Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN AKHIR

FISIKA EKSPERIMEN I B
POLARIMETER
M-5
Nama : Faizal
NPM : 140310090056
Partner : Anisa Fitriana
NPM : 140310090087
Hari / Tgl. Praktikum : Kamis / 15 Maret 2012
Waktu : 12.00 - 14.30 WIB
Asisten : Tia Kharisma







LABORATORIUM FISIKA MENENGAH
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2012

LEMBAR PENGESAHAN

POLARIMETER

Nama : Faizal
NPM : 140310090056
Partner : Anisa Fitriana
NPM : 140310090087
Hari / Tgl. Praktikum : Kamis / 15 Maret 2012
Waktu : 12.00 - 14.30 WIB
Asisten : Tia Kharisma



Jatinangor, 22 Maret 2012
Asisten




( )

Nilai
BAB I
PENDAHULUAN

I.1 LATAR BELAKANG
Dalam Kehidupan sehari-hari, cahaya sering kita gunakan atau manfaatkan.
Cahaya memiliki berbagai sifat baik secara partikel maupun sebagai gelombang.
Hal inilah yang membuat cahaya menjadi salah satu fenomena alam yang
misterius. Pada percobaan kali ini sifat cahaya yang diamati adalah polarisasi,
dimana kita melihat gejala pemutaran bidang polarisasi oleh zat aktif sehingga
dapat diketahui besar sudut putar polarisasinya

I.2 IDENTIFIKASI MASALAH
Cahaya terbentuk akibat adanya gerakan dari medan listrik dan medan
magnet secara serentak, dimana kedua gerakan gelombang masing-masing
bergerak pada satu bidang getaran yang saling tegak lurus. Efek polarisasi cahaya
membuktikan bahwa cahaya terdiri dari gelombang elektromagnetik. Ini
disebabkan oleh gerakan gelombang elektromagnetik yang bersifat transfersal.
Karena sifat inilah akan mengakibatkan terjadinya polarisasi.


I.3 TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan gejala pemutaran bidang polarisasi (sudut putar) oleh zat
optik aktif.
2. Menentukan sudut putaran khas zat optik aktif setelah mencapai
kesetimbangan.
3. Menentukan konstanta reaksi dari larutan.

BAB II
TEORI DASAR
Cahaya adalah energi berbentuk gelombang elektromagnetik yang kasat
mata dengan panjang gelombang sekitar 380750 nm. Pada bidang fisika, cahaya
adalah radiasi elektromagnetik, baik dengan panjang gelombang kasat mata
maupun yang tidak. Namun secara umum Cahaya tampak hanyalah salah satu
jenis gelombang elektromagnetik yang terdeteksi dalam interval yang lebar, dan
dikelompokkan dalam spektrum elektromagnetik, yaitu daerah jangkauan panjang
gelombang yang merupakan bentangan radiasi elektromagnetik. Gelombang radio
dan gelombang mikro dapat dibuat di laboratorium menggunakan peralatan
elektronik. Gelombang elektromagnetik dengan frekuensi yang lebih tinggi sangat
sulit dibuat secara elektronik. Gelombang elektromagnetik dapat terbentuk secara
alamiah, seperti pancaran dari atom, molekul, dan inti atom. Misalnya, sinar-X
dihasilkan oleh elektron berkecepatan tinggi yang diperlambat secara mendadak
ketika menumbuk logam. Cahaya tampak yang dihasilkan melalui suatu pijaran
juga disebabkan karena elektron yang mengalami percepatan di dalam filamen
panas.
Cahaya termasuk gelombang elektromagnetik, yang artinya cahaya
mempunyai medan listrik dan juga medan magnet; keduanya berposisi tegak lurus
satu sama lain dan tegak lurus terhadap arah rambatan. Cahaya juga dikategorikan
sebagai gelombang transversal; yang berarti bahwa cahaya merambat tegak lurus
terhadap arah rambatannya. Adapun syaratnya adalah bahwa gelombang tersebut
mempunyai arah rambatan tegak lurus terhadap bidang rambatannya.Gelombang
bunyi misalkan tidak dapat terpolarisasi karena dia bukan gelombang transversal.
Suatu cahaya dikatakan terpolarisasi apabila cahaya itu bergerak merambat
mengutamakan arah tertentu. Arah rambatan suatu gelombang dicirikan arah
vektor bidang listrik gelombang tersebut. Sebagai arah polarisasi dicirikan dari
arah vektor bidang magnetnya. Beberapa macam jenis polarisasi: polarisasi linear,
polarisasi melingkar, polarisasi ellips. Gelombang dengan polarisasi melingkar
dan polarisasi ellips dapat diuraikan menjadi 2 gelombang dengan polarisasi tegak
lurus. Polarisasi linear adalah ketika cahaya merambat hanya dengan satu arah
yang tegak lurus terhadap arah rambatan atau bidang listriknya. Dalam alat
polarimeter ini cahaya monokromatik dihasilkan dengan menggunakan sodium
lampu (lampu natrium) dimana gas natrium pijar akan menghasilkan lampu warna
kuning.
Cahaya dapat dianggap sebagai partikel-partikel energi yang dipancarkan
oleh suatu sumber cahaya. Akan tetapi cahaya juga adalah gelombang
elektromagnetik, sehingga cahaya dikatakan mempunyai sifat dualisme. Sebagai
gelombang elektromagnet, gelombang cahaya terbentuk karena terjadi gerakan
gelombang dari medan listrik dan medan magnet secara serentak, dimana kedua
gerak tersebut masing-masing merambat pada suatu bidang getaran yang saling
tegak lurus.
Polarisasi adalah peristiwa terserapnya arah getar cahaya sehingga cahaya
tersebut kehilangan sebagian arah getarnya. Polarisasi dapat terjadi karena
pemantulan,pembiasan,absorsbsi selektif dan hamburan. Polarisasi adalah
kharakteristik dari semua gelombang transversal.

y y y




(a) (b) (c)
Gb. 3
(a) Gel. Transversal.Terpolarisasi pada arah y. (b) Gel. Polarisasi pada arah
z.(c) Layar dengan kisi vertikal, komponen terpolarisasikan pada arah y, tetapi
menahan sinar pada arah z, fungsinya sebagai filter polarisasi.
x
z
o
x
z
o
x
z
o


Sifat transversal gelombang-gelombang cahaya tidak dapat dideduksi dari
eksperimen interverensi atau difraksi. Secara sangat mengherankan sinar-sinar ini
walaupun merupakan sinar-sinar yang koheren , tidak menghasilkan pinggir
interferensi tetapi hanya menghasilkan penerangan yang uniform. Ilmuwan Young
mendeduksi dari ini bahwa cahaya haruslah merupakan gelombang transversal
dan bahwa bidang-bidang getaran di dalam kedua sinar tersebut haruslah tegak
lurus satu sama lain. Gangguan gelombang gelombang yang beraksi tegak lurus
satu sama lain tidak dapat memperlihatkan efek-efek interferensi.
Polaroid dapat digunkakan sebagai alat polarisasi untuk menghasilkan cahaya
terpolarisasi, karena hanya komponen cahaya parallel yang parallel dengan sumbu
yang ditransmisikan. Polaroid juga dapat digunakan sebagai penganalisis untuk
menentukan:
- Apakah cahaya terpolarisasi dan
- Apa bidang polarisasinya.
Polarisator ideal hanya akan mentransimiskan untuk komponen yang paralel
dengan sumbu polarisasi.



x
y
z
E
B
E-medan listrik
B-medan magnet
Sumbu-z: garis penjalaran
B x E S

=
sumber
Vektor poynting




Pelat Polarisasi
Gb. 4. Pelat polarisasi menghasilkan cahaya terpolarisasi bidang dari cahaya tak
terpolarisasikan.Garis garis sejajar, sebetulnya tidak terlihat pada pelat,
menyarankan arah pemolarisasi karakteristik dari pelat tersebut.
Biasanya, kita menempatkan sebuah plat pemolarisasi kedua, yang
biasanya dinamakan analisator. Jika analisator dirotasikan terhadap arah
penjalaran, maka ketika ia dirotasikan sebesar 90 (tegak lurus garis garis pada
polarisator kesatu), maka tidak akan ada cahaya yang dipolarisasikan , intensitas
cahaya yang ditransmisikan hampir sama dengan nol.







polarisator

analisator
Gb. Cahaya yang arahnya tegak lurus dengan pelat polarisasi tidak akan
dipolarisasikan, sehingga setelah melewati analisator, tak ada cahaya yang
tampak.
Polarimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya
putaran optik yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif yang terdapat
dalam larutan. Jadi polarimeter ini merupakan alat yang didesain khusus untuk
mempolarisasi cahaya oleh suatu senyawa optis aktif. Senyawa optis aktif adalah
senyawa yang dpat memutar bidang polarisasi, sedangkan yang dimaksud dengan
polarisasi adalah pembatasan arah getaran (vibrasi) dalam sinar atau radiasi
elektromagnetik yang lain. Untuk mengetahui besarnya polarisasi cahaya oleh
suatu senyawa optis aktif, maka beesarnya perputaran itu bergantung pada
beberapa faktor yakni : struktur molekul, temperatur, panjang gelombang,
banyaknya molekul pada jalan cahaya, jenis zat, ketebalan, konsentrasi dan juga
pelarut.
Prinsip kerja alat polarimeter adalah sebagai berikut, sinar yang datang
dari sumber cahaya (misalnya lampu natrium) akan dilewatkan melalui prisma
terpolarisasi (polarizer), kemudian diteruskan ke sel yang berisi larutan. Dan
akhirnya menuju prisma terpolarisasi kedua (analizer). Polarizer tidak dapat
diputar-putar sedangkan analizer dapat diatur atau di putar sesuai keinginan. Bila
polarizer dan analizer saling tegak lurus (bidang polarisasinya juga tega lurus),
maka sinar tidak ada yang ditransmisikan melalui medium diantara prisma
polarisasi. Pristiwa ini disebut tidak optis aktif. Jika zat yang bersifat optis aktif
ditempatkan pada sel dan ditempatkan diantara prisma terpolarisasi maka sinar
akan ditransmisikan. Putaran optik adalah sudut yang dilalui analizer ketika
diputar dari posisi silang ke posisi baru yang intensitasnya semakin berkurang
hingga nol. Untuk menentukan posisi yang tepat sulit dilakukan, karena itu
digunakan apa yang disebut setengah bayangan (bayangan redup). Untuk
mancapai kondisi ini, polarizer diatur sedemikian rupa, sehingga setengah bidang
polarisasi membentuk sudut sekecil mungkin dengan setengah bidang polarisasi
lainnya. Akibatnya memberikan pemadaman pada kedua sisi lain, sedangkan
ditengah terang. Bila analyzer diputar terus setengah dari medan menjadi lebih
terang dan yang lainnya redup. Posisi putaran diantara terjadinya pemadaman dan
terang tersebut, adalah posisi yang tepat dimana pada saat itu intensitas kedua
medan sama. Jika zat yang bersifat optis aktif ditempatkan diantara polarizer dan
analizer maka bidang polarisasi akan berputar sehingga posisi menjadi berubah.
Untuk mengembalikan ke posisi semula, analizer dapat diputar sebesar sudut
putaran dari sampel.


Macam macam polarisasi :
- Polarisasi karena pemantulan
Polarisasi dengan cara pemantulan dapat terjadi jika sudut sinar datang
pada cermin adalah 57. Sinar pantul dari sudut datang tersebut merupakan cahaya
yang terpolarisasi. Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada gambar di bawah ini:
57
Sudut
datang
Sudut
pantul
Garis normal
Sinar
datang
Sinar
pantul
57
C
a
h
a
y
a

y
a
n
g

t
e
r
p
o
l
a
r
i
s
a
s
i


- Polarisasi karena pembiasan dan pemantulan
Cahaya yang terpolarisasi akan terjadi jika sudut sinar datang akan
menghasilkan sudut sinar pantul dan sinar bias yang saling tegak lurus.
Medium 1
Medium 2
n1
n2
C
a
h
a
y
a

t
e
r
p
o
l
a
r
i
s
a
s
i
C
a
h
a
y
a

t
e
r
p
o
l
a
r
i
s
a
s
i


- Polarisasi karena bias kembar
Cahaya akan terpolarisasi jika mengenai suatu medium yang memiliki dua
indeks bias sehingga kelajuan cahaya tidak sama untuk ke segala arah, contoh:
kristal kalsit.


- Polarisasi karena hamburan
Jika cahaya tidak terpolarisasi melewati medium gas, maka gelombang
cahaya yang dihamburkan ke samping dapat terpolarisasi sebagian atau
seluruhnya.
Partikel-partikel gas
Cahaya terpolarisasi


- Polarisasi karena absorpsi selektif
Polarisasi dapat diakibatkan karena adanya absorpsi selektif (melalui
Polaroid). Polaroid dapat menyerap sinar yang melaluinya dan mentransmisikan
satu arah tertentu yang disebut sumbu mudah Polaroid. Untuk menentukan arah
polarisasi dan intensitas cahaya yang ditransmisikan digunakan dua buah
Polaroid. Polaroid pertama P
1
dinamakan polarisator, yang berfungsi melewatkan
sinar terpolarisasi dengan arah getar sesuai dengan sumbu mudah P
1
.
Polaroid kedua P
2
dinamakan analisator yang berfungsi menganalisis sinar
yang telah dilewatkan polarisator. Apabila analisator diputar, maka pada saat
sumbu mudahnya sejajar dengan sumbu polarisator, akan terlihat sinar paling
Cahaya terpolarisasi
n1
n2
terang. Selanjutnya sinar meredup dan akan tampak gelap pada saat sumbu mudah
polarisator dan analisator saling tegak lurus.
Polarisator
Analisator
P1
P2
Skema Polarimeter


- Pemutaran Bidang Polarisasi
Apabila gelombang cahaya yang telah melalui polarisator (cahaya
terpolarisasi) terlebih dahulu melewati suatu zat optis aktif, yaitu bahan yang
karena susunan kristalnya atau molekulnya asimetris sehingga dapat memutar
bidang polarisasi sinar-sinar yang telah terpolarisasi linier, misalnya larutan
glukosa. Besarnya sudut perubahan arah polarisasi cahaya u tergantung pada
konsentrasi larutan c, panjang larutan l, dan susut putar jenis larutan o. Hubungan
ini dapat ditulis secara matematis sebagai
l co u =







BAB III
ALAT-ALAT DAN PROSEDUR PERCOBAAN
III.1 ALAT ALAT PERCOBAAN DAN FUNGSINYA
1) Polarimeter
Sebagai alat untuk mengukur besarnya sudut putaran arah polarisasi
2) Lampu natrium
Sebagai sumber cahaya
3) Gelas Kimia
Sebagai alat untuk mencampur air dengan glukosa sehingga didapat
larutan glukosa
4) Gelas Ukur
Digunakan untuk mengukur volume air.
5) 3 buah tabung gelas ukuran 10 cm, 15 cm, 20 cm.
Digunakan sebagai wadah bagi larutan glukosa sehingga dapat diamati
menggunakan polarimeter.
6) Glukosa-monohidrat
Digunakan sebagai objek pengamatan.
7) Air suling
Digunakan sebagi objek percobaan dan juga sebagai bahan untuk membuat
larutan glukosa.
8) Neraca
Digunakan untuk mengukur massa objek.


III.2 PROSEDUR PERCOBAAN
A. Menentukan Titik Nol
1. Mengisi masing-masing tabung dengan air suling.
2. Memasukan tabung 10 cm ke dalam calorimeter.
3. Putarlah analisator sehingga tampak seperti pada gambar (a).
4. Mencatat posisi analisator tersebut.
5. Memutar kembali analisator searah jarum jam sehingga tampak
seperti pada gambar (b).

(a)
sebelum terpolarisasi
(b)
setelah terpolarisasi


6. Mencatat posisi analisator tersebut.
7. Menentukan besarnya titik nol tersebut.
8. Melakukan percobaan 3 s/d 7 untuk tabung 15, dan 20 cm.
B. Menentukan Sudut Putar Glukosa
1. Membuat larutan 10% glukosa monohidrat dalam air suling.
2. Mengisi masing-masing tabung 10 cm, 15 cm, dan 20 cm
dengan larutan.
3. Melakukan percobaan 2 s/d 6 pada prosedur A.
4. Menentukan sudut putar glukosa tersebut.
Catatan:
Untuk Prosedur A dan B setiap pengambilan data minimal 5 kali.



C. Mutarotasi
1. Melakukan percobaan 1 s/d 3 pada prosedur B.
2. Memasukkan tabung 10 cm kedalam polarimeter.
3. Melakukan percobaan 2 s/d 6 pada prosedur A selama satu jam
setiap 5 menit.
4. Menentukan sudut putar larutan tersebut.
5. Melakukan percobaan 1 s/d 4 untuk tabung 15 cm, dan 20 cm.

D. Larutan Tak hingga
Larutan tak hingga yaitu larutan yang disimpan selama satu minggu
yang dibuat pada pertemuan pertama.
1. Mengisi tabung 10 cm, 15 cm, dan 20cm dengan larutan tak
hingga.
2. Melakukan percobaan 2 s/d 6 pada prosedur A untuk masing-
masing tabung.
















BAB IV
DATA DAN PENGOLAHAN DATA
IV.1 DATA
- Menentukan Titik Nol
10 cm 15 cm 20 cm
(a) (b) (a) (b) (a) (b)
54,4 134 15 153,6
42,9 153,8 15,6 140
35 127,4 24,2 150,4
46,2 134,6 10,5 117,6
56,6 141,8 27,5 133,6

- Menentukan Sudut Putar Glukosa
15 cm 20 cm
(a) (b) (a) (b)
59,4 131,6 53,6 138,8
68 171 48,4 144,6
59,8 150,4 50 157
58,6 149 59,8 153,4
45,8 149 50,4 157

- Mutarotasi
Untuk 15 cm
Waktu (a) (b)
5 46 148
10 48 143,4
15 38 149,5
20 40 141
25 48 139
30 37 149
35 45 148,4


Untuk 20 cm
Waktu (a) (b)
5 47 146,8
10 51 149
15 52 153
20 43 156
25 63 146,7
30 56 149
35 58,4 147,6
40 51,2 136,6
45 60,3 153,7
50 60,8 151,2
55 69,7 146,6
60 45 145,5

- Larutan Tak Hingga
10 cm 15 cm 20 cm
(a) (b) (a) (b) (a) (b)
54,7 168,35 62,4 161 65,25 152,1
154 162,6 62,9 163,6 59,3 155,45
76,6 148 55,75 150,8 47,4 153,52
58,85 154 39 149,55 55 153,35
53,3 162,5 84,1 167,6 51,45 150,75

IV.2 PENGOLAHAN DATA
1. Menentukan kedudukan nol terbaik
Untuk masing-masing tabung dapat dihitung titik nol terbaik dengan
menggunakan rumusan;
Untuk tabung 10 cm, sebelum polarisasi
Pada perhitungan titik nol (
o
) pada masing-masing tabung digunakan
rumusan sebagai berkut :
) 180 ( ) (
) ( ) ( ) ( a b a o
=
Dan untuk menghitung kedudukan terbaiknya menggunakan rumus :
n
n
i
i
o

=
=
1


Sehinggga bila dihitung, maka diperoleh :

o
= ((146,7 46) (180 146.7)) = 67.4
Dengan cara yang sama, diperoleh titik nol untuk data berikutnya, yang terdapat
pada tabel berikut ini :
L (tabung) 10 cm 15 cm 20 cm
DATA
(a) (b) (0) (a) (b) (0) (a) (b) (0)

-
180 54,4 134
33,6
15 153,6
112,2

-
180 42,9 153,8
84,7
15,6 140
84,4

-
180 35 127,4
39,8
24,2 150,4
96,6

-
180 46,2 134,6
43
10,5 117,6
44,7

-
180 56,6 141,8
47
27,5 133,6
59,7
terbaik = #DIV/0! #DIV/0!
-
180
47,02 138,32 49,62 18,56 139,04 79,52
Ao = 0 14,032 21,856

2. Menghitung sudut putaran glukosa terbaik dan sudut putaran khas glukosa
dengan sesatannya
Untuk memperoleh Sudut putar glukosa maka kita akan menggunakan persamaan
sebagai berikut ini :
0
u =
g

Sedangkan untuk mendapatkan harga
g
dicari dengan rumus :
) ( ) ( a b g
=

Sudut putaran khas glukosa ditentukan oleh persamaan :

dengan :
u = sudut putaran glukosa
= sudut putaran khas glukosa
l = panjang larutan (cm)
Cl
u
o =
c = konsentrasi larutan glukosa
Dan untuk menentukan sesatannya menggunakan standar deviasi :

Pada percobaan kali ini, konsentrasi larutan glukosa (c) adalah :
M =
) ( ) (
) (
gr m gr m
gr m
air glukosa
glukosa
+
= M 2 , 0
200
20
= M
Maka, c = 0,1 M


L (tabung) 15 cm
DATA
(a) (b)
(g) o(0)
u o
59,4 131,6 72,2 51,34 20,86 13,9067
68 171 103 51,34 51,66 34,44
59,8 150,4 90,6 51,34 39,26 26,1733
58,6 149 90,4 51,34 39,06 26,04
45,8 149 103,2 51,34 51,86 34,5733
Terbaik = 58,32 150,2
91,88
51,34 40,54 27,0267
Ao = 8,976 5,984

L (tabung) 20 cm
DATA
(a) (b)
(g) o(0)
u o
53,6 138,8 85,2 76,88 8,32 4,16
48,4 144,6 96,2 76,88 19,32 9,66
50 157 107 76,88 30,12 15,06
59,8 153,4 93,6 76,88 16,72 8,36
50,4 157 106,6 76,88 29,72 14,86
Terbaik = 52,44 150,16 97,72 76,88 20,84 10,42
Ao = 7,264 3,632


1
) (
2 2

= A

N
N
i
o o
o
3. Dari percobaan C, menghitung sudut putar dan glukosa untuk masing-
masing variasi waktu
Untuk 15 cm
Waktu (a) (b)
(g) o(0)
u o
5 46 148 102 76,88 25,12 12,56
10 48 143,4 95,4 76,88 18,52 9,26
15 38 149,5 111,5 76,88 34,62 17,31
20 40 141 101 76,88 24,12 12,06
25 48 139 91 76,88 14,12 7,06
30 37 149 112 76,88 35,12 17,56
35 45 148,4 103,4 76,88 26,52 13,26

Untuk 20 cm
Waktu (a) (b)
(g) o(0)
u o
5 47 146,8 99,8 76,88 22,92 11,46
10 51 149 98 76,88 21,12 10,56
15 52 153 101 76,88 24,12 12,06
20 43 156 113 76,88 36,12 18,06
25 63 146,7 83,7 76,88 6,82 3,41
30 56 149 93 76,88 16,12 8,06
35 58,4 147,6 89,2 76,88 12,32 6,16
40 51,2 136,6 85,4 76,88 8,52 4,26
45 60,3 153,7 93,4 76,88 16,52 8,26
50 60,8 151,2 90,4 76,88 13,52 6,76
55 69,7 146,6 76,9 76,88 0,02 0,01
60 45 145,5 100,5 76,88 23,62 11,81
Terbaik = 54,783333 148,475 93,691667 76,88 16,811667 8,4058333
Ao = 7,3069444 3,6534722






4. Membuat grafik u terhadap waktu (t)
Untuk 15 cm :

Analisa Grafik :
Pada grafik hubungan antara sudut putar glukosa terhadap waktu
diperoleh dengan menggunakan metode kuadrat terkecil dapat terlihat
bahwa grafik tersebut linier ke kanan atas hal tersebut berarti semakin
besar waktu yang diberikan pada suatu reaksi untuk mengalami polarisasi
maka sudut putar larutan terebut akan semakin besar pula begitu pula
sebaliknya semakin kecil waktu untuk polarisasi maka semakin kecil pula
sudut putarnya. Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa seharusnya
glukosa mempunyai nilai zat optik aktif yang menyebabkan terjadinya
perputaran polarimeter. Kesalahan tersebut mungkin di karenakan tidak
telitinya praktikan dalam mengambil data yang kemudian akan diolah
dan hambatan datang dari gelembung-gelembung yang ada dalam tabung
sehingga menghambat penglihatan praktikan dalam mencari garis gelap
dan terang, seharusnya tabung tersebut diisi penuh sehingga tidak ada
udara yang menyebabkan gelembung tersebut muncul


y = 0.1207x + 23.034
R = 0.0286
0
5
10
15
20
25
30
35
40
0 10 20 30 40
S
u
d
u
t

P
u
t
a
r

G
l
u
k
o
s
a

Waktu
GRAFIK SUDUT PUTAR GLUKOSA (u) TERHADAP
WAKTU (t)
Series1
Linear (Series1)
Untuk 20 cm :

Analisa Grafik :
Pada grafik hubungan antara sudut putar glukosa terhadap waktu dengan
panjang tabung sebesar 20 cm dengan menggunakan metode kuadrat
terkecil terlihat bahwa semakin besar sudut putar glukosa tersebut maka
semakin kecil waktu yang dibutuhkan untuk polarisasi. Hal tersebut sesuai
dengan teori pada zat optik aktif dimana semakin besar suatu nilai zat
optik aktif tersebut maka akan semakin kecil pula sudut yang terbentuk
akibat polarisasi dalam percobaan ini praktikan menggunakan larutan
glukosa (C
6
H
12
O
6
), dimana glukosa merupakan termasuk salah satu
larutan zat optik aktif karena pada ikatan glukosa sendiri memiliki molekul
yang tidak simetris, sehingga dapat menghasilkan sudut putar dari
peristiwa polarisasi.
Hal ini tidak sesuai dengan teori bahwa seharusnya glukosa
mempunyai nilai zat optik aktif yang menyebabkan terjadinya perputaran
polarimeter.


y = -0.2469x + 24.837
R = 0.2157 0
5
10
15
20
25
30
35
40
0 20 40 60 80
S
U
D
U
T

P
U
T
A
R

G
L
U
K
O
S
A

(
u
)

WAKTU (t)
GRAFIK SUDUT PUTAR GLUKOSA (u) TERHADAP
WAKTUyang 20 cm (t)
Series1
Linear (Series1)
5. Dari percobaan D, menghitung sudut putar tak hingga dan sudut putaran
khasnya

Perhitungan Sudut putar tak hingga dan sudut putar khas larutan tak
hingga
L (tabung) 10 cm
DATA
(a) (b)
(g) o(0)
u o
54,7 168,35 113,65
71,68
41,97 41,97
154 162,6 8,6
71,68
-63,08 -63,08
76,6 148 71,4
71,68
-0,28 -0,28
58,85 154 95,15
71,68
23,47 23,47
53,3 162,5 109,2
71,68
37,52 37,52
Terbaik = 79,49 159,09 79,6
71,68
7,92 7,92
Ao = 31,68 31,68

L (tabung) 15 cm
DATA
(a) (b)
(g) o(0)
u o
62,4 161 98,6 51,34 47,26 31,506667
62,9 163,6 100,7 51,34 49,36 32,906667
55,75 150,8 95,05 51,34 43,71 29,14
39 149,55 110,55 51,34 59,21 39,473333
84,1 167,6 83,5 51,34 32,16 21,44
Terbaik = 60,83 158,51 97,68 51,34 46,34 30,893333
Ao = 6,724 4,4826667

L (tabung) 20 cm
DATA
(a) (b)
(g) o(0)
u o
65,25 152,1 86,85 76,88 9,97 4,985
59,3 155,45 96,15 76,88 19,27 9,635
47,4 153,52 106,12 76,88 29,24 14,62
55 153,35 98,35 76,88 21,47 10,735
51,45 150,75 99,3 76,88 22,42 11,21
Terbaik = 55,68 153,034 97,354 76,88 20,474 10,237
Ao = 4,6832 2,68375


6. Menghitung konstanta reaksi

Perhitungan konstanta reaksi
Untuk menghitung konstanta reaksi digunakan perhitungan dibawah ini.
Untuk tabung dengan ukuran panjang 10 cm dengan nilai Sudut putar rata-rata
dari larutan tak hingga sebesar 85,2, dengan menggunakan persamaan berikut ini
maka akan diperoleh sebesar :
(t) - (~) =
dengan, (t) = Sudut putar dari setiap data pada Mutarotasi
(~) = Sudut putar rata-rata dari larutan tak hingga

untuk L=10 cm adalah 85,2



Untuk data pertama dengan (t) dengan t = 0 menit maka sebesar 12,7 akan
diperoleh
= (t) - (~)
= 99,8 (97,354) = 2,446

= 58
Maka dengan cara yang sama akan diperoleh sebagai berikut dan nilai
ln sebagai berikut untuk setiap tabung:
Waktu
(g)
(mutarotasi)
(g)(larutan
tak hingga)
| Ln |
5 99,8 97,354 2,446 0,894454037
10 98 97,354 0,646 -0,436955775
15 101 97,354 3,646 1,293630676
20 113 97,354 15,646 2,750215293
25 83,7 97,354 13,654 2,614032519


Analisa Grafik
Pada grafik konstanta reaksi terhadap waktu maka dapat disimpulkan
bahwa dengan menggunakan metode kuadrat terkecil hasil grafik tersebut akan
nampak linier ke kanan atas hal tersebut berarti semakin besar waktu yang
diberikan pada suatu reaksi untuk mengalami polarisasi makan konstanta reaksi
dari larutan tersebut akan semakin membesar, begitu pula sebaliknya semakin
kecil waktu yang dibutuhkan suatu larutan untuk polarisasi makan semakin kecil
juga konstanta reaksi larutan tersebut dengan persamaan garis yakni y = 0,132x -
0,564







y = 0.1325x - 0.5648
R = 0.6331
-1
-0.5
0
0.5
1
1.5
2
2.5
3
0 10 20 30
K
O
S
N
T
A
N
T
A

R
E
A
K
S
I

WAKTU
GRAFIK KONSTANTA REAKSI
TERHADAP WAKTU
Series1
Linear (Series1)
BAB V
ANALISA DAN KESIMPULAN
V.1 ANALISA
Pada percobaan kali ini tentang polarimeter praktikan dituntut untuk
melakukan percobaan tentang Menentukan titik nol pada air, Menentukan sudut
putar glukosa, mutarotasi, menentukan sudut putar larutan tak hingga dan
menetukan konstanta reaksi larutan tersebut dengan 3 tabung yang berbeda yakni
10 cm, 15 cm, dan 20 cm.
Pada percobaan pertama : praktikan mencari titik nol dan melihat sudut di mana
pada saat belum terjadi polarisasi. Pada tabung 15 cm praktikan tidak menemui banyak
kesulitan di mana pada polarimeter akan terlihat cahaya dengan gelap pada tengah
lingkaran dan terang pada tengah lingakaran. Pada percobaan kali ini menggunakan air
biasa guna menjadi pedoman atau titik nol untuk larutan-larutan selanjutnya. Pada
percobaan ini praktikan tidak menggunakan tabung 10 cm dikarenakan praktikan tidak
dapat menemukan garis terang pada polarimeter maupun garis gelap tersebut, hal
tersebut dimungkinkan karena tidak mahirnya praktikan dalam menggunakan alat
polarimeter tersebut.
Pada percobaan kedua : Praktikan menggunakan larutan glukosa(C
6
H
12
O
6
),
dimana glukosa merupakan termasuk salah satu larutan zat optik aktif karena pada
ikatan glukosa sendiri memiliki molekul yang tidak simetris, sehingga dapat
menghasilkan sudut putar dari peristiwa polarisasi. Perlakuan yang sama
diberikan pada percobaan kedua ini. Pada percobaan ini praktikan tidak juga
menemukan garis gelap dan terang padapolarimeter jadi praktikan menggunakan 2
tabung yakni 15 cm dan 20 cm. Pada 2 tabung tersebut sudur putar hasil
polarisasinya dapat teramati (selisih dari dengan
0
(kedudukan nol). Dengan
, merupakan sudut yang dibentuk oleh larutan glukosa itu sendiri. Sudut putar
yang didapatkan seperti pada percobaan pertama dimana semakin panjang tabung
maka sudut putarnya pun akan semakin besar dan jelas.
g

Pada percobaan ketiga : mutarotasi kita menggunakan larutan glukosa. Dari


percobaan ini praktikan mencoba mencari hubungan antara sudut putar larutan
dengan waktu yang dibutuhkan. Pada percobaan ini praktikan mengamati sudut
perpindahan pada polarimeter selama 1 jam dengan pengamatan setiap 5 menit
sekali untuk memperoleh sudut putarnya, dan pada data hasil percobaan diperoleh
bahwa waktu juga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya peristiwa
polarisasi. Namun karena keterbatasan waktu maka percobaan ketiga ini hanya
dapat dilakukan pada 2 tabung. kita melihat perbedaan hasil peristiwa polarisasi.
Pada percobaan keempat, kita menggunakan larutan tak hingga, yaitu
larutan glukosa yang didiamkan selama satu minggu. Ini dimaksudkan untuk
mendapatkan larutan yang telah mencapai kesetimbangan. Pada percobaan ini,
Cahaya yang terpolarisasi terlihat tidak sebagus yang dihasilkan oleh larutan
glukosa awal, hal tersebut mungkin dikarenakan konsentrasinya yang besar. Pada
percobaan ini pula terjadi perbedaan dari larutan glukosa yang belum didiamkan
selama seminggu.
Pada tugas akhir nomor 6 yakni berdasarkan membuat grafik (t) terhadap
waktu dan grafik (t)- (~) terhadap waktu. Dari grafik tersebut terlihat bahwa
pengaruh waktu yang membuat polarimeter pada pengambilan data diperoleh
sudut yang naik dan turun, atau dapat disimpulkan tidak konstan naik saja atau
turun saja karena pengaruh waktu Sebaran sudut putar terhadap waktu sangat
bervariasi sehingga grafiknya naik turun disetiap waktu.



V.2 KESIMPULAN
- Polarimeter merupakan alat yang digunakan untuk mengukur besarnya
putaran optik yang dihasilkan oleh suatu zat yang bersifat optis aktif
yang terdapat dalam larutan.
- Waktu merupakan salah satu pengaruh faktor sudut putaran zat optik
aktif, semakin kecil waktunya maka sudut putar dari suatu zat optik aktif
akan semakin besar
- Besarnya suatu sudut putar sebuah zat optik aktif dipengaruhi oleh suatu
zat optik aktif apakah zat tersebut memiliki ikatan molekul yang
simetris atau tidak simetris sama sekali














DAFTAR PUSTAKA
Bruno Rossi. OPTICS . First Edition. Addison Wesley Publishing
Company,Inc. USA.1962.
http://www.dotcodotnz.co.nz/cgi-bin/qa question.cgi?20081228061457AA2Iuto