Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI BLOK PANCA INDERA

Oleh : KELOMPOK B-1 M. Haris Maulana Muthia Fadhilah Novi Alvirahmi Novi Septiani Novia Rizky Zyanthi Azzahra Rizki Dinar Endartini Pratama Aditya biantoro Prissilma Tania Jonardi Tri Rizky Nugraha ( 1102010173 ) ( 1102010191 ) ( 1102010209 ) ( 1102010210 ) ( 1102010211 ) ( 110201022 ) ( 1102010217 ) ( 1102010221 ) ( 1102010280 )

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI 2013

LENSA TIPIS
1. Tujuan Percobaan Menentukan jarak fokus lensa cembung (konvergen) dan cekung (divergen) serta sifat bayangan. 2. Alat Alat Percobaan a. Bangku optic yang berbentuk rel berskala dengan tiang statif tempat lensa, benda, cermin, benda, dan tabir (layar). b. Lensa cembung dan cekung. c. Tabir, cermin, benda berbentuk panah, dan penggaris berskala. d. Lampu proyektor sebagai sumber cahaya. 3. Teori Dasar 3.1 Rumus Gauss Benda nyata yang terletak di depan lensa konvergen dapat membentuk

bayangan nyata dibelakang lensa. Bayangan ini dapat ditangkap oleh tabir di belakang lensa sehingga dapat terlihat. Secara sederhana pembentukan bayangan tersebut diperlihatkan pada gambar 1.
Lensa (+) Benda h f h bayangan v
h

tabir

Gambar 1.Diagram pembentukanbaynganolehlensakonvergen. f =titik focus, O = pusat sumbu optic lensa.

Jika tebal lensa diabaikan maka dapat dibuktikan bahwa

(1) Persamaan ini berlaku umum dengan ketentuan f = Jarak titik focus lensa, bertanda (+) untuk lensa konvergen dan (-) untuk divergen.

Kelompok B-1

1|Page

v = Jarak benda terhadap pusat sumbu optic lensa, bertanda (+) untuk benda nyata dan negative untuk benda maya. b = Jarak bayangan terhadap pusat sumbu optic lensa, bertanda (+) untuk bayangan nyata dan negative untuk bayangan maya. Bayangan nyata terletak dibelakang lensa dan dapat ditangkap oleh tabir dan sementara benda maya terletak di depan lensa dan tidak dapat ditangkap oleh tabir , selanjutnya benda maya terletak dibelakang lensa dan biasanya dihasilkan oleh bayangan komponen optic lainnya (lensa dan cermin). Disamping itu perbesaran yang didefinisikan debagai perbandingan besar bayangan terhadap objek dapat diperoleh dari persamaan

(2) Munculnya tanda negatif hanya karena keinginan agar jika m positif untuk bayangan tegak dan negative untuk bayangan terbalik.Jika dihalangkan tanda negative dari rumus (2) maka perjanjiannya akan terbalik. 3.2 Rumus Bessel Jika jarak antara benda dan tabir dibuat tetap dan lebih besar dari 4f maka terdapat dua kedudukan lensa positif yang akan menghasilkan bayangan tajam diperkecil dan diperbesar pada tabir, lihat gambar 2.
Posisi-b (+) Benda h Posisi-k (+)

bb
h

bk
h

vb
h

d vk
h

Gambar 2. Dua kedudukan lensa positif yang membentuk bayangan tajam pada tabir.

Kelompok B-1

2|Page

Pada gambar tersebut, posisi-b dan posisi-k masing-masing menyatakan posisi lensa yang menghasilkan bayangan tajam diperbesar dan diperkecil, sedangkan : a = jarak benda ke tabir. d = jarak antara dua kedudukan lensa yang menghasilkan bayangan tajam yang diperbesar dan diperkecil. vb = jarak benda ke lensa yang menghasilkan bayangan diperbesar. bb = jarak bayangan ke lensa yang menghasilkan bayangan diperbesar. vk = jarak benda ke lensa yang menghasilkan bayangan diperkecil. bk = jarak bayangan ke lensa yang menghasilkan bayangan diperkecil. Mengacu pada gambar 2 terlihat bahwa ( ( ( ) ) )

Mengingat bahwa a = vb +bb maka diperoleh

(4) Substitusi persamaan (4) ke persamaan (1) menghasilkan

(5) Perhatikan bahwa a dan d selalu positif. 3.3 Gabungan Lensa dengan Cermin datar Misalkan benda diletakkan pada bidang focus lensa dan di belakang lensa terdapat cermin datar, lihat gambar 3.
Cermin Benda Lensa (+)

v
h

Gambar 3. Menentukan panjang focus lensa(+) dengan bantuan cermin datar.

Kelompok B-1

3|Page

Oleh lensa, berkas sinar yang berasal dari benda akan dibiaskan dalam berkas sejajar sehingga terbentuk bayangan di tempat tak berhingga. Selanjutnya oleh cermin datar berkas ini akan dipantulkan dan kemudian dibiaskan kembali oleh lensa sehingga terbentuk bayangan sama besar pada bidang fokus/benda. 3.4 Rumus Lensa Gabungan Untuk tujuan tertentu sering digunakan gabungan beberapa. Dalam analisis pembentukan bayangan lensa gabungan ini dapat dibayangkan seolah-olah menjadi sebuah lensa dengan jarak fokus fg. Untuk gabungan dua lensa fg dirumuskan sebagai

(6) Dengan f adalah jarak dua sumbu optik lensa. Jika kedua lensa itu tipis dan diimpitkan maka t=0 sehingga.

(7) 3.5 Pembentukan Bayangan Oleh Gabungan Lensa Konvergen-Divergen. Lensa negatif akan selalu membentuk bayangan maya dari benda nyata tetapi dari benda maya dapat dibentuk bayangan nyata. Atas dasar ini maka diperlukan bantuan lensa positif dengan susunan seperti gambar berikut.
Lensa (+) Lensa (-)

b+
Benda h
h

bf+
h h

f-

Bv+
h

Ovh

Kelompok B-1

4|Page

Gambar 4. Pembentukan bayangan oleh gabungan lensa konvergen dan divergen, O- adalah bayangan nyata yang dibentuk oleh lensa positif dan bayangan ini menjadi objek/benda maya lensa divergen (-). B- adalah bayangan nyata yang dibentuk lensa divergen dari benda O-.

4. Jalannya Percobaan 4.1 Menentukan Jarak Fokus Lensa Konvergen Merujuk pada teori di atas makan penentuan jarak fokus lensa konvergen dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu Bessel, Gauss, dan bantuan cermin datar. 4.1-A. Cara Gauss 1) Ambil benda berbentuk panah dan ukur tingginya sebanyak 5 kali. Isikan pada tabel data. 2) Ambil tabir dan lensa konvergen yang akan diukur jarak fokusnya. 3) Letakkan benda, lensa, dan tabir pada rel optik sehingga terbentuk susunan seperti gambar 1. 4) Atur posisi benda, lensa dan tabir sehingga terbentuk bayangan tajam diperkecil. 5) Ukurlah v, b, tinggi bayangan h, dan posisi bayangan apakah tegak lurus atau terbalik.Isikanlah hasil ini pada tabel data. 6) Geser lensa mendekati benda sejarak 2cm dan atur posisi tabir sehingga terbentuk bayangan tajam. Lakukan pengukuran seperti langkah 5. 7) Ulangi langkah 6 terus menerus selama masih mungkin. 4.1-B. Cara Bessel 1) Ukurlah tinggi benda yang berbentuk anak panah dan catat hasilnya.Ulangi pengukuran ini sampai 5 kali. 2) Tempatkan benda di depan lampu sorot 3) Tempatkan tabir sejarak 100 cm di belakang benda 4) Tempatkan lensa yang akan diukur jarak fokusnya diantara lensa dan tabir. Susunan posiis benda, lensa, dan tabir akan seperti gambar 2. 5) Geser-geser lensa untuk melihat sekilas apakah terbentuk bayangan tajam diperbesar dan diperkecil. Jika tidak terjadi anda mungkin perlu

menaikkan/menurunkan posisi lensa dan benda agar sinar dari benda tepat jatuh pada lensa atau menggeser posisi tabir. 6) Jika langkah 5 berhasil, maka aturlah posiis lensa secara halus untuk mendapatkan bayangan tajam diperbesar dan diperkecil. 7) Catat kedua posisi lensa (vb dan vk), tinggi bayangan dan catat apakah bayangan terbalik atau tegak.
Kelompok B-1 5|Page

8) Isikan hasil pengukuran ini pada tabel data. 9) Ulangi langkah 6 dan 7 sampai 5 kali. Pada setiap pengulangan posisi lensa harus digeser-geser. 4.1-C. Dengan bantuan Cermin datar 1) Tempatkan benda, lensa (+), dan tabir sehingga terbentuk susunan seperti gambar 3. 2) Geserlah posiis benda sehingga pada bidang benda terbentuk bayangan yang sama besar dengan benda. 3) Catat jarak benda ke lensa (lihat tabel data) 4) Ulangi percobaan ini sampai 5 kali. 4.2 Menentukan Jarak Fokus Lensa Divergen 1) Ambil lensa konvergen dan divergen yang akan dibentuk jarak fokusnya. 2) Tempatkan benda, lensa konvergen, dan tabir di belakang lensa. 3) Aturlah posisi lensa dan tabir sehingga terbentuk bayangan tajam pad aakhir. 4) Catat posisi benda, lensa, dan tabir. 5) Letakkan lensa divergen diantara tabir dan lensa konvergen. Perhatikan bayangan pada tabir akan kabur atau hilang. 6) Atur posisi lensa divergen dan tabir sehingga terbentuk bayangan tajam. 7) Catat posisi lensa divergen dan tabir. 8) Berdasarkan data posiis ini maka hitunglah v+, b+, v-, b- dan hasilnya diisikan pada tabel data. Variabel d adalah jarak antara lensa konvergen dan divergen. 9) Ulangi percobaan di atas sebanyak sampai 5 kali. 5. Tugas Laporan Akhir 5.1-A. Cara Gauss 1) Hitung m berdasarkan perbandingan tinggi benda dan bayangan 2) Hitung m berdasarkan persamaan (2) dan berdasarkan hasil ini tentukan posisi bayangan (tegak atau diperbalik) 3) Buatlah tabel ringkasan penghitungan 1 dan 2 4) Buat tabel harga 1/v dan 1/b 5) Buat grafik 1/v terhadap 1/b. 6) Berdasarkan grafik tersebut tentukan f lensa.

Kelompok B-1

6|Page

5.1-B. Cara Bessel Berdasarkan data percobaan, hitung jarak fokus lensa dengan persamaan (5). 5.1-C. Dengan Bantuan Cermin Datar Berdasarkan data jarak benda, anda langsung mendapatkan jarak fokus, f=v. Buat tabel ringkasan hasil penghitungan jarak fokus kekuatan lensa (dalam Dioptri) dari ketiga cara di atas. Beri catatan/ ulasan mengapa terjadi perbedaan hasil dari ketiga cara di atas. Catatan : 1 dioptri = 100 , jadi lensa dengan f = 25 cm akan berkekuatan 4 Dioptri. F[cm]

5.2 Jarak Fokus Lensa Divergen. Tentukan f lensa divergen hasil percobaan.

Bagian Fisika Universitas YARSI, Fakultas Kedokteran Data Percobaan 01 : Lensa Objektif
Kelompok B-1 7|Page

Hari/tanggal

: 25 Februari 2013

4-1. Menentukan Jarak Fokus Lensa Konvergen 4-1-A. Cara Gauss Tinggi benda h = 2,5 2,5 h(cm) 5,3 4 7 2,5 3 2,5 2,5 MI=h/h 2,12 1,6 2,8 1 1,2 2,5

No. 1. 2. 3. 4. 5.

v (cm) 39,5 42 30,5 55 53,5

b (cm) 43,2 40,6 56 33,5 35,5

Tegak/terbalik Terbalik Terbalik Terbalik Terbalik Terbalik

M= -b/v -1,1 -1 -1,8 -0,6 -0,7

Catatan: h= tinggi bayangan v = jarak benda ke lensa b = jarak bayangan ke lensa

Pembahasan : Didapatkan bayangan benda yang terbentuk adalah terbalik pada semua percobaan sesuai dengan hukum lensa cembung (konvergen) yang bersifat maya dan terbalik. Terlihat dari hasil pada M didapatkan nilai yang negatif. 4-1-B Cara Bessel No. 1. 2. 3. 4. 5. a (cm) 35 32,5 41 45 33 vb (cm) 13 15,5 11 10,5 14,5 vk (cm) 21 17 29,5 34 18 d (cm) 8 1,5 18,5 23,5 3,5 f (cm) 8,3 7,4 8,2 8,2 8,1 4-1-C Cermin datar v(cm) 8 4 f(cm) 8 4

Catatan : bagian yang digelapkan dihitung dirumah

Rumus : f= d= (vk-vb) Pembahasan: Pada percobaan lensa konvergen dengan cara Bessel, pada a (jarak tabir dan benda),
Kelompok B-1 8|Page

Cara Bessel

didapatkan beberapa jenis bayangan yaitu bayangan besar dan kecil dengan jarak vb dan vk yang berbeda. Dari hasil Vb dan Vk nya itu dapat disimpulkan, semakin jauh lensa digeser ke arah tabir maka akan semakin kecil bayangan yang didapat, kemudian sebaliknya.

Pembahasan : Pada percobaan diatas didapatkan hasil v = f, yaitu pada percobaan pertama Cermin Datar v1 = 8 cm dan f1=8 cm, kemudian v2 = 4 cm dan f2= 4 cm, hal ini dikarenakan sifat cermin datar yang menghasilkan bayangan sama besar dalam bidang fokus atau benda. 4-2. Lensa Divergen No. 1. 2. 3. 4. 5. v+ (cm) 39 44 41 31 28 b+ (cm) 41 39 39 57 70 v- (cm) -3 -12 -9 -14 -8 d (cm) 38 27 30 43 62 b- (cm) 25 26 28 19 18 f- (cm) -3,40 -22,28 -13,26 -53,2 -14,4

Catatan : v- = d-b+ f- = v- X bv- + bPembahasan : Pada percobaan lensa divergen didapatkan focus lensa divergen negative (-), karena lensa divergen bersifat menyebarkan cahaya.

Kesimpulan Untuk menghitung jarak fokus lensa konvergen dan divergen dapat digunakan 3 cara yaitu cara Gauss, Bessel, dengan bantuan cermin datar, dan cara gabungan.
Kelompok B-1 9|Page

Panjang fokus ditentukan oleh jarak benda ke lensa dan jarak bayangannya ke lensa pada metode konvensional, jarak benda bayangan dan jarak 2 posisi lensa yang bayangannya bagus pada metode Bessel, panjang fokus lensa cembung dan jarak benda bayangan serta jarak 2 posisi lensa yang bayangannya bagus pada metode kombinasi Sifat konvegen/divergen dari suatu lensa tidak mungkin berubah. Kesimpulan pada lensa tipis adalah semakin jauh jarak benda maka semakin jauh pula jarak bayangan dan sebaliknya semakin dekat jarak benda semakin dekat pula jarak bayangan. Dalam hal ini jarak sangat berpengaruh terhadap fokus bayangan.

PENDENGARAN DAN KESEIMBANGAN


PENDENGARAN

TUJUAN :
Kelompok B-1 10 | P a g e

Pada akhir latihan ini, mahasiswa harus dapat: 1. Mengukur ketajaman pendengaran dengan menggunakan audiometri (pemeriksaan audiometri). 2. Membuat kesimpulan mengenai hearing loss dari hasil pemeriksaan audiometri sehingga dapat menetapkan apakah pendengaran orang percobaan dalam batas-batas normal atau tidak. Alat-alat yang diperlukan : 1. Audiometer merek ADC. Lengkap dengan telepon telinga dan formulir. 2. Penala berfrekuensi 256. 3. Kapas untuk menyumbat telinga.

Teori Dasar Pemeriksaan audiometri Ketajaman pendengaran sering diukur dengan suatu audiometri. Alat ini menghasilkan nada-nada murni dengan frekuensi melalui aerophon. Pada sestiap frekuensi ditentukan intensitas ambang dan diplotkan pada sebuah grafik sebagai prsentasi dari pendengaran normal. Hal ini menghasilkan pengukuran obyektif derajat ketulian dan gambaran mengenai rentang nada yang paling terpengaruh. a. Definisi Audiometri berasal dari kata audir dan metrios yang berarti mendengar dan mengukur (uji pendengaran). Audiometri tidak saja dipergunakan untuk mengukur ketajaman pendengaran, tetapi juga dapat dipergunakan untuk menentukan lokalisasi kerusakan anatomis yang menimbulkan gangguan pendengaran. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara, audiologis dan pasien yang kooperatif. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah :

Audiometri nada murni Suatu sistem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan

bunyi nada-nada murni dari berbagai frekuensi 250-500, 1000-2000, 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnya dalam satuan (dB). Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon

Kelompok B-1

11 | P a g e

kepala dan vibrator tulang ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. Masing-masing untuk menukur ketajaman pendengaran melalui hantaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang, sehingga akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Dengan membaca audiogram ini kita dapat mengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Gambaran audiogram rata-rata sejumlah orang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang baku pendengaran untuk nada murni. Tabel berikut memperlihatkan klasifikasi kehilangan pendengaran

Kehilangan dalam (decibel) 0-15 >15-25 >25-40 >40-55 >55-70 >70-90 >90

Klasifikasi

Pendengaran normal Kehilangan pendengaran kecil Kehilangan pendengaran ringan Kehilangan pendengaran sedang Kehilangan pendenngaran sedang berat Kehilangan pendengaran berat Kehilangan pendengaran berat sekali

Audiometri tutur Audiometri tutur adalah sistem uji pendengaran yang menggunakan kata-kata terpilih yang telah dibakukan, dituturkan melalui suatu alat yang telah dikaliberasi, untuk mengukur beberapa aspek kemampuan pendengaran. Kata-kata tersebut dapat dituturkan langsung oleh pemeriksa melalui mikropon yang dihubungkan dengan audiometri tutur, kemudian disalurkan melalui telepon kepala ke telinga yang diperiksa pendengarannya, atau kata-kata rekam lebih dahulu pada piringan hitam atau pita rekaman, kemudian baru diputar kembali dan disalurkan melalui audiometer tutur. Penderita diminta untuk menirukan dengan jelas setip kata yang didengar, dan apabila kata-kata yang didengar makin tidak jelas karena intensitasnya makin dilemahkan, pendengar diminta untuk menebaknya. Pemeriksa mencatatat presentase kata-kata yang ditirukan dengan benar dari tiap denah pada tiap intensitas. Dari audiogram tutur dapat diketahui dua dimensi kemampuan pendengaran yaitu :

Kelompok B-1

12 | P a g e

a) Kemampuan pendengaran dalam menangkap 50% dari sejumlah kata-kata yang dituturkan pada suatu intensitas minimal dengan benar, yang lazimnya disebut persepsi tutur atau NPT, dan dinyatakan dengan satuan de-sibel (dB). b) Kemamuan maksimal perndengaran untuk mendiskriminasikan tiap satuan bunyi (fonem) dalam kata-kata yang dituturkan yang dinyatakan dengan nilai diskriminasi tutur atau NDT. Pada dasarnya tuli mengakibatkan gangguan komunikasi, apabila seseorang masih memiliki sisa pendengaran diharapkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD/hearing AID) suara yang ada diamplifikasi, dikeraskan oleh ABD sehingga bisa terdengar. Prinsipnya semua tes pendengaran agar akurat hasilnya, tetap harus pada ruang kedap suara minimal sunyi. Karena kita memberikan tes paa frekuensi tertetu dengan intensitas lemah, kalau ada gangguan suara pasti akan mengganggu penilaian.

b. Manfaat audiometri Untuk kedokteran klinik (khususnya penyakit telinga), untuk kedokteran klinik (kehakiman, tuntutan ganti rugi), untuk kedokteran klinik pencegahan, deteksi ketulian pada anak-anak

gambar 2. Normal

gambar 3. CHL

gambar 4. SNHL

I. AUDIOMETER Keterangan teknis mengenai audiometer. P-VI. 4. 1 Apa guna audiometer dan bagaimana cara kerjanya?
Kelompok B-1 13 | P a g e

Jawab: Audiometer adalah sebuah alat yang digunakan untuk mengetahui level pendengaran seseorang. Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometer, maka derajat ketajaman pendengaran seseorang dapat dinilai. Tes audiometri diperlukan bagi seseorang yang merasa memiliki gangguan pendengeran atau seseorang yag akan bekerja pada suatu bidang yang memerlukan ketajaman pendengaran. Untuk mendapatkan tingkat pendengaran dengan cara merekam respon dari pasien setelah memberikan pasien tersebut rangsangan auditory dengan berbagai intensitas level. Pada bagian muka audiometer ADC terdapat berbagai tombol dan skala (lihat gambar) yang berungsi sebagai berikut : Tombol1 (T) : Tombol Utama Gunanya untuk menghidupkan atau mematikan ala1. Tombol2 (T2) : Tombol Frekuensi Nada Dengan menggunakan T2 ini kita memilih frekuensi nada yang dapat dibangkitkan oleh ala1. Frekuensi tersebut dapat dibaca pada skala (82) yang dinyatakan dalam satuan hertz. p-VIA. 2 Apa yang dimaksud dengan frekuensi hertz? Jawab: Hertz merupakan satuan frekuensi yang menandakan banyakanya suatu gelombang dalam 1 detik. Tombol 3 (T3): Tombol Kekuatan Nada. Dengan tombol ini kita dapat mengatur kekuatan nada, kekuatan nada dapat dibaca pada skala (5) yang dinyatakan dalam decibel. P-VI.3 Apa yang dimaksud dengan satuan decibel? Jawab: Desibel (dB) adalah satuan untuk mengukur intensitas suara. Satu desibel ekuvalen dengan sepersepuluh Bel. Huruf "B" pada dB ditulis dengan huruf besar karena merupakan bagian dari nama penemunya, yaitu Bell. Desibel juga merupakan sebuah unit logaritmis untuk mendeskripsikan suatu rasio. Rasio tersebut dapat berupa daya (power), tekanan suara (sound pressure), tegangan atau voltasi (voltage), intensitas (intencity), atau hal-hal lainnya. Terkadang. dB juga dapat dihubungkan dengan Phon dan Sone (satuan yang berhubungan dengan kekerasan suara).
Kelompok B-1 14 | P a g e

Tombol 4 (T4): Tombol Pemilih Telepon Telinga Bila tombol ini menunjukan ke B, berarti nada yang dihantarkan ketelepon berwarnahitam (black). Bila tombol menunjukan ke G yang bekerja hanya telepon kalbu (Grey). Tombol 5 (T5): Tombol Penghubung Nada Dengan memutar tombol ini kekiri, nada akan terdengar ditelepon bila tombol dilepas, nada tidak terdengar lagi. P-VIA. Apa yang dimaksud pemutus nada pemeriksaan? Jawab: Maksud pemutusan nada pada pemeriksaan adalah melepas tombol sehingga nada tidak terdengar lagi untuk menguji apakah o.p benar-benar mendengar atau hanya pura-pura mendengar. TATA KERJA: 1. Pemeriksaan menyiapkan alat sebagai berikut: a. Putar tombol utama (T1) pada Off. b. Putar tombol frekuensi nada (T2) pada 125. c. Putar tombol kekuatan nada (T3) pada -10dp. P-VIA. 5 Apa arti fisikologis intensitas 0 dp pada alat ? Jawab: 0 db sama dengan tingkat tekanan yang mengakibatkan gerakan molekul udara dalam keadaan udara diam, yang hanya dapat terdeteksi dengan menggunakan instrumen fisika, dan tidak akan terdengar oleh telinga manusia. Oleh karena itu, di dalam audiologi ditetapkan tingkat 0 yang berbeda, yang disebut 0 dB klinis atau 0 audiometrik. Nol inilah yang tertera dalam audiogram, yang merupakan grafik tingkat ketunarunguan. Nol audiometrik adalah tingkat intensitas bunyi terendah yang dapat terdeteksi oleh telinga orang rata-rata dengan telinga yang sehat pada frekuensi 1000 Hz. 2. Hubungan audiometer dengan sumbu listrik (125V) dan putar T1 ke ON, 51 dan 52 akan menyala, bila tidak demikian halnya laporkan pada supervisior. 3. Suruhlah orang percobaan duduk membelakangi audiometer dan pasanglah telepon pada telinganya sehingga telepon Black ditelinga kiri.

Kelompok B-1

15 | P a g e

4. Berikan petunjuk pada orang percobaan untuk mengacungkan tangannya ke atas pada saat mulai dan selama ia mendengar nada melalui salah satu telepon, dan menurunkan tangannya pada saat nada mulai tidak terdengar lagi. 5. Tunggulah 2 menit lagi untuk memanaskan alat. 6. Putarlah T5 ke kiri dan pertahankanlah selama pemeriksaan. 7. Putarlah tombol kekuatan T3 perlahan-lahan searah dengan jarum jam sampai orang percobaan mengacungkan tangannya keatas. 8. Teruskanlah memutarkan tombol tersebut sebesar 10 db dan kemudian putarlah tombol T3 tersebut perlahan-lahan berlawanan dengan jarum jam sampai orang percobaan menurunkan tangannya. Catatlah angka db pada saat itu. 9. Ulangilah tindakan 7 dan 8 dua kali lagi dan ambillah angka terkecil sebagai hearing loss orang percobaan pada frequency 125 Hz. 10.Selama percobaan ini lepaskanlah sekali-kali T5 pada waktu orang percobaan mengacungkan tangannya untuk menguji apakah orang percobaan benar-benar mendengar nada atau hanya pura-pura mendengar. 11.Ukurlah, hearing loss untuk telinga yang sama dengan cara yang sama pula pada requency 250,500,1000,2000,4000,8000,12000 Hz dan catatlah data hasil pengukuran pada formulir yang telah disediakan. 12.Ulangi seluruh pengukuran ini untuk telinga yang lain. 13.Buatlah audiogram orang percobaan pada formulir yang telah disediakan dengan data yang diperoleh pada pengukuran

Hasil Percobaan dan Pembahasan OP : Prissilma Tania

Kelompok B-1

16 | P a g e

Dari skema di atas dapat disimpulkan bahwa o.p memiliki batas ambang dengar yang sama untuk telinga kanan dan kiri nya yaitu 15-2000. Hasil dari pengukuran percobaan dengan alat audiometri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah: faktor alat (kondisi dan kualitas baik atau tidak), faktor ruangan yang tidak kedap suara, faktor kemampuan konsentrasi/memusatkan pikiran o.p (sebaiknya konsentrasi o.p tidak terganggu dengan kondisi suara sekitar dan fokus pada pemeriksaan), dan faktor hantaran (udara dan tulang).

Kelompok B-1

17 | P a g e

Daftar Pustaka : 1. Sears, dan Zemansky, Fisika Untuk Universitas, Jilid III 2. Sutrisno, Seri Fisika Dasar, ITB

3. Soetirto I. Tuli akibat bising ( Noise induced hearing loss ). Dalam : Soepardi EA,
Iskandar N, Ed. Buku ajar ilmu penyakit THT. Edisi ke-3. Jakarta : Balai Penerbit FK UI, 1990. h. 37-9.

Kelompok B-1

18 | P a g e