjang gelombang tertentu, tergantung pada sifat unsurnya. Atom dari suatu unsur pada keadaan dasar akan dikenai radiasi maka atom tersebut akan menyerap energi dan mengakibatkan elektron pada kulit terluar naik ke tingkat energi yang lebih tinggi atau tereksitasi. Jika suatu atom diberi energi, maka energi tersebut akan mempercepat gerakan elektron sehingga elektron tersebut akan tereksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi dan dapat kembali ke keadaan semula. Atomatom dari sampel akan menyerap sebagian sinar yang dipancarkan oleh sumber cahaya. Penyerapan energi oleh atom terjadi pada panjang gelombang tertentu sesuai dengan energi yang dibutuhkan oleh atom tersebut. Sumber cahaya pada AAS adalah sumber cahaya dari lampu katoda yang berasal dari elemen yang sedang diukur kemudian dilewatkan ke dalam nyala api yang berisi sampel yang telah teratomisasi, kemudia radiasi tersebut diteruskan ke detektor melalui monokromator. Chopper digunakan untuk membedakan radiasi yang berasal dari sumber radiasi, dan radiasi yang berasal dari nyala api. Detektor akan menolak arah searah arus (DC) dari emisi nyala dan hanya mengukur arus bolak-balik dari sumber radiasi atau sampel. Selanjutnya berdasarkan data dibuat kurva kalibrasi antara konsentrasi dengan absorban. Daftar Pustaka

Haryanto, Bayu. Spektrofotometer Serapan Atom (AAS). www. google.com. (Diakses tanggal 5 April 2012). http://www.scribd.com/doc/87908850/Ruang-lingkup (Dialses tanggal 8 April 2012). http://adityabeyubay359.blogspot.com/2009/06/spektrofotometer-serapanatom-aas.html (Dialses tanggal 8 April 2012). Gotawa, Herwin. Ekstraksi Krom HeksavalenSebagai Tetrabutil Amonium Kroma Dan Aplikasinya Pada Air Sungai Ciluar Di Bogor. Online. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/17665/G08hgo_ab stract.pdf?sequence=1 (Diakses tanggal 8 April 2012).
Diantariani, N.P. Peningkatan Potensi Batu Padas Ladgestone Sebagai Adsorben Logam Berat Cr(iii) Dalam Air Melalui Aktivasi Asam Dan Basa. Online.

http://ejournal.unud.ac.id/abstrak/j-kim-4-1-13.pdf (Diakses tanggal 8 April 2012). Nurdiani, Dian. Adsorpsi Logam Cu(ii) dan Cr(vi) Pada Kitosan Bentuk Serpihan Dan Butiran. Online. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/12643/F05ndi.pdf ?sequence=2 (Diakses tanggal 8 April 2012). http://digilib.its.ac.id/public/ITS-Undergraduate-12536-bab1+.pdf (Diakses tanggal 8 April 2012).

9.

Perundang-undangan yang terkait dan tuntutan yang diberlakukan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.

1)Menurut

907/MENKES/SK/VII/2002 ialah nilai ambang batas ion Cr3+ dalam air adalah 0,05 ppm. Daftar Pustaka Suardana, I Nyoman. 2008. Optimalisasi Daya Adsorpsi Zeolit Terhadap Ion Kromium(III). Humaniora, (Online),http://www.freewebs.com/santyasa/Lemlit/PDF_Files/SAINS/A Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains &

PRIL_2008/I_Nyoman_Suardana.pdf. (Diakses tanggal 15 April 2012). http://www.scribd.com/doc/53769349/Laporan-Praktikum-KesehatanLingkungan (Diakses tanggal 15 April 2012). http://www.scribd.com/doc/17740707/Kepmenkes-No-907-2002-Kualitas-AirMinum (Diakses tanggal 15 April 2012).

10. Perventif: -

Ide-ide Penanganan (perventif dan kuratif)

Membangun instalasi pengolahan limbah cair (IPLC) sehingga kualitas limbah cair yang dibuang ke perairan umum tidak melampaui baku mutu yang berlaku.

Mengolah limbah cair industri sehingga dapat digunakan kembali (sistem daur ulang).

Kuratif: Menggunakan proses biosorpsi dengan memanfaatkan jamur merang sebagai penyerap logam krom dalam limbah cair industri pelapisan logam. Menggunakan zeolit untuk mengadsorpsi ion Cr(III). Zeolit merupakan mineral berpori yang penggunaannya didasarkan atas kemampuannya melakukan pertukaran ion (ion excangher), adsorpsi (adsorption) dan katalisator (catalyst). Zeolit memiliki bentuk kristal yang sangat teratur dengan rongga yang saling berhubungan ke segala arah yang menyebabkan luas permukaan zeolit sangat besar sehingga sangat baik digunakan sebagai adsorben. Pengendalian dapat dilakukan dengan menciptakan kondisi tanah, yang menyebabkan logam berat tidak mobil (imobil) atau tidak mudah larut, diantaranya adalah: Penambahan kapur dan bahan organik ke dalam tanah karena akan meningkatkan reaksi (pH) tanah dan koloid-koloid tanah. Reaksi tanah yang alkalis dapat menurunkan kelarutan logam berat,

sedangkan koloid-koloid tanah akan menjerap logam berat sehingga mobilitasnya berkurang.

Daftar Pustaka Helmi. 2005. Pemanfaatan Jamur Merang Untuk Menurunkan Kadar Logam Krom Dalam Limbah Cair Industri Pelapisan Logam Dengan Proses Biosorpsi. (Online),http://digilib.usu.ac.id/index.php/component/journals/index.php ?option=com_journal_review&id=8848&task=view. (Diakses tanggal 11 April 2012). Suardana, I Nyoman. 2008. Optimalisasi Daya Adsorpsi Zeolit Terhadap Ion Kromium(III). Humaniora, (Online),http://www.freewebs.com/santyasa/Lemlit/PDF_Files/SAINS/A PRIL_2008/I_Nyoman_Suardana.pdf. (Diakses tanggal 15 April 2012). http://sigma-sain.com/pdf/ROTARY%20AGITATOR.pdf (Dialses tanggal 5 April 2012). Jurnal Penelitian dan Pengembangan Sains &