Anda di halaman 1dari 4

I.

Evaluasi Berdasarkan Additive Dibandingkan Dengan Permasalahan Sumurnya a) Jenis additive dan kegunaannya.

Jenis Additive 1. Corrosion Inhibitor 2. Diverting Agent 3. Clay Stabilizer 4. Aromatic Solvent

5. Alcohol 6. Mutual Solvent

Kegunaan Mengurangi laju korosi hingga batas terendah Mengatur distribusi asam agar merata ditiap zona dengan permeabilitas berbeda Mengontrol masalah clay swelling dan clay migration Meningkatkan kerja asam dengan melarutkan lapisan minyak sehingga asam lebih mudah bereaksi dengan kerusakan, seperti scale minyak berat, dan asphalt Membantu meningkatkan effisiensi pembersihan asam pada stimulasi sumur gas Meningkatkan aksi surfactant, mengubah formasi menjadi water wet, menurunkan tegangan permukaan, memecahkan emulsi dan membantu meningkatkan proses pembersihan.

7.

Iron Control additive/ Sequestering Agent/ Chelating Agent/ Reducting Agent

Mengontrol masalah pengendapan besi.

8. Surfactant Antisludge Agent Suspending Agent Retarder Agent Nonemulsifier Agent Penetrating Agent Foaming Agent Wettability Agent Mencegah terjadinya sludge. Mensuspensikan dalam larutan butiran yang tidak larut agar tidak terjadi endapan Mengontrol laju reaksi agar suspending time lebih panjang. Mencegah pembentukan emulsi antara minyak dengan air/asam. Menurunkan tegangan permukaan asam agar mudah bereaksi dengan material. Mengubah bentuk air, minyak dan padatan menjadi busa agar mudah dikeluarkan dari sumur gas. Menjadikan formasi basah air agar kerja asam lebih effektif.

9. Nitrogen

Digunakan untuk foaming acid, enersi clean up pada reservoir bertekanan rendah, symber gas bagi foam diverter dan bisa juga digunakan sumber gas lift sementara

DESAIN PROJEK PENGASAMAN 1. Batuan Pasir Pada disain pengasaman batuan pasir akan diperlukan : 1. Berapakah temperatur tertinggi (Bottom hole temperature) ? a. < 200oF : Gunakan HCL , HF b. > 200oC : Gunakan Acetic , HF , Formic , HF , HCL saja, Non Acidic fluid. 2. Sumur minyak atau gas ? (a) Sumur minyak : Gunakan nonemulsifyer berdasarkan emulsion testing atau pengalaman. (b) Sumur gas : Gunakan emulsifier kalau ada condensatenya kalau tanpa condensate, tidak perlu emulsifyer. 3. Panjang Interval. (a) Untuk < 20, tidak perlu dipersion. Catatan: Untuk interval sekitar 5 di bawah atau di atas 20 perlu dipertimbangkan hal-hal berikut ini : 1. Tingkat damage : untuk damage berat, diverting dapat membantu perataan asam. 2. Kontrast permeabilitas : Kalau ada bagian yang mempunyai permeabilitas 30 md sedang yang sebagian lagi 100 md, perlu diberi diverting. 3. Kalau ada pemisahan batuan serpih (shale) di antara dua atau lebih one, misalnya 20 total tetapi terpisah jadi dua 12 dan 8 dibatas oleh shale. (b) Untuk > 20, gunakan diverting agent. Pompakan satu stage untuk setiap 20, misalnya untuk 50 maka bisa : 1. HCl perflush 2. HCl : HF treatment 3. Overflush 4. Divert 5. HCl perflush 6. HCl:H treatment 7. Overflush dan displace 4. Tekanan dasar sumur (Bottom hole pressure = BHP) (a) Jika tekanan bottom hole sangat rendah dan tidak bisa mengangkat fluida, gunakan batuan nitrogen. Pakai 300 - 500 SCF/bbl cairan. Masukkan nitrgen dalam fluida dan displace dengan nitrogen. Gunaka tabel nitrogen untuk mendapatkan volume optimum. (b) Kalau BHP cukup besar untuk pengangkatan fluida, nitrogen tidak diperlukan. 5. Kelarutan pada HCl ? (a) Jika kelarutan di HCl di atas 20 %, jangan gunakan HCl : HF. (b) Bila kelarutan di HCl < 20 %, gunakan HCl : HF.

6. Kadar clay di formasi ? (a) Clay < 5%, gunakan 12% HCl : 3% HF dengan perflush 15% HCl (b) Clay > 5% gunakan 6% HCl:15% HF dengan perflush HCl 5-10% (c) Feldspar > 20% gunakan 12% HCl : 1.5% HF dengan perflush HCl 15%. (d) Chlorite>10% gunakan 5% HCl:1 % HF dengan perflush HCl 5% Note : Untuk low K (< 100 md) 6 % HCl : 1.5 % HF. 3 Untuk Damage Khusus Modifikasi perlu dilakukan untuk hal-hal khusus pada damage suatu formasi. Jenis damage dan pengerjaannya adalah sebagai berikut : 1. Oil Base Drilling Mud : Perflush dengan solvent (xylene atau toluene). Tambahkan demulsifier untuk membantu mendisperse lumpur. Ini ditentukan oleh test di lab. Perflush diikuti dengan mud acid dan after flush seperti di atas. 2. Migrating Fines/Clays : Pilih mud acid treatment yang benar, overflush dengan 0.1 - 1.0 % clay stabilizer (polyquartenary amines, cationic organic polymer, cationic surfactant, dll.) Penggunaan suspending agent (surfactan) dalam mud acid bisa membantu dalam menghilangkan fines dari sekitar sumur. 3. Swelling Clay : Pakai mud acid treatment seperti di atas berdasarkan mineralnya, gunakan clay stabilizer pada overflush. 4. Padatan lumpur : Pilih mud acid sesuai dengan formasinya. Gunakan suspending agent dan / atau dispersing agent dalam asamnya. 5. Calsium Carbonate Scale : Treatment dengan HCl 15 %. Pada sumur minyak, tambahkan nonemulsifyer. Mud acid tidak perlu kalau di sini hanya terjadi damage. Kalau scale tertutup minyak, gunakan acid solvent dispersion. Pada mud acid ini, HCl perflush harus 1 - 1/2 - 2 X normal. Hal ini diperlukan untuk menghilangkan semua scale sehingga membentuk endapan. Cara terbaik sebenarnya adalah treatment HCl untuk menghilangkan scale, alirkan kembali (flow back), kemudian treatment mud acid. 6. Water Block : Biasanya water block dapat bersih dengan waktu. Untuk mempercepat, tambah campuran methanoll dan air garam (brine) plus nitrogen, Volume fluida 0.5 - 1 bbl/ft perforasi. Gunakan nitrogen 300 - 500 csf/bbl fluida dan displace dengan nitrogen. Flourosurfactant dengan surface tension rendah dapat pula ditambahkan pada campuran alkohol - brine tersebut. 7. Emulsi : Gunakan perflush solvent plus demulsifyer yang kuat. Kalau emulsi ini stabil karena padatan, diperlukan asam lemah (5 % HCl) ditambah demulsifyer. Penentuan di laboratorium diperlukan untuk menentukan treatment terbaik. 8. Asphaltene : Digunakan solvent wash seperti xylene/toluene untuk temperatur di bawah 150oF dan soak time 1 - 2 jam. Volumenya harus cukup untuk meliputi perforasi dengan minimum 500 gal. Kalau dilakukan bersamaan dengan mud acid, harus dialirkan kembali (flow back) secepatnya. Kalau tidak,

maka pada overflush harus ditambahkan 50 %. Tambahan anti sludging agent pada asam juga diperlukan. 9. Calsium Sulfate Scale : Perlu gyp converter agar bisa terlarut HCl. 10.Iron Hydroxyde : Diperlukan chelating agent seperti citric acid (murah), EDTA atau control pH seperti acetic acid. Kalau ada damage, asam lemah (5 % HCl) dengan iron control agent. Mud acid tidak perlu dipakai kalau iron hydroxyde adalah mekanisme damage adalah iron hydroxyd. 11.Iron Sulfide, Iron Oxyde : HCl 15 % plus iron control agent plus sampai 20 lb/1000 gal sodium erythorbate. Pakai 100 gal HCl 15/ft perforasi. 12.Fluid loss pils : Biasnya polymer gel plus calsium carbonate. HCl 15% bisa melarutkan gel dan Calsium Carbonat, tetapi HCl tidak bisa memecahkan fish eye pada gel. 100 gal HCl 15 % melarutkan 1840 lb calsium / carbonate. Gunakan paling tidak 1000 gal HCl 15 %. Kalau pillnya dari xanthan gum, maka blech 5 % yang dipompakan dan bukan HCl. 13. Drilling Mud Filtrate, Cement Filtrate : Pilih mud acid sesuai dengan formasinya. Perflush dengan HCl 50 - 75 gal/ft. Mud acid 100 gal/ft : overflush dengan amonium chloride 2 - 3 % 200 gal/ft (atau overflush lain berdasarkan pengalaman). 14. Barium Sulfate Scale : Tidak terlarut dalam asam HCl. EDTA, dll. dipakai tetapi sangat terbatas tingkat suksesnya. Milling lebih sering digunakan. 5. Pengasaman Batuan Carbonate Untuk limestone dan dolomite, diperlukan : 1. Berapakan temperatur dasar sumur ? a) > 250oF gunakan campuran HCl : organic atau retarded HCl. b) < 150oF gunakan sampai 28 % HCl. 2. Sumur minyak atau gas ? a) Sumur minyak : Pakai surfactant non emulsifyer berdasarkan test/pengalaman b) Sumur gas : kalau ada condensate perlu non emulsifyer berdasarkan test. 3. Panjang interval perforasi ? a) Jika kurang dari 20, tidak perlu diverting. b) Untuk di atas 20 perlu diverting. Tergantung completionnya ball sealers sering digunakan. 4. Tekanan dasar sumur (BHP) a) Jika BHP rendah dan tidak bisa mengangkat fluida, bantu dengan nitrogen. Campurkan nitrogen pada sumua fluida dan displace dengan nitrogen. b) Jika BHP tinggi, tidak perlu menggunakan nitrogen. 5. Kelarutan di HCl a) Di bawah 75 %, suatu suspending agent perlu dipakai untuk mengalirkan zat-zat yang tak terlarut dari formasi.