Anda di halaman 1dari 10

Seminar Nasional VIII - 2012 Teknik Sipil ITS Surabaya Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Infrastruktur

PERILAKU SAMBUNGAN BALOK-KOLOM BAJA COLDFORM MENGGUNAKAN GUSSET PLATE DAN FLANGE
Anis Saggaff1, Yakni Idris2 , Leonardus Kristianto 2
1

PhD Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, Palembang, Telp 0711-580139, email: anissaggaf@yahoo.com 2 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya, Palembang, email: leonardus_kristianto@yahoo.com

ABSTRACT
Structural beam and column of cold-formed steels are becoming popular and widely used. For two storey building, cold-formed steel can be used as an alternative material besides hot rolled steel, and composite. This is because beam and column of cold-formed steel profile is more light and easy to assemble. Indonesia has not having code about cold-formed steel. Structural buildings constructed using from cold-formed steel or hot-rolled steel have so many problems in connections. The, connections are calculated on designed differently. In real condition, there are so many problems in structural connection. Therefore, observation about cold-formed steel construction must be worked Beam to Column Connection is one of the alternative is using GUSSETS to have strong connection for cold-formed steel. The connection can resist the bending moment and can reduce the difflection of the Beams. Key Words: column, beam, moment, defflection

ANALISIS GETARAN NON LINIER PADA STRUKTUR DENGAN MODEL PERSAMAAN DUFFING
Anwar Dolu1 dan Amrinsyah Nasution2
Dosen Jurusan Teknik Sipil, Universitas Tadulako, Sulawesi Tengah, Telp.082197174514, email: anwardolu@yahoo.com 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil FTSL, ITB Bandung, Telp 08122355838, email: ancedin@bdg.centrin.net.id
1

ABSTRAK
Persamaan Duffing merupakan model persamaan getaran dengan kekakuan non linier berderajat tiga. Dalam kajian ini meninjau kasus getaran non linier (kasus khusus getaran linier) pada struktur balok yang mengalami lendutan besar dan menerima beban aksial. Penyelesaian persamaan diferensial Duffing menggunakan metode analitik dan metode numerik Runge Kutta dengan aplikasi software MAPLE. Amplitudo yang ditinjau untuk kasus pegas yang dikeraskan (hard spring) dan pegas yang dilunakkan (soft spring) dimana semakin kecil eksitasi gaya dan semakin besar nilai redaman maka lebar daerah lompatan/tidak stabil semakin berkurang. Konsekwensi solusi persoalan getaran pada struktur balok tersebut tergantung dari parameter sistem, pada kasus sistem linier maka dengan eksitasi harmonis linier akan menghasil respon harmonis. Pada kasus sistem non linier dengan eksitasi harmonis linier maka akan menghasilkan respon yang harmonis, sub/super harmonis serta respon chaos (chaotic response). Pada kasus getaran non linier dengan fenomena chaos maka dengan tinjauan sejarah waktu (time history) yang sangat sensitif terhadap syarat awal dimana perubahan yang kecil terhadap syarat awalnya maka akan terjadi perubahan besar pada sistem dengan bertambahnya waktu (t), serta untuk Bidang Fase (phase plane) menunjukan lintasan yang tidak beraturan dan non stasioner, hal ini terlihat juga dengan pada pemetaan Poincare (Poincare map) yang menunjukan pola tarikan yang acak (strange attractor). Kata kunci: getaran nonlinier, Duffing, Runge-Kutta, chaos

Kumpulan Abstrak Bidang Struktur - 1

Seminar Nasional VIII - 2012 Teknik Sipil ITS Surabaya Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Infrastruktur

STUDI PERILAKU DINDING BATA DENGAN EMPAT PEMBATAS PADA STRUKTUR PORTAL BETON BERTULANG
Data Iranata1, Heppy Kristijanto2, dan Tavio2
1

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5946094, email: iranata_data@yahoo.com, data@ce.its.ac.id 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya

ABSTRAK
Penetapan dinding bata sebagai komponen non-struktural dalam SNI menyebabkan kekuatan dan kekakuan dinding bata tidak diperhitungkan dalam perencanaan. Sedang pada kenyataannya dinding bata yang terbuat dari batu bata dan mortar mempunyai kekuatan dan kekakuan tertentu yang dapat berfungsi sebagai komponen struktural terutama pada bangunan sederhana. Pada penelitian ini dilakukan analisa perilaku dinding bata dengan empat pembatas pada struktur portal beton bertulang. Dinding dengan empat pembatas memiliki arti dinding yang dibatasi oleh 2 buah kolom pada sisi kanan dan kiri serta 2 buah balok pada sisi atas dan bawah serta tidak terdapat bukaan sama sekali. Dalam studi ini dibuat 3 buah model portal struktur beton bertulang 1 lantai dengan tinggi 3.2 m, serta lebar bervariasi yaitu 4 m, 3 m, dan 2 m. Ketebalan dinding diasumsikan sebagai susunan satu bata dan setengah bata. Pada analisa struktur, dinding bata pengisi dimodelkan sebagai bracing tekan. Hasil studi menunjukan bahwa struktur dengan dinding pengisi batu bata memiliki nilai daktilitas yang lebih baik dan kapasitas base shear yang lebih baik bila dibandingkan dengan struktur open frame. Dari evaluasi kinerjanya, struktur dengan dinding pengisi batu bata mampu mencapai wilayah antara Life Safety - Collapse Prevention sedangkan struktur open frame hanya mampu berada pada daerah Immediate Occupancy. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa struktur dengan dinding pengisi batu bata memiliki perilaku yang lebih baik bila dibandingkan dengan struktur open frame. Oleh karena itu kekuatan dan kekakuan dinding bata pengisi perlu diperhatikan sebagai komponen struktural dalam proses perencanaan struktur bangunan. Kata kunci: dinding bata, portal beton bertulang, pushover analysis

PEMAKAIAN SISTEM STAGGERED TRUSS FRAMING (STF) SEBAGAI PENAHAN BEBAN GEMPA PADA RUMAH SUSUN
Endah Wahyuni1, Isdarmanu JITU2, dan Djoko Irawan3
1

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5927540, email: endah@ce.its.ac.id 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5927540, email: isdarmanu@ce.its.ac.id 3 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5927540, email:djoko.irawan@gmail.com

ABSTRAK
Artikel ini membahas tentang kajian penggunaan sistem Staggered Truss Framing (STF) pada perancangan rumah susun di Indonesia akibat beban gempa. Sistem STF merupakan sistem dengan memanfaatkan rangka (truss) baja, pelat pracetak dan kolom sebagai struktur utama, dimana pada

Kumpulan Abstrak Bidang Struktur - 2

Seminar Nasional VIII - 2012 Teknik Sipil ITS Surabaya Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Infrastruktur

konstruksi baja konvensional biasanya menggunakan balok, kolom dan lantai komposite sebagai struktur utamanya. Pada struktur yang mempunyai penggunaan ruang yang tipical, penggunaan sistem STF akan sangat menguntungkan karena akan mempunyai mempunyai nilai ekonomis yang tinggi yaitu dengan diubahnya baja profil menjadi rangka baja yang otomatis ukuran-ukuran yang dibutuhkan menjadi kecil dan adanya sistem fabrikasi membuat pembangunan menjadi lebih cepat dibangun dan mempunyai mutu yang sama. Urutan pengerjaan penelitian ini yang pertama adalah akan dilakukan studi kelakuan penggunaan sistem STF dalam suatu gedung akibat beban gempa yang banyak terjadi di Indonesia. Pemodelan 2D dengan berbagai macam bentuk brasing dilakukan untuk melihat kelakuan dinamis dari sistem struktur tersebut. Penggunaan perbedaan bentuk bracing mempengaruhi kelakuan struktur, dimana diketahui bahwa bentuk bracing V terbalik memberikan nilai frekuensi terbesar, yang berarti mempunyai kekakuan yang lebih besar. Dengan mengacu peraturan pembebanan dan perancangan struktur beton dan struktur baja maka sistem STF diaplikasikan ke salah satu contoh gedung rumah susun yang ada di Surabaya yaitu Rusunawa Gunung Sari. Setelah dilakukan analisa dapat diketahui bahwa sistem ini bisa digunakan dan memberi nilai ekonomis yang lebih bagus, dengan total berat struktur lebih ringan dan dengan sistem lantai pracetak membuat lebih cepat bangun. Kata kunci: Staggered Truss Framing, bracing, baja, rangka, pelat pracetak.

PERILAKU BALOK BETON SANDWICH DALAM MENERIMA BEBAN LENTUR


Firdaus
Dosen Program Studi Teknik Sipil, Universitas Bina Darma, Jl A. Yani No.12 Palembang Telp. (0711) 515679, 515581, 515582, email : firdaus@mailbinadarma.ac.id , firdaus.dr@gmail.com

ABSTRAK
Balok merupakan elemen struktur yang berfungsi untuk memikul beban luar arah tegak lurus sumbu batang. Secara teoritis, dianggap bahwa saat beton retak, maka tarikan yang terjadi pada beton diabaikan. Momen lentur pada penampang lintang potongan penampang pada lokasi retak dipikul oleh sepasang kopel gaya; gaya tekan oleh zona tekan diatas garis netral dan gaya tarik oleh tulangan pada daerah tarik dibawah garis netral. Respons lentur yang demikian ini, seakan-akan penampang bagian tengah disekitar garis netral tidak menerima tegangan apapun. Anggapan inilah yang membuahkan ide untuk mengkomposisikan beton normal dan beton ringan sebagai suatu struktur sandwich. Investigasi ini bertujuan utama, melakukan studi eksperimental terhadap perilaku lentur balok sandwich dengan benda uji terdiri atas tiga lapisan. Lapisan tengah terbuat dari beton ringan dengan kuat tekan 30 MPa, diapit oleh dua lapisan luar terbuat dari beton normal 50 MPa. Pengujian dilakukan terhadap empat buah benda uji balok bertulang dengan dimensi sebagai berikut, panjang 2100 mm, lebar 100 mm dan tinggi 200 mm. Balok lentur dibebani secara static dan siklik. Observasi terhadap kurva beban-defleksi menunjukkan bahwa kapasitas kuat lentur ditentukan oleh sistim pembebanan, kondisi bidang kontak pada daerah komposit karena penggunaan konnektor dan sifat material yang menyangkut kualitasnya pada bagian tengah. Kata Kunci : Sandwich, Lentur, static, siklik, konnektor

Kumpulan Abstrak Bidang Struktur - 3

Seminar Nasional VIII - 2012 Teknik Sipil ITS Surabaya Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Infrastruktur

PERILAKU GESER BALOK BETON RINGAN BUSA BERTULANG DENGAN TAMBAHAN AGREGAT POZZOLAN ALAMI
Hafiz Riadi1, Abdullah2, Huzaim3, dan Mahlil4
1

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Universitas Samudra, Kampus Meurandeh Langsa, Telp 0641-7445019, email: hafiscivil@gmail.com 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala, Jl. Tgk Syech Abdul Rauf No. 7 Darussalam Banda Aceh, Telp 0651 - 7555444, email:abdullahmahmud@yahoo.com 3 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala, Jl. Tgk Syech Abdul Rauf No. 7 Darussalam Banda Aceh, Telp 0651 - 7555444 , email:huzaimnyaklah@yahoo.co.id 4 Magister Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala, Ged. Lab Konstruksi dan Bahan Bangunan Lama Fakultas Teknik Sipil Unsyiah Darussalam Banda Aceh, Telp 0651 7552018, email:poenya_alel@yahoo.com

ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perilaku geser balok beton ringan busa menggunakan pasir pozzolan sebagai agregat pengisi. Pada penelitian ini diuji 4 buah balok Beton Ringan Busa (BRB) berukuran 15 x 30 x 220 cm yang direncanakan mengalami gagal geser. Variabel yang diteliti adalah variasi jarak sengkang; 20 cm, 25 cm dan tanpa sengkang. Sebagai pembanding, dipersiapkan balok beton bertulang yang sama tapi menggunakan beton normal. Baik untuk tulangan utama maupun tulangan sengkang digunakan tulangan ulir. Mutu leleh baja yang digunakan untuk tulangan pokok adalah 415 MPa dan 359 MPa untuk tulangan sengkang. Diameter tulangan tekan digunakan 2 diameter 12,6 mm dan 4 diameter 15,6 mm untuk tulangan tarik, sedangkan tulangan sengkang digunakan diameter 7,6 mm. Pasir pozzolan yang digunakan didatangkan dari Krueng Raya Kecamatan Mesjid Raya. Agregat pasir pozzolan yang digunakan yang lolos saringan # 4,76 mm. Hasil pengujian dibandingkan dengan balok beton konvensional. Hasil penelitian menunjukkan nilai kapasitas geser balok untuk masing-masing variasi jarak tulangan sengkang adalah, untuk balok dengan jarak sengkang 20 cm, kapasitas gesernya = 71,5615 kN; balok dengan jarak sengkang 25 cm, kapasitas gesernya = 63,4626 kN; untuk balok beton busa tanpa sengkang, kapasitas gesernya = 31,0673 kN. Sedangkan untuk balok beton konvensional dengan jarak sengkang 25 cm, kapasitas gesernya = 74,2019 kN. Kata Kunci : Balok Beton Ringan Busa, pasir pozzolan, perilaku geser, pola retak, kapasitas geser.

KORELASI ANTARA LENDUTAN DAN KUAT LENTUR BALOK BETON BERTULANG YANG MENGALAMI TEMPERATUR TINGGI
RETNO ANGGRAINI, ST.MT
Jurusan Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Malang, email: retno_anggraini75@yahoo.com, hp. 08165408449

Abstrak
Perubahan suhu yang tinggi pada beton akan mempengaruhi kekuatan struktur beton diantaranya pada kekuatan lentur dan nilai lendutan yang terjadi. Adanya pengaruh siklus pemanasan dan pendinginan yang berulang-ulang menyebabkan struktur beton akan mengalami proses perubahan fase

Kumpulan Abstrak Bidang Struktur - 4

Seminar Nasional VIII - 2012 Teknik Sipil ITS Surabaya Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Infrastruktur

fisis dan kimiawi secara kompleks. Dengan penelitian pengujian kuat lentur dan lendutan akan diketahui hubungan yang terjadi antara kekuatan lentur dan nilai lendutan pada balok beton bertulang yang mengalami temperatur tinggi. Benda uji pada penelitian ini berupa balok beton bertulang berukuran 75cm x 15cm x 15cm. Variasi suhu pada benda uji yaitu suhu 200oC, 400oC, dan 600oC yang mengalami pengkonstanan suhu selama 1 jam. Proses pembakaran dilakukan dengan menggunakan burner dengan kapastitas suhu maksimum 1000oC dengan dimensi 1m x 1m x 1m. Data pengujian untuk mengetahui hubungan kekuatan lentur dan nilai lendutan balok dilakukan dengan menggunakan loading frame, dimana dengan kombinasi yang terdiri dari tumpuan (sendi-roll), proving ring kapasitas 10T , hydraulic jack. Untuk proses analisa data maka dilakukan pengujian statistik dengan menggunakan model anova . Dari hasil pengujian, didapatkan kesimpulan bahwa semakin tinggi suhu yang terpapar pada balok beton, maka semakin besar lendutannya pula. Sedangkan untuk nilai kuat lentur semakin tinggi suhu maka semakin besar penurunan kekuatan lentur. Kenaikan suhu yang terjadi pada balok beton bertulang sangat berpengaruh pada kuat lentur dan lendutannya. Dimana semakin tinggi suhu yang terjadi maka kekuatan lentur semakin menurun sedangkan nilai lendutan semakin tinggi. Terjadi hubungan yang seiring antara penurunan kekuatan lentur dan kenaikan lendutan. Dimana pada suhu hingga 400oC terjadi penurunan dan kenaikan antara 0-10%. Sedangkan pada suhu diatas 400oC maka hubungan yang terjadi tidak lagi seiring karena penurunan kekuatan lentur lebih drastis dibandingkan dengan kenaikan lendutan. Kata Kunci : Beton bertulang, kuat lentur, lendutan, temperatur tinggi

PENGARUH JENIS TANAH TERHADAP GAYA GESER GEMPA DALAM PERENCANAAN STRUKTUR DENGAN SNI GEMPA 2010 (STUDI KASUS WILAYAH GEMPA LAHAT DAN PAGARALAM)
Rosidawani1 , Hanafiah 2dan Tony Septianto 3
Dosen Jurusan Teknik Sipil, FT Unsri, Kampus Unsri Inderalaya Ogan Ilir Sumatera Selatan, Telp 0711580139, email: rosidawani@gmail.com 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil, FT Unsri, Kampus Unsri Inderalaya Ogan Ilir Sumatera Selatan, Telp 0711580139, email: 3 Alumni Jurusan Teknik Sipil, FT Unsri, Kampus Unsri Inderalaya Ogan Ilir Sumatera Selatan, Telp 0711580139, email: Septianto.tony@ymail.com
1

ABSTRAK
Penelitian ini menganalisis peraturan SNI Gempa 2010 untuk wilayah Lahat dan Pagar Alam. Wilayah ini ditinjau karena wilayah Lahat dan Pagar Alam sangat dekat dengan wilayah Bengkulu yang rawan gempa. Pada SNI gempa 2010 terdapat 3 macam peta yaitu peta probabilitas 10% dalam 50 tahun, peta probabilitas 10% dalam 100 tahun, dan peta probabilitas 2% dalam 50 tahun. Zona gempa pada peta dibedakan dengan warna yang berbeda-beda dan mewakili kondisi sesuai dengan keterangan. Beberapa lokasi gempa di sekitar wilayah tersebut digunakan dalam penelitian ini sehingga diperoleh 8 lokasi gempa yang berbeda. Sehingga dapat dianalisis besar respon gempa akselerasi yang dapat dibandingkan antara satu daerah ke daerah lain dalam satu wilayah Lahat dan Pagar Alam. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan lokasi menyebabkan nilai gaya geser gempa yang diperoleh dengan metode statik ekivalen pada model bangunan yang direncanakan sebagai struktur sistem ganda (dg shearwall) beton bertulang sebgai gedung perkantoran, menunjukkan hasil perbedaan yang cukup signifikan. Kata kunci: sni gempa 2010,Lahat, Pagar Alam, jenis tanah, gaya geser

Kumpulan Abstrak Bidang Struktur - 5

Seminar Nasional VIII - 2012 Teknik Sipil ITS Surabaya Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Infrastruktur

PENGARUH NANOSILIKA TERHADAP PENINGKATAN KINERJA BETON


Saloma1, Amrinsyah Nasution2
Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya, dan Mahasiswa Program Studi Doktor Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Email: saloma_571@yahoo.co.id 2 Dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, Telp. 022-2506445, Email: ancedin@bdg.centrin.net.id
1

ABSTRAK
Prinsip sustainable construction dan green building dapat dicapai melalui penggunaan sumber daya alam secara efisien dan optimal. Semen merupakan bahan utama pembentuk beton menghasilkan emisi CO2 yang besar pada proses produksi klinker. Dunia konstruksi berupaya mengurangi dampak negatif ini dengan mereduksi kandungan semen dalam campuran beton. Subtitusi parsial semen dalam campuran beton dengan material yang memiliki karakteristik pozzolanic dinilai cukup efektif dalam mengurangi berat semen dalam beton. Makalah ini menyajikan pengaruh nanosilika sebagai bahan subtitusi parsial semen dalam campuran beton. Nanosilika diproduksi dengan metode liquid polishing milling, kemudian dikarakterisasi dengan metode PSA (Particel Size Analysis), sehingga menghasilkan nanosilika dengan ukuran 10-140 nm. Penambahan nanosilika dalam campuran beton sebesar 0%, 2.5%, 5%, 7.5% dan 10% dari berat semen mampu meningkatkan kekuatan tekan beton tapi menurunkan workability. Selanjutnya, untuk mengetahui mikrostruktur beton dilakukan uji SEM. Kata kunci: nanosilika, workability, liquid polishing milling, Particle Size Analysis.

STUDI PERILAKU RANGKA BERPENGAKU SENTRIS DAN RANGKA BERPENGAKU EKSENTRIS DENGAN KONFIGURASI RANGKA V-TERBALIK AKIBAT BEBAN GEMPA DENGAN ABAQUS VERSI 6.7
R. Soewardojo1, Budi Suswanto1, dan Riki Iqbal2
1

Dosen, Jurusan Teknik Sipil, FTSP, ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5946094, email: soewardojo@ce.its.ac.id dan budi_suswanto@ce.its.ac.id 2 Mahasiswa S1, Jurusan Teknik Sipil, FTSP, ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5946094, email: riki_maldini@yahoo.co.id

ABSTRAK
Dari hasil riset-riset yang pernah dilakukan telah didapatkan tiga sistem struktur baja tahan gempa yang umum digunakan yaitu: Rangka penahan momen (Momen Resisting Frame / MRF), Rangka berpengaku konsentrik (Concentrically Braced Frame / CBF), Rangka berpengaku eksentris (Eccentrically Braced Frame / EBF). Masing-masing sistem struktur tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda. Pada MRF mempunyai kemampuan disipasi energi yang cukup untuk dapat memberikan daktilitas yang diperlukan, tetapi struktur ini kurang kaku. Pada sistem rangka berpengaku konsentris (CBF) secara efisien dapat memenuhi batas-batas lendutan melalui aksi rangkanya tetapi tidak memberikan suatu mekanisme yang stabil dalam dissipasi energi, sedangkan sistem rangka berpengaku eksentris (EBF) tidak lebih kaku dari CBF namun mempunyai daktilitas dan dissipasi energi yang baik. Diantara sistem struktur tersebut yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah CBF (Concentrically Braced Frame) dan EBF (Eccentrically Braced Frame). Penelitian ini akan membandingkan perilaku dari CBF dan EBF dengan

Kumpulan Abstrak Bidang Struktur - 6

Seminar Nasional VIII - 2012 Teknik Sipil ITS Surabaya Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Infrastruktur

konfigurasi V- inverted bracing sepuluh lantai dengan menggunakan gedung fiktif pada zona gempa 4 karena sistem CBF efektif digunakan maksimal sampai zona gempa 4 dan mengambil acuan sesuai dengan SNI 03-1726-2002. Berdasarkan hasil analisa struktur bangunan baja dengan menggunakan bresing CBF dan EBF dengan menggunakan program bantu SAP 2000 versi 14, XTRACT versi 2.6.2, dan ABAQUS versi 6.7, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Desain struktur bangunan baja 10 lantai dengan menggunakan SAP 2000 versi 14 pada bresing CBF dan EBF sudah memenuhi persyaratan perencanaan struktur baja sesuai dengan SNI 03-1729-2002 tentang Tata Cara Perencanaan Perhitungan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung; dari hasil analisa penampang dengan menggunakan XTRACT versi 2.6.2 diperoleh kuat nominal tekan dan tarik bresing sebesar 736.4 x 103 untuk penampang CBF dan EBF, hal ini menunjukkan bresing masih mampu menahan gaya tekan dan tarik yang terjadi dari hasil SAP 2000 sebesar 132.3 x 103 N ; dari hasil analisa struktur dengan ABAQUS versi 6.7 diperoleh tegangan pada struktur baja CBF dan EBF tidak mengalami kelelehan akibat beban yang bekerja. Struktur EBF lebih baik perilakunya karena mempunyai tegangan yang lebih kecil dibandingkan struktur CBF; hal ini menjadi salah satu dari berbagai aspek yang harus dipertimbangkan dalam memutuskan suatu sistem struktur yang akan digunakan, dimana perilaku struktur EBF lebih baik dari pada CBF dalam menerima beban gempa. Keyword: rangka penahan momen, rangka berpengaku konsentrik, rangka berpengaku eksentrik, daktilitas, serapan energi

STEAM CURING PADA CAMPURAN MORTAR YANG MEMAKAI ABU VULKANIK


Triwulan 1) Januarti J.E,2) Pujo Aji 3), Rivoduta4)
1) .2).3) Dosen Jurusan Sipil Fakultas Teknik Sipil ITS Surabaya Indonesia 60111, email: triwulan@ce.its.ac.id 4) Mahasiswa Jurusan Sipil Fakultas Teknik Sipil ITS Surabaya Indonesia 60111

ABSTRAK
Meletusnya gunung Merapi dan Bromo memberikan pemikiran untuk memanfaatkan abu vulkanik tersebut sebagai campuran beton. Abu vulkanik yang mengandung lebih dari 50% oksida silika (SiO2) bisa merupakan pozolanik material, yang mana bila dicampurkan dengan campuran semen dan air bisa bereaksi dengan kapur (Ca(OH)2)hasil proses hidrasi. Dalam Penelitian ini yang dipakai adalah abu vulkanik gunung Bromo, dengan benda uji adalah mortar dan beton dengan prosentase abu 0%, 10%, 15%, 20%, 25% dari berat total cimentitous material. Curing yang dilakukan adalah curing normal ( curing lembab) dan steam curing dengan temperatur 70 o C. Tes yang dilakukan selain sifat fisik juga sifat mekanik yang berupa kuat tekan di umur 3,7,14,21, dan 28 hari. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa perkembangan kuat tekan beton yang memakai campuran abu vulkanik mempunyai kecenderungan yang tidak menentu, mengalami penurunan kuat tekan dengan menambahkan 10% abu, dan mengalami kenaikan pada campuran 15% abu. kami akan menjelaskan format penulisan makalah yang disyaratkan dalam Seminar Nasional Teknik Sipil VIII-2012. Abstrak hendaknya tidak lebih dari 350 kata, ditulis dalam huruf Times New Roman 10 pt. Abstrak selalu dilengkapi dengan kata kunci, yang jumlahnya tidak lebih dari 5 kata kunci. Kata kunci: Semen, Abu Vulkanik Bromo, Pozolanik material .

Kumpulan Abstrak Bidang Struktur - 7

Seminar Nasional VIII - 2012 Teknik Sipil ITS Surabaya Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Infrastruktur

STUDI KERUNTUHAN STRUKTUR JEMBATAN KONVENSIONAL 25 M DITINJAU DARI KEGAGALAN ELEMEN STRUKTUR JEMBATAN
Bambang Piscesa1, Herman Wahyudi2, Trihanyndio Rendy S3 dan Mustain Arif4
1

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Laboratorium Beton dan Bahan Bangunan, FTSP, Institut Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp. 0811-9916041, bambangpcs@yahoo.com Dosen Jurusan Teknik Sipil, Laboratorium Perhubungan dan Bahan Jalan, FTSP, Institut Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp. 031-5928601, herman_its@yahoo.com , 4 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Laboratorium Mekanika Tanah dan Batuan, FTSP, Institut Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp. 031-5928601, rendy_star@yahoo.com; arifmustain@yahoo.com

Teknologi email : Teknologi email : Teknologi email :

ABSTRAK
Studi ini dilakukan untuk mempelajari perilaku keruntuhan struktur jembatan konvesional 25 M. Hasil studi ini akan sangat penting mengingat bahwa banyak jembatan-jembatan yang dibangun didaerahdaerah terpencil sehingga secara kualitas baik dari segi perencanaan dan pelaksanaan tentu akan sangat terbatas. Selain itu dalam studi ini hanya akan dibahas bidang strukturnya saja dimana juga terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pengawas dan pelaksana dilapangan. Dari hasil studi menunjukkan bahwa secara kekuatan struktur terhadap beban yang bekerja tidak diantisipasi dengan baik dari segi perencanaan, pengawasan serta pelaksanaan. Selain dari kurang dalamnya tiang pada tahap pelaksanaan juga hubungan antara sambungan tiang pancang dan tambahan tiang ke abutmen tidak sesuai dengan standar pendetilan struktur dimana pada saat terjadi kegagalan struktur terlihat bahwa tidak terdapat sengkang pada daerah sambungan lewatan tersebut yang menyebabkan kegagalan struktur yang premature dari jembatan tersebut. Dengan adanya studi ini diharapkan dapat memberikan suatu wacana yang perlu diwaspadai khususnya untuk pembangunan jembatan yang ada didaerah-daerah terpencil untuk menghindari terjadinya keruntuhan struktur yang sama. Kata Kunci : Kegagalan Struktur, Jembatan Konvensional

STUDI KELAKUAN DINAMIS STRUKTUR JEMBATAN PENYEBERANGAN ORANG (JPO) BAJA AKIBAT BEBAN MANUSIA YANG BERGERAK
Endah Wahyuni 1, Ananta S Sidharta 2 dan Dicky Ardhian P 3
1

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5927540, email: Endah@ce.its.ac.id 2 Dosen Jurusan Teknik Sipil FTSP, ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5927540, email:ananta@ce.its.ac.id 3 Alumni S1 Teknik Sipil, Jurusan Teknik Sipil FTSP, ITS, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 0315927540, dickyarey@gmail.com

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penelitian tentang pengaruh beban manusia bergerak pada kasus jembatan penyeberangan baja. Dalam merencanakan struktur yang beban manusia sangat mempengaruhi,

Kumpulan Abstrak Bidang Struktur - 8

Seminar Nasional VIII - 2012 Teknik Sipil ITS Surabaya Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Infrastruktur

seperti stadion, lantai untuk olahraga, atau JPO apabila beban manusia bergerak tidak dipertimbangkan beban dinamisnya maka bisa menjadi penyebab kegagalan struktur. Sedangkan JPO di Indonesia yang merencanakan dengan pedoman SNI hanya memperhitungkan beban hidup sebagai beban statis, bukan beban dinamis. Yang dimaksud dengan manusia bergerak adalah manusia pengguna jembatan yang bisa berjalan, berlari, atau meloncat. Studi ini akan dilakukan pemilihan model beban akibat manusia bergerak dari literature yang ada sehingga bisa diterapkan dalam perhitungan analisa struktur jembatan. Pembebanan ini akan dihitung secara dinamis, sehingga akibat orang yang bergerak akan menghasilkan reaksi vertikal dan horisontal dan yang berubah terhadap waktu. Dalam penelitian ini akan dilakukan studi model beban manusia individu. Setelah mendapatkan model beban, maka selanjutnya melakukan pengujian nilai frequensi alami dari jembatan. Setelah itu akan dilakukan pengujian model beban yang diaplikasikan sebagai pembebanan pada struktur JPO. Penelitian selanjutnya adalah membuat batasan nilai frekuensi alami dari JPO, dimana batasan ini berguna agar jembatan tidak terjadi resonansi. Dengan adanya batasan ini diharapkan ada pedoman untuk merencanakan JPO agar mempunyai nilai frekuensi alami yang berada dalam batasan tersebut. Uji kasus dilakukan untuk menganalisa contoh JPO di Surabaya yaitu JPO baja yang berada di jalan Basuki Rahmat Surabaya. Didapat beberapa kesimpulan mengenai kelakuan dinamis dari struktur JPO baja, mode pertama didominasi oleh arah vertikal. Untuk frekuensi alami dari kedua struktur telah memenuhi ketentuan dari British Standart. Didapatkan kesimpulan bahwa struktur JPO tidak mengalami resonansi. Dengan didapatkannya beberapa kesimpulan di atas, maka diharapkan kelakuan dinamis struktur jembatan penyeberangan orang akibat beban manusia yang bergerak bisa lebih dipahami. Kata kunci: beban hidup, manusia bergerak, dinamis, jembatan penyeberangan

ANALISA DAN PERENCANAAN PONDASI MESIN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS YANG DIRELOKASI DARI GILI TIMUR KE DURI
Ananta Sidharta1; I G P Raka1; Soewardojo1; Djoko Irawan1; Endah Wahyuni1 dan Data Iranata1
1

Dosen Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Kampus ITS Sukolilo Surabaya, Telp 031-5927540, email: lab_struk@ce.its.ac.id, endah@ce.its.ac.id

ABSTRAK
Dalam makalah ini dijelaskan mengenai analisa dan perencanaan struktur pondasi mesin Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dengan studi kasus perencanaan struktur pondasi mesin PLTG yang direlokasi dari Gili Timur ke Duri. Perhitungan pondasi mesin dilakukan dengan mencari beban pondasi berdasarkan data yang ada. Sehubungan hanya ada beban statis dan tidak ada data pada mesin yang akan dipindahkan, maka asumsi-asumsi diberikan, sehingga diperoleh nilai beban dinamis dari mesin tersebut. Nilai beban tersebut dimasukkan dalam analisa struktur pondasi dengan menggunakan program SAP2000 dan dilakukan perencanaan pondasi mesin PLTG tersebut. Analisa pengaruh pondasi mesin terhadap struktur pondasi juga dipresentasikan dalam makalah ini. Dari perhitungan yang ada diperoleh bahwa getaran yang terjadi tidak berbahaya bagi struktur. Kata kunci: pondasi mesin, beton, dinamis, getaran

Kumpulan Abstrak Bidang Struktur - 9

Seminar Nasional VIII - 2012 Teknik Sipil ITS Surabaya Pembangunan Berkelanjutan Transportasi dan Infrastruktur

KEHILANGAN GAYA PRATEGANG METHODE PRATARIK SELAMA PROSES PENGERASAN BETON


I Gusti Putu Raka
Dosen tetap Jurusan Teknik Sipil FTSP-ITS Surabaya. raka@ce.its.ac.id atauigp_raka@yahoo.com

ABSTRAK
Kehilangan gaya prategang merupakan unsur penting dalam analisa struktur beton pratekan. Ketelitian memprediksinya langsung berdampak kepada keakuratan analisa kekuatan struktur tersebut. Kehilangan prategang secara umum sudah banyak dikemukakan dalam berbagai referensi, namun untuk kasus kehilangan prategang sebagai akibat dari adanya proses pengerasan beton pada beton pratekan pratarik menarik diungkap lebih rinci. Tendon(kabel/kawat) prategang mengalami penurunan tegangan akibat fungsi waktu karena adanya relaksasi. Pengaruh adanya panas hydrasi pada proses pengerasan beton tentu berdampak langsung pada baja prategang (proses dilatasi/muai-susut) menambah besarnya kehilangan prategang: waktu temperatur naik(muai) tegangan turun, waktu temperatur turun(susut) tegangan hendak naik namun terhalang sebagian karena lekatan beton terhadap baja mulai bekerja. Adanya proses pengerasan memakai steam curing tentu menambah phenomena kehadiran panas pada kabel prategang, hal ini penting untuk mendapat konsideran. Kata-kata kunci: beton pratekan, kabel prategang, pratarik, relaksasi, lekatan, panas hydrasi

Kumpulan Abstrak Bidang Struktur - 10