BUKU PANDUAN SKILLS LAB

SEMESTER GENAP 2012/2013

SEMESTER 4

PEMERIKSAAN SISTEM ORGAN II

LABORATORIUM KETERAMPILAN MEDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA Alamat: Darussalam - Banda Aceh Telepon: (0651) 7555184

Copyright@2010 oleh Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Pertama kali dicetak : Februari 2008 Edisi revisi I: Pebruari 2009 Edisi revisi II: Januari 2010 Edisi revisi III: November 2011 Edisi revisi IV: November 2012 Desain sampul oleh : Rahmawati, S.Si Diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Semua Hak Cipta Terpelihara

Penerbitan ini dilindungi oleh Undang-undang Hak Cipta dan harus ada izin oleh penerbit sebelum memperbanyak, disimpan, atau disebarkan dalam bentuk elektronik, mekanik, fotocopy, dan rekaman atau bentuk lainnya. ii

PENYUSUN BUKU
dr. Tgk. Puspa Dewi, Sp.OG Bagian lmu Kebidanan & Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Azharuddin Sp.BO, FICS K-Spine Bagian Ilmu Bedah/Orthopedi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA Dr. dr. Endang Mutiawati R, Sp.S Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Dessi Rakhmawaty Emril, Sp.S Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Nanda Earlia, Sp KK Bagian Ilmu Penyakit Kulit-Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Devi HP, Sp.M Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Lili Setiani Sp.THT-KL Bagian Ilmu Penyakit THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. Iskandar Zakaria, Sp.R Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/RSUZA dr. T.H. Makmur Mohd. Zein, SKM, PKK Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dr. Roziana Bagian Anatomi Laboratorium Keterampilan Medik Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dr. Teuku Renaldi Tim Kurikulum Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Rahmawati, S.Si Tim Kurikulum Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala Dewi Malahayati, SH Laboratorium Keterampilan Medik Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala dr. Hirsa Agriani Tim Kurikulum Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

iii

PENANGGUNG JAWAB Dr. dr. Mulyadi, Sp P (K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

dr. Teuku Mamfaluti, M. Ke, Sp PD Laboratorium Keterampilan Medik Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

iv

KATA PENGANTAR

Buku Panduan skills lab ini memuat tentang Keterampilan Pemeriksaan Genitalia Pria, Pemeriksaan Genitalia Wanita, Teknik Pemasangan Kateter Uretra, Urologic Radiology, Komunikasi Kasus Sensitif, Pemeriksaan Fisik Muskuloskeletel, Pemeriksaan Neurologi, Pemeriksaan Fisik Diagnostik THT, Pemeriksaan Fisik Diagnostik Mata, dan Pemeriksaan Fisik Diagnostik Kulit Kami berharap buku panduan ini dapat mempermudah mahasiswa dalam melatih kemampuan dasar ilmu kedokteran di laboratorium keterampilan medik. Kami mengucapkan terimakasih dan penghargaan sebesarbesarnya atas segala konstribusi Teman Sejawat Penulis dalam penyelesaian dan penyempurnaan materi di dalam buku panduan ini sehingga dapat tercapai tujuan kita bersama yaitu menghasilkan dokter yang berkompetensi.

Banda Aceh, November 2012 Tim Skills Lab & Tim Kurikulum

v

.................................... Pemeriksaan Perineum dan Rectal ........ 27 4.. Pemeriksaan Neurologi .................... Pemeriksaan Fisik Muskuloskeletel ........................................... vii 1..................................... Urologic Radiology ............ 157 10............ 50 7.................................. Pemeriksaan Fisik Diagnostik THT ..................................... Komunikasi Kasus Sensitif ......................................................................................... Pemeriksaan Genitalia Wanita ........ Pemeriksaan Fisik Diagnostik Kulit .......... 35 5....................... 61 8... 13 3................................. 41 6................................................................................................... Pemeriksaan Fisik Diagnostik Mata ................................................ 120 9............................... v vi Benang Merah Klinis ......................................... 1 2............................ Daftar Isi .. Teknik Pemasangan Kateter Uretra .................................................................. 206 vi ...............DAFTAR ISI Kata Pengantar .......... Pemeriksaan Genitalia Pria ............ 186 11..

datang sepasang suami isteri ke IGD setelah jatuh dari sepeda motor. Ibu & kakaknya juga mengeluh gejala serupa. Prosedur tindakan apa yang harus anda lakukan untuk membantu menegakkan diagnosa dan membantu si Kakek 2. mata & kulit Yuli agar diagnosis yang tepat dapat anda tegakkan ! vii .00 seorang Kakek berumur 65 tahun datang ke RS dengan keluhan tidak bisa kencing sejak 8 jam yang lalu. Tidak lama kemudian. suasana IGD sangatlah sibuk. Tindakan apa yang dapat lakukan dalam menentukan ada/tidak kelainan pada mereka. Anda sebagai dokter jaga di IGD saat ini. isterinya tadi sampai tidak sadar diri sesaat setelah jatuh dari motor. bersin > 5x dalam sehari terutama pagi hari. 1. perih & berair.BENANG MERAH KLINIS Pada hari selasa. Menurut sang suami. Menurut Yuli. Sejak 2 bulan terakhir si Kakek sudah sering mengeluhkan kencing tidak tuntas. Pada jam 11. Sang suami datang sambil mengendong isterinya yang terlihat sangat lemas. Apa yang tejadi pada Yuli? Deskripsikan tanda yang terdapat di kedua lipatan lututnya! Lakukan pemeriksaan fisik yang tepat pada hidung. yang disertai kedua matanya terasa gatal. dan ia sendiri mengeluh kedua kakinya terasa sulit berjalan terutama tungkai kanan. Jam 09. Saat ini Kakek merasa nyeri di daerah bawah pusatnya.45 datang lagi pasien bernama Yuli. 3. lakukan pemeriksaan yang tepat atas kedua pasangan tersebut secara sistematis dan benar. Pada kulit kedua lipatan lututnya tampak luka kecil bekas garukan & tampak pula kulit menebal bekas garukan berulang. 24 Januari 2010. 14 tahun mengeluh sering hidungnya gatal dan berair. Ayahnya telah lama menderita asma.

Anatomi & Fisiologi Penampang lintang dan pandangan frontal genetalia pria. sebagai berikut : Penampang Lintang Genetalia Pria 1 .1. sehingga dapat mengaitkan dengan kemungkinan diagnosis pasien. PEMERIKSAAN GENETALIA PRIA (MALE GENITALIA EXAM) Tujuan belajar : Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik pada genetalia pria secara sistematis dan benar.

batang dan kepala. Batang penis terdiri dari jaringan erektil.Genetalia Pria Penis terdiri dari 3 struktur memanjang : dua pasang korpora kavernosa dan satu buah korpus spongiosum. 2 . tipis dan tidak berambut. yang menimbulkan ereksi bila terisi penuh oleh pembuluh darah. Kedua korpora dibungkus oleh fasia Buck dan lebih superfisial lagi oleh fasia Colles atau fasia Dartos. Korpus spongiosum ini berakhir di bagian distal sebagai glans penis. dan terdiri dari pangkal. sedangkan di sebelah proksimal terpisah menjadi dua sebagai krura penis. terdapat suatu lipatan kulit bebas yang disebut preputium. Kulit penis halus. Pada ujung distal penis. Korpora kavernosa dibungkus oleh jaringan fibroelastik tunika albuginea sehingga merupakan satu kesatuan. Penis mempunyai 2 permukaan. dorsal dan ventral (uretral). Korpus spongiosum membungkus uretra mulai dari diafragma urogenitalis dan di sebelah proksimal dilapisi otot bulbokavernosus. Uretra melintasi korpus spongiosum. Korpora kavernosa mengandung otot polos yang berkontraksi selama ejakulasi.

preputium di insisi. Uretra pria dewasa. yang tergantung di luar dari perineum. saluran vena dan anastomosis arteriovenosa terbuka lebar. saluran arteriovenosa tertutup dan arteri-arteri terbuka lebar. mikroskopis dan berkelok-kelok yang menghasilkan sperma. suatu keadaan yang penting untuk spermatogenesis. halus dan panjangnya kira-kira 3. Skrotum adalah kantong yang mengandung testis. Dalam keadaan ereksi. hingga meatus eksternus di penis.Sekresi mukus dan lapisan sel epitel yang disebut smegma terkumpul di antara preputium dan glans. Testis kiri biasanya terletak lebih rendah dibandingkan kanan. memberikan efek lubrikasi selama koitus. Selama sirkumsisi. disebut tunika albugenia testis. Uretra terbentang mulai dari meatus urinarius internus di vesika urinaria. Vena-vena bermuara ke dalam vena dorsalis penis. Dinding skrotum mengandung otot polos involunter dan otot lurik volunter. Testis berbentuk oval. sedangkan arteri menyempit sebagian. memiliki panjang 23-25 cm dan dibagi atas :  Pars prostatika  Pars membranasea Posterior  Pars kavernosa AnteriorZ Sfingter uretra eksterna mengelilingi uretra membranasea dan pada kedua sisinya terletak kelenjar bulbouretral Cowper. Masing-masing testis mengandung tubulus seminiferus yang panjang.5-5 cm. Pars inferior epididimis melanjutkan diri sampai vas deferens. yang dipertahankan kira-kira 2ºC di bawah suhu rongga peritoneum. Skroum di bagi menjadi dua oleh septum interskrotal. Peranan utama skrotum adalah mengatur suhu testis. Tubulus ini berakhir di dalam epididimis. yang berbentuk koma. yang mempercabangkan arteri dorsal dan arteri profunda pada korpora kavernosa. 3 . Suplai darah ke penis berasal dari arteri pudendus interna. Testis di bungkus oleh suatu lapisan fibrosa kuat. Dalam keadaan tidak ereksi. dan terletak di batas posterior testis.

Perubahan sikap tubuh ini penting karena hernia atau massa skrotum mungkin tidak terlihat jelas dalam posisi berbaring. Vas deferens adalah suatu struktur seperti tali. kemudian dilanjutkan pada posisi berdiri.5 cm dan lebar 3 cm. Di dekat basis prostat. yang dapat diraba dengan mudah di dalam skrotum.Arteri testis memasuki testis pada bagian tengah posteriornya. vas deferens bergabung dengan duktus vesikula seminalis membentuk duktus ejakulatorius. sedangkan vena yang berfungsi sebagai drainase testis membentuk jaringan padat yang disebut pleksus pampiniformis. Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen cairan ejakulat. sehingga kemungkinan munculnya ereksi yang dapat mengganggu pemeriksaan dapat dihindarkan. Di bagian tengah ditembus uretra posterior. sedangkan kiri mengalir ke dalam vena renalis kiri. yang memasuki kanalis inguinalis. Pemeriksaan genetalia pria dilakukan mula-mula pada saat pasien dalam posisi berbaring. Vas deferens. arteriarteri testis dan vena-vena membentuk korda spermatika. panjang 3. Pemeriksaan genetalia pria terdiri atas :  Inspeksi dan palpasi dengan pasien berbaring  Inspeksi dan palpasi dengan pasien berdiri  Pemeriksaan hernia 4 . yang mengalir ke dalam vena testis. Volume cairan prostat merupakan ± 25 % dari seluruh volume ejakulat. Pemeriksaan Fisik Genetalia Pria Pemakaian sarung tangan karet yang disposible harus dipakai. yang menembus kelenjar prostat. tidak akan menjadi sumber rangsangan bagi pasien. Vena testis kanan mengalir langsung ke dalam vena kava inferior. Kelenjar prostat kira-kira berukuran. Jika pemeriksaan dilakukan secara objektif.

Palpasi Nodus Inguinal Dengan menggerakkan jari secara memutar sepanjang ligamentum inguinal. abses. Biasanya nodus-nodus limfe berukuran kecil (0.1. Pembesaran skrotum karena hidrokel dapat diperiksa dengan transluminasi. disebut angiokeratoma dan bersifat jinak.5 cm) dan dapat digerakkan dengan bebas ditemukan di daerah ini.  Apakah terdapat lesi dan edema di penis dan skrotum ? Lesi telengiektasis kecil. ulserasi. Inspeksi Penis dan Skrotum Pada pemeriksaan penis dan skrotum. Periksalah rambut pubis untuk melihat adanya kutu rambut atau nits (kumpulan telur) yang melekat pada rambut tersebut. atau lesi lain. 5 . ekskoriasi atau ruam lainnya. Perhatikanlah distribusi rambut. Skrotum diangkat oleh pemeriksa untuk memeriksa perineum dengan cermat. perhatikanlah hal-hal berikut :  Apakah pria ini disunat ?  Perhatikan ukuran penis dan skrotum. Ekskoriasi mungkin menunjukkan infeksi skabies. pemeriksa dapat menentukan adanya adenopati inguinal. merah tua. Suatu tonjolan yang timbul secara tiba-tiba mungkin menunjukkan suatu hernia inguinal atau femoral. Inspeksi dan Palpasi dengan Pasien Berbaring Inspeksi Kulit dan Rambut Kulit lipat paha harus diperiksa untuk melihat adanya infeksi jamur superfisial. atau mengejan sementara anda memeriksa lipat paha. melihat adanya peradangan. agak menonjol pada skrotum lazim ditemukan pada pria di atas 50 tahun. Inspeksi Massa di Lipat Paha Pasien di suruh untuk batuk. kutil.

parut atau tanda peradangan. Iritasi kronis ini dapat menjadi faktor penyebab kanker penis. sehingga dapat menimbulkan peradangan glans. nodulus. Bila juga melibatkan peradangan preputium. Meatus diperiksa oleh pemeriksa dengan meletakkan kedua tangannya di sisi glans penis dan membuka meatus. yang disebut balanitis. untuk menentukan keketatan katup. Karena glans juga tidak dapat dibersihkan. 6 . smegma tertumpuk. Letaknya harus ditengah glans. Inspeksi dan Palpasi Dengan Pasien Berdiri Pasien kemudian diminta berdiri sementara pemeriksa duduk di depannya. Parafimosis merupakan suatu keadaan dimaa kulup dapat diretraksikan tetapi tidak dapat dikembalikan ketempat semula dan tertahan di belakan korona. Bahan putih seperti keju di bawah kulup adalah smegma dan itu adalah normal. kutil. Inspeksi Penis Jika pasien tidak disunat. disebut balanopostitis. Fimosis ada jika kulup tidak dapat diretraksikan dan meghalangi pemeriksaan glans secara memadai. Glans diperiksa untuk melihat adanya ulkus. Inspeksi Meatus Eksternus Pemeriksa harus memperhatikan posisi meatus uretra eksternus.2. kulupnya (preputium) harus diretraksikan.

perineum. Keadaan yang jarang ditemukan adalah epispadia.Meatus harus diperiksa untuk melihat adanya sekret. kutil atau stenosis. Pasien dengan keadaan ini mungkin mengeluh deviasi penis selama ereksi. nodulus. Kadang-kadang meatus uretra akan bermuara pada permukaan ventral penis. 7 . di glans. Secara khas. suatu keadaan yang disebut hipospadia. yang disebut kondiloma akuminata. atau tanda-tanda peradangan harus dicatat. anus atau batang penis. Adanya parut. Adanya indurasi yang tidak nyeri tekan atau daerah fibrotik di bawah kulit batang penis mengarah ke penyakit Peynorie. Palpasi Penis Palpasi batang mulai dari glans sampai basis penis. indurasi. dapat ditemukan di dekat meatus. kutil ini mempunyai permukaan verukosa yang menyerupai kembang kol. Palpasi korpora kavernosa dilakukan dengan memegang penis diantara jari-jari kedua tangan dan memakai jari telunjuk untuk memeriksa indurasi. yaitu suatu keadaan diamana meatus terletak pada permukaan dorsal penis. ulkus. Kutil venereal.

Palpasi Uretra Uretra harus dipalpasi mulai dari meatus eksternus. Nyeri tekan dan nodularis tidak boleh ada. Ukuran dan konsistensi satu testis di bandingkan dengan testis 8 . Pakailah kedua tangan untuk memegang testis dengan lembut. Untuk palpasi pangkal uretra. Sementara tangan kiri memegang kutub superior dan inferior testis. Palpasi Testis Tiap testis di palpasi secara terpisah. Testis normal mempunyai konsistensi seperti karet. Harus ada 2 testis. bentuk dan konsistensi tiap testis. ‘pemerahan uretra’ dapat menghasilkan setetes sekret yang harus ditempatkan di atas gelas objek untuk pemeriksaan mikroskopis. Adanya massa yang tidak terlihat ketika pasien berbaring harus dicatat. Jika terdapat sekret. Biasanya testis kiri lebih rendah dibandingkan yang kanan. Palpasi Skrotum Skrotum diperiksa kembali dalam posisi berdiri. Perhatikan kontur dan isi skrotum. melalui korpus spongiosum sampai ke pangkalnya. Perhatikan ukuran. pemeriksa mengangkat penis dengan tangan kiri sementara jari telunjuk kanan menekan skrotum di garis tengah dan mempalpasi jauh ke pangkal korpus spongiosum. tangan kanan melakukan palpasi permukaan anterior dan posterior. Bantal jari telunjuk kanan harus mempalpasi seluruh korpus spongiosum mulai dari meatus sampai ke pangkalnya.

namun bila berasal dari dalam skrotum. kulit skrotum akan berkurang dan pemeriksaan akan lebih sulit. atau massa dari bagian superior (kepala) hingga inferior epididimis (ekor). pemeriksa secara serentak harus melakukan palpasi kedua korda spermatika di antara ibu jari dan jari telunjuk ketika jari-jari itu digerakkan ke arah lateral pada permukaan skrotum. Hanya terlihat pada saat pasien berdiri oleh karena pengaruh gravitasi. tangan pemeriksa tidak dapat masuk karena massa berasal dari rongga perut. Ukurannya dibandingkan dan setiap nyeri atau benjolan di catat. tangan pemeriksa dapat masuk. Pasien diminta untuk mengangkat penisnya dengan hati-hati.lainnya. Korda spermatika di palpasi mulai dari epididimis pada sampai ke cincin abdomen eksternal. Apakah satu testis terasa lebih berat di banding lainnya ? Jika ada massa. Pembesaran korda spermatika yang lazim dijumpai yang disebabkan oleh dilatasi pleksus pampiniformis adalah varikokel. Palpasi Epididimis dan Vas deferens Tentukan lokasi dan palpasi epididimis pada bagian posterior testis. nodul. Vasa ini teraba sebagai tali yang keras kira-kira berdiameter 2-4 mm dan teraba sebagai spaghetti seperti setengah di masak. Dengan memakai kedua tangan. dapatkah jari pemeriksa masuk di atas massa di dalam skrotum ? Jika hernia ingunalis. Struktur yang paling menonjol pada korda spermatika adalah vas deferens. Pasien diminta memutar kepalanya dan batuk sementara korda spermatika 9 . Pemeriksa harus memegang skrotum di garis tengah dengan meletakkan kedua ibu jari di depan dan kedua telunjuk pada sisi perineal skrotum. Tentukan adanya nyeri tekan. biasanya timbul di sisi kiri seperti meraba sekantong/kumpulan cacing. Jika penisnya di angkat terlalu tinggi.

ulang kembali untuk membandingkan dengan sisi lainnya. Pemeriksaan Hernia Inspeksi Daerah Inguinal dan Femoral Suruhlah pasien memutar kepalanya kesamping dan batuk atau mengejan. Cincin eksterna (kanalis inguinalis) dapat diperlebar dan dimasuki oleh jari tangan. Palpasi Hernia Inguinalis Dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk kanan pemeriksa di dalam skrotum di atas testis kiri dan menekan kulit skrotum ke dalam. Jika teraba. 10 . Lakukan inspeksi daerah inguinal dan femoral untuk melihat timbulnya benjolan mendadak selama batuk. yang terletak superior dan lateral dari tuberkulum pubikum. Telunjuk kanan pemeriksa harus mengikuti korda spermatika di lateral masuk ke dalam kanal inguinal sejajar dengan ligamentum inguinal dan digerakkkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna. yang menunjukkan adanya hernia. tentukanlah lokasi nyeri dan periksalah kembali daerah tersebut. Jika pasien mengeluh nyeri selama batuk.3.

minta pasien berbaring terlentang dan perhatikan apakah hernia dapat direduksi dengan tekanan yang lembut dan terus-menerus pada massa itu. Bila ditemukan bunti usus di dalam skrotum pada pemeriksaan auskultasi. Ulangi pada sisi lainnya. memastikan adanya hernia inguinalis indirek. Seandainya ada hernia. akan terasa impuls tiba-tiba yang meyentuh jari pemeriksa. Jika ada hernia.Dengan jari telunjuk di kanalis inguinal. 11 . mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan.

b.. smegma(bila tdk disunat). angiokeratoma .massa di lipat paha : terdapat nodus/tidak Melakukan palpasi : ada/tidaknya massa/tonjolan di inguinal. nyeri tekan . konsistensi. ulkus. c. tanda peradangan warna hipopigmentasidiglan penis . nyeri tekan. d. nits .kulit dan rambut : tanda peradangan.. 2. kutil./40 x 100% = % 12 . Aspek yang dinilai Persiapan : Memberi penjelasan dengan benar. scrotum : adanya benjolan. b. abses). b.. parut. jelas. .skrotum : kontur. a. tanda peradangan. testis (ada/tidak) .. varikokel.epididimis & vas deferens : ada/tidaknya pembesaran (varikokel). nyeri tekan (ada/tidak) Melakukan inspeksi dan palpasi saat pasien berdiri : Mempersilahkan pasien untuk berdiri Pemeriksa duduk di depan pasien Melakukan inspeksi : .. bandingkan kiri dan kanan. b. massa (ada/tidak).meatus uretra eksternus : letak ( normal/dorsal.Scrutum : Rugae (tada/tidak). simetris (ada/tidak). a. hidrokel : (posisi berdiri/tidur) Melakukan inspeksi inguinal. massa(ada/tdk) Pemeriksaan Hernia. ekskoriasi.ventral). nodul.Checklist Skills : Male Genetalia Exam No 1. single/multiple. 5. ukuran. lesi (peradangan. kutu rambut.uretra : sekret . d. kutil.. c. kutil. nyeri tekan . nyeri tekan Melakukan auskultasi skrotum : terdengar/tidak bunyi usus (hanya pada hernia scrotalis) Hidrokel : Transicuminasi (ada/tidak) Memberikan informasi mengenai hasil pemeriksaan dan follow up lebih lanjut 0 Skor 1 2 c.penis : di sunat/tidak. sekret. ulserasi. isi testis.testis : ukuran (bentuk. ruam.penis : parut. a. 4. stenosis) Melakukan palpasi : .penis : fimosis. scrotum : benjolan Melakukan palpasi inguinal. femoral. Keterangan: 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna instruktur Cakupan penguasaan keterampilan: Skor total .. radang (ada/tidak) . nodulus. 3. ulkus. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan & efek yang ditimbulkan Pemeriksa mencuci tangan & memakai sarung tangan Melakukan inspeksi dan palpasi pada saat berbaring : Mempersilahkan pasien untuk berbaring & Pemeriksa berdiri di sebelah kanan pasien Melakukan inspeksi : . nodul.funiculus specmaticus : vas deveren (ada/tidak). a. pembesaran vena (ada/tidak). indurasi.

Introitus vagina . PEMERIKSAAN GENETALIA WANITA (FEMALE GENETALIA EXAM) Tujuan belajar : Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik pada genetalia wanita secara sistematis dan benar. ditutupi rambut kemaluan .Uterus .Klitoris.2. sangat sensitif .Mons Veneris : tonjolan bulat dari jaringan lunak diatas simfisis pubis.Labia Minor .Ovarium 13 .Tuba fallopi . Alat Genetalia Eksterna . Anatomi & Fisiologi 1.Vulva .Perineum 2.Bulbus vestibuli sinistra et dekstra . penuh dengan urat saraf. terdiri atas jaringan yang dapat mengembang.Labia Mayor .Vagina . Alat Genetalia Interna .

Persiapan Pemeriksaan .Pasien dibantu menaiki meja pemeriksaan dengan bokong pasien diletakkan didekat ujungnya .Palpasi rektovaginal 14 . termasuk sumber cahaya yang diarahkan kedalam vagina Pemeriksaan genetalia wanita terdiri dari : .Pijakan meja pemeriksaan dikembangkan dan pasien disuruh meletakkan tumitnya pada tempat berpijak tersebut .Inspeksi dan palpasi genetalia eksterna .Pemeriksaan spekulum .Atur pencahayaan yang baik. .Lutut ditarik ke atas untuk merelaksasikan otot-otot perut ketika paha diabduksikan .Kepala meja pemeriksaan ditinggikan sehingga terjadi kontak mata dengan pasien .Minta pasien untuk membiarkan tungkainya jatuh pada sisi tubuhnya.Pasien seharusnya disuruh untuk mengosongkan kandung kemih dan rektum sebelum pemeriksaan .Palpasi bimanual .Pemeriksa memakai sarung tangan dan duduk diatas bangku diantara kedua tungkai pasien .

gambaran hymen Macam-macam bentuk hymen : 15 .Mons veneris diperiksa untuk melihat adanya lesi atau pembengkakan. hampir transparan secara merata (sering pada wanita pasca menopause). ulserasi.Melihat hymen : ada/tidaknya. ekskoriasi. pengeluaran sekret. . Biasanya klitoris berukuran 3-4 mm . . berkilat. labia mayor dan minor dibuka terpisah di antara ibu jari dan jari telunjuk tangan kanan. Dengan tangan kanan.Klitoris diperiksa untuk melihat ukuran dan adanya lesi. Setiap lesi harus dipalpasi untuk mengetahui adanya yeri tekan. kutil. .Beritahukan kepada pasien pada saat hendak membuka labia. parut. seringkali akan bermanfaat jika pemeriksa menyentuh tungkainya dengan menggunakan sisi punggung tangan. trauma.Rambut pubis diperiksa untuk melihat polanya dan adanya kutu pubis . Genetalia eksterna harus diinspeksi dengan cermat.Kulit vulva diperiksa untuk melihat adanya kemerahan. massa. halus.Inspeksi & Palpasi Genetalia Interna Untuk membuat pasien wanita merasa lebih nyaman selama pemeriksaan.Catat setiap lesi peradangan. Kraurosis vulva adalah keadaan dimana kulit vulva kemerahan. . bengkak. perubahan atrofik atau massa yang ditemukan. Bercak putih karena hiperkeratosis yang dikenal sebagai leukoplakia vulva biasanya mendahului timbulnya karsinoma. leukoplakia atau pigmentasi. . Beritahukan pasien sewaktu akan menyentuh tungkainya.

Selanjutnya memakai tangan kiri untuk memeriksa daerah kelenjar kiri (jam 4-5). parut. batuk atau mengejan dapat menyebabkan menyemprotnya urin dari uretra. Celupkan kapas lidi kedalam sekret dan oleskan pada slide mikoskop untuk pemeiksaan lebih lanjut. Palpasi dilakukan pada area jam 7-8 untuk daerah kelenjar kanan. Apakah ada nyeri tekan. dengan memegang bagian posterior labia kanan di dalam vagina dan ibu jari kanan diluar.- - Inspeksi meatus uretra: apakah ada pus atau peradangan? Jika ada pus. mungkin akan terlihat penggembungan dinding anterior atau poterior. bengkak atau pus? Biasanya kelenjar Bartholin tidak dapat dilihat maupun diraba. Jika ada inkontinensia stres. atau fistel. penonjolan dinding posterior menunjukkan adanya suatu rektokel. Perineum : perineum dan anus diperiksa untuk melihat adanya massa (termasuk hemorroid). pasien dimita untuk mengejan atau batuk. Beritahukan pasien ketika anda hendak melakukan palpasi kelenjar-kelenjar labia. Penonjolan dinding anterior berkaitan dengan sistokel . tentukan sumbernya. fissura. Pemeriksaan relaksasi pelvis : dengan kedua labia terpisah lebar. 16 . Jika ada relaksasi vagina.

spekulum logam Pedersen ukuran sedang. dan dipakai untuk wanita dengan introitus kecil. Kekurangan alat ini adalah bunyi klik yang keras yang timbul ketika daun bawah dilepaskan selama dikeluarkan dari vagina. pasien harus diberitahukan bahwa akan timbul bunyi klik ini. spekulum logam Graves ukuran besar dan spekulum Pedersen plastik ukuran besar. adalah yang paling populer digunakan. Spekulum ini terdiri dari dua daun yang dimasukkan dalam keadaan tertutup dan kemudian di buka dengan menekan pegangannya. Pada dasarnya ada dua macam spekulum dua daun . Spekulum Pedersen mempunyai daun yang lebih sempit dan rata. Ada beberapa macam spekulum : spekulum metal Cusco atau bivalve. spekulum logam Graves ukuran sedang. Dinding vagina dipisahkan oleh kedua daun spekulum. sehingga dapat tercapai visualisassi vagina dan serviks secara memadai. Spekulum Graves adalah spekulum yang lebih umum dan dipakai untuk kebanyakan wanita dewasa. Spekulum dua daun yang terbuat dari plastik dan sekali pakai. 17 . Jika memakai spekulum plastik.Pemeriksaan Spekulum Persiapan Pemeriksaan spekulum dilakukan untuk mengamati vagina dan serviks. Dari kiri ke kanan : spekulum logam Pedersen ukuran kecil. Daun-daunnya lebih lebar dan melengkung pada sisi-sisinya. graves dan Pedersen.

Prosedur pemeriksaan : . . . sebaiknya spekulum diperlihatkan terlebih dahulu kepada pasien. Spekulum dihangatkan terlebih dahulu dengan air hangat. A Posisi saat hendak masuk B Posisi saat di dalam 18 . dan kemudian menyentuhnya dengan punggung tangan untuk menentukan bahwa suhunya sudah tepat.Sebelum memakai spekulum.Lubrikasi jeli sebaiknya jangan dipakai karena dapat mengganggu pemeriksaan sitologi serviks dan biakan gonococcus.Spekulum yang masih tertutup. dengan dipegang oleh tangan kanan pemeriksa. berlatihlah membuka dan menutupnya. karena dapat timbul cedera pada uretra dan meatus. Spekulum tidak boleh dimasukkan secara vertikal.Jari telunjuk dan tengah kiri pemeriksa memisahkan labia dan menekan perineum . dimasukkan secara miring dengan perlahanlahan ke dalam introitus di atas jari-jari tangan kiri. Jika pasien belum pernah menjalani pemeriksaan dengan spekulum.Beritahukan pasien ketika akan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan spekulum .

Langkah-langkah masuknya spekulum hingga serviks jelas terlihat 19 .

Dinding vagina : beritahukan pasien bahwa spekulum sekarang akan diangkat. dengan pegangannya sekarang mengarah ke bawah. dan dari endoserviks. dan di buka dengan perlahan-lahan. Biasanya ada mukus tak berwarna atau putih dalam jumlah cukup banyak. Warna kebiru-biruan mungkin menunjukkan kehamilan atau tumor berukuran besar. kemudian spatulanya diputar 3600 sementara mengerok sel-sel dari orifisium eksterna servicis. Perhatikan : sekret. Jika ada sekret yang mengaburkan setiap bagian dinding vagina atau serviks. dengan hati-hati daun spekulum diputar ke berbagai arah untuk melihat serviks. sekrupnya dapat dikencangkan. laserasi. leukoplakia. kemudian spekulum diputar ke posisi transversal. ulserasi. eritema. leukoplakia atau massa. Apa bentuk orrifisium ekterna servicis ? Apa warna seviks ? Orrifisium eksterna servicis bentuk linier. Cara membuat apusan PAP : diperoleh dengan memakai spatula kayu yang dimasukkan melalui spekulum. dinding vagina diperiksa untuk melihat adanya massa. Ujung spatula yang lebih panjang dimasukkan ke dalam orrifisium eksterna servicis. Dinding vagina harus halus dan tidak nyeri tekan. Sekrup spekulum dikendurkan dengan jari telunjuk kanan dan spekulum diputar kembali ke posisi semula (miring). Jika serviks tidak segera terlihat. atau laserasi. Ketika spekulum perlahan-lahan ditarik dan ditutup. Serviks harus berada di dalam daun-daun spekulum. merupakan ciri serviks wanitaa yang telah melahirkan melalui vagina. Apuskan di atas slide kaca dan difiksasi dengan memasukkannya ke dalam larutan yang mengandung campuran metil alkohol 95% dan eter dengan perbandingan 1:1. harus dihilangkan dengan kapas lidi dan dihapuskan di atas slide. 20 . erosi. Atau dengan menyemprotkan fiksatif yang mengering dengan cepat. Contoh lain diambil dengan memakai kapas lidi dari forniks posterior dan lateral vagina. Untuk menjaga agar spekulum tetap terbuka.- - - Serviks : spekulum dimasukkan sejauh mungkin kedalam vagina.

Beritahukan kembali bahwa pemeriksa akan menyentuh kembali tungkainya ketika memulai pemeriksaan. Ibu jari kanan diekstesikan. Teknik pemeriksaan : .Lubrikasi jelli. Jari keempat dan kelima kanan difleksikan ke dalam telapak tangan. Tangan kanan yang telah memakai sarung tangan tidak boleh menyentuh tube jelli . dipegang dengan tangan kiri.Tangan kanan (di dalam vagina) mengangkat organ-organ pelvis ke atas pelvis dan menstabilkannya.Palpasi Bimanual Dipakai untuk palpasi uterus dan adneksanya. ketika pemeriksaan dilakukan .Posisi dokter harus berada diantara kedua tungkai pasien . . sementara organ-organ itu di palpasi oleh tangan kiri (di abdomen). yang melakukan palpasi. dan sejumlah kecil diteteskan ke atas jari telunjuk dan tengah tangan kanan pemeriksa yang sudah memakai sarung tangan. Punggung tangan kiri harus menyentuh sisi dalam paha kanan pasien. . . Tangan yang diperut. .Perhatikan ekspresi wajah pasien.Labia dibuka lebar dan jari telunjuk telunjuk dan tengah tangan kanan yang berpelumas dimasukkan secara vertikal kedalam vagina.Pergelangan tangan yang berada di abdomen tidak boleh difleksikan atau disupinasikan. bukan yang di dalam vagina. 21 . Kemudian dilakukan penekanan ke bawah ke arah perineum.Pasien diberitahukan bahwa “pemeriksaan dalam” akan segera dimulai . pemeriksa meletakkan kaki kanannya diatas bangku kecil .Tangan kiri diletakkan di atas abdomen kira-kira sepertiga jarak simfisis pubis dengan umbilikus.Jika tangan kanan dimasukkan kedalam vagina.

Dengan cermat.Pemeriksaan Bimanual A. perhatikan : konsistensinya (lunak. mobilitas dan nyeri tekan.Uterus kemudian di palpasi diantara kedua tangan. keras.serviks di palpasi. ukuran. Biasanya serviks dapat digerakkan 2-4 cm dalam segala arah. Setiap keterbatasan gerakan atau timbulnya nyeri karena pergerakan tersebut harus di catat.Gerakkan serviks ke berbagai arah. bentuk. nodular. rapuh)? . membesar. Apakah teraba ketidakaturan ? Apakah ada nyeri tekan pada saat uterus digerakkan ? 22 . Serviks di dorong kebelakang dan ke atas ke arah tangan yang berada di permukaan perut ketika tangan itu mendorong ke bawah. perhatikan : posisi. keras dan mobilitas. Palpasi Serviks dan Korpus Uterus Palpasi bimanual dapat dilakukan jika uterus anteversi dan antefleksi yang merupakan posisi uterus yang paling lazim.Beritahukan pasien sebelum dilakukan perabaan serviks . konsistensinya. . Tentukan uterus anteversi atau retroversi. Mendorong serviks ke atas dan ke belakang cenderung menggerakkan uterus yang berada dalam posisi anteversi dan antefleksi ke dalam posisi yang lebih mudah di palpasi. .

Jika pasien sudah mengeluh nyeri pada satu sisi. . yang berusaha melakukan palpasi struktur-struktur adneksa.Palpasi dilakukan di adneksa kanan dan kiri . .Ovarium normal peka terhadap tekanan. pakailah jari tengah kanan saja. bentuk. Palpasi Adneksa .Setelah pemeriksaan adneksa. .Setelah memeriksa sisi kiri. mobilitas dan nyeri tekan struktur-struktur adneksa.Tangan kanan pemeriksa dipindahkan ke forniks lateral kiri.Perhatikan : ukuran. Jari-jari di dalam vagina mengangkat adneksa ke arah tangan yang dipermukaan perut. Nyeri tekan yang jelas dan nodularitas mengarah kepada adanya endometriosis.Jika pasiennya seorang gadis.Pemeriksaan Bimanual B. konsistensi. . jari pemeriksa yang berada di dalam vagina dipindahkan ke forniks posterior untuk melakukan palpasi ligamentum uterosakral dan kantong Douglas. adneksa kanan dipalpasi dengan memindahkan tangan kanan (vagina) ke forniks lateral kanan dan tangan kiri (perut) ke kuadran kanan bawah pasien . sementara tangan kiri (yang dipermukaan perut) pindah ke kuadran kiri bawah pasien. mulailah pemeriksaan pada sisi lainnya . 23 .

Septum rektovagina dipalpasi.Pada saat tangan pemeriksa dikeluarkan. masih di dalam vagina. massa atau ketidakaturan di dalam rektum.Tangan kanan. .Pasien diberitahukan bahwa “pemeriksaan dalam” sudah selesai dan bahwa tangan pemeriksa akan segera dikeluarkan. .Palpasi Rektovaginal . Jari telunjuk kanan diletakkan sejauh mungkin ke atas pada permukaan posterior vagina . 24 . periksa apakah ada sekret atau darah. apakah menebal atau nyeri tekan ? Apakah nodulus atau massa ? Jari tengah kanan harus meraba untuk mencari nyeri tekan. ditarik ke luar sedikit sehingga jari tengah kanan secara perlahan-lahan dimasukkan ke dalam rektum.Beritahukan pasien bahwa akan dilakukan pemeriksaan vagina dan rektum .

leukoplakia atau massa. kemudian mempersilahkan untuk tidur dengan posisi litotomi Mempersiapkan alat termasuk mengatur pencahayaan kemudian pemeriksa mencuci tangan & memakai sarung tangan steril secara aseptik Melakukan Inspeksi & Palpasi Genetalia Eksterna Mons veneris : melihat adanya lesi atau pembengkakan Rambut pubis : melihat polanya dan adanya kutu pubis Kulit vulva : melihat adanya kemerahan. a. permukaaan. b. Apakah ada nyeri tekan. ekskoriasi. Palpasi kelenjar bartholin kiri & kanan. 3. parut. penyemprotan urine Pemeriksaan dengan Spekulum Pemeriksa duduk diantara tungkai pasien Memberitahukan pasien ketika akan melakukan pemeriksaan dengan menggunakan spekulum Memisahkan labia dengan satu jari Dengan tangan kanan. ulserasi. perubahan atrofik atau massa yang ditemukan. a. nyeri tekan Aspek yang dinilai 0 1 2 e. f. g. i. j. h. e. pengeluaran sekret. c. erosi. c. ulserasi. Palpasi : adan/tidak nyeri tekan. massa. bengkak. 2. leukoplakia.Checklist Skills : Female Genetalia Exam Skor No 1. b. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan serta efek yang ditimbulkan Menyuruh pasien mengosongkan rektum & kandung kemih. 25 . laserasi. Apa bentuk orrifisium ekterna servicis ? Apa warna seviks ? Dinding vagina : massa. a. c. Persiapan Memberi penjelasan dengan benar. gambaran hymen Inspeksi meatus uretra : apakah ada pus atau peradangan ? Jika ada pus. tentukan sumbernya. d. bengkak atau pus? Perineum & anus : melihat adanya massa (termasuk hemorroid) Pemeriksaan relaksasi pelvis : rektokel. jelas. Klitoris : melihat ukuran dan adanya lesi. b. trauma. eritema. f. kutil. sistokel. memasukkan secara miring spekulum yang masih tertutup dengan perlahan-lahan ke dalam introitus di atas jari-jari tangan kiri Serviks : sekret. d. leukoplakia atau pigmentasi. Melihat hymen : ada/tidak. Memberitahukan kepada pasien pada saat hendak membuka labia : lesi peradangan. laserasi.

. b. lubrikasi jelli dan memberitahukan pasien bahwa “pemeriksaan dalam” akan segera dimulai Labia dibuka lebar dengan jari telunjuk & ibu jari tangan kiri. bentuk. bentuk. apakah ada nyeri tekan pada saat uterus digerakkan ? B. b. mobilitas dan nyeri tekan. Memberitahukan pasien bahwa “pemeriksaan dalam” sudah selesai dan bahwa tangan pemeriksa akan segera dikeluarkan.. massa atau ketidakaturan di dalam rektum.. c.. d. d. keras dan mobilitas. rapuh)? Menggerakkan serviks ke berbagai arah. mobilitas dan nyeri tekan struktur-struktur adneksa Palpasi cavum Douglas : Nyeri tekan dan nodularitas Palpasi Rektovaginal Memberitahukan pasien bahwa akan dilakukan pemeriksaan vagina dan rektum Tangan kanan... ukuran. masih di dalam vagina. d. Jari telunjuk kanan diletakkan sejauh mungkin ke atas pada permukaan posterior vagina Septum rektovagina dipalpasi. b..Skor No 4. Tangan kiri diletakkan di atas abdomen kira-kira sepertiga jarak simfisis pubis dengan umbilikus & pergelangan tangannya tidak boleh difleksikan atau disupinasikan Tangan kanan (di dalam vagina) mengangkat organ-organ pelvis ke atas pelvis dan menstabilkannya A..... Memberitahukan pasien sebelum dilakukan perabaan serviks Melakukan palpasi serviks : konsistensinya (lunak. Memberikan informasi mengenai hasil pemeriksaan dan follow up lebih lanjut Aspek yang dinilai 0 1 2 c.. perhatikan : darah/sekret di sarung tangan kemudian membersihkan sisa jelly pada pasien... nyeri/tidak Palpasi corpus uterus : posisi... a. keras.. Palpasi Serviks dan Korpus Uterus a.. c. Keterangan: 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Banda Aceh. Palpasi dilakukan di adneksa kanan dan kiri... konsistensi... Kemudian dilakukan penekanan ke bawah ke arah perineum. Serviks di dorong kebelakang dan ke atas ke arah tangan yang berada di permukaan perut ketika tangan itu mendorong ke bawah : gerakan terbatas/tidak.. apakah menebal atau nyeri tekan ? Apakah nodulus atau massa ? Jari tengah kanan harus meraba untuk mencari nyeri tekan. Tentukan uterus anteversi atau retroversi. Palpasi Adneksa a..2012 Instruktur 26 ... ditarik ke luar sedikit sehingga jari tengah kanan secara perlahan-lahan dimasukkan ke dalam rektum. perhatikan : ukuran.. a. Apakah teraba ketidakaturan ?. 5. b. Palpasi Bimanual Dokter berdiri diantara kedua tungkai pasien.. membesar. 6... jari telunjuk dan tengah tangan kanan dimasukkan secara vertikal kedalam vagina. Jari keempat dan kelima kanan difleksikan ke dalam telapak tangan... Ibu jari kanan diekstensikan. konsistensinya. nodular.

Tujuan terapi : .Mengeluarkan urine pada disfungsi buli-buli .Kateterisasi pada wanita dewasa untuk memperoleh contoh urine untuk pemeriksaan kultur urine. Tindakan ini diharapkan dapat mengurangi resiko terjadinya kontaminasi sample urine oleh bakteri komensal yang terdapat disekitar kulit vulva atau vagina . vesikolitotomi . Tujuan kateterisasi : 1.Pemeriksaan urodinamik untuk menentukan tekanan intra vesika .Memasukkan obat-obatan intravesika.Diversi urine setelah tindakan operasi sistem urinaria bagian bawah yaitu pada prostektomi. antara lain : sitostatika atau antiseptik untuk buli-buli 27 . TEKNIK PEMASANGAN KATETER URETRA Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pemasangan kateter urine secara aseptik dan tepat Kateterisasi uretra adalah memasukkan kateter ke dalam bulibuli melalui uretra.Mengeluarkan urine dari buli-buli pada keadaan obstruksi infravesikal baik yang disebabkan oleh hiperplasi prostat maupun oleh benda asing (bekuan darah) yang menyumbat uretra .Mengukur residu (sisa) urine yang dikerjakan sesaat setelah pasien miksi .Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra untuk tujuan stabilisasi uretra .Memasukkan bahan kontras untuk pemeriksaan radiologi antara lain : sistografi atau pemeriksaan adnya refluks vesicoureter melalui pemeriksaan voiding cysto-urethrography (VCUG) .3. Tujuan diagnosis : .Menilai produksi urine pada saat dan setelah operasi besar 2.

Monitoring ketat produksi urin 3. Indikasi kateterisasi : 1. bahan. Instilasi ke dalam buli-buli 7. B : kateter Nelaton C. sifat pemakaian. bentuk. Urine sampling 6.Kateter yang dipasang untuk tujuan diagnostik secepatnya di lepas setelah tujuan selesai. tetapi yang ditujukan untuk terapi. Retentio urine 2. Spalk urethra Indikasi kontra : Radang akut urethra Macam-macam kateter Kateter dibedakan menurut ukuran. Keterangan : A. Operasi urethra / bladder outlet 4. Buli-buli neuropathy 5. D : kateter Tiemann E : kateter Malecot empat sayap F : kateter Malecot dua sayap G : kateter Pezzer H : Foley two way catheter I : Folley three way catheter 28 . tetap dipertahankan hingga tujuan terpenuhi. system retaining (pengunci) dan jumlah percabangan.

Memperhatikan prinsip pemasangan kateter : . Persiapan kateterisasi 1. atau 1 mm = 3 FR Jadi kateter yang berukuran 18 Fr artinya diameter luar kateter tersebut adalah 6 mm. diusahakan memakai sistem tertutup yaitu dengan menghubungkan kateter pada saluran penampung urine (urine bag) .Jika dibutuhkan pemakaian kateter menetap. lateks dengan lapisan silicon (siliconized) dan silicon. 1 Cheriere (Ch) atau 1 French (Fr) = 0. sehingga akan mempengaruhi pula daya tahan kateter yang terpasang di buli-buli. penyulit berupa infeksi atau cedera uretra semakin mungkin terjadi.Ukuran kateter Ukuran kateter dinyatakan dalam skala Cheriere’s (French). Informasi lengkap dan informed consent 2. karet (lateks).33 mm. 29 . yaitu untuk orang dewasa ukuran 16Fr-18Fr.Dipakai kateter dengan ukuran terkecil yang masih cukup efektif untuk melakukan drainase urine. Perbedaan bahan kateter menentukan biokompatibilitas kateter di dalam buli-buli. Bahan kateter Bahan kateter dapat berasal dari logam (stainless). Kateter yang mempunyai ukuran sama belum tentu mempunyai diameter lumen yang sama karena perbedaan bahan dan jumlah lumen pada keteter itu. Kateter logam tidak digunakan pada tindakan kateterisasi pada pria karena akan menimbulkan kerusakan uretra ..Kateter menetap dipertahankan sesingkat mungkin sampai dilakukan tindakan definitif terhadap penyebab retensi urine.Dilakukan secara aseptik dengan melakukan desinfeksi secukupnya memakai bahan yang tidak menimbulkan iritasi pada kulit genetalia . Ukuran ini merupakan ukuran diameter luar kateter. Makin lama kateter dipasang.Diusahakan tidak menimbulkan rasa sakit pada pasien .

daerah genetalia dipersempit dengan kain steril (doek steril) .Baringkan pasien .Dokter berdiri disebelah kiri pasien . kemudian dimasukkan ke dalam orrifisium uretra eksterna - - Pelan-pelan kateter di dorong masuk dan kira-kira pada daerah bulbomembranasea (daerah sfingter uretra eksterna) akan terasa tahanan.Teknik Kateterisasi 1. merah.Kateter yang telah diolesi dengan pelicin/jelly dipegang seperti memegang pensil. Pada Pria . Perhatikan urine : jernih.Dokter memakai sarung tangan steril .Setelah dilakukan desinfeksi pada penis dan daerah sekitarnya. kateter dihubungkan dengan urine bag 30 . keruh. Kateter terus di dorong hingga masuk ke dalam buli-buli yang ditandai dengan keluarnya urine dari lubang kateter. dalam hal ini pasien diperintahkan untuk mengambil napas dalam/menelan supaya sfingter uretra eksterna menjadi lebih relaks. vo lume total (dicatat) Sebaiknya kateter terus di dorong hingga masuk ke buli-buli lagi hingga percabangan kateter menyentuh meatus uretra eksterna Balon kateter dikembagkan dengan 5-10 ml air steril Jika diperlukan kateter menetap.

Pada Wanita Berbeda dengan pria. Selanjutnya di tempat ini akan timbul striktura uretra atau fistel uretra. karena uretra wanita lebih pendek. akan menyebabkan terjadinya penekanan pada uretra bagian peno skrotal sehingga terjadi nekrosis.- Kateter di fiksasi dengan plester di daerh inguinal atau paha bagian proksimal. Fiksasi kateter yang tidak tepat. 31 . teknik pemasangan kateter pada wanita jarang menjumpai kesulitan. 2. Kesulitan yang sering dijumpai adalah pada saat mencari muara uretra karena terdapat stenosis muara uretra atau tertutupnya muara uretra oleh tumor uretra/tumor vagina/serviks. yaitu yang mengarah ke kaudal.

striktur uretra.Kesulitan dalam memasukkan kateter : .Menekan tempat itu selama beberapa menit dengan ujung kateter sampai terjadi relaksasi sfingter dan diharapkan kateter dapat masuk dengan lancar ke buli-buli .Ketegangan dai sfingter uretra eksterna karena pasien merasa kesakitan dan ketakutan .Pemberian anastesi topikal berupa campuran lidokain hidroklorida 2% dengan jelly 10-20 ml yang dimasukkan peruretram. atau tumor uretra Ketegangan sfingter uretra eksterna dapat diatasi dengan : . sebelum dilakukan kateterisasi . kontraktur leher buli-buli.Pada pria kateter sering tertahan d uretra pars bulbosa yang bentuknya seperti huruf “S” . Karena itu beberapa hal yang perlu dijelaskan pada 32 .Pemberian sedatif per enteral sebelum kateterisasi Pemakaian kateter menetap akan mengundang timbulnya beberapa penyulit jika pasien tidak merawatnya dengan benar.Terdapat sumbatan organik di uretra yang disebabkan batu uretra.

Pasien harus banyak minum untuk menghindari terjadinya enkrustasi pada kateter dan tertimbunnya debris/kotoran dalam buli-buli 2. Penyulit yang bisa terjadi pada tindakan kateterisasi : .False route .Uretritis. Selalu membersihkan nanah. mungkin diakibatkan oleh : . pernah di klem (dijepit) atau karena pemasangan terlalu lama. abses. Jangan sering membuka saluran penampung yang dihubungkan dengan kateter karena akan mempermudah masuknya kuman 5. fistel . Kateterisasi gagal mungkin diakibatkan : .Batu “impacted” . Jangan mengangkat/meletakkan kantong penampung urine karena dapat terjadi aliran balik urine ke buli-buli 4.kesalahan pabrik.Infeksi . maka indikasi untuk dilakukannya sistotomi (pembuatan lubang di daerah buli). Dapat diatasi dengan : isi eter ± 10 ml atau tusuk jarum dengan USG.Hematuria .Bakteriuria persisten .Striktura uretra . Mengganti kateter setiap 2 minggu sekali dengan yang baru untuk kateter jenis lateks atau 4 minggu sekali untuk jenis silikon.Kontraktur leher buli-buli Apabila kateterisi gagal. Checklist Skills : Male Catheter Urethtra Exam 33 .Lesi mukosa .Uninhibitory detrusor contraction . darah dan getah/sekret kelenjar periuretra yang menempel pada meatus uretra/kateter dengan kapas basah 3.Salah teknik .Batu buli-buli Kateter tidak dapat dibuka.Pasien adalah : 1.

kemudian tarik kembali... d. keruh./36 x 100% = % Banda Aceh.. akuades & NaCl 0. serta meminta persetujuan pasien Mempersiapkan alat dan bahan: kateter urine dengan ukuran sesuai.. Apabila gagal. pinset.. urine bag. e. doek steril.. g. e.. 4.. 3.. povidone iodine Meminta pasien untuk berbaring Dokter berdiri disebelah kiri pasien (kecuali kidal) Dokter mencuci tangan dan memakai sarung tangan steril secara aseptik Teknik Melakukan desinfeksi area muara uretra eksterna sampai perineum. a.. jelas... i.. Persiapan Memberi penjelasan dengan benar. kemudian membatasi dengan menggunakan doek steril Membuat larutan lubricant (2cc lidocain+8cc gelly) dalam spuit 10cc lalu menyemprotkan secara gentle kedalam uretra : dewasa (10cc)....9 % 10 cc. kateterisasi dihentikan Membersihkan kembali area genetalia dan doek steril dibuka Daerah antara ujung penis dan kateter ditutup dengan kasa Memfiksasi kateter menggunakan plster di daerah inguinal atau perut bagian bawah (suprapubik) Memberikan informasi bahwa pemasangan telah selesai dan follow up lebih lanjut Menuliskan laporan pemasangan dalam rekam medik (termasuk beberapa volume berapa aquades yang dipakai untuk mengembangkan balon) Skor 1 2 c. jelly yang mengandung obat anestesi.. uji coba dengan memasukkan NaCl 0.. 2... spuit 5 cc/10cc. a. k.. b..9%..20121 34 . Keterangan: 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Instruktur Cakupan penguasaan keterampilan: Skor total .. sarung tangan steril.... j. b. f. d. merah Mengembangkan balon kateter sesuai volume kateter bersangkutan (5-10 ml) aquades steril. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan & efek yang ditimbulkan. memasang urin bag lalu kateter ditarik mundur sampai tertahan oleh balon Bila urine tidak keluar.... c..... Perhatikan urine : jernih.. anak-anak (3-5cc) dan biarkan selama 3-5 menit Memasukkan kateter dengan menggunakan pinset secara perlahan Pada saat terasa tahanan (daerah bulbomembranasea). h.. meminta pasien untuk rileks misalnya dengan bernapas dalam agar sfingter uretra eksternal relaks Mendorong terus katetr hingga percababngan kateter menyentuh meatus uretra eksternal Bila urin keluar dari lubang kateter ditampung dengan kidney basin dan diukur jumlahnya.Checklist Skills : Male Catheter Urethtra Exam No Aspek yang dinilai 0 1....

Pasien disuruh berdiri membungkuk dengan bahu dan sikunya di sokong di atas tempat tidur atau meja pemeriksaan. Posisi pasien litotomi (pasien terlentang dengan kedua lutut difleksikan) : Pemeriksa menjulurkan tangan kanannya di bawah paha kanan pasien. PEMERIKSAAN PERINEUM & RECTAL Tujuan belajar Mahasiswa mampu melakukan prosedur pemeriksaan perineum rektal secara sistematis & tepat Posisi Pasien Pemeriksaan rektum dapat dilakukan dengan pasien berbaring terlentang/berbaring pada sisi kiri tubuh atau berdiri. atau hemorroid. Setiap daerah abnormal harus dipalpasi. ekskoriasi. Tangan kanan pemeriksa dengan memakai sarung tangan memeriksa anus dan jaringan ekitarnya sementara tangan kiri dengan hati-hati merentangkan bokong. Posisi berdiri merupakan posisi yang paling banyak dipakai dan dengan posisi ini dapat dilakukan inspeksi menyeluruh pada anus dan palpasi rektum. cara pemeriksaan bimanual ini berguna dan menimbulkan gangguan minimal pada pasien yang kesakitan. 2. fisura. biasanya dipakai pada wanita atau jika pasian sangat lemah dan harus terpaku di tempat tidur. tumor. Posisi berbaring miring ke lateral kiri. Jika mencurigai adanya infeksi. membungkuk. fistula. kedua tangan pemeriksa harus memakai sarung tangan. pada meja pemeriksaan 1. nodulus. Dalam posisi ini tungkai kanan atas harus difleksikan sedangkan tungkai kiri bawah setengah diekstensikan 3.4. jari telunjuk di dalam rektum bersamaan dengan tangan kiri pemeriksa yang diletakkan di abdomen. Kulit anus iperiksa untuk tanda-tanda peradangan. Pasien diminta mengedan sementara pemeriksa menginspeksi anus untuk melihat adanya hemorroid atau fissura. 35 . parut. yang disebut posisi Sims.

Jari itu harus dimasukkan sejauh mungkin ke dalam rektum. meskipun 10 cm merupakan batas eksplorasi jari yang mungkin dilakukan. pasien harus diberikan jaminan bahwa sebenarnya ia tidak akan buang air besar. Tonus sfingter harus dinilai.Pemeriksa memberitahukan pasien bahwa lubrikan yang memberikan sensasi dingin akan dipakai. - - Pasien di suruh mengambil napas dalam. sementara jari telunjuk kanan memeriksa rektum. Sfingter harus menutup dengan sempurna disekitar jari pemeriksa. Ketika tangan kiri merentangkan bokong pasien. Tangan kiri kemudian dapat dipindahkan ke bokong kiri pasien. jari telunjuk kanan dengan perlahan-lahan diletakka pada pinggir anus. Sfingternya harus direlaksasikan dengan tekanan lunak oleh permukaan palmar jari telunjuk. . dan pada saat itu jari telunjuk kanan dimasukkan ke dalam anal anus ketika sfingter anus mengendur. dan ini akan diikuti dengan sensasi seperti akan buang air besar. 36 .Pasien diberitahukan bahwa pemeriksaan rektum sekarang akan segera dilakukan .Pemeriksa melaburi pelumas pada jari telunjuk tangan kanan yang bersarung tangan dan meletakkan tangan kirinya pada bokong pasien.Teknik .

konsistensi.Spina ischiadika. . . simetris/tidak. kelenjar prostat membesar secara simetris dan lunak yang menonjol ke dalam lumen rektum. . permukaan. . pemeriksa harus memutar punggungnya menghadapi pasien sehingga pemeriksa dapat melakukan hiperrotasi tangannya. .Vesikulus seminalis terletak terletak di bagian atas kelenjar prostat dan jarang teraba.Nodulus keras. 37 . Setiap ketidakaturan atau nyeri tekan yang tidak semestinya harus dicatat. . diameter kira-kira 4 cm.Palpasi Dinding Rektum . Margo superior biasanya terlalu tinggi untuk dapat dijangkau. . nyeri tekan atau nodulus. .Catatlah setiap massa.Dengan perlahan-lahan keluarkan jari pemeriksa. dimana apeks hati mengarah ke anus. kecuali jika membesar.Kenalilah sulkus median dan lobus-lobus lateral. . dan bentuk kelenjar prostat harus diperiksa. dan sakrum bawah dapat diraba dengan mudah. .Dinding rektum dipalpasi untuk mengetahui adanya polip. yang dapat melekat pada dasarnya (sesil) atau melekat pada tangkainya (pedunkulus). Palpasi Kelenjar Prostat .Kelenjar prostat terletak di sebelah anterior rektum. berbentuk seperti hati. . sedangkan Benign Hipertrofi Prostat (BPH).Dinding lateral. Dalam keadaan normal.Pemeriksaan rektum diakhiri dengan memberitahukan pasien bahwa pemeriksa akan segera menarik jari telunjuk pemeriksa. asimetris mengarah ke kanker prostat dan paling sering menterang lobus posterior. permukaannya halus dan kokoh.Dinding lateral diraba dengan merotasikan jari sepanjang sisi-sisi rektum.Agar seluruh keliling dinding rektum dapat diperiksa. os coccygeus. mempunyai konsistensi seperti bola karet keras.Ukuran. posterior dan anterior rektum di palpasi.

38 .

. nyeri tekan atau nodulus Memberitahukan pasien bahwa pemeriksa akan segera menarik jari telunjuk pemeriksa secara perlahan-lahan Melihat pada sarung tangan kemungkinan adanya : darah. a. dan pada saat itu jari telunjuk kanan dimasukkan ke dalam anal anus ketika sfingter anus mengendur. Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan perineum & rektal : Memberi penjelasan dengan benar. Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan. b..... ketidakaturan atau nyeri tekan yang tidak semestinya. f.. g. sementara jari telunjuk kanan memeriksa rektum. Palpasi Dinding Rektum (Dinding lateral. permukaan. b. e.. 2.2012 Instruktur % Cakupan penguasaan keterampilan: Skor total .. 3. d./28 x 100% = 39 .. lendir......... 4.. c... lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan..Checklist Skills : Perineal & Rectal Exam No Aspek yang dinilai 0 1... tangan kiri kemudian dapat dipindahkan ke bokong kiri pasien...... feses. termasuk efek lubrikasi yang diberikan Persiapan Mengatur posisi pasien : sims/litotomi/berdiri Memakai sarung tangan Dokter berdiri di kanan/belakang/di depan tungkai pasien (tergantung posisi pasien) Teknik (posisi pasien :sims) Melaburi pelumas pada jari telunjuk tangan kanan yang bersarung tangan dan meletakkan tangan kiri pada bokong pasien Tangan kiri merentangkan bokong pasien.... jari telunjuk kanan dengan perlahan-lahan diletakkan pada pinggir anus.. Sulkus median dan lobus-lobus lateral : massa. konsistensi dan bentuk kelenjar prostat. a.. h. jelas. a. posterior dan anterior rektum) : polip. b.. Sfingternya harus direlaksasikan dengan tekanan lunak oleh permukaan palmar jari telunjuk Menyuruh pasien untuk mengambil napas dalam...... Memasukkan jari telunjuk kanan sejauh mungkin ke dalam rektum. Keterangan: 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Banda Aceh. Kemudian membersihkan sisa jelly dengan tissue Memberikan informasi hasil pemeriksaan dan follow up lebih lanjut Skor 1 2 c. massa intra lumen (ada/tidak) Palpasi Kelenjar Prostat : Ukuran.

2003.. 1998. 2005. 2007. Vasavada SP..D et all.. 9th Ed. M. Bickley LS. 2000. Philadelphia : Lippincot Williams & Wilkin Despopoulos A. WB Saunders Co. Errol MD...). INFOMEDIKA : Jakarta. Norwitz. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. 2001. 5th Ed.. Bates. PhD. Blackwell Science Ltd : Osney Mead-Oxford. Swartz. 2005. Willms J. 7th Ed. Retik AB. Purnomo. Sttugart : New York. McAninch JW (eds. 2006. Thieme. Obsterics and Gynecology at a Glance. Vaughan ED. Kidney. L. Tanagho EA.. Sulbernagl S.MH. Salt & Water Balance : Color Atlas of Physiology. 2002. 2003. Walsh PC. 40 . CV. Edisi IV : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Bagian Penyakit Dalam FKUI. 15th Ed. Dasar-Dasar Urologi. B. Buku Ajar Diagnostik Fisik. and Voiding Dysfunction. Smith’s General Urology. Wein AJ I (eds. FKUI : Jakarta.). Basuki. R. Lange Medical Books / McGraw-Hill. Urogynecology. Female Urology. Maecel Dekker : New York. Campbell’s Urology. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta. Guide to Physycal Examination and History Taking. Diagnosis Fisik Evaluasi : Diagnosis & Fungsi di Bangsal.

Computed Tomography Scanning (CT Scan) 10. Urethography 6. 41 . Cystography 7. Caversonography 8. BOF ( Buik Overzicht Film) 3. Magnetic Resonance Imaging (MRI) 11. BNO (Buik Nier Overzicht) 2. radioisotop. Retrogade Pyelography (RPG) 5. FOTO POLOS ABDOMEN Foto abdomen yang dibuat tanpa pemberian bahan kontras. Masing-masing teknik mempunyai kelebihan dan kekurangan dalam pencitraan atau pembangkitan image (gambar) dari saluran kemih. Plain Photo Abdomen. 1. KUB ( Kidney Ureter Bladder) 4. Kedokteran Nuklir (Renogram) 12. Nama lain dari foto ini adalah : 1. Ultrasonography (USG) 9. Pendahuluan Radiologi yang khusus mempelajari traktus urinarius dengan berbagai teknik imaging baik menggunakan sinar x. Foto Polos Abdomen 2. Modalitas radiologi untuk traktus urinarius antara lain adalah : 1. frekuensi radio dalam medan magnet. Foto Iktisar Rongga Perut 5. UROLOGIC RADIOLOGY Tujuan Belajar Mahasiswa mampu menganalisa hasil foto plain foto BNO dengan baik dan benar. Antegrade Pyelography (APG) 4. Angiography.5. Intravenus Pyelography (IVP) 3. gelombang suara maupun gelombang elektromagnetik lainnya dalam usaha menampilkan citra atau image dari tractus urinarius tersebut.

foto dibuat tanpa persiapan dari penderita dengan konskwensi beberapa kelainan mungkin tidak terlihat pada film. batas atas film: harus tampak permukaan atas ginjal. diberikan Laxatian (obat pencahar) seperti: garam inggris atau magnesium Sulphat (MgSo4) 25-30 gram. penderita makan bubur kecap.  Dua hari sebelum pemeriksaan. dapat pula dilakukan Clysma/lavement jika masih ada keraguaan terhadap kebersihan usus  Cegah aerophagi dengan cara penderita diminta tidak banyak bicara/ketawa dan tidak boleh merokok. seluruh lapangan abdomen tampak pada film (batas bawah film: harus tampak petrmukaan atas simphisis pubis. maka penderita sudah tidak boleh makan apa-apa lagi dan hanya boleh minum sedikit saja sampai selesai pemeriksaan besok pagi.  Satu malam sebelum foto.00).  Pagi hari sebelum dilakukan pemeriksaan. Persiapan Penderita  Prinsipnya adalah usus harus bersih. 42 .Identitas penderita: nama. proyeksi AP.  Setelah minum Laxan (kurang lebih pada jam 21. bebas dari fecal material dan udara yang banyak didalam usus yang akan menggangu interpretasi hasil. . tablet Dulcolax 2-4 tablet atau dapat pula Castor olie 30cc. umur.Tidak ada rotasi: Columna vertebralis harus ditengah film dengan pressus spinosus ditengah vertebra. . Pada keadaan tertentu. jenis kelamin dan tanggal pemeriksaan harus ada. Pelvis dan iliac wing kanan/kiri tampak simetris.Data teknis : marker R atau L harus ada. Evaluasi Foto Polos Abdomen .batas lateral film: bayangan abdomen tidak terpotong). bebas dari fecal mass dan udara yang banyak. hasilnya diinterpretasi.Foto akan memberikan hasil yang optimal apabila penderita dipersiapkan terlebih dahulu supaya foto bersih.  Kemudian dibuat foto polos abdomen.

mulai dari setinggi V T. kanan relatif lebih kecil dari kiri c. b.Garis Psoas ( psoas line atau psoas shadow). kecuali pada anak-anak (sebab selalu menelan udara). Pada usus halus tidak boleh ada bayangan udara. c. Letaknya : kanan lebih rendah dari kiri d.Daerah vesica urinaria/ simphisis. maka bayangan udara hanya terlihat pada fudus ventriculi (gaster).3 ½ vetebra. Distribusinya: sesuai dengan topografi/letak bagian bagian usus/kolon. petanda ada suatu proses abdomen. orang tua lanjut usia (>60 tahun).Bayangan kalsifikasi atau batu Jika ada bayangan kalsifikasi/batu. Bayangan urine didalam vesica urinaria tampak lebih dens dan jika urine sangat penuh akan memberikan gambaran ground glass appearance. bentuknya. sedangkan bayangan udara usus halus terdistribusi di bagian tengah abdomen. . . 43 . hanya berupa suatu distended abdomen. jika bayangan psoas menghilang. Jumlahnya: tidak meningkat. tetapi belum tampak gambaran air fluid level (tanda-tanda ileus).Hepar dan Lien Membesar atau tidak . Pada abdomen yang normal. Aksisnya : sejajar dengan psoas shadow . .- Evaluasi bagian-bagian foto: .Ginjal a. d. Ukurannya : kurang lebih 3. Countournya : rata b.Gambaran udara usus a. Bayangan udara kolon tampak seperti bingkai foto (Frame like appearance) segi empat sesuai letak anatomi colon. sebutkan jumlahnya. tetapi juga tidak boleh berlebihan. Harus jelas dan simetris. bulbus duodeni dan colon. Bila telihat banyak bayangan udara didalam colon atau usus halus. 12 dan berakhir pada crista iliaca. maka keadaan ini disebut meteorismus atau sub-ileus. ukurannya dan lokasinya.

Pedicle : harus tampak. Gambar 1. ada tidak osteofite. INTRAVENOUS PYELOGRAPHY (IVP) Nama lain adalah: . a.- - - Pre.peritoneal fat line Harus terlihat. Diafragma (jika terlihat) Diafragma kanan letaknya lebih tinggi dari diafragma kiri. Vertebrae. b.Excrerory Urography (EU) . ostelitic atau osteoblastic proses.Pyelografi intravena (PIV) Pemeriksaan radiology terhadap ginjal. c. 44 . Diskus intervertebralis: harus sama jaraknya. ureter dan buli-buli dengan menggunakan bahan kontras larut air (Water Soluble media) yang diinjeksikan melalui intravena untuk menilai bentuk anatomi dari ginjal dan salurannya dan menilai fungsi ekskresi dari ginjal. bila menghilang: tanda metastasis tumor ganas ketulang belakang. berupa gasis radioluscent pada dinding abdomen lateral kanan dan kiri yang makin kebawah makin menebal. Corpus vetebra : bentuknya. Foto Polos Abdomen 2.

Foto 15 menit .Persiapan penderita sama seperti pada foto polos abdomen (BNO) . jika konsentrasi dan ekskresi bahan kontras pada 1-8 jam.Foto 30 menit . ANTEGRADE PYELOGRAPHY (APG) Menilai anatomi tractus urinarius bagian atas dengan menggunakan media kontras yang dimasukkan melalui kateter cystostomi.Dibuat foto empat-lima menit setelah injeksi bahan kontras. 45 . Teknik: . IVP 3. .Dibuat foto pendahuluan atau foto control (BNO) sebelum diinjeksikan bahan kontras.Indikasinya: Setiap kecurigaan adanya kelainan dari tractus urinarius. dibuat foto dalam posisi berdiri (erect) Gambar 2.Jika ada kecurigaan ren mobilis.Foto terlambat. . .

4. RETROGRADE PYELOGRAPHY (RPG) Menilai anatomi traktus urinarius bagian atas dengan menggunakan media kontras melalui kateter yang dimasukkan kedalam lumen ureter melalui cystoscopy. Uretro-cystography 46 . Memasukkan larutan bahan kontras kedalam lumen urethra hingga vesica urinaria. RPG 5. Gambar 3. kemudian dibuat foto proyeksi AP. URETHRO-CYSTOGRAPHY. Oblique kanan. Gambar 4. Oblique kiri dan Lateral.

A B Gambar 6. irisan ureter (B) dan irisan setinggi buli-buli (C) Tanda panah menunjukkan ureter yang telah terisi bahan kontras. RENOGRAM Sebanyak 20-30 µCi dari 131 I.hippuran (suatu radiofarmaka) diinjeksikan intravena. kemudian radiasi dari ginjal penderita ditangkap oleh 2 detektor yang diletakkan pada punggung penderita setinggi ginjal kanan dan kiri. CT SCAN A B C Gambar 5. Renogram : (A) renogram normal (B) stenosis arteri renalis kiri 47 . Hasil ditampilkan berupa grafik seperti dibawah ini. 7.6. Irisan setinggi ginjal (A).

kemudian diinjeksikan bahan kontras.8. ANGIOGRAPHY Dengan teknik Seldinger. 48 . ujung cateter diarahkan ke dalam lumen arteri renalis.

makin ke bawah makin tebal Vertebrae : corpus vertebra. seluruh lapangan abdomen tampak pada filem (batas bawah filem: harus tampak permukaan atas symphysis pubis. batas lateral filem: bayangan abdomen tidak terpotong) Tidak ada rotasi : Columna vertebralis harus ditengah filem dengan processus spinosus di tengah vertebra.. 3./28 x 100% = 49 .. h. jika bayangan psoas menghilang... bentuk. Keterangan: 0 = tidak dilakukan Banda Aceh. aksis Daerah vesica urinaria/symphysis Bayangan kalsifikasi atau batu. pelvis dan iliac wing kanan/kiri tampat simetris Evaluasi bagian-bagian foto: Gambaran udara usus : jumlah.. batas atas filem: harus tampak permukaan atas ginjal.. a..... pedicle.. b. a...... e.... 2. c... mulai dari setinggi V T.. i... 4. letak. lokasi Pre-peritoneal fat line : terlihat garis radioluscent dinding abdomen lateral kiri-kanan. f.. jika ada: jumlah..2012 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Instruktur % Cakupan penguasaan keterampilan: Skor total . discus intervertebralis Diafragma (jika terlihat) : bentuk.. pertanda ada suatu proses abnormal Ginjal : kontur. Aspek yang Dinilai Persiapan penderita Evaluasi teknis Data teknis : marker R atau L harus ada.. d. letak Menyimpulkan hasil pembacaan foto 0 Skor 1 2 b..Cheklist Urologic Radiology No 1.. ukuran.... ukuran...12 dan berakhir pada os ilium. distribusi Hepar dan Lien : membesar atau tidak Garis Psoas (psoas line atau psoas shadow) : harus jelas dan simetris.... g..

auskultasi. dalam meminta informasi pada pasien anda. anda “bukan sebagai penyidik perkara”. Anamnese. Diharapkan perasaan yang tersembunyi didalam dirinya yang menyangkut tentang rahasia penyakitnya. diet. maupun Riwayat Sosialnya. Pekerjaan ini dilakukan melalui wawancara (anamnese) dengan pasien atau keluarganya. yang terdiri dari Allonamnese dan Heteroanamnese.lain sesuai dengan kebutuhannya. menggunakan kata-katanya sendiri. laboratorium klinik. KOMUNIKASI KASUS SENSITIF Anamnese Pasien menggunakan Ketrampilan Komunikasi untuk Kasus Sensitif Dalam Diagnosis Fisik Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan teknik komunikasi dengan menggali & mengumpulkan informasi seluas mungkin mengenai perjalanan alamiah penyakit yang bersifat sensitif. sehingga mau bekerja sama untuk melaksanakan pengobatannya. perkusi. Alloanamnese dilakukan melalui tatap muka antara anda sebagai dokter dengan pasien anda (klien medik). Tulisan ini hanya membicarakan tentang Anamnese terhadap kasus sensitif dalam sistem Diagnostik Fisis. yaitu usaha untuk mencari dan mengetahui riwayat penyakit pasien. istirahat. II. Rahasia penyakit pasien dapat 50 . Anda dituntut menjadi pendengar yang baik. palpasi.6. dengan urutan pemeriksaan sebagai berikut : anamnese. Dalam melakukan Diagnosis Fisik terhadap pasien atau kliennya. Pasien harus diberikan waktu yang cukup untuk menjelaskan riwayat penyakitnya. Dokter dituntut punya ketrampilan dalam melakukan komunikasi dan mampu memotivasi pasiennya. roentgen. yaitu pemeriksaan melalui. EKG. baik keadaan sekarang. sehingga waktu penyembuhan menjadi lebih singkat. sehingga berlangsung secara efektif & efisien I. dan lain. keluhannya. kalau perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan tambahan. riwayat penyakit masa lalu.

mungkin juga saudaranya.terungkap juga melalui ekspresi wajahnya (wajah sebagai media ekspresi perasaan). yaitu: 1. manusia menjadikan wajahnya sebagai media ekspresi perasaan. maka perlu diadakan cross-check terhadap hasil wawancaranya dan perlu konsistensi jawaban yang diberikan. antara lain gerak-gerik anggota tubuh. yang seluruhnya sangat tergantung dari tingkat partisipasi. suara terengah-engah. kata-katanya yang digunakannya. Pada pasien anak. Saluran Komunikasi Perasaan.. sampai mencapai titik klimak. Dokter harus mampu mengorek keterangan-keterangan khusus dari penderita tentang perjalanan penyakitnya. Audible. 2. merupakan saluran pernyataan emosi melalui bahasa dari pralinguistik. ruang antar pribadi. 3. pada pasien dewasa termasuk teman dekatnya. merupakan saluran pernyataan emosi berupa “tanda” yang memancar dari dari fungsi gerakan-gerakan tubuh. Dittman mengatakan ada 3 saluran yang digunakan untuk menyatakan perasaa. 51 . penyuaraan. malalui wawancara malalui orang ketiga (orang lain). Contoh. Pertanyaan yang diajukan makin lama makin mendalam. sebagian kecil manusia juga menyatakan perasaan melalui perilaku non verbal lainnya. maka orang tuanya yang di wawancarai. Data yang diperoleh belum tentu valid. yaitu orang-orang yang mengetahui banyak hal ihwal dan perjalanan penyakit si penderita. Pycho-psysiological. Kemudian lanjutkan lagi wawancara anda kepada pertanyaan-pertanyaan terbuka dan santai. mungkin si anak tidak mampu berkomunikasi dengan baik tentang masalah penyakitnya. Heteroanamnese. adalah keterangan tentang perjalanan penyakit pasien. merupakn saluran pernyataan emosi melalui tampilan raut wajah dan gerakan anggota tubuh. memukul-mukul kepala (gambaran ketakutan dan kebingungan). situasi dan kondisi serta latar belakang kebudayaan komunikan (misalnya parasaan malu). semakin khusus. Visual. Dalam komunikasi ini anda jangan membuat pertanyaan dengan jawaban “ ya atau tidak” Menurut Dittman.

sama cara melakukan anamnese biasa. ANAMNESIS KASUS SENSITIF Anamnesis kasus sensitif meliputi anamnesis yang menyangkut informasi yang berkaitan dengan hal-hal yang tabu. walaupun informasi tersebut sangat membantu dokter dalam menegakan diagnosisnya.Pada dasarnya heteroanamnese tidak jauh berbeda dengan anamnese biasa. (pasien tidak berterus terang) dokter enggan untuk menggali informasi lebih lanjut. Heteroanamnese banyak digunakan pada pasien anak-anak dan pasien gangguan jiwa. Dokter maupun pasien sering akan mendapat kesulitan dalam berkomunikasi. Tahapan-tahapan dalam melakukan heteroanamnese. sehingga dalam memberi diagnosis tidak tetap. III. berkaitan dengan hubungan organ seksual. ialah keluarga atau orang terdekat dengan kliennya dan yang bersangkutan mengetahui benar tentang data penyakit si klien tersebut. sehingga pasien sangat enggan memberikan informasinya. dimana si pasien tidak mengemukakan semua keluhannya atau tanda-tanda penyakit yang dideritanya. bagaimana hubungan antara pasien dengan sipemberi informasi. Pasien dalam menjawab pertanyaan dokter menggunakan bahasa isyarat yang tidak dapat di mengerti oleh dokter. hal-hal yang tidak umum dibicarakan sehingga dapat menurunkan martabat pribadinya. Hal-hal diatas akan dapat merugikan kedua belah pihak. pekerjaan yang memalukan. Keadaan 52 . Hal ini diperlukan untuk kelengkapan data dan penegakan diagnosis yang tepat dan benar. yang perlu ditekankan identitas keduanya dicatat. perbuatan-perbuatan yang dilakukan klien melanggar agama atau melanggar kesusilaan. bagaimana kedekatannya sehingga keterangan yang didapat betul-betul akurat. dokter tidak mendapat informasi yang lengkap. Perbedaannya terletak orang atau individu yang di wawancarai atau individu yang diminta data atau keterangannya. maka terapinya juga tidak maksimal. Dalam pemeriksaan anamnese dokter meminta bantuan untuk dapat mendatangkan keluarga atau temannya si klien yang benar-benar tahu tentang keadaan si pasien.

nama keluarga. berbicara lirih. antara lain adalah. atau di bangsal. ataupun menggunakan istilah khusus. . meliputi : nama. penggunaan obat kuat untuk seksual dan sebagainya. pasien menggunakan bahasa non verbal. umur. pernah menggunakan narkoba. alamat tempat tinggal. terutama pada wanita yang belum kawin ataupun kawin dini. Sering juga pasien segan menyebutkan umur yang sebenarnya.ini akan menimbulkan biaya pengobatan menjadi lebih tinggi dan masa penyembuhan penyakit menjadi lebih lama. baik sebagai orang tuanya yang mengantar anaknya dengan retardasi mental. Hal ini menjadi lebih sensitif atau menjadi lebih peka apabila menyangkut pertanyaan tentang organ kelamin. Keadaan ini juga menunjukkan sifat terbuka atau tertutup dari si pasien. minta hanya ditulis umur dewasa. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan anamnesis pada kasus sensitif. Sejak pasien masuk keruang periksa dokter. Doker harus berprasangka ada sesuatu yang disembunyikan pasiennya. cara memperoleh penghasilan tambahan dan sebagainya. keturunannya. pangkat dan keturunannya. keengganan pasien mengungkapkan hal-hal yang tabu. Dokter sudah harus siap dengan yang berkemungkinan terhadap hal-hal yang sensitif.Identitas Penderita Komunikasi antara dokter dengan pasien berlangsung sejak bertemu pertama di kamar dokter. teman sekantor. Identitas yang diperlukan. timbul sambung rasa awal sampai akhir pelaksanaan anamnesis. kemampaun seksual/impotensi. pekerjaan. pernah di rawat di rumah sakit jiwa. teman berkencan. seharusnya dokter sudah harus mengetahui kemungkinan akan adanya hal-hal yang sangat sensitip dari si pasien maupun dari pengantar pasien. pernah menggunakan jasa paranormal. pernah di penjara. pasangan muda-mudi yang belum menikah. ada rasa malu. serta data pribadi lainnya misalnya teman sekamar. sehingga si pasien sering memberi nama samarannya dan enggan memberikan nama lengkap serta pekerjaannya atau kedudukannya. 53 . Nama seseoang dapat menjelaskan tempat asalnya. sangsi-sangsi dalam mengutarakan keluhannya. pernah mengunjungi tempat prostitusi.

apakah suka 54 . terlihat adanya sikap malu-malu dari si pasien. mampu berkomunikasi yang baik dan pasien tidak boleh dihakimi. tetapi dapat sebaliknya. mungkin juga menggunakan istilah khusus untuk bagian badannya yang tabu (organ kelamin).Cara melakukan anamnese Hambatan komunikasi. wanita penghibur. pemulung dan sebagainya. Dokter harus dapat menunjukkan sikap formal sebagai dokter. pasien berbicara lirih atau sangsi-sangsi melihat kiri kiri kanan seakan-akan rahasianya kurang terjamin karena kamar praktek dokter tidak tertutup rapat. berwibawa dan sopan.Alamat yang disembunyikan si pasien. Kalau si dokter telah memutuskan menghadapi pasien dengan kasus sensitif. ruang praktek juga terjamin kerahasiaannya. mampu memperhatikan bahasa non verbal. pekerja diskotik. Untuk mendapat yang konkrit. dokter punya sifat terbuka. data yang diberikan pasien betul-betul untuk kelengkapan informasi medis. duda. kampung muslim/perumahan elite yang bersangkutan merasa malu atau kampungnya tercemar karena ulahnya. kotor. untuk lebih akuratnya diagnosis dan pengobatannya yang diberikan dokter. Si pasien memberi alamat lain atau menyebutkan tinggal di sekitar atau seputar terminal. berkaitan dengan desanya/kampungnya terkenal kampung kambuh. dokter sudah harus mampu mengetahui atau mengidentifikasi sejak awal. karena pekerjaannya kurang wajar. misalnya kawin sudah berkali-kali. lelaki penghibur. banyak pemuda nakal dan sebagainya. Dokter harus mampu memberikan keyakinan pada pasien. Perhatikan pola pasien dalam berkomunikasi. . sikap pasien yang berusaha untuk menutupi informasi. bahasa ini dapat lebih jujur dalam menyuarakan isi hati. maka dokter haruas mampu menyakinkan rahasia yang disampaikan pasien cukup terjamin. Informasi tentang pekerjaan sering juga di sembunyikan. misalnya mucikari. atau status pisah ranjang dan sebagainya termasuk dalam hal yang sensitif. Mengatasinya sejak terjalinnya sambung rasa. Status perkawinan pasien juga merupakan hal yang sensitif. Hal-hal diatas memperlihatkan sebagai suatu isyarat bahwa pasien mempunyai masalah yang berkaitan dengan hal-hal yang sensitif. Dokter harus serius dalam mendengar keluhan pasien. status janda.

tetapi jelaskan tentang penyakit tersebut dapat diobati. sehingga waktu pengobatan menjadi lebih singkat. Dokter pria sangat sulit mendapat informasi dari pasien perempuan kalau menyangkut informasi tentang kelainan yang menyangkut organ kelamin. Istilah tersebut harus di mengerti si dokter. juga sebaliknya kalau dokter perempuan dengan pasien laki-laki. Penguasaan bahasa non verbal dari dokter sangat diperlukan yaitu membantu dokter dalam menangkap semua informasi yang di sampaikan si pasien. . Dokter harus menyampaikan pada pasiennya informasi dari si pasien sangat diperlukan untuk mampu menegakkan diagnosa. Gunakan pertanyaan terbuka. Istilah-istilah diagnostik kedokteran. malahan pasien orang dewasa juga tidak dapat menerima. barangkali untuk menjaga proses komunikasi yang baik dengan pasiennya. dalam anamnese keluhan sensitif harus di kuasai oleh dokter. retardasi mental dengan kurang tanggap atau kurang perhatian. Orang tua barangkali mengatakan anaknya kena penyakit santet atau kena guna-guna disetai kejang. Dokter sebaiknya menjelaskan perjalanan penyakit tersebut dengan bahasa yang di mengerti si pasien. pengobatan yang tepat. tetapi dokter harus mampu menjelaskan pada kliennya tentang segala resiko dari penyakit tersebut. misalnya penyakit TBC dikenal dengan istilah flek paru. atau suka berbelit-belit dan sebagainya. Istilah atau bahasa-bahasa yang sering dipakai masyarakat. Dalam wawancara jangan dokter bertindak menebak informasi dari si kliennya. juga sering bermasalah. Kalau informasi tidak lengkap dokter harus melengkapi pada kunjungannya yang berikutnya. epilepsi dengan sawan/santet. Dokter tidak boleh memvonis si pasien dengan sakit epilepsi atau ayan. kalau di diagnosa sawan atau epilepsy. pasien anak yang dibawa orang tuanya. biarkan pasien menjawab dengan bebas.Penggalian riwayat penyakit dengan kasus sensitif 55 . tetapi harus kontrol dan makan obat yang teratur. gonorhoe dengan istilah flek alat kelamin. biasanya pasien tidak merasa senang bila ditebak. apalagi kalau pengobatannya tidak benar karena dokter tidak mendapat informasi yang benar dari si pasien. kecuali bila melakukan cross-check.berbicara terus terang.

Permohonan pemeriksaan bagian tubuh yang dianggap sensitif Sebagai kelanjutan dari anamnese. semua informasi untuk membantu menegakkan diagnostik penyakitnya. dubur dan sebagainya. untuk itu si pasien diajak terus berbicara ringan untuk mengalihkan perhatian si pasien . untuk kesembuhan penyakitnya. HIV/AIDS dan lainlain. barangkali dapat menyinggung perasaan pasien. Dokter sangat mengharapkan keterbukaan pasien sehingga ada kerelaan si pasien dalam memberikan informasi. Penyakit yang masuk dalam kelompok ini antara lain. kasus-kasus depresi. . Dokter harus mampu menggunakan bahasa yang dipakai masyarakat tentang istilah penyakit tersebut. sehingga pengobatan tetap sasaran. dokter perlu memeriksa bagian tubuh tertentu dari pasien yang merupakan daerah tubuh yang dianggap sangat sensitif oleh si pasien. TBC dll.Penyampaian diagnosis kasus sensitif Dalam menginformasikan prognosis penyakit pada si pasien. deviasi seksual (lesbian. penyakit kelamin. gangguan seksual. harus di anamnesis dengan hati-hati. waktu penyembuhan/perawatan menjadi singkat. terutama penyakit-penyakit yang sensitif dan stressor. memotivasi pasien dengan baik. Yang termasuk kelompok penyakit sensitif. Dokter harus memberikan penjelasan yang tepat dan pasien harus memberikan persetujuan sebelum tindakan dilaksanakan. yang meliputi organ vital/kelamin. epilepsi. kelompok penyakit kelamin. tidak mengganggu perasaan pasien. mammae.Penyampaian informasi kasus sensitif Dokter harus mampu berkomunikasi. Dokter harus mampu menyakinkan pasien. Apabila sudah terjalin sambung rasa yang mantap. beritahukan juga kadang kala pemeriksaan ini menimbulkan rasa sakit. antara lain retardasi mental. epilepsi. anak retardasi mental. semua informasinya adalah kerahasiaan pasien. gangguan jiwa. . dokter seharusnya mengetahui tingkat sensitivitas pasien dalam menerima diagnostik penyakitnya. homoseksual). Ajak 56 .Usaha untuk mengetahui riwayat penyakit yang diderita pasien. biasanya pasien akan mampu menerima dan mau melakukan dengan rela apa yang diminta dokter.

Konselor (dokter) harus mempunyai sifat kepekaan dalam menerima dan memberi informasi dan penjelasan yang baik pada kasus-kasus sensitif. jelaskan bagaimana kemungkinan terifeksinya dan karena adanya perselingkuhan. Hindari hal-hal yang dapat mencetuskan keributan dalam keluarga atau pasangan suami isteri yang berkaiatan dengan terinfeksinya salah seorang dari mereka dengan infeksi penyakit kelamin. juga dapat terjadi karena proses pertumbuhan janin dalam kandungan. Dengan pemberian informasi yang jelas serta tidak menyinggung perasaan dan tidak mengganggu pola sentra si pasien diharapkan menimbulkan ketentraman dalam keluarga si pasien. penyakit ini bukan karena faktor keturunan saja. 57 .pasien mau berdiskusi tentang penyakit yang dideritanya. dengan harapan pasien dapat membantu dalam menyelesaikan masalahnya. tetapi juga dapat disebabkan faktor eksternal diluar kemampuan suami-isteri. Kasus anak dengan retardasi mental. misalnya terkena infeksi gonorhoea.

Allyn and Bacon 58 . Jakarta. EGC Alo Leliweri. Bandung. Eresco M. EGC Parsons. Bandung. RD (1994) Counseling Strategies And Intervention Techniques For The Human Services. Boston. EGC Gerungan. Citra Aditya Bakti Delp & Manning (1996) Diagnosis Fisik.Daftar Pustaka Adams. (1997) Komunikasi Antarpribadi. Jakarta. Jakarta. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan. (1995) Diagnosis Fisik.Jusuf Hanafiah & Amri Amir (1999). WA (1994) Psikologi Sosial.

Melakukan cross check . ramah. 3. 59 . Keterampilan menggali dan mendiskusikan hal yang sensitif : . berwibawa 4.Penampilan baik.Memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami terhadap hal-hal yang bersifat sensitif 0 1 2 2. Aspek yang dinilai Aspek keterampilan komunikasi : Membina sambung rasa .Menyebutkan nama pasien pada awal anamnesis Keterampilan mengumpulkan informasi : .Meyakinkan kerahasiaan data tersebut .Mampu mencatat/mengutarakan kembali secara sistematis & benar Keterampilan menjaga proses anamnesis : .Cheklist Skill Penilaian Komunikasi Kasus Sensitif Skor No I 1.Memperlihatkan sikap menerima .Mengajukan pertanyaan yang tepat .Menggunakan bahasa verbal yang dipahami dan non verbal .Mempersilahkan duduk .Menunjukkan empati .Menjelaskan kepentingan penggalian data yang sensitif .Menjadi pendengar yang baik .

60 .. Menggali riwayat penyakit dahulu ....Menanyakan alamat dan pekerjaan 6.Letaknya .. ....Penyebaran ...Sistem lain yang ada Keterangan Banda Aceh.Keluhan sistem yang berkaitan dengan keluhan utama .... Menanyakan keluhan utama 7. umur ..Akibatnya .Menanyakan apakah ada anggota keluarga/tetangga yang sakit serupa 10....Lama diderita .... Menggali riwayat penyakit sekarang : .2011 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Cakupan penguasaan keterampilan : skor total /58 x 100% = % Instruktur II 5.Frekuensi . khususnya berkaitan dengan keluhan .. Menggali penyakit keluarga dan lingkungan .Pengobatannya 8.Kapan mulai .Sifat .Penyakit lain yang pernah diderita 9.Menanyakan nama.Ada/tidaknya penyakit sebelumnya.Aspek keterampilan menggali informasi : Menanyakan identitas : .. Melakukan anamnesis sistem .

Pemeriksaan fisik umum 2. PEMERIKSAAN FISIK ORTOPEDI  PEMERIKSAAN FISIK ORTOPEDI UMUM Pemeriksaan fisik pada penderita memerlukan beberapa prinsip pemeriksaan. Pemeriksaan fisik ortopedi regional 1. PEMERIKSAAN FISIK UMUM Pemeriksaan fisik ini dilakukan sebagaimana pemeriksaan fisik bidang kedokteran lainnya dan bertujuan untuk mengevaluasi keadaan fisik penderita secara umum serta melihat apakah ada indikasi penyakit lainnya selain kelainan muskuloskeletal. Pemeriksaan fisik ortopedi umum b. Teknik pemeriksaan secara alami bervariasi pada setiap individu. misalnya penderita yang memerlukan penanganan darurat 61 . Pemeriksaan dilakukan secara sistematik karena sebagian penderita yang datang adalah penderita yang sudah berumur dan biasanya mempunyai kelainan lain selain kelainan muskuloskeletal yang dikeluhkan. tahap demi tahap agar pemeriksaan tidak berulang. yaitu: 1. Pada bidang ilmu bedah ortopedi. Pemeriksaan fisik mempunyai arti yang penting dalam menguatkan data-data yang kita temukan dalam anamnesis dan sekaligus memberikan kepada kita pilihan terhadap pemeriksaanpemeriksaan khusus/tambahan lainnya yang perlu kita lakukan. PEMERIKSAAN FISIK MUSKULOSKELETAL Tujuan Belajar :  Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik muskuloskeletal secara benar & mampu mengaitkan dengan keadaan klinis pasien sehingga kemungkinan diagnosis dapat ditentukan.7. tetapi pada dasarnya dibutuhkan suatu pemeriksaan yang rutin atau baku. 2. pemeriksaan fisik pada dasarnya dibagi atas dua jenis. Pemeriksaan fisik ortopedi a. Pemeriksaan fisik juga disesuaikan dengan keadaan dan kondisi penderita.

Goniometer peralatan- 62 . Stetoskop 5. sehingga tidak cukup hanya dengan memeriksa pada tempat dengan keluhan utama. Meteran 8.1) Pemeriksaan bagian badan secara hati-hati.maka pemeriksaan fisik yang dilakukan seperlunya saja sesuai kebutuhan yang ada. Jarum kecil 3. Selalu menyiapkan perlengkapan pemeriksaan (gambar 4. saat penderita datang pada kita sudah merupakan suatu pemeriksaan awal menyeluruh secara sambil lalu dengan melihat postur dan cara berjalan penderita. Status generalis Dalam pemeriksaan ortopedi secara umum. Tetapi harus diingat bahwa keluhan pada satu tempat mungkin akibat dari kelainan pada tempat lain. Kapas 2. Anggota gerak yang sehat diperiksa dan harus terbuka Jangan memeriksa secara tergesa-gesa dan hadapkan muka pemeriksa ke muka penderita untuk memberikan kepercayaan. Untuk pemeriksaan muskuloskeletal diperlukan peralatan: 1. 1. Pensil untuk kulit (marker) 7.  Pemeriksaan kemungkinan nyeri kiriman dari sumber di tempat lain (referred pain) Prinsip-prinsip dasar pemeriksaan ini terdiri atas:       Perlu cahaya yang baik atau terang dan bagian tubuh yang diperiksa tidak tertutup atau telanjang. sistematik dan terarah Periksa tempat lain yang mungkin ada hubungannya Pemeriksaan secara cepat di daerah lain yang mungkin ada hubungannya untuk menegakkan diagnostik. Refleks hammer 6. Pemeriksaan bagian dengan keluhan utama yang dikeluhkan dilakukan secara teliti. Senter saku 4. Pemeriksaan fisik ortopedi yang dilakukan meliputi:  Pemeriksaan bagian dengan keluhan utama.

proporsi tinggi badan terhadap anggota tubuh lainnya. cara duduk dan cara tidur. cara berjalan. kecemasan serta reaksi emosional lainnya untuk melihat aspek-aspek emosional dan somatis dari penderita. raut muka.Pemeriksaan fisik sebenarnya sudah dimulai ketika penderita datang ke dokter dengan mengamati penampakan umum penderita. Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang paling penting di dalam memperkuat penemuan-penemuan yang berhasil kita dapatkan dari riwayat / anamnesis yang telah kita buat dan menambah atau mengurangi pilihan diagnosis yang dapat kita lakukan. cara berjalan dan tingkah laku. 63 . keadaan simetris bagian tubuh kiri dan kanan. ekspresi wajah.

2. Status Lokalis Pemeriksaan dilakukan secara sistematis dengan urut-urutan sebagai berikut:  Insoeksi (Look)  Palpasi (Feel)  Kekuatan otot (Power)  Penilaian gerakan sendi baik pergerakan aktif maupun pasif (Move)  Auskultasi  Uji-uji fisik khusus

Inspeksi (Look) Inspeksi sebenarnya telah dimulai ketika penderita memasuki ruangan periksa. Pada inspeksi secara umum diperhatikan raut muka penderita, apakah terlihat kesakitan. Cara berjalan sekurangkurangnya 20 langkah, cara duduk dan cara tidur. Inspeksi dilakukan secara sistematik dan perhatian terutama ditujukan pada: a. Kulit, meliputi warna kulit dan tekstur kulit. b. Jaringan lunak, yaitu pembuluh darah, saraf, otot, tendo, ligamen, jaringan lemak, fasia, kelenjar limfe. c. Tulang dan sendi. d. Sinus dan jaringan parut :  Apakah sinus berasal dari permukaan saja, dari dalam tulang atau dalam sendi.  Apakah jaringan parut berasal dari luka operasi, trauma atau supurasi Palpasi (Feel) Yang perlu diperhatikan pada palpasi adalah: a. Suhu kulit, apakah lebih panas/dingin dari biasanya, apakah denyutan arteri dapat diraba atau tidak. b. Jaringan lunak; palpasi jaringan lunak dilakukan untuk mengetahui adanya spasme otot, atrofi otot, keadaan membran sinovia, penebalan membran jaringan sinovia, adanya tumor dan 64

c.

d.

e.

f.

sifat-sifatnya adanya cairan di dalam/di luar sendi atau adanya pembengkakan. Nyeri tekan; perlu diketahui lokalisasi yang tepat dari nyeri, apakah nyeri setempat atau nyeri yang bersifat kiriman dari tempat lain (referred pain). Tulang; diperhatikan bentuk, permukaan, ketebalan, penonjolan dari tulang atau adanya gangguan di dalam hubungan yang normal antara tulang yang satu dengan lainnya. Pengukuran panjang anggota gerak; terutama untuk anggota gerak bawah dimana adanya perbedaan panjang merupakan suatu hal yang penting untuk dicermati. Pengukuran juga berguna untuk mengetahui adanya atrofi/pembengkakan otot dengan membandingkannya dengan anggota gerak yang sehat. Penilaian deformitas yang menetap; pemeriksaan ini dilakukan apabila sendi tidak dapat diletakkan pada posisi anatomis yang normal.

Kekuatan Otot (Power) Pemeriksaan kekuatan otot penting artinya untuk diagnosis, tindakan, prognosis serta hasil terapi. Penilaian dilakukan menurut Medical Research Council dimana kekuatan otot dibagi dalam grade 0-5 (gambar 4.2), yaitu: Grade 0 Grade 1 : Tidak ditemukan adanya kontraksi pada otot : Kontraksi otot yang terjadi hanya berupa perubahan dari tonus otot yang dapat diketahui dengan palpasi dan tidak dapat menggerakkan sendi : Otot hanya mampu menggerakkan persendian tetapi kekuatannya tidak dapat melawan pengaruh gravitasi : Di samping dapat menggerakkan sendi, otot juga dapat melawan pengaruh gravitasi tetapi tidak kuat terhadap tahanan yang diberikan oleh pemeriksa : Kekuatan otot seperti pada grade 3 disertai dengan kemampuan otot terhadap tahanan yang ringan : Kekuatan otot normal

Grade 2 Grade 3

Grade 4 Grade 5

65

Pergerakan (Move) Pada pergerakan sendi dikenal dua istilah yaitu pergerakan yang aktif merupakan pergerakan sendi yang dilakukan oleh penderita sendiri dan pergerakan pasif yaitu pergerakan sendi dengan bantuan pemeriksaan. Pada pergerakan dapat diperoleh informasi mengenai: a. Evaluasi gerakan sendi secara aktif dan pasif  Apakah gerakan ini menimbulkan rasa sakit.  Apakah gerakan ini disertai dengan adanya krepitasi. b. Stabilitas sendi Terutama ditemukan oleh integritas kedua permukaan sendi dan keadaan ligamen yang mempertahankan sendi. Pemeriksaan stabilitas sendi dapat dilakukan dengan memberikan tekanan pada ligamen dan gerakan sendi diamati. c. Pemeriksaan ROM (Range of Joint Movement) Pemeriksaan batas gerakan sendi harus dicatat pada setiap pemeriksaan ortopedi yang meliputi batas gerakan akti dan batas gerakan pasif. Setiap sendi mempunyai nilai batas gerakan normal yang merupakan patokan untuk gerakan abnormal dari sendi. Di kenal beberapa macam gerakan pada sendi, yaitu: abduksi, adduksi, ekstensi, fleksi, rotasi eksterna, rotasi interna, pronasi, supinasi, fleksi lateral, dorso fleksi, plantar fleksi, inversi dan eversi. Gerakan sendi sebaiknya dibandingkan dengan mencatat gerakan sendi normal dan abnormal secara aktif dan pasif.

66

Auskultasi Pemeriksaan auskultasi pada bidang bedah ortopedi jarang dilakukan dan biasanya dilakukan bila ada krepitasi misalnya pada fraktur atau untuk mendengar bising fistula arteriovenosa.  PEMERIKSAAN FISIK ORTOPEDI REGIONAL

Beberapa Terminologi Dalam Ortopedi Untuk memudahkan pemahaman maka sebelum pemeriksaan regional ortopedi dibahas, akan dijelaskan terlebih dahulu beberapa terminologi yang sering digunakan dalam bidang ilmu bedah ortopedi, yaitu: 1. Terminologi dari gerakan sendi. ROM merupakan istilah baku untuk menyatakan batas/besarnya gerakan sendi dan sebagai dasar untuk menetapkan adanya kelainan atau menyatakan besarnya gerakan sendi yang abnormal. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, dikenal gerakan sendi aktif dan pasif sehingga penilaian ROM juga terbagi dua yaitu ROM pada gerakan sendi aktif dan ROM pada gerakan sendi pasif. 2. Terminologi klinik yang berpasangan dalam bedah ortopedi Abduksi dan Adduksi Gerakan abduksi dan adduksi dapat ditemukan pada sendi bahu, panggul, sendi metakarpo-falangeal dan metatarso-falangeal. Abduksi adalah gerakan yang menjauhi garis tengah tubuh. Adduksi adalah gerakan yang mendekati garis tengah tubuh. Pada tangan dan kaki, garis tengah terletak pada jari tengah tangan dan kaki (gambar 4.3).

67

Dorso Fleksi dan Plantar/palmar Fleksi Dorso fleksi adalah gerakan dari jari-jari kaki atau ibu jari kaki dengan arah permukaan ke dorsal sedangkan gerakan dorso fleksi pada jari-jari tangan dan pergelangan tangan juga terhadap permukaan dorsal. Plantar fleksi adalah gerakan pada jari kaki dan ibu jari kaki ke arah permukaan plantar kaki. Palmar fleksi adalah gerakan pada jari tangan kea arah permukaan palmar (gambar 4.4) Inversi dan Eversi Gerakan eversi dan inversi terjadi secara simultan pada sendi subtalar dan midtarsal kaki. Eversi adalah gerakan berputar permukaan plantar kaki ke arah luar terhadap tungkai bawah. Inversi adalah gerakan berputar permukaan plantar kaki ke arah dalam terhadap tungkai bawah (gambar 4.5)

68

7) serta pada kaki depan (forefoot) melalui sendi midtarsal.6) Pronasi dan Supinasi Gerakan pronasi dan supinasi terjadi pada anggota gerak lengan bawah melalui sendi siku dan sendi pergelangan tangan (gambar 4. Rotasi eksterna adalah gerakan berputar dari permukaan anggota gerak ke arah luar/lateral (gambar 4.Rotasi Interna dan Rotasi Eksterna Rotasi interna/rotasi media dan rotasi eksterna/lateral dapat terjadi pada sendi bahu. Rotasi interna adalah gerakan berputar dari permukaan depan anggota gerak ke dalam/ke medial. panggul dan sedikit pada lutut. 69 .

Terminologi beberapa deformitas pada anggota gerak Beberapa terminologi deformitas yang biasa dipergunakan di klinik pada deformitas sendi adalah: Deformitas Postural Deformitas postural adalah suatu deformitas yang terjadi karena kebiasaan sikap/posisi tubuh. Kalkaneus dan Ekuinus Deformitas ini hanya terjadi pada pergelangan kaki. Deformitas dinamik terjadi oleh karena aksi dari otot penderita sendiri dan biasanya terjadi akibat ketidakseimbangan otot. Pes kavus adalah lengkung telapak kaki meninggi dibandingkan dengan yang normal. Deformitas terfiksasi atau struktural adalah deformitas yang tidak dapat dikoreksi dengan bantuan secara pasif. Kombinasi antara 70 . Sedangkan ekuinus adalah deformitas pada kaki dalam keadaan fleksi plantar sehingga beban tubuh hanya ditopang oleh kaki bagian depan sewaktu menapak pada lantai (gambar 4. Deformitas ini dapat dikoreksi oleh aksi dari otot penderita sendiri.8) Kavus dan Planus Deformitas ini hanya terjadi pada kaki yang disebut sebagai pes kavus dan pes planus.3. Kalkaneus adalah deformitas pada kaki di mana telapak kaki dalam posisi dorso fleksi sehingga beban tubuh (weight bearing) hanya ditopang oleh tumit sewaktu menapak pada lantai.

misalnya torsi femoral eksterna dan torsi tibial eksterna. Disebut retroversi femoral bila lutut menghadap ke depan & leher femur mengarah ke posterior dalam derajat tertentu. aspek anterior dari bagian distal tulang berputar ke arah dalam/medial terhadap aspek anterior dari tulang proksimal misalnya torsi tibia interna atau torsi femoral interna.kalkaneus dan kavus disebut kalkaneokavus. Pes planus adalah hilangnya arkus kaki menjadi rata sehingga membentuk kaki yang disebut kaki ceper (flat feet) (gambar 4. Anteversi dan Retroversi Deformitas ini menjelaskan hubungan antara leher dan batang femur. Disebut anteversi femoral bila lutut menghadap ke depan dan leher femur mengarah ke depan dalam derajat tertentu.  Varus 71 . aspek anterior dari bagian distal tulang panjang berputar keluar/lateral terhadap aspek anterior bagian proksimal ini. Deformitas ini biasanya terjadi pada sendi atau tulang dekat sendi. Pada torsi eksterna.9) Torsi Interna dan Torsi Eksterna Deformitas ini menunjukkan adanya perputaran aksis longitudinal dari tulang dan biasanya ditemukan pada femur dan tibia. Pada torsi interna. Varus dan valgus Istilah varus dan valgus dipergunakan untuk angulasi abnormal dari anggota gerak.

o Koksa vara adalah berkurangnya sudut leher femur dan batang femur dari normal misalnya sudutnya 900 (normal = 1300) o Kubitus varus adalah berkurangnya sudut normal dari sendi siku (gambar 4.13) o Haluks varus adalah deformitas adduksi dari ibu jari kaki terhadap sendi metatarsofalangeal.11) o Talipes ekuinovarus o Deformitas ini terjadi bersama dengan deformitas plantar fleksi dari pergelangan kaki. Kombinasi ini misalnya pada ekuinus varus bawaan (gambar 4. 72 .12) o Matatarsus varus (metatarsus adduktus) Deformitas adduksi dari kaki depan terhadap kaki belakang (gambar 4.10) o Genu varum (bow legs) adalah lutut berjauhan apabila kaki berdekatan (gambar 4.Varus adalah angulasi secara imajiner yang menunjukkan lingkaran imajiner dimana penderita berada.

13) o Hip valgus adalah bertambahnya sudut antara aksis dari tungkai dan tumit dalam posisi eversi. o Kubitus valgus adalah bertambahnya carryin angle dari sendi siku (gambar 4. o Talipes kalkaneovalgus adalah deformitas eversi pada kaki disertai dengan kalkaneus atau deformitas dorsofleksi dan pergelangan kaki (gambar 4. 73 .14) o Haluks valgus adalah deformitas abduksi dari ibu jari kaki terhadap metatarsofalangeal.10) o Koksa valga adalah bertambahnya sudut leher dan batang femur melebihi normal (1300) misalnya 1700 o Genu valgum (knock knees) adalah bila lutut didekatkan maka kaki akan berjauhan (gambar 4.11) o Metatarsus abduktus adalah deformitas adduksi dari kaki depan terhadap kaki belakang (gambar. Valgus Valgus adalah angulasi secara imajiner yang tidak ada hubungannya dengan lingkaran imajiner dimana penderita ditempatkan.

pergelangan kaki dan jari-jari kaki 74 .PEMERIKSAAN REGIONAL Pemeriksaan ortopedi regional terdiri atas:  Pemeriksaan tulang belakang  Pemeriksaan leher dan vertebra servikalis  Pemeriksaan vertebra torakal dan lumbal  Pemeriksaan sendi bahu  Pemeriksaan lengan atas dan sendi siku  Pemeriksaan lengan bawah. pergelangan tangan dan jari-jari tangan  Pemeriksaan sendi panggul  Pemeriksaan lutut  Pemeriksaan tungkai bawah.

Pemeriksaan lokal leher disertai pemeriksaan neurologik dan servei vaskuler dari anggota gerak atas Inspeksi  Kontur tulang apakah terjadi deformitas  Kontur jaringan lunak  Warna dan tekstur kulit  Ada jaringan parut atau sinus Palpasi  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak Pergerakan  Fleksi-ekstensi 1300  Fleksi lateral 450  Rotari 800  Apakah ada rasa nyeri pada saat digerakkan  Apakah ada krepitasi bila digerakkan Status neurologik anggota gerak atas  Sistem muskuler  Sistem sensoris  Keringat  Refleks Status vaskuler anggota gerak atas  Warna  Suhu  Nadi 2. Pemeriksaan gejala yang bersifat simptomatik pada leher Gangguan pada leher dapat berasal dari kelainan pada telinga atau tenggorokan. Gangguan pada leher bisa akibat manifestasi klinis dari suatu penyakit sistematik. kelemahan otot atau gangguan sensibilitas pada anggota gerak yang bersangkutan. 3. siku atau saraf torakal bagian perifer. Kelainan pada vertebra sevikalis sering disertai dengan kelainan pada pangkal pleksus brakialis yang menyebabkan nyeri. Tabel 4.1. Pemeriksaan klinik rutin pada kelainan di daerah leher 1.. Pemeriksaan umum Pemeriksaan daerah bagian tubuh lainnya juga perlu dilakukan. Gejala pada anggota gerak atas melibatkan pleksus brakialis berupa gangguan pada bahu.PEMERIKSAAN TULANG BELAKANG  Pemeriksaan Leher dan Vertebra Servikalis Kelainan yang paling sering ditemukan pada leher adalah degenerasi vertebra servikalis dan osteoartritis sekunder pada diskus intervertebra servikalis yang dapat mengakibatkan prolapsus dari diskus dan spondilosis servikal. 75 .

Juga diperhatikan deformitas vertebra ke lateral atau rotasi. Gerakan fleksi dan ekstensi maksimal terjadi pada sendi oksipito-atlantoid. Nyeri ini menjalar ke lengan atas dan bawah pada satu jari atau lebih. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dalam keadaan penderita berdiri ataupun duduk. Perubahan kurva ini menjadi lurus atau melengkung kebelakang (kifosis) merupakan tanda adanya kelainan yang mencurigakan. Pemeriksaan Pada pemeriksaan leher.  Apakah ada trauma pada leher. Tekanan saraf pada daerah servikal memberikan gambaran klinis sesuai dengan distribusi sarafnya. Deformitas Kolumna vertebra servikalis biasanya sedikit lordosis ke depan. Besarnya pergerakan pada vertebra servikalis dapat dilihat pada tabel 4.Anamnesis Yang perlu ditanyakan pada anamnesis adalah:  Adakah hubungan antara gejala sekarang dengan keluhan pada leher sebelumnya. Pergerakan Gerakan pada leher yang diperiksa meliputi rotasi.  Nyeri pada anggota gerak atas harus diketahui sumbernya. fleksi lateral ke kanan /ke kiri. rasa kram atau rasa seperti tersusuk jarum di tangan. 76 . fleksi-ekstensi. Gejala saraf bisa berupa parestesia.  Apakah ada gejala kekakuan pada leher yang merupakan gejala awal prolapsus diskus intervertebra servikalis.15).1 yang ada (gambar 4. baju harus dibuka dan harus terlihat jelas bagian leher secara keseluruhan.

triseps (C7) dan brakioradialis (C6) dari lengan kiri dan kanan. Refleks yang ditemukan menentukan apakah ada gangguan neurologis dan jika ada apakah jenis upper motor neuron atau lower motorneuron dan asal dari akar atau cabang saraf (gambar 4. Pada kasus tertentu juga dilakukan uji sensibilitas stimulus yang dalam.  Sistem muskuler Otot bahu.  Refleks Pemeriksaan refleks otot dilakukan dengan membandingkan refleks biseps (C6). lengan bawah dan tangan harus diperiksa apakah ada kelemahan atau fisikulasi otot. rasa panas dan dingin. lengan atas.16) 77 .Pemeriksaan neurologik anggota gerak atas Pemeriksaan neurologik perlu dilakukan pada kelainan di daerah leher karena lesi pada daerah servikal sering menyebabkan gangguan pada pleksus brakhialis. posisi sendi. vibrasi.  Sistem sensoris Pemeriksasan sensibilitas penderita meliputi rasa raba dan tusuk. Pemeriksaan meliputi tonus dan kekuatan dari setiap otot dan membandingkannya dengan anggota gerak yang berlawanan. maka kita dapat memperkirakan lesi terjadi pada saraf yang mana sesuai dengan percabangan/distribusi dari saraf yang mengalami gangguan. Daerah lesi sesuai dengan distribusi saraf yang mengalami gangguan sehingga bila terdapat gangguan sensoris pada daerah tertentu.  Kelenjar keringat Keringat timbul bila terjadi hubungan serabut saraf sudomotor.

tenggorokan dapat menyebabkan rasa nyeri pada leher dan disebut nyeri kiriman (referred pain). Klasifikasi gangguan pada leher dan servikal  Tortikolis infantil  Kelainan bawaan leher  Kelainan bawaan skapula tinggi pendek Deformitas Artritis sendi spinal  Artritis reumatoid  Ankilosing spondilitis  Osteoartritis vertebra servikal (spondilosisi servikal) Gangguan mekanik  Prolapsus diskus intervertebralis  Kosta servikal  Spondilolistesis servikal  Tuberkulosis servikal  Infeksi piogenik vertebra servikal Tumor Infeksi tulang  Tumor jinak dan ganas yang ada hubungannya dengan vertebra servikal dan akar saraf 78 . kemudian bahu ditekan dan dilakukan rotasi pada kaput anggota gerak yang diperiksa. Untuk itu pemeriksaan daerah sekitar leher dilakukan sebagai pemeriksaan rutin bila ditemukan kelainan pada leher.Pemeriksaan vaskuler anggota gerak atas Kadang-kadang kelainan pada leher terjadi akibat gangguan pada arteri subklavia. Gangguan pada anggota gerak atas juga dapat bermanifestasi pada leher yang melibatkan pleksus brakhialis.2. Sistem sirkulasi yang efesien dari tiap anggota gerak atas diperhatikan. tangan dan jari. Tabel 4. dibandingkan warna dan rasa hangat pada kedua sisi lengan. Gangguan ekstrinsik yang menyebabkan gangguan pada leher Kadang-kadang gangguan pada daerah sekitar leher misalnya pada telinga. denyut radialis kiri dan kanan dimana pemeriksaan pertama-tama pada saat anggota gerak dalam keadaan diam.

Nyeri yang bersifat menjalar ini disebut skiatika. tungkai atas dan tungkai bawah baik unilateral maupun bilateral. apakah bersifat periodik atau menetap. Foto oblik dilakukan untuk mellihat foramina intervertebra dan permukaan sendi serta melihat ukuran dan bentuk regio servikal yang lebih rendah. maka dibandingkan foto lateral posisi fleksi dan ekstensi. Nyeri punggung bawah sering disertai penjalaran nyeri ke bokong. Anamnesis Perhatikan terutama harus ditujukan pada kelangsungan/onset penyakit. Mielografi dilakukan bila terjadi lebi intraspinal. Dalam kelompok ini termasuk chronic ligamentous strain atau postural back pain. Sebagian lagi tidak dapat diketahui dengan jelas penyebabnya baik melalui pemeriksaan fisik maupun radiologi sehingga hasil pemeriksaan tidak jelas. Pemeriksan radiologis lainnya adalah radioisotope scanning. Sebagian dari kelainan ini gambarannya jelas sehingga penyebab. Pada kasus dimana tomografi sulit dilakukan. Ct-scan dan MRI dilakukan pada keadaan-keadaan tertentu. bertambah buruk atau bertambah baik dan hal-hal apa yang dapat menyebabkan nyeri bertambah/berkurang. Pemeriksaan radiologis tambahan dilakukan bila dibutuhkan gambaran yang lebih jelas.Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologis rutin vertebra servikal berupa foto polos AP dan lateral. 79 . Lokalisasi dari nyeri punggung serta sifatsifatnya juga harus ditentukan secara jelas. Untuk mempelajari densitas diperlukan foto polos AP dengan teknik khusus. Dapat pula dilakukan sineradiografi atau stereoskopik radiografi. PEMERIKSAAN VERTEBRA TORAKAL DAN LUMBAL Nyeri pada punggung terutama punggung bawah merupakan kelainan yang sering ditemukan dalam praktek bedah ortopedi sehari-hari. diagnosis dan pengobatan yang tepat dapat dilakukan.

Tabel 4.3. Penderita berbaring Palpasi fossa ilika  Pemeriksaan khusus abses atau adanya massa 2. Pemeriksaan umum Pemeriksaan umum bagian-bagian tubuh yang lain. Pemeriksaan meliputi:  Pemeriksaan abdomen  Pemeriksaan pelvis termasuk pemeriksaan rektal  Pemeriksaan anggota gerak bawah  Pemeriksaan sistem vaskuler perifer 3. Pemeriksaan lokal punggung dan servei neurologis anggota gerak bawah a.18)  Sendi spinal  Fleksi 800  Ekstensi 300  Fleksi lateral 350  Rotasi 450 Palpasi  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Nyeri lokal Sendi konstovertebral  Jarak indikasi ekspansi dada Sendi sakroiliaka  Nyeri pada pergerakan Status neurologis anggota gerak bawah  Uji Straight Leg Raising (SLR) (gambar4. Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada punggung 1. 80 . Gejala lokal dapat merupakan salah satu manifestasi klinis dari suatu penyakit sistematik. Penderita berdiri Inspeksi  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Warna dan tekstur kulit  Adanya jaringan parut atau sinus Pergerakan (gambar 4.17)  Pemeriksaan sistem muskuler  Pemeriksaan sistem sensoris  Pemeriksaan refleks  Nyeri pada gerakan  Spasme otot b. Pemeriksaan ekstrinsik punggung dan skiatika Hal ini perlu bila tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan lokal.

Ada dua jenis skiatika yang diketahui. 81 . Deformitas tulang belakang dapat berbentuk kifosis.Tanda-tanda Skiatika Nyeri skiatika ditandai dengan perjalanan nyeri sepanjang persarafan nervus skiatika pada tungkai bawah. apalagi bila disertai kelainan motoris. Jenis skiatika lain berupa rasa nyeri yang samar-samar disertai distribusi nyeri yang tidak jelas dan lebih menyerupai suatu nyeri kiriman akibat kelainan sendi/ligamen. maka pasti ini merupakan kelainan mekanik yang memberikan gangguan dari serabut saraf pleksus lumbalis atau sakralis. sensoris dan refleks.19). lordosis atau skoliosis (gambar 4. Penilaian deformitas Setiap kelainan bentuk yang ditemukan baik pada inspeksi maupun palpasi harus dicatat dengan baik. Apabila nyeri hebat dan menjalar dengan arah dan lokalisasi yang jelas pada kulit.

Tabel 4.4. Klasifikasi gangguan pada vertebra torakal dan lumbal Kelainan kongenital  Variasi lumbal dan sakral  Hemivertebra  Spina bifida Deformitas  Skoliosis  Kifosis  Lordosis Infeksi tulang  Tuberkulosis torakal atau lumbal  Infeksi piogenik torakal atau lumbal Artritis sendi spinal  Artritis reumatoid  Osteoartritis  Ankilosing spondilitis Lokalisasi lain pada tulang  Kifosis Scheuermann  Kompresi vertebra Calve Gangguan mekanik  Prolapsus diskus lumbal  Lumbago akut  Spondilolisis  Spondilolistesis  Stenosis spinal Tumor  Tumor yang ada hubungannya dengan kolumna vertebralis. batang & akar saraf medula spinalis Kronik strain  Kronik strain ligamentum lumbal  Koksidinia Lain-lain  Osteoporosis senil Gangguan pada sendi sakroiliaka  Tuberkulosis sendi sakroiliaka  Ankilosing spondilitis  Jenis artritis yang lain  Strain ligamentum sakroiliaka 82 .

Sendi glenohumeral memungkinkan untuk gerakan abduksi. tetapi juga mencakup sendi sakroiliaka. sendi akromioklavikular. Bila ada kecurigaan tumor spinal. sendi sternoklavikular. Bila terdapat keragukeraguan maka dilakukan foto oblik untuk melihat sendi sakroiliaka dan faset posterior sendi intervertebra dari vertebra lumbal. 83 . Nyeri pada bahu dan lengan harus dibedakan dengan seksama apakah kelainan ini berasal dari bahu sendiri atau nyeri yang berasal dari vertebra servikalis atau toraks. Pemeriksaan foto rontgen Foto polos AP dan lateral dilakukan jika gejala vertebra torakal bersifat lokal. panggul dan sendi panggul. Pemeriksaan radiologis lain yang dapat membantu adalah:  Radioisotope bone scanning  CT-scan  MRI  Diskografi Pemeriksaan Sendi Bahu Sendi bahu merupakan suatu sendi yang secara mekanik sangat kompleks dan terdiri atas tiga komponen persendian yaitu sendi glenohumeral. Foto polos AP dan lateral dilakukan tidak hanya mencakup daerah vertebra lumbal. dapat dilakukan mielografi atau radikulografi. fleksi dan rotasi di bawah kontrol otot skapulohumeral. Kedua sendi lainnya bersama-sama memberikan pergerakan 900 berupa rotasi skapula terhadap toraks dan sedikit perputaran anteroposterior skapula.Pemeriksaan Radiologis a. b. Pada keadaan yang meragukan pemeriksaan tomografi dapat bermanfaat.

fleksi 1800. nyeri. Pemeriksaan lokal sendi bahu Inspeksi  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Warna dan tekstur kulit  Adanya jaringan parut atau sinus Pergerakan  Membedakan pergerakan antara sendi glenohumeral dan sendi skapula pada gerakan abduksi. Nyeri biasanya berasal dasri ujung akromion menjalar ke bawah pada lengan atas sampai pada insersi otot deltoid. nyeri bila digerakkan dan stabilitas Palpasi  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Nyeri lokal Kekuatan  Kekuatan otot servikoskapula dan otot torakoskapula  Uji elevasi skapula.Tabel 4. nyeri bila digerakkan dan stabilitas 2. retraksi skapula. Pemeriksaan umum Pemeriksaan umum bagian tubuh lainnya. Pemeriksaan gejala yang kemungkinan merupakan faktor ekstrinsik pada sendi bahu Pemeriksaan ini penting untuk menerangkan gejala yang tidak ditemukan pada pemeriksaan lokal. Anamnesis Pada nyeri bahu harus ditentukan dengan jelas lokasi dan distribusi nyeri. rasa panas. ekstensi. Jarang sekali nyeri pada bahu yang menjalar melewati sendi siku.5. Sendi sternoklavikula  Pemeriksaan pembengkakan.20-21)  Nyeri pada saat pegerakan  Spasme otot  Krepitasi pada saat pergerakan Sendi akromioklavikular  Pemeriksaan pembengkakan. adduksi 750. nyeri. Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada sendi bahu 1. fleksi. rotasi lateral dan rotasi medial (gambar 4. jantung dan pleura  Abdomen dan lesi subdiafragma 3. rotasi lateral 800. abduksirotasi skapula  Otot skapulo-humeral (mengontrol pergerakan sendi glenohumeral) yiatu pergerakan abduksi 1800. 84 . rotasi medial 800. rasa panas. Pemeriksaan meliputi:  Pemeriksaan leher dengan pleksus brakialis  Toraks. ekstensi 600.

Untuk membedakan maka pemeriksa perlu memegang atau memfiksasi bagian bawah skapula. menjalar dari leher pada bagian atas dari bahu kemudian kelengan. Gerakan sendi bahu Pada pemeriksaan sendi bahu sangat penting diketahui berapa besar gerakan yang terjadi pada sendi glenohumeral dan berapa besar gerakan rotasi skapula. Dalam keadaan normal gerakan sendi bahu berupa abduksi yang terjadi dari sebagaian sendi glenohumeral dan sebagian dari rotasi sendi skapula sendiri. Kelainan pada sendi bahu akan memberikan hambatan pada gerakan sendi glenohumeral tetapi tidak pada gerakan skapula (gambar 4.22).Nyeri kiriman pada daerah bahu Nyeri kiriman biasanya berupa iritasi dari pleksus. 85 .

Untuk menguji perlu dilakukan pemeriksaan fungsi dan kekuatan otot dengan pemeriksaan khusus. 2. Rektaktor dari skapula yaitu otot rhomboid dan bagian tengah dari otot trapezius. ekstensi. Sendi akromioklavikular dan sternoklavikular Klavikula merupakan suatu jembatan yang menghubungkan skapula dan sternum. ada dua kelompok otot pada daerah bahu yang harus dibedakan yaitu: 1. Pemeriksaan radiologis  Pemeriksaan foto polos sendi glenohumeral Pemeriksaan proyeksi AP dalam posisi anatomis anggota gerak atas. Otot servikoskapula dan otot torakoskapula Otot servikoskapula dan otot torakoskapula mengontrol gerakan skapula. bagian tengah dan bagian bawah dari otot trapezius. Otot skapulahumeral Kelompok otot ini mengontrol sendi glenohumeral yaitu gerakan yang berfungsi untuk abduksi. Pada keadaan tertentu diperlukan posisi khusus yaitu proyeksi aksiler dimana lengan dalam keadaan abduksi 900. MRI 86 . rotasi lateral. Abduktor rotator dari skapula yaitu otot seratus anterior. Gerakan sendi akromioklavikular dan sternoklavikular terjadi pada umumnya setelah elevasi dari lengan atas sebesar 900 dan gerakan sendi bahu ke belakang atau ke depan. adduksi.  Pemeriksaan radiologis dengan kontras berupa penyuntikan cairan kontras Pemeriksaan radiologis yang lain yaitu radioisotope scanning. Fungsi otot ini untuk gerakan elevasi skapula yaitu levator skapula dan bagian atas dari otot trapezius.CTscan. rotasi medial.Estimasi kekuatan otot Untuk memperkirakan besarnya kekuatan. fleksi.

23). Klasifikasi kelainan pada daerah bahu Kelainan pada sendi bahu (glenohumeral) Artritis  Artritis piogenik  Artritis reumatoid  Artritis tuberkulosis  Osteoartritis  Bahu beku (frozenshoulder)  Sindroma nyeri arkus (termasuk deposisi kalsifikasi pada tendo)  Tenosinovitis dari tendo bisep  Ruptur tendo bisep Gangguan mekanik  Dislokasi rekuren  Robekan lengkap dari tendo rotator cuff Gangguan sendi sternoklavikular  Dislokasi rekuren atau persisten Gangguan sendi akromioklavikular  Artritis  Osteoartritis  Dislokasi persisten atau subluksasi Pemeriksaan Lengan Atas dan Sendi Siku Kelainan yang biasa ditemukan pada humerus adalah trauma.Tabel 4. Gerakan sendi siku Pada sendi siku terdapat dua komponen persendian yaitu antara humerus dengan ulna dan antara ulna dengan radius yang memberikan kemungkinan gerakan fleksi dan ekstensi serta rotasi pada lengan bawah. Nyeri pada lengan atas mungkin merupakan nyeri yang berasal dari bahu. distribusi dan asal dari nyeri. infeksi pada tulang. Gerakan fleksi dan ekstensi bervariasi antara 01500 serta pronasi dan supnasi masing-masing sebesar 0-900 (gambar 4. Sedangkan pada sendi siku biasanya berupa artritis. Kelainan lain yang biasa ditemukan adalah osteoartritis disekans dan bergesernya sendi siku dan beberapa kelainan akibat jepitan pada saraf. 87 . tumor tulang terutama oleh karena metastasis. Anamnesis Harus diketahui dengan tepat lokalisasi. Pada sendi siku sebaiknya ditanyakan adanya riwayat trauma sebelumnya misalnya trauma ketika masih kanak-kanak.6.

CT-scan dan MRI. 88 . Pemeriksaan radiologis Pada foto polo humerus dilakukan foto AP dan proyeksi lateral dengan kedua sendi yaitu sendi bahu dan sendi siku harus dapat terlihat dengan baik pada foto. Pemeriksaan radiologis yang lain yaitu radioisotope scanning dengan 99mTc. nervus medianus dan nervus radialis.Pemeriksaan neurologis Perlu dilakukan pemeriksaan neurologi dari nervus ulnari.

Pemeriksaan lokal lengan dan sendi siku Inpeksi Kekuatan  Kontur tulang  Fleksi 1500  Kontur jaringan lunak  Ekstensi 00  Warna dan tekstur kulit  Supinasi 800  Adanya jaringan atau  Pronasi 900 sinus Stabilitas Palpasi  Ligamentum lateral  Suhu kulit  Ligamentum medial  Kontur tulang Nervus medianus  Kontur jaringan lunak  Fungsi sensoris  Nyeri lokal  Fungsi motoris (gerakan openen)  Kelenjar keringat Pergerakan (aktif dan Nervus radialis pasif)  Fungsi sensoris  Sendi humero-ulnar  Fungsi motoris (ekstensi pergelangan tangan. Pemeriksaan nyeri lengan yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik Pemeriksaan ini penting untuk menerangkan gejala yang tidak ditemukan pada pemeriksaan lokal. 0  Fleksi 150 dan jari-jari) 0  Ekstensi 0 Nervus ulnaris  Fungsi sensoris  Sendi radio-ulnar  Fungsi motoris  Supinasi 800  Kelenjar keringat  Pronasi 900 pergerakan 2.  Nyeri pada pergerakan  Krepitasi pada 89 . ibu jari. Tahap-tahap pemeriksaan rutin kelainan lengan atas dan sendi siku 1. Pemeriksaan umum Pemeriksaan pada bagian tubuh lainnya. Gejala lokal yang terjadi mungkin merupakan manifestasi dari penyakit lain.7. yang meliputi:  Leher dan pleksus brakialis  Pemeriksaan bahu 3.Tabel 4.

bedah mikrovaskuler dan bedah saraf memegang peranan yang sangat penting.Faktor Ekstrinsik Nyeri Lengan Atas Pada nyeri lengan atas harus dipertimbangkan bahwa nyeri ini kemungkinan berasal dari bahu atau leher akibat kelainan kelalaian pada pleksus brakialis Tabel 4.8. 90 . Pergelangan Tangan dan Jari-Jari Dalam kehidupan sehari-hari suatu pekerjaan sangat tergantung dan efisiensi fungsi tangan dan akan memberikan implikasi ekonomi apabila terjadi kecatatan pada tangan baik akibat trauma ataupun akibat penyakit. Bedah tangan merupakan suatu seni dan ilmu tersendiri yang pada saat ini merupakan suatu spesialisasi khusus dalam ilmu bedah ortopedi dimana pengetahuan dan pengalaman bedah ortopedi. Klasifikasi gangguan lengan atas dan siku Gangguan pada lengan atas Infeksi  Osteomielitis akut  Osteomielitis kronik Gangguan pada siku Deformitas  Kubitus valgus  Kubitus varus Tumor  Tumor jinak tulang  Lesi kistik  Kista tulang  Tumor ganas tulang Gangguan mekanik  Osteokondritis disekans  Benda asing pada siku Gangguan ekstra-artikuler  Tennis elbow  Neuritis saraf ulnaris  Bursitis elekranon Artritis  Artritis piogenik  Artritis reumatoid  Artritis tuberkulosis  Osteoartritis  Artritis neuropatik  Artritis hemofilik Pemeriksaan Lengan Bawah. bedah plastik dan rekonstruksi. Pengobatan pada kelainan ini terutama ditujukan untuk melakukan pemulihan/restorasi fungsi tangan semaksimal mungkin.

91 . yaitu: 1. adduksi dan oposisi (gambar 4. untuk melakukan pemeriksaan secara akurat terhadap kedua gerakan ini maka sendi siku difleksikan 900 untuk menghilangkan rotasi pada sendi bahu (gambar 4.26). Sendi karpometakarpal ibu jari Pada sendi karpometakarpal ibu jari terdapat lima macam gerakan yaitu fleksi.25) Gerakan pada jari-jari Gerakan pada jari-jari dibagi dalam tiga kelompok sendi. abduksi.24 dan 4.Gerakan pada pergelangan tangan Pegelangan tangan mempunyai dua komponen utama yaitu sendi radiokarpal (termasuk sendi interkarpal yang memungkinkan fleksi 800. ekstensi. adduksi/deviasi ulnar 300) dan sendi radioulnar inferior yang memungkinkan gerakan supinasi 900 dan pronasi 900. ekstensi 900 abduksi/deviasi 250.

adduksiabduksi  Sendi interfalangeal: fleksi-ekstensi 2.27). fungsi motoris dan kelenjar keringat pada  Tangan bagian medial saraf ulna dan radius  Sendi karpometakarpal ibu jari: fleksi. adduksiabduksi  Stabilitas  Sendi radio-ulnar  Uji untuk pergerakan abnormal inferior: supinasi dan pronasi Fungsi saraf Uji fungsi sensoris.Tabel 4. sensibilitas kulit  Awnsi metakarpofalangeal: fleksi-ekstens.26 dan 4. warna dan rasa hangat. Sirkulasi adduksi-abduksi.9.27).26 dan 4. oposisi Denyut arteri. Pemeriksaan meliputi:  Pemeriksaan leher dan toraks  Pemeriksaan lengan atas secara tersendiri  Pemeriksaan siku secara tersendiri 3. pergelangan tangan dan jari-jari Inspeksi Palpasi  Kontur tulang  Suhu kulit  Kontur jaringan lunak  Kontur tulang  Warna dan tekstur kulit  Kontur jaringan lunak  Adanya jaringan parut dan  Nyeri lokal sinus Kekuatan Pergerakan (aktif dan pasif)  Kekuatan tiap kelompok otot dikontrol oleh:  Pergelangan tangan  Pergerakan pergelangan tangan  Sendi radiokarpal: fleksi Pergerakan ibu jari dan jari-jari ekstensi. 92 .ekstensi. 3. Sendi interfalangeal Pada sendi interfalangeal ibu jari dan jar-jari hanya terdapat gerakan fleksi dan gerakan ekstensi (gambar 4. Pemeriksaan lokal lengan bawah. 2. pergelangan tangan dan jari-jari Pemeriksaan ini penting untuk menerangkan gejala yang tidak ditemukan pada pemeriksaan lokal. Pemeriksaan bagian yang kemungkinan dapat merupakan faktor ekstrinsik gangguan pada lengan bawah. Gejala pada tangan mungkin hanya merupakan salah satu manifestasi klinis dari penyakit yang lain. pengisian kembali kapiler. pergelangan tangan dan jari-jari 1. Sendi metakarpofalangeal Pada sendi metakarpofalangeal ibu jari dan jari-jari terdapat gerakan fleksi dan gerakan ekstensi sebesar 900 (gambar 4. Pemeriksaan klinik rutin gangguan lengan bawah. Pemeriksaan umum Pemeriksaan umum pada bagian-bagian tubuh lainnya.

Gangguan ekstra-artikuler pergelangan tangan dan jari-jari Infeksi Gangguan neurologis  Infeksi akut sarung fasia  Penekanan nervus medianus pada terowongan karpal  Infeksi kronik tenosinovitis Lain-lain Tumor  Ganglion  Tumor tulang  Kontraktur Dupuytren  Tumor jaringan lunak  Ruptur tendo  Tenovaginitis de Quervain  Tenovaginitis stenosis jari-jari 93 . Sementara pada jari-jari dilakukan pemeriksaan otot fleksor profundus dan superfisial. pergelangan tangan dan jari-jari 1.Kekuatan otot Pemeriksaan kekuatan otot tangan perlu dilakukan secara teliti dan sabar. Klasifikasi gangguan pada lengan bawah. ekstensor (longus dan brevis).10. otot interoseus dan otot lumbrikal. ekstensor indisis. fleksor (longus dan brevis) serta otot-otot oponens. ekstensor digitorum. Gangguan pada lengan bawah Infeksi tulang Tumor tulang  Osteomielitis  Tumor akut jinak  Osteomielitis  Tumor kronik ganas Lain-lain  Iskemik kontraktur Volkmann  Tenosinovitis krepitans 2. Tabel 4. Untuk setiap kelompok otot harus dilakukan uji secara tersendiri. Pemeriksaan otot-otot ibu jari meliputi pemeriksaan otot abduktor. adduktor. Gangguan pada sendi pergelangan tangan dan jari-jari Deformitas Artritis Lain-lain  Deformitas  Artritis  Penyakit Kienbock Madelung piogenik (diskondrosteosis  Artritis ) reumatoid  Osteoartritis 3.

Pemeriksaan Sendi Panggul Pemeriksaan sendi panggul merupakan pemeriksan yang penting dalam ortopedi oleh karena trauma/penyakit pada panggul akan menyebabkan gangguan yang berkepanjangan dan mungkin memberikan kecacatan yang serius atau lebih parah lagi menyebabkan ketidakmampuan untuk bekerja serhingga memberikan dampak ekonomis dalam kehidupan. Pada kasuskasus tertentu diperlukan juga pemeriksaan radiologis lainnya yaitu radioisotope scanning.Kekuatan pegangan otot Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan pegangan yang merupakan kombinasi gerakan otot fleksor dan ekstensor pergelangan tangan serta fleksor jari-jari dan ibu jari. Daerah panggul ini merupakan suatu daerah yang penting oleh karena sendi panggul merupakan sendi yang sangat kompleks. Faktor ekstrinsik pada lengan bawah dan jari-jari Seringkali sulit dibedakan gelaja dan tanda klinis lengan bawah atau jari-jari merupakan gangguan lokal atau bukan. sulit diperksa secara akurat. Sirkulasi Sirkulasi pada jari diamati melalui pemeriksaan denyut nadi pada arteri. nervus medianus. Fungsi saraf Pemeriksaan fungsi ketiga saraf yaitu nervus ulnaris. sensoris serta fungsi keringat. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologis yang rutin dilakukan yaitu foto polos AP dan lateral lengan bawah. 94 . nervus radialis harus dilakukan secara tersendiri baik fungsi motoris. Untuk itu harus dilakukan pemeriksaan dengan baik agar dapat membedakannya dengan jelas. suhu dan warna jari-jari. pergelangan tangan serta jari-jari.

sehingga harus diperiksa kemungkinan adanya faktor-faktor ekstrinsik. Pengukuran panjang anggota gerak dan ukuran-ukurannya Secara ideal pengukuran dilakukan pada aksis gerakan panggul. Nyeri pada sendi panggul biasanya dikeluhkan pada daerah lipa paha bagian dalam dan bagian depan. Pengukuran panjang klinik (panjang sebenarnya=true leg length) Panjang klinik diukur dari spina ilika anterior sampai pinggi bawah maleolus lateralis atau pinggir maleolus medialis (gambar 4. Dengan pengukuran ini dibandingkan antara kiri dan kanan. Beberapa kelainan pada panggul yang ditemukan pada umur tertentu Umur (tahun) 0–2 2–5 5 – 10 10 – 20 20 – 50 50 . 1. transien sinovitis Penyakit legg-Calve-Perthes Slipped upper femoral epiphysis Osteoartritis sekunder oleh karena trauma atau penyakit Osteoartritis primer Anamnesis Karakteristik nyeri daerah panggul adalah nyeri tidak selamanya dari panggul itu sendiri tetapi mungkin berasal dari tulang belakang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan sendi panggul. sehingga titik ukur diambil dari titik yang paling mendekati yaitu spina iliaka anterior superior.28). Sering nyeri ini dirasakan pada daerah lutut dan kadangkala merupakan nyeri yang dominan pada kelainan sendi panggul. yaitu titik tengah kaput femur. garis dari nelaton. melalui pengukuran segitiga dari Bryant. Tetapi secara klinik hal ini sulit dilakukan.Tabel 4. Apabila ditemukan adanya pemendekan maka harus ditentukan apakah ditemukan:  Diatas trokanter.100 Kelainan panggul Dislokasi kongenital Artritis tuberkulosis.11. Nyeri pada panggul sendiri biasanya akan bertambah berat apabila penderita berjalan atau menggerakkan sendi panggul. garis dari Schoemaker  Di bawah trokanter 95 .

ekstensor. Pemeriksaan faktor ekstrinsik yang mungkin memberikan gejal pada panggul Pemeriksaan ini penting untuk menerangkan gejala yang tidak ditemukan pada pemeriksaan lokal. b. Penderita berdiri Pemeriksaan stabilitas postural Cara berjalan (gait)  Uji Trendelenburg 2. Penderita berbaring Penderita berbaring dan membentuk sudut terhadap tungkai bila mungkin : Inspeksi  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Warna dan tekstrur kulit  Adanya jaringan parut atau sinus Palpasi  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Nyeri lokal Pergerakan (aktif dan pasif)  Fleksi  Abduksi saat fleksi  Rotasi medial (interna)  Rotasi lateral (eksterna) Pemeriksaan adanya deformitas  Dilakukan uji Thomas untuk mendeteksi dan mengukur deformitas pada posisi fleksi Kekuatan (dilakukan uji yang berlawanan dengan tahanan pemeriksaan) abduktor.Tabel 4. Pemeriksaan klinik rutin gangguan pada panggul 1. meliputi:  Pemeriksaan sendi sakroilika  Pemeriksaan abdomen dan pelvis  Pemeriksaan pembuluh darah besar (sirkulasi arteri) 3.12. adduktor dan rotator Pengukuran panjang tungkai  Panjang klinik (true/real length)  Panjang yang tampak (apparent length) Pemriksaan pergerakan abnormal  Uji pergerakan longitudinal (teleskopik)  Uji klik (pada bayi baru lahir)  Estimasi kekuatan pada kelompok otot fleksor. Pemeriksaan umum Pemeriksaan terhadap bagian tubuh lainnya untuk mencari kemungkinan gangguan merupakan manifestasi dari suatu penyakit sistemik pada tubuh 96 . Pemeriksaan lokal sendi panggul a.

2. pertengahan patela dan jari kaki kedua. Pemeriksaan deformitas rotasi yang menetap Adanya deformitas rotasi dapat dinilai dari posisi patela yang dalam keadaan normal merupakan suatu garis lurus dari spina ilika anterior superior. Pengukuran panjang tampak (palsu=apparent leg length) Kadang-kadang ditemukan tungkai bawah tampak panjang sebelah tapi sebenarnya ukurannya sama. Panggul miring umumnya disebabkan oleh deformitas adduksi yang menetap yang membuat sisi tersebut terlihat lebih panjang (gambar 4. dari pusat atau dari pubis ke maleolus medialis.29). Pemendekan yang palsu dari panjang tungkai biasanya disebabkan oleh karena panggul miring dimana koreksi sepenuhnya tidak dapat dilakukan. Apabila terdapat rotasi baik ke dalam maupun keluar maka konfigurasi garis ini berubah. Pada keadaan ini pemeriksaan diukur dari titik di garis tengah tubuh yaitu dari xiphisternum. 97 .

98 .  Deformitas abduksi yang menetap Sama dengan yang pertama. Apabila terdapat kelainan maka aksis transversal panggul yaitu garis yang menghubungkan kedua spina ilika anterior superior tidak dapat diletakkan dalam garis tegak lurus terhadap anggota gerak yang terkena. Sudut antara tungkai ata dan garis horisontal yang terbentuk merupakan derajat besarnya deformitas fleksi (gambar 4. maka penderita berusaha mengkompesasikannya sehingga terjadi lordosis pada tulang belakang. Untuk mengukur derajat derformitas ini. tetapi sudut antara pelvis dan tungkai melebihi 900  Deformitas fleksi yang menetap Deformitas ini dapat diketahui melalui uji Thomas.Pemeriksaan adanya deformitas menetap  Deformitas adduksi yang menetap Deformitas ini dapat diketahui dengan menilai hubungan antara pelvis dan panggul. Prinsip pelaksanaan uji Thomas: Bilamana penderita mengalami deformitas fleksi menetap pada panggul. penderita dalam keadaan berbaring dan lordosis dihilangkan dengan melakukan fleksi pada tungkai.30).

99 .

Fleksi Pergerakan fleksi pada sendi panggul sebaiknya dilakukan bersama-sama dengan fleksi pada lutut.A).32). Dalam keadaan normal didapatkan besarnya adduksi 300 (gambar 4. Nilai normal gerakan ini besarnya 1200 (gambar 4. yang normalnya sebesar 400 (gambar 4.32). 3. Normal didapatkan abduksi sebesar 30-400 aksial (gambar 4. Abduksi dilakukan dengan cara tangan berada di antara spina isiadika anterior superior kiri dan kanan dan tangan yang satu melakukan abduksi kaki. Sebaiknya disebut uji Trendelenburg negatif apapbila otot-otot abduktor dapat bekerja secara normal mengangkat pelvis ke atas apabila tungkai yang lain diangkat (gambar 4. 5. Ekstensi dengan meluruskan kaki.34).31. Cara pemeriksaannya: Satu tungkai diangkat dalam keadaan fleksi 900 sambil berdiri di atas kaki yang lain. 4. Panggul akan ditahan oleh otot panggul yaitu muskulus gluteus medius dan minimus. 2.Pergerakan pada sendi panggul 1. Jika otot-otot ini tidak berfungsi maka pada inspeksi panggul miring/jatuh ke sisi kaki yang diangkat.33). 100 .B). Adduksi dilakukan dengan menyilangkan kedua kaki. Rotasi lateral dan medial masing-masing diperkirakan melalui garis imajiner pada patela. Pemeriksaan ini dilakukan menuru uji Duschene-Trendelenburg. dengan kata lain otot-otot panggul tidak mampu menstabilisasi panggul dan disebut uji Trendelenburg positif. Dalam keadaan ini diperoleh nilai 00 (gambar 4.31. Pemeriksaan stabilitas postural Pemeriksaan ini untuk menentukan stabilitas panggul terutama kemampuan otot abduktor panggul (otot gluteus medius dan minimus) dalam menstabilisasi panggul terhadap femur.

 Cara berjalan antalgik. Paralisis otot abduksi misalnya pada poliomielitis. Apabila penderita mengalami nyeri pada panggul atau panggul yang tidak stabil. biasanya penderita menggunakan tongkat pada sisi yang sebaliknya. Ada beberapa jenis karakteristik cara berjalan. Origo dan insersi otot-otot abduktor terlalu berdekatan sehingga daya kontraksinya hilang. Hilangnya stabilitas pada komponen sendi panggul. yaitu: 1. Keadaan dapat terjadi pada semua kelainan yang menyebabkan trokanter letak tinggi.Ada tiga kelainan yang dapat menyebabkan uji Trendelenburg positif. 2. Cara berjalan (gait) Gait perlu diperhatikan pada waktu penderita berdiri dan berjalan. misalnya fraktur leher femur yang tidak menyambung. yaitu cara berjalan dengan berupaya mengurangi berat untuk mengurangi nyeri  Cara berjalan kaki pendek  Cara berjalan Trendelenburg 101 . 3.

Pemeriksan radiologis lainnya pada panggul yaitu tomografi. artrografi. Tabel 4.13. CT-scan dan MRI mungkin diperlukan apabila ada indikasi.Faktor intrinsik yang menyebabkan nyeri pada panggul Pemeriksaan yang teliti dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan nyeri panggul berasal dari tulang belakang dan sendi sakroilika. radioisotope scanning tulang. juga pemeriksaan abdomen dan panggul yaitu pemeriksaan rektal dan pemeriksaan bimanual serta pemeriksaan sistem vaskuler. Gangguan ekstra-artikuler tungkai Deformmitas  Penyakit Legg-Calve-Perthes Gangguan mekanik  Slipped upper femoral epiphysis  Koksa vara  Tuberkulosis bursa trokanter Infeksi Gangguan mekanik  Snapping tungkai 102 . Gangguan artikuler tungkai Kelainan kongenital Osteokondritis  Kelainan kongenital dislokasi tungkai Artritis  Transient sinovitis pada anakanak  Artritis piogenik  Artritis reumatoid  Artritis tuberkulosis  Osteoartritis 2. Pemeriksaan yang perlu dilakukan meliputi pemeriksaan neurologis dari anggota gerak bawah. Klasifikasi gangguan tungkai 1. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan foto polos AP dan lateral meliputi seluruh daerah panggul.

Pembedahan dengan teknik artroskopi digunakan sebagai prosedur rutin pada robekan meniskus dan adanya benda asing dalam sendi. Lutut sangat mudah mengalami trauma dan berbagai jenis artritis. Keuntungan pembedahan dengan teknik ini adalah tidak dilakukan operasi terbuka pada lutut. Beberapa penderita dapat dengan jelas mengutarakan lututnya menjadi terkunci (locking). penyembuhan lebih baik dan masa pemulihan serta perawatan diperpendek. Otot kuadrisep yang kuat dapat mengontrol stabilitas lutut walaupun terdapat keregangan dari ligamen. Anamnesis Anamnesis sangat penting dalam menegakkan diagnosis sendi lutut misalnya pada robekan menikus. apakah dapat berjalan. Efusi sendi 103 .Pemeriksaan Lutut Stabilitas lutut sangat ditentukan oleh ligamentum dan otot kuadrisep. Penebalan tulang Penebalan tulang dapat diketahui dengan palpasi pada daerah yang sakit lalu dibandingkan dengan yang normal. Menentukan kausa pembengkakan pada sendi Pembengkanan yang difus pada lutut dapat diketahui dengan mudah dengan jelan membandingkan kedua lutut. dapat meluruskan atau membengkokkan lutut. yaitu: 1. Dalam anamnesis harus ditanyakan kapan terjadinya trauma. Daerah lutut juga termasuk daerah dimana terjadi pertumbuhan anggota gerak bawah (daerah yang aktif) dan ini mungkin sebagai salah satu sebab daerah metafisis dari lutut sering mengalami infeksi osteomielitis atau tumor-tumor ganas primer. Pemeriksaan artroskopi belakangan ini memegang peranan dan merupakan pemeriksaan rutin yang sering dilakukan dalam menegakkan diagnosis kelainan-kelainan lutut. 2. Keadaan yang perlu ditanyakan yaitu apakah dapat menyelesaikan pertandingan waktu itu. Pembengkakan pada lutut terutama disebabkan oleh tiga hal. Penebalan dapat disebabkan oleh infeksi. tumor atau kista tulang. hal-hal yang terjadi sesudahnya serta mekanisme dari trauma.

pus atau oleh darah. Efusi yang terjadi dapat dengan muda dideteksi karena adanya impuls hidraulik pada jari-jari dan ibu jari yang di distal (gambar 4. Tekanan dilakukan oleh tangan yang di proksimal kantung suprapatelar sehingga cairan terdorong ke dalam kantung persendian. Pemeriksan turin kelainan pada lutut 104 . Pada pemeriksaan ini telapak tangan diletakkan diatas femur distal di bagian atas dari patela pada daerah kantung suprapatelar sementara tangan lainnya diletakkan pada sisi sebaliknya dimana ibu jari telunjuk pada pinggir patela. Penebalan membran umumnya terjadi di atas patela dan dapat diraba pada palpasi dan biasanya lutut juga terasa hangat oleh karena proses inflamasi yang ada.14.Efusi sendi bisa karena penimbunan cairan serosa. Cairan dalam sendi diketahui dengan melakukan pemeriksaan yang disebut uji fluktuasi. Tabel 4.35). Cairan di dalam sendi dapat pula dideteksi dengan cara aspirasi. 3. Penebalan membran sinovia Penebalan membran sinovia merupakan suatu gambaran artritis inflamasi kronik.

Pada pemeriksaan perlu diketahui apakah gerakan disertai nyeri atau krepitasi. Gejala lokal pada lutut dapat ditimbulkan oleh adanya penyakit sistemik. Gerakan sendi lutut Pemeriksaan gerakan sedi lutut sangat penting oleh karen setiap kelainan pada lutut akan memberikan gangguan pergerakan lutut. Pemeriksaan umum Pemeriksaan umum pada setiap anggota tubuh.36). Pemeriksaan gejala yang mungkin merupakan akibat faktor ekstrinsik Pemeriksaan ini penting bila tidak ditemukan kelainan lokal pada pemeriksaan. Pemeriksaan meliputi pemeriksaan tulang belakang dan panggul 3.1. Pemeriksaan lokal pada lutut Inspeksi  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Warna dan tekstrur kulit  Adanya jaringan parut atau sinus Pergerakan (aktif dan pasif dan di bandingkan dengan lutut yang normal) Palpasi  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Nyeri lokal Kekuatan (membandingkan dengan tahanan dari pemeriksaan)  Fleksi  Ekstensi  Nyeri bila digerakkan  Krepitasi bila digerakkan Stabilitas  Fleksi ekstensi Uji rotasi Mc Murray Cara berjalan (gait)  Ligamentum medial  Ligamentum lateral  Ligamentum krusiatum anterior  Uji drawer. uji Lachman. Secara normal gerakan fleksi pada sendi lutut sebesar 1201450 dan gerakan ekstensi 00 dan mungkin dapat ditemukan hiperekstensi sebesar 100 (gambar 4. Uji stabilitas sendi lutut yang dapat dilakukan: 105 . uji  Ligamentum krusiatum posterior pivot shift lateral 2.

kemudia dilakukan tarikan pada tibia ke depan dan kebelakang. Apabila ada robekan ligamentum maka dapat dirasakan sendi bergerak melebihi batas normal (gambar 4.38 ). Sedangkan ligamentum krusiatum posterior pada arah sebaliknya. Pemeriksaan ligamentum media dan lateral Robekan pada ligamentum medial dapat diperiksa melalui uji abduction stress dan pada ligamentum lateral melalui uji adduction stress. Kecurigaan adanya robekan pada ligamentum krusiatum apabila ada gerakan yang abnormal. baik ke depan ataupun kebelakang (bandingkan dengan yang normal) (gambar 4. satu tangan pemeriksaan memegang pergelangan kaki dan satunya pada lutut. 106 . Pada pemeriksaan ini sendi lutut dalam keadaan ekstensi penuh. Pemeriksaan ligamentum krusiatum anterior dan posterior Kedua ligamentum ini berfungsi untuk stabilisasi sendi lutut ke arah depan dan belakang. Dengan kedua tangan dilakukan abduksi untuk menguji ligamentum medial dan adduksi untuk menguji ligamentum lateral.1. Ligamentum krusiatum anterior berfungsi untuk mencegah tibia tergelincir ked depan femur. Ara pemeriksaan:  Uji Drawer Lutut difleksikan 900 dan pemeriksa duduk pada kaki penderita untuk mencegah gerakan kaki. Dengan meletakkan kedua tangan di belakang tibia bagian proksimal dan kedua ibu jari pada kondilus femur.37). 2.

Pemeriksaan positif apabila kondilus lateralis tibia terelokasi secara spontan pada kondilus femur ketiak fleksi mencapai 30-350 (gambar 4. sedangkan tangan lainnya memegang tibia proksimal.40). Caranya kaki yang mengalami kelainan diangkat oleh pemeriksa.39). dimana kaki kanan diangkat oleh tangn kanan dan kaki kiri diangkat oleh tangan kiri dan lutut dalam keadaan ekstensi maksimal.  Pemeriksaan pivot shift lateral Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan tambahan untuk mengetahui defisiensi pada ligamentum krusiatum anterior. Dengan satu tangan pemeriksa memutar dari arah luar tungkai bawah persis di sebelah bawah lutut sehingga terjadi tekanan valgus. Satu tangan memegang tungkai atas pada kondilus femur. 107 . Uji Lachman Pada pemeriksan ini lutut difleksi 15-200. Selanjutnya lutut difleksi secara perlahan-lahan dari posisi ekstensi. Kedua tangan kemudian digerakkan ke depan dan ke belakang antara tibia proksima dan femur (gambar 4. Pada saat yang bersamaan tibia dirotasi ke medial.

maka 108 . Uji rotasi Uji rotasi dilakukan untuk mengetahui adanya robekan meniskus dan dikenal sebagai uji Mc Murray. Pada kerusakan meniskus. lutut difleksikan 900 dan dilakukan eksorotasi maksimal dan kemudian tungkai diluruskan sambil mempertahankan eksorotasi. tungkai bawah dipegang. Pada pemeriksaan ini lutut di ekstensikan kemudia dilakukan eksorotasi maksimal untum memeriksa meniskus medial atau dengan endorotasi maksimal untuk memeriksa menikus lateral. Penderita berbaring terlentang.

Pemeriksaan meniskus medial dilakukan dengan endorotasi maksimal dan mempunyai prinsip serta prosedur pemeriksaan yang sama dengan pemeriksaan eksorotasi maksimal (gambar 4. Pemeriksaan radiologi Pemeriksaan radiologis rutin pada kelainan sendi lutut yaitu foto polos AP dan alteral dimana bagian dari femur dan tibia harus terlihat.penderita merasa nyeri. mungkin dapat diraba adanya krepitasi atau terdengar suara klik dari tanduk depan/belakang atau bagian dari meniskus yang lompat keluar dari antara kondilus femur. Pemeriksaan lain adalah Sky line atau pemeriksaan tangesial yang berguna untuk mengetahui osteoartritis patelo-femoral. 109 . Pemeriksaan radiologis dengan kontras yaitu artrografi kadangkala bermanfaat pada kelainan-kelainan yang tidak jelas pada sendi lutut.41). Faktor eksterna penyebab nyeri lutut Nyeri pada lutut tidak selalu oleh karena kelainan pada lutut itu sendiri tapi juga mungkin oleh karena kelainan pada panggul atau daerah lain misalnya nyeri skiatika oleh karena adanya prolapsus diskus intervertebralis. Pemeriksaan lainnya yaitu radioisotope scanning.

Kelainan artikuler sendi lutut Artritis Kelainan mekanik  Artritis piogenik  Artritis reumatoid  Artritis tuberkulosis  Osteoartritis  Artritis hemofilik  Artritis neuropatik  Nyeri anterior lutut  Robekan meniskus  Kista meniskus  Diskoid lateral meniskus  Osteokondritis disekans  Benda asing intra-artikuler  Dislokasi rekuren patela  Disloksai habitual patela 2. Pergelangan Kaki dan Jari-jari Kaki Kelainan pada kaki menempati frekuensi yang kedua setelah kelainan punggung dalam kasus bedah ortopedi. Oleh karena itu struktur dan bentuk kaki cenderung bervariasi dan mungkin terjadi gangguan dalam efisiensinya. Beberapa penyebab kelainan pada kaki yaitu:  Faktor herediter Kaki merupakan bagian dari badan yang relatif cepat berevolusi sebagai konsekuensi untuk mennunjang dan menopong tubuh yang tegak. 110 . Kelainan ekstra-artikuler sendi lutut Deformitas Pembengkakan kistik  Genu varum  Genu valgum Trauma kuadriseps  Bursitis pre-patelar  Kista poplitea  Ruptur aparatus  Apofisitis dari tuberkel tibia (penyakit OsgoodSchlatter) Osifikasi pasca trauma Penyakit Pellegrini-Stieda pada kondilus femur medial Pemeriksaan Tungkai Bawah. Klasifiksi kelainan pada sendi lutut 1.15.Tabel 4.  Tekanan postural Beban tubuh yang berlebihan menyebabkan beban yang harus ditanggung oleh kaki bertambah dan dapat menimbulkan kelainan pada kaki.

Anamnesis Pada anamnesis harus ditanyakan secara jelas distribusi nyeri yang terjadi. 111 . di samping riwayat pekerjaan. riwayat trauma sebelumnya serta gangguan yang terjadi pada saat berdiri dan berjalan. kebiasaan penderita. Pemakaian alas kaki Pemakaian alas kaki terutama pada wanita seperti pemakaian sepatu dengan bentuk dan posisi yang tidak sesuai akan mempengaruhi secara mekanik pada kaki.

dibandingkan Inspeksi dngan sisi yang normal)  Kontur tulang  Pergelangn kaki  Kontur jaringan lunak Plantar fleksi  Warna dan tekstur kulit Ekstensi (dorsofleksi)  Adanya jaringan parut atau  Sendi subtalar sinus Inversi-adduksi Eversi-abduksi Sirkulasi perifer  Sendi midtarsal  Denyut a. dorsalis pedis Inversi-adduksi Eversi-abduksi  Denyut a. tibialis posterior  Jari kaki  Denyut a. Palpasi 112 . femoral Ekstensi  Pemeriksaan adanya sianosis Stabilitas pada kaki  Integritas ligamen khususnya ligamentum Kekuatan lateral dari pergelangan kaki  Setiap otot harus di uji dan di Cara berjalan (gait) bandingkan dengan sisi yang Keadaan alas kaki (sepatu) sebelah  Bandingkan dengan sisi yang sebelah Penapakan kaki saat berdiri  Bentuk arkus longitudinal  Bentuk kaki  Efisiensi jari kaki  Efisiensi otot betis  Suhu kulit  Kontur tulang  Kontur jaringan lunak  Nyeri lokal 2. Pemeriksaan klinik pada tungkai bawah.Tabel 4.16. poplitea Fleksi  Denyut a. pergelangan kaki dan kaki Pergerakan (aktif dan pasif. Pemeriksaan umum Pemeriksaan anggota tubuh lainnya untuk menentukan apakah gejala yang terjadi merupakan manifestasi dasri suatu penyakit sistemik tubuh. pergelangan kaki dan kaki 1. Pemeriksaan klinik pada tungkai bawah.

Bila terdapat iskemik. kuku. maka kulit menipis dan tidak elastis. menebal dan ireguler.Evaluasi status sirkulasi perifer  Evaluasi klinik yang dilakukan meliputi keadaan kulit dari kaki.  Pemeriksaan aliaran darah kaki dengan menggunakan prinsip teknik Doppler  Pencatatan volume denyut  Arteriografi  Struktur arterial serta adaya penyumbatan vaskuler dapat terlihat melalui pemeriksaan radiologis setelah penyuntikan zat kontras. perubahan warna. denyutan arteri dan toleransi latihan  Pencatatan tekanan sistolik. Pemeriksaan gerakan pada pergelangan kaki dan sendi tarsal  Secara normal pergerakan pergelangan kaki ke arah ekstensi atau dorso fleksi sebesar 15-200 dan plantar fleksi sebesar 40-500 (gambar 4. suhu. berwarna merah bata atau kebiruan (sianotik) pada uji Buerger. Kaki lebih dingin. 113 .43). Kuku menjadi buram.

114 . Gerakan ini meliputi: o Kombinasi gerakan inversi dan adduksi (supinasi) sebesar 50 o Kombinasi gerakan eversi dan abduksi (pronasi) sebesar 50 Pada saat kedua kaki menginjak diperhatikan arkus longitudinalis apakah bentuknya normal atau ceper.   Pergerakan sendi subtalar dan midtarsal Gerakan pada sendi subtalar dan sendi midtarsal terjadi secara bersama-sama sebagai satu uni kesatuan (gambar 4. pers valgus atau pes varus. apakah ada pes kavus.44).apakah ada tekanan-tekanan tertentu pada alas kaki atau alas kaki tidak sesuai/sempit. Pemakaian alas kaki Pemeriksaan pada kaki tidak lengkap tanpa disertai dengan pemeriksaan alas kaki yang dipakai. pes planus.

Tabel 4. Kelainan pada tungkai bawah Trauma  Ruptur tendo Achilles Infeksi  Osteomielitis akut  Osteomielitis kronik  Infeksi sifilis 2. Klasifikasi kelainan pada tungkai bawah. Kelainan pergelangan kaki Artritis  Artritis piogenik  Artritis reumatoid  Artritis tuberkulosis  Osteoartritis  Artritis gout  Artritis hemofilik  Artritis neuropatik 3. Kelainan jari-jari kaki Deformitas  Haluks valgus  Hammer toe  Under-riding toe Artritis  Artritis reumatoid  Osteoartritis  Artritis gout Tumor  Tumor jinak tulang  Tumor ganas tulang Kelainan sirkulasi  Klaudikasio intermiten Gangguan mekanik pasca trauma  Subluksasi rekuren Osteokondritis  Osteokondritis tulang navikular (penyakit Kohler) Artritis  Osteoartritis sendi tarsal Lain-lain  Nyeri tumit  Nyeri alas kaki  Kutil plantar  Kalositis  Ganglion Osteokondritis  Osteokondritis pada kaput metatarsal (penyakit Freiberg) Lain-lain  Pertumbuhan kuku kaki  Eksostosis sub-ungualonikogriposis Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologis rutin yang dilakukan adalah pemeriksaan foto polos AP dan lateral pergelangan kaki 115 . pergelangan kaki dan kaki 1. Kelainan pada kaki Deformitas  Kongenital club foot (talipes ekuinovarus)  Talipes asesoris valgus  Tulang asesoris pada kaki (tulang navikular)  Pes kavus  Pes planus (kaki ceper) Kelainan postural  Strain kaki  Bentuk artritis tarsal yang lain 4.17.

gangguan kordinasi serta perubahan sensibilitas. Pemeriksaan yang sama misalnya pada paraparesis/paraplegi oleh karena adanya kelainan pada tulang belakang torakal atau lumbal. drop foot atau adanya atropi otot pada daerah tertentu 116 . Pemeriksaan neurologis disesuaikan dengan kelainan yang didapatkan atau dicurigai seperti kelemahan otot anggota gerak atas pada spondilosis servikal atau tetraparesis/ tetraplegi setelah suatu trauma pada tulang belakang servikal.PEMERIKSAAN NEUROLOGIS Pada penderita kelainan bedah ortopedi perlu dilakukan neurologis lengkap apabila ditemukan adanya gangguan yang berupa kelemahan otot. Juga harus diperiksa adanya gambaran kelainan pada anggota gerak misalnya claw hand.

lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan Aspek Yang Dinilai 0 1 2 II. ekstensi 300. Look : kontur tulang. 2. 3. nyeri lokal Move : · membedakan pergerakan sendi glenohumeral & sendi skapula pada gerakan abduksi. kontur tulang. warna & tekstur kulit. spasme otot & krepitasi 117 . Rotasi 800 Kelainan saat pergerakan : Ada/tidak rasa nyeri. 2.Checklist : Muskuloskeletal Exam Skor No I. fleksi. Pemeriksaan Sendi Bahu 1. ada/tidaknya jaringan parut/sinus Feel : suhu kulit. ekstensi. kontur jaringan lunak. rotasi lateral & rotasi medial · ada tidaknya kelainan : nyeri saat pergerakan. 3. 2. warna & tekstur kulit. Look : kontur tulang. kontur jaringan lunak Move : Fleksi-ekstensi 1300. nyeri lokal Move : Sendi spinal : fleksi 800. fleksi lateral 350. kontur jaringan lunak. ada/tidak : nyeri saat pergerakan. jelas. rotasi 450. 1. spasme otot IV. Persiapan pasien Menyapa/mengucapkan salam dan memperkenalkan diri Memberikan penjelasan dengan benar. ada/tidak jaringan parut/sinus Feel : suhu kulit. Look : kontur tulang. 4. kontur tulang. kontur jaringan lunak. ada/tidak jaringan lunak Feel : suhu kulit. warna & tekstur kulit. Pemeriksaan daerah leher 1. 2. kontur tulang. Fleksi lateral 450. ada/tidaknya krepitasi III Pemeriksaan punggung (pasien dalam posisi berdiri) 1. kontur jaringan lunak. kontur jaringan lunak. 3. 3.

pronasi 900 · Kelainan saat pergerakan : nyeri. 5. Aspek Yang Dinilai 0 Pemeriksaan sendi akromioklavikular : bengkak. 6. Lateral & lig. Medianus : fungsi sensorik dan fungsi motorik · N. kontur tulang. Sirkulasi : denyut arteri. ekstensi 00 · Sendi radio-ulnar : supinasi 800. Radialis : fungsi sensorik dan fungsi motorik · N. rasa panas. kontur jaringan lunak. Medial 1 2 VI. 3. tangan. Pemeriksaan lengan bawah. warna. rasa hangat. warna & tekstur kulit. nyeri & stabilitas Kekuatan otot : otot servikoskapula. nyeri & stabilitas Pemeriksaan sendi sternoklavikular : bengkak. Kekuatan otot : fleksi 1500.Skor No 4. kontur jaringan lunak. pergelangan tangan & jari-jari 1. ekstensi 00. rasa panas. Look : kontur tulang. pengisian kembali kapiler Kekuatan otot & stabilitas 118 . ada/tidaknya jaringan parut Feel : suhu kulit. warna & tekstur kulit. Ulnaris : fungsi sensorik dan fungsi motorik 5. V. 3. nyeri lokal Move (aktif & pasif) : · Sendi humero-ulnar : fleksi 1500. 6. torakoskapula. kontur jaringan lunak. pronasi 900 Stabilitas : lig. ada/tidak jaringan parut/sinus Feel : suhu kulit. krepitasi 4. 2. jari-jari Saraf : · N. skapulohumeral Pemeriksaan lengan atas & sendi siku Look : kontur tulang. kontur tulang. 2. kontur jaringan lunak. 4. supinasi 800. nyeri lokal Move (aktif & pasif) : pergelangan tangan. 5. 1.

4. Pemeriksaan adanya deformitas : uji Thomas e. rotasi lateral (eksterna) d. Look : kontur tulang. ada/tidak jaringan parut b. warna & tekstur kulit. kontur jaringan lunak. krepitasi Kekuatan : fleksi-ekstensi Stabilitas : lig. Move (aktif/pasif) : fleksi. lig. abduksi saat fleksi. rotasi medial (interna). kontur jaringan lunak. 6. 3. lig. Feel: suhu kulit. 5. Pemeriksaan stabilitas postural : uji Trendelenburg b. Krusiatum anterior & posterior Uji rotasi Mc Murray 119 . Medial. kontur tulang. Pemeriksaan Panggul 1. kontur jaringan lunak. Lateral.Skor No Aspek Yang Dinilai 0 1 2 VII. Kekuatan otot 2. Pasien berbaring: a. ekstensi. Pasien berdiri : a. ada/tidak jaringan parut Feel: suhu kulit. Pengukuran panjang tungkai : panjang klinik & panjang yang tampak f. warna & tekstur kulit. 2. nyeri lokal Move (aktif&pasif) : fleksi. nyeri lokal c. nyeri bila digerakkan. kontur tulang. Look: kontur tulang. kontur jaringan lunak. Cara berjalan (gait) VIII Pemeriksaan Lutut 1.

Tibialis posterior. 3. bentuk kaki Sirkulasi perifer : denyut a. 2. Femoralis. kontur jaringan lunak. ada/tidak sianosis kaki Status neurologik anggota gerak bawah : Uji Straight Leg Raising (SLR) Melaporkan hasil pemeriksaan dan follow up 1 2 Keterangan : 0: Tidak dilakukan 1: Dilakukan tapi kurang benar 2: Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan : Skor total/114 x 100% = % Banda Aceh. 5. warna & tekstur kulit Feel: suhu kulit. nyeri lokal Move (aktif&pasif) : . pergelangan kaki & kaki Look: kontur tulang.sendi subtalar : inversi-adduksi.jari kaki : fleksi & ekstensi 4. X Kekuatan otot Stabilitas : integritas ligamen khususnya ligamentum lateral kaki Penapakan kaki saat berdiri : bentuk arkus longitudinal. Aspek Yang Dinilai 0 Pemeriksaan tungkai bawah. 8.pergelangan kaki : plantar fleksi. eversi-abduksi . a. Dorsalis pedis.. a. 6. Poplitea.sendi midtarsal : inversi-adduksi. kontur jaringan lunak. eversi-abduksi . …………….Skor No IX.2012 Nama Instruktur 120 . dorsofleksi . a. 1. kontur tulang. 7.

IV. tidak terlihat secara makroskopis. agar tidak terjadi salah interpretasi. VI. PEMERIKSAAN NEUROLOGI Tujuan Belajar :  Mahasiswa mampu & terlatih melakukan pemeriksaan neurologi secara sistematis & tepat. 121 . VII & XII secara sistematis & tepat  Mahasiswa mampu menentukan kesimpulan atas pemeriksaan yang dilakukan (normal/terdapat gangguan) & mengaitkannya dengan kemungkinan diagnosis Sistim saraf pada manusia terletak di dalam tubuh. fungsi kortikal luhur .pemerikssan otonom Seluruh pemeriksaan ini harus dilakukan dengan sempurna.pemeriksaan sensorik . pemeriksaan neurologi dan pemeriksaan penunjang. pemeriksaan umum. Untuk mengetahui fungsinya apakah normal atau tidak adalah dengan cara memberikan stimulasi pada target organ yang disarafi.pemeriksaan kesadaran.8. III. V. Pemeriksaan neurologi ini tidak dapat untuk mengambil keputusan diagnosis secara tersendiri.pemeriksaan gerak abnormal .pemeriksaan koordinasi . Jenis-jenis pemeriksaan neurologi adalah : . akan tetapi diagnosis tetap ditentukan berdasarkan anamnesis. mencakup :  Pemeriksaan GCS (Glasgow Coma Scale)  Pemeriksaan Fisik saraf Otak : I. Stimulasi tersebut dilakukan dengan menyesuaikan fungsi organ tersebut.pemeriksaan nervus kranialis .pemeriksaan motorik .pemeriksaan rangsangan meningeal .

seorang dokter melakukan inspeksi. Dalam memeriksa tingkat kesadaran. Sebaliknya lintasan aferen nonspesifik menghantarkan setiap impuls dari titik manapun pada tubuh ke titik-titik pada seluruh korteks serebri kedua sisi. 3. atau dapat dibangunkan olah suruhan atau pertanyaan yang disampaikan dengan suara yang kuat. Inspeksi. Perhatikan apakah pasien berespon secara wajar terhadap stimulus visual. 2. Dengan adanya dua lintasan aferen tersebut maka terdapat penghantaran aferen yang pada pokoknya berbeda. konversasi dan bila perlu memberikan rangsang nyeri. 1. Input susunan saraf pusat dapat dibedakan dalam input yang bersifat spesifik dan non spesifik. 122 .Pemeriksaan Kesadaran. Substrat Anatomik dari Kesadaran Jumlah input susunan saraf pusat menentukan derajat kesadaran sedangkan cara pengolahan input tersebut sehingga menghasilkan pola output susunan saraf pusat menentukan kualitas kesadaran. Apakah pasien memberi reaksi wajar terhadap suara konversasi. Bagaimana respon pasien terhadap rangsang nyeri. Konversasi. Nyeri. Lintasan spesifik menghantarkan impuls dari satu titik pada reseptor ke satu titik pada kortek perseptif primer. auditoar dan taktil yang ada disekitarnya.

Somnolen disebut juga sebagai letargi. Gerakan terutama timbul sebagai respon terhadap rangsang nyeri dan tidak terorganisasi. Tidak dapat diperoleh jawaban verbal dari penderita. Tidak ada jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun kuatnya. Keadaan mengantuk.Neuron-neuron di seluruh kortek serebri yang digalakkan impuls aferen non spesifik biasa disebut sebagai neuron pengemban kewaspadaan. komaringan. Penderita sama sekali tidak dapat dibangunkan. dan koma. Somnolen. Gerakan motorik untuk menangkis rangsang nyeri masih baik. mampu memberi jawaban verbal dan menangkis rangsa ngan nyeri. Penderita masih dapat dibangunkan dengan rangsangan yang kuat. Koma-ringan (semi koma). obtudansi. Secara sederhana tingkat kesadaran dapat dibagi atas: kesadaran normal (kompos mentis). Pada keadaan ini tidak ada respon terhadap rangsang verbal. pupil. Kesadaran dapat pulih penuh bila dirangsang. Aktivitas neuron tersebut digalakkan oleh neuron yang menyusun inti talamik yang dinamakan nuclei intralaminares dan disebut sebagai neuron penggalak kewaspadaan. dll) masih baik. Pembagian tingkat kesadaran seperti di atas merupakan 123 . Refleks (kornea. somnolen. Kantuk yang dalam. sopor. Tingkat keasadaran ini ditandai oleh mudahnya penderita diba ngunkan. Dengan rangsang nyeri penderita tidak dapat dibangunkan sempurna. namun kesadarannya menurun lagi. Reaksi terhadap perintah tidak konsisten dan samar. Sopor. Koma (dalam). Tidak ada gerakan spontan. Ia dapat mengikuti suruhan yang singkat dan masih terlihat gerakan spontan. Tingkat Kesadaran Tingkat kesadaran dapat dinilai berdasarkan respon seseorang terhadap stimulus.

Tanggapan/respons penderita yang perlu diperhatikan adalah : a.pembagian dalam pengertian klinis dan tidak ada batasan yang jelas antara tingkatan ini. Skala Koma Glasgow Untuk menentukan tingkat perkembangan kesadaran dapat digunakan Skala Koma Glasgow yang memperhatikan tanggapan (respons) penderita terhadap rangsang dan memberikan nilai pada respon tersebut. Membuka mata (eye) b. Respon verbal (bicara) (verbal) c. Membuka mata  spontan  Terhadap bicara (suruh pasien membuka mata)  Dengan rangsangan nyeri (tekan pada saraf supraorbita atau kuku jari)  Tidak ada reaksi (dengan rangsang nyeri pasien tidak membuka mata) 4 3 2 1 124 . Pembagian tingkat kesadaran tersebut memiliki kemungkinan diinterpretasikan beragam oleh pemeriksa dan agak sulit untuk diterapkan. Oleh karena itu di bidang neurologi dibuat sebuah skala yang obyektif untuk menentukan tingkat kesadaran yang dikenal sebagai SKALA KOMA GLASGOW (Glasgow Coma Scale). Respon motorik (gerakan) (motorik) A.

hari. Respon verbal (bicara) Baik dan tak ada dis orientasi (dapat menjawab dengan kalimat 5 yang baik dan tahu dimana ia berada. hanya suara mengerang) Tidak ada jawaban 2 1 C. maka koma = tidak didapatkan respons membuka mata. Respon motorik (gerakan) Menurut perintah Misalnya. namun tidak berupa 3 kalimat dan tidak tepat) Mengerang (tidak mengucapkan kata. bulan) Kacau (“confused”) dapat bicara dalam kalimat. Tidak tepat (dapat mengucapkan kata-kata. Ini selalu disertai fleksi spastic pada pergelangan tangan) Tidak ada reaksi 1 (Sebelum memutuskan bahwa tidak ada reaksi. misalnya menekan dengan jari pada supraorbita.B. tahu waktu. bicara dan gerakan dengan jumlah nilai = 3. terdapat reaksi fleksi terhadap nyeri (fleksi pada pergelangan tangan mungkin ada atau tidak ada Reaksi ekstensi (deserebrasi) 2 (dengan rangsang nyeri tersebut diatas terjadi ekstensi pada siku. misalnya menekan dengan objek keras seperti ballpoint. Bila sebagai jawaban siku memfleksi. bila oleh rasa nyeri pasien mengangkat tangannya sampai melewati dagu untuk maksud menapis rangsang tersebut berarti ia dapat mengetahui lokasi nyeri) Reaksi menghindar 4 Reaksi fleksi (dekortikasi) 3 (Berikan rangsang nyeri. harus diyakinkan bahwa rangsang nyeri memang cukup adekuat diberikan) - - - Bila kita gunakan skala Glasglow sebagai patokan untuk koma. suruh: “Angkat tangan”) 6 Mengetahui lokasi nyeri 5 (Berikan rangsang nyeri. namun ada 4 disorderientasi waktu dan tempat. pada jari kuku. 125 .

PEMERIKSAAN SKALA KOMA GLASGOW 126 .

Checklist : Pemeriksaan Tingkat Kesadaran (GCS) No 1. ……. 2.2012 Tanda Tangan Nama Observer 127 . 5. 4. Aspek Yang Dinilai Melakukan pemeriksaan SKG komponen mata (eye/E) Melakukan pemeriksaan SKG komponen motorik (M) Melakukan pemeriksaan SKG komponen verbal (V) Menyebutkan hasil pemeriksaan SKG Menginterprestasikan hasil SKG ke dalam kondisi klinis (sadar/penurunan kesadaran) Skor 0 1 2 Keterangan: 0 : tidak dilakukan 1 : dilakukan tapi kurang benar 2 : dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan : Skor total/10 x 100% = % Banda Aceh.. 3.

PEMERIKSAAN FISIK SARAF OTAK 128 .

129 .

tetapi jangan berikan zat stimulus dan tanyakan seperti diatas. zat toksik (Ca.trigeminalis  Hipersomia : pada histeria. hiperakusis. jangan gunakan zat yang merangsang mukosa hidung seperti mentol. overstimulation (perokok berat. tembakau. suruh pasien untuk menciumnya 5. migrain. tumor ( meningioma→Sindrom Foster Kannedy ).panjang). hidrosefalus. penggunaan amfetamin & coccaino jk. periode haid. tutup salah satu lubang hidung. amoniak. ensefalitis. timah). Pastikan lubang hidung tidak ada sumbatan atau kelainan setempat 3. Gunakan alat pengetes yg dikenal sehari-hari (mis. Hal ini untuk menilai perhatian dan kebenaran laporan yang diberikan pasien 7. Periksa kemampuan pasien dalam persepsi. jeruk). Periksa lubang hidung yang lain.I ( Nervus Olfaktorius ) Fungsi : Sensorik khusus menghidu Cara pemeriksaan : 1. anosmia sering disertai dengan berkurangnya rasa pengecapan (mis.N. Kopi. Tanyakan apakah dia dapat mencium bau tersebut dan mengidentifikasinya 6. Selanjutnya periksa lubang hidung tadi dengan zat stimulus dan bandingkan hasil keduanya 8. identifikasi dan menamakan zat yang akan dites persepsi lebih penting daripada kemampuan mengidentifikasi 2. Dengan mata tertutup. aging. Tes ini merupakan tes subyektif. tergantung dari laporan yang diberikan pasien Penilaian :  Anosmia : terjadi pada trauma & infeksi lobus frontal. keracunan striknine. Addison’s dis. 130 . cuka 4. hiperemesis gravidarum. alkohol. berdasarkan penilaian kualitatif.pd anemia pernisiosa)  Hiposmia / anosmia parsial : dapat terjadi dgn lesi di n.

pasien dapat mengenalinya. tetapi dapat terjadi hipesmia/smell agnesia  Dapat terjadi parosmia. pasien tidak dapat mengenalinya. Psikiatrik. Pemeriksaan akan lebih akurat bila penderita dalam keadaan alert (sadar) dan kooperatif Jika pasien tidak mempunyai keluhan yang berhubungan dengan N. halusinasi olfaktorius Lesi perifer (bulbus/traktus olfaktorius)  Dapat bilateral/bilateral anasmia N. baca huruf dari yang besar ke kecil. pastikan bahwa bila satu mata diperiksa. mata yang lain ditutup. tapi pada histeria.II dan pemeriksaan juga tidak mencurigai adanya gangguan. trauma terutama didaerah unkus Kakosmia : persepsi bau busuk Halusinasi penciuman : pada lesi vaskular & tumor di korteks. terjadi relaksasi akomodasi dan sinar yang masuk paralel 131 . kecuali lesi terjadi bilateral. Pada anosmia organik.    Parosmia : salah menghidu terjadi pd gg. dengan jarak 6 meter. Lokasi Lesi : Lesi korteks olfaktorius ( lobus temporal )  Jarang terjadi anosmia.II secara kasar (ketajaman penglihatan & lapangan pandang). dan oftalmoskopik sebagai pemeriksaan rutin Ketajaman penglihatan (visual acutiy) menggunakan :  Snellen Chart dengan jarak G m (Normal = 6/6)→untuk lihat jauh.II (Nervus optikus) Fungsi : sensorik khusus melihat Cara pemeriksaan : Mata diperiksa secara bergantian. maka biasanya hanya dilakukan pemeriksaan N. Trigeminal. epilepsi Cara membedakan Anosmia pada histeria (bukan kelainan organik) : rangsang dengan zat iritatif yang akan menstumulasi n.

5cm→untuk lihat dekat Bila pasien menggunakan kacamata.segelas air.arcus senilis) Pinhole test : menentukan apakah gangguan visus disebabkan kelainan refraksi atau kelainan di jalur visual.iritasi konjungtiva. Warna → menggunakan Ishihara card test (tidak rutin dilakukan) 3. 2.permen) dari sisi tertentu. atau keduanya. Jika salah satu sisi diabaikan ketika kedua jari digerakkan bersamaan. bandingkan ketajaman penglihatan denga pemeriksa (dalam hal ini visus pemeriksa harus normal). iritsi. anak -anak. tes dilakukan dengan dan tanpa kacamata Untuk bedside test : gunakan bacaan dari buku. dengan cara menggerakkan objek benda yang menarik bagi pasien (mis. perhatikan apakah ada kelainan okular lokal (katarak.uveitis. dengan jarak 35. Lapangan pandang  Tes kelainan lapangan pandang secara kasar : Pasien diminta untuk melihat dengan kedua matanya kearah mata pemeriksa. pada keadaan atas temporel suruh pasien memberitahu jari mana yang bergerak : kiri. visus akan membaik bila ditest denga pinhole. Cara lain adalah dengan menggunakan cahaya lampu atau menggerakkan tangan dan sisi tertentu 132 .benda asing. kemampuan membedakan terang dan gelap (1/00) Penilaian : jika terdapat penurunan visus. dan malingerers. Pada kelainan okular atau optikal.sikatris. Letakkan tangan pada kedua sisi kira kira 30cm diatas mata. kanan. Ulangi seperti diatas dengan posisi kedua tangan 30cm dibawah mata. Bila terdapat visus yang sangat menurun (tidak dapat melihat huruf yang paling besar)→lakukan tes hitung jari (1/60).glaukoma. tetapi dapat dilihat bila digerakkan sendiri →visual inattention Tes ini juga dapat dipakai pada penderita semitopor. objek bergerak (1/300).atasia.   Jaoger reading cards. Bila terdapat gerakan mata keobjek tersebut mengidinkasikan bahwa objek tersebut terlihat oleh pasien. Pinhole digunakan agar sinar sentral saja yang masuk ke mata.

133 .secara cepat kearah pasien. Fiksasi mata Ps dengan melihat hidung Pm. posisi mata pada orbita dan lebarnya fissura palpebra Penilaian :  Monocular field defects→lesi anterios dari klasma optikum  Bitemporal field defects→lesi di klasma optikum  Homonymous field defects→lesi dibelakang klasma optikum  Congruous homonymous field defects→lesi dibelakang korpus geniculatum lateral 4. Cari koreksi yang sesuai  Suruh pasien melihat jauh kedepan dalam jarak tertentu dan fiksasi matanya dengan melihat benda di depannya. Tangent screen. Normalnya lapangan pandang lebih luas pada kuadran interior lateral Hal ini juga tergantung dari bentuk wajah.pandang sentral). Kampimeter. Tutup mata kanan Pm dan mata kiri Ps. Funduskopi  Pemeriksaan dilakukan dalam keadaan gelap  Cari fokus untuk pemeriksaan yang sesuai. jika mata pasien atau pemeriksa hipermetrop → putar focus ring searah dengan jarum jam Blia miopia → putar berlawanan arah dengan jarum jam. Tes melalui berbagai meridian penglihatan dari arah luar ke dalam (biasanya dalam 4 arah). Penderita tidak boleh menggerakkan bola matanya. Gunakan pin putih (untuk lap. Ps diminta untuk memberitahukan bila dia melihat gerakan obyek pertama kali   Perimeter. Perhatikan apakah pasien berkedip (blink reflex) Tes konfrontasi →pemeriksa (Pm) duduk berhadapan dengan pasien (Ps) pada jarak ½ m.pdg perifer)atau pin merah (untuk lap. Periksa masing-masing mata. bentuk orbita. tetapi boleh mengedipkan matanya.

Optic disc (papilla)  Normal : cuping terletak sedikit ke arah nasal dari pusat optic disc. retina Penilaian : 1. bila terdapat katarak. waarna fundus lebih merah pada hipermetrop → normal  Papil edema : “ you see nothing (can’t find disc) + patient sees everything”  Papilitis : “ you see nothing + patient sees nothing”  Retrobulbar nouritis : “you see everything (normal disc) + patient sees nothing 134 .  Perhatikan batas. pembuluh darah.  Batas nasal kabur & temporal pucat. Lihat mata kanan pasien dengan oftalmoskop pada jarak 30cm dan 15" horisontal dari garis fiksasi  Pupil berwarna pink (red reflex). ukuran dan warna dari papil. papil pucat pada myopic fundus. dengan diameter <50% dari disc. Pegang oftalmoskop dengan tangan kanan. maka terlihat sebagai suatu silhouettes (web like appearance)  Perlahan dekatkan oftalmoskop 1-2 cm dari mata pasien Perhatikan optic disc.

berwarna merah keunguan dan lebih tebal serta berkelok – kelok  Ukuran arteri irregular. konsensual. Pembuluh darah  Arteri mempunyai ukuran lebuh kecil dari vena. neovascularisation. cotton wool spots  Black lesions : moles (Normal).IV (Nervus trokhlearis) N. name haemonhages.VI (Nervus abdusen) Fungsi :  Pergerakan bola mata (gerak sakadik. pursuit. cholesterol embolus 3. dengan perbandingan 2:3 – 4:5. arteriovenous nipping.perhatikan bentuk. laser burns. melanoma N.III (Nervus okulamotorius) N. blot haemonhages. isokor atau tidak refleks : cahaya langsung. Retina :  Red lasions : dot haemonhages. subhyaloid haemonages  White/yellow lesions : hard exudates. retinitis pigmentosa. ukuran. akomodasi → konstriksi pupil refleks : Ciliospinal reflek → pupil dilatasi pada perangsangan nyeri di leher Oculopupillary reflek → pupil konstriksi pada perangasangan nyeri dimata dan sekitarnya Orbicularis reflek → konstriksi pupil pada penutupan mata secara paksa 135 . vestibular posisional.2. warnanya lebuh terang dan terdapat refleks cahaya sepanjang permukaannya vena.konvergensi)  Posisi bola mata  Pupil dan kelopak mata Cara pemeriksaan :  Pupil : .

maka posisi mata akan menjauhi posisi mata yang paresis. sexual orgasm  Kelopak mata : .pasien diminta mengikuti gerak jari tersebut tanpa menggerakkan kepalanya.Pseudoptosis → turunnya kelopak mata sampai dibawah batas pupil. atas bawah dari medial dan atas bawah dari lateral .IV. konvergen. tetapi pasien secara volunter dapat mengangkatnya dengan penuh . maka mata kiri berusaha akan mengadakan koreksi setelah tutup mata dibuka dengan kembali ke posisi semula Gerak pursuit . atau ada yang tertinggal . Tentukan arah dimana bayangan lebih jelas terlihat.jari pemeriksa diletakkan kira – kira 50cm dari tengah pasien .bila terdapat melihat double. deviation conjugee Lakukan cover test : (untuk strabismus laten). tutup 136     .Cochleopopillary reflek → pupil dilatasi pada perangsangan suara keras Vestibulopupillary reflek → pupil dilatasi pada perangsangan labirin Psychic reflek → dilatasi pupil sebagai respon terhadap rasa takut. Dalam posisi tersebut.perhatikan apakah kedua mata bergerak dengan mulus dan serempak. minta pasien (Ps) untuk melihat dengan kedua matanya ke arah mata kanan pemeriksa (Pm).gerakkan jari tersebut dari sisi satu ke sisi lain secara horisontal. Kemudian tutup mata kiri Ps (mata yang paresis). skew deviation. lalu buka dengan cepat dan tutup mata kanan Ps. dan tanyakan apakah dia melihat double . pastikan apakah bayangan yang timbul : bersebelahan atau atas bawah. kepala miring menjauhi arah lesi Lihat posisi bola mata → devergen. cemas. Jika terdapat Strabismus.ptosis Lihat posisi kepala → pada lesi N.

kiri.perhatikan apakah gerakan mulus dan penuh Konvergensi .suruh pasien untuk melihat jauh dan kemudian lihat ke jari pemeriksa yang diletakkan ± 50cm didepan pasien. Arah posisi bayangan yang salah menunjukkan gerakan otot yang lumpuh Gerak sakadik . membuka menutup mulut.Suruh pasien untuk membuka mulutnya. Paralisis otot pterigoideus lateralis ditandai dengan deviasi rahang ke arah 137 . Bila terdapat paralisis otot. secara perlahan gerakkan jari kearah mata pasien.   salah satu mata dan tanyakan bayangan mana yang hilang : bagian luar atau dalam. Motorik .Inspeksi kening dan pipi.kemudian putar kepala pasien secara cepat kekanan.suruh pasien untuk melihat secara cepat bergantian kekanan. maka refleks intak N.Suruh pasien untuk menggigit tongue depressor.suruh pasien untuk melihat jauh dan terfiksasi .jika gerakan mata berlawanan dengan arah putaran kepala. Perhatikan adanya konvergensi dari otot-otot bolamata Gerak vestibular – posisional (vestibulo-ocular reflex) .Palpasi otot – otot tersebut sambil pasien disuruh merapatkan giginya sekuat mungkin. atas bawah . maka pemeriksa dapat menarik tongue depressor tersebut dengan mudah pada sisi yang lemah . dan menggerakkan rahang  Sensorik : wajah Cara pemeriksaan : 1. apakah ada atrofi dan otot – otot masseter dan temporalis . fleksi dan ekstensi .V (Nervus trigeminalis) Fungsi :  Motorik : otot mengunyah. kiri. . perhatikan tonus dan kontraksinya.

Adanya deviasi ditandai dengan cara pemeriksa meletakkan pena atau penggaris didepan hidung pasien secara vertikal. Paralisis otot disatu sisi.bila terdapat refleks meningkat → menandakan lesi supranuklir  Refleks kornea .V.pemeriksa merangsang dengan mengadakan sentuhan ringan langsung ke kornea menggunakan ujung kapas . Jangan berpatokan apda posisi bibir. untuk menghindari adanya refleks visual palpebral atau “ blink reflex” .Minta pasien untuk menggerakkan rahangnya dari satu sisi ke sisi lain melawan tahanan. Masseter dan temporalis. yang menyebabkan mulut tertutup.pasien melirik kearah yang berlawanan dengan arah yang akan dirangsang. . kemudian diambil patokan gigi incisivus atas dan bawah. Auricularis 3. Perlu diingat bahwa bagian bawah dan rahang bawah dipersarafi bukan oleh N. Sensorik Pemeriksaan sensorik dilakukan dalam berbagai modalitas sesuai dengan distribusi daerah seperti yang ditunjukkan pada gambar.pemeriksa mengetukkan refleks hammer keatas jarinya . Refleks  Jaw / masseter / mandibular reflex . tetapi oleh C2-3 melalui N.pemeriksa meletakkan jari telunjuknya pada pertengahan dagu pasien. atau bahkan sama sekali tidak ada kontraksi .perhatikan refleks kornea langsung dan refleks konsensual pada mata kontralateral. bila ada deviasi maka ada pergeseran dari posisi gigi semula sewaktu membuka mulut.sisi lesi. Positif jika terdapat kedipan palpebra 138 . dengan posisi mulut sedikit terbuka dan rahang dalam keadaan relaks .normal : terjadi kontraksi ringan dari M. akan menyebabkan pasien tidak mampu menggerakkan rahangnya ke sisi yang berlawanan arah dengan otot yang lumpuh 2.

N. menggembungkan pipi. sinus paranasal. lihat apakah simetris atau tidak 2. IX. plika nasolabialis. Pada sisi yang lumpuh sudut mulut tertinggal. Viseromotorik (fungsi sekresi) :  schimer’s test (Lacrimal reflex) → dengan meletakkan kertas saring atau litmus dibawah kelopak mata bawah. Bandingkan sekresi air mata pada kedua sisi. stilohioid. Pada sisi yang lumpuh kerutan berkurang atau menghilang.perhatikan muka penderita simetris atau tidak . dapat diberikan rangsang nyeri dengan menekan sudut rahangnya. sublingual dan lakrimalis  Viserosensorik : pengecapan 2/3 anterior lidah  Somatosensorik : eksteroseptif overtapping dengan daerah yang juga dipersarafi oleh N. lihat kerutannya simetris atau tidak. digastrikus posterior. C2-3. Suruh pasien memejamkan mata. mencucurkan bibir. glandula submaksilar.minta pasien mengangkat alis dan mengerutkan dahi. rongga hidung.VII (Nervus Fasialis) Fungsi :  Somatomotorik otot – otot wajah. sudut mulut. fissura palpebra . stapedius telinga tengah  Viseromotorik (parasimpatis) : glandula dan mukosa jaring. sulit untuk diperiksa secara spesifik Cara pemeriksaan : 1.perhatikan kerutan pada dahi. Jika terjadi kelumpuhan maka pasien tidak dapat mempertahankan pejamannya pada sisi yang lumpuh . Pada pasien yang tidak sadar. kemudian pemeriksa mengangkat kelopak mata pasien sementara pasien masih tetap memejamkan matanya.Minta pasien menyeringai. palatum. X. Motorik : . otot platisma.V. sama atau tidak 139 .

kuinine  Pasien diminta untuk menjulurkan lidahnya keluar. Bila ketukan dilakukan pada mentalis → terjadi elevasi dan protrusi bibir bawah dan kerutan kulit pada daru = perioral. asam asetat. dan taruh pada lidahnya ke 4 macam rasa tadi secara bergantian. garam. Gunakan cotton aplicator untuk menaruh substansi tadi  Apabila cairan ditaruh. pretrusi bibir sampai pada batas hidung bawah → snout reflex 140 . terjadi kontraksi otot yang dipersarafi → dapat normal atau tetani  Refleks orbikularis oris : lakukan ketukan diatas bibir atas → terjadi kontraksi dari bibir atas ipsilateral. Refleks  Chovstek sign : lakukan ketukan ringan dibagian depan telinga. 3. Positif pada lesi kortikobulbar dan ekstrapiramidal. salivary reflex → letakkan substansi yang merangsang (lemon drop) diatas lidah. penderita tidak boleh menarik lidahnya kedalam mulut. Jika tidak ada gangguan pada fungsi sekretorik. Rasa pahit sebaiknya dites terakhir karena meninggalkan rasa yang lebih lama 4. buccal. kemudian suruh penderita untuk menaikkan lidahnya. Pasien disuruh menyatakan pengecapan yang dirasakannya dengan isyarat atau dengan menulis diatas kertas  Mulut harus dibersihkan denga air antara tes rasa yang satu dengan lainnya. oral. Pastikan bahwa substansi itu ditaruh hanya di 2/3 anterior lidah. Sensorik pengecapan :  Gunakan 4 macam rasa dalam larutan : gula. Bila respon semakin meningkat dan terjadi kerutan. nasomental reflex. Bila positf . maka terlihat aliran saliva dari duktus submaksilar.

koordinasi dan orientasi :  Vertigo  Fukuda’s stepping test → pasien disuruh berjalan di tempat dengan mata tertutup selama ± 1 menit (50x). Dengan mata tertutup (Romberg test).VIII (Nervus vestibulo – kokhlearis) Fungsi :  N. 512 Hz  Tes Rinne : .bila konduksi tulang lebih baik dari pada udara Tes Weber : lateralisasi suara kearah telinga yang lebih keras Penilaian :  tuli persepsis : Rinne + .N. dan pergerakan maju atau mundur < 1m  Dengan mata terbuka dan penderita berdiri dengan merapatkan kedua kakinya. lateralisasi ke telinga sehat  tuli konduktif : Rinne . koordinasi dan orientasi Cara pemeriksaan : 1.Membandingkan konduksi tulang dan udara + bila konduksi udara lebih baik daripada tulang . Bila terdapat perbedaan gunakan tes Rinne. Jika terdapat kelainan akan jatuh ke sisi lesi  Berjalan tandem → penderita berjalan dengan tumit kaki yang satu di depan jari – jari kaki yang lainnya. Kokhlearis → pendengaran  N. Keseimbangan. perhatikan jatuh ke sisi mana. audiogram gunakan garputala berfrekuensi 128. Perhatikan apakah ada deviasi  Past pointing (kinetic deviation) : penderita disuruh 141 . Pendengaran :  lakukan tes secara kasar dahulu dengan menyuruh pasien mendengarkan bisikan pada jarak tertentu atau gosokkan ibu jari dan telunjuk. 256. Vestibularis → keseimbangan. tangan dilipat pada dada atau direntangkan ke depan. schewabach. Normalnya rotasi badan < 30°.. lateralisasi ke telinga sakit 2. waber.

Periksa apakah membran timpani dalam keadaan intak. onset. Selanjutnya kepala ditolehkan ke kiri 45°. pastikan kanal bersih dari serumen dan darah.(>1mnt) Horisontal bidireksional. Kemudian ulangi pemeriksaan dengan kepala menoleh ke sisi lainnya  Bedakan vertigo dan nistagmus yang timbul baik dari berat ringannya. habituasi dan arahnya. Bila tes ini dilakukan berulang – ulang. vertikal Tes kalori   Sebelum melakukan tes. atau duduk dengan kepala miring 90°-120° ke depan atau 60° ke belakang. Penderita disuruh tetap membuka matanya. Air yang digunakan 142  . Bila terdapat perforasi gunakan larutan antiseptik Pasien dalam posisi berbaring dengan kepala 30° ke depan. durasi. agar posisi kanal lateral labirin berada dalam posisi vertikal Fiksasi mata pasien terhadap objek diam. Kemudian rebahkan secara mendadak sampai kepalanya menggantung di pinggir tempat tidur dengan sudut 45° dibawah bidang horisontal. dan kemudian kembali ke posisi semula. Hal ini dilakukan bergantian pada lengan kanan dan kiri. Kemudian ia disuruh menutup mata.rotatoar Lesi sentral Ringan . Perhatikan apakah ada deviasi. maka akan meningkatkan deviasinya Nylen Barany maneuver ( Ballpike maneuver ) :  Pasien disuruh duduk di tempat tidur. dan perhatikan apakah timbul vertigo dan nistagmus. Pergerakan harus terjadi pada sendi bahu.merentangkan lengannya dan telunjuknya menyentuh telunjuk pemeriksa. mengangkat lengannya tinggi – tinggi atau menurunkan lengannya sampai posisi vertikal. Vertigo Latensi Latique habituasi Arah Lesi perifer Berat + (2-20 dtk) ++ (<1mnt) + Horisontal onidireksional.

lama nistagmus yang timbul hampir serupa. dianggap labirin tidak berfungsi Refleks :  Vestibulopupillary reflex : dilatasi pupil pada perangsangan sistem labirin  Vestibulo-oculogyric reflex (Doll’s head phenomenon) : pergerakan bola mata pada perubahan posisi kepala  Vestibulospinal reflexes → fukuda test 143 .   biasanya sekitar 7°-8° di atas atau dibawah suhu tubuh normal. tes telinga yang lainnya. masukkan 20cc selama 30 detik. Untuk itu dapat digunakan air es 0-5°. bila tidak timbul respon. dan dapat diulangi bila belum timbul respon. Bila masih tidak timbul respon. Gunakan air hangat terlebih dahulu Setelah istirahat 5 menit. Air disemprotkan dengan menggunakan tabung suntik Masukkan ±100cc air untuk menimbulkan respon dalam waktu 40 detik. semprotkan sebanyak 5cc selama 20 detik. tetapi ada juga orang yang pada stimulasi minimal tidak timbul nistagmus. dan bandingkan respon yang timbul Pada orang normal.

perhatikan palatum molle. Refleks ini kurang sensitif dibandingkan dengan refleks faring 144 . karena sukar..IX (Nervus glosofaringeas) N.. 3. bila terjadi kelumpuhan. Periksa juga dengan menyuruh penderita menggembungkan pipi. apakah ada disfagia terutama bila menelan cairan  Penderita disuruh membuka mulutnya. apakah kedudukan simetris.. uvula dan arkus faring sisi yang lumpuh letaknya lebih rendah dari sehat. arkus faring dan uvula. Refleks positif jika terdapat elevasipallatum molle dan retraksi uvula. Refleks positif bila terjadi elevasi dan konstriksi otot faring. perhatikan kualitas suara pasien : disfonia.... Fungsi motorik :  Pasien disuruh menyebutkan aaaaa. Tidak diperiksa secara rutin. Fungsi sensorik  Pemeriksaan somatosensorik sulit untuk dites secara spesifik.. karena banyak persarafan yang overlapping  Fungsi viserosensorik → 1/3 posterior lidah.... Kemudian suruh penderita untuk menyebut aaa..N. Bila terdapat kelumpuhan penderita tidak dapat melakukannya karena udara keluar melaui hidung  Penderita disuruh memakan makanan.X (Nervus vagus) Pemeriksaan : 1. maka palatum molle. Refleks :  Refleks faring (gag reflex) : rangsang ringan dinding faring atau tonsil atau lidah belakang dengan tongue spatel..... dan seolah – olah uvula tertarik ke bagian yang sehat  Fungsi viseromotorik : mengatur kelenjar untuk salivasi 2. disertai dengan retraksi lidah. afonia  Perhatikan apakah ada disartria berupa sengau.. Jika rangsang cukup kuat dapat juga membangkitkan refleks muntah  Refleks palatal / uvular : stimulai darah lateral dan inferior uvula atau pallatum molle dengan tongue spatel..

atau yang lebih rendah . Bandingkan kekuatan dan kontraksi otot keduanya .     Refleks sinus karotikus : kita tekan sinus karotikus pada perabaan arteri karotis komunis. Bandingkan kekuatan kiri dan kanan 145 . serta vasodilatasi perifer. Terjadi karena spasme laringeal Refleks okulokardiak : bila mata ditekan ringan. Periksa apakah posisi bahu simetris.XI (Nervus aksesorius) Fungsi :  Memiringkan kepala  Pergerakan mengangkat bahuPergerakan rotasi leher. Pemeriksaan :  Otot sternokleidomastoideus .Lakukan inspeksi : perhatikan apakah ada atrofi . percabangan bronkus menimbulkan batuk Hiccup (singultus) : kontraksi diafragma. sneeze. Palpasi otot yang berkontraksi.Kekuatan otot kedua sisi juga dapat diperiksa secara bersamaan dengan menahan kepala pasien pada dahi. kemudian kita tahan dengan tangan kita yang ditempatkan di dagu. laring. Lakukan juga pada sisi yang lain. timbul bradikardi. Tetapi pemeriksaan ini tidak dilakukan secara rutin Nasal.Periksa kekuatan otot antara kedua sisi. kemudian pasien disuruh mengangkat kedua bahunya. stimutatory reflex : perangsangan mukosa hidung dengan sentuhan kapas. trakea. Kita suruh pasien menoleh kekanan.Tempatkan tangan pemeriksa pada bahu pasien. dan pasien disuruh memfleksikan kepalanya ke depan  Otot trapezius . menimbulkan bersin. penurunan tekanan darah dan curah jantung. Refleks batuk : stimulasi pada faring. sehingga udara diinspirasi dengan kuat.Kemudian lakukan palpasi untuk mengetahui konsistensinya .Pada inspeksi : perhatikan apakah ada atrofi dan bagaimana kontur otot. maka akan terjadi penurunan detak jantung N.

bahu jatuh seithimgga bentuknya seperti persegi (drooping sagging appearance) N. kepala cenderung jatuh ke depan dan penderita tidak mampu mengangkat dagunya. lidah akan mencong kesisi yang lumpuh. maka lidah tidak dapat ditekankan ke pipi sebelah kanan  Jika terdapat kelumpuhan bilateral. Membedakan tremor dan fasikulasi agak sulit. Bila disertai kelumpuhan N.VII. fasikulasi dan tremor.XII (Nervus hipoglosus) Fungsi : pergerakan dan artikulasi lidah Pemeriksaan :  Suruh penderita membuka mulut dan perhatikan lidah dalam keadaan istirahat dalam mulut. maka lidah akan berdevisiasi ke arah yang sehat  Suruh penderita untuk menjulurkan lidahnya. tetapi biasanya pada lidah dalam keadaan istirahat. 146 . dimana bila penderita mengekstensikan lengannya ke anterior horisontal. Kita nilai kekuatannya dengan menekankan jari kita pada pipi sebelah luar. sebagai patokan gunakan garis antar kedua gigi insisivus  Kita juga menilai kekuatan lidah. Perhatikan adanya atrofi. lidah tidak dapat digunakan atau dijulurkan. Jika terdapat kelumpuhan.- - Pada sisi yang paralisis dapat juga terdapat winging scapula. perhatikan batas atas skapula cenderung jatuh ke lateral dan sudut bawahnya masuk kedalam Bila terdapat kelumpuha bilateral. maka posisi mulut juga mencong. tremor berkurang atau menghilang. Suruh penderita untuk menekankan lidah pada pipinya. Bila terdapat paresis lidah bagian kiri. Bila ada kelumpuhan.

skew deviation. Memberikan informasi hasil pemeriksaan : normal/tidak 3 Melakukan pemeriksaan saraf kranilais III. reflek cahaya langsung. Pemeriksaan gerak pursuit : .Jari pemeriksa diletakkan 50 cm dari mata pasien. konsensual. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan. ukuran. Lihat posisi bola mata: orto. ptosis c. VI a. kemudian menggerakkan mengikuti huruf "H" 147 . Memberi penjelasan dengan benar. akomodasi b. tembakau. IV. Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan. Melakukan pemeriksaan hidung sebelahnya dengan zat stimulus dan bandingkan hasil keduanya g. jelas. Menilai apakah : pasien dapat menciumnya/tidak. IV. convergen. Pemeriksaan pupil : perhatikan bentuk. 2 Melakukan pemeriksaan saraf kranialis I a. divergen. Mempersiapkan bahan perangsang bau : Kopi. Pasien menutup mata kemudian menutup salah satu lubang hidung dan pasien disuruh untuk mencium bahan yang di dipersiapkan d. kemudian identifikasikan bau bahan tersebut e. VI & V No Aspek Yang Dinilai Skor 0 1 2 1 Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik : a. b. III. isokor atau tidak. deviation conjugee d. Lakukan pada hidung sebelahnya tanpa pemberian stimulus f. jeruk c. Pemeriksaan kelopak mata : adakah pseudoptosis. Memastikan lubang hidung tidak ada sumbatan atau kelainan setempat b.Checklist Pemeriksaan saraf Kranialis I.

Memberikan informasi hasil pemeriksaan saraf kranialis III. perhatikan tonus dan konstraksinya · Menyuruh pasien untuk menggigit tongue depressor. Melaporkan hasil pemeriksaan N. Pemeriksaan Motorik · Inspeksi kening dan pipi.Menyuruh pasien mengikuti arah jari pemeriksa tanpa menggerakkan kepalanya . Refleks : masseter/mandibular d. …………….Memperhatikan kedua mata bergerak : mulus & serempak atau ada yang tertinggal .2012 148 . VI Skor 0 1 2 4 Melakukan pemeriksaan saraf kranialis V a. 3 c. apakah ada atrofi dan otot-otot massseter dan temporalis · Palpasi otot-otot tersebut sambil pasien disuruh merapatkan giginya sekuat mungkin. IV.. Pemeriksaan Sensorik : sensasi raba halus dermatom nervus V 1. V 5 Melaporkan hasil pemeriksaan & follow up Keterangan : 0: Tidak dilakukan 1: Dilakukan tapi kurang benar 2: Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan : Skor total/52 x 100% = % Banda Aceh. 2.No Aspek Yang Dinilai . kemudian tariklah: apakah terdapat paralisis otot atau tidak · Menyuruh pasien untuk membuka mulutnya: apakah terdapat deviasi atau tidak · Menyuruh pasien untuk menggerakkan rahangnya dari satu sisi ke sisi lain melawan tahanan: apakah terdapat paralisis atau tidak b.

menyuruh pasien menjulurkan lidah untu kmelihat : deviasi/tidak c. Melakukan pemeriksaan saraf kranialis VII Pemeriksaan motorik a. melaporkan hasil pemeriksaan 3 Melakukan pemeriksaan saraf kranialis XII a. menyuruh pasien membuka mulut & memperhatikan keadaan lidah saat istirahat : deviasi. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan. menyuruh pasien menyebutkan pengecapan yang dirasakannya dengan isyarat e.menyuruh pasien menyeringai. memperhatikan kesimetrisan wajah pasien b. …………….2012 Nama Instruktur 149 . menyuruh pasien mengangkat alis & mengerutkan dahi (simetris/tidak) d. mempersiapkan larutan gula. b. fasikulasi & tremor b. jelas. 2 I. memperhatikan kerutan plika nasolabialis. menyuruh pasien berkumur-kumur sebelum melanjutkan dengan pemeriksaan larutan selanjutnya f.Checklist Pemeriksaan saraf Kranialis VII & XII Skor No 1 a. atrofi. mencucurkan bibir & mengembungkan bibir (simetris/tidak) II. menyuruh pasien memejamkan mata & mengangkat kelopak mata e. menilai : kekuatan lidah 4 Melaporkan hasil pemeriksaan & follow up 1 2 Keterangan : 0: Tidak dilakukan 1: Dilakukan tapi kurang benar 2: Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan : Skor total/34 x 100% = % Banda Aceh. menyuruh pasien metup mata & menyulurkan lidah keluar c. sudut mulut & fissura palpebra c.. kina & asam asetat b. Aspek Yang Dinilai 0 Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik : Memberi penjelasan dengan benar. Pemeriksaan Sensorik a. Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan. menyuruh pasien menekankan lidah ke bagian dalam pipi & menahannya dengan jari. garam. meletakkan larutan yang diperiksa di 2/3 anterior lidah menggunakan aplikator d.

yaitu tempat insersio otot. Refleks Dalam (refleks regang otot) Refleks dalam timbul oleh regangan otot yang disebabkan oleh rangsangan dan sebagai jawabannya maka otot berkontraksi. serta hubungan antara kedua komponen ini. Jenis Refleks Dalam praktek sehari-hari biasanya memeriksa 2 macam refleks. Refleks dalam dapat dinamai menurut otot yang bereaksi atau menurut tempat merangsang.Bila lengkung ini rusak maka refleks akan hilang. sel neuron motorik. Jadi bukan karena teregangnya otot seperti pada refleks dalam. Hal ini dinamakan lengkung refleks (refleks arc). Tingkat jawaban Refleks 150 .refleks dalam juga dinamai refleks regang otot.PEMERIKSAAN REFLEKS Tujuan Belajar :  Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan reflek secara benar & mampu mengaitkan dengan keadaan klinis pasien sehingga kemungkinan diagnosis dapat dilakukan Secara sederhana dapat dikatakan bahwa refleks adalah jawaban atas rangsangan. Refleks neurologik bergantung pada suatu lengkungan (lengkung refleks) yang terdiri atas jalur aferen yang dicetus oleh reseptor dan sistem eferen yang mengaktifasi organ efektor. refleks miotatik dan refleks fisiologis. ganglion spinal. Nama lain refleks ini adalah refleks tendon. neuron perantara. reseptor. Misalnya : refleks tendon lutut timbul karena adanya rangsangan (ketokan). refleks periostal. Refleks Superfisial Refleks ini timbul karena terangsangnya kulit atau mukosa yang mengakibatkan berkontraksinya otot yang ada dibawahnya atau disekitarnya. serabut eferen dan efektor (otot). yaitu: refleks dalam dan refleks superfisial. serabut aferen.

jawaban lemah + : Jawaban normal ++ : jawaban berlebih. refleks meningkat Pada refleks yang lemah. Refleks Biseps Cara :  Pegang lengan pasien yang disemifleksikan sambil menempatkan ibu jari diatas tendon otot biseps.  Ibu jari kemudian diketok Hasil : gerakan fleksi lengan bawah Pusat refleks : C5-C6 2. Refleks Triceps 151 . Refleks Fisiologis 1. kita perlu mempalpasi otot untuk mengetahui apakah ada kontraksi.( negatif) : tidak ada refleks sama sekali ± : kurang jawaban. yaitu: . kadang-kadang kita perlu pula melakukan sedikit upaya untuk memperjelas refleks yang lemah. tetapi bila refleks pada sisi kanan berbeda dari sisi kiri. Refleks yang meninggi tidak selalu berarti adanya gangguan patologis. besar sekali kemungkinan hal ini disebabkan oleh keadaan patologis Pada pemeriksaan refleks jangan lupa membandingkan bagianbagian yang simetris (kanan dan kiri) - I.Jawaban refleks dapat dibagi atas beberapa tingkat.

Cara :  pegang lengan bawah pasien yang difleksikan setengah ( semi fleksi)  kemudian diketok pada tendon insersi m.triseps yang berada sedikit diatas olekranon. Hasil : ekstensi dari lengan bawah Pusat refleks : C6-C8 152 .

L4 153 . L3. Refleks Kuadricep femoris (refleks tendon lutut.misalnya pada tepi tempat tidur  ketok pada tendon muskulus kuadriceps femoris.3.dibawah atau diatas patella (biasanya dibawah patella ) Hasil : kontraksi kuadriceps femoris dan ekstensi tungkai bawah Pusat refleks : L2. refleks patella) Cara :  tungkai difleksikan dan digantungkan.

Refleks Babinski Cara : pasien berbaring dan istirahat dengan tungkai diluruskan pegang pergelangan kaki tetap pada tempatnya lakukan goresan pada telapak kaki bagian lateral. Refleks tendon Achilles/ refleks triceps sure Dalam bahasa belanda disebut Achilles Pees Reflex disingkat APR Cara :  Tungkai bawah difleksikan sedikit. Refleks Patologis 1. S2 II. kemudian kita pegang kaki pada ujungnya untuk memberikan sikap dorsofleksi ringan pada kaki tendon Achilles diketok Hasil : kontraksi dari M.4.mulai dari tumit menuju pangkal jari. Reaksi Positif: gerakan dorsofleksi ibu jari yang dapat disertai dengan gerak mekarnya jari-jari lain 154    .triceps sure dan memberikan gerak plantar fleksi pada kaki Pusat refleks: S1.

Refleks Oppenheim Cara :  Pasien baring dan istirahat dengan tungkai diluruskan  Mengurut dengan kuat tibia dan otot tibialis anterior. Refleks Schaefer Cara :  Pasien baring dan istirahat dengan tungkai diluruskan  Melakukan Cubitan pada tendon Achilles Reaksi Positif : gerakan dorsofleksi ibu jari yang dapat disertai dengan gerak mekarnya jari-jari lain 5. arah mengurut kebawah (distal) Reaksi Positif : gerakan dorsofleksi ibu jari yang dapat disertai dengan gerak mekarnya jari-jari lain 155 . Refleks Gordon Cara :  Pasien baring dan istirahat dengan tungkai diluruskan  Melakukan cubitan pada otot betis Reaksi Positif : gerakan dorsofleksi ibu jari yang dapat disertai dengan gerak mekarnya jari-jari lain 4. Refleks Chaddock Cara :  Pasien baring dan istirahat dengan tungkai diluruskan  melakukan goresan pada bagian lateral malleolus Reaksi Positif: gerakan dorsofleksi ibu jari yang dapat disertai dengan gerak mekarnya jari-jari lain 3.2.

156 .

a. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan. 5 Aspek Yang Dinilai Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik : Memberi penjelasan dengan benar. Melakukan pemeriksaan refleks fisiologis Melakukan pemeriksaan refleks Biceps Melakukan pemeriksaan refleks Triceps Melakukan pemeriksaan refleks Patella Melakukan pemeriksaan refleks Tendon Achilles Melaporkan hasil pemeriksaan refleks fisiologis Melakukan pemeriksaan refleks patologis Melakukan pemeriksaan refleks Babinski Melakukan pemeriksaan refleks Chaddock Melakukan pemeriksaan refleks Oppenheim Melakukan pemeriksaan refleks Gordon Melakukan pemeriksaan refleks Schaefer Melaporkan hasil pemeriksaan refleks patologis Keterangan : 0: Tidak dilakukan 1: Dilakukan tapi kurang benar 2: Dilakukan dengan benar % cakupan penguasaan keterampilan : Skor total/26 x 100% = % Banda Aceh. …………….2012 Nama Instruktur 157 . 4 a. b.Check list Pemeriksaan Refleks Skor 0 1 2 No 1. jelas. c.. a. Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan. 2. 3. e. b. b. c d. d.

Dalam penegakan diagnosis penyakit THT memerlukan kemampuan dan keterampilan dalam melakukan anamnesis dan pemeriksaannya. Mengenal dan menjelaskan alat dan bahan yang akan digunakan dalam pemeriksaan THT. terletak jauh ke dalam dan harus dilihat dengan cahaya. kelainan-kelainan pada hidung dan tenggorok yang dapat memberikan gangguan penghidu dan pengecapan. 3. oleh karena bagian yang akan diperiksa misalnya telinga. TUJUAN PEMBELAJARAN Tujuan Umum Setelah mengikuti skill lab ini mahasiswa diharapkan terampil dalam melakukan pemeriksaan fisik telinga hidung dan tenggorok secara baik dan benar. topografi dan fisiologi telinga hidung dan tenggorok. hidung dan tenggorokan. 2. PEMERIKSAAN FISIK TELINGA HIDUNG DAN TENGGOROK (ENT Physical Examination) PENDAHULUAN Pemeriksaan fisik telinga. mulai dari telinga bagian luar sampai telinga dalam yang dapat memberikan gangguan fungsi pendengaran dan keseimbangan. Menjelaskan anatomi. yaitu : 1. 2. Dilakukan dalam ruangan yang sedikit gelap dan tenang.9. Memakai alat dan bahan khusus. Memakai lampu kepala atau reflektor. Pemeriksaan THT membutuhkan beberapa syarat. hidung dan tenggorok adalah suatu pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan-kelainan pada telinga. karena kemampuan ini merupakan bagian dari pemeriksaan fisik sebagai syarat bila terdapat keluhan atau gejala yang berhubungan dengan kepala dan leher. Tujuan Khusus Setelah mengikuti skill lab ini mahasiswa diharapkan mampu : 1. 158 .

3. Mempersiapkan penderita dalam rangka persiapan pemeriksaan fisik telinga, hidung dan tenggorok. 4. Menginterpretasikan hasil pemeriksaan fisik telinga, hidung dan tenggorok. Persiapan sebelum melakukan pemeriksaan THT-KL antara lain : 1. Persiapan alat dan bahan Telinga : - Lampu kepala (head lamp) - Corong telinga dengan berbagai ukuran - Aplikator (alat pelilit) kapas - Pinset telinga - Cerumen hook dan cerumen spoon (pengait serumen) - Otoskop - Otopneumoscope - Suction, dengan tip suction berbagai ukuran - Nierbekken - Spuit irigasi telinga - Garpu tala 1 set (128 Hz, 256 Hz, 512 Hz, 1024 Hz, 2048 Hz) - Alkohol 70% - Merkurokrom atau Betadine - Salep kloramfenikol, salep kortikosteroid - Kapas - Tampon telinga - Lampu spiritus (Bunsen) & korek api Hidung : - Spekulum hidung dengan berbagai ukuran - Cermin nasofaring (no. 2-4) - Pinset bayonet - Suction - Pengait benda asing hidung - Spatula lidah - Larutan xylocain spray 159

Tenggorok : -

Adrenalin 1/10.000 Pantokain 2% Salep antibiotika atau vaselin Kapas Tampon hidung Lampu spiritus (Bunsen) & korek api Spatula lidah Cermin laring (no. 5-8) Nierbekken Lampu spiritus (Bunsen) & korek api Kapas Kassa

2. Posisi duduk antara pemeriksa dengan penderita Pemeriksa dan pasien masing-masing duduk berhadapan dengan sedikit menyerong, kedua lutut pemeriksa dirapatkan dan ditempatkan berdampingan dengan kaki penderita. Bila diperlukan posisi-posisi tertentu penderita dapat diarahkan ke kiri atau kanan. Kepala penderita difiksasi dengan bantuan seorang perawat. Pada anak kecil yang belum koperatif selain diperlukan fiksasi kepala, 160

sebaiknya anak dipangku oleh orang tuanya pada saat dilakukan pemeriksaan. Kedua tangan dipeluk oleh orang tua sementara itu, kaki anak difiksasi diantara kedua paha orang tua.

3. Pemasangan lampu kepala - Sebelum diletakkan di kepala, ikatan lampu kepala dilonggarkan dengan memutar pengunci ke arah kiri. - Posisi lampu diletakkan tepat pada daerah glabella atau sedikit miring ke arah mata yang lebih dominan. - Bila lampu kepala sudah berada pada posisi yang benar, ikatan lampu dieratkan dengan memutar kunci ke arah kanan. Pungunci ikatan lampu kepala harus berada di sebelah kanan kepala. 161

- Fokus cahaya lampu diatur dengan memfokuskan cahaya ke arah telapak tangan yang diletakkan kurang lebih 30 cm dari lampu kepala. Besar kecilnya fokus cahaya diatur dengan memutar penutup lampu kepala ke arah luar sampai diperoleh fokus cahaya lampu yang kecil, bulat dengan tingkat pencahayaan yang maksimal. Lingkaran fokus dari lampu dengan diameter 1 cm. - Diusahakan agar sudut yang dibentuk oleh jatuhnya sumber cahaya kearah obyek yang berjarak kurang lebih 30 cm dengan aksis bola mata, sebesar 15 derajat.

I. PEMERIKSAAN TELINGA (OTOSKOPI)
Pasien duduk dengan posisi badan condong sedikit ke depan dan kepala lebih tinggi sedikit dari kepala pemeriksa untuk memudahkan melihat liang telinga dan membrana timpani. Sebelum melakukan otoskopi kita perhatikan dahulu keadaan dan bentuk daun telinga dan daerah sekitarnya. Telinga luar diperiksa dengan inspeksi dan palpasi langsung. Mula-mula dilakukan inspeksi telinga luar, perhatikan apakah ada kelainan bentuk daun telinga, tanda-tanda peradangan, sikatrik, tumor dan sekret yang keluar dari liang telinga. Pengamatan dilakukan pada telinga bagian depan dan belakang. Setelah mengamati bagian-bagian telinga, lakukan palpasi pada telinga, apakah ada nyeri tekan (Tragus sign), nyeri tarik (Auricular sign) atau tanda-tanda pembesaran kelenjar pre dan post 162

aurikuler (retroaurikuler). Pada daerah mastoid (di belakang telinga) amati adakah abses atau fistel. Mastoid diperkusi untuk menentukan nyeri ketok.

Pemeriksaan liang telinga dan membrana timpani dilakukan dengan memposisikan liang telinga sedemikian rupa agar diperoleh aksis liang telinga yang sejajar dengan arah pandang mata sehingga keseluruhan liang telinga sampai permukaan membrana timpani dapat terlihat. Posisi ini dapat diperoleh dengan menjepit daun telinga dengan menggunakan ibu jari dan jari tengah dan menariknya ke arah superior-dorso-lateral dan mendorong tragus ke anterior dengan menggunakan jari telunjuk. Cara ini dilakukan dengan tangan kiri bila akan memeriksa telinga kanan dan sebaliknya digunakan tangan kanan bila akan memeriksa telinga kiri. Sedangkan pada anak ditarik ke arah inferior-dorso-lateral. Pada kasus-kasus dimana kartilago daun telinga agak kaku atau kemiringan liang telinga terlalu ekstrim atau terlalu banyak rambut liang telinga dapat digunakan bantuan corong telinga yang disesuaikan dengan besarnya diameter liang telinga. Corong telinga dipegang dengan menggunakan tangan yang bebas. Pada anak oleh karena liang telinganya kecil lebih baik menggunakan corong telinga.

163

polip. gerakannya. obstruksi yang disebabkan oleh sekret. plika maleolaris anterior dan posterior. bilas telinga atau dengan suction. warna. jaringan granulasi. benda asing. posisi membrana. Supaya posisi 164 . Dipegang dengan tangan kanan untuk memeriksa telinga kanan pasien dan dengan tangan kiri bila memeriksa telinga kiri. struktur telinga tengah yang terlihat pada permukaan membrana seperti manubrium mallei. edema atau furunkel. Amati liang telinga dengan seksama apakah lapang atau sempit. Liang telinga dibersihkan dari sekret dan serumen dengan menggunakan aplikator kapas. Diamati pula dinding liang telinga ada atau tidak laserasi.Untuk memeriksa liang telinga dan membrana timpani. serumen obsturan. hiperemis. Teknik menggunakan otoskop Otoskop dipegang seperti memegang pensil. prosesus brevis. jaringan ikat. refleks cahaya. ada stenosis atau atresia meatal. Pengamatan terhadap membrana timpani dilakukan dengan memperhatikan permukaan membrana timpani. kepala pasien sedikit dijauhkan dari pemeriksa. ada tidaknya perforasi. Semua sumbatan ini sebaiknya disingkirkan agar membrana timpani dapat terlihat jelas. Untuk mengetahui mobilitas membrana timpani digunakan otopneumoskop. Untuk dapat melihat bagian-bagian membrana timpani lebih jelas dapat menggunakan alat otoskop.

Otoskop dipegang dengan satu tangan sementara aurikulus dipegang dengan tangan lainnya dengan mantap dan ditarik ke atas. Cara ini akan membuat lurus kanal pada orang dewasa. dan mata didekatkan ke lensa pembesar otoskop untuk melihat kanalis dan membran timpani. maka tekanan harus benar-benar ringan agar tidak menimbulkan nyeri. 165 . Karena bagian distal kanalis adalah tulang dan ditutupi selapis epitel yang sensitif. ke belakang dan sedikit ke luar (arah postero superior). Spekulum terbesar yang dapat dimasukkan ke telinga (biasanya 5 mm pada orang dewasa) dipandu dengan lembut ke bawah ke kanal dan agak ke depan. Sedangkan pada anak ke arah postero inferior. Spekulum dari otoskop dimasukkan dengan lembut dan perlahan ke kanalis telinga. sehingga memungkinkan pemeriksa melihat lebih jelas membrana timpani.otoskop ini stabil maka jari kelingking tangan yang memegang otoskop ditekankan pada pipi pasien.

Setiap adanya cairan, inflamasi, atau benda asing; dalam kanalis auditorius eksternus dicatat. Membran timpani sehat berwarna putih mutiara. Bentuknya tidak datar akan tetapi berbentuk kerucut dengan puncaknya atau umbo mengarah ke kavum timpani. Letaknya tidak tegak lurus pada liang telinga akan tetapi membuat suatu sudut 45˚ dengan permukaan horizontal dan sagital. Liang telinga dasarnya agak menurun dekat membrana timpani sehingga terdapat suatu ruangan yang dinamakan sinus meatus. Disini sering air berkumpul setelah mandi hingga pendengaran berkurang. Penanda harus dilihat mungkin pars tensa dan reflek cahaya, umbo, manubrium mallei, dan prosesus brevis. Gerakan memutar lambat spekulum memungkinkan penglihatan lebih jauh. Gambaran yang dapat dilihat pada membrana timpani : 1. Refleks cahaya (Cone of light), jalannya dari sentrum (umbo) menuju ke muka bawah. Refleks cahaya ini disebabkan oleh karena pada bagian ini letak membrana timpani tegak lurus pada cahaya yang masuk sehingga cahaya lampu kembali mengenai mata kita. 2. Dari umbo ke arah atas muka tampak manubrium malei. 3. Pada ujung membrana timpani tampak titik putih, juga merupakan bagian dari malleus yang dinamakan prosessus brevis. 4. Dari sini tampak adanya lipatan ke muka dan ke belakang disebut plica malleolaris anterior dan posterior, sehingga 166

membrana timpani dibagi atas: pars flaccida (bagian atas) dan pars tensa (bagian bawah). 5. Karena membrana timpani tipis dan dapat ditembus cahaya sehingga ada kalanya nampak incus dan promontorium Pada lipatan malleus, daerah perifer dan warna membrana begitu juga tanda yang tak biasa atau deviasi reflek cahaya dicatat. Adanya cairan, gelembung udara, atau massa di telinga tengah harus dicatat.

Kelainan-kelainan pada membrana timpani : 1. Warna - agak merah : pada tuba katar akut - merah : pada otitis media akut - putih :pada tuba katar kronik, otitis media kronik yang sembuh. - biru : pada perdarahan dalam kavum timpani - agak kekuning-kuningan mengkilat: pada tuba katar eksudativa - bercak-bercak putih :perkapuran pada membrana timpani 2. Retraksi : pada tuba katar akut dan tuba katar kronik 3. Membrana timpani menonjol keluar (bulging) : pada otitis media akut disebabkan adanya tekanan cairan dalam kavum timpani. 4. Perforasi : Letak sentral (tipe rinogen) atau marginal (attik, tipe mastoid). Bila letaknya sentral biasanya pada bagian belakang bawah 167

disebabkan komplikasi penyakit di hidung atau faring. Bentuk perforasi : a. besar, kecil, bundar, oval, bentuk ginjal atau hati b. bila besar dinamakan perforasi subtotal c. bila tidak ada membrana timpani lagi sama sekali dinamakan perforasi total 5. Granulasi atau polip : Berasal dari kavum timpani. Granulasi warnanya merah, mudah berdarah. Polip warnanya pucat mengkilat. 6. Cairan : Dapat serous, seromucous, mukopurulen, pus, sanguineus. Tidak busuk : berasal dari perforasi sentral, tapi lama-lama dapat juga menjadi busuk. Busuk : pada perforasi marginal, karena ada nekrose tulang. Bila cairan berbenang-benang menandakan berasal dari cairan kavum timpani. Pemeriksaan otoskop kanalis auditorius eksternus dan membrana timpani yang baik hanya dapat dilakukan bila kanalis tidak terisi serumen yang besar. Serumen terdapat di kanalis eksternus, dan bila jumlahnya sedikit tidak akan mengganggu pemeriksaan otoskopi. Bila serumen sangat lengket maka sedikit minyak mineral atau pelunak serumen dapat diteteskan dalam kanalis telinga dan pasien diinstruksikan kembali lagi.

II. PEMERIKSAAN PARANASALIS

HIDUNG

DAN

SINUS

Pemeriksaan Hidung dari luar Pemeriksaan hidung diawali dengan melakukan inspeksi dan palpasi hidung bagian luar dan daerah sekitarnya. - Inspeksi dilakukan dengan mengamati ada tidaknya kelainan bentuk hidung, tanda-tanda infeksi dan sekret yang keluar dari rongga hidung.

168

Bila punggung hidung lebar, kemungkinan dalam hidung ada polip, bila punggung hidung turun, kemungkinan ada perforasi pada septum nasi. - Palpasi dilakukan dengan penekanan jari-jari telunjuk mulai dari pangkal hidung sampai apeks untuk mengetahui ada tidaknya nyeri, massa tumor atau tanda-tanda krepitasi. Krepitasi dan deformitas dorsum nasi dapat kita temukan pada palpasi hidung. Deformitas dorsum nasi merupakan tanda terjadinya fraktur os nasalis. Ala nasi penderita terasa sangat sakit pada saat kita melakukan palpasi. Tanda ini dapat kita temukan pada furunkel vestibulum nasi.

Rinoskopi Anterior (RA) Pemeriksaan RA memakai lampu kepala dan spekulum hidung (Hartmann) yang sesuai dengan besarnya lubang hidung. Cara menggunakan spekulum hidung : Spekulum digenggam sedemikian rupa dengan tangkai bagian bawah dari spekulum ditekan oleh jari tengah, jari manis dan jari kelingking dari tangan sebelah kiri sehingga tangkai bawah dapat digerakkan bebas dengan menggunakan jari-jari tersebut. Ujung jari telunjuk diletakkan pada ujung hidung pasien sebagai fiksasi disekitar hidung dan ibu jari diluruskan. Ujung spekulum dimasukkan dengan hati-hati dan dalam keadaan tertutup ke dalam rongga hidung, jangan mengenai bagian dalam hidung karena nanti 169

yang diperiksa merasa nyeri. Di dalam rongga hidung ujung spekulum dibuka. Jangan memasukkan ujung spekulum terlalu dalam atau membuka ujung spekulum terlalu lebar. Oleh karena itu membuka lubang hidung jangan keras-keras, harus perlahan-lahan dan tenang (with a ladies hand). Dilihat dahulu vestibulum nasi. Pemeriksaan vestibulum dapat juga dengan cara mendorong ujung hidung ke atas (pada anak-anak). Amati struktur yang terdapat di dalam rongga hidung mulai dari luasnya lapang/sempit, dasar rongga hidung, konka-konka, meatus dan septum nasi. Perhatikan warna dan permukaan mukosa rongga hidung, ada tidaknya massa, benda asing dan sekret. Struktur yang terlihat pertama kali adalah konka inferior. Bila ingin melihat konka medius dan superior pasien diminta untuk tengadahkan kepala. - Konka warnanya merah muda (normal), pucat atau hiperemis. Besarnya, eutrofi, atrofi, edema atau hipertrofi. - Septum nasi cukup lurus, deviasi, krista atau spina. - Jika terdapat sekret kental yang keluar dari daerah antara konka media dan konka inferior kemungkinan sinusitis maksilaris, sinusitis frontalis dan sinusitis ethmoid anterior, sedangkan sekret yang terdapat di meatus superior berarti sekret berasal dari sinus ethmoid posterior atau sinus sphenoid.

Pada saat mengeluarkan ujung spekulum dari rongga hidung, ujung spekulum dirapatkan tetapi tidak terlalu rapat kira-kira 90%. 170

Bila rongga hidung sulit diamati oleh adanya edema mukosa dapat digunakan tampon kapas efedrin yang dicampur dengan lidokain yang dimasukkan ke dalam rongga hidung untuk mengurangi edema mukosa.Jangan menutup ujung spekulum 100% karena bulu hidung pasien dapat terjepit dan tercabut keluar. Konka Inferior Warnanya merah muda. sekali-sekali tampak : a. biasanya ada sedikit bengkok. Septum nasi tidak terlalu lurus. Konka Nasi a. tampak dibagan atas belakang. Deviasi septum dapat pada bagian depan (tulang rawan) dan dapat juga pada bagian belakang (bagian tulang). spima ini sering mengadakan gangguan karena melekat pada konka. Fenomena Palatum Molle akan negatif bila terdapat massa di dalam rongga nasofaring yang menghalangi pergerakan palatum molle. Di bawah mucosa terdapat Korpora cavernosa yang menyebabkan konka dapat membesar atau mengecil. Krista. Pada waktu melakukan penilaian fenomena palatum molle usahakan agar arah pandang mata sejajar dengan dasar rongga hidung bagian belakang. 2. yang jalannya dari muka bawah ke atas belakang b. atau terdapat kelumpuhan otot-otot levator dan tensor velli palatini. Spina (duri). Bagian depan ada suatu venen flexus (little’s area atau pleksus Kisselbach). Septum nasi (di medial) membagi kavum nasi dalam bagian kanan dan kiri. Dalam kavum nasi tampak : 1. Pada anak kecil sering mengakibatkan perdarahan. Pada pemeriksaan RA dapat pula dinilai Fenomena Palatum Molle yaitu pergerakan palatum molle pada saat pasien diminta untuk mengucapkan huruf “ i “. 171 . Pandangan mata tertuju pada daerah nasofaring sambil mengamati turun naiknya palatum molle pada saat pasien mengucapkan huruf “ i ”.

Dasar hidung Bila kavum nasi tidak sempit dapat kita lihat koana yang merupakan pintu belakang dari kavum nasi. pada alergi warnanya pucat atau kebiru-biruan 2. Pada meatus nasi inferior terdapat muara duktus nasolakrimalis. . atau nampak seperti garis putih melalui 172 . Pada radang warnanya merah. Bila kavum nasi lapang misalnya pada rinitis atrofi maka dapat pula kita melihat muara kavum nasi. Di dalam hidung terdapat lubang-lubang yaitu muara-muara dari saluran sinus dan mata. Konka ini tidak tampak seluruhnya yang jelas hanya kepala (kaput). Serous : pada permulaan rinitis akut dan rinitis alergi. Pada sinusitis tampak pus keluar dari metus nasi media. Pus : pada corpus alienum. 4. b. sehingga bila menangis air mata bisa masuk ke dalam rongga hidung. 5. Warna : normal warna mukosa hidung merah muda. Mucous : pada rinitis akut yang sudah beberapa hari Pada rinitis kronik simpleks c. Cairan a.cellulae ethmoidal anterior : terletak di bagian supero-posterior Kelainan-kelainan di dalam kavum nasi : 1. sinusitis maksila.3.sinus maksila : terletak di belakang duktus nasofrontalis . Konka Media Letaknya diatas konka inferior. Meatus Nasi Dibawah konka terdapat meatus nasi (inferior. 6. Yang tampak meatus inferior dan meatus media. Pada trauma kapitis yang keluar liquor cerebrospinalis b. media dan superior). Untuk melihat konka media kepala harus ditengadahkan. Meatus nasi superior tidak dapat kita lihat.sinus frontal : pada bagian depan (duktus nasofrontalis) .

Jaringan a. Nyeri tekan pada pipi dan nyeri ketuk pada gigi bagian atas menunjukkan adanya Sinusitis maksilaris. 173 .konka media atau berkumpul pada dasar sinus d. Polip : dapat pada sebelah atau kedua belah hidung. Nyeri tekan di daerah kantus medius menunjukkan adanya kemungkinan sinusitis etmoidalis. Pembengkakan pada kelopak mata atas kemungkinan sinusitis frontalis akut. Tumor : biasa ganas (karsinoma yang berasal dari ethmoid. Darah : pada trauma atau tumor 3. kelopak mata bawah menunjukkan kemungkinan adanya sinusitis maksilaris akut. warna pucat mengkilat. Konka a. padat (tipe fibrous) b. sinus maksila dan nasofaring) PEMERIKSAAN SINUS PARANASALIS Inspeksi dilakukan dengan melihat ada tidaknya pembengkakan pada wajah. Atrofi : pada rinitis atroficans 4. konsistensi lembek (tipe serous). Krusta : pada rinitis atroficans e. Pembengkakan dan kemerahan pada pipi. Nyeri tekan pada medial atap orbita menunjukkan adanya Sinusitis frontalis. Oedema : pada rinitis akut Pada rinitis kronika simpleks b. Hipertrofi : pada rinitis alergi yang sudah lama c. dapat besar atau kecil.

Lakukan penekanan pada dua per tiga bagian depan lidah secara lembut dengan spatula lidah. warna. lidah. Penderita diinstruksikan membuka mulut. kripta. juga perhatikan adanya ulkus.III.  Tonsil: besar. hiperemis. atau adakah berselaput 174 . adakah perlekatan. atau kelainan kongenital. apakah ada detritus. kemudian diperhatikan :  Dinding belakang faring: warnanya. licin atau bergranula. massa.  Lidah: gerakannya dan apakah ada massa tumor. perhatikan struktur di dalam cavum oris mulai dari gigi geligi. dan bukkal. pembengkakan. palatum.  Pemeriksaan Rongga Mulut dan Faring Untuk pemeriksaan rongga mulut dan faring diperlukan spatula lidah. sekret ada atau tidak dan gerakan arkus faring. Lihat ada tidaknya kelainan berupa. PEMERIKSAAN MULUT DAN FARING (OROFARING)  Inspeksi bibir : perhatikan warna dan kelembaban.

T0 = Tonsil kiri dan kanan sudah diangkat/tidak ada lagi T1 . 175 .T4 = Tonsil sudah berada/bertemu atau melewati garis median Dengan menggunakan sarung tangan lakukan palpasi pada daerah mukosa bukkal.T3 = Tonsil kiri dan kanan sudah melewati garis paramedian tapi belum melewati garis median T4 . dll). dasar lidah dan daerah palatum untuk menilai adanya kelainan-kelainan dalam rongga mulut (tumor.T2 = Tonsil kiri dan kanan sudah melewati plika posterior.T1 = Tonsil kiri dan kanan masih berada di dalam fossa tonsilaris T2 . tetapi belum melewati garis paramedian T3 .Penilaian besarnya Tonsil : T0 . kista.

176 .

kelenjar limfa leher dan kelenjar tiroid. bentuk. . konsistensi.Bila terdapat pembesaran kelenjar limfa. Palpasi Kelenjar Limfa leher: Cara : . 177 . pembesaran kelenjar parotis.IV. perlekatan dengan jaringan sekitarnya dan lokasinya. PEMERIKSAAN LEHER Inspeksi Leher: Perhatikan simetris atau tidak. adanya massa atau jaringan parut.Pemeriksa berdiri di depan/belakang pasien dan meraba dengan kedua belah tangan seluruh daerah leher dari atas ke bawah. tentukan ukuran. kelenjar submandibula.

Preaurikular 6. Sub Mental 2. Posterior Aurikular 7. Submandibular 178 . Posterior cervical 4. Oksipital 8.Keterangan : Daerah kelenjar limfa leher 1. Tonsilar 9. Deep cervical 5. Superficial cervical 3.

Cara anterior : .Pemeriksa meletakkan kedua tangannya pada leher pasien. laring digeser kekiri dan lobus kiri dievaluasi dengan cara yang sama dengan tangan sebelahnya.Selama menelan lobus tiroid kanan dipalpasi dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri . Cara Posterior : . yang posisinya sedikit ekstensi .Pemeriksa berada di belakang pasien .Pasien dan pemeriksa duduk berhadapan . nyeri tekan atau tidak.Setelah memeriksa lobus kanan. 2. nilai : konsistensinya.Pasien diminta sekali lagi menelan saat trakea terdorong ke kiri . sementara tangan kanan pemeriksa meraba tulang rawan tiroid berlatar belakang musculus sternocleidomastoideus .Leher pasien difleksikan atau memutar dagu sedikit kekanan (untuk merelaksasikan musculus sternocleidomastoideus pada sisi tersebut) . Normal : kelenjar tiroid jarang teraba Jika teraba.Pasien diminta untuk menelan.Pemeriksa memakai tangan kirinya mendorong trakea ke kanan .Tangan kanan pemeriksa menggeser laring ke kanan . 179 . besarnya.Palpasi Kelenjar Tiroid Terdapat 2 cara: 1.Pasien disuruh menelan .Pemeriksa meraba kelenjar tiroid berlatar belakang musculus sternocleidomastoideus kiri dengan tangan kiri.

Pemeriksaan Fungsi Pendengaran 1. Tes Berbisik dan Tes Suara Untuk ini dibuat jarak tertentu antara penderita dan pemeriksa yaitu 6 meter. Telinga yang akan diperiksa diarahkan pada pemeriksa dan diberikan suara berbisik atau bicara.V. dimana penderita dapat mendengar suara pemeriksa baik secara berbisik ataupun suara percakapan. Bila penderita dapat mendengar dengan jelas berarti telinga tersebut normal atau dinotasikan sebagai 180 .

6 meter. kaca mata.Arah getaran kedua kaki garpu penala searah dengan kedua kaki garpu penala - Posisi atau letak garpu penala : . giwang dilepas . dan selanjutnya hingga penderita dapat mendengar dengan jelas. Namun. yang dinyatakan sebagai ad concham. Bahkan bila penderita tidak mendengar sama sekali maka pemeriksa dapat berbisik ke telinga penderita.Hantaran tulang (BC) : pada prosessus mastoid.Hantaran udara (AC) : arah kedua kaki garpu penala sejajar dengan arah liang telinga kira-kira 2. 2.5 cm . maka pemeriksa maju 1 meter mendekati penderita. Tes ini sangat subjektif. bila penderita tidak mendengar. Tes Garpu Penala Manfaat : untuk mengetahui jenis ketulian. karena intensitas suara pemeriksa tidak tetap. tidak boleh menyinggung daun telinga 181 .Penting : telinga tidak tertutup. Cara menggetarkan garpu penala : .Getarkan kedua kaki garpu penala dengan jari telunjuk dan ibu jari dengan cara dipetik atau mengetuk kakinya pada lengan .

Tes Rinne Biasanya digunakan garpu penala 512 Hz. Penggunaan garpu penala harus berhati-hati untuk menghasilkan suara dan pangkalnya diletakkan pada prosessus mastoid. pada telinga sebelah mana yang mendengar lebih kuat.Tes Rinne (+)  normal atau gangguan sensorineural . Garpu Penala digetarkan.2048 Hz. Rinne tes positif. tapi bila diperlukan bisa diulangi dengan memakai garpu penala 128 . Rinne tes negatif. Pada telinga normal akan mendengar suara sama kuat digaris tengah. dahi atau gigi insisivus atas.5 cm arah lateral dari meatus akustikus eksternus. pendengaran lebih baik pada telinga yang sakit. Interpretasi : . sedangkan pada kekurangan pendengaran konduktif. Pasien dengan kehilangan pendengaran sensoris akan mendengar lebih baik pada telinga yang sehat. Bila tidak mendengar. Pemeriksa memberitahu kepada pasien untuk mengangkat tangannya bila ia tidak mendengar lagi. 182 . kemudian tangkainya diletakkan di prosessus mastoideus. Bila pasien dapat mendengar. dan kemudian secepatnya posisi garpu penala dipindahkan kira-kira 2. Tes ini membandingkan hantaran tulang dari kedua telinga penderita.Tes Rinne (-)  gangguan konduksi Tes Weber Tes ini mempergunakan getaran garpu penala 256 atau 512 Hz yang diletakkan di linea mediana seperti vertek.

Penilaiannya ada atau tidak ada lateralisasi.Lateralisasi ke telinga yang sehat (tuli perseptif pada telinga yang sakit) Tes Schwabach Tes ini membandingkan hantaran tulang penderita dengan pemeriksa yang dianggap mempunyai pendengaran yang normal. memanjang atau memendek.Lateralisasi ke telinga yang sakit (tuli konduktif pada telinga yang sakit) . Dari perbedaan ini dinilai keadaan telinga yang diperiksa. Penilaian yang dilakukan adalah pendengaran penderita sama dengan pemeriksa. 183 .Tes ini baru bermakna bila salah satu telinga sakit. Pertama garpu penala digetarkan. Bila suara yang didengar hampir menghilang secepatnya dipindahkan ke prosessus mastoid pemeriksa. Disini dinilai apakah pemeriksa masih dapat mendengar suara tersebut. kemudian diletakkan di prosessus mastoid penderita dan ditanyakan pada penderita apakah suara yang didengarnya hampir menghilang. Kemudian dilakukan sebaliknya. Interpretasi: . pemeriksa dahulu baru kemudian penderita.

Interpretasi : .Schwabach sama dengan pemeriksa  normal 184 .Schwabach memanjang  gangguan konduksi .Schwabach memendek  gangguan sensorineural .

Checklist Pemeriksaan Fisik THT No 1. 2. Aspek yang dinilai Memberikan salam pembuka dan memper-kenalkan diri Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik :
 Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan

Skor 0 1 2 3

3. 4. 5.

Mengatur posisi duduk antara pemeriksa dan pasien Memasang lampu kepala dengan benar Melakukan Pemeriksaan Telinga (Otoskopi)
 Memperhatikan keadaan dan bentuk daun telinga serta daerah depan dan belakang telinga Memeriksa telinga luar, menentukan nyeri tekan atau nyeri tarik Melihat liang telinga dengan lampu kepala Memeriksa telinga dengan otoskop Mempresentasikan membrana timpani

   

6.

Melakukan Pemeriksaan (Rinoskopi Anterior)
   

Hidung

Memeriksa hidung luar Memegang spekulum hidung dengan benar Membuka lubang hidung dengan perlahan-lahan dan tenang Memeriksa vestibulum nasi

185

Memeriksa kavum nasi : - Memperhatikan kavum nasi, dasar hidung, atap hidung, septum nasi, konka nasi dan meatus nasi

7.

Pemeriksaan (Orofaring)
 

Mulut

dan

Faring

Inspeksi bibir Pemeriksaan rongga mulut dan faring : - Menekan dua per tiga bagian depan lidah dengan spatula lidah - Memeriksa orofaring : - Dinding belakang faring - Tonsil (tentukan ukurannya) - Lidah, palatum, gigi geligi, bukkal Inspeksi leher Palpasi kelenjar limfa leher Pemeriksaan kelenjar tiroid

8.

Pemeriksaan Leher
  

9.

Pemeriksaan Pendengaran Garpu Penala
     

dengan

Mengetahui frekuensi garpu penala Menggetarkan garpu penala dengan benar Melakukan tes Rinne pada kedua telinga Melakukan tes Weber Melakukan tes Schwabach Mampu melakukan interpretasi sederhana

Keterangan Skor : 0 = tidak dilakukan sama sekali 1 = dilakukan dengan banyak perbaikan 2 = dilakukan dengan sedikit perbaikan 3 = dilakukan dengan sempurna

Banda Aceh…..2013 Observer ………………………… x 100% = %

Cakupan penguasaan keterampilan : Skor total ./87 186

10. PEMERIKSAAN FISIK DIAGNOSTIK MATA (EYE PHYSICAL EXAM) Tujuan Belajar : Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik mata secara sistematis dan benar PENDAHULUAN Mata adalah suatu struktur sferis berisi cairan yg dibungkus oleh 3 lapisan: 1. Sklera dan kornea 2. Koroid,badan siliaris dan iris 3.Retina - Sebagian besar bola mata dilapisi oleh sebuah lapisan jaringan ikat protektif yang kuat disebelah luar : sklera yang membentuk bagian putih mata - Dianterior (kearah depan) lapisan luar terdiri dari : Kornea bagian yang transparan, tempat lewatnya berkas cahaya kearah anterior mata ⌐■ Koroid: - Lapisan tengah dibawah sklera, yang sangat berpigmen, dan mengandung pembuluh darah untuk memberi makan retina - Lapisan koroid disebelah anterior mengalami spesialisasi untuk membentuk : badan siliaris dan iris. ⌐■ Retina: - Lapisan paling dalam dibawah koroid - Terdiri dari sebuah lapisan berpigmen sebelah luar dan sebuah lapisan jarigan saraf didalam - Retina mengandung sel batang dan kerucut. Bagian dalam mata terdiri dari:  Dua rongga berisi cairan yang dipisahkan oleh sebuah lensa yang jernih yang memungkinkan cahaya lewat menembus mata dari kornea ke retina  Rongga anterior (depan) : Aqueous Humor terletak antara kornea dan lensa mengandung cairan encer jernih.  Rongga posterior (belakang) : Vitreous Humor terletak antara lensa dan retina 187

Bagian bagian eksternal mata yang penting diperhatikan diperlihatkan pada gambar dibawah ini :  Palpebra dan silia berfungsi untuk melindungi mata, menutupi bola mata dan melumas permukaannya.  Konjungtiva adalah membran mukosa tipis yang vaskular dan transparan, yang melapisi palpebra dan bagian anterior bola mata  Sklera adalah lapisan luar bola mata yang putih, terletak dibawah konjungtiva  Kornea : jaringan yang transparan, licin dan avascular yang menutupi iris, dan menyatu pada sklera pada limbus  Iris : bagian sirkular yang berwarna pada mata  Pupil : lubang bulat dan kecil ditengah iris

188

B

A & B Gambar Anatomi Mata Manusia

Jalur visual dari retina ke korteks visual

189

astigmat atau silindris  Kelainan media penglihatan seperti kornea. Pada jarak ini pasien yang memiliki penglihatan normal dapat melihat huruf pada baris dengan angka 6 di sebelahnya. lensa dan badan kaca yang keruh. Beberapa istilah yang sering dipergunakan dalam pemeriksaan tajam penglihatan adalah :  AV : aksis visual (tajam penglihatan )  OD : oculus dexter ( mata kanan )  OS : oculus sinistra ( mata kiri )  OU : oculus uterque ( kedua mata ) Tajam penglihatan ditentukan dengan memakai kartu Snellen yang merupakan kartu dengan huruf/angka/simbol yang mempunyai ukuran berbeda pada setiap barisnya. Baris huruf/angka/simbol mempunyai angka disebelah kanannya yang menunjukkan jarak seseorang normal dapat melihat huruf pada baris tersebut dengan jelas. pasien ini mempunyai tajam penglihatan 6/6.Pemeriksaan tajam penglihatan Tajam penglihatan adalah suatu metode pengukuran yang mana seseorang dapat mengenal objek terkecil pada jarak tertentu dari mata. Pemeriksaan dilakukan tanpa dan dengan kacamata yang sedang dipergunakan. Besar huruf pada kartu Snellen berbeda sehingga setiap huruf tertentu hanya dapat dibaca pada jarak tertentu (kartu untuk jarak 6 meter dan 5 meter) membentuk sudut 5 menit dengan nodal point. Kartu Snellen ditempatkan pada jarak tertentu (biasanya 6 meter) di depan pasien yang akan diperiksa. Tajam penglihatan dapat berkurang pada keadaan berikut :  Kelainan refraksi seperti miopia (rabun jauh). Alat :  Kartu Snellen atau E  Lensa Coba  Gagang Lensa Coba 190 . hipermetropia (rabun dekat).  Saraf penglihatan terganggu. akuos humor.

 Pasien diminta membaca huruf yang tertulis pada kartu Snellen dimulai pada baris paling atas dan bila telah terbaca dilanjutkan dengan membaca baris bawahnya. yang oleh orang normal huruf tersebut dapat dilihat pada jarak 6 meter.Tehnik pemeriksaan  Pasien duduk menghadapi kartu Snellen dengan jarak 6 meter. Uji hitung jari Dasar : Jari dapat dilihat terpisah oleh orang normal pada jarak 60 meter Teknik : Pasien duduk di kamar yang terang Pasien diminta melihat atau menentukan jumlah jari yang diperlihatkan pada jarak tertentu.  Ditentukan letak baris terakhir yang masih dapat dibaca. berarti tajam penglihatan 6/30  Bila pasien tidak dapat mengenal huruf terbesar pada kartu Snellen dengan jarak 6 meter maka dilakukan uji hitung jari.  Dipasang gagang lensa coba  Mata yang tidak akan diperiksa ditutup. dikatakan tajam penglihatan 6/6.  Bila pasien hanya dapat melihat huruf pada baris yang menunjukkan angka 30. Tajam penglihatan seseorang dikatakan normal bila tajam penglihatan adalah 6/6 atau 100%. Bila pasien tidak dapat melakukan uji hitung jari dilakukan uji lambaian 191 . dikatakan tajam penglihatan 6/30  Terdapat pada baris dengan tanda 6. Dengan kartu standar dapat ditentukan tajam atau kemampuan dan fungsi mata penglihatan seseorang :  Bila tajam penglihatan 6/6 . Nilai atau hasil pemeriksaan Bila huruf yang terbaca tersebut :  Terdapat pada baris dengan tanda 30. biasanya yang diperiksa mata kanan terlebih dahulu. berarti ia dapat melihat pada jarak 6 meter. Bila jari yang diperlihatkan dikenal pada jarak 1 meter maka dikatakan tajam penglihatan seseorang adalah 1/60.

Bila pasien hanya dapat melihat lambaian tangan pada jarak 1 meter. Bila pasien sama sekali tidak mengenal adanya sinar disebut tajam penglihatan nol/buta.  Bila huruf yang terbaca lebih besar daripada huruf sebelumnya berarti terdapat kelainan pada media penglihatan 192 . berarti tajam penglihatannya adalah 1/300. Keadaan ini disebut sebagai tajam panglihatan tidak berhingga ( 1/~ ). Nilai :  Bila dapat baca huruf yang lebih kecil daripada sebelumnya pada kartu Snellen berarti terdapat kelainan refraksi yang dapat dikoreksi penuh.  Pada mata tersebut dipasang lempeng pinhole Pasien diminta membaca kembali kartu Snellen. Kadangkala seseorang hanya dapat mengenal adanya sinar saja dan tidak dapat melihat lambaian tangan. maka dapat dinyatakan tajam penglihatan pasien lebih buruk dari 1/60. Uji Lobang Kecil ( Pinhole Test ) Pemeriksaan ini bermaksud untuk mengetahui apakah tajam penglihatan terganggu akibat kelainan refraksi atau kelainan media penglihatan atau saraf optik. Orang normal dapat melihat gerakan atau lambaian tangan pada jarak 300 meter. Alat :  Lempeng pinhole  Kartu snellen  Di kamar ruangan biasa Tehnik :  Pasien duduk menghadap kartu Snellen dengan jarak 6 meter  Pasien diminta membaca huruf terkecil yang masih terbaca. Dengan uji lambaian tangan.tangan.

deviasi berkisar 12. Kedudukan bola mata 1. Refleks cahaya pada mata berdeviasi bila: Pada tepi pupil.30 derajat dan bila pada pinggir limbus deviasi berkisar 45-60 derajat. 193 . Pada keadaan normal refleks kornea sedikit ke arah nasal dari sentral kornea. II. Refleks sinar pada mata fiksasi diarahkan pada tengah pupil kemudian dilihat refleks sinar pada kornea mata yang lain. Bila refleks terletak antara pinggir pupil dan limbus.15 derajat. deviasi berkisar 25. maka mungkin terdapat parese otot tersebu. Uji posisi otot mata luar Bertujuan untuk memeriksa fungsi gerak otot penggerak bola mata.Pemeriksaan Segmen Anterior I. Bila ternyata otot tertentu tidak mampu mengikuti gerakan obyek. sebagai sinar fiksasi.1 Uji Refleks Kornea ( Hirscberg ) Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai kedudukan bola mata dengan melihat refleks pada kornea. Dengan mempergunakan suatu obyek dilihat kemampuan pergerakan otot pada posisi yang dibuat untuk mendapatkan nilai kemampuan pergerakan otot pada saat mengikuti obyek tersebut. Bila terdapat fiksasi sentral pada satu mata maka refleks sinar yang diberikan pada kornea mata lainnya dapat menentukan deviasi secara kasar. Alat : Sentolop Tehnik : Sentolop disinarkan setinggi mata pasien dengan jarak 30 cm.

entropion. apakah kelainan tersebut merupakan perdarahan subkonjungtiva. hiperemi. Konjungtiva IV. sepertitosis. Bila pada saat melihat keatas tarsus yang sudah di eversi kembali ke kedudukan normal.  Mencari kelainan yang terdapat pada konjungtiva. Uji eversi kelopak Dilakukan untuk mengetahui apakah ptosis yang terjadi akibat parese levator palpebra. Melihat gangguan sekunder fungsi kelopak mata akibat penyakit lain. Kelopak Mata III. lagofthalmus.1. Pada saat eversi kelopak mata dilakukan juga penilaian kelainan pada konjungtiva tarsal. berarti tidak terdapat parese otot levator dan otot orbikularis okuli. Dilakukan dengan membalik kelopak ke atas. IV. injeksi konjungtiva atau kombinasi keduanya. misalnya pterigium.1 Inspeksi : Melihat keadaan kedua kelopak mata untuk menentukan kelainan yang ada. mis Bell’s palsy. ophthalmopaty tiroid.3. xantelasma dan lain-lain. skleritis dll.Inspeksi  Pemeriksaan dilakukan dengan mempergunakan bantuan loup dan senter  Melihat pola perdarahan di konjungtiva. pinguecula. 194 .  Melihat adakah sekret yang dikategorikan berdasarkan kuantitas.III. karakter sekret.2. pasien diminta dilihat keatas. ektropion. III. adakah tampak benda asing. injeksi siliar. folikel atau papil III.

benda yang bergerak cepat mendekati mata.2. V. ulkus. misal : sikatriks. kelainan yang dapat ditemukan pada kornea. rabaan pada kornea.Plasidoskop diletakkan setinggi mata pasien 3. benda asing dan lain-lain.  Bila garis lingkaran lonjong berarti terdapat astigmat  Bila garis tidak beraturan atau lingkaran tidak simetris berarti adanya astigmat ireguler. Pemeriksaan Plasidoskopi Alat : Papan dengan gambaran lingkaran konsentrik putih hitam Tehnik : 1. Bila garis konsentrik terlihat padat ditengah berarti kornea menonjol atau yang disebut keratokonus.1.Uji sensibilitas Kornea Tujuan : Tes untuk pemeriksaan fungsi saraf trigeminus yang memberikan sensibilitas pada kornea. Pasien membelakangi sinar (jendela) 2. Nilai :  Bila bayangan pada mata terlihat konsentrik berarti tidak ada kelaianan kecembungan kornea. infiltrat. Dasar : Mata akan berkedip bila terkena sinar kuat.Melalui lobang plasidoskop dilihat gambaran pada kornea pasien. Refleks taktil kornea didapat melalui saraf serabut aferen saraf trigeminus dan serabut eferen saraf 195 .V.  Melihat kejernihan dari kornea. V. Kornea  Pemeriksaan dilakukan dengan mempergunakan bantuan loup dan senter. suara keras.  Bila garis kurang tegas mungkin karena kornea tidak jernih atau adanya edema kornea.

 Diusahakan mendekatkan kapas tidak disadari pasien.3. Kapas Teknik :  Pasien diminta melihat ke sisi yang berlawanan dari bagian kornea yang di tes  Pemeriksa menahan kelopak mata pasien yang terbuka dengan jari telunjuk dan ibu jari. Terdapat hubungan dengan korteks yang berupa rasa sakit. Nilai : 1. 196 . Terjadinya refleks mengedip. Apabila terjadi refleks mengedip berarti sensibilitas kornea baik dan fungsi trigeminus normal. Timbulnya lakrimasi. yang dinyatakan dengan perasaan sakit 3.5%-2% tetes mata atau kertas flouresein Tehnik  Mata ditetes pantokain 1%  Zat warna fluoresein diteteskan pada mata atau kertas fluoresein ditempatkan pada forniks inferior selama 20 detik. Refleks kedip menurun pada keratitis atau ulkus herpes simpleks dan herpes zoster.  Dari sisi lain (untuk mencegah terlihat) kapas digeser sejajar dengan permukaan iris menuju kornea yang akan diperiksa. Uji Fluoresein Tujuan : Untuk mengetahui terdapatnya kerusakan pada lapisan kornea. Alat : Zat warna fluoresein 0. Dasar : Zat warna fluoresein bila menempel pada epitel kornea yang defek akan memberikan warna hijau karena jaringan epitel rusak bersifat lebih basa.fasial. 2.  Zat warna diirigasi dengan garam fisiologis sampai seluruh air mata tidak berwarna hijau lagi. V.  Kapas ditempel pada permukaan kornea. Alat : 1. Perasaan tidak enak oleh pasien.

VI.  Defek dapat berupa erosi.1. IRIS/ PUPIL VI. Nilai :  Periode laten 0. Refleks sinar langsung. Sesudah pupil berkontraksi kuat akan disusul dilatasi ringan terutama bila penyinaran tidak keras. baik reaksi penyinaran langsung atau tidak langsung pada mata lainnya. Hal ini menunjukkan refleks pupil langsung +  Pada refleks + atau normal berarti visus ada dan motorik saraf ke III berfungsi baik 197 . yang langsung mengenai mata yang disinari disebut refleks langsung. Mata normal akan memberikan ambang dan intensitas lampu kedua refleks sama. Bila sinar dinaikkan perlahan-lahan maka reaksi akan terjadi sampai ambang rangsang. infiltrat atau ulkus.2 detik setelah rangsangan. Pada suatu lingkaran refleks sinar dengan motorik pupil. Refleks tidak langsung terjadi bila mata sebelah dari mata yang disinari memberikan refleks atau reaksi. Uji refleks pupil Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat refleks miosis pupil akibat suatu penyinaran pada mata. Tehnik :  Mata disinari  Dilihat keadaan pupil pada mata yang disinari apakah terjadi miosis (mengecil) pada saat penyinaran. VI.2. Dilihat bagian pada kornea yang berwarna hijau Nilai  Bila terdapat warna hijau pada kornea berarti terdapat defek pada epitel kornea.

VI.  Pada keadaan ini dinilai fungsi saraf motorik ke III untuk membuat konstriksi atau miosis dari mata yang tidak disinar. Refleks langsung terganggu bila saraf optik mengalami gangguan atau pada kerusakan saraf okulomotor mata yang disinari 198 . Nilai :  Terdapat periode laten seperti pada mata yang disinari langsung. Kontraksi pupil bereaksi sama dengan mata yang disinari langsung. Dilihat keadaan pupil mata yang tidak disinari apakah terjadi miosis (mengecil) pada saat penyinaran mata sebelahnya.3. Bila terjadi refleks miosis disebut refleks pupil tidak langsung +. Refleks sinar konsensual Mata disinari dengan diusahakan sinar tidak masuk pada mata yang lain.

Refleks pupil normal berwarna merah. sehingga bayangan iris pada lensa besar dan keadaan ini disebut pseudopositif. Apabila bayangan iris pada lensa kecil dan dekat pupil berarti lensa sudah keruh total.4.). mengecil serta terletak jauh di belakang pupil. Tes bayangan iris ( shadow test ) Pemeriksan ini dilakukan untuk mengetahui derajat kekeruhan lensa. keadaan ini disebut shadow test +. RETINA VIII. refleks abnormal berwarna putih yang disebut leukokoria. Bila kekeruhan lensa semakin tebal maka semakin kecil bayangan iris pada lensa yang keruh.1 Oftalmoskopi Funduskopi Bertujuan untuk melihat dan menilai kelainan pada fundus okuli.1. VIII.Refleks tidak langsung terganggu bila pada saraf mata yang disinari ada kelainan atau terdapat kerusakan saraf okulomotor mata yang sedang diperiksa refleks konsensual.  Dengan loupe dilihat bayangan iris pada lensa yang keruh. Cahaya yang dimasukkan ke dalam fundus akan 199 . LENSA VII. Bila bayangan iris pada lensa terlihat besar dan letaknya jauh terhadap pupil berarti lensa belum keruh seluruhnya. Katarak hipermatur bila lensa telah keruh seluruhnya. Makin sedikit lensa keruh pada bagian posterior makin besar bayangan iris pada lensa yang keruh tersebut. VII. Alat : 1. Loupe Tehnik :  Sentolop disinarkan pada pupil dengan membuat sudut 45 derajat dari dataran iris. Refleks pupil Diperiksa di kamar gelap dengan mempergunakan oftamoskop direk pada jarak 1-2 kaki. Lampu sentolop 2. VI. terdapat pada katarak matur ( shadow test . terjadi pada katarak immatur.

Obat melebarkan pupil Dilakukan dengan obat Tropicamide 0.5%.5% Perhatian Sebaiknya sebelum dilakukan pelebaran pupil dikur terlebih dahulu ukuran tekanan bola mata. 2. Tehnik Diperiksa di kamar gelap : 1. Oftalmoskop diletakkan 10 cm dari mata pasien. Pada posisi ini fokus terletak pada kornea atau lensa mata 200 . Memeriksa mata kanan pasien dengan mata kanan pemeriksa. Keadaan berikut sebaiknya tidak dilakukan pelebaran pupil :  Bilik mata yang dangkal  Dengan tanda pupil setelah trauma kepala  Implan fiksasi pada iris  Pasien pulang mengendarai kendaraan sendiri Pasien menderita glaukoma sudut tertutup. Gambaran fundus mata akan terlihat bila fundus diberi sinar. Oftalmoskop 2.memberikan refleks fundus.1% ( Mydriatil ) Fenilefrin hidroklorida 2. demikian pula dengan mata kiri. Alat : 1. Mula-mula diputar roda lensa oftalmoskop sehingga menunjukkan angka + 12 dioptri 3.

8. Dilakukan pemeriksaan pada seluruh retina. Bila ada kekeruhan pada kornea atau lensa mata akan terlihat bayangan hitam pada dasar yang jingga. blots  Edema retina  Edema makula Pembuluh darah retina  Rasio arteri dan vena  Perdarahan arteri dan vena  Mikroaneurisma vena 201 . 5. Selanjutnya oftalmoskop lebih didekatkan pada mata pasien dan roda lensa oftalmoskop diputar. sehingga roda lensa menunjukkan angka mendekati nol. Mata pasien diminta melihat sumber cahaya oftalmoskop yang dipegang pemeriksa. 7. lidah api. 6.4. Diperhatikan warna. Nilai : Dapat dilihat keadaan normal dan patologis pada fundus mata. dots. Papil saraf optik  Papiledema  Hilangnya pulsasi vena saraf optik  Ekskavasi papil saraf optik pada glaukoma  Atrofi saraf optik Retina  Perdarahan subhialoid  Perdarahan intra retina. tepi dan pembuluh darah yang keluar dari papil saraf optik. Sinar difokuskan pada papil saraf optik. dan pemeriksa dapat melihat keadaan makula lutea pasien 9.

202 .

Tonometer yang diletakkan pada permukaan kornea akan menekan bola mata ke dalam. metode ini kurang tepat karena dibutuhkan pengalaman dan sangat subjektif  Tonometri Schiotz. kurang teliti. Tonometer Schiotz Tehnik:  Pasien diminta melongarkan bajunya  Pasien tidur terlentang di tempat tidur  Teteskan mata dengan anestesi topikal  Tunggu sampai ras perih pada mata pasien menghilang  Kelopak mata pasien dibuka dengan telunjuk dan ibu jari  Pasien diminta mengacungkan ibu jarinya ke atas atau melihat ke langit-langit ruang pemeriksaan.  Dasar tonometer schiotz diletakkan pada permukaan kornea  Setelah tonometer menunjukkan angka yang tetap. Alat: 1. Obat tetes anestesi lokal ( tetrakain ) 2. dibaca nilai tekanan pada skala busur yang berkisar antara 0-15 203 . mempergunakan tekanan udara. memberi beban pada permukaan kornea  Tonometri Applanasi. Keseimbangan tekanan tergantung dari beban yang dipergunakan untuk menekan permukaan kornea. Tonometri Schiotz Merupakan tonometer indentasi atau menekan permukaan kornea dengan beban yang dapat bergerak bebas pada sumbunya. Ada 4 metode.IX. mendatarkan permukaan kornea  Tonometri Non Kontak /Air puff tonometry. yaitu :  Digital (palpasi). Pada tonometer Schiotz bila tekanan rendah maka beban akan mengindentasi lebih dalam dibanding bila tekanan bola mata tinggi. Tonometri Tonometri adalah suatu metode untuk mengukur tekanan bola mata. sehingga akan mendapatkan perlawanan tekanan dari dalam bola mata.

Nilai: Pembacaan skala dikonversi pada tabel untuk mengetahui tekanan bola mata dalam milimeter air raksa. Uji Konfrontasi Dilakukan untuk melihat gangguan lapang pandang pasien dengan membandingkan lapang pandang pemeriksa. Pemeriksaan lapangan pandang X.  Ditanyakan pada pasien apakah benda tersebut telah terlihat  Dilakukan berulang dari berbagai arah (atas.1. temporal). Bila saat melihat benda oleh pasien dan pemeriksa sama. tapi bila pasien terlambat melihat berarti lapang pandangnya lebih sempit dibanding pemeriksa 204 . Pemeriksaan ini sangat sederhana dan tidak memerlukan alat khusus. hal ini menunjukkan lapang pandang tidak mengalami gangguan. bawah nasal. X. Tehnik  Pasien dan pemeriksa duduk dengan berhadapan dengan jarak kira-kira 1 meter  Mata kiri pemeriksa ditutup dan mata kanan pasien ditutup  Mata kanan pemeriksa dan mata kiri pasien saling berpandangan  Sebuah benda diletakkan antara pasien dengan pemeriksa pada jarak yang sama  Benda mulai digerakkan dari perifer ke arah sentral sehingga mulai terlihat oleh pemeriksa.  Pemeriksaan juga dilakukan pada mata satunya. baik pada pemeriksa maupun pasien.

Uji refleks cahaya kornea (hirscberg) · Menyiapkan alat : sentolop · Menyinarkan mata pasien dengan jarak 30 cm sebagai sinar fiksasi dengan mengarahkannya ke bagian tengah pangkal hidung (glabella) · Menilai refleks sinar pada kedua pupil mata b. entropion. 1. Uji eversi kelopak · Meminta pasien untuk melihat ke atas · Membalikkan kelopak mata atas/bawah ke atas/ kebawah dengan menggunakan tangan. lagofthalmus. ektropion.Cheklist Pemeriksaan Fisik Mata Skor No I Aspek yang dinilai Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik : · Memberi penjelasan dengan benar. mata lihat kedepan tanpa menggerakkan kepala melihat kejari pemeriksa yang digerakkan kesegala arah Kelopak mata a. Inspeksi : · Melihat kedua bola mata ada/tidaknya : Ptosis. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan · Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan Pemeriksaan visus : mata kanan dan kiri (snellen chart) · Duduk jarak 6 m · Menutup mata sebelah– sbelah · Membaca snellen chart · Pinhole 1. 2. Uji konfrontasi · Menutup mata pada yang sejajar dengan pemeriksa. Pemeriksaan segmen anterior Pemeriksaan segmen anterior a. 205 . memeriksa apakah ada benda asing 0 1 2 II. Uji posisi otot mata luar · Menggerakkan objek ke segala arah untuk menilai kemampuan gerakan bola mata · Menilai : normal/parese · Meniali : normal/deviasi c.5 mm · Laporkan hasil (sebelum dan sesudah pinhole) III. trikiasis. distrikiasis dan xantelasma b. jelas.

Menyiapkan alat: loup & senter b.. injeksi konjungtiva atau kombinasi keduannya  Mencari kelainan yang terdapat pada konjungtiva : pterigium.. refleks abnormal : putih/leukoria Keterangan: 0 = tidak dilakukan Banda Aceh. kelainan kornea : sikatriks... Menyiapkan alat : loup dan senter b.... pinguecula... Uji refleks pupil : langsung & tak langsung b.. ulkus.2012 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna Instruktur Cakupan penguasaan keterampilan: Skor total .... 4 5 Konjungtiva a. injeksi siliar.3... benda asing Pupil a.... infiltrat. Refleks fundus :  Mendekatkan sentoloup direk 1-2 kaki dari mata pasie di kamar gelap  Menilai : refleks pupil normal : merah... hiperemi.../48 x 100% = % 206 .......... Inspeksi :  Melihat bola pendarahan di konjungtiva : perdarahan subkonjungtiva....... Inspeksi :  Melihat kejernihan dari kornea. skleritis Kornea a...

Mahasiswa diharapkan mampu dan terampil dalam melakukan pemeriksaan lesi kulit dengan sistematis dan benar serta melakukan tes klinis dengan cara (teknik) yang benar. kuku. dan rambut 207 . PEMERIKSAAN FISIK KULIT (SKIN PHYSICAL EXAM) TUJUAN BELAJAR : 1. I. Mahasiswa diharapkan mampu mendeskripsikan status dermatologis dengan tepat dan menghubungkannya dengan gejala kinis pasien sehingga dapat menentukan diagnosis banding dan diagnosis klinisnya.11. ANATOMI KULIT DAN ADNEKSA KULIT KUKU RAMBUT Gambar 1. 2. Penampang kulit.

kelenjar sebasea. lunula. lempeng kuku (nail plate). Dermis:  Stratum papilare  Stratum retikulare Subkutis: terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di dalamnya Adneksa kulit  Kuku: terdiri atas matriks kuku. dinding kuku (nail wall). Fungsi proteksi 2. eponikium. Fungsi absorpsi 3. hiponikium  Rambut: terdiri atas bagian yang terbenam dalam kulit (akar rambut) dan bagian yang berada di luar kulit (batang rambut)  Kelenjar : kelenjar ekrin dan apokrin. mengandung melanin Stratum spinosum (stratum malphigi) Stratum basalis B.Kulit merupakan lapisan terluar dari tubuh manusia yang terdiri atas : A. merupakan lapisan luar yang terdiri dari Stratum korneum (lapisan tanduk) Stratum lusidum Stratum granulosum (lapisan keratohialin) : berisi sedikit keratin sehingga kulit menjadi keras dan kering . FAAL KULIT 1. Fungsi ekskresi 208 . Epidermis. akar kuku (nail root). alur kuku (nail groove). II. dasar kuku (nail bed).

radiologis.     Badan Ruffini : panas Badan Krause: dingin Badan taktil Meissner dan Badan Ranvier: rabaan Badan Paccini: tekanan 5.4. Reseptor untuk tekanan. sediaan langsung. ujungnya berada di dermis yang jauh dari epidermis. Fungsi keratinisasi 8. ujung reseptornya terletak di dekat epidermis. Pendekatan terhadap pasien (anamnesis) 2. kulit dilengkapi dengan reseptor-reseptor khusus. Fungsi pengaturan suhu tubuh 6. pemeriksaan genetik. pewarnaan gram. Reseptor untuk rasa sakit ujungnya menjorok masuk ke daerah epidermis. TAHAPAN DALAM MEMBUAT DIAGNOSIS DERMATOLOGIS Penegakkan diagnosis mudah dilakukan dengan memperhatikan tahap-tahap berikut: 1. pemeriksaan histopatologis. Pemeriksaan kelainan morfologi (deskripsi status dermatologis) 3. Fungsi produksi vitamin D 9. serologis. tzank test. Fungsi pengindra (Sensori) : Sehubungan dengan fungsinya sebagai alat peraba. kultur. dan biomolekuler) 209 . Pemeriksaan fisik kulit (tes klinis) 4. imunofluoresensi. Reseptor untuk rangsang sentuhan dan panas. Fungsi ekspresi emosi III. indeks bakteri dan indeks morfologi. Pemeriksaan penunjang (pemeriksaan KOH. Fungsi pembentukan pigmen 7.

dan mati rasa). dan mencakup segala hal yang mendukung diagnosis utama dan menyingkirkan diagnosis banding. Beberapa obat topikal dapat menyebabkan kelainan pada kulit baik lokal maupun sistemik. b. keparahan (sangat nyeri atau sangat gatal). berurutan. bahan kimia. 2. lokasi lesi dan waktu atau sejak kapan lesi muncul. hubungan dengan menstruasi ataupun kehamilan. Pada 210 . symptoms atau gejala (pruritus.ANAMNESIS Hal-hal yang perlu ditanyakan pada saat melakukan anamnesis: 1. Riwayat penyakit sekarang / present illness history Kronologis timbulnya keluhan atau lesi secara sitematis. periodisitas (apakah lesi konstan atau menetap). Riwayat pemakaian obat / drug history : Riwayat pemakaian obat sebelumnya termasuk penggunaan suplemen dan produk herbal. Riwayat perjalanan penyakit a. musim dingin. nyeri. Keluhan utama / chief complaint Keluhan utama terdiri dari keluhan subyektif maupun obyektif. memburuk pada malam atau musim semi?) . evolusi (bagaimana perkembangan atau perubahan bentuk lesi ?) . Keluhan tambahan Keluhan tambahan atau keluhan lain terkait keluhan utama dan keluhan pasien selain keluhan utama c. metal. Harus ditanyakan tentang durasi (kapan lesi timbul. berlangsung berapa lama. dan kapan-kapan saja lesi muncul ?) . faktor pencetus eksaserbasi lesi (sinar matahari. produk topikal. perih.

pekerjaan.kasus dermatitis kontak alergika karena obat oles hendaknya ditelusuri penyakit awal (underlying disease) yang mendasari. dan genetalia) 211 . olahraga. Penyakit yang bersifat menular. mulut. meliputi : pemeriksaan kulit. 5. Perlu ditanyakan respon terhadap pengobatan sebelumnya. Riwayat penyakit dahulu / past medical history : Meliputi berbagai penyakit yang pernah diderita pasien sebelumnya baik penyakit kulit maupun penyakit sistemik lain seperti diabetes mellitus. diet. Riwayat kebiasaan sosial / social history : Data pribadi seperti umur pasien. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dermatologis merupakan pemeriksaan tubuh pasien untuk menemukan adanya kelainan atau tanda klinis penyakit. hipertensi serta riwayat rawat inap dan riwayat operasi sebelumnya. belakang genetik. merokok. Penyakit dengan latar melanoma. adneksa kulit (rambut dan kuku). 4. membrana mukosa (mata. Riwayat atopi. tuberkulosis. hubungan suami istri. xanthoma dan tuberous sklerosis. personal higiene. hobi. hubungan dengan tetangga dan teman. hidung. Riwayat penyakit keluarga / family history : Riwayat keluarga yang terkait gangguan serupa atau penyakit lainnya. 3.

Pisau skalpel nomor 15 untuk mengikis lesi atau nomor 11 untuk insisi lesi 9. 8. Lampu Wood (365 nm) untuk menilai fluoresensi 10. Sarung tangan. Pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis.Hasil pemeriksaan harus dicatat dalam rekam medis. Kaca objek untuk pemeriksaan diaskopi. Alat pembesar ( loupe ) 2. Kamera untuk dokumentasi 212 . Kapas alkohol untuk menghilangkan sisik atau minyak pada permukaan kulit 6. Flashlight / lampu senter untuk menerangi lesi 3. mulai dari kepala dan berakhir pada anggota gerak (cranio – cauda) Alat-alat yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan fisik : 1. Mistar untuk mengukur lesi 4. kaarsvlek phenomen dan auspitz sign 5. Kain kasa atau tissue dengan air untuk menghilangkan make up 7. memeriksa membrana mukosa. sifilis sekunder. harus digunakan saat pemeriksaan skabies. dan daerah genetalia.

(tipe lesi. dan lain-lain b. dan lesi (kerusakan kulit) DESKRIPSI STATUS DERMATOLOGIS Setelah melakukan inspeksi dan palpasi. contohnya regio frontalis. edema. cyanosis. Tipe lesi : berdasarkan letaknya terhadap permukaan kulit dan berdasakan perjalanan penyakit 213 .Sarung tangan dispossible dapat digunakan untuk melindungi pemeriksa ketika malakukan pemeriksaan luka  Pada palpasi. periksa kelembaban kulit. regio aksilaris. regio umbilikalis. tekstur. keringat. Kulit abnormal ditemukan : flushing. ukuran. pigmentasi yang tidak teratur  Observasi dan dokumentasikan kelainan kulit yang ditemukan Palpasi kulit:  Pergunakan jari-jari tangan untuk memeriksa lesi. konfigurasi. termasuk hygiene kulit. regio pedis dekstra atau sinistra. susunan.Lokasi atau Regio : tempat dimana terdapatnya lesi dan ditentukan berdasarkan lokasi anatomi tubuh manusia. Teknik pemeriksaan fisik dengan cara inspeksi dan palpasi kulit Inspeksi kulit  Observasi tampilan keseluruhan pasien. maka tentukan deskripsi status dermatologis berdasarkan TERMINOLOGI lesi kulit. jaundice. regio inguinalis. injury (perlukaan)  Warna kulit dipengaruhi oleh ras. temperatur. jumlah. vaskularisasi. dan distribusi lesi) Terminologi lesi kulit a. regio sternalis. turgor. warna kulit dan variasinya. morfologi lesi.

5 cm  Lesi primer lebih tinggi dari permukaan kulit 1. Papula Bentuk peninggian kulit yang padat. 2. Bentuknya bervariasi. Lesi padat tersebut disebabkan oleh infiltrat sel radang atau masa padat lainnya di epidermis atau dermis. 214 . adalah kelainan kulit yang terjadi pada permulaan penyakit  Lesi primer yang sama rata dengan permukaan kulit : 1. Kelompok lesi berdasarkan letaknya terhadap permukaan kulit Lebih tinggi Papula Plak Nodul Kista Wheal/Urtikaria Skar Hipertrofi Lebih rendah Erosi Ulkus Atrofi Sama rata Makula Patch Perubahan permukaan Skuama Krusta Ekskoriasi Fisura Likenifikasi Berisi cairan Vesikel Bula Pustula Abses Pembuluh darah Purpura Telangiektasis Infark Berdasarkan perjalanan penyakit dan proses terbentuknya lesi : I. dan batas-batasnya bisa berbeda dengan kulit norman (berbatas tegas) atau samar. Makula Lesi datar pada kulit atau membran mukosa berupa perubahan warna tanpa perubahan konsistensi . Patch Makula dengan ukuran yang lebih dari 0. ukuran kurang dari 0.5 cm.Berdasarkan letaknya terhadap permukaan kulit Tabel 1. Makula tidak dapat dipalpasi. Lesi primer.

5cm. Bula Peninggian kulit berisi cairan dengan ukuran lebih dari 0. warna pucat.2. Bersifat gatal. dapat bergabung menjadi bula 2. hilang setelah beberapa jam. mempunyai permukaan yang relatif lebih besar dibanding tingginya.5 cm. Nodul bisa terletak di epidermis. Pustula Seperti halnya vesikula tetapi isinya pus & berada diatas kulit yang beradang. dan subkutan 4. pori-pori melebar. Nodula Lesi yang menonjol. dapat pecah menjadi erosi. 215 . Vesikel Peninggian kulit berisi cairan dengan ukuran kurang dari 0.  Lesi primer yang berisi cairan 1. berbentuk padat. Plak Merupakan peninggian kulit yang berbentuk padat dengan diameter lebih dari 0. dan dapat teraba dengan diameter lebih dari 0.5 cm. timbulnya cepat.5cm 3. dermis. Urtika atau Wheal Peninggian kulit yang datar karena edema dermis bagian atas. Plak bisa juga bisa terbentuk akibat perluasan dan gabungan dari papul 3.

Makula Patch Plak Papul Pustul Nodul Wheal Vesikel Bula Gambar 2. Lesi primer pada kelainan kulit 216 .

akan berwarna merah kehitaman bila berasal dari darah. tipis ataupun tebal dan dilapisi massa keratin.  Lesi sekunder yang lebih tinggi dari permukaan kulit 1. dan kuning kehijauan berasal dari pus. tergantung dari cairan yang keluar. 2. Krusta Cairan tubuh yang mengering pada permukaan kulit. 5. Skar 217 . Lesi sekunder : kelainan kulit yang terjadi selama perjalanan penyakit  Lesi sekunder akibat perubahan permukaan kulit 1. darah dan eksudat purulen. Cairan tersebut bisa berasal dari serum. bila membesar disebut skar hipertrofi.II. warna kekuningan bila berasal dari serum. Skuama Skuama adalah pengelupasan bagian paling luar dari stratum korneum. Warna krusta berbeda-beda. Garukan yang tidak terkontrol dapat menghasilkan lesi yang panjang. Partikel epidermal dapat kering atau berminyak. Sikatrik atau skar hipertrofi Pembentukan jaringan baru yang sifatnya lebih banyak mengandung jaringan ikat untuk mengganti jaringan yang rusak akibat penyakit atau trauma pada dermis yang lebih dalam. Fisura Hilangnya kontinuitas (kesinambungan) kulit sehingga kulit pecah (diskontinuitas) tanpa kehilangan jaringan. Likenifikasi Penebalan kulit disertai relief kulit yang makin jelas. Secara klinis tampak adanya bintik perdarahan di kulit. paralel dan menyilang serta dapat menimbulkan krusta kehitaman 4. Pada likenifikasi terjadi penebalan epidermis disertai perubahan kolagen pada bagian superfisial dermis. Eskoriasi Hilangnya jaringan sampai stratum papilare di dermis. 3. Warnanya bervariasi putih keabu-abuan kuning atau coklat.

atau tidak beraturan. Bisa atrofi disebut skar atrofi. vesikel atau bula superfisial yang pecah dan nekrosis epidermis. Erosi Hilangnya sebagian atau seluruh jaringan epidermis atau epitel mukosa. Ulkus Hilangnya jaringan yang melebihi stratum papilare. 4. 2. disebut keloid. atau nodul. dermis & subkutan. Bentuk ulkus dapat bulat. akan teraba keras (indurasi). laserasi. yang bisa terletak di epidermis. dinding. keloid dapat meluas melampaui daerah luka awal. Kista Rongga berkapsul yang berisi cairan atau bahan-bahan semisolid (sel dan produknya seperti keratin). Tepi ulkus bisa datar atau tinggi. Bila tumbuh sangat berlebihan. misalnya garukan. dasar dan isi. Rasa nyeri (dolent) pada perabaan dapat dirasakan pada ulkus mole (chancroid). Sekitar ulkus dapat tenang atau terdapat tanda inflamasi akut/kronis (biasanya hiperpigmentasi). Sikatriks atau skar atrofi Pembentukan jaringan baru yang sifatnya lebih banyak mengandung jaringan ikat untuk mengganti jaringan yang rusak akibat penyakit atau trauma pada dermis yang lebih dalam. Meskipun erosi dapat menimbulkan infeksi sekunder. misalnya pada ulkus durum (sifilis stadium I).hiperkeratotik biasanya berbentuk papula keras. lonjong. yang mempunyai tepi. 218 . erosi tidak meninggalkan skar. Berbeda dengan skar hipertrofi. Erosi dapat terjadi akibat trauma.  Lesi sekunder yang lebih rendah dari permukaan kulit 1. plak. 3. Pengerasan karena sebukan sel radang di sekitar ulkus.

Skuama Krusta Likenifikasi Skar atropi Skar hipertropi Ekskoriasi Fisura Erosi Ulkus 219 .

misalnya bula pada impetigo bulosa. yaitu monomorf atau polimorf. Penyakit terdiri atas satu jenis lesi saja. Monomorf : Kelainan kulit terdiri atas satu jenis morfologi. Lesi sekunder pada kelainan kulit Jenis Morfologi Berdasarkan pengelompokan penyakit (klinis). Lesi monomorf makula eritematous pada psoriasisguttatae 2. Gambar 4. moluskum kontagiosum. misalnya terlihat 220 . 1. dan psioriasis gutata. maka jenis morfologi dapat dibedakan berdasarkan lesi yang terlihat.Kista Gambar 3. Polimorf : Kelainan kulit pada satu saat terdiri atas bermacammacam morfologi (umumnya lebih dari 2). miliaria.

erosi kusta. g. vesikel. d. Permukaan  maserasi 221 .varisela dan akne vulgaris. Garis tepi  reguler. Lesi polimorfi dapat ditemukan misalnya pada dermatitis kontak alergi. patch dan plakat harus mendeskripsikan: a. Gambar 5. Lentikuler : Sebesar kepala jarum pentol (ukuran terkecil) 3. Ukuran kira-kira selebar telapak tangan dewasa. Gutata : Sebesar tetesan air (ukuran harus seragam) 4.eritema. ekskoriasi dan krusta pada dermatitis atopik. vesikula. erosi. coklat. Ukuran: 1. oval. Milier : sebesar kepala jarum pentol (ukuran terkecil).hitam. biru b. ungu. Plakat : Ukuran kira-kira selebar telapak tangan dewasa. 2. Lesi polimorf berupa makula eritematous. papula. ireguler. Bentuk  bulat. Khusus untuk makula. bervariasi (multiform). 5. linear. anular. Numular : Sebesar uang koin/ logam 500 – 1000 rupiah. Batas  tegas (sirkumskripta) atau tidak tegas (difus). f. Warna  sama dengan warna kulit. merah. c. e. Deskripsi tipe (morfologi) lesi Dalam mendeskripsikan tipe lesi primer dan sekunder harus disebutkan berurutan. papul.

Contoh tepi lesi tidak tegas dapat dijumpai pada dermatitis atopik dan dermatitis seboroik. Psoriasis tipe plak dengan lesi batas tegas JUMLAH LESI : a. disebut berbatas tegas atau sirkumskrip.Batas lesi Bila perbedaan lesi dan kulit sehat terlihat jelas dan nyata. Soliter ( tunggal) b. Gambar 6. Multipel ( lebih dari satu ) SUSUNAN LESI Lesi-lesi ganda dapat tersusun berkelompok/clustered (herpetiformis. diseminata). Contoh lesi berbatas tegas adalah plak psoriasis. herpes simpleks. Contohnya adalah versikel bergerombol yang ditemukan pada dermatitis herpetiformis (Duhring disease). zosteriform) dan tersebar/scattered (diskret. Lesi berkelompok (cluster) : 1. Batas tidak tegas disebut difus. Herpetiformis : Beberapa versikel bergerombol disatu tempat menyerupai lesi herpes. 222 .

Contohnya pada varisela ditemukan lesi polimorfi tersebar diskret.A B Gambar 7. Bula berkelompok dengan susunan herpetiform pada dermatitis herpetiformis (duhring disease) . Zosteriform : Lesi kulit yang mengikuti dermatom . Diskret : Bila lesi tersebar satu persatu. A. Bula multipel dengan susunan herpetiform pada herpes simleks 2. 223 . misalnya pada herpes zoster Gambar 8 . Vesikula berkelompok mengikuti dermatom dengan susunan zosteriform pada pasien herpes zoster Lesi tersebar (scatter) 1. B. ada di mana-mana.

Gambar 9. misalnya pada dermatitis kontak alergika disertai autosensitisasi. mula-mula terdapat satu lesi kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain. Umbilicated vesiculae yang tersebar diskret 2. Gambar 10. Diseminata : Penjalaran dari satu lesi ke bagian badan yang lain. ataupun pada id reaction. Penyebaran diseminata dapat ditemukan. Dermatophytid “id reaction” Tinea pedis yang menyebar diseminata ke telapak tangan berupa vesikula yang sangat gatal. 224 .

tinea corporis. psoriasis tipe plak. bersisik. Gambar 12.Gambar 11. yang menunjukkan bahwa pinggir lesi berbeda dengan pusatnya. baik menonjol. Anular /Sirsiner : berbentuk cincin. eritema annulare sentrifugum). Bulat/Numular/Diskoid : berbentuk koin.Lesi (erupsi makula dan papula) yang tersebar diseminata pada trunkal pasien id reaction akibat diaper dermatitis KONFIGURASI LESI 1. lupus diskoid 225 . atau berbeda warnanya (misalnya granuloma annulare. Tinea korporis dengan konfigurasi anular 2. biasanya lesi bulat sampai lonjong dengan morfologi yang sama dari bagian tepi hingga ke sentral lesi (misalnya eksema numular.

Arkuata/ Arsiner : bentuk lengkung. sering sebagai akibat dari pembentukan tidak lengkap dari sebuah lesi annular (seperti urtikaria. cincin atau cincin inkomplit yang bergabung (seperti pada Tinea korporis. Tinea kruris). Plak hiperpigmentasi pada dermatitis numularis 3. . 4. 226 . Gambar 14. Lesi berbentuk ½ lingkaran. Polisiklik : terbentuk dari lingkaran-lingkaran. pada tinea korporis.Gambar 13. lupus eritematosus kutaneous subakut).

yaitu di bagian tengah lebih gelap dari pada bagian tepinya. bisa berlaku bagi sebuah lesi tunggal (seperti scabies burrow.Gambar 15. dengan bagian tengah mengalami penyembuhan (central healing) pada tinea corporis. atau pigmentasi bleomycin) atau tatanan lesi ganda (seperti liken nitidus atau liken planus). Bagian tengah dapat pula 227 . terdiri dari papulae eritematus . sering menunjukkan kontaktan eksternal atau fenomena Koebner telah terjadi sebagai respon terhadap penggarukan. Lesi dapat oval atau bulat dengan perbedaan warna. Irisformis :Lesi kulit tersusun menyerupai iris mata. 5. poison ivy dermatitis. aktif dan meninggi. Gambar 16. tepi polisiklik. Linear : menyerupai sebuah garis lurus. Pada regio thorakalis anterior tampak plak eritematus. Liken striatus dengan konfigurasi linear 6. berbatas tegas.

berbentuk vesikel/bula disekitarnya terbentuk halo. Lesi satelit dengan konfigurasi korimbiformis pada kandidiasis intertriginosa 8. Gambar 17. Gambar 18. Korimbiformis : Lesi tersusun mirip seekor induk ayam dikelilingi anak-anaknya. cutis marmorata). contohnya dapat ditemukan pada kandidiasis kutis. lesi target pada eritema multiforme 7. 228 . Contohnya adalah lesi target (irisformis) pada eritema multiformis. dengan cincin yang agak beraturan atau cincin parsial kulit yang jarang (misalnya livedo retikularis. Retikular : Penampilannya mirip jaring. atau suatu lesi induk (ukuran besar) dikelilingi lesi serupa (satelit) yang berukuran lebih kecil.

Gambar 21. Gambar 20. Konfluens : Dua atau beberapa lesi menyatu. atau urtikaria). Konfigurasi serpiginosa pada cutaneous larva migrants 10. Serpiginosa : seperti atau mirip ular (seperti cutaneous larva migrans dimana larva bermigrasi dengan cara ini. Ditemukan beberapa versikel menyatu. Bula konfluen pada herpes simpleks 229 .Gambar 19. Konfigurasi retikular pada livido retikularis 9. misalnya pada herpes simpleks.

misalnya di torakal 4-5 sinistra. 230 . Morbus Hansen tipe lepromatosa. yaitu di skalp. Bilateral : Bila lesi tersebar dikedua belahan tubuh. 4. 6. kanan dan kiri. Misalnya pada dermatitis atopik fase infantil dapat ditemukan plak di kedua pipi kiri dan kanan sama. hanpir tidak ada kulit yang sehat. serta letaknya satu dan lainnya di tempat yang persis sama. Misalnya ditemukan pada eritroderma. ekstremitas. Universal : Bila lesi ditemukan tersebar hampir diseluruh tubuh (90-100%). 2. contoh lainnya pada dermatitis kontak alergik akibat kontak sandal jepit. 5. Misalnya pada dermatitis herpetiformis Duhring. bayi kolodion. penyakit leiner. Regional : Bila lesi terbatas.DISTRIBUSI 1. Generalisata : Bila lesi tersebar ditemukan di setiap bagian tubuh. abdomen. tidak perlu persis baik letak maupun ukurannya. wajah. kanan dan kiri. Penyebaran generalisata dapat ditemukan pada sindrom Stevens Johnson dan Varisela. 3. Umumnya meliputi 50-90% luas permukaan tubuh. Unilateral : Lesi hanya ditemukan di satu sisi badan. demikian pula bentuk dan besar persis sama. dan iktiosis. hanya ditemukan di satu tempat saja. punggung. Simetris :Bila lesi tersebar dikedua belahan. Misalnya pada herpes zoster ditemukan lesi pada satu-dua dermatomal saja.

Regional Simetris Bilateral Unilateral Generalisata Gambar 22. Distribusi lesi sesuai perjalanan penyakit 231 .

Jugularis yang teraba lebih lunak dan ada pulsasi. Pemeriksaan N. Sternocleidomastoideus. e) Kesimpulan : Terdapat/tidak terdapat penebalan/pembesaran N. Pemeriksaan Nervus Aurikularis magnus 232 . b) Dilakukan perabaan dengan 3 jari pada 1/3 atas M. sedangkan saraf teraba seperti kabel.PEMERIKSAAN KLINIS atau CLINICAL TEST PEMERIKSAAN KLINIS PADA MORBUS HANSEN A. Auricularis magnus sinistra. Apakah ada nyeri atau tidak pada saraf. PEMERIKSAAN SARAF PERIFER 1. Gambar 23. Sternocleidomastoideus. c) Terdapat struktur lain yaitu : V. Auricularis D/S. dicari bentukan seperti kabel yang menyilang M. Auricularis magnus : a) Pasien di minta menoleh maksimal ke kiri sehingga M. Auricularis Magnus terdorong ke superfisial. d) Lakukan pemeriksaan yang sama pada N. Sternocleidomastoideus berkontraksi dan N.

neuritis atau tidak.Apakah ada nyeri atau tidak pada saraf. Ulnaris D/S.2. Pemeriksaan N. jika tendon akan menjadi otot. dan telusuri ke atas dengan halus sambil melihat mimik/reaksi penderita apakah tampak kesakitan atau tidak. e) Kemudian dengan prosedur yang sama untuk memriksa saraf ulnaris kiri (tangan kiri pemeriksa memegang lengan kiri penderita dan tangan kanan pemeriksa meraba saraf ulnaris kiri penderita tersebut). agar otot rileks sehingga saraf dapat dibedakan dengan tendon. b) Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri pemeriksa mencari sambil meraba saraf Ulnaris didalam sulkus nervi ulnaris yaitu lekukan diantara tonjolang tulang siku olkranon dan tonjolan kecil di bagian medial (epicondilus medialis). namun bila saraf akan tetap teraba seperti kabel. c) Dibedakan dari tendon dengan cara meraba ke proksimal. d) Dengan tekanan ringan gulirkan pada saraf ulnaris. f) Kesimpulan : Apakah ada penebalan/pembesaran N. Ulnaris (Singkap baju) a) Lengan pasien dalam posisi fleksi diletakkan di atas tangan pemeriksa. 233 .

d) Dengan tekanan yang ringan saraf tersebut digulirkan bergantian ke kanan dan kiri sambil melihat mimik/reaksi penderita. Pemeriksaan Nervus Ulnaris 3. Pemeriksaan N. sebaiknya dalam posisi menggantung lebih rileks. Peroneus communis D/S. b) Pemeriksa duduk di depan penderita.Gambar 24. 234 . celana di gulung ke atas) a) Pasien dalam posisi duduk. setelah menemukan tulang tersebut jari pemeriksa meraba saraf paraneous 1 cm ke arah belakang. Apakah ada nyeri atau tidak pada saraf. Peroneus comunis/poplitea lateralis (bersamaan. dengan tangan kanan memeriksa kaki kiri penderita dan tangan kiri memeriksa kaki kanan. kedua kaki dalam keadaaan relaksassi. c) Pemeriksa meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada pertengahan betis bagian luar penderita sambil pelan-pelan meraba ke atas samapi menemukan tonjolan tulang (caput fibula). e) Kesimpulan :Apakah ada penebalan/pembesaran N.

b) Dengan jari telunjuk dan tengah. Pemeriksaan Nervus Tibialis posterior 235 . Gambar 26. Pemeriksaan N. c) Dengan tekanan ringan saraf tersebut digulirkan sambil melihat mimik/reaksi dari penderita.Gambar 25. pemeriksa meraba saraf Tibialis posterior di bagian belakang bawah dari mata kaki sebelah dalam (maleolus medialias) dengan tangan menyilang (tangan kiri pemeriksa memeriksa saraf tibialis kiri dan tangn kanan pemeriksa memeriksa saraf tibialis posterior kanan penderita). Pemeriksaan Nervus Peroneus communis 4. Tibialis posterior a) Pasien masih dalam duduk rileks.

jangan sampai berdarah). Pemeriksaan rasa nyeri a) Menyapa pasien dan perkenalkan diri. gentle.B. f) Bila pada daerah yang dicurigai tersebut beberapa kali pasien salah menyebutkan rasa pada ujung jarum yang ditempelkan. PEMERIKSAAN SENSIBILITAS 1. (ujung jarum tegak. b) Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa. Gambar 27. maka disimpulkan bahwa sensasi nyeri di daerah tersebut terganggu. lalu bergantian kedua ujung jarum tersebut ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai. Tes rasa nyeri menggunakan ujung jarum suntik yang disentuhkan pada lesi 236 . d) Berikan penjelasan apa yang akan dilakukan sambil memperagakan dengan menekan jarum dengan ujung tajam pada kulit yang normal dan dengan pangkal tangkainya yang tumpul. pasien harus mengatakan mana yang tajam dan mana yang tumpul. e) Mata pasien ditutup. sampaikan tujuan pemeriksaan. c) Tangan yang akan diperiksa diletakkan diatas meja/paha pasien atau bertumpu pada tangan kiri pemeriksa.

h) Penderita diminta menunjuk tempat yang terasa disentuh. i) Usahakan pemeriksaan titik-titik tersebut tidak berurutan (secara acak).2. c) Telapak tangan yang akan di periksa diletakkan di atas meja/paha penderita atu bertumpu pada tangan kiri pemeriksa sehingga semua ujung jari tersangga (tangan pemeriksa yang menyesuaikan diri dengan keadaan tangan penderita) misalnya claw hand. Pemeriksaan rasa raba 1. sampaikan tujuan pemeriksaan. Pemeriksaan rasa raba pada tangan pada tangan a) Menyapa pasien dan perkenalkan diri. b) Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa. f) Tes diulangi sampai penderita mengerti dan kooperatif g) Penderita diminta menutup mata atau menoleh kearah berlawanan dari tangan yang diperiksa. maka tangan pemeriksa menyangga ujung-ujung jari tersebut sesuai lengkungan jarinya. sambil memperagakan dengan sentuhan ringan dari ujung ballpoint pada lengannya dan satau atau dua titik pada telapak tangannnya. j) Penyimpangan letak titik yang ditolerir ≤ 1 cm. 237 . d) Jelaskan pada penderita apa yang akan dilakukan padanya. e) Bila penderita merasakan sentuhan diminta untuk menunjuk tempat sentuhan tersebut dengan jari tangan yang lain.

5 cm. 3. sampaikan tujuan pemeriksaan. Bila penderita merasakan sentuhan tersebut. e) Berilah penjelasan apa yang akan dilakukan sambil memperagakan dengan menyentuh ujung ballpoint pada telapak kaki tanpa lesi (penderita membuka mata). 238 . c) Kaki kanan penderita diletakkan pada paha kiri. diminta penderita menunjuk tempat sentuhan tersebut. Pemeriksaan rasa raba di tubuh / kulit a) Menyapa pasien dan perkenalkan diri. h) Dengan ujung ballpoint pemeriksa menyentuh tangan penderita pada titik-titik tertentu di telapak tangan secara acak. Pemeriksaan rasa raba kaki a) Menyapa pasien dan perkenalkan diri. d) Tangan kiri periksa menyanggah ujung kaki penderita. b) Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa.2. usahakan telapak kaki menghadap ke atas. i) Jarak penyimpangan yang bisa diterima maksimal 2. hingga penderita mengerti dan kooperatif. f) Cara mengetes tersebut diulang. g) Pada daerah yang menebal boleh sedikit menekan dengan cekungan berdiameter 1 cm. sampaikan tujuan pemeriksaan. b) Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa.

Tes raba menggunakan ujung kapas yang disentuhkan pada lesi 239 .c) Sepotong kapas yang dilancipkan dipakai untuk memeriksa rasa raba. e) Sebelumnya kita menerangkan bahwa bilamana merasa tersentuh bagian tubuhnya dengan kapas. f) Bilamana hal ini telah jelas. maka pasien diminta menutup matanya . Gambar 28. ini dikerjakan dengan mata terbuka. kalau perlu matanya ditutup dengan sepotong kain / karton. g) Kelainan-kelainan dikulit diperiksa secara bergantian dengan kulit yang normal disekitarnya untuk mengetahui ada tidaknya anestesi. ia harus menunjukkan kulit yang disentuh dengan jari telunjuknya. d) Periksalah dengan ujung dari kapas yang dilancipi secara tegak lurus pada kelainan kulit yang dicurigai (dari tengah ke tepi lesi).

f) Bila pada daerah yang dicurigai tersebut beberapa kali pasien salah menyebutkan rasa tabung yang ditempelkan. Bila ada gangguan sensibilitas. lalu bergantian kedua tabung tersebut ditempelkan pada daerah kulit yang dicurigai. d) Berikan penjelasan apa yang akan dilakukan sambil memperagakan dengan menyentuhkan ujung tabung reaksi yang berisi air panas (sebaiknya 40oC) dan air dingin (20oC) pada daerah kulit yang normal. b) Penderita duduk berhadapan dengan pemeriksa. untuk memastikan bahwa orang yang diperiksa dapat membedakan panas dan dingin. c) Tangan yang akan diperiksa diletakkan dia tas meja/paha pasien atau bertumpu pada tangan kiri pemeriksa. tersebut Gambar 29. maka disimpulkan bahwa sensasi suhu di daerah terganggu. sampaikan tujuan pemeriksaan. e) Mata pasien ditutup atau menoleh ke tempat lain. Tes suhu menggunakan 2 tabung reaksi yang berisi air dingin dan air hangat.3. Pemeriksaan rasa suhu a) Menyapa pasien dan perkenalkan diri. pasien tidak dapat membedakan dingin dan panas 240 .

Ketiga : timbul daerah kemerahan disekitar tempat goresan : timbul edema setelah beberapa menit 241 .PEMERIKSAAN KLINIS PADA URTIKARIA (TES DERMOGRAFISME) Menggores kulit dengan benda tumpul dilakukan guna menilai : dermographism. Dasar pemikiran adalah bahwa pada kulit normal bila digores dengan benda tajam maka . yaitu urtika atau wheal linear yang muncul akibat goresan Gambar 23 .Pertama : timbul garis putih yang kemudian berubah menjadi kemerahan .Kedua . hal tersebut dapat terlihat pada penderita dermatitis atopik. Dermographism pada pasien urtikaria PEMERIKSAAN KLINIS PADA DERMATITIS ATOPIK (White Dermographism) White dermographism. . yaitu garis putih yang terjadi setelah goresan ( tidak mengikuti triple phenomena Lewis yang seharusnya ).

White dermographysm PEMERIKSAAN KLINIS PADA PSORIASIS VULGARIS Kaarsvlek phenomen (fenomena tetesan lilin) : dapat dibuktikan pada skuama berlapis. Gambar 24. garis merah yang terjadi tidak segera disusul dengan daerah kemerahan tetapi malah disusul warna putih pucat selama 2-3 menit. Autzpitz sign (tanda Auspitz) : bila penggoresan diteruskan akan tampak bintik-bintik perdarahan (pin point bleeding). yaitu menggores skuama pada lesi dengan skapel/ pinggir kaca objek sehingga skuama akan berubah warnanya menjadi putih seperti lilin disebabkan oleh berubahnya indeks bias. Koebner phenomen (fenomena Koebner) : lesi yang sama seperti lesi sebelumnya dapat timbul pada tempat trauma se-perti garukan. yang disebabkan oleh disebabkan ’pemenggalan’ papila dermis dan pelebaran serta berkelok-keloknya pembuluh darah. 242 . lokasi sunburn atau pembedahan. Tanda Auspitz ini lebih mempunyai nilai diagnostik.Pada penderita dermatitis atopik.

yaitu cara memeriksa dengan menekan lesi kulit menggunakan benda transparan. Fenomena Koebner PEMERIKSAAN KLINIS PADA PURPURA : Tes Diaskopi Pemeriksaan secara diaskopi. Tes diaskopi 243 . A. misalnya kaca obyek atau spatel plastik. digunakan untuk membedakan antara eritema (akibat vasodilatasi) dengan purpura (akibat ekstravasasi eritrosit). Pemeriksaan fenomena tetesan lilin dan tanda auspitz B. juga warna apple jelly (kekuningan) dapat terlihat pada lupus vulgaris Bila terdapat kemerahan lakukan tes diaskopi  + (warna merah menghilang) = macula eritematous  (warna merah tidak menghilang) = purpura atau telangiektasis Gambar 26.Gambar 25.

pertama dengan menekan dan menggeser kulit di antara dua bula dan kulit tersebut akan terkelupas. (Nikolsky’s sign type 1). 244 . A. Asboe hansen sign PEMERIKSAAN MENGGUNAKAN LAMPU WOOD Menggunakan lampu merkuri tekanan tinggi yang menghasilkan sinar UV (360 nm). toxic epidermal necrolysis. Nikolsky’s sign .TES KLINIS PADA BULLOUS DISEASE : Nikolsky sign Tanda Nikolski positif disebabkan oleh adanya akantolisis. menggambarkan derajat pigmentasi antara kulit normal dengan kulit yang ada lesinya. B. misalnya pada pemfigoid bulosa. untuk memeriksa memeriksa infeksi jamur dan bakteri pada kulit superfisial. Cara mengetahui tanda tersebut ada dua. menentukan area kulit hipopigmentasi atau amelanosit. misalnya pada stevens johnson syndrome . Gambar 27. (Nikolsky’s sign type 2 / asboe hansen sign). pemvigus vulgaris Cara kedua dengan menekan bula maka bula akan meluas karena cairan di dalamnya mengalami tekanan.

bahan kosmetik. audouinii. Jarak lampu Wood dengan lesi yang akan diperiksa ±10-15cm. jingga. tetrasiklin. gypseum) hijau terang. Pemeriksaan harus dilakukan di dalam ruangan kedap cahaya agar perbedaan warna lebih kontras. kuning keermasan atau putih kebiruan (metabolit koproporfirin). Obat topikal. M. Tinea favosa (Trichophyton schoenleinii) : biru suram / hijau suram (akibat metabolit pteridin). Hasil positif palsu : salep dan krim dikulit atau eksudat : biru. lemak. Ferrugineum dan M. M. M. rivalieri. dan menghasilkan pendaran warna tertentu.Alat :Lampu Wood dan ruangan kedap cahaya. Eritrasma (Corynebacterium minutissimum) : merah koral (metabolit porfirin). eksudat harus dibersihkan terlebih dahulu karena dapat memberikan hasil positif palsu. caris. Infeksi pseudomonas : hijau (metabolit pioverdin atau fluoresein). Cara kerja : Kulit dan rambut yang akan diperiksa harus dalam keadaan sealamiah mungkin. asam salisilat dan petrolatum : kuning 245 . orange tembaga. Interpretasi : Tinea kapitis (M. Pitiriasis versikolor: putih kekuningan. sehingga menimbulkan indeks bias berbeda. Prinsip kerja : Sinar Wood diarahkan ke lesi akan dipantulkan berdasarkan perbedaan berat molekul metabolik organisme penyebab. Lampu Wood diarahkan ke bagian lesi dengan pendaran paling besar/jelas.

Fluoresen merah bata pada eritrasma.Gambar 28. Wood lamp Gambar 29. Fluoresen kekuningan pada pityriasis versikolor Gambar 28. Fluoresen hijau pada tinea kapitis 246 . A. B.

pemeriksaan sediaan langsung atau basah. Tzank test. pewarnaan gram. pemeriksaan genetik.PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium (pemeriksaan KOH. radiologis. kultur. biopsi kulit untuk pemeriksaan histopatologis. dan biomolekuler) imunofluoresensi dan serologis. pemeriksaan 247 . Bacterial index dan Morphological index. pemeriksaan imunohistokimia.

Cheklist Pemeriksaan Fisik Kulit Nama Mahasiswa: NIM: No 1. f. e. a. 248 . Peroneus communis dextra/sinistra o N. tipe lesi primer dan sekunder secara berurutan. Ulnaris dextra/sinistra o N. jelas. Auricularis magnus dextra/sinistra o N. Melaporkan deskripsi status dermatologis 3. susunan lesi. c. d. lengkap dan jujur tentang cara dan tujuan pemeriksaan  Memberitahukan kemungkinan adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang timbul selama pemeriksaan dilakukan Status dermatologis : Menggunakan kaca pembesar (loupe). b. jumlah lesi. Aspek yang dinilai Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stress sebelum melakukan pemeriksaan fisik:  Memberi penjelasan dengan benar. distribusi lesi. Tibialis dextra/sinistra  Pemeriksaan sensibilitas o Rasa nyeri o Rasa raba o Rasa suhu Tes klinis pada bullous disease (SJS/TEN/Pemfigus vulgaris. konfigurasi lesi. Tes Klinis Tes klinis pada Morbus Hansen  Pemeriksaan saraf perifer o N. menentukan regio. Pemfigoid bulosa):  Nikolsky’s sign  Asboe Hansen sign/bullous spread phenomen Tes klinis pada Psoriasis vulgaris:  Kaarsvlek phenomen  Austpitz sign  Koebner phenomen Tes klinis pada Urtikaria: Tes Dermografisme Tes klinis pada Dermatitis atopik: Tes Dermografisme putih Tes klinis pada Purpura: Tes Diaskopi Skor 0 1 2 2.

.. dengan perbaikan lebih dari 50 % 2 = dilakukan... Pemeriksaan menggunakan lampu Wood : pada tinea kapitis.% 249 . dan eritrasma SKOR YANG DIDAPAT SKOR TOTAL Banda Aceh. dengan perbaikan kurang dari 50% Cakupan penguasaan keterampilan : (Skor/Skor Total) x 100%...g..…………………2013 Instruktur Ket : 0 = Tidak dilakukan 1 = dilakukan... pityriasis versikolor...

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful