Anda di halaman 1dari 23

Universitas Kristen Petra

29
4. PERENCANAAN DAN PERHITUNGAN

4.1. Mekanisme Kerja Kincir Air
Prinsip kerja kincir air adalah sebagai berikut :
Air mengalir dengan kecepatan tertentu sehingga menabrak sudu
pada kincir dimana gaya dorong air tegak lurus dengan penampang sudu.
Dengan gaya dorong air tersebut maka kincir berputar searah dengan gaya
dorong air. Kincir air yang berputar menyebabkan poros juga ikut berputar.
Poros ini dihubungkan dengan generator dan beberapa perangkat transmisi
daya. Transmisi daya ini berfungsi untuk menambah kecepatan putaran yang
dihasilkan oleh kincir sehingga dapat menggerakkan generator. Transmisi
daya tersebut berupa roda gigi (gear). Dengan adanya rangkaian tersebut
maka kincir air yang berputar dapat menggerakkan generator sehingga
mekanik dirubah menjadi energi listrik. Generator dihubungkan langsung
dengan lampu, yang kemudian lampu ini akan menyala apabila kincir air
berputar.

4.2. Percobaan untuk Mencari Kecepatan Aliran Sungai
Langkah awal yang dilakukan dalam proses desain turbin air mini ini
adalah melakukan uji coba untuk mendapatkan data yang digunakan untuk
menghitung daya listrik yang dapat dihasilkan.

Proses percobaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Menyiapkan sebatang gabus berukuran 5 x 5 cm.
2. Siapkan stopwatch untuk menghitung waktu mengalirnya gabus.
3. Tentukan jarak pada aliran sungai sejauh 1 meter sehingga terdapat
posisi start dan posisi finish.
4. Letakan gabus yang sudah disediakan diatas air dari posisi start dan
kemudian mulai untuk menghitung jalannya gabus tersebut dari posisi
start hingga posisi finish dengan menggunakan stopwatch
5. Percobaan ini dilakukan sampai 5 kali sehingga didadapat waktu yang
dibutuhkan gabus tersebut untuk berjalan sepanjang 1 meter.

Universitas Kristen Petra
30
Dari percobaan yang telah dilakukan, diperoleh waktu yang dihasilkan
oleh gabus untuk berjalan sepanjang 1 meter.
Percobaan 1 = 1.2 detik
Percobaan 2 = 0.9 detik
Percobaan 3 = 1.1 detik
Percobaan 4 = 0.9 detik
Percobaan 5 = 1.2 detik
Dari hasil percobaan tersebut kemudian didapatkan rata-rata keceepatan
aliran sungai adalah 1.06 m/s. Kita asumsikan untuk data kecepatan aliran
sungai yaitu 1 m/s.

4.3.. Perencanaan Desain Kincir
Untuk perancanaan desain kincirnya menggunakan program
SolidWorks yang berfungsi untuk menganalisa besarnya gaya pada kincir
tersebut. Pertama kali yang dilakukan adalah membuat 2 desain kincir yang
berbeda yang sesuai untuk turbin aliran datar. Tipe kincir yang direncanakan
adalah tipe undershoot water wheel. Perancangan ini akan membuat
prototype dari turbin air mini dengan ukuran Diameter 100 cm dan dengan
menggunakan material fiber karena material tersebut cukup ringan dan kuat
sehinnga untuk aliran air yang sebesar 1 m/s sudah dapat membuat kincir
tesebut berputar.
Desain Kincir yang pertama yaitu dengan menggunakan sudu datar
dengan luasan sudu 20x20 cm. Luasan ini ditentukan karena pada dasarnya
untuk kincir tipe undershot sudunya ada 2 jenis yaitu sudu berbentuk
persegi dan sudu berbentuk persegi panjang. Karena itu untuk sudu persegi
diambil ukuran 20x20 cm, yang sudah disesuaikan dengan keadaan sungai
di jalan raya kupang, Surabaya. Selain itu pemilihan ukuran ini juga sudah
diperhitungkan dengan rumus daya ( 2.5 ) untuk memastikan apakah dengan
ukuran tersebut, prototype dari kincir ini dapat menghasilkan listrik sesuai
dengan spesifikasi generator yang digunakan. Ternyata setelah melakukan
perhitungan, ukuran 20x20 cm dapat digunakan untuk membuat prototype
kincir air karena sudah mampu menggerakan generator.

Universitas Kristen Petra
31










Gambar 4.1. Desain Kincir 1
Desain kincir persegi ini akan dibandingkan dengan desain kincir
yang sudunya berbentuk persegi panjang dengan luasan yang sama yaitu
10x40 cm. Ukuran ini ditentukan berdasarkan dengan keadaan sungai yang
akan menjadi tempat uji coba tersebut hanya cukup untuk lebar maksimal
40 cm. Sehingga untuk membuat sudu yang berbentuk persegi panjang
dengan luasan yang sama seperti desain kincir sebelumnya maka ditentukan
desain kincir berikutnya menggunakan ukuran 10x40 cm. Kemudian dari 2
jenis desain kincir ini akan dianalisa dengan menggunakan SolidWorks
untuk mengetahui kincir mana yang lebih bagus.











Gambar 4.2. Desain Kincir 2

Universitas Kristen Petra
32
Ternyata setelah dianalisa menggunakan solid work hasilnya lebih
bagus desain kincir yang ukuran sudunya 20x20 cm. Setelah itu, dari jenis
sudu persegi ini akan dianalisa lagi sudu tanpa kemiringan dan sudu dengan
kemiringan 30 juga berapa banyak jumlah sudu yang akan dipakai.
Berdasarkan referensi (Penche, 1998, chap. 6) jenis sudu persegi ini pada
umumnya menggunakan kemiringan sebesar 30 sehingga akan
dibandingkan lagi manakah yang lebih bagus, sudu yang tanpa kemiringan
atau sudu dengan kemiringan.










Gambar 4.3. Sudu dengan kemiringan 30
4.3.1 Proses Analisa Menggunakan SolidWorks
Analisa desain kincir ini menggunakan program solidworks yang
berguna untuk mengetahui besarnya gaya normal yang terjadi pada
permukaan sudu. Gaya tersebut merupakan simulasi dari gaya dorong oleh
aliran air untuk permukaan sudu, sehingga semakin besarnya nilai gayanya
maka semakin bagus atau semakin cepat kincir tersebut dapat berputar.
Berikut adalah langkah-langkah analisa pada program solidworks:

Gambar 4.4. Tahapan langkah-langkah analisa solidworks


Sketch
Flow
simulation
Run Hasil
Analisa
Input
data

Universitas Kristen Petra
33
4.3.1.1 Sketch
Pada tahap ini yang dilakukan adalah menggambar desain kincir yang
telah ditentukan sebelumnya. Kincir yang digambar hanya setengah bagian
saja.









Gambar 4.5. Contoh sketch desain kincir pertama

4.3.1.2 Flow Simulation
Setelah sketch kincir sudah jadi maka langkah selanjutnya adalah
masuk ke bagian flow simulation. Pada tahap flow simulation yang pertama
dilakukan adalah membuat boundary yaitu berupa lids. Lids ini berfungsi
sebagai tempat simulasi mengalirnya air yang mengenai permukaan sudu.









Gambar 4.6. Kincir yang dipasang boundary

sudu
Lid 1
Lid 2
sudu

Universitas Kristen Petra
34
Gambar 4.3 merupakan potongan setengah dari gambar kincir yang sudah
dipasang boundary.
Setelah memasang boundary, langkah berikutnya adalah
memasukkan data yang dibutuhkan untuk analisa kincir. Data yang
dimasukkan adalah sebagai berikut :
1. Masukkan fluida yang digunakkan untuk analisa pada bagian fluid
subdomains. Fluida yang digunakan adalah air (water).






















Gambar 4.7. Insert Fluid Subdomains



Universitas Kristen Petra
35
2. Setelah itu masukkan data pada boundary conditions. Untuk Lid1 adalah
inlet velocity yaitu kecepatan aliran sebesar 1 m/s (sesuai dengan
kecepatan aliran sungai yang sudah diketahui diatas). Sedangkan untuk
lid2 adalah environment pressure yaitu keluaran pada kondisi tekanan 1
atm.

























Gambar 4.8. Insert Boundary Conditions


Universitas Kristen Petra
36
3. Langkah selanjutnya adalah memasukkan data pada bagian goals. Data
yang dimasukkan adalah hasil yang akan dianalisa yaitu berupa surface
goals (SG) untuk komponen gaya normal pada sumbu x.




















Gambar 4.9. Insert Goals








Gaya
normal

Universitas Kristen Petra
37
4.3.1.3 Run
Setelah memasukkan seluruh data yang dibutuhkan untuk analisa
gaya ini maka dilanjutkan dengan proses run yaitu menjalankan program
simulasi analisa gaya pada kincir tersebut.






















Gambar 4.10. Proses Run






Universitas Kristen Petra
38
4.3.1.4 Hasil Analisa
Setelah proses run selesai dilakukan maka untuk melihat hasil
analisa dapat dilihat pada bagian goals. Hasil analisa tersebut akan diplot
dalam bentuk tabel di microsoft excel.



















Gambar 4.11. Hasil Analisa

Untuk hasil analisa desain kincirnya dapat dilihat pada tabel berikut
dibawah ini :





U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

K
r
i
s
t
e
n

P
e
t
r
a

3
9
T
a
b
e
l

4
.
1
.

H
a
s
i
l

A
n
a
l
i
s
a

s
u
d
u

2
0
x
2
0

c
m
















T
a
b
e
l

4
.
2
.

H
a
s
i
l

A
n
a
l
i
s
a

s
u
d
u

1
0
x
4
0

c
m


39
Universitas Kristen Petra

Universitas Kristen Petra
40
Keterangan untuk tabel hasil analisa :
Value yang dimaksud adalah nilai dari gaya normal.
Averanged value adalah rata-rata gaya normal. Rata-rata gaya ini yang
digunakan sebagai perbandingan.
Minimum value adalah nilai minimum gaya normal.
Maximum value adalah nilai maksimal gaya normal.
Tabel 4.3. Perbandingan Kincir 1 dan Kincir 2
Rata-rata gaya normal pada kincir 1 (N) Rata-rata gaya normal pada kincir 2 (N)
18,23 12,28

Dari tabel diatas dapat kita lihat kincir dengan sudu 20x20 cm memiliki nilai
gaya lebih besar sehingga untuk desain kincir ini digunakan sudu yang
berukuran 20x20 cm.

4.3.2. Desain Kincir Tanpa Kemiringan
Desain kincir selanjutnya yaitu menganalisa sudu tanpa kemiringan
dengan jumlah sudu yang berbeda-beda yaitu 4, 6, 8, 10, 12, dan 14 buah
sudu. Jumlah sudu untuk kincir air pada umumnya berjumlah genap dari 4
sudu sampai 14 sudu karena untuk kurang dari 4 atau lebih dari 14 nilai
gaya normal yang didapat semakin kecil, sehingga sangat tidak efisien.
Hasil simulasi untuk kincir yang berdiameter 100 cm juga menunjukan
pola serupa sehingga untuk analisa jumlah sudu ini diambil batasan sampai
14 buah sudu saja. Hasil analisa dari Solid Works dari sudu tanpa
kemiringan dapat dilihat pada tabel 4.4 sampai 4.9.
4.3.3. Desain Kincir Dengan Kemiringan
Desain kincir selanjutnya yaitu menggunakan sudu dengan
kemiringan 30. Sama seperti kincir yang sebelumnya, dari kincir ini
dibuat 6 buah sudu yang berbeda yaitu 4, 6, 8, 10, 12, dan 14 buah sudu.
Hasil analisa dari Solid Works dapat dilihat pada tabel 4.10 sampai 4.15.


Universitas Kristen Petra
41
Tabel 4.4. Kincir dengan 4 buah sudu




Tabel 4.5. Kincir dengan 6 buah sudu




Tabel 4.6. Kincir dengan 8 buah sudu




Tabel 4.7. Kincir dengan 10 buah sudu



4
1

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

K
r
i
s
t
e
n

P
e
t
r
a

Universitas Kristen Petra
42
Tabel 4.8. Kincir dengan 12 buah sudu




Tabel 4.9. Kincir dengan 14 buah sudu




Tabel 4.10. Kincir dengan 4 buah sudu




Tabel 4.11. Kincir dengan 6 buah sudu



4
2

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

K
r
i
s
t
e
n

P
e
t
r
a

U
n
i
v
e
r
s
i
t
a
s

K
r
i
s
t
e
n

P
e
t
r
a

4
3
T
a
b
e
l

4
.
1
2
.

K
i
n
c
i
r

d
e
n
g
a
n

8

b
u
a
h

s
u
d
u



T
a
b
e
l

4
.
1
3
.

K
i
n
c
i
r

d
e
n
g
a
n

1
0

b
u
a
h

s
u
d
u


T
a
b
e
l

4
.
1
4
.

K
i
n
c
i
r

d
e
n
g
a
n

1
2

b
u
a
h

s
u
d
u



T
a
b
e
l

4
.
1
5
.

K
i
n
c
i
r

d
e
n
g
a
n

1
4

b
u
a
h

s
u
d
u


43
Universitas Kristen Petra

Universitas Kristen Petra
44
Result :
Tabel 4.16. Hasil Analisa
sudu
Rata-rata gaya pada kincir tanpa
kemiringan (N)
Rata-rata gaya pada
kincir dengan
kemiringan (N)
4 13.72183 16.07999
6 13.89936 14.59708
8 18.23409 16.06496
10 14.2903 16.11801
12 14.40206 14.57231
14 13.45706 16.35126













Gambar 4.12. Grafik Hasil Analisa
Dari data diatas maka dapat ditentukan kincir dengan sudu 20x20 cm
tanpa kemiringan dan jumlah sudunya 8 buah yang akan digunakan untuk
percancangan ini. Gambar kincir air lengkap dengan sudu dapat dilihat pada
gambar teknik di lampiran.

4.4. Pemilihan Generator
4.4.1 Daya yang dihasilkan kincir
Dalam perhitungan daya ini dibutuhkan data kecepatan aliran sungai.
Seperti yang dilihat diatas, telah didapat dari hasil percobaan bahwa
kecepatan aliran sungai nya adalah 1 m/s.
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
10 12 14 16 18 20 22 24 26
Ium|ah Sudu
G
a
y
a

N
o
r
m
a
|
Sudu Lanpa
kemlrlngan
Sudu
dengan
kemlrlngan

Universitas Kristen Petra
45
Selain kecepatan aliran sungai juga digutuhkan luasan sudu yang
sudah direncanakan. Pada perencanaan desain kincir didapat ukuran sudunya
yaitu 20 x 20 cm yaitu 0.04 m. Maka untuk menghitung daya kincir tersebut
adalah
P = v
3
A
P = x 1000 x 1
3
x 0.04
P = 20 Watt
Keterangan :
P = Daya
= massa jenis air
A = luasan sudu
Perlu diperhatikan juga turbin air memiliki nilai efisiensi sebesar 60-
70%. Tetapi dalam perancangan ini dihitung dengan efisiensi sebesar 60%.
Jadi daya yang dihasilkan sebesar :
P = 20 Watt x 60%
P = 12 Watt
4.4.2 RPM yang dihasilkan kincir
Perhitungan RPM digunakan untuk mengetahui besarnya putaran
yang dapat dihasilkan oleh kincir air pada aliran sungai sebesar 1 m/s.
v = r
v = 2 x RPM/60 x r
v = 2 x 3.14 x RPM/60 x 0.5
1 = 6.28 x RPM/60 x 0.5
RPM = 19.1
Keterengan :
r = jari-jari kincir.
v = kecepatan aliran sungai
Maka didapat putaran pada kincir air sebesar 19 RPM atau dapat
diasumsikan putaran kincir sebesar 20 RPM.
Dengan demikian generator yang akan dipakai dalam percobaan ini
adalah generator DME60G DC 12/24 V dengan kapasitas daya 60 Watt.


Universitas Kristen Petra
46
4.5. Percobaan Putaran Dinamo
Untuk mengetahui besarnya putaran pada dinamo dilakukan dengan
cara percobaan manual. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui
berapakah besarnya putaran yang dibutuhkan untuk dapat menggerakkan
dinamo sehingga menghasilkan arus listrik sebesar 12 Watt. Proses
Percobaan dilakukan sebagai berikut :
1. Pasangkan kincir air pada dinamo yang sudah ditentukan
2. Bagian dari kincir air ditandai untuk membantu menghitung
putarannya
3. Putar kincir air secara manual dan kemudian hitung banyaknya putaran
dalam 1 menit.
4. Gunakan stopwatch untuk menghitung putaran kincir air tiap 1
menitnya.

Data yang diperoleh :
Tiap 1 menit dibutuhkan 60 putaran untuk menghasilkan daya sebesar
12 Watt.

Dari percobaan diatas didapat rata rata putaran kincir air untuk
dapat menggerakkan dinamo sehingga menghasilkan arus listrik sebesar 12
Watt adalah 60 RPM.

4.6. Perencanaan Roda Gigi Untuk Transmisi Daya
Roda gigi dalam sistim ini selain berfungsi sebagai pengait antara
kincir air dengan generator , gear juga merupakan penggerak mula dari
generator dan roda gigi ini berfungsi untuk mengatur torsi. Penggunaan roda
gigi untuk kincir air dipilih yang lebih besar daripada roda gigi pada
generator. Perbandingan ini dimaksudkan agar torsi yang dihasilkan kincir
lebih besar daripada torsi generator sehingga putaran generator menjadi
lebih cepat.
Dalam perencanaan gear, diperlukan data besarnya putaran kincir air
dan putaran dinamo.

Universitas Kristen Petra
47
Putaran kincir air = 20 RPM
Putaran dinamo = 60 RPM
Dari data diatas maka dapat dihitung perbandingan roda gigi yaitu :
20 / 60 = 1 : 3

4.7. Perencanaan dan Perhitungan Poros
Dalam perencanaan poros, hal yang pertama yang dilakukan adalah
menentukan bahan yang akan digunakan, kemudian menghitung gaya-gaya
yang bekerja pada poros, selanjutnya dicari besarnya momen lentur yang
bekerja pada poros. Setelah besarnya momen lentur diperoleh, maka
diameter minimum poros yang akan digunkan dapat dihitung. Bahan poros
yang akan digunakan adalah baja St-60, dimana memiliki:
UTS (Su) = 590 N/mm
2

Syp = 0,5.Su = 295 N/mm
2
Untuk menganalisa gaya-gaya yang bekerja pada poros maka diperlukan
data gaya pada roda gigi dan berat kincir.
Mencari gaya yang terjadi pada roda gigi.
Z = jumlah gigi = 52
= 360/Z = 360/52 = 6.9
Daya yang dibutuhkan 20 Watt = 0.027HP dan putaran kincir (n) = 20 RPM
Nm T
T
n T
P
967 , 0
2 , 716
20 .
027 . 0
2 , 716
.
=
=
=

Sehingga dapat diperoleh gaya pada gear :
N F
r
T
F
1 , 84
0115 . 0
967 . 0
=
= =

Dengan = 6.9, maka :
F
r
= F sin
= 84,1 sin 6.9 = 10,1 N
F
t
= F cos
= 84,1 cos 6.9 = 83,49 N

Universitas Kristen Petra
48
Keterangan :
F
r
= gaya radial pada roda gigi
F
t
= gaya tangensial pada roda gigi
Setelah mendapat gaya pada roda gigi, data selanjutnya adalah mencari berat
pada kincir, yaitu :
Berat kincir = 5 kg x 9,81 m/s
2

= 49,05 N
Skema gaya-gaya yang bekerja pada poros kincir
Analisa Sumbu y











F
y
= 0
0 = F
B1V
W + F
B2V
F
tg

0 = F
B1V
49,05 + F
B2V
83,49
F
B1V
+ F
B2V
= 132,54 ................................... (1)

M
a
= 0
M
a
= W. 0,3 - F
B2V
. 0,6 + F
tg
.1,3
0 = 14,715 - F
B2V
. 0,6 + 108,537
F
B2V
= 205,42 N
Dari persamaan (1) diperoleh :
F
B1V
+ F
B2V
= 132,54
F
B1V
= -72,88 N (arah minus menunjukkan arah ke bawah, berlawanan arah
dari sketsa)
W F
tg
F
b1v

F
b2v

30 mm 30 mm 70 mm
a b c d

Universitas Kristen Petra
49










Analisa sumbu x











F
x
= 0
0 = F
B1H
+ F
B2H
- F
rg


10,1 N = F
B1H
+ F
B2H


................................... (2)

M
a
= 0
M
a
= -F
B2H
. 0,6 + F
rg
.1,3
0 = -F
B2H
. 0,6 + 13,13
F
B2H
= 21,88 N
Dari persamaan (2) diperoleh :
F
B1H
= -11,78 N (arah minus menunjukkan arah berlawanan arah dari
sketsa).

49,05

83,49


72,88



130,675


30 mm 30 mm 70 mm
F
rg
F
b1h

F
b2h

60 mm 70 mm
a b c

Universitas Kristen Petra
50











Diagram momen bending untuk sumbu y:











Diagram momen bending untuk sumbu x






Dari gambar diagram momen untuk sumbu y, momen terbesar terletak pada titik
c, begitu pula untuk sumbu x . Berdasarkan kedua diagram momen tersebut maka
diperoleh:
Nmm M
M
y M x M M
b
b
b b b
88 , 5886
3 , 5844 8 , 706
) ( ) (
2 2
2 2
=
+ =
+ =


10,1


11,78



21,88
60 mm 70 mm
a
2186,4 Nmm
b
c
5844,3 Nmm
d
a
706,8 Nmm
c d

Universitas Kristen Petra
51
mm d
d
d
d
M M
d
t b
04 , 16
385 , 4134
9515 , 888485
44 , 68
14 , 9554 88 , 5886
16
44 , 68
16
3
3
2 2
3
2 2
3
max
=
=
=
+ =
+ =

Nmm M
x
x x
M
n
kW P x x
M
t
t
t
14 , 9554
20 2
02 , 0 10 60
2
) )( ( 10 60
6
6
=
=
=


2
/ 44 , 68
5 , 2
1 , 171
58 , 0
mm N
N
Syp
=
=
=



Dengan analisa gaya diatas didapat nilai Mb ( momen bending ), Mt ( momen
punter ) , dan ( tegangan geser ) sehingga dari data diatas dapat digunakan untuk
menghitung diameter poros, sebagai berikut :

Diameter poros adalah:
`






Jadi diameter poros yang digunakan adalah 16,04mm.