Anda di halaman 1dari 3

I. PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Biji kakao merupakan salah satu hasil perkebunan yang banyak digunakan sebagai bahan baku industri. Di Indonesia biji kakao merupakan salah satu komoditi ekspor. Produksi biji kakao mengalami peningkatan dari tahun ke tahun sejalan dengan peningkatan luas areal perkebunan. Selama ini dari buah kakao yang mempunyai nilai ekonomi adalah biji kakao. Kulit buah kakao yang merupakan bagian terbesar dari buah kakao hanya dimanfaatkan sebagai kompos untuk tanah perkebunan. Beberapa penelitian yang telah dilakukan adalah pemanfaatan kulit kakao sebagai media pertumbuhan jamur untuk menghasilkan enzim, campuran pakan ternak langsung atau sebagai silase, produksi biogas, sebagai media untuk memproduksi gum xantan dan gula cair. Kulit buah kakao juga dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pektin. Di Indonesia pektin masih merupakan barang impor dan belum cukup dikenal. Oleh karena itu, sudah seharusnya indonesia berusaha untuk memproduksi sendiri pektin dengan menggunakan limbah kulit kakao. Pektin umumnya terdapat pada jaringan tanaman yang merupakan bagian dari dinding sel pada lamella tengah sebagai bahan perekat sel-sel. Penyusun utamanya yaitu polimer asam D-galakturonat yang terikat dengan -1-4dlikosidik (Wikipedia 2012). Sedangkan menurut Hoejgaard (2004), pektin merupakan asam poligalakturonat yang mengandung metil ester. Dalam industri makanan, pektin telah banyak diaplikasikan sebagai pengental, pembentuk gel dan agen pengemulsi untuk selai, minuman ringan, produk ikan dan daging, jus buah, makanan penutup dan produk susu (May, 1990 ; Ralet et al, 2005). Setelah itu, dengan meningkatnya permintaan untuk produk dalam ilmu makanan dan gizi, kosmetik dan farmasi (Pilnik, 1990), konsumsi pektin di seluruh dunia tumbuh terus-menerus dan telah melebihi 20.000 ton per tahun (Ptichkina et al., 2008). Semua tanaman yang berfotosintesis tanpa kecuali mengandung pektin. Bahan baku utama yang merupakan sumber pektin komersial adalah kulit jeruk dan ampas dari pengolahan sari buah apel.

Sumber pektin di Indonesia sebenarnya cukup banyak, seperti jeruk dan pepaya, tetapi sampai saat ini belum banyak dikembangkan. Kemungkinan salah satu sumber pektin lain yang banyak terdapat di Indonesia dan perlu dipertimbangkan adalah kulit buah kakao. Kulit Kakao merupakan produk berlimpah dari perkebunan kakao di Indonesia. Memiliki potensi besar untuk produksi pektin. Kulit kakao ini berisi pektin 18%, tanin 2%, catekin 0,01% dan antocianin 1,04% (Djoko Santoso 2008). Efisiensi metode ekstraksi berkaitan dengan tiga faktor yaitu lama ekstraksi, suhu dan pH ekstraksi (Mollea 2007). Ekstraksi yang terlalu lama akan menghasilkan pektin yang tidak jernih, jeli yang diperoleh akan keruh dan kekuatan jeli berkurang (Handayani 1987). Asam yang biasa digunakan adalah asam klorida dan asam nitrat (Towle dan Christensen, 1973). Selain itu, asam klorida dan asam asetat juga merupakan pelarut yang mudah dicari dan persediaannya masih sangat tercukupi di pasar industri (Riyadi, 2003). Berdasarkan hasil penelitian Rachmawan (2005) asam klorida terlalu kuat menghidrolisis protopektin, sehingga proses hidrolisis tidak hanya berhenti sampai pada pektin saja tetapi berlanjut menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana yaitu pektat dan galakturonat. Rendemen semakin turun jika diekstraksi dengan asam klorida dibandingkan asam asetat. Begitu juga dengan waktu ekstraksi yang terbaik adalah 60 menit. Semakin lama proses ekstraksi maka rendemen semakin menurun pada proses ekstraksi pektin jeruk (Fitriani 2003). Lamanya ekstraksi terkait dengan kontak atau difusi antara larutan pengekstrak dengan kulit buah kakao. Semakin sempurna kontak tersebut akan diperoleh rendemen yang banyak. Metoda ekstraksi pektin berhubungan dengan tiga faktor yaitu temperatur, waktu dan pH selama proses ekstraksi berlangsung. Ekstraksi pektin dari bahan yang berbeda akan membutuhkan lama, suhu dan pH ekstraksi yang berbeda pula. Semakin tinggi suhu selama proses ekstraksi akan semakin banyak pektin yang terekstraksi. Suhu yang tinggi juga akan membutuhkan waktu yang singkat atau memperpendek waktu ekstraksi. Temperatur optimum pada proses ekstraksi pektin adalah 80oC (Al Rasyid, 1986). Dari hasil penelitian Laili (1994) bahwa suhu terbaik untuk ekstraksi pektin adalah 75oC. Dari hasil penelitian tersebut

diketahui bahwa suhu berpengaruh terhadap rendemen, kadar metoksil dan viskositas pektin. Semakin tinggi suhu rendemen yang dihasilkan juga semakin tinggi. Sedangkan jika pH eksrtaksi terlalu rendah akan menyebabkan hasil pektin tidak jernih dan kekuatan gel menurun. Oleh karena itu proses ekstraksi pektin perlu kondisi yang tertentu dengan suhu, lama dan pH ekstraksi yang berbedabeda untuk menghasilkan pektin. Dalam upaya pemanfaatan limbah kulit kakao dan melihat faktor pada proses produksi pektin. Untuk itu dilakukan penelitian yang berjudul Pengaruh Jenis Asam dan Lama Ektraksi Terhadap Karakteristik Pektin Dari Kulit Kakao (Theobroma cacao L.) yang dihasilkan 1.2 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh jenis asam dan lama waktu ekstraksi terhadap rendemen dan mutu pektin yang dihasilkan. 1.3 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai informasi bagi masyarakat untuk dapat meningkatkan daya guna limbah kulit kakao menjadi pektin sehingga dapat menangulangi limbah kulit kakao. 1.4 Hipotesa Penelitian H0 : Jenis asam dan waktu ekstraksi tidak berpengaruh terhadap rendemen dan mutu pektin yang dihasilkan. H1 : Jenis asam dan waktu ekstraksi berpengaruh terhadap rendemen dan mutu pektin yang dihasilkan.