Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Geologi merupakan ilmu yang mengkhususkan kegiatannya pada penelitian perkembangan bumi sejak kelahirannya dari segi fisik dan segi makhluk yang pernah menghuni bumi serta segala gerakan-gerakan yang bekerja pada kulit luarnya, sejak masa lampau sampai sekarang. Gempa bumi juga dipelajari dalam geologi karena gempa bumi merupakan getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi akibat pelepasan energi dari dalam secara tiba-tiba yang menciptakan gelombang seismik. Untuk lebih lengkapnya makalah ini akan membahas mengenai proses terjadinya gempa bumi, akibat-akibat yang ditimbulkan, dan juga cara mengatasi saat terjadinya gempa bumi.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana proses terjadinya gempa bumi? 2. Daerah mana saja yang menjadi jalur utama gempa bumi? 3. Apa saja jenis-jenis gempa bumi? 4. Apa saja skala kekuatan gempa bumi? 5. Apa akibat yang ditimbulkan dari gempa bumi? 6. Bagaimana cara menghadapi gempa bumi? 7. Bagaimana sejarah gempa bumi yang telah menghancurkan kehidupan manusia?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui bagaimana proses terjadinya gempa bumi. 2. Untuk mengetahui daerah yang menjadi jalur utama gempa bumi. 3. Mengetahui jenis-jenis gempa bumi. 4. Mengetahui skala-skala kekuatan yang ada dalam gempa bumi. 5. Mengetahui akibat dan dampak yang ditimbulkan dari gempa bumi. 6. Mengetahui langkah apa saja yang harus dihadapi saat terjadi gempa bumi. 7. Mengetahui sejarah gempa bumi yang pernah terjadi di seluruh belahan dunia.

BAB II

PEMBAHASAN
Gempa bumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Gempa Bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak Bumi (lempeng Bumi). Gempa Bumi diukur dengan menggunakan alat Seismometer.

2.1 Proses Terjadinya Gempa Bumi

Gambar 1. Lempeng-lempeng di Seluruh Dunia

Menurut teori lempeng tektonik, permukaan bumi terpecah menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras kerak bumi yang mengapung di atas astenosfer yang cair dan panas. Oleh karena itu, maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama lain. Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik merupakan tempat-tempat yang memiliki kondisi tektonik yang aktif yang menyebabkan gempa bumi, gunung berapi, dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik merupakan kombinasi dari Teori Pergerakan Benua (Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudera (Sea Floor Spreading).

Lapisan paling atas bumi, yaitu litosfir, merupakan batuan yang relatif dingin dan bagian paling atas berada pada kondisi padat dan kaku. Di bawah lapisan ini terdapat batuan yang jauh lebih panas yang disebut mantel. Lapisan ini sedemikian panasnya sehingga senantiasa dalam keadaan tidak kaku, sehingga dapat bergerak sesuai dengan proses pendistribusian panas yang kita kenal sebagai aliran konveksi. Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfir padat dan terapung di atas mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Ada tiga kemungkinan pergerakan satu lempeng tektonik relatif terhadap lempeng lainnya, yaitu apabila kedua lempeng saling menjauhi (spreading), saling mendekati (collision) dan saling geser (transform).

Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat bergerak saling menjauhi, saling mendekati, atau saling bergeser. Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh manusia namun terukur sebesar 0 15 cm pertahun. Kadang-kadang gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci, sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal sebagai gempa bumi. 3

2.2 Jalur Utama Gempa Bumi


Terdapat tiga jalur utama gempa bumi yang merupakan batas pertemuan dari beberapa lempeng tektonik aktif: 1. Jalur Gempa Bumi Sirkum Pasifik Jalur ini dimulai dari Cardilleras de Los Andes (Chili, Equador, dan Caribia), Amerika Tengah, Mexico, California British Columbia, Alaska, Alaution Island, Kamchatka, Jepang, Taiwan, Filipina, Indonesia, Polynesia, dan New Zealand. 2. Jalur Gempa Bumi Mediteran atau Trans Asiatic Jalur ini dimulai dari Azores, Mediteran (Maroko, Portugal, Italia, Balkan, Rumania), Turki, Kaukasus, Irak, Iran, Afganistan, Himalaya, Burma, Indonesia, dan bertemu jalur sirkum pasifik di Maluku. 3. Jalur Gempa Bumi Mid-Atlantic Jalur ini antara lain yaitu Spitsbergen, Iceland, dan Atlantik Selatan. Sebanyak 80 % dari gempa di dunia terjadi di jalur Sirkum Pasifik yang sering disebut Ring of Fire karena juga merupakan jalur vulkanik. Sedangkan pada jalur Mediteran terdapat 15 % gempa dan sisanya sebanyak 5 % tersebar di mid-Atlantik dan tempat-tempat lainnya. Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilalui oleh jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu: Lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke arah utara dan menyusup ke dalam lempeng Eurasia, sementara lempeng Pasifik bergerak relatif ke arah barat. Jalur pertemuan lempeng berada di laut sehingga apabila terjadi gempa bumi besar dengan kedalaman dangkal maka akan berpotensi menimbulkan tsunami sehingga Indonesia juga rawan tsunami.

2.3 Jenis-jenis Gempa Bumi


a. Berdasarkan Penyebab Gempa Bumi Tektonik Gempa Bumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempenglempeng tektonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di Bumi, getaran gempa Bumi yang kuat mampu menjalar ke seluruh bagian Bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh pelepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tibatiba.

Gempa Bumi Tumbukan Gempa Bumi ini diakibatkan oleh tumbukan meteor atau asteroid yang jatuh ke Bumi, jenis gempa Bumi ini jarang terjadi. Gempa Bumi Runtuhan Gempa Bumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur ataupun pada daerah pertambangan, gempa bumi ini jarang terjadi dan bersifat lokal. Gempa Bumi Buatan Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas dari manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir, atau palu yang dipukulkan ke permukaan bumi. Gempa Bumi Vulkanik (Gunung Api) Gempa Bumi ini terjadi akibat adanya aktivitas magma yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempa bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa di sekitar gunung api tersebut. b. Berdasarkan Kedalaman Gempa Bumi Dalam Gempa bumi dalam adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada lebih dari 300 km di bawah permukaan bumi. Gempa bumi dalam pada umumnya tidak terlalu berbahaya. Gempa Bumi Menengah Gempa bumi menengah adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada antara 60 km sampai 300 km di bawah permukaan bumi. Gempa bumi menengah pada umumnya menimbulkan kerusakan ringan dan getarannya lebih terasa. Gempa Bumi Dangkal Gempa bumi dangkal adalah gempa bumi yang hiposentrumnya berada kurang dari 60 km dari permukaan bumi. Gempa bumi ini biasanya menimbulkan kerusakan yang besar. c. Berdasarkan Gelombang/Getaran Gempa Gelombang Primer Gelombang primer (gelombang lungitudinal) adalah gelombang atau getaran yang merambat di tubuh bumi dengan kecepatan antara 7-14 km/detik. Getaran ini berasal dari hiposentrum. Gelombang Sekunder Gelombang sekunder (gelombang transversal) adalah gelombang atau getaran yang merambat, seperti gelombang primer dengan kecepatan yang sudah berkurang, yakni 4-7 km/detik. Gelombang sekunder tidak dapat merambat melalui lapisan cair.

2.4 Skala Kekuatan Gempa


Konsep kekuatan gempa bumi pertama kali diperkenalkan oleh C. F. Ritcher pada tahun 1935 dengan mengusulkan skala kekuatan logaritma yang lazim disebut sebagai skala ritcher. Ada dua macam skala gempa yang biasa digunakan sebagai ukuran kekuatan gempa bumi, yaitu: 1. Skala Kekuatan Gempa Berdasarkan amplitude gelombang seismic (skala ritcher). 2. Skala Intensita Gempa Bersifat lebih subjektif. Berdasarkan goncangan (goyahnya bangunan), pecahnya kaca, retaknya tanah, larinya orang-orang keluar (skala Marcalli), dan skala Rossi Forrel. Secara lebih rinci skala tersebut akan dijelaskan sebagai berikut: a. Skala Rossi Forrel (1874 - 1878) 1. Terekam oleh instrument. 2. Dirasakan sejumlah kecil manusia dalam keadaan diam. 3. Dirasakan cukup kuat beberapa orang dalam keadaan diam. 4. Dirasakan sejumlah orang dalam keadaan bergerak. 5. Umumnya dirasakan setiap orang, membunyikan lonceng, dan menggerakkan perabot. 6. Membangunkan yang tidur dan menghentikan gerak jam. 7. Kepanikan dan menjatuhkan yang tergantung. 8. Meretakkan dinding bangunan. 9. Merusakkan sebagian atau keseluruhan bangunan. 10. Bencana besar, meruntuhkan gunung. b. Skala Ritcher Dibuat oleh Charles Ritcher (1935) 1 8.8 skala (skala Logaritma). Dasar kerja skala ini adalah dengan pengukuran amplitude maksimum gelombang seismic pada jarak 161 km, dengan mengukur perbedaan waktu tempuh gelombang-P dan gelombang-S. Kemudian ditambahkan factor empiris (berdasarkan kenyataan melemahnya gelombang saat menjauhi focus).

Table Skala Ritcher dan Pembandingnya Skala Ritcher 1 2 3 4 5 6 7 8 c. Skala Mercalli Diciptakan seismologis Italia, Guisseppe Mercalli pada tahun 1902 dan dimodifikasi oleh seismologi Amerika sehingga menjadi suatu skala yang absolute. Table Skala Intensitas Mercalli Skala 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Gejala di Permukaan Bumi
Tidak terasa. Terasa oleh orang yang berada di bangunan tinggi. Getaran dirasakan seperti ada kereta yang berat melintas. Getaran dirasakan seperti ada benda berat yang menabrak dinding rumah, benda tergantung bergoyang. Dapat dirasakan di luar rumah, hiasan dinding bergerak, benda kecil di atas rak mampu jatuh. Terasa oleh hampir semua orang, dinding rumah rusak. Dinding pagar yang tidak kuat pecah, orang tidak dapat

Peningkatan Kekuatan 1 10 100 1.000 10.000 100.000 1.000.000 10.000.000

Energi yang Dibebaskan Ledakan TNT 170 g 6 kg 179 kg 5 metric ton 179 metric ton 5.643 metric ton 179.100 metric ton 5.463.000 metric ton

berjalan/berdiri. Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan. Bangunan yang tidak kuat akan mengalami kerusakan tekuk. Jembatan dan tangga rusak, terjadi tanah longsor. Rel kereta api bengkok. Rel kereta api rusak. Bendungan dan tanggul hancur. Seluruh bangunan hampir hancur dan terjadi longsor besar. Efek bencana yang lain seperti tsunami, dan kebakaran.

12

Seluruh bangunan hancur lebur. Batu dan barang-barang terlempar ke udara. Tanah bergerak seperti gelombang. Kadang- kadang aliran sungai berubah. Pasir dan lumpur bergeser secara horizontal. Air dapat terlempar dari danau, sungai dan kanal. Diikuti dengan suara gemuruh yang besar. Biasanya bisa menyebabkan longsor besar, kebakaran, banjir, tsunami di daerah pantai, dan aktivitas gunung berapi. Pasir dan tanah halus terlihat meledak.

Hubungan Frekuensi-Kekuatan Berikut disajikan table frekuensi rata-rata pertahun gempa bumi selama periode 1918-1945. Table Perbandingan Kekuatan dan Frekuensi Gempa Bumi Skala Kekuatan 7 7.9 6 6.9 5 5.9 4 4.9 3 3.9 2 2.9 Frekuensi Tiap Tahun 1 18 108 800 6.200 49.000 300.000

2.5 Akibat yang Ditimbulkan dari Gempa Bumi


a. Bangunan roboh

b. Kebakaran

c. Permukaan tanah menjadi retak dan jalan menjadi putus

d. Tanah longsor akibat guncangan

e. Banjir akibat rusaknya tanggul

f.

Gempa di dasar laut yang menyebabkan tsunami

g. Jatuhnya korban jiwa

2.6 Cara Menghadapi Gempa Bumi


a. Bila berada di dalam rumah: Jangan panik dan jangan berlari keluar, berlindunglah dibawah meja atau tempat tidur. Bila tidak ada, lindungilah kepala dengan bantal atau benda lainnya. Jauhi rak buku, lemari, dan kaca jendela. Hati-hati terhadap langit-langit yang mungkin runtuh, benda-benda yang tergantung di dinding dan sebagainya. b. Bila berada di luar ruangan: Jauhi bangunan tinggi, dinding, tebing terjal, pusat listrik dan tiang listrik, papan reklame, pohon yang tinggi dan sebagainya. Usahakan dapat mencapai daerah yang terbuka. Jauhi rak-rak dan kaca jendela.

10

c. Bila berada di dalam ruangan umum: Jangan panik dan jangan berlari keluar karena kemungkinan dipenuhi orang. Jauhi benda-benda yang mudah tergelincir seperti rak, lemari, kaca jendela dan sebagainya. d. Bila sedang mengendarai kendaraan: Segera hentikan di tempat yang terbuka. Jangan berhenti di atas jembatan atau dibawah jembatan layang/jembatan penyeberangan. Bila sedang berada di pusat perbelanjaan, bioskop, dan lantai dasar mall: Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari pegawai atau satpam. e. Bila sedang berada di dalam lift: Jangan menggunakan lift saat terjadi gempabumi atau kebakaran. Lebih baik menggunakan tangga darurat. Jika anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia. f. Bila sedang berada di dalam kereta api: Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan. g. Bila sedang berada di gunung/pantai: Ada kemungkinan lonsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika Anda merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi. h. Beri pertolongan: Karena petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan mengalami kesulitan datang ke tempat kejadian maka bersiaplah memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang berada di sekitar Anda.

11

i.

Evakuasi: Tempat-tempat pengungsian biasanya telah diatur oleh pemerintah daerah. Pengungsian perlu dilakukan jika kebakaran meluas akibat gempa bumi. Pada prinsipnya, evakuasi dilakukan dengan berjalan kaki dibawah kawalan petugas polisi atau instansi pemerintah. Bawalah barang-barang secukupnya.

j.

Dengarkan informasi: Saat gempa bumi terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang benar. Anda dapat memperoleh informasi yang benar dari pihak berwenang, polisi, atau petugas PMK. Jangan bertindak karena informasi yang tidak jelas.

2.7 Beberapa Sejarah Gempa Bumi yang Menghancurkan Kehidupan Manusia


11 April 2012, Gempa bumi di sepanjang Pulau Sumatera berskala 8.6 SR, berpotensi sampai Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, dan Lampung. Gempa terasa sampai India. 11 Maret 2011, Gempa Bumi di Jepang, 373 km dari kota Tokyo berskala 9,0 Skala Richter yang sebelumnya di revisi dari 8,8 Skala Richter, gempa ini juga menimbulkan gelombang tsunami di sepanjang pesisir timur Jepang 26 Oktober 2010, Gempa Bumi di Mentawai berskala 7.2 Skala Richter, korban tewas ditemukan hingga 9 November ini mencapai 156 orang. Gempa ini kemudian juga menimbulkan tsunami. 16 Juni 2010, Gempa Bumi 7,1 Skala Richter menggguncang Biak, Papua. 7 April 2010, Gempa Bumi dengan kekuatan 7.2 Skala Richter di Sumatera bagian Utara lainnya berpusat 60km dari Sinabang, Aceh. Tidak menimbulkan tsunami, menimbulkan kerusakan fisik di beberapa daerah, belum ada informasi korban jiwa. 27 Februari 2010, Gempa Bumi di Chili dengan 8.8 Skala Richter, 432 orang tewas (data 30 Maret 2010). Mengakibatkan tsunami menyeberangi Samudera Pasifik yang menjangkau hingga Selandia Baru, Australia, kepulauan Hawaii, negara-negara kepulauan di Pasifik dan Jepang dengan dampak ringan dan menengah. 12 Januari 2010, Gempa Bumi Haiti dengan episenter dekat kota Logne 7,0 Skala Richter berdampak pada 3 juta penduduk, perkiraan korban meninggal 230.000 orang, luka-luka 300.000 orang dan 1.000.000 kehilangan tempat tinggal. 30 September 2009, Gempa Bumi Sumatera Barat merupakan gempa tektonik yang berasal dari pergeseran patahan Semangko, gempa ini berkekuatan 7,6 Skala Richter (BMG Indonesia) atau 7,9 Skala Richter (BMG Amerika) mengguncang Padang-Pariaman, Indonesia.

12

Menyebabkan sedikitnya 1.100 orang tewas dan ribuan terperangkap dalam reruntuhan bangunan. September 2009, Gempa Tektonik 7,3 Skala Richter mengguncang Tasikmalaya, Indonesia. Gempa ini terasa hingga Jakarta dan Bali, berpotensi tsunami. Korban jiwa masih belum diketahui jumlah pastinya karena terjadi Tanah longsor sehingga pengevakuasian warga terhambat. Januari 2009 - Gempa Bumi berkekuatan 7,6 Skala Richter di Papua. 12 Mei 2008 - Gempa Bumi berkekuatan 7,8 Skala Richter di Provinsi Sichuan, China. Menyebabkan sedikitnya 80.000 orang tewas dan jutaan warga kehilangan tempat tinggal. 12 September 2007 - Gempa Bengkulu dengan kekuatan gempa 7,9 Skala Richter 9 Agustus 2007 - Gempa Bumi 7,5 Skala Richter 6 Maret 2007 - Gempa Bumi tektonik mengguncang provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Laporan terakhir menyatakan 79 orang tewas [1]. 27 Mei 2006 - Gempa Bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Gempa Bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. United States Geological Survey melaporkan 6,2 pada skala Richter; lebih dari 6.000 orang tewas, dan lebih dari 300.000 keluarga kehilangan tempat tinggal. 8 Oktober 2005 - Gempa Bumi besar berkekuatan 7,6 skala Richter di Asia Selatan, berpusat di Kashmir, Pakistan; lebih dari 1.500 orang tewas. 26 Desember 2004 - Gempa Bumi dahsyat berkekuatan 9,0 skala Richter mengguncang Aceh dan Sumatera Utara sekaligus menimbulkan gelombang tsunami di samudera Hindia. Bencana alam ini telah merenggut lebih dari 220.000 jiwa. 26 Januari 2004 - Gempa Bumi dahsyat berkekuatan 7,7 skala Richter mengguncang India dan merenggut lebih dari 3.420 jiwa. 26 Desember 2003 - Gempa Bumi kuat di Bam, barat daya Iran berukuran 6.5 pada skala Richter dan menyebabkan lebih dari 41.000 orang tewas. 21 Mei 2002 - Di utara Afganistan, berukuran 5,8 pada skala Richter dan menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas. 26 Januari 2001 - India, berukuran 7,9 pada skala Richter dan menewaskan 2.500 ada juga yang mengatakan jumlah korban mencapai 13.000 orang. 21 September 1999 - Taiwan, berukuran 7,6 pada skala Richter, menyebabkan 2.400 korban tewas.

13

17 Agustus 1999 - barat Turki, berukuran 7,4 pada skala Richter dan merenggut 17.000 nyawa. 25 Januari 1999 - Barat Colombia, pada magnitudo 6 dan merenggut 1.171 nyawa. 30 Mei 1998 - Di utara Afganistan dan Tajikistan dengan ukuran 6,9 pada skala Richter menyebabkan sekitar 5.000 orang tewas. 17 Januari 1995 - Di Kobe, Jepang dengan ukuran 7,2 skala Richter dan merenggut 6.000 nyawa. 30 September 1993 - Di Latur, India dengan ukuran 6,0 pada skala Richter dan menewaskan 1.000 orang. 12 Desember 1992 - Di Flores, Indonesia berukuran 7,9 pada skala richter dan menewaskan 2.500 orang. 21 Juni 1990 - Di barat laut Iran, berukuran 7,3 pada skala Richter, merengut 50.000 nyawa. 7 Desember 1988 - Barat laut Armenia, berukuran 6,9 pada skala Richter dan menyebabkan 25.000 kematian. 19 September 1985 - Di Mexico Tengah dan berukuran 8,1 pada Skala Richter, meragut lebih dari 9.500 nyawa. 16 September 1978 - Di timur laut Iran, berukuran 7,7 pada skala Richter dan menyebabkan 25.000 kematian. Maret 1977 - Vrancea, timur Rumania, dengan besar 7,4 SR, menelan sekitar 1.570 korban jiwa, diantaranya seorang aktor Rumania Toma Caragiu, juga menghancurkan sebagian besar dari ibu kota Rumania, Bukares (Bucureti). 28 Juli 1976 - Tangshan, Cina, berukuran 7,8 pada skala Richter dan menyebabkan 240.000 orang terbunuh. Februari 1976 - Di Guatemala, berukuran 7,5 pada skala Richter dan menyebabkan 22.778 terbunuh. 29 Februari 1960 - Di barat daya pesisir pantai Atlantik di Maghribi pada ukuran 5,7 skala Richter, menyebabkan kira-kira 12.000 kematian dan memusnahkan seluruh kota Agadir. 26 Desember 1939 - Wilayah Erzincan, Turki pada ukuran 7,9, dan menyebabkan 33.000 orang tewas. 24 Januari 1939 - Di Chillan, Chili dengan ukuran 8,3 pada skala Richter, 28.000 kematian. 31 Mei 1935 - Di Quetta, India pada ukuran 7,5 skala Richter dan menewaskan 50.000 orang. 1 September 1923 - Di Yokohama, Jepang pada ukuran 8,3 skala Richter dan merenggut sedikitnya 140.000 nyawa.

14

BAB III

PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gempa bumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi, patahan aktif aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Gempa Bumi terjadi karena pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang disebabkan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itulah gempa Bumi akan terjadi. Akibat-akibat yang disebabkan oleh gempa bumi adalah bangunan-bangunan roboh, terjadinya tanah longsor, jatuhnya korban jiwa, kebakaran, tsunami, dan jalanan rusak.

3.2 Saran
Gempa bumi dapat terjadi kapan saja dan dimana saja oleh karena itu kita harus bisa melakukan pencegahan-pencegahan agar tidak terjadi banyak korban. Bawalah keperluankeperluan yang penting dan segera berlindung ke tempat-tempat yang aman.

15

REFERENSI
http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi Tati Zera M.Si, Geologi Langkah Awal Mengenal Bumi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2007. http://rapibantul.wordpress.com/2012/01/27/artikel-gempa-bumi/ http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=13&cad=rja& ved=0CGEQFjAM&url=http%3A%2F%2Fwww.esdm.go.id%2Fbatubara%2Fdoc_downl oad%2F488-pengenalan-gempabumi.html&ei=JKUUJ_mAoHMrQfn54CoBQ&usg=AFQjCNHpCRYHkJgCyHiieq_I6IH3Eu46FQ http://id.wikipedia.org/wiki/Skala_Mercalli http://stiebanten.blogspot.com/2011/06/makalah-gempa-bumi.html http://punyaulil.blogspot.com/2011/08/makalah-gempa-bumi_591.html

16