Anda di halaman 1dari 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Hukum kekekalan energi merupakan dasar dari kalorimetri, misalnya yang dirumuskan sebagai persamaan dasar kalorimeter bom. qrks + qair + qkalori = 0 Persamaan diatas menyatakan bahwa jumlah seluruh kalor dalam suatu proses adalah nol. Atau semua kalor yang dilepaskan oleh sistem (campuran kimia) diterima oleh sekeliling (air untuk meredam bom, beserta unit kalorimeter lainnya). Atau, energi tak dapat diciptakan atau dihilangkan dalam suatu proses (Petrucci dan Suminar,1985). Hukum pertama termodinamika merupakan pernyataan ulang dari hukum kekekalan energi, yang dalam bentuknya memperhatikan energi-dalam (internal) dari suatu sistem, dan memisahkan adanya dua bentuk dasar pengalihan energi, yaitu kalor dan kerja. Dalam sistem terisolasi, energi total tetap sama. Atau jika suatu sistemmenukar kalor dan/atau kerja dengan sekelilingnya, maka proses ini harus mengakibatkan energi total dari sistem dengan kelilingnya tetap sama. Dalam pengertian energi dalam (E), kalor (q) dan kerja (w), maka E = q w (Petrucci dan Suminar,1985). Tidak semua reaksi dapat ditentukan kalor reaksinya secara kalorimetrik; penentuan ini terbatas pada reaksi-reaksi berkesudahan yang berlangsung dengan cepat, seperti reaksi pembakaran, reaksi penetralan dan reaksi pelarutan ( Taba dkk, 2011).

Panas reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan energi produk dan reaktan pada volume konstan (E) atau pada tekanan konstan (H). Sebagai contoh adalah reaksi Reaktan (T) Produk (T)

E = E (produk) E(reaktan) Pada temperatur konstan dan volume konstan, dan H = H(produk) H(reaktan) Pada temperatur konstan dan tekanan konstan. Jika E atau H positif, reaksi dikatakan endotermis dan jika E dan H negatif reaksi disebut eksotermis (Dogra dan Dogra,1990). Panas reaksi diukur dengan bantuan kalorimeter. Harga E diperoleh apabila reaksi dilakukan dalam kalorimeter bom, yaitu pada volume konstan dan H adalah panas reaksi yang diukur pada tekanan konstan, dalam gelas piala atau labu yang diisolasi, botol termos, labu Dewar dan lain-lain. Karena proses diperinci dengan baik, maka panas yang dilepaskan atau yang diabsorbsi hanyalah fungsi-fungsi keadaan, yaitu Qp = H atau Qv = E adalah fungsi keadaan. Besaran-besaran ini dapat diukur oleh persamaan: Q = E atau H = (produk, kalorimeter) dT

Dimana Ci dapat berupa Cv untuk pengukuran E dan Cp untuk H. Dalam banyak percobaan Ci untuk kalorimeter dijaga tetap konstan (Dogra dan Dogra, 1990). Suatu reaksi kimia yang diinginkan dapat ditulis sebagai rangkaian dari banyak reaksi kimia. Jika seseorang mengetahui panas reaksi dari masing-masing tahap, maka panas reaksi yang diinginkan dapat dihitung dengan menambahkan atau

mengurangi panas reaksi dari masing-masing tahap. Prinsip ini, dimana panas reaksi ditambahkan atau dikurangi secara aljabar, disebut hukum Hess mengenai penjumlahan panas konstan. Dasar dari hukum ini adalah entalpi atau energi internal adalah suatu besaran yang tidak tergantung pada jalannya reaksi, yaitu Hp = qp dan E = qv, sehingga H = H1 + H2 + H3 + ... atau qp = qp + qp + qp + ... Panas pembentukan dari setiap senyawa adalah entalpi reaksi yang menunjukkan pembentukan satu mol senyawa unsur-unsurnya. Jika semua spesies dari reaksi kimia diatas berada dalam keadaan standarnya, panas pembentukan (Hfo) disebut panas pembentukan standar. Panas pembentukan standar dari unsurunsur dalam keadaannya yang paling stabil dianggap sama dengan nol (Dogra dan Dogra, 1990). Panas pembakaran adalah panas reaksi dimana 1 mol zat dioksidasi secara sempurna. Jika senyawa berisi C, H, O, dan N produk teroksidasi adalah CO2, H2O dan N2 dan persamaannya dapat diseimbangkan. Disamping itu untuk senyawa yang mengandung halogen, sulfur, fosfor dan lain-lain, persamaan reaksi menjadi sulit diseimbangkan karena unsur-unsur ini membentuk banyak oksida (Dogra dan Dogra, 1990). Panas reaksi yang melibatkan netralisasi asam oleh basa dikenal sebagai panas netralisasi. Panas netralisasi asam kuat dan basa kuat adalah konstan, yaitu 55,90 kJ mol-1. Tetapi panas netralisasi asam lemah dan basa lemah kurang dari 55,90 kJ mol
-1

karena asam atau basa menjadi ion-ion OH dan kation, sedangkan

asam kuat dan basa kuat berdisosiasi sempurna dan reaksinya hanyalah H+ (dalam air) + OH- (dalam air) = H2O Sehingga

Ho = Hoionisasi + Honetralisasi Kalorimetri adalah ilmu perhitungan kalori. Kalorimetri sering digunakan untuk mengukur energy yang diperoleh atau yang dilepaskan selama reaksi kimia, proses biologi atau aktivitas. Teknik didasarkan pada prinsip kekekalan energy (energy termal) yang sudah dibicarakan selanjutnya (Bresnick, 1996). Dalam buku lain dikatakan bahwa kalorimetri adalah teknik pengukuran kalor (energi panas) yang yang diterapkan pada penetapan kapasitas panas, kalor laten, nilai kalori, kalor pembakaran atau kalor reaksi. Kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang terlibat dalam suatu perubahan atau reaksi kimia. Beberapa tipe kalorimeter antara lain kalorimeter bom dan kalorimeter larutan. Kalorimeter larutan adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang terlibat pada reaksi kimia dalam sistem larutan. Pada dasarnya, kalor yang dibebaskan/diserap menyebabkan perubahan suhu pada kalorimeter. Berdasarakan perubahan suhu per kuantitas pereaksi kemudian dihitung (Mulyono, 2006). Kalorimeter adalah suatu peralatan berupa wadah tertutup yang

memungkinkan terciptanya suatu system termal yang tertutup. Secara ideal, tidak mungkin terjadi perpindahan kalor dari lingkungan sekitar kedalam system atau dari system ke lingkungan sekitar. Kondisi yang ideal itu, direalisasikan melalui rancangan dan konstruksi calorimeter yang baik. Kalorimeter tersusun dari sebuah wadah yang terbuat dari logam yang tahan lama, kaca, atau bahan lainnya yang kuat yang biasanya dilingkupi oleh suatu bahan isolator yang baik seperti stirofoam, yang menghalagi perpindahan kalor (Bresnick, 1996). Proses termal dapat diukur, dengan mengetahui bahwa energy kalor yang didapatkan oleh benda yang lebih dingin harus sama dengan energy yang dilepaskanj oleh benda yang lebih hangat (yakni, tidak terjadi perubahan netto pada kalor

yang dikandung oleh suatu system ). Pernyataan-penyataan ini sepadan namun dapat dinyatakan secara terpisah melalui persamaan Qyang diperoleh = Qyang dilepas atau Q = 0 Proses isobaric adalah proses dimana tekanan system tidak berubah, sedangkan proses isotermik adalah proses dimana suhu tidak berubah. Proses adiabatic adalah proses dimana tidak ada kalor yang masuk atau keluar dari system, maka Q = 0 sehingga untuk proses demikian hokum pertama menjadi: 0 = U + W artinya Apabila system melakukan kerja, energy dalamnya haruslah turun. Apabila kerja dilakukan pada system, energy dalamnya akan naik (Bueche,1989). Kalor reaksi (entalpi reaksi atau panas reaksi) adalah kalor yang diserap atau yang dibebaskan suatu reaksi kimia pada tekanan tetap, simbol H. Kalor reaksi atau entalpi reaksi merupakan perbedaan antara entalpi hasil reaksi dan entalpi pereaksi. H = Hhasil reaksi - Hpereaksi Jika H berharga positif, jika Hhasil
reaksi

> Hpereaksi, berarti sistem reaksi

menyerap kalor, disebut reaksi endoterm sedangkan jika H berharga negatif, jika Hhasil
reaksi

< Hpereaksi, berarti sistem reaksi membebaskan

kalor, disebut reaksi

eksoterm (Mulyono, 2006). Metode termokimia juga bermanfaat untuk mengkonversi biomassa menjadi berbagai jenis bahan bakar dan produk. Berbagai keuntungan metode pencairan secara termokimia ini, menjadikannya potensial untuk dikembangkan khusunya di Indonesia yang kaya akan sumber biomassa. Namun perancangan sistem dan

peralatannya membutuhkan data karakteristik proses dan kondisi operasi yang tepat untuk menghasilkan produk yang optimal (Sembodo dan Jumari, 2009)