Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Dismenorea ialah nyeri haid yang merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit.(1) Nyeri haid ini timbul akibat kontraksi disritmik miometrium yang menampilkan satu atau lebih gejala mulai dari nyeri yang ringan sampai berat pada perut bagian bawah, bokong, dan nyeri spasmodik pada sisi medial paha.(1) Mengingat sebagian besar wanita mengalami beberapa derajat nyeri pelvik selama haid, maka istilah dismenorea hanya dipakai untuk nyeri haid yang cukup berat sampai menyebabkan penderita terpaksa mencari pertolongan dokter atau pengobatan sendiri dengan analgesik. Yang dimaksud dismenorea berat adalah nyeri haid yang disertai mual, muntah, diare, pusing, nyeri kepala, dan bahkan kadang-kadang pingsan. Angka kejadian pasti dismenorea di Indonesia belum ada. Sebenarnya angka kejadiannya cukup tinggi, namun yang datang berobat ke dokter sangatlah sedikit, yaitu 1-2 % saja. Pada tahun 2002 telah dilakukan penelitian di 4 SLTP di Jakarta untuk mencari angka kejadian nyeri haid primer. Dari 733 orang yang diterima sebagai subyek penelitian, 543 orang mengalami nyeri haid dari derajat ringan sampai berat (74,1%), sedangkan sebanyak 190 orang (25,9 %) tidak mengalami nyeri haid.(1) Di Amerika Serikat, dismenorea dialami oleh 30-50 % wanita usia reproduksi. Sekitar 10-15 % diantaranya terpaksa kehilangan kesempatan kerja, sekolah dan kehidupan keluarga. Di Swedia ditemukan angka kejadian dismenorea pada wanita berumur 19 tahun sebanyak 72,42 %. Dismenorea dapat merupakan salah satu gejala dari hampir semua kelainan ginekologis pada wanita yang berusia 15-45 tahun dan menjadi sebab langsung dari hilangnya waktu kerja, sekolah, maupun

kegiatan lain pada wanita yang sukar dihitung nilainya. Oleh sebab itu dismenore menarik untuk dibahas agar bias mengurangi hilangnya produktivitas kerja wanita usia produktif, hal yang secara tidak langsung berakibat pada pembangunan dan majunya suatu Negara.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI
Dismenorea atau disebut juga algomenorea, berarti haid yang sukar. Dalam praktek diartikan sebagai nyeri ketika haid atau haid yang berkaitan dengan nyeri seperti kejang atau kolik.(2) Mengingat sebagian besar wanita mengalami beberapa derajat nyeri pelvik saat haid, maka istilah dismenorea hanya dipakai untuk nyeri haid yang cukup berat sehingga menyebabkan penderita mencari pertolongan pada dokter atau pengobatan sendiri dengan analgesik. Lebih rinci, dismenorea atau nyeri haid adalah nyeri yang timbul akibat kontraksi disritmik miometrium yang menampilkan satu atau lebih gejala, mulai dari nyeri ringan sampai berat pada perut bagian bawah, bokong, dan nyeri spasmodik pada sisi medial paha.(2) Pada keadaan yang berat disertai berbagai gejala dan tanda, mulai dari mual, muntah, diare, pusing, nyeri kepala sampai pingsan.

2.
Dismenorea dibagi atas : Berdasarkan terjadinya : 1. Dismenorea primer

KLASIFIKASI

Dismenorea primer adalah dismenorea yang terjadi sejak usia pertama sekali datang haid yang disebabkan oleh faktor intrinsik uterus, berhubungan erat dengan ketidakseimbangan hormon steroid seks ovarium tanpa adanya kelainan organik dalam pelvis.(1) Dismenorea primer disebut juga dismenorea sejati, intrinsik, esensial, fungsional, juvenil, atau idiopatik.(2) Dismenorea primer dibagi dalam dismenorea kongestif dan dismenorea spasmodik.(2)

Perbandingan klinik dismenorea primer kongestif dan spasmodik.

(2)

Dismenorea kongestif Dismenorea spasmodik A. Gejala klinik 1. Mudah tersinggung, depresi 1. Sakit mendadak, hipotensi mirip shock, 2. Tegang dan bingung 3. Rasa letih 4. Nyeri punggung, payudara pucat, gelisah, hual, diaforesis, dan diare. 2. Lemas 3. Pening (kalau berdiri) kepala, 4. Nyeri rekurens : - Nyeri tajam abnomen - Spasme pelvis - Nyeri punggung berat 5. Nyeri tumpul abnomen 6. Kembung 7. Berat badan bertambah B. Penyebab Edema umum dan lokal, disertai Peningkatan pembentukan PGE2 kongesif vena pelvic dan PGF2 di endometrium

sebelum dan ketika haid Awitannya paling sering terjadi pada masa remaja, dan dalam 2-5 tahun setelah menars.(1) Awitan nyeri haid tidak menentu, kadang-kadang terjadi bersaman dengan haid, terjadi sebelum haid atau sesudah datangnya haid.(1) Bila timbul mendahului haid, akan meningkat pada hari pertama atau kedua haid. Nyeri sering timbul segera setelah haid teratur. Rasa nyeri berlokasi di perut bawah, sisi dalam paha, bokong. Nyeri sering terasa sebagai kejang uterus dan spastik dan sering disertai mual, Cepat muntah, diare, kelelahan respon dan nyeri kepala. Pada pemeriksaan ginekologik jarang ditemukan kelainan genitalia. memberikan terhadap pengobatan medikamentosa. Penyebab dismenorea belum semuanya diketahui, tetapi paling banyak ditemukan pada siklus ovulatorik. Apakah ada hubungan antara terjadinya ovulasi dengan timbulnya nyeri haid juga belum banyak diketahui.(1) Namun diduga rendahnya kadar progesteron

pada akhir fase korpus luteum menyebabkan timbulnya nyeri haid.(1) Menurunnya kadar progesteron akan menyebabkan terjadinya peningkatan sintesis prostaglandin yang diduga sangat berperan terhadap timbulnya haid.(1) Dismenorea primer dapat disebabkan oleh kelainan organik seperti retrofleksia uterus dan hipoplasia uterus, serta dapat juga disebabkan oleh gangguan psikis yang disebabkan oleh hilangnya tempat berteduh, ketakutan seksual, rasa bersalah, ketakutan akan kehamilan, konflik dengan kewanitaannya dan imaturitas.(1)

Kejadian nyeri haid juga ditemukan tinggi pada mereka dengan faktor gizi yang kurang dan pada mereka yang kurang melakukan kegiatan fisik. 2. Dismenorea sekunder ( ekstrinsik, yang diperoleh, acquired)(2) Dismenorea sekunder disebut juga dismenorea organik, akuisita, ekstrinsik.(2) Dismenorea sekunder muncul pada usia dewasa, dan menyerang wanita yang semula bebas dari dismenorea.(1) Penyebab tersering adalah kelainan organik(1), seperti : a. Endometriosis pelvis dan adenomiosis. b. Uterus miomatosus, teutama mioma submukosum. c. Penyakit radang panggul kronik. d. Tumor ovarium, polip endometrium. e. Kelainan letak uterus seperti retrofleksi, hiperantefleksi, retrofleksi terfiksasi. f. Anomalia kongenital traktus genitalia. g. Stenosis atau striktura kanalis servikalis, varikosis pelvik dan adanya AKDR. h. Faktor psikis seperti takut tidak punya anak, konflik dengan pasangan, gangguan libido. Dismenorea sekunder lebih sering ditemukan pada usia tua, dan setelah 2 tahun mengalami siklus teratur. Nyeri dimulai saat haid dan meningkat bersamaan dengan keluarnya darah haid. Nyeri sering terasa terus menerus dan tumpul. Sering ditemukan kelainan ginekologik. Tidak berhubungan dengan paritas dan adanya ovulasi. Pengobatannya sering sekali memerlukan tindakan operatif.

Berdasarkan derajatnya Deraja t 0 1 2 3

(2)

Perubahan Tanpa rasa nyeri, aktivitas sehari-hari tidak terpengaruhi. Nyeri ringan, jarang memerlukan analgetika, aktivitas seharihari jarang terpengaruhi. Nyeri sedang, memerlukan analgetika, aktivitas sehari-hari terganggu tetapi jarang absen dari sekolah atau pekerjaan. Nyeri berat, nyeri tidak banyak berkurang dengan analgesik, tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari, timbul keluhan vegetatif, misalnya nyeri kepala, kelelahan, mual, muntah, dan diare.

ETIOLOGI
Dismenorea primer Banyak teori telah dikemukakan utuk menerangkan penyebab dismenorea primer, tetapi patofisiologinya Faktor kejiwaan. Pada gadis-gadis yang secara emosional belum stabil dan tidak mendapat penerangan yang baik tentang haid, mudah timbul dismenorea. Faktor konstitusi. Faktor-faktor yang erat berhubungan, seperti anemia, penyakit menahun, dapat menurunkan ketahanan terhadap nyeri. Faktor obstruksi kanalis servikalis. Pada wanita dengan uterus dalam hiperantefleksi mungkin dapat terjadi stenosis kanalis servikalis. Sebaliknya, terdapat banyak wanita yang menderita dismenorea tanpa stenosis servikalis dan tanpa uterus dalam hiperantefleksi. Faktor endokrin. 6 belum jelas dimengerti. Beberapa faktor memegang peranan sebagai penyebab dismenorea(1) , antara lain :

Pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada dismenorea disebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan. Faktor endokrin mempunyai hubungan dengan soal tonus dan kontraktilitas otot usus.

Faktor alergi. Teori ini dikemukan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara dismenorea dengan urtikaria, migraine atau asma bronkhiale.

Dismenorea sekunder Tampaknya nyeri iskemik merupakan penjelasan yang terbaik dari fenomena klinik yang ditemukan, walaupun terdapat banyak teori lain seperti sumbatan persial serviks dan alergi, terutama terhadap beberapa toksin hipotetik yang berkembang selamaya lepasnya endometrium. Abnormalitas uterus telah diajukan sebagai penyebab pada sebagian besar wanita yang menderita kelainan ini. Teori sumbatan serviks mungkin tidak dapat dipertahankan karena sonde uterus dapat melewati serviks tersebut pada keadaan teranestesi dan pada setiap penderita darah haid cukup encer untuk mengalir melalui saluran yang sempit sekalipun. Bilamana haid diiringi bekuan, maka akan sukar melewati serviks karena bekuan memiliki volume sekitar 7 ml. Pada dismenorea sekunder, faktor psikis dapat juga berperan. Untuk faktor organik, yang pertama harus dipikirkan adalah endometriosis. Dismenorea yang disebabkan oleh uterus hipoplastik lebih jarang ditemukan dan sering berkombinasi dengan uterus retrofleksi. Pada keadaan ini kontraksi uterus untuk mengeluarkan darah haid dirasakan cukup nyeri. Gejala serupa dijumpai pula pada uterus dupleks. Di sini satu uterus tidak memiliki saluran keluar. 7

Kelainan letak dan bentuk uterus seperti ini tidak selalu berperan karena banyak juga pasien dengan kelainan demikian tidak mengidap dismenorea.

PATOFISIOLOGI

(2)

Nisbah E2P>0,01 Intervensi terapetik Aktivitas progesteron ??? Kekuatan dinding lisosom Vasopresin Katekolamin Vaskonstriksi Iskemia Kerusakan sel Prostaglandin Psikis (cekaman)

Kontraksi disritmik peresepsi nyeri

sensitisasi saraf tepi Dismen orea primer

DIAGNOSIS
Dapat berhubungan

(2)

dibuat dengan

dari

keluhan-keluhan

yang

timbul,

selalu

haid. Pada

dugaan adanya

endometriosis

maupun infeksi kronik perlu dilakukan USG dan laparoskopi diagnostik.

Haid dengan nyeri ( gejala khas dismenorea ) Kelainan organik genitalia interna Fisik ginekologik Normal Patologi Endoskopi pelvis (HD dan LD)

Normal Sekunder

Patologi

Dismenorea

Ovulasi Ya : P>10 ng/ml(E2/P>0,01) Tidak(?) Infeksi subklinis : negatif Dismenorea Primer Positif (patologi) Uji Estrogen Nyeri tetap Psikogenik Nyeri hilang Nonpsikogenik

PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan dismenorea dibagi atas penatalaksanaan medis dan operatif. Untuk dismenorea primer dapat diberikan obat-obat penghambat sintesis prostaglandin seperti asam mefenamat, asetaminofen, indometasin, fenilbutazon, asam arialkanoat (ibuprofen, fenoprofen, naproksen)(1). Obat-obat jenis ini diberikan 1-2 hari menjelang haid dan diteruskan sampai hari kedua atau ketiga siklus haid. Terapi hormonal telah banyak digunakan dalam pengobatan dismenorea primer(1). Tujuannya adalah untuk menghasilkan siklus haid anovulatorik, sehingga nyeri haid dapat dikurangi. Pemberian progesteron adalah mengurangi sintesis prostaglandin di endometrium. (MPA)(1). Sediaan progesteron yang banyak digunakan pada dismenorea primer didrogesteron dan medroksiprogesteron asetat Didrogesteron diberikan dalam bentuk tablet 10 mg, 2 kali per hari, dari hari ke 5-25 siklus haid. MPA diberikan dengan dosis 5 mg per hari dan dimulai juga dari hari ke 5-25 siklus haid.

10

Secara sederhana untuk pengobatan dismenorea primer adalah memberikan pil kontrasepsi kombinasi(1). Pil kontrasepsi kombinasi selain dapat menghilangkan nyeri haid, juga dapat mengurangi jumlah darah haid yang keluar dan haid menjadi teratur setiap bulan. Jenis pengobatan ini hanya terbatas diberikan pada wanita yang belum ingin hamil atau menunda kehamilan. Dewasa ini telah mulai banyak digunakan analog GnRH untuk pengobatan dismenorea primer. Cara kerjanya adalah dengan menekan fungsi ovarium. Obat ini merupakan pilihan terakhir, bila dengan pengobatan yang lain tidak memberikan hasil yang baik. Untuk dismenorea primer dapat dibedakan untuk pengobatan yang kongestif dan spasmodik(2), seperti dibawah ini : Dismenorea primer kongestif 1. proproksifen 2. 3. 4. senam, orgasme 5. dan dokter. Dismenorea primer sapsmodik 1. Modifikasi siklus : jenis kombinasi dosis rendah ) Modifikasi nyeri : Nyeri ringan : aspirin, asetaminofen, propoksifen penekanan ovulasi secara hormonal ( terbaik dengan pil kontrasepsi Emosi : nasehat, terapi relaksasi, hypnosis, dukungan emosional dari keluarga Diuretik Hormon Fisik : alami ( the, kopi, alkohol dosis rendah ), tiazida : pil kontrasepsi ( : panas ( penghangat ), estrogen rendah dan progesterone tinggi ) Analgesik : aspirin, asetaminofen,

11

Nyeri berat meperidin

: butalbital, oksidon, pentazosin, prometazin, kodein,

Pencegahan nyeri : penekanan aktivitas uterus a. kalsium : nifedipin b. : isoksuprin, papaverin, ritodrin c. : progestin d. Inhibitor prostaglandin sintetase : aspirin, indometasin, fenilbutazon, asam arilalkanoat ( ibuprofen, fenoprofen, naproksen ), asam antranilat ( mefenamat, meklofenamat, flufenamat ) Kadang-kadang terpaksa dilakukan tindakan operatif pada kasuskasus yang refrakter, berupa neurektomi prasakral(1). Dismenorea sekunder dengan kelainan organik ditangani secara kausal(1). Pada kasus-kasus yang menolak untuk dilakukan tindakan operatif seperti dilatasi dan kuretase, neurektomi prasakral atau penyuntikan pleksus pelvikus dan histerektomi total maka untuk sementara dapat dicoba pengobatan medikamentosa seperti penanganan pada dismenorea primer. Pemberian analog GnRH selama 6 bulan sangat efektif menghilangkan nyeri haid yang disebabkan oleh endometriosis. Hormon Spasmolitika Antagonis

DIAGNOSIS BANDING
Dismenorea sekunder

PROGNOSIS
Pada dismenorea primer prognosisnya sangat baik dengan antiprostaglandin, sekitar 80

12

%.(5) Kalau pada yang sekunder yang dioperasi keberhasilannya tergantung dengan ginekolognya dan penanganannya, biasanya baik bila penyebabnya sudah dapat diketahui sedini mungkin.

KOMPLIKASI
Dismenorea primer tidak menimbulkan komplikasi apapun juga. Dismenorea sekunder
((4), (5)

dapat

menimbulkan

komplikasi

berupa

infertilitas sekunder

BAB III IKHTISAR KASUS


I. IDENTITAS
Nama Umur Agama Pekerjaan Alamat : Nn. SA : 30 tahun : Perempuan : Islam : Pegawai swasta : Jl. Cireundeu Indah I No. 18 Rt/RW 03/04 Ciputat, Tangerang.

Jenis kelamin

Pendidikan : SLTA

Pisangan, Kecamatan

II. ANAMNESIS
Autoanamnesis tanggal 22 Oktober 2004 (10.55) A. Keluhan Utama : Setiap haid terasa nyeri sejak 3 bulan yang lalu. B. Riwayat Penyakit Sekarang : 13

Pasien, Nn. SA, 30 tahun datang dengan keluhan terasa nyeri setiap haid sejak 3 bulan yang lalu. Benjolan di perut (-). Riwayat amenorea (-). Keputihan (-). C. Riwayat Menstruasi : Menars usia 14 tahun, siklus haid tidak teratur, lamanya 47 hari, banyaknya 2-3 pembalut/hari, dismenorea (+) sampai tidak bisa bekerja. HPHT 15 Oktober 2004. D. Riwayat Perkawinan : (-) E. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran Sebelumnya : (-) F. Riwayat KB : (-) G. Riwayat Penyakit Dahulu : Asma (-), DM (-), Hipertensi (-), Jantung (-)

H. Riwayat Penyakit Keluarga : Asma (-), DM (-), Hipertensi (-), Jantung (-) I. Riwayat Kebiasaan Diri Pribadi : Merokok (-), Jamu (-), Alkohol (-), Narkoba (-)

II. PEMERIKSAAN FISIK


A. KU/Kes : sakit sedang/CM TD N S RR BB : 100/60 mmHg : 74 x/menit : 36,5 C : 20 x/menit : 41 kg : Normocephali, rambut hitam, tidak mudah : Pupil bulat isokor, konjungtiva anemis -/-,

Status generalis Kepala dicabut Mata sklera ikterik -/-, 14

refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tidak langsung +/+ Leher membesar Thoraks : Cor Abdomen Palpasi : : Datar : Supel, nyeri tekan supra pubis (+), nyeri muskular (-) Perkusi : Shifting dullness (-) Auskultasi : BU (+) normal Ekstremitas : akral hangat, edema tungkai -/-, refleks fisiologis +/+, refleks patologis -/: S1S2 reguler, Murmur (-), Gallop (-) Pulmo : SN vesikuler, Ronki -/-, Wheezing -/Inspeksi lepas (-), Defans : KGB dan kelenjar tiroid tidak teraba

B. Status Ginekologis I RT : Vulva, uretra tenang : TSA baik, ampulla rekti tidak colaps, mukosa licin, ukuran normal, adneksa : massa -/-, nyeri tekan -/-

CUT bentuk dan

III. RESUME
Pasien, Nn. SA, 30 tahun datang dengan keluhan terasa nyeri setiap haid sejak 3 bulan

15

yang lalu. Benjolan di perut (-). Riwayat amenorea (-). Keputihan (-). KU/Kes : sakit sedang/CM TD N S RR BB : 100/60 mmHg : 74 x/menit : 36,5 C : 20 x/menit : 41 kg

Status generalis : dalam batas normal Status ginekologis : I RT : Vulva, uretra tenang : TSA baik, ampulla rekti tidak colaps, mukosa licin, ukuran normal, adneksa : massa -/-, nyeri tekan -/-

CUT bentuk dan

IV. DIAGNOSIS
Dismenorea Primer

V. DIAGNOSIS BANDING
Dismenorea Sekunder

VI. PENATALAKSANAAN
Asam Mefenamat 3 x 500 mg Kontrol bila ada keluhan

VII. PROGNOSIS
Ad vitam : bonam Ad sanationam : bonam Ad fungsionam : bonam

16

BAB IV ANALISA KASUS

17

Dismenorea dapat merupakan salah satu gejala dari hampir semua kelainan ginekologis pada wanita yang berusia 15-45 tahun dan menjadi sebab langsung dari hilangnya waktu kerja, sekolah, maupun kegiatan lain pada wanita yang sukar dihitung nilainya. Dismenorea secara klinis bukan merupakan masalah yang sama sekali baru. Beraneka jenis pengobatan sudah diperkenalkan, tetapi tampaknya belum terlihat adanya cara pengobatan yang benar-benar rasional. Untuk mencapai pilihan pengobatan yang rasional serta efektif, tindakan paling ideal adalah mencari dan menemukan penyebab pokoknya. Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik. Pada anamnesis didapatkan nyeri setiap haid sejak 3 bulan yang lalu, tidak ditemukan adanya benjolan, riwayat amenorea, keputihan. Pasien juga mengaku siklusnya tidak teratur, lamanya 4-7 hari, dismenorea (+) sampai pasien tidak bisa bekerja. Pada status generalis dan ginekologis tidak ditemukan adanya kelainan. Hal ini sesuai dengan teori dismenorea primer dimana nyeri haid (+) tetapi tidak ditemukan kelainan pada status generalis dan ginekologiknya(1). Sebaiknya ditanyakan pada pasien bagaimana nyeri haid yang dirasakan dan gejala-gejala klinik lain yang dirasakan seperti adanya nausea, vomitus, diare, kelelahan, dan nyeri kepala, agar semakin mengarah dismenorea primer yang kongestif atau spasmodik(2). Hal ini penting untuk pengobatan yang tepat. Pada pasien ini untuk diagnosis pastinya seharusnya dilakukan pemeriksaan USG dan Laparaskopi diagnostik untuk menyingkirkan diagnosis dismenorea sekunder(2). Pada pasien ini tidak dilakukan mungkin karena alesan biaya. Diagnosa banding dipilih dismenorea sekunder karena pada dismenorea sekunder ditemukan juga nyeri saat haid walaupun sebab dan gejalanya berbeda, sehingga pengobatannya pun juga berbeda.

18

Pada

penatalaksanaannya

dipilih

Asam

Mefenamat

untuk

dismenorea primer, sesuai dengan teorinya Asam Mefenamat sebagai penghambat sintesis prostaglandin yang digunakan

untuk dismenorea primer(1). Asam Mefenamat ini digunakan pada dismenorea primer yang spasmodik, tetapi pada pasien ini belum jelas termasuk dismenorea primer yang padahal atau kongestif

spasmodik karena masih ada yang harus ditanyakan untuk mengarah ke salah satu jenis dismenorea primer tersebut. Prognosis ad vitam pada pasien ini adalah bonam karena dismenorea primer tidak membahayakan kehidupan. Prognosis ad fungsionam pada pasien ini adalah bonam karena dismenorea primer tidak menimbulkan kelainan fungsi. Prognosis masih dapat bersosialisasi dengan baik. ad sanationam pada pasien ini adalah bonam karena pada dismenorea primer pasien

19

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


I. Kesimpulan
Dismenorea ialah nyeri haid yang merupakan suatu gejala dan bukan suatu penyakit.(1) Nyeri haid ini timbul akibat kontraksi disritmik miometrium yang menampilkan satu atau lebih gejala mulai dari nyeri yang ringan sampai berat pada perut bagian bawah, bokong, dan nyeri spasmodik pada sisi medial paha.(1) Mengingat sebagian besar wanita mengalami beberapa derajat nyeri pelvik selama haid, maka istilah

20

dismenorea hanya dipakai untuk nyeri haid yang cukup berat sampai menyebabkan penderita terpaksa mencari pertolongan dokter atau pengobatan sendiri dengan analgesik. Etiologi untuk dismenorea primer belum diketahui dengan pasti, banyak faktor yang diduga bisa ikut berperan. Pada pemeriksaan fisik dismenorea primer tidak ditemukan kelainan, walaupun begitu tetap harus dilakukan untuk membedakannya dengan dismenorea sekunder. Sebaiknya dilakukan USG untuk menegakkan diagnosis dismenorea primer, bahkan bila perlu dilakukan laparaskopi diagnostic. Penatalaksanaan untuk dismenorea primer harus dibedakan untuk yang kongestif dan spasmodik, agar pengobatannya tepat. Hal ini bisa dibedakan dari gejala-gejala lain yang menyertainya(2).

2.

Saran
Pada pasien ini disarankan kontrol teratur ke Poliklinik Kebidanan dan Kandungan setiap ada keluhan nyeri untuk mengurangi rasa nyeri yang diderita pasien saat haid.

21

Anda mungkin juga menyukai