Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia terus diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan jaman yang semakin global. Peningkatan sumber daya manusia ini juga berpengaruh terhadap dunia pendidikan. Pendidikan yang merupakan ujung tombak dalam pengembangan sumber daya manusia harus bisa berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan juga kuantitas. Upaya pengembangan pendidikan tersebut harus sesuai dengan proses pengajaran yang tepat agar anak didik dapat menerima pelajaran dengan baik. Dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari berbagai variabel pokok yang saling berkaitan yaitu kurikulum, guru/pendidik, pembelajaran, peserta. Dimana semua komponen ini bertujuan untuk kepentingan peserta. Berdasarkan hal tersebut pendidik dituntut harus mampu menggunakan berbagai pendekatan pembelajaran agar peserta didik dapat melakukan kegiatan belajar dengan menyenangkan. Hal ini dilatar belakangi bahwa peserta didik bukan hanya sebagai objek tetapi juga merupakan subjek dalam pembelajaran. Peserta didik harus disiapkan sejak awal untuk mampu bersosialisasi dengan lingkungannya sehingga berbagai jenis pendekatan pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik. Berdasarkan pandangan diatas, maka permasalahan yang muncul adalah bagaimana upaya guru untuk meningkatkan hasil balajar siswa dengan pendekatan yang tepat. Salah satu solusinya yaitu dengan mengembangkan suatu pendekatan pembelajaran yang membuat siswa lebih senang dan lebih termotivasi untuk belajar. Beberapa pendekatan pembelajaran yang dianggap efisien adalah pendekatan pembelajaran komunikatif, pendekatan pembelajaran kontekstual, dan pendekatan pembelajaran humanistik.

1.2 Rumusan Masalah


1) Apa pengertian dari Pendekatan Pembelajaran ? 2) Apa saja bentuk-bentuk pendekatan pembelajaran ? 3) Apa yang dimaksud dengan pengorganisasian siswa ? 4) Bagaimana posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan ?

1.3 Tujuan
1) Untuk mengetahui pengertian dari Pendekatan Pembelajaran 2) Untuk mengetahui bentuk-bentuk pendekatan pembelajaran 3) Untuk mengetahui bentuk-bentuk pengorganisasian siswa 4) Untuk mengidentifikasi posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian pendekatan pembelajaran
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

2.2 Bentuk-bentuk pendekatan pembelajaran


Ada beberapa macam pendekatan pembelajaran yang digunakan pada kegiatan belajar mengajar, antara lain : 1. Pendekatan Kontekstual Pendekatan konstekstual berlatar belakang bahwa siswa belajar lebih bermakna dengan melalui kegiatan mengalami sendiri dalam lingkungan alamiah, tidak hanya sekedar mengetahui, mengingat, dan memahami. Pembelajaran tidak hanya berorientasi target penguasaan materi, yang akan gagal dalam membekali siswa untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Dengan demikian proses pembelajaran lebih diutamakan daripada hasil belajar, sehingga guru dituntut untuk merencanakan strategi pembelajaran yang variatif dengan prinsip membelajarkanmemberdayakan siswa, bukan mengajar siswa. Borko dan Putnam mengemukakan bahwa dalam pembelajaran kontekstual, guru memilih konteks pembelajaran yang tepat bagi siswa dengan cara mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan nyata dan lingkungan di mana anak hidup dan berada serta dengan budaya yang berlaku dalam masyarakatnya. Pemahaman, penyajian ilmu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang ada dalam materi dikaitkan dengan apa yang dipelajari dalam kelas dan dengan kehidupan sehari-hari.

Dengan memilih konteks secara tepat, maka siswa dapat diarahkan kepada pemikiran agar tidak hanya berkonsentrasi dalam pembelajaran di lingkungan kelas saja, tetapi diajak untuk mengaitkan aspek-aspek yang benar-benar terjadi dalam kehidupan mereka sehari-hari, masa depan mereka, dan lingkungan masyarakat luas. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi.Guru bertugas mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk merumuskan, menemukan sesuatu yang baru bagi kelas yang dapat berupa pengetahuan, keterampilan dari hasil menemukan sendiri dan bukan dari apa kata guru. Penggunaan pembelajaran kontekstual memiliki potensi tidak hanya untuk mengembangkan ranah pengetahuan dan keterampilan proses, tetapi juga untuk mengembangkan sikap, nilai, serta kreativitas siswa dalam memecahkan masalah yang terkait dengan kehidupan mereka sehari-hari melalui interaksi dengan sesama teman, misalnya melalui pembelajaran kooperatif, sehingga juga mengembangkan ketrampilan sosial (social skills). Pendekatan kontekstual melibatkan siswa dalam masalah yang sebenarnya dalam penelitian dengan menghadapkan anak didik pada bidang penelitian, membantu mereka mengidentifikasi masalah yang konseptual atau metodologis dalam bidang penelitian dan mengajak mereka untuk merancang cara dalam mengatasi masalah. 2. Pendekatan Konstruktivisme Kontruktivisme merupakan landasan berfikir pendekatan kontekstual. Yaitu bahwa pendekatan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak dengan tibatiba.Kelebihan teori konstruktivisme ialah pelajar berpeluang membina pengetahuan secara aktif melalui proses saling pengaruh antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.

Pembelajaran terdahulu dikaitkan dengan pembelajaran terbaru. Perkaitan ini dibina sendiri oleh pelajar. Menurut teori konstruktivisme, konsep-konsep yang dibina pada struktur kognitif seseorang akan berkembang dan berubah apabila ia mendapat pengetahuan atau pengalaman baru. Seseorang akan dapat membina konsep dalam struktur kognitifnya dengan menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang sedia ada padanya dan proses ini dikenali sebagai accretion. Selain itu, konsep-konsep yang ada pada seseorang boleh berubah selaras dengan pengalaman baru yang dialaminya dan ini dikenali sebagai penalaan atau tuning. Seseorang juga boleh membina konsep-konsep dalam struktur kognitifnya dengan menggunakan analogi, iaitu berdasarkan pengetahuan yang ada padanya.Konsep baru juga boleh dibina dengan menggabungkan konsep-konsep yang sedia ada pada seseorang dan ini dikenali sebagai parcing. Pendekatan konstruktivisme sangat penting dalam proses

pembelajaran kerana belajar digalakkan membina konsep sendiri dengan menghubungkaitkan perkara yang dipelajari dengan pengetahuan yang sedia ada pada mereka. Dalam proses ini, pelajar dapat meningkatkan pemahaman mereka tentang sesuatu perkara. 3. Pendekatan Deduktif Induktif a. Pendekatan Deduktif Pendekatan deduktif ditandai dengan pemaparan konsep, definisi dan istilah-istilah pada bagian awal pembelajaran. Pendekatan deduktif dilandasi oleh suatu pemikiran bahwa proses pembelajaran akan berlangsung dengan baik bila siswa telah mengetahui wilayah persoalannya dan konsep dasarnya.

b. Pendekatan Induktif Ciri uatama pendekatan induktif dalam pengolahan informasi adalah menggunakan data untuk membangun konsep atau untuk memperoleh pengertian. Data yang digunakan mungkin merupakan data primer atau dapat pula berupa kasus-kasus nyata yang terjadi dilingkungan. Pembelajaran tradisional adalah pembelajaran dengan pendekatan deduktif, memulai dengan teori-teori dan meningkat ke penerapan teori. Di bidang sain dan teknik dijumpai upaya mencoba pembelajaran dan topik baru yang menyajikan kerangka pengetahuan, menyajikan teori-teori dan rumus dengan sedikit memperhatikan pengetahuan utama mahasiswa, dan kurang atau tidak mengkaitkan dengan pengalaman mereka. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif menekankan pada guru mentransfer informasi atau pengetahuan. Pembelajaran dengan pendekatan deduktif dimulai dengan

menyajikan generalisasi atau konsep. Dikembangkan melalui kekuatan argumen logika. Contoh urutan pembelajaran: (1) definisi disampaikan; dan (2) memberi contoh, dan beberapa tugas mirip contoh dikerjakan siswa dengan maksud untuk menguji pemahaman siswa tentang definisi yang disampaikan. Alternatif pendekatan pembelajaran lainnya selain dengan

pembelajaran pendekatan deduktif adalah dengan pendekatan induktif . Beberapa contoh pembelajaran dengan pendekatan induktif misalnya pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah, pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis kasus, dan pembelajaran penemuan. Pembelajaran dengan pendekatan induktif dimulai dengan melakukan pengamati memahami terhadap konsep, hal-hal khusus dan dan menginterpretasikannya, berdasar menganalisis kasus, atau memberi masalah konstekstual, siswa dibimbing aturan-aturan, prosedur-prosedur pengamatan siswa sendiri.

Pembelajaran dengan pendekatan induktif efektif untuk mengajarkan konsep atau generalisasi. Pembelajaran diawali dengan memberikan contohcontoh atau kasus khusus menuju konsep atau generalisasi. Siswa melakukan sejumlah pengamatan yang kemudian membangun dalam suatu konsep atau geralisasi. Siswa tidak harus memiliki pengetahuan utama berupa abstraksi, tetapi sampai pada abstraksi tersebut setelah mengamati dan menganalisis apa yang diamati. Dalam fase pendekatan induktif-deduktif ini siswa diminta

memecahkan soal atau masalah. Ada dua kategori yang dapat dipakai dalam membahas materi pembelajaran yaitu metode induktif dan deduktif. Pada prinsipnya matematika bersifat deduktif. Matematika sebagai ilmu hanya diterima pola pikir deduktif. Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan pemikiran yang berpangkal dari hal yang bersifat umum diterapkan atau diarahkan kepada hal yang bersifat khusus . Dalam kegiatan memecahkan masalah siswa dapat terlibat berpikir dengan dengan menggunakan pola pikir induktif, pola pikir deduktif, atau keduanya digunakan secara bergantian. 4. Pendekatan Konsep dan Proses a. Pendekatan Konsep Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti siswa dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung di dalamnya. Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan konsep dan subkonsep yang menjadi fokus. Dengan beberapa metode siswa dibimbing untuk memahami konsep. b. Pendekatan Proses Pada pendekatan proses, tujuan utama pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses seperti mengamati, berhipotesa, merencanakan, menafsirkan, dan mengkomunikasikan.

Pendekatan keterampilan proses digunakan dan dikembangkan sejak kurikulum 1984. Penggunaan pendekatan proses menuntut keterlibatan langsung siswa dalam kegiatan belajar. Dalam pendekatan proses, ada dua hal mendasar yang harus selalu dipegang pada setiap proses yang berlangsung dalam pendidikan. Pertama, proses mengalami. Pendidikan harus sungguh menjadi suatu pengalaman pribadi bagi peserta didik. Dengan proses mengalami, maka pendidikan akan menjadi bagian integral dari diri peserta didik; bukan lagi potonganpotongan pengalaman yang disodorkan untuk diterima, yang sebenarnya bukan miliknya sendiri 5. Pendekatan Sains, Tekhnologi dan Masyarakat National Science Teachers Association (NSTA) (1990 :1)memandang STM sebagai the teaching and learning of science in thecontext of human experience. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Dalam pendekatan ini siswa diajak untuk meningkatakan kreativitas, sikap ilmiah, menggunakan konsep dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari. Definisi lain tentang STM dikemukakan oleh PENN STATE(2006:1) bahwa STM merupakan an interdisciplinary approach whichreflects the widespread realization that in order to meet the increasingdemands of a technical society, education must integrate acrossdisciplines. Dengan demikian, pembelajaran dengan pendekatan STM haruslah diselenggarakan dengan cara mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai hubungan yang terjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan-hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalampengembangan pembelajaran di era sekarang ini.

Pandangan tersebut senada dengan pendapat NC State University bahwa STM merupakan an interdisciplinery field of study that seeks to explore a understand the many ways that scinence and technology shape culture, values, and institution, and how such factors shape science and technology. STM dengandemikian adalah sebuah pendekatan yang dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sains dan teknologi masuk dan merubah prosesproses sosial di masyarakat, dan bagaimana situasi sosial mempengaruhi perkembangan sains dan teknologi. Hasil penelitian dari National Science Teacher Association ( NSTA ) menunjukan bahwa pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari hari, yang dalam pemecahannya menggunakan langkah langkah.

2.3 Pengorganisasian Siswa


1. Pembelajaran secara Individual Pembelajaran secara individual adalah kegiatan mengajar guru yang menitikberatkan pada bantuan dan bimbingan belajar kepada masing-masing individu. Bantuan dan bimbingan belajar kepada individu juga ditemukan pada pembelajaran klasikal, tetapi prinsipnya berbeda. Pada pembelajaran individual, guru memberi bantuan individu secara umum. Sebagai ilustrasi, bantuan guru kelas tiga kepada siswa yang membaca dalam hati secara individual siswa memnemukan kesukaran sendiri-sendiri.

Ciri-ciri yang menonjol pada pembelajaran individu dapat ditinjau dari segi (i) Tujuan Pengajaran (ii) siswa sebagai subyek yang belajar (iii) guru sebagai pembelajar (iv) program pembelajaran, serta (v) orientasi dan tekanan utama dalam pelaksanaan pembelajaran. Uraian lebih lanjut dikemukakan dibawah ini : a. Tujuan Pengajaran pada Pembelajaran Secara Individual Prilaku belajar-mengajar disekolah yang menganut sistem kalsikal tampak serupa. Dalam kelas terdapat siswa yang rata-rata berjumlah empat puluh orang. Guru membantu siswa yang menghadapi kesukaran. Adapun tujuan pengajaran yang menonjol adalah: (1) Pemberian kesempatan dan keleluasaan siswa untuk belajar berdasarkan kemampuan sendiri; dalam pengajaran klasikal guru menggunakan ukuran kemampuan rata-rata kelas. Dalam pengajaran individual awal pelajaran adalah kemampuan tiap individual, sedangkan pada pengajaran klasikal awal pelajaran berdasarkan kemampuan rata-rata kelas. Siswa menyesuaikan diri dengan kemampuan rata-rata kelas. (2) pengembangan kemampuan tiap individu secara optimal. Tiap individu memiliki paket sendiri-sendiri, yang sesuai dengan tujuan belajarnya secara individual juga. b. Siswa dalam Pembelajaran Secara Individual Kedudukan siswa dalam pembelajaran individual bersifat sentral. Pembelajar merupakan pusat layanan pengajaran. berbeda dengan pengajaran klasikal maka siswa memiliki keleluasaan berupa (i) keleluasaan belajar berdasarkan kemampuan sendiri (ii) nkebebasan menggunakan waktu belajar, dalam hal ini siswa bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilakukannya, (iii) keleluasaan dalam mengontrol kegiatan, kecepatan, dan intensitas belajar, dalam rangka mencapai tujuan belajar yang telah ditetapkan, (iv) siswa melakukan penilaian sendiri atas hasil belajar, (v) siswa dapat mengetahui kemampuan dan hasil belajar sendiri, serta (vi) siswa memiliki kesempatan untuk menyusun program belajarnya sendiri.

10

Keenam jenis kedudukan siswa tersebut berakibat pada adanya perbedaan tanggung jawab belajar-mengajar. Pada pembelajaran klasikal,tanggung jawab guru dalam membelajarkan siswa cukup besar. Pada pembelajaran secara individual, tanggung jawabsiswa untuk belajar sendiri sangat besar. Pembelajar bertanggung jawab penuh untuk belajar sendiri. Timbul soal berikut; Apakah siswa telah memiliki rasa tanggung jawab untuk belajar sendiri? Hal ini terkait dengan perkembangan emansipasi diri siswa. M,eskipun demikian pada tempatnya usia pendidikan dasar (6;0-15;0) siswa dididik memiliki rasa tanggung jawab dalam belajar sendiri (Monks, Knoers, Siti Rahayu, Haditono, 1989) c. Guru dalam Pembelajaran Secara Individual Kedudukan guru dalam pembelajaran individual bersifat membantu. Bantuan guru berkenaan dengan komponen pembelajaran berupa (i) Perencanaan kegiatan belajar (ii) pengorganisasian kegiatan belajar (iii) penciptaan pendekatan terbuka antara guru dan siswa, dan (iv) fasilitas yang mempermudah belajar. Dalam pengajaran klasikal pada umumnya peranan guru dalam merencanakan kegiatan pembelajaran sangat besar. Hal ini tidak terjadi dalam pembelajaran individual. Peranan guru dalam merencanakan kegiatan belajar sebagai berikut: (i) membantu merencanakan kegiatan-kegiatan belajar sebagai berikut: (i) membantu merencanakan kegiatan belajar siswa; dengan musyawarah guru membantu siswa menetapkan tujuan belajar, membuat program belajar sesuai kemampuan siswa, (ii) membicarakan pelaksanaan belajar, mengemukakan kriteria keberhasilan belajar, menentukan wkatu dan kondisi belajar, (iii) berperan sebagai penasihat atau pembimbing, dan (iv) membantu siswa dalam penilaian hasil belajar dan kemajuan sendiri. Sebagai ilustrasi, guru membantu memilih program belajar dengan suatu modul. (tjipto utomo & kees, ruijter: 69-83.)

11

Peranan guru dalam pengorganisasian kegiatan belajar adalah mengatur dan memonitor kegiatan belajar sejak awal sampai akhir. Peranan guru sebagi berikut (i) memberikan orientasi umum sehubungan dengan belajar topik tertentu, (ii) membuat variasi kegiatan belajar agar tidak terjadi kebosanan, (iii) mengkoordinasikan kegiatan dengan memperhatikan kemajuan, materi, media, dan sumber, (iv) membagi perhatian pada sejumlah pembelajar, menurut tugas dan kebutuhan pembelajar (v) memberikaan balikan terhadap setiap p[embelajar, dan (vi) mengakhiri kegiatan belajar dalam suatu unujuk hasil belajar berupa laporan atau pameran hasil kerja; untuk kerja hasil belajar berupa laporan atau pameran hasil kerja; untuk kerja hasil belajar tersebut umumnya diakhiri dengan evaluasi kemajuan belajar. Peranan guru dalam penciptaan hubungan terbuka dengan siswa bertujuan menimbulkan perasaan bebas dalam belajar. Hubungan terbuka tersebut ditimbulkan dengan cara (i) membuat hubungan akrab dan peka terhadap kebutuhan siswa, (ii) memndengarkan secara simpatik terhadap segala ungkapan jiwa siswa, (iii) tanggap dan memberikan reaksi posotif pada siswa, (iv) membina hubungan salaing percaya, (v) kesiapan membantu siswa, (vi) membina suasana aman sehingga siswa leluasa bereksplorasi, memberi kemungkinan penemuan-penemuan, dan mendorong terjadinya emansipasi dengan penuh tanggung jawab. Perilaku guru dalam hubungan terbuka tersebut tetap mengacu pada kemandirian siswa yang bertanggung jawab, hal ini perlu dijaga jangan terjerumus pada pemanjaan siswa. Peranan guru yang sangat penting adalah menjadi fasilitator belajar. Tujuannya adalah mempermudah proses belajar. Cara yang dilakukan gurru adalah (i) membimbing siswa belajar, (ii) menyediakan media dan sumber belajar, (iii) memberi penguiatan belajar, (iv) menjadi teman dalam mengevaluasi pelaksanaan,(v) memberi kesempatan siswa untuk memperbaiki diri.

12

d. Program Pembelajaran dalam Pembelajaran Individual Program pembelajaran individual adalah usaha memperbaiki kelemahan pembelajaran klasikal. Dari segi kebutuhan pebelajar, program pembelajaran individual lebih efektif, sebab siwa belajar sesuai dengan programnya sendiri. Dari segi guru, yang terkait dengan jumlah pembelajar, tampak kurnag efisien. Jumlah siswa sebesar empat puluh orang meminta perhatian besar guru. Dan hal itu melelahkan guru. Dari segi usia perkembangan pebelajar, maka program

pembelajaran individual cocok bagi siswa SLTP keatas. Hal ini disebabkan oleh (i) umumnya siswa sudah dapat membaca dengan baik, (ii) siswa mudah memahami petunjuk atau perintah dengan baik (iii) siswa dapat bekerja mandiri dan bekerja sama dengan baik. Dari segi bidang studi, maka tidak semua bidang studi cocok untuk diprogramkan secara individual. Bidang studi yang cocok untuk individual adalah pengajaran bahasa, matematika, IPA dan IPS bagi bahan ajaran tertentu. Bidang studi musik, kesenian, dan olahraga yang bersifat perorangan, juga cocok untuk program pembelajaran individual. Program pembelajaran individual dapat dilaksanakan secara efektif, bila mempertimbangkan hal-hal berikut, (i) disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan siswa,(ii) tujuan pembelajaran dibuat dan dimengerti oleh siswa, (iii) prosedur dan cara kerja dimengerti olehsiswa, (iv) kriteria keberhasilan dimengerti oleh siswa, (v) keterlibatan guru dalam mengevaluasi dimengerti oleh siswa. e. Orientasi dan tekanan utama pelaksanaan Program pembelajaran individual beroriantasi pada pemberian bantuan kepada setiap siswa agar dia dapat belajar secara mandiri. Kemandirian dalam belajar terseebut merupakan tuntutan perkembangan individu. Dalam menciptakan pembelajaran individual, rencana guru berbeda dengan pengajaran klasikal.

13

Dalam

pelaksanaan

guru

berperan

sebagai

fasilitator,

pembimbing, pendiagnosis kesukaran belajar, dan rekan diskusi. Guru berperan sebagi guru pendidik, bukan instruktur. 2. Pembelajaran secara Berkelompok Dalam kegiatan belajar-mengajar dikelas adakalanya guru membentuk kelompok kecil. Kelompok tersebut umumnya terdiri dari 3-8 oarang siswa. Dalam pembelajaran kelompok kecil, guru memberikan bantuan atau bimbingan kepada tiap anggota kelompok lebih intensif. Hal ini dapat terjadi. Sebab (i) hubungan antar guru-siswa menjadi lebih sehat dan akrab, (ii) siswa memperoleh bantuan, kesempatan, sesuai dengan kebutuhan kemempuan, dan minat, serta (iii) siswa dilibatkan dalam penetuan tujuan belajar, cara belajar, kriteria keberhasilan. Ciri-ciri yang menonjol pada pembeljaran secara kelompok dapat ditinjau dari segi (i) tujuan pengajaran, (ii) pembelajar, (iii) guru sebagai pembelajar, (iv) program pembelajaran (v) orientasi dan tekanan utama pelaksanaan pembelajaran. Uraian selanjutnya dibawah ini. a. Tujuan Pengajaran pada Kelompok Kecil Pembelejaran kelompok kecil merupakan perbaikan dari kelemahan pengajaran klasikal. Adapun tujuan pengajaran pada pembelajar kelompok kecil adalah (i) memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah secara rasional, (ii) mengembangkan sikap sosial dan semangat bergotong royong dalam kehidupan, (ii) mendinamiskan kegiatan kelompok dalam belajar sehingga tiap anggota merasa diri sebagai bagian dari kelompok yang bertanggung jawab, dan (iv) mengmbangkan kemampuan kepemimpinan-keterpimpinan pada tiap anggota kelompok dalam pemecahan masalah kelompok. Sebagai ilustrasi, lomba kareay tulis ilmiah kelompok di SMA menimbulkan kerja sama tim, dan sekaligus kompetisi sehat antar kelompok ( Joyce, Bruce & Weil, Marsha, 1980).

14

b. Siswa dalam Pembelajaran Kelompok Kecil Siswa dalam kelompok kecil adalah anggota kelompok yang belajar untuk memecahkan maslah kelompok. Kelompok kecil merupakan satuan kerja yang kompak dan kohesif. Ciri-ciri kelompok kecil yang menonjol segai berikut: (i) tiap siswa merasa sadar diri sebagai anggota kelompok, (ii) tiap siwa merasa diri memiliki tujuan bersama berupa tujuan kelompok, (iii) memiliki rasa saling membutuhkan dan saling baergantung, (iv) ada interaksi dan komunikasi antar anggota serta, (v) ada tindakan bersama sebagai perwujudan tanggung jawab kelompok. Dari segi Individu, keanggotaan siswa dalam kelompok kecil merupakan pemenuhan kebutuhan berasosiasi. Tiap siswa dalam kelompok kecil menyadari bahwa kehadiran kelompok diakui bila kelompok berhasil memecahkan tugas yang dibebankan. Dalam hal ini timbullah rasa bangga dan rasa memiliki kelompok pada tiap anggota kelompok. Siswa berbagi tugas, tetapi merasa satu dalam semangat kerja. Siswa dalam kelompok kecil berperan serta dalam tugas-tugas kelompok. Agar kelompok kecil berperan konstruktif dan produktif, diharapkan (i) anggota kelompok sadar diri menjadi anggota kelompok; dalam hal ini tindakan individual selalu diperhitungkan sebagi anggota kelompok, (ii) siswa sebagai anggota kelompok memiliki rasa tanggung jawab , (iii) tiap anggota kelompok membina hubu8ngan akrab yang mendorong timbulnya semangat tim, dan (iv) kelompok mewujud dalam satuan kerja yang kohesif. Berkelompok memang merupakan kebutuhan individu sebagai makhluk sosial. Meskipun demikian bertugas dalam suatu kelompok memang harus dididikkan. Dalam berkelompok, maka siswa dididik mewujudkan cita kemanusiaan secara objektif dan benar. Sebagai ilustrasi, regu bola voly SMP akan berjuang memenangkan kejuaraan lomba voly, sejak tingkat kelas sekolah SMP sekota, seprovinsi, sampai tingkat nasional ( Schein, 1991 : 205-209).

15

c. Guru sebagai Pembelajar dan Pembelajaran Kelompok Pembelajaran kelompok bermaksud menimbulkan dinamika kelompok agar kualitas belajar meningkat. Dalam pembelajaran kelompok jumlah siswa yang bermutu diharapkan menjadi lebih banyak. Bila perhatian guru dalam pembelajaran individual tertuju pada tiap individu, maka perhatian guru dalam pembelajaran kelompok tertuju pada semangat kelompok dalam memecahkan masalah. Kelompok yang berkemampuan tinggi dijadikan motor penggerak pemecahan masalah kelompok. Peranan guru dalam pembelajaran kelompok terdiri dari pembentukan kelompok, perencanaan tugas kelompok, pelaksanaan dan evaluasi hasil belajar kelompok. Tidak ada pedoman khusus tentang pembentukan kelompok yang jelas. Meskipun demikian ada hal yang patut dipertimbangkan yaitu: tujuan yang akan diperoleh siswa dalam belajar kelompok latar belakang pengalaman siswa minat atau pusat perhatian siswa Tugas kelompok dapat paralel atau komplementer. Tugas paralel maksudnya semua kelompok mendapatkan tugas yang sama, sedangkan tugas komplementer berarti kelompok saling melengkapi pemecahan masalah. Dalam pelaksanaan mengajar, guru dapat berperan sebagai berikut: Pemberi informasi umum tentang proses belajar kelompok (seperti tujuan belajar, tata kerja,dll) Setelah siswa memahami tugasnya, maka kolompok melaksanakan tugas. Guru bertindak sebagai fasilitator, pembimbing dan pengendali ketertiban kerja. Pada akhir pembelajaran, tiap kelompok memberikan hasil kerja. Guru melakukan evaluasi tentang proses kerja kelompok sebagi satuan, hasil kerja, perilaku dan tata kerja, serta membandingkan dengan kelompok lain.

16

Pembelajaran kelompok kecil merupakan strategi pembelajaran antara untuk memperhatikan individu. Pembelajaran kelompok dapat ditempuh guru dengan jalan membagi kelas kedalam beberapa kelompok kecil atau membagi kelas dengan member kesempatan untuk belajar perorangan dan berkelompok kecil,dalam hal ini guru perlu mencgah terjadinya perilaku siswa sebagai parasit balajar dan ketakmampuan kerja kelompok. Pada pembelajaran kelompok, orientasi dan tekanan utama pelaksanaan adalah peningkatan kemampuan kerja kelompok. Kerja kelompok berarti belajr kepemimpinan dan keterpimpinan. Kedua keterampialan tersebut, memimpin dan terpimpin, perlu dipelajari oleh tiap siswa. Dalam masyarakat modern keterampialn memimpin dan terpimpin diperlukan dalam kehidupan. 3. Pembelajaran secara klasikal Pembelajarn klasikal merupakan kemampuan guru yang utama. Hal itu disebabkan oleh pengajaran klasikal merupakan kegiatan mengajar yang efisien. Secara ekonomis, pembiayaan kelas lebih murah. Oleh karena itu ada jumlah minimum siswa dalam kelas. Jumlah siswa tiap kelas umumnya berkisar antara 10-45 orang. Dengan jumlah tersebut seorang guru masih dapat mengajarkan dengan berhasil. Pembelajran kelas berarti melaksanakan dua kegiatan sekaligus, yaitu: Pengelolaan kelas, yakni penciptaan kondisi yang memungkinkan terselenggaranya kegiatan belajar dengan baik. Pengelolaan pembelajaran, yakni siswa yang terlibat dalam belajar. Pengelolaan pembelajaran bertujuan mencapai tujuan belajar. Peran guru dalam pembelajaran secra individual dan kelompok kecil berlaku dalam pembelajaran secara klasikal. Tatanan utama pembelajaran adalah seluruh anggota kelas.

17

Disamping penyusunan desain instruksional yang dibuat, maka pembelajaran kelas dapat dilakukan dengan tindakan sebagi berikut: Penciptaan tertib belajar dikelas Penciptaan suasana senang danlam nelajr Pemusatan perhatian pada bahan ajar Mengikutsertaan siswa belajar aktif Pengorganisasian belajar sesuai dengan kondisi siswa Dalam pembelajaran kelas, guru dapat mengajar seorang diri atau bertindak sebagai tim pembelajar.

2.4 Posisi Guru-Siswa dalam Pengolahan Pesan


Dalam kegiatan belajar-mengajar guru berusaha menyampaikan sesuatu hal yang disebut pesan. Sebaliknya, dalam kegiatan belajar siswa juga dapat memperoleh sesuatu hal. Pesan atau sesuatu hal tersebut dapat berupa pengetahuan, wawasan, keterampilan, atau isi ajaran yang lain seperti kesenian, kesusilaan, dan agama. Dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan 2 strategi yaitu : 1. Pembelajaran dengan Strategi Ekspositori Perilaku mengajar dengan strategi ekspositori disebut juga denga model ekspositori. Model pengajaran ekspositori merupakan kegiatan mengajar yang terpusat pada guru. Guru aktif memberikan penjelasan atau informasi terperinci tentang materi yang sedang diajarkan. Tujuan utama ekspositori adalah memindahkan pengetahuan, keterampialan, dan nilainilai kepada siswa. Hal yang esensial harus dijelaskan kepada siswa. Peranan guru yang penting adalah sebagai berikut: Penyusun program pembelajaran Pemberi informasi yang benar Pemberi fasilitas belajar yang baik Pembimbing siswa dalam pemerolehan informasi yang benar Penilai pemerolehan informasi

18

Peranan siswa yang penting adalah sebagai : Pencari informasi yang benar Pemakai media dan sumber yang benar Menyelesaikna tugas sehubungan denagn penilaian guru Hasil belajar yang dievaluasi adalah jumlah pengetahuan,

keterampilan, dan nilai yang kuasai oleh siswa. Padaumumnya alat evaluasi yang digunakan adalah tes yang telah dibakukan atautes buatan guru. 2. Pembelajaran dengan Strategi Inkuiri Perilaku mengajar denagn strategi ini disebut juga sebagai model inkuiri. Model inkuirimerupakan pengajaran yang mengharuskan siswa mengolah pesan sehingga memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan nilainilai. Dalam model inkuiri siswa dirancanguntuk terlibat dalam melakukan inkuiri. Tujuan utama model inkuiri adalah mengembangkan keterampilan intelektual, berpikir kritis, dan mampu memecahkan masalah secara ilmiah. Beberapa ahli yang mengembangkan model inkuiri diantaranya Suchman, Massialas dan Cox, dan Schwab. Tujuan utama pembelajaran dengan strategi inkuiri adalah : Pengembangan kemampuan berpikir individual lewat penelitian. Peningkatan kemampuan mempraktekkan metode dan tenik penelitian. Latihn keterampilan intelektual khusus, yang sesuai dengan cabang ilmu tertentu. Latihan menemukan sesuatu. Peranan guru yang penting diataranya yaitu : Menciptakan suasana bebas berpikir sehingga siswa berani bereksplorasi dalam penemuan dan pemecahan masalah. Fasilitator dalam penelitian. Rekan diskusi dalam klasifikasi dan pencarian alternative pemecahan masalah.

19

Pembimbing penelitian, pendorong keberanian berpikir alternatif dalam pemecahan masalah. Peranan siswa yang penting diantaranya yaitu : Mengambil prakarsa daalam pencarian masalah dan pemecahan masalah. Perilaku aktif dalam belajar melakukan penelitian. Penjelajah tentang masalah dan metode pemecahan. Penemu pemecahan masalah. Evaluasi hasil belajar pada model inkuiri meliputi : Keterampilan pencarian dan perumusan masalah. Keterampilan pengumpulan data atau informasi. Keterampilan meneliti tentang objek. Keterampilan menarik kesimpulan, dan Laporan. (EDIT) Sehubungan dengan posisi guru-siswa dalam pengolahan pesan, guru dapat menggunakan strategi ekspositori, strategi discovery, dan strategi inkuiri. Strategi ekpositori, strategi discovery, dan strategi inkuiri. Strategi ekspositori masih terpusat pada guru; oleh karena itu seyogianya dikurangi. Strategi discovery dan inkuiri terpusat ada siswa. Dalam kedua strategi ini siswa dirancang aktif belajar, sehingga ia dapat menemukan, bekerja secara ilmu pengetahuan, dan merasa senang. Pada tempatnya guru menggunakan strategi discovery dan inkuiri yang sesuai dengan pendekatan CBSA. Dalam pembelajaran pada pelajar terjadi peningkatan kemampuan. Semula, ia memiliki kemampuan pra-belajar; dalam proses belajar pada kegiatan belajar hal tertentu, ia meningkatkan tingkat atau memperbaiki tingkat ranah-ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Keputusan tentang perbaikan tingkat ranah tersebut didasarkan atas evaluasi guru dan unjuk kerja siswa dalam pemecahan masalah.

20

Dari sisi guru, proses pemerolehan pengalaman siswa atau proses pengolahan pesan tersebut dapat dilakuikan dengan cara deduktif dan induktif. Pengolahan pesan secara deduktif dimulai dari generalisasi atau suatu teori yang benar, pencarian data, dan uji kebenaran generalisasi atau suatu teori tersebut. Pada pengolahan pesan secara induktif kegiatan bermula dari adanya fakta atau peristiwa khusus, penyusunan konsepkonsep. Dalam usaha pembelajaran guru dapat menggunakan pengolahan pesan secara deduktif atau induktif tergantung pada karakteristik bidang studinya. Selain pendekatan atau model belajar individual, kelompok dan klasikal, masih terdapat banyak model belajar yang lain. Di antaranya: Teori belajar Yang ditekankan Tokoh Pavlov,Skinner, Bandura Brunner, Piaget, Ausubel Jean Piaget, Vygotsky, John Miler

Behaviorisme (tingkah Stimulus, respon, penguatan motivasi laku) Cognitivisme Daya ingat, perhatian, pemahaman mendalam, organisasi gagasan, proses informasi Pengalaman, interaksi Emosi, perasaan, komunikasi yang terbuka, nilai-nilai

konstruktivisme Humanisme

Peran Guru Dalam Kegiatan Pembelajaran Peran guru dalam pembelajaran yaitu membuat desain instruksional, menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar, bertindak mengajar atau membelajarkan, mengevaluasi hasil belajar yang berupa dampak pengajaran. Selain itu, menurut Djamarah (2000: 43-48) bahwa tugas dan tanggung jawab guru atau lebih luasnya pendidik adalah sebagai:

21

1) Korektor yaitu pendidik bisa membedakan mana nilai yang baik dan mana nilai yang buruk, koreksi atau penilaian yang dilakukan bersifat menyeluruh dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Setiap peserta didik mempunyai kemampuan yang berbeda dalam menerima pelajaran. Ada yang mempunyai kemampuan baik di bidang kognitif tetapi kurang pada afektifnya, ada pula yang baik pada psikomotorik namun kurang pada kognitifnya, dan berbagai macam perbedaan peserta didik yang lain. Oleh karena itu, dalam memberikan penilaian, hendaknya pendidik tidak hanya memberikan penilaian dari satu aspek saja. 2) Inspirator yaitu pendidik menjadi inspirator atau ilham bagi kemajuan belajar siswa atau mahasiswa, petunjuk bagaimana cara belajar yang baik, serta member masukan dalam menyelesaikan masalah lainnya. 3) Informator yaitu pendidik harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan peserta didik yang dibekali pengetahuan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka peserta didik tersebut akan memiliki daya saing yang tinggi. Sehingga peserta didik tidak akan tertinggal di era global ini. 4) Organisator yaitu pendidik harus mampu mengelola kegiatan akademik (belajar), hingga tercipta kegiatan pembelajaran yang tertib dan menyenangkan. 5) Motivator yaitu pendidik harus mampu mendorong peserta didik agar bergairah dan aktif belajar. Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa. Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar.

22

Para ahli psikologi mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri individu yang aktif, mendorong, memberikan arah, dan menjaga perilaku setiap saat (Slavin, 1994). Motivasi dari pendidik merupakan motivasi ekstrinsik. Meskipun dalam proses belajar, motivasi intrinsik atau motivasi yang berasal dari dalam diri individu memiliki pengaruh yang lebih efektif, (karena motivasi intrinsik bertahan relatif lebih lama) namun motivasi ekstrinsik juga tetap dibutuhkan. Karena kurangnya respons dari lingkungan secara positif akan mempengaruhi semangat belajar seseorang. Oleh karena itu, guru sebagai salah satu motivasi ekstrinsik hendaknya selalu memberikan motivasi pada peserta didiknya.

6) Inisiator yaitu pendidik menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pembelajaran. Melalui berbagai macam pengalaman yang didapatkan pendidik selama di kelas, pendidik hendaknya memberikan ideide demi kemajuan pembelajaran, minimal untuk kemajuan pembelajaran di kelas yang dibimbing. 7) Fasilitator yaitu pendidik dapat memberikan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar. 8) Pembimbing yaitu pendidik harus mampu membimbing peserta didik menjadi manusia dewasa yang bertanggung jawab. Hal yang harus dilakukan pendidik adalah memberikan contoh yang baik pada peserta didik dan mengarahkannya. Oleh karena itu, pendidik hendaknya selalu menjaga sikap dan perilaku, karena membimbing seseorang tanpa memberikan teladan yang baik adalah sia-sia.

23

9) Demonstrator yaitu jika diperlukan pendidik bisa mendemonstrasikan bahan pelajaran yang susah dipahami. Peserta didik akan lebih mudah memahami suatu materi jika materi tersebut didemonstrasikan, karena sesuatu yang didemonstrasikan melibatkan aspek audio dan visual, sehingga lebih mudah untuk dipahami peserta didik. 10) Pengelola kelas yaitu pendidik harus mampu mengelola kelas untuk menunjang interaksi edukatif. Jika kelas dikelola dengan baik, maka proses pembelajaran dapat berjalan dengan tertib. 11) Mediator yaitu pendidik menjadi media yang berfungsi sebagai alat komunikasi guna mengefektifkan proses interaktif edukatif. Proses pembelajaran merupakan proses interaksi, bukan hanya penyampaian materi dari satu arah atau dari guru saja, peserta didik hendaknya turut aktif dalam proses pembelajaran, dan dengan adanya pendidik maka diharapkan proses interaktif edukatif tersebut tercipta di kelas. Dalam hal ini biasanya pendidik cukup memberikan sedikit materi di awal, kemudian mengajak dialog peserta didik mengenai materi yang telah diberikan sebelumnya, atau dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang akan dibahas. 12) Supervisor yaitu pendidik hendaknya dapat memperbaiki dan menilai secara kritis terhadap proses pembelajaran. Setiap selesai proses pembelajaran, pendidik yang baik akan menilai proses pembelajaran yang telah berlangsung, apabila terdapat kekurangan, maka ia akan mencari sumber kekurangan tersebut dan memperbaikinya, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih baik setiap harinya.

24

13) Evaluator yaitu pendidik dituntut menjadi evaluator yang baik dan jujur. Pendidik diharapkan bisa berlaku adil dan jujur dalam setiap proses evaluasi, sehingga tiap- tiap peserta didik dapat mengetahui kemampuannya. Membantu peserta didik ketika menghadapi ujian bukanlah hal yang tepat dilakukan oleh seorang pendidik, karena hal tersebut merupakan pembodohan peserta didik dan mengajarkan ketidakjujuran pada peserta didik. Dan hal tersebut juga membuat peserta didik tidak akan pernah merasa percaya diri terhadap kemampuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, jelaslah bahwa kata pendidik dalam perspektif pendidikan yang selama ini berkembang di masyarakat memiliki makana yang lebih luas, dengan tugas, peran, dan tanggung jawabnya adalah mendidik peserta didik agar tumbuh dan berkembang potensinya kea rah yang lebih sempurna.

25

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Beberapa macam pendekatan pembelajaran yang digunakan yaitu : Pendekatan kontekstual Pendekatan konstruktivisme Pendekatan Deduktif-Induktif Pendekatan konsep dan Proses Pendekatan Sains, Teknologi, dan Masyarakat Dalam pengorganisasian siswa, terdapat beberapa macam metode pembelajaran yang dapat digunakan, yaitu : pembelajaran secara individual Pembelajaran secara berkelompok Pembelajaran secara klasikal Pada kegiatan belajar-mengajar guru berusaha menyampaikan sesuatu hal yang disebut pesan. Hal ini dapat dilakukan dengan 2 strategi yaitu : Pembelajaran secara ekspositori Pembelajaran secara inkuiri

26

DAFTAR PUSTAKA
Anwar. (2004). Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill Education). Bandung: : Alfabeta. Baharudin., Nur Wahyuni, Esa. 2007. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-ruzz Media Depdiknas. (2002). Pengembangan Pelaksanaan Broad-Based Education, High-Based Education, dan Life Skills di SMU. Jakarta: Depdiknas. Dimyati., Mujiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta M. Yunus, Firdaus. (2004). Pendidikan Berbasis Realitas Sosial, Paulo freireY.B Mangunwijaya. Yogyakarta: Logung Pustaka Makmun, Abin Syamsuddin. 2005. Psikologi Kependidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya Ngalim Purwanto. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya Senjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Seifert, Kelvin. 2007. Manajemen Pembelajaran dan Instruksi Pendidikan. Jogjakarta: Ircisod Suhandoyo (1993). Upaya Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia Melalui Interaksi Positif dengan Lingkungan. Yogyakarta: PPM IKIP Yogyakarta. Supriawan, Dedi., Surasega, A. Benyamin. 1990. Strategi Belajar Mengajar (Diktat Kuliah). Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

27

Supriyadi. (1999). Buku Pegangan Perkuliahan Teknologi Pengajaran Fisika. Yogyakarta: Jurdik Fisika FMIPA UNY Yasin, Fatah. 2008. Dimensi-dimensi Pendidikan Islam. Malang: UIN-Malang Press Winataputra, Udin S. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metodepembelajaran/) (http.//www.contextual.org.id) (http://rochmad-unnes.blogspot.com/2008/01/penggunaan-pola-pikirinduktif-deduktif.html) (http://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-dan-metodepembelajaran/ (http://groups.yahoo.com/group/sd-islam/message/1907). (ilmiahhttp://smacepiring.wordpress.com/2008/02/19/pendekatan-danmetode-pembelajaran/).

28