Anda di halaman 1dari 7

UNTVERSTTAS

KRTSTEN

PETRA

JURNAL TEKNIK MESIN


Voiume 7, Nomor L, APriI 2005 Penanggung Jawab : Ir. Ekadewi Anggraini Handoyo, M'Sc'

rssN 1410-9867

PemimPinUmum: Ir. {tesmana Lim, M'Eng'


PemimPin Redaksi:
Roche

Alimio

S.T', M'Eng'

AnggotaRedaksi:
Ir. Oegik Soegihardjo M.A., M'Sc' (Kona7liE"e'g)

Ii

Soejoio fiitio, M.T.M anf ' (Mnnufaktur) ir. joni Dewanto, M.S. (Desain)

PenYuntingAhli:
Dr. Ing. Suwando Sugondo
(PT. Agrindo SurabaYa)

Dr' IngHerman Sasongko


(lunnan Telsdk Mesin, -

tlutit t Telotologi 10 NoPembu Sutabaya) Dr.Ir. Djoko Sungkono, M'Eng'

(lurunn '

Teknik Mesin, institut Teknologt 10 Nopember Surabaya)

Dr. Ir. I Wajan Berata, D'E'A' 10 Nopembu Surabaya) Uunsan Teknik Mesin, Instititt Teknologi
Pelaksana Teknis
:

Surnamo

Alamat Sekretariat / Redaksi:

) ) 849483031., psw. 3L39-3 1 47, F ax' E-^^il : jumal-mesin@petra.ac.id, guslit@p9tg'petra'ac'id httP: / / puslit.petra.ac.id /iownals

[.

Pusat Penelitian Universitas Kristen Petra Siwalanke fto 121"-73L, Surabaya 60235, l:rdonesia
(031 (031

Telp.

8435418

'

Penerbit:
Petra ]urusan Teknik Mesin - Universitas Kristen

IIIRNAL TEKNIK MESIN terakresitasi


pendidikan Nasional

Pendidikan Tingg'Departemen 9*gT Surat Keputusan Direktw ]enderal iaOihtitrc"itZ0o2 yang ditetapkan pada tanggal 7-]anYT 2002, dan {iqerUarui No-oir Ti.ggt,- Departemen Pendidikan Nasional Nomon dengan Surat Keput"r""'E""tttt ]-*ait^f , *l*lifp Zelditti/Xep/200s yang ditetapkan pada tanggal30 Mei 2005' (dua) kali dalam setahun yaitu pada bulan April dan bulan Oktober' IIIRNAL TEKNIK MESIN diterbitkan 2 'nfnNef- TEKNIK MESN menerima berlangganan, biaya berlangfanan sebesar Rp. 40.000,- per tahun (biar-a iersebut sudah termasuk ongkos kirim)

biaya administrasi penulis yang ingrn mengajukan artikebrya ke ILIRNAL TEKNIK.MESIN harap menstranfer LIK Petua Surabaya atas nama ke rekming 150.000,- per arrikel ("t?iiJT"ik "4u.g ^"utitiaur.j Bukti"tansfer/pembayaran + hardcopy + diske: RESMANA

Rp

LiM (pusAT PENELnANI) No.'03+-0t-5usi-lz-t.

Pry{\ilg"

harap dikirim ke alamat Sekretariat'

J-

JURNAL TEKNIK MESIN


Volume 7, Nomor
1,

Aprii

2005

ISSN 1410-9867

Daftar Isi
L.

Mullite Ceramics: lts Propttics, Sbacfue, md


Oleh: Juliana

Anggono

Wrcsis
1

- 10

2. Etek Shot PeeningTerhadap

Laut

Korud RclakTegilg (SCC) Baja Karbon Rendah dalam Lingkungan Air

t7-14
Analisa Sudut Belok Roda Belakilg Sbai Fmgsi Sudut Belok Roda Depan dan Kecepatan pada
Kendaraan Mini4WS
Oleh:

YurnrkoTriwinamo,Taufiqllida)ratulhh

75

-2I

Perancangan Mesin Psnbuat Tepung Tapioka Oletu

Oegiksoegihardjo,Aninditya
lilik
Dwi

22_27

Pengaruh Kadar Tioz Terhadap Kekuatan Bending Komposit serbuk


Oleh: Toto Rusiantq

Setyana

Avrioz
2g_U
gS _ 42

Simulasi Model Matematis Kontrol Sistem Kontrol Traksi Oleh: Ian Hardianto Siahaan, I Nyoman Sutantra .........

Efek Shot Peening Terhadap Korosi RetakTqang (SCC) Baja Karfun Rendah dalam Lingkungan Air

l-ad (Mohammad Badaruddin, et at.)

Efek shot Peening Terhadap Korosi Retak regang (Scc) Baja Karbon Rendah dalam Lingkungan Air Laut
Mohammad Badaruddin, Sugiyanto
Dosen Jurusan Teknik Mesin - Universitas Lampung Email: mohabad@ unila.ac.id

Abstrak
T\-rjuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh shot peening terhadap korosi retak tegang baja karbon rendah dalam lingkungan air laut yang mengandung 3,5 7a NaCl. Dmensi spesimen uji korosi

dibuat berdasarkan standar ASTM G39. Pengujian kekerasan dilakukan menggunakan mil.rovickres dengan beban 0,25fuf pada arah ketebalan bahan. Uji korosi dilakukan dengan mencelupkan dalam air laut buatan selama 7 bulan. Hasil pengujian menunjukan bahwa spesimen uji cenderung lebih dominan terserang korosi sumuran (pitting corrosion). Korosi sumuran yang terbesar terdapat pada spesimen uji tanpa shot peening pada pembebanan static 707c. Terbentuknya korosi sumuran menjadi pemicu terbentuknya korosi retak tegang. Bentuk retak yang terdapat pada daerah korosi sumuran adalah
intergranular bercabang yang merupakan hasil serangarr klorida pada baja karbon rendah.
Kata kunci: shot peening, korosi sumuran, korosi retak tegang.

Abstract
Thp aim of this study is to inuestigate the ffict of shot peening on stress corosion craching of a low carbon steel in ocean water enuironment. The dim"ension of specimens were prepdred in a.ccordance with the. ASTM G39. ThE hardness tusting was canied out using micouickers with 0,25 kgf todd in tfu tongitudinal direction. The corrosion crorking fust was immersed into artifidnl sea water for about 7 months. Th.e fust shows that the pitting corrosion is daminantly nucleated at the metal film infurface. The biggest pitting corrosion was occuted und.er the stati.c loa.ding of 70 for the specimcns unpeerwd. Thn presence of pitting corrosion promotes strcss cotrosinn croching. Tfu crorking has a infurgranular branched. morphology which is typical for tfu chlori.d.e cra.ching of low carbon stuel I(eywords: shot peening, pitting corrosion, stress corrosion crarking.

1. Latar Belakang

badan kapal, jembatan dan banyak lainnya. Pembebanan keberadaan konstruksi ini dilingkungan relatif korosif menimbulkan konstruksi ini riskan terhadap serangan korosi retak tegang
pada kenyataannya, selama proses manufaktur
permesinan seperti: milling, scrapping, atau penghilangan bagian-bagian tertentu pada material dapat mengakibatkan ketidakseragaman sifat bahan sehingga kekuatannya akan menurun, meskipun bahan tersebut dirancang untuk mampu menahan beban, baik tarik, tekan, tekuk, puntir, atau beban kombinasi dari macam-macam jenis
pembebanan di atas
.

di industri petrokimia, di konstruksi pengeboran minyak lepas pantai, kerangka dan


konstruksi

Baja karbon banyak digr:nakan untuk stmktur

Korosi retak tegang (SCC) adalah peristiwa pembentukan dan perambatan retak dalam logam yang terjadi seca-ra simultan antara tegangan tarik yang bekerja pada bahan tersebut dengan lingkungan yang korosif. Tercatat beberapa peneliti yang telah melakukan penelitian menyangkut korosi retak tegang, diantaranya, James D. Fitz,

dkk I7l, melakukan penelitian terhadap


(IINS

(SCC). Korosi retak tegang yang terjadi pada suatu bahan harus mendapat perhatian khusus karena

paduan 67o Mo

air laut pada temperatur yang

baja NO836Z), pada lingkungan

berbeda dengan

spesimen uji U-bend. Dimana hasil pengujian yang

didapat menunjukkan bahwa pada temperatur diatas 1200C, SCC terjadi hanya bergantung dari
kandungan kloridanya, dengan bentuk perpatahan

adalah transgranular bercabang. Ikltzler [8], melakukan penelitian pada stainless steel fasa austenit yang di shot peening. Kesimpuian yang didapat menu4jukan bahwa ketahanan material terhadap korosi retak tegang yang terjadi sangat
signifikan terhadap beban yang diberikan, dimana waktu proses pencelupan pada larutan 42 Vo MgClz pada temperatur I450C, dapat memperpanjang umur korosi retak tegang dari 38 jam menjadi 1000

Gatatan: Diskusi untuk makalah ini diterima sebelum tanggal 1 Juli 2005. Diskusi yang layak muat akan diterbitkan pada Jumal Teknik Mesin Volume 7 Nomor2 Oktober2005.

11

JURNAL TEKNIK MESTN Vot.7, No. 1, Aprit 2005: 11

14

jam pada pembebanan 70 Vo dan tegangan luluh


bahan sedangkan pada beban 90 Vo peningkatan yang te{adi tidaklah signifikan. Kirk dan Render [5] melakukan penelitian pengaruh peening pada korosi retak tegang pada baja karbon dengan menggunakan spesimen U-bend yang direndam pada larutan asam sulfat 30 Vo yang dipanaskan pada temperatur 670C. Retakan terjadi pada tegarrgan tinggi yaitu 90 Vo dari batas elastis logam,

tekanan udara 2,94 Bar menggunakan bola baja berdiameter 0,8 mm dengan covered 100%. Spesimen uji korosi disiapkan sesuai standar ASTM G3g99,[1], dengan pembebanan statik J0%. 70Vc dart 90Vo tegangan luluh bahan. dan kemudian direndam dalam air laut buatan. 1-ang dibuat mem:rut standar ASTM D1141-9S. [3].
3. Hasil dan Pembahasan
3.1

struktur mikro dan perlakuan panas sangat mempengaruhi baja terhadap korosi retak tegang.. Penelitian ini dilakukan unhrk mengetahui

Hasil Uji Kekerasan


Pengujian dengan kekerasan dilalrrLan dengan

hubungan pengaruh proses permesinan (milling) pada baja karbon rendah yang di temper, yang kemudian diberikan perlakuan shot peening pada permukaannya, unhlk mengetahui pengaruhnya terhadap korosi retak tegang dalam lingkungan air laut buatan. 2. Metode Penelitian

menggunakan kekerasan milrorickers beban 0.25 kgf. Lamanya waktu indent:<i adalah --kitar 15 detik. Hasil uji kekerasan dapat dilihat pada gambar 1.

F rc/- y.:: - = 5},:' 1--' +fim r.= ' 3/ A },:{:=-.rE..a' r S_,:i 3-ri 2!. >ct '=:?'d
C

Komposisi kimia dan sifat


tabel
1. 1.

mekanis

baja

karbon rendah yang digunakan dapat dilihat pada


Tabel.

o N d
150 6 o 6

Komposisi Kirnia (wwo) dansifat Mekanis

C Si S

p Fe Tegang?! Tegangan Elongasi " uttimate (Mpa) tutuh (Mpa) (%)


98,8 373,242 274,551
26,21

r g s z

-^^ ruu

0,07 0,27 0,006 0,026

50

ketebalan 10 mm kemudian dipotong searah


pengerolan dan dibenhrk dengan dimensi panjang 300 mm dan lebar 200 mm, Tabel 2.

tt

50 1oo

'*'T",'"Tr::;l-:i

:5: :J:'.

"r:

600

Tabel 2. Macam-macarn Spesimen Uji Korosi dan Perlakuannya


Pedakuan

Gambar 1, Karakteristik distibusi nild h{a karbon yang distempedng 3S(FC sfxna 4 jam dan di
shot

kdrrsr

pening

Spesimen
RM NSP SP.lO

Miilinq '

duenchiltg dan
tempenng

snor peentng

Jumlah
o o

br

t5

SP 20

Keterangan: RM (raw material), NSP (tanpa shot peening),


peening)

Sp

(shof

Bahan tersebut kemudian permukaannya di milling setebai 2,5 mm dan kemudian permukaan bahan diamplas dengan menggunakan kertas SiC dari grade 100 sampai b00. Sampel kemudian

Pada gambar 1, dapat rtilihat bahrsa semakin lama waktu yang diberikan dalam shot peening, maka akan meningkatkan nilaj kekera-ran pada permukaan bahan. Peningtatan ini karena defor_ masi plastis yang terjadi pada permuliaan bahan setelah proses shot peening. -hingga dapat menimbulkan kerapatan disloka--i. Semakin besar deformasi plastis yang diberikan. maka akan menyebabkan bertambahnl'a dislokasi 1-ang akan membentuk interaksi antar disloka_<i 1-ang satu dengan yang lainnya. Interaksi ini erlian menyebabkan kerapatan dislokasi l-ang tinggr terutama pada
regangan (strain hardening effect), (Farahi, dkk) t4l. Perbedaan bentuk deformasi plastis yang dihasilkan akibat proses shot peening dapat dilihat pada gambar 2. I-ekukan-lekukan yang dihasilkan oleh sftof peening pada waktu peening sekitar 10

batas butirnya dan akan saling menghambat, sehingga dapat menimbulkan efek pengerasan

jam, lalu

dif'anaskan pada suhu 8500C dan ditahan selama 2 dtqueching dalam air. Temper diberikan pada temperatur 3500C selama 4 jarn. Setelah

ditemper bagian permukaan yang di machining tadi kemudian dt shot peening dengan waktu 10 detik, 15 detik dan 20 detik dengan intensitas
12
I.I

detik tidak begitu padat, sedangkan pada waktu

EfekslptPeeningTerhadapKotosiReAkTqang(SCC)Bajal(atbnRendahctalamUngtunganAhb.rt

(MohammadBadaruddin,etal.)

peening 15 dan 20 detik, lekukanlekukan yang dihasilkan hampir sama tingkat kepadatarurya. Namun besarnya deformasi plastis yang trjadi pada permukaan bahan dengan waktu peening yang bervariasi dapat menimbulkan tegangan sisa tekan yang berbeda pada lapisan permukaan, hal ini dapat diindikasikan oleh hasil uji kekerasan mikrovickers. Tingkat kekerasan yang berbeda diukur dari jarak tepi pada ketebdan bahan yang sarna, menghasilkan tingkat kekerasan yang berbeda-beda pada spesimen dengan shot peening
dan tanpa shot peening.

pitting. Setelah itu korosi pitting akan terus merambat melalui lapisan permukaan. Pada

dengan lingkungannya. Bila celah terbenhtk sampai ukuran kritis, maka lapisan pasif (posslue fi.lm) akan rusak, sehingga mulai terbentuknya
spesimen yang di shot peening, korosi pitting yang terbenh:k sangat kecil, Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin dalamnya lapisan permukaan yang di shot peening, makapitting semakin lambat ke dalam permukaan bahan.

(a)
Gambar

(b)

3. Pemukaan

retak akibat korosi pada baja karbon rendah yang di miling dan tempeing, (1) Bentuk

pitting dengan perbesaran 30X, (b) SCC pada


lokasi piftrngdengan perbesaran 100X (detail A)

pitting. Menurut FYitz dan Gerlock, [7], bahwa korosi pitting akan menjadi pemicu terbenfuknya

Pada gambar 3b, dapat dilihat terbentuknya korosi retak tegang yang bercabang pada daerah

SCC, disamping itu juga hrrunnya pH larutan dan kandungan oksigen akan menjadi penyebab SCC. Bentuk korosi retak tegang yang terdapat pada

Gambar2. Bentuk permukaan hasil shot peening dengan wahu peening yang berbeda, (a) 10 deti( (b) 15
detik, dan (c) 20 detik pada tekanan 2,94Bar

retak yang intergranular (Gambar 3b).

bahan tarrpa shot peening, menunjukan benfuk


Proses

3.2

Hasil Uji Korosi RetakTegang (SCC)

tidak ditemukan adanya retak pada

Sangat sulit sekali unhrk melihat benh:k retak yang terjadi akibat SCC pada setiap level beban pengujian korosi. Namun setelah dilakukan uji SEM pada setiap permukaan daerah pitbing, ternyata ditemukan korosi retak tegang pada spesimen yang dt milling (NSP) dengan levelbebanT}Vo dan lama perendaman sekitar 5 bulan. (Gambar B). Sedangkan pada spesimen dengan shot peening daerah

pada batas kristal struktur paduan, Kirk and Render [5]. Pada bahan tersebut akan memiliki tegangan sisa tarik mikro. Fase baru ini cenderung mengendap pada batas butir yang mempunyai potensial elektrokimia yang berbeda dengan larutpada daerah-daerah anoda dan katoda didalam struktur paduan itu dan bila fase baru itu adalah bersifat anoda terhadap batas kristalnya, maka korosi akan mengikuti batas butirnya. Memrrut Jones [6], benhrk retak yang intergranular akjbat
tidak homogenya fase pada daerah batas butir. an padat induknya. Dengan demikian akan terjadi

tempering pada bahan setelah dr mochining akarr menghasilkan fase baru, yaitu struktur martensit

kan saling beriteraksi. Baja yang masih

pittingnya. Pada gambar 3 dapat dijelaskan bahwa bahan terlebih dahulu mengalami korosi pitting yang cukup besar pada kedalaman permukaannya, seiring lamanya waktu perendaman. Korosi pitting terus terjadi akan menjadi pemicu pembenh:kan retak awal pada daerah pitting. Menurut Prabhugaudmr dkk [9], korosi retak tegang terjadi pada daerah pitting disebabkan tiga parameter yaitu; media koros{ material dan tegangan yang diberimem-

5. Kesimpulan Berdasarkan

dari

pembahasan sebelumnya,

maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu: 1. Peningkatan nilai kekerasan pada bahan yang dt shot peening menghasilkan deformasi plastis pada permukaannya, yang dapat menimbulkan efek pengerasan regangan. Semakin lama waktu

punyai lapisan pelindung pasif akan mr-rlai terbentuk celah (uoid) pada lapisan antar muka logam

peening, maka kekerasan yang dihasilkan makinmeningkat.

se-

13

JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 7, No. 1, April 2005: 1 1 - 14

2.

Bentuk retak yang terjadi selama pengujian kormi retak tegang, menghasilkan rctak intergmrular pada spesimen tanpa shot peening
pada level beban 70Vo. Akibat terbentuknya fase

3.

martensit pada batas butir yang lebih bersifat anoda dari larutan padat induknya. Tidak ditemukannya korosi retak tegang (SCC) pada bahan yarrg drshot peening memrnjukan bahwa, proses shot peening adalah salah satu metode yang dapat diaplikasikan dalam mencegah terjadinya SCC pada logam dalam lingkungan korosif.

Daftar Pustaka

l.

ASTM G39, Standard Pra.ctire for Preparatinn and Use of Bent-Beam Stress-Corrosinn Test Specimens, ASTM International, Annual Book of
ASTM Standard, USA, 1999.

2. ASTM G44, Standard Practice for Exposure of Metals and Alloys by Alternate Immersion in
Neutral 3.5 7o Sodium Chloride Solution, ASTM International, Annual Book of ASTM Standard,

usA,1999.

3. ASTM D1141, Standard Practice For The Preparation of Substitute Ocean Water, ASTM International, Annual Book of ASTM Standard, USA.
1998.

4. Farrahi, G.H, Lebrun, J.L and Couratin,


pp.217-220.

D.,

"Effect of Shot Peening on Residual Stress And Fatigue Life of Sptitrg steel, FFEM, 18(2), 1995,

5. Kirk D., P.E. Render, Effect


C orrosian

Of Peening On Stress

Craching, brternational Conference of

Shot Peening 7il', Warsaw, Poland., 1998, pp.167176.

6. Denny A. Jones, Principles and Preuentinn of Cotosinn,2nd series, hentice Hall, New Jersey,
USA, 1996, pp.238-239.

7. James. D. Flizt, Ronald. J.Gerlock, Chlorid.e Sfress Corrosion Cracking Resistance Of 6 Vo Mo Stainless Steel NIoy ANS N08367). Desahnation Journal, 13(5), 2001, pp.93-97.

8. Kritzler, J., Effect Of Shot Peening On

Stress

Corrosion Craching On Austenitic Stainless Steel, International Conference of Shot Peening 7th , Marsaw, Poland, 1998, pp.199-208.

9. Prabhugaunkar, G.V, Rawat, M.S dan Prasad, C.R, Role of Shot Peening On Life Extension of 72Vo Cr Tfurbine Blading Martensitic Stael Subjectud To SCC and Corrosion Fatigue, International Conference of Shot Peening 7m,
tr{arsaw, Poland., 1998, pp. 177-183.

14